0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan30 halaman

Efektivitas Metode Sorogan di Pesantren

Dokumen ini membahas efektivitas dan metode sorogan dalam pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kedaton Bandar Lampung. Efektivitas diukur dari pencapaian tujuan belajar, sedangkan metode sorogan adalah cara pembelajaran individual yang memungkinkan santri belajar langsung di depan guru. Metode ini dianggap efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dengan fokus pada gramatika bahasa Arab.

Diunggah oleh

Apri Wales
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan30 halaman

Efektivitas Metode Sorogan di Pesantren

Dokumen ini membahas efektivitas dan metode sorogan dalam pembelajaran di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kedaton Bandar Lampung. Efektivitas diukur dari pencapaian tujuan belajar, sedangkan metode sorogan adalah cara pembelajaran individual yang memungkinkan santri belajar langsung di depan guru. Metode ini dianggap efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning dengan fokus pada gramatika bahasa Arab.

Diunggah oleh

Apri Wales
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Efektivitas

1. Pengertian Efektivitas

Efektivitas, dalam Kamus Bahasa Indonesia. Efektivitas adalah

ada efeknya, ada akibatnya, ada hasilnya, tepat guna. 1 Efektivitas adalah

adanya kesesuaian antara yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang

dituju. Efektivitas adalah menunjukkan seberapa jauh tingkat pencapaian suatu

tujuan atau target dengan rencana yang telah disusun baik dari kualitas,

kuantitas, maupun waktu.2

Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikemukakan bahwa efektivitas

adalah berkaitan dengan terlaksanakannya semua tugas pokok, tercapainya

tujuan ketepatan waktu, dan adanya partisispasi aktif dari anggota.

Efektivitas dapat dilihat dari pencapaian tujuan (hasil) yang

dikehendaki, baik kualitas maupun kuantitas. Adapun yang dimaksud

efektivitas disini adalah tingkat keberhasilan yang dicapai sehubungan dengan

penerapan metode sorogan dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab

kuning di Pondok Pesantren Al-Hikmah Kedaton Bandar Lampung.

1
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1990) h.172
2
E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi, Implementasi, (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2007), h. 82
12

2. Ukuran Efektivitas

Efektivitas berarti menunjukan taraf tercapainya tujuan, usaha

dapat dikatakan efektif apabila usaha itu dapat mencapai tujuan yang

diinginkan. Drs. Mudhofir mengatakan bahwa ukuran efektivitas dapat diukur

dari beberapa jumlah siswa yang berhasil mencapai tujuan belajar dalam

waktu yang telah ditentukan.3 Adapun konsep penilaian yang penulis tetapkan

adalah:

a. Kemampuan Membaca Kitab Kuning

Pengukuran kemampuan santri dalam membaca Kitab Kuning pada waktu

diadakan tes membaca. Adapun yang dinilai adalah tentang ketepatan

dalam membaca, kepemahaman mendalam isi, dan dapat mengungkapkan

isi bacaan. Kriteria penilaian penulis menggunakan angka, yaitu:

1) 80-90 : Bagus

2) 70-80 : Cuukup Bagus

3) 60-70 : Kurang Bagus

B. Metode Sorogan

1. Pengertian Metode

Sebagai salah satu komponen pengajaran, metode menempati

peranan yang tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan

belajar [Link] ada satu pun kegiatan belajar mengajar yang

tidakmenggunakan metodepengajaran.4
3
Mudhofir, Teknologi Instruksi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1987), h. 164.
4
Syaiful Bahri Djamarah, Stategi Belajar Mengajar (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010),
h.72-73.
13

Peranan metode pendidikan berasal dari kenyataan yang menunjukan

bahwa materi kurikulum Islam diajarkan, melainkan diberikan dengan cara

khusus. Ketidak tepatan dalam penerapan metode ini kiranaya akan

menghambat proses belajar mengajar yang akan berakibat membuang waktu

dan tenaga yang yang tidak perlu.5

Untuk mencapai maksud dan tujuan pembelajaran yang maksimal

diperlukan cara penyampaian yang baik, yang biasa disebut metode mengajar. 6

Secara etimologi istilah metode berasal dari bahasa Yunani “Metodos” kata ini

terdiri dari dua suku kata: yaitu “metha” yan berarti, melalui atau melewati dan

“hodos” yang berarti jalan atau cara. Metode berarti suatu jalan yang dilalui

untuk mencapai tujuan.7

Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan

rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah

disusun tercapai secara optimal. Ini berarti, metode digunakan untuk

merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam

rangkaian sistem pembelajaran memegang peran yang sangat penting. 8 Allah

sendiri telah mengajarkan kepada manusia supaya mementingkan metode.

Berkenaan dengan metode, Al-Qur’an telah memberi petunjuk mengenai

metode pendidikan secara umum yaitu terdapat dalam surat An-Nahl ayat 125:

5
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an
(Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994), h. 197.21
6
Armai Arief, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h. 40.
7
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan
(Jakarta: Kencana Prenanada Media Grup, 2006), h.147.
14

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan

pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang

tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang

yang mendapat petunjuk.”8

Ayat di atas menyuruh supaya manusia dalam menyampaikan ajaran

Tuhan, dengan cara-cara yang bijaksana, sesuai antara bahan dan orang yang

akan menerimanya dengan mempergunakan faktor-faktor yang akan dapat

membantu supaya ajarannya itu dapat diterima.9

Metode pendidikan membicarakan cara-cara yang ditempuh guru untuk

memudahkan murid memperoleh ilmu pengetahuan, menumbuhkan

pengetahuan kedalam ciri penutut ilmu, dan menerapkannya dalam

kehidupan.10

2. Macam-Macam Metode Pembelajaran

Dalam kegiatan pembelajaran, terdapat berbagai macam metode yang

dapat digunakan oleh seorang guru. Metode-metode itu biasa digunakan di

lingkungan sekolah, madrasah, maupun pesantren. Beberapa metode

pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran di pondok pesantren

yaitu:

a. Hafalan (Tahfiz)

8
Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro) 2006, h.
9
Muhammad Zein, Methodologi Pengajaran Agama, (Yogyakarta: Ak Group, 1995), h.
11
10
M. Dian Nafi’, et al., Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakaarta: Insite for
Training and Development (ITD)), h. 66.
15

Sebagai sebuah metodologi pengajaran, hafalan pada umunya

diterapkan pada mata pelajaran yang bersifat nadham (syair), bukan

natsar (prosa); dan itupun pada umumnya terbatas pada ilmu kaidah

bahasa arab, seperti Nadhm Al-‘Imrithi, Afiyyah Ibn Malik, Nadhm Al-

Maqsud, Nadhm Jawahir Al- Maknun, dan sebagainya. Namun

demikian, ada juga beberapa kitab prosa (natsar) yang dijadikan

sebagai bahan hafalan melalui sistem pengajaran hafalan. Dalam

metodologi ini, biasanya santri diberi tugas untuk menghafal beberapa

bait atau baris kalimat dari sebuah kitab, untuk kemudian

membacakannya di depan sanga kyai/ustadz.

b. Hiwar atau Musyawarah

Berbeda dengan hiwar dalam dunia pesantren yang mengedepankan

penguasaan bahasa sebagai alat komunikasi, hiwar dalam pesantren

salafiyah identik dengan musyawarah.

c. Metode Bahtsul Masa’il (Mudzakaroh)

Mudzakarah atau Batshul Masa’il merupakan pertemuan ilmiah untuk

membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah, dan

permasalahan-permasalahan agama lainnya. Metode ini sesungguhnya

tidak jauh berbeda dengan metode musyawarah. Bedanya, sebagai

sebuah metodologi mudzkaroh pada umumnya hanya diikuti oleh para

kiyai atau para santri tingkat tinggi.

d. Fathul Kutub
16

Fathul Kutub merupakan kegiatan latihan membaca kitab (terutama

kitab klasik) yang pada umumnya ditugaskan kepada santri senior di

pondok pesantren. Sebagai sebuah metode, Fathul Kutub bertujuan

menguji kemampuan mereka dalam membaca kitab kuning,

khususnya setelah mereka berhasil menyelesaikan mata pelajaran

kaidah bahasa arab. Dengan kata lain Fathul Kutub merupakan warna

aktualisasi kemampuan para santri, khususnya dalam penguasaan ilmu

kaidah bahasa arab, di samping disiplin ilmu keagamaan lainnya

sesuai dengan materi kitab yang ditugaskan untuk dibaca, baik itu

akidah, fiqh, hadis, tafsir, tasawwuf, dan lain sebagainya. Sejalan

dengan itu, metode Fathul Kutub biasanya dikhususkan bagi santri

senior yang akan menyelesaikan pendidikannya di sebuah Pondok

Pesantren.

e. Muqoronah

Muqoronah adalah sebuah metode yang terfokus pada kegiatan

perbandingan, baik perbandingan materi, paham (madzhab), metode,

maupun perbandingan kitab. Oleh karena sifatnya yang

membandingkan, pada umumnya metode ini juga hanya diterapkan

pada kelas-kelas santri senior saja. Dan dalam perkembangannya,

metode ini kemudian terfragmentasi ke dalam dua hal, yaitu

muqoronatul adyan untuk perbandingan ajaran-ajaran agama dan

muqoronatul madzahib untuk perbandingan paham atau aliran.


17

f. Muhawaroh atau Muhadatsah

Muhawaroh merupakan bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa

Arab. Metode inilah yang kemudian dalam pesantren “modern”

dikenal sebagai metode hiwar.

g. Sorogan

Sorogan merupakan metode pembelajaran yang diterapkan di

pesantren hingga kini, dimana santri menyodorkan materi (kitab) yang

ingin dipelajarinya sehingga mendapatkan bimbingan secara

individual atau secara khusus.11

3. Metode Sorogan

Metode pembelajaran yang dikalangan pesantren salaf adalah metode

sorogan, metode sorogan ini mengharuskan santri (peserta didik) untuk

belajar sendiri atau belajar dengan temannya dan sistem belajar sorogan

membentuk peserta didik untuk tidak bergantung pada teman, karena

sistem pembelajarannya langsungdipraktekkan di depan kiyai

(ustadz/guru). Metode sorogan juga dikenal dengan istilah independent

learning, pembelajaran menggunakan metode sorogan adalah

memfokuskan pada belajar mandiri peserta didik/pembelajaran individu.12

Menurut Wahyu Utomo, Metode Sorogan adalah sebuah sistem belajar

dimana para santri maju persatu untuk membaca dan menguraikan isi kitab

dihadapan seorang guru atau kyai. Zamakhsyari Dhofir menjelaskan

11
Ismail Baharudin, “Pesantren Dan Bahasa Arab”. Jurnal Thariqah Ilmiah, Vol.01, No.
01 (Januari 2014), h. 21-23
12
Ahmat Wakit, “Efektivitas Metode Sorogan Berbantuan Tutor Sebaya Terhadap
Pemahaman Konsep Matematika”. JES-MAT, Vol. 2 No. 1 (Maret 2016), h. 2
18

bahwa metode Sorogan ialah seorang murid mendatangi guru yang akan

membacakan beberapa baris Al-Qur’an atau kitab-kitab bahasa Arab dan

menerjemahkan kata demi kata ke dalam bahasa tertentu yang pada

gilirannnya murid mengulangi dan menerjemahkan kata perkata sepersis

mungkin seperti yang dilakukan gurunya.

Oleh karena itu inti dari metode ini adalah berlangsungnya proses

belajar mengajar (PBM) secara fest to fest, antara guru dan murid. Metode

ini pada zaman Rasulullah dan para Sahabat dikenal dengan metode

belajar Kuttab.14 Sorogan berasal dari bahasa Arab Shoro dan

[Link] yang berarti jadi dan Ghodan yang berarti

[Link] lain mengatakan Sorogan, berasal dari kata sorog

(bahasa jawa), yang berarti [Link] santri menyodorkan

kitabnya di hadapan kyai atau pembantunya (badal, asisten kyai).13

Metode sorogan adalah semacam metode CBSA (Cara Belajar

Siswa Aktif) santri aktif memilih kitab kuning yang akan dibaca,

kemudian membaca dan menerjemahkannya di hadapan kyai, sementara

itu kyai mendengarkan bacaan kyaimendengarkan bacaan santrinya, dan

mengoreksi bacaan atu terjemahannya jika diperlukan. Selain itu untuk

kemampuan kognitifnya, metode belajar aktif ini juga efektif untuk

melihat kompetensi psokomotorik [Link] dalam membaca dan

menerjemahkan kitab para santri diharapkan dapat menerapkan ilmu alat,

13
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pres, Jakarta,
2002, hlm 150-151
19

seperti nahwu (gramatika Bahasa Arab), shorof (Morfologi) dan lain-lain,

yang selama ini mereka pelajari secara teoritis.

Metode sorogan merupakan metode andalan dan hingga saat ini

masih dipergunakan di lingkungan pesantren untuk menyampaikan materi

yang diberikan ustadz atau kyai kepada [Link] sorogan

merupakan salah satu metode tradisional dalam pelajaran yang masih

diterapkan di pondok-pondok pesantren di Indonesia.

Sorogan artinya belajar secara individu dimana seorang santri

berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenali

diantara keduanya, sedangkan menurut Wahyu Utomo dalam bukunya

Armai Arief metode sorogan adalah sebuah sistem belajar dimana para

santri maju satu persatu untuk membaca dan menguraikan kitab di

hadapan seorang guru atau kyai.

Pembelajaran dengan sistem sorogan biasanya diselenggarakan

Pada ruang tertentu. Ada tempat duduk kyai atau ustadz, di depannya ada

meja pendek untuk meletakkan kitab bagi santri yang menghadap. Santri-

santri lain, baik yang mengaji kitab yang sama ataupun berbeda, duduk

agak jauh sambil mendengarkan apa yang diajarkan oleh kyai atau ustadz

sekaligus mempersiapkan diri menunggu gilirannya dipanggil.

Metode pembelajaran ini termasuk metode pembelajaran yang

sangat bermakna, karena santri akan merasakan hubungan yang khusus

ketika berlangsung kegiatan pembacaan kitab di hadapan kyai. Mereka


20

tidak hanya senantiasa dapat dibimbing dan diarahkan cara membacanya,

tetapi dapat dievaluasi perkembangan kemampuannya.

Maksud dari model pembelajaran metode sorogan dalam penelitian

ini adalah memberikan materi kitab tertentu kepada setiap santri untuk

dikaji serta dipelajari kemudian menjelaskan setiap babnya dengan

menghafal, memaknai, dan mensyarahkan maksusd kandungan

[Link] ditemukan kesalahan dalam membaca dan kandungan artinya

maka ustadz atau kyai membetulkannya.

Metode sorogan dipandang salah satu metode yang efektif untuk

mengembangkan kemahiran membaca kitab kuning, karena penerapan

metode ini didasarkan pada tujuan pengajaran pembacaan tulisan arab

yang tanpa harakat, dengan menitik beratkankan gramatika bahasa arab,

seperti nahwu, sharaf, dan mufradatnya.

4. Dasar dan Tujuan

Pengajaran individual merupakan cara penyampaian materi yang

didasari atas peristiwa yang terjadi ketika Rasulullah saw ataupun Nabi

lainnya menerima ajaran dari Allah SWT. Melalui malaikat Jibril, mereka

langsung bertemu satu persatu, yaitu antara malaikat Jibril dan para nabi

tersebut. Sehingga Rasulullah bersabda:“Tuhanku telah mendidikku

dengan sebaik-baiknya didikan.11 Berdasarkan hal tersebut, kemudian

Rasul mempraktikan pendidikan seperti itu bersama sahabat-sahabatnya


21

dalammenyampaikan dakwah Islam.14 Pada jaman Rasulullah saw dan para

sahabat, pengajaran individual dikenal dengan metode belajar

kuttab,sampai muncul istilah sorogan yang dijadikan sebagai salah satu

metode pengajaran di pondok pesantren.

Metode sorogan merupakan konsekuensi logis dari layanan yang

sebesar-besarnya pada santri. Berbagai usaha pembaharuan dewasa ini

dilakukan justru mengarah pada layanan secara individual kepada peserta

didik. Metode sorogan justru mengutamakan kematangan dan perhatian

serta kecakapan seseorang.15 Karena melihat tujuan metode sorogan sendiri

adalah untuk mengarahkan anak didik pada pemahaman materi pokok dan

juga tujuan kedekatan Relasi anak didik dan guru.

Di samping itu dengan metode sorogan seorang guru dapat

memanfaatkannya untuk menyelami gejolak jiwa atau problem-problem

yang dihadapi masing-masing santrinya, terutama yang berpotensi

mengganggu proses penyerapan pengetahuan mereka. Kemudian dari

penyelaman ini guru dapat memilih strategi apa yang diperlukan untuk

memberikan solusi bagi santrinya.

5. Teknik Penerapan Metode Sorogan

Dalam penerapan metode sorogan terdapat pembelajaran secara

individual, interaksi pembelajaran, bimbingan pembelajaran, dan didukung

keaktifan santri. Amin Haedari telah mengutip pendapat Mastuhu bahwa

14
Armai Arif, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
2002), hlm. 151
15
Mujamil Qomar, Pesantren: Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi
Institusi., hlm. 145
22

metode sorogan merupakan metode pengajaran individual yang

dilaksanakan dipesantren. Dalam aplikasinya, metode ini terbagi menjadi 2

cara, sebagai berikut:

a. Santri pemula, mereka mendatangi seorang guru atau ustadz yang akan

membacakan kitabtertentu

b. Santri senior, mereka mendatangi seorang guru atau ustadz, supaya

ustadz tersebut mendengarkan sekaligus memberikan koreksi terhadap

bacaan kitab mereka.

Hasbullah menjelaskan bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan

metode sorogan, santri banyak datang bersama, kemudian merka antri

menunggu giliran masing-masing.16 Dengan sistem pengajaran metode

sorogan ini hubungan antara ustadz dengan santri bisa menjadi lebih dekat,

sebab ustadz dapat mengenal kemampuan santri baik kognitif mapun

pribadi mereka secara satupersatu. Interaksi bimbingan pembelajaran pada

metode sorogan dapat dilakukan dengan cara, guru membaca, santri

membaca dan guru mendengarkan. Dapat pula, guru membaca atau

membetulkan bacaan, dan santri menirukan bacaan [Link] anak

belum atau tidak lancar dalam membacanya, seorang guru tidak boleh

menaikkan kebacaan berikutnya, guru harus membimbung dengan

memberikan nasehat dan motivasi sampai akhirnya santri bisa membaca

dengan baik dan benar.

16
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996, cet.
1, h. 50
23

Pembelajaran dengan metode sorogan membutuhkan keaktivan

santri, karena sebelum membacakan kitab dihadapan guru/ustadz, santri

harus mempersiapkan diri untuk belajar terlebih dahulu. Semakin aktif

mengikuti pembelajaran dengan metode sorogan, santri akan semakin

cepat pula menguasai materi yang didapat.

Zamakhsyari Dhofier, berpendapat bahwa Metode Sorogan ini

merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan

Islam tradisonal, sebab sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan,

dan disipiln pribadi santri.17

Dari uraian di atas maka dapat disebutkan peranan metode sorogan

dalam pengajian kitab kuning antara lain :

a. Sebagai dasar bagi santri untuk memperluas pengetahuan sendiri.

b. Penunjang belajar dalam sistem klasikal.

c. Memberi kebebasan kepada santri untuk mengikuti pelajran menurut

prakarsa dan perhitungan sendiri.

Teknik penyampaian materi dalam metode sorogan adalah

sekelompok santri satu persatu secara bergantian menghadap kyai, mereka

masing-masing membawa kitab yang akan dipelajari, disodorkan kepada

kyai. Kyai membacakan pelajaran yang berbahasa Arab, kalimat demi

kalimat kemudian menterjemakan dan menerangkan maksudnya, santri

menyimak ataupun ngesahi (memberi harkat dan terjemah) dengan

memberi catatan pada kitabnya, kemudian santri disuru membaca dan

17
Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren :Studi Tantangan Pandang Hidup, LP3ES,
Jakarta, h. 28
24

mengulangi sepersis mungkin seperti yang dilakukan kyainya, serta

mampumenguasainya.

Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi dan membimbing

secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai

pelajarannya.

6. Langkah-Langkah Penerapan Metode Sorogan

a. Kyai atau ustadz mengajar santri seorang demi seorang secara

bergiliran atau bergantian.

b. Santri membawa kitab sendiri-sendiri.

c. Mula-mula kyai membaca kitab yang diajarkan kemudian

menerjemahkan kata demi kata serta maksudnya.

d. Setelah itu santr disuruh baca dan mengulangi seperti apa yang telah

dilakukan kyai sehingga setiap santri harus menguasainya.

7. Kelebihan dan Kelemahan Metode Sorogan

Metode sorogan merupakan salah satu metode pengajaran yang

dapat digunakan oleh seorang guru/ustadz dalam proses pembelajarannya,

seperti halnya metode-metode lain, metode ini juga mempunyai kelebihan

dan kelemahan, yaitu sebagai berikut:

Adapun kebihan-kelebihan metode sorogan adalah sebagai berikut:

a. Terjadi hubungan yang erat dan harmonis antara guru dan murid.
25

b. Memungkinkan bagi seorang guru untuk mengawasi, menilai, dan

membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam

menguasai bahasaArab.

c. Murid mendapatkan penjelasan yang pasti tanpa harus mereka-reka

tentang interpretasi suatu kitab karena karena berhadapan dengan guru

secara langsung yang memungkinkan terjadinya tanyajawab.

d. Guru dapat mengetahui secara pasti kualitas yang telah dicapai

muridnya.

e. Santri yang IQ-nya tinggi kan cepat menyelesaikan pelajaran (kitab),

sedangkan yang IQ-nya rendah ia membutuhkan waktu yang cukup

lama.

Selain ada kelebihan, juga memiliki kelemahan, di antaranya:

a. Tidak efisien karena hanya menghadapi beberapa murid (tidak lebih

dari 5 orang), sehingga kalau menghadapai murid yang banyak metode

ini kurang begitutepat.

b. Membuat murid cepat bosan karena metode ini menuntut kesabaran,

kerajinan, ketaatan dan kedisiplinan.

c. Murid hanya menangkap kesan verbalisme semata terutama mereka

yang tidak mengerti terjemahan dari bahasatertentu.18

C. Kemampuan Membaca

Membaca merupakan sarana yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Membaca bermanfaat dalam memberikan pengalaman, memperluas


18
Armai Arief, Op .cit.,hlm. 153
26

cakrawala, mengaitkan dengan umat yang lampau, menjadikannya mampu

memahami masa sekarang dan merencanakan masa depan.19

Membaca merupakan kemampuan dan keterampilan untuk membuat

suatu penafsiran terhadap bahan yang dibaca. Membaca tidak hanya

menginterpretasikan huruf-huruf, gambar-gambar dan angka-angka saja, akan

tetapi yang lebih luas dari itu adalah kemampuan seseorang untuk dapat

memahami makna dari sesuatu yang dibacanya. Karena itulah membaca

merupakan kegiatan intelektual yang dapat mendatangkan pandangan, sikap,

dan tindakan yang positif.

1. Pengertian Membaca

Kata membaca merupakan kata yang berasal dari kata “baca” yang

berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis dengan

melisankan atau hanya dihayati. Membaca adalah suatu proses yang

dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan

yang hendak disampaikan oleh peneliti melalui media kata-kata atau

bahasa tertulis.20 Dalam bahasa Arab pun kata baca (iqro) merupakan fiil

amr yang artinya kalimat perintah. Dengan kata lain mengandung

perintah untuk melaksanakannya. Sebagaimana dalam ayat Al-Qur’an

surat Al- Alaq, yangberbunyi:

19
Amal Abdussalam Al-Khalili, Mengembangkan Kreatifitas Anak, (Jakarta: Al-Kautsar,
2005), cet. Ke-I, h. 136.
20
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2005), Edisi III, h. 83.
27

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang

Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar

(manusia) dengan perantaran [Link] mengajar kepada manusia apa

yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5).21

Ayat di atas menjelaskan bahwa membaca adalah salah satu kunci

untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ayat tersebut mengisyaratkan

untuk membaca, hal tersebut terlihat dari kata yang tertulis secara

[Link] karena itu dengan membaca selain membuat perkembangan

berpikir menjadi luas juga memperkaya diri seseorang untuk

mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebihberkualitas.

Pendidikan Islam merupakan salah satu upaya membentuk

kepribadian seseorang sesuai dengan ajaran Islam, namun

permasalahannya adalah dengan cara bagaimana ajaran yang telah

sempurna dapat dipahami oleh murid, tentunya salah satu cara untuk

memperkuat pemahaman murid tentang ajaran Islam adalah dengan cara

membaca, referensi ajaran Islam yang sebaiknya dibaca serta dipahami

oleh murid adalah kitab kuning.

Kemampuan ialah suatu yang benar-benar dapat dilakukan oleh

seseorang.22 Kemampuan membaca merupakan dasar untuk menguasai

berbagai bidang studi, karena kemampuan membaca dalam suatu bidang

studi melibatkan berbagai aspek termasuk aspek bahasa dan kaidah-


21
Departemen Agama RI, Al-Qur‟ an dan Terjemahannya, (Bandung: Syaamil al-
Qur’an, 2005), h. 597.
22
Departemen Pendidikan Nasional, Op, cit., h. 707.
28

kaidahnya yang menjadi modal utama dalam penguasaan unutk mampu

membaca kitab kuning.

2. Indikator Membaca Kitab Kuning

Indikator santri dapat dikatakan memiliki kemampuan membaca kitab

kuning adalah sebagai berikut:

a. Ketepatan dalam membaca

Ketepatan dalam membaca kitab kuning didasarkan atas kaidah-kaidah

aturan membaca di antaranya santri mengetahui dan menguasai kaidah-

kaidah nahwiyah atau shorfiyah sebagaimana diutarakan dan

dirumuskan oleh Taufiqul Hakim dalam amsilati.23

b. Pemahaman mendalami isi bacaan

Aktivitas membaca tidaklah hanya sebatas membaca teks tertulis,

melainkan membaca yang disertai dengan memahami teks tertulis

tersebut, baik berupa ide-ide gagasan dan pokok pikiran yang

dikehendaki oleh penulis.

c. Dapat mengungkapkan isi bacaan

Setelah santri mampu membaca dengan tepat, santri diminta untuk

dapat mengungkapkan isi bacaan dengan bahasa [Link]

idealnya adalah mampu membaca kitab kuning disertai juga mampu

mengungkapkan isi bacaan. Untuk mengetahui bahwa santri sudah

23
Taufiqul Hakim, Amtsilati : Metode Praktis Mendalami Al-Qur’an dan Membaca Kitab
Kuning, Al-Falah, Jepara, 2003
29

menguasai apa yang ia baca antara lain dengan membuktikan bahwa

santri tersebut mampu menceritakan apa yang ia baca. Dengan

membaca ia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak

dibandingkan dengan kawan lain yang kurang membaca, membaca

memang modal urtama dalam proses pembelajaran.24

3. Kitab-Kitab yang dipelajari di Pondok Pesantren Al-Hikmah

WayHalim Bandar Lampung

Kitab kuning yang diajarkan di Pondok Pesantren Al-Hikmah Way Halim

Kedaton Bandar Lampung dengan menggunkan metode sorogan, yaitu:34

a. Mukhtashor Jiddan karya Syekh Ahmad Zami Dahlan

b. Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumir Al-Hadhroni

c. Al Ajurumiyah

4. Factor-faktor yang mempengaruhi kemahiran membaca kitabkuning

a. Factor Intern (Minat dan Kemampuan)

Menurut Sholih Abdul Aziz adalah minat adalah kesediaan

(kecenderungan) dalam sumber [Link] cenderung

melakukan suatu tindakan.25

24
Qodzi Azizi, Pendidikan Agama Islam Membangun Etika Sosial, Aneka Ilmu,
Semarang, 2003. hlm 155
25
Sholeh Abdul Aziz, At Tarbiyah Wa Al Thuruq Al Tadris, Darul Ma’arif, Mesir,
1979,hlm 206
30

Menurut Ws. Winkel, minat adalah kecenderungan yang agak menetap

dalam subyek merasa tertarik pada sesuatu bidang atau hal tertentu dan

merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.26

Menurut Abdul Rahman Shaleh, minat merupakan factor pendorong

bagi seorang dalam melaksankan usahanya, dengan adanya minat yang

cukup besar akan mendorong sesesorang untuk mencurahkan

perhatiannya. Hal tersebut akan meningkatkan pula seluruh fungsi

jiwanya untuk dipusatkan pada kegiatan yang sedang dilakukannya.

Demikian pula pada kegiatan belajar, maka ia akan merasa bahwa

belajar itu merupakan yang sangat penting atau berarti bagi dirinya

sehingga ia berusaha memusatkan seluruh perhatiannya kepada hal-hal

yang berhubungan dengan kegiatan belajar dan dengan senang hati

akan melakukannya, yang menunjukkan bahwa minat belajar

mempunyai pengaruh aktifitas-aktifitas yang dapat menjaga minat

belajarnya.

Seorang siswa yang memiliki minat dalam belajarnya akan timbul

perhatiannya terhadap pelajaran yang diminatinya. Minat dapat

mempengaruhi kemampuan santri dalam membaca kitab kuning ini

dapat dilihat ketika kyai menerangkan pelajaran kitab kuning ada

beberapa santri yang mainan seperti lempar-lemparan kertas, tidur

ngobrol dengan teman sebelahnya dan kurang memperhatikan materi

apa yang disampaikan oleh kyai.

26
[Link],PsikologiPendidikandanEvaluasiBelajar,BalaiPustaka,Jakarta,1995,hlm
333
31

Maksud minat disini adalah minat belajar santri dalam mempelajari

ilmu-ilmu agama yang telah menjadi materi pelajaran kitab kuning

dengan menggunakan refrensi kitab-kitab klasik khususnya yang ada di

Pondok Pesantren Al-Hikmah Bandar [Link]

kemampuan menurut Najib Kholid Al Amir, kemampuan membaca

ialah sesuatu yang benar-benar dapat dilakukan oleh seseorang, artinya

pada tataran realitas hal itu dapat dilakukan karena latihan-latihan dan

usaha-usaha juga [Link] pada dasarnya kemampuan membaca

kitab kuning yang dimiliki oleh santri menjadi lemah adalah kurangnya

latihan membaca kitab kuning ketika berada dimajelis ataupun didalam

kamar atau kurangnya mudzakarah dengan sesama santri.

b. Factor Ekstern (Lingkungan Pondok Pesantren)

Yaitu kegiatan yang berkaitan dengan manusia, misalnya prilaku guru

dalam kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode sebagai

strategi yang tepat dalam penyampaian materi guna pencapaian

keberhasilan atau kemampuan santri membaca kitab [Link]

ketika guru menerangkan materi memakai bahasa jawa, jadi santri

yang belum bisa bahasa jawa mengalami kesulitan dalam memahami

[Link] pada fasilitasnya seperti alat atau media

pembelajaran.

D. Kitab Kuning

1. Pengertian Kitab Kuning


32

Menurut Amin Haedar Kitab Kuning adalah kitab-kitab berbahasa Arab

tanpa harokat sehingga dinamai kitab gundul, untuk dapat membacanya

santri harus menguasai dulu ilmu alat yaitu Nahwu dan Sharaf.27

Menurut Zubaidi secara harfiah kitab kuning diartikan sebagai buku atau

kitab yang dicetak dengan mempergubakan kertas yang berwana kuning,

sedangkan menurut pengertian istilah kitab kuning adalah kitab atau buku

berbahasa Arab yang membahas ilmu pengetahuan agama Islam seperti

Fiqih, Ushul Fiqih, Akhlak, Tasawuf, Tafsir Al-Qur’an, Ulumul Qur’an,

hadis, Ulmul Hadis dan sebaginya, yang ditulis oleh ulama-ulama salaf

dan digunakan sebagai bahan pengajran utama di Pesantren.28

Dalam khazanah keislaman, khususnya di pesantren tradisional,, istilah

kitab kuning bukanlah suatu hal yang asing. Istilah kitab kuning pada

mulanya diperkenalkan oleh kalangan luar pesantren sekitar dua dasawarsa

yang siladengan nada [Link] pandangan mereka, kitab

kuning dianggap sebagai kitab yang berakar keilmuan rendah, ketinggalan

zaman, dan mejadi salah satu penyebab terjadinya stagnasi berpikir umat.

Namun, kemudian nama kitab kuning diterima secara luas sebagai salah

satu istilah teknis dalam studi kepesantrenan.

Di antara semakin banyak hal yang menarik dari pesantren dan yang tidak

terdapat di lembaga lain adalah mata pelajaran bakunya yang ditekstualkan

pada kitab-kitab salaf (klasikal) yang sekarang ini terintroduksi secara

populer dengan sebutan kitab kuning. Disebut kitab kuning karena

27
M. Amin Hadedar, Masa Depan Pesantren,IRD PRESS, Jakarta, 2004, h. 37
28
Zubaidi, Materi Dasar NU, LP Ma’arif NU Jateng, Semarang, 2002, h. 9
33

memang kitab-kitab itu dicetak di atas kertas berwarna kuning, meskipun

sekarang sudah banyak yang dicetak ulang pada kertas putih.29

Di kalangan pesantren sendiri, di samping istilah Kitab Kuning beredar

juga istilah “kitab klasik”.Bahkan, karena tidak dilengkapi dengan

sandangan (syakal), kitab kuning juga kerap disebut oleh kalangan

pesantren sebagai “kitab gundul”.Dan karena rentang waktu sejarah yang

sangat jauh dari kemunculannya sekarang, tidak sedikit yang menjuluki

kitab kuning sebagai “kitab kuno”.

Pengertian umum beredar di kalangan pemerhati masalah pesantren adalah

bahwa kitab kuning selalu dipandang sebagai kitab-kitab keagamaan

berbahasa Arab atau berhuruf Arab, sebagai produk pemikiran ulama-

ulama masa lampau yang ditulis dengan format khas pra modern, sebelum

abad ke-17an M. dalam rumusan yang lebih rinci, definisi kitab kuning

adalah kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun

menurun menjadi refrence yang dipedomani oleh para ulama Indonesia

sebagai karya tulis yang independent, dan ditulis oleh ulama Indonesia

sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing.

Bangsa Indonesia, menggunakan kata yang berbeda untuk yang ditulis

dalam huruf latin dan buku yang ditulis dalam tulisan Arab. Buku yang

ditulis dalam huruf latin, disebut dengan “buku” sementara itu, buku yang

ditulis dalam tulisan Arab baik itu berbahasa Arab, Melayu, Jawa, Madura

atau lainnya biasa disebut dengan “kitab”.30 Kitab kuning merupakan


29
Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Social, (Yogyakarta: LKiS, 2003), Cet. Ke-II, h. 263.
30
Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning :Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan,
1999), Cet [Link], h. 132.
34

kepustakaan dan pegangan para kyai atau ulama di [Link], kyai

atau ulama dan kitab kuning boleh dikatakan tidak dapat [Link]

kuning meupakan kodifikasi nilai-nilai ajaran agama Islam, sedangkan

kyai atau ulama merupakan personifikasi dari nilai-nilai tersebut.

Kitab-kitab Islam klasik yang lebih popular dengan sebutan “kitab

kuning”.Kitab-kitab ini ditulis oleh ulama-ulama Islam pada zaman

[Link] dan kemahiran seorang santri diukur dari

kemampuannya membaca serta mensyarahkan (menjelaskan) isi kitab-

kitab tersebut. Dari pernyataan di atas, peneliti dapat melihat bahwa kitab

kuning merupakan karya ilmiah para ulama terdahulu yang dibukukan

dengan menggunakan kertas berwarna kuning dan merupakan kodifikasi

nila-nilai keislaman.

2. Sejarah Kitab Kuning

Sejarah mencatat bahwa, sekurang-kurangnya sejak abad ke-16 M,

sejumlah kitab kuning, baik dengan menggunakan bahasa Arab, bahasa

Melayu maupun bahasa Jawa, sudah beredar dan menjadikan bahan

informasi dan kajian mengenai Islam. Kenyataan ini menunjukan bahwa

karakter dan corak keilmuan yang dicerminkan kitab kuning tidak bisa

dilepaskan dari tradisi intelektual Islam Nusantara yang panjang, kira-kira

sejak abad sebelum pembakuan kitab kuning di pesantren.


35

Term kitab kuning bukan merupakan istilah untuk kitab kuning yang

kertasnya kuning saja, akan tetapi ia merupakan istilah untuk kitab yang

dikarang oleh para cendikiawan masa silam. Istilah tersebut digunakan

karena mayoritas kitab klasik menggunakan kertas kuning, namun

belakangan ini penerbit-penertbit banyak yang menggunakan kertas putih.

Menurut Van Martin Bruinessen, “kitab kuning yang berkembang di

Indonesia pada dasarnya merupakan hasil pemikiran ulama abad

pertengahan”.31 Kitab kuning ini termasuk ke dalam kurikulum dalam

sistem pesantren, dan identik pada pesantren karena pesantren adalah

lembaga pendidikan yang menjadikan kitab kuning ini menjadi pelajaran

yang sangat utama dan menjadi khas suatu [Link] banyak dari

alumni pesantren yang mahir dalam membaca kitab [Link] sebab itu,

kitab kuning sangatlah penting untuk [Link] hanya untuk alumni

pesantren tetapi di pelajari untuk meningkatkan pengetahuan mengenai

para ulama terdahulu, akidah, hukum Islam dan lainsebagainya.

E. Pondok Pesantren

1. Pengertian Pondok Pesantren

Pondok berasal dari bahasa Arab funduq yang berarti hotel, tempat

[Link] pondok diartikan juga dengan [Link] demikian,

pondok mengadung makna sebagai tempat tinggal.38 Sedangkan Pesantren

berasal dari kata santri, dengan awalan pe dan akhiran anyang berarti

tempat tinggal santri. Soegarda Poerbakawatja menjelaskan pesantren asal


31
31Martin Van Bruinessen, Op. cit., h. 37.
36

katanya adalah santri, yaitu seorang yang belajar agama Islam, sehingga

dengan demikian, pesantren mempunyai arti temapt orang berkumpul

untuk belajar agama Islam.

Manfred Ziemek juga menyebutkan bahwa asal etimologi dari pesantren

adalah pesantrian berarti “tempat santri”. Santri atau murid mendapat

pelajaran dari pemimpin pesantren (kyai). Pelajaran mencakup berbagai

bidang tentang pengetahuanI slam.

Sedangkan menurut Hasbullah Pondok Pesantren adalah lembaga

pendidikan dan pengajaran agama Islam yang pada umumnya pendidikan

dan pengajaran tersebut diberikan dengan cara non klasikal (sistem

bandungan dan sorogan) dimana seorang kiyai mengajar santri santri

berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa arab oleh ulama-ulama

besar sejak abad pertengahan, sedangkan para santri tinggal dalam pondok

atau asrama dalam pesantren tersebut.32

Abdurrahman Wahid mengemukakan bahwa pesantren merupakan

institusi pendidikan religo-tradisonal Islam, yang memilki akar sejarah

bukan saja di Indonesia akan tetapi juga di Asia Tenggara walaupun

dengan istilah yang bervariasi, didaerah Aceh misalnya pesantren biasa

disebut sebagai Rangkang.

Pondok Pesantren adalah sebenarnya pemilik dan dalam kekuasaan kyai di

satu sisi, di sisi lain seluruh milik kyai tersebut, bahkan juga hampir

seluruh hidup, waktu dan ilmu seorang kyai diabadikan untuk kepentingan

umum, khususnya dibidang pendidikan.


32
Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, [Link], hlm 40
37

Sedangkan Pondok Pesantren Al-Hikmah adalah Pondok Pesantren yang

menyelenggarakan pengajaran Al-Qur’an kitab kuning dan ilmu-ilmu

agama Islam yang kegiatan pendidikan dan pengajarannya sebagaimana

ynag berlangsung sejak awal pertumbuhannya pembelajaran (pendidikan

dan pengajaran) yang ada di pondok pesantren ini, dan dapat

diselenggarakan dengan cara non-klasikal atau klasikal dan dipondok ini

juga dapat meningkat dengan membuat kurikulum sendiri, dalam arti

kurikulum ala pondok pesantren yang bersangkutan yang disusun sendiri

berdasarkan cirikhas yang dimiliki oleh pondok pesantren.

2. Karakteristik Pondok Pesantren

Karakteristik Pesantren secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Pondok Pesantren tidak menggunakan batasan umur bagi santri-santri

b. Sebagai sentral peribadatan dan pendidikanIslam

c. Pengajaran kitab-kitab Islamklasik

d. Santri sebagai peserta didik,dan

e. Kyai sebagai pemimpin dan pengajaran di pesantren.33

3. Elemen-Elemen Pondok Pesantren

a. Pondok

33
Hasan Basri, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), Pustaka Setia, Bandung, 2010, hlm230-
231
38

Sebuah pesantren pada dasarnya merupakan sebuah asarama

pendidikan Islam tradisonal dimana para santri tinggal dan belajar

dibawah bimbingan seorang guru yang lebih dikenal dengan sebutan

“kyai”.Asrama tersebut berada dalam lingkungan Pesantren dimana

kyai bertempat [Link] Pesantren ini biasanya dikelilingi

dengan tembok untuk mengawasi keluar dan masuknya para santri

sesuai dengan peraturan yang berlaku.

b. Masjid

Masjid merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dan dianggap

sebagai tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama

praktek sholat lima waktu, khutbah, dan pengajaran kitab kuning

maupun Al-Qur’an.

Kedudukan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi Pesantren

merupakan manifestasi universalisme dari sistem pendidikan islam

tradisional. Dengam kata lain kesinambungan sistem pendidikan yang

berpusat pada masjid Al-Qubba yang didirikan dekat madinah pada

masa Nabi Muhammad SAW, tetap terpancar dari sistem pesantren.

Sejak zaman Nabi, masjid telah dijadikan tempat pendidikan islam.

Dimanapun kaum muslimin berada, mereka senantiasa menggunakan

masjid sebagai tempat [Link] pendidikan dan cultural.

c. Pengajaran Kitab Kuning

Pada masa lalu, pengajaran Kitab Kuning karya ulama penganut faham

syafi’iyyah, merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan


39

dalam lingkungan [Link] untuk mempersiapkan kader-

kader ulama.

Keseluruhan kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dapat

diklasifikasikan menjadi 8 kelompok , yaitu: 1) Nahwu dan Shorof, 2)

Fiqih 3)Usul Fiqih, 4) Hadits, 5) Tafsir, 6) Tauhid, 7) Tasawuf dan

etika, 8) cabang-cabang lain sperti tarikh atau balaghah. Kitab-kitab

tersebut meliputi teks yang sangat pendek sampai teks yang terdiri dari

berjilid-jilid tebal mengenai hadits, tafsir, fiqih, ushul fiqih, tasawuf

dan etika.

d. Santri

Menurut pengertian yang dipakai dilingkungan pesantren, seorang alim

hanya bisa dikatakan kyai bilamana memiliki pesantren dan santri yang

tinggal didalamnya untuk memepelajari kitab-kitab klasik.

Menurut tradisi pesantren, snatri dapat dibedakan menjadi dua macam,

yaitu santri mukim dan santri [Link] mukim adalah murid-murid

yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap pada kompleks

[Link] santri kalong adalah murid-murid yang berasal dari

desa disekeliling pesantren, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren

untuk mengikuti pelajaran di pesantren, mereka dari rumah masing-

masing.

e. Kyai

Kyai atau pengasuh pondok merupakan elemen yang sangat esensial bagi

suatu [Link]-rata pesantrren yang berkembang di jawa dan


40

Madura sosok kyai begitu sangat berpengaruh, kharismatik dan

berwibawa, sehingga sangat disegani oleh masyarakat dilingkungan

pesantren. Karena itu, kyai pondok pesantren biasanya juga sekaligus

sebagai penggagas dari pendiri dari pesantren yang [Link]

karenanya, sangat wajar jika dalam pertumbuhannya, pesantren sangat

bergantung pada peran seorang kyai.

Anda mungkin juga menyukai