BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Kehamilan
1. Pengertian
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)
dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Kehamilan dibagi dalam
3 triwulan pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, triwulan
kedua dimulai dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari
bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2008).
Menurut Wiknjosastro (2007), ditinjau dari tuanya kehamilan,
kehamilan dibagi dalam 3 bagian, yaitu :
a. Kehamilan triwulan pertama (antara 0-12 minggu)
b. Kehamilan triwulan kedua (antara 12-28 minggu)
c. Kehamilan triwulan ketiga (antara 28-40 minggu)
2. Perubahan Fisiologis Kehamilan
Menurut Hidayati (2009), perubahan fisiologis kehamilan adalah
sebagai berikut :
6
7
a. Perubahan Sistem Reproduksi
1) Uterus
a) Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan
mengalami hipertrofi dan hiperplasia, sehingga menjadi seberat
1.000 gram saat akhir kehamilan.
b) Perubahan pada isthmus uteri menjadi lebih panjang dan lunak,
sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat
saling sentuh. Perlunakan isthmus disebut tanda Hegar.
2) Serviks
Perubahan warna dan konsistensi
3) Vagina dan vulva
Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi darah
karena pengaruh estrogen, sehingga tampak makin merah dan kebiru-
biruan (Tanda Piscaseck).
4) Ovarium
Terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum
gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta
yang sempurna pada usia 16 minggu.
5) Payudara
a) Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai
persiapan memberi ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara
dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, dan
somatomamotropin.
8
b) Pembentukan payudara akan terasa lebih lembut, kenyal dan berisi,
serta jalur-jalur pembuluh darah disekitar wilayah dada akan lebih
terlihat jelas dari biasanya, hal ini untuk persiapan saat menyusui.
b. Perubahan Sistem Sirkulasi
Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini :
1) Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat memenuhi
kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.
2) Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi
retroplasenter.
3) Pengaruh hormon estrogen dan progesteron.
Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran
darah, antara lain sebagai berikut :
1) Volume darah
a) Volume darah semakin meningkat, dimana jumlah serum darah
lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam
pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia
kehamilan 32 minggu.
b) Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya
hemodilusi darah mulai tampak sekitar umur kehamilan 16 minggu.
Oleh karena itu, pengidap penyakit jantung harus berhati-hati untuk
hamil beberapa kali. Pada postpartum terjadi hemokonsentrasi.
9
2) Sel darah
Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat
mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel
darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah, sehingga
terjadi hemodilusi yang disertai dengan anemia fisiologis.
c. Perubahan Sistem Respirasi
Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami perubahan.
Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan O 2 yang semakin
meningkat. Disamping itu juga terjadi desakan diafragma karena
dorongan rahim. Ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25%
dari biasanya. Sesak nafas dan pernafasan yang cepat akan membuat ibu
hamil merasa lelah, hal ini dikarenakan saat kehamilan kerja jantung dan
paru-paru.
d. Perubahan Sistem Percernaan
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat rasa enek (nausea).
Mungkin ini akibat pada hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-
otot digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus
juga berkurang. Makanan lebih lama berada di lambung dan apa yang
telah dicerna lebih lama berada di usus (Wiknjosastro, 2007).
e. Perubahan Sistem Traktus Urinarius
Pengaruh desakan hamil muda atau pembesaran rahim seiring
dengan bertambahnya usia kehamilan yang menekan kandung kemih dan
10
turunnya kepala bayi pada hamil tua akan menyebabkan gangguan miksi
dalam bentuk sering berkemih.
f. Perubahan Integumen
1) Perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh
Melanophore Stimulating Hormone (MSH), pengaruh lobus hipofisis
anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini
terjadi pada striae gravidarum lividae atau alba, areola mammae,
papila mammae, linea nigra, dan pipi (cloasma gravidarum). Setelah
persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang.
2) Perubahan kondisi kulit yang berubah terbalik dari keadaan semula,
yang biasanya (pada saat belum hamil) kulit kering, maka kini akan
menjadi berminyak, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena
adanya perubahan hormon di dalam tubuh ibu hamil.
3) Rambut menjadi lebih kering atau berminyak karena adanya
perubahan hormon.
3. Perubahan dan Adaptasi Psikologis Kehamilan pada Trimester III
Menurut Hidayati (2009), perubahan dan adaptasi psikologis
kehamilan pada trimester III adalah sebagai berikut :
a. Trimester III seringkali disebut periode menunggu dan waspada sebab
pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.
11
b. Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-
waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan
timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan.
c. Rasa tidak nyaman timbul karena ibu merasa dirinya aneh dan jelek.
Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dengan
bayinya dan kehilangan perhatian yang khusus diterima selama hamil.
Pada trimester inilah ibu membutuhkan kesenangan dari suami dan
keluarga.
d. Pada Trimester III ibu merasa tidak nyaman dan depresi karena janin
membesar dan perut ibu juga, melahirkan, sebagian besar wanita
mengalami klimaks kegembiraan emosi karena kelahiran bayi.
e. Rasa takut akan sakit saat melahirkan, bahaya fisik saat melahirkan.
Penanganan :
Bangun rasa percaya ibu terhadap bidan sehingga pada saat persalinan
ibu akan lebih tenang karena rasa percaya penuh terhadap bidan.
4. Tanda-tanda Bahaya Kehamilan
Menurut Saifuddin (2008), berbagai macam tanda bahaya yang perlu
segera dirujuk untuk segera mendapatkan pertolongan :
a. Keluar darah dari jalan lahir
Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah yang
merah, perdarahan yang banyak, atau perdarahan dengan nyeri.
Perdarahan ini dapat berarti abortus, kehamilan mola atau kehamilan
12
ektopik. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah
merah, banyak, dan kadang -kadang, tetapi tidak selalu, disertai dengan
rasa nyeri. Perdarahan semacam ini bisa berarti plasenta previa atau
abrupsio plasenta (Pusdiknakes, 2013).
b. Keluar air ketuban sebelum waktunya
Yang dinamakan ketuban pecah dini adalah apabila terjadi sebelum
persalinan berlangsung yang disebabkan karena berkurangnya kekuatan
membran atau meningkatnya tekanan intra uteri atau oleh kedua faktor
tersebut, juga karena adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan
servik dan penilaiannya ditentukan dengan adanya cairan ketuban di
vagina. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus
(nitrazin test) merah menjadi biru.
c. Kejang
Pada umumnya kejang didahului oleh memburuknya keadaan dan
terjadinya gejala -gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati sehingga
muntah.
d. Gerakan janin tidak ada atau kurang (minimal 3 kali dalam 1 jam)
Ibu mulai merasakan gerakan bayi selama bulan ke-5 atau ke-6.
Beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi
tidur gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali
dalam 1 jam jika ibu berbaring atau beristirahat jika ibu makan dan
minum dengan baik (Pusdiknakes, 2013).
13
e. Demam Tinggi
Demam dapat disebabkan oleh infeksi dalam kehamilan yaitu
masuknya mikroorganisme pathogen ke dalam tubuh wanita hamil yang
kemudian menyebabkan timbulnya tanda atau gejala -gejala penyakit.
Pada infeksi berat dapat terjadi demam dan gangguan fungsi organ vital.
Infeksi dapat terjadi selama kehamilan, persalinan dan masa nifas.
f. Nyeri perut yang hebat
Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal
adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan
masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap,
dan tidak hilang setelah istirahat. Hal ini bisa berarti appendiksitis,
kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan pre term,
gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi placenta,
infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya (Pusdiknakes, 2013)
g. Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali
merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit
kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah sakit kepala
hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Kadang-kadang
dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa
penglihatannya men jadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat
dalam kehamilan adalah gejala dari pre-eklampsia.
14
h. Muntah terus dan tidak bisa makan pada kehamilan muda
Mual dan muntah adalah gejala yang sering ditemukan pada
kehamilan trimester I. Mual biasa terjadi pada pagi hari, gejala ini biasa
terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung selama 10 minggu.
Perasaan mual ini karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG
dalam serum. Mual dan muntah yang sampai mengganggu aktifitas sehari
-hari dan keadaan umum menjadi lebih buruk, dinamakan Hiperemesis
Gravidarum.
i. Selaput kelopak mata pucat
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan keadaan
hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester I dan III, <10,5gr% pada
trimester II. Nilai tersebut dan perbedaannya dengan wanita tidak hamil
terjadi hemodilusi, terutama pada trimester II. Anemia dalam kehamilan
disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tak jarang
keduanya saling berinteraksi.
5. Asuhan Antenatal
Menurut Saifuddin (2008), pelayanan/asuhan antenatal merupakan
cara penting untuk memonitor atau mendukung kesehatan ibu hamil normal
dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Oleh karena itu, kunjungan
antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Ante
Natal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim (Manuaba, 2010).
15
a. Tujuan Asuhan Antenatal
Tujuan asuhan antenatal adalah sebagai berikut :
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan fisik, mental dan sosial ibu dan
bayi.
3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat
ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
ASI ekslusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.
b. Kebijakan Program
Menurut Saifuddin (2008), kunjungan antenatal sebaiknya
dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.
1) Satu kali pada triwulan pertama
2) Satu kali pada triwulan kedua
3) Dua kali pada triwulan ketiga
16
Pelayanan/asuhan standar minimal termasuk “10 T”, yaitu :
1) Timbang berat badan
2) Ukur tinggi badan
3) Ukur tekanan darah
4) Ukur (Tinggi) fundus uteri
5) Tentukan presentasi janin dan DJJ
6) Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
7) Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.
8) Tes Laboratorium
9) Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)
10) Temu wicara atau konseling termasuk perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan.
(PWS KIA, 2009).
c. Jadwal kunjungan ulang
Menurut Saleha (2009), Jadwal kunjungan ulang pada kehamilan
yaitu :
1) Kunjungan I (16 minggu), dilakukan untuk :
a) Persiapan dan pengobatan anemia
b) Perencanaan persalinan
c) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
2) Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu),
dilakukan untuk :
a) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya
17
b) Penapisan pre eklampsia, gemeli, infeksi alat reproduksi, dan
saluran perkemihan
c) Mengulang perencanaan persalinan
3) Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir):
a) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III
b) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi
c) Memantapkan rencana persalinan
d) Mengenali tanda-tanda persalinan
d. Kebijakan teknis
Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau
komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan
pemantauan selama kehamilannya (Saifuddin, 2008).
Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-
komponen sebagai berikut :
1) Mengupayakan kehamilan yang sehat.
2) Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal
serta rujukan bila diperlukan.
3) Persiapan persalinan yang bersih dan aman.
4) Perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakuakan rujukan
jika terjadi komplikasi.
18
B. Persalinan
1. Pengertian
Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban
keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi
pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya
penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan
menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir
dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi
uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (JNPK-KR, 2008).
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin
turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses di mana janin dan
ketuban didorong keluar melalui jalan lahir (Saifuddin, 2008).
2. Tanda dan Gelaja Persalinan
Menurut JNPK-KR (2008) tanda dan gejala inpartu yaitu :
a. Penipisan dan pembukaan serviks.
b. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit).
c. Cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina.
19
Menurut Manuaba (2010), ada 3 macam tanda persalinan yaitu :
a. Terjadinya his persalinan
His persalinan mempunyai ciri khas pinggang terasa nyeri menjalar
kedepan, sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin
besar,
b. Pengeluaran lendir darah
Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan
pendataran dan pembukaan
c. Pengeluaran cairan
Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan
pengeluaran cairan. Sebagian besar ketuban baru pecah menjelang
pembukaan lengkap.
3. Tahapan Persalinan
Menurut JNPK-KR (2008), persalinan dibagi menjadi 4 tahap yaitu :
a. Kala I
Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang
teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks
membuka lengkap (10 cm). Kala I persalinan terdiri dari atas dua fase,
yaitu :
1) Fase Laten
a) Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan
pembukaan serviks secara bertahap.
20
b) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
c) Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
2) Fase Aktif
a) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara
bertahap (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali
atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik
atau lebih).
b) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau
10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam
(nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm
(multipara).
c) Terjadi penurunan bagian terbawah janin.
b. Kala II
Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap
(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II juga disebut sebagai
kala pengeluaran bayi.
c. Kala III
Kala III persalinan atau kala pengeluaran plasenta dimulai setelah
lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.
Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.
d. Kala IV
Kala IV atau kala pengawasan dimulai setelah lahirnya plasenta
dan berakhir dua jam setelah proses tersebut.
21
4. Posisi dan Cara Ibu Saat Meneran
Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat
mengubah-ubah posisi secara teratur selama kala II karena dapat membantu
kemajuan persalinan, mencari posisi meneran yang paling efektif dan
menjaga sirkulasi utero-plasenter tetap baik.
Menurut JNPK-KR (2008), posisi-posisi ibu saat meneran yaitu :
a. Posisi duduk atau setengah duduk
b. Jongkok atau berdiri
c. Merangkak atau berbaring miring ke kiri
Gambar 1
Posisi duduk atau setengah duduk (JNPK-KR, 2008)
Gambar 2
Posisi jongkok atau berdiri (JNPK-KR, 2008)
22
Gambar 3
Posisi merangkak atau berbaring miring ke kiri (JNPK-KR, 2008)
Menurut JNPK-KR (2008) cara meneran yang baik untuk ibu bersalin
yaitu :
a. Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama
kontraksi.
b. Beritahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran.
c. Minta ibu berhenti meneran dan beristirahat di antara kontraksi.
d. Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah
untuk meneran jika lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan ke
dada.
e. Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.
Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu
kelahiran bayi. Dorongan pada fundus meningkatkan risiko distosia bahu
dan ruptur uteri. Peringatkan anggota keluarga ibu untuk tidak mendorong
fundus bila mereka mencoba melakukan itu.
23
5. Kebutuhan Ibu Selama Persalinan
Menurut Sumarah, dkk (2009) kebutuhan ibu selama persalinan antara
lain :
a. Kebutuhan fisiologis
1) Oksigen
2) Makan dan minum
3) Istirahat selama tidak ada his
4) BAB dan BAK
5) Pertolongan persalinan yang terstandar
b. Kebutuhan rasa aman
1) Memilih tempat dan penolong persalinan
2) Informasi tentang proses persalinan
3) Posisi tidur yang dikehendaki ibu
4) Pendampingan oleh keluarga
5) Pemantauan selama persalinan
6) Intervensi yang diperlukan
c. Kebutuhan mencintai dan mencintai
1) Pendampingan oleh suami/ keluarga
2) Kontak fisik (memberi sentuhan ringan)
3) Masase untuk mengurangi rasa sakit
4) Berbicara dengan suara yang lembut dan sopan
d. Kebutuhan harga diri
1) Merawat bayi sendiri dan menetekkan
24
2) Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privasi ibu
3) Pelayanan yang bersifat simpati dan empati
4) Informasi bila akan emlakukan tindakan
5) Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu
lakukan
e. Kebutuhan aktualisasi diri
1) Memilih tempat dan penolong persalinan yang diinginkan
2) Memilih pendamping selama perslinan
3) Bounding attachment
4) Ucapan selamat atas kelahiran bayinya
C. Nifas
1. Pengertian
Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2008).
Masa puerperium atau masa nifas adalah mulai setelah partus selesai,
dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital
baru pulih kembali sperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan
(Wiknjosastro, 2007).
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah
masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan palsenta keluar dari rahim,
sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-
25
organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti
perlukaan dan lain sebagainya berkaitan dengan melahirkan (Suherni,dkk,
2008).
2. Tahapan Masa Nifas
Adapun tahapan-tahapan masa nifas (post partum/puerperium)
menurut (Suherni, dkk, 2008) yaitu :
a. Puerperium dini
Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan
berjalan-jalan.
b. Puerperium intermedial
Masa kepulihan menyeluruh dari organ–organ genital, kira-kira
antara 6–8 minggu.
c. Remot puerperium
Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama
apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
3. Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas
a. Perubahan sistem Reproduksi
1) Perubahan Uterus
Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal
ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta (plasenta
site) sehingga jaringan perlekatan antara plasenta dan dinding uterus,
26
mengalami nekrosis dan lepas. Uterus akan mengalami pengecilan
(involusi secara berangsur-angsur sehingga akhirnya kembali seperti
sebelum hamil (Suherni, dkk, 2008).
Tabel 1
TFU dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir pusat 2 jari bawah 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
Sumber: (Suherni, dkk, 2008).
Segera setelah persalinan bekas implantasi plasenta berupa luka
kasar dan menonjol kedalam kavum uteri, penonjolan tersebut
diameternya kira-kira 7,5 cm. Sesudah 2 minggu diameternya
berkurang menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam mengecil lagi
sampai 2,4 cm, dan akhirnya akan pulih kembali.
27
Gambar 4
Involusi uterus selama masa nifas (Suherni, dkk, 2008)
Disamping itu, dari kavum uteri keluar cairan sekret disebut
lochea. Ada beberapa jenis lochea, yaitu :
a) Lochea rubra (cruenta): berisi darah segar dan sisa-sisa selaput
ketuban, sel-sel desidua (selaput lendir rahim dalam keadaan hamil,
verniks caseosa (palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau
semacam noda dan sel-sel epitel, yang menyelimuti kulit janin),
lanugo (bulu halus pada anak yang baru lahir), meconium (isi usus
janin cukup bulan yang terdiri atas getah kelenjar usus dan air
ketuban, berwarna hijau kehitaman) selama 2 hari pasca persalinan.
b) Lochea sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan
lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
c) Lochea serosa: berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi
pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
d) Lochea alba: cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2
minggu.
28
2) Perubahan vagina dan perineum
a) Vagina
Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae
(lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali.
b) Perlukaan vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka
perineum tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah
persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi
cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan
terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan
spekulum.
3) Perubahan pada perineum
Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan
berikutnya. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi
(penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah
kelahiran bayi) bukanlah penjahitan dan perawatan dengan
baik(Suherni, dkk, 2008).
4) Perubahan pada sistem pencernaan
Selama persalinan, motilitas lambung berkurang terutama
akibat nyeri, rasa takut dan obat narkotika. Hal ini akan kembali
normal pada fase 6 minggu setelah melahirkan. Namun, pada nifas
dini, penurunan tonus otot dan motilitas saluran cerna dapat
29
mengakibatkan relaksasi abdomen, peningkatan distensi gas, dan
konstipasi segera setelah melahirkan.
Defekasi pertama biasanya terjadi dalam 2 atau 3 hari
postpartum. Bila ada obstipasi mungkin akan terjadi demam. Jika
terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau diberi obat
laksantia dan diadakan mobilisasi sedini-dininya (Wiknjosastro,
2007).
4) Perubahan sistem perkemihan
Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8
minggu, tergantung pada :
a) Keadaan/ status sebelum persalinan
b) Lamanya partus kala 2 dilalui
c) Besarnya tekanan kepala yang menkan saat persalinan.
Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistoscopie
(sistoskopik) segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya
edema dan hiperemia dinding vesika urinaria, akan tetapi sering
terjadi extravasi (extravasation, artinya keluarnya darah dari
pembuluh-pembuluh darah di dalam badan kemukosa).
5) Perubahan sistem muskuloskeletal atau diatesis rectie abdominis
a) Setiap wanita nifas memiliki derajat diathesis/konstitusi (yakni
keadaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh bereaksi
secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu,
sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-
30
penyakit tetentu). Kemudian demikian juga adanya rectie/
muskulus rektus yang terpisah dari abdomen. Seberapa diastesis
terpisah ini tergantung dan beberapa faktor termasuk ambulasi
(bisa berjalan) 4-8 jam post partum. Ambulasi dini dianjurkan
untuk menghindari komplikasi, meningkatkan involusi dan
meningkatkan cara pandang emosional relaksasi dan mobilisasi
artikulasi pelvic terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan.
Motilisasi (gerakan) dan tonus otot gastrointestinal kembali ke
keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan.
Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal
karena penurunan tonus otot usus, rasa tidak nyaman pada
perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim
pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar
panggul dan mengejan selama persalinan. Jumlah sel-sel otot
tidak berkurang banyak, namun sel-selnya sendiri jelas
berkurang ukurannya.
b) Abdominis dan peritonium
Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca
persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritonium yang
membungkus sebagian besar dan uterus, membentuk lipatan-
lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat
lebih kendor untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan karena
sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan
31
distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus
selama hamil. Pemulihannya harus dibantu dengan cara berlatih.
Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan
karena teregang begitu lama. Namun umumnya akan pulih
dalam waktu 6 minggu (Suherni, dkk, 2008).
4. Perubahan Tanda-Tanda Vital pada Masa Nifas
Menurut Suherni, dkk (2008), perubahan tanda-tanda vital pada masa
nifas sebagai berikut :
a. Suhu badan
Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik sedikit,
antara 37,2oC – 37,5oC. Kemungkinan disebabkan dari aktivitas
[Link] kenaikan mencapai 38oC pada hari kedua sampai hari-hari
berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.
b. Denyut Nadi
Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 x/mnt, yakni
pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh.
Ini terjadi utamanya pada minggu pertama post [Link] ibu yang
nervus nadinya bisa cepat, kira-kira 110x/mnt. Bisa juga terjadi gejala
shock karena infeksi khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.
c. Tekanan darah
Tekanan darah < 140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa
meningkat dari pra persalinan pada 1-3 hari pos partum. Bila tekanan
32
darah menjadi rendah menunjukkan adanya perdarahan post partum.
Sebaliknya bila tekanan darah tinggi, merupakan petunjuk kemungkinan
adanya pre-eklampsi yang bisa timbul pada masa nifas. Namun hal ini
seperti itu jarang terjadi.
d. Respirasi
Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal, karena ibu
dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat b. Bila ada
respirasi cepat pospartum (> 30 x/mnt) mungkin karena adanya ikutan
tanda-tanda syok.
5. Tujuan Asuhan Masa Nifas
Menurut Saleha (2009), tujuan dari pemberian asuhan kebidanan pada
masa nifas adalah:
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.
b. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi
pada ibu dan bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, KB, cara, manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi
sehari-hari.
d. Memberikan pelayanan KB.
e. Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali. Kunjungan ini
bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga untuk
mencegah, mendeteksi, serta menangani masalah-masalah yang terjadi.
33
6. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Menurut Suherni, dkk (2008), frekuensi kunjungan, waktu kunjungan
dan tujuan kunjungan masa nifas yaitu :
a. Kunjungan pertama, waktu 6 – 8 jam setelah post partum
Tujuan :
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan yaitu atonia uteri.
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan: rujuk bila
perdarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
4) Pemberian ASI awal.
5) Memberi supervisi kepada ibu bagaimana teknik melakukan hubungan
antara ibu dan bayi baru lahir.
6) Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Bila
ada bidan atau petugas lain yang membantu melahirkan, maka petugas
atau bidan itu harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2
jam pertama.
b. Kunjungan kedua, waktu 6 hari post partum
Tujuan:
1) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal.
2) Evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan
abnormal.
3) Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat.
34
4) Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda–tanda
adanya penyulit.
5) Memberikan konseling pada ibu mengenai hal – hal berkaitan dengan
asuhan pada bayi.
c. Kunjungan ketiga, waktu 2 minggu post partum
Tujuan : sama kunjungan seperti hari ke 6
d. Kunjungan keempat, waktu 6 minggu post partum
1) Menanyakan penyulit – penyulit yang ada.
2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.
7. Perawatan Masa Nifas
Menurut Ambarwati (2008), perawatan masa nifas sebagai berikut :
a. Mobilisasi dini
b. Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya
makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur sayuran
dan buah-buahan.
c. Miksi
Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-
kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan
oleh kepala janin, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang
terjadi selama persalinan.
35
d. Defekasi
Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila
masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi gerak keras dapat
diberikan obat pencahar per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa
dilakukan klisma.
e. Perawatan payudara
Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting
susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui
bayinya. Bila payudara bengkak, maka penatalaksanaannya yaitu :
1) Keluarkan ASI secara manual/ASI tetap diberikan kepada bayi.
2) Menyanggapayudara dengan bra yang dapat menyokong payudara
dari bawah.
3) Kompres dengan kantong es (jika perlu).
4) Pemberian analgetik.
5) Pantau suhu tubuh .
6) Ikuti perkembangan 3 hari setelah pengobatan
f. Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sesak dari
kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma
yaitu:
1) Proliferasi jaring pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak
bertambah.
2) Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum.
36
3) Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-
vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
4) Setelah persalinan pengaruh estrogen dan progesterone hilang. Maka
timbul pengaruh hormone laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan
merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan
mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar
produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan.
g. Cuti hamil dan bersalin
Menurut Undang-Undang bagi wanita bekerja berhak mengambil
cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin
ditambah 2 bulan setelah bersalin.
8. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Menurut Suherni, dkk (2008), kebutuhan-kebutuhan dasar yang
diperlukan pada masa nifas, yaitu :
1) Gizi
Ibu nifas dianjurkan untuk:
a) Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat.
b) Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6
bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400
kalori. Mengonsumsi tablet zat besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari.
37
c) Mengkonsumsi vitamin A 200.000 IU. Pemberian vitamin A dalam
bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan
daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak.
2) Kebersihan diri
Ibu nifas dianjurkan untuk :
a) Menjaga kebersihan seluruh tubuh.
b) Menganjurkan ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun
dan air.
c) Menyarankan ibu mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/ BAK,
paling tidak dalam waktu 3-4 jam supaya ganti pembalut.
d) Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air
sebelum menyentuh daerah kelamin.
e) Anjurkan ibu untuk sering menyentuh luka episiotomi dan laserasi
3) Istirahat dan tidur
a) Istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan.
b) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
c) Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan.
d) Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan waktu
untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam.
Kurang istirahat ibu nifas dapat berakibat :
a) Mengurangi jumlah ASI
b) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan
c) Depresi
38
4) Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami
perubahan fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang
senggama dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada
keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam nifas
sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak perlu takut
untuk bergerak, karena dengan ambulasi dini (bangun dan bergerak
setelah beberapa jam melahirkan) dapat membantu rahim untuk kembali
kebentuk semula.
5) Hubungan Seks dan Keluarga berencana
a) Hubungan Seks.
b) Aman setelah darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan satu
atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri.
c) Ada kepercayaan/ budaya yang memperbolehkan melakukan
hubungan seks stelah 40 hari atau 6 minngu, oleh karena itu perlu
dikompromi antara suami dan istri.
6) Keluarga Berencana
a) Pada dasarnya ibu tidak mengalami ovulasi selama menyusui
eksklusif atau penuh 6 bulan dan ibu belum mendapatkan haid
(metode amenore laktasi).
b) Meskipun setiap metode kontrasepsi beresiko, tetapi menggunakan
kontrasepsi lebih aman.
39
c) Metode hormonal, khusunya kombinasi oral (estrogen-progesteron)
bukanlah pilihan pertama bagi ibu yang menyusui, karena dapat
mempersingkat pemberian ASI.
7) Eliminasi:
a) Buang air kecil (BAK)
(1)Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah bisa BAK spontan, kebanyakan
ibu bisa berkemih spontan dalam waktu 8 jam.
(2)Urine dalam jumlah yang banyak akan diproduksi dalam waktu 12-
36 jam setelah melahirkan.
(3)Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam waktu 6
minggu.
b) Buang air besar (BAB)
(1)BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena diet cairan, obat-
obatan analgetik, dan perineum yang sangat sakit.
(2)Bila lebih 3 hari belum BAB bisa diberi obat laksantia.
(3)Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi
BAB.
(4)Asupan cairan yang adekuat dan diet tinggi serat sangat dianjurkan.
8) Pemberian ASI/ Laktasi
Hal-hal yang perlu diberitahukan :
a) Menyusui bayi segera setelah lahir minimal 30 menit bayi telah
disusukan.
b) Memberikan ASI eksklusif selam 6 bulan.
40
c) Menyusui bayi sesering mungkin.
D. Bayi baru lahir
1. Pengertian
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan aterm
(37–42 minggu) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram dengan dan nilai
apgar antara 7-10 (Saifuddin, 2008).
Neonatal adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 4 minggu.
Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan,
melalui pelayanan kesehatan yang diberikan pelayanan kepada ibu hamil.
Beberapa bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap
faktor yang memperlemah kondisi ibu perlu diprioritaskan, seperti gizi
rendah, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan buruknya hygiene
(Saifuddin, 2008).
2. Penanganan Bayi Baru Lahir
Tujuan utama perawatan bayi segera stelah lahir adalah :
a. Pencegahan Infeksi
Menurut Saifuddin (2008), bayi baru lahir sangat rentan terhadap
infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme
selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah
lahir. Sebelum menangani bayi baru lahir penolong harus melakukan
upaya pencegahan sebagai berikut :
41
1) Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi.
2) Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi dan apabila
memandikan bayi.
3) Pastikan semua alat yang bersentuhan dengan bayi sterill dan bersih.
b. Penilaian Awal
Begitu bayi lahir segera dilakukan inisiasi pernapasan spontan
dengan melakukan penilaian awal, sebagai berikut :
1) Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan
tepat (0-30 detik).
2) Evaluasi data yang terkumpul, buat diagnosis dan tentukan rencana
untuk asuhan bayi baru lahir.
3) Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan
atau menanyakan 5 pertanyaan sebagai berikut:
a) Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?
b) Apakah bayi bernapas spontan?
c) Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?
d) Apakah tonus/kekuatan otot bayi cukup?
e) Apakah ini kehainilan cukup bulan?
Menurut JNPK-KR (2008), bila kelima pertanyaan tersebut
jawabannya “Ya”, maka bayi dapat diberikan kepada ibunya untuk
segera menciptakan hubungan emosional, kemudian di lakukan
asuhan bayi baru lahir normal sebagai berikut :
42
a) Keringkan bayi dengan kain/handuk yang bersih, kering dan
hangat, kemudian lingkupi tubuh bayi dengan kain/handuk kering
dan hangat yang lain.
b) Bersihkan mulut dan hidung bayi secukupnya. Tidak perlu
dilakukan penghisapan lendir.
c) Hangatkan tubuh bayi (selimuti dengan kain yang kering dan
hangat, beri tutup kepala).
d) Berikan bayi pada ibunya untuk membangun hubungan emosional
dan pemberian ASI secara dini.
c. Memotong dan merawat tali pusat
Menurut Wiknjosastro (2007), klem dan potong tali pusat dengan
cara :
1) Klem tali pusat dengan kedua klem, pada titik kira-kira 2 cm dan 3 cm
dari pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem-klem
tersebut.
2) Potonglah tali pusat diantara klem sambil melindungi bayi dan
gunting dengan tangan kiri anda.
3) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Ganti sarung
tangan anda bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya dengan
gunting yang steril atau DTT.
4) Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan
lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat.
43
d. Mempertahankan suhu tubuh bayi
1) Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan
selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindungi
dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
2) Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15
menit.
3) Apabila telapak bayi terasa dingin, periksalah suhu aksila bayi.
4) Apabila suhu tubuh bayi kurang dari 36,5 oC, segera hangatkan bayi
tersebut.
e. Kontak dini dengan ibu
Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin, kontak dini antara
ibu dan bayi penting untuk :
1) Kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir.
2) Ikatan batin pemberian ASI.
3) Anjurkan ibu menyusui bayinya, apabila bayi telah “Siap” (dengan
menujukkan refleks rooting). Jangan paksakan bayu untuk menyusu.
f. Memberi vitamin K
Semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberikan
vitamin K 0,5-1 mg per IM untuk mencegah perdarahan intrakranial.
g. Memberi obat tetes/salep mata
Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk
pencegahan penyakit mata karena klamidia (PMS). Obat mata perlu
44
diberikan pada jam pertama setelah persalinan yang diteteskan pada
kedua mata bayi.
h. Identifikasi bayi
Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang persalinannya
mungkin lebih dari satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang
efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus diberikan
kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatkannya sampai bayi
dipulangkan (Saifuddin, 2008).
3. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir
Menurut Saleha (2009), pemeriksaan bayi baru lahir sebagai berikut :
a. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Laju jantung bayi baru lahir normal yaitu 110-180 x/menit, suhu
normal yaitu 36,5 oC-37,5 oC, dan ernafasan yaitu 40-60 x/menit.
b. Pemeriksaan antropometri
1) Panjang badan : panjang badan normal yaitu 48 cm-52 cm
2) Lingkar kepala : ukuran normalnya 32-35 cm
3) Berat badan : berat badan normal yaitu 2500 gr-4000 gram
4. Pemantauan Bayi Baru Lahir
Menurut Saifuddin (2008), tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah
untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah
45
kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan
penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.
5. Tanda-tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
Menurut Wiknjosastro (2007), tanda-tanda bahaya yang perlu
diwaspadai pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut :
a. Sulit menyusu.
b. Letargi (tidur terus sehingga tidak menyusu).
c. Demam (suhu tubuh >38oC atau hipotermi <36oC).
d. Tidak BAB atau tidak berkemih setelah 3 hari lahir (kemungkinan bayi
mengalami atresia ani), tinja lembek, hijau tua, terdapat lendir atau darah
pada tinja.
e. Sianosis (biru) atau pucat pada kulit atau bibir, adanya memar, warna
kulit kuning (ikterus) terutama dalam 24 jam pertama.
f. Muntah terus-menerus dan perut membesar.
g. Kesulitan bernafas atau nafas lebih dari 60 kali per menit.
h. Mata bengkak dan bernanah atau berair.
i. Mekonium cair berwarna hijau gelap dengan lendir atau darah.
j. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk dan berdarah.