Suatu hari Kancil bertemu dengan Siput di pinggir kali.
Melihat Siput merangkak dengan
lambatnya, sang Kancil dengan sombong dan angkuhnya berkata,“Hai Siput, beranikah
kamu beradu lomba denganku?” Ajakan itu terasa mengejek [Link] berpikir sebentar,
lalu menjawab, “Baiklah, aku terima ajakanmu dan jangan malu kalau nanti kamu sendiri
yang kalah.”“Tidak bisa. Masa jago lari sedunia mau dikalahkan olehmu Siput, binatang
perangkak kelas wahid di dunia,” ejek Kancil.“Baiklah, ayo cepat kita tentukan harinya!”
kata Kancil.“Bagaimana kalau hari Minggu besok, agar banyak yang menonton,” kata
Siput.“Oke aku setuju,” jawab Kancil. Sambil menunggu hari yang telah ditentukan itu,
Siput mengatur [Link] dia kumpulkan bangsa Siput [Link]
pertemuan itu, Siput membakar semangat kawan-kawannya, mereka sangat girang dan
ingin mempermalukan Kancil di hadapan [Link] musyawarah itu, disepakatilah
dengan suara bulat bahwa dalam lomba nanti di setiap Siput ditugasi berdiri di antara
rerumputan di pinggir [Link] tempat mereka masing [Link] Kancil memanggil,
maka Siput yang di depannya itu yang menjawab. Begitu [Link] saat yang
ditunggu-tunggu [Link] pun sangat penuh menyaksikan perlombaan [Link]
penonton berdatangan dari semua penjuru [Link] mulai bersiap
digaris [Link] lomba mengangkat bendera, tanda lomba akan segera
[Link] berlari sangat cepatnya. Semua tenaga [Link] tangan
penonton pun menggema memberi semangat pada [Link] lari sekian kilometer,
berhentilah [Link] napas terengah-engah dia memanggil. “Siput!” seru
[Link] yang berada di depannya menjawab, “Ya, aku di sini.”Karena tahu Siput telah
ada di depannya, Kancil pun kembali lari sangat cepat sampai tidak ada lagi tenaga yang
[Link] dia pun kembali memanggil. “Siput!” teriak Kancil [Link] yang di
depannya menjawab, “Ya, aku di sini.”Berkali-kali selalu begitu. Sampai akhirnya Kancil
lunglai dan tak dapat berlari [Link] sang Kancil dan mengakui
[Link] [Link] menyambut kemenangan itu dengan
senyuman [Link] ada loncatan kegirangan seperti pada umumnya pemenang lomba.
Anak Katak Hijau Yang Nakal
Dahulu kala di sebuah kolam yan luas tinggalah seekor anak katak hijau dan ibunya. Anak
katak tersebut sangat nakal dan tidak pernah mengindahkan kata-kata ibunya. Jika ibunya
menyuruhnya ke gunung, dia akan pergi ke laut. Jika ibunya menyuruhnya pergi ke timur,
dia akan pergi ke barat. Pokoknya apapun yang diperintahkan ibunya, dia akan melakukan
yang sebaliknya.“Apa yang harus kulalukan pada anak ini” pikir ibu katak. “Kenapa dia
tidak seperti anak-anak katak lain yang selalu menuruti kata orang tua mereka.”Suatu hari
si ibu berkata, “Nak, jangan pergi keluar rumah karena di luar sedang hujan deras. Nanti
kau hanyut terbawa arus.”Belum selelsai ibunya berbicara, anak katak tersebut sudah
melompat keluar sambil tertawa gembira,”hore…banjir aku akan bermain
sepuasnya!”Setiap hari ibu katak menasehati anaknya namun kelakuan anak katak itu
bahkan semakin nakal saja. Hal itu membuat ibu katak murung dan sedih sehingga dia
pun jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin [Link] hari ketika dia merasa
tubuhnya semakin lemah, ibu katak memanggil anaknya,”Anakku, kurasa hidupku tidak
akan lama lagi. Jika aku mati, jangan kuburkan aku di atas gunung, kuburkanlah aku di
tepi sungai.”Ibu katak sebenarnya ingin dikubur di atas gunung, namun karena anaknya
selalu melakukan yang sebaliknya, maka dia pun berpesan yang [Link] ibu
katak pun meninggal. Anak katak itu menangis dan menangis menyesali kelakuannya,
“Ibuku yang malang. Kenapa aku tidak pernah mau mendengarkan kata-katanya.
Sekarang dia telah tiada, aku sudah membunuhnya.”Anak katak tersebut lalu teringat
pesan terakhir ibunya. “Aku selalu melakukan apapun yang dilarang ibuku. Sekarang
untuk menebus kesalahanku, aku akan melakukan apa yang dipesan oleh ibu dengan
sebaik-baiknya.”Maka anak katak itu menguburkan ibunya di tepi [Link] minggu
kemudian hujan turun dengan lebatnya, sehingga air sungai dimana anak katak itu
menguburkan ibunya meluap. Si anak katak begitu khawatir kuburan ibunya akan tersapu
oleh air sungai. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sungai dan [Link]
tengah hujan yang lebat dia menangis dan menangis. “Kwong-kwong-kwong. Wahai
sungai jangan bawa ibuku pergi!”Dan anak katak hijau itu akan selalu pergi ke sungai dan
menagis setiap hujan datang. Sejak itulah kenapa sampai saat ini kita selalu mendengar
katak hijau menangis setiap hujan turun.
Kuda Berkulit Harimau
Seekor Kuda sedang berjalan dari sebuah ladang gandum menuju sebuah hutan yang
lebat. Kuda itu telah puas memakan gandum yang ada di ladang itu. Dia tampak gembira
karena tidak ada petani gandum yang menjaga [Link] dia menuju hutan lebat,
di tengah jalan Kuda itu melihat sesuatu, “Itu seperti kulit Harimau,” gumam Kuda itu.
Kuda itu lalu mendekatinya dan ternyata memang benar apa yang dilihatnya adalah kulit
Harimau yang tak sengaja ditinggalkan oleh para pemburu [Link] itu mencoba
memakai kulit Harimau itu, “Wah, kebetulan sekali, kulit Harimau ini sangat pas di
tubuhku. Apa yang akan kulakukan dengannya, ya?”Terlintaslah di benak Kuda itu untuk
menakuti binatang-binatang hutan yang melewati dirinya. “Aku harus segera bersembunyi.
Tempat itu harus gelap dan sering dilalui oleh binatang hutan. Di mana ya?” tanya Kuda
dalam hati sambil mencari tempat yang [Link], dia menemukan semak-semak
yang cukup gelap untuk bersembunyi, lalu masuk ke dalamnya dengan menggunakan kulit
Harimau. Tak lama kemudian, beberapa Domba gunung berjalan ke arahnya. Kuda itu
menggumam bahwa Domba-domba itu cocok dijadikan sasaran empuk
[Link] Domba-domba itu melewatinya, Kuda itu meloncat ke arah mereka
sehingga sontak Domba-domba itu kalang-kabut melarikan diri. Mereka takut dengan kulit
Harimau yang dikenakan Kuda itu. “Tolong, ada Harimau! Lari, cepat lari!” teriak salah
satu Domba. Kuda itu tertawa terbahak-bahak melihat Domba-domba itu pontang-panting
[Link] itu, Kuda segera kembali bersembunyi di dalam semak-semak. Dia
menunggu hewan lain datang melewati semak-semak itu. “Ah, ada Tapir menuju kemari,
tapi lambat betul geraknya. Biarlah, aku jadi bisa lebih lama bersiap-siap melompat!” kata
Kuda itu dalam [Link] saat Kuda itu meloncat ke arah Tapir itu, ia terkejut dan lari
tunggang-langgang menjauhi Kuda yang memakai kulit Harimau itu. Kuda itu kembali ke
semak-semak sambil bersorak penuh kemenangan di dalam [Link] ini, Kuda itu
menunggu lebih lama dari biasanya, tetapi hal itu tidak membuatnya bosan. Tiba-tiba,
seekor Kucing Hutan berlari sambil membawa seekor Tikus di mulutnya. Kucing itu tidak
melewati semak-semak, Kucing Hutan itu duduk menyantap Tikus yang ia tangkap di
dekat pohon besar.“Ah, ternyata Kucing itu tidak melewati semak-semak ini. Biarlah aku
membuatnya kaget di sana,” kata Kuda itu dalam hati. Kuda itu pun keluar dari semak-
semak dan berjalan hati-hati mendekati Kucing [Link] jaraknya sudah sangat dekat
dengan Kucing Hutan, Kuda itu mengaum seperti halnya seekor Harimau, tetapi dia tidak
sadar bahwa bukannya mengaum, dia malah meringkik. Mendengar suara itu, Kucing
Hutan menoleh ke belakang dan melihat seekor Kuda berkulit [Link], Kucing
Hutan itu siap-siap mengambil langkah seribu, tetapi ia malah tertawa terbahak-bahak
sembari berkata, “Saat aku melihatmu memakai kulit Harimau itu, aku pasti akan lari
ketakutan, tapi rupanya suaramu itu ringkikan Kuda, jadi aku tidak takut, hahaha!”Kucing
Hutan itu juga berkata kepada Kuda bahwa sampai kapan pun, suara ringkiknya tidak
akan bisa berubah jadi auman.“Kuda Berkulit Harimau” itu melambangkan bahwa
sepandai-pandainya orang berpura-pura, suatu saat akan terbongkar juga kepura-
puraannya itu. Kejujuran merupakan sikap yang paling indah di dunia ini.