0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan3 halaman

GPM: Gereja Profetik Berbuah 2024

PENDALAMAN ALKITAB

Diunggah oleh

Yenny Plalapesy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan3 halaman

GPM: Gereja Profetik Berbuah 2024

PENDALAMAN ALKITAB

Diunggah oleh

Yenny Plalapesy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rumah Olat, 20 Oktober – 25 Oktober 2024 Sidang Ke-45 Majelis Pekerja Lengkap

Sinode GPM

Penelaan Alkitab (PA)


Pdt. Dr. Yohanes Parihala, [Link], M.A.

Tema : Tahun Rahmat Tuhan telah Datang dan Kerjakanlah


Keselamatanmu
Sub Tema : Teguhlah sebagai Gereja yang Profetik untuk terus Berbuah bagi
kehidupan Bersama.
Teks : Lukas 4:16-19

Pengantar
Sub Tema Persidangan MPL tahun ini menggumuli dua hal utama, yakni
teguh sebagai gereja yang profetik dan terus berbuah bagi kehidupan
bersama. Dua hal ini menegaskan identitas sekaligus relevansi GPM dalam
seluruh agenda pelayanannya. Pada PA ini, saya mengajak kita untuk menggali
nutrisi teologi yang menyuburkan refleksi identitas dan relevansi menggereja
kita berangkat dari narasi Injil Lukas 4:16-30.

Memaknai Lukas 4:16-19


Lukas 4:16-30 merupakan sebuah narasi berciri kenabian (prophetic
narrative) (Green 1997, 206). Dalam teks ini, kehadiran Yesus digambarkan
menggenapi visi dan nubuat profetik. Beberapa indikator narasi teks
menunjukkannya. Pertama, kepada Yesus diberikan gulungan (perkamen) kitab
nabi Yesaya, padahal dalam perayaan Sabat, kitab-kitab Taurat (hukum) yang
harus dibaca lebih pertama dan utama (Bdk. Ul. 4; 6). Kedua, Yesus membuka
secara spontan (Yun. apantuxas) dan membaca Yesaya 61:1-2. Tulisan nabi
Yesaya ini, oleh penulis Injil Lukas (4:18-19), telah digenapi dan menubuh
(embodied) di dalam diri Yesus yang dipenuhi Roh Kudus (1:35; 3:22; 4:1, 16)
dan seluruh pelayanan-Nya juga mewujudnyatakan tema utama pemberitaan
profetik, yaitu pembebasan, keadilan, pemulihan, dan keselamatan bagi dunia.
Ketiga, secara eksplisit Yesus menutup gulungan kitab nabi Yesaya dan
menyatakan bahwa “Pada hari ini genaplah nas ini ketika kamu
mendengarkannya” (ayat 21). Keempat, narasi profetik ini juga
menggambarkan Yesus sebagai nabi yang ditolak di negeri dan oleh kaum
sebangsa-Nya sendiri (4:24-27). Dalam bagian lain, Injil Lukas tanpa ragu
melekatkan identitas dan peran profetik itu pada Yesus. Banyak orang takjub
dan memuliakan Allah atas karya Yesus, lalu menyebut-Nya seorang nabi besar
(7:16), juga seorang nabi terdahulu yang telah bangkit (9:8). Bahkan, jalan
penderitaan dan kematian-Nya di salib karena mewartakan kebenaran,
mengkritisi kekuasaan yang menindas dan tidak adil (13:31-35), serta
mengaktakan pembebasan atau keselamatan Allah yang melawat semua orang
(19:28-48), merupakan sebuah akta pengorbanan seorang Nabi yang benar
sekaligus Mesias yang diurapi Allah (23:44-49). Komunitas pengikut Yesus juga
digambarkan sebagai komunitas profetik, yang mempunyai tali-temali atau
hubungan dengan situasi, harapan, dan peran kenabian yang terus dihidupi
(Luk. 6:23; 10:24; 11:47, 49, 50; 13:1-5; 15:31-32; 21:5-19).

Semua indikator di atas memperlihatkan bahwa tradisi profetik masih


menjadi inspirasi dan merupakan suatu imajinasi di dalam pelayanan Yesus,
dan bagi komunitas pengikut Yesus atau komunitas gereja. Dalam studi biblika,
era kenabian dari tradisi PL telah berakhir pasca pembuangan Israel dari
Babelonia (515 S.M). Hagai, Zakhria, dan Maleakhi, adalah nabi-nabi terakhir
dalam tradisi Yudaisme. Pada rentang tahun 515 S.M., sampai dengan tahun
100 M., tradisi kenabian dilanjutkan sebagai sebuah inspirasi atau imajinasi
(prophetic imagination) yang meneguhkan komunitasnya untuk tetap hidup dan
menghidupi karakteristik kenabian dalam menghadapi berbagai situasi
(Kennedy 2022, 191). Walter Brueggemann dalam bukunya the prophetic
imagination menegaskan dua karakteristik kenabian yang hidup dalam
imaginasi komunitas profetik adalah critical dan energizing (kritis dan memberi
energi) untuk menghidupkan kesadaran dan persepsi alternatif terhadap suatu
tatanan dominan yang mengancam kehidupan(Brueggemann 1978, 14).
Jika menelaah Lukas 4:18-19, saya menemukan tiga karakteristik
kenabian yang memberikan inspirasi dan imajinasi untuk merespons tema
pelayanan kita saat ini. Pertama, kehadiran Yesus yang dianggap menggenapi
visi kenabian dalam nubuat Yesaya ditandai dengan penyataan “Roh Tuhan ada
Rumah Olat, 20 Oktober – 25 Oktober 2024 Sidang Ke-45 Majelis Pekerja Lengkap
Sinode GPM

padaku karena Ia telah mengurapi Aku” (Luk 4: 18; Yes. 62:1). Seorang atau
suatu komunitas profetik selalu hidup dipenuhi dan dituntun oleh Roh Kudus
(bdk. 4:1), bahkan ketika berhadapan dengan pencobaan, krisis-kemelut, dan
ancaman sekalipun. Bukankah sebagai gereja, kita juga telah menerima karunia
Roh Kudus itu? (Kis.2). Kedua, menjadi komunitas profetik selalu dicirikan
melalui tugas profektik dalam perkataan dan perbuatan yang membela
kebenaran dan keadilan, menyampaikan kabar baik kepada orang-orang
miskin, membebaskan yang tertindas dan terbelenggu. Ketiga, komunitas
profetik selalu siap sedia menjadi komunitas alternatif dengan kesadaran dan
visi untuk membarui tatanan kehidupan yang menyimpang, terus memberikan
energi yang menggairahkan, dan berbuah bagi kehidupan bersama. Sekalipun
untuk semuanya itu, seorang atau komunitas profetik harus mengalami
penolakkan, namun imajinasi dan nyali profetiknya tetap teguh karena Roh
Kudus yang menginspirasi tetap ada padanya.

Sub Tema GPM kali ini dapat bermakna bahwa GPM tidak hanya
berpegang pada tradisi profektif, tetapi juga terus membangun imajinasi
profetik di dalam identitas komunitasnya untuk terus relevan di tengah
kehidupan bersama. Imajinasi profetik mengarahkan gereja untuk menjauh dari
krisis identitas dan relevansi. Gereja yang terus memiliki imajinasi profetik
adalah gereja yang dipimpin oleh Roh Kudus, terus bernyali untuk
mengarusutamakan perjuangan bagi keadilan dan kebenaran, pembebasan
yang tertindas, dan pemulihan kehidupan, sekaligus siap-sedia menjadi sebuah
komunitas alternatif yang kritis dan kreatif membangun kehidupan bersama.
Imajinasi profetik sebagai daya kritis dan kreatif, dinamis dan visoner,
meneguhkan identitas GPM yang profetik untuk terus berbuah bagi kehidupan.
Pada akhirnya, di dalam sebuah kesadaran sebagai pengikut Kristus yang
meneladani Kristus (imitatio Christi), GPM, seluruh umat dan pelayan,
termasuk seluruh agenda pelayanannya, teruslah menghidupi nyali dan
karakter kenabian yang tidak pernah berhenti menyuarakan kehendak Allah,
dan mengalirkan energi kehidupan bagi seluruh ciptaan.
Pertanyaan PA:

Bagaimana GPM sebagai gereja yang profetik, baik umat dan pelayan
pada seluruh aras pelayanan, mewujudkan imajinasi dan karakter kenabian di
dalam konteks kehidupan bersama saat ini? Apa tugas profetik yang relevan
bagi GPM sesuai dengan keberagaman konteks pelayanannya saat ini?

Referensi
Brueggemann, Walter. 1978. The Prophetic Imagination. Fortress Press.
Green, Joel B. 1997. The New International Commentary of the New Testament:
The Gospel of Luke. Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co.
Kennedy, Jeff Scott. 2022. “Jesus’s Subversive Reading of the Isaian Jubilee:
Luke 4:16–30 in Theological-Historiographical Perspective.” LIBERTY
UNIVERSITY.
Rumah Olat, 20 Oktober – 25 Oktober 2024 Sidang Ke-45 Majelis Pekerja Lengkap
Sinode GPM

Anda mungkin juga menyukai