Obesitas dan Obesitas Sentral di Indonesia
Obesitas dan Obesitas Sentral di Indonesia
net/publication/347994245
CITATIONS READS
20 2,011
2 authors, including:
Septiyanti Septiyanti
Indonesian Muslim University of Makassar
46 PUBLICATIONS 98 CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Septiyanti Septiyanti on 30 December 2020.
Septiyanti1*, Seniwati2
1
Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia
2
Departemen Kimia, Universitas Hasanuddin
Abstract
Obesity is a problem in various parts of the world where its prevalence is increasing rapidly,
both in developed and developing countries Obesity can occur because of an imbalance
between the energy from the food that comes in, which is greater than the energy used by the
body. This study aimed to see the characteristics of obesity and central obesity in adult society
in urban areas of Indonesia. This study used a cross-sectional study, by analyzing advanced
data on Basic Health Research (Riskesdas) in the biomedical field. The results of this study
indicated that in general obesity and central obesity increase with age, with the highest
prevalence being at the age of 40-59 years. Both obesity and central obesity were more
prevalent in female subjects. Obesity and central obesity were also more common among
subjects who graduated from high school and who work as housewives. Subjects of obesity and
central obesity experienced more abnormalities in biomedical examination than those with
normal BMI and abdominal circumference. For this reason, it is advisable to maintain a normal
BMI and abdominal circumference, especially for adults. This study proves that there are
significant differences in biomedical examination in those who are obese and not obese.
Abstrak
Obesitas menjadi masalah di berbagai belahan dunia dimana prevalensinya meningkat dengan
cepat, baik di negara maju maupun negara berkembang. Obesitas dapat terjadi karena adanya
ketidakseimbangan antara energi dari makanan yang masuk lebih besar dibanding dengan energi
yang digunakan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik obesitas dan obesitas
sentral pada masyarakat usia dewasa di daerah perkotaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan
studi cross sectional, dengan menganalisis lanjutan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
bidang biomedis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya obesitas dan obesitas
sentral meningkat seiring dengan pertambahan usia, dengan prevalensi tertinggi berada pada
usia 40-59 tahun. Baik obesitas maupun obesitas sentral lebih banyak terjadi pada jenis kelamin
perempuan. Obesitas dan obesitas sentral juga lebih banyak ditemukan pada mereka dengan
tingkat pendidikan tamat SLTA dan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Mereka dengan
obesitas dan obesitas sentral lebih banyak mengalami ketidaknormalan pemeriksaan biomedis
daripada mereka dengan IMT dan lingkar perut yang normal. Untuk itu disarankan perlu
menjaga IMT dan lingkar perut yang normal, khususnya bagi orang dewasa agar mengurangi
risiko mengalami ketidaknormalan pemeriksaan biomedis. Penelitian ini membuktikan bahwa
ada perbedaan bermakna pada pemeriksaan biomedis pada mereka yang obesitas dengan tidak
obesitas.
*Korespondensi:
Septiyanti, email: [Link]@[Link]
This is an open access article under the CC–BY license
118
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 2, No. 3, Desember 2020
PENDAHULUAN
Obesitas merupakan suatu keadaan yang terjadi jika kuantitas jaringan lemak
tubuh dibandingkan dengan berat badan total lebih besar dari keadaan normalnya, atau
suatu keadaan di mana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih sehingga berat
badan seseorang jauh di atas normal. Obesitas dapat terjadi karena adanya
ketidakseimbangan antara energi dari makanan yang masuk lebih besar dibanding
dengan energi yang digunakan tubuh (Sandjaja dan Sudikno, 2014).
Obesitas menjadi masalah di berbagai belahan dunia dimana prevalensinya
meningkat dengan cepat, baik di negara maju maupun negara berkembang. Terjadinya
peningkatan obesitas di seluruh dunia memiliki dampak penting pada gangguan
kesehatan dan penurunan kualitas hidup. Obesitas memiliki kontribusi penting terhadap
kejadian penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus tipe 2, kanker, osteoarthritis, dan
sleep apnea di seluruh dunia (Seidell dan Halberstadt, 2015).
Obesitas dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan yang serius, sebab
merupakan faktor risiko terjadinya penyakit degeneratif. Akumulasi lemak yang
berlebihan di jaringan adiposa dapat menyebabkan kesakitan dan kematian. Masalah
kesehatan yang berhubungan dengan obesitas termasuk diantaranya gangguan
kardiovaskular seperti hipertensi, stroke, dan penyakit jantung koroner, serta kondisi
yang berhubungan dengan resistensi insulin seperti diabetes melitus tipe 2, dan beberapa
tipe kanker (Medina-Remón et al, 2018). Obesitas juga berhubungan dengan
peningkatan inflamasi dan metabolisme tubuh yang abnormal, sehingga meningkatkan
risiko resistensi insulin, diabetes melitus tipe 2, stroke, dan penyakit kardiovaskular
(Munro et al, 2011).
Berdasarkan tempat penumpukan lemaknya, ada dikenal dengan sebutan obesitas
sentral, yaitu obesitas yang menyerupai bentuk apel yang mana lemak disimpan pada
pinggang dan rongga perut. Penumpukan lemak tersebut terjadi akibat adanya lemak
berlebihan pada jaringan lemak subkutan dan lemak visceral perut. Obesitas sentral
dikatakan lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan terutama yang berhubungan
dengan penyakit kardiovaskuler (Sudargo et al, 2014).
Obesitas sentral disebabkan oleh berbagai faktor, seperti faktor lingkungan, faktor
perilaku, dan faktor genetik. Faktor lingkungan sebagai komponen yang mempunyai
pengaruh terhadap obesitas, dimaknai sebagai suatu hal yang dapat mendorong
seseorang dalam mengonsumsi makanan sehari-hari yang kemudian akan berdampak
pada terjadinya obesitas. Faktor lingkungan tersebut dapat ditinjau dari faktor
lingkungan sosial dan budaya seseorang. Faktor lingkungan pula meliputi status sosial
ekonomi, pekerjaan, usia, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin (Nurjanah dan
Wahyono, 2019).
Faktor yang berikutnya yang mempengaruhi derajat kesehatan seseorang adalah
faktor perilaku. Perilaku yang meningkatkan kesehatan antara lain aktivitas fisik, gizi
seimbang, tidur yang cukup, perilaku tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol.
Faktor selanjutnya adalah faktor keturunan atau genetik. Keturunan (genetik)
merupakan faktor yang telah ada dalam diri manusia yang dibawa sejak lahir, misalnya
terdapat penyakit yang berasal dari golongan penyakit keturunan, contohnya diabetes
melitus (Nurjanah dan Wahyono, 2019). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
membandingkan karakteristik obesitas dan obesitas sentral pada masyarakat perkotaan
Indonesia, dengan menganalisis lanjutan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) bidang
biomedis.
119
Septiyanti & Seniwati Vol. 2, No. 3, Desember 2020
METODE
Desain penelitian ini adalah studi cross sectional yang menggunakan data hasil
riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2007, rumah tangga yang terpilih sebagai
sampel khususnya kelompok biomedis di seluruh Indonesia. Populasi pada penelitian ini
adalah semua sampel pengukuran biomedis yang tinggal di blok sensus dengan
klasifikasi perkotaan berjumlah 35,285 sampel, yang berasal dari 272 kabupaten/kota
dan 540 blok sensus. Untuk pemeriksaan kimia darah (kolesterol total, LDL/Low
Density Lipoprotein, HDL/High Density Lipoprotein, Lp(a)/Lipoprotein(a),
ApoB/Apolipoprotein B, dan hsCRP/high sensitivity C-Reactive Protein), sebanyak
13,134 sampel yang diambil dari anggota rumah tangga berusia 20-59 tahun. Data
kemudian dianalisis menggunakan uji chi square dengan bantuan SPSS Versi 20.
120
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 2, No. 3, Desember 2020
121
Septiyanti & Seniwati Vol. 2, No. 3, Desember 2020
pada Tabel 3. Berdasarkan tabel tersebut, diketahui bahwa subjek dengan kadar
kolesterol tidak normal lebih banyak pada mereka yang mengalami obesitas dan
obesitas sentral, dengan proporsi masing-masing sebesar 51,3% dan 51,2%. Proporsi
subjek yang tidak obesitas dan mengalami ketidaknormalan kadar kolesterol adalah
43,2%, sedangkan proporsi subjek yang tidak obesitas sentral dan mengalami
ketidaknormalan kadar kolesterol adalah sebesar 42,3%. Nilai signifikansi masing-
masing baik obesitas maupun obesitas sentral adalah p value 0,000, yang menunjukkan
bahwa ada perbedaan bermakna antara mereka yang obesitas/obesitas sentral dengan
mereka yang IMT/lingkar pinggang normal pada pemeriksaan kolesterol.
Pada pemeriksaan HDL, proporsi subjek dengan kadar HDL rendah lebih banyak
pada mereka yang obesitas, dengan proporsi sebesar 39%. Sedangkan pada obesitas
sentral, proporsi ketidaknormalan kadar HDL justru lebih banyak pada mereka yang
tidak obesitas sentral, dengan proporsi sebesar 35,7%. Nilai signifikansi pada obesitas
adalah p value 0,05, yang berarti bahwa ada perbedaan bermakna antara mereka yang
obesitas dengan mereka IMT normal pada pemeriksaan HDL. Sementara nilai
signifikansi pada obesitas sentral adalah p = 0,816, yang berarti bahwa tidak ada
perbedaan antara mereka yang obesitas sentral dengan mereka yang memiliki lingkar
linggang normal pada pemeriksaan HDL.
Berbeda lagi pada pemeriksaan LDL, terlihat bahwa kadar LDL yang tidak
normal lebih banyak terlihat pada mereka yang obesitas dan obesitas sentral (77,5% dan
77,7%). Baik obesitas dan obesitas sentral memiliki perbedaan bermakna (p < 0,05).
Pola yang berbeda sama juga terlihat pada ada tidaknya small dense LDL pada subjek.
Subjek dengan obesitas/obesitas sentral memang memiliki proporsi small dense LDL
yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak obesitas/obesitas sentral. Akan tetapi,
perbedaan bermakna hanya terlihat pada obesitas, dengan nilai p = 0,003, sementara
pada obesitas sentral memiliki nilai p = 0,868, yang berarti bahwa tidak ada perbedaan
bermakna pada obesitas sentral dengan yang tidak obesitas sentral pada pemeriksaan
small dense LDL.
Adapun pada pemeriksaan ApoB dan Lp(a) terlihat bahwa subjek obesitas dan
obesitas sentral lebih banyak yang mengalami ketidaknormalan kadar ApoB dan Lp(a).
Akan tetapi pada pemeriksaan Lp(a), baik obesitas maupun obesitas sentral tidak
memiliki perbedaan dengan mereka yang tidak obesitas/obesitas sentral. Sementara
pada pemeriksaan ApoB, keduanya (obesitas dan obesitas sentral) memiliki perbedaan
bermakna dengan nilai p = 0,000.
CRP merupakan protein fase akut yang meningkat pada waktu inflamasi sistemik,
yang dapat digunakan sebagai penunjang untuk menilai risiko penyakit kardiovaskular.
Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat bahwa pada pemeriksaan hsCRP, proporsi terbesar
berada pada risiko rendah, baik pada kelompok IMT maupun kelompok lingkar perut.
Mereka yang termasuk risiko sedang dan risiko tinggi lebih banyak pada subjek obesitas
dan obesitas sentral dibandingkan subjek dengan IMT dan lingkar perut normal. Baik
obesitas maupun obesitas sentral, keduanya memiliki nilai p = 0,000 yang berarti bahwa
ada perbedaan bermakna antara obesitas/obesitas sentral dengan mereka yang
IMT/lingkar pinggang normal berdasarkan pemeriksaan hsCRP.
122
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 2, No. 3, Desember 2020
Berdasarkan analisis pada penelitian ini, diketahui bahwa obesitas, baik obesitas
IMT dan obesitas sentral, meningkat seiring bertambahnya usia, dimana prevalensi
kejadian tertinggi adalah usia 40-59 tahun. Kemudian berdasarkan jenis kelamin,
perempuan lebih banyak mengalami obesitas IMT dan obesitas sentral. Hal ini bisa
dijelaskan dengan melihat pekerjaan dari subjek perempuan, dimana sebagian besar
subjek yang mengalami obesitas IMT dan obesitas sentral adalah mereka yang bekerja
sebagai ibu rumah tangga, sehingga dianggap kurang melakukan aktivitas fisik (Tabel 1
dan 2). Hal ini sejalan dengan penelitian Banshi Shaboo di India, bahwa perempuan
lebih banyak mengalami obesitas karena pada umumnya mereka tidak bekerja sehingga
kurang aktivitas fisik (Saboo et al, 2014). Peningkatan stress juga mempengaruhi
terjadinya obesitas pada perempuan (Mannan et al, 2016).
Ada banyak perubahan fisiologis dan komposisi tubuh yang terjadi seiring
bertambahnya usia seseorang. Penelitian Canning, et al. (2014) menyatakan bahwa
berat badan tubuh meningkat sepanjang rentang kehidupan sampai sekitar usia 60 tahun
dan kemudian cenderung menurun setelahnya.
Hubungan antara obesitas dan umur dapat dijelaskan, sebagian oleh sebab
penurunan tingkat aktivitas fisik seiring dengan bertambahnya usia, baik pada laki-laki
maupun perempuan (Milanović et al, 2013). Kejadian obesitas, terutama obesitas sentral
yang meningkat seiring bertambahnya usia seseorang disebabkan karena penumpukan
123
Septiyanti & Seniwati Vol. 2, No. 3, Desember 2020
lemak tubuh, terutama lemak pusat. Lemak subkutan yang terletak jauh dari daerah
batang didistribusikan kembali ke daerah perut yang menimbulkan risiko metabolik
yang lebih besar karena adipositas viseral atau abdominal lebih terkait erat dengan
banyak kondisi (Canning et al, 2014). Kecenderungan obesitas dialami oleh seseorang
yang berumur tua diduga akibat pola konsumsi yang tidak sehat seperti makanan tinggi
gula, lemak, makanan olahan, rendahnya aktivitas fisik, serta metabolism tubuh yang
berjalan lambat (Moreira et al, 2014).
Prevalensi obesitas IMT lebih banyak pada perempuan dibandingkan laki-laki, hal
ini dapat dijelaskan karena perempuan juga lebih banyak yang mengalami obesitas
sentral. Perbedaan metabolism lemak antara laki-laki dan perempuan juga dapat
menjelaskan mengapa prevalensi obesitas lebih banyak pada perempuan daripada laki-
laki. Sejalan dengan studi Du et al. (2013), bahwa pada umumnya perempuan memiliki
lemak tubuh yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Selain itu, perempuan juga
menunjukkan akumulasi jaringan adipose preferensial di daerah gluteofemoral.
Sementara pada laki-laki lebih rentan terhadap penumpukan lemak daerah perut, kondisi
yang dikenal dengan obesitas sentral (Du et al, 2013).
Berbeda dengan yang didapat dari penelitian Du et al, bahwa pada penelitian ini
obesitas baik obesitas IMT maupun obesitas sentral lebih banyak terjadi pada
perempuan. Selain itu, perempuan menopause rentan mengalami obesitas dibandingkan
perempuan yang belum menopause (Al-Safi dan Polotsky, 2015) Hal ini disebabkan
karena penurunan massa otot dan perubahan status hormon. Hilangnya siklus
menstruasi mempengaruhi asupan kalori dan sedikit menurunkan konsumsi metabolik,
meskipun sebagian besar kenaikan berat badan tersebut dikaitkan dengan penurunan
aktivitas fisik (Rachmawati dan Murbawani, 2015). Selain itu, penuaan dan transisi
menopause masing-masing terkait dengan perubahan dalam metabolisme jaringan
adiposa, yang dapat berkontribusi pada penumpukan lemak tubuh setelah menopause
(Davis et al, 2012).
Berdasarkan pekerjaan, prevalensi obesitas IMT dan obesitas sentral lebih tinggi
pada mereka yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (Tabel 1 dan 2). Hal ini dapat
dijelaskan karena mereka kurang melakukan aktivitas dibandingkan dengan mereka
yang bekerja. Beberapa penelitian menunjukkan ada hubungan antara pekerjaan dengan
obesitas. Penelitian di Iran menemukan bahwa pekerjaan sebagai ibu rumah tangga
memiliki prevalensi obesitas terbesar dibandingkan pekerjaan lainnya (Navadeh et al,
2011). Studi lainnya di Iran memperlihatkan bahwa pekerjaan ibu rumah tangga
berhubungan dengan kelebihan berat badan dan obesitas (Kolahi et al, 2018).
Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Saboo et al di Sri Lanka, bahwa ibu
rumah tangga juga memiliki prevalensi obesitas terbesar, terutama pada mereka dengan
status social ekonomi menekah ke atas dibandingkan dengan status social ekonomi
menengah ke bawah (Saboo et al, 2014). Demikian juga dengan penelitian Kim et al di
Korea, obesitas sentral lebih banyak ditemukan pada ibu rumah tangga dibandingkan
pekerjaan lainnya pada perempuan (Kim dan Oh, 2012).
Terdapat hubungan antara obesitas dan pekerjaan ini diduga disebabkan karena
hubungannya dengan aktivitas fisik. Kurangnya pekerjaan di luar rumah dapat
berkontribusi pada tingginya prevalensi obesitas pada ibu rumah tangga. Apalagi ibu
rumah tangga biasanya tidak memiliki kebiasaan berolahraga dan aktivitas secara rutin.
Sementara di beberapa negara di Afrika, kegemukan pada perempuan dianggap sebagai
lambang kemakmuran dan kecantikan (Kandala dan Stranges, 2014). Selain itu,
menurut Robles, mereka yang tidak bekerja/status pekerjaan rendah berhubungan
124
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 2, No. 3, Desember 2020
dengan terbatasnya kemampuan untuk memperoleh makanan sehat yang mana hal itu
dapat meningkatkan risiko obesitas (Robles et al, 2014). Mereka yang sudah tidak
bekerja lebih banyak menderita obesitas daripada mereka yang masih aktif bekerja
(Septiyanti et al, 2020).
Berdasarkan analisis data pada penelitian ini, diketahui bahwa mereka yang
mengalami obesitas, baik obesitas IMT maupun obesitas sentral lebih banyak yang
mengalami ketidaknormalan pemeriksaan biomedis (Tabel 3). Obesitas dan obesitas
sentral dapat mengidentifikasi individu yang memiliki risiko penyakit kardiovaskular
(Hou et al, 2013).
Penelitian lain oleh Engin menyimpulkan bahwa prevalensi dislipidemia dan
metabolik sindrom meningkat seiring dengan peningkatan IMT (Engin, 2017).
Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian oleh Feingold et al (2018) bahwa terdapat
abnormalitas lipid pada orang-orang yang mengalami obesitas (Feingold dan Grunfeld,
2018).
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dengan
abnormalitas lipid, terutama obesitas sentral. Umumnya, prevalensi kolesterol tinggi dan
kadar HDL rendah juga meningkat seiring dengan peningkatan indeks massa tubuh (G.
C. Moreira et al, 2014). Akumulasi lemak pusat dan adanya resistensi insulin
berhubungan dengan dislipidemia. Peningkatan rasio lingkar pinggang-panggul
ditemukan berhubungan dengan partikel small dense LDL (Gentile et al, 2017). Pola
distribusi lemak sentral juga berhubungan dengan peningkatan VLDL dan
intermediatedensity lipoprotein (IDL), serta penurunan kadar kolesterol.
Di negara-negara barat, lingkar perut lebih sensitif dalam memprediksi risiko
penyakit kardiovaskular daripada IMT. Namun, belum terdapat banyak penelitian
apakah di negara Asia juga mengalami hal yang serupa. Beberapa penelitian
memperlihatkan adanya perbedaan persentase lemak tubuh antara populasi Barat dan
Asia. Populasi Asia memiliki persentase lemak tubuh yang lebih rendah daripada
populasi Barat. Sementara sebuah penelitian di China menyimpulkan bahwa IMT dan
lingkar perut berhubungan dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular pada orang
China dewasa. Pengukuran lingkar perut dan IMT dapat menambah informasi tambahan
mengenai risiko penyakit kardiovaskular (Hou et al, 2013). Mereka dengan kelebihan
berat badan dan obes lebih berisiko mengalami hipertensi, dislipidemia, dan metabolik
sindrom dibandingkan dengan mereka dengan berat badan normal. Penelitian oleh
Bener et al (2013) menyatakan bahwa IMT dan lingkar perut tidak dapat memprediksi
risiko kesehatan berkaitan dengan obesitas lebih baik daripada pengukuran lingkar
perut sendiri (Bener et al, 2013).
KESIMPULAN
125
Septiyanti & Seniwati Vol. 2, No. 3, Desember 2020
DAFTAR PUSTAKA
Al-Safi ZA, Polotsky AJ. 2015. Obesity and Menopause, Best Practice & Research
Clinical Obstetrics & Gynaecology, 29(4): 548–553.
Bener A, Yousazsai MT, Darwish S, Al-Hamaq A, Abdullah OAA, Nasrallah, Eman A,
Abdul Ghani M. 2013. Obesity index that better predict metabolic syndrome:
body mass index, waist circumference, waist hip ratio, or waist height ratio,
Journal of obesity. Hindawi.
Canning KL, Brown RE, Jamnik VK, Kuk JL. 2014. Relationship Between Obesity and
Obesity-Related Morbidities Weakens With Aging. The Journals of Gerontology:
Series A, 69(1): 87–92.
Davis SR, Castelo-Branco C, Chedraui P, Lumsden MA, Nappi RE, Shah D, Villaseca
P. 2012. Understanding weight gain at menopause. Climacteric. Taylor & Francis,
15(5): 419–429.
Du T, Sun X, Yin P, Huo R, Ni C, Yu X. 2013. Increasing trends in central obesity
among Chinese adults with normal body mass index, 1993-2009. BMC Public
Health, 13(1).
Engin A. 2017. The definition and prevalence of obesity and metabolic syndrome’, in
Obesity and lipotoxicity. Springer, pp. 1–17.
Feingold KR dan Grunfeld C. 2018. Obesity and dyslipidemia, in Endotext [Internet].
MDText. com, Inc.
Gentile M, Iannuzzo G, Mattiello A, Rubba F, Panico S. 2017. Association between
body shape index and small dense LDL particles in a cohort of mediterranean
women: findings from Progetto Atena, Journal of Clinical Biochemistry and
Nutrition. Society For Free Radical Research Japan, 61(2): 130–134.
Hou X, Lu J, Weng J, Ji L, Shan Z, Liu J, Tian H, Ji Q, Zhu D, Ge J. 2013. Impact of
waist circumference and body mass index on risk of cardiometabolic disorder and
cardiovascular disease in Chinese adults: a national diabetes and metabolic
disorders survey. PloS one. Public Library of Science, 8(3): e57319.
Janssen I, Katzmarzyk PT, Ross R. 2004. Waist circumference and not body mass index
explains obesity-related health risk. The American journal of clinical nutrition.
Oxford University Press, 79(3): 379–384.
Kandala NB, Stranges S. 2014. Geographic variation of overweight and obesity among
women in Nigeria: a case for nutritional transition in sub-Saharan Africa. PloS
one. Public Library of Science, 9(6): e101103.
Kim E, Oh SW. 2012. Gender differences in the association of occupation with
metabolic syndrome in Korean adults. The Korean Journal of Obesity. Korean
Society for the Study of Obesity, 21(2): 108–114.
Kolahi AA, Moghisi A, Ekhtiari YS. 2018. Socio-demographic determinants of obesity
indexes in Iran: findings from a nationwide STEPS survey. Health promotion
perspectives. Tabriz University of Medical Sciences, 8(3): 187.
Mannan M, Mamun A, Doi S, Clavarin A. 2016. Is there a bi-directional relationship
126
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 2, No. 3, Desember 2020
between depression and obesity among adult men and women? Systematic review
and bias-adjusted meta analysis, Asian Journal of Psychiatry, 21: 51–66.
Medina-Remón A, Kirwan R, Lamuela-Raventos, Rosa M, Estruch R. 2018. Dietary
patterns and the risk of obesity, type 2 diabetes mellitus, cardiovascular diseases,
asthma, and neurodegenerative disease. Critical reviews in food science and
nutrition. Taylor & Francis, 58(2): 262–296.
Milanović Z, Pantelić S, Trajković N, Sporiš G, Kostić R, James N. 2013. Age-related
decrease in physical activity and functional fitness among elderly men and
women. Clinical interventions in aging. 2013/05/21. Dove Medical Press, 8: 549–
556.
Moreira GC, Cipullo JP, Ciorlia LAS, Cesarino CB, Vilela-Martin JF. 2014. Prevalence
of metabolic syndrome: association with risk factors and cardiovascular
complications in an urban population. PloS one. Public Library of Science, 9(9):
e105056.
Moreira PL, Corrente JE, Villas Boas PJF, Ferreira ALA. 2014. Dietary patterns are
associated with general and central obesity in elderly living in a Brazilian city.
Revista da Associação Médica Brasileira. Scielo. 457–464.
Munro, Irene A, Garg LM. 2011. Weight loss and metabolic profiles in obese
individuals using two different approaches. Food & Function, 2: 611–616.
Navadeh S, Sajadi L, Mirzazade A, Asgari F, Haghazali M. 2011. Housewives’ obesity
determinant factors in iran; national survey-stepwise approach to surveillance.
Iranian journal of public health. Tehran University of Medical Sciences, 40(2): 87.
Nurjanah NAL, Wahyono TYM. 2019. Tantangan Pelaksanaan Program Prevention Of
Mother To Child Transmission (PMTCT): Systematic Review, Jurnal Kesehatan
Vokasional, 4(1): 55.
Rachmawati PA, Murbawani EA. 2015. Hubungan asupan zat gizi, aktivitas fisik, dan
persentase lemak tubuh dengan gangguan siklus menstruasi pada penari.
Diponegoro University.
Robles B, Frost S, Moore L, Harris CV, Bradlyn AS, Kuo T. 2014. Overweight and
obesity among low-income women in rural West Virginia and urban Los Angeles
County. Preventive medicine. Elsevier, 67: S34–S39.
Saboo B, Talaviya P, Chandarana H, Shah S, Vyas C, Nayak H. 2014. Prevalence of
obesity and overweight in housewives and its relation with household activities
and socio-economical status. Journal of Obesity and Metabolic Research, 1(1):
20–24.
Sandjaja dan Sudikno. 2014. Prevalensi gizi lebih dan obesitas penduduk dewasa di
Indonesia. Gizi Indonesia, 28(2): 1–7.
Seidell JC, Halberstadt J. 2015. The global burden of obesity and the challenges of
prevention. Annals of Nutrition and Metabolism, 66(suppl 2): 7–12.
Septiyanti S, Jafar N, Hendrayati H. 2020. Hubungan status sosial ekonomi dengan
sindrom metabolik pada pasien Rawat Jalan RSUD Labuang Baji Kota Makassar.
Indonesian Journal of Health, 1(1): 43–52.
Sudargo T, Freitag H, Rosiyani F, Kusmayanti NA. 2014. Pola makan dan obesitas.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
127