0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan29 halaman

Pelayanan Bongkar Muat Container di Pelindo

Dokumen ini membahas tentang pelayanan bongkar muat kontainer menggunakan sistem Bay Plan di PT. Pelindo Cabang Tenau Kupang, termasuk latar belakang, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan efisiensi proses bongkar muat serta hambatan yang dihadapi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan pelayanan bongkar muat di pelabuhan.

Diunggah oleh

Alfonsius Nahak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan29 halaman

Pelayanan Bongkar Muat Container di Pelindo

Dokumen ini membahas tentang pelayanan bongkar muat kontainer menggunakan sistem Bay Plan di PT. Pelindo Cabang Tenau Kupang, termasuk latar belakang, identifikasi masalah, dan tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan efisiensi proses bongkar muat serta hambatan yang dihadapi. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan pelayanan bongkar muat di pelabuhan.

Diunggah oleh

Alfonsius Nahak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PELAYANAN BONGKAR MUAT CONTAINER

MENGGUNAKAN SISTEM BAY PLAN DI PT. PELINDO CABANG


TENAU KUPANG

TUGAS MATAKULIAH

Diajukan Kepada Akademi Pelayaran Nasional Surakarta Untuk Memenuhi


Sebagaian Tugas Matakuliah Metode Penelitian

Disusun Oleh :

GERY MELLO PAJU

NIT : 202211O29

PROGRAM STUDI

KETATALAKSANAAN PELAYARAN NIAGA DAN KEPELABUHANAN

AKADEMI PELAYARAN NASIONAL SURAKARTA

2024

1
DAFTAR ISI

COVER....................................................................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah............................................................................1

B. Identifikasi Masalah...................................................................................3

C. Batasan Masalah.........................................................................................3

D. Rumusan Masalah.......................................................................................3

E. Tujuan Penelitian........................................................................................4

F. Manfaat Penelitian......................................................................................4

BAB II LANDASAN TEORI................................................................................6

A. Kajian Teori.................................................................................................6

B. Kajian Peneliti Terdahulu........................................................................17

C. Kerangka Berpikir....................................................................................19

BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................20

A. Jenis Penelitian......................................................................................20

B. Sumber Data Penelitian........................................................................20

C. Subyek dan Informan Penelitian.........................................................21

2
D. Teknik Pengumpulan Data...................................................................22

E. Teknik Keabsahan Data.......................................................................23

F. Teknik Analisis Data.............................................................................24

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................25

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kegiatan bongkar muat merupakan kegiatan yang dilakukan untuk


menurunkan atau menaikan kontainer ke dermaga atau kapal terhadap barang
cargo baik dengan container atau lainnya juga barang curah kering atau cair
yang dilakukan dilingkungan suatu pelabuhan. Aktivitas bongkar muat ini
meliputi bongkar muat barang dari atau ke kekapal yaitu sebelum container di
tumpuk dipelabuhan atau dimuat ke atas kapal container terlebih dahulu diisi
di depo atau tempat pengisian dan disegel sesuai dengan tujuan, setelah itu
dilakukan penyimpanan dilapangan penumpukan sampai menunggu kapal
datang, dan juga pembongkaran barang dari palka kapal keatas dermaga disisi
lambung kapal(stevedoring).Kegiatan pemindahan barang dari dermaga
disisi lambung kapal kegudang atau lapangan penumpukan atau sebaliknya
(cargodoring) dan kegiatan pengambilan barang dari gudang/ lapangan
penumpukan dibawah ke atas truck atau sebaliknya.

Aliran barang yang diangkut dengan kapal laut dari pengirim kepada
penerima pertama-tama berpindah dari kendaraan angkutan darat dipelabuhan
muat, sebaliknya dipelabuhan tujuan barang yang bersangkutan dipindahkan
dari kapal ke kendaraan angkutan [Link] barang muatan dari kapal
ke kendaraaan angkutan darat melalui atau tidak melalui gudang disebut
kegiatan bongkar dan dari kendaraan darat atau gudang ke kapal disebut
muat.

Sedangkan untuk melaksanakan kedua jenis kegiatan bongkar muat


tersebut baik melalui gudang /lapangan penumpukan atau langsung.. Kegiatan
bongkar muat dapat dilakukan ketika kapal berada didermaga
jetty,direde(mindstream), ditengah laut (loading poin) atau antara kapal
dengan kapal (ship to ship transfer).

1
Kegiatan bongkar muat barang umum (general cargo) didermaga
dilaksanakan melalui empat tahapan ,yakni operasi kapal [ ship operation],
operasi dermaga (quay transfer operation), operasi gudang dan lapangan
(storage operation). Peralatan yang digunakan dalam bongkar muat adalah
RTG dan HMC, RTG(Rubber Tyred Gantry) alat bongkar muat kontainer
dapat bergerak dalam lapangan penumpukan (Container Yard) yang berfungsi
untuk menaikan dan menurunkan kontainer dari dan keatas trailer atau
sebaliknya dalam area penumpukan sesuai dengan block,slotz, row,dan
[Link] adalah Harbour Mobile Crane ,alat bongkar muat dipelabuhan atau
crane yang dapat berpindah-pindah tempat dan memiliki sifat yang fleksibel.

PT. PELINDO /Pelabuhan Laut Indonesia (Persero) Cabang Tenau


Kupang adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang
jasa kepelabuhanan. Salah satu usaha jasa kepelabuhanan adalah pelayanan
terhadap barang yang memiliki peran untuk kelancaran angkutan [Link]
salah satu pelabuhan konvensional juga mengoptimalkan pelaksanaan
bongkar muat [Link] kegiatan bongkar muat kontainer dapat
dilakukan di multi terminal, yang secara khusus dilengkapi dengan peralatan
berupa instalasi operasi kapal dan serah terimah . Peralatan bongkar muat
terdiri dari mobil crane, ganco dan crane kapal, sedangkan delivery
digunakan truck. Dalam bongkar muat masalah keefektifan dan efisien waktu
sangat penting, untuk meminimalisir timbulnya biaya-biaya yang
ditimbulkan, sehingga semakin cepat proses bongkar muat ,maka akan
semakin bagus .

Terdapat beberapa hal yang mendukung kelancaran bongkar [Link]


tersebut yakni planning(perencanaan), schedulling(penjadwalan),monitoring
(pengawasan), dan contolling(pengawasan). Semuanya adalah kesatuan
proses guna tercapainya kelancaran dalam bongkar muat .
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menyelesaikan tugas
ini dengan judul penelitian’’PELAYANAN BONGKAR MUAT
CONTAINER MENGGUNAKAN SISTEM BAY PLAN DI
[Link] CABANG TENAU KUPANG”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasi beberapa faktor


yang dapat mempengaruhi proses pelayanan bongkar muat container
menggunakan sistem Bay Plan di [Link] Cabang Tenau Kupang
adalah sebagai berikut :

1. Dalam kondisi tertentu koneksi jaringan mengalami gangguan (down


system) sehingga pelayanan tidak dapat dilaksanakan dan hanya
menggunakan cara kerja manual.
2. Masih terdapat petugas yang terkait langsung dalam proses pelayanan
belum memiliki kompetensi didalam bidangnya sehingga proses
pelayanan dapat terkendala apabila terjadi kesalahan input data.
3. Permasalahan teknis sistem yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh
petugas setempat dan hanya dapat diselesaikan oleh petugas yang berada
dikantor sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tindak
lanjut penyelesaian.

C. Batasan Masalah

Batasan masalah merupakan identifikasi masalah yang sengaja dibatasi


dan disesuaikan dengan kemampuan peneliti. Maka peneliti akan memilih
dan memfokuskan pada masalah Pelayanan Bongkar Muat Container
Menggunakan Sistem Bay Plan Di [Link] Cabang Tenau Kupang

D. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang , identifikasi masalah dan batasan masalah


diatas ,maka perumusan masalah dapat disampaikan sebagai berikut :

3
1. Untuk mengetahui pelayanan bongkar muat container menggunakan
sistem bay plan di PT. PELINDO Cabang Tenau Kupang.
2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan bongkar muat container
menggunakan sistem bay plan di [Link] Cabang Tenau
Kupang..
3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi saat pelayanan
bongkar muat container menggunakan sistem bay plan di [Link]
Cabang Tenau Kupang.

E. Tujuan Penelitian

Dengan melaksanakan penelitian tersebut secara terencana dan terarah ,


penulis mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Dengan adanya tujuan dari
penelitian dalam dunia pelayaran yang sesungguhnya, maka tujuan yang ingin
dicapai dalam melaksanakan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan sistem bay plan pada


kegiatan pelayanan bongkar muat container di [Link] Cabang
Tenau Kupang.
2. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan bongkar muat container
menggunakan sitem bay plan di [Link] Cabang Tenau Kupang.
3. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang terjadi saat
pelayanan bongkar muat container menggunakan sistem bay plan di PT.
PELINDO Cabang Tenau Kupang.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
masukan serta menambah kajian teori bagi perkembangan ilmu
ketatalaksanaan pelayaran niaga dan kepelabuhanan untuk mengetahui
bagaimana kualitas dan kinerja pelayanan terhadap pelayanan bongkar
muat container.

4
a. Bagi Penulis

Penyusun dapat mengembangkan ilmu yang merupakan pengetahuan


yang sangat berharga didunia kerja untuk kedepannya dan sebagai
landasan penyusunan laporan praktek darat.

b. Bagi Pembaca

Sebagai pemasukan dan wawasan bagi pembaca maupun taruna/taruni


tentang pelayanan bongkar muat container menggunakan sistem bay
plan.

2. Manfaat Praktis
Secara praktis, hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan
masukan bagi pihak pelayanan bongkar muat.
a. Bagi PT. PELINDO Cabang Tenau Kupang

Memberikan masukan, informasi dan referensi kepada [Link]


Cabang Tenau Kupang sebagai bahan acuan untuk evaluasi dan
pedoman dalam aktivitas pelayanan bongkar muat container dengan
sistem bay plan.

b. Bagi Akademi Pelayaran Nasional Surakarta

Sebagai data penulis mengenai perkembangan pada dunia pelayaran


dan sebagai bahan referensi taruna/taruni dalam mengerjakan tugas
atau penelitian sejenis.

5
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

1. Pelayanan

Pelayanan dapat diartikan sebagai aktivitas yang diberikan untuk


membantu, menyiapkan dan mengurus baik itu berupa barang atau jasa
dari satu pihak ke pihak yang lain (Budiman,2013:203).

a. Pegertian menurut para ahli :


Kotler (dalam Laksana, 2018:85), berpendapat bahwa pelayanan
adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu
pihak kepada pihak lain,yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
mengakibatkan kepemilikan apapun.
Tjiptono (dalam Sunyoto,2016:236),berpendapat bahwa
pelayanan adalah suatu penyajian produk atau jasa sesuai ukuran yang
berlaku di tempat produk tersebut diadakan dan penyampaiannya
setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan oleh
konsumen.
Sampara (dalam Sinambela, 2011:5),berpendapat bahwa
pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi
dalam interaksi langsung antar seseorang dengan orang lain atau
mesin secara fisik,dan menyediakan kepuasan pelanggan.
Berdasarkan definisi diatas,dapat penulis menarik kesimpulan
bahwa pelayanan adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk orang
lain yang sesuai dengan yang diinginkan dan diharapkan konsumen,
pelayanan harus diberikan kepada seseorang yang harus mendapatkan
pelayanan tersebut atau pembeli itu akan membeli barang atau jasa .
Dalam suatu perusahaan, pelayanan diberikan kepada suatu kegiatan

6
dari awal hingga akhir dalam hal ini seperti pelayanan kepada
kegiatan bongkar muat container.

b. Jenis-jenis Pelayanan
1) Pelayanan Administratif.
Pelayanan Administratif adalah jenis pelayanan yang diberikan
oleh unit pelayanan berupa pencatatan ,penelitian,pengambilan
keputusan,dokumentasi dan kegiatan usaha lainnnya yang secara
keseluruhan menghasilkan produk akhir berupa dokumen misalnya,
sertifikat, ijin-ijin,rekomendasi, dan lain sebagainya.
2) Pelayanan Barang
Pelayanan Barang , yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai
bentuk/jenis barang yang digunakan oleh publik misalnya jaringan
telepon, penyediaan tenaga listrik,air bersih dan sebagainya.
3) Pelayanan Jasa
Kotler( dalam Laksana, 2018:85), berpendapat bahwa pelayanan
adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh
satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud
dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
4) Pelayanan Regulatif
Pelayanan Regulatif yaitu pelayanan penegakan hukum dan
peraturan perundang-undangan , maupun kebijakan publik yang
mengatur sendi-sendi kehidupan masyarakat.
c. Prinsip-prinsip Pelayanan
Pelayanan publik merupakan hak masyarakat yang dalam
pelaksanaannya mengandung prinsip umum, yaitu :
1. Kesederhanaan
2. Kejelasan
3. Kepastian Waktu
4. Akurasi
5. Keamanan

7
6. Tanggung Jawab
7. Kelengkapan Sarana dan Prasarana
8. Kemudahan Akses
9. Kedisiplinan, termasuk Kesopanan dan Keramahan
10. Kenyamanan
2. Bongkar Muat

Muat adalah suatu pekerjaan mengangkut barang dari


dermaga/dalam gudang untuk dapat dimuat ke dalam palka kapal atau
geladak kapal untuk dapat didistribusikan.

Bongkar adalah pekerjaan pembongkaran barang dari atas


geladak atau palka kapal dan menempatkan ke atas dermaga/dalam
gudang . Dalam hal ini penulis menjelaskan secara spesifik untuk
dikapal muatan container yaitu perpindahan muatan dari dan atau ke
atas kapal dan atau ke atas dermaga .

Menurut F.D.C Sudjatmiko (2010:264) dalam buku yang


berjudul Pokok-pokok Pelayaran Niaga , bongkar muat berarti
pemindahan muatan dari dan keatas kapal untuk ditimbun ke dalam
atau langsung diangkut ke tempat pemilik barang dengan melalui
dermaga pelabuhan dengan mempergunakan alat pelengkap bongkar
muat ,baik yang berada didermaga maupun yang berada di kapal itu
sendiri.

Kegiatan bongkar muat ada empat yaitu:

1. Stevedoring
Merupakan proses diturunkannya barang-barang
muatan dari deck kapal menuju pinggir pelabuhan dengan
menggunakan alat-alat bongkar muat ,dan sebaliknya untuk
diekspor dinaikan dari tepi dermaga ke atas deck kapal.

8
2. Cargodoring
Merupakan proses dibawahnya barang-barang muatan
kapal yang sudah ada di pinggir pelabuhan menuju gudang
penyimpanan pelabuhan untuk disimpan atau ditimbun, dan
sebaliknya untuk barang ekspor dikeluarkan dari gudang
dan dibawah ke dermaga dipinggir kapal untuk siap dimuat
ke atas deck kapal.
3. Delivery
Merupakan proses pengiriman barang-barang muatan
kapal yang sudah ada di gudang penyimpanan pelabuhan
menuju keluar lingkungan pelabuhan untuk disimpan.
4. Receiving
Merupakan proses pengangkutan kembali barang
yang ada di pabrik atau perusahaan atau industri untuk
dikirim kembali menuju ke gudang penyimpanan
pelabuhan.
3. Kinerja Pelayanan

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut


Nomor :UM.002/38/DJPL-11tentang Standar Kinerja Pelayanan,
Pelayanan Operasional Pelabuhan, standar kinerja pelayanan adalah
standar hasil kerja dari tiap-tiap pelayanan yang harus dicapai oleh
operator terminal/pelabuhan dalam pelaksanaan pelayanan jasa
kepelabuhanan termasuk dalam penyediaan fasilitas dan peralatan
pelabuhan. Indikator kinerja pelayanan operasional adalah variabel-
variabel pelayanan, penggunaan fasilitas dan peralatan pelabuhan.
Pada Pasal 3 Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor :
UM.002/38/DJPL-11, indikator kinerja pelayanan operasional terkait
dengan jasa pelabuhan terdiri dari.

1) Waktu Tunggu Kapal (Waiting Time/WT)


2) Waktu Pelayanan Pemanduan (Approach Time/AT)

9
3) Waktu Efektif (Effective Time dibanding Berth Time/ET)
4) Produktivitas Kinerja (T/G/J dan B/C/H)
5) Receiving/Delivery Peti Kemas
6) Tingkat Penggunaan Dermaga (Berth Occupancy Ratio/BOR)
7) Tingkat Penggunaan Gudang (Shed Occupancy Ratio/SOR)
8) Tingkat Penggunaan Lapangan (Yard Occupancy Ratio/YOR)
9) Kesiapan Operasi Peralatan

Adanya ke-9 (Sembilan) indikator kinerja pelayanan tersebut


yang menjadi salah satu manajemen pelayanan di pelabuhan, selama
ini hambatan yang ada di pelabuhan seperti waktu tunggu kapal dan
demurrage dapat lebih efisien dan efektif dalam meningkatkan peran
dari manajemen pelayanan pelabuhan. (Budi Sitorus, dkk, 2016).

4. Pengertian Dwelling Time

Dwelling time adalah waktu yang dihitung mulai dari suatu peti
kemas (kontainer) dibongkar dan diangkat (unloading) dari kapal
sampai peti kemas tersebut meninggalkan terminal melalui pintu
utama. Dwelling time memegang peranan penting karena
berhubungan dengan lama waktu yang harus dilalui oleh peti kemas
saat masih berada di dalam terminal untuk menunggu proses
dokumen, pembayaran, dan pemeriksaan Bea Cukai selesai.

5. Peti Kemas

Menurut Capt. Zuzdayan (2012:14),Peti Kemas adalah kotak


besar berbagai ukuran dan terbuat dari berbagai jenis
pembangunannya yang kegunaannya untuk pengangkutan barang-
barang baik melalui darat,laut maupun [Link]-hal yang bertalian
dengan ukuran-ukuran,definisi-definisi,jenis-jenis, dan lain
sebagainya ditetapkan oleh ISO (Internasional Standard
Organisation),karena pada mulanya peti kemas dibangun dari
berbagai macam ukuran yang tidak seragam.

10
1. Jenis-jenis Peti Kemas
Berdasarkan maksud penggunaannya ,jenis peti kemas dapat
dibedakan menjadi sebagai berikut:
a. General Cargo Container
Peti kemas ini berfungsi untuk mengangkut berbagai jenis
muatan kering atau general cargo yang tidak memerluka.
Pemeliharaan khusus. Peti kemas semacam ini sangat sesuai
untuk memuat barang yang dikemas dalam karton ,pada
lantai dan dinding.
b. Reefer Container
Atau disebut juga peti kemas yang mempunyai sistem
pengatur udara .Peti kemas ini berfungsi untuk mengangkut
muatan beku dengan suhu yang dapat dikontrol. Mempunyai
konstruksi tertutup dengan dinding ,lantai,atap, dan pintu
yang semuanya dilapisi dengan insulasi untuk mengurangi
terjadinya perubahan suhu. Unutuk pengatur suhu dipasang
alat pengatur suhu ,dimana sumber listriknya diambil dari
kapal. Tetapi dengan adanya sistem insulasi dan dilengkapi
dengan alat pendingin serta generator pembangkit listrik
membuat berat peti kemas menjadi banyak sehingga muatan
yang dapat dimuat relative terbatas.
c. Dry Bulk Container
Peti kemas ini cocok untuk mengangkut muatan kering yang
dicurah dan mudah bergeser seperti beras gandum,biji-
bijian,dan [Link] pengisian muatan biasanya
menggunakan lubang-lubang dibagian atas sebagaimana
palka .Peti kemas jenis mempunyai pintu biasa dan pintu
kecil yang berfungsi untuk membongkar muatan dengan cara
menaikan salah satu ujung peti [Link] untuk
mempercepat proses bongkar, dilengkapi dengan alat

11
penggetar agar muatan lebih mudah untuk meluncur
kebawah.
d. Tank Container
Peti kemas jenis ini biasanya digunakan untuk memuat
tangka-tangki yang berbentuk [Link] berupa
sebuah tangki yang dipasang dalam kerangka peti kemas dan
sesuai dengan dimensi yang telah ditetapkan ISO .Berfungsi
untuk mengangkut muatan bentuk cair.
e. Open Top Container
Peti kemas ini bagian atasnya terbuka dan mempunyai pintu
pada salah satu ujung,peti kemas jenis ini cocok untuk
memuat barang-barang yang ukurannya relatife besar dan
tingginya melebihi sehingga bila tak memungkinkan dimuat
dari pintu depan maka dapat dimuat dari atas.
f. Open Side Container
Peti kemas jenis ini mempunyai dinding pada salah satu sisi
atau kedua-duanya bisa dibuka dan tutup. Pemuatan biasa
dilakukan dari salah satu sisi ataupun kedua belah sisi peti
kemas ,serta juga biasa dimuati dari pintu.. Dengan adanya
langit-langit yang bersifat tetap menyebabkan peti kemas ini
tahan terhadap panas dan hujan.
g. Flat Rack Container
Peti kemas jenis ini hanyalah terbentuk dari bagian peti
kemas dengan corner casting atau lubang pengangkatnya
terletak pada keempat sudutnya, tetapi tanpa mempunyai
tiang sudut (corner post).
2. Ukuran Peti Kemas Berdasarkan Standart ISO
a. Berdasarkan standar International Standart Organization
(ISO) telah menetapkan ukuran-ukuran peti kemas sebagai
berikut:

12
1) Peti Kemas 20 kaki (Twenty Footer Container) yang
mempunyai dimensi ukuran:

Panjang (20’) :6 m

Lebar (08’) :2.4 m

Tinggi :2.4 m

Daya Angkut Maksimum :18 Ton

Berat Kosong Peti Kemas :2-2.5 Ton.

2) Peti Kemas 40 kaki (Fourty Footer Container ) yang


mempunyai ukuran:

Panjang (45’) :14 m

Lebar (08’) :2,4 m

Tinggi :2,8 m

Daya Angkut Maksimum :32,5 Ton

Berat Kosong Peti Kemas :4,8 Ton

b. Ukuran Peti Kemas Yang Tidak Sesuai Ukuran Standart


1) Peti Kemas 10 kaki (Ten Footer Container) yang
mempunyai ukuran :

Panjang (45’) :3 m

Lebar (08’) ;2,4 m

Tinggi :2,8 m

Daya Angkut Maksimum :8 Ton

Berat Kosong Peti Kemas :1-1,2 Ton

13
2) Peti Kemas 45 kaki (Fourty Five Footer) yang
mempunyai ukuran :

Panjang (45’) :14 m

Lebar (08’) :2,4 m

Tinggi :2,8 m

Daya Angkut Maksimum :32,5 Ton

Berat Peti Kemas Kosong :4,8 Ton

c. Konstruksi Peti Kemas


Konstruksi peti kemas secara definisi yaitu terdiri berbagai
macam-macam alat dan ukuran dalam penanganan dan
penataannya (Aziz Rohman,2019:10)
Konstruksi tersebut meliputi :
1) Dinding-dinding Peti Kemas (Walls)
Konstruksi peti kemas yang terdiri dari dinding-dinding
jenis ini tidak diperlukan kerangka,pada bagian ini tidak
banyak menahan beban.
2) Tiang-tiang Pojok (Corner Post)
Pada peti kemas kekuatan besar yaitu ditahan oleh tiang-
tiang pojok , tapi dari itu sebaiknya untuk menghindari
kerusakan pada peti kemas sebaiknya peti kemas yang
beratnya lebih diletakan dibawah dan yang lebih ringan
diletakan diatas.
3) Corner Casting
Merupakan bagian paling pokok dari peti kemas ,
terletak disiku-siku dari peti [Link] Casting
dipasang dibagian atas dan dibagian bawah dari setiap
corner post.
4) Container Doors

14
Yaitu memiliki dua pintu yang terletak disalah satu ujung
peti kemas .Mempunyai fungsi untuk memudahkan pada
saat menyusun muatan kedalam peti kemas.
d. Sistem Penandaan Container
Menurut Aziz Rohman (2019:12) Sitem penandaan container
sebagai berikut :
1) Kode Pemilik (Owner’s Code)
 Kode :
Terdiri dari 4 huruf, berakhir dengan huruf U.
Contoh :
CCCU : Perusahaan : Compas Container Inc.
CLOU : Perusahaan : Container Leasing.
 Nomor Seri (Serial Number),
Terdiri dari 6 angka.
Nomor seri yang dimulai dengan 2 angka (seperti
222020 menunjukan container berukuran 20’,
sedangkan container yang berukuran 40’ dimulai
dengan angka 4.
2) Biro Klasifikasi.
Tiap-tiap container mencamtumkan biro klasifikasi
dimana container didaftar tanda klasifikasi dipasang pada
pintu container.
3) Kode Negara
Kode negara adalah kode untuk mengetahui di negara
mana container itu didaftar.
Contoh : FR 2250. Ini berarti bahwa container itu
didaftar di France(Perancis),ukuran 20’,tinggi container
8’6’’, tipe Open-top dengan pintu pada salah satu atau
kedua ujungnya. Letak Country Code biasanya dibawah
Owner’s Code.

15
4) Pelat Pemilik
Pelat pemilik menunjukan siapa pemilik container
tersebut ,tahun dan tempat pembuatan container.
6. Bay Plan

Bay Plan adalah bagan perencanaan yang berupa panduan bagi


mualim jaga untuk mengatur penempatan muatan yang mengacu
terhadap Stowage Plan agar efisien saat proses pembongkaran
muatan di tempat tujuan.

1. Bay adalah pembagian muatan secara membujur dari haluan


sampai buritan dari nomor satu hingga seterusnya. Untuk
penomoran bay ganjil ditempati peti kemas ukuran 20’,
sedangkan bay genap untuk peti kemas ukuran 40’.
2. Row adalah pembagian muatan secara melintang dari tengah
kekiri . Untuk row genap dari tengah ke belakang dan untuk row
ganjil dihitung dari tengah kapal (center line) dengan nomor 00.
Lebar row adalah sama dengan peti kemas.
3. Tier adalah pembagian susunan muatan peti kemas secara
[Link] penomorannya dibagi menjadi dua yaitu:
a. Peti kemas yang dimuat didalam palka penomoran genap
02,04,06 dan seterusnya dihitung dari bawah keatas.
b. Peti kemas yang dimuat didalam palka penomorannya genap
dari 82,84,86, dan seterusnya.

Dalam kegiatan pelayanan terhadap penanganan muatan


terutama pada saat kegiatan muat-bongkar banyak yang diperlukan,
diantaranya peralatan,bay plan,keadaan kapal diusahakan dalam posisi
even keel (perbedaan draft depan dan draft belakang sama dengan nol)
,serta pelansingan khususnya untuk muatan yang terletak diatas
[Link] dengan memperhatikan hal tersebut diharapkan
kegiatan bongkar-muat dapat berjalan cepat,tepat,dan aman serta
terkendali.

16
Container Bay Plan adalah bagan pemuatan peti kemas secara
membujur,melintang dan tegak. Membujur ditandai dengan nomor
BAY mulai dari depan ke belakang, dengan catatan nomor ganjil
untuk peti kemas ukuran 20 kaki dan nomor genap untuk peti kemas
ukuran 40 kaki . Tier dihitung dari atas ke bawah .Melintang ditandai
dengan nomor ROW dimulai dari tengah dan dilihat dari belakang.

 Ke kanan ROW 01,03,05,07,09,dst.


 Ke kiri ROW 02,04,08,dst.

Bay Plan biasanya berbentuk buku dengan lembaran-lembaran


untuk masing-masing [Link] banyaknya jenis peti kemas yang
dimuat,didalamnya Container Bay Plan diberi tanda-tanda jumlah dan
posisinya sesuai Bay, Row,atau [Link] pemuatan dan
pembongkaran dilakukan dibeberapa pelabuhan yang berlainan,maka
untuk membedakan antara peti kemas yang dibongkar atau dimuat
ditiap-tiap pelabuhan diberi warna yang berbeda dan juga tanda yang
jelas agar regu jaga mengerti bagian muatan mana yang mau
dibongkar dan bagian mana yang boleh dimuat.

B. Kajian Peneliti Terdahulu

Penelitian terdahulu adalah upaya untuk mencari perbandingan


dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi baru untuk penelitian,
selanjutnya disamping kajian terdahulu membantu penelitian dalam
memposisikan serta menunjukan orsinalis dari penelitian.
Pada penulisan penelitian ini menggunakan dua peneliti
terdahulu yang sangat bermanfaat sebagai rujukan yang dilakukan
oleh :
1) Rendy Setiawan Putra (2016) ,dengan judul “ Prosedur pelaksanaan bongkar
dan muat peti kemas dengan sistem alih kapal (Transshipment ) pada
[Link] Indonesia III (Persero) Surabaya. Dalam penelitian ini
digunakan metode analisis deskritif kualitatif ,yang bertujuan untuk

17
mendeskripsikan dan menggambarkan pelaksanaan prosedur administrasi
bongkar dan muat peti kemas dengan sistem alih kapal(Transshipment) yang
dituangkan dalam kalimat-kalimat berdasarkan hasil pengamatan di
lapangan.
2) Tiara Puspita(2016) dengan judul “ Analisis kinerja pelayanan bongkar muat
general cargo di pelabuhan Sampit. Dalam penelitian ini menggunakan
metode analisis deskriptif kualitatif, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian
ini adalah meningkatkan kinerja pelayanan bongkar muat general cargo di
pelabuhan Sampit dengan menganalisa faktor-faktor yang menjadi hambatan
dalam proses bongkar muat berdasarkan hasil pengamatan baik dari data
maupun pengamatan di lapangan.

Dibandingkan penelitian terdahulu, penelitian ini memiliki persamaan dan


perbedaan, persamaan penelitian ini adalah pembahaan tentang pelayanan
bongkar muat container. Perbedaannya, pada penelitian terdahulu yang
dilakukan oleh Rendy Setiawan Putra(2016) pada [Link] III (Persero)
Surabaya, menjelaskan tentang pelaksanaan bongkar muat dengan sistem alih
kapal(Transshipment) dan juga yang dilakukan oleh Tiara Puspitasari (2016)
pada Pelabuhan Sampit, menjelasakan tentang kinerja pelayanan bongkar
muat container, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis pada
[Link] Cabang Tenau Kupang ,menjelaskan tentang pelayanan
bongkar muat container dengan menggunakan sistem Bay Plan.

18
C. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir adalah narasi (uraian) atau pernyataan yang disusun secara
singkat tentang konsep pencegahan masalah yang telah diidentifikasi atau di
rumuskan yang telah dilakukan dari awal, proses pelaksanaan, hingga akhir. Pada
dasarnya kerangka berpikir diturunkan dari beberapa teori maupun konsep yang
sesuai dengan permasalahan yang diteliti, sehingga memunculkan asumsi-asumsi
yang berbentuk bagan atau alur pemikiran yang kemudian dapat dirumuskan
kedalam hipotesis operasional.

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir

BONGKAR MUAT KAPAL


KONTAINER DI [Link]

SISTEM BAY PLAN

PELAYANAN BONGKAR MUAT KAPAL


KONTAINER MENGGUNAKAN SISTEM BAY
PLAN

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN HAMBATAN HAMBATAN DALAM


DALAM KEGIATAN BONGKAR KEGIATAN BONGKAR MUAT
MUAT MENGGUNAKAN SISTEM MENGGUNAKAN SISTEM BAY
BAY PLAN PLAN

19
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Suatu penelitian dapat berguna dan memiliki nilai lebih, apabila
pokok pikiran yang di kemukakan dalam penelitian tersebut dapat di
simpulkan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan
pembuktian-pembuktian yang cukup meyakinkan. Bukti-bukti yang
meyakinkan ini berupa fakta-fakta yang di dapat secara objektif.

Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode


penelitian kualitatif deskriptif. Bogdan dan Taylor (1992) penelitian
kualitatif adalah salah satu prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orang-orang yang
diamati. Pendekatan kualitatif diharapkan mampu menghasilkan uraian
yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat
diamati dari suatu individu, kelompok, masyarakat, dan atau organisasi
tertentu dalam suatu setting konteks tertentu yang dikaji dari sudut
pandang yang utuh, komprehensif, dan holistik.

Sedangkan pengertian metode deskriptif adalah pencarian fakta


dengan interpretasi yang tepat melalui suatu fenomena ([Link],
2003). Oleh karena itu, pendekatan penelitian dilakukan dengan cara
pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif yaitu dengan cara
pencanderaan dan menghubungkan data-data yang diperoleh dilapangan
dengan teori yang digunakan.

B. Sumber Data Penelitian


Data adalah serangkaian informasi verbal dan nonverbal yang
disampaikan informan kepada peneliti untuk menjelaskan perilaku

20
ataupun peristiwa yang sedang menjadi fokus penelitian (Muhamad
Idrus, 2009).

Data hanyalah sebagian saja dari informasi, yakni yang hanya


berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini data yang digunakan
adalah data kualitatif, yaitu berupa dokumen pribadi,catatan lapangan,
ucapan dan tindakan responden, dokumen dan lain-lain (Sugiyono, 2010)
Menurut pengertian di atas, maka data dapat diperoleh dari
informan, catatan lapangan, maupun dokumen yang dapat menjelaskan
tentang informasi mengenai kegiatan pelayanan bongkar muat kontainer
menggunakan sistem Bay Plan di [Link] Cabang Tenau Kupang.

C. Subyek dan Informan Penelitian


Dalam penelitian kualitatif, subjek memiliki peranan yang sangat
strategis karena dalam subjek penelitian itulah data tentang variable
penelitian akan diamati. Istilah lain yang digunakan untuk menyebut
subjek penelitian adalah responden,yaitu orang yang memberikan respon
atas suatu perlakuan yang diberikan kepadanya. Dikalangan penelitian
kualitatif, istilah responden atau subjek penelitian disebut dengan istilah
informan,yaitu orang yang memberikan informasi tentang data yang
diinginkan peneliti berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan.
Subjek dan informan dalam penelitian ini adalah manager
pengelolaan operasional terminal,koordinator lapangan,karyawan dan
pegawai dibidang pelayanan bongkar muat,pemandu atau pembimbing
lapangan,serta teknisi atau pegawai bagian Foremen di PT. PELINDO
Cabang Tenau Kupang.

21
D. Teknik Pengumpulan Data
1) Metode Observasi

Observasi merupakan suatu teknik atau cara pengumpulan data


dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang
berlangsung ([Link], 2003). Penjelasan tersebut juga sesuai dengan
yang dijelaskan oleh [Link] dalam bukunya yang berjudul Metode
Penelitian Naturalistik Kualitatif bahwa observasi adalah sebagai alat
pengumpul data dengan cara melihat dan mendengarkan objek yang
diamati ([Link], 2010).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk


memperoleh informasi, peneliti harus secara langsung mengamati
kegiatan yang dilakukan oleh PT. PELINDO Cabang Tenau Kupang.

2) Metode Interview (wawancara)

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan


penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya
dengan narasumber yang menggunakan alat yang dinamakan panduan
wawancara (interview guide), yaitu panduan pertanyaan yang ditanyakan
mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya (Moh. Nazir, 2003).

Wawancara dilakukan oleh peneliti dengan cara melakukan tanya


jawab kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan judul penelitian yang
dibuat oleh peneliti dan bertujuan memperoleh informasi mengenai
pelayanan bongkar muat container menggunakan sistem Bay Plan pada
[Link] Cabang Tenau Kupang.

3) Studi Pustaka

Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan


mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur,
catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan
masalah yang dipecahkan (Moh. Nazir, 1998).

22
Untuk memperoleh data tambahan serta menambah keabsahan data,
peneliti mengadakan penelaahan terhadap buku-buku yang memiliki
keterkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan.

4) Metode Dokumentasi

Dokumentasi adalah teknik pengumpulan data dengan dokumen,


yaitu catatan peristiwa yang sudah berlalu yang dapat berbentuk tulisan,
gambar sejarah kehidupan, biografi, peraturan, kebijakan, dan lain-lain
(Sugiyono, 2010).

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya yang


berjudul Prosedur Penelitian menjelaskan bahwa dokumentasi yaitu
mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan,
transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan
sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2002).

E. Teknik Keabsahan Data


Pemeriksaan keabsahan data sangat diperlukan dalam penelitian kualitatif
demi keaslian dan keandalan serta tingkat kepercayaan data yang telah
terkumpul. Teknik keabsahan data adalah dengan menggunakan teknik
triangulasi. Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Lexy [Link],
2006).

Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan


untuk meyanggah balik yang dituduhkan kepada penelitian kualitatif
yang mengatakan tidak ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak
terpisahkan dari tubuh pengetahuan penelitian kualitatif (Lexi J
Moleong,2006).

23
Melalui teknik pemeriksaan ini, peneliti menggunakan teknik
triangulasi data, dimana data yang telah dikumpulkan kemudian
dikaitkan dengan teori-teori dari terlaksananya pelayanan bongkar muat
container menggunakan sistem bay plan di PT. PELINDO Cabang Tenau
Kupang dan diyakini bahwa fakta dan informasi dapat dipertanggung
jawabkan dan memenuhi peryaratan keaslian.

F. Teknik Analisis Data


Dalam menganalisa atau memproses data, maka akan
dikelompokan dalam tiga (3) tahap yakni reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan proses menyeleksi
data-data dalam kegiatan yang dijalankan perusahaan, memfokuskan data
pada proses pemeriksaan kelaiklautan kapal barang. Mengabstraksikan
dan mentransformasikan data untuk disalurkan dalam kegiatan yang
sesungguhnya pada perusahaan. Penyajian data merupakan
penggabungan dan mengkaji informasi agar dapat memungkinkan
pengambilan kesimpulan yang ada didalamnya. Penarikan kesimpulan
merupakan tahap penyimpulan dari rangkuman dan olahan data yang
berupa gejala dan kasus yang ada di lapangan.

24
DAFTAR PUSTAKA

Bogdan dan Taylor. Tentang Pengantar Metode Kualitatif. Terjemahan oleh Arief

Rurchan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1992)

Hanif. 2007. Teor dan Prakter Pemerintahan dan Otonomi Daerah Edisi Pertama.

Jakarta [Link]

Moleong, Lexi J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : [Link]

Rosdakarya

Moleong, Lexi J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi . Bandung :

[Link] Rosdakarya

Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia

Putra,Rendy Setiawan. 2016. Prosedur Pelaksanaan Bongkar dan Muat Peti

Kemas Dengan Sistem Alih Kapal (Transsihment). PT. Pelabuhan III

(Persero) Surabaya.

Herman, D Tabak,1990, Cargo Container,CMP,Jakarta.

Puspita,Tiara. (2016). Analisis Kinerja Pelayanan Bongkar Muat General Cargo .

Pelabuhan Sampit.

Undang– Undang Republik Indonesia. Nomor. 17 Tahun [Link] Pelayaran

Undang – Undang Republik Indonesia. Nomor, 25 Tahun 2009 Pasal I ayat (1)

Tentang Pelayanan Publik

25
26

Anda mungkin juga menyukai