0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan90 halaman

Kecerdasan Emosional dan Agresivitas Anak

Proposal skripsi ini membahas hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas verbal pada anak terlantar di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak kecerdasan emosional dalam mengelola perilaku agresif verbal di kalangan remaja, yang sering kali mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan dan intervensi yang bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan emosional anak-anak tersebut.

Diunggah oleh

nabilaoktiasih9
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan90 halaman

Kecerdasan Emosional dan Agresivitas Anak

Proposal skripsi ini membahas hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas verbal pada anak terlantar di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak kecerdasan emosional dalam mengelola perilaku agresif verbal di kalangan remaja, yang sering kali mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi mereka. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan dan intervensi yang bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan emosional anak-anak tersebut.

Diunggah oleh

nabilaoktiasih9
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN

AGRESIVITAS VERBAL PADA ANAK TERLANTAR DI UPTD


PSBAWEP HARAPAN MULYA JAMBI

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Kepada Program Studi Psikologi


Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
Untuk Memenuhi Sebagian Dari Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi

Diajukan oleh :

JIHAN AQILLA SAPUTRI


NIM. G1C121060

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI

2025

i
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN
AGRESIVITAS VERBAL PADA ANAK TERLANTAR DI
UPTD PSBAWEP HARAPAN MULYA JAMBI

PROPOSAL SKRIPSI

Disusun Oleh:

JIHAN AQILLA SAPUTRI


NIM. G1C121060

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing Skripsi


Pada Tanggal Januari 2025
Pembimbing I Pembimbing II

Fadzlul, [Link].,[Link].,Psikolog Rion Nofrianda,[Link].,Psikolog


NIP.198207202010121002 NIP.199211222022031011

ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘alamin segala puji dan syukur peneliti panjatkan
atas kehadirat Allah Subhanahu wata’ala yang selalu melimpahkan Rahmat dan
Nikmat- Nya hingga peneliti mampu menyelesaikan penyusunan skripsi yang
berjudul “Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Agresivitas
Verbal pada Anak Terlantar di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya Jambi”.
Pada penyusunan laporan ini peneliti banyak mendapatkan bimbingan dan
dukungan oleh banyak pihak. Maka dari itu melalui tulisan ini peneliti ingin
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Helmi., S.H., M.H selaku Rektor Universitas Jambi.
2. Dr. dr. Humaryanto, [Link]., [Link] selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
3. Ibu Dessy Pramudiani, [Link]., [Link]., Psikolog selaku Ketua Jurusan
Psikologi Universitas Jambi.
4. Ibu Yun Nina Ekawati, [Link]., [Link]., Psikolog. selaku Koordinator Program
Studi Psikologi Universitas Jambi.
5. Bapak Dr. Nofrans Eka Saputra, [Link]., M.A. selaku dosen pembimbing
akademik peneliti yang senantiasa memberi motivasi kepada peneliti untuk
dapat menyelesaikan perkuliahan dengan baik.
6. Bapak Rion Nofrianda, [Link]., [Link]., Psikolog. selaku dosen pembimbing 2
yang telah memberikan bimbingan dan arahannya sehingga peneliti mampu
menyelesaikan penyusunanan proposal ini dengan sangat baik.
7. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Psikologi Universitas Jambi yang telah
membagikan ilmunya.
8. Kedua orang tua tercinta, yaitu Ayahanda Romi Saputra dan Ibu Ratna
Sundari yang telah mencurahkan doa, memfasilitasi, serta tak hentinya
memberikan dukungan kepada peneliti sehingga peneliti dapat melaksanakan
penyusunan proposal ini dengan baik dan lancar dari awal hingga akhir..
9. Kakak tersayang Mutiarani Saputri, [Link] dan adik tersayang [Link]
Farhan Saputra yang selalu memberikan semangat serta fasilitas untuk
mendukung peneliti.

iii
10. Bripda dengan NRP 03030026 yang selalu ada dalam suka dan duka sejak
awal perkuliahan, serta selalu memberikan dukungan, doa, dan motivasi
dalam perkuliahan peneliti.
11. Bapak Fadzlul, [Link]., [Link]., Psikolog. selaku dosen pembimbing 1 pada
penyusunan proposal ini dari awal hingga akhir yang selalu berkenan untuk
meluangkan waktu, membimbing, serta memberikan dukungan kepada
peneliti.
12. Sahabat peneliti, Nyimas Maharani, [Link], Zellikha Bunga, S.H, Bebby
Serafina, Tri Nurohmah Berliani, dan Asira Z-Azzahra yang telah menerima
keluh kesah peneliti dalam perkuliahan maupun didunia nyata.
Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan terutama pada
keterbatasan pengalaman dan pengetahuan terkait tata bahasa, kelengkapan
bahasan, dan prosedur di dalam penelitian. Jika terdapat beberapa hal yang ingin
didiskusikan bisa menghubungi peneliti di jihanaqllasptr@[Link]. Peneliti
berharap bahwa laporan ini akan membantu kemajuan ilmu pengetahuan, terutama
ilmu psikologi.

Jambi, 06 Februari 2025


Peneliti,

Jihan Aqilla Saputri


NIM. G1C121060

iv
DAFTAR ISI
Halaman Judul .................................................................................................. i
Halaman Persetujuan ....................................................................................... ii
Halaman Pernyataan Keaslian Penelitian ......................................................... iii
Kata Pengantar.................................................................................................. iv
Daftar Isi ........................................................................................................... v
Daftar Tabel ...................................................................................................... vii
Daftar Gambar .................................................................................................. viii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar belakang ............................................................................................ 11
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 11
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................ 11
1.3.1 Tujuan Umum .................................................................................... 11
1.3.2 Tujuan Khusus ................................................................................... 11
1.4 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 12
1.4.1 Manfaat Teoritis ................................................................................ 12
1.4.2 Manfaat Akademis............................................................................. 12
1.5 Ruang Lingkup Penelitian .......................................................................... 12
1.6 Keaslian Penelitian ..................................................................................... 14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................
2.1 Kecerdasan Emosional ............................................................................... 22
2.1.1 Definisi Kecerdasan Emosional ........................................................ 22
2.1.2 Bentuk-bentuk Kecerdasan Emosional .............................................. 23
2.1.3 Sumber Dukungan Kecerdasan Emosional ....................................... 23
2.1.4 Manfaat Kecerdasan Emosional ........................................................ 24
2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional .............. 26
2.1.6 Alat Ukur Kecerdasan Emosional ..................................................... 27
2.2 Agresivitas Verbal ...................................................................................... 28
2.2.1 Definisi Agresivitas Verbal ............................................................... 30
2.2.2 Aspek-aspek Agresivitas Verbal ....................................................... 31
2.2.3 Faktor-faktor Agresivitas Verbal ....................................................... 34
2.2.4 Bentuk-bentuk Agresivitas Verbal .................................................... 35

v
2.3 Kerangka Berpikir ...................................................................................... 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian ........................................................................................... 38
3.2 Variabel Penelitian .................................................................................... 38
3.3 Hipotesis Penelitian ................................................................................... 39
3.4 Responden Penelitian ................................................................................ 39
3.4.1 Populasi Penelitian .......................................................................... 39
3.4.2 Sampel Penelitian ............................................................................ 40
3.5 Instrumen Penelitian .................................................................................. 40
3.6 Sumber Data Penelitian .............................................................................. 41
3.7 Teknik Analisis Data ................................................................................. 42
3.7.1 Blue Print Alat Ukur Kecerdasan Emosional ................................... 43
3.7.2 Blue Print Alat Ukur Agresivitas Verbal ......................................... 43
3.8 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................... 45
3.9 Prosedur Penelitian .................................................................................... 46
3.10 Etika Penelitian ........................................................................................ 47
Daftar Pustaka .................................................................................................. 49
Lampiran........................................................................................................... 52

vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.2 Keaslian Penelitian .......................................................................... 14
Tabel 2.1 Alat Ukur Aitem Kecerdasan Emosional ......................................... 28
Tabel 2.2 Alat Ukur Aitem Agresivitas Verbal ............................................... 35
Tabel 3.1 Variabel ............................................................................................ 38
Tabel 3.2 Skala Likert ...................................................................................... 41
Tabel 3.3 Blue Print Kecerdasan Emosional .................................................... 44
Tabel 3.4 Blue Print Agresivitas Verbal ........................................................... 44

vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kategori Kesehatan Mental Remaja ............................................. 2
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ........................................................................ 37
Gamabr 3.1 Tahapan Penelitian........................................................................ 47

viii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah periode penting dalam kehidupan individu yang
ditandai oleh perkembangan psikologis signifikan untuk menemukan jati diri
(Kumalasari, dkk.,2012). Remaja memiliki kesempatan untuk
mengembangkan bakat dan kemampuan sebagai bentuk ekspresi keunikan
diri. Masa remaja juga disebut masa pubertas, yang melibatkan perubahan
biologis, seperti bentuk tubuh dan fungsi fisiologis, yang berlangsung cepat
dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Secara psikologis, remaja mulai
mengintegrasikan diri ke dalam masyarakat dewasa, merasakan kesetaraan,
dan tidak lagi sepenuhnya berada di bawah pengaruh orang dewasa. Masa
remaja terbagi menjadi tiga tahap: remaja awal (12-15 tahun), remaja
pertengahan (15-18 tahun), dan remaja akhir (18-21 tahun) (Kumalasari dkk.,
2012). Pada masa inilah terdapat gejolak emosional yang kurang stabil.
Menurut World Health Organization (WHO), generasi muda di usia 10
hingga 19 tahun merupakan kelompok yang paling rentan terhadap masalah
sosial dan emosional. Data dari United Nations Children's Fund (UNICEF)
tahun 2019 menyebutkan bahwa jumlah remaja di seluruh dunia mencapai 1,2
miliar, atau 16% dari total populasi dunia. Di Indonesia, berdasarkan Badan
Pusat Statistik (BPS) 2022, jumlah remaja mencapai 46 juta jiwa, atau sekitar
17% dari total penduduk. Di Provinsi Jambi, data BPS 2022 menunjukkan
bahwa jumlah remaja mencapai 302.388 jiwa, sekitar 8,30% dari total jumlah
penduduk Provinsi Jambi yang berjumlah 3,64 juta jiwa. (Sumber: Badan
Pusat Statistik, 2022)

1
Gambar 1.1 Kategori Kesehatan Mental Remaja

Sumber : KPAI 2020

Sumber : Badan Pusat Statistik 2017

Hasil diagram diatas menunjukkan, tiap tahun mengalami peningkatan


pada tindakan Kesehatan mental remaja. Remaja memerlukan pencarian jati
diri dan validitas diri. Masa pencarian jati diri terutama anak panti sosial perlu
dukungan khusus terutama dari seorang pengasuhnya, dikarenakan remaja
sering kali mencari hal-hal baru yang menarik bagi dirinya, hal ini seringkali
menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang yang dikenal dengan sebutan
kenakalan remaja (Indrawati, 2019). Sarwono (2008) mendefinisikan
kenakalan remaja sebagai perilaku yang menyimpang dari kebiasaan atau
melanggar hukum. Untuk memahami perilaku kenakalan remaja, penting
untuk memperhatikan faktor kesengajaan dan kesadaran. Selama remaja tidak

2
sadar atau tidak sengaja melanggar hukum serta tidak mengetahui. Maka
terdapat beberapa anak yang bersikap agresif (Indrawati, 2019).
Agresif adalah sikap atau perilaku yang cenderung menunjukkan dorongan
untuk menyerang, melawan, atau menanggapi dengan cara yang keras dan
berlebihan. Seseorang yang agresif dapat menunjukkan ketidaksabaran,
kekerasan, atau tindakan yang merugikan orang lain, baik secara fisik maupun
verbal. Agresivitas ini bisa muncul sebagai respons terhadap frustrasi,
perasaan terancam, atau dorongan untuk mempertahankan diri. Meskipun
agresif seringkali dipandang negatif, dalam beberapa konteks, perilaku ini bisa
menjadi cara seseorang untuk menunjukkan ketegasan atau keinginan untuk
mencapai tujuan (Indrawati, 2019) salah satu permasalahan yang ditemukan
yaitu berkaitan dengan agresivitas verbal.
Agresivitas verbal menurut Willis (2010), dapat dikenali melalui berbagai
aspek perilaku yang bertujuan untuk melukai atau merendahkan orang lain
secara verbal, baik melalui ucapan maupun tulisan. Agresivitas verbal
mencakup proses internal yang memotivasi perilaku agresif dan tujuan di
baliknya. Aspek-aspek agresivitas verbal, menurut Infante (1986), terdiri dari
berbagai Aspek yang mencerminkan bentuk serangan lisan terhadap individu
lain. Tipe pertama, character attack, berfokus pada menyerang karakter atau
fisik seseorang untuk menjadikannya sebagai kelemahan. Competence attack
meremehkan kemampuan orang lain, sehingga membuat mereka meragukan
diri sendiri. Insults atau penghinaan dilakukan dengan mengejek kekurangan
orang lain, mengarah pada penurunan harga diri. Maledictions melibatkan
sumpah serapah atau doa buruk agar orang lain mengalami hal buruk. Teasing
adalah menggoda dengan sindiran atau olokan yang lebih halus namun tetap
menyudutkan. Ridicule mengolok-olok atau menertawakan kekurangan orang
lain, membuat mereka merasa dipandang rendah. Terakhir, profanity
melibatkan penggunaan kata-kata kasar yang menyakitkan, tanpa sindiran atau
pembenaran, namun langsung menyerang dengan keras. Semua bentuk
perilaku ini menunjukkan intensi verbal yang dapat merusak hubungan dan
menyebabkan ketidaknyamanan pada individu yang diserang.

3
Dampak agresi verbal tidak hanya terbatas pada kerugian psikologis
bagi korban, tetapi juga dapat melibatkan kerugian material, seperti
pengrusakan harta benda yang menimbulkan trauma tambahan (Pramudita et
al., 2024) Seperti yang dikatakan oleh teori Goleman (2003), yang
menekankan pentingnya kecerdasan emosional dalam mengelola emosional
dan merespons tekanan secara adaptif. Penelitian Sentana & Kumala (2017),
juga mengungkapkan bahwa lingkungan sosial yang kurang mendukung,
seperti asrama, dapat meningkatkan risiko perilaku agresif verbal akibat
kurangnya keterampilan pengelolaan emosional. Diperlukan intervensi berupa
pelatihan kecerdasan emosional dan komunikasi positif untuk membantu
anak-anak menyalurkan emosional dengan cara yang lebih sehat. Dalam
wawancara yang dilakukan dengan salah satu pengasuh di UPTD Panti Sosial
Bina Anak, Wanita dan Eks Psikotik Jambi pada tanggal 12 Agustus 2024,
pukul 15.30 WIB, pengasuh tersebut menyatakan bahwa anak-anak UPTD
Panti Sosial Bina Anak masih belum mampu dalam mengendalikan emosional
yang baik serta sering melakukan tindakan agresivitas verbal
"Banyak anak yang kesulitan mengelola emosionalnya, terutama ketika mereka
merasa cemas atau marah. Anak-anak ini sering kali mengekspresikan perasaan
mereka dengan kata-kata yang kasar atau agresif, karena mereka tidak tahu
bagaimana cara menyalurkan emosional mereka dengan cara yang lebih positif"
(Pengasuh, 23 September 2024).
Berdasarkan kutipan wawancara tersebut menunjukkan bahwa anak-
anak di UPTD Panti Sosial Bina Anak, Wanita, dan Eks Psikotik Jambi
membutuhkan pendampingan dalam mengelola emosional, karena
ketidakmampuan mereka menyalurkannya secara positif sering kali
diwujudkan melalui agresivitas verbal. Seperti yang dikatakan oleh pengasuh
tersebut, sejalan dengan fakta dari Sofyan (2010), yang menjelaskan bahwa
agresivitas verbal merupakan bentuk penggunaan kata-kata yang bertujuan
menyerang, menghina, atau merendahkan orang lain, dengan maksud
menyakiti atau menekan pihak yang menjadi lawan bicara.
“Biasanya tuh, idak sih kak. Soalnya orang tu ga ngomong, soalnya kalau dikasih
tahu kan, takutnya sampe ke Bu B jarang kek ada yang bertengkar gitu, tapi biasalah
kalau di asrama tu ada yang kotor mulutnya gitu” (Anak Terlantar, 19 September
2024)

4
Berdasarkan hasil wawancara, anak-anak di panti sosial menunjukkan
kesulitan dalam mengendalikan emosional, enggan mendengarkan nasihat,
serta sering berbicara kasar dan tidak sopan. Hal ini sejalan dengan teori
Goleman (1995), yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional berperan
penting dalam bagaimana seseorang mengenali, memahami, dan mengelola
emosionalnya. Anak-anak dengan kecerdasan emosional yang rendah sering
mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosional secara sehat, sehingga
mereka cenderung menggunakan cara-cara agresif, seperti kata-kata kasar,
untuk melampiaskan perasaan mereka.
Menurut Goleman, kecerdasan emosional mencakup lima aspek utama,
yaitu kesadaran diri, pengelolaan diri, motivasi, empati, dan keterampilan
sosial. Anak-anak yang tidak memiliki kesadaran diri yang baik sulit
mengenali emosionalnya sendiri, sehingga mereka lebih mudah tersulut amarah
dan melampiaskannya dengan agresi verbal. Kurangnya keterampilan dalam
mengelola emosional juga menyebabkan mereka tidak mampu menenangkan
diri ketika menghadapi stres atau konflik, yang semakin memperburuk perilaku
agresif.
Penelitian dalam psikologi agresi bertujuan untuk memahami faktor-faktor
yang memicu perilaku agresif serta dampaknya pada individu dan masyarakat.
Menurut Guswani & Kawuryan, (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku agresif antara lain kematangan emosional, kontrol diri, regiulitas,
kecerdasan emosional dan pengaruh media. Salah satu faktor yang
mempengaruhi perilaku agresif adalah kecerdasan emosional. Fenomena
kecerdasan emosional dapat mempengaruhi agresivitas verbal dengan cara
individu yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi cenderung lebih
mampu mengelola emosional mereka dengan baik, sehingga mereka lebih
sabar, empatik, dan tidak mudah tersulut amarah. Sebaliknya, individu dengan
kecerdasan emosional rendah mungkin lebih sulit mengontrol emosional, yang
bisa memicu perilaku agresif dalam komunikasi verbal. Ketika seseorang tidak
mampu mengelola perasaan frustrasi atau marah, mereka lebih rentan untuk
menggunakan kata-kata yang menyakitkan atau konfrontatif. Anak-anak yang

5
tinggal di panti sosial sering kali menghadapi tantangan emosional yang
mempengaruhi perilaku sosial dan interaksi mereka. Commented [1]:

Infante & Wigley (1986) menyebutkan bahwa aspek yang mencerminkan


bentuk serangan lisan terhadap individu lain yang menyerang bagian karakter
anak, maka sejalan dengan diperolehnya hasil wawancara bersama pengasuh
di panti sosial yang berkaitan dengan aspek aspek agresivitas verbal di UPTD
Panti Sosial Bina Anak.
“Kadang-kadang ado yang saya lihat tu ngatain bentuk badan dan fisik. Kalo dapat
aduan dari anak-anak ni misalnyo, ado yang bilang, "buk, dio tu ngatain buk gendut
macam god hand nian buruk itam" atau "kau lolo, busuk dak mandi" itu kan kadang
bikin kawan yang dikatai jadi meraso tersinggung, kawan-kawan jadi malu kalau
disuruh tampil atau ada kegiatan” (Pengasuh, 23 September 2024)
Berdasarkan kesimpulan pada hasil wawancara diatas menjelaskan
bahwa sikap membully dan menyerang secara kasar terutama melukai
perasaan dengan kata kata kasar dan dapat menyerang karakter korban
agresivitas verbal. Perilaku agresivitas verbal yang ditunjukkan melalui
character attack, seperti menghina fisik dan kebersihan, sejalan dengan fakta
dari teori Sofyan (2010) bahwa agresivitas verbal mencakup tindakan untuk
melukai perasaan orang lain melalui kata-kata secara sengaja dengan tujuan
tertentu maupun hanya sebagai kepuasan semata. Sesuai dengan teori Infante
dan Wigley (1986) tentang agresivitas verbal, di mana individu menggunakan
kata-kata untuk menyerang karakter atau identitas orang lain dengan tujuan
merendahkan atau menyakiti.
"Sering nian kak. ado yang bilang, 'kau dak bakal biso kek itu,' atau 'kau dak ado
keahlian kayak kawan lain' itu bikin kito meraso kek dak ado gunonyo, padahal kito kan
sudah berusaha, kadang-kadang kek tulah yang buat ragu samo kemampuan diri
dewek." (Anak Terlantar, 19 September 2024)
Berdasarkan hasil wawancara diatas bahwa sering kali pelaku agresivitas
verbal melakukan penyerangan pada bagian aspek competence attack
(menyerang kemampuan) seperti halnya Sofyan (2010), menyebutkan bahwa
korban tidak memiliki keahlian dan tidak bermanfaat bagi yang lain. Maka
hal tersebut dapat melukai korban. Sejalan dengan fakta Sofyan (2010),
bahwa menyerang kemampuan secara motivasi atau tindakan tertentu
bertujuan untuk mengurangi tingkat kepercayaan diri.

6
“Kadang-kadang kawan-kawan suko saling menghina, kayak ngejek penampilan atau
kekurangan orang lain. misalnyo, ado yang ngomong "kau bengak" atau "kau tuh dak do
gunonyo sini, sanolah kau nyusahin be" itu bikin kawan yang dikatoi jadi minder trus tu
kadang bikin dijauhi jugo samo kawan yang lain, yang ikut-ikutan tu" (Pengasuh, 23
September 2024)
Berdasarkan hasil wawancara diatas menunjukkan bagaimana kata-kata
yang meremehkan kemampuan seseorang dapat membuat individu merasa
tidak dihargai dan meragukan kemampuan yang mereka miliki, meskipun
mereka sudah berusaha. Berdasarkan hasil penelitian dari aspek Agresivitas
verbal bagian insults (menghina) terdapat bahwa anak-anak tersebut kerap
kali melakukan hinaan satu sama lain. Sejalan dengan fakta teori dari Infante
dan Wigley (1986) tentang agresivitas verbal, di mana individu menggunakan
kata-kata untuk menyerang karakter atau identitas orang lain dengan tujuan
merendahkan penampilan orang lain secara sadar.
“Mereka jugo suko ngomong seolah-olah nyumpahi orang, macam dio paling benar
sendiri. Kadang ado yang bilang ntah agek dikatoinyo kusumpahi kau jatuh abis ni,
atau dio cakap ha antaklah kau. Akhirnyo, omongan cak itu bikin orang jadi saling
sumpah-sumpahan.” (Anak Terlantar, 19 September 2024)
Berdasarkan hasil wawancara di atas masuk dalam kategori
maledictions (mengutuk). Mengatakan orang lain tidak bisa apa-apa dan suka
menyumpahkan orang adalah bagian dari agresivitas verbal. Sejalan dengan
fakta dari teori Willis (2010) yang mengatakan bahwa sumpah serapah bagian
dari agresivitas verbal.
“Kayaknya nyagil, biasolah, kalau misalnya kayak itulah ngomong-ngomong gitu
kan padahal ga ado gitu nah dibilangnya ado kan, trus mereka ngerokok sama
bekelahi itulah.” (Anak Terlantar, 19 September 2024) Commented [2]:
Berdasarkan hasil wawancara diatas menyatakan bahwa alasan perkelahian
terjadi akibat anak-anak di panti saling mencagil (mencaci), fitnah, dan adu
domba. Sikap yang digunakan dalam wawancara tersebut merupakan bagian
tindakan negatif dan agresif. Hasil wawancara tersebut masuk pada bagian
aspek teasing (menggoda) yang laki-laki juga biasanya suka merokok, pada
hasil wawancara diatas, sejalan dengan fakta dari teori Willis (2010), yang
mengatakan tindangan pada aspek teasing merupakan tindakan bercanda secara
berlebihan yang dapat mengarah pada tindakan agresivitas verbal.

7
“Sering ado kawan yang diejek kareno cara bicara atau penampilannyo, dan mereka
jadi malu, misalnyo, "kau tuh kayak orang bengak nian ngomongnyo, belajar becakap
dulu, sengong-sengong" reaksi mereka biasonyo diam be atau langsung nangis,
karena dak suko dikatoin tu” (Anak Terlantar, 21 September 2024)
Berdasarkan hasil wawancara diatas merupakan bagian dari tindakan
agresivitas verbal melalui aspek ridicule (ejekan). Anak-anak juga memberikan
pernyataan bahwa sering mengalami ejekan. Sehingga membuat perasaan
mereka merasa sakit. Sejalan dengan fakta dari teori Willis (2010), bahwa
bagian ridicule (ejekan) dapat membuat anak tersebut merasa rendah diri.
“Sesama dialah, disebut anjing lah, babilah dan pendek jugo, kami cuma biso diam
karna dak berani, mengejek dengan sebutan orang tua jugo, suko juga ngatain
dengan ajak-ajak temannya yang lain” (Anak Terlantar, 21 September 2024)
Berdasarkan hasil wawancara diatas merupakan gambaran pada aspek
profanity (berkata kasar) yaitu memberikan hasil bahwa anak-anak tersebut
sering berkata kasar yang masuk dalam kategori sangat kasar. Sejalan dengan
fakta dari penelitian menurut Kawuryan (2011), agresivitas verbal juga ditemui
melalui wawancara bersama salah satu pengasuh yang menceritakan salah satu
contoh kaduan yang diberikan kepadanya, dimana anak tersebut dan beberapa
temannya kerap sekali mendapatkan ucapan kasar dari temannya, seperti
kutipan wawancara diatas.
Selain wawancara, peneliti juga melakukan survei awal pada 17 anak panti
yang menghadiri kegiatan hari kedua intervensi berjudul “psikoedukasi
perilaku asertif sebagai upaya preventif agresivitas verbal di lingkungan
asrama” dengan menggunakan lembar worksheet mengenai kemampuan
mereka dalam mengenali dan mengelola emosional. Berdasarkan survei
menunjukkan bahwa 58,8% anak-anak merasa kesulitan dalam mengontrol
emosional mereka dengan berperilaku asertif dalam menghadapi situasi
konflik. sebaliknya, mereka cenderung mengekspresikan emosional melalui
perilaku agresif maupun pasif saat menghadapi agresivitas verbal. Selain itu,
sebanyak 41,2% anak memilih untuk melaporkan kejadian tersebut kepada
pihak berwenang, seperti kepala panti, guru atau pengasuh. Walaupun tindakan
ini adalah upaya untuk menghindari konflik, namun hal tersebut juga dapat
memperburuk hubungan interpersonal dengan teman sebaya.

8
Fenomena ini mengindikasikan adanya keterkaitan antara rendahnya
kecerdasan emosional dengan tingginya agresivitas verbal. Rendahnya
kemampuan mengenali dan mengelola emosional pada anak-anak ini menjadi
tantangan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif dan harmonis, serta
meningkatkan risiko konflik interpersonal diantar anak. Hal ini
mengindikasikan hubungan yang erat antara rendahnya kecerdasan emosional
dan peningkatan agresivitas verbal pada anak-anak panti asuhan.
Anak-anak tersebut merupakan anak terlantar yang diketahui berdasarkan
wawancara bersama ibu pengasuh bahwa pendataan anak terlantar dan
ekonomi rendah pelaporan kepala daerah melalui dinas sosial. Anak-anak
tersebut memiliki kelemahan dalam mengelola emosional dengan baik, hal
tersebut sejalan dengan kutipan dari hasil wawancara peneliti yang mengatakan
bahwa anak-anak tersebut banyak mengalami tekanan.
“itu tuh ada yang melaporkan atau bagaimana itu nah kita ini kan dinas sosialnya ada
upsk UN pelayanan keliling he jadi eh ada itu dia bakal ke kabupaten-kabupaten
melakukan sosialisasi nah di situ nanti dapat data-data atau dapat lapor-laporan juga
nih dari dinas dinas-dinas kabupaten atau kota yang bersangkutan he heh jadi mereka
nanti yang merekomendasikan memberikan surat rekomendasi atau yang nguruslah kan
heeh seperti kayak di jangkat nih di jangkat kan ada Pak H tuh Pak H itulah nanti ya
biasanya apa urus”( Pengasuh, 23 September 2024)
“Berdasarkan pengamatan kami, memang banyak dari mereka masih kesulitan dalam
mengelola emosionalnya. Mereka mudah marah, sulit mengendalikan perasaan, dan
kadang menunjukkan perilaku impulsif. hal ini mungkin dipengaruhi oleh latar belakang
mereka yang penuh tekanan dan kurangnya bimbingan emosional sejak kecil."
(Pengasuh, 23 September 2024)

Berdasarkan hasil wawancara, benar adanya bahwa anak-anak tersebut


mengalami kesulitan dalam mengontrol emosional. Fakta ini juga diperkuat
oleh beberapa teori ahli, terutama teori dari McShane (1995) yang menekankan
pentingnya dalam mengontrol emosional agar tidak merugikan diri sendiri
maupun orang lain. Dalam wawancara yang dilakukan dengan salah satu
pengasuh dinas terkait di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya Jambi pada
tanggal 12 Oktober 2023, pukul 15.30 WIB bahwa benar anak tersebut masih
kesulitan dalam mengontrol emosionalnya.

9
“kesulitan-kesulitannya itu mungkin nahan emosional emak-emak namanya anak ya
kadang tuh kan kalau kita kasih tahu kan pada jawab ya pada ini ya heeh heeh ya
itulah istilahnya tuh kitanya yang kadang nak harus sabar ya kan he ibaratnya tuh ee
kita nanti kita cubit kita apa nanti salah kan anak orang paling kan ya paling kita itu
aja sabar sekali dua kali tiga kali paling kan yaudah kalau dak ada mau berubah Ibu
lapor nih ke depan gitu aja si ham aja gitu” (Pengasuh, 23 September 2024)
Berdasarkan hasil wawancara diatas tersebut masuk ke dalam aspek (self
awareness), karena melibatkan kemampuan untuk mengendalikan emosional,
seperti kesabaran dan mengelola emosional di dalam diri sendiri, sesuai dengan
fakta dari teori McShane (1995), yang menekankan pentingnya pengelolaan
diri dalam menghadapi situasi penuh tekanan. Melalui penelitian yang
dilakukan juga anak-anak tersebut memiliki sikap yang tidak sopan, meskipun
sering untuk diberitahukan
“Banyak anak yang kesulitan mengelola emosionalnya, terutama ketika mereka
merasa cemas atau marah. Anak-anak ini sering kali mengekspresikan perasaan
mereka dengan kata-kata yang kasar atau agresif, karena mereka tidak tahu
bagaimana cara menyalurkan emosional mereka dengan cara yang lebih positif.”
(Pengasuh, 23 September 2024)
Berdasarkan hasil dari wawancara diatas mengatakan bahwa anak-anak
mengalami kesulitan dalam mengontrol emosional. Tindakan tersebut
mengakibatkan sikap yang kasar dan agresif. Maka dari itu dapat disimpulkan
bahwa masuk ke dalam aspek kesadaran pengelolaan diri (self management)
sejalan dengan fakta dari teori McShane (1995), yang menekankan pentingnya
pengendalian dan adaptasi terhadap perubahan. Serta bertindak yang
bertanggung jawab tanpa harus menyakiti orang lain.
“pertama kan yang saya bilang latar belakang itu ya etika, karna dia awalnya saya
kan kepengen nya ya anak itu pergi sekolah. Walaupun saya bukan orangtua
kandung. Kalo pergi gak pamit dan kalau disuruh tutup pintu pun payah, kalau ribut
tu nomor satu” (Pengasuh, 23 September 2024)”
Berdasarkan hasil wawancara diatas, anak-anak mengatakan bahwa
sering mengalami keributan antar sesama teman sebaya yang dinyatakan oleh
responden diatas. Hasil wawancara di atas juga sejalan dengan fakta dari aspek

10
relationship management dari teori McShane (1995), bahwa anak-anak tidak
memiliki hubungan yang baik merupakan bagian dari kurangnya kontrol
emosional. Kutipan wawancara di atas juga masuk kedalam aspek social
awareness dimana pada teori McShane (1995), mengatakan bahwa penting
untuk merespon emosional, serta perspektif orang lain dengan empati.
Permasalahan kecerdasan emosional dan agresivitas verbal pada anak-anak
terlantar merupakan isu yang mendesak untuk ditangani. Anak-anak yang tidak
memiliki keterampilan dalam mengelola emosi berisiko terjebak dalam pola
perilaku agresif yang dapat merusak hubungan sosial mereka, baik di dalam
maupun di luar panti sosial. Agresivitas verbal yang tidak terkendali dapat
memperburuk isolasi sosial, meningkatkan konflik dengan teman sebaya dan
pengasuh, serta menghambat perkembangan sosial dan psikologis mereka.
Selain itu, ketidakmampuan dalam mengelola emosi dapat memperparah
trauma yang mereka alami, berdampak pada kesejahteraan mental jangka
panjang, serta menghambat proses rehabilitasi. Tanpa intervensi yang tepat,
anak-anak ini akan menghadapi kesulitan dalam berinteraksi kembali dengan
masyarakat dan berpotensi mengalami tantangan emosional yang lebih berat di
masa depan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kecerdasan
emosional dan agresivitas verbal pada anak-anak terlantar di UPTD
PSBAWEP Harapan Mulya Jambi. Dalam penelitian ini, kecerdasan emosional
dipandang sebagai variabel independen yang berperan penting dalam
membentuk perilaku anak. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan anak
dalam mengenali, memahami, dan mengelola emosi mereka, yang berpengaruh
terhadap cara mereka berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Sementara itu,
agresivitas verbal sebagai variabel dependen mencerminkan kecenderungan
anak dalam menggunakan kata-kata kasar atau konfrontatif sebagai respons
terhadap perasaan marah atau frustrasi.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diketahui sejauh mana kecerdasan
emosional mempengaruhi frekuensi dan intensitas agresivitas verbal pada
anak-anak terlantar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya pengembangan

11
kecerdasan emosional sebagai strategi intervensi untuk mengurangi perilaku
agresif pada anak-anak terlantar, yang kerap mengalami beban psikologis
akibat pengalaman masa lalu yang traumatis. Maka dari itu peneliti perlu untuk
meninjau lebih lanjut mengenai Agresivitas Verbal pada anak terlantar di
UPTD (PSBAWEP) Harapan Mulya Jambi.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas verbal
pada anak terlantar di UPTD (PSBAWEP) Harapan Mulya Jambi?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum :
Untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas
verbal pada anak terlantar di UPTD (PSBAWEP) Harapan Mulya Jambi
1.3.2 Tujuan Khusus :
1. Mengetahui Gambaran kecerdasan emosional pada anak terlantar di
UPTD (PSBAWEP) Harapan Mulya Jambi
2. Mengatahui Gambaran agresivitas verbal pada anak terlantar di UPTD
(PSBAWEP) Harapan Mulya Jambi

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan teori kecerdasan emosional dan agresivitas verbal,
terutama dalam konteks anak-anak terlantar. Dengan mengkaji hubungan
antara kedua variabel ini, penelitian ini dapat memperkaya pemahaman
tentang bagaimana kecerdasan emosional mempengaruhi perilaku agresif
dalam bentuk verbal. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan
wawasan baru dalam bidang psikologis anak dan membantu
mengidentifikasi faktor-faktor psikologis yang berperan dalam
perkembangan perilaku sosial anak-anak yang menghadapi kondisi sulit,
seperti anak terlantar. Selain itu, penelitian ini juga dapat memperkaya

12
literatur yang ada mengenai pengaruh pendidikan emosional dalam upaya
rehabilitasi anak-anak yang mengalami trauma sosial.
1.4.2 Manfaat Akademis
Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
bahan referensi yang berguna bagi mahasiswa, peneliti, dan praktisi
psikologi dalam memahami pentingnya kecerdasan emosional dalam
mengurangi agresivitas verbal pada anak-anak. Penelitian ini juga dapat
menjadi landasan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang berfokus
pada pengembangan intervensi psikologis untuk anak-anak terlantar atau
anak dengan masalah perilaku serupa. Selain itu, hasil penelitian ini dapat
digunakan dalam pengembangan kurikulum pendidikan emosional yang
lebih efektif di lembaga sosial atau panti sosial untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan emosional dan sosial anak-anak di
lingkungan tersebut.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


1. Mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas
verbal pada anak-anak terlantar di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya
Jambi.
2. Menganalisis tingkat kecerdasan emosional anak-anak terlantar yang
tinggal di panti sosial.
3. Mengidentifikasi tingkat agresivitas verbal yang ditunjukkan oleh anak-
anak di panti sosial.
4. Mempelajari bagaimana kecerdasan emosional berperan dalam
pengendalian agresivitas verbal pada anak-anak di lingkungan panti
sosial.
5. Menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional
dan agresivitas verbal, termasuk lingkungan pengasuhan dan
pengalaman masa lalu anak-anak.
6. Memberikan wawasan bagi pihak terkait (pengasuh, pendidik, dan
pemerintah) dalam merancang intervensi atau program pengembangan
kecerdasan emosional untuk mengurangi agresivitas verbal.

13
1.6 Keaslian Penelitian

Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

Hubungan Antara (Syavitri, 2024) Variabel 1 : Kontrol Penelitian ini Hasil dari uji regresi
Kontrol Diri dan Diri menggunakan metode berganda
Kematangan Variabel 2 : kuantitatif dengan menunjukkan bahwa
Emosional dengan Kematangan teknik regresi ada hubungan yang
Agresivitas pada Emosional berganda untuk signifikan antara
Siswa SMK “X” di menganalisis kontrol diri dan
Kota Pati. hubungan antara kematangan emosional
kontrol diri, dengan agresivitas
kematangan dengan R=0.726 dan
emosional, dan 𝐹ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔=62.573
agresivitas. Dalam dengan p= 0.000
analisis ini, regresi
berganda digunakan
untuk melihat sejauh
mana kontrol diri dan
kematangan emosional
secara bersama-sama

14
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

mempengaruhi
agresivitas, dengan
pengujian nilai R dan
F-hitungan untuk
menilai kekuatan
hubungan dan
signifikansi hubungan
antar variabel. P-value
yang lebih kecil dari
0,05 menunjukkan
bahwa hubungan yang
ditemukan adalah
signifikan secara
statistik.

Hubungan Antara (Prastowo & Variabel 1 : Penelitian ini Hasil penelitian


Kecerdasan Indrawati, 2020) Kecerdasan Emosional menggunakan metode menunjukkan bahwa
Emosional Dengan Variabel 2 : Intensi kuantitatif dengan ada hubungan negatif
Intensi Agresi Pada Agresi teknik korelasi yang signifikan antara

15
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

Remaja Anggota Pearson untuk kecerdasan emosional


Komunitas Motor X mengukur hubungan dengan intensi agresi (
Semarang. antara kecerdasan r = -0,566 dengan p =
emosional dan intensi 0,000). Nilai koefisien
agresi. Korelasi korelasi negatif
Pearson digunakan menunjukkan adanya
untuk mengidentifikasi hubungan negatif
jenis hubungan (positif antara kedua variabel
atau negatif) antara dimana semakin tinggi
dua variabel tersebut. kecerdasan emosional
Nilai koefisien maka akan semakin
korelasi negatif (r = - rendah intensi agresi,
0,566) menunjukkan dan semakin rendah
bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional
kecerdasan emosional, maka semakin tinggi
semakin rendah intensi intensi agresi.
agresi, dan sebaliknya. Kecerdasan emosional
Signifikansi dihitung memberikan
dengan menggunakan sumbangan efektif

16
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

uji p-value untuk sebesar 32% terhadap


memastikan hubungan intensi agresi.
tersebut tidak terjadi
secara kebetulan.

Pengaruh Pelatihan (Suputra et al., 2023) Variabel 1 : Penelitian ini Hasil penelitian
Kecerdasan Kecerdasan Emosional menggunakan metode menunjukkan bahwa
Emosional Terhadap Variabel 2 : eksperimen atau quasi- tidak ada pengaruh
Kesejahteraan Kesejahteraan eksperimen untuk pelatihan kecerdasan
Psikologis Pada Psikologis menguji pengaruh emosional terhadap
Remaja. pelatihan kecerdasan kesejahteraan
emosional terhadap psikologis pada remaja
kesejahteraan di lokasi X. Peran
psikologis remaja. orang tua dalam
Meskipun tidak mengasuh remaja
disebutkan secara tersebut, serta orientasi
eksplisit, penggunaan remaja terhadap hal -
pretest dan posttest hal yang bersifat
bisa menjadi material dapat

17
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

pendekatan dalam mempengaruhi


penelitian ini untuk kesejahteraan
mengukur perubahan psikologis remaja
kesejahteraan
psikologis. Penelitian
ini juga
mempertimbangkan
faktor-faktor lain yang
mungkin
mempengaruhi hasil,
seperti peran orang tua
dan orientasi material
remaja.

Hubungan antara (Ulya, I., Veviyarni, Variabel 1 : Penelitian ini Hasil penelitian
kecerdasan emosional S., Azru, S., Zadrian, Kecerdasan Emosional menggunakan metode menunjukkan bahwa:
dengan perilaku A., 2018) Variabel 2 : Perilaku kuantitatif dengan (1) kecerdasan
agresif remaja dan Agresi jenis deskriptif emosional remaja
implikasinya dalam korelasi. Populasi berada pada kategori

18
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

bimbingan dan penelitian adalah 300 tinggi, (2) perilaku


konseling. siswa yang dipilih agresif remaja berada
secara Stratified pada kategori tinggi
Random Sampling. kategori sedang, (3)
Instrumen yang dan terdapat hubungan
digunakan dalam negatif yang signifikan
penelitian ini adalah antara kecerdasan
Likert kuesioner emosional dengan
model skala. Data perilaku agresif remaja
dianalisis dengan dengan koefisien
teknik statistik korelasi -0,431 dan
deskriptif dan teknik tingkat signifikansi
Pearson Product 0,000.
Moment.

Pengaruh Kelekatan (Pramudita et al., Variabel 1 : Penelitian ini Penelitian ini


Orang Tua dan 2024) Kecerdasan Emosional menggunakan metode dilakukan pada bulan
Kecerdasan Variabel 2 : deskriptif dengan Oktober hingga
Emosional terhadap Agresivitas Verbal pendekatan survei, November 2023,

19
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

Agresivitas Remaja. yang berfokus pada dengan responden


pengumpulan data yang berasal dari
tentang keterikatan siswa SMA Plus Bina
dan tingkat agresi pada Bangsa Sejahtera.
remaja. Data diperoleh Hasil penelitian
melalui kuisioner atau menunjukkan bahwa
wawancara dengan di antara responden,
responden dari siswa 25 persen termasuk
SMA, dan hasilnya dalam kategori
disajikan dalam keterikatan yang tidak
bentuk persentase aman (insecure
untuk menggambarkan attachment), 64 persen
distribusi keterikatan berada dalam kategori
(secure vs insecure) agresi sedang, diikuti
dan tingkat agresivitas oleh 7 persen yang
di antara siswa termasuk dalam
tersebut. Teknik ini kategori agresi tinggi,
bertujuan untuk sementara sisanya
memberikan gambaran berada dalam kategori

20
Judul Peneliti Variabel Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian

umum tentang pola agresi rendah.


atau kecenderungan
yang ada dalam
populasi yang diteliti.

21
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan beberapa penelitian sebelumnya
dalam mengkaji hubungan antara kecerdasan emosional dan agresivitas, serta
menggunakan metode kuantitatif untuk menganalisis hubungan antar variabel.
Seperti penelitian Syavitri (2024) dan Prastowo & Indrawati (2020), penelitian ini
juga meneliti bagaimana aspek emosional, seperti kontrol diri dan kecerdasan
emosional, berperan dalam perilaku agresif, dengan teknik pengumpulan data
melalui kuesioner. Namun, penelitian ini berbeda dalam konteksnya, karena
secara spesifik meneliti anak-anak terlantar di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya
Jambi, yang memiliki pengalaman hidup dan lingkungan pengasuhan yang unik
dibandingkan populasi remaja pada penelitian lainnya. Selain itu, dibandingkan
dengan penelitian Pramudita et al. (2024), yang menyoroti peran kelekatan orang
tua dalam agresivitas remaja, penelitian ini lebih menitikberatkan pada kondisi
anak-anak yang tumbuh tanpa pengasuhan orang tua secara langsung, sehingga
faktor lingkungan panti sosial menjadi aspek penting dalam memahami hubungan
antara kecerdasan emosional dan agresivitas verbal mereka.

22
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kecerdasan Emosional

2.1.1 Definisi Kecerdasan Emosional

Kata emosional berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang


berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan
bertindak merupakan hal mutlak dalam emosional. Menurut Goleman,
emosional merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu
keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk
bertindak. Emosional berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai
pikiran. (Alif et al., 2021)
Kecerdasan emosional menurut Goleman (2000) adalah
kemampuan dalam mengatur dan memanfaatkan emosional secara efektif
untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Aspek yang
termasuk dalam kecerdasan emosional meliputi kemampuan mengatasi
rasa frustasi, mengendalikan suasana hati, memiliki empati yang tinggi,
serta mampu bekerja sama dalam tim dengan baik.
Goleman (2018) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai
keterampilan praktis yang didasarkan pada kesadaran diri dalam
mengenali emosional yang muncul, kemampuan mengendalikan diri agar
dapat membangun rasa percaya, serta keterampilan sosial dalam
menghadapi emosional saat berinteraksi dengan orang lain. Sementara itu,
menurut McShane (2015), kecerdasan emosional merupakan keahlian
dalam mengenali emosional diri sendiri maupun orang-orang di sekitar,
kemudian memanfaatkan pemahaman tersebut untuk mengelola emosional
secara efektif sehingga dapat mendukung keberhasilan
Berdasarkan uraian diatas, peneliti menyimpulkan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan
emosional dirinya. Seperti suasana hati, rasa empati terhadap lingkungan, Commented [4]:

dan bagaimana seseorang dalam menyikapi tindakan orang lain maupun


cara seseorang dalam memperlakukan orang lain dengan baik. Kecerdasan

23
emosional merupakan tindakan mengontrol emosional dengan cerdas dan
baik tanpa melukai orang lain. (Alif et al., 2021)
2.1.2 Sejarah Atau Pendekatan Kecerdasan Emosional
Sejarah kecerdasan emosional (emotional intelligence) berakar dari
penelitian psikologi yang dimulai pada abad ke-20, khususnya dalam
memahami hubungan antara emosional dan kecerdasan. Konsep ini mulai
mendapat perhatian ketika para ilmuwan menyadari bahwa kemampuan
intelektual (IQ) saja tidak cukup menjelaskan keberhasilan seseorang
dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Pada awal abad ke-20,
Edward Thorndike memperkenalkan konsep "kecerdasan sosial", yaitu
kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan antar manusia.
Selanjutnya, penelitian dalam psikologi kognitif dan emosional mulai
berkembang pesat. Pada tahun 1983, Gardner melalui teorinya tentang
kecerdasan majemuk (multiple intelligences) mengidentifikasi "kecerdasan
intrapersonal" dan "kecerdasan interpersonal" sebagai elemen penting
yang berkaitan dengan emosional dan hubungan manusia. Namun, istilah
"kecerdasan emosional" secara formal dikenalkan oleh Salovey dan Mayer
pada tahun 1990. Mereka mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk
memantau emosional sendiri dan orang lain, membedakan berbagai
emosional, serta menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran
dan tindakan. Pendekatan mereka memberikan kerangka kerja teoritis
untuk memahami bagaimana emosional dapat dikelola secara adaptif. (Alif
et al., 2021)
Perkembangan terbesar dalam konsep ini terjadi ketika Goleman
mempopulerkan kecerdasan emosional melalui bukunya Emotional
Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ pada tahun 1995. Goleman
menjelaskan bahwa kecerdasan emosional memiliki lima komponen
utama: kesadaran diri, pengelolaan diri, motivasi, empati, dan
keterampilan sosial. Ia berpendapat bahwa kemampuan ini berkontribusi
lebih besar terhadap kesuksesan seseorang dibandingkan IQ. Teori ini
mengubah cara organisasi dan individu memahami kompetensi manusia,
khususnya dalam konteks kepemimpinan dan manajemen. Pendekatan

24
kecerdasan emosional juga diperkaya melalui penelitian lintas budaya
yang menunjukkan bahwa cara seseorang mengelola emosional
dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial dan tradisi budaya. Dalam dunia
pendidikan, konsep ini mulai diterapkan melalui program-program
Pembelajaran Sosial dan Emosional (SEL) yang dirancang untuk
membantu anak-anak mengembangkan keterampilan pengelolaan
emosional sejak dini. (Alif et al., 2021)
Selain itu, kecerdasan emosional kini menjadi pendekatan yang
penting dalam dunia kerja. Banyak organisasi yang mengintegrasikan
pelatihan kecerdasan emosional untuk meningkatkan produktivitas,
kepemimpinan, dan kolaborasi tim. Penelitian modern juga menunjukkan
bahwa kecerdasan emosional bukan hanya kemampuan bawaan tetapi
dapat dikembangkan melalui latihan dan pengalaman. Dengan demikian,
pendekatan kecerdasan emosional telah berkembang dari teori psikologi
menjadi aspek praktis yang diaplikasikan dalam berbagai bidang seperti
pendidikan, kesehatan mental, hubungan interpersonal, hingga dunia
bisnis. Seiring dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, kecerdasan
emosional juga menjadi kompetensi utama untuk menghadapi tantangan
kompleks di era digital dan hubungan lintas budaya yang semakin intens
(Alif et al.,2021).
2.1.3 Aspek Kecerdasan Emosional
Adapun dimensi-dimensi kecerdasan emosional berdasarkan
pendapat dari Hurlock (2004) adalah :
1. Kesadaran diri (self-awareness)
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami
emosional diri sendiri. Ini mencakup kemampuan untuk menyadari
bagaimana perasaan kita mempengaruhi pikiran, perilaku, dan keputusan
kita. Orang yang memiliki kesadaran diri yang tinggi mampu menilai
kekuatan dan kelemahan mereka serta memiliki pemahaman yang jelas
tentang nilai-nilai pribadi dan motivasi internal mereka.
2. Pengelolaan diri (self-regulation)

25
Pengelolaan diri melibatkan kemampuan untuk mengendalikan emosional
dan impuls yang tidak diinginkan serta mengelola reaksi dalam situasi
yang penuh tekanan. Ini mencakup keterampilan seperti mengatur stres,
menjaga kestabilan emosional, dan menunda kepuasan instan demi tujuan
jangka panjang. Individu yang baik dalam pengelolaan diri dapat
mengelola perasaan frustrasi atau marah tanpa membiarkan emosional
tersebut mengganggu keputusan atau hubungan mereka.
3. Motivasi (motivation)
Motivasi dalam konteks kecerdasan emosional berarti kemampuan untuk
menggunakan emosional positif untuk memotivasi diri dalam mencapai
tujuan. Orang yang memiliki motivasi tinggi cenderung memiliki orientasi
terhadap pencapaian, berfokus pada hasil yang diinginkan, dan dapat
bertahan meskipun menghadapi hambatan atau tantangan.
4. Empati (empathy)
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan
orang lain. Aspek ini mencakup mendengarkan dengan perhatian penuh,
merespons dengan pengertian terhadap perasaan orang lain, dan
mengidentifikasi kebutuhan atau perasaan orang di sekitar kita. Empati
sangat penting dalam membangun hubungan yang sehat dan dapat
meningkatkan komunikasi serta pengertian antar individu.
5. Keterampilan sosial (social skills)
Keterampilan sosial adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang
lain secara efektif. Ini mencakup keterampilan komunikasi, kerjasama,
manajemen konflik, serta kemampuan untuk mempengaruhi dan
menginspirasi orang lain. Keterampilan sosial yang baik memungkinkan
individu untuk bekerja dalam sosialisasi.
Menurut Trdhonanto (2009) terdapat beberapa aspek atau dimensi
yang bisa dijadikan acuan, yaitu :
1. Kecakapan pribadi
Kecakapan pribadi adalah bagaimana seseorang dapat mengatur dan
membawa dirinya sendiri.

26
2. Kecakapan sosial
Kecakapan sosial merupakan kemampuan seseorang dalam mengatur dan
mengelola dirinya dan lingkungan
3. Keterampilan sosial
Kemampuan sosial merupakan kemahiran dalam menyikapi tanggapan
orang lain.
Menurut McShane at al (2010) terdapat empat aspek kecerdasan
emosional yaitu sebagai berikut :
1. Self awareness
Kemampuan mengenali emosional, kekuatan, kelemahan, serta
dampaknya terhadap diri sendiri dan orang lain.
2. Self management
Kemampuan mengendalikan emosional, beradaptasi dengan perubahan,
serta bertindak dengan disiplin dan tanggung jawab.
3. Social awareness Commented [5]: note, ini aspek apa?

Aspek kecerdasan Emosional pada bagian ini adalah kemampuan


memahami serta merespons emosional, kebutuhan, serta perspektif orang
lain dengan empati.
4. Relationship management
Kemampuan membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat
melalui komunikasi efektif, kerja sama, dan resolusi konflik
Berdasarkan uraian di atas, peneliti telah menyimpulkan bahwa
kecerdasan emosional menunjukkan kemampuan individu dalam
mengenali, mengelola, dan memanfaatkan emosional secara efektif dalam
kehidupan sehari-hari. Kecerdasan emosional mencakup aspek kesadaran
diri, pengelolaan diri, motivasi, empati, serta keterampilan sosial yang
berperan dalam pengendalian diri dan interaksi sosial. Dengan kecerdasan
emosional yang baik, individu dapat membangun hubungan yang sehat,
mengatasi tekanan, serta mencapai tujuan pribadi dan profesional secara
optimal. Aspek yang peneliti gunakan adalah teori dari McShane (2010)
karena lebih kompleks secara kajian.

27
2.1.4 Sumber Dukungan Kecerdasan emosional
Kecerdasan emosional seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor yang dapat membentuk dan mempengaruhi kemampuan individu
dalam mengelola emosional. Salah satunya adalah faktor internal, yang
melibatkan aspek biologis, seperti otak dan pikiran, yang berperan dalam
bagaimana seseorang memproses dan merespons emosional. Faktor
keluarga juga memainkan peran yang sangat penting, karena keluarga
adalah lingkungan pertama di mana seseorang belajar mengenali dan
memahami emosional, serta bagaimana menanggapi perasaan diri sendiri
maupun orang lain. Interaksi dalam keluarga membentuk dasar bagi
pengembangan kecerdasan emosional. Selain itu, faktor lingkungan,
seperti interaksi sosial di masyarakat dan sekolah, turut mempengaruhi
perkembangan kecerdasan emosional. Lingkungan sosial yang
mendukung, seperti sekolah yang mengajarkan empati dan keterampilan
sosial, dapat memperkuat kemampuan individu dalam mengelola
hubungan antar pribadi dan menghadapi tantangan emosional.
Adapun dalam upaya mengukur kecerdasan emosional, beberapa
aspek kunci yang dapat dievaluasi termasuk: pertama, mengenali
emosional diri (self-awareness), yang merupakan kemampuan untuk
menyadari dan memahami perasaan sendiri; kedua, mengelola emosional
(self-regulation), yang mencakup kemampuan untuk mengontrol reaksi
emosional dan menjaga kestabilan emosional; ketiga, memotivasi diri
sendiri (self-motivation), yang memungkinkan individu tetap fokus pada
tujuan meski menghadapi hambatan; keempat, berempati (empathy), yaitu
kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain, dan
kelima, keterampilan sosial (social skills), yang berfungsi untuk
membangun hubungan yang sehat dan efektif dalam kehidupan sosial.
Semua aspek ini saling berhubungan dan mendukung perkembangan
kecerdasan emosional secara keseluruhan (Nauli Thaib, 2013).

28
2.1.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional
Adnyani et al. (2013) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional
seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat
kecerdasan, jenis kelamin, status sosial, kondisi ekonomi, kesehatan fisik,
interaksi sosial dengan masyarakat dan keluarga, posisi dalam keluarga,
serta karakter pribadi.
Menurut Goleman (1995), terdapat dua faktor utama yang
mempengaruhi kecerdasan emosional, yaitu:
1. Faktor dari dalam diri (internal)
Faktor internal meliputi aspek fisik dan psikologis yang berasal
dari individu itu sendiri. Aspek fisik berkaitan dengan kondisi
kesehatan tubuh, sedangkan aspek psikologis mencakup pengalaman
hidup, keadaan emosional, pola berpikir, dan dorongan motivasi yang
berperan dalam membentuk kecerdasan emosional seseorang.
2. Faktor dari lingkungan (eksternal)
Faktor eksternal melibatkan kondisi lingkungan dan rangsangan
yang diterima individu saat mengembangkan kecerdasan
emosionalnya. Lingkungan sekitar dapat berpengaruh terhadap respons
emosional seseorang, sementara berbagai rangsangan yang muncul
akan membentuk kemampuan individu dalam mengelola emosional
dengan tepat tanpa adanya gangguan.
Uraian di atas memaparkan bahwa kecerdasan emosional seseorang
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia, hubungan sosial dengan
masyarakat dan keluarga, kesehatan fisik, keadaan psikologis, lingkungan
sekitar, posisi dalam keluarga, serta kepribadian. Faktor-faktor tersebut
menjadi latar belakang dalam membentuk kemampuan individu untuk
memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosional secara efektif.

29
2.1.6 Alat Ukur Kecerdasan Emosional
Tabel 2.1 Alat Ukur Aitem Kecerdasan Emosional
Alat Ukur Peneliti Tahun Jumlah Reliabilitas
Aitem
Kecerdasan Candra 2022 26 0.880
Emosional
Kecerdasan Farkhaeni 2011 36 0.674
Emosional
Kecerdasan Ratu 2021 30 0.269
Emosional
Keputusan untuk menggunakan alat ukur kecerdasan emosional dari Chandra
(2022) dengan 26 item dan reliabilitas 0.880 tampaknya merupakan pilihan yang
tepat. Reliabilitasnya yang tinggi menunjukkan konsistensi internal yang baik
dibandingkan dengan alat ukur dari Akhmeda Farkhaeni (2011) dan Ichsan
Chintia Ratu (2021), yang memiliki reliabilitas lebih rendah.

2.2 Agresivitas Verbal


2.2.1 Definisi Agresivitas Verbal
Menurut Willis (2010), agresivitas verbal dapat dipahami melalui
dua perspektif yang berbeda, yaitu definisi operasional dan definisi
motivasional. Dalam definisi operasional, agresi adalah hasil dari proses
kemarahan yang memuncak. Artinya, ketika seseorang merasa marah atau
frustrasi, emosional tersebut bisa mencapai titik puncaknya dan
mendorong individu untuk melakukan tindakan agresif, salah satunya
dalam bentuk agresivitas verbal. Dalam hal ini, agresi verbal bukan
sekadar reaksi spontan, melainkan respons yang timbul akibat ketegangan
emosional yang tidak dikelola dengan baik. Ketika perasaan marah atau
tidak puas terus menumpuk tanpa saluran yang sehat untuk

30
mengungkapkan diri, kata-kata yang terlontar cenderung menjadi alat
untuk melepaskan tekanan emosional tersebut. Oleh karena itu, agresivitas
verbal sering kali muncul dalam bentuk hinaan, cercaan, atau ucapan yang
berniat untuk menyakiti perasaan orang lain, baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Agresivitas verbal dipandang sebagai tindakan yang bertujuan
untuk menyakiti orang lain. Berbeda dengan definisi operasional yang
lebih berfokus pada proses internal yang mengarah pada perilaku agresif,
definisi motivasional ini menekankan pada niat atau tujuan di balik
perilaku tersebut. Dalam konteks ini, agresivitas verbal dimaksudkan
untuk merugikan atau menyakiti orang lain secara emosional. (Harefa,
2022)
Terdapat berbagai bentuk konteks agresivitas verbal yang bisa
muncul dalam individu. Salah satunya adalah ketidakmampuan individu
dalam mengelola atau mengungkapkan perasaan negatif mereka secara
konstruktif. Ketika emosional seperti marah, kecewa, atau cemas tidak
dapat dikelola dengan baik, kata-kata kasar atau penghinaan sering kali
menjadi cara untuk melampiaskan perasaan tersebut. Selain itu, agresivitas
verbal juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kebiasaan
komunikasi dalam suatu kelompok atau masyarakat. Misalnya, dalam
lingkungan yang menganggap perilaku agresif sebagai hal yang wajar atau
bahkan diperbolehkan, individu mungkin merasa didorong untuk
mengekspresikan diri dengan cara yang kasar atau menyakitkan. (Syavitri,
2024)
Agresivitas verbal adalah ekspresi kemarahan atau frustrasi melalui
kata-kata yang bertujuan menyakiti secara psikologis, dipengaruhi oleh
faktor internal dan keinginan untuk melukai. Perilaku ini dapat berdampak
jangka panjang, merusak hubungan, dan mengganggu komunikasi dalam
masyarakat. Maka dari itu penting untuk memberikan pengarahan dan
pembelajaran mengenai cara mengontrol emosional melalui aspek-aspek
penilaian nya.

31
2.2.2 Sejarah atau Pendekatan Agresivitas Verbal
Pendekatan agresivitas verbal merujuk pada gaya komunikasi yang
menggunakan kata-kata atau ucapan yang menyinggung, merendahkan,
atau menyerang pihak lain dengan tujuan untuk mendominasi, mengontrol,
atau mengungkapkan ketidakpuasan secara langsung. Biasanya, agresivitas
verbal tidak memperhatikan perasaan orang lain, dan sering kali mengarah
pada konflik atau ketegangan dalam interaksi. Beberapa ciri dari
agresivitas verbal adalah:
1. Penggunaan kata-kata menyinggung: sering menggunakan kata-kata
kasar, menghina, atau mengejek orang lain secara langsung.
2. Nada bicara yang tinggi dan menyakitkan: menggunakan intonasi atau
volume suara yang keras, bisa menakutkan atau membuat lawan
bicara merasa terancam.
3. Serangan pribadi: alih-alih mengkritik tindakan atau ide, fokusnya
justru beralih ke pribadi lawan bicara, seperti menyerang karakter atau
identitas seseorang.
4. Mengabaikan perasaan lawan bicara: mengabaikan atau meremehkan Commented [6]: perkuat dengan penelitian pendukung
atau teori pendukung hasil wawancaranya
perasaan atau perspektif orang lain dalam komunikasi, sering kali
mengabaikan hak atau kebutuhan untuk didengar dengan penuh
hormat.
5. Dominasi dalam percakapan: menyerang atau mendominasi
percakapan tanpa memberi ruang untuk lawan bicara berbicara atau
memberikan pendapatnya.
a) Hubungan yang terganggu: agresivitas verbal dapat merusak
hubungan interpersonal, menciptakan ketegangan dan
meningkatkan kemungkinan konflik.
b) Stres dan kecemasan: bagi mereka yang menjadi sasaran
agresivitas verbal, ini dapat menyebabkan stres, kecemasan, atau
bahkan trauma psikologis.
c) Menghambat komunikasi efektif: ketika komunikasi dipenuhi
dengan agresivitas verbal, kemungkinan besar akan lebih sulit
untuk mencapai pemahaman bersama atau solusi konstruktif.

32
1. Pengendalian diri: mengelola emosional dan memilih kata-kata
dengan bijak saat berkomunikasi, meskipun merasa marah atau
frustrasi.
2. Komunikasi non-agresif: menerapkan komunikasi yang lebih
asertif, di mana kita menyampaikan perasaan dan pendapat
dengan tegas namun tetap menghormati perasaan orang lain.
3. Empati dan mendengarkan aktif: berusaha untuk memahami
perspektif orang lain sebelum merespons dengan cara yang
bisa memicu konflik.
4. Teknik de-eskalasi: jika berada dalam situasi yang penuh
ketegangan, penting untuk menenangkan suasana dan
menghindari kata-kata atau sikap yang bisa memperburuk
keadaan.
Meskipun terkadang emosional dan intens, pendekatan agresivitas
verbal biasanya lebih merugikan dibandingkan dengan komunikasi yang
lebih konstruktif dan penuh pengertian
2.2.3 Aspek-Aspek Agresivitas Verbal
Menurut Infante (2012), agresivitas verbal dapat dijelaskan melalui
beberapa aspek sebagai berikut tersebut:
1. Character attacks (menyerang karakter)
Ini terjadi ketika seseorang secara sengaja menyerang atau
menyinggung karakter orang lain melalui ucapan atau tulisan.
Serangan ini tidak hanya berfokus pada perilaku atau tindakan orang
tersebut, tetapi pada sifat dasar atau identitas mereka. Contohnya,
menyebut seseorang sebagai "pembohong" atau "tidak jujur" untuk
merendahkan integritas atau moralitasnya.
2. Competence attacks (menyerang kompetensi)
Serangan ini berfokus pada meremehkan atau merendahkan
kemampuan, keterampilan, atau pengetahuan seseorang. Misalnya,
mengatakan bahwa seseorang "tidak cerdas" atau "tidak kompeten"
dalam pekerjaan mereka dengan tujuan untuk membuat orang tersebut
merasa tidak mampu.

33
3. Insults (menghina)
Menghina adalah bentuk agresi verbal yang sengaja ditujukan untuk
mengejek atau mencemooh kelemahan fisik atau psikologis seseorang.
Ini termasuk komentar kasar atau menghina tentang penampilan,
kemampuan, atau karakter seseorang. Contohnya adalah menyebut
seseorang dengan istilah merendahkan seperti "bodoh", "gendut", atau
"lemah".
4. Maledictions (mengutuk)
Ini merujuk pada tindakan mengucapkan sumpah serapah atau harapan
agar hal buruk menimpa seseorang. Misalnya, mengutuk seseorang
dengan kalimat seperti "semoga kamu gagal" atau "aku berharap kamu
mendapat masalah besar." Ini merupakan bentuk verbal yang lebih
eksplisit dalam mendoakan keburukan untuk orang lain.
5. Teasing (menggoda)
Menggoda atau bercanda dengan sindiran merupakan bentuk agresi
verbal di mana seseorang memunculkan komentar sindiran yang
ditujukan untuk menyakiti perasaan orang lain, meskipun seringkali
dilakukan dengan "gaya" bercanda. Misalnya, menggoda seseorang
tentang penampilannya atau situasi pribadi mereka, yang pada
dasarnya bisa menyinggung perasaan.
6. Ridicule (ejekan)
Ejekan terjadi ketika seseorang dengan sengaja menertawakan atau
mempermalukan orang lain atas kesalahan atau kelemahan yang
mereka miliki. Ini sering melibatkan membuat lelucon yang
mengandung unsur penghinaan. Contohnya adalah mengolok-olok
seseorang atas kesalahan kecil yang mereka lakukan atau menciptakan
lelucon yang menargetkan kelemahan fisik atau mental orang tersebut
(Pramudita et al., 2024).

34
7. Profanity (kata-kata kotor)
Profanity adalah penggunaan kata-kata kasar, tidak senonoh, atau
menghina yang dianggap tidak pantas dalam komunikasi sehingga
dapat merusak mental orang lain.
Sementara itu, menurut Anderson dan Huesmann (2013), terdapat
beberapa aspek lain dalam perilaku agresi verbal, yaitu:
1. Mengejek
Perilaku ini melibatkan tindakan merendahkan seseorang dengan
menyoroti kekurangannya secara sengaja. Tujuannya adalah untuk
menyakiti perasaan individu yang menjadi sasaran.
2. Membentak
Bentuk agresi verbal ini terjadi ketika seseorang mengeluarkan kata-
kata dengan nada kasar dan keras, yang berpotensi melukai perasaan
orang lain.
3. Membantah
Tindakan ini muncul ketika seseorang menolak pendapat atau
pernyataan orang lain yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Individu yang memiliki kecenderungan ini biasanya menolak kritik
atau komentar negatif terhadap dirinya dengan cara yang bersifat
konfrontatif.
4. Membual
Perilaku ini melibatkan sikap sombong atau membesar-besarkan diri
dengan tujuan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.
5. Menyebarkan fitnah atau aib
Tindakan ini terjadi ketika seseorang menyebarkan informasi yang
tidak benar atau mempermalukan orang lain dengan maksud
menciptakan dampak negatif terhadap reputasi individu tersebut.
6. Mengancam
Jenis agresivitas verbal ini berupa tindakan menakut-nakuti seseorang
melalui kata-kata, dengan tujuan membuat orang tersebut merasa
cemas atau terintimidasi.

35
7. Menipu
Perilaku ini melibatkan penggunaan kata-kata yang terdengar baik
atau meyakinkan untuk menipu orang lain. Akibatnya, korban bisa
saja mengalami kesulitan, kerugian, atau bahkan luka emosional
setelah menyadari kebohongan tersebut.
Dengan memahami berbagai aspek agresivitas verbal ini, individu
dapat lebih waspada terhadap bentuk-bentuk komunikasi yang dapat
merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jadi dapat dipahami bahwa
agresivitas pada diri individu dapat diidentifikasi berdasarkan perilaku
yang ditunjukkan ketika berinteraksi dengan individu lain, yaitu perilaku
yang membahayakan dengan bermaksud melukai atau menyakiti individu
lain baik itu secara fisik, verbal maupun psikis. Pada aspek agresivitas
verbal peneliti memakai teori dari Infante (2012).
2.2.4 Faktor-Faktor Agresivitas Verbal
Faktor-faktor penyebab agresivitas verbal beragam dan melibatkan
interaksi antara kondisi pribadi, keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Menurut Guswani & Kawuryan, (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku agresif antara lain: kematangan emosional, kontrol diri, regiulitas,
kecerdasan emosional dan pengaruh media. Salah satu faktor yang
mempengaruhi perilaku agresif adalah kecerdasan emosional. Goleman
(2009) menyatakan “kecerdasan emosional merupakan kemampuan
emosional yang meliputi kemampuan untuk mengendalikan diri, memiliki
daya tahan ketika menghadapi suatu masalah, mampu mengendalikan
impuls, memotivasi diri, mampu mengatur suasana hati, kemampuan
berempati dan membina hubungan dengan orang lain”.
Selain itu, lingkungan keluarga yang kurang mendukung, seperti
minimnya kasih sayang, komunikasi yang buruk, dan konflik keluarga,
turut mempengaruhi kecenderungan agresif. Faktor masyarakat, termasuk
kurangnya fasilitas pendidikan dan pengaruh media, serta lingkungan
sekolah yang tidak kondusif, seperti bullying atau perhatian guru yang
minim, juga memperburuk perilaku agresivitas verbal. Upaya penanganan

36
memerlukan pendekatan holistik yang mencakup penguatan dukungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Agresivitas verbal dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor,
termasuk kondisi pribadi seperti kelainan fisik atau psikologis, gangguan
kesehatan mental, lemahnya kontrol diri, dan kurangnya dasar keagamaan.
Selain itu, lingkungan rumah dan keluarga yang tidak harmonis, seperti
kurangnya kasih sayang, komunikasi keluarga yang tidak sehat, status
ekonomi rendah, dan penolakan dari keluarga, juga dapat meningkatkan
risiko agresivitas verbal. Di lingkungan masyarakat, minimnya fasilitas
pendidikan dan kegiatan positif, kurangnya pengawasan terhadap remaja,
serta pengaruh media yang menormalisasi kekerasan verbal, turut
berkontribusi dalam membentuk perilaku tersebut.
Secara keseluruhan, faktor-faktor penyebab agresivitas verbal
sangat beragam dan saling terkait. Kondisi pribadi yang sulit dihadapi,
kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat, serta lingkungan
sekolah yang tidak mendukung dapat memperburuk kecenderungan remaja
untuk mengekspresikan perasaan negatif mereka melalui kata-kata kasar
atau kekerasan verbal. Mengatasi agresivitas verbal memerlukan
pendekatan yang holistik, melibatkan peningkatan kesadaran diri,
perbaikan komunikasi keluarga, dan pemberian fasilitas yang lebih baik di
sekolah serta masyarakat.

2.2.5 Alat Ukur Agresivitas Verbal


Tabel 2.2 Alat Ukur Aitem Agresivitas Verbal
Alat Ukur Peneliti Tahun Jumlah Reliabilitas
Aitem
Agresivitas Fahrobi 2024 16 0.909
Verbal
Agresivitas Ginting 2021 25 0.300
Verbal
Agresivitas RATU 2021 44 0.452 Commented [7]: note
Verbal
Peneliti menggunakan alat ukur agresivitas verbal dari Fahrobi (2024) karena
memiliki reliabilitas yang sangat tinggi (0.909), sehingga lebih dapat diandalkan
dalam mengukur agresivitas verbal secara konsisten. Selain itu, jumlah item yang

37
lebih sedikit (16 item) membuat instrumen ini lebih efisien dan tidak membebani
responden dibandingkan instrumen lainnya. Dengan reliabilitas yang jauh lebih
baik dibandingkan alat ukur sebelumnya, instrumen ini lebih sesuai untuk
mendapatkan data yang akurat dalam penelitian saya.

2.3 Kerangka Berpikir

Gambar 2.1

Gambaran terkait
agresivitas verbal pada anak
terlantar

Aspek agresivitas verbal


Character attacks
Competence attacks
Insults
Maledictions
Teasing
Ridicule

Faktor-faktor agresivitas
verbal
1. Kematangan emosional
2. Kontrol diri
3. Regiulitas
4. Kecerdasan emosional
5. Pengaruh media

Aspek kecerdasan emosional


Keterampilan sosial
Pengelolaan diri
Empati
Kesadaran diri
Motivasi

Kecerdasan emosional yang rendah mempengaruhi


38 seseorang, terutama
tingkat agresivitas verbal pada
dalam kondisi tanpa pendampingan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis data secara
numerik menggunakan metode statistik yang sistematis. Pendekatan ini
memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel, menguji
hipotesis, serta memperoleh hasil yang objektif dan terukur. Dengan
menggunakan instrumen penelitian yang terstandar, data yang diperoleh dapat
dianalisis untuk memberikan pemahaman mendalam terhadap fenomena yang
diteliti, sekaligus menghasilkan temuan yang dapat digeneralisasi pada konteks
yang lebih luas.

3.2 Variabel Penelitian


Variabel dapat berupa faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena yang
diteliti, seperti variabel independen (yang mempengaruhi) dan variabel dependen
(yang dipengaruhi). Misalnya, dalam penelitian tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi agresivitas verbal pada anak-anak panti, maka variabel independen
bisa berupa kecerdasan emosional, yang akan diuji melalui alat ukur pada variabel
tersebut. Pengukuran yang tepat dan analisis statistik dilakukan untuk menguji
hubungan antara variabel-variabel tersebut.
a. Variabel X: Kecerdasan emosional
b. Variabel Y Agresivitas verbal
Tabel 3.1 Variabel
Variabel Definisi Aspek Skala
Operasional Pengukuran
Kecerdasan Kemampuan dalam Self awareness Skala likert data
emosional mengatur dan Self management ordinal
memanfaatkan Social awareness
emosional secara Relationship
efektif untuk management
membangun
hubungan yang
baik dengan orang
lain.
Agresivitas Dalam definisi Character attacks Skala likert data

39
Variabel Definisi Aspek Skala
Operasional Pengukuran
verbal operasional, Competence attacks ordinal
agresivitas verbal Insults
adalah hasil dari Maledictions
proses kemarahan Teasing
yang memuncak Ridicule
yang diungkapkan Profanity
untuk menyakiti
orang lain dalam
bentuk umpatan,
celaan, makian,
ejekan, fitnah dan
ancaman melalui
kata-kata.

3.3 Hipotesis Penelitian


Secara harfiah, hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang
belum merupakan tesis, yaitu suatu kesimpulan sementara yang masih perlu
dibuktikan kebenarannya. Hipotesis adalah dugaan sementara atau tesis sementara
yang harus diuji kebenarannya melalui penyelidikan ilmiah (Yusuf, 2014).
Menurut Periantalo (2016), hipotesis adalah dugaan sementara tentang hubungan,
perbedaan, atau pengaruh antara suatu variabel dengan variabel lain. Suatu
variabel bisa mempengaruhi variabel lainnya, baik itu meningkatkan atau
menurunkan. Hipotesis dibuat berdasarkan kajian peneliti terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan aspek yang diteliti dari berbagai sumber. Perlu digaris bawahi
bahwa hipotesis adalah dugaan sementara yang dianggap memiliki kemungkinan
besar untuk menjadi jawaban yang benar. Oleh karena itu, berdasarkan fenomena
dan literatur yang menjadi dasar dalam penelitian ini, peneliti mengajukan
hipotesis sebagai berikut:
1. Hipotesis Null (Ho): Tidak ada hubungan antara Kecerdasan Emosional
dan Agresivitas Verbal pada Anak Terlantar di UPTD PSBAWEP
Harapan Mulya Jambi.
2. Hipotesis Alternatif (Ha): Ada hubungan antara Kecerdasan Emosional
dan Agresivitas Verbal pada Anak Terlantar di UPTD PSBAWEP
Harapan Mulya Jambi

40
3.4 Responden Penelitian
3.4.1 Populasi Penelitian
Subjek dalam penelitian kuantitatif berjumlah banyak,
meskipun tidak ada patokan yang pasti. Namun, pada umumnya,
jumlah subjek yang digunakan dalam penelitian kuantitatif minimal
adalah 30 subjek. Langkah pertama untuk menentukan subjek dalam
penelitian kuantitatif adalah dengan menentukan populasi. Tuckman
(dalam Yusuf, 2014) mengemukakan bahwa populasi adalah kelompok
tempat peneliti mengumpulkan informasi dan kepada siapa kesimpulan
penelitian akan digambarkan. Menurut Periantalo (2016), populasi
adalah subjek yang dikenakan generalisasi dari hasil penelitian.
Populasi merupakan keseluruhan subjek dalam suatu penelitian.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah Anak Terlantar di UPTD
PSBAWEP Harapan Mulya Jambi
3.4.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini menggunakan metode total sampling, di
mana seluruh populasi yang terdiri dari 30 anak terlantar di UPTD
PSBAWEP Harapan Mulya Jambi dijadikan sebagai sampel.

3.5 Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner terstruktur yang
dirancang untuk menggali data sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu
menganalisis hubungan antara variabel tertentu. Teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah total sampling, di mana responden merupakan keseluruhan dari
populasi. Kuesioner ini menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi,
sikap, atau pengalaman responden, dan telah melalui uji validitas serta reliabilitas
untuk memastikan keakuratan dan konsistensinya. Data yang dikumpulkan akan
digunakan untuk menjawab rumusan masalah penelitian secara objektif.
Skala yang digunakan dalam alat ukur yang kedua adalah skala Likert.
Penilaian atau pemberian skor untuk skala Likert akan dipaparkan pada tabel
berikut:

41
Tabel 3.1 Skala Likert
Respons Unfavourable Favourable
Sangat Sesuai (SS) 1 5
Sesuai (S) 2 4
Netral (N) 3 3
Tidak Sesuai (TS) 4 2
Sangat Tidak Sesuai (STS) 5 1
1. Unfavourable (Tidak Menguntungkan)
Pada kategori ini, respons yang menunjukkan ketidaksesuaian atau sikap
negatif terhadap pernyataan diberi skor lebih tinggi (STS = 5) dan skor lebih
rendah untuk respons yang positif (SS = 1)
2. Favourable (Menguntungkan)
Pada kategori ini, respons yang menunjukkan kesesuaian atau sikap positif
terhadap pernyataan diberi skor lebih tinggi (SS = 5) dan skor lebih rendah
untuk respons yang negatif (STS = 1)
Skor ini digunakan untuk memberikan bobot pada jawaban responden sehingga
dapat dianalisis lebih lanjut untuk menentukan pola sikap atau persepsi mereka
secara kuantitatif.

3.6 Sumber Data Penelitian


Pada penelitian ini, peneliti menggunakan sumber data primer yang
diperoleh melalui observasi langsung di lokasi penelitian serta mengumpulkan
data tambahan dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen utama.
1. Penelitian lapangan (field research) Menurut Sugiyono (2019), adalah Commented [8]: note

metode pengumpulan data primer yang dilakukan langsung di lokasi


penelitian untuk memahami fenomena tertentu secara mendalam. Data
diperoleh melalui observasi, wawancara, atau pengumpulan dokumen
yang relevan dengan objek penelitian. Penelitian lapangan memungkinkan
peneliti untuk mendapatkan data yang konkret, faktual, dan relevan
dengan situasi nyata, sehingga dapat meningkatkan validitas penelitian.
Sugiyono menekankan pentingnya interaksi langsung dengan subjek
penelitian untuk memahami konteks sosial, budaya, atau lingkungan
tempat fenomena terjadi.

42
2. Penelitian kuesioner menurut Sugiyono (2019) menjelaskan bahwa
kuesioner adalah salah satu teknik pengumpulan data dalam penelitian
kuantitatif yang dilakukan dengan memberikan daftar pertanyaan tertulis
kepada responden. Kuesioner dirancang secara sistematis untuk mengukur
variabel tertentu berdasarkan tujuan penelitian. Sugiyono menekankan
pentingnya menyusun kuesioner yang jelas, sederhana, dan sesuai dengan
kemampuan responden untuk menjawab, guna memastikan data yang
diperoleh akurat dan reliabel. Metode ini sangat efektif untuk
mengumpulkan data dari jumlah responden yang besar dalam waktu relatif
singkat.

3.7 Teknik Analisis Data


Data penelitian yang sudah diperoleh akan diolah, hal ini bertujuan untuk
mengorganisasikan data sedemikian rupa agar data tersebut dapat dibaca
(readable) dan dapat ditafsirkan (interpretable). Dalam membantu menganalisis
data, penelitian ini akan menggunakan software IBM SPSS 28, data-data yang ada
akan dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dianalisis dengan menggunakan
teknik analisis data sebagai berikut:
1. Deskriptif (univariat)
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik
analisis statistik, khususnya analisis deskriptif. Analisis ini bertujuan untuk
menggambarkan data penelitian melalui perhitungan rata-rata (mean), nilai
tengah (median), dan skor yang paling sering muncul (modus) (Silalahi, 2018).
Selain itu, ukuran variabilitas seperti rentang nilai (range), standar deviasi, dan
varians digunakan untuk melihat sebaran data, serta mendeskripsikan
karakteristik responden dan klasifikasi skor pada variabel skala kecerdasan
emosional dan skala agresivitas verbal.
2. Uji analisis regresi bivariat
Analisis regresi sederhana adalah teknik analisis yang digunakan untuk
mengukur hubungan linier satu variabel dependen dan satu variabel
independen (Silalahi, 2018). Regresi sederhana merupakan regresi bivariat
yang didasarkan pada hubungan fungsional atau kausal antara satu variabel

43
independen dan satu variabel dependen untuk membuat prediksi atau ramalan
terhadap variabel dependen tunggal dengan menggunakan satu variabel
independen tunggal.
3. Uji asumsi
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional, penelitian
korelasional dilakukan untuk mengetahui apakah ada atau tidak hubungan
antara Kecerdasan Emosional pada anak di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya
Jambi sebelum dilakukan uji korelasi terlebih dahulu peneliti melakukan uji
asumsi, hal ini dilakukan untuk menentukan teknik statistika yang akan
digunakan, dengan menggunakan uji normalitas dan uji linearitas data.
4. Uji normalitas data
Data disebut bagus apabila data tersebut terdistribusi dengan normal,
yaitu data yang memusat di tengah (mode, median, mean). Tujuan uji
normalitas adalah untuk memastikan bahwa data penelitian yang akan
dianalisis berdistribusi normal atau tidak (Silalahi, 2018). Untuk menguji
normalitas data dapat dilakukan menggunakan program IBM SPSS, lalu dapat
ditarik kesimpulannya dengan melakukan pemeriksaan uji statistic
Kolmogorov-Smirnov, untuk melihat data apakah data terdistribusi normal atau
tidak dapat memastikan hal berikut;
a. Nilai signifikansi (nilai probabilitas) < 0,05 maka data tidak
berdistribusi normal.
b. Nilai signifikansi (nilai probabilitas) > 0,05 maka data berdistribusi
normal.
5. Uji linearitas
Uji linearitas digunakan untuk mengetahui status linear atau tidaknya
suatu distribusi data penelitian. Uji linearitas dilakukan untuk memberikan
bukti bahwa masing-masing variabel bebas mempunyai hubungan yang linear
dengan variabel terikat. Uji linearitas ini menggunakan teknik uji F. Data
dikatakan linear apabila p < 0,05.
6. Uji hipotesis
Jenis uji hipotesis dalam penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian
yaitu melihat hubungan korelasi, uji korelasi yang digunakan adalah pearson

44
product moment. Syarat utama dari korelasi tersebut adalah kedua data
berbentuk interval atau rasio.
a. Signifikansi uji hipotesis
LOS < 0,05 Berkorelasi
LOS > 0,05 Tidak Berkorelasi Atau
r hitung > r tabel Berkorelasi Commented [9]:
n
r hitung < r tabel Tidak Berkorelasi
b. Hipotesis Satu Arah
Penelitian ini menggunakan hipotesis satu arah, yaitu hipotesis yang telah
menentukan arah hasilnya (Periantalo, 2016). Teknik statistik yang digunakan
adalah ANOVA, yang berfungsi untuk membandingkan rata-rata atau
menguji signifikansi perbedaan antara tiga atau lebih kelompok data (Silalahi,
2018; Putra & Hartono, 2024). Analisis data dalam penelitian ini
menggunakan skor total dan akan dibantu dengan software IBM SPSS 28.

3.7.1 Blue Print Alat Ukur


Penelitian ini menggunakan skala kecerdasan emosional yang telah
diadaptasi oleh Chandra (2022). Skala ini didasarkan pada teori
kecerdasan emosional dari McShane (2012), yang mencakup empat aspek
utama, yaitu kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self- Commented [10]: ot

management), kesadaran sosial (social-awareness), dan manajemen


hubungan (relationship management). Skala tersebut terdiri dari 26
pernyataan dengan tingkat reliabilitas keseluruhan sebesar 0,880.
Distribusi butir pernyataan dalam skala kecerdasan emosional disajikan
dalam tabel berikut..
Tabel 3.2 Blue Print Kecerdasan Emosional
No Dimensi Aitem Favourable Jumlah
1 Self-awareness 1,2,3,4,5,6,7 7
2 Self-management 8,9,10.11,12,13,14,15 8
3 Social-awareness 16,17,18,19,20,21 6
4 Relationship management 22,23,24,25,26 5 Commented [11]: e

45
Penelitian ini juga menggunakan skala agresivitas verbal yang
telah diadaptasi oleh Fahrobi (2024). Skala ini berlandaskan teori
agresivitas verbal dari Infante (2012), yang mencakup empat aspek utama:
character attacks, competence attacks, insults, maledictions, teasing,
ridicule dan profanity. Skala tersebut terdiri dari 16 butir pernyataan
dengan reliabilitas keseluruhan sebesar 0,909. Distribusi butir pernyataan
dalam skala agresivitas verbal dapat dilihat pada tabel berikut.
3.7.2 Blue Print Agresivitas Verbal.
Tabel 3.3 Blue Print Agresivitas Verbal

No Dimensi Aitem Aitem Unfavourable Jumlah


Favourable
1. Character Attacks 1,2 dan 3 4 4
2. Competence Attacks 5,6 dan 7 8 4
3. Insults 9,10 dan 11 12 4
4. Profanity 13, 14 dan 15 16 4
Penggunaan empat aitem dalam setiap dimensi agresivitas verbal
dipilih untuk menjaga keakuratan dan efisiensi pengukuran, meskipun
latar belakang menyebutkan tujuh aitem. Pemilihan ini didasarkan pada
hasil uji validitas dan reliabilitas, sehingga hanya aitem yang paling
representatif digunakan. Selain itu, jumlah yang lebih sedikit menghindari
repetisi berlebihan dan memastikan kuesioner tetap ringkas serta mudah
dipahami responden.

46
3.8 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di UPTD PSBAWEP Harapan Mulya Jambi
yang berlokasi di Jl. Kapitan Pattimura No. 90 Jambi dengan waktu penelitian
akan dimulai dari persiapan penelitian hingga penyusunan skripsi sebagai berikut :
No Rencana Kegiatan Waktu (Bulan) Tahun 2024/2025
Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar
1. Persiapan Penelitian

a) Pengamatan
Lapangan
b) Pengenalan
Permasalahan
c) Penyajian Judul
Skripsi
d) Pembuatan
proposal skripsi
2. Pelaksanaan
Penelitian
a) Seminar
Proposal
b) Pengambilan
Data Penelitian

3 Penyusunan Skripsi

a) Pembuatan
Laporan Data
Penelitian
b) Sidang Skripsi

3.9 Prosedur Penelitian


Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan, menentukan
variabel yang sesuai, dan melakukan studi literatur terkait (Titi Pratitis, 2013).
Setelah itu, peneliti menyusun instrumen penelitian berdasarkan kaidah
psikometri, mengajukan izin penelitian, serta melakukan uji validitas dan
reliabilitas sebelum pengumpulan data utama. Data yang diperoleh kemudian
dianalisis untuk menjawab pertanyaan penelitian, dan tahap akhir dari penelitian
ini adalah penyusunan laporan hasil penelitian. Prosedur penelitian dalam
penelitian ini bisa diamati dalam gambar berikut:

47
Gambar 3.1 Tahapan Penelitian

Identivikasi Variabel Penelitian

Literatur Review

pembuatan Rancangan Penelitian

Pemilihan Subjek Penelitian

Permohonan Subjek Penelitian

pengambilan data penelitian

pengolahan data penelitian

pemilihan laporan penelitian

3.10 Etika Penelitian


Pada penelitian Psikologi subjek penelitian melibatkan manusia sebagai
partisipan penelitian. Manusia merupakan makhluk yang memiliki cita dan rasa
sehingga perlu dihormati. Peneliti harus menghormati dan memperlakukan subjek
partisipan sebagai manusia. Peneliti harus sadar bahwa partisipan merupakan
manusia yang memiliki kewajiban dan hak sebagai manusia sehingga peneliti
harus menghormati partisipan saat mengambil data penelitian. Peneliti tidak boleh
semena – mena saat pengambilan data penelitian, peneliti harus menempatkan
partisipan senyaman mungkin saat pengambilan data agar proses pengambilan

48
data bisa berjalan maksimal dan menghasilkan data yang baik. Selama proses
penelitian, peneliti harus mempertimbangkan segala persoalan etika yang akan
muncul selama proses pengambilan data dalam penelitian dan mempersiapkan
rencana bagaimana mencegah dan mengatasi persoalan – persoalan yang muncul
tersebut. (Nurendra & Purnamasari, 2017)

a. Lembar Persetujuan (Informed Consent)


Lembar ini merupakan lembar persetujuan yang diberikan kepada
subjek penelitian sebagai bentuk kesediaan subjek menjadi partisipan
dalam penelitian yang dilakukan. Lembar ini berisi informasi mengenai
identitas peneliti, apa tujuan penelitian, dan apa yang harus dilakukan oleh
subjek penelitian. Lembar ini juga menjelaskan mengenai berapa lama
waktu yang diperlukan dalam penelitian, dan reward yang didapatkan oleh
subjek penelitian setelah penelitian ini selesai. Subjek penelitian harus
menandatangani lembar persetujuan ini sebagai bentuk kesedian subjek
mengikuti penelitian ini.
b. Anonymity
Peneliti harus menjelaskan kepada subjek penelitian bahwa
identitas subjek akan terjamin kerahasiaannya. Data yang didapat hanya
digunakan untuk keperluan penelitian, tidak digunakan di luar konteks
penelitian. Dalam beberapa aspek peneliti harus mengaburkan identitas
dari subjek penelitian.
c. Confidentiality
Confidentiality dalam penelitian adalah prinsip etika yang
bertujuan melindungi privasi partisipan dengan menjaga kerahasiaan data
yang diberikan. Data pribadi partisipan harus dikumpulkan, disimpan, dan
digunakan dengan cara yang aman, seperti melalui anonimitas atau
penggunaan kode identifikasi, serta diakses hanya oleh pihak yang
berwenang. Peneliti wajib memastikan bahwa data tidak disebarluaskan
tanpa persetujuan tertulis dari partisipan, termasuk dalam publikasi hasil
penelitian. Melalui informed consent, partisipan diberi pemahaman tentang
bagaimana data mereka akan dikelola dan dilindungi. Dengan menjaga

49
confidentiality, peneliti dapat membangun kepercayaan serta menjamin
integritas dan kredibilitas penelitian.

50
DAFTAR PUSTAKA

Adnyani, N. L. D. S., Suardana, I. W., & Yuniari, I. G. A. (2014). Hubungan


antara Kecerdasan Emosional dengan Agresivitas pada Siswa SMA Negeri
di Bali. Jurnal Psikologi Udayana, 5(1), 45-56.

Al Rosyad, M. A., Saragih, S., & Ariyanto, E. A. (2021). Konsep diri dan
kecenderungan melakukan agresivitas verbal pada remaja pengguna media
sosial. INNER: Journal of Psychological Research, 1(3), 128-136..

Badan Pusat Statistik (BPS). (2022). Statistik Pendidikan Indonesia 2022. Jakarta:
BPS.

Caninsti, R., & Saradarsih, T. (2024). Peran Kontrol Diri terhadap Agresivitas
Anak Jalanan Usia 10-12 Tahun. Journal Psicogenesis, 12(1), 19–30.
[Link]

Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ.
New York: Bantam Books.

Goleman, D. (2000). Working with emotional intelligence. New York: Bantam


Books.

Goleman, D. (2003). Destructive emotions: A scientific dialogue with the Dalai


Lama. New York: Bantam Books.

Goleman, D. (2018). Altered traits: Science reveals how meditation changes your
mind, brain, and body. New York: Avery.

Goleman, Daniel. (2009). Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Goleman, Daniel. 2015. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Guswani, F., & Kawuryan, E. (2011). Psikologi perkembangan anak dan remaja.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Harefa, S. V. N. (2022). Psikologi Agresi Mengungkap Motivasi dan


Konsekuensinya. Fakultas Psikologi, Universitas Medan Area Indonesia, 1–
12.

Huesmann, L. R. (2016). An integrative theoretical understanding of aggression.


In Aggression and violence (pp. 13-31). Routledge.

Hurlock, E. B. (2004). Developmental psychology: A life-span approach (5th ed.).


New York: McGraw-Hill.

51
Illahi, U., Neviyarni, N., Said, A., & Ardi, Z. (2018). Hubungan antara kecerdasan
emosional dengan perilaku agresif remaja dan implikasinya dalam bimbingan
dan konseling. JRTI (Jurnal Riset Tindakan Indonesia), 3(2), 68.
[Link]

Indonesian National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS). (2022).


Laporan Kesehatan Mental Remaja Indonesia 2022. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.

Infante, D. A., & Wigley, C. J. (1986). Verbal aggressiveness: An interpersonal


model and measure. Communication Monographs, 53(1), 61-69.
[Link]

Infante, D. A., & Wigley, C. J. (2012). The theory of verbal aggressiveness


revisited. New York: Routledge.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (2020). Laporan Tahunan KPAI:


Tren Kasus Perlindungan Anak di Indonesia. Jakarta: KPAI.

Kumalasari, D., Widyastuti, S., & Suryadi, H. (2012). Pengaruh Kecerdasan


Emosional terhadap Perilaku Agresif pada Remaja. Jurnal Psikologi Sosial,
14(2), 123-135

Mapiere, A. (2000). Psikologi Kepribadian: Teori dan Konsep Dasar. Gadjah


Mada University Press.

Mawar, L., Rahmadi, M. A., Nasution, H., Sihombing, N., Nasution, R., & Sari,
M. (2024). Peran Kecerdasan Emosional dalam Pengobatan Cystic fibrosis
Universitas Sumatera Utara , Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta , Indonesia Universitas Negeri Padang , Indonesia
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara , Indonesia R. 2(4).

McShane, S. L. (1995). Organizational behavior: Emerging realities for the


workplace revolution. New York: McGraw-Hill.

McShane, S. L. (2010). Canadian organizational behavior (7th ed.). Toronto:


McGraw-Hill Ryerson.

McShane, S. L. (2012). Organizational behavior (6th ed.). New York: McGraw-


Hill.

McShane, S. L. (2015). Organizational behavior: Global edition. New York:


McGraw-Hill.

Nauli Thaib, E. (2013). Hubungan Antara Prestasi Belajar Dengan Kecerdasan


Emosional. Jurnal Ilmiah Didaktika, 13(2), 384–399.
[Link]

Nurendra, A. M., & Purnamasari, W. (2017). Hubungan antara Kualitas


Kehidupan Kerja dan Keterikatan Kerja pada Pekerja Wanita. Indigenous:

52
Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(2), 148–154.
[Link]

Periantalo, A. (2016). Statistik untuk Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT


RajaGrafindo Persada.

Pramudita, A., Nurfadillah, N., Jannah, M., & Riany, Y. E. (2024). Pengaruh
Kelekatan Orang Tua dan Kecerdasan Emosional terhadap Agresivitas
Remaja. Indonesian Journal of Educational Counseling, 8(1), 62–74.
[Link]

Prastowo, A. S. D., & Indrawati, E. S. (2020). Pada Remaja Anggota Komunitas


Motor X Semarang. Jurnal Empaty, 8, 89–97. [Link],2019

Pratama, A. M. P., & Gina, F. (2024). Perbedaan kecerdasan emosional


berdasarkan jenis kelamin pada remaja madya di SMA X Kota Bekasi.
Liberosis: Jurnal Psikologi Dan Bimbingan Konseling, 2(3).

Putra, B., & Hartono, A. (2024). Kecerdasan Emosional dan Perilaku Sosial di
Era Digital. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahma, A. N. (2011). Hubungan Efikasi Diri Dan Dukungan Sosial Dengan


Penyesuaian Diri Remaja Di Panti Asuhan. Psikoislamika : Jurnal Psikologi
Dan Psikologi Islam, 8(2), 231–246. [Link]

Ratu, I. C. (2021). Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Perilaku


Agresif pada Siswa/i Kelas XII SMK Brigjend Katamso Medan. Skripsi,
Universitas Medan Area

Salovey, P., & Mayer, J. D. (1990). Emotional intelligence. Imagination,


Cognition, and Personality, 9(3), 185-211.

Sarwono, S. W. (2008). Psikologi remaja. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Sentana, M. A., & Kumala, I. D. (2017). Agresivitas dan kontrol diri pada remaja
di Banda Aceh. Jurnal Sains Psikologi, 6(2), 51-55.

Silalahi, B. (2018). Dinamika Perilaku Agresif di Kalangan Remaja. Jakarta:


Rajawali Press.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Suputra, I. K. D., Tirus, L. S. H., & Hartanti. (2023). Pengaruh Pelatihan


Kecerdasan EmosionalTerhadap Kesejahteraan Psikologis Pada Remaja.
Jurnal Psikologi : Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta
Pasuruan, 10(1), 21–31. [Link]

Syavitri, D. N. (2024). Hubungan Antara Kontrol Diri dan Kematangan


Emosional dengan Agresivitas pada Siswa SMK “X” di Kota Pati. Psisula:

53
Prosiding Berkala Psikologi, 6(2), 472–480.

Titi Pratitis, N. (2013). Peran Kreativitas Dalam Membentuk Strategi Coping


Mahasiswa Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Dan Gaya Belajar.
Persona:Jurnal Psikologi Indonesia, 2(3), 223–231.
[Link]

Tridhonanto, R. (2009). Kecerdasan emosional dan agresivitas remaja. Bandung:


Refika Aditama.

Wijayanti, K., & Indrawati, E. (2025). Fear Of Missing Out Dan Kontrol Diri
Dengan Adiksi Media Sosial Instagram Pada Emerging Adulthood Di
Fakultas Psikologi Universitas Yarsi. Psikologi Kreatif Inovatif, 5(1), 37-44.

Willis. S. S (2010). Psikologi komunikasi. Yogyakarta: Andi.

Willis. S. S (2011). Remaja dan Masalahnya Mengupas Berbagai Bentuk


Kenakalan Remaja, Narkoba, Free Sex, dan Pemecahannya. Bandung:
Alfabeta.

Yusuf, M. (2014). Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian


Gabungan. Jakarta: Kencana.

54
Verbatim wawancara
Nama/inisial :E
Tanggal: 19 September 2024
Waktu : 16.00 – 16.25
Tempat : Lingkungan asrama UPTD PSBAWEP Pattimura
Transkrip Verbatim
Interviewer Haloo, perkenalkan dulu ya kakak Jihan. Jadi kakak disini mau tanya-
tanya sedikit berkaitan adek yang tinggal disini tapi adek engga usah takut
apa yang adek sampaikan akan bersifat rahasia dan hanya kakak saja yang
tahu dan kakak izin untuk merekam kegiatan kita agar menjadi data
pendukungnya ya, apa boleh?
Interviewee Iya
Interviewer Sudah kita tanya-tanya santai aja, berarti kalian apa kegiatannya? Kalau
kakak kan magang, kan berarti dari pagi ya, dari pagi sampai sampai sore,
kalau kamu? sekolah sampai jam berapa?
Interviewee Sampai sekarang habis kalau hari e isya bukan, oh asar
Interviewer Kok malam banget, asar ya?
Interviewee Iya tapi kalau misalnya hari Sabtu ada kegiatan di TVRI itu kadang
disuruh datang, Sabtu itu datang. Jadi termasuk enam cuman gak kami
catat sih, kan kami dikasih kayak buku jurnal gitu, cuman ga kami catat.
Cuman yang kami catat tuh 5 hari bae
Interviewer Pernah lihat orang yang ada di siaran berita itu ga?
Interviewee Engga
Interviewer Ga pernah lihat di situ, ya. Kirain sambil kerja di sana bisa intip-intip
orang lagi siaran berita gitu kan.
Interviewee Tapi ado sih kak. Kadang kami ada lah lihat orang di sana itu, tapi kadang
tuh ada juga anak magang yang lain dari Muaro, dia dari Bulian, bulan
Februari kalau ga salah dia selesai. Soalnya dia lebih duluan dari kami.
Jadi dia sering ikut syuting di luar, kek di luar Muaro.
Interviewer Oke kamu aslinya dari mana?
Interviewee Merangin
Interviewer Oh, Merangin jauh.

55
Interviewee Iya kak
Interviewer Kalau latihan taekwondo, kamu ikut engga?
Interviewee Ikut kak, yang lain juga
Interviewer Oh, semua berarti?
Interviewee Iya, semua Kadang tuh ada yang malas yang malas tuh kadang tuh di,
dicatat, itu dikirim ke grup
Interviewer Dipanggil?
Interviewee Iya, panggil semua
Interviewer Tadi kan kita sudah ngomongin aturan-aturannya yang kayak apa
namanya, baliknya enggak boleh malam terus enggak boleh main sama
laki-laki. Kalau yang kamu temui ada ga aturan yang paling berat
dilanggar di sini?
Interviewee Engga ada, sih
Interviewer Engga ada. Yang kalau, yang paling dikeluarin tu biasanya apa?
Interviewee Yang tapi kalau misalnya kayak cowok kan merokok, terus kek ada juga
berkelahinya
Interviewer berkelahilah sesamanya?
Interviewee Iya, cowok sama cowok
Interviewer Kalau yang cewek ada enggak yang dikeluarin?
Interviewee Engga ada. Kemarin kan cowok hampir dikeluari lima orang kan, cuman
gara itu apa, mungkin ada yang itu yang mempertahankan sini maka ga
jadi
Interviewer Oh, jadi enggak jadi itu karena ngerokok juga ya?
Interviewee Iya ngerokok sama bekelahi itulah
Interviewer Umumnya ee kelahi di sini alasannya kenapa?
Interviewee kayak itu Kak, cagil-cagilan
Interviewer Oh, mulanya biasa dari cagil-cagilan, cagil-cagilanya biasa kayak mana?
Interviewee Kayaknya nyagil, biasolah, kalau misalnya kayak itulah ngomong-
ngomong gitu kan padahal ga ado gitu nah dibilangnya ado kan, trus
mereka ngerokok sama berkelahi itulah
Interviewer Fitnah berarti?
Interviewee Iya, kayak jatuhnya ada yang ngompori dio gitu, adu domba
Interviewer Jadi apa namanya, biasanya, tadi kan kakak dengar nih dari yang di
sebelah sana, kadang kalau di asrama itu kalau bertengkar terus sesama

56
kan perempuan dengan perempuan, laki-laki laki. Itu dipisahin ga kalau
dia di asramanya?
Interviewee Kalau yang cewek sih kak, kami belum pernah melihatnya berkelahi.
Cuman kalau cowok tu dak kami nengoknya kemaren di situ, yang lain
nengok be, kami minta tolong kan, minta tolong kan supaya dipisahin.
Kalau kami, kalau cowok berkelahi ga berani misahinnya
Interviewer Kalo kek ngejek atau kek gimana gitu ada?
Interviewee Adalah kak. Mereka jugo suko ngomong seolah-olah nyumpahi orang,
macam dio paling benar sendiri. Kadang ado yang bilang ntah agek
dikatoinyo kusumpahi kau jatuh abis ni, atau dio cakap ha antaklah kau.
Akhirnyo, omongan cak itu bikin orang jadi saling sumpah-sumpahan.
Abis kek gitu beribut lah kak, bertengkar, tinju-tinjuan kalau cowok.
Interviewer Sering seperti itu?
Interviewee Sering nian kak. ado yang bilang, 'kau dak bakal biso kek itu,' atau 'kau
dak ado keahlian kayak kawan lain' itu bikin kito meraso kek dak ado
gunonyo, padahal kito kan sudah berusaha, kadang-kadang kek tulah yang
buat ragu samo kemampuan diri dewek.
Interviewer Oh, tapi ibu asramanya pisahin ga atau bapak asramanya kalo tau ada yang
berantem atau ngata”in gitu?
Interviewee Kalau tahu misahin
Interviewer Misahin kalau tahu, ya?
Interviewee Ya, cuman kemaren kan ga tahu dio, pas sudah selesai baru satpam sama
yang piket datang kan
Interviewer Oala, oh iya itu berantemnya gebuk-gebukan atau kek mana, iya pukul-
pukulan, luka-luka berarti?
Interviewee Iya, kemaren ada yang luka sampe HP nya jatuh. Kakak nengok di teras
yang di sampingnya tu nah, jatuh dari atas tu, ditindih pula sama kawan
yang di atasnya, pecah HP nya
Interviewer Itu dihukumnya apa? SP ya?
Interviewee Iya SP, biasanya kek gitu SP-nya
Interviewer SP berapa? Langsung bisa SP 2 atau SP 1?
Interviewee Dia tu kan, orang tu lah sering gitu nah kak jadi langsung di, kemaren tu
langsung dikeluarin
Interviewer Oh…kemaren kakak juga dengar ada yang dikeluarin, tapi tu SP 1 ga?

57
Interviewee Iya, cuman balek lagi tadi malam
Interviewer Oh, tadi malam balek lagi?
Interviewee iya, udah sekolah dia paginya, masih sekolah dia
Interviewer Itu yang naik motor, boleh? (melihat anak memakai seragam naik motor)
Interviewee Itu anak luar, Kak
Interviewer Oh, anak luar. Main berarti?
Interviewee Soalnya ada anak ibu asramanya yang turun
Interviewer Oh, berarti boleh ya orang luar asal masuk ke sini gitu?
Interviewee Iya, boleh be. Kadang tuh, senamnya dulu rame, kak. Tapi, jarang juga sih
sekarang, mungkin sudah dibilangi
Interviewer Kirain kalau ada temanmu atau siapapun gitu dari luar mau masuk ke sini
perlu surat dulu
Interviewee Keknya di sini jarang kami nengoknya, kak. Dulu be rame orang luar
masuk sini, nongkrong depan sini.
Interviewer Oke, berarti aturannya cukup ketat ya kalau malam, ga boleh keluar?
Interviewee Ga boleh sampe, palingan sampe jam 5 sih boleh keluarnya, kek jajan gitu
Interviewer Eh, tapi tadi kan kita dengar juga tuh, ada yang kayak bertengkarnya tu
sesama, tapi tu ngomong kasar pakai bahasa dewek-dewek, itu ada kalau
di tempat kamu?
Interviewee Ada
Interviewer Tahu ga ibu asuhnya biasanya?
Interviewee Biasanya tuh, idak sih kak. Soalnya orang tu ga ngomong, soalnya kalau
dikasih tahu kan, takutnya sampe ke Bu B jarang kek ada yang bertengkar
gitu, tapi biasalah kalau di asrama tu ada yang kotor mulutnya gitu
Interviewer Jadi, kalau orang tu ngomong kasar gimana?
Interviewee Kadang tuh, marah sih orang tu. Tapi jarang juga sih, kak.
Interviewer Jarang ya?
Interviewee Jarang kek ada yang bertengkar gitu, tapi biasalah kalau di asrama tu ada
yang kotor mulutnya, gitu
Interviewer Pernah ketahuan ga itu?
Interviewee Ya
Interviewer Dimarahi ga?
Interviewee Iya, dimarahi sama ibu asrama
Interviewer Mungkin seperti itu saja sesi tanya jawab kita sore ini. Lebih kurang kakak

58
minta maaf. Perlu kakak ingatkan kembali bahwa jawaban yang adek
sampaikan akan bersifat rahasia dan hanya kakak bersama dosen kakak
saja yang mengetahuinya. Makasih dek atas kesediaannya.

Verbatim wawancara
Nama/inisial :S
Tanggal: 21 September 2024
Waktu : 08.05 – 08.25
Tempat : Lingkungan asrama UPTD PSBAWEP Pattimura
Transkrip Verbatim
Interviewer Sebelumnya perkenalkan kakak Jihan Aqilla Saputri bisa dipanggil Jihan.
Kakak di sini mau melakukan wawancara singkat ke adik–adik berkaitan
kehidupan adik di sini. Apapun yang akan disampaikan akan bersifat
rahasia sehingga hanya kakak dan dosen kakak saja yang tahu, kakak juga
izin merekam selama kegiatan berlangsung untuk memperkuat dan
memperjelas data yang diberikan, apakah bersedia?
Interviewee Iya
Interviewer Kalian di sini dari pagi juga sekolahnya di luar, berarti ya ada enggak
aturan di sini biasanya apa aja yang kalian tahu, mungkin misal gak boleh
apa tuh, gak boleh merokok, ga boleh merokok habis itu apa
Interviewee gak boleh keluar malam
Interviewer Jadi, jam keluarnya dari jam berapa sampai jam berapa di sini?
Interviewee Kalau ini, kalau keluar boleh kayak siang-siang dengan sore-sore tapi
kalau malam ga boleh lagi
Interviewer Oh, masuk maghrib tuh udah ga boleh lagi gitu ya, gerbangnya ditutup
enggak, gerbangnya?
Interviewee Ga, engak di tutup, tapi itu ga bole lebih keluar yang anak asli di sini
Interviewer tapi ada ga, yang tetap aja nekat keluar gitu
Interviewee ada kemarin, ada kemarin membangkang ketahuan dimarahin dikasih SP 1
Interviewer Kalau SP diapain nih?
Interviewee Hah? Oh, cuman kayak peringatan nih pertama sampai berapa biasanya
tiga. Oh, sampai tiga, kalau udah tiga keluar
Interviewer Oh, dikeluarin. Kemarin katanya juga ada yang dikeluarin enggak sih?
Interviewee IYa, tapi balik lagi

59
Interviewer Oh, balik lagi?
Interviewee Iya, balik lagi
Interviewer Kemarin kenapa dia dikeluarin?
Interviewee Dia merokok kak
Interviewer Oh, ketahuan merokok.
Interviewee Tapi dia balik lagi ke sini He dia nelpon sama Pak S oh abangnya nelepon
jadi balik lagi.
Interviewer Heee Oh, berarti kalau SP1, SP2, SP3 dikeluarin?
Interviewee Heeh
Interviewer Hm…Kalau di hukum-hukum ada enggak di sini?
Interviewee Yang kayak di apa gitu, ada dihukum kan, nanti suruh bersihin WC
Interviewer Oh, bersih-bersih, bersih WC asrama?
Interviewee Ga, ga WC kantor
Interviewer Oh, WC kantor
Interviewee WC kantor yang di kantor masing-masing kan itu, Oh, disuruhnya kami
yang bersihin
Interviewer Berarti nih kalau kadang ada yang keluar, ada yang udah dalam kamar aja?
Interviewee Iya
Interviewer Oh, berarti boleh bawa HP juga dong?
Interviewee Boleh, ada waktunya enggak kayak ditentuin sampai jam berapa main hp,
sampai jam 07.00. Oh, sampai jam 09.00 tapi setelah apa, sebelum itu
bebas pakai hp-nya
Interviewer Jam 09.00 itu, apa dikumpulin atau gimana itu hp-nya?
Interviewee Dikumpul
Interviewer Oh, dengan ibu asuhnya?
Interviewee Iya
Interviewer Berarti waktu kalian tidur jam berapa?
Interviewee Jam 9 lah sudah, sudah ngumpul HP langsung tidur
Interviewer Oh, langsung tidur dicek enggak?
Interviewee Kalau kita dicek sih, dicek, dicek yang Ibu asramanya
Interviewer Oh, berarti tiap asrama bisa beda-beda tergantung ibu asuhnya gitu ya,
nanti bangunnya jam berapa tuh?
Interviewee Jam salat subuh, jam pagi juga, aku jam 4
Interviewer Berarti kayak gitu salatnya wajib harus ke masjid itu ya?

60
Interviewee Berjemaah nanti baru kumpul di kantin sarapan gitu
Interviewer Biasa disajikan lauk apa? di dalam ada apa tuh, ayam, daging, ikan
Interviewee Oh, macam-macam
Interviewer Macam-macam, ada enggak yang biasanya kayak kan, kadang kita nengok
lauknya enggak cocok gitu, ada yang bilang enggak cocok.
Interviewee Kalau engga cocok ya engga makan, makan di luar
Interviewer Bisa, makan di luar boleh?
Interviewee Iya, tapi kalau ketahuan sering-sering kena marah
Interviewer Eh, tapi kalau kayak gini itu di kalian dikasih uang jajan atau enggak?
Interviewee Enggak
Interviewer Oh, enggak berarti cuman satu tempat tinggal kasih makan di sini gitu ya.
Jadi kalau anak jajan di sekolah, gimana?
Interviewee Minta dari kampung kirim ke masing-masing
Interviewer Gimana cara ngirimnya?
Interviewee Dikirim tf, emang datang orang kampungnya ke sini, tf sama ibu asuhnya
Interviewer Kalau ini, apa namanya, kalau main dewek-dewek lah laki-laki di sana,
perempuan di sini gitu ya?
Interviewee Kadang enggak, main bareng, kadang gabung, kadang-kadang gabunglah
main rame-rame
Interviewer Eh…adek yang itu, namanya siapa, kamu tahu ga?
Interviewee Juli, Julia
Interviewer Julia
Interviewee Juli…Oh, Juli.
Interviewer Siapa yang bilang Yuli sama kakak kemaren ya? dengernya Yuli soalnya,
Juli ya?
Interviewee Ya, Juli
Interviewer Juli itu dia bisa dengar atau ngomong ga?
Interviewee Ngga ga sih, ga bisa ngomong, ga bisa dengar, anak disabilitas
Interviewer Jadi, tadi kami di sana kan, bingung mau ajak ngobrolnya, dia ga
ngerespon kan, jadi agak susah, berarti dia sehari-hari sendiri?
Interviewee Kemarin ada temannya, tapi kabur dia
Interviewer Kok bisa kabur, ini kemana? ga balek lagi?
Interviewee Ga tahu
Interviewer Berarti ga ketemu lagi setelah kabur dia?

61
Interviewee Iya, tapi dia ada selalu bikin SW, di Jambi lah masih, tapi dak tahu dimana
Interviewer Itu di cari atau ngga? Sama pegawai sini, eh…satpam, ga telacak ya,
meski udah meninggalkan jejak?
Interviewee Kemaren udah dicari
Interviewer Tapi, gak ketemu?
Interviewee He’em, masih ga ketemu
Interviewer Oh, berarti ga ada ya satpam yang standby langsung di depan jagain kalau
malam?
Interviewee Kadang ada, kadang idak.
Interviewer Oh, kadang ada, kadang idak ya?
Interviewee Iya
Interviewer Kalian kalau misalnya, itu nyuci baju, nyuci baju sendiri?
Interviewee Iya
Interviewer Kalau tugas bersih-bersih rumah ada ga?
Interviewee Ada
Interviewer Itu bagi-bagi atau kek mana?
Interviewee Dibagi-bagi
Interviewer Yang SD pun juga nyuci sendiri di sini?
Interviewee Iya, di sini kan diajari mandiri gitu nah
Interviewer Anak yang paling kecil di sini umur berapa?
Interviewee 8 tahun
Interviewer Selain dari kegiatan seperti taekwondo, pengajian, dan sebagainya,
katanya kan ada kegiatan seperti jahit, gitu
Interviewee Kalau dulu ada, tapi sekarang idak
Interviewer Berarti yang aktif taekwondo, selain itu dak ada?
Interviewee Iya
Interviewer Menurut kalian, yang kalian ga suka dari tempat ini apa?
Interviewee Banyak peraturan
Interviewer Banyak peraturan, selain itu?
Interviewee Itu be sih kak, rasanya macam masuk penjara
Interviewer Tapi kan kalian masih bebas keluar siang, sorenya
Interviewee Iya sih kak
Interviewer Walaupun malamnya ga boleh, Ibu asuhnya baik-baik ga?
Interviewee Baik

62
Interviewer Kadang-kadang ada ga yang marah-marah ibu asuhnya?
Interviewee Tahun lalu ada
Interviewer Tahun lalu ada? eh diganti berarti
Interviewee Iya, kami pindah asrama
Interviewer Ibunya galak gimana? Marah-marah doang atau gimana?
Interviewee Ibunya ngoceh-ngoceh
Interviewer Tanpa sebab?
Interviewee Kek mamak-mamak lah, kita yang jatuhin gelas, dio marah-marah,
biasanya kan gitu
Interviewer Tapi akrab lah dengan yang lain teman seasramanya?
Interviewee Iya, kadang ada juga yang ngomongnya kasar
Interviewer Ngomong kasarnya nih yang gimana?
Interviewee Mencarut
Interviewer Di dalam kelas? Eh, di dalam kelas, di dalam asrama tu?
Interviewee Iya
Interviewer Ibu asuhnya ga ada negur tuh?
Interviewee Budak ni kalau mencarutnya bawa bahaso dio, kan beda-beda kalau
bahasanya, dari datang, ada yang dari Jangkat, dari Sarolangun
Interviewer Oh, beda-beda?
Interviewee Iya, beda-beda
Interviewer Tapi, ibu asuhnya ga tahu kalau kalian lagi mencarut gitu?
Interviewee Tidak
Interviewer Oh, ndak, misalnya kan…bahasa Jawa dan bahasa Jambi kan beda
mencarutnya, gitu, tapi kalau masih kek Sarolangun atau apo gitu, sampe
ga paham berarti beda nian bahasanya gitu?
Interviewee Kurang tahu
Interviewer Kadang kalian mencarutnya pelan-pelan atau?
Interviewee Besak-besak, kak. Tapi, bahasanya budak-budak ni
Interviewer Memang apo yang orang tu bilang? kasar nian yo?
Interviewee Sesama dialah, disebut anjing lah, babilah dan pendek jugo, kami cuma
biso diam karna dak berani, mengejek dengan sebutan orang tua jugo,
suko juga ngatain dengan ajak-ajak temannya yang lain
Interviewer Pernah ga kalian sampai pukul-pukulan kalian bertengkar, jambak-
jambakan?

63
Interviewee Kami pernah nampar anak orang, kak. Geram kami
Interviewer Di satu asrama?
Interviewee Iyo
Interviewer Gegara apo kalian bertengkar?
Interviewee Depan dapur
Interviewer Gegara apo bertengkar?
Interviewee Cuman nengok be. Yang cowok-cowoknya betinju, sampai ado yang
pecah kepala, sampai berdarah-darah.
Interviewer Ekstrim yo bertengkarnya
Interviewee Banyak yang buat ulah
Interviewer Itu dipisah ga kalian kalau ada yang bertengkar kek gitu?
Interviewee Dipisah, ada jugo “biakin lah, biakin lah” katanya “ini mo betinju, seru
nih, seru nih” agek tu “kau ni ngapo?!” ado lah gek marah-marah
Interviewer Ibu asuhnya misahin ga biasanya kalau kek gitu?
Interviewee Kami-kami lah yang misahin
Interviewer Tapi, ibu asuhnya harusnya tahu ga sih dalam rumah tu?
Interviewee Tahu
Interviewer Terus ada ga lagi? yang bikin gaduh gitu
Interviewee Sering ado kawan yang diejek kareno cara bicara atau penampilannyo, dan
mereka jadi malu, misalnyo, "kau tuh kayak orang bengak nian
ngomongnyo, belajar becakap dulu, sengong-sengong" reaksi mereka
biasonyo diam be atau langsung nangis, karena dak suko dikatoin tu.
Kadang ado yang diam be ado jugo yang dak terimo
Interviewer Tapi dibiakin be?
Interviewee Pernah sih dipanggil dinasehati, ga diberi hukuman cuma dinasehati aja
kak
Interviewer Oala paling yang diberi hukuman yang SP tadi lah, SP 1 dan seterusnya,
kalau lewat keluar
Interviewee Iyo kak
Interviewer Mungkin seperti itu saja sesi tanya jawab yang kakak lakukan kurang dan
lebihnya kakak minta maaf, perlu kakak ingatkan kembali bahwa apa yang
adek-adek sampaikan akan bersifat rahasia sehingga hanya kakak dan
dosen kakak yang mengetahuinya kita, kurang lebih kakak mohon maaf,
makasih ya dek atas kesediannya

64
Verbatim wawancara
Nama/inisial :N
Tanggal: 23 September 2024
Waktu : 09.05 – 09.25
Tempat : Lingkungan klinik UPTD PSBAWEP Pattimura
Transkrip Verbatim
Interviewer Sebelumnya asalamuikum warahmatullah wabarakatuh perkenalkan saya
Jihan Aqilla Saputri saya dari mahasiswa psikologi unja yang di sini ingin
melakukan magang pengambilan data yang berkaitan dengan anak-anak
disini dan kondisi lingkungan disini nah mungkin saya juga izin untuk
merekam untuk bersifat rahasia sehingga tidak akan ada yang tahu kecuali
dan dosennya, jadi mungkin izin untuk bertanya singkat ya ibu yang
pertama ee mungkin bisa ibu ceritakan apa saja sih aturan yang dilakukan
di sini untuk menjadi bapak dan ibu asuh aturannya untuk menjadi iya kok
bisa ee menjadi ibu asuh itu apa aja aturannya secara khusus?
Interviewee Ya maksudnya ngapa saya diberi jadi itu sebenarnya kalau untuk itu
tunjuk aja sih kemarin ya istilahnya gak ada di ini sih ya cuman aturannya
itu kita eh kayak mana ngawasin anak itu ngawasin anak anak kalau untuk
yang khusus gitu kayaknya kemarin enggak sih he he karena kebetulan
kita kan e kerja di sini jadi memang yang diharuskan, mungkin karna saya
bekerja disini jadi saya bisa mengajukan jadi ibu asuh.
Interviewer Oke Oke berarti yang menjadi ibu As ini berarti memang yang bekerja di
sini ya Bu Berarti kayak kalau kayak gitu e tugas ibu itu apa aja sih untuk
menjadi Ibu asuh?
Interviewee Begitu satu sih mengawasin anak-anak tadi atau anak he jadi misalnya apa
namanya kayak e sekolah ngingatkan bangun terus salatnya kalau ada
pasti kan anak ni mm apa ya ada kayak apa ya namanya bilang kalau
bilang bandel ya Heeh pasti kan ada yang ada yang seperti itu jadi tugas
kita Ibu asu tuh memantau anak dingatkan anak anak-anak yang sedikit
pandai kadang tidak dengar he he apa namanya ni berarti mengasuh gitu
ibu menuntut kayak mana ibu asuh kayak dia orang tua
Interviewer Oke baik cerita selanjutnya mungkin eh bagaimana aktivitas sehari-hari
anak di sini?

65
Interviewee Kalau sehari-hari anak di sini ya seperti biasa bangun subuh salat terus
siap-siap ke sekolah mulai dari jam berapa dari kalau berangkat sekolah
itu dari jam 6 an ya makan trus mulai 6.30 itu sudah pada makan sudah
mandi beres-beres sudah apa mereka siap-siap makan soalnya kan mesti
pagi kan soalnya
Interviewer Berarti mungkin kesulitannya itu untuk menahan emosi kalau anaknya
susah bangun?
Interviewee Iya, susah bangun sih nak ini kan untuk lokasi sekolahnya beda-beda nih
SMP, SMA jadi ada dua trip jadi mana yang apa itu harus pagi-pagi itu
udah standby sudah siap jam itu udah pada readyan.
Interviewer Berarti mereka perginya itu menggunakan mobil yang disediakan ya?
Interviewee Iya, antar jemput jadi sampai sore ada yang sampai jam 3. sampai jam .
kan nanti pulang nanti kegiatan habis apa salat magrib terus lanjut lagi
isya terus lagi ngaji ada kalau ngaji itu seminggu tiga kali seminggu tiga
kali ya bu itu hari apa aja bu untuk ngaji itu er malam selasa malam malam
apa namanya senin selasa ya malam selasa jadi kita ya malam selasa rabu
malam kamis malam selasa tu kamis selebihnya itu kadang tekundu sih
kadang kadang ada tekundu kalau kalau masternya mungkin lagi enggak
repot kadang malam-malam tuh he he itu
Interviewer Berarti makannya bareng-bareng di kantin gitu atau di sini?
Interviewee Iya
Interviewer Kalau misalkan makan itu makannya diganti diganti semua
Interviewee Iya semuanya diganti disiapin ya bu di kantin itu jam ada yang petugas
masak
Interviewer Bisa ibu ceritakan bagaimana anak yang sulit dibangunkan?
Interviewee Alhamdulillah sih kalau untuk bangun sih gak lah soalnya alarm mereka
tuh juga alhamdulillah mereka juga alarm kan palingan kalau yang agak
susah itu di saat libur he kalau masih jam apa hari sekolah itu mereka
alhamdulillah inilah cuma libur nih kalau hari sabtu hari minggu itu
mereka agak ini dikit agak ngaret bangun agak ngaret jadi cepat cepat
cepat bangun itu kita lihat bangun gitu kan kita kita terain tidak bangun itu
Interviewer Kalau weekend biasanya dari pagi sampai sore itu ngapain aja bu ya
Interviewee Kalau misalkan hari minggu nih tapi kalau hari sabtu enggak inilah ya
heeh kan sabtu sudah tahu ya kegiatannya iya 6 pagi kan terus ini kursus
bahasa inggris sama siapa yang kursus bahasa inggris bukan sama kakak-

66
kakak bukan ada budget bahasa inggris sih dari yayasan ini juga masih ada
kegiatan yang full juga ya Bu hari terakhir yang masih kalau hari minggu
itu eh tekwondo terus kalau sudah itu udah palingnya nanti udah agak-
agak sore mereka istirahat sore sih kadang saya ajak gotong royong
keliling
Interviewer Kalau gitu aturan-aturan untuk anak-anaknya sendiri gimana bu
Interviewee Kalau itu paling kalo abis gotong royong istirahat gitu
Interviewer Kalau gitu aturan-aturan yang ada di asrama itu apa aja peraturan untuk
anak-anaknya untuk di rumah ini sendiri gitu bu?
Interviewee Di rumah ini sendiri ya biasa sih kayak disiplin untuk yang piket ya kita
buat jadwal piket jadwal apa namanya beres-beres apa rumah bersihkan
kamar mandi segala macam kalau hari minggu itu khusus rame-rame
peraturan-peraturannya ya peraturannya ini ya samalah kayak peraturan
yang dari kantor kan sudah ada tuh peraturan yang dari kantor dari bangun
dari apa seperti itulah makannya harus dapur semua macam sudah diatur
sudah ada sudah ada diatur
Interviewer Ada engak bu anak-anak yang sekiranya ngelanggar?
Interviewee Sekiranya anak-anak yang melanggar aturan-aturan sudah ditetapkan
kayak HP tuh suruh kumpul alasannya banyak ee gak ada ini kan gak ada
mau dikumpul gitu kita ee apa ya sekali dua kali tiga kali ya gamau kita
catat aja gitu ya anak-anak yang gak kita saya tinggal lapor ke itu
Interviewer Oh berarti nanti langsung dilaporkan gitu ya bu
Interviewee Iya dilaporkan aja gitu sekali dua kali tiga kali kalau sama saya kak ini
paling saya sudah udah kalau enggak ada yang ini berarti saya laporkan ya
ke depan tapi ternyata ibu tuya juga malah ini sih malah ini juga sih
kayaknya ga ada di ini lagi sih kemarin itu dilaporkannya ke bu B atau
setelah dilaporkan itu apakah dikenakan SP I trus anak dipanggil
Interviewer Oke bu Pertanyaan selanjutnya mungkin bisa ibu ceritakan kondisi apa
saja anak-anak itu bisa ber ada di sini bu
Interviewee Oh maksudnya e bisa kondisi anak-anaknya
Interviewer Iya bisa di sini
Interviewee Yang jelas sih orang tuanya tidak mampu ya kondisi tidak mampu satu
bisa di sini kalau memang istilah ekonominya susah memang benar-benar
susah bisa di sini kedua juga telantar ketiga juga kayak yatim piatu kan
enggak ada yang apa enggak ada yang lurus gitu kan ikut orang kan ada

67
tuh he itu kan piatur heeh eh
Interviewer Biasanya ibu bagaimana kayak proses mereka bisa kan tadi awalnya kan
mereka ada yang telantar ada yang piatuh nah proses mereka bisa tahu
kalau mereka telantar?
Interviewee Itu tuh ada yang melaporkan atau bagaimana itu nah kita ini kan dinas
sosialnya ada upsk UN pelayanan keliling he jadi eh ada itu dia bakal ke
kabupaten-kabupaten melakukan sosialisasi nah di situ nanti dapat data-
data atau dapat lapor-laporan juga nih dari dinas dinas-dinas kabupaten
atau kota yang bersangkutan he heh jadi mereka nanti yang
merekomendasikan memberikan surat rekomendasi atau yang nguruslah
kan heeh seperti kayak dijangkat nih di jangkat kan ada Pak H tuh Pak H
itulah nanti ya biasanya apa urus
Interviewer Oke berarti e pokok dari dinas sosial terkait oh oke berarti setelah mereka
e didata terus kayak dikumpulkan siapa aja gitu bu itu berarti ditanya dulu
ya kayak mereka mau ikut atau enggak dulu ada sih kadang yang kayak
apa ya itu disabilitas ya karena apa gak ini gak ada yang tanyak baik
pertanyaan selanjutnya bisa ibu ceritakan bagaimana sama bagaimana
interaksi antar anak-anak di sini?
Interviewee Maksudnya ya bagaimana interaksi antar anak-anak di sini?
Interviewer Iyaa
Interviewee Kalau saya ya gimana ya ya kayak emak sama inilah kayak tadi ya ini
gitulah ya ada pernah ini enggak bu e.. misalkan betengkar atau anak-
anaknya kalau anak-anak nih sejauh ini ya betulan kan saya ini baru juga
nih dari bulan satu kemarin kan kalau untuk bertengkar sesama itu sih
kayaknya belum ada belum ada paling kan ee biasa mengadu ibu itu kalau
kencing enggak ini enggak disiram tuh kayaknya bu ini ini bau kan hanya
sebatas-sebatas itu apa bu itu piket gak mau buang sampah gitu aja sih
kalau yang petengkar-petengkar apa enggak ada nanti kumpulin saya
kumpulin nanti sharing kayak memang terlepas gitu tiba-tiba kadang gitu
marah yang kayak mana yang sampai mukul sampai apa gitu ya enggak
kayak memang enggak bisa ketahan mungkin kayak suaranya lebih tinggi
atau bagaimana oh kalau suara lebih tinggi alah sering bela bangun cepat
kan dia mau bangun-bangun sudah dua kali sudah dianuin dikit main
ngoceh gitulah kayak mana emak-emak di rumahnya ngoceh-ngoceh sama
anaknya kalau anaknya gak bangun biasanya apa aja tuh ibu yang bikin

68
ibu tuh terlihak-terlihak sama anak-anaknya ya itu tadi kayak bangun
susah gitu kan seringan itu sih bangun bangun susah sih kadang ada aja
rasanya itu inilah itulah nah ini udah dua kali nih dibangunin kan i bu i bu
i bu i bu nah rupanya belum bangun juga he nah sekali pas apa selesai
nelepon juga se kita tengok lagi ya astagfirullahalazim nah itulah lagi ya
berarti mungkin kesulitannya itu untuk menahan emosi kalau anaknya
susah bangun.
Interviewer Oke Oke
Interviewee Selanjutnya ee ing di situ nanti saya ingatkan lagi di situ anaknya seperti
apa seperti apa gitu masalah masalah apa kita bahas di situ
Interviewer Baik terimakasih selanjutnya bisa Ibu ceritakan enggak kesulitan apa sih
selama Ibu jadi Ibu asuh di asrama ini?
Interviewee Kesulitan-kesulitannya itu mungkin nahan emosional emak-emak
namanya anak ya kadang tuh kan kalau kita kasih tahu kan pada jawab ya
pada ini ya heeh heeh ya itulah istilahnya tuh kitanya yang kadang nak
harus sabar ya kan he ibaratnya tuh ee kita nanti kita cubit kita apa nanti
salah kan anak orang paling kan ya paling kita itu aja sabar sekali dua kali
tiga kali paling kan yaudah kalau dak ada mau berubah ibu lapor nih ke
depan gitu aja si ham aja gitu
Interviewer Baik, selanjutnya. Ibu kan belum lama nih menjadi ibu asuh, nah awal ibu
menjadi ibu asuh, bagaimana sih ibu menjalin kedekatan sama mereka?
Interviewee Pertama tu kita ikuti alurnya dulu sih sebenarnya
Interviewer Ikuti alur itu maksudnya bagaimana?
Interviewee Anak ini, saya mau tahu anaknya karakternya bagaimana. Kita diam dulu
dan lihat dulu. Mungkin kurang lebih 2 bulan ini, palingan cuman saya
halus-halus ngomongnya gitu nah. Tapi itu saya rekam, kayak sifat-sifat
dia, itu saya rekamlah dan ingat.
Interviewer Berarti awalnya itu mengamati sama mengobservasi karakter anak-
anaknya?
Interviewee Iya, karakter anak-anaknya
Interviewer Berarti anak-anaknya welcome-welcome aja ya, bu?
Interviewee Iya, welcome-welcome aja, saya engga yang gimana-gimana lah
Interviewer Bisa ibu ceritakan, pernah ga ibu mengalami saat anak-anak tu ada yang
marah atau apa, itu biasanya dalam kondisi apa, bu?

69
Interviewee anak yang marah gitu, ya?
Interviewer Iya. Mungkin sesama teman atau sesama orang lain
Interviewee Engga ada sih, palingan sebatas itulah mereka ngamuk. “ibu, itu ga mau
piket”, “engga mau ini” palingan gitu aja sih. “yaudah, nanti ibu kasih
tahu, ibu ingetin.” kalau ada masalah, nanti kita kumpuli anak itu. Itu aja
sih kalau saya
Interviewer Engga ada yang marah gitu, bu?
Interviewee Engga ada, sih. Soalnya saya kan kalau sudah “melawan, ya. dengar ya
apa kata ibu, ya!” “iya, bu” mereka udahlah nanti kalau begitu. Karna ya
gimana. pertama kan yang saya bilang latar belakang itu ya etika, karna
dia awalnya saya kan kepengen nya ya anak itu pergi sekolah. Walaupun
saya bukan orangtua kandung. Kalo pergi gak pamit dan kalau disuruh
tutup pintu pun payah, kalau ribut tu nomor satu. Makanya kalo sampe
melawan saya jarang, gak berani juga mereka.
Interviewer Ga ada sampe meninggikan suara ya, bu?
Interviewee Saya tu tingginya tu memang tipikal suaranya memang begini, cempreng
gitu kan
Interviewer Maksudnya anaknya, bu
Interviewee Oh, anaknya. Palingan tu “aih ibu ni, kami tu tidak…” alibi mereka lah
Interviewer Ngedumel gitu ya bu?
Interviewee Iya, alibi mereka lah. “aih ibu ni kami teros…kami kan tidak ini…” istilah
kek gitu. Makanya saya itu, saat gotong royong, semuanya gotong royong.
Lagi tidur pun, saya bangunkan. Walaupun dia ga bangun-bangun, “kau
tinggalkan sampah-sampah itu, gek kau bangunin, suruh dia buang.” Saya
gituin
Interviewer Jadi, kerja semua ya, bu?
Interviewee Iya, kerja semua. Waktu tu pernah juga, “bu, kita masak ini…” dah kita
masak. Waktu tu biasanya si AZ, tu tukang tidur. “banguni si AZ, nya.”
“engga mau, bu.” “sudah, biarin gapapa, tinggalkan dia, biar dia tidur.”
dah, pas selesai masak kan banyak piring menumpuk. “lah sore, bangunin
dia. panggil sini.” “iyo, bu” “apa, bu?” “tuh, jatah kau cuci piring.”
“iyolah, bu. aih, ibu ni…” “AZ, orang begawe semua, kau yang tidak”.
Interviewer Biar adil ya, bu?
Interviewee Bukannya adil. Kek mana kita tu supaya tidak ada kesenjangan kan susah,

70
ya. Bukannya keadaan kita, anak sendiri saja, kakak-beradik aja, satu ini
satu itu, bisa iri-irian gitu kan. Makanya itu yang saya jaga. Jadi, gotong
royong, masak bareng, maupun apa pun itu, pokoknya semua-semua harus
sama, dapat jatah lah pokoknya
Interviewer Berarti perilakunya adil ya, bu. Satu kerja, semua kerja
Interviewee Iya, jadi kalau dia ada ini, biarin dulu. Nanti kan pasti bakal beres-beres,
udah tu pel, cuci piring
Interviewer Nyelesain semua tugas gitu
Interviewee Iyalah
Interviewer Mungkin ini pertanyaan terakhir, ibu. Bisa ibu ceritakan perubahan positif
yang telah diamati untuk anak-anak?
Interviewee Perubahan positif, ya?
Interviewer Iya
Interviewee Alhamdulillah kalau untuk yang biasanya si biang kerok, si V dan AZ itu,
anaknya itu lebih-lebih gitulah
Interviewer Maksudnya lebih-lebih ini gimana, bu?
Interviewee Ya, tadi. Melawannya pade, malas. Jadi, dia lebih agak…ibu asuh-ibu
asuhnya sebelumnya itu kan, dari sejak saya di sini ibu asuhnya itu kan
sering mengeluhkan kalau bercerita. Tapi, setelah kita jadi ibu asuhnya,
benar juga. Kadang anaknya ini menceritakan begini, tapi ibu asuhnya
bercerita begini, jadi kan kita bisa ambil kesimpulan. Di situlah saya juga
belajar “oh, anak ini cara mengatasinya, menghadapi dio itu, berarti jangan
pakai cara yang kek gini”. Satu, saya jadi kawan dulu nih. Di saat saya jadi
kawan, kawan. Di saat saya tegas, tegas. Sebagai orang tua, sebagai orang
yang lebih tua dari dio, orang tualah. Jadi, saat bergurau kita bergurau
samo-samo, duduk bareng, makan. Tapi, di saat dia ada salah, saya
panggil ke sini, tutup pintu, ga ada yang dengar. Ga mau saya marahi di
depan anak-anak yang lain. Itu sih, makanya saya panggil. Sempat sih
kemaren, biasalah berpacaran, itu sama sih Y kemaren tu kan. Kalau saya,
saya panggil, saya nasehati, saya ajak dia berpikirlah, itu sih kalau saya
Interviewer Itu biasanya biang keroknya tadi kan selain males itu apa lagi, bu yang tadi
ibu ceritakan?
Interviewee Itu ngejawab
Interviewer Oh, ngejawab

71
Interviewee Sebenarnya, mungkin gini karena tergantung orang-orang kan masing-
masing. Saya kan tipe orang yang masih saya bawa santai karena saya
sudah paham sama mereka, jadi kan saya menyikapinya itu kan tidak yang
diambil hati, kan ada ibu asuhnya ini tipe yang dibentak dikit, ga suka,
marah. Sebenarnya juga, setelah sekarang ini udah mulai berkurang juga
karena dia udah dipantau juga nih ama Pak U “Jangan sampai ada macam-
macam lagi keluhan.” dia kan udah ada bawaan Pak H , sudah dipantau
terus sama bapak tu, diberi waktu sekian bulan kalau masih juga balek be
ke kampung. Jadi saya selalu ingetin “kalian niatnya nak apo? masih mau
sekolah atau idak?” “masihlah, bu”. “kalau masih, tolong dijaga, aturan
diikuti, jaga diri baek-baek, malesnya dikurangi, apo yang ada peraturan di
sini diikuti, jangan lagi malas-malas”. Dia kan agak syok dikit lah. Dulu tu
sering berantem saya dengar gitu, kan pernah saya setrap, saya hukum.
Berantem sama siapa, saya suruh bersihin WC, itu pernah juga. Sebelum
saya jadi ibu asuh. Dia memang terkenal, terkenal bandel. Tapi sekarang
alhamdulillah udah berkurang.
Interviewer Itu berarti dia biasanya berantem sama temantemannya ya, bu?
Interviewee Iya, bully-bully teman, biasalah anak-anak kan, yang aga cupu dikit,
biasalah, istilahnya anak-anak kek gitu kan, kadang-kadang kawan-kawan
suko saling menghina, kayak ngejek penampilan atau kekurangan orang
lain. misalnyo, ado yang ngomong "kau bengak" atau "kau tuh dak do
gunonyo sini, sanolah kau nyusahin be" itu bikin kawan yang dikatoi jadi
minder trus tu kadang bikin dijauhi jugo samo kawan yang lain, yang ikut-
ikutan tu
Interviewer Itu ngajak berantemnya ini sesama cewek, atau bahkan ke cowok?
Interviewee Sesama dialah, kadang-kadang ado yang saya lihat tu ngatain bentuk
badan dan fisik. Kalo dapat aduan dari anak-anak ni misalnyo, ado yang
bilang, "buk, dio tu ngatain buk gendut macam god hand nian buruk itam"
atau "kau lolo, busuk dak mandi" itu kan kadang bikin kawan yang dikatai
jadi meraso tersinggung, kawan-kawan jadi malu kalau disuruh tampil
atau ada kegiatan.
Interviewer Sesama cewek yang seusia gitu?
Interviewee Makanya pas ada acara kejaksaan di dinas, anak-anak kan dipanggil,
tentang hak asuh anak. Saat ada yang lagi bertanya, yaudah saya langsung
“tolong jelasin pak tentang bullying” bullying kan ga selalu di sekolah,

72
soalnya saya lihat di sini kan, si S jadi korban bully-an, biasalah diejek-
ejek. Padahal sudah dikasih tahu “ga boleh kek gitu, nak” tapi kan
mungkin kalau kita yang ngomong, kadang ga didengar. Jadi ya udah
langsung di situ juga, bapak tu alhamdulillah ada materinya jugo, ya udah
langsung diterangi lagi di situ korban bullying gimana, kan banyak kasus-
kasus bullying kan, sampai akhirnya naik ke meja hijau. Sudah itu, udah
ga “jangan lagi diejek-ejek ya nak, kan udah dengar dari yang maren”.
Jadi saya pun enak untuk mengingatkan mereka
Interviewer Jadi, lebih baik lah bu untuk sekarang?
Interviewee Iya, Alhamdulillah, mudah-mudahan ya tapi kan kita ga selalu memantau
mereka. Kalau ada dengar-dengar mereka, kita ini cuman ya gimana ya
berdasarkan pengamatan kami, memang banyak dari mereka masih
kesulitan dalam mengelola emosionalnya. Mereka mudah marah, sulit
mengendalikan perasaan, dan kadang menunjukkan perilaku impulsif. hal
ini mungkin dipengaruhi oleh latar belakang mereka yang penuh tekanan
dan kurangnya bimbingan emosional sejak kecil kali ya semoga
kedepannya sama-sama bisa berbenah
Interviewer Ohh, terus buk menurut ibu, anak-anak itu kenapa seperti sulit mengelola
emosinya?
interviewee Hemmm, kalo dari penilaian saya itu, banyak anak yang kesulitan
mengelola emosionalnya, terutama ketika mereka merasa cemas atau
marah. Anak-anak ini sering kali mengekspresikan perasaan mereka
dengan kata-kata yang kasar atau agresif, karena mereka tidak tahu
bagaimana cara menyalurkan emosional mereka dengan cara yang lebih
positif.”
Interviewer Tadi ibu ada cerita ada penggantian ibu asuh, itu kenapa ya bu, kok bisa
ada penggantian ibu asuh?
Interviewee Oh, sebelumnya ini Pak A nya ni pensiun
Interviewer Oh, berarti kalau udah pensiun, ga di sini lagi?
Interviewee Engga, dikeluarkan. Aturannya dia kan mau pindah ke Bekasi juga. Dia
orang Bekasi, kan
Interviewer Selain pensiun, apa lagi alasan orang tu berganti ibu atau abpak asuh?
Interviewee Mungkin kalau dia tidak bekerja lagi di sini ya kayaknya. Keknya itu sih,
dak ada sih sampai sekarang. Tidak tinggal di sini lagi atau dia ada rumah
sendiri gitu kan.

73
Interviewer Oh, berarti kebanyakan karena pensiun, tidak tinggal di sini samo ada
rumah sendiri gitu, ya?
Interviewee Selebihnya kita inilah, selama dia masih kerja di sini, masih tinggal di sini.
Atau mungkin ibu asuhnya nih “aduh, saya ga sanggup pak bu pusing saya
mengundurkan diri” mungkin, siapa tahu mungkin ada yang begitu kan
Interviewer Tapi kalau mengundurkan diri begitu, masih bisa kerja di sini atau
bagaimana, bu?
Interviewee Semua kalau masih kerja di sini, tetep bisa
Interviewer Oh, tapi mengundurkan dirinya…
Interviewee Untuk ininya (jadi orang tua asuh). Karena ibu asuh ini tambahan lah ya.
Sebenarnya berat ya, palagi ibu asuh anak-anak ini. Begitulah ceritanya
Interviewer Kalau di sini berapa anak, bu?
Interviewee Enam
Interviewer Itu sekamar seorang atau berdua?
Interviewee Berdua. Kadang juga mereka tidur di lorong, kalau lagi panas “panas, bu”
katanya
Interviewer Oh, tidurnya rame-rame
Interviewee iya kan betiga, berempat.
Interviewer Baik, mungkin itu saja, kurang lebih saya mohon maaf bu, terima kasih
banyak bu atas waktu dan kesediaannya.

74
75
SURAT PERSETUJUAN PENGGUNAAN ALAT TES PSIKOLOGI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Ahmad Fahrobi, [Link]
NIP :-
Memberikan izin bagi mahasiswa dibawah ini :
Nama : Jihan Aqilla Saputri
NIM : G1C121060
Untuk menggunakan alat tes skala ukur Agresivitas Verbal untuk pelaksanaan
penilaian dalam menunjang pembuatan skripsi yang berjudul “Hubungan antara
Kecerdasan Emosional dan Agresivitas Verbal pada Anak Terlantar di UPTD
PSBAWEP Harapan Mulya Jambi”. Demikian surat persetujuan ini dibuat untuk
dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Jambi, 10 Februari 2024

Ahmad Fahrobi, [Link].

76
Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Emosional
Blue Print skala Kecerdasan Emosional
No Pertanyaan- Pertanyaan- Sanga Sesua Netra Tida Sanga
. pertanyaan pertanyaan t i (S) l (N) k t
(Kecerdasan (Kecerdasan Setuj Sesua Tidak
Emosiona) Emosiona) u (SS) i (TS) Sesuai
(STS)
1. Saya menyadari 5 4 3 2 1
Saya menyadari perasaan saya saat
keadaan suasana bermain atau
hati saya di berbincang
tempat kerja dengan teman di
panti.
2. Saya dapat Saya dapat tetap 5 4 3 2 1
merespon secara tenang dan
positif keadaan berpikir positif
yang menekan saat menghadapi
saya masalah di panti.
3. Saya bisa 5 4 3 2 1
Saya dapat menerima kritik
menerima kritik atau nasihat dari
dari rekan kerja pengasuh atau
secara pribadi teman dengan
baik.
4. Saya menyadari Saya memahami 5 4 3 2 1
bagaimana bagaimana
perasaan saya perasaan saya bisa
memengaruhi memengaruhi
keputusan yang keputusan saya
saya buat di dalam bermain
tempat kerja dan belajar.
5. Saya sering 5 4 3 2 1
Saya kesulitan
kesulitan
dalam mengenali
mengenali
perasaan saya
perasaan saya saat
tentang masalah
mengalami
di tempat kerja
masalah di panti.
6. Saya dapat 5 4 3 2 1
memahami
Saya menyadari
perasaan teman-
perasaan teman-
teman saya
teman saya dari
dengan melihat
perilaku mereka
sikap atau
ekspresi mereka.
7. Saya dapat Saya dapat 5 4 3 2 1
menangani hal- mengendalikan
hal yang emosi saya saat
mengganggu saya merasa marah
di tempat kerja atau kecewa di
secara efektif panti.
8. Saya dapat Saya bisa tetap 5 4 3 2 1

77
merespon dengan bersikap baik
baik perilaku meskipun ada
rekan kerja yang teman yang
membuat saya membuat saya
frustrasi di tempat kesal.
kerja
9. Saya merasa sulit 5 4 3 2 1
Saya tidak dapat
untuk mengatasi
menangani situasi
tekanan atau
menekan saya di
masalah yang
tempat kerja
saya hadapi di
secara efektif.
panti.
10. Saya berinisiatif Saya berusaha 5 4 3 2 1
untuk menjadi lebih
meningkatkan baik dalam belajar
kinerja saya dan melakukan
sendiri. tugas di panti.
11. Saya berusaha Saya mencoba 5 4 3 2 1
untuk untuk
meningkatkan memperbaiki diri
kualitas diri dengan
dengan menetapkan
menetapkan tujuan yang ingin
tujuan yang saya capai.
terukur dan
menantang
12. Saya berusaha 5 4 3 2 1
Saya berusaha
meningkatkan
untuk
kemampuan saya
meningkatkan
dalam belajar dan
kinerja saya.
beraktivitas.
13. Saya tidak Saya tidak 5 4 3 2 1
mencoba untuk berusaha untuk
meningkatkan menjadi pribadi
kualitas diri saya. yang lebih baik.
14. Saya tidak Saya tidak 5 4 3 2 1
berusaha untuk berusaha
meningkatkan meningkatkan
kinerja saya keterampilan atau
sendiri. prestasi saya.
15. Saya berusaha Saya selalu 5 4 3 2 1
melakukan mencari cara
pekerjaan saya untuk melakukan
dengan cara yang sesuatu dengan
lebih baik. lebih baik.
16. Saya Saya 5 4 3 2 1
menunjukkan mempertimbangk
kepada orang lain an perasaan teman
bahwa saya telah sebelum
mempertimbangk mengambil
an perasaan keputusan di
mereka dalam panti.

78
mengambil
keputusan yang
saya buat di
tempat kerja.
17. Saya peka Saya peduli 5 4 3 2 1
terhadap perasaan terhadap perasaan
dan emosi orang teman-teman
lain saya.
18. Saya dapat Saya bisa 5 4 3 2 1
memahami memahami
dengan baik perasaan teman
tentang emosi saya saat mereka
orang-orang di sedang sedih atau
sekitar saya. senang.
19. Saya bisa menilai 5 4 3 2 1
Saya dapat
apakah teman
menilai emosi
saya sedang
orang lain secara
bahagia, marah,
baik.
atau sedih.
20. Saya dapat Saya dapat 5 4 3 2 1
memahami memahami
perasaan orang perasaan teman
lain secara efektif. saya dengan baik.
21. Saya dapat Saya bisa melihat 5 4 3 2 1
melihat situasi suatu masalah
dari sudut dari sudut
pandang orang pandang teman
lain secara tepat. saya.
22. Saya berusaha 5 4 3 2 1
Saya dapat menciptakan
menciptakan suasana yang
lingkungan kerja nyaman dan
yang positif menyenangkan di
panti.
23. Saya dapat Saya berusaha 5 4 3 2 1
membantu orang membantu teman
lain yang sedang
menyelesaikan bertengkar agar
konflik di tempat berdamai.
kerja.
24. Saya dapat Saya mendukung 5 4 3 2 1
mendukung keputusan teman
keputusan orang yang menurut
lain. saya baik.
25. Saya dapat Saya membantu 5 4 3 2 1
membantu orang teman
lain menghadapi menghadapi
situasi yang masalah atau
penuh tekanan situasi sulit.
secara tepat.
26. Saya dapat Saya dapat 5 4 3 2 1
memengaruhi membuat suasana

79
perasaan orang di sekitar saya
lain secara positif. menjadi lebih
menyenangkan.

Kisi-kisi Instrumen Agresivitas Verbal


Blue Print skala Agresivitas Verbal
No. Pertanyaan- Pertanyaan- Sangat Sesuai Netral Tidak Sangat
pertanyaan pertanyaan Setuju (S) (N) Sesuai Tidak
(Kecerdasan (Kecerdasan (SS) (TS) Sesuai
Emosiona) Emosiona) (STS)
1. Saya 5 4 3 2 1
Saya
mengomentari
mengomentari
gerakan
foro profil
taekwondo
pemain yang
teman yang
noob
memiliki
(kemampuan
kemampuan
bermain yang
taekwondo yang
buruk)
buruk
2. Saya 5 4 3 2 1
mengatakan
Saya
bahwa teman
mengatakan
yang tidak dapat
bahwa pemain
melakukan
yang tidak bisa
gerakan
melihat maps
taekwondo
(peta) itu buta
dengan baik itu
noob
3. Saya Saya 5 4 3 2 1
mengatakan mengatakan
bahwa teman bahwa teman
yang tidak bisa yang tidak bisa
berkomunikasi berkomunikasi
antar teman itu antar teman itu
anti sosial anti sosial
4. Saya menahan Saya menahan 1 2 3 4 5
diri agar tidak diri agar tidak
menyudutkan menyudutkan
teman-teman teman-teman
saya saya
5. Saya Saya 5 4 3 2 1
mengomentari mengomentari
pemain yang pemain yang
memiliki memiliki
kemampuan kemampuan
bermain yang bermain yang
buruk adalah buruk adalah

80
orang yang orang yang
bodoh bodoh
6. Saya Saya 5 4 3 2 1
meremehkan meremehkan
performa dan performa dan
keahlian teman- keahlian teman-
teman meskipun teman meskipun
dia memiliki dia memiliki
keahlian yang keahlian yang
baik baik
7. Saya 5 4 3 2 1
Saya
menyalahkan
menyalahkan
teman atas
teman atas
kegagalan saya
kekalahan
atau kesalahan
dalam
dalam
permainan
kelompok
8. Saya merasa Saya merasa 1 2 3 4 5
jika jika
menyalahkan menyalahkan
oranglain malah oranglain malah
membuat saya membuat saya
semakin kesal. semakin kesal.
9. Saya 5 4 3 2 1
Saya
meremehkan
meremehkan
apa yang
strategi yang
dilakukan oleh
disampaikan
teman -teman
pemain lain
saya
10. Saya menyebut 5 4 3 2 1
teman-teman
Saya menyebut
lain akan gagal
strategi pemain
jika dilakukan
lain akan gagal
dan tidak akan
jika dilakukan
tercapai cita-
citanya
11. Saya mengejek Saya mengejek 5 4 3 2 1
ide pemain lain teman-teman
adalah ide yang lain adalah ide
amatir yang buruk
12. Saya 1 2 3 4 5
Saya
menanyakan
menanyakan
pendapat rekan
pendapat teman
tim saya
saya mengenai
mengenai
strategi apa
strategi apa
yang cocok
yang cocok
13. Saya Saya 5 4 3 2 1
menggunakan menggunakan
nama binatang nama binatang
untuk untuk
dilontarkan saat dilontarkan saat

81
kesal bermain kesal bermain
atau berbincang
14. Saya Saya 5 4 3 2 1
mengumpat mengumpat
pemain lain teman-teman
dengan kata- lain dengan
kata vulgar kata-kata vulgar
15. Saya mengejek 5 4 3 2 1
Saya mengejek
pemain lain
teman lain idiot
idiot atau
atau bodoh dan
disabilitas
kawan lainnya.
lainnya.
16. Saya merasa Saya merasa 1 2 3 4 5
risih mendengar risih mendengar
kata yang tidak kata yang tidak
senonoh saat senonoh saat
bermain bermain

82

Anda mungkin juga menyukai