Pertanggungjawaban Korporasi Dalam Tindak Pidana
Korupsi Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Corporate Responsibility for Corruption the Procurement of
Goods/Services in the Government
Vita Mahardhika*
Jurusan Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum, Universitas Negeri Surabaya
*vitamahardhika@[Link]
Abstrak
Penelitian ini dibuat untuk mengkaji dan mengetahui teori pertanggungjawaban pidana bagi korporasi
dalam hukum pidana Indonesia dan untuk menelaah bagaimana pertanggungjawaban bagi korporasi
yang melakukan tindak pidana korupsi dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah serta upaya
aja saja yang dilakukan pemerintah untuk mencegah dan memberantas korupsi di Indonesia. Metode
penelitian adalah penelitian hukum normatif (normatif law research) menggunakan kasus hukum
normatif berupa produk perilaku hukum, misalnya mengkaji rancangan undang-undang, yang berfokus
pada inventarisasi hukum positif, asas-asas dan doktrin hukum, penemuan hukum, perbandingan
hukum, dan sejarah hukum. Dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah, titik rawan potensi
terjadinya korupsi adalah dimulai pada tahap perencanaan pengadaan yang dalam proses ini sering
terjadi mark up dan praktek korupsi, kolusi, nepotisme yang dapat merugikan keuangan Negara.
Dengan tetap mengedepankan asas tiada pidana tanpa kesalahan (geen straf zonder schuld) dan
berpedoman pada Undang-Undang yang berlaku, beberapa teori pemidanaan misalnya Teori Strict
Liability, Teori Identifikasi, Teori Vicarious Liability dapat digunakan oleh penegak hukum dalam
menjerat korporasi yang melakukan tindak pidana korupsi dalam proses pengadaan barang/jasa
pemerintah.
Kata Kunci: pertanggungjawaban pidana, korporasi, pengadaan barang/jasa.
Abstract
This research is to study and find out the theory of criminal responsibility for corporations in Indonesian
criminal law and to examine how the responsibility for corporations that commit corruption in the process
of procuring government goods / services and the government's efforts to prevent and eradicate
corruption in Indonesia. The research method is normative law research using normative legal cases in the
form of legal behavior products, for example reviewing draft laws, which focuses on positive law
inventories, legal principles and doctrines, legal findings, legal comparisons, and legal history. In the
process of procuring government goods / services, the potential prone point for corruption is starting at
the procurement planning stage, where mark-ups often occur and practices of corruption, collusion and
nepotism that can harm State finances. With regard to the principle of geen straf zonder schuld and
guided by applicable laws, several criminal theories such as the Strict Liability Theory, Identification
Theory, Vicarious Liability Theory can be used by law enforcers to ensnare corporations that commit
criminal acts of corruption in the process of procuring government goods / services.
Keywords: criminal liability, corporation, procurement of goods / services.
PENDAHULUAN Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
Batasan pengertian korporasi erat korupsi konvensional yang lumrah dan
kaitannya dengan masalah dalam bidang mudah dilakukan adalah korupsi dalam
hukum perdata. Menurut (Rahardjo, pengadaan barang/jasa pemerintah.
1986), Korporasi adalah suatu badan hasil Korupsi pengadaan barang/jasa
ciptaan hukum. Badan yang diciptakannya pemerintah bukan merupakan korupsi
itu terdiri dari “corpus” yaitu struktur yang benar-benar memerlukan kelihaian
fisiknya dan ke dalamnya hukum pelaku/bukan benar-benar canggih karena
memasukkan unsur “animus” yang dengan cara penggelembungan harga
membuat badan itu mempunyai (mark up), penyalahgunaan wewenang hal
kepribadian. Oleh karena badan hukum itu ini begitu mudah dilakukan oleh para
merupakan ciptaan hukum maka kecuali pelaku pengadaan barang/jasa
penciptaannya, kematiannyapun juga pemerintah. Pengadaan barang/jasa
ditentukan oleh hukum”. merupakan kegiatan yang dimulai dari
Perkembangan korporasi sebagai identifikasi kebutuhan sampai dengan
subjek tindak pidana terjadi di luar Kitab serah terima hasil pekerjaan. Sumber-
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), sumber protensial terjadi korupsi dalam
dalam perundang-undangan khusus. pengadaan barang/jasa adalah pemberian
Sedangkan KUHP sendiri masih tetap suap, penggelapan, pemalsuan,
menganut subjek tindak pidana berupa penyalahgunaan jabatan/wewenang,
“orang” (lihat pasal 59 KUHP). Sedangkan pertentangan kepentingan (memiliki
subjek tindak pidana korporasi sebagai usaha sendiri), komisi, nepotisme,
contohnya dapat ditemukan dalam kontribusi/sumbangan illegal.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Adapun yang menjadi rumusan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 masalah yang akan dibahas dalam tulisan
tentang Pemberantasan Tindak Pidana ini yaitu: (1) Bagaimanakah pengaturan
Korupsi. pertanggungjawaban korporasi dalam
Korupsi identik dengan istilah KKN sistem hukum pidana Indonesia?; (2)
(Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Undang- Bagaimanakah pertanggungjawaban
Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang korporasi dalam tindak pidana pengadaan
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi barang/jasa?; (3) Upaya apa saja yang
yang kemudian dirubah dengan Undang- dilakukan pemerintah dalam rangka
Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang mencegah dan memberantas korupsi?
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk hukum, terdapat beberapa pandangan
mengkaji dan mengetahui teori yang dikemukakan oleh para ahli.
pertanggungjawaban korporasi dalam Unsur-unsur pertanggungajawaban
hukum pidana Indonesia dan untuk pidana yang menyangkut pembuat delik
menelaah bagaimana pertanggungjawaban meliputi: kemampuan bertanggungjawab;
bagi korporasi yang melakukan tindak kesalahan dalam arti luas, yaitu sengaja
pidana korupsi dalam proses pengadaan dan/atau kealpaan; dan tidak ada alasan
barang/jasa serta upaya aja saja yang pemaaf (Abidin, 1983).
dilakukan pemerintah untuk mencegah Untuk mengatakan kesalahan pada
dan memberantas korupsi di Indonesia. pelaku, maka harus dicapai dan ditentukan
terlebih dahulu beberapa hal yang
METODE PENELITIAN menyangkut si pelaku itu sendiri, yaitu
Metode penelitian yang digunakan kelakuannya dan akibat yang ditimbulkan;
yaitu penelitian hukum normatif (normatif dan dolus atau culpa (Kanter & Sianturi,
law research) menggunakan kasus hukum 2002).
normatif berupa produk perilaku hukum, Menurut Andi Hamzah (Hamzah,
misalnya mengkaji rancangan undang- 2012), bahwa kesalahan dalam arti luas
undang. Pokok kajiannya adalah hukum meliputi tiga hal, yaitu pertama sengaja,
yang dikonsepkan sebagai norma atau kedua kelalaian, ketiga dapat
kaidah yang berlaku dalam masyarakat dipertanggungjawabkan.
dan menjadi acuan perilaku setiap orang. Memperhatikan berbagai pendapat di
Sehingga penelitian hukum normatif atas, maka dapat dikatakan bahwa
berfokus pada inventarisasi hukum positif, seseorang dapat dipidana jika dipenuhi
asas-asas dan doktrin hukum, penemuan syarat pemidanaan yang objektif atau
hukum, perbandingan hukum, dan sejarah perbuatan pidana (actus reus) dan syarat
hukum (Muhammad, 2004). pemidanaan yang subjektif atau
pertanggungjawaban pidana (mens rea)
HASIL DAN PEMBAHASAN atau yang disebut kesalahan (Hamzah,
Pertanggungjawaban Korporasi dalam 2004).
Hukum Pidana Indonesia Asas actus reus dan mens rea itu, yang
Dalam kaitannya dengan lengkapnya berbunyi actus non facit reum,
pembebanan pertanggungjawaban dalam nisi mens sit rea tersebut, dapat diartikan
bahwa suatu perbuatan itu tidak dapat
membuat orang bersalah, kecuali bilamana menyangkut masalah pertanggungjawaban
dilakukan dengan niat jahat. Dua hal yang pidana pada korporasi. Apakah unsur
menjadi pokok penting dari actus reus dan kesalahan tetap dapat dipertahankan
mens rea itu adalah pertama, adanya seperti halnya pada manusia. Menurut
perbuatan lahiriah sebagai penjelmaan Sauer (Sudarto, 1983), ada tiga pengertian
dari kehendak, misalnya perbuatan dasar dalam hukum pidana, yaitu: (a) sifat
mengambil pada perkara pencurian; dan melawan hukum (unrecht); (b) kesalahan
kedua, kondisi jiwa, apakah perbuatan itu (schuld), dan (c) pidana (strafe).
dilakukan dengan maksud jahat atau tidak Dalam berbagai peraturan
(Bawengan, 1983). perundang-undangan hukum pidana
Di Indonesia dalam aturan Indonesia dinyatakan bahwa pengertian
perundangan-undangannya baru muncul korporasi itu adalah kumpulan
dan dikenal badan hukum/korporasi terorganisasi dari orang dan atau
sebagai subjek tindak pidana pada tahun kekayaan baik merupakan badan hukum
1951 yaitu dikenal dalam Undang-Undang maupun bukan badan hukum.
penimbunan barang-barang dan dikenal Penyebutan korporasi sebagai subjek
secara luas melalui Undang-Undang No. 7 hukum juga tercantum dalam pasal 1
Drt. Tahun 1955 tentang Tindak Pidana angka 1 Undang-Undang No. 31 Tahun
Ekonomi selanjutnya pengaturan tindak 1999 yang telah dirubah dengan Undang-
pidana korporasi dapat ditemukan pada Undang No. 20 Tahun 2001 tentang
pasal 17 ayat (1) Undang-Undang No. 11 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
PNPS Tahun 1963 tentang Pemberantasan Pasal 1 angka 13 Undang-Undang No. 5
Kegiatan Subversi dan Pasal 49 Undang- Tahun 1997 tentang Psikotropika, Pasal 1
Undang No. 9 Tahun 1976 Narkotika. angka 21 Undang-Undang No. 35 Tahun
Tetapi secara umum seperti yang 2009 tentang Narkotika, Pasal 1 angka 10
tercantum dalam pasal 59 KUHP, subjek Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang
tindak pidana korporasi belum dikenal dan Tindak Pidana Pencucian Uang, Pasal 1
diakui sebagai subjek hukum dalam tindak angka 6 Undang-Undang No. 21 tahun
pidana secara umum adalah orang (Muladi 2007 tentang Pemberantasan Tindak
& Priyatno, 2012). Dengan diterimanya Pidana Perdagangan Orang, Pasal 1 angka
korporasi sebagai subjek hukum pidana, 15 Undang-Undang No. 31 Tahun 2004
hal ini menimbulkan permasalahan dalam tentang Perikanan.
hukum pidana kita, khususnya yang
Ada tiga elemen untuk bisa meminta Dalam keadaan demikian, mereka tidak
pertanggungjawaban pidana korporasi, sebagai pengganti dan oleh karena itu
yaitu pengurus atau wakil korporasi itu pertanggungjawaban perusahaan tidak
harus mempunyai kewenangan dalam bersifat pertanggungjawaban pribadi
bertindak untuk kepentingan korporasinya (Nawawi Arief, 2002).
dalam lingkup kewenangannya. Kedua, Menurut Jaya (2013) menyatakan
tindakan pengurus atau wakil itu adalah yang paling relevan digunakan untuk
untuk kepentingan korporasinya. Ketiga, mempidanakan korporasi yaitu doctrine
tindak pidana yang dilakukan tersebut strict liability dan doctrine identification
ditoleransi korporasinya. atau teori pelaku fungsional, teori kawat
Tuntutan akan perlindungan berduri serta doctrine vicarious yang
ketentraman masyarakat menuntut mengandung arti bahwa korporasi ikut
pertanggungjawaban pidana (criminal mengambil beban tanggungjawab atas
liability, criminal responsibility) yang lebih perbuatan pengurus, pengurus melakukan
luas dan adil kepada korporasi. Hal ini delik, maka yang turut bertanggungjawab
dapat dikatakan bahwa pemidanaan adalah korporasi sehingga yang dipidana
korporasi atas dasar kepentingan pengurus dan korporasi. Pentingnya
masyarakat tidak atas dasar tingkat memidanakan korporasi karena hasil
kesalahan subjektif. Dalam hal ini strict kejahatan yang belum tersentuh, padahal
liability yang meninggalkan asas mens rea seharusnya bias disentuh.
yang merupakan refleksi cenderung untuk
menjaga keseimbangan dan kepentingan Pertanggungjawaban Korporasi Dalam
sosial (Muladi & Priyatno, 1991). Tindak Pidana Korupsi Pengadaan
Dalam rangka Barang/Jasa
mempertanggungjawabkan korporasi Lembaga Kebijakan Pengadaan
secara pidana, dikenal konsep direct Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)
corporate criminal liability atau doktrin menyatakan kasus korupsi yang dilakukan
pertanggungjawaban pidana langsung. melalui pengadaan barang/jasa
Menurut doktrin ini, perusahaan dapat pemerintah masih marak dilakukan.
melakukan sejumlah delik secara langsung Kepala LKPP Roni Dwi Susanto dalam situs
melalui orang-orang yang sangat [Link]
berhubungan erat dengan perusahaan dan 0191110163518-4-114102/pengadaan-
dipandang sebagai perusahaan itu sendiri. barang-jasa-pemerintah-rp1153-t-rp200-
t-dikorupsi/ menyebutkan, dari anggaran Sebagai contoh PT Nusa Konstruksi
pengadaan barang/jasa pemerintah senilai Enjinering atau PT NKE yang sebelumnya
Rp. 1.153 triliun, ada sekitar 30% dana bernama PT Duta Graha Indah atau PT DGI
yang dikorupsi atau sekitar Rp. 200 triliun. diputus bersalah dalam perkara korupsi
Titik rawan penyimpangan di sektor proyek pembangunan rumah sakit khusus
pengadaan barang/jasa ini telah dimulai dari infeksi dan pariwisata Universitas Udayana
tahap perencanaan pengadaan. Pada tahap tahun anggaran 2009 s.d. 2010.
ini cenderung terjadi penggelembungan Perjalanan kasus PT NKE sendiri
(mark-up) anggaran yang merugikan berawal pada 24 Juli 2017, Komisi
keuangan Negara. Kerawanan penyimpangan Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan
juga terjadi pada tahap pembentukan lelang, perusahaan ini sebagai tersangka. Penetapan
pra kualifikasi perusahaan, penyusunan PT NKE sebagai tersangka merupakan
dokumen lelang, tahap pengumuman pengembangan penyidikan perkara yang
dokumen lelang, dan tahap penyusunan sama dengan tersangka Dudung Purwadi
harga perkiraan sendiri (HPS). selaku Direktur Utama dan Made Meregawa
Ada beberapa modus operandi selaku Pejabat Pembuat Komitmen.
keterlibatan pejabat publik dan perusahaan Dalam putusan PT NKE diwajibkan
swasta dalam korupsi pengadaan membayar denda Rp. 700 juta. Selain itu
barang/jasa. Modus yang digunakan antara mewajibkan PT NKE membayar uang
lain: (1) suap pihak swasta kepada pejabat pengganti sejumlah Rp 85,4 miliar, hakim
publik; (2) pejabat publik menggunakan juga menjatuhkan hukuman tambahan
perusahaan boneka/perusahaan tertentu dengan melarang PT NKE mengikuti tender
untuk diajak kerjasama menjalani korupsi; proyek pemerintah selama enam bulan.
dan (3) kolusi antar peserta tender, dan Menilik tuntunan Jaksa Penuntut Umum,
praktek yang tidak kompetitif. vonis hakim dinilai lebih rendah. Jaksa
Dalam situs menuntut PT NKE dijatuhi hukuman denda
[Link] Rp. 1 miliar dan membayar uang pengganti
menyebutkan korupsi di sektor pengadaan Rp. 188,7 miliar dan meminta agar mencabut
barang/jasa pemerintah setidaknya akan hak PT NKE mengikuti tender pemerintah
mengakibatkan tiga hal yaitu rendahnya hingga dua tahun.
kualitas barang/jasa pemerintah, kerugian Dalam sidang putusan ini, Majelis
negara, dan rendahnya nilai manfaat yang Hakim Pengadilan Tipikor menyatakan PT
didapatkan. NKE terbukti memperkaya korporasi
sejumlah Rp. 240 miliar melalui delapan sehingga karyawan perusahaan menerima
proyek yang diperoleh dari mantan politikus akibatnya kehilangan pekerjaan dan
Partai Demokrat Muhammad Nazarudin penghasilan.
([Link]
/20190103193656-12-358318/vonis- Upaya Pemberantasan Korupsi dalam
perdana-korporasi-korup-pt-nke-didenda- Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
rp700-juta). Pemberantasan korupsi
PT NKE didakwa melanggar pasal 2 membutuhkan kesamaan pemahaman
ayat (1) jo pasal 18 Undang-Undang No. 20 mengenai tindak pidana korupsi itu
Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang- sendiri. Dengan adanya persepsi yang
Undang No. 31 Tahun 1999 tentang sama, pemberantasan korupsi bisa
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo dilakukan secara tepat dan terarah, agar
Pasal 55 ayat (1) ke 1 dan pasal 64 ayat (1) pemberantasan berjalan lebih efektif,
KUHP yang termasuk korporasi; (b) dengan maka hendaknya ketiga strategi ini harus
melawan hukum; (c) memperkaya diri dilakukan secara bersamaan, yaitu (1)
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi; perbaikan system misalnya mendorong
(d) dapat merugikan Negara atau transparansi penyelenggara Negara
perekonomian Negara; (e) perbuatan seperti KPK menerima laporan LHKPN dan
tersebut dilakukan secara berlanjut. juga gratifikasi; memberikan rekomendasi
Menurut penulis, pejatuhan vonis kepada kementerian dan lembaga terkait
terhadap PT NKE sudah tepat, karena uang untuk melakukan langkah-langkah
pengganti sebagai pidana tambahan selain perbaikan; memodernisasi pelayanan
pidana tambahan yang dimaksud dalam publik dengan online dan system
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, pengawasan yang terintegrasi agar lebih
jumlahnya sebanyak-banyaknya sama transparan dan efektif; (2) edukasi dan
dengan harta benda yang diperoleh dari kampanye anti korupsi; (3) strategi
tindak pidana korupsi, sudah diterapkan. represif menyeret koruptor ke pengadilan
Selain itu terkait dengan pencabutan hak ([Link], 2020).
untuk mengikuti tender selama enam bulan ,
menurut penulis meskipun hal ini dipandang SIMPULAN
belum dapat menjadikan efek jera, tetapi Titik rawan korupsi dalam
putusan ini sudah tepat karena pencabutan pengadaan barang/jasa yaitu dimulai dari
hak jangan sampai mematikan korporasi tahap perencanaan pengadaan. Pada tahap
ini cenderung terjadi penggelembungan Hukum Pidana. PT. Raja Grafindo Persada.
Rahardjo, S. (1986). Ilmu Hukum. Alumni.
(mark-up) anggaran atau bahkan praktek Sudarto. (1983). Hukum Pidana dan Perkembangan
Masyarakat, Kajian Terhadap Pembaharuan
pengadaan mengada-ngada (proyek pesanan, Hukum Pidana. Sinar Baru.
tanpa evaluasi, pengadaan yang tidak Peraturan Perundang-Undangan
realistis, pengadaan yang mengarah pada
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
pemaketan untuk KKN) yang dalam hal ini Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun
merugikan keuangan Negara. Teori Strict 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
Liability, Teori Vicarious Liability, Teori Undang-Undang No. 7 Drt. Tahun 1955 tentang
Tindak Pidana Ekonomi
Direct Corporate Criminal Liability Undang-Undang No. 11 PNPS Tahun 1963 tentang
merupakan beberapa teori yang dapat Undang-Undang No. 9 Tahun 1976 Narkotika
Pemberantasan Kegiatan Subversi
dipergunakan untuk mewujudkan Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika
pemidanaan bagi korporasi. Penegak Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang
Narkotika
hukum bebas memilih teori dan doktrin Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang
yang mana yang akan digunakan sebagai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2018 tentang
acuan teori pemidanaan. Dengan tetap Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
mengedepankan asas tiada pidana tanpa Internet
kesalahan (geen straf zonder schuld) dan [Link]
berpedoman pada Undang-Undang yang 20191110163518-4-114102/pengadaan-
barang-jasa-pemerintah-rp1153-t-rp200-t-
berlaku.. dikorupsi/
[Link]
20190103193656-12-358318/vonis-
perdana-korporasi-korup-pt-nke-didenda-
DAFTAR PUSTAKA rp700-juta
[Link]
Buku [Link], 2020
Abidin, A.Z. (1983). Bunga Rampai Hukum Pidana.
Pradnya Paramita.
Bawengan, G. W. (1983). Hukum Pidana di Dalam
Teori dan Praktik. Pradnya Paramita.
Hamzah, A. (2004). Asas-Asas Hukum Pidana (Edisi
Revisi). Rineka Cipta.
Hamzah, A. (2012). Asas-Asas Hukum Pidana di
Indonesia dan Perkembangannya. Sofmedia.
Kanter, E. Y., & Sianturi, S. R. (2002). Asas-Asas
Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya.
Storia Grafika.
Muhammad, A. (2004). Hukum dan Penelitian
Hukum. PT. Citra Aditya Bakti.
Muladi, & Priyatno, D. (1991). Pertanggungjawaban
Korporasi Dalam Hukum Pidana. Sekolah
Tinggi Hukum Bandung.
Muladi, & Priyatno, D. (2012). Pertanggungjawaban
Pidana Korporasi. Kencana Prenada Media
Grup.
Nawawi Arief, B. (2002). Sari Kuliah Perbandingan