LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN KEBUTUHAN NUTRISI PADA PASIEN ‘TN.H’ DENGAN
DIAGNOSA ‘DIARE’ DIRUANGAN PERAWATAN PENYAKIT DALAM
BAWAH RSUD DOMPU
Disusun Oleh :
Sifa Ramadhanti
(2024040049)
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
(STIKES) YAHYA BIMA 2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan telah disetujui dan di sah kan
Hari :
Tanggal :
Mengetahui
Mahasiswa
Pembimbing Klinik Pembimbing Academik
( ) ( )
Kepala Ruangan
( )
KONSEP PENYAKIT DIARE
A. Konsep Diare
1. Definisi Diare
Diare merupakan buang air besar (BAB) dengan frekuensi lebih dari 3 kali
didalam satu hari dan konsistensi tinja lunak cenderung cair. Perbedaan antara
diare dengan BAB biasa adalah dengan cara memperhatikan frekuensi
defekasi, konsistensi feses, dan jumlah feses. Apabila konsistensi feses tidak
lunak atau tidak cair namun frekuensi sering bukan dinamakan diare (Jap &
Widodo, 2021). Diare adalah defekasi dengan tinja lebih banyak daripada
biasanya, lebih dari 200 gram atau 200 ml didalam satu hari. Seringkali
didapat jika mengalami diare konsistensi tinja berbentuk cair atau setengah
padat (Rasiman, 2020).
2. Etiologi
Diare dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi, selain itu diare
juga bisa disebabkan oleh faktor malabsorbsi, faktor makanan dan psikologi.
Diare adalah salah satu dari beberapa gejala yang terjadi pada penyakit
gastrointestinal atau pada sistem saluran pencernaan. Faktor-faktor penyebab
diare adalah:
a. Faktor infeksi
1) Infeksi enteral
Infeksi enteral adalah infeksi pada saluran pencernaan. Infeksi enteral
dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Infeksi bakteri: bakteri yang tumbuh adalah vibrio, [Link],
salmonella, shigella, campylobacter, yersinia, dan aeromonas.
b) Infeksi virus: virus yang muncul adalah enterovirus (virus ECHO,
coxsackie, poliomyelitis) adeno virus, rotavirus, dan astovirus.
2) Infeksi parenteral
Infeksi parenteral adalah infeksi yang terjadi diluar system
pencernaan, yaitu: otitis media akut (OMA),
tonsillitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, dan ensefalitis.
b. Faktor malabsorbsi
Faktor malabsorbsi terjadi dikarenakan gagalnya beberapa faktor
dalam melakukan penyerapan yang menyebabkan tekanan osmotik
mengalami peningkatan lalu terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam
rongga usus. Beberapa faktor yang dimaksud adalah lemak, protein dan
karbohidrat.
c. Faktor makanan
Faktor makanan disini yang dimaksud adalah makanan beracun,
makanan basi, sayuran yang pada waktu dimasak kurang matang, dan
alergi pada makanan. Beberapa faktor tersebut masuk ke rongga usus
berkembang dan tidak mampu diserap oleh rongga usus dengan baik,
terjadilah peristaltik usus lalu terjadi penurunan kesempatan untuk
menyerap makanan yang menyebabkan diare.
d. Faktor psikologis
Faktor psikologis yang menyebabkan terjadinya diare adalah merasa
takut dan cemas, lalu terjadilah peningkatan peristaltik usus lalu
menyebabkan diare (jarang terjadi) (Setiyono, 2019).
KONSEP TEORI KEBURUHAN NUTRISI
A. Konsep Nutrisi
1. Definisi
Nutrisi adalah ilmu gizi dan bagaimana tubuh menggunakan zat gizi
dalam makanan. Nutrisi memiliki dampak besar dalam kesejahteraan,
perilaku, dan lingkungan antara manusia (Rosda dan Karolin bunker, 2021).
nutrisi adalah komponen vital bagi keberadaan manusia. Asupan nutrisi yang
adekuat penting untuk kelangsungan hidup sistem tubuh (Muralitharan dan
Iyan, 2021). Mukhriz merupakan zat gizi dan zat lainnya yang memiliki
hubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk segala proses dalam
tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan bahan dari lingkungan
hidupnya dan menggunakannya untuk aktivitas aktivitas penting di dalam
tubuhnya serta mengeluarkannya sisanya. Istilah lain dari nutrisi dapat
dikatakan sebagai ilmu tentang makanan (Parwoto dan Martono, 2020).
Nutrisi merupakan proses pemasukan dan pengolahan zat makanan oleh tubuh
yang bertujuan menghasilkan energi yang digunakan dalam aktivitas tubuh
(Hidayat dan ulyah,2022).
2. Etiologi
Menurut Ali mall (2020), faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi adalah
sebagai berikut:
a. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tepat tentang manfaat makanan bergizi dapat
mempengaruhi pola konsumsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh
kurangnya informasi sehingga dapat terjadi kesalahan dalam memahami
kebutuhan gizi.
b. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi
dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Misalnya, di beberapa daerah,
tempe merupakan sumber protein yang paling murah, tidak dijadikan
bahan makanan yang layak untuk dimakan karena masyarakat
menganggap bahwa mengonsumsi makanan tersebut dapat merendahkan
derajat mereka.
c. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan
tertentu juga dapat mempengaruhi status gizi. Misalnya di beberapa
daerah, terdapat larangan akan makan pisang dan pepaya bagi para gadis
remaja. padahal, makan tersebut merupakan sumber vitamin yang sangat
baik. Ada pula larangan makanan ikan bagi anak anak karena ikan
dianggap dapat mengakibatkan Cacingan, padahal ikan merupakan sumber
protein yang sangat baik bagi anak anak.
d. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat
mengakibatkan kekurangan variasi makanan, sehingga tubuh tidak
memperoleh zat zat yang dibutuhkan secara cukup. Kesukaan dapat
mengakibatkan merosotnya gizi pada remaja bila nilai gizinya tidak sesuai
dengan yang diharapkannya.
e. Ekonomi
Status ekonomi dapat mempengaruhi perubahan status giji karena
penyediaan makanan bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit.
Oleh karena itu, masyarakat dengan kondisi perekonomian yang tinggi
biasanya mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya dibandingkan
masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah.
f. Penyakit beberapa penyakit tertentu dapat menyebabkan kekurangan
nutrisi
3. Manifestasi klinis
Ada beberapa tanda dan gejala pada ketidakseimbangan kebutuhan nutrisi
secara umum, di antaranya:
1. Keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
a. Keram dan nyeri abdomen
b. Nafsu makan menurun
c. Berat badan 20% atau lebih di bawah
d. Berat badan ideal
e. Kerapuhan kapiler
f. Diare
g. Kehilangan makan gangguan sensasi rasa
h. Bising usus hiperaktif
i. Tonus otot menurun
j. Mual dan muntah
k. Cepat kenyang
l. Sariawan rongga mulut Sukar menelan
2. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh
a. Disfungsi pola makan
b. Nafsu makan berlebih
c. Aktivitas monoton
d. Lipatan otot reset> 25 cm pada wanita,> 15 cm pada pria
e. Berat badan 20% di atas tinggi dari Kerangkan tubuh ideal
4. Tanda dan gejala
Seseorang yang mengalami gangguan nutrisi mengalami beberapa tanda dan
gejala antara lain (Herman dan kami disuruh, 2020).
a. ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
20% atau lebih berat badan berada di bawah dan ideal
Bisi usus hiperaktif
cepat kenyang setelah makan
diare
gangguan sensasi asa
kehilangan rambut secara berlebihan
kelemahan otot pengu nya untuk menelan
ketidakmampuan memakan makanan
kurang informasi
kurang minat pada makanan
nyeri abdomen
sariawan rongga mulut
b. Gangguan menelan
muntah sebelum menelan
Ngiler
tersedak sebelum makan
waktu menelan lama dengan konsumsi yang tidak adekuat,
menolak makan
o Berat badan lebih
BMI> 25 kg /m2
o kekurangan volume cairan
Haus
Kulit kering,
membran mukosa kering,
Peningkatan frekuensi nadi
peningkatan suhu tubuh,
Penurunan berat badan tiba tiba
Penurunan tekanan darah
5. Phatway
6. Penatalaksanaan medis
1. nutrisi internal
Metode pemberian makanan alternatif untuk memastikan kecukupan
nutrisi Meliputi metode internal (melalui sistem pencernaan). Nutrisi
internal juga disebut enteral total (TEN) diberikan apabila klien tidak
mampu menelan makanan atau mengalami gangguan pada saluran
pencernaan atas dan transport makanan Ke usus halus terganggu.
Pemberian makanan lewat internal diberikan melalui selang nasogastrik
dan selang Pemberian makan berukuran kecil atau melalui selang
gastrostomi atau yeyunostomi.
2. Nutrisi Parenteral
Nutrisi Parenteral (PN),) juga disebut sebagai nutrisi Parenteral total
(TPN) Atau hiperalimentasi intra Vena (IVH), Diberikan jika saluran
Gastro intestinal tidak berfungsi karena terdapat gangguan dalam
kontinuitas fungsinya atau karena kemampuan penyerapan terganggu.
Nutrisi Parenteral diberikan secara intra Vena seperti melalui kateter Vena
sentral ke Vena Kafa Superiore. Makanan Parenteral adalah
larutandekstrosa, Air, lemak, protein, elektrolit, vitamin, dan unsur etnik,
semuanya ini memberikan semua kalori yang dibutuhkan. Karena larutan
TPN bersifat hipertonik larutan hanya dimasukkan ke Vena sentral yang
beraliran tinggi, empat larutan dilarutkan oleh darah klien (kau zir, 2011).
7. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi
seperti:
a. Rontgen,
b. USG,
c. Laboratorium
B. Penatalaksanaan
a. Menstimulasi nafsu makan
a. Berikan makanan yang sudah dikenal yang memang disukai klien
yangdisesuaikan dengan kondisi klien
b. Pilih porsi sedikit sehingga tidak menurunkan nafsu makan klien
yanganoreksik
c. Hindari terapi yang tidak menyenangkan atau tidak nyaman sesaat
sebelumatau setelah makan
d. Berikan lingkungan rapi dan bersih yang bebas dari penglihatan dan
bau yangtidak enak. Balutan kotor, pispot yang telah dipakai, set
irigasi yang tidak tertutup atau bahkan piring yang sudah dipakai dapat
memberikan pengaruhnegative pada nafsu makan
e. Redakan gejala penyakit yang menekan nafsu makan sebelum waktu
makan;istirahat bila mengalami keletihan
f. Kurangi stress psikologi
g. Berikan oral hygiene sebelum makan
b. Membantu klien makan
c. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet sesuai dengan kondisi.
d. Terapi farmakologi dengan pemberian obat/injeksi vitamin
e. Terapi non farmakologi dengan memberikan pendekatan serta edukasi
dalam memenuhikebutuhan nutrisi dengan makan sedikit tapi sering
f. Nutrisi parenteral, diberikan secara intravena. Nutrisi parenteral adalah
larutan dextrosa,air, lemak, protein, elektrolit, vitamin dan unsur renik,
semuanya memberikan semuakalori yang dibutuhkan. (Kozier, 2011)
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian keperawatan
1. Pengkajian keperawatan
Tahapan pertama yang harus kita lakukan dalam proses keperawatan
yaitu pengkajian keperawatan. Pada proses pengkajian keperawatan, perawat
harus memperoleh data yang akurat, rinci dan aktual terhadap kondisi pasien
saat dikaji. Setelah didapatkan data-data dari pengkajian keperawatan, data-
data tersebut akan dipakai untuk menentukan diagnosa dan intervensi.
Pengkajian keperawatan adalah hal yang sangat penting kita lakukan guna
menentukan tindakan apa saja yang kita lakukan untuk mencegah dan
mengobati kondisi pasien (Sinulingga, 2019).
Beberapa hal yang harus dikaji didalam proses pengkajian keperawatan, yaitu:
b. Identitas pasien
c. Riwayat keperawatan
1) Awal serangan: pada awalnya gelisah, terjadi peningkatan suhu tubuh,
anoreksia kemudian terjadilah diare.
2) Keluhan utama: fases dari lembek menjadi cair, terjadi muntah,
apabila muntah terus-menerus akan banyak kehilangan air dan
elektrolit yang akan terjadi masalah gejala dehidrasi, penurunan berat
badan.
d. Riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehataan saat ini.
e. Riwayat psikososial keluarga
f. Kebutuhan dasar
1) Pola eliminasi: terjadi perubahan frekuensi BAB yaitu lebih dari 4x
dalam sehari, dengan konsistensi feses cair.
2) Pola nutrisi: terjadi mual lalu muntah, anoreksia, terjadilah penurunan
berat badan.
3) Pola istirahat dan tidur yang akan terganggu dikarenakan adanya
distensi abdomen yang akan menyebabkan rasa tidak nyaman.
4) Pola hygiene: bagaimana kebiasaan mandi setiap harinya.
5) Aktivitas akan terganggu dikarenakan faktor diare yang menyebabkan
kondisi lemah dan terdapat nyeri akibat distensi abdomen.
g. Keadaan umum
Keadaan umum biasanya terlihat lemah, gelisah, composmentis sampai
koma, peningkatan suhu tubuh, nadi terasa cepat dan lemah, peningkatan
frekuensi pernafasan.
h. Pemeriksaan sistemik
1) Inspeksi: biasanya didapatkan hasil mata cekung, ubun-ubun besar
atau cekung, selaput lender, kering pada mulut dan bibir, penurunan
berat badan, terdapat kemerahan pada sekitar anus.
2) Perkusi: biasanya didapatkan adanya distensi abdomen
3) Palpasi: biasanya didapatkan turgor kulit yang tidak Kembali dengan
cepat.
4) Auskultasi: biasanya dihasilkan peningkatan peristaltik usus
i. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation, yaitu
pemeriksaan yang berguna untuk mengetahui penyebab secara kuantitatif
dan kualitatif (Mardalena, 2018).
Status gizi seseorang (pasien) dengan gangguan status nutrisi dapat dikaji
dengan menggunakan pedoman A-BC-D
A: pengukuran Antropometri (Anthropometric measurements)
B: data bio medis (Biomedical data)
C: tanda tanda klinis status nutrisi (clinical sign)
D: diet (dietary)
1. Pengukuran Antropometri
Pengukuran Antropometri terdiri atas pengukuran tinggi badan, berat
badan, tebal lipatan kulit, dan lingkaran tubuh di beberapa area, misalnya
kepala, dada, dan lingkungan. Hasil dari pengukuran Antropometri dapat
digunakan untuk mengetahui apakah pasien mengalami kelebihan nutrisi
atau kekurangan nutrisi
2. Data bio medis
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendapatkan data bio medis antara
lain kadar total Limfosit, Albumin serum, zat besi, transferin serum,
kreatinin, hemoglobin, hematokrit, keseimbangan nitrogen, dan tes antigen
kulit.
3. Tanda tanda klinis status nutrisi
Tanda tanda klinis status gizi dapat dilihat antara lain dari pemeriksaan
fisik. Cara fisik penderita Defisiensi Nutrisi antara lain berat badan
menurun, lemah, lesu, dehidrasi, dan pertumbuhan terhambat.
Ciri fisik orang dengan status gizi normal antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Berat badan ideal
b. Rambut bercahaya, kuat, tidak kering, dan tidak mengalami kebotakan
karena usia
c. Daerah di bawah mata tidak berwarna gelap
d. Kulit lembut dan sedikit lembab
e. Mata cerah, tidak terasa perih, dan tidak terlihat adanya penonjolan
pembuluh darah.
f. Konjungtiva mata berwarna merah muda.
g. Bibir lembap, berwarna merah muda, dan tidak mengalami
pembengkakan.
h. Lidah lembap dan berwarna gelap.
i. Gusi lembap, berwarna merah muda dan tidak mengalami
pembengkakan.
j. Gigi tidak berlubang
4. Diet
Untuk mengetahui riwayat diet seseorang, perawat dapat melakukan
wawancara atau kuesioner untuk mengetahui status gizi, kesehatan, sosial
ekonomi, dan budaya atau kebiasaan orang tersebut yang berpengaruh
terhadap status nutrisinya. Bagian yang perlu diketahui dari wawancara
atau kuesioner ini antara lain riwayat makanan, kemampuan makan,
pengetahuan tentang nutrisi, dan tingkat aktivitas.
Berdasarkan riwayat makanan, perawat dapat mengetahui antara lain
pola makan, tipe makanan yang dihindari atau diabaikan, makanan yang
disukai, pengetahuan tentang nutrisi, dan obat obatan yang pernah
dikonsumsi. Dalam hal kemampuan makan, yang perlu diperhatikan
antara lain kemampuan menunya, menelan, dan Makan, yang perlu
diperhatikan antara lain kemampuan mengunyah, menelan, dan makan
sendiri tanpa bantuan orang lain.
B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan masalah kebutuhan nutrisi
adalah:
1. Kekurangan nutrisi berhubungan dengan:
a. Penurunan asupan ora,
b. Peningkatan kebutuhan kalori,
c. Ketidaknyamanan pada mulut,
d. Kesulitan menelan secara berkelanjutan akibat infeksi, luka bakar
dan atau kanker
e. Penurunan nafsu makan,
f. Kesulitan mengunyah,
g. Penurunan absorpsi nutrisi,
h. Muntah, anoreksia, dan gangguan digesti,
i. Depresi,stress, dan isolasi lokal
2. Kelebihan nutrisi berhubungan dengan:
a. Perubahan pada indra pengecapan dan penciuman,
b. Perubahan pola kenyang akibat efek obat (misalnya Kartikosetroid,
anti histamin, estrogen) serta radiasi,
c. Penurunan pola aktivitas dan gaya hidup,
d. Penurunan kebutuhan Metabolik
C. Intevensi keperawatan
1. Gangguan nutrisi berkurang dari kebutuhan
Tujuan perawatan untuk gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan
adalah:
a. meningkatkan nafsu makan.
b. Membantu memenuhi kebutuhan nutrisi.
c. Mempertahankan nutrisi melalui oral atau Parenteral
Rencana tindakan yang dapat dilakukan untuk gangguan nutrisi kurang
dari kebutuhan secara umum adalah:
a. Menjelaskan peran penting nutrisi yang adekuat.
b. Mengidentifikasi Defisiensi nutrisi dalam asupan sehari hari.
c. Mengkaji tanda vital dan bising usus.
d. Memonitor kadar glukosa, elektrolit, Albumin, dan hemoglobin.
e. Melakukan langkah langkah untuk meningkatkan nafsu makan
antara lain:
a) Menyajikan makanan kesukaan pasien.
b) Membersihkan mulut pasien agar bau dan rasa yang tidak
sedap dapat berkurang.
c) Menghilangkan bau dan pemandangan yang tidak sedap dari
area makan untuk mengurangi mual
d) Menurunkan stres psikologis.
e) Menciptakan lingkungan yang sesuai dengan nyaman saat
makan
2. Gangguan kelebihan nutrisi
Rencana tindakan yang dapat dilakukan untuk gangguan kelebihan
nutrisi secara umum adalah:
a. Menjelaskan alasan peningkatan asupan pada kondisi defisit
pengecapan atau penciuman
b. Mendiskusikan pengaruh olahraga terhadap pengaturan berat
badan serta menginstruksikan pasien untuk memperbanyak
aktivitas guna membakar kalori
c. Meningkatkan kesadaran pasien tentang berbagai tindakan yang
dapat menyebabkan peningkatan asupan makanan, contohnya
dengan membuat buku harian diet untuk mengetahui pola makan
pasien yang mempengaruhi asupan makanannya.
d. Mengajarkan teknik modifikasi perilaku untuk mengurangi asupan
kalori, misalnya mengurangi makanan berlemak, meminum satu
gelas Air sebelum makan, serta makan dengan perlahan dan
mengunyah makanan hingga sempurna.
D. Tindakan keperawatan
1. Pemberian nutrisi melalui oral
Pemberian nutrisi melalui Orel dapat dilakukan pada pasien yang tidak
mampu memenuhi Kebutuhan nutrisinya sendiri dengan cara
membantu memberikan nutrisi melalui orang (m mulut). Tindakan ini
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dan
membangkitkan selera makan pasien.
2. Pemberian nutrisi melalui pipa penduga / lambung atau NGT
Pemberian nutrisi melalui pipa penduga / lambung dilakukan pada
pasien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara orang,
misalnya karena sulit menelan. Oleh karena diberikan melalui pipa
penduga, nutrisi yang diberikan adalah nutrisi dalam bentuk cair.
Prosedur kerja pemberian nutrisi melalui pipa penduga adalah sebagai
berikut:
a. Alat dan bahan
i. Pipa penduga dalam tempatnya
ii. Corong
iii. Spuit 20cc
iv. Pengalas
v. Bengkok
vi. Plester, gunting
vii. Makanan dalam bentuk cair
viii. Air matang
ix. Obat
x. Stetoskop
xi. Klem
xii. Vaseline
b. Prosedur kerja
1) Cuci tangan sebelum memulai tindakan
2) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien
3) Atur posisi pasien dengan posisi semi fowler
4) Bersihkan daerah hidung
5) Pasang pengalas di bagian dada
6) Letakkan bengkok di dekat pasien
7) Tentukan letak pipa penduga dengan cara mengukur panjang
pipa dengan epigastrium sampai hidung, kemudian
dibengkokkan ke telinga dan diberi tanda batasnya
8) Berikan Vaseline atau pelicin pada ujung pipa dan klaim
pangkal pipa tersebut
9) Masukan pipa melalui hidung secara perlahan lahan sambil
menganjurkan pasien untuk menelan nya
10) Pastikan bahwa pipa sudah masuk ke dalam lambung dengan
cara sebagai berikut. Masukan udara melalui pipa dengan spuit
penduga dan Dengarkan dengan stetoskop. Jika dibagi dengan
bumi, berarti beta sudah masuk ke dalam lambung. Setelah itu
keluarkan udara yang ada di dalam jumlah yang dimasukkan.
11) Lakukan tindakan pemberian makanan dengan cara pertama-
tama pasanglah corong atau spuit pada pangkal pipa.
12) Tuangkan air matang bentar mobil acc melalui bagian pinggir
jurang.
13) Masukan makanan dalam bentuk cair. Lalu, masukan mesin
minuman. Setelah selesai, klaim kembali pipa penduga
14) Catat hasil atau respon pasien selama pemberian makanan.
15) Cuci tangan setelah melakukan tindakan
3. Pemberian nutrisi melalui Parenteral
Pemberian nutrisi melalui Parenteral dilakukan pada pasien yang tidak
menerima makanan melalui oral atau pipa nasogastrik. Prinsip ini
diberikan berupa cairan infus yang dimasukkan ke dalam tubuh
melalui darah, baik secara sentral (untuk menutrisi parenteral total)
maupun Vena perifer (untuk nutrisi Parenteral parsial).
Nutrisi Parenteral versi yang diberikan melalui intravena untuk
memenuhi sebagian kebutuhan nutrisi harian pasien bagi pasien masih
dapat menggunakan saluran pencernaan. Cairan yang diberikan
umumnya dalam bentuk Dextrose atau cairan asam Amino.
Nutrisi Parenteral total diberikan melalui intravena ketika kebutuhan
nutrisi sepenuhnya diberikan melalui cairan infus karena saluran
pencernaan pasien tidak dapat digunakan. Cairan yang dapat
digunakan adalah Triofusin E 1000 (mengandung karbon hidrat), Pan
Amien G (mengandung asam Amino), dan intra Lipid (mengandung
lemak).
E. Evaluasi keperawatan
Keberhasilan asuhan keperawatan dapat dilihat dari hal berikut
1. Perubahan nafsu makan
Pasien mengalami gangguan kekurangan nutrisi akan menunjukkan
peningkatan nafsu makan, sedangkan pasien yang mengalami
kelebihan nutrisi akan menunjukkan kemampuan untuk
mengendalikan nafsu makan.
2. Kebutuhan gizi terpenuhi
Hal ini dilihat dari tidak ada tanda tanda kekurangan atau kelebihan
berat badan
3. Nutrisi dapat dipertahankan melalui orang atau Parenteral
Hal ini menunjukkan adanya proses pencernaan makanan yang adik
kuat
DAFTAR PUSTAKA
Ali Mul hidayah, A. Aziz. (2015). Pengantar kebutuhan dasar manusia, edisi 2. Buku
2. Jakarta: Salemba Medika
Herman, T. H, dan Ksmitsuru, S. (2015). Diagnosa keperawatan definisi dan
klasifikasi 2015 - 2017 edisi 10. Jakarta: EGC,
Hidayat, A. A dan Mustifatul U.2015. pengantar kebutuhan dasar manusia, Jakarta:
Salemba Medika
Kozier, Barbara, (2011). Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses, dan
praktik edisi tujuh. Jakarta: EGC.
Night, Muralitharan, et all. (2015). Dasar dasar papa fisiologi terapan panduan
penting untuk mahasiswa keperawatan dan kesehatan. Jakarta: Bumi
Medika