Keanekaragaman Serangga di Kebun Sawit
Keanekaragaman Serangga di Kebun Sawit
Perkembangan perkebunan kelapa sawit di jenis dan jumlah serangga, serta diharapkan dapat
Indonesia terus meningkat terutama setelah introduksi memberikan rekomendasi alternatif pengendalian
serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus dari dengan musuh alami hama.
Afrika ke Indonesia tahun 1982 (de Chenon, 2016),
meskipun 2 tahun terakhir perkembangan luas areal
perkebunan kelapa sawit relatif konstan di angka 14 juta BAHAN DAN METODE
ha (Ditjenbun, 2019). Perkebunan kelapa sawit telah Kegiatan penelitian dilaksanakan di perkebunan
menyebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, kelapa sawit yang berada di Indragiri Hulu, Riau pada 25
Sulawesi dan Papua yang pada awalnya terjadi pada Februari 2015 hingga 25 Februari 2016. Tanaman
lahan mineral, namun kini lebih banyak pada lahan kelapa sawit yang dijadikan pohon pengujian telah
marginal seperti pasiran, pasang surut dan gambut berumur 7 tahun tetapi termasuk kategori tanaman
(Amalia et al., 2012). menghasilkan tahun ke-2 (TM 2) karena keterlambatan
Proses budidaya kelapa sawit tidak terlepas dari masa TBM yang salah satunya disebabkan kurangnya
konversi lahan dari hutan sekunder atau tersier dan perawatan kebun. Areal tanam merupakan lahan
gambut yang mengakibatkan perubahan biodiversitas gambut tipe Hemix dengan kedalaman lebih dari 1 m.
dan kekayaan jenis (species richness) suatu ekosistem Satu blok berbentuk persegi panjang dengan luas 23,45
(Fitzherbert et al., 2008; Fayle et al., 2010; Lucey & Hill, ha dengan bahan tanaman yang sama, kondisi tanaman
2012; Lucey et al., 2014). Selain itu, penggunaan kelapa sawit dan vegetasi gulma yang relatif sama dipilih
pestisida dalam pengendalian hama, penyakit dan sebagai blok pengujian. Blok pengujian tersebut juga
gulma dalam budidaya kelapa sawit juga cenderung dikelilingi oleh blok-blok lain yang memiliki kondisi yang
memberikan pengaruh negatif terhadap keseimbangan serupa dan hanya dipisahkan oleh kanal maupun jalan
ekosistem, seperti terjadinya perubahan status hama, produksi.
munculnya hama baru, matinya musuh alami dan
polinator yang juga mempengaruhi ekosistem awal
(Fitzherbert et al., 2008; Gullan & Cranston, 2014; Irawan Perlakuan Penyemprotan Insektisida
et al., 2017).
Inventarisasi mengenai biodiversitas serangga pada Empat perlakuan yang dilakukan terdiri dari tiga
berbagai ekosistem perkebunan kelapa sawit mulai perlakuan penyemprotan menggunakan insektisida dan
banyak dilakukan untuk mendapatkan informasi satu perlakuan kontrol tanpa penyemprotan sebagai
mengenai nilai keanekaragaman dan kekayaan jenis. pembanding. Dua perlakuan merupakan penyemprotan
Dari informasi tersebut, struktur komunitas serangga insektisida tunggal yaitu aplikasi insektisida sistemik
dapat ditentukan jenis yang berperan sebagai fitofag, bahan aktif Fipronil 50 SC dan insektisida biologis bahan
karnivor (predator), polinator, maupun sebagai aktif Bacillus thuringiensis SC, sedangkan satu
dekomposer (Susanti et al., 2016 a&b) Jenis-jenis perlakuan lain dalam percobaan ini yaitu aplikasi
serangga fitofag menjadi perhatian khusus karena kombinasi melalui rotasi penyemprotan yang
berperan sebagai hama mayor maupun minor pada dilakukan dengan ketentuan satu kali aplikasi
perkebunan kelapa sawit. Adanya aplikasi insektisida insektisida Klorantraniliprol 50 SC diikuti dengan tiga
jangka panjang di perkebunan kelapa sawit tidak akan kali aplikasi insektisida biologis B. thuringiensis (Tabel
menyelesaikan masalah hama karena berpotensi 1). Blok pengujian dibagi menjadi 4 bagian sehingga
adanya pergesaran serangan hama mayor ke hama masing-masing perlakuan memiliki luasan 5-6 ha.
minor serta terus berkurangnya populasi musuh alami. Kegiatan penyemprotan dilakukan setiap dua
Inventarisasi jenis serangga pada lahan kelapa sawit minggu sekali selama sembilan bulan (Februari –
yang diaplikasikan insektisida sintetik kini menjadi salah September 2015) menggunakan alat mist blower
satu topik utama dalam perkembangan industri kelapa dengan volume semprot 400-500 L/ha. Kegiatan ini
sawit yang berkelanjutan. Oleh karena itu penelitian merupakan bagian dari pengendalian hama Tirathaba
tentang biodiversitas serangga pada lahan kelapa sawit rufivena dan pengaruhnya terhadap serangga
dengan aplikasi insektisida perlu dilakukan untuk penyerbuk Elaeidobius kamerunicus maupun
memperoleh informasi nilai keanekaragaman, kekayaan produktivitas kelapa sawit (Prasetyo et al., 2019).
178
Keanekaragaman serangga pada ekosistem kelapa sawit terpapar insektisida dalam jangka panjang
Pengambilan Sampel Serangga disortasi dan dimasukan ke dalam botol film yang
Pengambilan sampel dilakukan dengan berisi alkohol 70% kemudian diberi label.
memasang berbagai perangkap pada lahan pengujian Pengambilan sampel serangga menggunakan
dan menangkap serangga secara langsung. jaring dilakukan sebanyak 200 kali ayunan di bagian
Pengambilan sampel serangga dilakukan setiap bulan, tengah areal percobaandi setiap pengamatan. Satu
minimal3 hari setelah aplikasi (hsa) denganperangkap kali ayunan adalah mengayunkan jaring satu kali ke kiri
yang digunakan yaitu nampan kuning dan Malaise dan ke kanan. Lokasi penjaringan dilakukan di jalan
trap, sedangkan penangkapan serangga secara pikul, gawangan mati, piringan dan gulma epifit yang
langsung dilakukan menggunakan jaring serangga. menempel pada batang kelapa sawit. Serangga yang
Kegiatan pengambilan sampel dilakukan di tengah- terperangkap dalam jaring kemudian diambil dengan
tengah blok perlakuan pada titik yang sama. bantuan aspirator dan pinset serangga dan
Perangkap nampan kuning dipasang pada setiap dimasukkan ke dalam botol film yang berisi alkohol
tanaman sampel. Sebanyak 10 tanaman sampel 70% dan diberi label.
dipilih, 1 buah nampan kuning (ukuran lebar 5 cm,
panjang 10 cm, dan tinggi 5 cm) dipasang pada setiap Identifikasi Serangga dan Analisis
tanaman sampel dengan jarak 10 cm dari batang. Keanekaragaman
Nampan kuning diisi dengan air sabun untuk
mematikan serangga yang tertangkap dan dibiarkan di Seluruh botol film yang berisi serangga yang
lapangan selama 24 jam. Pemasangan perangkap diperoleh dari lapangan pada setiap pengamatan di
nampan kuning dilakukan sebanyak 3 kali (3 hari) di bawa ke laboratorium Proteksi Tanaman, PPKS
setiap pengamatan. Serangga yang terperangkap Marihat. Setiap serangga diidentifikasi hingga tingkat
dimasukkan ke dalam kantung plastik. Serangga yang famili dengan acuan beberapa kunci identifikasi yakni
dikoleksi kemudian disaring, dicuci dengan air oleh Borror et al. (1996) dan Lawrence et al. (1996).
mengalirdan dimasukkan ke dalam tabung film yang Analisis data dilakukan dengan penghitungan indeks
berisi alkohol 70% kemudian diberi label. keanekaragaman Shannon dan sebarannya
Perangkap Malaise dipasang di tengah blok dan (Evenness) (Magurran, 2004). Indeks
dibiarkan selama 24 jam. Pemasangan Malaise trap keanekaragaman Shannon dihitung dengan formula:
juga dilakukan sebanyak 3 kali (3 hari) di setiap H' = -Σpi. ln pi
pengamatan. Serangga yang diperoleh kemudian H' = Indeks keanekaragaman jenis
179
Tjut Ahmad Perdana Rozziansha, Agus Eko Prasetyo, Mahardika Gama Pradana, dan Agus Susanto
Pi = Proporsi spesies ke-i terhadap total jumlah jumlah famili yang berada di antara kontrol dan
contoh (n/N) perlakuan insektisida kimia. Aplikasi dengan
Sebaran keanekaragaman Shannon dihitung dengan insektisida biologis ini juga berpotensi menurunkan
rumus sebagai berikut: jumlah kelimpahan individu serangga namun tidak
signifikan seperti halnya dengan insektisida kimia.
E = H' / ln S Racun yang dihasilkan oleh B. thuringiensis memiliki
E = Sebaran keanekaragaman jenis spektrum yang tidak luas, terbatas hanya pada
beberapa ordo tertentu, misalnya Lepidoptera,
S = Jumlah spesies yang diperoleh Diptera, Hemiptera, dan Coleoptera yang dominan
berperan sebagai fitofag (van Frankenhuyzen, 2013).
Data koleksi serangga diinput dalam sebuah tabel Proporsi total individu dan jumlah famili pada
menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel, perlakuan kombinasi insektisida bahan aktif
sedangkan analisis data dilakukan dengan Klorantraniliprol dan B. thuringiensis tidak terlalu
menggunakan perangkat lunak RStudio versi 1.1.383. berbeda dengan hasil perlakuan tunggal insektisida
Diagram venn disajikan untuk menggambarkan biologis B. thuringiensis. Insektisida sintetik bahan aktif
kesamaan famili serangga antar perlakuan. Diagram Klorantraniliprol menyebabkan penurunan jumlah
venn terdiri dari lingkaran tumpang tindih yang kelimpahan serangga namun tidak terlalu signifikan.
menggambarkan jumlah famili serangga yang memiliki Insektisida bahan aktif Klorantraniliprol diketahui
kesamaan di antara grup perlakuan, sedangkan mempunyai spektrum target khususnya pada
perbedaan digambarkan dalam porsi lingkaran yang Lepidoptera seperti Spodoptera exigua (Zhang et al.,
tidak tumpang tindih. Diagram venn disusun dengan 2014; Febrianasari, 2014) serta beberapa serangga
mengolah data famili serangga pada halaman daring dari ordo Coleoptera, Diptera, dan Hemiptera (Zhang
interaktif (Oliveros, 2015). et al., 2013).
Keanekaragaman serangga yang berhasil
dikoleksi dapat dikelompokkan sesuai peran di alam
HASIL DAN PEMBAHASAN yaitu dekomposer, fitofag (hama dan polinator),
parasitoid, dan predator. Dalam setiap perlakuan,
Keanekaragaman Serangga pada Lahan Pengujian dilakukan pembagian proporsi dalam bentuk persen
Serangga yang tertangkap selama pengamatan peran. Di seluruh perlakuan, presentasi terbesar
sejumlah 7.943 individu, terdiri dari 11 ordo dan 80 serangga-serangga yang berhasil dikoleksi berperan
famili (Tabel 2). Proporsi total individu dan jumlah sebagai dekomposer yaitu 40-57% diikuti fitofag (24-
famili yang paling tinggi yaitu pada perlakuan kontrol 38%), predator (13-14%), dan parasitoid (5-10%)
sedangkan perlakuan lahan yang disemprot dengan (Gambar 1). Tingginya dekomposer yang didominasi
insektisida kimia bahan aktif Fipronil memiliki proporsi ordo Diptera disebabkan lahan pengujian yang
total individu dan jumlah famili paling rendah di antara merupakan areal gambut dengan kedalaman gambut
perlakuan lainnya. Hal ini membuktikan aplikasi lebih dari 1 m. Peranan fitofag menunjukkan beberapa
insektisida kimiawi menyebabkan penurunan jenis dan serangga bersifat sebagai hama kelapa sawit misalnya
populasi serangga di perkebunan kelapa sawit secara dari famili Limacodidae dan Psychidae. Namun di lain
signifikan. Cahyasiwi dan Wood (2009); juga Irawan pihak, komposisi musuh alami parasitoid dan predator
et al. 2017 melaporkan bahwa penggunaan insektisida cukup tinggi jenisnya.
kimia dalam pengendalian hama di perkebunan kelapa
sawit mengakibatkan dampak yang sangat merugikan
seperti matinya parasitoid dan predator, terutama Distribusi Famili dan Jumlah Individu pada Setiap
pada penggunaan insektisida kimia dengan spektrum Perlakuan
yang luas. Hilangnya musuh alami berupa parasitoid Distribusi famili pada masing-masing lahan
dan predator dapat memicu terjadinya resurjensi hama percobaan termasuk dalam kategori tinggi (>0,6) yang
pada perkebunan kelapa sawit. menandakan tidak ada famili yang mendominasi pada
Hasil aplikasi insektisida biologis dengan bahan tiap perlakuan (Tabel 2). Rozziansha dan Maryana
aktif B. thuringiensis memiliki proporsi individu dan (2010) menyatakan semakin rendah nilai indeks sebaran
180
Keanekaragaman serangga pada ekosistem kelapa sawit terpapar insektisida dalam jangka panjang
(E) dalam suatu ekosistem menunjukkan komposisi ada satu perlakuan insektisida yang berbeda nyata
jenis serangga tidak merata dan adanya dominasi terhadap jumlah famili serangga (F3, 48 = 2.388, P =
suatu jenis serangga menyebabkan komunitas 0.0805). Distribusi famili dari masing-masing lahan
menjadi tidak stabil. Namun sebaliknya, jika nilai percobaan disajikan dalam diagram Venn yang
indeks sebaran tinggi atau mendekati 1, maka memuat komposisi famili yang beirisan antar
komposisi jenis (spesies) menjadi merata dan stabil. perlakuan (Gambar 2). Aplikasi insektisida kimia
Sanjaya dan Dibiyantoro (2012); Susanti ,et al., (2016 Fipronil menyebabkan hilangnya beberapa
a&b) juga menyatakan bahwa semakin tinggi nilai spesies serangga yang berasal dari enam famili
indeks sebaran, maka semakin sama kesempatan dari dimana pada lahan perlakuan lain serangga-
setiap jenis serangga dalam komunitas tersebut. serangga tersebut dapat ditemukan. Spesies
Dari 80 famili yang berhasil dikoleksi, sebanyak 41 serangga yang hilang atau tidak ditemukan
di antaranya terdapat di seluruh lahan perlakuan. tersebut berasal dari enam famili yaitu
Aplikasi berbagai macam bahan aktif insektisida Chlorophidae, Derbidae, Diapriidae, Limacodidae,
tersebut memberikan pengaruh dimana paling sedikit Psychodidae, dan Thripidae.
Tabel 1. Perlakuan aplikasi insektisida
Table 1. Treatments of insecticides application
Indeks Indeks
Total Proporsi
Perlakuan Ordo Famili Shannon Sebaran
Individu Individu
(H’) (E)
Fipronil 10 52 1.538 19% 2,87 0,73
B. thuringiensis 11 55 1.728 22% 3,33 0,83
Kombinasi 9 62 2.240 28% 3,02 0,73
Kontrol 11 72 2.437 31% 3,34 0,78
Total 11 80 7.943 100% 3,27 0,75
1200
48%
1000 40%
38%
57%
50%
Jumlah Individu
800 33%
600
Dekomposer
27%
Fitofag
400 24% Parasitoid
13%
13% Predator
14% 13% 9%
200 10%
6%
5%
0
Fipronil B. thuringiensis
B. thuringiensis Kombinasi Kontrol
Perlakuan
Gambar 1. Presentase proporsi serangga berdasarkan perannya yang dikoleksi pada setiap blok perlakuan
Figure 1. Percentage of insect proportion based on their role that collected in each treatment block
181
Tjut Ahmad Perdana Rozziansha, Agus Eko Prasetyo, Mahardika Gama Pradana, dan Agus Susanto
Gambar 2. Diagram venn jumlah famili serangga yang ditemukan pada empat perlakuan: A) Fipronil, B) Bacillus
thuringiensis, C) Kombinasi, dan D) Kontrol
Figure 2. Venn diagram of number of insect families that found in four treatments: A) Fipronil, B) Bacillus
thuringiensis, C) Combination, and D) Control
Sebagian besar anggota famili dari Limacodidae tertangkap lebih kecil namun nilai indeks
dan Thripidae merupakan serangga penting yang keanekaragaman lebih tinggi daripada perlakuan
terdapat di kebun kelapa sawit yaitu ulat api sebagai kombinasi. Hal ini disebabkan karena spektrum target
hama pemakan daun kelapa sawit (Susanto et al., perlakuan kombinasi insektisida lebih luas dari pada
2012) dan spesies thrips polinator (Prasetyo dan insektisida biologis B. thuringiensis.
Susanto, 2012). Aplikasi insektisida kimia Fipronil Menurut Chenchouni et al. (2015) nilai indeks
secara intensif menyebabkan spesies-spesies keanekaragaman yang rendah menandakan bahwa
serangga dari kedua famili tersebut menghilang. Hal keanekaragaman jenis dalam komunitas tersebut juga
ini berimplikasi bahwa dalam teknis pengendalian rendah dan komunitas tersebut menjadi tidak stabil.
melalui penyemprotan insektisida kimia secara insentif Aplikasi insektisida kombinasi antara bahan aktif kimia
mampu mengendalikan hama ulat api namun Klorantraniliprol dengan biologi B. thuringiensis tidak
berpengaruh terhadap hilangnya serangga non-target menyebabkan kehilangan jumlah individu dalam jumlah
yang lain, seperti yang telah dijelaskan pada paragraf besar dibandingkan dengan aplikasi insektisida kimia
sebelumnya. Bahkan apabila hal ini dilakukan secara Fipronil. Hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan
terus menerus dapat berpotensi menyebabkan dalam penyusunan rekomendasi pengendalian hama
resistensi dan resurjensi hama yang dapat mendorong penyakit tanaman di perkebunan kelapa sawit bahwa
terjadinya ledakan hama lain seperti ulat bulu di masa aplikasi kombinasi antara bahan aktif insektisida kimia
yang akan datang (Prasetyo dan Susanto, 2014). dengan insektisida biologis beresiko rendah terhadap
Aplikasi insektisida kimia Fipronil juga mampu organisme non-target. Selain mempunyai spektrum
mempengaruhi jumlah individu dan keanekaragaman yang tidak terlalu luas, insektisida bahan aktif
serangga di lahan percobaan yang diaplikasikan Klorantraniliprol juga dikategorikan aman terhadap
bahan aktif tersebut (Gambar 3). Nilai median jumlah mamalia (termasuk manusia) sehingga dikategorikan
individu dam indeks keanekaragaman pada aplikasi sebagai insektisida label hijau (Clark, 2008).
insektisida Fipronil paling rendah di antara perlakuan Insektisida kimia Klorantraniliprol juga terbukti aman
lain dan kontrol. Pada perlakuan insektisida biologi terhadap serangga penyerbuk E. kamerunicus baik
B. thuringiensis, median jumlah individu yang pengujian di laboratorium terhadap mortalitas
182
Keanekaragaman serangga pada ekosistem kelapa sawit terpapar insektisida dalam jangka panjang
kumbang maupun di lapangan terhadap pengaruh dan Susanto, 2019) maupun ke bunga betina reseptif
kunjungan kumbang ke bunga jantan mekar (Prasetyo (Prasetyo et al., 2018).
350
3.0
Jumlah Individu
Indeks Shanon
250
2.0
150
1.0
50
183
Tjut Ahmad Perdana Rozziansha, Agus Eko Prasetyo, Mahardika Gama Pradana, dan Agus Susanto
184
Keanekaragaman serangga pada ekosistem kelapa sawit terpapar insektisida dalam jangka panjang
185
Tjut Ahmad Perdana Rozziansha, Agus Eko Prasetyo, Mahardika Gama Pradana, dan Agus Susanto
186