Sosial
Sidang Bupati Sorong vs Perusahaan
Sawit: Menanti Putusan yang Berpihak
Masyarakat Adat Papua
oleh Asrida Elisabeth [Jayapura] di 5 December 2021
Gugatan tiga perusahaan sawit kepada Pemerintah Kabupaten
Sorong yang telah mencabut perizinan mereka memasuki babak
akhir. Persidangan demi persidangan di PTUN Jayapura sudah berjalan, antara lain, perkara
ada yang agenda putusan 7 Desember ini.
Pencabutan izin tiga perusahaan ini merupakan tindak lanjut hasil evaluasi izin sawit di Papua
Barat. Evaluasi sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8/2018, Gerakan Nasional
Penyelamatan Sumber Daya Alam (GNPSDA) inisiasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan
Deklarasi Manokwari.
Victor Manengkey, ahli hukum dari Universitas Cenderwasih mengatakan, Peraturan
Perundangan dan Asas Umum Pemerintahan yang baik hanya dipakai ketika mencabut izin-izin
yang masih berlaku. Kalau sudah tidak berlaku, pemerintah bisa langsung mencabut karena
dengan sendirinya izin itu sudah tidak sah.
Ada empat dokumen sahabat peradilan (amicus curiae) yang dikirim ke hakim PTUN Jayapura
oleh tujuh lembaga. Ada Perkumpulan Hukum dan Masyarakat Adat (HuMA), Lembaga Studi
dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) masing-
masing kirimkan satu dokumen. Kemudian Greenpeace Indonesia, Yayasan Pusaka, Walhi
Papua, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sorong Raya menggabungkan
pertimbangan dalam satu dokumen bersama.
Sidang gugatan tiga perusahaan sawit terhadap Pemerintah Kabupaten
Sorong, Papua Barat di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jayapura
hampir babak akhir. Masing-masing pihak sudah menyerahkan bukti surat,
menghadirkan saksi fakta, dan ahli hukum di persidangan.
Tiga perusahaan yang menggugat yakni, PT Inti Kebun Lestari (IKL), PT
Sorong Agro Sawitindo (SAS), dan PT Papua Lestari Abadi (PLA). Mereka
keberatan atas pencabutan izin lokasi, izin lingkungan, dan izin usaha
perkebunan (IUP).
Berdasarkan izin lokasi, total luas izin tiga perusahaan ini mencapai
90.031 hektar menyebar di Distrik Segun, Salawati, Klawak, dan Klamono
Kabupaten Sorong.
IKL menggugat Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu
Satu Pintu (PMPTSP) atas SK pencabutan izin lokasi dengan perkara
Nomor 29/G/2021/[Link]. Gugatan IKL pada Bupati Sorong atas
pencabutan izin lingkungan dan IUP dalam perkara 30/G/2021/
[Link]
Hakim perkara dua gugatan ini adalah Yusuf Klemen, Firman, dan
Muhammad Bima Sakti. Sidang perkara ini masih menyisakan keterangan
dari tergugat pada 7 Desember 2021.
SAS dan PLA menggugat Bupati Sorong atas surat keputusan pencabutan
izin lokasi, izin lingkungan, dan IUP. Gugatan dua perusahaan grup Mega
Masindo ini berturut-turut terdaftar dengan Nomor 31/G/2021/[Link]
dan 32/G/2021/[Link].
Hakim kasus gugatan SAS adalah Masdin, Simson Seran, dan Aditya
Permana Putra. Untuk hakim perkara PLA adalah Masdin, Simson Seran,
dan Muhamad Amin Putera. Putusan sidang kasus ini rencana 7
Desember 2021.
Dalam persidangan di PTUN ini menguji keputusan pencabutan ini sudah
sesuai peraturan, baik wewenang, prosedur, maupun substansi.
Baca juga: Dukung Bupati Sorong, Koalisi: Kembalikan Hak-hak
Masyarakat Adat ([Link]
bupati-sorong-koalisi-kembalikan-hak-hak-masyarakat-adat/)
Masdin (tengah), Simson Seran (kiri), Aditya Permana Putra (kanan), hakim perkara
gugatan PT. Sorong Agro Sawitindo melwan Bupati Sorong. Foto: Asrida Elisabeth/
Mongabay Indonesia December 5, 2021
***
Pencabutan izin tiga perusahaan ini merupakan tindak lanjut hasil
evaluasi izin sawit di Papua Barat. Evaluasi sesuai Instruksi Presiden
(Inpres) Nomor 8/2018, Gerakan Nasional Penyelamatan Sumber Daya
Alam (GNPSDA) inisiasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan
Deklarasi Manokwari.
Evaluasi mulai 2018. Dari hasil evaluasi, Pemerintah Papua Barat
merekomendasikan pencabutan izin 16 perusahaan. Empat ada di
Kabupaten Sorong.
Dalam dokumen hasil evaluasi, terungkap pelanggaran izin perusahaan-
perusahaan ini karena tak memenuhi semua kewajiban dalam IUP.
Untuk IKL, selain tak memenuhi kewajiban IUP, tim juga menemukan
kejanggalan pada penerbitan SK perpanjangan izin lokasi dan IUP. IKL
dan dua perusahaan lain, yaitu PT Inti Kebun Lestari dan PT Inti Kebun
Sejahtera, bagian grup Kayu Lapis Indonesia yang beroperasi di
Kabupaten Sorong. Pada 2020, Grup Kayu Lapis Indonesia menjual tiga
perusahaan ini ke Ciliandry Anku Abadi (CAA) dan tak dilaporkan ke
pemerintah.
Sebagai dasar rekomendasi pencabutan, tim evaluasi menggunakan
diktum dalam SK IUP yang menyatakan, dalam hal perusahaan tidak
memenuhi kewajiban dalam IUP, maka IUP dicabut.
Di Kabupaten Sorong, pemerintah kemudian membentuk tim evaluasi
merespon rekomendasi seluruh dari provinsi. Dari hasil kerja tim itu,
pada 27 April 2021, terbit surat keputusan pencabutan izin lokasi, izin
lingkungan, dan IUP. Dari empat perusahaan yang dicabut, tiga
menggugat di PTUN Jayapura.
Dalam dokumen gugatan, perusahaan-perusahaan ini menyatakan,
keputusan pencabutan izin-izin ini menyalahi aturan perundang-undangan
dan asas umum pemerintahan yang baik dari segi wewenang, prosedur
maupun substansi.
Terkait belum terpenuhi kewajiban dalam IUP, ketiganya pakai ketentuan
Pasal 16 UU No. 39/2014 tentang Perkebunan, sebelum maupun setelah
diubah dengan UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja.
Baca juga: Izin Dicabut, Perusahaan Sawit Gugat Hukum, Pemerintah
Sorong Banjir Dukungan ([Link]
dicabut-perusahaan-sawit-gugat-hukum-pemerintah-sorong-banjir-
dukungan/)
Bupati Sorong, Johny Kamuru saat bertemu mahasiswa di halaman PTUN Jayapura.
Foto: Asrida Elisabeth/ Mongabay Indonesia
Aturan ini menyatakan, pembukaan lahan setelah pemberian status hak
atas tanah. Mereka berpendapat bahwa kewajiban dalam IUP tidak bisa
bisa dilakukan karena belum memperoleh HGU. HGU hanya bisa didapat
kalau sudah memperoleh tanah dalam hal ini pelepasan hak ulayat dari
masyarakat adat.
Mereka juga mempersoalkan sanksi pencabutan yang tidak bertahap.
Dalam hal pencabutan IUP, misal, Pasal 51 ayat (1) dan (3) Permentan
No.98/Permentan/OT.140/9/2013 mengatur prosedur bahwa dalam
pencabutan izin harus didahului pemberian peringatan tertulis sebanyak
tiga kali masing-masing dalam tenggang waktu empat bulan. Tergugat
tidak pernah memberikan sanksi peringatan tertulis kepada penggugat,
tetapi langsung menerbitkan sanksi pencabutan IUP.
Dalam hal izin lingkungan, Pasal 38 UU No. 23/2009, menyatakan selain
ketentuan dalam Pasal 37 ayat (2), izin lingkungan dapat dibatalkan
melalui Keputusan PTUN.
Peraturan lain, Pasal 25 Peraturan Menteri Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 17/2019 tentang Izin Lokasi. Disebutkan
pencabutan harus berdasarkan rekomendasi Tim Pemantauan dan
Evaluasi Izin Lokasi dan bukan Tim Perizinan Usaha Perkebunan Sawit.
Mereka juga menyatakan, keputusan-keputusan ini menyalahi UU
No.30/2014 tentang Administrasi Pemerintahan Pasal 7 ayat (2) huruf f
dan g. Bunyinya, kewajiban memberikan kesempatan kepada warga untuk
didengar pendapatnya sebelum membuat keputusan dan, atau tindakan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Keterangan saksi
Dalam gugatan kepada Kepala Dinas PMPTSP dan Bupati Sorong, kuasa
hukum IKL menghadirkan tiga saksi fakta, yaitu Markus Soisa, Bejo
Santosa, dan Fredy Ibo.
Markus Soisa adalah pengacara di Kabupaten Sorong yang sempat
diminta perusahaan untuk sosialisasi dengan masyarakat. Bejo Santosa
bagian dari manajemen grup CAA. Sedangkan Fredy Ibo, mantan
karyawan. Ketiga menjelaskan kewajiban administrasi yang sudah
dipenuhi perusahaan dan upaya mereka sosialisasi kepada masyarakat
untuk memperoleh tanah ulayat.
Sementara gugatan kepada Kadis PMPTSP dan Bupati Sorong oleh SAS
dan PLA, kuasa hukum tidak menghadirkan satu pun saksi fakta.
Sebaliknya, IKL, kuasa hukum Pemerintah Sorong menghadirkan saksi
fakta Manase Fadan dan Ruben Malaukabu. Manase Fadan menyatakan
pernah ditemui utusan perusahaan tetapi menolak memberikan hak
ulayat. Ruben Malakabu menyatakan serupa, tidak pernah memberikan
persetujuan pelepasan lahan kepada IKL.
Dalam kasus SAS pada Bupati Sorong, kuasa hukum Pemerintah Sorong
menghadirkan Sam Klafiu, Seljun Kayaru dan Calvin Sede dari Kampung
Gisim dan Gideon Kilme dari Kampung Tarsa, Distrik Konhir.
Sam Klafiu mengatakan, saat awal 2000-an perusahaan datang meminta
izin penggunaan hak ulayat, Marga Kalfiu sudah menolak. Penolakan
dalam bentuk sumpah adat.
Sekampung dengan Sam Klafiu, Seljun Kayaru dan Calvin Sede
menyatakan, orang tua dari kedua marga itu pernah menyatakan
persetujuan menerima perusahaan. Perusahaan sudah memberikan
sejumlah uang ikatan. Namun sejak perjanjian dibuat hingga izin dicabut
Bupati Sorong, perusahaan tidak pernah datang atau berkomunikasi lagi
dengan masyarakat.
Meski wilayah masuk izin lokasi. Gideon Kilme tidak pernah didatangi
perusahaan utnuk meminta persetujuan penggunaan hak ulayat buat
perkebunan sawit. Dia baru mengetahui tanah ulayatnya masuk izin lokasi
setelah mendapat informasi dari Lembaga Musyarawara Adat (LMA)
Kabupaten Sorong pasca izin dicabut.
Untuk gugatan PLA kepada Bupati Sorong, kuasa hukum Pemerintah
Kabupaten Sorong menghadirkan Hendrik Malalu dari Kampung Waimon.
Hendrik mengatakan, perusahaan baru datang membuat perjanjian
penggunaan hak ulayat dan memberikan sejumlah uang kepada marga di
Kampung Waimon pada 2021, pasca izin dicabut Bupati Sorong.
Melengkapi saksi dari masyarakat adat, kuasa hukum Pemerintah
Kabupaten Sorong menghadirkan Benediktus Heri Widjayanto dan Subur.
Mereka juga jadi saksi untuk perkara yang lain.
Baca juga: Belasan Izin Kebun Sawit di Papua Barat Dicabut
([Link]
papua-barat-dicabut/)
Pemukiman warga di Kampung Segun, Distrik Segun. Sorong, yang tegas menolak
kehadiran perusahaan sawit. Foto: Asrida Elisabeth/ Mongabay Indonesia
Benediktus Heri Wijayanto, Kepala Bidang Perkebunan, Dinas Tanaman
Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Papua Barat jadi saksi. Dia adalah
Ketua Tim Evaluasi Perizinan Sawit di Papua Barat.
Heri mengatakan, latar belakang pembentukan tim, proses dan tahapan
evaluasi serta dasar hukum rekomendasi pencabutan. Timnya,
memberikan rekomendasi. Keputusaan pencabutan jadi wewenang
pemberi izin dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Sorong.
Sedang Subur adalah Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Sorong dan
anggota tim evaluasi izin sawit di Kabupaten Sorong. Untuk dengan IKL,
Subur menyatakan, dalam laporan perolehan tanah ke Kantor Pertanahan
Kabupaten Sorong, perusahaan belum memperoleh pelepasan tanah dari
masyarakat adat.
Untuk gugatan dari SAS dan PLA, kata Subur , kedua perusahaan tidak
pernah melaporkan perolehan tanah ke BPN Kabupaten Sorong. Kedua
perusahaan pernah datang mengajukan permohonan HGU pada 2020,
namun ditolak karena belum memperoleh pelepasan hak ulayat dari
masyarakat adat.
Dari segi waktu, masa berlaku izin lokasi tiga perusahaan ini juga sudah
mati.
Dalam gugatan IKL, kuasa hukum Pemerintah Sorong juga menghadirkan
saksi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dian Patria adalah Ketua
Satuan Tugas Korsup Pencegahan Direktorat wilayah V KPK. Dian
menjelaskan secara umum evaluasi izin sawit di Papua Barat.
Dia mengatakan, evaluasi izin sawit Papua Barat adalah turunan dari
GNPSDA KPK tingkat nasional. Untuk perkebunan terkait tiga hal,
pertama, perbaikan tata kelola perizinan. Kedua, kebijakan satu peta agar
perizinan tidak tumpang tindih dan memantau kepatuhan membayar
pajak. Ketiga, pengawasan dan pengendalian termasuk pemberian sanksi
terhadap pelaku usaha yang tidak mengikuti peraturan berlaku.
Di balik pembiaran terhadap ketidakpatuhan pelaku izin sumber daya
alam ada potensi korupsi.
Dari hasil evaluasi izin sawit di Papua Barat, ada 16 perusahaan izin
dicabut dengan luas 324.000 hektar, sekitar 70% dari wilayah-wilayah ini
masih berupa tutupan hutan.
Sejalan dengan Deklarasi Manokwari, pencabutan izin-izin ini tidak
sekadar memberantas korupsi juga menjaga tutupan hutan,
memaksimalkan peran masyarakat adat.
Pendapat ahli
Secara umum, para ahli ke persidangan sependapat kalau pencabutan izin
apapun harus mengikuti perundang-undangan dan asas umum
pemerintahan yang baik (AUPB).
IKL menghadirkan Totok Sadino sebagai ahli. Totok Sadino adalah
akademisi dan konsultan hukum kehutanan dan perkebunan. Totok
menjelaskan tahapan perolehan berbagai izin sebelum satu perusahaan
menanam sawit.
Soal pencabutan, kata Totok, seharusnya sesuai aturan berlaku. Prosedur
pencabutan izin lingkungan misal diatur dalam UU 32/2009 turun dalam
PP 27/2012. Di sana, ada tahapan pemberian sanksi, pertama peringatan,
kedua paksaan pemerintah, tiga denda administratif, empat pembekuan.
Sanksi administrasi lewa berita acara pengawasan.
Pencabutan IUP diatur dalam Permen 98/2019, PP 26/2021 dan Permen
Nomor 8/2021.
Kuasa Hukum SAS dan PLA menghadirkan ahli Anton Raharusun. Anton
Raharusun adalah dosen hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Biak.
Anton berpendapat, Inpres Moratorium Perizinan Sawit Nomor 8/2018
hanya mengamanatkan evaluasi perizinan bukan pencabutan. Sanksi
terhadap perusahaan-perusahaan yang melanggar seharusnya mengikuti
peraturan perundang-undangan dan asas umum pemerintahan yang baik.
Kuasa hukum Pemerintah Kabupaten Sorong menghadirkan Victor
Manengkey, ahli hukum dari Universitas Cenderawasih.
Manengkey bilang, Peraturan Perundangan dan Asas Umum Pemerintahan
yang baik hanya dipakai ketika mencabut izin-izin yang masih berlaku.
Kalau sudah tidak berlaku, pemerintah bisa langsung mencabut karena
dengan sendirinya izin itu sudah tidak sah.
Keputusan pencabutan perlu, katanya, sebagai sebagai dokumen hukum
terhadap pejabat yang mencabut.
Karena itu, pengawasan pejabat yang mengeluarkan izin sangat
diperlukan. Apalagi izin-izin ini memiliki dampak besar bagi lingkungan
dan masyarakat. Pengawasan untuk mengecek apakah izin lokasi yang
keluar sudah terpenuhi syarat-syaratnya. Sebaliknya, laporan dari
pemegang izin juga penting karena terlambat mengurus izin bukan ada
pada pejabat tetapi pada pemegang izin.
Manengkey juga menjelaskan, perkebunan sawit bersifat berantai. Izin
bisa terbit oleh berbagai instansi. Pencabutan satu izin, katanya, dengan
sendirinya izin-izin lain tidak berlaku efektif.
Dian Patria, Ketua Satuan Tugas Korsup Pencegahan Direktorat wilayah V , Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK. Dian Patria memberi keterangan dalam persidangan di
PTUN Jayapura .Foto: Asrida Elisabeth/ Mongabay Indonesia
Bukan sekadar sengketa perizinan
Sistem peradilan Indonesia memberikan kesempatan kepada pihak di luar
penggugat dan tergugat untuk memberikan pertimbangan kepada hakim
melalui mekanisme sahabat peradilan atau amicus curiae. Amicus curiae
bisa diajukan oleh pihak-pihak yang merasa kepentingannya terkait
dengan perkara yang sedang disidangkan.
Ada empat dokumen amicus curiae yang dikirim ke hakim PTUN
Jayapura oleh tujuh lembaga. Ada Perkumpulan Hukum dan Masyarakat
Adat (HuMA), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam),
Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) masing-masing kirimkan
satu dokumen. Kemudian Greenpeace Indonesia, Yayasan Pusaka, Walhi
Papua, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sorong Raya
menggabungkan pertimbangan dalam satu dokumen bersama.
HuMA mengatakan, ada ketiadaan atau kekosongan hukum mengenai
jangka waktu perolehan hak atas tanah, setelah perusahaan memperoleh
izin lokasi dan izin usaha perkebunan. Dengan alasan ketiadaan hukum
itu, para tergugat memiliki kewenangan mengeluarkan diskresi dengan
menerbitkan keputusan pencabutan.
Elsam menekankan, pada tanggung jawab negara dalam memastikan
jaminan perlindungan hak-hak masyarakat adat. Tindakan pencabutan
izin-izin ini merupakan bagian dari perlindungan masyarakat adat
mengingat aktivitas perkebunan para penggugat terletak pada hak
masyarakat adat sebagaimana dalam Peraturan tentang Otonomi Khusus.
Keputusan para hakim PTUN Jayapura dinilai turut berkontribusi dalam
memperbaiki tata kelola industri perkebunan sawit di Indonesia. Juga
menentukan hajat hidup Suku Moi yang tinggal berabad-abad dan
memanfaatkan hutan Papua untuk penghidupan sehari-hari.
Senada dengan Elsam, ICEL menyatakan keputusan pencabutan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan, khusus UU Otonomi Khusus
Papua yang mengamanatkan Pemerintah Papua dan Papua Barat untuk
memanfaatkan lahan terlantar di sana demi kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Sorong juga dinilai menjalankan mandat dari
Inpres No. 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Perkebunan
Kelapa Sawit, serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit.
Juga menjalankan rekomendasi KPK dalam program GNPSDA.
Pencabutan sesuai asas umum pemerintahan yang baik dan asas-asas
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Greenpeace Indonesia, Yayasan Pusaka, Walhi Papua, dan AMAN Sorong
Raya menyatakan, perkara ini memiliki dimensi lebih luas dari sekadar
sengketa perizinan perusahaan. Di mana, hanya menilai apakah produser
penerbitan obyek sengketa sesuai peraturan perundang-undangan, atau
menilai kewenangan tergugat dalam mengeluarkan keputusan. Perkara ini
juga menyangkut kepentingan publik atas keberlanjutan lingkungan dan
keanekaragaman hayati di tanah Papua.
Majelis Hakim PTUN Jayapura diminta menerapkan pertimbangan-
pertimbangan penyelamatan lingkungan hidup dan merujuk kepada
Keputusan Mahkamah Agung Nomor 36/KMA/SK/II/2013. Juga
Keputusan Nomor 37 / KMA / SK / III / 2015 dalam memutuskan
perkara.
Para penggugat juga dinilain tidak menghormati hak-hak masyarakat adat
sebagai pemilik hak ulayat dalam perolehan berbagai izin. Para
penggugat memperoleh izin tanpa memperoleh kesepakatan dari pemilik
ulayat terlebih dahulu, ini bertentangan dengan Pasal 43 ayat (4) UU
Otonomi Khusus. UU itu mengatur perolehan kesepakatan harus terlebih
dahulu didapat sebelum memperoleh izin atau pemberian hak.
Tanah Papua, bukanlah tanah kosong. Setiap tanah di izin konsesi yang
dicabut merupakan milik masyarakat hukum adat yang diakui melalui
Peraturan Daerah Nomor 10/2017 tentang Pengakuan dan Perlindungan
Masyarakat Hukum Adat Moi di Kabupaten Sorong.
Tindakan pencabutan izin-izin itu sebagai bentuk upaya perlindungan,
pemenuhan, penghormatan hak-hak masyarakat adat yang sebelumnya
mengalami pelanggaran.
Tigor Hutapea, mewakili empat lembaga ini menyerahkan langsung
dokumen amicus curiae ke PTUN Jayapura 18 November 2021.
“Ini bukan hanya sengketa antara para tergugat yaitu Bupati Sorong dan
perusahaan, tetapi juga kepentingan lebih luas, pertama, kepentingan
lingkungan hidup yang berkelanjutan, kedua, kepentingan masyarakat
hukum adat sebagai pemilik ulayat.”
*****
Artikel yang diterbitkan oleh Sapariah Saturi