0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan40 halaman

Perubahan Fisiologis dan Psikologis Kehamilan

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk pengertian, perubahan fisiologis, psikologis, tanda-tanda bahaya, dan asuhan antenatal. Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan dengan berbagai perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi, sirkulasi, respirasi, dan lainnya. Asuhan antenatal penting untuk memantau kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.

Diunggah oleh

Yulia Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan40 halaman

Perubahan Fisiologis dan Psikologis Kehamilan

Dokumen ini membahas tentang kehamilan, termasuk pengertian, perubahan fisiologis, psikologis, tanda-tanda bahaya, dan asuhan antenatal. Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan dengan berbagai perubahan yang terjadi pada sistem reproduksi, sirkulasi, respirasi, dan lainnya. Asuhan antenatal penting untuk memantau kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.

Diunggah oleh

Yulia Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Kehamilan

1. Pengertian

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin.

Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)

dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Kehamilan dibagi dalam

3 triwulan pertama dimulai dari hasil konsepsi sampai 3 bulan, triwulan

kedua dimulai dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari

bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2008).

Menurut Wiknjosastro (2007), ditinjau dari tuanya kehamilan,

kehamilan dibagi dalam 3 bagian, yaitu :

a. Kehamilan triwulan pertama (antara 0-12 minggu)

b. Kehamilan triwulan kedua (antara 12-28 minggu)

c. Kehamilan triwulan ketiga (antara 28-40 minggu)

2. Perubahan Fisiologis Kehamilan

Menurut Hidayati (2009), perubahan fisiologis kehamilan adalah

sebagai berikut :

6
7

a. Perubahan Sistem Reproduksi

1) Uterus

a) Rahim yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan

mengalami hipertrofi dan hiperplasia, sehingga menjadi seberat

1.000 gram saat akhir kehamilan.

b) Perubahan pada isthmus uteri menjadi lebih panjang dan lunak,

sehingga pada pemeriksaan dalam seolah-olah kedua jari dapat

saling sentuh. Perlunakan isthmus disebut tanda Hegar.

2) Serviks

Perubahan warna dan konsistensi

3) Vagina dan vulva

Organ vagina dan vulva mengalami peningkatan sirkulasi darah

karena pengaruh estrogen, sehingga tampak makin merah dan kebiru-

biruan (Tanda Piscaseck).

4) Ovarium

Terjadinya kehamilan indung telur yang mengandung korpus luteum

gravidarum akan meneruskan fungsinya sampai terbentuknya plasenta

yang sempurna pada usia 16 minggu.

5) Payudara

a) Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai

persiapan memberi ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara

dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, dan

somatomamotropin.
8

b) Pembentukan payudara akan terasa lebih lembut, kenyal dan berisi,

serta jalur-jalur pembuluh darah disekitar wilayah dada akan lebih

terlihat jelas dari biasanya, hal ini untuk persiapan saat menyusui.

b. Perubahan Sistem Sirkulasi

Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor berikut ini :

1) Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah, sehingga dapat memenuhi

kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim.

2) Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi

retroplasenter.

3) Pengaruh hormon estrogen dan progesteron.

Akibat dari faktor tersebut dijumpai beberapa perubahan peredaran

darah, antara lain sebagai berikut :

1) Volume darah

a) Volume darah semakin meningkat, dimana jumlah serum darah

lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam

pengenceran darah (hemodilusi), dengan puncaknya pada usia

kehamilan 32 minggu.

b) Curah jantung akan bertambah sekitar 30%. Bertambahnya

hemodilusi darah mulai tampak sekitar umur kehamilan 16 minggu.

Oleh karena itu, pengidap penyakit jantung harus berhati-hati untuk

hamil beberapa kali. Pada postpartum terjadi hemokonsentrasi.


9

2) Sel darah

Sel darah merah makin meningkat jumlahnya untuk dapat

mengimbangi pertumbuhan janin dalam rahim, tetapi pertambahan sel

darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah, sehingga

terjadi hemodilusi yang disertai dengan anemia fisiologis.

c. Perubahan Sistem Respirasi

Selama periode kehamilan, sistem respirasi mengalami perubahan.

Hal ini dikarenakan untuk memenuhi kebutuhan O 2 yang semakin

meningkat. Disamping itu juga terjadi desakan diafragma karena

dorongan rahim. Ibu hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20-25%

dari biasanya. Sesak nafas dan pernafasan yang cepat akan membuat ibu

hamil merasa lelah, hal ini dikarenakan saat kehamilan kerja jantung dan

paru-paru.

d. Perubahan Sistem Percernaan

Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat rasa enek (nausea).

Mungkin ini akibat pada hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-

otot digestivus menurun, sehingga motilitas seluruh traktus digestivus

juga berkurang. Makanan lebih lama berada di lambung dan apa yang

telah dicerna lebih lama berada di usus (Wiknjosastro, 2007).

e. Perubahan Sistem Traktus Urinarius

Pengaruh desakan hamil muda atau pembesaran rahim seiring

dengan bertambahnya usia kehamilan yang menekan kandung kemih dan


10

turunnya kepala bayi pada hamil tua akan menyebabkan gangguan miksi

dalam bentuk sering berkemih.

f. Perubahan Integumen

1) Perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh

Melanophore Stimulating Hormone (MSH), pengaruh lobus hipofisis

anterior dan pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi ini

terjadi pada striae gravidarum lividae atau alba, areola mammae,

papila mammae, linea nigra, dan pipi (cloasma gravidarum). Setelah

persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang.

2) Perubahan kondisi kulit yang berubah terbalik dari keadaan semula,

yang biasanya (pada saat belum hamil) kulit kering, maka kini akan

menjadi berminyak, begitu pula sebaliknya. Hal ini terjadi karena

adanya perubahan hormon di dalam tubuh ibu hamil.

3) Rambut menjadi lebih kering atau berminyak karena adanya

perubahan hormon.

3. Perubahan dan Adaptasi Psikologis Kehamilan pada Trimester III

Menurut Hidayati (2009), perubahan dan adaptasi psikologis

kehamilan pada trimester III adalah sebagai berikut :

a. Trimester III seringkali disebut periode menunggu dan waspada sebab

pada saat itu ibu merasa tidak sabar menunggu kelahiran bayinya.
11

b. Kadang-kadang ibu merasa khawatir bahwa bayinya akan lahir sewaktu-

waktu. Ini menyebabkan ibu meningkatkan kewaspadaannya akan

timbulnya tanda dan gejala akan terjadinya persalinan.

c. Rasa tidak nyaman timbul karena ibu merasa dirinya aneh dan jelek.

Disamping itu ibu mulai merasa sedih karena akan berpisah dengan

bayinya dan kehilangan perhatian yang khusus diterima selama hamil.

Pada trimester inilah ibu membutuhkan kesenangan dari suami dan

keluarga.

d. Pada Trimester III ibu merasa tidak nyaman dan depresi karena janin

membesar dan perut ibu juga, melahirkan, sebagian besar wanita

mengalami klimaks kegembiraan emosi karena kelahiran bayi.

e. Rasa takut akan sakit saat melahirkan, bahaya fisik saat melahirkan.

Penanganan :

Bangun rasa percaya ibu terhadap bidan sehingga pada saat persalinan

ibu akan lebih tenang karena rasa percaya penuh terhadap bidan.

4. Tanda-tanda Bahaya Kehamilan

Menurut Saifuddin (2008), berbagai macam tanda bahaya yang perlu

segera dirujuk untuk segera mendapatkan pertolongan :

a. Keluar darah dari jalan lahir

Pada awal kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah yang

merah, perdarahan yang banyak, atau perdarahan dengan nyeri.

Perdarahan ini dapat berarti abortus, kehamilan mola atau kehamilan


12

ektopik. Pada kehamilan lanjut, perdarahan yang tidak normal adalah

merah, banyak, dan kadang -kadang, tetapi tidak selalu, disertai dengan

rasa nyeri. Perdarahan semacam ini bisa berarti plasenta previa atau

abrupsio plasenta (Pusdiknakes, 2013).

b. Keluar air ketuban sebelum waktunya

Yang dinamakan ketuban pecah dini adalah apabila terjadi sebelum

persalinan berlangsung yang disebabkan karena berkurangnya kekuatan

membran atau meningkatnya tekanan intra uteri atau oleh kedua faktor

tersebut, juga karena adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan

servik dan penilaiannya ditentukan dengan adanya cairan ketuban di

vagina. Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus

(nitrazin test) merah menjadi biru.

c. Kejang

Pada umumnya kejang didahului oleh memburuknya keadaan dan

terjadinya gejala -gejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati sehingga

muntah.

d. Gerakan janin tidak ada atau kurang (minimal 3 kali dalam 1 jam)

Ibu mulai merasakan gerakan bayi selama bulan ke-5 atau ke-6.

Beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi

tidur gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali

dalam 1 jam jika ibu berbaring atau beristirahat jika ibu makan dan

minum dengan baik (Pusdiknakes, 2013).


13

e. Demam Tinggi

Demam dapat disebabkan oleh infeksi dalam kehamilan yaitu

masuknya mikroorganisme pathogen ke dalam tubuh wanita hamil yang

kemudian menyebabkan timbulnya tanda atau gejala -gejala penyakit.

Pada infeksi berat dapat terjadi demam dan gangguan fungsi organ vital.

Infeksi dapat terjadi selama kehamilan, persalinan dan masa nifas.

f. Nyeri perut yang hebat

Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal

adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan

masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap,

dan tidak hilang setelah istirahat. Hal ini bisa berarti appendiksitis,

kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan pre term,

gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi placenta,

infeksi saluran kemih atau infeksi lainnya (Pusdiknakes, 2013)

g. Sakit kepala yang hebat

Sakit kepala bisa terjadi selama kehamilan, dan seringkali

merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit

kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah sakit kepala

hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Kadang-kadang

dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa

penglihatannya men jadi kabur atau berbayang. Sakit kepala yang hebat

dalam kehamilan adalah gejala dari pre-eklampsia.


14

h. Muntah terus dan tidak bisa makan pada kehamilan muda

Mual dan muntah adalah gejala yang sering ditemukan pada

kehamilan trimester I. Mual biasa terjadi pada pagi hari, gejala ini biasa

terjadi 6 minggu setelah HPHT dan berlangsung selama 10 minggu.

Perasaan mual ini karena meningkatnya kadar hormon estrogen dan HCG

dalam serum. Mual dan muntah yang sampai mengganggu aktifitas sehari

-hari dan keadaan umum menjadi lebih buruk, dinamakan Hiperemesis

Gravidarum.

i. Selaput kelopak mata pucat

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan keadaan

hemoglobin di bawah 11gr% pada trimester I dan III, <10,5gr% pada

trimester II. Nilai tersebut dan perbedaannya dengan wanita tidak hamil

terjadi hemodilusi, terutama pada trimester II. Anemia dalam kehamilan

disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tak jarang

keduanya saling berinteraksi.

5. Asuhan Antenatal

Menurut Saifuddin (2008), pelayanan/asuhan antenatal merupakan

cara penting untuk memonitor atau mendukung kesehatan ibu hamil normal

dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal. Oleh karena itu, kunjungan

antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan. Ante

Natal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada

pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim (Manuaba, 2010).


15

a. Tujuan Asuhan Antenatal

Tujuan asuhan antenatal adalah sebagai berikut :

1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan

tumbuh kembang bayi.

2) Meningkatkan dan mempertahankan fisik, mental dan sosial ibu dan

bayi.

3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang

mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara

umum, kebidanan dan pembedahan.

4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat

ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian

ASI ekslusif.

6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran

bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

b. Kebijakan Program

Menurut Saifuddin (2008), kunjungan antenatal sebaiknya

dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan.

1) Satu kali pada triwulan pertama

2) Satu kali pada triwulan kedua

3) Dua kali pada triwulan ketiga


16

Pelayanan/asuhan standar minimal termasuk “10 T”, yaitu :

1) Timbang berat badan

2) Ukur tinggi badan

3) Ukur tekanan darah

4) Ukur (Tinggi) fundus uteri

5) Tentukan presentasi janin dan DJJ

6) Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid (TT)

7) Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan.

8) Tes Laboratorium

9) Tes terhadap Penyakit Menular Seksual (PMS)

10) Temu wicara atau konseling termasuk perencanaan persalinan dan

pencegahan komplikasi serta KB pasca persalinan.

(PWS KIA, 2009).

c. Jadwal kunjungan ulang

Menurut Saleha (2009), Jadwal kunjungan ulang pada kehamilan

yaitu :

1) Kunjungan I (16 minggu), dilakukan untuk :

a) Persiapan dan pengobatan anemia

b) Perencanaan persalinan

c) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya

2) Kunjungan II (24-28 minggu) dan kunjungan III (32 minggu),

dilakukan untuk :

a) Pengenalan komplikasi akibat kehamilan dan pengobatannya


17

b) Penapisan pre eklampsia, gemeli, infeksi alat reproduksi, dan

saluran perkemihan

c) Mengulang perencanaan persalinan

3) Kunjungan IV (36 minggu sampai lahir):

a) Sama seperti kegiatan kunjungan II dan III

b) Mengenali adanya kelainan letak dan presentasi

c) Memantapkan rencana persalinan

d) Mengenali tanda-tanda persalinan

d. Kebijakan teknis

Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau

komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan

pemantauan selama kehamilannya (Saifuddin, 2008).

Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-

komponen sebagai berikut :

1) Mengupayakan kehamilan yang sehat.

2) Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal

serta rujukan bila diperlukan.

3) Persiapan persalinan yang bersih dan aman.

4) Perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakuakan rujukan

jika terjadi komplikasi.


18

B. Persalinan

1. Pengertian

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban

keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi

pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai adanya

penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan

menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir

dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi

uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks (JNPK-KR, 2008).

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin

turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses di mana janin dan

ketuban didorong keluar melalui jalan lahir (Saifuddin, 2008).

2. Tanda dan Gelaja Persalinan

Menurut JNPK-KR (2008) tanda dan gejala inpartu yaitu :

a. Penipisan dan pembukaan serviks.

b. Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi

minimal 2 kali dalam 10 menit).

c. Cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina.


19

Menurut Manuaba (2010), ada 3 macam tanda persalinan yaitu :

a. Terjadinya his persalinan

His persalinan mempunyai ciri khas pinggang terasa nyeri menjalar

kedepan, sifatnya teratur, interval makin pendek, dan kekuatannya makin

besar,

b. Pengeluaran lendir darah

Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan

pendataran dan pembukaan

c. Pengeluaran cairan

Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan

pengeluaran cairan. Sebagian besar ketuban baru pecah menjelang

pembukaan lengkap.

3. Tahapan Persalinan

Menurut JNPK-KR (2008), persalinan dibagi menjadi 4 tahap yaitu :

a. Kala I

Kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang

teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks

membuka lengkap (10 cm). Kala I persalinan terdiri dari atas dua fase,

yaitu :

1) Fase Laten

a) Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan

pembukaan serviks secara bertahap.


20

b) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.

c) Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8 jam.

2) Fase Aktif

a) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara

bertahap (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali

atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik

atau lebih).

b) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau

10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm per jam

(nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm

(multipara).

c) Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

b. Kala II

Persalinan kala II dimulai ketika pembukaan serviks sudah lengkap

(10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala II juga disebut sebagai

kala pengeluaran bayi.

c. Kala III

Kala III persalinan atau kala pengeluaran plasenta dimulai setelah

lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban.

Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.

d. Kala IV

Kala IV atau kala pengawasan dimulai setelah lahirnya plasenta

dan berakhir dua jam setelah proses tersebut.


21

4. Posisi dan Cara Ibu Saat Meneran

Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman. Ibu dapat

mengubah-ubah posisi secara teratur selama kala II karena dapat membantu

kemajuan persalinan, mencari posisi meneran yang paling efektif dan

menjaga sirkulasi utero-plasenter tetap baik.

Menurut JNPK-KR (2008), posisi-posisi ibu saat meneran yaitu :

a. Posisi duduk atau setengah duduk

b. Jongkok atau berdiri

c. Merangkak atau berbaring miring ke kiri

Gambar 1

Posisi duduk atau setengah duduk (JNPK-KR, 2008)

Gambar 2

Posisi jongkok atau berdiri (JNPK-KR, 2008)


22

Gambar 3

Posisi merangkak atau berbaring miring ke kiri (JNPK-KR, 2008)

Menurut JNPK-KR (2008) cara meneran yang baik untuk ibu bersalin

yaitu :

a. Anjurkan ibu untuk meneran mengikuti dorongan alamiahnya selama

kontraksi.

b. Beritahukan untuk tidak menahan nafas saat meneran.

c. Minta ibu berhenti meneran dan beristirahat di antara kontraksi.

d. Jika ibu berbaring miring atau setengah duduk, ia akan lebih mudah

untuk meneran jika lutut ditarik ke arah dada dan dagu ditempelkan ke

dada.

e. Minta ibu untuk tidak mengangkat bokong saat meneran.

Tidak diperbolehkan untuk mendorong fundus untuk membantu

kelahiran bayi. Dorongan pada fundus meningkatkan risiko distosia bahu

dan ruptur uteri. Peringatkan anggota keluarga ibu untuk tidak mendorong

fundus bila mereka mencoba melakukan itu.


23

5. Kebutuhan Ibu Selama Persalinan

Menurut Sumarah, dkk (2009) kebutuhan ibu selama persalinan antara

lain :

a. Kebutuhan fisiologis

1) Oksigen

2) Makan dan minum

3) Istirahat selama tidak ada his

4) BAB dan BAK

5) Pertolongan persalinan yang terstandar

b. Kebutuhan rasa aman

1) Memilih tempat dan penolong persalinan

2) Informasi tentang proses persalinan

3) Posisi tidur yang dikehendaki ibu

4) Pendampingan oleh keluarga

5) Pemantauan selama persalinan

6) Intervensi yang diperlukan

c. Kebutuhan mencintai dan mencintai

1) Pendampingan oleh suami/ keluarga

2) Kontak fisik (memberi sentuhan ringan)

3) Masase untuk mengurangi rasa sakit

4) Berbicara dengan suara yang lembut dan sopan

d. Kebutuhan harga diri

1) Merawat bayi sendiri dan menetekkan


24

2) Asuhan kebidanan dengan memperhatikan privasi ibu

3) Pelayanan yang bersifat simpati dan empati

4) Informasi bila akan emlakukan tindakan

5) Memberikan pujian pada ibu terhadap tindakan positif yang ibu

lakukan

e. Kebutuhan aktualisasi diri

1) Memilih tempat dan penolong persalinan yang diinginkan

2) Memilih pendamping selama perslinan

3) Bounding attachment

4) Ucapan selamat atas kelahiran bayinya

C. Nifas

1. Pengertian

Masa nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa

nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Saifuddin, 2008).

Masa puerperium atau masa nifas adalah mulai setelah partus selesai,

dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital

baru pulih kembali sperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan

(Wiknjosastro, 2007).

Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah

masa atau waktu sejak bayi dilahirkan dan palsenta keluar dari rahim,

sampai enam minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-


25

organ yang berkaitan dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti

perlukaan dan lain sebagainya berkaitan dengan melahirkan (Suherni,dkk,

2008).

2. Tahapan Masa Nifas

Adapun tahapan-tahapan masa nifas (post partum/puerperium)

menurut (Suherni, dkk, 2008) yaitu :

a. Puerperium dini

Masa kepulihan, yakni saat-saat ibu dibolehkan berdiri dan

berjalan-jalan.

b. Puerperium intermedial

Masa kepulihan menyeluruh dari organ–organ genital, kira-kira

antara 6–8 minggu.

c. Remot puerperium

Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama

apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.

3. Perubahan Fisiologi pada Masa Nifas

a. Perubahan sistem Reproduksi

1) Perubahan Uterus

Terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi keluar. Hal

ini menyebabkan iskemia pada lokasi perlekatan plasenta (plasenta

site) sehingga jaringan perlekatan antara plasenta dan dinding uterus,


26

mengalami nekrosis dan lepas. Uterus akan mengalami pengecilan

(involusi secara berangsur-angsur sehingga akhirnya kembali seperti

sebelum hamil (Suherni, dkk, 2008).

Tabel 1

TFU dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus

Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram

Uri lahir pusat 2 jari bawah 750 gram

1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram

2 minggu Tidak teraba diatas simpisis 350 gram

6 minggu Bertambah kecil 50 gram

8 minggu Sebesar normal 30 gram

Sumber: (Suherni, dkk, 2008).

Segera setelah persalinan bekas implantasi plasenta berupa luka

kasar dan menonjol kedalam kavum uteri, penonjolan tersebut

diameternya kira-kira 7,5 cm. Sesudah 2 minggu diameternya

berkurang menjadi 3,5 cm. Pada minggu keenam mengecil lagi

sampai 2,4 cm, dan akhirnya akan pulih kembali.


27

Gambar 4

Involusi uterus selama masa nifas (Suherni, dkk, 2008)

Disamping itu, dari kavum uteri keluar cairan sekret disebut

lochea. Ada beberapa jenis lochea, yaitu :

a) Lochea rubra (cruenta): berisi darah segar dan sisa-sisa selaput

ketuban, sel-sel desidua (selaput lendir rahim dalam keadaan hamil,

verniks caseosa (palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau

semacam noda dan sel-sel epitel, yang menyelimuti kulit janin),

lanugo (bulu halus pada anak yang baru lahir), meconium (isi usus

janin cukup bulan yang terdiri atas getah kelenjar usus dan air

ketuban, berwarna hijau kehitaman) selama 2 hari pasca persalinan.

b) Lochea sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan

lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.

c) Lochea serosa: berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah lagi

pada hari ke 7-14 pasca persalinan.

d) Lochea alba: cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2

minggu.
28

2) Perubahan vagina dan perineum

a) Vagina

Pada minggu ketiga, vagina mengecil dan timbul rugae

(lipatan-lipatan atau kerutan-kerutan) kembali.

b) Perlukaan vagina

Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka

perineum tidak sering dijumpai. Mungkin ditemukan setelah

persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibat ekstraksi

cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekan

terdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan

spekulum.

3) Perubahan pada perineum

Terjadi robekan perineum pada hampir semua persalinan

berikutnya. Bila ada laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi

(penyayatan mulut serambi kemaluan untuk mempermudah

kelahiran bayi) bukanlah penjahitan dan perawatan dengan

baik(Suherni, dkk, 2008).

4) Perubahan pada sistem pencernaan

Selama persalinan, motilitas lambung berkurang terutama

akibat nyeri, rasa takut dan obat narkotika. Hal ini akan kembali

normal pada fase 6 minggu setelah melahirkan. Namun, pada nifas

dini, penurunan tonus otot dan motilitas saluran cerna dapat


29

mengakibatkan relaksasi abdomen, peningkatan distensi gas, dan

konstipasi segera setelah melahirkan.

Defekasi pertama biasanya terjadi dalam 2 atau 3 hari

postpartum. Bila ada obstipasi mungkin akan terjadi demam. Jika

terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau diberi obat

laksantia dan diadakan mobilisasi sedini-dininya (Wiknjosastro,

2007).

4) Perubahan sistem perkemihan

Saluran kencing kembali normal dalam waktu 2 sampai 8

minggu, tergantung pada :

a) Keadaan/ status sebelum persalinan

b) Lamanya partus kala 2 dilalui

c) Besarnya tekanan kepala yang menkan saat persalinan.

Disamping itu, dari hasil pemeriksaan sistoscopie

(sistoskopik) segera setelah persalinan tidak menunjukkan adanya

edema dan hiperemia dinding vesika urinaria, akan tetapi sering

terjadi extravasi (extravasation, artinya keluarnya darah dari

pembuluh-pembuluh darah di dalam badan kemukosa).

5) Perubahan sistem muskuloskeletal atau diatesis rectie abdominis

a) Setiap wanita nifas memiliki derajat diathesis/konstitusi (yakni

keadaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh bereaksi

secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu,

sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-


30

penyakit tetentu). Kemudian demikian juga adanya rectie/

muskulus rektus yang terpisah dari abdomen. Seberapa diastesis

terpisah ini tergantung dan beberapa faktor termasuk ambulasi

(bisa berjalan) 4-8 jam post partum. Ambulasi dini dianjurkan

untuk menghindari komplikasi, meningkatkan involusi dan

meningkatkan cara pandang emosional relaksasi dan mobilisasi

artikulasi pelvic terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan.

Motilisasi (gerakan) dan tonus otot gastrointestinal kembali ke

keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan.

Konstipasi terjadi umumnya selama periode postpartum awal

karena penurunan tonus otot usus, rasa tidak nyaman pada

perineum dan kecemasan. Haemoroid adalah peristiwa lazim

pada periode postpartum awal karena tekanan pada dasar

panggul dan mengejan selama persalinan. Jumlah sel-sel otot

tidak berkurang banyak, namun sel-selnya sendiri jelas

berkurang ukurannya.

b) Abdominis dan peritonium

Akibat peritonium berkontraksi dan beretraksi pasca

persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritonium yang

membungkus sebagian besar dan uterus, membentuk lipatan-

lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum sangat

lebih kendor untuk sementara waktu. Hal ini disebabkan karena

sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan


31

distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus

selama hamil. Pemulihannya harus dibantu dengan cara berlatih.

Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan

karena teregang begitu lama. Namun umumnya akan pulih

dalam waktu 6 minggu (Suherni, dkk, 2008).

4. Perubahan Tanda-Tanda Vital pada Masa Nifas

Menurut Suherni, dkk (2008), perubahan tanda-tanda vital pada masa

nifas sebagai berikut :

a. Suhu badan

Sekitar hari ke 4 setelah persalinan suhu ibu mungkin naik sedikit,

antara 37,2oC – 37,5oC. Kemungkinan disebabkan dari aktivitas

[Link] kenaikan mencapai 38oC pada hari kedua sampai hari-hari

berikutnya, harus diwaspadai adanya infeksi atau sepsis nifas.

b. Denyut Nadi

Denyut nadi ibu akan melambat sampai sekitar 60 x/mnt, yakni

pada waktu habis persalinan karena ibu dalam keadaan istirahat penuh.

Ini terjadi utamanya pada minggu pertama post [Link] ibu yang

nervus nadinya bisa cepat, kira-kira 110x/mnt. Bisa juga terjadi gejala

shock karena infeksi khususnya bila disertai peningkatan suhu tubuh.

c. Tekanan darah

Tekanan darah < 140/90 mmHg. Tekanan darah tersebut bisa

meningkat dari pra persalinan pada 1-3 hari pos partum. Bila tekanan
32

darah menjadi rendah menunjukkan adanya perdarahan post partum.

Sebaliknya bila tekanan darah tinggi, merupakan petunjuk kemungkinan

adanya pre-eklampsi yang bisa timbul pada masa nifas. Namun hal ini

seperti itu jarang terjadi.

d. Respirasi

Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal, karena ibu

dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat b. Bila ada

respirasi cepat pospartum (> 30 x/mnt) mungkin karena adanya ikutan

tanda-tanda syok.

5. Tujuan Asuhan Masa Nifas

Menurut Saleha (2009), tujuan dari pemberian asuhan kebidanan pada

masa nifas adalah:

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.

b. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi

pada ibu dan bayinya.

c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,

nutrisi, KB, cara, manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi

sehari-hari.

d. Memberikan pelayanan KB.

e. Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali. Kunjungan ini

bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga untuk

mencegah, mendeteksi, serta menangani masalah-masalah yang terjadi.


33

6. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Menurut Suherni, dkk (2008), frekuensi kunjungan, waktu kunjungan

dan tujuan kunjungan masa nifas yaitu :

a. Kunjungan pertama, waktu 6 – 8 jam setelah post partum

Tujuan :

1) Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan yaitu atonia uteri.

2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan: rujuk bila

perdarahan berlanjut.

3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga

bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

4) Pemberian ASI awal.

5) Memberi supervisi kepada ibu bagaimana teknik melakukan hubungan

antara ibu dan bayi baru lahir.

6) Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. Bila

ada bidan atau petugas lain yang membantu melahirkan, maka petugas

atau bidan itu harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2

jam pertama.

b. Kunjungan kedua, waktu 6 hari post partum

Tujuan:

1) Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal.

2) Evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan

abnormal.

3) Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat.


34

4) Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda–tanda

adanya penyulit.

5) Memberikan konseling pada ibu mengenai hal – hal berkaitan dengan

asuhan pada bayi.

c. Kunjungan ketiga, waktu 2 minggu post partum

Tujuan : sama kunjungan seperti hari ke 6

d. Kunjungan keempat, waktu 6 minggu post partum

1) Menanyakan penyulit – penyulit yang ada.

2) Memberikan konseling untuk KB secara dini.

7. Perawatan Masa Nifas

Menurut Ambarwati (2008), perawatan masa nifas sebagai berikut :

a. Mobilisasi dini

b. Diet

Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya

makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur sayuran

dan buah-buahan.

c. Miksi

Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-

kadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan

oleh kepala janin, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang

terjadi selama persalinan.


35

d. Defekasi

Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pasca persalinan. Bila

masih sulit buang air besar dan terjadi obstipasi apalagi gerak keras dapat

diberikan obat pencahar per oral atau per rektal. Jika masih belum bisa

dilakukan klisma.

e. Perawatan payudara

Perawatan mamma telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting

susu lemas, tidak keras dan kering sebagai persiapan untuk menyusui

bayinya. Bila payudara bengkak, maka penatalaksanaannya yaitu :

1) Keluarkan ASI secara manual/ASI tetap diberikan kepada bayi.

2) Menyanggapayudara dengan bra yang dapat menyokong payudara

dari bawah.

3) Kompres dengan kantong es (jika perlu).

4) Pemberian analgetik.

5) Pantau suhu tubuh .

6) Ikuti perkembangan 3 hari setelah pengobatan

f. Laktasi

Untuk menghadapi masa laktasi (menyusukan) sesak dari

kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamma

yaitu:

1) Proliferasi jaring pada kelenjar-kelenjar, alveoli dan jaringan lemak

bertambah.

2) Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum.


36

3) Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-

vena berdilatasi sehingga tampak jelas.

4) Setelah persalinan pengaruh estrogen dan progesterone hilang. Maka

timbul pengaruh hormone laktogenik (LH) atau prolaktin yang akan

merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin menyebabkan

mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air susu keluar

produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca persalinan.

g. Cuti hamil dan bersalin

Menurut Undang-Undang bagi wanita bekerja berhak mengambil

cuti hamil dan bersalin selama 3 bulan, yaitu 1 bulan sebelum bersalin

ditambah 2 bulan setelah bersalin.

8. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

Menurut Suherni, dkk (2008), kebutuhan-kebutuhan dasar yang

diperlukan pada masa nifas, yaitu :

1) Gizi

Ibu nifas dianjurkan untuk:

a) Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat.

b) Mengkonsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada 6

bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500 kalori dan tahun kedua 400

kalori. Mengonsumsi tablet zat besi 1 tablet tiap hari selama 40 hari.
37

c) Mengkonsumsi vitamin A 200.000 IU. Pemberian vitamin A dalam

bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan

daya tahan tubuh dan meningkatkan kelangsungan hidup anak.

2) Kebersihan diri

Ibu nifas dianjurkan untuk :

a) Menjaga kebersihan seluruh tubuh.

b) Menganjurkan ibu cara membersihkan daerah kelamin dengan sabun

dan air.

c) Menyarankan ibu mengganti pembalut setiap kali mandi, BAB/ BAK,

paling tidak dalam waktu 3-4 jam supaya ganti pembalut.

d) Menyarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air

sebelum menyentuh daerah kelamin.

e) Anjurkan ibu untuk sering menyentuh luka episiotomi dan laserasi

3) Istirahat dan tidur

a) Istirahat cukup untuk mengurangi kelelahan.

b) Tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.

c) Kembali ke kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan.

d) Mengatur kegiatan rumahnya sehingga dapat menyediakan waktu

untuk istirahat pada siang kira-kira 2 jam dan malam 7-8 jam.

Kurang istirahat ibu nifas dapat berakibat :

a) Mengurangi jumlah ASI

b) Memperlambat involusi, yang akhirnya bisa menyebabkan perdarahan

c) Depresi
38

4) Senam Nifas

Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami

perubahan fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang

senggama dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada

keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam nifas

sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan. Ibu tidak perlu takut

untuk bergerak, karena dengan ambulasi dini (bangun dan bergerak

setelah beberapa jam melahirkan) dapat membantu rahim untuk kembali

kebentuk semula.

5) Hubungan Seks dan Keluarga berencana

a) Hubungan Seks.

b) Aman setelah darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan satu

atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri.

c) Ada kepercayaan/ budaya yang memperbolehkan melakukan

hubungan seks stelah 40 hari atau 6 minngu, oleh karena itu perlu

dikompromi antara suami dan istri.

6) Keluarga Berencana

a) Pada dasarnya ibu tidak mengalami ovulasi selama menyusui

eksklusif atau penuh 6 bulan dan ibu belum mendapatkan haid

(metode amenore laktasi).

b) Meskipun setiap metode kontrasepsi beresiko, tetapi menggunakan

kontrasepsi lebih aman.


39

c) Metode hormonal, khusunya kombinasi oral (estrogen-progesteron)

bukanlah pilihan pertama bagi ibu yang menyusui, karena dapat

mempersingkat pemberian ASI.

7) Eliminasi:

a) Buang air kecil (BAK)

(1)Dalam 6 jam ibu nifas harus sudah bisa BAK spontan, kebanyakan

ibu bisa berkemih spontan dalam waktu 8 jam.

(2)Urine dalam jumlah yang banyak akan diproduksi dalam waktu 12-

36 jam setelah melahirkan.

(3)Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam waktu 6

minggu.

b) Buang air besar (BAB)

(1)BAB biasanya tertunda selama 2-3 hari, karena diet cairan, obat-

obatan analgetik, dan perineum yang sangat sakit.

(2)Bila lebih 3 hari belum BAB bisa diberi obat laksantia.

(3)Ambulasi secara dini dan teratur akan membantu dalam regulasi

BAB.

(4)Asupan cairan yang adekuat dan diet tinggi serat sangat dianjurkan.

8) Pemberian ASI/ Laktasi

Hal-hal yang perlu diberitahukan :

a) Menyusui bayi segera setelah lahir minimal 30 menit bayi telah

disusukan.

b) Memberikan ASI eksklusif selam 6 bulan.


40

c) Menyusui bayi sesering mungkin.

D. Bayi baru lahir

1. Pengertian

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan aterm

(37–42 minggu) dengan berat badan lahir 2500-4000 gram dengan dan nilai

apgar antara 7-10 (Saifuddin, 2008).

Neonatal adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 4 minggu.

Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan,

melalui pelayanan kesehatan yang diberikan pelayanan kepada ibu hamil.

Beberapa bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap

faktor yang memperlemah kondisi ibu perlu diprioritaskan, seperti gizi

rendah, anemia, dekatnya jarak antara kehamilan dan buruknya hygiene

(Saifuddin, 2008).

2. Penanganan Bayi Baru Lahir

Tujuan utama perawatan bayi segera stelah lahir adalah :

a. Pencegahan Infeksi

Menurut Saifuddin (2008), bayi baru lahir sangat rentan terhadap

infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme

selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah

lahir. Sebelum menangani bayi baru lahir penolong harus melakukan

upaya pencegahan sebagai berikut :


41

1) Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi.

2) Memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi dan apabila

memandikan bayi.

3) Pastikan semua alat yang bersentuhan dengan bayi sterill dan bersih.

b. Penilaian Awal

Begitu bayi lahir segera dilakukan inisiasi pernapasan spontan

dengan melakukan penilaian awal, sebagai berikut :

1) Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan

tepat (0-30 detik).

2) Evaluasi data yang terkumpul, buat diagnosis dan tentukan rencana

untuk asuhan bayi baru lahir.

3) Nilai kondisi bayi baru lahir secara cepat dengan mempertimbangkan

atau menanyakan 5 pertanyaan sebagai berikut:

a) Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium?

b) Apakah bayi bernapas spontan?

c) Apakah kulit bayi berwarna kemerahan?

d) Apakah tonus/kekuatan otot bayi cukup?

e) Apakah ini kehainilan cukup bulan?

Menurut JNPK-KR (2008), bila kelima pertanyaan tersebut

jawabannya “Ya”, maka bayi dapat diberikan kepada ibunya untuk

segera menciptakan hubungan emosional, kemudian di lakukan

asuhan bayi baru lahir normal sebagai berikut :


42

a) Keringkan bayi dengan kain/handuk yang bersih, kering dan

hangat, kemudian lingkupi tubuh bayi dengan kain/handuk kering

dan hangat yang lain.

b) Bersihkan mulut dan hidung bayi secukupnya. Tidak perlu

dilakukan penghisapan lendir.

c) Hangatkan tubuh bayi (selimuti dengan kain yang kering dan

hangat, beri tutup kepala).

d) Berikan bayi pada ibunya untuk membangun hubungan emosional

dan pemberian ASI secara dini.

c. Memotong dan merawat tali pusat

Menurut Wiknjosastro (2007), klem dan potong tali pusat dengan

cara :

1) Klem tali pusat dengan kedua klem, pada titik kira-kira 2 cm dan 3 cm

dari pangkal pusat bayi (tinggalkan kira-kira 1 cm diantara klem-klem

tersebut.

2) Potonglah tali pusat diantara klem sambil melindungi bayi dan

gunting dengan tangan kiri anda.

3) Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Ganti sarung

tangan anda bila ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusatnya dengan

gunting yang steril atau DTT.

4) Periksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih terjadi perdarahan

lakukan pengikatan ulang yang lebih ketat.


43

d. Mempertahankan suhu tubuh bayi

1) Gantilah handuk/kain yang basah dan bungkus bayi tersebut dengan

selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah terlindungi

dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.

2) Pastikan bayi tetap hangat dengan memeriksa telapak bayi setiap 15

menit.

3) Apabila telapak bayi terasa dingin, periksalah suhu aksila bayi.

4) Apabila suhu tubuh bayi kurang dari 36,5 oC, segera hangatkan bayi

tersebut.

e. Kontak dini dengan ibu

Berikan bayi kepada ibunya secepat mungkin, kontak dini antara

ibu dan bayi penting untuk :

1) Kehangatan mempertahankan panas yang benar pada bayi baru lahir.

2) Ikatan batin pemberian ASI.

3) Anjurkan ibu menyusui bayinya, apabila bayi telah “Siap” (dengan

menujukkan refleks rooting). Jangan paksakan bayu untuk menyusu.

f. Memberi vitamin K

Semua bayi baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberikan

vitamin K 0,5-1 mg per IM untuk mencegah perdarahan intrakranial.

g. Memberi obat tetes/salep mata

Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk

pencegahan penyakit mata karena klamidia (PMS). Obat mata perlu


44

diberikan pada jam pertama setelah persalinan yang diteteskan pada

kedua mata bayi.

h. Identifikasi bayi

Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang persalinannya

mungkin lebih dari satu persalinan, maka sebuah alat pengenal yang

efektif harus diberikan kepada setiap bayi baru lahir dan harus diberikan

kepada setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatkannya sampai bayi

dipulangkan (Saifuddin, 2008).

3. Pemeriksaan Bayi Baru Lahir

Menurut Saleha (2009), pemeriksaan bayi baru lahir sebagai berikut :

a. Pemeriksaan tanda-tanda vital

Laju jantung bayi baru lahir normal yaitu 110-180 x/menit, suhu

normal yaitu 36,5 oC-37,5 oC, dan ernafasan yaitu 40-60 x/menit.

b. Pemeriksaan antropometri

1) Panjang badan : panjang badan normal yaitu 48 cm-52 cm

2) Lingkar kepala : ukuran normalnya 32-35 cm

3) Berat badan : berat badan normal yaitu 2500 gr-4000 gram

4. Pemantauan Bayi Baru Lahir

Menurut Saifuddin (2008), tujuan pemantauan bayi baru lahir adalah

untuk mengetahui aktivitas bayi normal atau tidak dan identifikasi masalah
45

kesehatan bayi baru lahir yang memerlukan perhatian keluarga dan

penolong persalinan serta tindak lanjut petugas kesehatan.

5. Tanda-tanda Bahaya Bayi Baru Lahir

Menurut Wiknjosastro (2007), tanda-tanda bahaya yang perlu

diwaspadai pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut :

a. Sulit menyusu.

b. Letargi (tidur terus sehingga tidak menyusu).

c. Demam (suhu tubuh >38oC atau hipotermi <36oC).

d. Tidak BAB atau tidak berkemih setelah 3 hari lahir (kemungkinan bayi

mengalami atresia ani), tinja lembek, hijau tua, terdapat lendir atau darah

pada tinja.

e. Sianosis (biru) atau pucat pada kulit atau bibir, adanya memar, warna

kulit kuning (ikterus) terutama dalam 24 jam pertama.

f. Muntah terus-menerus dan perut membesar.

g. Kesulitan bernafas atau nafas lebih dari 60 kali per menit.

h. Mata bengkak dan bernanah atau berair.

i. Mekonium cair berwarna hijau gelap dengan lendir atau darah.

j. Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk dan berdarah.

Anda mungkin juga menyukai