Panduan Sistem Bahan Bakar Diesel Elektronik
Panduan Sistem Bahan Bakar Diesel Elektronik
Student Guide
Modul Teknisi Layanan Caterpillar
APLTCL042
Sistem Bahan Bakar Diesel – Engine Elektronik
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Reproduksi dari setiap bagian buku ini tanpa izin dari
pemilik hak cipta adalah melanggar hukum. Permohonan izin atau informasi lebih lanjut harus
dialamatkan ke Manajer, Asia Pacific Learning, Australia.
Materi pokok ini dikeluarkan oleh Caterpillar of Australia Pty Ltd dengan pemahaman bahwa:
1. Caterpillar Australia Pty Ltd, para petugasnya, penerbit, atau orang lain yang terlibat
dalam persiapan penerbitan ini menyatakan tidak bertanggung jawab atas semua bentuk
kontraktual, pelanggaran hukum, atau bentuk pertanggungjawaban lainnya kepada siapa pun
(pembeli terbitan ini atau bukan) yang berhubungan dengan penerbitan ini dan setiap
konsekuensi yang timbul dari penggunaannya, termasuk penghapusan seluruh atau setiap
bagian dari isi terbitan ini oleh siapa pun.
2. Caterpillar Australia Pty Ltd menyatakan tidak bertanggung jawab kepada siapa pun
dalam hal apa pun, dan konsekuensi dari apa pun yang dilakukan atau dihapus oleh orang
yang dipercaya, baik seluruhnya maupun sebagian, terhadap seluruh atau bagian dari isi
materi pokok ini.
Penghargaan
Kami mengucapkan terima kasih kepada Keluarga Caterpillar atas sumbangannya dalam
mengkaji ulang kurikulum untuk program ini khususnya:
Ahli teknik dan instruktur Caterpillar
Ahli teknik dan instruktur dealer
Institut Caterpillar
SISTEM BAHAN BAKAR DIESEL – ENGINE ELEKTRONIK
PENDAHULUAN MODUL
Judul Modul
Sistem Bahan Bakar Disel – Engine Elektronik
Keterangan Modul
Modul ini mencakup pengetahuan dan keterampilan mengenai Sistem Bahan Bakar Disel –
Engine Elektronik. Setelah menyelesaikan modul ini dengan berhasil, siswa akan mampu secara
kompeten merawat dan melakukan servis pada Sistem Bahan Bakar Disel – Engine Elektronik.
Prasyarat
Modul berikut ini harus diselesaikan sebelum mempelajari modul ini:
Kesehatan & Keselamatan Kerja
Metode Penilaian
Untuk modul ini, siswa diwajibkan untuk berpartisipasi dalam kelas dan aktivitas-aktivitas bengkel
praktis serta menyelesaikan dengan memuaskan aktivitas-aktivitas berikut:
Buku Kerja Kegiatan
Penilaian Pengetahuan
Kegiatan Praktek
Tempat Kerja
Untuk menunjukkan kompetensi dalam modul ini siswa diwajibkan untuk menyelesaikan
Penilaian di Tempat Kerja secara memuaskan.
Bab 1: Menjelaskan prinsip-prinsip mesin dan proses pembakaran di dalam sebuah mesin
diesel.
Kriteria Penilaian
1.1 Menjelaskan siklus operasi
1.1.1. Siklus mesin
[Link] Siklus empat langkah (four-stroke cycle)
[Link] Siklus dua langkah ((two-stroke cycle)
1.1.2. Scavenging
[Link] Uniflow
1.1.3. Blower
1.1.4. Turbocharger
1.2 Menjelaskan perbedaan antara mesin berbahan bakar bensin dan disel
1.2.1 Bahan bakar ke ruang pembakaran (combustion chamber)
1.2.2 Rasio kompresi
1.2.3 Tekanan kompresi
1.2.4 Suhu kompresi
1.2.5 Pengisian bahan bakar
1.2.6 Crankshaft RPM
1.2.7 Torsi
1.2.8 Efisiensi panas
1.2.9 Gas buangan
1.2.10 Pengendalian kecepatan
1.3 Mengidentifikasi ruang pembakaran
1.3.1 Rancangan ruang pembakaran
1.3.2 Injeksi langsung atau ruang terbuka
1.3.3 Ruang berputar (Swirl chamber)
1.3.4 Ruang pra-pembakaran
1.4 Menjelaskan konsep dari injeksi bahan bakar disel
1.4.1. Kapan di-injeksikan
1.4.2. Jumlah bahan bakar
1.4.3. Waktu untuk bahan bakar terbakar
1.5 Menerangkan kondisi operasi mesin diesel
1.5.1 Kecepatan low idle
1.5.2 Kecepatan high idle
1.5.3 Kecepatan yang dinilai
1.5.4 Kelebihan kecepatan
1.5.5 Lug
1.6 Menerangkan proses pembakaran
1.6.1 Persyaratan untuk pembakaran sempurna
1.6.2 Fase (tahapan) pembakaran
[Link] Periode penundaan
[Link] Pembakaran yang tidak terkendali
[Link] Pembakaran yang terkendali
[Link] Setelah pembakaran
1.6.3 Metode untuk mengurangi penundaan
1.6.4 Istilah-istilah pembakaran
[Link] Ketukan disel (Diesel knock)
[Link] Turbulensi
[Link] Efek squish
[Link] Masked valve
[Link] Tangential Port
[Link] Suhu penyalaan otomatis
Bab 2: Mengidentifikasi Modul Pengendalian Elektronik untuk sistem bahan bakar elektronik
Caterpillar.
Kriteria Penilaian
2.1 Mengidentifikasi komponen elektronik yang digunakan untuk Modul
Pengendalian Elektronik
2.1.1 Input
2.1.2 Control
2.1.3 Output
2.2 Mengidentifikasi fungsi utama dari Electronic control module
2.2.1 Operasi
2.2.2 Input
2.2.3 Sinyal balik
2.3 Mengidentifikasi berbagai jenis Modul Pengendalian Elektronik dan menjelaskan
fungsinya
2.3.1 Manajemen Mesin diesel Lanjut
[Link] ADEM II
- Personality Module
- Pemantauan ECM
- Parameter yang dapat diprogram khusus untuk pelanggan
- ECM Event Code
[Link] ADEM III
- Personality Module
- Fitur
[Link] Informasi manajemen ADEM.
Kriteria Penilaian
3.1 Mengidentifikasi jenis-jenis sensor elektronik dan menjelaskan operasinya
3.1.1 Sensor kecepatan
[Link] ADEM II kecepatan mesin/waktu
[Link] ADEM 2000 (ADEM III) kecepatan mesin/posisi
[Link] Kecepatan kendaraan
3.1.2 Sensor suhu
[Link] Pendingin
[Link] Oli
[Link] Udara masuk
[Link] Pembuangan
[Link] Bahan Bakar
3.1.3 Sensor tekanan
[Link] Oli
[Link] Bahan Bakar
[Link] Boost
[Link] Udara
[Link] Injection Actuation Pressure Control Valve (IAPCV)
[Link] Injection Actuation Pressure (IAP)
3.1.4 Sensor aktif
3.1.5 Sensor pasif
3.1.6 Sensor posisi
[Link] Throttle position sensor
[Link] Coolant level sensor
3.1.7 Sensor perhitungan waktu kecepatan(Speed timing sensor)
3.1.8 ADEM III (ADEM 2000)
[Link] Speed timing sensor (pasif)
[Link] Sensor kecepatan kendaraan
[Link] Sensor suhu
Kriteria Penilaian
4.1 Pengenalan pada Sistem Bahan Bakar Electronic Unit Injector (EUI) Caterpillar
4.1.1 Fitur
4.1.2 Manfaat
4.2 Mengidentifikasi komponen dari Sistem Bahan Bakar Electronic Unit Injector
(EUI) Caterpillar
4.2.1 Komponen
[Link] Injector connector
[Link] Ground stud
[Link] Turbo outlet boost pressure sensor
[Link] Sensor suhu udara masuk
[Link] Timing calibration sensor
[Link] Speed timing sensor
[Link] Saluran bahan bakar
[Link] Filter bahan bakar
[Link] Sensor suhu pendingin mesin
[Link] Sensor tekanan udara
[Link] Sensor tekanan oli
4.2.2 Komponen timing calibration
[Link] Timing calibration probe
[Link] Crankshaft
4.2.3 Aliran bahan bakar
[Link] Pemisah filter/air utama
[Link] Pompa transfer
[Link] Pompa priming
[Link] Check valve
[Link] Filter sekunder
[Link] ECM
[Link] Injektor
[Link] Pressure regulator
4.3 Menjelaskan operasi dari Caterpillar Electronic Unit Injector (EUI)
4.3.1 Komponen
[Link] Injektor terdahulu
[Link] Injektor kemudian
4.3.2 Aktuasi
4.3.3 Operasi
[Link] Pra-injeksi
[Link] Awal injeksi
[Link] Injeksi
[Link] Akhir injeksi
4.4 Jelaskan operasi dari sistem Pengendali yang diasosiasikan dengan Sistem
Bahan Bakar Caterpillar Electronic Unit Injector (EUI)
4.4.1 Pengatur elektronik (Electronic governor)
[Link] Sensor kecepatan/timing
[Link] Timing wheel
- Timing mark
- Pengaturan gigi dan sensor
- Sinyal PWM
- Timing wheel teeth dan spacing
- Setelah mengenali pola
4.4.3 Pengendalian Sistem
[Link] Batas sistem bahan bakar
[Link] Cold mode sistem bahan bakar
[Link] Penurunan nilai (Derate)
4.4.4 Kalibrasi Sistem
Bab 5: Menjelaskan prosedur untuk melepaskan dan memasang kembali sebuah injektor
bahan bakar di suatu Sistem Bahan Bakar Caterpillar Electronic Unit Injection (EUI).
Kriteria Penilaian
5.1 Menjelaskan prosedur untuk melepaskan dan memasang kembali suatu injektor
bahan bakar di dalam suatu Sistem Bahan Bakar Caterpillar Electronic Unit
Injection (EUI)
5.1.1 Rocker arm dan shaft
5.1.2 Pelepasan unit injector
5.1.3 Pelepasan unit injector sleeve
5.1.4 Pemasangan unit injector sleeve
5.1.5 Pemasangan unit injector
5.1.6 Pemasangan rocker arm dan shaft
5.1.7 Kalibrasi – kode injektor
[Link]. Kode injector trim
[Link]. Memasang hardware
[Link]. Memasukkan trim code ke dalam ECM
Kriteria Penilaian
6.1 Pengenalan pada Sistem Bahan Bakar Caterpillar Hydraulic Electonic Unit
Injection (HEUI)
6.1.1 Fitur
6.1.2 Manfaat
6.2 Mengidentifikasi komponen pada Sistem Bahan Bakar Caterpillar Hydraulic
Electonic Unit Injection (HEUI)
6.2.1 Pompa oli pelumas
6.2.2 Kumpulan pompa hidraulik tekanan tinggi
[Link] Pompa transfer bahan bakar
[Link] Check valve untuk aliran balik
[Link] Saluran suplai oli
[Link] Compensation valve
[Link] Pump control valve
6.2.3 Electronic control module
6.2.4 Throttle sensor
6.2.5 Timing calibration sensor
6.2.6 Sensor kecepatan/timing
[Link] Timing wheel
6.2.7 Injektor
6.2.8 Sensor suhu
[Link] Pendingin mesin
6.2.9 Sensor tekanan
[Link] Turbocharger masuk
[Link] Turbocharger outlet
[Link] Tekanan udara
6.2.10 CAT Data Link
6.2.11 Konektor
[Link] Timing calibration connector
[Link] Service tool connector
6.2.12 Water separator/filter primer
6.2.13 Filter sekunder
6.1.14 Ground level shutdown switch
6.3 Menjelaskan operasi dari sistem bahan bakar Caterpillar Hydraulic Electronic
Unit Injector (HEUI)
6.3.1 Komponen listrik
6.3.2 Machine interface connector
6.3.3 Sistem pengendali elektronik
6.3.4 Injeksi bahan bakar
6.3.5 Tes-tes
[Link] Tes solenoid
[Link] Cylinder Cutout (cylinder cut-out)
[Link] Pengetesan injektor otomatis
6.3.6 Sistem pengontrolan injeksi bahan bakar
6.3.7 Electronic governor
6.3.8 Komponen
6.3.9 Sensor kecepatan/timing
6.3.10 Timing wheel
6.3.11 Meng-crank (Cranking)
6.3.12 Setelah mengenali pola
6.3.13 Operasi normal
6.3.14 Timing calibration
6.3.15 Injection current waveform
6.3.16 Gerakan poppet valve
6.3.17 Karakteristik bentuk gelombang dan respon
6.3.18 Batas sistem bahan bakar
6.3.19 Cold mode sistem bahan bakar
6.3.20 Penurunan nilai peringkat (Derate) sistem bahan bakar
6.3.21 Sistem injeksi bahan bakar
[Link] Komponen
[Link] Oli tekanan rendah
[Link] Oli tekanan tinggi
[Link] Bahan bakar tekanan rendah
Bab 7: Menjelaskan prosedur untuk melepaskan dan memasang kembali sebuah injektor
bahan bakar di dalam suatu Sistem Bahan Bakar Caterpillar Electronic Unit Injection
(EUI).
Kriteria Penilaian
7.1 Menjelaskan prosedur untuk mengganti dan memasang-kembali sebuah injektor
bahan bakar di dalam sebuah Sistem Bahan Bakar Caterpillar Electronic Unit
Injection (EUI)
7.1.1 Rocker arm dan shaft
7.1.2 Pelepasan unit injector
7.1.3 Pelepasan unit injector sleeve
7.1.4 Pemasangan unit injector sleeve
7.1.5 Pemasangan unit injector
7.1.6 Pemasangan rocker arm dan shaft
7.1.7 Kode injektor – kalibrasi
[Link] Kode injector trim
[Link] Memasang hardware
[Link] Memasukkan trim code ke dalam ECM
Bab 8: Melaksanakan tugas-tugas penyervisan pada sebuah sistem bahan bakar elektronik
Prasyarat:
Semua siswa telah harus menyelesaikan penilaian pengetahuan sebelum mencoba
Bab ini.
Kriteria Penilaian
8.1 Menyebutkan dan mengikuti tindakan pencegahan untuk keselamatan yang
harus dipatuhi untuk menghindari cidera diri atau kerusakan pada alat
8.2 Tugas-tugas penyervisan diidentifikasi sesuai dengan spesifikasi pabrik pembuat
8.3 Tugas-tugas terdiri dari:
8.3.1 Pemeriksaan visual
8.3.2 Penggunaan skematik untuk mengidentifikasi:
[Link] Lokasi komponen elektronik
[Link] Warna dan nomor kabel
[Link] Lokasi pin dan socket
8.3.3 Membongkar dan merakit kembali konektor-konektor
8.3.4 Memasang filter bahan bakar primer dan sekunder
8.3.5 Menggunakan sebuah multimeter untuk memeriksa tegangan
8.3.6 Menggunakan ET Caterpillar untuk:
[Link] Menemukan dan mencetak informasi
[Link] Memantau status screen
[Link] Mendapatkan kode diagnosa aktif
[Link] Mendapatkan dan menghapus kode diagnosa yang dicatat
[Link] Gunakan dan program kunci fungsi
[Link] Menemukan nilai tattletale
[Link] Mengganti sebuah parameter
[Link] Mengganti tampilan antara unit metrik dan imperial
[Link] Melaksanakan tes diagnosa
8.4 Dokumentasi workshop yang sesuai diisi lengkap
8.5 Tugas-tugas diselesaikan:
Bab 9: Mengganti sebuah ECM dan Injektor pada sebuah mesin yang diperlengkapi dengan
sistem bahan bakar EUI atau HEUI.
Prasyarat:
Semua siswa harus sudah mengikuti penilaian pengetahuan sebelum mencoba Bab
ini.
Kriteria Penilaian
9.1 Menyebutkan dan mengikuti tindakan pencegahan untuk keselamatan yang
harus dipatuhi untuk menghindari cidera diri atau kerusakan pada alat
9.2 Tugas-tugas diidentifikasi sesuai dengan spesifikasi pabrik pembuat
9.3 Tugas-tugas terdiri dari:
9.3.1 Pemeriksaan visual
9.3.2 Melepaskan dan memasang sebuah ECM
9.3.3 Melepaskan dan memasang sebuah injektor
9.3.4 Pengetesan fungsi
9.4 Dokumentasi bengkel yang sesuai diisi lengkap
9.5. Tugas-tugas diselesaikan:
9.5.1 Tanpa mengakibatkan kerusakan pada komponen atau alat
9.5.2 Menggunakan perkakas, teknik dan bahan yang benar
9.5.3 Sesuai dengan pedoman, prosedur dan kebijakan industri/perusahaan
9.5.4 Menggunakan dan menginterpretasikan informasi yang benar dari
spesifikasi pabrik pembuat.
Catatan:
Para siswa boleh mengganti item-item yang cacat yang dilepaskan dari
rangkaian, asalkan semua laporan item yang cacat dicatat dan
dilaporkan kepada fasilitator.
DAFTAR ISI
TOPIK 1
Mengulas Prinsip-Prinsip Mesin
Prinsip dari operasi siklus Compression Ignition Engine 4 langkah (4 stroke Compression Ignition
– (CI)) (Gambar 1) adalah sama dengan siklus otto. Perbedaan dasarnya adalah hanya udara
yang ditekan dalam mesin penyalaan kompresi (Compression Ignition Engine) dan bukan
campuran bahan bakar dan udara. Engine Compression Ignition empat-langkah memerlukan:
Induction stroke dimana piston bergerak menuruni silinder dan memberikan jalan masuk
bagi udara bersih.
Compression stroke yang meningkatkan suhu dari pengisian udara yang cukup tinggi untuk
menyalakan bahan bakar pada saat diinjeksikan di dekat puncak dari langkah kompresi.
Power stroke dimulai dengan peningkatan pada tekanan yang diciptakan oleh penyebaran
bahan bakar yang terbakar dengan cepat. Tekanan tinggi mengeluarkan gayanya pada
piston sehingga piston bergerak menuruni silinder. Selama terjadinya power stroke, tekanan
dipertahankan pada piston karena periode injeksi bahan bakar yang diperpanjang.
Exhaust stroke membuang gas yang terbakar dari silinder pada saat piston bergerak kembali
ke atas silinder.
Pada sebuah Engine 4-stroke, power stroke, per silinder, terjadi pada setiap dua perputaran.
2 stroke CI Engine menyelesaikan SATU perputaran crankshaft untuk satu siklus operasi
(Gambar 2). Urutan peristiwa adalah sama (induksi, kompresi, daya dan pembuangan) seperti
siklus empat langkah (4 stroke cycle) tetapi dengan suatu pengaturan-kembali pada interval
waktu.
4 stroke engine dengan piston yang bergerak menaiki silinder, pada awalnya membersihkan gas,
residu dikeluarkan dengan pengisian udara segar yang masuk saat Periode Overlap Valve.
Untuk mengatasi pembersihan dari residu gas terbakar pada mesin diesel 2 stroke, maka metode
pembersihan uniflow digunakan.
Blower
Blower adalah sebuah pompa udara yang digerakkan secara mekanik, yang harus dipasang
pada semua mesin diesel 2 stroke. Blower meningkatkan tekanan udara yang masuk sebesar 20
hingga 50 kPa dan hal ini membantu pada pembuangan gas pembuangan secara efisien
(pembersihan).
Turbocharger
Sebuah turbocharger adalah sebuah pompa udara yang digerakkan oleh gas buangan yang
dapat dipasang untuk meningkatkan daya mesin, di mesin 2 stroke atau 4 stroke.
Baik mesin bensin (Petrol) maupun diesel adalah mesin Internal Combustion (IC) yang bekerja
pada siklus dua (2 stroke) ataupun empat langkah (4 stroke). Jika dilihat dari rancangan dasar,
kedua mesin tersebut hampir sama. Perbedaan yang utama antara kedua mesin itu adalah
metode pemasukan bahan bakar ke dalam ruang pembakaran, serta cara untuk menyalakannya.
Akan tetapi, meskipun rancangan dasarnya hampir sama, karakteristik fitur dan kinerja mesin
dapat sangat berbeda.
Mesin diesel
Fitur untuk dibandingkan Mesin Bensin
berkecepatan tinggi
Bahan bakar yang digunakan Disel Tingkat “A” (Disuling) Bensin atau Gas
Pemasukan Bahan Bakar ke
Silinder
Bagaimana caranya Injektor Karburator atau Injektor
Di mana Ruang Pembakaran Manifold atau Inlet Port
Kapan Menjelang akhir dari Selama Induction Stroke
Compression Stroke
Rasio Kompresi Dari 14:1 hingga 24:1 Dari 7:1 hingga 10:1
Tekanan Kompresi 3150 kpa hingga 3850 kpa 770 kpa hingga 1400 kpa
Suhu Kompresi 425oC hingga 550oC Hingga250oC
Penyalaan (Ignition) Secara spontan karena panas Percikan Listrik
dari udara yang dikompresi
Crankshaft Maksimum (RPM) 2000 hingga 4000 RPM 4000 hingga 6000 RPM
Torsi / Torque Hanya bervariasi sedikit Sangat bervariasi selama
selama rentang kecepatan rentang kecepatan
Efisiensi Panas/Thermal Eficiency 35% hingga 40% 25% hingga 30%
Tingkat CO rata-rata gas buangan 0.1% hingga 0.2% hingga 4%
Speed Control / Kontrol kecepatan Hanya bahan bakar Volume bahan bakar
campuran
Tabel 1 – Tabel Perbandingan
Tabel 1 menggambarkan beberapa perbedaan antara mesin bensin (Petrol) dan mesin diesel
berkecepatan tinggi dari ukuran yang hampir sama.
Pada sebuah mesin bensin (Petrol Engine), bahan bakar dan udara tercampur di Throat / leher
sebuah karburator. Campuran udara/bahan bakar kemudian melewati karburator, melalui inlet
manifold ke ruang pembakaran mesin, yang kemudian dinyalakan oleh sebuah spark plug
setelah dikompresi.
Rasio Kompresi
Rasio kompresi (Compression Ratio) adalah suatu perbandingan volume udara dalam silinder
ketika piston berada di BDC, dengan adanya volume udara di silinder ketika piston berada di
TDC. Volume udara yang ada di silinder ketika piston berada di BDC adalah sama dengan
volume yang terbawa (volume yang dipindahkan oleh piston) ditambah volume ruang (clearance
volume) (pada saat piston berada di TDC adalah sama dengan volume ruang). Oleh karena itu,
Compression Ratio = Volume yang Terbawa (Swept Volume) + Volume Ruang (Clearance Volume)
Volume Ruang (Clearance Volume)
Untuk menyalakan bahan bakar yang diinjeksikan, rasio kompresi pada sebuah mesin diesel
harus lebih tinggi dibandingkan dengan mesin bensin (Petrol).
CATATAN:
Suhu kompresi adalah suhu yang dicapai oleh udara karena kompresi dalam silinder, dan bukan
suhu gas dalam silinder ketika pembakaran sedang berlangsung.
Ketika udara dalam silinder sebuah mesin diesel dikompresi pada tingkat yang lebih tinggi
dibandingkan dengan udara dalam silinder sebuah mesin bensin (Petrol), maka kemudian
kompresi suhu di dalam sebuah mesin diesel lebih besar dibandingkan dengan kompresi suhu di
dalam sebuah mesin bensin (Petrol Engine).
Suhu kompresi yang sebenarnya dari udara dalam silinder pada sebuah mesin IC terutama
tergantung pada tekanan kompresi, yang pada gilirannya, tergantung pada rasio kompresi serta
kemampuan mekanik dari mesin tersebut.
Timing dari penyalaan sebuah mesin bensin (Petrol Engine) dikendalikan oleh timing percikan
(Spark Timing). Timing dari sebuah mesin diesel dikendalikan pada saat injeksi.
Torsi (Torque)
Perbedaan dalam karakteristik torsi pada mesin bensin (Petrol Engine) dan mesin diesel secara
langsung berhubungan dengan pembakaran bahan bakar dan rancangan mesin. Pada sebuah
mesin bensin (Petrol Engine), tekanan maksimum silinder, setelah pembakaran, berlangsung
hanya sebentar. Pada sebuah mesin diesel tekanan maksimum silinder berlangsung beberapa
lama setelah piston memulai power stroke-nya.
Torsi pada sebuah mesin bensin (Petrol Engine) sangat bervariasi karena rentang kecepatannya
lebih besar. Mesin diesel yang diatur memiliki rentang kecepatan yang dikurangi dengan
mempertahankan torsi yang lebih konsisten.
Karena suatu rasio kompresi tinggi digunakan dalam mesin diesel, pembakaran terjadi pada
kondisi tekanan silinder yang tinggi dan porsi bahan bakar yang besar yang dibakar secara
efisien. Ini menjadikan adanya sejumlah besar energi panas untuk melakukan pekerjaan pada
piston.
Karena tekanan kompresi yang lebih rendah dalam silinder sebuah mesin bensin (Petrol Engine),
jumlah bahan bakar yang terbakar secara efektif tidak akan sebanyak bahan bakar yang dibakar
dalam sebuah mesin diesel. Karena itu, jumlah energi panas yang dikeluarkan dari bahan bakar
yang disuplai ke sebuah mesin bensin (Petrol Engine) akan kurang dibandingkan dengan yang
dikeluarkan dari bahan bakar yang disuplai pada sebuah mesin diesel.
Karena efisiensi panas sebuah mesin diesel lebih tinggi dibandingkan dengan efisiensi panas
sebuah mesin bensin (Petrol Engine), mesin yang berbahan bakar diesel lebih hemat bahan
bakar.
Semua udara dikompresi di dalam silinder utama (main cylinder). Puncak dari piston biasanya
dibentuk menjadi ruang pembakaran (Gambar 3). Bentuk rongga di mahkota piston (piston
crown) dapat berbentuk bola, silinder atau mangkuk. Turbulensi di-induksi dengan intake port
bersudut, rancangan masked intake valve serta bentuk piston crown.
Karakteristik:
Efisiensi panas yang tinggi
Hemat bahan bakar
Mesin dapat di-start dengan mudah dalam keadaan dingin
Kerugian:
Ukuran injector orifice yang kecil dengan mudah tersumbat
Diperlukan tekanan injeksi tinggi untuk menembus udara yang berkompresi tinggi
Berjalan dengan kasar pada kecepatan rendah yang disebabkan oleh periode penundaan
penyalaan yang meningkat karena turbulensi yang terbatas.
Dalam rancangan ruang pembakaran direct injection, bahan bakar langsung diinjeksikan ke
dalam silinder melalui nozzle.
Swirl chamber umunmnya dibentuk dalam kepala silinder, berbentuk bola dan dihubungkan ke
silinder utama oleh sebuah leher yang miring.
Selama kompresi udara didorong dari silinder melalui leher ke dalam swirl chamber. Hal ini
mengakibatkan putaran udara berkecepatan tinggi yang memberikan percampuran udara dan
semprotan bahan bakar yang diinjeksikan secara lebih baik, dan dengan demikian mengurangi
periode penundaan penyalaan.
Karakteristik:
Pembakaran berlangsung cepat dan lebih sempurna
"Ketukan Disel" berkurang
Pengurangan dari periode penundaan memungkinkan output torsi yang fleksibel
Pada beberapa rancangan yang efisien, daya ditingkatkan dan konsumsi bahan bakar
diturunkan
Beberapa bentuk pra-pemanasan (pre-heating) umumnya diperlukan untuk memungkinkan
melakukan start pada mesin dari keadaan dingin
Sebagian dari panas kompresi dan pembakaran hilang ke dalam dinding pada separate
chamber.
Terdapat kecenderungan bahwa gas yang terbakar tetap berada di dalam swirl chamber
(pembersihan yang buruk/poor scavenging).
Kerugian:
Kehilangan panas yang tinggi
Diperlukan alat bantu start di udara yang dingin
Pembersihan gas buangan yang tidak efisien
Diperlukan rasio kompresi yang lebih tinggi.
Ruang dengan kepala silinder terhubung pada silinder oleh sebuah saluran yang kecil. Putaran
udara tidak diinduksi selama kompresi (Gambar 6).
Bahan bakar diinjeksi ke dalam ruang di mana pembakaran dimulai. Ketika tekanan naik,
campuran yang terbakar didorong melalui saluran kecil dan bercampur dengan udara di dalam
silinder utama, di mana pembakaran yang stabil dan sempurna berlangsung dalam tekanan
silinder yang relatif rendah.
Pada sebuah sistem PC, pre-combustion nozzle discrewkan langsung ke dalam kepala silinder
(Gambar 7). Nozzle menginjeksi bahan bakar ke dalam ruang pra-pembakaran (pre-heating) di
mana bahan bakar itu dinyalakan. Hal ini mendesak bahan bakar yang tersisa ke dalam ruang
utama di mana pembakaran penuh berlangsung. Dalam beberapa mesin, glow plug digunakan
untuk memanaskan udara ketika menyalakan mesin.
KONSEP INJEKSI
Sebagian besar pabrik pembuat mesin terus menerus mengembangkan sistem bahan bakar
yang baru dan meningkatkan sistem yang ada saat ini dalam upaya meningkatkan kinerja,
efisiensi dan mengurangi emisi mesin. Kita akan membahas konsep injeksi ini sebelum
membahas tiga sistem secara terperinci.
Dalam mesin diesel, bahan bakar diinjeksikan selama compression stroke, sebelum piston
mencapai pusat paling puncak. Prinsip dasar dari injeksi bahan bakar adalah bahwa jumlah
bahan bakar yang tepat harus diinjeksikan pada saat yang tepat untuk memenuhi kebutuhan
horse power mesin.
Bahan bakar memerlukan waktu untuk terbakar. Jumlah bahan bakar yang tepat harus
diinjeksikan pada titik yang tepat dalam compression stroke, sehingga dapat terbakar dengan
sempurna. Hal ini dikenal sebagai burn window (1) sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 8.
Burn window diukur dalam derajat rotasi crankshaft. Hal ini berarti, jumlah derajat crankshaft
berputar pada saat bahan bakar diinjeksikan. Burn window dijelaskan sebagai titik mulai injeksi,
atau timing dan lamanya waktu injeksi atau jangka waktu. Timing (2) dan jangka waktu (3) diukur
dalam derajat rotasi crankshaft.
Berbagai kondisi mesin diesel dibahas dan dijelaskan dengan menggunakan kurva horse power.
Idle rendah adalah kecepatan yang paling rendah dimana mesin bisa berjalan tanpa beban.
Pompa injeksi bahan bakar dikalibrasi agar jumlah minimum dari bahan bakar disalurkan ke
mesin (Gambar 9).
Kecepatan idle tinggi adalah RPM maksimum dimana mesin bisa berjalan tanpa beban (Gambar
10).
Semua mesin diesel diberi suatu peringkat yang disebut beban penuh / full load pada kecepatan
yang ditetapkan nilainya. Hal ini adalah RPM dimana mesin beroperasi dengan beban penuh /
full load dan governor flyweights serta pegas distabilkan untuk memberikan suatu RPM yang
konstan (Gambar 11).
Kelebihan Kecepatan
Kadang-kadang mesin dioperasikan sedemikan rupa sehingga RPM dipaksa untuk melebihi idle
RPM yang tinggi (Gambar 12). Governor menghentikan bahan bakar namun mesin mampu
melebihi kecepatan idle tinggi ketika digerakan oleh momentum kendaraan berat kembali melalui
drivetrain. Ini disebut kelebihan-kecepatan / Over speed dan dalam keadaan tertentu dapat
mengakibatkan kerusakan total pada mesin. Kelebihan-kecepatan secara normal dapat
dikendalikan oleh operator kendaraan.
Lug
Gambar 13 - Lug
Mesin diesel dirancang untuk dibebani melebihi kondisi beban penuh (Gambar 13). Governor
atau Electronic control module (Electronic Control Module - ECM) memungkinkan bahan bakar
bergerak hingga maksimum, akan tetapi beban dapat cukup tinggi untuk menyebabkan mesin
melambat. Hal ini disebut sebagai operasi lug. Dalam keadaan seperti ini governor tidak dapat
menyesuaikan kebutuhan horse power, karena tidak ada lagi bahan bakar yang tersedia.
PEMBAKARAN
Di dalam silinder mesin diesel udara dikompresi untuk menghasilkan suhu setinggi kira-kira
540ºC (1000ºF).
Bahan bakar diinjeksikan ke dalam udara ini, di bawah tekanan tinggi, dalam partikel yang sangat
kecil (dibuat menjadi atom).
Ketika memasuki ruang pembakaran partikel yang kecil ini dikelilingi oleh udara yang dipanaskan
dan permukaannya mulai menguap. Ketika uap mencapai suhu yang cukup, pembakaran
dimulai. Dengan penguapan yang berkelanjutan dan pembakaran maka oksigen segar diperlukan
untuk mendukung pembakaran.
Ketika pembakaran telah dimulai, peningkatan yang cepat dalam suhu menyebabkan bahwa
bahan bakar masih tetap masuk ke ruang pembakaran untuk menyalakan dengan segera.
harus tersedia pasokan udara yang cukup agar bahan bakar dengan efektif dapat bercampur
dengan udara tersebut
bahan bakar harus diinjeksikan ke ruang pembakaran dalam kondisi atomisasi yang tinggi
diperlukan turbulensi yang cukup agar semua partikel bahan bakar dapat berhubungan
dengan oksigen yang cukup untuk pembakaran yang sempurna
suhu kompresi harus cukup tinggi untuk menyalakan bahan bakar di atau berdekatan dengan
dimulainya injeksi.
Gambar 14
1. Kompresi yang benar, timing, atomisasi dan kisaran panas operasi mesin
2. Peringakat fuel cetane yang benar
3. Pengisian turbo
4. Nozzle jenis penundaan.
ISTILAH-ISTILAH PEMBAKARAN
Turbulensi / Turbulence
Turbulensi adalah gerakan udara terkompresi di dalam ruang pembakaran untuk memastikan
pencampuran yang menyeluruh antara bahan bakar yang diatomisasi dan udara agar
menghasilakan pembakaran bahan bakar yang sempurna.
Induksi / Induction
Di mana inlet valve dan induction port bersudut dirancang untuk menghasilkan suatu gerakan
berputar pada pengisian udara segar.
Kompresi / Compression
Dengan menggunakan piston crown yang dibentuk dengan khusus
Dengan menggunakan swirl chamber yang terpisah dalam kepala silinder.
Pembakaran / Combustion
Di mana pembakaran dimulai dalam suatu pra-pembakaran dan mengalir ke dalam ruang
utama.
Efek Squish
Squish adalah suatu bentuk turbulensi udara dan merupakan gerakan udara yang cepat dari
dinding silinder menuju ke pusat silinder, selama tahap selanjutnya pada compression stroke
dalam rancangan ruang terbuka.
Masked Valve
Masked valve yang ditutup mempunyai sebuah deflektor pada sisi muka kepala katup yang
menyebabkan udara masuk mengalir pada jalur yang terarah, yang mengakibatkan bahwa udara
berputar di sekeliling lingkar silinder. Katup dipasang oleh sebentuk kunci untuk menghindari
agar tidak berputar.
Tangenial Port
Gambar 15
Tangenial port digunakan pada mesin 2 stroke untuk membantu mempromosikan turbulensi
dan secara efektif membersihkan gas buangan (Gambar 15).
TOPIK 2
Electronic control module
KOMPONEN ELEKTRONIK
Semua komponen elektronik dapat dikategorikan melayani dalam tiga fungsi dasar: Input,
Pengendalian / Control dan Output
Input
Sensor, sakelar input (switch input), pembumian (ground), daya
Pengendalian / control
Personality module, parameter, Modul Pengendalian Elektronik (Electronic Control Module -
ECM), Data link
Output
Injektor, aktuator, lampu peringatan, alat pengukur.
1. Input - contoh terdiri dari sensor, misalnya sensor suhu pendingin pada sakelar input
seperti cruise control.
Peralatan yang akan mengontrol mesin adalah personality module, software yang menentukan
horse power dan torsi mesin. Parameter adalah setelan (setting) dalam personality module yang
dapat mempengaruhi operasi keseluruhan atau kinerja. ECM, yang tidak dapat direparasi,
bertindak sebagai housing untuk sirkuit elektronik. Data link yang digunakan untuk komunikasi
dua arah antara mesin dan sistem kontrol kendaraan elektronik dapat diklasifikasikan dalam
kategori "kontrol".
Akhirnya, output melakukan pekerjaan, seperti injektor yang menyediakan pengirimkan bahan
bakar yang tepat. Aktuator, seperti Injection Actuation Pressure Control Valve (IAPCV)
mengkonversikan sebuah sinyal listrik dari ECM ke kontrol mekanis pada spool valve agar dapat
mengendalikan tekanan outlet pompa. Warning lamp memberi peringatan mengenai suatu
masalah yang menghalangi, dan alat ukur seperti tachometer atau speedometer dapat gerakkan
oleh ECM. Masalahnya bukan bagaimana aliran arus ECM beroperasi, akan tetapi bagaimana
berinteraksi dengan mesin. Kita tidak boleh membongkar ECM, maka sirkuit internal tidak
relevan. Kita harus berfokus pada langkah yang diperlukan untuk mengatasi masalah ECM,
wiring harness atau sensor dalam keadaan tertentu. Selanjutnya, kita harus memahami
bagaimana parameter dapat mengoptimalkan kinerja ECM untuk pelanggan.
Gambar 16
ECM (Gambar 16) memberi daya pada komponen yang diperlukan untuk operasi yang benar dan
kemudian memantau input melalui sinyal balik (return signal). Setelah memberi daya dan
memantau komponen, ECM mengendalikan operasi yang benar pada mesin.
Untuk dapat melakukan kerja dengan efisien, ECM memerlukan input baterai positif dan
pembumian (ground) yang sesuai. Sebuah personality module (p/m) menciptakan "identitas"
mesin. Sebagai contoh, identitas ini menerangkan apakah mesin adalah mesin C-15 atau C-16.
Di samping itu, identitas ini menyediakan peta peringkat dan kinerja.
CONTOH:
Pada permainan Nintendo, kotak pengendali utama adalah ECM. Permainan yang dipilih adalah
p/m. Ingat, komunikasi dengan ECM tidak dapat diperoleh tanpa kekuatan baterai yang benar
dan sebuah p/m yang diprogram yang benar serta dipasang dengan tepat.
ECM juga meminta parameter untuk didefinisikan dan membutuhkan input dari sensor.
Personality Module
- 1993/1995 FLASH atau change PM
- 1995/ ke atas, hanya FLASH (truk)
ADEM II diperkenalkan pada tahun 1993. ADEM II adalah ECM pertama yang memiliki dua
konektor. Pada awalnya, ADEM II memiliki sebuah personality module yang dapat diubah atau
FLASHED. Ini adalah yang pertama untuk memilah konektor OEM dan Caterpillar - dua 40 pin
connector. Alat ini memiliki mikroprosesor 16 bit ganda. ADEM II terdapat pada truk dari 1993
hingga 1998 C-10, C-12, 3176B, 3406E, 3126. Terdapat pada non truk 3406, dan 3500B dari
1994 hingga 2001.
Pada tahun 1995 kami tidak lagi memproduksi mesin dengan personality module yang dapat
dipindahkan. Sejak saat itu, ECM harus FLASHED.
ADEM - II
Gambar 18
Pada ADM-II ECM terdapat heavy duty 40 pin connector kembar (Gambar 18). Ini adalah
Control Module yang pertama untuk memisahkan mesin dan konektor kendaraan. Modul ini
adalah sebuah housing aluminium yang disegel dengan empat shock isolator untuk
mengurangsi vibrasi. Bahan bakar dialirkan melalui sebuah saluran dalam ECM housing
untuk menghasilkan operasi yang efisien. Saluran bahan bakar/ fuel line sejajar dengan
transistor driver untuk injektor. Bahan bakar membantu mencegah siklus panas. Tujuannya
bukanlah semata-mata mendinginkan ECM karena sebenarnya ditujukan untuk
mempertahankan suhu ECM yang lebih konstan.
Gambar 19
Aliran arus internal terdiri dari sebuah PC board terintegrasi tinggi dan mikroprosesor 16 bit
ganda (Gambar 19). Alat ini adalah sebuah board 10 lapis dengan 1000 hingga 1200
komponen. Disamping itu, ECM ini mengandung sebuah sistem elektronik diagnosa otomatis
yang secara potensial dapat memberi peringatan mengenai keadaan atau masalah sistem
mesin.
ECM yang lebih dahulu terutama digunakan untuk control mesin, tetapi hanya memiliki sedikit
fungsi tambahan. Ketika lebih banyak fungsi ditambahkan, seperti pemantauan perlindungan
mesin, pengendalian PTO, serta menjadi tempat untuk berbagai parameter lain yang dapat
diprogram, ECM dan p/m software harus menjadi lebih cepat dan lebih kompleks.
Gambar 20
Sebuah board kedua memungkinkan ECM digunakan pada mesin yang lebih besar (Gambar
20).
Gambar 21
Sistem kontrol elektronik mencakup engine monitoring. Sistem ini memantau oil pressure
mesin, coolant temperature, inlet manifold air temperature dan coolant level (Gambar 21).
Pada truk di-jalan tol, OEM bertanggung jawab untuk menyediakan dam memasang coolant
level sensor. Coolant level sensor adalah satu-satunya sensor yang dapat dipilih secara
individu untuk Pemantauan Mesin, Parameter Pelanggan ECM yang Dapat Diprogram (ECM
Customer Programmable Parameter) mengaktifkan coolant level sensor. Setelan default dari
pabrik adalah “enabled”. Parameter Pelanggan ECM yang Dapat Diprogram mempunyai
empat mode untuk Pemantauan Mesin:
Off Mode – ECM akan mengabaikan sensor tekanan oli dan sensor tingkat pendingin. Suhu
Pendingin masih digunakan untuk Cold Mode. Inlet manifold air temperature digunakan untuk
pengoperasian dalam udara dingin apapun mode monitoring mesin.
PERINGATAN:
Mode (Default dari Pabrik) – Mode peringatan menggunakan sensor berikut ini: oil pressure,
coolant temperature, inlet manifold temperature dan coolant level. Pada saat sebuah kode
diagnosa aktif, Lampu Pemeriksa Mesin (Check Engine Lamp) akan berkedip dan warning
lamp akan menyala.
Mode Menurun (Derate Mode) – Derate Mode dan Shutdown Mode memungkinkan ECM
mengubah kinerja mesin. Derate Mode dan Shutdown Mode membantu mesin untuk dapat
mencegah kerusakan. Mesin harus kembali ke normal jika kondisi yang menyebabkan
masalah telah dikoreksi. Ketika kemampuan yang telah diperingkat pada mesin diturunkan,
check engine lamp dan warning lamp akan berkedip.
Gambar 22
CATATAN:
Untuk penjelasan singkat dari setiap parameter spesifikasi pelanggan, lihat Pedoman
Troubleshooting atau Buku Manual Pedoman Operasi dan Perawatan.
Kode ini mengindikasikan adanya suatu kejadian (event). Kode-kode ini tidak harus
mengindikasikan suatu masalah di dalam sistem elektronik. Namun, peristiwa-peristiwa ini dapat
menyebabkan kerusakan pada mesin. Kode tersebut di-record dengan tanggal dan waktu di
dalam ECM, dan password pabrik harus diganti. Event code dapat ditarik dari ECM untuk alasan
pertanggungjawaban dan keabsahan.
CATATAN:
Hal ini tidak berlaku untuk semua aplikasi.
Penjelasan yang rinci mengenai setiap event code ini terdapat di dalam Buku Pedoman
Troubleshooting Elektronik.
ADEM III
Personality Module
Hanya FLASH.
ADEM III atau ADEM 2000 mempunyai dua konektor 70 pin, dan satu mikroprosesor 32 bit. Untuk
pertama kalinya hal ini diperkenalkan dengan 3126B pada tahun 1998. Pada tahun 1999
ditambah menjadi C-10, C-12, 3406E. Pada tahun 2000, 3406E menjadi C-15 dan C-16. Dalam
bulan Maret 2001, 3126B menjadi 3126E. ADEM III berupa FLASH saja. Saluran bahan bakar
bisa ada atau tidak ada di dalam ECM housing yang terhubung. (Aplikasi truk tidak memilikinya,
tetapi untuk mesin, untuk keperluan industri, dan untuk angkatan laut mungkin ada).
Tidaklah mungkin untuk mengambil ECM dari sebuah 3126E dan menggunakannya pada C-10.
ECM HEUI adalah sebuah nomor suku cadang yang berbeda, dan memiliki I/O yang berbeda
yang disebabkan oleh IAPCD dan sensor tekanan HEUI. Jika flashfile yang salah dinyalakan ke
dalam suatu ECM, maka ECM bisa rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi. Dengan demikian harus
dibeli sebuah ECM yang baru. Caterpillar-pun tidak dapat mengubahnya.
Nomor seri ECM dengan jelas ditandai di bagian depan. Ini adalah sebuah nomor berisi 10 digit
yang berakhir dengan dua huruf. Di samping itu, nomor seri dapat dibaca dari ET. ECM juga
memiliki nomor suku cadang Caterpillar.
Gambar 24
ECM Mengendalikan….
Pengiriman bahan bakar
Tekanan injeksi
Timing injeksi
Personality Module…
FLASH program software
Meng-update dengan menggunakan perkakas servis Teknisi Elektronik (Electronik Technician
– ET)
ECM mengendalikan jumlah bahan bakar yang diinjeksikan oleh berbagai sinyal ke unit
injector elektronik. Unit injector elektronik akan menginjeksikan bahan bakar HANYA jika
solenoid unit injector elektronik diaktifkan. ECM mengirimkan 95 hingga 105 VDC yang di-
pulse ke solenoid untuk membangkitkan solenoid. Dengan mengendalikan awal dan akhir dari
voltase yang diaplikasikan, ECM dapat mengendalikan timing injeksi. Dengan mengendalikan
jangka waktu voltase yang digunakan, ECM dapat mengendalikan volume bahan bakar yang
diinjeksikan.
ECM menentukan batasan tertentu jumlah bahan bakar yang dapat diinjeksikan.
Pengendalian Rasio Bahan Bakar (Fuel Ration Control – FRC) Fuel POS adalah suatu
batasan yang didasarkan pada tekanan boost agar dapat mengendalikan campuran
udara/bahan bakar untuk pengendalian emisi. Ketika ECM mendeteksi suatu peningkatan
pada tekanan boost, ECM meningkatkan FRC Fuel POS. Fuel POS yang diberi peringkat
adalah sama dengan dengan rack stop dan torque spring pada sebuah mesin yang diatur
secara mekanik. Disamping itu, hal ini juga menyediakan horse power dan kurva torsi untuk
suatu horse power rating tertentu. Batas-batasnya diprogram oleh pabrik menjadi suatu
Personality Module.
Timing injeksi tergantung pada tiga faktor: kecepatan mesin (RPM), beban mesin beserta data
mesin yang lain. ECM menentukan posisi puncak tengah dari silinder nomor 1 dari sinyal yang
diberikan oleh sensor posisi crankshaft. ECM menentukan kapan injeksi bahan bakar harus terjadi
relatif dengan posisi puncak tengah. ECM kemudian memberikan sinyal ke unit injector elektronik
pada waktu yang tepat.
Ketika permintaan untuk fitur elektronik yang baru dan yang lebih baik semakin meningkat, ECM
juga harus lebih baik dan meningkat Agar dapat memenuhi persyaratan yang meningkat maka
aliran arus harus lebih besar, karena itu terdapat prosesor 32 bit 24 MHz dengan koneksi 70 pin
ganda, yang dilapisi emas.
Komunikasi antara elektronik mesin dan elektronik kendaraan adalah suatu keharusan. Data link
adalah suatu koneksi listrik untuk berkomunikasi dengan perangkat berbasis mikroprosesor lain
pada kendaraan yang menggunakan data link. Perangkat ini sesuai dengan standar SAE dan
terdiri dari trip recorder, dashboard elektronik dan sistem perawatan. Data link juga merupakan
medium untuk komunikasi yang digunakan untuk memprogram dan melakukan troubleshooting
pada perkakas servis elektronik Caterpillar.
Berikut ini adalah sebuah daftar fitur ADEM 2000 (Khusus untuk truk).
Gambar 25
Teknologi ADEM memungkinkan informasi disimpan di ECM. Informasi ini dapat diperoleh-
kembali oleh pelanggan. Informasi perawatan tersedia dan memungkinkan pelanggan untuk
menyesuaikan interval servis pada aplikasi, berdasarkan bahan bakar atau jam. Sebagai
tambahan pada data perawatan, ECM menghitung, mencatat dan menyimpan data yang berharga
bagi pemakai. Pelanggan memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah kerusakan dan
diagnosa seperti pemakaian bahan bakar (idle time yang berlebihan). Mesin mencatat informasi
sebelum, selama, dan setelah kerusakan yang mempercepat dilakukannya diagnosa kerusakan.
Pelanggan memiliki catatan yang akurat mengenai faktor bebab aktual untuk setiap pekerjaan dan
usia pakai mesin.
Secara langsung – RPM mesin, persen beban / percent load, peringkat bahan bakar / fuel rate,
temperature, pressure, pekerjaan aliran tegangan baterai – jam, bahan bakar yang digunakan,
waktu idle, bahan bakar saat idle yang digunakan, faktor beban rata-rata.
Total usia pakai / life time total – jam mesin, total bahan bakar yang digunakan, total bahan
bakar idle yang digunakan, total waktu idle, rata-rata faktor beban total bahan bakar maksimum
yang digunakan.
Histogram – persen kehilangan vs waktu, kecepatan mesin vs waktu.-
TOPIK 3
Sensor Elektronik
SENSOR KOMPONEN ELEKTRONIK
Temperature Sensor
Pendingin
Engine coolant temperature diukur oleh sebuah sensor elektronik yang dipasang pada coolant
outlet housing. Sinyal dari coolant temperature sensor digunakan untuk memodifikasi campuran
dan perhitungan waktu bahan bakar. Hal ini mengakibatkan cold start dan pembersihan asap
putih yang lebih baik. ECM mensuplai temperature sensor dengan 5.0 + 0.5 VDC. Tegangan
output dari sensor adalah dari 0,5 VDC hingga 4,5 VDC. Tegangan output dari sensor tergantung
pada temperature dari Engine coolant. Temperature sensor digunakan untuk mengindikasikan
operasi mode dingin dan digunakan untuk memantau mesin.
Oil
Oil Temperature sensor tidak dipasang pada semua mesin.
Umumnya, dalam aplikasi truk, jika sebuah pengukur suhu oli dipasang di dalam kabin
kendaraan, sebuah sinyal pengambil-kesimpulan digunakan dari coolant temperature sensor
untuk memberikan bacaan suhu oli
Sebelum sebuah kode diagnosa di-log ke dalam ECM, maka air inlet manifod temperature harus
melebihi suhu yang diindikasikan selama tigapuluh detik. Kode diagnosa untuk Suhu Tinggi Inlet
Manifold digerakkan pada 91°C (195 °F). Kode diagnosa untuk Suhu Sangat Tinggi Inlet Manifold
digerakkan pada 110°C (230 °F). Berbeda dengan kode diagnosa yang diasosiasikan dengan
Pemantauan Mesin, kode yang diasosiasikan dengan suhu inlet udara manifold masih ada ketika
Pemantauan Mesin berada pada “OFF”. Lampu Peringatan juga dinyalakan jika Pemantauan
Mesin diprogram untuk Peringatan, Penurunan nilai peringkat (Derate) atau Mati.
Pembuangan / Exhaust
Dipasang oleh OEM.
Bahan bakar
Suhu bahan bakar dipantau agar sesuai dengan perhitungan untuk tingkat bahan bakar. Suhu
bahan bakar juga dipantau untuk koreksi power ketika suhu bahan bakar melebihi 30°C (86°F).
agar dapat menyediakan daya yang konstan. Koreksi daya maksimum dicapai pada 70°C
(158°F). Suhu bahan bakar yang melebihi 90°C (194°F) selama sepuluh menit akan
mengakibatkan diagnostic code di-log.
Pressure sensor:
Oli
Sensor tekanan oli adalah suatu sensor tekanan absolut yang mengukur tekanan oli di dalam
lorong oli (oil gallery). Tekanan oli ini dikomunikasikan melalui data link dan ditampilkan oleh
electronic service tool. ECM menggunakan input sensor hanya jika parameter untuk Pemantauan
Mesin diprogram untuk Peringatan, Penurunan nilai (Derate), atau Mati. Sensor disediakan oleh
ECM dengan 5 VDC.
Bahan bakar
Sensor tekanan bahan bakar pada sebagian besar mesin tidak dipasang dari pabrik. Mesin seri
3500 mempunyai Fuel pressure sensor baik sebelum maupun sesudah secondary fuel filter.
Boost
Boost pressure sensor adalah sebuah sensor tekanan absolut yang mengukur tekanan inlet
manifold. Perbedaan antara pengukuran tekanan inlet manifold dan tekanan yang diukur oleh
atmospheric pressure sensor disebut tekanan boost. Informasi ini dikomunikasikan ke peralatan
servis dan melalui data link. Boost presssure sensor disediakan dengan + 5 VDC oleh ECM.
Atmosfir
Atmospheric pressure sensor adalah sebuah sensor tekanan absolut yang mengukur tekanan
crankcase. Baik boost pressure dan oil pressure dikomunikasikan ke peralatan servis dan melalui
data link. Kedua tekanan dihitung dengan mengurangi bacaan untuk atmospheric pressure
sensor. Atmospheric pressure sensor disuplai sebesar +5 VDC oleh ECM.
IAP sensor
Sensor tekanan aktuasi injeksi adalah sebuah sensor yang mengukur Oil hydraulic pressure.
Sensor juga mengirimkan sebuah sinyal ke ECM.
Sensor aktif
Sensor yang aktif mempunyai sirkuit atau “otak” di dalam sensor. Sensor ini membutuhkan daya
dari ECM untuk dapat berfungsi dengan benar. Agar dapat memeriksa sebuah sensor aktif,
sensor tersebut harus diberi daya. Sensor aktif dirancang dengan tiga atau empat kabel. Sensor
ini memerlukan sebuah breakout-tee untuk mengatasi masalah dengan benar.
Sensor Pasif
Sensor pasif TIDAK memerlukan daya dari ECM. “Otak” untuk sensor berlokasi di ECM.
Pemasangan kedua kabel ini mengukur resistensi dan hemat biaya.
Position Sensor
Position sensor mengubah posisi komponen mekanik menjadi sinyal elektrik untuk ECM.
Throttle position sensor memberikan informasi “kecepatan mesin yang diinginkan” yang terus-
menerus ke ECM (Gambar 26).
Ketiga kabel harus dihubungkan ke ECM. Ground harus selalu berasal dari ECM. Bukan
merupakan suatu ide yang bagus untuk mengalirkan ground ke engine ground stud. Hal ini dapat
mengakibatkan suatu koneksi ground yang “berisik”.
Adalah mungkin untuk memiliki sebuah truk yang memiliki sensor yang dipasang pada pedal , dan
sebuah TPS jarak jauh (remote TPS) di tempat lain di truk tersebut. Remote bisa berjenis “can”
atau dipasang pada pedal (tuas). 8V remote throttle harus selalu dihubungkan dan dibumikan
melalui ECM. (12 atau 24V dapat menggunakan tegangan sistem).
Hingga suatu batas tertentu, sensor remote saling menggantikan. Jika Anda memasang sensor
8V yang lebih baru dengan tipe “can”, maka Anda harus menyertakan baterai 12V. Sensor itu
tidak akan beroperasi dengan 8V. Sinyal output adalah sama.
Jika Duty cycle < 5% atau >95%, sebuah kode 91-13 akan muncul (throttle sensor calibration).
Mesin akan mencoba untuk bekerja pada low idle. Jika diberi beban, mesin akan berhenti. Mesin
dapat di-restart tanpa sinyal yang benar, namun mesin hanya akan idle. Ini salah satu alasan
terjadi Hal ini merupakan salah satu penyebab terjadinya sendawa kecepatan (speed burp).
Sebagai contoh: Seandainya Duty cycle 18% pada low idle dan 97% pada high idle. Mesin akan
bekerja dengan baik kecuali di sisi high. Saat Anda melebihi 95%, mesin akan turun ke low idle.
Jika pedal agak diangkat sedikit, maka mesin berjalan dengan baik.
Pada tahun 1990 hingga 1993 diperkenalkan throttle position sensor yang dipasang pada pedal.
Sensor ini memperoleh 12 volt dari ECM, dan merupakan sensor dengan 3 kabel. (Tidak dicat).
Sensor yang dipasang pada pedal ini membatasi hubungan yang mengakibatkan beberapa
masalah sebagaimana telah disebutkan di atas. Sekali lagi, ini adalah sebuah sinyal PWM dan
menggunakan sebuah konektor heavy duty. Sebuah alat servis seperti misalnya, ET atau ECAP
dapat digunakan untuk mengkalibrasi sensor. Untuk sensor yang dipasang pada pedal, duty cycle
harus berada antara 10 – 22% pada low idle, dan 75 – 90% pada high idle. Rentang yang lebih
lebar membantu meningkatkan keandalannya.
Gambar 27
Pada tahun 1993 throttle position sensor menjadi sebuah komponen yang disupplai sebesar 8 volt
dengan 3 kabel (Gambar 27). Disamping itu, konektor DT berubah dari socket menjadi pin. Sekali
lagi di bawah 5% dan di atas 95% duty cycle, fault akan terpicu.
Sensor bersifat fleksible sehingga dapat digunakan untuk beberapa aplikasi. Untuk kekuatan dan
ketepatan suatu sirkuit elektronik aktif digunakan.
Gambar 28
Kabel “A” adalah Supply Voltage (Gambar 28) yang berwarna merah.
Kabel “C” adalah Signal yang dikirim kembali ke ECM. Warnanya putih.
Gambar 29
Coolant level sensor secara terus-menerus memantau coolant level dan mengirimkan informasi
ke ECM (Gambar 29). Alat ini merupakan bentuk heavy metal untuk tujuan tahan lama. Sebagai
tambahan, susunan straight thread o-ring digunakan agar mesin bebas bocor.
Gambar 31
Pada Gambar 31 diperlihatkan sensor (brass) speed/timing 12,5V yang hanya digunakan dengan
ECM “FAT” 3176, dan sensor alloy aluminium 13,2V digunakan dengan mesin ECM ADEM II
(bawah). Engine speed/timing sensor digunakan untuk menentukan baik kecepatan mesin
maupun perhitungan waktu injeksi bahan bakar. Sensor mendeteksi informasi ini dari sebuah
gigi/roda yang terpasang pada camshaft. Kalibrasi pada perhitungan waktu dilakukan dengan
menghubungkan sebuah sensor magnetik. Sensor ini dihubungkan melalui sirkuit kecepatan
kendaraan, dengan mendeteksi gerakan dari crankshaft.
Caterpillar telah menggunakan sensor kecepatan aktif dan pasif & sensor Speed/timing
Aktif:
- 3176 & 3500 (kesemuanya ECM “FAT”) 12,5V, brass
- C-10, C-12, 3406E, 3500B, 3400 HEUI 13.2 V alloy baja.
Pasif:
- 1998 3126B HEUI
- 1999 C-10, C-12, 3406E
- ADEM II 3126
- Kesemuanya ADEM III.
Sebuah pola gigi yang unik pada penggerak roda gigi camshaft memungkinkan ECM menentukan
posisi camshaft dan kecepatan mesin. Cam gear mempunyai duapuluh-empat gigi. Duapuluh-
satu gigi besar, dan tiga kecil. Pada saat ECM memasang silinder nomor satu, maka urutan
penyalaan ditentukan.
Gambar 32
Engine speed timing sensor mempunyai badan aluminium berbentuk segi enam yang berat agar
dapat tahan-lama. Sensor ini menggunakan suatu susunan Straight Thread O - ring agar mesin
bebas-bocor. Sebagai tambahan sebuah konektor Deutsch digunakan untuk operasi yang lancar
(Gambar 32).
Gambar 33
Gambar 33 memperlihatkan camshaft/timing gear. Pada camshaft gear terdapat timing reference
gear dengan teeth khusus dan dari teeth tersebut sinyal kecepatan/perhitungan waktu diperoleh.
Sensor mengirimkan sebuah sinyal pulsa ke ECM pada saat setiap tooth lewat. ECM menghitung
pulsa untuk menentukan kecepatan mesin, mengingat pola dari pulsa dan membandingkan pola
tersebut dengan yang standar, dan dengan demikian menentukan posisi crankshaft.
Sebuah “slip-head” plunger di satu ujung sensor digunakan untuk tujuan instalasi. Slip-head harus
keluar untuk memperoleh ketepatan sinyal kecepatan/perhitungan waktu.
CATATAN: Jika sensor dilepaskan dan slip-head dicabut, penting agar slip-head ditarik keluar,
dan sensor dipasang pada sebuah wheel tooth. Kerusakan dapat terjadi pada slip head atau
mesin jika prosedur ini tidak diikuti.
Gambar 34
Speed timing sensor adalah salah satu komponen elektronik utama untuk penyalaan (start).
Gambar 34 memperlihatkan susunan kabel untuk single & dual speed timing sensor.
Gambar 35
Konfigurasi C-10 sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 35, dan 3176 terlihat sama, namun
housing-nya lebih bundar. Jika hanya terdapat satu sensor (truk), maka sensor tersebut adalah
yang berada di sebelah kiri pada tampilan ini. Sensor ini juga merupakan yang utama dalam
aplikasi non-truk. Sensor yang lain akan bertindak sebagai pendukung. Untuk masing-masing
sensor terdapat fault code yang berbeda.
Alasan bahwa hanya terdapat satu pada truk adalah karena ADEM II mempunyai 2 input digital
yang dapat membaca tipe sinyal seperti ini. Pada truk, salah satu dari input digunakan untuk
kecepatan kendaraan. Aplikasi untuk industri dan non-truk yang lain tidak memerlukan sinyal
kecepatan kendaraan, maka aplikasi seperti itu mungkin mempunyai sensor yang tidak perlu.
Sensor-sensor tersebut kesemuanya memiliki nomor suku cadang yang sama. Proses kalibrasi
perhitungan waktu mengkalibrasi ulang kedua-duanya.
Mungkin akan terdapat perubahan kecil dalam respon mesin ketika ECM dipindah ke Sensor
Posisi Camshaft.
Jika sinyal untuk camshaft position sensor intermittent/tidak tetap atau hilang, maka kemungkinan
mesin tidak menyala (misfire). Di samping itu, mesin mungkin akan berjalan kasar selama di-
starter. Check Engine Lamp tidak akan menyala untuk kode ini kecuali jika kode telah Aktif
selama 10 jam. Kode ini akan di-log.
Seharusnya tidak terdapat perubahan yang besar dalam respon mesin kecuali jika sinyal untuk
Sensor Posisi Crankshaft hilang. Mesin akan berhenti jika sinyal untuk camshaft maupun sinyal
untuk crankshaft hilang.
Gambar 36
Tahun 1998 hingga saat ini (1998 untuk 3126B, 1999 untuk yang lain). Plastik hitam, 2 kabel
pasif, tidak ada suplai voltase. Sensor pasif digunakan pada semua aplikasi ECM ADEM2000
(Gambar 36).
3126B.E, 1999 dan C-10, C-12, 3406E, C-15, C-16, C-9 yang lebih baru.
Kedua sensor mempunyai jumlah lilitan yang berbeda. Sensor dengan lilitan yang lebih banyak
(resistensi yang lebih tinggi) lebih sensitif terhadap kecepatan rendah. Sensor ini digunakan
misalnya saat mencrank engine. Pada kecepatan berjalan, sensor yang lain (resistensi kurang)
lebih akurat. Jika keduanya hilang, Anda masih dapat melakukan start dan berjalan. Yang
mempunyai lilitan lebih banyak merupakan pendukung (terutama digunakan untuk melakukan
start). Untuk menghindari tercampur maka sensor tersebut dipekerjakan dalam satu rangkaian
termasuk dengan bracket.
Gambar 37
Sebuah pola gigi yang unik pada cam gear memungkinkan sensor memperoleh sinyal
perhitungan waktu kecepatan (Gambar 37). Terdapat 24 teeth, berjarak 15 derajat dengan satu
gigi tambahan pada gear. Kedua sensor saling terpisah sebesar 22,5 derajat.
Gambar 38
OEM menggunakan berbagai merek VSS yang berbeda. Vehicle speed sensor merupakan
sebuah perkakas elektromagnetik yang mengukur kecepatan kendaraan (Gambar 38). Sensor
mengukur kecepatan kendaraan dari rotasi gear teeth yang terdapat dalam penggerak (transmisi)
kendaraan. Umumnya, gear mempunyai 16 gigi.
OEM menggunakan berbagai merek vehicle speed sensor. Perkakas magnetik pada sensor
mengeluarkan pulsa pada saat gear teeth melewati sensor slip-head.
Untuk perincian spesifik pabrik pembuat perlengkapan originil harus dihubungi. Sebuah sensor
tidak boleh diganti tanpa terlebih dahulu menentukan resistensi yang tepat.
Terdapat berbagai alasan untuk terjadinya vehicle speed signal yang palsu. Beberapa
diantaranya adalah:
Sebuah sensor yang dipasang dengan tidak benar, yang berada terlalu dekat pada shaft
output transmisi/ gear. Umumnya 0.040°.
Resonansi chassis, yang menyebabkan output shaft transmisi bergetar.
Bunyi listrik – sirkuit kendaraan atau bunyi dari luar yang bertindak pada kabel sinyal sensor.
Penting agar kabel harus dibelit sebagaimana terlihat pada skema listrik.
Jika roda chopper longgar maka kemungkinan akan terjadi pergerakan yang cukup banyak
untuk mencatat kecepatan kendaraan palsu, juga ketika sedang idling.
Baca layar status dan mulailah membuka sirkuit untuk melihat apa yang terjadi. Jika sensor
dilepaskan, dan bunyi masih terdengar (kecepatan kendaraan), maka mungkin kabel yang
menyebabkan masalah. Selanjutnya, lepaskan jalur sinyal di ECM untuk memastikan bahwa
kecepatan kendaraan terbaca 0 dengan kabel sinyal yang dilepaskan.
Temperature sensor
Layar status adalah cara mendasar untuk memeriksa pemasangan kabel dan sensor. Jika
sensor tidak diberi kabel dengan benar, maka layar status dapat memberikan indikasi yang kuat
mengenai suatu masalah. Dengan mesin dalam keadaan “dingin”, sensor suhu harus membaca
suhu sekeliling pada saat ini. Berikut ini adalah sebuah daftar dari temperature sensor:
Coolant temperature
Intake air temperature
Fuel temperature
Oil temperature
Exhaust temperature
Gambar 39
Temperature sensor memberikan informasi input ke ECM. ECM menggunakan berbagai informasi
suhu untuk menyesuaikan fuel rate dan untuk melindungi mesin (Gambar 39).
Gambar 40
Coolant temperature sensor tipe aktif ADEM II (Gambar 40) adalah sebuah sensor 5 volt dengan
sebuah badan kuningan yang berat. Sensor ini digunakan pada 3176B, C-10 dan C-12.
Gambar 41
Air inlet temperature sensor ADEM II adalah sebuah sensor 5 volt (Gambar 41). ECM memantau
suhu udara masuk bersama data lain agar dapat menyesuaikan perhitungan waktu injeksi dan
fungsi kinerja yang lain. Badan fiber karbon mencegah suhu mesin yang lebih tinggi memberi
dampak pada pembacaan suhu dari udara yang masuk.
Gambar 42
Fuel temperature sensor (Gambar 42) memantau suhu bahan bakar, menyesuaikan ECM fuel
rate yang telah dikalkulasi untuk mengkompensasikan perubahan suhu bahan bakar dan untuk
menyesuaikan fuel rate untuk tenaga yang konstan.
Sensor juga digunakan untuk memberi peringatan kepada operator mengenai fuel temperature
yang berlebihan dengan sebuah Diagnostic Event code, karena fuel temperature yang berlebihan
dapat secara berlawanan berdampak pada kinerja mesin. Sebuah Alat Servis Elektronik dapat
digunakan untuk sementara me-nonaktifkan kompensasi fuel temperature, dan jika perlu, untuk
menguji sebuah kendaraan pada sebuah dinamometer.
ADEM III
ADEM III menggunakan kedua temperature sensor kabel pasif untuk bahan bakar, pendingin dan
suhu udara yang masuk. Hal ini dimulai dengan 3126B pada tahun 1998, dan kemudian
dilanjutkan dalam produksi tahun 1999 dengan mesin C-10, C-12 dan 3406E.
Pressure sensor
Sebuah daftar mengenai sensor tekanan:
Gambar 43
Pressure sensor terus-menerus memonitor tekanan sistem dan mengirimkan informasi ke ECM.
Sensor ini mempunyai badan logam yang berat untuk memberikan layanan yang bebas masalah
dan tahan lama. Sensor tekanan mempunyai suplai voltase, pembumian (ground), dan kabel
sinyal (Gambar 43). Semua tipe sensor ini adalah sensor 5 volt, analog dan aktif. Terdapat
sebuah orifice yang besar untuk mendeteksi tekanan.
Gambar 44
Atmospheric pressure sensor adalah sebuah sensor tekanan absolut yang mengukur tekanan
crankcase (Gambar 44). Baik tekanan boost maupun tekanan oli dikomunikasikan ke alat servis
melalui data link. Kedua tekanan dikalkulasi dengan mengurangi bacaan untuk sensor tekanan
atmosfir. Sensor tekanan atmosfir mengukur berbagai tekanan, yang tergantung pada aplikasi
dan model. Disamping itu, sensor tekanan atmosfir disuplai dengan 5VDC oleh ECM.
Gambar 45
Oil pressure sensor adalah sebuah sensor tekanan absolut yang mengukur tekanan oli di dalam
Oil galery (Gambar 45). Tekanan oli dikomunikasikan melalui data link dan tekanan oli ditampilkan
pada electronic service tool. ECM menggunakan input sensor hanya jika parameter untuk
Pemantauan Mesin diprogram dengan Peringatan, Derate, atau Berhenti. Peringkat sensor
tekanan oli bervariasi sesuai model mesin. Sensor ini disuplai oleh ECM dengan 5 VDC.
Gambar 46
Boost pressure sensor (Gambar 46) adalah sebuah sensor tekanan absolut yang mengukur
tekanan inlet manifold. Perbedaan antara pengukuran tekanan inlet manifold, dan tekanan yang
diukur oleh sensor tekanan atmosfir disebut sebagai tekanan boost. ECM menggunakan informasi
ini untuk mengendalikan fuel rate. Rentang boost pressure sensor bervariasi, yang tergantung
pada model mesin. Boost pressure sensor mendapat suplai sebesar 5 VDC oleh ECM.
Gambar 47
Pada mesin HEUI, Sensor Tekanan Penggerak Injeksi (Injection Actuation Pressure – IAP)
dipasang di dalam manifold oli tekanan tinggi (Gambar 47). Manifold oli tekanan tinggi memasok
oli penggerak agar menggerakkan unit injector. Sensor IAP memantau Injector actuation
pressure. Sensor IAP terus-menerus mengirimkan sinyal tegangan kembali ke ECM, yang
menginterpretasikan sinyal tersebut. ECM senantiasa menyadari adanya injection actuation
pressure, dan membandingkan actuation pressure yang diinginkan dengan tekanan yang aktual.
Gambar 48
ECM mengirimkan suatu control current ke IAP Control Valve (Gambar 48). Control current akan
menyebabkan actual actuation pressure sama dengan actuation pressure yang diinginkan. IAP
Control Valve adalah sebuah aktuator. IAP Control Valve mengkonversi sebuah sinyal elektrik dari
ECM ke control mekanika pada sebuah spool valve agar dapat mengendalikan pump outlet
pressure.
Pendahuluan
Sistem EUI mempunyai empat power supply dengan berbagai tegangan:
CATATAN:
Mesin ini tidak mempunyai suplai power untuk Speed/Timing sensor
Supply power ke ECM dan sistem diberikan oleh battery mesin 24 Volt. Komponen dasar dari
sirkuit ini adalah (Gambar 49):
Battery
Key start switch
Main power relay
Breaker 15 Amp
Ground Bolt
Konektor ECM (P1/Jl)
Konektor Interface Mesin (J3/P3).
Jika Supply Voltage melebihi 32,5 Volt atau kurang dari 9,0 Volt, maka sebuah diagnostic code di-
log. (Lihat Pedoman Troubleshooting untuk perincian yang lengkap mengenai voltage event
logging)
Gambar 50 memperlihatkan komponen dasar untuk sebuah sirkuit power supply yang umum.
Battery voltage secara normal dihubungkan pada ECM. Namun, suatu input dari key start switch
menghidupkan ECM.
Machine wiring harness dapat diabaikan untuk tujuan troubleshooting. Langkah-langkah ini
dijelaskan dalam Prosedur Troubleshooting.
Supply voltage bisa diperiksa dengan menggunakan tampilan Layar Status ET.
Konektor
Bagian vital dari semua power supply (dan sensor circuit) adalah konektor 40 pin. Gambar 51
memperlihatkan kedua konektor ECM 40 pin, P1 dan P2, dilihat dari sisi harness. Pin (anak
panah) dalam konektor P1 adalah untuk sirkuit suplai daya ECM. Juga diperlihatkan Konektor
Interface Mesin P3. Konektor 40 pin ini mengirimkan suplai daya dari machine wiring harness ke
engine wiring harness.
Injektor diberi power dari ECM pada 105 Volt (Gambar 49). Karena alasan ini Anda harus berhati-
hati ketika melakukan perawatan di sekitar valve cover.
Jika terdapat hubungan terbuka/open atau hubungan pendek/short dalam injector circuit, maka
ECM akan mematikan injector itu. Secara periodik ECM akan mencoba untuk menggerakkan
injector tersebut untuk menentukan apakah kesalahan masih ada dan akan memutuskan
hubungan atau menghubungkan kembali injector itu sebagaimana mestinya.
CATATAN:
Jika sebuah injector diganti, injector harus dikalibrasi. Juga jika sebuah ECM diganti dan kalibrasi
injector tidak dilakukan, maka pesan kesalahan (fault message) akan muncul.
Power supply Sensor Analog memberikan power ke semua sensor analog (temperature dan
pressure sensor) (Gambar 53). ECM menyuplai 5,0 + 0,2 Volt DC (analog supply) melalui
konektor J2/P2 ke setiap sensor.
Kegagalan pada power supply akan mengakibatkan sensor analog rusak. Kerusakan ini dapat
disebabkan oleh sebuah hubungan pendek/short dalam sebuah sensor atau sebuah sirkuit
terbuka/open di dalam jalur umum yang berdekatan dengan konektor P2 J2.
Power supply Sensor Analog dilindungi terhadap hubungan pendek/short. Suatu hubungan
pendek/short dalam sensor atau suatu wiring harness tidak akan menyebabkan kerusakan pada
ECM.
CATATAN:
Ketika memeriksa analog power supply voltage, selalu gunakan analog return sebagai
pengukuran dan bukan frame ground. Perbedaan dapat terjadi antara pengukuran analog power
supply dan system voltage. Analog power supply ditahan untuk menutup toleransi.
ECM menyuplai power pada 8 + 0.5 Volt melalui konektor J1/P1 ke sirkuit Sensor Posisi Throttle
(Throttle Position Sensor circuit) (Gambar 54).
Seperti analog power supply, sirkuit ini dilindungi terhadap hubungan pendek/short, yang berarti
bahwa suatu hubungan pendek/short di dalam sensor tidak akan mengakibatkan kerusakan
dalam ECM.
Beberapa aplikasi 3406E yang lain dapat menggunakan suplai daya ini untuk memberi power
pada, contohnya, Fan speed atau Exhaust temperature sensor.
CATATAN:
Power supply voltage sebaiknya menggunakan digital return untuk pengukuran dan bukan frame
ground ketika sistem ini diperiksa. Perbedaan antara nilai-nilai ini dapat terjadi jika ground yang
tidak benar digunakan.
Sebagian besar diagram yang digunakan dalam bagian ini didasarkan pada articulated dump
truck D400E.
Gambar 55
Terdapat empat tipe dasar sensor yang digunakan dalam Sistem Bahan Bakar EUI (Gambar 55):
1. Pressure sensor
2. Temperature sensor
3. Position Sensor
4. Speed Sensor.
Speed/Timing Sensor
Gambar 56
Speed/Timing sensor mempunyai magnit permanen dan satu gulungan kabel. Pengaliran energi
dalam bidang magnetik pada sensor menginduksi suatu tegangan ke dalam sensor. ECM
membaca perubahan dalam tegangan sebagai suatu sinyal (Gambar 56).
Ketika camshaft gear berputar, signal teeth masuk ke dalam gear dan menyebabkan perubahan
dalam bidang magnetik pada gulungan. ECM menghitung sinyal-sinyal ini untuk menentukan
seberapa cepat kecepatan engine.
Gambar 57
Dua speed/timing sensor pasif dipasang (Gambar 57); satu high speed sensor dan satu cranking
sensor (berkecepatan rendah). Speed/timing sensor memiliki empat fungsi dasar dalam sistem:
Speed/timing sensor dipasang di belakang housing depan di bawah timing gear wheel, dan harus
dipasang sesuai dengan prosedur dalam service manual.
Tipe sensor ini (pasif), tidak seperti Sensor speed/timing yang lain, mempunyai sebuah celah
untuk udara. Sensor tidak langsung berhubungan dengan timing wheel dan bekerja dengan celah
yang spesifik. Disamping itu, sensor ini tidak memerlukan power supply.
Jika terjadi kegagalan high speed sensor, cranking speed sensor secara otomatis akan
memberikan cadangan. Perubahan sesaat pada suara mesin akan terdengar saat pertukaran
terjadi. (Gambar 58).
Jika kesalahan di high speed sensor dikoreksi, maka ECM akan melanjutkan menggunakan
cranking speed sensor hingga mesin dimatikan dan di-start kembali. Kegagalan selanjutnya pada
speed timing sensor akan menyebabkan mesin mati.
Sensor dapat diperiksa secara fungsional dengan cranking engine dan memperhatikan layar
status peralatan servis untuk RPM engine. Suatu kegagalan pada salah satu sensor akan
ditunjukkan oleh fault screen yang aktif pada peralatan servis. Kegagalan periodik akan
diperlihatkan pada fault screen yang di-log. Lihat Buku Service Manual untuk prosedur instalasi
yang benar.
Sensor Analog
Temperature sensor
Gambar 59
Sensor temperature mengukur suhu dan menggunakan dua kabel (Gambar 59).
Sensor temperature mengubah resistensi ketika suhu berubah. ECM membaca suatu nilai
resistensi dan mengkonversikannya ke dalam suhu. ECM juga menentukan apakah sensor
mengalami hubungan terbuka/open atau hubungan pendek/short dengan memantau nilai
resistensinya. Jika sirkuit sensor mengalami hubungan pendek/short maka nilai resistensi adalah
dekat zero. Jika sirkuit terbuka/open, maka nilai resistensi akan tinggi.
Pressure Sensor
Gambar 60
Pressure sensor merasakan perubahan di dalam tekanan dan mengirimkan sebuah sinyal
variabel kembali ke ECM. Ada tiga kabel. Kabel supply, kabel Ground dan kabel tegangan sinyal
(Gambar 60).
Supply power dikontrol dengan tepat oleh ECM hingga 5 + 0,5 volt. Kabel ground memberikan
sebuah referensi 0 volt. Tegangan sinyal bervariasi sesuai dengan perubahan dalam tekanan.
Operation rate pada tegangan sinyal adalah lebih besar dari 0,5 volt dan kurang dari 4,5 volt.
ECM juga menentukan apakah sirkuit sensor mengalami hubungan terbuka/open atau hubungan
pendek/short dengan memantau tegangan sinyal.
Sirkuit dan sensor analog berikut ini dapat digunakan dalam berbagai aplikasi:
Coolant temperature sensor
Atmospheric pressure sensor
Turbocharger inlet pressure sensor
Turbocharger outlet (boost) pressure sensor
Lubrication oil pressure sensor
Fuel temperature sensor
Inlet air temperature sensor
CATATAN:
Turbocharger inlet pressure sensor tidak digunakan pada Articulated Truck D350E/D400E Seri II.
Gambar 61
Coolant temperature sensor menyuplai sinyal temperature untuk fungsi-fungsi yang berikut ini
CATATAN:
Semua sensor analog berbagi supply power analog sebesar 5,0 + 0,2 Volt.
Gambar 62
ECM menggunakan pengukuran fuel temperature untuk membuat koreksi pada kecepatan bahan
bakar untuk mempertahankan power tanpa memperhatikan fuel temperature (di dalam parameter
tertentu). Fitur ini disebut “Fuel temperature compensation” (Gambar 62).
Gambar 63
Inlet air temperature sensor digunakan oleh ECM untuk mencegah suhu masuk yang berlebihan
agar tidak merusak engine. (Gambar 63).
Inlet air temperature yang tinggi mengakibatkan suhu pembuangan yang tinggi, yang dapat
menyebabkan kerusakan pada komponen pembuangan (seperti misalnya turbocharger dan
exhaust valve).
Gambar 64
Semua pressure sensor dalam sistem mengukur tekanan absolut dan, oleh karena itu sensor
atmosfir harus mengkalkulasi gauge pressure. Sensor ini digunakan baik secara individual
(tekanan absolut) dalam hal tekanan atmosfir, dan sebagai satu pasang untuk mengkalkulasi oli
dan tekanan boost (tekanan pengukur) (Gambar 64).
Output seluruh sensor tekanan dicocokkan dengan output Sensor Tekanan Atmosfir selama
kalibrasi. Kalibrasi dapat dilakukan dengan menggunakan alat servis ET atau dengan memutar
saklar kunci starter tanpa menstarter mesin selama lima menit untuk secara otomatis
mengkalibrasi sensor. Atmospheric pressure sensor melakukan empat fungsi utama:
1. Kompensasi Ketinggian Otomatis/altitude compensation (maksimum derate 24%)
2. Automatic filter compensation (maksimum derate 20%), jika diperlengkapi
3. Sebagian dari kalkulasi tekanan untuk pembacaan gauge pressure
4. Sensor referensi untuk kalibrasi pressure sensor.
Gambar 65
Pengukuran tekanan atmosfir oleh sebuah sensor memberikan suatu referensi ketinggian/altitude
reference untuk tujuan Kompensasi Ketinggian Otomatis / automatic altitude compensation
(Gambar 65).
Grafik yang diperlihatkan di sini menjelaskan bagaimana penurunan nilai pada sebuah 3406E
umum yang dimulai pada 7500 ft. dan dilanjutkan secara linier hingga maksimum 17000 ft. Mesin
3406E yang lain dapat menstarter mulai dari 4000 ft. tergantung pada aplikasinya.
Keunggulan dari sistem EUI adalah bahwa mesin selalu beroperasi pada setting penurunan nilai
yang benar pada semua ketinggian. Sistem secara terus-menerus menyesuaikan setting optimum
tanpa memperhatikan ketinggian, sehingga mesin tidak memperlihatkan kekurangan tenaga atau
mengalami masalah asap selama naik atau turun pada ketinggian yang berbeda.
CATATAN:
Sistem EUI mempunyai keunggulan dibandingkan sistem bahan bakar mekanika yang diturunkan
nilainya dalam “Blok ketinggian/altitude block” (yaitu 7500 ft., 10000 ft., 12500 ft.,). Penurunan
nilai EUI berlangsung terus menerus dan otomatis. Oleh karena itu, sebuah mesin yang
beroperasi di setengah bagian blok yang rendah tidak dirugikan dengan tenaga yang lebih
rendah. Sebaliknya, sebuah mesin yang beroperasi di bagian blok bagian atas mengalami
kelebihan bahan bakar dengan sistem EUI.
Gambar 66
Dua pressure sensor digunakan untuk mengukur tekanan (pengukur) oli. (Gambar 66):
Oil pressure sensor
Atmospheric pressure sensor.
Kalkulasi Tekanan
Pengukuran Diukur Oleh Hasil
Tekanan oli [tekanan oli (A) - atmosfir (A)] = tekanan oli (GP)
Tabel 2
Pengukuran ini digunakan untuk menentukan tekanan oli untuk perangkat servis ET, Sistem
Pemantauan Caterpillar dan untuk memberi peringatan pada operator adanya suatu kondisi yang
tidak normal. Kisaran operasi sensor adalah 0 hingga 690 kPa (0 hingga 100 psi) (A).
CATATAN:
(A) = tekanan absolut
(GP) = tekanan pengukur (gauge pressure)
Engine oil pressure bervariasi sesuai dengan kecepatan Engine (Gambar 67). Selama tekanan oli
meningkat di atas garis atas setelah Engine distarter dan berjalan pada low idle, ECM akan
membaca tekanan oli yang cukup. Tidak ada kesalahan yang diindikasikan dan tidak timbul
peristiwa yang di-log.
Jika tekanan oli engine turun di bawah garis bawah, maka yang berikut ini yang terjadi:
Suatu peristiwa timbul dan di-log secara permanen dalam memori ECM.
Sebuah Kategori 3 Peringatan (indikator waspada, lampu aksi dan alarm) timbul pada Sistem
Pemantauan Caterpillar (jika ada).
Engine diturunkan nilainya (derated) (jika dilengkapi dengan sistem tersebut) untuk memberi
peringatan pada operator.
Kedua garis dipisahkan secara memadai untuk menghindari adanya banyak alarm dan peristiwa
atau sebuah lampu yang berkedap-kedip. Pemisahan tekanan diacu sebagai "hysteresis."
Gambar 68
Outlet pressure sensor pada Turbocharger (Gambar 68) mengukur tekanan absolut aliran-
kebawah pada tekanan (pengukur) Boost setelah pendinginan yang dapat dibaca oleh service
tool. Pengukuran ini adalah perhitungan dengan menggunakan Tekanan Atmosfir dan turbo outlet
pressure.
Kegagalan sensor ini dapat menyebabkan ECM mengurangi tenaga sebesar 60% ketika ECM
melakukan default hingga suatu kondisi boost nol. Fungsi utama dari sensor adalah untuk
memungkinkan mengontrol Rasio Udara/Bahan Bakar yang mengurangi asap, emisi dan
mempertahankan respon Engine selama akselerasi. Sistem menggunakan tekanan boost,
tekanan atmosfir dan kecepatan Engine untuk mengendalikan rasio bahan bakar/udara.
Penyaluran bahan bakar Engine dibatasi sesuai dengan suatu peta pengukur tekanan (boost)
keluar pada turbo alat pengukur dan kecepatan Engine. Setelan Pengendali Rasio Bahan
Bakar/Udara tidak dapat disesuaikan dalam aplikasi engine 3406E.
Kalkulasi Tekanan
Pengukuran Diukur oleh Hasil
1 Tekanan atmosfir sensor atmosfir = ambient pressure
2 Air filter differential Atmosfir - inlet turbo = filter ∆ pressure
3 Boost outlet turbo - atmosfir = boost (tekanan pengukur)
4 Manifold press absolut sensor outlet turbo = boost (tekanan absolut)
5 Oil pressure tekanan oli - atmosfir = oil pressure (GP)
Tabel 3
CATATAN:
Δ tekanan = tekanan diferensial
Sirkuit dan sensor digital berikut ini digunakan dalam sistem bahan bakar 3406E:
Position sensor
Gambar 69
Position sensor (Gambar 69) digunakan untuk mengkomunikasikan posisi throttle pedal ke ECM
dengan menggunakan suatu sinyal Pulse Width Modulation (PWM).
Sensor mempunyai tiga kabel. Kabel supply voltage, ground dan signal. Supply voltage dipasok
oleh ECM sebesar 8 + 0,5 volt. ground wire adalah suatu referensi volt nol. Kabel signal
memberikan signal tegangan ke ECM.
Gambar 70
Throttle Position Sensor memberikan kontrol kecepatan engine untuk operator (Gambar 70).
Pada saat mesin dinyalakan, RPM engine disetel pada LOW IDLE selama dua detik untuk
memungkinkan peningkatan tekanan oli sebelum mesin digas.
Throttle Position Sensor menerima 8 Volt dari digital sensor power supply di ECM.
Suatu pemeriksaan fungsional dari sistem pengendali kopling dapat dilakukan dengan
menghubungkan ET dan memantau posisi throttle pada status screen, pada saat throttle
digerakkan dengan perlahan ke dalam kedua arah. Status screen akan memperlihatkan posisi
throttle antara 0 dan 100%. (Pembacaan ini jangan campur adukkan dengan persentasi siklus
beban). Disamping itu, suatu pemeriksaan Active Fault screen akan memastikan status sirkuit.
Kerusakan pada sirkuit ini membuat engine hanya berjalan hanya pada LOW IDLE.
CATATAN:
Sistem ini membatasi semua hubungan mekanika antara pengendali kecepatan engine operator
dan governor (ECM).
Gambar 71
Suatu Pulse Width Modulated (PWM) signal dikirim dari Throttle Position Sensor ke ECM. Sinyal
PWM menghilangkan kemungkinan sinyal throttle yang salah yang diakibatkan oleh hubungan
pendek/short yang menyebabkan kemungkinan “tidak dapat dikontrol / run away” (Gambar 71).
Jika terjadi suatu masalah sinyal, maka control akan melakukan default ke kecepatan low idle
yang diinginkan pada engine . Jika ECM mendeteksi sebuah sinyal di luar kisaran yang normal,
ECM mengabaikan sinyal Throttle Position Sensor dan melakukan default ke LOW IDLE.
Output sensor adalah suatu Pulse Width Modulated signal (PWM) yang berfrekuensi konstan ke
ECM. Sebagai contoh, sensor pada D400E Articulated Dump Truck memproduksi suatu duty
cycle sebesar 10 hingga 22% pada posisi low idle dan 75 hingga 90% pada posisi high idle. Duty
cycle dapat dibaca oleh service tool ECAP dan beberapa multimeter digital. Persentasi dari duty
cycle diterjemahkan ke dalam posisi throttle sebesar 0 hingga 100% oleh ECM, yang dapat
dibaca pada ET status screen. Aplikasi lain berbeda nilai-nilai PWM-nya untuk low idle dan high
idle. Nilai-nilai ini dapat dilihat dalam Pedoman Troubleshooting untuk aplikasi yang sesuai.
CATATAN:
Persentase duty cycle dan persentase throttle position berbeda dan jangan dicampuradukkan.
Switch memberikan sinyal pada ECM untuk menghentikan daya listrik ke injektor, namun tetap
mempertahankan daya ke ECM. Fitur ini juga memungkinkan mesin di-crank tanpa di-start untuk
tujuan perawatan.
Ground level Shutdown Switch dihubungkan ke ECM melalui mesin dan engine wiring harness.
(Gambar 72). Tidak ada sirkuit lain yang boleh dihubungkan ke sistem. User Defined Shutdown
dapat digunakan bersama dengan sirkuit yang lain.
Sirkuit bekerja dengan membumikan salah satu dari kedua kabel. Dengan membalik status kabel
ini, maka mesin akan berjalan atau akan mati. Jika sakelar dioperasikan, penting untuk
mematikan key start switch utama selama paling tidak lima detik sebelum mencoba untuk
menghidupkannya kembali. Jika tidak, maka engine akan crank tetapi tidak start.
Fitur ini dipasang pada D350E/D400E; akan tetapi, tidak semua engine mempunyai fitur ini.
Gambar 73
Fitur User Defined Shutdown (jika ada) bisa digunakan untuk menghubungkan perangkat lain ke
sistem untuk mematikan engine (seperti pelanggan memasang sistem pemadaman api). Ketika
shutdown input grounding selama satu detik, mesin akan berhenti bekerja. Input harus diturunkan
di bawah 0,5 Volt sebelum ECM mendeteksi sinyal untuk mematikan (Gambar 73).
Operasi User Defined Shutdown di-log sebagai peristiwa dan dapat ditampilkan pada ET status
screen.
Ketika dipasang pada sebuah D400E Articulated Dump Truck, fitur ini diprogram untuk berfungsi
hanya selama keadaan berikut ini untuk alasan keamanan:
Parking brake engaged
Transmisi berada dalam posisi NETRAL
Machine ground speed nol.
Gambar 74
ECM mengendalikan penggunaan ether untuk menyalakan pada saat dingin. ECM menggunakan
input dari coolant temperature sensor dan Kecepatan/Perhitungan waktu untuk menentukan
kebutuhan akan ether.
ECM mengedarkan ether selama tiga detik on dan tiga detik off. Aliran yang aktual ditentukan
oleh kecepatan engine dan temperature. Injeksi ether otomatis diinjeksikan ketika coolant
temperature berada di bawah 0°C (32°F) dan kecepatan engine berada di bawah 500 RPM.
Suatu Mode Manual memungkinkan injeksi ether ketika coolant temperature berada di bawah
10°C (50°F) dan kecepatan mesin berada di bawah 1200 RPM. Dalam Mode Manual, jumlah
ether yang tepat diinjeksikan. Status injeksi ether dapat dibaca pada ET status screen.
TOPIK 4
Sistem Bahan Bakar Elektronik (Electronic Fuel System – EUI)
PENDAHULUAN
Gambar 75
EUI engine (Gambar 75) memiliki banyak fitur dan kelebihan yang tidak bisa didapatkan dengan
menggunakan sistem bahan bakar mekanis. Fitur-fitur ini termasuk gas buang yang sangat
bersih, konsumsi bahan bakar yang lebih baik dan cold starting, perawatan yang sederhana,
komponen bergerak yang lebih sedikit, diagnosa yang lebih baik serta biaya operasi yang lebih
sedikit.
Komponen elektronik dalam sistem bahan bakar EUI sangat mirip dengan komponen yang
digunakan dalam sistem HEUI 3408E/3412E. Namun, dalam sistem EUI injektor diaktuasi dengan
menggunakan camshaft.
Komponen
Gambar 76
Konektor injektor terletak pada valve cover (Gambar 76) dan menyalurkan arus listrik ke keenam
injektor.
Dalam konektor 12 pin berikut, sembilan pin digunakan untuk injector solenoid dan tiga digunakan
untuk retarder solenoid (enam injector return cable dipasangkan ke dalam tiga konektor).
Gambar 77
Komponen lain yang terletak pada bagian belakang sebelah kiri pada engine (Gambar 77),
dimulai dari bagian atas adalah sebagai berikut:
Gambar 78
Inlet temperature sensor (manifold) (Panah pada Gambar 78) terletak pada sisi kiri engine, diatas
ECM. Sensor ini digunakan untuk memperingati operator atas kondisi-kondisi yang dapat
membahayakan yang dapat mengakibatkan suplai udara menjadi terlalu panas.
Inlet air temperature / suhu udara masuk yang tinggi dapat mengakibatkan suhu pembuangan
yang sangat tinggi dalam rasio tiga banding satu. Contohnya: Inlet air temperature dapat naik dari
27 hingga 93° (100 hingga 200° F), yang dapat mengakibatkan kerusakan pada exhaust valve
atau turbocharger.
Gambar 79
Secondary fuel filter (Gambar 79, 1) diletakkan pada sisi kiri kompartemen engine, dan dapat
diservis dari bagian luar melalui sebuah panel akses.
Filter harus dipasang dalam keadaan kering. Jika filter perlu diisi, hal ini harus dilakukan dengan
menggunakan priming pump. Filter tersebut tidak boleh diisi dengan menggunakan cara lain,
selain dengan menghidupkan mesin. Mesin ini umumnya akan mengeluarkan udara dari sebuah
filter baru dengan sangat cepat.
Fuel Manifold untuk bahan bakar terdiri dari valve pengatur tekanan bahan bakar (fuel pressure
regulator valve) untuk mempertahankan tekanan antara transfer pump dan injector dan
mengembalikan kelebihan bahan bakar ke tangki.
Fuel temperature sensor juga terletak pada filter housing. ECM menggunakan output dari sensor
untuk memperbaiki kekurangan daya akibat suhu bahan bakar yang tinggi. ECM
mempertahankan aliran massa yang sama (dalam batas tertentu) ke injektor, tanpa
memperhatikan perubahan kepadatan bahan bakar akibat suhu.
Gambar 80
Engine coolant temperature sensor (Gambar 80, panah) terletak pada bagian depan engine, di
bawah thermostat housing. Sensor ini digunakan bersama dengan ECM untuk mengendalikan
berbagai macam fungsi. Sistem atau sirkuit berikut ini menggunakan output Sensor Suhu pada
ECM:
Alat Pengukur Suhu Cairan Pendingin pada Sistem Pemantauan Caterpillar dan LED
Indikator Pemberitahuan Peringatan Suhu Pendingn pada panel Sistem Pemantauan
Caterpillar. (informasi dikirim melewati CAT Data Link).
Engine Demand Fan Control, jika ada, menggunakan referensi sinyal sensor untuk
memberikan kecepatan kipas yang sesuai.
CAT Electronic Technician (ET) status screen menampilan indikasi suhu cairan pendingin.
Gambar 81
Atmospheric pressure sensor (Gambar 81, 1) dipasang dalam balok silinder dan dikeluarkan ke
atmosfir dalam engine. Sensor ini memiliki berbagai macam fungsi yang dijelaskan secara
lengkap nantinya dalam topik ini.
Pada sebelah kanan Sensor Tekanan Atmosfir terdapat Timing Calibration Connector (2).
Connector ini digunakan bersama dengan sebuah sebuah Timing Probe dan wiring harness untuk
mengkalibrasi Sensor Kecepatan/ Pengukur Waktu.
Gambar 82
Oil Pressure Sensor (Gambar 82, panah) terletak diatas pendingin oli mesin. Sensor ini digunakan
untuk memperingatkan operator mengenai tekanan oli yang rendah. ECM akan me-log suatu
event jika sensor mencatat tekanan oli rendah pada kondisi-kondisi tertentu. Kondisi-kondisi ini
akan diterangkan dengan jelas nantinya dalam presentasi.
Sensor ini berjenis analog. Enam sensor analog dipasang pada mesin D350E/D400E Seri II:
Coolant
Temperature
Fuel Temperature
Air Inlet Temperature
Atmospheric Pressure
Turbo Outlet Pressure
Gambar 83
Machine Interface Connector (Gambar 83, mesin) menghubungkan engine wiring harness ke
machine wiring harness. Sirkuit-sirkuit seperti suplai daya ECM, throttle position sensor, data link
dan sirkuit shutdown diarahkan melalui konektor ini.
Gambar 84
Pada saat melakukan kalibrasi pengukur waktu, Timing Calibration Probe dipasang dalam balok
silinder setelah sebelumnya melepaskan plug. (Gambar 84, panah)
Timing calibration jumper cable dipasang ke dalam timing calibration connector tepat di atas ECM.
Timing Calibration Probe sebenarnya bertempat di bagian bawah Speed Timing Sensor (yang
meng-crank) dalam sirkuti saat hanya sensor (kecepatan tinggi) bagian atas yang dikalibrasi.
Gambar 85
Crankshaft memiliki sebuah slot yang dihaluskan dengan mesin pada beban penyeimbang
(counterweight) seperti diperlihatkan pada gambar (Gambar 85, panah). Slot tersebut terletak
tepat di belakang rod bearing Nomor 1.
Timing Calibration Probe dimasukkan melalui blok dan menghasilkan sinyal dari crankshafat slot.
Permukaan yang dihaluskan dengan mesin (di bawah panah) digunakan untuk menyetel celah
antara probe dan crankshaft. Proses ini dijelaskan secara terperinci kemudian dalam topik ini.
Pendahuluan
Bagian ini dari topik menjelaskan operasi Sistem Suplai Bahan Bakar EUI yang digunakan pada
3406E engine dalam aplikasi mesin. Bagian ini menjelaskan semua komponen yang mengirimkan
bahan bakar dari tangki serta filter utama ke injektor dan kembali ke tangki.
Gambar 87
Bahan bakar ditarik dari tangki melalui Filter Utama (Gambar 87, panah). Filter Bahan bakar
Utama terdiri dari pemisah air (water separator), yang merupakan komponen penting pada sistem
bahan bakar.
Setiap sistem bahan bakar bertekanan tinggi akan rusak dengan cepat jika air dibiarkan
bersirkulasi melalui sistem. Air dapat mengakibatkan keausan awal atau kemacetan pada injektor
karena kurangnya pelumasan dan korosi.
Masa pakai sistem bahan bakar normal yang diharapkan tidak akan tercapai jika bahan bakar
yang tercemar digunakan. Gunakan bahan bakar yang bersih agar sistem tetap bersih.
Primary Filter dapat dilepaskan dan dibersihkan pada Service Interval yang dibutuhkan pada
beberapa model dan model lain menggunakan elemen yang dapat diganti.
Gambar 88
Aliran bahan bakar dari primary filter ke Pompa Transfer (1) ke secondary filter (2) yang sebagian
tidak terlihat dalam gambar (Gambar 88).
Fuel transfer pump memiliki sebuah bypass valve untuk melindungi komponen sistem bahan
bakar dari tekanan yang berlebihan. Penyetelan bypass valve lebih tinggi dibandignkan dengan
penyetelan untuk regulator tekanan bahan bakar.
Gambar 89
Fuel Transfer Pump (Gambar 89) merupakan sebuah pompa jenis gear yang digerakkan dari
engine timing gear. Pompa ini memiliki komponen yang tidak dapat diservis.
Gambar 90
Bahan bakar mengalir dari fuel transfer pump ke secondary fuel filter yang diperlihatkan dalam
Gambar 90. secondary fuel filter memiliki peringkat 2 mikron. Filter yang benar dengan peringkat
mikron yang benar harus digunakan untuk mempertahankan usia pakai injektor. Bahan bakar
yang kembali dari injektor mengalir melalui fuel pressure regulator ke dalam fuel filter base
sebelum kembali ke tangki bahan bakar.
Gambar 91 Menampilkan Fuel pressure regulator. Regulator tersebut merupakan sebuah check
valve bermuatan spring yang mengontrol fuel pressure. Fuel pressure regulator dipasang pada
bagian bawah injektor dan dipasang di dalam Dasar Filter Bahan bakar. Valve ini disetel pada 415
hingga 450 kpa (60 hingga 65 psi) dan tekanan bahan bakar mendorong spool lepas dari
dudukannya oleh gaya pegas.
Fuel pressure regulator memastikan terdapat suplai bahan bakar yang mencukupi dengan
tekanan yang sudah ditentukan [Link] bahan bakar dapat diperiksa pada
Regulator Valve untuk Tekanan Bahan Bakar dengan melepaskan plug dan memasang alat
pengukur.
CATATAN: Fuel filter base dipasang jauh (dari engine) pada D350E dan D400E untuk
memudahkan akses.
Gambar 92
Aliran bahan bakar dari secondary fuel filter ke ECM (Gambar 92, panah) dan kemudian ke
bagian depan kepala silinder dan ke injektor bahan bakar.
Aliran bahan bakar yang mengalir melalui ECM untuk menjaga temperature yang konstan dalam
ECM.
Gambar 93
Gambar 93 menampilkan injektor, injector sleeve dan Supply fuel line. Volume bahan bakar yang
lebih besar dari yang dibutuhkan melewati injektor untuk injeksi dan pembakaran. Aliran
tambahan ini digunakan untuk mendinginkan injektor yang umumnya dikelilingi oleh cairan
pendingin yang panas untuk memastikan suplai bahan bakar yang banyak ke injektor tanpa
memperhatikan kecepatan atau beban engine dan untuk memastikan pelumasan yang baik pada
komponen-komponen bagian dalam pada injektor.
Dari bagian belakang kepala silinder, bahan bakar mengalir ke sisi kembali/return side pada
secondary fuel filter base, yang memiliki fuel pressure regulator.
Injektor dipasang dalam injector bore dalam kepala silinder, yang memiliki saluran suplai bahan
bakar yang integral. Dalam Engine terdahulu, injektor tersebut dipasang pada sebuah sleeve yang
terbuat dari kuningan, yang dimasukkan ke dalam poros silinder (Gambar 94).
Sleeve yang terbuat dari kuningan menyediakan sekat pembakaran serta memisahkan injektor
dari pendingin mesin dalam jaket air.
Pada Engine generasi berikutnya, sebuah sleeve baja yang lebih tebal digunakan bersama tiga
O-ring. O-ring atas mencegah bahan bakar masuk kedalam saluran pendingin. Sleeve tersebut
dipasang dengan sebuah tekanan ringan dan O-ring untuk mencegah gas pembakaran dan
pendingin/coolant bocor. (Gambar 95).
Sleeve tersebut lebih tebal dibandingkan dengan sleeve yang terbuat dari kuningan dan memiliki
ulir untuk mempermudah pemasangan dan pelepasan.
Aktuasi mengacu pada jenis gaya yang digunakan untuk memberikan tenaga pada plunger, yang
memompa bahan bakar keluar dari injektor (Gambar 96). Sistem bahan bakar yang diaktuasi
secara mekanik menggunakan sebuah camshaft lobe bersama dengan sebuah rocker arm untuk
memberikan gaya. Rocker arm menekan pada tappet pada bagian atas injektor. Tappet tersebut
menekan injector plunger.
Gambar 97
Komponen utama EUI injector termasuk Tappet, Plunger, Rakitan Barrel, Rakitan Nozzle dan
catridge valve (Gambar 97).
Nozzle assembly terdiri atas sebuah nozzle spring, nozzle, nozzle check dan nozzle tip.
Gambar 98
Cartridge valve assembly terdiri dari solenoid, armature, poppet spring dan poppet valve.
(Gambar 98).
Seperti yang dibahas sebelumnya, tappet menekan plunger kebawah. Bahan bakar yang
didorong plunger dapat mengalir ke dua arah. Satu arah adalah kebawah ke rangkaian nozzle,
melalui nozzle tip dan kedalam silinder. Untuk melalui rute ini, tekanan bahan bakar harus
mencapai kurang lebih 35.000 kPa. Arah lainnya adalah di sekitar poppet yang terbuka dan
disekitar plunger dan kembali kedalam saluran bahan bakar. Bahan bakar akan mengambil jalur
dengan tahanan yang paling sedikit dan mengambil jalur ini ketika solenoid tidak berisi energi dan
poppet berada diluar dudukkannya.
Gambar 99
Pada saat injeksi diinginkan, ECM mengirim arus ke solenoid yang mengakibatkan adanya medan
magnet yang menyebabkan poppet menutup. (Gambar 99). Bahan bakar yang mengalir di sekitar
poppet valve kemudian diblok dan tekanan akan berkumpul melalui rongga nozzle ke nozzle
check.
Terdapat empat tahap injeksi yaitu Pra-injeksi, Permulaan injeksi, Injeksi dan Akhir injeksi. Pra-
injeksi, tahap pertama (Gambar 100), dimulai pada saat plunger dan tappet berada pada puncak
stroke mereka. Rongga pada plunger terisi penuh bahan bakar dan poppet terbuka dan nozzle
check tertutup. Selama solenoid pada cartridge valve tidak diaktifkan, poppet akan tetap terbuka.
Untuk memulai injeksi (Gambar 101, kiri) solenoid diaktifkan, yang menciptakan sebuah medan
magnet, menarik armature dan menutup poppet valve.
Jika poppet sudah tertutup, jalur aliran bahan bakar yang meninggalkan rongga plunger diblok,
dan saat bahan bakar terus mengalir keluar dari rongga plunger, tekanan akan terkumpul dengan
cepat. Tekanan ini ditransfer ke rangkaian nozzle. Pada saat tekanan mencapai kurang lebih
35.000 kPa, nozzle check akan mengangkat dudukannya dan bahan bakar teratomisasi tinggi
akan mengalir keluar dari ujungnya. Ini memulai injeksi. Tekanan terus terkumpul dengan sangat
cepat. Injeksi terjadi selama plunger terus bergerak kebawah (Gambar 101, kanan), dan solenoid
tetap aktif untuk menahan poppet valve agar tetap tertutup.
Pada saat kondisi menentukan injeksi harus berakhir (gambar 102), ECM menghentikan aliran
arus ke solenoid, yang akan memutus medan magnetik dan membuka poppet valve. Bahan bakar
bertekanan tinggi sekarang dapat mengalir ke saluran persediaan bahan bakar/fuel supply
passage. Pada saat tekanan turun hingga kurang lebih 25.000 kPa. Nozzle check menutup dan
injeksi berhenti. Hal ini merupakan akhir injeksi. Penurunan tekanan yang sangat cepat dari
puncak injeksi (210.000 kPa ke 25.000 kPa) ke akhir injeksi, mengurangi emisi partikel dan
merupakan keunggulan penting EUI.
Poppet valve sering membuka dan menutup selama usia kerjanya dan harus selalu memberikan
penyekatan yang baik terhadap tekanan yang sangat tinggi. Kemampuan valve untuk berfungsi
dengan benar setelah ratusan juta siklus, memerlukan penggunaan penyaringan yang tepat dan
penggunaan filter yang sudah ditentukan untuk menyingkirkan partikel-partikel mikroskopik dalam
bahan bakar.
Sinyal input Engine speed dan fuel quantity (yang berhubungan dengan beban) diterima oleh
timing control. Sinyal coolant temperature menentukan kapan Cold Mode harus diaktifkan. Sinyal-
sinyal input yang dikombinasikan ini menentukan awal injeksi bahan bakar.
Timing control memberikan pengaturan waktu yang optimal untuk semua kondisi. Keuntungan
sebuah timing control yang baik adalah:
Mengurangi partikel serta menurunkan emisi
Meningkatkan konsumsi bahan bakar sambil tetap mempertahankan kinerja
Memperpanjang usia operasi Engine
Meningkatkan cold starting
Governor kemudian mengirimkan sinyal bahan bakar yang dikehendaki ke injeksi bahan bakar
dan pengendali aktuasi injeksi. Logika pengendali kuantitas bahan bakar juga menerima sinyal
dari Fuel ratio dan Torque control.
Dua speed/timing sensor dipasang pada 3406E: sebuah sensor kecepatan tinggi (atas) dan
sebuah sensor kecepatan perlahan (rendah). Speed/timing sensor menjalankan empat fungsi
dalam sistem (Gambar 105):
1. Pengukuran Engine speed
2. Pengukuran Engine timing
3. Identifikasi lokasi TDC dan nomor silinder
4. Perlindungan rotasi berbalik / Reverse Rotation Protection
Sensor kecepatan/timing, yang dipasang pada bagian belakang housing depan, dipasang dengan
menyisakan ruang kosong antara sensor dan timing wheel. Ruang kosong ini tidak dapat diubah-
ubah.
CATATAN:
Sensor-sensor ini tidak sama dengan sensor-sensor yang umumnya digunakan pada sistem EUI.
Sensor-sensor ini umumnya berjenis pasif yang tidak membutuhkan suplai daya. Terlebih lagi,
sensor kecepatan tinggi dan rendah tidak dapat ditukar dan setiap sensor memiliki nomor
komponen yang berbeda.
High speed/timing sensor mengukur kecepatan engine untuk operasi normal termasuk speed
control dan posisi crankshaft untuk tujuan pengaturan timing dan identifikasi silinder.
Cranking speed/timing sensor (bawah) digunakan pada saat menghidupkan mesin serta membuat
pengoperasian berlangsung terus menerus jika high speed timing sensor mengalami kerusakan.
Kerusakan pada high speed/timing sensor akan mengakibatkan ECM berganti secara otomatis ke
cranking speed/timing sensor. Disamping itu, check engine lamp akan ‘ON’.
Timing wheel merupakan bagian dari drive gear untuk camshaft. Penanda timing (panah)
digunakan untuk meletakkan roda dan camshaft dalam posisi yang benar secara relatif terhadap
crankshaft, yang dipasang pada TDC. Timing Wheel ini digunakan dalam semua engine
kendaraan 3406E dengan sensor Kecepatan/Timing pasif.
Seperti yang dinyatakan sebelumnya, timing wheel memiliki jumlah total 25 teeth. Satu teeth
diposisikan berada diantara teeth yang berdekatan. Konfigurasi ini digunakan oleh ECM untuk
menempatkan TDC pada silinder no 1 (dan silinder-silinder selanjutnya).
Speed/timing sensor diposisikan secara horisontal pada mesin, namun juga diposisikan tegak
lurus dengan permukaan timing wheel. Dengan kata lain, sensor tersebut menghadap sisi timing
wheel, mirip seperti pemasangan 3408/3412E. Namun, timing wheel berbeda seperti terlihat pada
halaman sebelumnya.
Teeth dan sensor menghasilkan sinyal yang diubah oleh ECM menjadi Pulse Width Modulated
(PWM) output signal untuk tujuan timing dan output modulated frequency signal untuk
pengukuran kecepatan.
Sensor Kecepatan/Timing menggunakan timing wheel dengan teeth yang diatur seperti yang
ditunjukkan (Gambar 109):
titik pusat no 1 (pada saat ditemukan, silinder tersebut dapat diidentifikasi)
kecepatan mesin
Urutan sinyal yang ditampilkan dalam kolom kedua (siklus tugas) dianalisa oleh ECM. Pada tahap
ini, tidak akan ada bahan bakar yang diinjeksi sampai kondisi-kondisi tertentu sudah dipenuhi.
Selama start-up, cranking speed sensor pada awalnya memantau pulse yang diciptakan oleh
teeth yang lewat serta mengidentifikasi urutan seperti yang ditunjukkan. Setelah sebuah rotasi
penuh, kendali dapat mengenali lokasi TDC dari pola dalam gambar 110.
Selama kecepatan perlahan awal, tidak ada bahan bakar yang diinjeksi hingga kondisi-kondisi
berikut dipenuhi:
Timing wheel sudah menyelesaikan satu revolusi penuh
TDC untuk semua silinder dikenali oleh pengendali
Setelah sensor sudah menyediakan sinyal yang diperlukan, ECM siap untuk memulai injeksi.
CATATAN:
Titik referensi dalam ilustrasi adalah posisi pada timing wheel dimana kendali mengukur titik
injeksi dan TDC.
Timing injeksi dikalibrasikan dengan cara menghubungkan sebuah TDC probe dengan konektor
akses servis pada engine harness, dan dengan cara mengaktifkan urutan kalibrasi dengan
perkakas servis Caterpillar ET. ECM meningkatkan kecepatan engine kendaraan hingga 1100
RPM (untuk mengoptimalkan akurasi pengukuran), membandingkan lokasi TDC aktual no 1
dengan lokasi TDC asumsi no 1, serta menyimpan offset dalam EEPROM (Electrically Erasable
Programmable Read Only Memory).
CATATAN:
Kisaran offset kalibrasi terbatas hingga +/- 4 derajat putaran. Jika jangkauan tersebut dilampaui,
offset akan diset ke nol (tidak ada kalibrasi) dan sebuah pesan diagnosa kalibrasi akan dihasilkan.
Gambar 112 memperlihatkan bagaimana arus meningkat pada awalnya untuk menarik kumparan
injeksi dan menutup poppet valve. Kemudian, dengan cara melakukan pulsing 105 Volt ‘on’ dan
‘off’, aliran arus tersebut dipertahankan. Akhir injeksi terjadi pada saat persediaan arus dipotong;
dengan demikian, tekanan bahan bakar menurun tajam dalam injektor.
Kendali Sistem
Sebagaimana mesin yang dikendalikan secara mekanik memiliki batas-batas mekanis untuk
menentukan pengiriman bahan bakar maksimum selama beban penuh , torsi penuh dan
akselerasi, sistem EUI juga memiliki batas elektronik untuk melindungi mesin kendaraan. Batas-
batas ini adalah:
Horse power maksimum
Batas torsi (menentukan karakteristik peningkatan torsi)
Fuel ratio control (membatasi bahan bakar hingga boost yang mencukupi tersedia)
Batas cold mode / cold mode limit (membatasi bahan bakar, mengendalikan asap putih
saat dingin)
Cranking limit (membatasi bahan bakar selama cranking)
Suatu jeda kecepatan selama menghidupkan mesin menahan mesin pada LOW IDLE selama dua
detik atau hingga tekanan oli mencapai 140 kPa (20 psi).
Sistem bahan bakar EUI dirancang untuk memodifikasi karakteristik operasional mesin kendaraan
selama operasi cuaca dingin. Modifikasi ini dilakukan untuk melindungi lingkungan, mesin
tersebut serta untuk meningkatkan karakteristik operasi mesin.
Jika terjadi hilangnya output pada sensor boost, ECM menganggap tekanan boost adalah nol.
Walaupun bukan sepenuhnya merupakan penurunan peringkat/derate, tenaga dikurangi sekitar
50 hingga 60%.
Kompensasi suhu bahan bakar (Mengkompensasi hingga 5% untuk hilangnya tenaga karena
bahan bakar yang panas).
CATATAN:
Kompensasi suhu bahan bakar tidak dirancang untuk memperbaiki pemanasan bahan bakar yang
berlebihan yang dapat disebabkan oleh berbagai alasan seperti tingkatan bahan bakar yang
rendah dengan suhu sekitar yang tinggi.
KALIBRASI SISTEM
Timing Calibration Probe (perkakas magnetik) harus dipasang dalam balok silinder untuk kalibrasi
(Gambar 113). Kabel pada Timing Calibration Probe digunakan untuk menghubungkan probe ke
Calibration Connector. Satu ujung kabel dihubungkan ke Timing Calibration Probe. Ujung lainnya
dihubungkan dengan konektor P26. Konektor tersebut terletak diatas ECM. Selama kalibrasi,
Timing Calibration Probe mengganti Sensor Pengengkolan (Cranking Sensor) dalam sirkuit.
Karena cranking sensor dilepaskan selama kalibrasi, hanya sensor bagian atas high speed timing
sensor yang dikalibrasi. Karena itu, kedua sensor harus berbagi data kalibrasi ketika cranking
sensor dihubungkan kembali.
CATATAN:
Untuk kalibrasi, hanya Timing Calibration Connector (P26) yang tepat berada di atas ECM yang
dapat di gunakan, bukan Speed/Timing Sensor Connector (P20) yang berada di depan engine.
Gambar 114, Timing Calibration Probe (perkakas magnetik) menunjukkan bagaimana celah udara
(clearance) terjadi di antara probe dan permukaan crankshaft counterweight.
Setelah TDC ditemukan, putar mesin searah jarum jam kurang lebih sekitar 60 derajat untuk
mencegah agar probe tidak aktif dalam slot. Timing probe akan hancur jika mesin diputar dengan
probe berada di dalam slot. (Crankshaft awalnya diposisikan pada TDC untuk menemukan
permukaan pada counterweight).
Masukkan Timing Calibration Probe ke dalam blok sampai menyentuh permukaan counterweight
crankshaft. Kemudian tarik probe 1 mm (0,04 in) untuk mendapatkan clearance. 2D6392 O-ring
yang terletak pada probe dapat digunakan untuk mengukur clearance.
Jika probe clearance tidak ditetapkan dengan tepat, kinerja yang tidak menentu atau kerusakan
pada urutan kalibrasi timing dapat terjadi dan probe tersebut dapat hancur.
Dengan menggunakan ET, Kalibrasi Timing dipilih dan kecepatan engine yang diinginkan secara
otomatis ditetapkan pada 1100 RPM. (Kecepatan ini berbeda antar engine dan hanya khusus
untuk 3406E). Langkah ini dilakukan untuk mencegah ketidakstabilan serta memastikan tidak ada
arus balik dalam timing gear selama proses kalibrasi.
Lepaskan alat kalibrasi, pasang plug dan hubungkan semua harness. Setelah menyelesaikan
prosedur tersebut, mesin harus dites ulang untuk memastikan operasi yang benar. Fault screen
yang aktif dan yang di-log juga harus diperiksa.
Speed/timing sensor menggunakan timing wheel sebagai sebuah referensi timing. Kalibrasi timing
meningkatkan akurasi injeksi bahan bakar dengan cara memperbaiki semua toleransi terkecil di
antara crankshaft, timing gear, timing wheel dan pemasangan speed/timing sensor (Gambar 115).
Selama kalibrasi, offset dicatat dalam Memori yang hanya bisa dibaca, diprogram dan dihapus
secara elektronik. control module EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only
Memory). Jangkauan offset kalibrasi dibatasi hingga +/- 4 derajat crankshaft. Jika timing berada
diluar jangkauan, kalibrasi dibatalkan. Nilai yang sebelumnya akan dipertahankan dan sebuah
pesan diagnosa akan dicatat.
E-Trim
Sebuah fitur dari sistem EUI disebut Electronic Trim atau E-Trim. Fitur ini memungkinkan
adjustment untuk injection performance untuk mengurangi variasi dalam pengiriman bahan bakar
untuk injector. (Gambar 116).
Adjustment ini adalah penting karena injektor EUI tidak dapat di-adjust secara mekanik. Sebuah
injektor yang sudah dirancang harus berada dalam suatu toleransi pengiriman (delivery tolerance)
yang khusus saat dirangkai dan dites. Namun, dalam sekumpulan enam injektor, perbedaan
pengiriman (delivery variability) yang digabungkan dapat mengakibatkan kualitas idle atau kinerja
terukur yang tidak dinginkan
E-trim mengurangi varias-variasi dalam pengiriman ini dengan cara menggunakan sebuah
peningkatan atau pengurangan durasi arus ke solenoid yang sudah diprogram untuk
meningkatkan atau menurunkan pengiriman bahan bakar ke injektor individual (Gambar 117).
Gambar 118
Nilai E-trim untuk setiap injektor ditentukan oleh kinerja injektor yang sebenarnya pada tes akhir.
Jika pengiriman bahan bakar injektor lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan nilai
pengiriman yang akurat, sebuah kode E-trim ditugaskan untuk mengkompensasi variasi tersebut.
Kode E-trim diidentifikasi pada toppet pada sebuah injektor untuk suatu 3406E dan pada solenoid
untuk suatu C10 & C12 (Gambar 118).
Gambar 119
Pada saat sebuah injektor baru dipasang pada sebuah engine, kode E-trim harus diprogram
kedalam ECM dengan menggunakan Electronic Technician (Gambar 119).
Gambar 120
Dua metode dapat digunakan untuk melakukan kalibrasi pressure sensor: metode key switch dan
ET. Dengan menggunakan menu calibration pulldown yang sama dengan sebelumnya, pilihlah
urutan menu pulldown berikut:
Service/ Calibrations / Pressure Sensor Calibration. Engine harus dalam kondisi tidak bekerja
selama kalibrasi sensor tekanan.
Atmospheric pressure sensor digunakan sebagai dasar untuk menyesuaikan sensor-sensor yang
lainnya. Sensor-sensor lain dengan bacaan (reading) yang tidak sesuai dengan bacaan dari
sensor atmosfir akan disesuaikan (dalam batasan) agar sesuai dengan sensor atmosfir.
Pilih Start atau A untuk memulai kalibrasi sensor. Sebuah diagonosa rutin dibentuk di dalam
program yang akan mengenali masalah kalibrasi. Masalah tersebut dapat berupa sebuah sensor
yang berada diluar jangkauan output untuk kalibrasi. Contohnya, alasan untuk kalibrasi mungkin
karena tekanan oli dibaca pada +27,6 kPa (+4 psi) pada saat engine berhenti.
Kondisi ini berarti bacaan tekanan oli pada bacaan tekanan absolut sensor adalah 130,09 kPa (19
psi) sedangkan tekanan pada permukaan laut adalah 119,kpa (14,7 psi). Selama kesalahan
masih berada dalam jangkauan kalibrasi, maka kesalahan tersebut dapat dibetulkan. Jika tidak
maka perbaikan harus dilakukan.
Prosedur ini memeriksa apakah terdapat udara dalam bahan bakar. Prosedur ini juga membantu
menemukan sumber udara.
1. Periksa sistem bahan bakar untuk menemukan kebocoran. Pastikan bahwa fitting pada fuel
line sudah dikencangkan dengan benar. Periksa fuel level dalam tangki bahan bakar. Udara
dapat memasuki sistem bahan bakar melalui sisi penghisap (suction side) di antara fuel
transfer pump dan tangki bahan bakar.
2. Pasang sebuah Tabung Aliran Bahan Bakar 2P-8278 (Sight Gauge) dalam saluran bahan
bakar yang kembali. Jika mungkin, pasang sight gauge dalam bagian yang lurus pada saluran
bahan bakar yang panjangnya paling tidak 304,8 mm (12 inci). Jangan pasang sight gauge di
dekat perkakas berikut yang menghasilkan turbulensi:
Elbow
Relief valve
Check valve
Perhatikan aliran bahan bakar pada saat engine berputar. Cari gelembung-gelembung udara /
air buble di dalam bahan bakar. Jika bahan bakar tidak terlihat dalam, sight gauge, lakukan
priming pada sistem bahan bakar. Lihat bagian Pengetesan dan Penyetelan, “Fuel system –
Prime” untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Jika engine hidup, periksa apakah terdapat udara di dalam bahan bakar pada kecepatan
mesin yang berbeda-beda. Jika mungkin, operasikan mesin dalam kondisi dimana dicurigai
terdapat udara di dalam bahan bakar.
a. Aliran gelembung-gelembung kecil yang tetap dengan diameter kira-kira 1,60 mm (0,063
inci) adalah jumlah udara yang dapat diterima dalam bahan bakar.
b. Gelembung dengan diameter sekitar 6,35 mm (0,250 inci) juga dapat diterima jika
terdapat interval dua hingga tiga detik di antara gelembung-gelembung.
c. Gelembung udara yang berlebihan tidak dapat diterima
3. Jika udara yang berlebihan nampak dalam sight gauge dalam saluran bahan bakar yang
kembali (fuel return line), pasang sight gauge kedua pada inlet ke fuel transfer pump. Jika
sight gauge kedua tidak tersedia, pindahkan sight gauge dari saluran bahan bakar yang
kembali dan pasang pada inlet yang menuju fuel transfer pump. Amati aliran bahan bakar
pada saat engine berputar. Cari gelembung udara dalam bahan bakar. Jika engine hidup,
periksa apakah terdapat udara pada kecepatan-kecepatan engine yang berbeda.
Jika tidak nampak udara yang berlebihan pada inlet yang menuju fuel transfer pump, udara
memasuki sistem setelah fuel transfer pump. Lanjutkan ke Langkah 6. Jika tampak udara
yang berlebihan pada fuel transfer pump, udara masuk melalui suction side pada sistem
bahan bakar.
PERINGATAN:
Untuk menghindari cidera diri, selalu kenakan pelindung mata dan wajah pada saat menghadapi
udara bertekanan.
PERHATIAN:
Untuk menghindari kerusakan, jangan menggunakan tekanan lebih dari 55 kPa (8 psi) untuk
menekan tangki bahan bakar.
4. Beri tekanan hingga 35 kPa (5 psi) pada tangki bahan bakar. Jangan menggunakan lebih dari
55 kPa (8 psi) untuk menghindari kerusakan pada tangki bahan bakar. Periksa untuk mencari
kebocoran dalam saluran bahan bakar di antara tangki bahan bakar dan fuel transfer pump.
Perbaiki setiap kebocoran yang ditemukan. Periksa tekanan bahan bakar untuk memastikan
fuel transfer pump beroperasi dengan benar. Untuk informasi mengenai pemeriksaan tekanan
bahan bakar, lihat Pengetesan dan Penyetelan, “Fuel system pressure – testing”.
5. Jika sumber udara tidak ditemukan, putuskan saluran bahan bakar dari tangki bahan bakar
serta pasang sebuah suplai bahan bakar eksternal ke inlet pada fuel transfer pump. Jika hal
ini menyelesaikan masalah, perbaiki tangki bahan bakar atau stand pipe dalam tangki bahan
bakar.
6. Jika injector sleeve aus atau rusak, gas pembakaran dapat bocor dan masuk ke dalam sistem
bahan bakar. Juga, jika O-ring pada injector sleeve sudah aus, hilang, atau rusak, gas-gas
pembakaran dapat bocor dan masuk ke sistem bahan bakar.
Gunakan prosedur berikut untuk mengetes masalah yang berhubungan dengan kualitas bahan
bakar:
1. Tentukan apakah terdapat air dan/atau pencemar pada bahan bakar. Periksa water separator
(jika ada). Jika tidak ada, lanjutkan ke Langkah 2. Keringkan water separator, jika perlu.
Sebuah tangki bahan bakar yang penuh meminimalkan potensi kondensasi pada malam hari.
CATATAN:
Sebuah water separator dapat nampak penuh dengan bahan bakar meskipun sebenarnya penuh
beisi air
2. Tentukan apakah pencemar ada pada bahan bakar. Ambil sampel bahan bakar dari dasar
tangki bahan bakar. Secara visual periksa sampe bahan bakar untuk mencari pencemar.
Warna bahan bakar tidak menunjukkan kualitas bahan bakar. Namun, bahan bakar yang
hitam, coklat, dan/atau sama dengan sludge dapat menunjukkan adanya bakteri atau
pencemaran oli. Dalam suhu yang dingin, bahan bakar yang berkabut menunjukkan bahwa
bahan bakar tidak dapat digunakan untuk pengoperasian. Metode berikut dapat digunakan
untuk mencegah lilin menyumbat filter bahan bakar:
- Pemanas bahan bakar (fuel heater)
- Mencampur bahan bakar dengan zat additif
- Menggunakan bahan bakar dengan titik kabut rendah seperti kerosin.
Lihat Manual Operasi dan Perawatan, “Rekomendasi Bahan Bakar” untuk informasi lebih
lanjut.
3. Periksa API bahan bakar dengan sebuah 9U-7840 Fluid and Fuel Calibration Gp untuk
masalah tenaga yang rendah. Kisaran API bahan bakar yang dapat diterima adalah 30-45
ketika API diukur pada 15ºC (60º F), namun terdapat perbedaan energi yang mencolok dalam
kisaran ini. Lihat Buku Tool Operation Manual NEHS0607 untuk faktor perbaikan API ketika
terdapat masalah tenaga yang rendah dan API yang tinggi.
CATATAN:
Sebuah faktor koreksi yang lebih besar dari 1000 dapat menjadi penyebab tenaga yang rendah
dan/atau konsumsi bahan bakar yang buruk.
4. Jika kualitas bahan bakar masih dicurigai sebagai penyebab masalah dalam engine
performance, lepaskan saluran masuk bahan bakar dan untuk sementara operasikan mesin
dari sumber bahan bakar yang terpisah yang baik. Ini akan menentukan apakah masalah
disebabkan oleh kualitas bahan bakar. Jika kualitas bahan bakar ditentukan sebagai masalah,
keluarkan bahan bakar dari sistem bahan bakar dan ganti filter bahan bakar. Kinerja engine
dapat terpengaruh oleh yang berikut ini:
- Jumlah cetane dalam bahan bakar
- Udara dalam bahan bakar
- Karakteristik bahan bakar lainnya
PERINGATAN:
Bahan bakar yang bocor atau tumpah pada permukaan yang panas atau komponen listrik dapat
mengakibatkan kebakaran. Untuk membantu mencegah kemungkinan cidera, putar start switch
ke ‘off’ pada saat mengganti elemen filter bahan bakar atau water separator. Segera bersihkan
bahan bakar yang tumpah.
PERHATIAN:
Gunakan sebuah kontainer yang sesuai untuk menampung tumpahan bahan bakar. Bersihkan
bahan bakar yang tumpah segera.
PERHATIAN:
Jangan biarkan kotoran memasuki sistem bahan bakar. Bersihkan secara menyeluruh daerah di
sekitar komponen sistem bahan bakar yang akan dilepaskan. Pasang sebuah penutup yang
sesuai pada komponen sistem bahan bakar yang dilepaskan.
CATATAN:
Lihatlah Buku Manual Operasi dan Perawatan, “Filter Sekunder Sistem Bahan Bakar –
Penggantian” untuk memperoleh informasi mengenai penggantian filter.
Gambar 122
a. Screw pengosongan udara (air purge screw)
b. Katup regulator tekanan bahan bakar (fuel pressure regulating valve)
2. Buka air purge screw (a) untuk filter bahan bakar dengan memutarnya dengan tiga putaran
penuh. Jangan lepaskan air purge screw.
PERHATIAN:
Jangan meng-crank engine secara terus menerus selama lebih dari 30 detik. Beri waktu agar
starting motor mendingin selama 2 menit sebelum kembali meng-crank engine.
3. Hidupkan engine. Engine harus hidup dan harus berjalan dengan baik. Jika engine tidak
hidup setelah 30 detik, biarkan starter motor mendingin selama dua menit sebelum mencoba
menghidupkan engine kembali.
CATATAN:
Anda dapat menggunakan hand priming pump untuk filter bahan bakar (jika ada) daripada harus
menghidupkan dan menjalankan engine.
4. Pada saat engine sedang berputar, amati screw pengosongan udara (a). Pada saat setetes
bahan bakar tampak pada ulir screw, tutup dan kencangkan screw tersebut.
CATATAN:
Mungkin terdapat perubahan yang dapat terdengar pada suara engine yang berputar ketika
pengosongan udara dikencangkan. Perubahan suara ini adalah normal.
CATATAN:
Kebocoran bahan bakar yang serius dapat terjadi jika semua fitting tidak dikencangkan dengan
benar.
PERHATIAN:
Gunakan sebuah kontainer yang sesuai untuk menampung tumpahan bahan bakar. Bersihkan
bahan bakar yang tumpah segera.
PERHATIAN:
Jangan biarkan kotoran memasuki sistem bahan bakar. Bersihkan secara menyeluruh daerah di
sekitar komponen sistem bahan bakar yang akan dilepaskan. Pasang sebuah penutup yang
sesuai pada komponen sistem bahan bakar yang dilepaskan.
Gambar 123
a. Screw pengosongan udara (air purge screw)
b. Katup regulator tekanan bahan bakar (fuel pressure regulating valve)
3. Buka Pressure Regulator Valve (b) dengan dua setengah putaran. Regulating valve terletak di
dalam integral fuel filter base.
CATATAN:
Jangan lepaskan regulator valve seluruhnya. Buka valve secukupnya agar udara yang terjebak di
dalam kepala silinder agar dikeluarkan dari sistem bahan bakar.
PERHATIAN:
Jangan meng-crank engine secara terus-menerus selama lebih dari 30 detik. Biarkan starter
motor mendingin selama dua menit sebelum meng-crank engine kembali
4. Crank engine selama 30 detik. Gunakan sebuah kontainer yang sesuai untuk menampung
bahan bakar pada saat Anda meng-crank engine. Biarkan starter motor mendingin selama
dua menit.
PERHATIAN:
Anda dapat menggunakan hand primming pump untuk filter bahan bakar (jika ada) daripada harus
menghidupkan dan menjalankan engine
5. Crank engine selama 30 detik. Biarkan starter motor mendingin selama dua menit.
6. Tutup dan kencangkan fuel pressure regulating valve (b)
7. Crank engine selama 30 detik. Biarkan starter motor mendingin selama dua menit.
8. Ulangi langkah 7 hingga engine hidup dan berputar.
9. Kebocoran bahan bakar yang serius dapat terjadi jika semua fitting tidak dikencangkan
dengan benar.
10. Bersihkan bahan bakar yang tersisa dari komponen mesin.
PERHATIAN:
Gunakan sebuah kontainer yang sesuai untuk menampung tumpahan bahan bakar. Bersihkan
bahan bakar yang tumpah segera.
PERHATIAN:
Jangan biarkan kotoran memasuki sistem bahan bakar. Bersihkan secara menyeluruh daerah di
sekitar komponen sistem bahan bakar yang akan dilepaskan. Pasang sebuah penutup yang
sesuai pada komponen sistem bahan bakar yang dilepaskan.
Gambar 124
a. Screw pengosongan udara (air purge screw)
b. Katup regulator tekanan bahan bakar (fuel pressure regulating
valve)
3. Buka screw pengosongan udara (a) untuk filter bahan bakar dengan memutarnya dengan tiga
putaran penuh. Jangan lepaskan air purge screw.
4. Buka pressure regulating valve (b) dengan dua setengah putaran. Regulating valve terletak di
dalam dasar filter bahan bakar integral.
CATATAN:
Jangan lepaskan regulator valve seluruhnya. Buka valve secukupnya agar udara yang terjebak di
dalam kepala silinder agar dikeluarkan dari sistem bahan bakar.
PERHATIAN:
Jangan meng-crank engine secara terus-menerus selama lebih dari 30 detik. Biarkan starter
motor mendingin selama dua menit sebelum meng-crank engine kembali
5. Crank engine selama 30 detik. Gunakan sebuah kontainer yang sesuai untuk menampung
bahan bakar pada saat Anda meng-crankl engine. Biarkan starter motor mendingin selama
dua menit.
CATATAN:
Anda dapat menggunakan hand primming pump untuk filter bahan bakar (jika ada) daripada harus
menghidupkan dan menjalankan engine
6. Crank engine selama 30 detik. Biarkan starter motor mendingin selama dua menit.
7. Tutup dan kencangkan screw pengosongan udara (a)
8. Crank engine selama 30 detik. Biarkan starter motor mendingin selama dua menit.
9. Tutup dan kencangkan fuel pressure regulating valve.
CATATAN:
Kebocoran bahan bakar yang serius dapat terjadi jika semua fitting tidak dikencangkan dengan
benar.
10. Crank engine selama 30 detik. Biarkan starter motor mendingin selama dua menit.
11. Ulangi langkah 10 hingga engine hidup dan berputar
12. Bersihkan bahan bakar yang tersisa dari komponen mesin
Tekanan bahan bakar yang rendah dapat mengakibatkan tenaga yang rendah. Tekanan bahan
bakar yang rendah juga dapat mengakibatkan peronggaan pada bahan bakar yang dapat
merusak injektor bahan bakar. Kondisi-kondisi berikut dapat mengakibatkan tekanan bahan bakar
rendah:
Kinerja unit injector menurun pada saat tekanan bahan bakar turun dibawah 241 kPa (35 psi).
Masalah tenaga yang rendah dan operasi yang yang tidak stabil dapat terjadi dalam situasi ini.
Pastikan bahwa fuel filter yang tersumbat atau udara dalam saluran bahan bakar adalah
penyebab terjadinya masalah ini sebelum mengganti komponen sistem bahan bakar.
Untuk memeriksa tekanan pompa transfer bahan bakar, lepaskan sumbat dari dasar filter bahan
bakar. Pasang Konektor 3Y-2888 dengan sebuah 3J-1907 O-ring. Pasang sebuah alat pengukur
tekanan dan hidupkan engine (Gambar 126).
Kelompok Tekanan Mesin 1U-5470 dapat digunakan untuk memeriksa tekanan bahan bakar pada
engine. Kelompok tekanan mesin terdiri dari Instruksi Khusus, SEHS8907, “Menggunakan
Kelompok Tekanan Mesin 1U-5470”. Instruksi ini memberikan informasi mengenai penggunaan
kelompok tersebut.
Electronic Unit Injector – Pengetesan
Prosedur ini membantu mengenali penyebab misfire pada injektor. Lakukan prosedur ini hanya
setelah Anda melakukan Tes Pemotongan Silinder (Cylinder Cutout Test). Lihat Troubleshooting,
“Sirkuit Injector Solenoid – Pengetesan) untuk memperoleh informasi lebih lanjut.
1. Periksa apakah terdapat udara dalam bahan bakar, jika prosedur ini belum dilakukan. Lihatlah
pada Pengetesan dan Penyetelan, “Udara di dalam Bahan Bakar – Pengetesan”.
PERINGATAN:
Bahaya sengatan listrik. Sistem unit injector elektronik menggunakan 90-120 volt
2. Lepaskan valve cover dan carilah apakah terdapat komponen yang rusak. Perbaiki atau ganti
setiap komponen yang rusak. Periksa semua kabel solenoid. Periksa apakah terdapat
sambungan yang longgar. Juga cari apakah terdapat kabel yang sobek atau terbuka.
Pastikan konektor untuk unit injector solenoid dihubungkan dengan benar. Lakukan tes
penarikan pada setiap kabel. Periksa tempat solenoid untuk menemukan bengkokan. Jika
ditemukan bengkokkan, lepaskan penutup rangkaian. Bersihkan tiang penghubung. Pasang
kembali rangkaian penutup serta kencangkan baut solenoid dengan torsi 2,5 +/- 0,25 Nm (15
+/- 2 lb in). Lihatlah pada Manual Pembongkaran dan Rangkaian, “Unit injector Elektronik –
Pemasangan”.
3. Carilah apakah terdapat kebocoran bahan bakar. Selidiki sumber kebocoran bahan bakar.
Perbaiki sumber kebocoran bahan bakar.
4. Periksa setelan valve lash untuk silinder pada injektor yang dicurigai. Lihatlah pada
Pengetesan dan Penyesuaian, “Engine Valve Lash - Inspeksi/Penyetelan”.
5. Pastikan baut yang menahan unit injector dikencangkan hingga torsi yang tepat. Jika perlu,
longgarkan baut yang menahan unit injector serta kencangkan sesuai prosedur dari
Spesifikasi, “Mekanisme Unit injector Elektronik”.
6. Lepaskan unit injector yang dicurigai dan periksa unit injector tersebut untuk mencari tanda-
tanda keterpaparan pada cairan pendingin. Keterpaparan pada cairan pendingin dapat
mengakibatkan injektor berkarat. Jika unit injector menunjukkan tanda-tanda terkena zat
pendingin, lepaskan injector sleeve dan periksa. . Ganti injector sleeve jika rusak. Periksa
perubahan warna kecoklatan yang berkembang sampai ujung injector. Jika perubahan warna
yang berlebihan ditemukan, periksa kualitas bahan bakar. Lihat Pengetesan dan Penyetelan
“Kualitas Bahan Bakar – Pengetesan”. Ganti seal pada injector dan pasang kembali injector.
Lihat Buku Manual Pembongklaran dan Perakitan, Unit Injector Sleeve Elektronik –
Pemasangan”. Inspeksi endapan jelaga pada injector di atas permukaan seat pada injector.
Endapan jealga menunjukkan adanya kebocoran gas pembakaran. Sumber kebocoran harus
ditemukan dan sumber kebocoran harus diperbaiki. Injector tidak harus diganti jika
masalahnya adalah kebocoran gas pembakaran.
7. Jika masalah tidak dapat diperbaiki, gantilah injektor yang dicurigai dengan sebuah injektor
baru.
CATATAN:
Lubang untuk timing pin dapat berada dalam salah satu dari dua posisi:
Muka sebelah kanan flywheel housing (Gambar kiri)
Muka sebelah kiri flywheel housing (Gambar kiri)
1. Lepaskan plug (1) flywheel housing (2). Pasang timing pin melalui lubang timing di dalam
flywheel housing.
2. Lepaskan plug (3). Gunakan perkakas pemutar engine untuk memutar engine. Jangan
gunakan delapan baut kecil pada bagian depan crankshaft pulley.
Putar flywheel dalam arah rotasi engine normal. Putar flywheel timing pin terpasang pada
lubang di dalam flywheel.
CATATAN:
Jika flywheel diputar melebihi titik pemasangan, flywheel harus diputar pada arah yang
berlawanan dengan rotasi engine. Putar flywheel kurang lebih 30 derajat. Kemudian putar
flywheel dalam arah putaran mesin normal hingga timing pin terpasang pada lubang ulir. Ketika
piston nomor 1 berada pada posisi tengah atas, prosedur akan melepaskan backlash dari gear.
Jika rocker arms tidak dapat digerakkan dan valve sedikit terbuka, Piston no. 1 berada pada
exhaust stroke.
CATATAN:
Lihat Pengetesan dan Penyetelan, “Posisi Crankshaft untuk Penyetelan Valve Lash”
4. Setelah timing bolt sudah dipasang dalam flywheel, lengkapi prosedur-prosedur berikut,
seperlunya:
a. Temukan silinder yang perlu diperiksa untuk posisi stroke dalam crankshaft
b. Temukan silinder yang perlu disesuaikan untuk posisi stroke dari crankshaft
5. Pada saat posisi stroke yang sebenarnya dikenali dan posisi stroke dibutuhkan, lepaskan
baut timing dari flywheel.
6. Putar flywheel 360 derajat dalam arah rotasi mesin yang normal.
CATATAN:
Timing hole digunakan selama prosedur untuk menyetel valve lash
TROUBLESHOOTING ELEKTRONIK
Diagnosa Sendiri
Electronic Control Module (ECM) memiliki kemampuan untuk mendeteksi masalah dengan sistem
elektronik dan dengan operasi mesin. Pada saat sebuah masalah terdeteksi, sebuah kode
dihasilkan. Sebuah alarm juga dibunyikan. Terdapat dua jenis kode:
Diagnostic
Event
Diagnostic Code – Ketika masalah dengan sistem elektronik terdeteksi, ECM mengeluarkan
kode diagnosa. Ini menunjukkan problem khusus dengan sirkuit.
Diagnostic Code / Kode Diagnosa dapat memiliki dua kondisi yang berbeda:
Aktif
Di-log
Kode Aktif – Suatu kode diagnosa aktif menunjukkan bahwa suatu masalah aktif telah terdeteksi.
Kode-kode aktif membutuhkan perhatian segera. Selalu lakukan servis pada kode aktif sebelum
menservis kode yang di-log.
Kode Log – Setiap kode yang dikeluarkan disimpan dalam memori permanen pada ECM, Kode-
kode ini di-log.
Kode Event – Suatu kode event dihasilkan oleh deteksi kondisi mesin yang tidak normal.
Contohnya, sebuah kode event akan dihasilkan jika tekanan oli terlalu rendah. Dalam hal ini, kode
event menandakan gejala masalah.
Kode-kode log mungkin tidak menunjukkan bahwa perbaikan dibutuhkan. Masalahnya mungkin
hanya sementara. Masalahnya mungkin sudah terlesaikan sejak kode di-log. Jika sistem
dihidupkan, akan mungkin dihasilkan sebuah kode diagnosa aktif ketika komponen dilepaskan.
Ketika komponen dihubungkan kembali, kode sudah tidak lagi aktif. Kode-kode yang di-log juga
dapat digunakan untuk meninjau kinerja engine dan sistem elektronik.
Throttle position sensor “yang dipasang pada pedal” dipasang langsung pada suatu jenis throttle
pedal khusus. Penyetelan tidak mungkin dilakukan pada TPS “yang dipasang pada pedal”.
Throttle sensor yang dipasang pada pedal di pasang pada bagian belakang pedal yang disuplai
oleh OEM (Gambar 128). Sensor kopling di atas pedal dipasang di atas pedal OEM (Gambar
128). Sensor kopling diatas pedal tidak perlu disesuaikan. Kalibrasi sensor kopling diatas pedal
dilakukan oleh ECM secara otomatis. Kalibrasi yang sesuai dapat ditampilkan dengan ECAP.
Throttle persen yang benar (governor control movement) ditampilkan sebagai tiga persen dengan
throttle yang dilepaskan penuh, dan 100 persen jika throttle ditekan penuh.
Gambar 129
Sensor kecepatan/timing pada engine sekunder memberikan operasi engine yang terus menerus
jika sensor kecepatan/timing pada engine primer gagal. Hilangnya sinyal dari sensor
kecepatan/timing pada engine akan membuat ECM tidak dapat mengaktuasi injektor. Untuk
mencegah down time yang tidak perlu, setiap masalah dengan sirkuit kecepatan/timing harus
segera diperbaiki.
Sensor kecepatan/timing pada engine merupakan sensor magnetik yang menyediakan sebuah
frekuensi yang secara langsung proporsional dengan kecepatan engine. Sebuah gigi yang unik
pada timing reference ring melewati sensor kecepatan/timing pada engine. sensor
kecepatan/timing pada engine menghasilkan sebuah output siklus kerja. Siklus kerja ini
memberikan informasi kepada ECM mengenai posisi crankshaft.
CATATAN:
Penting untuk mengacu pada Pedoman Troubleshooting atau Buku Manual Pengetesan &
Penyetelan untuk prosedur-prosedur yang ada saat ini.
Mengganti ECM
PERHATIAN:
Anda harus berhati-hati untuk memastikan bahwa fluida ditampung selama pelaksanaan inspeksi,
perawatan, pengetesan, penyetelan dan perbaikan produk. Anda harus siap menampung fluida
dalam kontainer yang sesuai sebelum membuka semua kompartemen atau membongkar semua
komponen yang mengandung fluida.
Lihatlah pada Penerbitan Khusus, NENG2500, “Pedoman Produk Peralatan dan Bengkel
Caterpillar ” untuk mengetahui perangkat dan kontainer yang sesuai untuk menampung fluida
pada produk-produk Caterpillar.
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen.
Electronic Control Module (ECM) tidak terdiri dari komponen yang bergerak. Penggantian ECM
membutuhkan banyak biaya dan dapat juga menghabiskan waktu. Ikuti prosedur troubleshooting
dalam buku manual sumber agar Anda yakin bahwa mengganti ECM akan memperbaiki masalah.
Pastikan bahwa ECM yang dicurigai adalah penyebab masalah.
CATATAN:
Pastikan ECM menerima daya dan ECM sudah dihubungkan ke sirkuit baterai negatif sebelum
mengganti ECM. Troubleshooting, “Sirkuit Suplai Daya Listrik – Pengetesan”.
Test Ecm dapat digunakan untuk memastikan apakah ECM rusak. Pasang test ECM pada ECM
yang dicurigai. Munculkan program yang memperbaiki personality module (flash file) ke dalam
test ECM. Lakukan pemrograman pada parameter untuk operasi yang normal. Parameter harus
cocok dengan parameter dalam ECM yang dicurigai.
Lihat langkah-langkah pengetan berikut untuk mengetahui perinciannya. Jika test ECM
memperbaiki masalah, pasang kembali ECM yang dicurigai. Pastikan apakah masalah terjadi lagi.
Jika terjadi lagi, ganti ECMnya.
CATATAN:
Pada saat ECM yang baru tidak tersedia, Anda perlu mengambil ECM dari engine yang sedang
tidak digunakan. Pastikan ECM pengganti dan Personality Module Interlock Code cocok dengan
ECM yang dicurigai rusak. Pastikan mencatat parameter dari ECM pengganti pada “Parameters
Worksheet”. Gunakan fitur “Copy Configuration/ECM Replacement” yang ada di dalam menu
“Service” pada Caterpillar Electronic Technician (Cat ET).
PERHATIAN:
Jika personality module dan aplikasi engine tidak cocok, engine dapat rusak.
CATATAN:
Injector trim code adalah nomor yang terdapat pada setiap unit injector. ECM menggunakan
nomor ini untuk mengkompensasi variasi pembuatan di antara injector-injector. Jika Anda
mengganti unit injector, Anda harus memprogram ulang trim code untuk injector yang baru. Juga,
jika Anda mengganti ECM, Anda harus memprogram ulang seluruh trim code.
3. Gunakan fitur “Copy Configuration/ECM Replacement” yang ditemukan dalam menu “Service”
pada Cat ET. Pilih “Load from ECM” untuk menyakin konfigurasi dari ECM yang dicurigai.
CATATAN:
Jika proses “Copy Configuration” gagal dan parameter tidak diperoleh dalam
Langkah 2, parameter tersebut harus diperoleh dengan cara lain. Beberapa parameter dicetak
pada pelat informasi engine, namun sebagian besar parameter harus diperoleh dari pabrik.
4. Lepaskan ECM
a. Putar keyswitch ke posisi OFF/RESET
b. Putuskan konektor ECM J1/P1 dan J2/P2
PERHATIAN:
Gunakan kontainer yang sesuai untuk menampung bahan bakar yang tumpah. Segera bersihkan
bahan bakar yang tumpah.
PERHATIAN:
Jangan biarkan debu memasuki sistem bahan bakar. Bersihkan secara menyeluruh area di
sekitar komponen sistem bahan bakar yang akan diputuskan. Pasang cover yang sesuai di atas
komponen sistem yang dilepaskan.
c. Jika perlu, lakukan pemrograman pada Sistem Pemantauan Engine (Engine Monitoring
System)
Prosedur Pelepasan
CATATAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen
Gambar 131
CATATAN: Terdapat dua sensor kecepatan/timing pada engine. Prosedur pelepasan adalah
sama untuk keduanya.
Prosedur Instalasi
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen
PERHATIAN:
Sensor kecepatan/timing harus dipasang pada kedalaman yang sesuai agar dapat beroperasi
dengan benar. Sensor kecepatan/timing dan rangka (depan) harus bebas dari pencemar untuk
memastikan kedalaman pemasangan sensor kecepatan/timing yang sesuai.
Gambar 133
CATATAN:
Terdapat dua sensor kecepatan/timing. Prosedur pemasangan adalah identik untuk keduanya.
Gambar 134 – Contoh umum dari Pandangan A-A dan Padangan B-B
1. Pasang sensor kecepatan/timing pada engine (2). Pasang bracket (3) pada posisinya dan
pasang baut (4).
2. Sambungkan rakitan harness (1)
Gambar 135
Sensor kecepatan/timing pada engine memberikan informasi kepada Electronic Control Module
(ECM) dengan cara menghasilkan sinyal pulse saat timing reference ring berputar melintasi
perangkat magnetik pada sensor.
Sensor kecepatan/timing pada engine sekunder memberikan operasi engine yang terus menerus
jika sensor kecepatan/timing pada engine primer gagal. Hilangnya sinyal dari sensor
kecepatan/timing pada engine akan membuat ECM tidak dapat mengaktuasi injektor. Untuk
mencegah down time yang tidak perlu, setiap masalah dengan sirkuit kecepatan/timing harus
segera diperbaiki.
Sensor kecepatan/timing pada engine merupakan sensor magnetik yang menyediakan sebuah
frekuensi yang secara langsung proporsional dengan kecepatan engine (RPM). Sebuah gigi yang
unik pada timing reference ring melewati sensor kecepatan/timing pada engine. sensor
kecepatan/timing pada engine menghasilkan sebuah output siklus kerja. Siklus kerja ini
memberikan informasi kepada ECM mengenai posisi camshaft.
Kalibrasi timing diperoleh dengan cara memasang sebuah medan magnetik khusus pada bagian
sisi blok mesin dan dengan melakukan “Kalibrasi Timing” pada Caterpillar Electronic Technician
(Cat ET). Medan magnet mendeteksi sebuah slot khusus pada bobot penyeimbang crankshaft.
Perangkat magnetik dihubungkan ke ECM melalui timing calibration connector P26 pada engine
harness.
CATATAN:
Konektor kalibrasi timing P26 terletak dekat ECM dalam sirkuit untuk sensor kecepatan/timing
pada engine sekunder. Lihat pada Troubleshooting, “Sensor dan Konektor Listrik” untuk lokasi
konektor P26. Putuskan sensor kecepatan/timing pada engine sekunder pada konektor J26/P26
dan hubungkan kabel 7X-1695 (Timing Calibration) ke P26 timing calibration connector.
CATATAN:
Melakukan timing calibration tidak akan meningkatkan daya mesin yang tersedia. Jangan
mengharapkan peningkatan daya akibat kinerja dari timing calibration.
Gambar 136
Hasil:
- OK – Lanjutkan ke Langkah Pengetesan 2
PERHATIAN:
Jika crankshaft tidak berada dalam posisi yang sesuai pada saat Timing Calibration Probe 6V-
2197 dipasang, probe akan rusak pada saat mesin dihidupkan.
CATATAN:
Sedikit oli mesin yang bersih akan membuat seal bergeser ke sensor dengan lebih mudah
b. Dorong sensor melalui adapter hingga sensor menyentuh bagian terluar dari bobot
penyeimbang crankshaft. Gerakkan O-ring seal ke arah bawah pada adapter.
c. Tarik sensor 1,0 mm (0,04 inci) serta kencangkan baut pada adapter sleeve untuk
mengencangkan perangkat magnetik pada tempatnya.
d. Hubungkan Timing Calibration Probe 6V-2197 pada kabel 7X-1695
Hasil:
- OK – Lanjutkan ke Langkah Pengetesan 3
Hasil:
- OK – Lanjutkan ke Langkah Pengetesan 4
b Setelah mesin menghangat, akses “Timing Calibration” screen pada perkakas servis
elektronik. Akses beberapa display screen berikut:
- “Service”
- “Calibration”
- “Timing Calibration Screen”
c. Putuskan sensor kecepatan/timing engine sekunder pada konektor J26/P26
d. Hubungkan kabel 7X-1695 ke timing calibration connetor P26
CATATAN:
Lihatlah pada Troubleshooting, “Sensor dan Konektor Listrik” untuk lokasi connector P26
Hasil:
- OK – Lanjutkan ke Langkah Pengetesan 5
CATATAN:
Kecepatan engine akan disesuaikan secara otomatis
a. Untuk mengkalibrasikan timing pada setting yang sesuai, pilih “Continue” pada electronic
service tool. Tunggu hingga electronic service tool menandakan bahwa timing sudah di
“CALIBRATED”.
CATATAN:
Jika tampilan pada electronic service tool tertulis “CALIBRATION UNSUCCESSFUL”, maka
electronic injection timing belum disetel. Periksa kembali pemasangan dan operasi tool dan coba
kembali untuk mengkalibrasi electronic injection timing. Jika crankshaft gear dan camshaft gear
telah dirakit dengan benar, mesin tidak akan mengkalibrasi.
CATATAN:
Kode-kode diagnosa akan dihasilkan untuk sensor kecepatan/timing pada engine sekunder jika
sensor kecepatan/timing pada engine sekunder tidak dipasang kembali sebelum keluar dari
“Timing Calibration” screen pada electronic service tool.
Hasil:
- OK – prosedur timing calibration telah dilaksanakan dengan berhasil
Perbaikan: jangan keluar dari “Timing Calibration” screen pada electronic service tool
sebelum Anda telah melepaskan timing calibration probe dan telah memasang kembali
sensor kecepatan/timing sekunder.
Stop.
- Not OK –
Perbaikan: Lakukan prosedur berikut:
i. Pastikan bahwa kecepatan engine stabil selama pengetesan (+/- 50 RPM). Jika
kecepatan engine tidak stabil atau tidak dapat dikendalikan dalam +/- 50 RPM karena
faktor mekanik atau faktor listrik, lihatlah pada Troubleshooting, “ Mesin Tidak
Menyala, Berjalan Kasar atau Tidak Stabil
ii. Jika semua masalah sudah diperbaiki namun timing tidak dapat dikalibrasikan,
periksa kabel 6V-2197 pada Timing Calibration Probe dan periksa Timing Calibration
Probe 6V-2197 untuk memastikan bahwa probe tidak bengkok. Pastikan probe
tersebut dipasang dengan benar sebelum Anda memulai kembali prosedur ini.
Stop.
ET (Electronic Technician) memberikan tiga pilihan tes otomatis: satu, empat atau lima Tes
Cylinder Cutout. Keempat Tes Cylinder Cutout merupakan tes default dan karenanya
direkomendasikan sebagai titik mulai. Pengetesan otomatis mematikan aliran bahan bakar ke
silinder atau silinder-silinder pada saat posisi bahan bakar dipantau untuk silinder yang tersisa.
Posisi bahan bakar dari silinder yang tersisa harus meningkat. Jika tidak, silinder yang dipotong
tersebut tidak berfungsi dengan benar. Pengetesan-pengetesan ini mengumpulkan dan
menganalisa data posisi bahan bakar. Pengetesan berjalan dua kali dan menghasilkan rata-rata
dua set data. Pada saat tes selesai hasil OK atau NOT OK ditampilkan pada setiap silinder.
Tes Cylinder Cutout Manual juga tersedia. Pengetesan ini membuat sebuah silinder spesifik dapat
dipotong ketika posisi bahan bakar dipantau untuk silinder sisanya.
Tes Cylinder Cutout dibuka dengan pengetesan manual. Pada bagian dasar ET screen terdapat
sebaris tombol dengan fungsi sebagai berikut:
“Change” mengubah silinder yang dipilih di antara yang diberi daya atau tidak diberi daya
“Power All” mengembalikan semua silinder pada kondisi operasi normal.
“Start” memulai tes Cylinder Cutout otomatis
“Stop” memulai pengetesan otomatis
“Results” menampilkan hasil pengetesan
“Print” membuat isi screen dapat dilihat, atau dikirim ke sebuah file atau printer
Kondisi berikut harus dipenuhi untuk melaksanakan salah satu dari tes-tes otomatis tersebut:
Tidak terdapat Kode Diagnostic Aktif (Active Diagnostic Code)
Kecepatan Engine yang benar:
- 1 Tes Cylinder Cutout = 980 hingga 1020 RPM
- 4 Tes Cylinder Cutout = 980 hingga 1020 RPM
Suhu pendingin = 77° C (171 ° F) atau lebih tinggi
Kipas pendingin diaktifkan (Kipas pendingin yang dikendalikan oleh ECM akan secara
otomatis diaktifkan selama pengetesan)
TOPIK 5
Mengganti dan Memasang Injector Sleeve
Dimulai dengan:
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen
Gambar 137
PERHATIAN:
Valve rocker arm dan unit injector rocker arm dapat bergerak pada shaft setelah baut dilepaskan.
Shaft tersebut harus dijaga agar tetap lurus pada saat dilepaskan dari kepala silinder. Untuk
menghindari kemungkinan cidera diri, jauhkan jari Anda dari valve rocker arm dan unit injector
rocker arm saat mengangkat rakitan dari kepala silinder.
CATATAN:
Jika mesin dilengkapi dengan sebuah rem kompresi, abaikan Langkah 1
Gambar 138
2. Lepaskan shaft (3), valve rocker arms (1), dan unit injector rocker arms (4) sebagai satu
kesatuan dengan menggunakan Perkakas (A)
Gambar 139
Dimulai dengan:
a. Lepaskan rocker arm dan rocker arm shaft. Lihatlah pada Pembongkaran dan Perakitan,
“Rocker Arm dan Shaft – Melepaskan”.
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen
PERHATIAN:
Anda harus berhati-hati untuk memastikan bahwa fluida ditampung selama pelaksanaan inspeksi,
perawatan, pengetesan, penyetelan dan perbaikan produk. Anda harus siap menampung fluida
dalam kontainer yang sesuai sebelum membuka semua kompartemen atau membongkar semua
komponen yang mengandung fluida.
Lihatlah pada Penerbitan Khusus, NENG2500, “Pedoman Produk Peralatan dan Bengkel
Caterpillar ” untuk mengetahui perangkat dan kontainer yang sesuai untuk menampung fluida
pada produk-produk Caterpillar.
Buanglah semua fluida menurut peraturan dan persyaratan lokal
Gambar 140
1. Longgarkan baut serta lepaskan rakitan harness (1) dari unit injector elektronik (3).
Posisikan rakitan harness agar tidak menghalangi.
2. Tandai rakitan bridge (2) agar memudahkan penidentifikasian. Lepaskan dua rakitan
bridge (2)
Gambar 141
Gambar 142
4. Gunakan alat (A) untuk mendongkrak bagian bawah dan melepaskan unit injector
elektronik (3)
Gambar 143
5. Lepaskan unit injector elektronik (3), spacer (5) dan clamp (6) dari kepala silinder
6. Buat catatan pada kode injector trim pada bagian atas injektor. Kode trim membuat ECM
dapat mengkompensasi variasi dalam pembuatan. Gunakan kode ini dengan Cat ET
pada saat Anda mengkalibrasikan injektor yang baru.
7. Periksa kondisi O-ring seal (7). Gunakan komponen baru untuk mengganti jika O-ring seal
nampak aus atau rusak.
Dimulai dengan:
a. Lepaskan unit injector elektronik. Lihatlah pada Pembongkaran dan Perakitan, “Unit
injector Elektronik – Melepaskan”.
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai
komponen
Gambar 144
1. Keluarkan cairan pendingin dari mesin. Lihat Manual Operasi dan Perawatan, “Cairan
Pendingin Sistem Pendingin – Penggantian”. Cairan pendingin akan memasuki silinder
jika sistem pendingin tidak dikeringkan.
Gambar 145
Gambar 146
5. Lepaskan O-ring seal (2) dari unit injector sleeve (1). Periksa kondisi unit injector sleeve. Jika
unit injector sleeve aus atau rusak, gunakan sebuah komponen baru untuk menggantikannya.
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen
1. Gunakan perkakas (B) untuk membersihkan bore dalam kepala silinder untuk unit injector
sleeve.
PERHATIAN:
Sebelum memulai pemasangan pastikan unit injector sleeve dan kepala silinder bersih dari oli,
kotoran, dan kotoran sealant.
Gambar 147
2. Pasang O-ring seal yang baru (2) pada unit injector sleeve (1)
CATATAN:
Jangan menggunakan Perkakas (E) pada permukaan kepala silinder. Hanya gunakan perkakas
(E) pada unit injector sleeve.
3. Gunakan perkakas (E) pada permukaan kontak unit injector sleeve (1) pada permukaan yang
ditandai dengan “X”
4. Berikan pelumas pada O-ring seal dengan oli mesin yang bersih
Gambar 148
Gambar 149
7. Gunakan Perkakas (D) dan sebuah palu untuk memasang unit injector sleeve.
8. Gunakan sebuah handuk yang bersih untuk menyingkirkan zat-zat yang ada.
9. Isi sistem pendingin dengan zat pendingin. Lihat Operasi dan Perawatan, “Kapasitas
Pengisian” untuk mengetahui kapasitas sistem pendingin.
Akhiri dengan: Pasang unit injector elektronik. Lihatlah pada Pembongkaran dan Perakitan,
“Unit injector Elektronik – Pemasangan”.
PERHATIAN:
Anda harus berhati-hati untuk memastikan bahwa fluida ditampung selama pelaksanaan inspeksi,
perawatan, pengetesan, penyetelan dan perbaikan produk. Anda harus siap menampung fluida
dalam kontainer yang sesuai sebelum membuka semua kompartemen atau membongkar semua
komponen yang mengandung fluida.
Lihatlah pada Penerbitan Khusus, NENG2500, “Pedoman Produk Peralatan dan Bengkel
Caterpillar ” untuk mengetahui perangkat dan kontainer yang sesuai untuk menampung fluida
pada produk-produk Caterpillar.
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar. Pencemar dapat menyebabkan keausan yang
cepat dan memendekkan usia pakai komponen
Gambar 150
1. Pasang O-ring seal O (7). Berikan pelumas pada bagian atas kedua O-ring seal dengan
sebuah campuran 50/50 oli mesin bersih dengan Perkakas (A).
Gambar 151
2. Pasang unit injector elektronik (3), spacer (5), serta clamp (6) di dalam kepala silinder
Gambar 152
3. Pasang baut (4). Kencangkan baut (4) hingga torsi 55 +/- 10 Nm (41 +/- 7 lb ft)
4. Pasang dua rangkaian bridge (2) pada lokasinya masing-masing
5. Kencangkan rakitan harness (1) pada unit injector elektronik (3). Pasang dua baut tersebut.
Kencangkan baut tersebut hingga torsi 2,5 +/- 0,25 Nm (22 +/- 2 lb in).
Akhiri dengan: Pasang rocker arms dan rocker arm shaft. Lihat Pembongkaran dan
Perakitan, “Rocker Arm dan Shaft – Pemasangan”.
PERHATIAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen
PERINGATAN:
Valve rocker arm dan unit injector rocker arm dapat bergerak pada shaft setelah bautnya sudah
dilepaskan. Shaft tersebut harus dijaga agar lurus pada saat dilepaskan dari kepala silinder.
Untuk menghindari cidera diri, jauhkan jari Anda dari valve rocker arm dan unit injector rocker arm
pada saat mengangkat rakitan dari kepala silinder.
Gambar 153
1. Pasang rocker shaft (3), valve rocker arm (1), dan unit injector rocker arm (4) sebagai
satu kesatuan dengan menggunakan perkakas (A).
CATATAN:
Pasang rocker shaft (3) dengan sisi yang datar menghadap keatas
Gambar 154
CATATAN:
Jika mesin dilengkapi dengan rem kompresi, abaikan Langkah 2
2. Pasang empat baut (2). Kencangkan baut (2) hingga torsi 109 +/- 15 Nm (80 +/- 11 lb ft)
Akhiri dengan: Pasang penutup mekanisme valve. Lihat Pembongkaran dan Perakitan,
“Penutup Mekanisme Valve – Pemasangan”.
Jika salah satu kondisi berikut terjadi, kalibrasikan kode injector trim:
Sebuah kode khusus dituliskan pada bagian atas setiap unit injector. Kode injector trim membuat
ECM dapat mengkompensasi variasi dalam proses pembuatan.
CATATAN:
Mengubah kode injector trim tidak akan meningkatkan daya yang tersedia untuk engine.
a. Gunakan Tabel 13 untuk mencatat kode injector trim dan nomor silinder yang sesuai
untuk setiap unit injector yang akan diganti.
CATATAN:
Jika ECM diganti, semua kode injector trim harus dicatat. Kode injector trim dapat ditemukan
dalam “Calibrations” pada menu “Service” pada Caterpillar Electronic Technician (Cat ET).
Hasil:
- OK – Semua kode injector trim diperoleh. Lanjutkan ke Langkah Pengetesan 2
Perbaikan: Lepaskan penutup valve dan catat kode injector trim serta nomor silinder
yang berhubungan untuk setiap unit injector.
Lanjutkan ke Langkah Pengetesan 2.
Hasil:
Hasil:
- OK – Stop-
TOPIK 6
Hydraulic Electronic Unit Injection (Sistem Bahan Bakar HEUI)
PENDAHULUAN
Gambar 155
Mesin HEUI memiliki beberapa kelebihan dan fitur yang tidak terdapat pada sistem bahan bakar
mekanis. Fitur-fitur ini termasuk pembuangan yang lebih bersih, konsumsi bahan bakar yang lebih
baik dan cold starting, perawatan yang lebih sederhana dengan komponen bergerak yang lebih
sedikit, serta biaya operasi yang lebih rendah.
KOMPONEN
Sistem Bahan Bakar HEUI 3408E/3412E
Gambar 156
Gambar 156 mempelihatkan berbagai komponen dalam sistem bahan bakar HEUI. Komponen
elektronik dalam sistem bahan bakar HEUI juga sangat mirip dengan sistem EUI. Namun, pada
sistem HEUI, injektor tidak diaktifkan oleh camshaft.
Sebuah pompa hidraulik bertekanan tinggi, yang menarik oli dari sisi tekanan pompa lubrikasi,
meningkatkan tekanan hingga maksimum 22800 kPa (33000 psi). Tekanan tersebut dikendalikan
oleh Electronic Control Module (ECM). Aliran hidraulik diarahkan ke aktuator hidraulik dalam
setiap injektor.
Injektor-injektor tersebut diberi sinyal secara elektronik (sebagaimana dalam sistem EUI) agar oli
dapat mengalir di bawah tekanan tinggi untuk menggerakkan sebuah piston, yang kemudian
menggerakkan fuel plunger.
Bahan bakar diperoleh dari tangki bahan bakar, melalui separator air/filter bahan bakar primer
menggunakan pompa transfer bahan bakar. Bahan bakar bertekanan tinggi disirkulasikan melalui
ECM, ke filter bahan bakar sekunder, kemudian melalui kepala silinder melalui katup regulator
dan kembali ke tangki.
Gambar 157
Gambar 157 memperlihatkan tujuh jenis komponen dalam sistem bahan bakar HEUI. Kelompok
Pompa Suplai Hidraulik (Hydraulic Supply Pump Group) (1) terdiri atas:
Data link CAT (tidak ditampilkan) menyediakan jalur komunikasi dua arah antara sistem HEUI dan
rangkaian atau sistem elektronik pada engine tersebut. Jalur data CAT menjadikan perkakas
servis dapat berkomunikasi dengan sistem elektronik engine.
CATATAN:
Hanya sebuah contoh dari setiap sensor (tekanan, suhu dan kecepatan/timing) ditampilkan pada
slide.
Gambar 158
Kelompok Pompa Suplai 3408E/3412E adalah pompa piston berporos pergerakan keluar variabel
yang sejenis dengan pompa-pompa yang digunakan dalam banyak sistem hidraulik pada engine
(Gambar 158).
Pompa tersebut memiliki kelompok sembilan piston putar dan kendali pemindahan variabel.
Pompa tersebut digerakkan oleh engine timing gear pada 1,167 kali kecepatan engine dan
menghasilkan 59 liter/menit. (15,5 gpm) pada kecepatan engine yang dinilai.
Oli bertekanan rendah dari pompa pelumasan engine disuplai ke inlet pada pump Cold Start Oil
Reservoir. Tujuan adanya reservoir ini adalah menjaga sistem tetap berada dalam keadaan di-
prime saat pendinginan. Selama kondisi cold start, volume oli ini membantu memperpendek
waktu start.
Sensor tekanan oli sistem pelumasan dan suhu hidraulik terletak di dalam reservoir.
Kelompok Pompa Suplai Hidraulik terdiri dari komponen-komponen yang dapat diservis sebagai
berikut:
Transfer Pump
Check Valve untuk aliran balik
Pump Control Valve
Compensator Valve Block
Gambar 159
Kelompok Hydraulic Supply Pump (Gambar 159) dipasang pada adapter seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar 159. Drive shaft pada pompa terpasang di dalam drive spline. (1).
Sebuah baut berukuran besar dipasang di dalam lubang (2) dalam dasar dasar adaptor untuk
memberikan kelurusan yang baik antara adaptor dan engine block.
Catat lokasi Sensor Tekanan Atmosfir (3) di dalam housing. Sensor Tekanan Atmosfir dikeluarkan
ke atmosfir di bawah housing. Housing tersebut memiliki sebuah sumbat busa untuk mencegah
masuknya debu kedalam sensor.
Gambar 160
Fuel Transfer Pump (Gambar 160, panah) digerakkan oleh sebuah kopling yang menghubungkan
ujung drive shaft dari pompa suplai bertekanan tinggi ke input shaft pada transfer pump.
Gear pump memiliki sebuah integral relief valve yang disetel untuk membuka pada tekanan 620
hingga 760 kPa (90 hingga 110 psi). Valve ini umumnya tidak beroperasi karena valve pengatur
tekanan mengendalikan tekanan.
Bahan bakar ditarik dari tangki ke filter bahan bakar primer/water separator kombinasi. Bahan
bakar kemudian lewat melalui ECM dan filter bahan bakar sekunder ke manifold fluida dan ke
injektor.
Gambar 161
Gambar ini memperlihatkan bagian belakang pompa suplai hidraulik dengan aftercooler yang
dilepaskan dari engine.
Check Valve Aliran Balik (panah pada Gambar 161) terletak pada bagian belakang kelompok
pompa pada sebelah kanan pompa transfer. Saluran bertekanan tinggi ke manifold dihubungkan
ke check valve.
ECM
Gambar 162
Komponen utama dalam sistem HEUI (Gambar 162), Electronic Control Module (1), dipasang di
bagian atas bagian sebelah kanan penutup valve.
Personality Module digunakan untuk memprogram ECM dengan semua informasi penilaian untuk
suatu aplikasi tertentu. Personality Module dapat diubah dengan penggantian langsung atau
diprogram ulang menggunakan PC. Panel Akses Personality Module terletak dibawah ECM.
Kelompok Hydraulic Supply Pump (2) dipasang di dalam vee pada engine dalam posisi yang
sama dengan Fuel Pump dan merupakan governor untuk engine 3408C/3412C. Aliran dari pompa
ini menyediakan tekanan aktuasi untuk injektor. Pompa transfer bahan bakar dipasang di
belakang pompa.
Diantara komponen-komponen yang nampak adalah Wiring Harness dan 40 Pin Connector ke
ECM.
Gambar 163
Gambar 163 merupakan pandangan sisi kiri engine bagian atas yang menunjukkan sensor suhu
bahan bakar (1). Atmospheric Pressure Sensor (2) dipasang pada adapter pemasang kelompok
Hydraulic Supply Pump.
Lubrication Oil Pressure Sensor (3) dipasang pada Kelompok Hydraulic Supply Pump. Sensor ini
digunakan oleh ECM untuk menghasilkan peringatan tekanan oli rendah untuk operator. Selain
itu, Sensor Suhu Hidraulik (4) juga dipasang pada Kelompok Pompa Suplai Hidraulik.
Sensor ini digunakan oleh ECM untuk kompensasi kekentalan / Viscosity untuk mempertahankan
pengiriman bahan bakar dan injector timing tanpa memperdulikan perubahan kekentalan yang
disebabkan oleh suhu hidraulik yang bervariasi. Kedua sensor tersebut dipasang dengan sistem
ulir ke dalam tempat pompa suplai.
40 Pin Machine Interface Connector (5) dipasang di belakang Kelompok Pompa Suplai Hidraulik.
Komponen ini membuat koneksi antara engine dan machine wiring harness.
Satu bagian yang penting pada rakitan wiring adalah Ground Bolt (6) yang dipasang pada
machine interface connector bracket.
CATATAN:
Aliran oli dari Kelompok Hydraulic Supply Pump disebut sebagai “hidraulik” untuk menghindarkan
kerancuan dengan sistem pelumasan.
Gambar 164
Gambar 165
Sensor Suhu Cairan Pendingin pada Engine (Gambar 165, panah) terletak di bagian depan
kepala silinder kanan. Sensor ini digunakan dengan ECM untuk mengendalikan berbagai fungsi.
Sistem atau sirkuit berikut ini menggunakan output sensor suhu ke ECM:
Sistem Manajemen Informasi Vital (VIMS) atau Alat Pengukur Suhu Zat Pendingin Sistem
Caterpillar melalui kabel data CAT.
LED dan Alat Pengukur Indikator Siaga Peringatan Suhu Cairan Pendingin yang Tinggi pada
VIMS atau panel Sistem Pemantauan Caterpillar. (Informasi ini dikirimkan melalui CAT Data
Link)
Engine Demand Fan Control, jika dipasang menggunakan referensi sinyal sensor untuk
memberikan kecepatan kipas yang sesuai.
Indikasi suhu cairan pendingin Cat Electronic Technician (ET) status screen
Saklar Aliran Cairan Pendingin (tidak nampak dalam gambar) dipasang di bawah sensor suhu
pendingin pada inlet ke oil cooler.
Gambar 166
Gambar 166 menampilkan salah satu dari Sensor Kecepatan/Timing (A). Sebuah sensor
dipasang pada masing-masing sisi timing gear housing. Sensor Kecepatan/Timing sekunder
ditampilkan. Sensor Kecepatan/Timing primer terletak paling dekat dengan ECM.
Sensor-sensor ini digunakan untuk menghitung kecepatan mesin dan posisi crankshaft untuk
tujuan timing.
Sensor –sensor ini dapat menyesuaikan diri secara otomatis, namun perlu dipasang dengan hati-
hati untuk menghindari kerusakan (langkah pencegah untuk keselamatan dibahas kemudian).
CATATAN:
Sensor mempertahankan clearance nol dengan timing wheel
Gambar 167
Turbo Inlet Pressure Sensor (Gambar 167, panah) dipasang diantara filter udara dan
turbocharger. Tidak semua mesin memiliki sensor ini. Sensor ini (jika dipasang) digunakan
bersama sensor tekanan atmosfir untuk mengukur pembatasan filter udara untuk tujuan
perlindungan mesin. Selisih antara kedua pengukuran tekanan digunakan sebagai tekanan
differensial filter. Engine ECM menggunakan kalkulasi ini untuk menentukan apakah penurunan
(derating) diperlukan untuk melindungi engine.
Gambar 168
Pada bagian depan engine di dalam silinder kepala sebelah kanan terdapat Turbo Outlet (Boost)
Pressure Sensor (Gambar 168, panah). Sensor ini digunakan dengan ECM untuk mengendalikan
rasio udara/bahan bakar secara elektronik. Fitur ini menjadikan adanya pengendalian asap yang
sangat akurat, yang tidak mungkin terjadi dengan engine yang dikendalikan secara mekanis.
Sensor ini juga membuat tekanan boost dapat dibaca dengan menggunakan Service Tools.
Gambar 169
Atmospheric Pressure Sensor (1) dipasang pada adapter Kelompok Hydraulic Supply Pump dan
diarahkan ke atmosfir. Sensor ini memiliki macam-macam fungsi yang akan dijelaskan secara
lengkap kemudian.
Sebuah foam block di bawah sensor membantu mencegah masuknya kotoran kedalam sensor.
Pengukuran tekanan sekitar untuk kompensasi ketinggian otomatis dan kompensasi filter
udara otomatis.
Pengukuran tekanan absolut untuk perhitungan tekanan (alat ukur) pengendalian rasio bahan
bakar, ET, panel Sistem Pemantauan.
Fuel Temperature Sensor (2) digunakan untuk kompensasi suhu bahan bakar.
Sensor Kecepatan/Timing Primer (3) dan sekunder (4) (yang dibahas sebelumnya) terletak pada
bagian belakang timing gear housing.
Komponen Lain
Gambar 170
Sejumlah komponen dipasang pada Kelompok Hydraulic Supply Pump (Gambar 170). Saluran
Suplai Oli (1) dari galeri oli merupakan sebuah saluran berdiameter besar untuk pengiriman
maksimum selama operasi dalam cuaca dingin. Pompa hidraulik bergantung pada pompa
pelumasan untuk tahap pertama peningkatan tekanan.
Compensated Valve (2) dipasang pada bagian belakang pompa. Dibawah Compensated valve
terdapat Pump Control Valve (3). Valve ini juga dapat disebut sebagai “valve pengendali tekanan
aktuasi injeksi” (injection actuattion pressure control valve).
Valve ini mengendalikan sudut swashplate, yang membedakan output pada pompa. Fuel Transfer
Pump (4) dipasang pada bagian belakang Hydraulic Supply Pump serta digerakkan oleh drive
shaft utama yang melalui pompa suplai. Juga nampak dalam slide adalah inlet pada pompa
transfer dan saluran bahan bakar keluar dan sensor tekanan dan suhu (sudah dibahas
sebelumnya)
Gambar 171
Pompa oli pelumas dipasang secara internal di dalam oil pan (Gambar 171). Pompa ini menyuplai
oli pada tekanan sekitar 400 kPa (65 psi) ke galeri oli untuk pelumasan engine kendaraan.
Oli juga disuplai ke Hydraulic Pump untuk tujuan aktuasi injeksi. Untuk alasan ini Lubrication Oil
Pump HEUI engine lebih besar dari pompa dalam engine-engine sebelumnya untuk memenuhi
peningkatan kebutuhan pelumasan dan sistem aktuasi injeksi.
Gambar 172
Timing calibration sensor (Gambar 172, panah) dipasang pada saat dibutuhkan dalam flywheel
housing.
Sensor ini (perangkat magnetik) dipasang Di dalam lubang yang umumnya dipersiapkan untuk
timing pin. (Pin ini digunakan untuk memposisikan crankshaft dengan piston no 1 pada posisi
puncak).
CATATAN:
Pada beberapa aplikasi (seperti traktor jenis track) dimana akses terbatas, sensor ini dipasang
secara permanen.
Timing Wheel
Gambar 173
Perhatikan lebar slot 50/50 dan gigi dengan ukuran yang sama pada roda. 23 slot lainnya
berukuran 80/20.
Ukuran gigi/slot 50/50 digunakan oleh ECM sebagai titik referensi untuk menentukan posisi
engine untuk timing bahan bakar (dijelaskan secara lengkap kemudian). Sensor kecepatan/timing
dapat mengidentifikasi gigi ini karena menghasilkan sinyal yang berbeda dengan gigi lainnya.
Sebuah tanda timing, “H”, pada sisi balik timing wheel digunakan untuk mencatat waktu secara
relatif pada timing gear lain dan crankshaft TDC.
Gambar 174
Water separator (1), yang juga berfungsi sebagai Filter Bahan Bakar Primer, merupakan sebuah
bagian penting pada sistem bahan bakar.
Sebagaimana dengan sistem bahan bakar bertekanan tinggi tekanan operasi pada kurang lebih
150000 kPa (22000 psi), kualitas bahan bakar adalah penting. Air dalam bahan bakar dapat
menyebabkan korosi pada plunger dan barrel. Kotoran dapat menyebabkan keausan dini pada
komponen yang sama. Water separator terdiri dari sebuah filter 30 mikron. Priming Pump
dipasang di dasar filter.
Untuk alasan yang sama, Secondary Filter dua mikron (2) harus digunakan dalam sistem. Celah
di antara plunger dan barrel kurang lebih 5 mikron. Umumnya, 3 hingga 8 mikron bahan abrasif
akan mengakibatkan keausan dini pada komponen sistem bahan bakar.
Water separator diservis secara harian dengan cara mengeringkan airnya. Filter water separator
diservis dengan elemen yang baru setiap 500 jam.
Gambar 175
Ground Level Shutdown Switch (1) terletak di bawah pintu kabin. Dalam kondisi darurat,
saklar/switch ini dapat digunakan untuk mematikan engine dari luar kabin. Saklar ini juga
menjadkan pengisolasian injektor secara elektronik selama pengengkolan untuk tujuan perawatan
menjadi mudah. Di sebelah kanan saklar terdapat Battery Disconnect Switch (2) Diconnect switch
harus selalu digunkaan untuk mengisolasi ECM ketika pengelasan dengan busur api listrik
dilakukan pada alat mesin.
Gambar 176
Service Tool Connector (Gambar 174, panah) umumnya berada di dalam kabin pada konsul
(console). Service Tool Connector digunakan untuk menghubungkan perkakas servis ET ke
sistem elektronik/listrik pada mesin. Konektor membuat perkakas servis dapat mengakses ECM
untuk membaca informasi pada layar diagnosa dan status, melaksanakan kalibrasi serta fungsi
lainnya.
OPERASI
Gambar 177
Skematik di atas memperlihatkan komponen engine HEUI eksternal (ditunjukkan pada sisi engine
harness pada Gambar 177). Komponen-komponen yang ditampilkan pada sisi kiri diagram
dipasang pada engine dan komponen-komponen pada sisi kanan dipasang pada mesin.
Perhatikan bahwa sensor tekanan masukan turbo dipasang pada mesin.
Beberapa komponen tambahan (bekas/cacat) yang dapat digunakan untuk pemeriksaan di atas
meja akan sangat membantu. Sebuah ECM dengan Personality Module dan macam-macam
sensor dapat diperiksa pada saat ini serta digunakan untuk latihan troubleshooting kemudian.
Komponen Listrik
ECM 40 Pin Conector
Personality Modul
Timing Calibration Connector and Lokasi Pemasangan
Hydraulic pressure sensor
Hydraulic temperature sensor
Primary speed timing sensor
Secondary speed timing sensor
Coolant temperature sensor
Atmospheric pressure sensor
Turbocharger Inlet Pressure Sensor
Turbocharger Outlet Pressure Sensor
Oil pressure sensor
Fuel temperature sensor
Coolant Flow Switch
Gambar 178
Unit injector HEUI 3400 secara listrik mirip dengan electronic unit injector 3500 (Gambar 178).
Injektor tersebut dikendalikan secara electric oleh ECM namun diaktuasi secara hidraulik. Sinyal
dari kendali ECM mengendalikan pembukaan dan penutupan solenoid valve. Solenoid Valve
mengendalikan aliran oli hidraulik bertekanan tinggi ke injektor. Sistem ini memungkinkan ECM
mengendalikan volume bahan bakar, timing dan tekanan aktuasi injeksi (tekanan pompa suplai
hidraulik)
PERINGATAN:
Injector solenoid bekerja pada arus searah/DC 105 volt. Anda harus selalu jauh dari area injector
ketika engine sedang bekerja karena Anda bisa tersengat listrik.
Tiga pengetesan dapat digunakan untuk mencari silinder atau injektor mana yang tidak berfungsi:
Gambar 179
Kecepatan engine, jumlah bahan bakar (yang berhubungan dengan muatan), dan sinyal input
suhu oli hidraulik diterima oleh timing control. Sinyal suhu hidraulik menentukan kapan Cold Mode
harus diaktifkan. Sinyal input kombinasi ini menentukan awal injeksi bahan bakar.
Timing control memberikan timing yang optimum untuk semua kondisi. Keuntungan timing control
yang “cerdas” adalah:
Gambar 180
Gambar 181
Sensor kecepatan/timing, yang dipasang pada bagian depan rangka dibawah timing gear wheel,
dapat menyesuaikan diri secara otomatis selama pemasangan dan tidak ada celah dengan timing
wheel.
Sensor Kecepatan/Timing
Gambar 182
Sensor Kecepatan/Timing Primer (pada sisi kanan engine) mengukur kecepatan engine untuk
pengaturan (governing), dan posisi crankshaft untuk tujuan timing dan identifikasi silinder.
Sensor Kecepatan/Timing Sekunder (pada sisi kiri engine) menjadikan operasi yang terus-
menerus terjadi jika sensor primer rusak. Kerusakan pada sensor primer akan menyebabkan
ECM secara otomatis berpindah ke sensor sekunder. Juga, periksa apakah lampu engine akan
menyala.
ECM menyuplai 12,5 +/- 1 Volt ke sensor kecepatan/timing Primary dan Secondary.
Konektor A dan B mengirim suplai daya umum ke sensor. Konektor C mengirim sinyal yang
terpisah dari setiap sensor ke ECM sebagai cadangan.
CATATAN:
Sensor kecepatan/timing memiliki sumber daya khusus. Sirkuit lain sebaiknya tidak di satukan ke
dalam suplai daya ini.
Timing wheel
Gambar 183
Timing wheel (Gambar 183) merupakan sebuah bagian integral pada drive gear untuk pompa.
Tanda-tanda timing digunakan untuk meletakkan roda tersebut dalam posisi yang benar yang
berhubungan dengan crankshaft. Timing wheel ini umum untuk engine 3408E/3412E.
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, timing wheel memiliki jumlah total 24 gigi. 23 gigi
berukuran besar dengan spasi kecil diantaranya (80/20 ukuran relatif).
Gigi dan spasi lainnya memiliki dimensi yang sama besar (50/50 ukuran relatif). Konfigurasi ini
digunakan oleh ECM untuk meletakkan TDC pada silinder no 1.
PERHATIAN:
Kepala sensor TIDAK BOLEH dipasang dalam timing wheel slot (lebar) selama pemasangan
Pemasangan yang salah akan merusak kepala sensor.
Gambar 184
Sensor Kecepatan/Timing diposisikan secara vertikal diatas gigi pada timing wheel (Gambar 184).
Gigi dan sensor menghasilkan Pulse Width Modulated (PWM) output signal untuk tujuan timing
dan sinyal output modulasi frekuensi untuk pengukuran kecepatan.
Secondary speed timing sensor memiliki fungsi yang sama dengan sensor primer. Secondary
speed timing sensor digunakan saat sinyal dari primary sensor hilang atau terdistorsi. Jika
secondary sensor dipilih, sensor tersebut akan terus digunakan hingga engine dimatikan atau di-
crank Kemudian, Primary sensor yang akan dipilih.
ECM tidak akan berpindah dari Secondary sensor ke Primary sensor, kecuali jika engine di-crank.
Fitur ini mencegah perpindahan yang konstan antar sensor jika kerusakan yang sebentar-
sebentar terjadi.
Cranking
Gambar 185
Speed timing sensor menggunakan timing wheel dengan gigi yang diatur seperti pada Gambar
185 untuk menentukan:
Urutan sinyal yang ditampilkan dalam kolom kedua (siklus tugas) dianalisa oleh ECM. Pada titik
ini, tidak ada bahan bakar yang diinjeksi hingga kondisi tertentu sudah dipenuhi.
Tidak seperti engine EUI, engine ini tidak bergantung pada konfigurasi gigi untuk mencegah
putaran balik. Pelumasan dan pompa hidraulik tidak akan mengembangkan tekanan selama
putaran balik dan tidak akan menggerakkan injektor untuk memompa bahan bakar. Dengan
demikian, engine tidak dapat berjalan mundur.
Gambar 186
Selama start-up, sensor awalnya memantau pulsa yang dihasilkan oleh gigi yang lewat serta
mengidentifikasi urutan seperti yang ditunjukkan. Setelah satu rotasi lengkap, kontrol dapat
mengenali lokasi TDC dari pola yang ditunjukkan dalam Gambar 186.
Selama cranking awal, tidak ada bahan bakar yang diinjeksi hingga:
Setelah sensor menyediakan sinyal yang diperlukan, ECM siap untuk memulai injeksi (jika
tekanan hidraulik yang memadai tersedia pada injektor).
CATATAN:
Titik referensi dalam gambar merupakan posisi pada timing wheel dimana kontrol mengukur titik
injeksi dan TDC.
Operasi Normal
Gambar 187
Selama operasi normal, ECM dapat menentukan timing dari titik referensi berurutan untuk setiap
silinder. Titik referensi disimpan oleh ECM setelah kalibrasi dilakukan.
Timing injeksi dikalibrasikan dengan cara menghubungkan sebuah TDC probe ke konektor akses
servis pada engine harness, dan dengan mengaktifkan urutan kalibrasi dengan service tool
Caterpillar ET. ECM meningkatkan kecepatan engine hingga 800 RPM (untuk mengoptimalkan
akurasi pengukuran), membandingkan lokasi aktual TDC no 1 dengan lokasi TDC silinder no 1,
serta menyimpan offset dalam Memori yang Hanya Bisa Dibaca, Diprogram dan Dihapus secara
Elektronik (EEPROM).
CATATAN:
Jangkauan offset kalibrasi dibatasi hingga +/10 derajat cranking. Jika jangkauan tersebut
dilampaui, offset diset ke nol (tidak ada kalibrasi) dan sebuah pesan diagnosa kalibrasi dihasilkan.
Gambar 188
Timing calibration sensor (perangkat magnetik) dipasang dalam flywheel housing selama
kalibrasi. Konektor terletak diatas ECM. (pada beberapa mesin, seperti D9R/D10R, sensor
dipasang permanen).
Dengan menggunakan perkakas servis Caterpillar ET, kalibrasi timing dilakukan secara otomatis
untuk kedua sensor pada saat dipilih pada screen yang sesuai.
Kecepatan engine yang diinginkan ditetapkan pada 800 RPM. Langkah ini dilakukan untuk
menghindari ketidakstabilan serta memastikan tidak ada arus balik dalam timing gear selama
proses kalibrasi.
Timing Calibration
Gambar 189
Saat Speed Timing Sensor menggunakan timing wheel sebagai referensi waktu, kalibrasi timing
meningkatkan akurasi injeksi bahan bakar dengan cara memperbaiki setiap toleransi diantara
crankshaft, timing gear dan timing wheel.
Selama kalibrasi, offset di-log di dalam control module EEPROM. Jangkauan offset kalibrasi
dibatasi hingga +/- 10 derajat cranking. Jika timing berada diluar jangkauan, kalibrasi dibatalkan.
Nilai sebelumnya akan dipertahankan dan sebuah pesan diagnosa akan di-log.
Gambar 190 memperlihatkan bagaimana arus meningkat pada awalnya untuk menarik coil injeksi
dan menutup poppet valve. Kemudian, dengan cara meng-on dan meng-off kan (pulsing)
tegangan 105 Volt, aliran arus dipertahankan. Akhir injeksi terjadi ketika suplai arus dimatikan dan
tekanan hidraulik turun. Karena itu, tekanan bahan bakar turun dengan cepat di dalam injektor.
Gambar 191
Gambar 191 memperlihatkan bahwa poppet valve akan membuka tepat setelah ECM
memberikan energi pada solenoid. Poppet valve membuat oli hidraulik menggeser injector
intensifier piston yang kemudian menggerakkan injector plunger.
Gambar 192
Suatu penundaan akselerasi selama start-up menahan engine pada idle rendah selama dua detik
atau hingga tekanan oli mencapai 140 kPa (20 psi).
Off-highway Truck memiliki sistem yang meningkatkan horse power engine hanya dalam drive
langsung. Sistem ini melindungi driveline dari torsi yang berlebihan pada gear rendah.
Off-highway Truck juga memiliki sebuah fitur service tool yang dapat diprogram yang dirancang
untuk menurunkan shift point / titik geser serta membatasi bahan bakar untuk meningkatkan
konsumsi bahan bakar sesuai dengan permintaan konsumen.
Sistem bahan bakar HEUI dirancang untuk memodifikasi karakteristik operasi engine selama
beroperasi dalam cuaca dingin. Modifikasi ini dilakukan untuk melindungi lingkungan, engine serta
untuk meningkatkan karakteristik engine.
Fuel system cold mode termasuk:
Speed Control
Fuel Limit
Injection Timing
Injection Actuation Pressure
Ether Injection
Jika terjadi kehilangan pada bost sensor output, ECM mengasumsikan tekanan boost adalah nol.
Walaupun bukan benar-benar suatu penurunan, daya berkurang sampai kira-kira 50 hingga 60 %.
Gambar 193
Aktuasi sistem injeksi bahan bakar dicapai dengan menggunakan hidraulik dan bukan aktuasi
chamshaft konvensional yang umumnya ditemukan pada sistem bahan bakar diesel.
Component system
Gambar 194
Untuk meninjau, sirkuit hidraulik HEUI 3400 dan suplai bahan bakar terdiri dari komponen -
komponen utama berikut ini (Gambar 194):
Gambar 195
Komponen berikut diintegrasikan ke sebuah unit tunggal yang disebut Kelompok Pompa Suplai
Hidraulik (Gambar 195):
Kelompok pompa ini berada dalam vee engine dan berada dalam posisi yang sama dengan
pompa injeksi bahan bakar dalam engine-engine terdahulu. Tiga rangkaian zat cair termasuk
dalam sistem: Low Oil Pressure, High Pressure Oil (hidraulik), dan Low .
Pada engine yang dilengkapi dengan HEUI, pompa pelumasan memiliki dua fungsi:
1. Menyediakan pelumasan pada engine / Provide lubrication
2. Menyediakan oli bertekanan rendah ke pompa hidraulik HEUI / Provide low pressure oil
Engine Lubrication Pump telah diperbesar untuk memberikan peningkatan aliran yang diperlukan.
Engine Lubrication Pump memiliki suatu Cold Start Oil Reservoir. Reservoir ini mencegah pompa
hidraulik mengalami kavitasi selama cranking engine awal sampai Lubrication pump dapat
memberikan tekanan pengisian / charge pressure yang mencukupi.
Sebuah Oil Pressure Sensor terletak dalam suatu Cold Start Oil Reservoir, yang merupakan inlet
ke pompa oli hidraulik. Sensor tersebut memantau tekanan oli pelumas. Sebuah sensor suhu oli
juga dipasang dalam reservoir. Sensor ini akan disebut sebagai “sensor suhu hidraulik” karena
digunakan untuk tujuan ini.
Selama kondisi operasi normal, oli diberikan tekanan sekitar 5000 dan 21500 kPa (725 dan 3100
psi) oleh pompa hidraulik untuk mengaktuasi injektor. Tingkat tekanan hidraulik dikendalikan oleh
ECM, yang mengirimkan sinyal ke Pump control valve untuk melakukan upstroke pada pompa
hidraulik (Gambar 197).
Pada saat engine berjalan, oli bertekanan tinggi selalu disuplai ke semua injektor. Oli dari High
pressure pump memasuki dua saluran oli. Reverse flow check valve digunakan untuk mencegah
peningkatan tekanan diantara saluran oli pada tepi yang berlawanan. Saluran suplai oli
dihubungkan secara hidraulik ke injektor oleh tabung-tabung jumper. Oli yang digunakan oleh
injektor dilepaskan di bawah valve cover dan disalurkan kembali melalui kompartemen pushrod.
Bahan bakar dihisap dari tangki melalui water separator dan pompa priming tangan oleh sebuah
pompa transfer jenis gear. Bahan bakar kemudian diarahkan melalui ECM untuk menjaga suhu
ECM yang konstan. Bahan bakar kemudian mengalir melalui Secondary fuel filter.
Selanjutnya, bahan bakar memasuki Low pressure supply galery yang terletak dalam Fluid supply
manifold pada bagian Top pada Cylinder Head. Setiap bahan bakar lebih yang tidak diinjeksi
meninggalkan manifold. Aliran bahan bakar tersebut digabungkan kedalam saluran serta melalui
pressure control valve, yang disetel pada 415 hingga 450 kpa (60 hingga 65 psi).
Dari pressure control valve, aliran yang berlebihan kembali ke tangki. Rasio bahan bakar diantara
pembakaran/combustion dan bahan bakar kembali / fuel return ke tangki sekitar 1:3 (yaitu, empat
kali volume yang diperlukan untuk pembakaran disuplai ke sistem untuk pembakaran dan untuk
pendinginan injector / Injector Cooling Purpose).
Sebuah Fuel Temperature Sensor dipasang dalam Fuel Supply System untuk mengkompensasi
hilangnya daya yang disebabkan oleh Fuel Temperature yang berbeda.
Gambar 199
Oli hidraulik bertekanan tinggi disediakan pada setiap injektor dari saluran suplai hidraulik melalui
Individual Jumper Tube (Gambar 199). Bahan bakar disuplai ke injektor menggunakan saluran
suplai bahan bakar yang terletak dalam manifold fluida. “Viton” O-ring khusus digunakan dalam
sambungan hidraulik di antara injektor dan manifold fluida.
Gambar 200
Bahan bakar bertekanan rendah disuplai ke inlet pada injektor melalui saluran yang dibuat
dengan bor yang terletak di setiap Manifold Suplai Fluida / Fluid Supply Manifold. (Gambar 200).
Suplai bahan bakar ke setiap injektor disekat dari ruang pembakaran dan area di bawah valve
cover oleh O-ring seal atas dan bawah di antara injektor dan cylinder head injector sleeve.
Gas ruang pembakaran dicegah dari memasuki saluran persediaan bahan bakar oleh sebuah
kontak logam dengan logam di antara cylinder head injector sleeve dan injector. Cylinder head
injector sleeve dimasukkan ke dalam kepala silinder dengan cara diulir. Washer logam digunakan
untuk menyekat ujung bawah adapter untuk mencegah kebocoran di antara sistem pendingin dan
ruang pembakaran.
Manifold Suplai Fluida / Fluid Supply Manifold
Gambar 201
Saluran-saluran berikut ini terletak dalam Fluid Supply manifold (Gambar 201):
Saluran suplai hidraulik / Hydraulic supply passage(1)
Saluran suplai pelumasan / lubrication supply passage(2)
Saluran suplai bahan bakar / Fuel supply passage(3)
Fluid supply manifold dipasang pada kepala silinder dan membawa actuation hydraulic oil,
dibawah tekanan, melalui tabung jumper ke injektor.
Bahan bakar bertekanan rendah dan oli pelumas ke mekanisme valve juga diarahkan melalui
manifold. Saluran ini ditampilkan pada slide berikut.
Gambar 202
Bahan bakar memasuki bagian depan manifold dan keluar dari bagian belakang. Pendinginan
injektor dicapai dengan cara mensirkulasikan sejumlah besar bahan bakar melalui injektor
melebihi jumlah yang dibutuhkan untuk pembakaran.
Awalnya, bahan bakar bersirkulasi disekitar bagian luar injector sleeve dan ditampung diantara
sleeve dan fluid supply manifold oleh injector sleeve fuel seal atas dan bawah.
Gambar 203
Jumper tube (1) dan Injector Oil Adaptor (2) mengarahkan oli hidraulik dari fluid manifold tekanan
tinggi ke injector.
Prosedur khusus untuk mengencangkan keenam baut (untuk Jumper Tube dan Adaptor) harus
diikuti ketika memasang Jumper Tube.
PERHATIAN:
Jika Anda tidak mengikuti prosedur pengencangan yang benar maka akan ada gangguan daya
yang rendah yang disebabkan oleh kebocoran hidraulik internal. Juga, ketegangan internal pada
injektor yang disebabkan oleh prosedur penekanan yang tidak benar dapat menyebabkan
perubahan dalam celah injektor internal yang dapat menurunkan kinerja dan masa pakai injektor.
Jumlah bahan bakar yang dikirimkan dikontrol dengan membedakan waktu pemberian energi
pada solenoid. Periode waktu, yang disebut “durasi” dihitung oleh ECM untuk memastikan
pengiriman jumlah bahan bakar yang benar. Input-input yang lain mempengaruhi perhitungan on-
time, termasuk (namun tidak terbatas pada) tekanan suplai hidraulik, suhu oli dan karakteristik
kinerja injektor yang dipetakan. Dua tingkat arus dibuat dalam bentuk gelombang:
1. Arus penarik (pull-in current) lebih tinggi untuk menciptakan sebuah medan magnet yang
lebih kuat untuk menarik armature serta mengangkat poppet valve pada gaya pegas.
2. Arus penahan (hold-in current) digunakan untuk menahan armature dan poppet dari
dudukannya. Arus rendah mengurangi panas dalam solenoid serta memperpanjangkan usia
pakai solenoid.
Peta Injector performance memperlihatkan pengiriman sebagai fungsi on-time, Pump pressure,
dan oil temperature, serta disimpan dalam memori ECM.
Gambar 205
Gambar 205 memperlihatkan, pada saat ECM memberikan energi pada solenoid, gerakkan
poppet valve mengikuti. Kemudian, kisaran injektor meningkat pada awal injeksi. Akhir injeksi
terjadi pada saat tingkatan menurun mendekati nol.
Dengan demikian:
Timing bahan bakar engine merupakan sebuah fungsi awal injeksi
Jumlah bahan bakar merupakan sebuah fungsi atas:
- Durasi injeksi / the injection of duration
- Tekanan aktuasi injeksi (hidraulik) / Injection actuation
ECM mengirimkan sebuah arus yang lebih tinggi ke solenoid untuk menciptakan sebuah medan
magnet yang kuat. Medan magnet ini dibutuhkan untuk menciptakan gaya tarik maksimum pada
armature, yang berada pada jarak terjauhnya dari solenoid.
Poppet umumnya ditahan pada tempatnya oleh Poppet spring. Arus penarik yang lebih tinggi
menarik armature serta mengangkat poppet dari inlet seat-nya dan menggerakkan ke tempat
exhaust seat pada gaya spring. ECM mengurangi tingkat arus pada arus penahan (hold-in
current) and poppet ditahan pada exhaust seat-nya.
Injeksi dimulai setelah exhaust seat menutup dan tekanan oli mendorong intensifier piston dan
plunger ke bawah. Pergerakan plunger ke bawah menekan bahan bakar sampai 31000 kPa (4500
psi) dan check valve mengangkat, menjadikan bahan bakar masuk ke silinder. Waktu dimana
bahan bakar meninggalkan bagian ujung disebut ‘awal injeksi’ / “start injection”.
Tingkat dimana bahan bakar di injeksi dikontrol oleh tekanan hidraulik injeksi. Tekanan hidraulik
yang lebih tinggi menekan piston dan plunger lebih cepat, menyebabkan tingkat aliran yang lebih
tinggi melalui ujung nozzle.
Pada saat ECM mengakhiri injeksi, ECM juga mengakhiri arus penahan / hold-in current yang
menyebabkan medan magnetik dalam solenoid berhenti. Poppet spring kemudian menggerakkan
poppet ke tempat dalamnya. Sebagaimana poppet bergerak ke tempat dalamnya, oli hidraulik
ditutup, dan gerakan piston dan penghisap dibalik, mengisi barel untuk urutan injeksi berikutnya.
Saat tekanan menurun dibawah plunger dan nozzle, tekanan penutup valve, yang sekitar 21000
kPa (3000 psi), menyebabkan tekanan ini dipertahankan dalam nozzle untuk siklus berikutnya.
Unit injector
Gambar 206
Gambar 206 memperlihatkan potongan injector dan injector sleeve. Perhatikan kelompok
komponen injector berikut:
Valve body group dengan solenoid dan poppet valve
Barrel group dengan intensifier piston dan plunger
Nozzle group
Injector sleeve memiliki empat seal groove. Dua groove bagian atas memiliki seal yang
mengandung bahan bakar dalam fluid manifold. (diperlihatkan dalam rincian yang lebih mendetail
kemudian).
Dua seal bawah mengandung cairan pendingin / coolant di bawah deck silinder bagian atas.
Washer menyekat bagian bawah sleeve dan mencegah cairan pendingin / coolant masuk ke
dalam ruang pembakaran.
Injector terdiri atas tiga kelompok dasar (Gambar 207) yang akan dijelaskan secara detail:
Valve body group
Barrel group
Nozzle group
Gambar ini dan berikutnya memperlihatkan exhaust port pada injector yang menyalurkan oli yang
kembali ke arah bawah. Kondisi ini merupakan modifikasi dari rancangan sebelumnya yang
menyalurkan oli ke atas. Injector-injector ini dapat saling bertukar. Namun, injector yang lebih baru
mengurangi kecendrungan engine membuang kabut oli dari breather.
Komponen
Gambar 208
Injektor HEUI dirancang dengan komponen minimum. Injektor memiliki 35 nomor komponen.
CATATAN:
Meskipun komponen injector dijelaskan dalam presentasi ini, harus dicatat bahwa tidak ada
komponen individual injector yang diservis. Injector ini disusun secara akurat dengen mesin, dan
penggantian komponen injector individual dapat mengakibatkan masalah kinerja yang tidak dapat
diterima atau kerusakan injector.
Gambar 209 memperlihatkan komponen-komponen dalam tiga kelompok dasar yang sudah
dibahas sebelumnya.
Valve body memiliki tiga bagian (badan, adaptor dan spacer) yang dirangkai dengan presisi tinggi.
Kerusakan pada bagian badan valve selama pemasangan atau pelepasan akan mengakibatkan
kerusakan injector.
PERHATIAN:
Prosedur penggantian injector yang benar dan perkakas yang disebutkan dalam manual
perawatan harus selalu digunakan. Setiap pengungkitan pada bagian bawah badan valve dapat
menyebabkan perubahan bentuk pada poppet valve bore dan mungkin kerusakan pada injector.
Gambar 210
Prosedur yang benar untuk pelepasan dan pemasangan injektor harus diikuti untuk menghindari
tegangan pada injector dan kebocoran hidraulik dalam area jumper tube. Ketiga permukaan yang
bertemu pada jumper tube, adaptor oli dan injector harus disejajarkan sebelum torsi akhir
diberikan.
Bagian dari prosedur rangkaian memastikan semua permukaan yang bertemu dan permukaan
penyekat dibersihkan dengan flushing dan dalam kontak penuh sebelum mengecangkan baut.
1. Bersihkan permukaan injector dan injector sleeve dan pasang o-ring yang baru
2. Berikan pelumas pada o-ring dengan oli dan sisipkan injector dalam injector sleeve.
3. Sejajarkan injector secara visual dengan permukaan yang datar sejajar dengan garis tengah
engine.
4. Posisikan injector clamp pada injector serta kencangkan baut hingga 47 +/- 9 Nm (35 +/- 7
[Link])
5. Pasang seal yang baru pada jumper tube dan rocker arm base.
6. Pasang injector oil adaptor dan jumper tube di posisinya.
7. Pasang screw allen dan baut kepala heksagonal yang dikencangkan dengan tangan. Jika
injector oil adaptor sudah dipasang sebelumnya pada injector, longgarkan screw allen.
Tujuan pada tahap ini dalam prosedur adalah membawa semua permukaan yang bertemu ke
dalam kontak dan kesejajaran yang lengkpa sebelum memulai prosedur torsi terakhir.
Kegagalan untuk meluruskan komponen akan memberikan ketegangan pada injector yang akan
kemudian mengubah bentuk poppet valve dan barrel bore. Komponen-komponen ini beroperasi
dengan celah 5 mikron karena tekanan hidraulik dan injeksi yang tinggi. karena itu, perubahan
bentuk sekecil apapun akan menyebabkan macet.
1. mengencangkan screw allen dan baut kepala heksagonal dengan menggunakan tangan atau
hanya cukup mempertemukan permukaan yang bertemu.
2. memberikan torsi awal pada vertical hex head bolt sebesar 5 +/- 3 Nm (4 +/- 2 lb ft)
3. memberikan torsi awal pada horizontal hex head bolt sebesar 5 +/- 3 Nm (4 +/- 2 lb ft)
4. Berikan torsi awal terhadap allen screw sebesar 1 +/- 0,2 Nm (10 +/- 2 lb ft)
5. memberikan torsi akhir pada vertical hex head bolt sebesar 47 +/- 9 Nm (35 +/- 7 lb ft)
6. memberikan final torque pada horizontal hex head bolt sebesar 47 +/- 9 Nm (35 +/- 7 lb ft)
7. memberikan final torque pada allen screw sebesar 12 +/- 3 Nm (35 +/- 7 lb ft)
8. memeriksa apakah terdapat kebocoran (crank dengan injeksi dinonaktifkan). Kemudian,
periksa tekanan hidraulik (bandingkan dengan tekanan yang dikehendaki).
Terdapat sejumlah kemungkinan kebocoran. Oli yang berada dalam tekanan tinggi dapat bocor
dari sambungan jumper tube atau dari injector valve body exhaust port. Bahan bakar dapat bocor
dari bagian dasar injector.
Jika udara sudah memasuki sistem persediaan bahan bakar, multiple injector pada satu bank
dapat menjadi tidak berfungsi. Jika prosedur di atas tidak diikuti, udara dapat memasuk melewati
o-ring seal bawah. Jika kondisi ini terjadi, lepaskan injector dan periksa karbon di bawah o-ring
seal bawah. Ganti seal dan lakukan pengurutan torsi.
Udara dalam sistem dapat dideteksi dengan cara menyentuh saluran kembali (return line) yang
fleksibel dan memeriksa lonjakan pulsa atau tekanan yang ekstrim yang dirasakan melalui
saluran. Sebagai alternatif, pasang kaca pantau di setiap return line, jalankan engine dan periksa
udara.
Kebocoran gas pembakaran umumnya akan mempengaruhi injector dengan kebocoran yang
diikuti oleh injector hulu / downstream (mendekati bagian belakang) kebocoran. Kesimpulannya,
sistem tersebut dapat diandalkan. Namun, kerusakan akan terjadi jika Anda tidak mengikuti
prosedur ini.
Pada saat energi solenoid dikosongkan / tidak aktif, poppet valve ditahan pada inlet seat-nya yang
sebelah kiri oleh poppet spring (Gambar 211). Poppet valve dihubungkan ke armature dengan
armature screw. Ketika poppet ditutup, inlet seat mencegah oli bertekanan tinggi masuk ke
injector. Exhaust poppet seat dibuka, yang menghubungkan rongga intensifier piston ke atmosfir.
Berdasarkan input signal dari berbagai sensor elektronik, ECM menghitung jumlah dan timing
bahan bakar yang akan dikirimkan oleh injector ke ruang pembakaran. Pada waktu yang sesuai,
ECM mengirimkan sebuah arus listrik ke injector solenoid.
Solenoid menghasilkan sebuah gaya magnet, yang menarik armature serta menggeser poppet
valve. Poppet valve digerakkan oleh gaya spring, membuka inlet seat dan menutup exhaust seat
kanan). Oli tekanan hidraulik dari supply manifold diarahkan melalui jumper tube pada bagian
puncak intensifier piston.
Gambar 212
Aliran oli suplai dari poppet valve mengakibatkan intensifier piston dan fuel plunger bergerak ke
bawah (Gambar 213). Pemindahan plunger menekan bahan bakar yang terjebak diantara
permukaan plunger dan nozzle check seat.
CATATAN:
Intensifier piston memiliki hampir tujuh kali luas daerah fuel plunger. ketika sirkuit hidraulik
mengirim tekanan sebesar 21000 kPa (3000 psi), kurang lebih 145000 kPa (21000 psi) akan
dihasilkan dibawah fuel plunger.
Gambar 213
Pada saat tekanan yang terjebak melampaui tekanan bukaan nozzle valve (VOP), umumnya
31000 kPa (45000 psi), check valve mengangkat, dan bahan bakar mengalir melalui lubang
dalam nozzle ke ruang pembakaran (Gambar 213). Pada akhir injeksi, nozzle check valve
menutup pada sekitar 21000 kPa (3000 psi).
Check valve aliran balik digunakan untuk mencegah Valve pemeriksa aliran balik digunakan untuk
mencegah gas pembakaran agar tidak mengalir memasuki daerah nozzle.
Nozzle injektor sangat mirip dengan unit injector EUI. Enam orifice, masing-masing dengan
diameter 0,252 mm (0,010 in) yang disusun pada sudut 140 derajat.
Gambar 214
Akhir injeksi dicapai dengan cara menutup arus dari ECM ke injector solenoid. Menghilangnya
gaya magnet pada armature menjadikan gaya spring yang kembali menggeser poppet valve dari
exhaust seat. (Gambar 214). Poppet kembali ke inlet seat di dalam valve body, memblokir aliran
dari suplai oli hidraulik, dan secara bersaman sepenuhnya membuka exhaust valve seat.
Tindakan ini menyalurkan sirkuit hidraulik internal injector di bawah penutup valve.
Unit injector
Gambar 215
Pada saat disalurkan, intensifier piston dan fuel plunger didorong keatas oleh gaya pegas kembali
pada plunger sampai intensifier piston menyentuh badan valve. Penempatan keatas itensifier
piston menyalurkan oli yang digunakan dari injector di bawah penutup valve (Gambar 215).
Penarikan fuel plunger menurunkan tekanan di dalam ruang bahan bakar di bawah plunger, yang
menjadikan nozzle check valve menutup ketika tekanan di dalam nozzle turun di bawah tekanan
penutup valve (VCP) kira-kira 21000 kPa (3000 psi).
Gambar 216
Saat plunger terus menarik, tekanan di bawah plunger menurun di bawah tekanan fuel supply
gallery. Fuel inlet check valve kemudian membuka, yang menyebabkan bahan bakar melewai
filter sisi ke supply gallery untuk mengisi ulang injector untuk urutan injeksi berikutnya. (Gambar
216).
Gambar 217
Perhatikan lokasi filter sisi (Gambar 217). Filter sisi / Filter edge terbentuk oleh dua permukaan
sejajar yang datar yang terpisah kurang lebih sejauh 130 mikron. Permukaan-permukaan ini
menjebak serta memecah partikel yang mungkin cukup besar untuk menyumbat orifice pada
nozzle.
Gambar 218
Fitur lain yang digunakan dalam injektor untuk aplikasi 3408E/3412E merupakan sebuah
perangkat pembentuk peringkat injeksi / injection rate shaping (Gambar 218). Pembentukan
peringkat mengacu bagaimana cara bahan bakar dikirimkan ke engine untuk memperoleh hasil
yang dikehendaki. Dalam aplikasi 3408E/3412E, pembentukan peringkat / rate mengurangi
jumlah bahan bakar yang dikirimkan ke ruang pembakaran selama periode penundaan
pembakaran / delay period (waktu diantara awal injeksi hingga awal pembakaran) ke tingkat yang
menghasilkan suara pembakaran engine yang rendah dan emisi yang rendah.
Perangkat tersebut digunakan untuk menciptakan pembentuk peringkat/rate yang dikenal sebagai
PRIME, singkatan dari Pre-injection Metering (Pengukuran Pra-injeksi). Perangkat ini pada
dasarnya merupakan spill port terkendali yang berguna untuk membatasi jumlah bahan bakar
yang dikirim ke ruang pembakaran selama pemindahan fuel plunger awal sebanyak 25%.
Tindakan pengukuran ini menghasilkan pengurangan pengiriman bahan bakar yang dikehendali
selama periode penundaan pembakaran.
Gambar 219
Fitur ini mengurangi emisi, asap dan kebisingan. Fitur ini juga menyediakan siklus pembakaran
yang lebih halus serta mengurangi keausan pada komponen silinder.
Gambar 220
Selama siklus injeksi normal, tekanan oli yang diberikan pada puncak intensifier piston akan
meningkat hingga 22800 kPa (3300 psi) (Gambar 220). Sebuah seal dipasang untuk
meminimalkan kebocoran melewati piston.
Sejumlah oli yang dibutuhkan untuk pelumasan intensifier piston bisa melewati seal dan berada
sementara di bawah piston.
Juga, sejumlah kecil bahan bakar dapat bocor melewati plunger dan barrel. Bahan bakar ini akan
berada sementara pada rongga di bawah intensifier piston.
Jika bahan bakar yang terkumpul di bawah piston tidak disalurkan, penguncian hidraulik dapat
terjadi. Saat piston bergerak ke bawah, bahan bakar dikeluarkan melewati barrel ball check valve
ke inlet tekanan rendah/ low pressure inlet. Check valve kemudian menutup selama plunger dan
piston melakukan upstroke.
Empat check valve dipasang dalam injector. Tiga check valve dipasang dalam Barrel Group dan
satu dipasang dalam Nozzle Group (Gambar 221).
Fuel Inlet Check Valve membuat bahan bakar mengisi barrel dibawah plunger, namun menutup
saat plunger bergerak ke bawah dan tekanan meningkat.
Reverse Flow Check Valve mencegah gas-gas pembakaran mengalir kembali melalui injector
dari nozzle.
Nozzle Check Valve mengendalikan tekanan bukaan valve dengan mencegah aliran bahan
bakar melalui lubang-lubang nozzle sampai tekanan yang memadai tersedia untuk mengangkat
valve dari seat-nya.
Hydraulic actuation pressure yang dikehendaki untuk injeksi bahan bakar dapat dikontrol secara
mandiri dari kecepatan engine. Banyak kombinasi keberadaan on-time pressure dan hydraulic
operation pressure yang dapat menghasilkan jumlah spesifik bahan bakar per injector stroke yang
dikirimkan ke ruang pembakaran. Karakteristik ini berguna ketika melakukan tuning pada engine
untuk mengoptimalkan performance, respons, emisi dan parameter-parameter lain.
Fitur ini membuat sistem HEUI superior; tekanan injeksi dapat mencapai nilai maksimumnya
berapapun kecepatan engine-nya. Maximum injection pressure umumnya dibutuhkan pada
kecepatan torsi penuh / full torque speed. Karakteristik ini kontras dengan sistem pompa dan
saluran dimana tekanan bersifat proporsional dengan kecepatan engine.
Gambar 223
Hydraulic supply pump group 3408E/3412E (Gambar 223) merupakan variable displacement,
pompa piston aksial yang sama dengan yang digunakan dalam banyak sistem hidraulik mesin.
Pompa tersebut menampilkan sembilan kelompok putaran piston dan control variable
displacement. Pompa tersebut digerakkan oleh timing gear engine pada 1,167 kali kecepatan
engine serta menghasilkan 59 L/menit (15,5 gpm) pada kecepatan engine yang dinilai.
Low pressure oil dari engine lubrication pump dikirimkan ke inlet pada pump Cold Start Oil
Reservoir. Fungsi reservoir adalah untuk menjaga sistem dalam kondisi di-prime selama
pendinginan. Selama kondisi cold start, volume oli ini membantu mempersingkat waktu start.
Hydraulic temperature sensor dan lubrication oil pressure system / sistem oli bertekanan untuk
pelumasan terletak di dalam reservoir.
Hydraulic supply pump group terdiri dari komponen-komponen yang dapat diservis sebagai
berikut:
Transfer Pump
Reverse Flow Check Valves
Pump Control Valve
Compensator Valve Block
Gambar 224
Hydraulic supply pump group (Gambar 224) dipasang pada adapter yang ditunjukkan pada slide.
Poros pompa (pump drive shaft) berhubungan dengan drive spline (1)
Sebuah baut berukuran besar dipasang dalam lubang (2) dalam dasar adaptor untuk memberikan
kelurusan yang baik antara adaptor dan engine block.
Catat lokasi Sensor Tekanan Atmosfir (3) di dalam housing. Sensor Tekanan Atmosfer
diventilasikan ke atmosfir dibawah housing. Housing tersebut mengandung sumbat busa untuk
mencegah masuknya kotoran ke dalam sensor.
Pompa HEUI
Gambar 225
Melakukan priming pada pompa setelah penggantian adalah sangat penting untuk mencegah
slipper pad terlalu panas. Kerusakan pompa dapat terjadi karena kurangnnya pelumasasn jika
case tidak terisi selama penggantian.
Priming Port terletak dekat dengan inlet tube (tidak terlihat) dam merupakan dua plug yang paling
belakang. Plug depan adalah saluran pengering case dan dikeluarkan di atas pump drive gear.
Karena itu, plug depan tidak dapat digunakan untuk priming.
Sebuah lubang sebesar 0,50 mm (0,020 in) terletak diantara fill port line dan case drain line.
Orifice ini menjadikan terjadinya aliran terus menerus dari case ke sirkuit pengering untuk
pelumasan, pendinginan, dan mengeluarkan udara dari reservoir.
Gambar 226
Fuel transfer pump (Gambar 226, panah) digerakkan dengan coupling yang menghubungkan
ujung dari supply pump drive shaft bertekanan tinggi ke transfer pump input shaft.
Gear pump ini memiliki relief valve integral yang diatur untuk membuka pada tekanan 620 hingga
760 kPa (90 hingga 110 psi). Valve ini umumnya secara normal tidak bekerja karena valve
pengatur tekanan / regulator valve (slide berikut) mengontrol tekanannya.
Bahan bakar dihisap dari tangki ke kombinasi primary fuel filter / water separator. Bahan bakar
kemudian melewati ECM dan secondary fuel filter ke fluid manifold dan injector.
Gambar 227
Tekanan sistem bahan bakar / fuel system pressure dikendalikan oleh pressure regulator valve.
Valve ini mengatur tekanan antara 310 dan 415 kPa (45 hingga 60 psi).
Valve tersebut berada di area bawah pada saluran bahan bakar manifold fluida dan injector.
Bahan bakar yang melewati valve dikembalikan ke tangki bahan bakar.
Saluran bahan bakar dari kedua saluran bahan bakar di dalam manifold dihubungkan ke valve
pengatur.
Tekanan bahan bakar / fuel pressure dapat diperiksa dengan melepaskan plug (Gambar 227,
panah) dan menghubungkan sebuah pengukur (gauge).
Gambar 228
Cold Start Oil Reservoir terletak di atas Hydrulic supply pump group. Sensor Tekanan Oli
Pelumas / lubrication oil pressure sensor dan temperature (Oli) Hidraulik terletak di bagian atas
reservoir.
Pada saat engine dimatikan dan oli di dalam supply manifold mendingin dan berkontraksi, oli dari
reservoir mengalir melalui sirkuit pendingin / cool down circuit ke manifold. Rancangan ini
mencegah pembentukan gelembung udara di dalam hydraulic supply manifold selama
pendinginan untuk memberikan start yang cepat dan gerakkan yang halus. Sebuah saluran yang
dibor sebesar 0,50 mm (0,020 in) di dalam reservoir membuat udara disalurkan melalui case drain
setelah start-up.
Reserve Flow Check Valve mencegah aliran hydraulic yang berlebihan di antara saluran suplai
oli dan digunakan untuk mempertahankan tekanan stabil. Valve-valve diperlihatkan di slide
berikut.
Gambar 229
Gambar di atas memperlihatkan bagian belakang hydraulic supply pump dengan aftercooler yang
dilepaskan dari engine. Reverse Flow Check Valve (Gambar 229, panah) terletak pada bagian
belakang pump group pada sisi kanan pompa transfer. Saluran bertekanan tinggi / high pressure
line ke manifold dihubungkan ke check valve.
Gambar 230
Hydraulic supply pump group memiliki dua outlet port, masing-masing dihubungkan dengan pipa
baja ke sebuah manifold suplai hidraulik. Sebuah check valve aliran balik integral terletak di setiap
outlet port.
Tampilan ini memperlihatkan lonjakan-lonjakan tekanan yang bergerak kembali dari injector ke
arah pompa akan menyebabkan check valve menutup dan menghambat semua gangguan di
antara tepi (bank). Dalam operasi yang normal, valve akan berosilasi pada frekuensi yang tinggi
saat valve menghambat lonjakan tekanan.
Check valve terpasang dengan longgar pada shaft untuk memungkinkan aliran oli dari reservoir
selama proses pendinginan. Jika check valve tidak ada dalam sistem, lonjakan tekanan di antara
tepi-tepi akan mengakibatkan operasi yang kacau pada injector dengan memberi dampak yang
buruk pada timing. Lonjakan tekanan menyebabkan poppet valve membuka secara prematur.
Kondisi ini akan memulai injeksi bahan bakar lebih awal dibandingkan dengan yang normal, dan
karenanya memajukan timing.
Gambar 231
Gambar 231 adalah suatu tampilan potongan dari Kelompok Pompa Suplai Hidraulik yang
memperlihatkan komponen berikut ini:
Cold Start Oil Reservoir (1)
Swashplate (2)
Swashplate Pivot (3)
Displacement Control Piston (4)
Pump Piston (5, satu dari tujuh yang diperlihatkan)
Check valve (6)
Gambar 232
Gambar 232 adalah sebuah tampilan potongan compensator valve assembly dan check valve
pada pompa. Catat komponen berikut ini yang akan diacu dalam presentasi:
Compensator Valve assembly (1)
- Pressure Limiter Spool (2)
- Load Sensing Spool (3)
- Check Valve (4)
- Valve base (5)
Saluran Oli / Oil Lines:
- Suplai oli dari pompa (6)
- Pressure Limiter ke Case Drain (7)
- Ke Displacement Control Piston (8)
- Pump Control Valve ke Case Drain (9)
Transfer Pump Drive dan Mounting (10)
Pump Control Valve (11)
OPERASI SISTEM
Penggantian (displacement) pada pompa dikontrol untuk mempertahankan tekanan operasi yang
diinginkan pada penilaian aliran yang diperlukan oleh injector. Penggantian diatur oleh sebuah
pengontrol elektro-hidraulik.
Penggantian (displacement) pada pompa bervariasi dengan memutar swashplate dari 0 derajat
hingga suatu sudut maksimum sebesar 15,5 derajat. Jika engine sedang tidak berjalan, maka
swashplate berada pada sudut maksimum. Selama operasi, piston pengendali pemindahan
menyesuaikan posisi swashplate untuk memenuhi kebutuhan aliran sistem.
Selama pengengkolan awal, swashplate berada pada pemindahan sepenuhnya hingga tekanan
suplai meningkat hingga 6200 kPa (900 psi). Pegas pada ujung load sensing spool mengatur
tekanan ini. Kemudian, spesifikasi yang diprogram ke dalam ECM untuk cranking normal akan
mengabaikan tekanan ini. Hingga titik ini, control valve solenoid telah sepenuhnya diberi energi
untuk peningkatan tekanan.
Selama START-UP, tekanan dari pompa masuk ke compensator assembly. Pump Control Valve
diberi tenaga untuk menghasilkan tekanan dengan cepat. Tekanan dirasakan di kedua ujung dari
Load Sensing Spool. Spool digeser ke kanan dan oli dari Displacement Control Piston disalurkan
ke case drain. Swashplate berada pada sudut maksimum. Drain orifice di bawah Pump Control
Valve memberikan sedikit hambatan untuk meningkatkan stabilitas valve.
Setelah engine running dan tekanan meningkat, ECM akan mengirim sinyal pada control valve
untuk menyesuaikan tekanan yang aktual dengan tekanan yang diinginkan dengan sementara
mengosongkan energi dan kemudian mengatur aliran arus ke pump control valve solenoid.
Penurunan arus yang ditujukan pada pump control valve solenoid menurunkan tekanan yang
diperlukan untuk mengawali aliran / flow melalui pump control valve.
Tekanan retakan bagian bawah pada pump control valve menciptakan suatu ketidak-seimbangan
gaya pada load sensing spool, yang menyebabkan spool untuk bergerak menuju ujung spring dari
compensator. Gerakan spool ini menghubungkan displacement control piston ke aliran output
pompa, yang memungkinkan swashplate menurunkan pemindahan / displacement pompa.
Pemindahan yang menurun mengurangi output pompa hingga level tekanan yang diperlukan oleh
ECM.
Selama DESTROKE, untuk sementara ECM mengosongkan energi Pump Control Valve yang
mengakibatkan suatu penurunan tekanan dalam ruang spring / spring chamber pada Load
Sensing Spool. Tekanan yang tidak seimbang mendorong spool ke kiri, dengan demikian
memungkinkan oli masuk ke Displacement Control Piston dan menggerakkan swashplate ke
sudut minimum.
Ketika muatan pada engine meningkat dan diperlukan tekanan yang lebih tinggi, maka ECM akan
memberikan sinyal pada valve pengendali untuk meningkatkan tekanan dengan meningkatkan
aliran arus ke pump control valve solenoid.
Peningkatan dalam arus yang diterapkan pada pump control valve solenoid meningkatkan setting
tekanan pada pump control valve. Tekanan yang lebih tinggi pada pump control valve
menciptakan suatu ketidak-imbangan gaya pada load sensing spool, yang menyebabkan spool
bergerak ke ujung saluran suplai sinyal dari compensator.
Gerakan spool ini menyalurkan displacement control piston ke case drain, yang memungkinkan
pegas menggerakkan swashplate untuk meningkatkan pemindahan dari pompa. Pemindahan
yang meningkat menaikkan output pompa ke level tekanan yang diinginkan, yang diperlukan oleh
ECM.
Ketika muatan diterapkan pada engine, ECM meningkatkan arus ke Pump Control Valve.
Tekanan dirasakan di kedua ujung Load Sensing Spool. Spool bergerak ke kanan (yang
disebabkan oleh gaya pegas) dan oli dari Displacement Control Piston disalurkan ke case drain,
yang memungkinkan swashplate untuk sementara menuju ke sudut maksimum dan dengan cepat
membentuk tekanan.
Jika load sensing spool atau pump control valve melekat atau tidak berfungsi untuk menciptakan
tekanan operasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang diinginkan, maka digunakan
pressure limiter spool. Dalam skematik ini, sebuah orifice yang tersumbat disimulasi. (Contoh ini
mewakili suatu kondisi aktual yang disebabkan oleh kotoran yang masuk pada waktu suatu
penggantian compensator valve di lapangan).
Pressure Limiter Spool mengarahkan aliran outlet pompa ke displacement control piston dan
mengurangi pump stroke jika tekanan sistem melebihi 25600 kPa (3700 psi).
Selama kondisi ini, pompa akan mengembangkan tekanan maksimum 24800 hingga 25600 kPa
(3600 hingga 3700 psi), apapun tekanan hidraulik yang diinginkan. Check Engine Lamp akan
berada pada ON, yang mengindikasikan suatu kerusakkan.
Tes pada Pump Control Valve akan memastikan operasi control valve. Tes ini memungkinkan
teknisi meningkatkan tekanan ke atas dan ke bawah secara manual dengan menggunakan alat
servis ET. Prosedur ini juga berguna ketika mengevaluasi kondisi dari sistem hidraulik.
Jika tekanan suplai melebihi 25600 kPa (3700 psi), maka gaya beraksi pada Pressure Limiter
Spool dan menggesernya ke kiri. Gerakan ini menekan spring dan memungkinkan oli menekan
check valve serta menekan displacment control piston. Swashplate bergerak ke sudut minimum
untuk menurunkan aliran dan membatasi tekenan pada sistem.
Pump control valve dipasang pada Control compensator assembly yang terdiri dari load sensing
spool dan pressure limiter. Pada slide ini, pump control valve terbuka, yang memungkinkan
tekanan disalurkan ke case drain.
Aliran ke dan dari displacement control piston ditentukan oleh control compensator assembly dan
pump control valve. control compensator assembly mendeteksi tekanan output pompa melalui
sebuah pilot pressure signal line. Pump control valve memvariasi tekanan ke displacement control
piston dengan memvariasi tekanan pada salah satu ujung dari load sensing spool valve.
Load sensing spool mengarahkan oli ke dan dari displacement control piston. Spool ini
mempunyai lubang di pusatnya, yang memungkinkan pilot pressure mencapai kedua ujung spool.
Gaya spring pada load sensing spool disesuaikan di pabrik. Pompa akan mengembangkan 5000
kPa (725 psi) dengan pump control solenoid valve yang di-disconnect sementara mengcrank
engine dengan injector yang non-aktif.
Level tekanan di dalam suplai operasi hidraulik dipantau oleh sebuah sensor tekanan hidraulik.
Ketika tekanan hidraulik kurang dari yang diinginkan (sebagaimana ditentukan oleh ECM), maka
level arus yang diterapkan pada pump control valve solenoid ditingkatkan.
Penambahan arus ke solenoid meningkatkan tekanan yang diperlukan untuk menghasilkan aliran
melalui pump control valve. Tekanan retakan / cracking pressure yang lebih tinggi untuk pump
control valve menciptakan suatu ketidak-imbangan gaya pada load sensing spool, yang
menyebabkan load sensing spool bergerak ke ujung supply signal line pada spool. Gerakan spool
menyalurkan displacement control piston untuk memompa case drain, dan memungkinkan
swashplate meningkatkan pemindahan (displacement) pada pompa. Displacement yang
ditingkatkan menaikkan output hidraulik hingga tingkat yang diperlukan ECM untuk injector.
Suplai power ke ECM dan sistem diperoleh dari battery engine 24-Volt. Komponen standar dalam
sirkuit ini adalah:
Battery
Key Start Switch
Main Power Relay
Breaker 15 Amp
Ground Bolt
ECM Connector (P1/Jl)
Machine Interface Connector (J3/P3).
Jika supply voltage melebihi 32,5 Volt atau kurang dari 9,0 Volt, sebuah kode diagnosa di log.
(Lihat Pedoman Pemecahan Masalah untuk perincian yang lengkap mengenai pencatatan
kejadian (event loging))
CATATAN:
Ground bolt adalah satu-satunya komponen suplai power yang dipasang pada engine.
Gambar 245
Skematik ini memperlihatkan komponen-komponen utama untuk sebuah sirkuit suplai daya yang
umum. Tegangan battery secara normal dihubungkan pada ECM.
Akan tetapi, suatu input dari Key start switch mengaktifkan ECM.
Machine wiring harness dapat diabaikan untuk tujuan troubleshooting. Langkah ini dijelaskan
dalam Prosedur troubleshooting.
CATATAN:
Kabel supply power adalah berpasangan untuk mengurangi resistensi.
Speed/Timing Sensor mempunyai suplai power yang khusus. ECM mengirim 12,5 + 1 Volt ke
Speed/Timing Sensor primary dan Secondary.
Konektor A dan B mengirimkan suplai power yang umum pada sensor. Kabel C mentransmisi
sinyal terpisah ke ECM.
Suplai power ini bukan tegangan baterai, tetapi dikeluarkan dan diatur dalam 1,0 volt oleh ECM.
Suatu kerusakan pada daya listrik di ECM akan menyebabkan kedua sensor gagal dan engine
akan mati karena sensor berbagi suplai power yang umum.
CATATAN:
Menghubungkan sebuah sistem lain atau asesori pada Speed/Timing Sensor dapat
mengakibatkan kegagalan engine.
yang terpisah digunakan untuk injector. Jika terjadi suatu kegagalan, hanya satu tepi dari injector
yang mungkin gagal. (Pada 3408E, hanya satu suplai daya yang digunakan.)
Jika terjadi sirkuit terbuka atau sirkuit pendek terjadi di dalam sirkuit injector, maka ECM akan me-
nonaktifkan injector. Secara periodik ECM akan mencoba untuk mengaktuasi injector tersebut
untuk menentukan apakah kerusakkan masih terjadi dan akan memutuskan atau menyambung-
kembali injector itu sebagaimana semestinya.
Suplai power Sensor Analog menyediakan power ke semua sensor analog (sensor tekanan dan
suhu). ECM mengirim 5 + 0,2 Volt DC (Pasokan Analog) melalui J1/P1 connector ke setiap
sensor. Suatu kerusakan pada suplai power akan mengakibatkan sensor analog kelihatan rusak.
Suplai power dilindungi terhadap short circuit, yang berarti bahwa sebuah short circuit dalam
sebuah sensor atau wiring harness tidak akan menyebabkan kerusakan pada ECM.
ECM mengirim power pada 8 + 0.5 Volt melalui J1/P1 circuit ke circuit berikut ini:
Throttle Position Sensor
Fan Speed Sensor (jika terpasang)
Exhaust Temperature Sensor (dapat dipasang pada high performance industrial engines).
Suplai power dilindungi terhadap short circuit, yang berarti bahwa suatu short circuit di dalam
sebuah sensor tidak akan mengakibatkan kerusakan pada ECM.
ECM mengirim sebuah signal PWM dengan 0 hingga 24 Volt (PWM) dan 0 hingga 800 mA
melalui J2/P2 connector ke Pump Control Valve.
Control valve dan suplai power dapat diuji pada engine dengan menggunakan ET dan Hydraulic
Injection Actuation Pressure Test. Dengan menggunakan pengetesan ini, tekanan dapat
disesuaikan secara manual dengan alat servis ET dari minimum hingga maksimum. Oleh karena
itu, fungsi ini dapat digunakan untuk memverifikasi operasi dari control valve, suplai power dari
ECM dan sistem hidraulik.
Pada saat menggunakan tes tersebut, tekanan (dinyatakan sebagai suatu persentase dari
maksimum) dapat ditingkatkan dengan kenaikan dari 1% hingga 100%. Nilai maksimum hanya
dapat dicapai jika terdapat kebocoran dalam sistem dan pompa berada pada pemindahan
maksimum untuk mengimbangi kehilangan tekanan. Jika tidak maka tekanan hanya akan
mencapai maksimum sebesari 49%. Tekanan minimum adalah sebuah fungsi suatu pengaturan
spring pada Compensator Valve.
(Valve ini adalah suatu pengendali emisi dan tidak boleh disetel). Service tool status screen dapat
digunakan untuk menunjukkan persentase arus yang sedang digunakan. Pengukuran ini dapat
digunakan dalam hubungannya dengan tekanan hidraulik aktual dan yang diinginkan untuk
memeriksa operasi sistem selengkapnya.
Pump Control Valve menggunakan suatu pasokan power digital karena arus PWM lebih mudah
untuk diatur. Disamping itu, memodulasi arus pada 500 Hz menghasilkan suatu efek bergetar
pada poppet valve untuk mencegah valve tidak melekat. Poppet valve dibiarkan bergerak hampir
seperti rak dalam sebuah hydra-mechanical governor.
CATATAN:
Jika tegangan control valve dibaca dengan sebuah oscilloscope, maka alat tersebut bisa
memperlihatkan puncak sebesar 24 Volt, sementara sebuah Voltmeter dapat memperlihatkan
hingga 8 Volt rms.
Bagian dari presentasi ini mencakup sensor-sensor elektronik dan sirkuit-sirkuit yang
berhubungan di dalam sistem bahan bakar HEUI 3408E dan 3412E.
Speed/Timing Sensor
Dua Speed/Timing Sensor dipasang: satu primary dan satu secondary. Speed/Timing Sensor
melakukan tiga fungsi mendasar dalam sistem:
Mendeteksi kecepatan engine
Mendeteksi engine timing
Mengidentifikasi silinder dan TDC.
Speed/Timing Sensor, yang di pasang di housing depan di bawah timing gear weal, merupakan
sensor yang dapat menyetel secara otomatis selama pemasangan.
Sensor tipe ini tidak mempunyai celah udara umum yang tetap. Sensor ini tidak mempunyai
kontak langsung dengan timing wheel tetapi bergerak tanpa celah (zero clearance).
Jika kerusakan sensor primer terjadi, maka sensor secondary akan memberikan back-up secara
otomatis. Hanya perubahan suara engine yang sebentar yang dapat diperhatikan saat perubahan
terjadi.
Jika kerusakkan pada sensor primary diperbaiki, maka ECM akan tetap menggunakan sensor
secondary hingga engine dimatikan dan di-start kembali. Kerusakan speed/timing sensor yang
selanjutnya akan mengakibatkan engine mati.
Sensor dapat diperiksa secara fungsional dengan meng-crank engine dan memperhatikan service
tool status screen untuk engine RPM. Kerusakan pada salah satu sensor akan ditunjukkan
dengan fault screen yang aktif pada service tool. Suatu kerusakan yang terputus-putus akan
ditampilkan logged fault screen.
Karena kedua sensor menggunakan suplai power yang umum, kerusakan pada suplai power di
ECM dapat menyebabkan kedua sensor rusak. Kepala sensor diperpanjang sebelum
pemasangan. Tindakan memasang sensor dengan screw mendorong kepala kembali ke
badannya setelah kepala menyentuh timing wheel.
Selama pemasangan, penting untuk memastikan bahwa kepala sensor (sensor head) tidak sejajar
dengan slot lebar di dalam timing wheel. Jika hal ini terjadi kepala sensor akan rusak ketika
engine di-start, dan pembongkaran ulang akan diperlukan untuk mengeluarkan kotoran. Juga,
sensor yang lain akan rusak oleh kotoran.
Sensor Analog dan sirkuit berikut ini dapat digunakan dalam berbagai aplikasi:
Sensor Tekanan Hidraulik (Hydraulic Pressure Sensor)
Sensor Suhu Zat Pendingin (Coolant Temperature Sensor)
Sensor Tekanan Atmosfir (Atmospheric Pressure Sensor)
Sensor Tekanan Inlet Turbocharger (Turbocharger Inlet Pressure Sensor)*
Sensor Turbocharger Outlet (Boost) (Turbocharger Outlet (Boost) Sensor)
Sensor Tekanan Oli Pelumas (Lubrication Oil Pressure Sensor)
Sensor Suhu Oli Hidraulik (Hydraulic Oil Temperature Sensor)
Sensor Suhu Bahan Bakar (Fuel Temperature Sensor)
Sensor Tekanan Hidraulik (Hydraulic Pressure Sensor) berada di supply manifold sebelah kanan
dan digunakan untuk mengukur tekanan hidraulik actuation injector untuk ECM.
ECM tidak akan mengaktifkan injector untuk melakukan start pada engine jika tekanan terbaca
berada di bawah 4500 kPa (650 psi). Suatu kerusakkan akan terjadi jika tekanan hidraulik aktual
berbeda dari tekanan sistem yang diinginkan lebih dari 1000 kPa (145 psi) dalam waktu setengah
detik lebih lama.
CATATAN:
Gunakan selalu sebuah wrench (bukan vise grip pliers) untuk melepaskan dan memasang semua
sensor.
Coolant Temperature Sensor menyuplai sinyal suhu untuk fungsi berikut ini:
Sistem Pemantauan Caterpillar atau tampilan instrumen VIMS
Sistem Pemantauan Caterpillar atau lampu peringatan dan alarm VIMS
Demand Control Fan (jika diperlengkapi)
ET atau tampilan suhu pendingin ECAP
Peristiwa suhu pendingin tinggi yang di-log di atas 107ºC (225ºF)
Engine Warning Derate jika melebihi 107ºC (225ºF) atau terjadi tekanan oli rendah (jika
dilengkapi)
Sensor cadangan (back-up) ke sensor hidraulik suhu oli operasi bantuan ether.
CATATAN:
Semua sensor analog menggunakan daya pasok analog yang umum sebesar 5,0 + 0,2 Volt.
Semua sensor tekanan (kecuali aktuasi hidraulik) di dalam sistem mengukur tekanan absolut dan,
oleh karena itu, mensyaratkan bahwa sensor atmosfir mengkalkulasi tekanan pengukur. Sensor
ini digunakan baik secara individu (tekanan absolut) dalam hal tekanan atmosfir, dan sebagai
suatu pasangan untuk mengkalkulasi tekanan oli dan tekanan boost (tekanan pengukur).
Semua output sensor tekanan disesuaikan dengan output Atmospheric Pressure Sensor selama
kalibrasi. Kalibrasi dapat dilakukan dengan menggunakan alat servis ET atau dengan menyalakan
sakelar key start tanpa melakukan start pada engine selama lima detik untuk secara otomatis
mengkalibrasi sensor. Atmospheric Pressure Sensor melakukan empat fungsi utama:
1. Automatic Altitude Compensation (perubahan nilai maksimum 24%)
2. Automatic Filter Compensation (perubahan nilai maksimum 20%)
3. Sebagian dari kalkulasi tekanan untuk bacaan tekanan pengukur
4. Sensor referensi untuk kalibrasi sensor tekanan.
Sebuah filter busa dipasang di bawah sensor untuk menghindari masuknya kotoran.
Pengukuran tekanan atmosfir (Gambar 255) pada sensor menyediakan sebuah referensi
ketinggian untuk tujuan Kompensasi Ketinggian Otomatis / automatic altitude compensation.
Grafik yang diperlihatkan di sini menjelaskan bagaimana derating pada sebuah 3408E/3412E
yang umum mulai pada 7500 ft. dan melanjutkan secara linier hingga suatu maksimum setinggi
17000 ft. Engine yang lain mungkin mulai serendah 4000 ft. tergantung dari aplikasinya.
Keunggulan dari suatu sistem HEUI adalah bahwa engine selalu beroperasi pada derating setting
yang benar pada semua ketinggian. Secara terus-menerus sistem menyesuaikan hingga setting
yang optimum berapapun ketinggiannya sehingga engine tidak akan memperlihatkan kekurangan
daya atau menyebabkan masalah asap selama pendakian atau penurunan ke berbagai ketinggian
yang berbeda.
CATATAN:
Sistem HEUI memiliki keunggulan dibandingkan dengan suatu sistem bahan bakar mekanika
yang di-derate dalam “balok ketinggian” (yaitu 7500 ft., 10000 ft., 12500 ft.). Derating pada HEUI
bersifat berkesinambungan dan secara otomatis. Oleh karena itu, sebuah engine yang beroperasi
di bagian bawah dari balok tidak dirugikan dengan daya yang lebih rendah. Sebaliknya, sebuah
engine yang beroperasi di bagian atas dari balok tidak akan mengalami kelebihan-bahan bakar
dengan sistem HEUI.
Turbocharger Inlet Pressure Sensor digunakan bersama dengan Sensor Tekanan Suhu untuk
mengukur batasan filter udara. Kedua sensor ini digunakan untuk mengaktifkan fungsi
Kompensasi filter Udara Otomatis (Automatic Air filter Compensation) (jika ada). Sensor ini juga
digunakan sebagai back-up untuk Sensor Tekanan Atmosfir untuk Kompensasi Ketinggian
Otomatis.
Kompensasi Filter Otomatis berarti bahwa engine terlindungi dari dampak filter yang tersumbat.
Derating adalah otomatis sebagai berikut:
Batasan filter udara (ΔP) melebihi 6.25 kPa (30 in. air)*
Derating daya engine mulai pada tingkat 2% per 1 kPa ΔP
Perubahan nilai (derate) maksimum adalah 20%
Peristiwa di-log ketika batasan filter udara (ΔP) melebihi 6.25 kPa (30 in. air)*
* Spesifikasi ini merupakan contoh yang umum. Nilai yang aktual mungkin akan bervariasi
tergantung pada aplikasinya.
Derating ditahan pada ΔP maksimum hingga sakelar key start diputar off dan on.
CATATAN:
Jika hanya satu filter yang disumbat, alat servis ET dan Sistem Pemantauan Caterpillar akan
menampilkan ΔP tertinggi dari keduanya. Derating juga didasarkan pada ΔP tertinggi dari
keduanya.
Turbocharger Outlet Pressure Sensor mengukur tekanan menurun absolut dari aftercooler.
Tekanan boost (alat pengukur) dapat dibaca dengan alat servis. Pengukuran ini adalah suatu
perhitungan yang menggunakan Sensor Tekanan Atmosfir dan Sensor Tekanan Outlet
Turbocharger.
Kerusakan pada sensor ini dapat mengakibatkan engine mengalami perubahan nilai (derating)
sebanyak 60% ketika ECM melakukan default hingga suatu kondisi zero boost. Fungsi dari sensor
ini adalah untuk mengaktifkan Pengendalian Rasio Udara/Bahan Bakar yang mengurangi asap,
emisi dan mempertahankan respon engine selama penambahan kecepatan.
Sistem ini menggunakan tekanan boost, tekanan atmosfir dan kecepatan engine untuk
mengendalikan rasio udara/bahan bakar. Pengiriman bahan bakar engine dibatasi sesuai dengan
sebuah peta mengenai tekanan outlet turbo pengukur (boost) dan kecepatan engine. Penetapan
Pengendalian Rasio Udara/Bahan Bakar tidak dapat disesuaikan di dalam aplikasi engine.
Dua sensor tekanan digunakan untuk pengukuran tekanan oli (alat pengukur):
Sensor Tekanan Oli / Oil Pressure
Sensor Tekanan Atmosfir / Atmospheric pressure
Kalkulasi Tekanan
Pengukuran Diukur Oleh Hasil
Tekanan Oli [penekan oli (A) – atmosfir (A)] = tekanan oli (GP)
Tabel 14
Pengukuran ini digunakan untuk menentukan tekanan oli untuk alat servis ET, Sistem
Pemantauan Caterpillar dan untuk memperingatkan operator bahwa telah terjadi suatu kondisi
yang abnormal. Jangkauan operasi sensor adalah 0 hingga 690 kPa (0 hingga 100 psi) (A).
CATATAN:
(A) = tekanan absolut
(GP) = tekanan alat pengukur (gauge pressure)
Kalkulasi Tekanan
Pengukuran Diukur Oleh Hasil
1. Tekanan atmosfir sensor atmosfir = penekan sekeliling (absolut)
2. Diferensial filter udara Atmosfir – inlet turbo = tekanan Δ filter
3. Boost outlet turbo - atmosfir = boost (penekan pengukur)
4. Penekan manifold, absolut sensor outlet turbo = boost (penekan absolut)
5. Tekanan oli penekan oli - atmosfir = penekan oli (penekan pengukur
Tabel 15
Pengukuran ini digunakan untuk menentukan:
1. Kompensasi Ketinggian Otomatis / Automatic Altitude Compensation
2. Kompensasi Filter Udara Otomatis / Automatic Air Filter Compensation (dan Indikasi
Pembatasan)
3. Pengukuran Boost ET
4. Caterpillar monitoring system oil pressure indication (Pelumasan)
5. Ketinggian / Altitude
CATATAN:
Tekanan Δ = tekanan diferensial
Tekanan oli engine bervariasi sesuai dengan kecepatan engine. Selama tekanan oli meningkat di
atas garis bagian atas setelah engine di - running dan berjalan pada low idle, ECM membaca
tekanan oli yang cukup. Tidak ada indikasi kerusakkan dan tidak ada peristiwa yang di-log yang
dihasilkan. Jika tekanan oli engine menurun di bawah garis bagian bawah, maka akan terjadi hal-
hal yang berikut ini:
Sebuah peristiwa dihasilkan dan di-log di dalam memori ECM yang permanen
Warning Kategori 3 (indikator waspada, lampu aksi dan alarm) dikeluarkan pada Caterpillar
monitoring system (jika ada).
Engine diubah nilainya (derated) (jika ada) untuk memberi peringatan kepada operator.
Kedua garis cukup terpisah untuk mencegah banyak alarm dan peristiwa atau lampu yang
berkedip. Pemisahan tekanan ini disebut sebagai “hysteresis.”
Sensor Suhu Oli (engine) Hidraulik digunakan oleh ECM untuk mengkompensasi dampak suhu oli
pada fuel injector timing dan pengiriman bahan bakar. Kompensasi ini memungkinkan operasi
engine yang konsisten selama suatu variasi kondisi operasi.
Perlindungan cold start dengan Cold Mode Timing diaktifkan ketika suhu oli turun di bawah nilai
yang telah ditetapkan sebelumnya sebesar 60ºC (140ºF).
CATATAN:
Tanpa pemantauan suhu oli, perubahan kekentalan yang disebabkan oleh perubahan dalam suhu
oli dapat mengakibatkan variasi yang tidak dapat diterima pada kinerja engine (termasuk emisi
pembuangan).
ECM menggunakan pengukuran suhu bahan bakar untuk membuat koreksi pada penilaian bahan
bakar untuk mempertahankan daya berapapun suhu bahan bakar (di dalam parameter tertentu).
Fitur ini disebut sebagai “Kompensasi Suhu Bahan Bakar”.
Coolant Flow Switch dipasang di dalam inlet pendingin oli / Oil Cooler Inlet.
Switch ini menghubungkan terminal aliran zat pendingin pada konektor P1/J1 ECM ke digital
return (ground) pada konektor yang sama. Ground ini adalah sama dengan semua sensor digital.
Kontak sakelar secara normal terbuka tanpa aliran.
Sirkuit ini digunakan untuk memberikan suatu peringatan kepada operator jika suatu kegagalan di
dalam sirkuit pendingin menyebabkan aliran tida ada.
Fungsi ini dapat diperiksa dengan menggunakan status screen yang akan memperlihatkan
apakah terdapat suatu aliran. Fungsi ini harus diperiksa bersama dengan engine yang hidup dan
kemudian dimatikan.
Sensor digital dan circuit berikut ini mungkin digunakan di dalam sistem bahan bakar HEUI:
Throttle Position Sensor
Pump Control Valve Signal
Suhu Buangan (tidak terpasang pada engine mesin pada saat ini).
Ketika engine di-start up, RPM engine dipasang pada low idle selama dua detik agar terdapat
peningkatan tekanan oli sebelum engine digas.
Throttle Position Sensor menerima 8 Volt dari Suplai Daya Sensor Digital di ECM.
CATATAN:
Sistem ini menghilangkan seluruh hubungan mekanika antara pengendali kecepatan engine
operator dan governor ECM)
Pump Control Valve digunakan untuk mengendalikan sudut swashplate di dalam pompa hidraulik.
Dengan membedakan sinyal PWM dari ECM ke solenoid, valve mengendalikan volume dari aliran
hidraulik ke case drain (sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya). Sinyal PWM untuk Pump
Control Valve digunakan untuk mempertahankan pengendalian yang tepat pada nilai arus.
Frekuensi dari suplai power menciptakan gerakan valve yang konstan yang membantu valve
untuk mempertahankan tekanan yang stabil. Pump Control Valve juga dapat diacu sebagai
“Injection Actuation Pressure Control Valve.”
Ground Level Shutdown Switch dihubungkan pada ECM melalui rangka jaringan kabel engine dan
mesin.
Switch memberi sinyal pada ECM untuk menghentikan daya listrik ke injector, akan tetapi
mempertahankan daya ke ECM.
Fitur ini juga membuat engine dapat di-crank tanpa melalukan start untuk tujuan perawatan.
Tidak ada sirkuit lain yang bisa dihubungkan pada sistem ini. Penghentian yang ditentukan oleh
pemakai dapat digunakan bersama dengan sirkuit yang lain.
Fitur Pematian Mesin oleh Pengguna (User Defined Shutdown) (jika ada) dapat digunakan untuk
menghubungkan peralatan yang lain ke sistem untuk mematikan engine (seperti misalnya sistem
fire suppression yang dipasang oleh pelanggan). Saat input shutdown dibumikan selama satu
detik, engine akan berhenti bekerja. Input harus diturunkan di bawah 0,5 Volt sebelum EMC
mengenali sinyal shutdown. Operasi dari User Defined Shutdown di-log sebagai suatu peristiwa
dan dapat ditampilkan pada ET status screen.
Jika dipasang pada sebuah Off-highway Truck, maka fitur ini diprogram untuk berfungsi hanya
selama kondisi berikut ini guna alasan keamanan:
Parking Brake TERPASANG
Transmisi berada dalam NETRAL
Kecepatan mesin di permukaan tanah nol .
Dua jenis thermostatic fan digunakan dalam aplikasi engine 3408E/3412E. Beberapa Off-highway
Truck, Traktor jenis Track, Motor Grader dan Paving Product dilengkapi dengan kopling
penggerak kipas kecepatan variabel (variable speed fan drive clutch) . Beberapa Wheel Loader
dilengkapi dengan sebuah penggerak kipas hidraulik (hydraulic fan drive).
Kedua sistem menggunakan ECM dan sensor suhu sebagai referensi suhu zat pendingin engine
dan keduanya dikendalikan oleh ECM. Jika suatu kerusakan listrik pada sistem terjadi, maka
kipas akan menuju kecepatan maksimum (100%).
ECM mengendalikan penggunaan ether untuk cold start. ECM menggunakan input dari sensor
kecepatan/timing dan suhu oli hidraulik untuk menentukan kebutuhan akan ether. Sensor suhu
pendingin digunakan sebagai suatu cadangan untuk sensor suhu oli hidraulik.
ECM memutar ether selama tiga detik on dan tiga detik off. Aliran yang aktual ditentukan oleh
suhu dan kecepatan engine. Injeksi ether di-nonaktifkan ketika suhu oli melebihi 10ºC (50ºF) atau
jika kecepatan engine melebihi 1200 RPM.
Sebuah mode manual memungkinkan injeksi ether jika parameter tersebut di atas
memungkinkannya. Dalam mode manual, sejumlah ether yang akurat diinjeksikan. Status injeksi
ether dapat dibaca pada ET status screen.
Peristiwa yang di-log seperti yang tercatat pada layar ET yang sesuai adalah kondisi-kondisi yang
tidak normal pada operasi engine (misalnya: suhu yang tinggi, tekanan yang rendah atau
kecepatan engine yang berlebihan). Kondisi-kondisi ini umumnya tidak disebabkan oleh masalah
elektronik.
Beberapa parameter yang ditulis di dalam presentasi ini digunakan dalam daftar peristiwa ET (ET
event list). Parameter tersebut adalah:
Suhu pendingin yang tinggi di atas 107ºC (225ºF)
Kehilangan aliran pendingin / Loss Coolant Flow
Tekanan oli (pelumas) yang rendah (menurut peta tekanan oli)
Tekanan hidraulik aktuasi injeksi yang tidak normal (rendah atau tinggi)
Kerusakkan pada sistem tekanan aktuasi injeksi
Shutdown yang ditentukan oleh pengguna (user defined shutdown) (jika ada)
Hambatan inlet udara (jika ada)
Histogram kelebihan-kecepatan engine
Tekanan bahan bakar yang rendah (hanya untuk engine industri).
Semua parameter yang terdaftar pada halaman sebelumnya dapat dibaca pada layar status ET
(kecuali jika terdapat kerusakkan sistem hidraulik).
Peristiwa tidak di-log jika suatu kerusakan elektronik terdeteksi. Kata sandi (password) dibutuhkan
untuk membersihkan peristiwa. Umumnya proses ini dilakukan selama engine overhaul. Di waktu
lain, peristiwa-peristiwa ini akan dibiarkan sebagai catatan sejarah engine sebelum waktu
overhaul.
Gambar 270
CATATAN: Untuk mendukung hal ini, tinjau kembali berbagai fungsi sensor dan komponen
sebagaimana diperlihatkan di atas.
Injection Actuation Pressure Control Valve (IAPCV) mengatur sistem oli tekanan tinggi yang
menggerakkan Hydraulic Electronic Unit Injectors (HEUI). Sensor tekanan aktuasi injeksi
memantau tekanan sistem oli tekanan tinggi. ECM menyesuaikan pulse width modulated signal ke
IAPCV agar dapat mengatur tekanan injeksi. IAPCV beroperasi pada sebuah sinyal antara 0 dan
800 mA.
Gambar 271
ECM menggunakan kriteria berikut ini untuk menentukan tekanan aktuasi injeksi yang diinginkan:
Kualitas bahan bakar
Timing injeksi
Kecepatan engine (RPM)
Mode pada operasi engine (Cold Mode, dsb.)
CATATAN:
Mengaculah pada Pedoman Servis yang relevan untuk Prosedur Pengetesan.
Gambar 272
Engine mempunyai Hydraulic Electronic Unit Injectors (HEUI). Electronic Control Module (ECM)
mengirimkan suatu pulse 105 volt ke setiap injector solenoid. Pulse ini dikirimkan pada waktu
yang tepat dan pada durasi yang benar untuk suatu kecepatan dan beban engine. Solenoid
dipasang di atas badan fuel injector. Pulse 105 volt dapat dipotong-potong secara individu untuk
membantu memecahkan masalah misfire.
Jika bukaan terdeteksi dalam sirkuit solenoid, maka sebuah kode diagnostik tercipta dan ECM
melanjutkan mencoba untuk menyalakan fuel injector. Jika sebuah hubungan pendek terdeteksi,
sebuah kode diagnostik tercipta dan untuk sementara ECM me-nonaktifkan sirkuit solenoid. ECM
kemudian akan mengaktifkan sirkuit solenoid. Urutan peristiwa akan diulang hingga masalah
dikoreksi.
ECM mencoba untuk melakukan suatu kalibrasi otomatis pada seluruh sensor tekanan kapanpun
ECM diberi daya dan engine di-OFF sekurang-kurangnya lima detik. Meng-crank engine selama
lima detik pertama akan mengakibatkan ECM membatalkan usaha kalibrasi. Suatu kalibrasi
manual harus dilakukan jika sebuah sensor tekanan diganti.
Selama suatu kalibrasi sensor tekanan otomatis, ECM memeriksa semua sensor tekanan
terhadap suatu kisaran yang dapat diterima. Jika terdapat sensor tekanan yang terbaca di luar
kisaran yang dapat diterima, maka nilai kalibrasi sebelumnya yang digunakan. ECM kemudian
mengkalibrasi semua sensor tekanan terhadap sensor tekanan atmosfir.
Selama suatu kalibrasi sensor tekanan manual, ECM memeriksa sinyal dari sensor tekanan
atmosfir terhadap suatu kisaran tekanan yang dapat diterima. ECM kemudian mengkalibrasi
sensor tekanan analog yang tersisa terhadap sensor tekanan atmosfir. ECM juga menggunakan
suatu nilai offset untuk mengkalibrasi sensor analog yang tersisa. Sebuah kode diagnosa dengan
suatu FMI – 13 ”Calibration Required” dikeluarkan jika nilai offset tidak berada dalam kisaran yang
dapat diterima.
Kalibrasi sensor tekanan tidak akan berhasil jika terdapat kode diagnostik aktif untuk sensor
tekanan dengan suatu FMI – 03 “open/short to +batt” atau FMI – 04 “short to ground”.
Hasil:
Hasil:
Nilai Offset:
Tekanan inlet kompresor turbocharger tidak boleh berbeda dari tekanan atmosfir dengan lebih
dari 8 kPa (1,1 psi).
Tekanan outlet turbocharger tidak boleh berbeda dari tekanan atmosfir dengan lebih dari 15
kPa (2,0 psi).
Tekanan oli engine tidak boleh berbeda dari tekanan atmosfir dengan lebih dari 27 kPa (4,0
psi).
Tekanan atmosfir tidak boleh berbeda dari tekanan barometrik aktual dengan lebih dari 5 kPa
(0,7 psi).
Hasil:
CATATAN:
Engine ini dilengkapi dengan sebuah timing calibration sensor permanen yang disebabkan oleh
tidakadanya akses pada lubang kalibrasi timing di dalam flywheel housing. Timing calibration
sensor digunakan untuk mengkalibrasi sinyal kecepatan/timing pada engine terhadap puncak
pusat pada flywheel.
Jika salah satu dari kondisi berikut ini terjadi, maka sensor kecepatan/timing harus dikalibrasi:
Penggantian ECM
Penyervisan engine timing gears
Penggantian salah satu sensor kecepatan/timing
Diperlukan Kalibrasi Engine Timing 261-13 yang aktif.
Terdapat dua sensor kecepatan/timing yang menyediakan informasi mengenai kecepatan engine
dan informasi mengenai posisi dari crankshaft ke ECM. Setiap sensor mengeluarkan sebuah
pulse signal ketika timing ring berputar melewati pickup pada sensor (slipheads). Sensor
ECM menyediakan 12,5 + 1,0 VDC untuk sensor kecepatan/timing engine. Sebuah gigi yang unik
pada timing reference gear mengeluarkan sebuah siklus tugas yang unik. Sinyal menyediakan
informasi mengenai posisi engine untuk ECM.
Hasil:
OK - Tidak ada kode diagnostik aktif. Stop.
Tidak OK - 261-13 ( Kalibrasi Engine Timing diperlukan) adalah satu-satunya kode diagnostik
aktif . Lanjutkan dengan Langkah Tes ke 2.
Tidak OK - Terdapat kode diagnostik aktif. 261-13 (Kalibrasi Engine Timing diperlukan ) bukan
salah satu dari kode diagnostik aktif.
Berhenti.
Tidak OK - Terdapat sebuah 261-13 (Kalibrasi Engine Timing diperlukan) dan kode diagnostik
aktif yang lain.
Perbaikan: Perbaiki kode diagnostik aktif. 261-13 Kalibrasi Engine Timing yang diperlukan
mungkin masih aktif.
Ulangi Langkah Tes ke 1.
CATATAN:
Kecepatan engine secara otomatis akan ditetapkan oleh ECM selama kalibrasi.
CATATAN:
Jika ET menampilkan "Calibration Unsuccessful", maka timing injeksi elektronik belum dikalibrasi.
Hasil:
OK - Kalibrasi timing telah berhasil. Stop
Tidak OK - Timing tidak berkalibrasi. Lanjutkan ke Langkah Tes ke 3.
Hasil:
OK - Ulangi Langkah Tes ke 1.
TOPIK 7
Pengganti Injector Bahan Bakar
Mulailah Dengan:
a. Mengevakuasi sistem bahan bakar.
b. Melepaskan penutup mekanisme valve. Liaht Membongkar dan Merakit, “Penutup Mekanisme
Valve – Melepas”.
CATATAN:
Semua komponen harus bebas dari pencemar.
Pencemar dapat mengakibatkan aus yang cepat dan memperpendek masa pakai komponen.
CATATAN:
Anda harus berhati-hati untuk memastikan bahwa fluida ditampung selama pelaksanaan inspeksi,
perawatan, pengetesan, penyetelan dan perbaikan produk. Anda harus siap menampung fluida
dalam kontainer yang sesuai sebelum membuka semua kompartemen atau membongkar semua
komponen yang mengandung fluida.
Lihatlah pada Penerbitan Khusus, NENG2500, “Pedoman Produk Peralatan dan Bengkel
Caterpillar ” untuk mengetahui perangkat dan kontainer yang sesuai untuk menampung fluida
pada produk-produk Caterpillar.
1. Sebelum melepaskan injector, keluarkan sebanyak mungkin bahan bakar dari manifold
2. Lepaskan saluran bahan bakar (1) yang dirute dari T-connector pada bagian depan engine ke
bagian depan manifold.
3. Letakkan ujung yang terlepas pada dari saluran bahan bakar (1) ke dalam sebuah kontainer
yang benar untuk mengumpulkan bahan bakar.
4. Gunakan sebuah air gun dengan ujung karet untuk mengeluarkan bahan bakar dengan udara
bertekanan.
a. Letakkan ujung karet dari air gun di dalam lubang saluran bahan bakar di manifold.
b. Kira-kira 138 hingga 207 kPa (20 hingga 30 psi) udara bertekanan seharusnya cukup
untuk mengeluarkan bahan bakar dari kedua manifold tanpa merusak injector.
5. Ketika bahan bakar dalam sistem telah dikeluarkan, sambungkan-kembali saluran bahan
bakar ke manifold.
6. Bahan bakar dan oli masih harus dibuang dari silinder setelah injector dilepaskan.
Melepaskan Injector
CATATAN:
Ujung injector dibuat sangat keras untuk memberikan masa pakai yang panjang. Kekerasan ini
juga membuat ujung itu rapuh. Pemuatan dari sisi selama instalasi atau memukulkan ujung
tersebut pada sebuah objek yang keras atau menjatuhkan injector dapat menyebabkan ujung itu
patah atau retak. Memasang sebuah injector dengan ujung yang retak dapat mengakibatkan
kerusakan pada engine.
CATATAN:
Setelah injector dilepaskan, sejumlah tertentu bahan bakar dan oli mengalir ke bawah silinder.
Sebagian besar dari bahan bakar harus dihilangkan sebelum injektor dipasang-kembali untuk
menghindari kemungkinan terkunci secara hidraulik dan kerusakan engine yang parah ketika
engine diengkol kemudian. Untuk meminimalkan jumlah bahan bakar yang mengalir ke dalam
silinder, maka valve penutup pengaliran bahan bakar harus ditutup sebelum melepaskan injector.
CATATAN:
Injector tidak boleh dirusak ketika dikirim kembali untuk suatu garansi. Injector juga harus
dikembalikan dalam pembungkus pelindung aslinya. Garansi atau pengembalian penuh dengan
produk baru dapat dikurangi atau ditiadakan jika injector dikembalikan tidak dalam pembungkus
original. Sebuah injector dengan kemungkinan kerusakan pada ujungnya harus dikembalikan
dalam pembungkus original. Injector yang rusak harus diidentifikasi dengan jelas sebagai memiliki
“kemungkinan kerusakan pada ujungnya”.
Gambar 275
Gambar 276
3. Tandai terminal-terminal pada wire harness (2) dengan nomor pada silinder. Hal ini akan
membantu untuk memastikan perakitan-kembali yang benar.
4. Lepaskan terminal dari wire harness (2) untuk unit injector.
5. Lepaskan baut (3) dari injector jumper tube (5). Lepaskan screw penutup kepala socket (6)
dari adaptor (4). Lepaskan injector jumper tube (5) dan adaptor (4).
Gambar 277
6. Lepaskan O-ring seal (13) dan (14). Lepaskan clamp bolt (7) dan clamp (8).
CATATAN:
Prosedur pelepasan injector yang benar dan perkakas yang dispesifikasikan dalam Instruksi
Khusus ini SELALU HARUS digunakan. Setiap pengungkitan yang dilakukan di bawah badan
injector valve dapat mengakibatkan perubahan bentuk pada lubang poppet valve dan
kemungkinan kerusakan. JANGAN mengungkit pada injector.
Gambar 278
a. Ketika Anda mengeluarkan injector dengan tangan, pegang injector dan putar.
Karbon yang telah menumpuk pada seat akan terlepas. Kemudian injector dapat
diangkat keluar. Jika seat tidak dapat dilepaskan dengan tangan, maka Injector Puller
131-3921 harus digunakan.
Gambar 280
b. Lihat pada Gambar 20. Pasang 131-3921 Injector Puller pada injector.
Pasang Baut 0S-1616 dalam lubang yang berulir pada puncak injector.
c. Putar Pegangan 131-8196 agar dapat mengeluarkan injector.
Gambar 281
8. Lepaskan O-ring seal (10) dan O-ring seal (12) dari injector.
9. Ulangi Langkah 3 hingga Langkah 8 untuk injector yang lain.
1. Alat ini merupakan suatu tambahan. Sikat kawat 164-5927 mempunyai pegangan yang dapat
digunakan dalam ruang engine yang sempit.
CATATAN:
Jaga agar semua komponen bebas dari pencemar
Pencemar dapat menyebabkan keausan yang cepat dan memendekkan usia pakai komponen.
CATATAN:
Anda harus berhati-hati untuk memastikan bahwa fluida ditampung selama pelaksanaan inspeksi,
perawatan, pengetesan, penyetelan dan perbaikan produk. Anda harus siap menampung fluida
dalam kontainer yang sesuai sebelum membuka semua kompartemen atau membongkar semua
komponen yang mengandung fluida.
Lihatlah pada Penerbitan Khusus, NENG2500, “Pedoman Produk Peralatan dan Bengkel
Caterpillar ” untuk mengetahui perangkat dan kontainer yang sesuai untuk menampung fluida
pada produk-produk Caterpillar.
Gambar 282
Ini adalah contoh dari sebuah injector sleeve yang umum. (1) Permukaan dengan sudut 120
derajat dari injector sleeve. O-ring seal yang di bawah menyentuh injector sleeve di dalam area
ini. (2) Ujung-ujung injector masuk ke dalam lubang ini di dalam injector sleeve.
Kebersihan adalah penting untuk penyekatan injector yang benar. Semua deposit karbon harus
dibersihkan dari injector sleeve dan lubang (2). Deposit karbon juga harus dibuang dari
permukaan dengan sudut 120 derajat (1) di dasar injector sleeve.
CATATAN:
Jika Anda tidak membersihkan semua area yang dicatat, maka penyekatan yang tidak benar pada
injector o-ring seal bawah dapat terjadi. Ini dapat mengakibatkan rusaknya ujung injector atau
kerusakan pada injector karena kebocoran gas pembakaran ke dalam saluran bahan bakar.
Gambar 283
Ini adalah sebuah contoh dari injector yang umum. Seluruh bagian bawah injector harus bersih.
Perhatian lebih banyak harus dicurahkan pada o-ring seal groove bagian bawah (3) dan
permukaan disebelahnya.
Material Scotch Brite yang halus diutamakan. Scotch Brite tersedia dari Pedoman Produk
Peralatan dan Bengkel sebagai Cut & Polish Roll 1U-5512 dan sebagai Surface Reconditioning
Pad 8T-7765.
Prosedur berikut ini adalah metode yang lebih diutamakan untuk membersihkan permukaan
bersudut 120° dari pada sleeve (1):
1. Letakkan potongan persegi Scotch Brite sebesar 38 mm (1,5 inci) pada ujung sebuah
Tapered Brush 9U-6862.
2. Putar Tapered Brush 9U-6862 dengan Tap Wrench 4C-5027 pada permukaan di bagian
bawah (1)sleeve bore.
CATATAN:
Untuk membersihkan deposit karbon tidaklah sulit. Tidak perlu menggunakan peralatan listrik.
3. Jika seluruh permukaan bersudut pada sleeve telah dibersihkan, maka permukaan akan
halus dan bersinar. Seluruh sleeve bore harus dibersihkan agar setiap partikel karbon yang
terlepas dapat dihilangkan.
1. Bersihkan lubang (2) pada injector sleeve. Jika injector sleeve dipasang pada engine,
gunakan Tube Brush 4C-6161 atau Wire Brush 164-5927 untuk membersihkan deposit
karbon dari lubang. Jika injector sleeve telah dilepaskan dari engine, sebuah Reamer 9U-
6102 dapat digunakan selain sikat untuk membuat deposit karbon dari lubang.
CATATAN:
Tube Brush 164-5927 dapat diganti dengan Tube Brush 4C-6161. Tube Brush 164-5927
mempunyai pegangan yang lebih pendek agar dapat digunakan dalam ruang engine yang sempit.
CATATAN:
Vacuum Gun Kit 4C-6774 tersedia untuk membersihkan material lepas dari sleeve bore.
2. Setelah injector sleeve telah dibersihkan dengan Reamer 9U-6102 atau Tube Brush 4C-6161,
gunakan Injector Sleeve Bore Gauge 164-5924 untuk menentukan bahwa jumlah karbon yang
memadai telah dibersihkan.
Gambar 284
3. Gauge (A) harus dimasukkan ke dalam injector sleeve hingga cross pin menyentuh bagian
atas sleeve (4). Hal ini memastikan bahwa gauge akan memanjang sepenuhnya melalui
lubang. gauge tidak boleh menyentuh piston. Jika gauge dapat didudukkan dengan mudah,
maka cukup banyak karbon yang telah dibersihkan.
4. Jika gauge tidak dapat melewati sleeve bore dan duduk dengan benar, pembersihan
tambahan harus dilakukan.
5. Jika pembersihan tambahan telah dicoba dan gauge tidak dapat melewati injector sleeve,
sleeve harus diganti. Lihat Membongkar dan Merakit, "Unit Injector Sleeve - Melepaskan”
untuk prosedur melepaskan injector sleeve dengan benar.
6. Hendaknya keluarkan sebanyak mungkin bahan bakar dan oli dari silinder sebelum
memasang injector. Gunakan Vacuum Pump 1U-5718, Rakitan Bottle 1U-5814, dan Tube 4C-
4057 untuk mengeluarkan cairan. Mungkin beberapakali pengeluaran perlu dilakukan. Lebih
dari satu botol fluida bisa terdapat di dalam silinder. Engkol engine dengan injector yang tidak
diaktifkan setelah evakuasi silinder.
CATATAN:
Jika Anda memilih untuk membersihkan dudukan bersudut pada injector dengan sebuah sikat
kawat, sikat kawat jangan menyentuh ujungnya (8). Sebuah sikat kawat dapat merusakkan lubang
nozzle injeksi bahan bakar.
2. Pasang sebuah O-ring seal yang baru (5) dan sebuah O-ring seal yang baru (6). Lumasi
sedikit O-ring seal dan injector bore dengan oli engine yang bersih.
3. Pasang injector di lokasi asal di dalam injector sleeve.
4. Letakkan clamp (9) di posisi yang tepat. Letakkan jumper tube pada posisinya agar dapat
memastikan kesejajaran lubang baut. Sesuaikan orientasi injector hingga kesejajaran
memuaskan. Torsikan baut (10) ke torsi yang berikut. Lepaskan jumper tube.
5. Ganti O-ring seal yang telah dipakai (11), dan O-ring seal- O-ring seal (12) di dalam (13)
jumper tube dan di dalam kepala silinder.
Gambar 288 – (14) Jumper tube. (15) Baut horisontal. (16) Adapter
(17) Screw kepala socket. (18) Baut vertikal
CATATAN:
Jika adaptor sebelumnya telah dipasang pada injector, lepaskan screw kepala socket. Kegagalan
untuk melepaskan screw kepala socket sebelum melanjutkan dengan Langkah 8 dapat
mengakibatkan kegagalan injector.
7. Pasang screw kepala socket (17), baut horisontal (15) dan baut vertikal (18), dan kencangkan
dengan tangan.
CATATAN:
Permukaan yang bertemu harus dipasang dengan sempurna dalam kesejajaran sebelum memulai
prosedur torsi yang final.
8. socket (17), dua baut horisontal (15), serta dua baut vertikal (18) dengan menggunakan
tangan.
Gambar 290 – (15) Dua baut horisontal. (18) Dua baut vertikal.
(17) Dua screw kepala socket
9. Kencangkan screw kepala socket (17) hingga torsi awal sebesar 1 + .2 N·m (9 + 2 lb in).
10. Kencangkan baut horisontal (15) hingga hingga torsi awal sebesar 5 + 3 N·m (44 + 27 lb in).
11. Kencangkan baut vertikal (18) hingga torsi awal sebesar 5 + 3 N·m (44 + 27 lb in).
12. Kencangkan screw socket kepala (17) hingga torsi akhir sebesar 12 + 3 N·m (9 + 2 lb in).
13. Kencangkan baut horisontal (15) hingga suatu torsi akhir sebesar 47 + 9 N·m (35 + 7 lb in).
14. Kencangkan baut vertikal (18) hingga suatu torsi akhir sebesar 47 + 9 N·m (35 + 7 lb in).
15. Ulangi Langkah 1 hingga Langkah 15 untuk injector yang tersisa.
16. Periksa sistem bahan bakar untuk adanya kebocoran dengan meng-crank engine dengan
injeksi yang non-aktif. Kemudian periksa tekanan hidraulik. Bandingkan tekanan ini dengan
tekanan yang diinginkan.
Oli bertekanan tinggi dikeluarkan dari injector pada kepala silinder selama operasi engine. Hal ini
bukan merupakan suatu kebocoran.
Jika udara masuk ke sistem persediaan bahan bakar, injektor banyak di salah satu tepi dapt
mengalami kegagalan fungsi. Jika injector tidak dikencangkan dengan benar, gas pembakaran
dan udara dapat masuk ke injector melalui O-ring seal di bagian bawah. Jika O-ring seal
mengalami kegagalan, ganti O-ring seal. Lakukan urutan torsi sekali lagi.
CATATAN:
Udara di dalam sistem dapt dideteksi dengan perlahan-lahan menyentuh saluran-balik yang
fleksibel. Periksa adanya getaran yang ekstrim dan lonjakan tekanan melalui setiap saluran.
Sebagai sebuah alternatif, pasang sebuah kaca pemantau di setiap saluran-balik. Jalankan
engine. Periksa apakah terdapat gelembung udara di dalam kaca pemantau.
Kebocoran gas pembakaran dapat terjadi dari dasar injector. Kebocoran gas pembakaran
umumnya akan berdampak pada injector yang sebelumnya telah mengalami kebocoran.
Kebocoran ini kemudian akan berdampak pada injector yang berada di aliran-bawah dari
kebocoran tersebut.
CATATAN:
Jika Anda tidak mematuhi proseudr dalam instruksi ini, kerusakan atau kegagalan fungsi pada
injector dapat terjadi, dan kemungkinan kerusakan engine utama.
Gambar 291 – (19) Konektor putih. (20) Tanda “F”. (21) Sleeve.
(22) Tanda “R”. (23) Konektor hitam
1. Letakkan sebuah Grommet 161-3568 di atas setiap injector sebelum memasang wiring
harness.
CATATAN:
Langkah berikut ini harus dibaca dan difahami sebelum Anda memulai pekerjaan pada engine.
Kegagalan untuk mengikuti instruksi dapat mengakibatkan kerusakan yang serius pada engine.
Gambar 292
a. Identifikasi konektor identifikasi untuk silinder belakang
b. Identifikasi konektor untuk silinder depan
c. Flywheel housing
d. Silinder
e. Bagian belakang engine.
CATATAN:
Bagian belakang dari engine berseberangan dengan ujung flywheel housing. Sisi kiri dan kanan
engine dilihat dari flywheel housing. Bagian depan mesin tidak berada di depan engine. Bagian
depan mesin tidak boleh digunakan sebagai acuan untuk menentukan arah engine.
Gambar 293
2. Setiap rakitan harness mempunyai konektor putih yang diberi tanda “F” (depan-front) dan
sebuah konektor putih yang diberi tanda “R” (belakang – rear). Satu rangkaian rangka
digunakan untuk dua silinder di bawah setiap penutup valve. Konektor putih harus dipasang
pada injector yang menghadap kebagian depan dari engine. Konektor hitam harus dipasang
pada injector yang menghadap bagian belakang engine. Kabel untuk konektor putih
terbungkus di dalam sebuah lengan. Nomor silinder 1, 2, 5, 6, 9, dan 10 dicetak pada lengan.
Kabel untuk konektor hitam tidak terbungkus di dalam sebuah sleeve.
3. Konektor putih (19) diberi tanda “F” (depan – front). Rangkaikan konektor putih (19) pada
injektor di bagian depan silinder untuk rangka kabel. Nomor silinder bagian belakang adalah
nomor 1, nomor 5, dan nomor 9 pada sisi kiri dari engine. Nomor silinder bagian depan
adalah nomor 2, nomor 6 dan nomor 10 di sisi kanan dari engine.
4. Torsi mur (24) hingga torsi berikut ini.
5. Konektor hitam (23) ditandai dengan “R” (belakang – rear). Rangkaikan konektor hitam (23)
pada injector di bagian belakang silinder untuk wire harness. Nomor silinder bagian belakang
adalah nomor 3, nomor 7, dan nomor 11 pada sisi kiri dari engine. Nomor silinder bagian
belakang adalah nomor 4, nomor 8, dan nomor 12 di sisi kanan dari engine.
6. Torsi mur (24) hingga torsi berikut ini.
CATATAN:
Silinder 9, 10, 11, dan 12 tidak sesuai untuk sebuah engine 3408E.
CATATAN:
Sebuah lapisan (film) disediakan bersama dengan wiring harness. Film ini menggambarkan
kombinasi yang benar dari harness connector dan injector. Pasang film di atas bagian kiri
belakang atau di atas kanan belakang valve cover. Film harus dapat dibaca dari sisi engine.
Harus terdapat satu film pada tiap sisi engine. Jika sebuah film sudah terpasang di valve
cover, abaikan film yang disuplai dengan harness.
Akhiri Dengan: Pasang penutup valve. Lihat pada Pembongkaran dan Pemasangan,
“Penutup Mekanisme Valve – Pemasangan.”