LAPORAN DISKUSI KIMIA
ASAM DAN BASA
Guru Pembimbing: Darti, [Link].
Disusun Oleh:
Kelompok 4
1. Anggun Putri Cantika
2. Hania Jihan Safira
3. Indri Aulia
4. Rima Julia Astuti
5. Salwa Asyifa Zahwa
6. T. Raja Hilalul Kiram
KELAS XI IPA 5
SMA NEGERI 2 REJANG LEBONG
DINAS PENDIDIKAN
TAHUN AJARAN 2024/2025
BAB I
ASAM DAN BASA
A. Perkembangan Konsep Asam dan Basa
Perhatikan perbedaan antara asam, basa, dan netral dalam table berikut:
Larutan Asam Larutan Basa Netral
Rasanya masam. Rasanya pahit. Rasanya bervariasi.
Lakmus biru → merah. Lakmus merah → biru Tidak mengubah warna
lakmus
Bersifat korosif (dapat Bersifat kaustik (dapat Tidak bersifat korosif.
merusak/menghancurkan zat merusak kulit/menyebabkan
lain). iritasi).
+
Terdiri dari ion H dan ion Terdiri dari ion OH − dan ion Terdiri dari ion H + dan ion
−
OH sisa asam. positif logam. OH − .
[H + ] > [OH − ]. [H + ] > [OH − ]. [H + ] = [OH − ].
1. Teori Asam Basa Menurut Arrhenius
Svante Arrhenius adalah seorang ilmuwan asal Swedia yang telah berhasil
mengemukakan teori asam dan basa pada tahun 1884. Teori asam basa yang
dikemukakan oleh Arrhenius ini sangat memuaskan sehingga masih dapat diterima
hingga saat ini.
Menurut Arrhenius, asam adalah suatu senyawa yang apabila dilarutkan dalam air
akan melepaskan ion hidrogen (H + ), sedangkan basa adalah senyawa yang apabila
dilarutkan dalam air akan melepaskan ion hidroksida (OH − ). Dalam teori ini, ion
hidrogen (𝑯+ ) adalah pembawa sifat asam dan ion hidroksida (𝑶𝑯− ) sebagai
pembawa sifat basa.
Contoh asam menurut Arrhenius adalah senyawa HCl yang apabila dilarutkan
dalam air akan terionisasi menjadi:
HCl(g) + 𝐇𝟐 O (l) → 𝐂𝐥− (aq) + 𝐇𝟑 𝐎+ (aq)
Dalam reaksi di atas, HCl melepaskan H + ke air sehingga menghasilkan ion hidronium
(H3 O+ ).
Adapun contoh basa menurut teori asam basa Arrhenius adalah senyawa NaOH
yang apabila dilarutkan dengan air akan terionisasi menjadi:
NaOH(aq) → 𝐍𝐀+ ( (aq) + 𝐎𝐇 − (aq)
2. Teori Asam Basa Bronsted-Lowry
Pada tahun 1923, Johannes N. Bronsted dan Thomas M. Lowry mengajukan
konsep asam basa berdasarkan pemindahan proton (H + ).
Menurut Bronsted-Lowry:
Asam: spesi yang dapat memberikan proton atau donor proton (𝑯+ ).
Basa: spesi yang dapat menerima proton atau akseptor proton (𝑯+ ).
Teori asam basa Bronsted-Lowry didasarkan pada serah terima proton. Setelah
asam memberikan atau mendonorkan proton berarti H + berkurang satu (-1 H + ). Maka,
asam akan membentuk basa yang disebut dengan basa konjugasi. Setelah basa
menerima proton berarti H + bertambah satu (+1 H + ). Maka, basa akan membentuk
asam yang disebut dengan asam konjugasi. Asam dan basa konjugasi, atau basa dan
asam konjugasi disebut dengan pasangan asam basa Bronsted-Lowry atau pasangan
asam basa konjugasi.
Teori ini lebih luas daripada teori asam basa Arrhenius, karena tidak terbatas pada
larutan air dan memungkinkan pemahaman lebih mendalam tentang reaksi asam basa.
Ciri-ciri asam basa Bronsted-Lowry atau pasangan asam basa konjugasi, yaitu:
a. hanya beda 1 H + .
b. ΣH asam > Σ basa.
Contoh soal asam basa Bronsted-Lowry:
1. Tentukan pasangan asam basa konjugasi.
HCl + H2 O ⇌ Cl− + H3 O+
asam basa basa konjugasi asam konjugasi
Pasangan asam basa konjugasi:
HCl dan Cl−
H2 O dan H3 O+
2. Tentukan pasangan asam basa konjugasi.
NH3 + H2 O ⇌ NH4 + + OH −
basa asam asam konjugasi basa konjugasi
Pasangan asam basa konjugasi:
NH3 dan NH4 +
H2 O dan OH −
3. Tentukan pasangan asam basa konjugasi.
NH3 + HCO3 - ⇌ NH2 - + H2 CO3
asam basa basa konjugasi asam konjugasi
Pasangan asam basa konjugasi:
NH3 dan NH2 -
HCO3 dan H2 CO3
Dari contoh soal nomor 2 dan 3, ternyata NH3 dapat berperan sebagai asam
maupun basa. Spesi yang dapat berperan sebagai asam maupun basa disebut dengan
amfiprotik atau spesi yang dapat melepas dan menerima proton. Beberapa contoh
amfiprotik: 𝐍𝐇𝟑 , 𝐇𝟐 O, 𝐇𝐒𝐎𝟒 -, 𝐇𝐂𝐎𝟑 –
3. Teori Asam Basa Lewis
Berdasarkan serah terima pasangan elektron, Lewis mendefinisikan asam dan
basa sebagai berikut:
Asam: spesi yang bertindak sebagai penerima pasangan elektron (akseptor elektron).
Basa: spesi yang bertindak sebagai pemberi pasangan elektron (donor elektron).
Pada basa spesi memiliki syarat, yaitu atom pusat ada PEB (Pasangan Elektron Bebas).
Keunggulan teori Lewis ini adalah dapat mengenali zat-zat sebagai asam yang
tidak mengandung hidrogen, tetapi mempunyai sifat asam seperti asam berhidrogen
biasa. Konsep asam basa Lewis dapat menjelaskan reaksi-reaksi yang bernuansa asam
basa, meskipun tidak melibatkan proton (ion H + ). Jadi, semua asam basa Arrhenius dan
asam basa Bronsted-Lowry memenuhi definisi asam basa Lewis.
Contoh soal asam basa Lewis:
1. Tentukan asam basa Lewis.
NH3 + BF3 → NH3 BF3
basa asam
2. Tentukan asam basa Lewis.
NH3 + H+ → NH4 +
basa asam
3. Tentukan asam basa Lewis.
H+ + OH − → H2 O
asam basa
Perbedaan teori asam basa Arrhenius, Bronsted-Lowry, dan Lewis sebagai berikut:
No. Perbedaan Arrhenius Bronsted-Lowry Lewis
Menghasilkan H + Donor proton. Akseptor pasangan
1. Definisi asam dalam air. elektron.
Definisi basa Menghasilkan Akseptor proton. Donor pasangan
2. −
OH dalam air. elektron.
Pembentukan air. Perpindahan proton. Pembentukan ikatan
3. Penetralan kovalen koordinasi.
+ − +
Reaksi H + OH ⇌ H2 O HA + B ⇌ BH A + B ⇌ AB
4. + A−
Larutan dalam air. Reaksi perpindahan Lebih umum.
5. Batasan proton.
B. Indikator Asam Basa
1. Indikator Tunggal
Indikator tunggal hanya dapat membedakan larutan bersifat asam atau basa, tetapi
tiak dapat menentukan harga pH dan pOH. Yang termasuk dalam indikator tunggal
adalah:
➢ Lakmus merah dan biru
Lakmus merah => berwarna merah dalam larutan asam, dan akan berubah warna
menjadi biru bila dicelupkan ke dalam larutan basa.
Lakmus biru => berwarna biru dalam larutan basa, dan akan berubah warna menjadi
merah bila dicelupkan ke dalam larutan asam.
Lakmus biru dicelupkan ke dalam larutan asam (kiri), lakmus merah dicelupkan ke
dalam larutan basa (kanan)
Beberapa contoh zat yang dinilai dengan indikator lakmus merah dan biru:
Beberapa contoh zat yang dinilai dengan indikator lakmus merah dan biru:
Trayek pH indikator merupakan trayek rentang perubahan warna suatu zat
indikator pH yang biasa digunakan dalam titrasi. Zat yang dapat digunakan sebagai
indikator pH berupa:
➢ Metil Jingga
Metil Jingga memiliki trayek perubahan warna antara pH 3,1– 4,4. Jika pH < 3,1
larutan berwarna merah, jika pH > 4,4 larutan berwarna kuning.
➢ Metil merah
Metil Merah memiliki trayek perubahan warna antara pH 4,2 – 6,2. Jika pH < 4,2
larutan berwarna merah, jika pH > 6,2 larutan berwarna kuning.
➢ Bromtimol biru
Bromtimol biru memiliki trayek perubahan warna antara pH 6 – 7,6. Jika pH < 6
larutan berwarna kuning, jika pH > 7,6 larutan berwarna biru.
➢ Fenolftalein
Fenolftalein memiliki trayek perubahan warna antara pH 8 – 9,8. Jika pH < 8
larutan tidak berwarna, jika pH > 9,8 larutan berwarna merah.
➢ Kertas Lakmus
Kertas lakmus akan berubah warna merah pada larutan dengan pH < 7 dan
berubah warna biru pada larutan dengan pH > 7.
Untuk lebih memahami perubahan warna trayek pH indikator-indikator
tersebut, perhatikan gambar berikut:
2. Indikator universal
Indikator universal adalah indikator pH berisi larutan dari beberapa senyawa yang
menunjukkan beberapa perubahan warna yang halus pada rentang pH antara 1-14 untuk
menunjukkan keasaman atau kebasaan larutan.
Suatu indikator universal biasanya terdiri dari air, 1-propanol, garam natrium
fenolftalein, natrium hidroksida, metil merah, garam mononatrium bromotimol biru, dan
garam mononatrium timol biru. Warna-warna yang menandakan pH larutan, setelah
ditambahkan indikator universal adalah:
Rentang pH Keterangan Warna
<3 Asam kuat Merah
3-6 Asam lemah Jingga/Kuning
7 Netral Hijau
8-11 Basa lemah Biru
> 11 Basa kuat Ungu/violet
3. pH-meter
pH meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur tingkat keasaman dan
kebasaan suatu larutan. Apakah larutan tersebut tergolong asam, basa, atau netral. Alat ini
sering dijadikan indikator untuk mengukur tingkat keasaman atau kebasaan suatu benda,
baik padat maupun cair.
Prinsip kerja pH meter adalah terletak pada sensor probe atau elektroda kaca
(glass elektroda). Alat ini akan mengukur jumlah ion H3 O+ di dalam larutan dan
menentukan larutan tersebut ke gologan apa. Ujung elektroda kaca di lapisi kaca setebal
0,1 mm yang berbentuk bulat (bulb).
Bulb ini dipasangkan silinder yang selanjutnya diisi dengan larutan HCl (0,1
mol/dm3 ). Di dalam larutan HCl, terendam sebuah kawat elektroda berbahan perak yang
pada permukaannya terbentuk senyawa Ag/AgCl. Jumlah larutan HCl membuat elektroda
Ag/AgCl bernilai stabil.