Nama : Julia Fera Dilla
Nim : 2205902020181
Prodi : Gizi
“FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PENGETAHUAN
HIGIENE PENJAMAH MAKANAN DIRUMAH SAKIT CUT
NYAK DHIEN”
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penjamah makanan adalah seorang tenaga yang menjamah makanan dan
terlibat langsung dalam menyiapkan, mengolah, mengangkut maupun menyajikan
makanan (Meikawati et al., 2010). Faktor kebersihan penjamah makanan yang
biasa disebut hygiene personal merupakan prosedur penting dalam menjaga
kebersihan pengolahan makanan yang aman dan sehat. Perilaku penjamah
makanan di rumah sakit, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
mempengaruhi kualitas makanan yang disajikan untuk pasien. Faktor pengetahuan
penjamah makanan yang baik dapat mempengaruhi perilaku timbulnya infeksi
silang dan infeksi nosocomial (infeksi yang didapatkan dirumah sakit). Penelitian
Mulyani (2014) menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan
perilaku hygiene pada penjamah makanan di instalasi gizi di rumah sakit umum.
Mempertahankan makanan dengan kualitas yang baik secara bakteriologis,
kimiawi, maupun fisik sangat penting dalam penyelenggaraan makanan yang
aman dan sehat. Kualitas makanan yang baik dapat melindungi konsumen,
terutama pasien rumah sakit dari keracunan makanan atau penyakit bawaan yang
ditularkan dari makanan (foodborne illness). Sumber utama penularan foodborne
illness adalah pencemaran bahan makanan, Dimana peran manusia sebagai vector
pembawa kuman sangatlah tinggi. Studi tentang penerapan personal hygiene
penjamah makanan yang pernah dilakukan di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang
tahun 2018 mengemukakan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara
pengetahuan hygiene dengan perilaku personal hygiene.
Penelitian serupa dilakukan di RM Ayam bakar Wong Solo tahun 2019
mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang antara pengetahuan dan sikap
dengan praktik personal hygiene penjamah makanan. Penelitian sebelumnya lebih
banyak menganalisis hubungan antara Tingkat pengetahuan mengenai hygiene
dan sanitasi penjamah makanan terhadap perilaku personal hygiene. Namun,
keterkaitan antara peran fungsi penjamah makanan terhadap perilaku personal
hygiene masih jarang diteliti.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1. Apa saja faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan hygiene pada
penjamah makanan di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien?
2. Bagaimana hubungan antara tingkat pengetahuan hygiene dengan perilaku
personal hygiene penjamah makanan di rumah sakit tersebut?
3. Apakah terdapat faktor lain yang berkontribusi terhadap penerapan
hygiene oleh penjamah makanan selain tingkat pengetahuan?
C. Tujuan
1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan
hygiene pada penjamah makanan di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien.
2. Mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan hygiene dengan perilaku
personal hygiene penjamah makanan.
3. Mengidentifikasi faktor lain yang dapat mempengaruhi penerapan
personal hygiene oleh penjamah makanan.
D. Manfaat penelitian
Manfaat Umum
1. Memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang
gizi dan kesehatan lingkungan, khususnya dalam aspek hygiene dan
sanitasi makanan.
2. Menyediakan informasi yang dapat digunakan oleh rumah sakit dalam
meningkatkan kebijakan terkait hygiene dan sanitasi makanan bagi
penjamah makanan.
Manfaat Khusus
1. Bagi Rumah Sakit Cut Nyak Dhien: Memberikan rekomendasi untuk
meningkatkan pelatihan dan pengawasan terhadap personal hygiene
penjamah makanan guna mengurangi risiko infeksi nosokomial.
2. Bagi Penjamah Makanan: Meningkatkan kesadaran dan pemahaman
terkait pentingnya hygiene dalam penyajian makanan bagi pasien.
3. Bagi Peneliti Lain: Menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya terkait
hygiene dan sanitasi makanan di fasilitas kesehatan.
LANDASAN TEORI
A. Tijauan pustaka
a. Pengetahuan Hygiene Penjamah Makanan
Hygiene makanan mencakup tindakan untuk memastikan makanan tetap
bersih dan aman dari produksi hingga konsumsi (WHO, 2015). Pengetahuan yang
baik tentang hygiene dapat mengurangi risiko kontaminasi makanan dan
penyebaran penyakit. Penerapan hygiene yang kurang baik dapat menyebabkan
gangguan kesehatan seperti foodborne illness yang berpotensi membahayakan
konsumen, terutama pasien rumah sakit yang memiliki kondisi kesehatan rentan.
Selain itu, pengetahuan hygiene yang memadai dapat meningkatkan
efektivitas kerja penjamah makanan dalam menjaga kebersihan makanan. Seorang
penjamah makanan yang memahami prinsip hygiene akan lebih berhati-hati dalam
menangani makanan dan meminimalkan risiko pencemaran. Oleh karena itu,
edukasi dan sosialisasi mengenai hygiene makanan harus menjadi bagian dari
program pelatihan tenaga kerja di sektor pengolahan makanan.
Studi menunjukkan bahwa pengetahuan yang baik berpengaruh terhadap
perilaku hygiene. Penelitian Mulyani (2014) menemukan hubungan antara tingkat
pengetahuan dan praktik hygiene penjamah makanan di rumah sakit. Namun,
meskipun memiliki pengetahuan yang baik, beberapa individu mungkin masih
belum menerapkannya secara optimal karena berbagai kendala seperti
keterbatasan fasilitas atau kebiasaan kerja yang sudah tertanam.
b. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Hygiene
Beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan hygiene:
Pendidikan dan Pelatihan:
Pendidikan berperan besar dalam membentuk pemahaman seseorang
terhadap hygiene makanan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,
semakin besar kemampuannya untuk memahami konsep hygiene dan
menerapkannya dalam praktik kerja sehari-hari. Pendidikan yang baik
juga memungkinkan seseorang untuk lebih mudah memahami regulasi
dan standar kebersihan yang berlaku di tempat kerja.
Selain pendidikan formal, pelatihan hygiene juga memiliki peranan
penting. Pelatihan yang diberikan secara rutin dapat meningkatkan
kesadaran penjamah makanan terhadap pentingnya kebersihan dalam
setiap tahap pengolahan makanan. Pelatihan ini biasanya mencakup
aspek mencuci tangan, penggunaan alat pelindung diri, serta teknik
penyimpanan makanan yang benar.
Pengalaman Kerja:
Lama bekerja dalam bidang makanan dapat meningkatkan pemahaman
tentang hygiene. Seseorang yang telah bekerja dalam jangka waktu lama
memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar dari pengalaman dan
memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. Selain itu, mereka yang
telah lama bekerja biasanya lebih mengenal risiko kontaminasi makanan
dan dapat menerapkan tindakan pencegahan yang lebih baik.
Namun, pengalaman kerja yang panjang tidak selalu menjamin
pemahaman yang baik tentang hygiene. Jika seseorang terbiasa dengan
praktik yang tidak sesuai dengan standar kebersihan, maka pengalaman
kerja justru dapat memperkuat kebiasaan yang kurang baik. Oleh karena
itu, pelatihan berkelanjutan tetap diperlukan agar pengalaman kerja dapat
dikombinasikan dengan penerapan hygiene yang benar.
Kebijakan dan Fasilitas:
Adanya kebijakan hygiene yang baik dan fasilitas yang memadai
mendukung praktik kebersihan. Kebijakan rumah sakit yang jelas
mengenai kebersihan makanan dapat meningkatkan kepatuhan penjamah
makanan terhadap aturan hygiene. Regulasi yang ketat dan pengawasan
berkala juga penting untuk memastikan bahwa standar kebersihan tetap
terjaga.
Ketersediaan fasilitas seperti wastafel, sabun cuci tangan, alat pelindung
diri, dan lingkungan kerja yang bersih juga berkontribusi besar dalam
memastikan hygiene makanan yang baik. Jika fasilitas yang tersedia
tidak mendukung, maka kemungkinan besar praktik kebersihan tidak
dapat diterapkan dengan optimal.