BAB II
LANDASAN TEORI
A. Efektivitas
1. Pengertian Efektivitas
Efektivitas, dalam Kamus Bahasa Indonesia. Efektivitas adalah
ada efeknya, ada akibatnya, ada hasilnya, tepat guna. 1 Efektivitas adalah
adanya kesesuaian antara yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang
dituju. Efektivitas adalah menunjukkan seberapa jauh tingkat pencapaian suatu
tujuan atau target dengan rencana yang telah disusun baik dari kualitas,
kuantitas, maupun waktu.2
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa efektivitas
adalah berkaitan dengan terlaksanakannya semua tugas pokok, tercapainya
tujuan ketepatan waktu, dan adanya partisispasi aktif dari anggota.
Efektivitas dapat dilihat dari pencapaian tujuan (hasil) yang
dikehendaki, baik kualitas maupun kuantitas. Adapun yang dimaksud
efektivitas disini adalah tingkat keberhasilan yang dicapai sehubungan dengan
penerapan metode sorogan dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab
kuning di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kedaton Bandar Lampung.
1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990) h.172
2
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, Implementasi, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2007), h. 82
12
2. Ukuran Efektivitas
Efektivitas berarti menunjukan taraf tercapainya tujuan, usaha
dapat dikatakan efektif apabila usaha itu dapat mencapai tujuan yang
diinginkan. Drs. Mudhofir mengatakan bahwa ukuran efektivitas dapat diukur
dari beberapa jumlah siswa yang berhasil mencapai tujuan belajar dalam
waktu yang telah ditentukan.3 Adapun konsep penilaian yang penulis tetapkan
adalah:
a. Kemampuan Membaca Kitab Kuning
Pengukuran kemampuan santri dalam membaca Kitab Kuning pada waktu
diadakan tes membaca. Adapun yang dinilai adalah tentang ketepatan
dalam membaca, kepemahaman mendalam isi, dan dapat mengungkapkan
isi bacaan. Kriteria penilaian penulis menggunakan angka, yaitu:
1) 80-90 : Bagus
2) 70-80 : Cuukup Bagus
3) 60-70 : Kurang Bagus
B. Metode Sorogan
1. Pengertian Metode
Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati
peranan yang tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan
belajar [Link] ada satu pun kegiatan belajar mengajar yang
tidakmenggunakan metodepengajaran.4
3
Mudhofir, Teknologi Instruksi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987), h. 164.
4
Syaiful Bahri Djamarah, Stategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010),
h.72-73.
13
Peranan metode pendidikan berasal dari kenyataan yang menunjukan
bahwa materi kurikulum Islam diajarkan, melainkan diberikan dengan cara
khusus. Ketidak tepatan dalam penerapan metode ini kiranaya akan
menghambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu
dan tenaga yang yang tidak perlu.5
Untuk mencapai maksud dan tujuan pembelajaran yang maksimal
diperlukan cara penyampaian yang baik, yang biasa disebut metode mengajar. 6
Secara etimologi istilah metode berasal dari bahasa Yunani “Metodos” kata ini
terdiri dari dua suku kata: yaitu “metha” yan berarti, melalui atau melewati dan
“hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui
untuk mencapai tujuan.7
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah
disusun tercapai secara optimal. Ini berarti, metode digunakan untuk
merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam
rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. 8 Allah
sendiri telah mengajarkan kepada manusia supaya mementingkan metode.
Berkenaan dengan metode, Al-Qur’an telah memberi petunjuk mengenai
metode pendidikan secara umum yaitu terdapat dalam surat An-Nahl ayat 125:
5
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), h. 197.21
6
Armai Arief, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 40.
7
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan
(Jakarta: Kencana Prenanada Media Grup, 2006), h.147.
14
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk.”8
Ayat di atas menyuruh supaya manusia dalam menyampaikan ajaran
Tuhan, dengan cara-cara yang bijaksana, sesuai antara bahan dan orang yang
akan menerimanya dengan mempergunakan faktor-faktor yang akan dapat
membantu supaya ajarannya itu dapat diterima.9
Metode pendidikan membicarakan cara-cara yang ditempuh guru untuk
memudahkan murid memperoleh ilmu pengetahuan, menumbuhkan
pengetahuan kedalam ciri penutut ilmu, dan menerapkannya dalam
kehidupan.10
2. Macam-Macam Metode Pembelajaran
Dalam kegiatan pembelajaran, terdapat berbagai macam metode yang
dapat digunakan oleh seorang guru. Metode-metode itu biasa digunakan di
lingkungan sekolah, madrasah, maupun pesantren. Beberapa metode
pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran di pondok pesantren
yaitu:
a. Hafalan (Tahfiz)
8
Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro) 2006, h.
9
Muhammad Zein, Methodologi Pengajaran Agama, (Yogyakarta: Ak Group, 1995), h.
11
10
M. Dian Nafi’, et al., Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakaarta: Insite for
Training and Development (ITD)), h. 66.
15
Sebagai sebuah metodologi pengajaran, hafalan pada umunya
diterapkan pada mata pelajaran yang bersifat nadham (syair), bukan
natsar (prosa); dan itupun pada umumnya terbatas pada ilmu kaidah
bahasa arab, seperti Nadhm Al-‘Imrithi, Afiyyah Ibn Malik, Nadhm Al-
Maqsud, Nadhm Jawahir Al- Maknun, dan sebagainya. Namun
demikian, ada juga beberapa kitab prosa (natsar) yang dijadikan
sebagai bahan hafalan melalui sistem pengajaran hafalan. Dalam
metodologi ini, biasanya santri diberi tugas untuk menghafal beberapa
bait atau baris kalimat dari sebuah kitab, untuk kemudian
membacakannya di depan sanga kyai/ustadz.
b. Hiwar atau Musyawarah
Berbeda dengan hiwar dalam dunia pesantren yang mengedepankan
penguasaan bahasa sebagai alat komunikasi, hiwar dalam pesantren
salafiyah identik dengan musyawarah.
c. Metode Bahtsul Masa’il (Mudzakaroh)
Mudzakarah atau Batshul Masa’il merupakan pertemuan ilmiah untuk
membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah, dan
permasalahan-permasalahan agama lainnya. Metode ini sesungguhnya
tidak jauh berbeda dengan metode musyawarah. Bedanya, sebagai
sebuah metodologi mudzkaroh pada umumnya hanya diikuti oleh para
kiyai atau para santri tingkat tinggi.
d. Fathul Kutub
16
Fathul Kutub merupakan kegiatan latihan membaca kitab (terutama
kitab klasik) yang pada umumnya ditugaskan kepada santri senior di
pondok pesantren. Sebagai sebuah metode, Fathul Kutub bertujuan
menguji kemampuan mereka dalam membaca kitab kuning,
khususnya setelah mereka berhasil menyelesaikan mata pelajaran
kaidah bahasa arab. Dengan kata lain Fathul Kutub merupakan warna
aktualisasi kemampuan para santri, khususnya dalam penguasaan ilmu
kaidah bahasa arab, di samping disiplin ilmu keagamaan lainnya
sesuai dengan materi kitab yang ditugaskan untuk dibaca, baik itu
akidah, fiqh, hadis, tafsir, tasawwuf, dan lain sebagainya. Sejalan
dengan itu, metode Fathul Kutub biasanya dikhususkan bagi santri
senior yang akan menyelesaikan pendidikannya di sebuah Pondok
Pesantren.
e. Muqoronah
Muqoronah adalah sebuah metode yang terfokus pada kegiatan
perbandingan, baik perbandingan materi, paham (madzhab), metode,
maupun perbandingan kitab. Oleh karena sifatnya yang
membandingkan, pada umumnya metode ini juga hanya diterapkan
pada kelas-kelas santri senior saja. Dan dalam perkembangannya,
metode ini kemudian terfragmentasi ke dalam dua hal, yaitu
muqoronatul adyan untuk perbandingan ajaran-ajaran agama dan
muqoronatul madzahib untuk perbandingan paham atau aliran.
17
f. Muhawaroh atau Muhadatsah
Muhawaroh merupakan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa
Arab. Metode inilah yang kemudian dalam pesantren “modern”
dikenal sebagai metode hiwar.
g. Sorogan
Sorogan merupakan metode pembelajaran yang diterapkan di
pesantren hingga kini, dimana santri menyodorkan materi (kitab) yang
ingin dipelajarinya sehingga mendapatkan bimbingan secara
individual atau secara khusus.11
3. Metode Sorogan
Metode pembelajaran yang dikalangan pesantren salaf adalah metode
sorogan, metode sorogan ini mengharuskan santri (peserta didik) untuk
belajar sendiri atau belajar dengan temannya dan sistem belajar sorogan
membentuk peserta didik untuk tidak bergantung pada teman, karena
sistem pembelajarannya langsungdipraktekkan di depan kiyai
(ustadz/guru). Metode sorogan juga dikenal dengan istilah independent
learning, pembelajaran menggunakan metode sorogan adalah
memfokuskan pada belajar mandiri peserta didik/pembelajaran individu.12
Menurut Wahyu Utomo, Metode Sorogan adalah sebuah sistem belajar
dimana para santri maju persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab
dihadapan seorang guru atau kyai. Zamakhsyari Dhofir menjelaskan
11
Ismail Baharudin, “Pesantren Dan Bahasa Arab”. Jurnal Thariqah Ilmiah, Vol.01, No.
01 (Januari 2014), h. 21-23
12
Ahmat Wakit, “Efektivitas Metode Sorogan Berbantuan Tutor Sebaya Terhadap
Pemahaman Konsep Matematika”. JES-MAT, Vol. 2 No. 1 (Maret 2016), h. 2
18
bahwa metode Sorogan ialah seorang murid mendatangi guru yang akan
membacakan beberapa baris Al-Qur’an atau kitab-kitab bahasa Arab dan
menerjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa tertentu yang pada
gilirannnya murid mengulangi dan menerjemahkan kata perkata sepersis
mungkin seperti yang dilakukan gurunya.
Oleh karena itu inti dari metode ini adalah berlangsungnya proses
belajar mengajar (PBM) secara fest to fest, antara guru dan murid. Metode
ini pada zaman Rasulullah dan para Sahabat dikenal dengan metode
belajar Kuttab.14 Sorogan berasal dari bahasa Arab Shoro dan
[Link] yang berarti jadi dan Ghodan yang berarti
[Link] lain mengatakan Sorogan, berasal dari kata sorog
(bahasa jawa), yang berarti [Link] santri menyodorkan
kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya (badal, asisten kyai).13
Metode sorogan adalah semacam metode CBSA (Cara Belajar
Siswa Aktif) santri aktif memilih kitab kuning yang akan dibaca,
kemudian membaca dan menerjemahkannya di hadapan kyai, sementara
itu kyai mendengarkan bacaan kyaimendengarkan bacaan santrinya, dan
mengoreksi bacaan atu terjemahannya jika diperlukan. Selain itu untuk
kemampuan kognitifnya, metode belajar aktif ini juga efektif untuk
melihat kompetensi psokomotorik [Link] dalam membaca dan
menerjemahkan kitab para santri diharapkan dapat menerapkan ilmu alat,
13
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pres, Jakarta,
2002, hlm 150-151
19
seperti nahwu (gramatika Bahasa Arab), shorof (Morfologi) dan lain-lain,
yang selama ini mereka pelajari secara teoritis.
Metode sorogan merupakan metode andalan dan hingga saat ini
masih dipergunakan di lingkungan pesantren untuk menyampaikan materi
yang diberikan ustadz atau kyai kepada [Link] sorogan
merupakan salah satu metode tradisional dalam pelajaran yang masih
diterapkan di pondok-pondok pesantren di Indonesia.
Sorogan artinya belajar secara individu dimana seorang santri
berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenali
diantara keduanya, sedangkan menurut Wahyu Utomo dalam bukunya
Armai Arief metode sorogan adalah sebuah sistem belajar dimana para
santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan kitab di
hadapan seorang guru atau kyai.
Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan
Pada ruang tertentu. Ada tempat duduk kyai atau ustadz, di depannya ada
meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap. Santri-
santri lain, baik yang mengaji kitab yang sama ataupun berbeda, duduk
agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh kyai atau ustadz
sekaligus mempersiapkan diri menunggu gilirannya dipanggil.
Metode pembelajaran ini termasuk metode pembelajaran yang
sangat bermakna, karena santri akan merasakan hubungan yang khusus
ketika berlangsung kegiatan pembacaan kitab di hadapan kyai. Mereka
20
tidak hanya senantiasa dapat dibimbing dan diarahkan cara membacanya,
tetapi dapat dievaluasi perkembangan kemampuannya.
Maksud dari model pembelajaran metode sorogan dalam penelitian
ini adalah memberikan materi kitab tertentu kepada setiap santri untuk
dikaji serta dipelajari kemudian menjelaskan setiap babnya dengan
menghafal, memaknai, dan mensyarahkan maksusd kandungan
[Link] ditemukan kesalahan dalam membaca dan kandungan artinya
maka ustadz atau kyai membetulkannya.
Metode sorogan dipandang salah satu metode yang efektif untuk
mengembangkan kemahiran membaca kitab kuning, karena penerapan
metode ini didasarkan pada tujuan pengajaran pembacaan tulisan arab
yang tanpa harakat, dengan menitik beratkankan gramatika bahasa arab,
seperti nahwu, sharaf, dan mufradatnya.
4. Dasar dan Tujuan
Pengajaran individual merupakan cara penyampaian materi yang
didasari atas peristiwa yang terjadi ketika Rasulullah saw ataupun Nabi
lainnya menerima ajaran dari Allah SWT. Melalui malaikat Jibril, mereka
langsung bertemu satu persatu, yaitu antara malaikat Jibril dan para nabi
tersebut. Sehingga Rasulullah bersabda:“Tuhanku telah mendidikku
dengan sebaik-baiknya didikan.11 Berdasarkan hal tersebut, kemudian
Rasul mempraktikan pendidikan seperti itu bersama sahabat-sahabatnya
21
dalammenyampaikan dakwah Islam.14 Pada jaman Rasulullah saw dan para
sahabat, pengajaran individual dikenal dengan metode belajar
kuttab,sampai muncul istilah sorogan yang dijadikan sebagai salah satu
metode pengajaran di pondok pesantren.
Metode sorogan merupakan konsekuensi logis dari layanan yang
sebesar-besarnya pada santri. Berbagai usaha pembaharuan dewasa ini
dilakukan justru mengarah pada layanan secara individual kepada peserta
didik. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian
serta kecakapan seseorang.15 Karena melihat tujuan metode sorogan sendiri
adalah untuk mengarahkan anak didik pada pemahaman materi pokok dan
juga tujuan kedekatan Relasi anak didik dan guru.
Di samping itu dengan metode sorogan seorang guru dapat
memanfaatkannya untuk menyelami gejolak jiwa atau problem-problem
yang dihadapi masing-masing santrinya, terutama yang berpotensi
mengganggu proses penyerapan pengetahuan mereka. Kemudian dari
penyelaman ini guru dapat memilih strategi apa yang diperlukan untuk
memberikan solusi bagi santrinya.
5. Teknik Penerapan Metode Sorogan
Dalam penerapan metode sorogan terdapat pembelajaran secara
individual, interaksi pembelajaran, bimbingan pembelajaran, dan didukung
keaktifan santri. Amin Haedari telah mengutip pendapat Mastuhu bahwa
14
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
2002), hlm. 151
15
Mujamil Qomar, Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi
Institusi., hlm. 145
22
metode sorogan merupakan metode pengajaran individual yang
dilaksanakan dipesantren. Dalam aplikasinya, metode ini terbagi menjadi 2
cara, sebagai berikut:
a. Santri pemula, mereka mendatangi seorang guru atau ustadz yang akan
membacakan kitabtertentu
b. Santri senior, mereka mendatangi seorang guru atau ustadz, supaya
ustadz tersebut mendengarkan sekaligus memberikan koreksi terhadap
bacaan kitab mereka.
Hasbullah menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan
metode sorogan, santri banyak datang bersama, kemudian merka antri
menunggu giliran masing-masing.16 Dengan sistem pengajaran metode
sorogan ini hubungan antara ustadz dengan santri bisa menjadi lebih dekat,
sebab ustadz dapat mengenal kemampuan santri baik kognitif mapun
pribadi mereka secara satupersatu. Interaksi bimbingan pembelajaran pada
metode sorogan dapat dilakukan dengan cara, guru membaca, santri
membaca dan guru mendengarkan. Dapat pula, guru membaca atau
membetulkan bacaan, dan santri menirukan bacaan [Link] anak
belum atau tidak lancar dalam membacanya, seorang guru tidak boleh
menaikkan kebacaan berikutnya, guru harus membimbung dengan
memberikan nasehat dan motivasi sampai akhirnya santri bisa membaca
dengan baik dan benar.
16
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, cet.
1, h. 50
23
Pembelajaran dengan metode sorogan membutuhkan keaktivan
santri, karena sebelum membacakan kitab dihadapan guru/ustadz, santri
harus mempersiapkan diri untuk belajar terlebih dahulu. Semakin aktif
mengikuti pembelajaran dengan metode sorogan, santri akan semakin
cepat pula menguasai materi yang didapat.
Zamakhsyari Dhofier, berpendapat bahwa Metode Sorogan ini
merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan
Islam tradisonal, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan,
dan disipiln pribadi santri.17
Dari uraian di atas maka dapat disebutkan peranan metode sorogan
dalam pengajian kitab kuning antara lain :
a. Sebagai dasar bagi santri untuk memperluas pengetahuan sendiri.
b. Penunjang belajar dalam sistem klasikal.
c. Memberi kebebasan kepada santri untuk mengikuti pelajran menurut
prakarsa dan perhitungan sendiri.
Teknik penyampaian materi dalam metode sorogan adalah
sekelompok santri satu persatu secara bergantian menghadap kyai, mereka
masing-masing membawa kitab yang akan dipelajari, disodorkan kepada
kyai. Kyai membacakan pelajaran yang berbahasa Arab, kalimat demi
kalimat kemudian menterjemakan dan menerangkan maksudnya, santri
menyimak ataupun ngesahi (memberi harkat dan terjemah) dengan
memberi catatan pada kitabnya, kemudian santri disuru membaca dan
17
Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren :Studi Tantangan Pandang Hidup, LP3ES,
Jakarta, h. 28
24
mengulangi sepersis mungkin seperti yang dilakukan kyainya, serta
mampumenguasainya.
Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi dan membimbing
secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai
pelajarannya.
6. Langkah-Langkah Penerapan Metode Sorogan
a. Kyai atau ustadz mengajar santri seorang demi seorang secara
bergiliran atau bergantian.
b. Santri membawa kitab sendiri-sendiri.
c. Mula-mula kyai membaca kitab yang diajarkan kemudian
menerjemahkan kata demi kata serta maksudnya.
d. Setelah itu santr disuruh baca dan mengulangi seperti apa yang telah
dilakukan kyai sehingga setiap santri harus menguasainya.
7. Kelebihan dan Kelemahan Metode Sorogan
Metode sorogan merupakan salah satu metode pengajaran yang
dapat digunakan oleh seorang guru/ustadz dalam proses pembelajarannya,
seperti halnya metode-metode lain, metode ini juga mempunyai kelebihan
dan kelemahan, yaitu sebagai berikut:
Adapun kebihan-kelebihan metode sorogan adalah sebagai berikut:
a. Terjadi hubungan yang erat dan harmonis antara guru dan murid.
25
b. Memungkinkan bagi seorang guru untuk mengawasi, menilai, dan
membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam
menguasai bahasaArab.
c. Murid mendapatkan penjelasan yang pasti tanpa harus mereka-reka
tentang interpretasi suatu kitab karena karena berhadapan dengan guru
secara langsung yang memungkinkan terjadinya tanyajawab.
d. Guru dapat mengetahui secara pasti kualitas yang telah dicapai
muridnya.
e. Santri yang IQ-nya tinggi kan cepat menyelesaikan pelajaran (kitab),
sedangkan yang IQ-nya rendah ia membutuhkan waktu yang cukup
lama.
Selain ada kelebihan, juga memiliki kelemahan, di antaranya:
a. Tidak efisien karena hanya menghadapi beberapa murid (tidak lebih
dari 5 orang), sehingga kalau menghadapai murid yang banyak metode
ini kurang begitutepat.
b. Membuat murid cepat bosan karena metode ini menuntut kesabaran,
kerajinan, ketaatan dan kedisiplinan.
c. Murid hanya menangkap kesan verbalisme semata terutama mereka
yang tidak mengerti terjemahan dari bahasatertentu.18
C. Kemampuan Membaca
Membaca merupakan sarana yang sangat dibutuhkan oleh manusia.
Membaca bermanfaat dalam memberikan pengalaman, memperluas
18
Armai Arief, Op .cit.,hlm. 153
26
cakrawala, mengaitkan dengan umat yang lampau, menjadikannya mampu
memahami masa sekarang dan merencanakan masa depan.19
Membaca merupakan kemampuan dan keterampilan untuk membuat
suatu penafsiran terhadap bahan yang dibaca. Membaca tidak hanya
menginterpretasikan huruf-huruf, gambar-gambar dan angka-angka saja, akan
tetapi yang lebih luas dari itu adalah kemampuan seseorang untuk dapat
memahami makna dari sesuatu yang dibacanya. Karena itulah membaca
merupakan kegiatan intelektual yang dapat mendatangkan pandangan, sikap,
dan tindakan yang positif.
1. Pengertian Membaca
Kata membaca merupakan kata yang berasal dari kata “baca” yang
berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan
melisankan atau hanya dihayati. Membaca adalah suatu proses yang
dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan
yang hendak disampaikan oleh peneliti melalui media kata-kata atau
bahasa tertulis.20 Dalam bahasa Arab pun kata baca (iqro) merupakan fiil
amr yang artinya kalimat perintah. Dengan kata lain mengandung
perintah untuk melaksanakannya. Sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an
surat Al- Alaq, yangberbunyi:
19
Amal Abdussalam Al-Khalili, Mengembangkan Kreatifitas Anak, (Jakarta: Al-Kautsar,
2005), cet. Ke-I, h. 136.
20
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), Edisi III, h. 83.
27
Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar
(manusia) dengan perantaran [Link] mengajar kepada manusia apa
yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5).21
Ayat di atas menjelaskan bahwa membaca adalah salah satu kunci
untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ayat tersebut mengisyaratkan
untuk membaca, hal tersebut terlihat dari kata yang tertulis secara
[Link] karena itu dengan membaca selain membuat perkembangan
berpikir menjadi luas juga memperkaya diri seseorang untuk
mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebihberkualitas.
Pendidikan Islam merupakan salah satu upaya membentuk
kepribadian seseorang sesuai dengan ajaran Islam, namun
permasalahannya adalah dengan cara bagaimana ajaran yang telah
sempurna dapat dipahami oleh murid, tentunya salah satu cara untuk
memperkuat pemahaman murid tentang ajaran Islam adalah dengan cara
membaca, referensi ajaran Islam yang sebaiknya dibaca serta dipahami
oleh murid adalah kitab kuning.
Kemampuan ialah suatu yang benar-benar dapat dilakukan oleh
seseorang.22 Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai
berbagai bidang studi, karena kemampuan membaca dalam suatu bidang
studi melibatkan berbagai aspek termasuk aspek bahasa dan kaidah-
21
Departemen Agama RI, Al-Qur‟ an dan Terjemahannya, (Bandung: Syaamil al-
Qur’an, 2005), h. 597.
22
Departemen Pendidikan Nasional, Op, cit., h. 707.
28
kaidahnya yang menjadi modal utama dalam penguasaan unutk mampu
membaca kitab kuning.
2. Indikator Membaca Kitab Kuning
Indikator santri dapat dikatakan memiliki kemampuan membaca kitab
kuning adalah sebagai berikut:
a. Ketepatan dalam membaca
Ketepatan dalam membaca kitab kuning didasarkan atas kaidah-kaidah
aturan membaca di antaranya santri mengetahui dan menguasai kaidah-
kaidah nahwiyah atau shorfiyah sebagaimana diutarakan dan
dirumuskan oleh Taufiqul Hakim dalam amsilati.23
b. Pemahaman mendalami isi bacaan
Aktivitas membaca tidaklah hanya sebatas membaca teks tertulis,
melainkan membaca yang disertai dengan memahami teks tertulis
tersebut, baik berupa ide-ide gagasan dan pokok pikiran yang
dikehendaki oleh penulis.
c. Dapat mengungkapkan isi bacaan
Setelah santri mampu membaca dengan tepat, santri diminta untuk
dapat mengungkapkan isi bacaan dengan bahasa [Link]
idealnya adalah mampu membaca kitab kuning disertai juga mampu
mengungkapkan isi bacaan. Untuk mengetahui bahwa santri sudah
23
Taufiqul Hakim, Amtsilati : Metode Praktis Mendalami Al-Qur’an dan Membaca Kitab
Kuning, Al-Falah, Jepara, 2003
29
menguasai apa yang ia baca antara lain dengan membuktikan bahwa
santri tersebut mampu menceritakan apa yang ia baca. Dengan
membaca ia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak
dibandingkan dengan kawan lain yang kurang membaca, membaca
memang modal urtama dalam proses pembelajaran.24
3. Kitab-Kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren Al-Hikmah
WayHalim Bandar Lampung
Kitab kuning yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Way Halim
Kedaton Bandar Lampung dengan menggunkan metode sorogan, yaitu:34
a. Mukhtashor Jiddan karya Syekh Ahmad Zami Dahlan
b. Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumir Al-Hadhroni
c. Al Ajurumiyah
4. Factor-faktor yang mempengaruhi kemahiran membaca kitabkuning
a. Factor Intern (Minat dan Kemampuan)
Menurut Sholih Abdul Aziz adalah minat adalah kesediaan
(kecenderungan) dalam sumber [Link] cenderung
melakukan suatu tindakan.25
24
Qodzi Azizi, Pendidikan Agama Islam Membangun Etika Sosial, Aneka Ilmu,
Semarang, 2003. hlm 155
25
Sholeh Abdul Aziz, At Tarbiyah Wa Al Thuruq Al Tadris, Darul Ma’arif, Mesir,
1979,hlm 206
30
Menurut Ws. Winkel, minat adalah kecenderungan yang agak menetap
dalam subyek merasa tertarik pada sesuatu bidang atau hal tertentu dan
merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.26
Menurut Abdul Rahman Shaleh, minat merupakan factor pendorong
bagi seorang dalam melaksankan usahanya, dengan adanya minat yang
cukup besar akan mendorong sesesorang untuk mencurahkan
perhatiannya. Hal tersebut akan meningkatkan pula seluruh fungsi
jiwanya untuk dipusatkan pada kegiatan yang sedang dilakukannya.
Demikian pula pada kegiatan belajar, maka ia akan merasa bahwa
belajar itu merupakan yang sangat penting atau berarti bagi dirinya
sehingga ia berusaha memusatkan seluruh perhatiannya kepada hal-hal
yang berhubungan dengan kegiatan belajar dan dengan senang hati
akan melakukannya, yang menunjukkan bahwa minat belajar
mempunyai pengaruh aktifitas-aktifitas yang dapat menjaga minat
belajarnya.
Seorang siswa yang memiliki minat dalam belajarnya akan timbul
perhatiannya terhadap pelajaran yang diminatinya. Minat dapat
mempengaruhi kemampuan santri dalam membaca kitab kuning ini
dapat dilihat ketika kyai menerangkan pelajaran kitab kuning ada
beberapa santri yang mainan seperti lempar-lemparan kertas, tidur
ngobrol dengan teman sebelahnya dan kurang memperhatikan materi
apa yang disampaikan oleh kyai.
26
[Link],PsikologiPendidikandanEvaluasiBelajar,BalaiPustaka,Jakarta,1995,hlm
333
31
Maksud minat disini adalah minat belajar santri dalam mempelajari
ilmu-ilmu agama yang telah menjadi materi pelajaran kitab kuning
dengan menggunakan refrensi kitab-kitab klasik khususnya yang ada di
Pondok Pesantren Al-Hikmah Bandar [Link]
kemampuan menurut Najib Kholid Al Amir, kemampuan membaca
ialah sesuatu yang benar-benar dapat dilakukan oleh seseorang, artinya
pada tataran realitas hal itu dapat dilakukan karena latihan-latihan dan
usaha-usaha juga [Link] pada dasarnya kemampuan membaca
kitab kuning yang dimiliki oleh santri menjadi lemah adalah kurangnya
latihan membaca kitab kuning ketika berada dimajelis ataupun didalam
kamar atau kurangnya mudzakarah dengan sesama santri.
b. Factor Ekstern (Lingkungan Pondok Pesantren)
Yaitu kegiatan yang berkaitan dengan manusia, misalnya prilaku guru
dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode sebagai
strategi yang tepat dalam penyampaian materi guna pencapaian
keberhasilan atau kemampuan santri membaca kitab [Link]
ketika guru menerangkan materi memakai bahasa jawa, jadi santri
yang belum bisa bahasa jawa mengalami kesulitan dalam memahami
[Link] pada fasilitasnya seperti alat atau media
pembelajaran.
D. Kitab Kuning
1. Pengertian Kitab Kuning
32
Menurut Amin Haedar Kitab Kuning adalah kitab-kitab berbahasa Arab
tanpa harokat sehingga dinamai kitab gundul, untuk dapat membacanya
santri harus menguasai dulu ilmu alat yaitu Nahwu dan Sharaf.27
Menurut Zubaidi secara harfiah kitab kuning diartikan sebagai buku atau
kitab yang dicetak dengan mempergubakan kertas yang berwana kuning,
sedangkan menurut pengertian istilah kitab kuning adalah kitab atau buku
berbahasa Arab yang membahas ilmu pengetahuan agama Islam seperti
Fiqih, Ushul Fiqih, Akhlak, Tasawuf, Tafsir Al-Qur’an, Ulumul Qur’an,
hadis, Ulmul Hadis dan sebaginya, yang ditulis oleh ulama-ulama salaf
dan digunakan sebagai bahan pengajran utama di Pesantren.28
Dalam khazanah keislaman, khususnya di pesantren tradisional,, istilah
kitab kuning bukanlah suatu hal yang asing. Istilah kitab kuning pada
mulanya diperkenalkan oleh kalangan luar pesantren sekitar dua dasawarsa
yang siladengan nada [Link] pandangan mereka, kitab
kuning dianggap sebagai kitab yang berakar keilmuan rendah, ketinggalan
zaman, dan mejadi salah satu penyebab terjadinya stagnasi berpikir umat.
Namun, kemudian nama kitab kuning diterima secara luas sebagai salah
satu istilah teknis dalam studi kepesantrenan.
Di antara semakin banyak hal yang menarik dari pesantren dan yang tidak
terdapat di lembaga lain adalah mata pelajaran bakunya yang ditekstualkan
pada kitab-kitab salaf (klasikal) yang sekarang ini terintroduksi secara
populer dengan sebutan kitab kuning. Disebut kitab kuning karena
27
M. Amin Hadedar, Masa Depan Pesantren,IRD PRESS, Jakarta, 2004, h. 37
28
Zubaidi, Materi Dasar NU, LP Ma’arif NU Jateng, Semarang, 2002, h. 9
33
memang kitab-kitab itu dicetak di atas kertas berwarna kuning, meskipun
sekarang sudah banyak yang dicetak ulang pada kertas putih.29
Di kalangan pesantren sendiri, di samping istilah Kitab Kuning beredar
juga istilah “kitab klasik”.Bahkan, karena tidak dilengkapi dengan
sandangan (syakal), kitab kuning juga kerap disebut oleh kalangan
pesantren sebagai “kitab gundul”.Dan karena rentang waktu sejarah yang
sangat jauh dari kemunculannya sekarang, tidak sedikit yang menjuluki
kitab kuning sebagai “kitab kuno”.
Pengertian umum beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah
bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan
berbahasa Arab atau berhuruf Arab, sebagai produk pemikiran ulama-
ulama masa lampau yang ditulis dengan format khas pra modern, sebelum
abad ke-17an M. dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning
adalah kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun
menurun menjadi refrence yang dipedomani oleh para ulama Indonesia
sebagai karya tulis yang independent, dan ditulis oleh ulama Indonesia
sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing.
Bangsa Indonesia, menggunakan kata yang berbeda untuk yang ditulis
dalam huruf latin dan buku yang ditulis dalam tulisan Arab. Buku yang
ditulis dalam huruf latin, disebut dengan “buku” sementara itu, buku yang
ditulis dalam tulisan Arab baik itu berbahasa Arab, Melayu, Jawa, Madura
atau lainnya biasa disebut dengan “kitab”.30 Kitab kuning merupakan
29
Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Social, (Yogyakarta: LKiS, 2003), Cet. Ke-II, h. 263.
30
Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning :Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan,
1999), Cet [Link], h. 132.
34
kepustakaan dan pegangan para kyai atau ulama di [Link], kyai
atau ulama dan kitab kuning boleh dikatakan tidak dapat [Link]
kuning meupakan kodifikasi nilai-nilai ajaran agama Islam, sedangkan
kyai atau ulama merupakan personifikasi dari nilai-nilai tersebut.
Kitab-kitab Islam klasik yang lebih popular dengan sebutan “kitab
kuning”.Kitab-kitab ini ditulis oleh ulama-ulama Islam pada zaman
[Link] dan kemahiran seorang santri diukur dari
kemampuannya membaca serta mensyarahkan (menjelaskan) isi kitab-
kitab tersebut. Dari pernyataan di atas, peneliti dapat melihat bahwa kitab
kuning merupakan karya ilmiah para ulama terdahulu yang dibukukan
dengan menggunakan kertas berwarna kuning dan merupakan kodifikasi
nila-nilai keislaman.
2. Sejarah Kitab Kuning
Sejarah mencatat bahwa, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16 M,
sejumlah kitab kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab, bahasa
Melayu maupun bahasa Jawa, sudah beredar dan menjadikan bahan
informasi dan kajian mengenai Islam. Kenyataan ini menunjukan bahwa
karakter dan corak keilmuan yang dicerminkan kitab kuning tidak bisa
dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang, kira-kira
sejak abad sebelum pembakuan kitab kuning di pesantren.
35
Term kitab kuning bukan merupakan istilah untuk kitab kuning yang
kertasnya kuning saja, akan tetapi ia merupakan istilah untuk kitab yang
dikarang oleh para cendikiawan masa silam. Istilah tersebut digunakan
karena mayoritas kitab klasik menggunakan kertas kuning, namun
belakangan ini penerbit-penertbit banyak yang menggunakan kertas putih.
Menurut Van Martin Bruinessen, “kitab kuning yang berkembang di
Indonesia pada dasarnya merupakan hasil pemikiran ulama abad
pertengahan”.31 Kitab kuning ini termasuk ke dalam kurikulum dalam
sistem pesantren, dan identik pada pesantren karena pesantren adalah
lembaga pendidikan yang menjadikan kitab kuning ini menjadi pelajaran
yang sangat utama dan menjadi khas suatu [Link] banyak dari
alumni pesantren yang mahir dalam membaca kitab [Link] sebab itu,
kitab kuning sangatlah penting untuk [Link] hanya untuk alumni
pesantren tetapi di pelajari untuk meningkatkan pengetahuan mengenai
para ulama terdahulu, akidah, hukum Islam dan lainsebagainya.
E. Pondok Pesantren
1. Pengertian Pondok Pesantren
Pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel, tempat
[Link] pondok diartikan juga dengan [Link] demikian,
pondok mengadung makna sebagai tempat tinggal.38 Sedangkan Pesantren
berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan akhiran anyang berarti
tempat tinggal santri. Soegarda Poerbakawatja menjelaskan pesantren asal
31
31Martin Van Bruinessen, Op. cit., h. 37.
36
katanya adalah santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam, sehingga
dengan demikian, pesantren mempunyai arti temapt orang berkumpul
untuk belajar agama Islam.
Manfred Ziemek juga menyebutkan bahwa asal etimologi dari pesantren
adalah pesantrian berarti “tempat santri”. Santri atau murid mendapat
pelajaran dari pemimpin pesantren (kyai). Pelajaran mencakup berbagai
bidang tentang pengetahuanI slam.
Sedangkan menurut Hasbullah Pondok Pesantren adalah lembaga
pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan
dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non klasikal (sistem
bandungan dan sorogan) dimana seorang kiyai mengajar santri santri
berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh ulama-ulama
besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri tinggal dalam pondok
atau asrama dalam pesantren tersebut.32
Abdurrahman Wahid mengemukakan bahwa pesantren merupakan
institusi pendidikan religo-tradisonal Islam, yang memilki akar sejarah
bukan saja di Indonesia akan tetapi juga di Asia Tenggara walaupun
dengan istilah yang bervariasi, didaerah Aceh misalnya pesantren biasa
disebut sebagai Rangkang.
Pondok Pesantren adalah sebenarnya pemilik dan dalam kekuasaan kyai di
satu sisi, di sisi lain seluruh milik kyai tersebut, bahkan juga hampir
seluruh hidup, waktu dan ilmu seorang kyai diabadikan untuk kepentingan
umum, khususnya dibidang pendidikan.
32
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, [Link], hlm 40
37
Sedangkan Pondok Pesantren Al-Hikmah adalah Pondok Pesantren yang
menyelenggarakan pengajaran Al-Qur’an kitab kuning dan ilmu-ilmu
agama Islam yang kegiatan pendidikan dan pengajarannya sebagaimana
ynag berlangsung sejak awal pertumbuhannya pembelajaran (pendidikan
dan pengajaran) yang ada di pondok pesantren ini, dan dapat
diselenggarakan dengan cara non-klasikal atau klasikal dan dipondok ini
juga dapat meningkat dengan membuat kurikulum sendiri, dalam arti
kurikulum ala pondok pesantren yang bersangkutan yang disusun sendiri
berdasarkan cirikhas yang dimiliki oleh pondok pesantren.
2. Karakteristik Pondok Pesantren
Karakteristik Pesantren secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Pondok Pesantren tidak menggunakan batasan umur bagi santri-santri
b. Sebagai sentral peribadatan dan pendidikanIslam
c. Pengajaran kitab-kitab Islamklasik
d. Santri sebagai peserta didik,dan
e. Kyai sebagai pemimpin dan pengajaran di pesantren.33
3. Elemen-Elemen Pondok Pesantren
a. Pondok
33
Hasan Basri, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm230-
231
38
Sebuah pesantren pada dasarnya merupakan sebuah asarama
pendidikan Islam tradisonal dimana para santri tinggal dan belajar
dibawah bimbingan seorang guru yang lebih dikenal dengan sebutan
“kyai”.Asrama tersebut berada dalam lingkungan Pesantren dimana
kyai bertempat [Link] Pesantren ini biasanya dikelilingi
dengan tembok untuk mengawasi keluar dan masuknya para santri
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
b. Masjid
Masjid merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dan dianggap
sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama
praktek sholat lima waktu, khutbah, dan pengajaran kitab kuning
maupun Al-Qur’an.
Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi Pesantren
merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan islam
tradisional. Dengam kata lain kesinambungan sistem pendidikan yang
berpusat pada masjid Al-Qubba yang didirikan dekat madinah pada
masa Nabi Muhammad SAW, tetap terpancar dari sistem pesantren.
Sejak zaman Nabi, masjid telah dijadikan tempat pendidikan islam.
Dimanapun kaum muslimin berada, mereka senantiasa menggunakan
masjid sebagai tempat [Link] pendidikan dan cultural.
c. Pengajaran Kitab Kuning
Pada masa lalu, pengajaran Kitab Kuning karya ulama penganut faham
syafi’iyyah, merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan
39
dalam lingkungan [Link] untuk mempersiapkan kader-
kader ulama.
Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat
diklasifikasikan menjadi 8 kelompok , yaitu: 1) Nahwu dan Shorof, 2)
Fiqih 3)Usul Fiqih, 4) Hadits, 5) Tafsir, 6) Tauhid, 7) Tasawuf dan
etika, 8) cabang-cabang lain sperti tarikh atau balaghah. Kitab-kitab
tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang terdiri dari
berjilid-jilid tebal mengenai hadits, tafsir, fiqih, ushul fiqih, tasawuf
dan etika.
d. Santri
Menurut pengertian yang dipakai dilingkungan pesantren, seorang alim
hanya bisa dikatakan kyai bilamana memiliki pesantren dan santri yang
tinggal didalamnya untuk memepelajari kitab-kitab klasik.
Menurut tradisi pesantren, snatri dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu santri mukim dan santri [Link] mukim adalah murid-murid
yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap pada kompleks
[Link] santri kalong adalah murid-murid yang berasal dari
desa disekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren
untuk mengikuti pelajaran di pesantren, mereka dari rumah masing-
masing.
e. Kyai
Kyai atau pengasuh pondok merupakan elemen yang sangat esensial bagi
suatu [Link]-rata pesantrren yang berkembang di jawa dan
40
Madura sosok kyai begitu sangat berpengaruh, kharismatik dan
berwibawa, sehingga sangat disegani oleh masyarakat dilingkungan
pesantren. Karena itu, kyai pondok pesantren biasanya juga sekaligus
sebagai penggagas dari pendiri dari pesantren yang [Link]
karenanya, sangat wajar jika dalam pertumbuhannya, pesantren sangat
bergantung pada peran seorang kyai.