0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Dampak Pariwisata pada Ekonomi Indonesia

Diunggah oleh

afredi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan27 halaman

Dampak Pariwisata pada Ekonomi Indonesia

Diunggah oleh

afredi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pariwisata Sebagai Penggerak Ekonomi di Indonesia

Dalam literatur, hubungan pariwisata dan pertumbuhan ekonomi dapat


dikonfrontasi melalui dua pendekatan, yaitu : pertama, pendekatan Keynesian
tentang pengganda (multiplier), yang memperlakukan pariwisata internasional
sebagai komponen eksogen dari permintaan agregat yang mempunyai pengaruh
positif terhadap pendapatan, dan karena itu terhadap lapangan kerja melalui proses
multiplier. Namun pendekatan ini banyak menerima kritik karena agak statis dan
tidak memungkinkan untuk menyimpulkan dampak pariwisata dalam jangka
panjang.

Selanjutnya, model pertumbuhan endogen dua sektor Lucas—yang dipromosikan


oleh Lanza dan Pigliaru (1995) dalam Liu et al (2022), digunakan. Dalam model
ini, pariwisata dikaitkan dengan syarat untuk mengoptimalkan laju pertumbuhan.
Spesialisasi pariwisata akan mendorong pertumbuhan jika produktivitas menjadi
komponen utama pertumbuhan dan kemajuan teknologi di industri pariwisata
lebih sedikit dibandingkan industri manufaktur. Ini hanya dapat terjadi ketika nilai
tukar perdagangan antara pariwisata dan barang manufaktur berubah lebih dari
sekedar menyeimbangkan kesenjangan teknologi di industri pariwisata. Kondisi
ini berlaku ketika elastisitas substitusi antara pariwisata dan barang manufaktur
lebih kecil dari satu. Selain itu, hubungan antara rekreasi dan pertumbuhan
ekonomi dianggap bersifat kausalitas berdasarkan teori hubungan perdagangan
dan pertumbuhan.

Terdapat 5 jenis dampak dari pariwisata dengan ekonomi Indonesia :

1. Foreign Exchange Earnings

Perekonomian lokal akan menggeliat sebagai akibat dari pengeluaran sektor


pariwisata, yang pada gilirannya akan mendorong investasi, mendorong
10

pertumbuhan sektor keuangan dan sektor ekonomi lainnya. Bisnis valuta asing
untuk menyediakan layanan dan kemudahan bagi wisatawan selama perjalanan
muncul sebagai hasil dari pengalaman di beberapa negara bahwa kedatangan
wisatawan ke tempat-tempat tertentu memicu pertumbuhan bisnis.

2. Contributions To Government Revenues

Kontribusi pariwisata terhadap pendapatan pemerintah dapat diuraikan menjadi


dua, yakni: kontribusi langsung dan tidak langsung. Kontribusi langsung berasal
dari pajak pendapatan yang dipungut dari para pekerja pariwisata dan pelaku
bisnis pariwisata pada kawasan wisata yang diterima langsung oleh dinas
pendapatan suatu destinasi.

Sedangkan kontribusi tidak langsung pariwisata terhadap pendapatan pemerintah


berasal dari pajak atau bea cukai barang-barang yang di import dan pajak yang
dikenakan kepada wisatawan yang berkunjung.

3. Employment Generation

Pada beberapa negara yang telah mengembangkan sektor pariwisata, terbukti


bahwa sektor pariwisata secara internasional berkontribusi nyata terhadap
penciptaan peluang kerja, penciptaan usaha-usaha terkait pariwisata seperti usaha
akomodasi, restoran, klub, taxi, dan usaha kerajinan seni souvenir.

4. Infrastructure Development

Berkembangnya sektor pariwisata juga dapat mendorong pemerintah lokal untuk


menyediakan infrastruktur yang lebih baik, penyediaan air bersih, listrik,
telekomunikasi, transportasi umum dan fasilitas pendukung lainnya sebagai
konsekuensi logis dan kesemuanya itu dapat meningkatkan kualitas hidup baik
wisatawan dan juga masyarakat local itu sendiri sebagai tuan rumah.

5. Development of Local Economies


11

Pendapatan sektor pariwisata acapkali digunakan untuk mengukur nilai ekonomi


pada suatu kawasan wisata. Sementara ada beberapa pendapatan lokal sangat sulit
untuk dihitung karena tidak semua pengeluaran wisatawan dapat diketahui
dengan jelas seperti misalnya penghasilan para pekerja informal seperti sopir taksi
tidak resmi, pramuwisata tidak resmi, dan lain sebagainya

2.1.1. Pariwisata

Menurut Peraturan Umum Kepariwisataan Republik Indonesia No. 10 Tahun


2009, pariwisata adalah berbagai kegiatan pariwisata beserta fasilitas dan layanan
penunjangnya yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan
pemerintah daerah. Pariwisata adalah serangkaian kegiatan perjalanan yang
dilakukan oleh perorangan atau keluarga atau kelompok dari tempat tinggal
asalnya ke berbagai tempat lain dengan tujuan melakukan kunjungan wisata
dan bukan untuk bekerja atau mencari penghasilan di tempat tujuan

2.1.2 Komponen Pariwisata

Analisis sistem pariwisata tidak terlepas dari segmen pasar pariwisata karena
segmen pasar pariwisata merupakan spesifikasi bentuk dari pariwisata yang dapat
berfungsi sebagai bentuk khusus pariwisata. Hal ini terkait dengan output akhir
yang diharapkan oleh wisatawan yaitu kepuasan akan obyek wisata yang
dihasilkan. Untuk mewujudkan system pariwisata yang diinginkan, maka
diperlukan beberapa komponen pariwisata. Menurut Inskeep (1991), di berbagai
macam literatur dimuat berbagai macam komponen wisata. Namun ada beberapa
komponen wisata yang selalu ada dan merupakan komponen dasar dari wisata.
Dapat dikelompokkan sebagai berikut : Atraksi dan kegiatan-kegiatan wisata.
Kegiatan-kegiatan wisata yang dimaksud berupa semua hal yang berhubungan
dengan lingkungan alami, kebudayaan, keunikan suatu daerah dan kegiatan-
kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan wisata yang menarik wisatawan
untuk mengunjungi sebuah obyek wisata. Akomodasi. Akomodasi yang dimaksud
adalah berbagai macam hotel dan berbagai jenis fasilitas lain yang berhubungan
dengan pelayanan untuk para wisatawan yang berniat untuk bermalam selama
12

perjalanan wisata yang mereka lakukan. Fasilitas dan pelayanan wisata. Fasilitas
dan pelayanan wisata yang dimaksud adalah semua fasilitas yang dibutuhkan
dalam perencanaan kawasan wisata. Fasilitas dan pelayanan transportasi. Meliputi
transportasi akses dari dan menuju kawasan wisata, transportasi internal yang
menghubungkan atraksi utama kawasan wisata dan kawasan pembangunan,
termasuk semua jenis fasilitas dan pelayanan yang berhubungan dengan
transportasi darat, air, dan udara. Infrastruktur lain. Infrastruktur yang dimaksud
adalah penyediaan air bersih, listrik, drainase, saluran air kotor, telekomunikasi
(seperti telepon, telegram, telex, faksimili, dan radio) (Mokoginta et al., 2020)

Ada beberapa hal yang menunjang atau menentukan pengembangan suatu obyek
wisata. Menurut Ahdinoto dalam Kristo et al (2020), ada lima jenis komponen
dalam pariwisata yaitu :

a. Atraksi wisata : atraksi adalah daya tarik wisatawan untuk


berlibur. Atraksi yang diidentifikasikan (sumber daya alam,
sumberdaya manusia, budaya dan sebagainya) perlu dikembangkan
untuk menjadi atraksi wisata. Tanpa atraksi wisata, tidak ada
peristiwa, bagian utama lain tidak akan diperlukan.
b. Promosi dan pemasaran : Promosi adalah suatu rancangan untuk
memperkenalkan atraksi wisata yang ditawarkan dan cara bagaimana
agar atraksi dapat dikunjungi. Untuk perencanaan, promosi adalah
bagian penting.

c. Pasar wisata : (masyarakat pengirim wisata) : pasar wisata


merupakan bagian yang penting. Walaupun untuk
perencanaan belum / tidak diperlukan suatu riset lengkap dan
mendalam, namun informasi mengenai trend perilaku,
keinginan, kebutuhan, asal, motofasi, dan sebagainya dari
wisatawan perlu dikumpulkan dari mereka yang berlibur.

d. Transportasi : pendapat dang keinginan wisatawan adalah


berbeda dengan pendapat penyuplai transportasi. Transporetasi
13

mempunyai dampak besar terhadap volume dan lokasi


pengembangan pariwisata.

e. Masyarakat penerima wisatawan yang menyediakan


akomodasi dan pelayan jasa pendukung wisata (fasilitas dan
pelayanan).

Komponen penting dalam pengembangan pariwisata menurut George Mclntyre,


adalah suatu pengembangan pariwisata yang berkelanjutan memiliki
keterkaitan antara turis, warga setempat dan pemimpin masyarakat yang
menginginkan hidup lebih baik. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa suatu tempat
wisata harus berisikan komponen tersebut untuk menjadi suatu objek wisata yang
baik (Daraba et al., 2020).

Unsur pokok yang harus mendapat perhatian guna menunjang pengembangan


pariwisata didaerah tujuan wisata menurut Suwantoro meliputi:

a. Obyek dan daya tarik wisata


Daya tarik wisata yang juga disebut obyek wisata merupakan potensi
yang menjadi pendorong kehadiran wisatawan ke suatu daerah tujuan
wisata. Pada umumnya daya tarik suatu obyek wisata berdasar pada :
1. Adanya sumberdaya yang dapat menimbulkan rasa senang, indah,
nyaman, dan bersih.
2. Adanya aksesibilitas yang tinggi untuk mengunjunginya
3. Adanya spesifikasi atau ciri khusus yang bersifat langka
4. Adanya sarana dan prasarana penunjang untuk melayani wisatawan
5. Obyek wisata alam mempunyai daya tarik tinggi pegunungan,
sungai, pantai, hutan dan lain-lain.
6. Obyek wisata budaya mempunyai daya tarik tinggi karena memiliki
nilai khusus dalam bentuk atraksi kesenian, upacara-upacara adat,
nilai luhur yang terkandung dalam suatu obyek buah karya manusia
pada masa lampau
a.
14

b. Prasarana wisata
Prasarana wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya buatan
manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di
daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal,
jembatan dan lain sebagainya.
c. Sarana wisata
Sarana wisata merupakan kelengkapan daerah tujuan wisata yang
diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam menikmati
perjalanan wisatanya. Berbagai sarana wisata yang harus disediakan di
daerah tujuan wisata ialah hotel, biro perjalanan, alat transportasi,
restoran dan rumah makan serta sarana pendukung lainnya (Widyaningsih
et al, 2022).

2.1.3 Objek Wisata

Di tengah kesibukam dan aktivitas masyarakat di Dunia, berwisata adalah hal


yang sangat diperlukan oleh setiap orang. Ada yang suka dengan wisata alam,
wisata budaya dan ada juga yang lebih suka dengan. Indonesia adalah salah satu
negara yang beragam objek wisata dikarenakan banyaknya budaya, adat istiadat,
kepercayaan, musim, suku, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, banyak
wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Spillane (1982) dalam Tewuh et al
(2022). Objek wisata dan daya tarik wisata adalah suatu bentukan dan fasilitas
yang berhubungan, yang dapat menarik wisatawan atau pengunjung untuk datang
ke suatu daerah atau tempat tertentu. Daya tarik yang belum dikembangkan
merupakan sumber daya yang potensial dan belum dapat disebut sebagai daya
tarik wisata sampai adanya suatu perkebangan dari objek tersebut.

Suatu objek wisata harus memiliki daya tarik wisata yang bisa dijadikan
sebagai motivasi wisatawan untuk berkunjung. Kualitas objek wisata yang
baik dapat memberikan kepuasan kepada wisatawan yang datang. Selain itu,
dengan pengelolaan dan pelayanan yang baik dapat memberikan kesan tersendiri
bagi wisatawan. Sehingga, ketika wisatawan memperoleh kesan postif maka
15

persepsi yang didapatkan juga akan menjadi persepsi yang baik dan membuat
wisatawan mau untuk berkunjung kembali (Wulandari et al., 2020)

2.1.4 Fasilitas Wisata

Salah satu aspek penentu suatu keberhasilan yaitu Fasilitas. Dengan


memperhatikan aspek penting fasilitas maka dalam aktivitas akan berjalan
dengan lancar. Fasilitas wisata adalah semua hal yang fungsinya
memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal untuk sementara waktu di
daerah tujuan wisata yang di kunjunginya, dimana mereka dapat dengan santai
menikmati dan berpartisipasi dalam kegiatan yang tersedia di daerah
tujuan wisata tersebut. Segala sesuatu yang dapat mempermudah dan
memperlancar pelaksanaan suatu usaha dapat berupa benda-benda maupun uang.
Lebih luas lagi tentang pengertian Fasilitas dapat diartikan sebagai segala
sesuatu yang dapat memudahkan, memperlancar pelaksanaan suatu
usaha. (Tanjung et al., 2022)

Fasilitas cenderung berorientasi pada daya tarik di suatu lokasi karena fasilitas
harus terletak dekat dengan pasarnya. Selama tinggal di tempat tujuan wisata
wisatawan memerlukan tidur, makan dan minum oleh karena itu sangat
dibutuhkan Komponen fasilitas wisata berupa fasilitas penginapan. Selain itu ada
Kebutuhan akan Support Industries yaitu toko souvenir, toko cuci pakaian,
pemandu, daerah festival, dan fasilitas rekreasi (untuk kegiatan) (Kurnia, 2022).

2.1.5 Potensi Daya Tarik Wisata

Kepariwisataan secara langsung maupun tidak langsung diarahkan untuk


meningkatkan kegiatanekonomimasyarakat dan sekaligus berperan dalam
upaya peningkatan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat. Dalam
keparawisataan segala sesuatu memiliki keunikan, keindahan, dan nilai
yang berupa keanekaragamankekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia
yang menjadi sasaran atautujuan kunjungan wisatawan merupakan daya tarik
wisata (Nurrachman et al., 2022).
16

Menurut Damanik, dan Purba, (2020), kekayaan sumber daya alam yang
dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata alam seperti gunung, tamanlaut,
sungai, pantai, flora termasuk hutan, fauna, air terjun, danau dan
pemandangan alam. Indonesia merupakan salah satu negar mega biodiversity
yang memiliki begitu banyak keanekaragaman hayati,keunikan dan
keaslian budaya tradisional, keindahan bentang alam, gejala alam serta
peninggalan sejarah/budaya. Keanekaragaman hayati ini sangat berpotensi
dijadikan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam (ODTWA). ODTW
adalah segala sesuatu baik berupa bentukan dan/atau aktivitas danfasilitas
yang saling berhubungan dan memiliki daya tarik tersendirisehingga
dapat menarik minat wisatawan atau pengunjung untukmengunjungi
suatu daerah/tempat tertentu. Sebagai produk yang dijual dipasar wisata,
ODTW harus memiliki tiga komponen utama yaitu atraksi daridestinasi, fasilitas
di destinasi dan juga aksesibilitas dari destinasiKhas suatu daerah memiliki
kekayaan tertentu berupa potensi alam,adat istiadat, dan kemampuan
masyarakat yang berbeda-beda, sesuaidengan kondisi geografis seperti bentang
alam (Siahaan, dan Fahrid, 2022).

Kondisi alam yang berbeda dapat menyebabkan adanya keistimewaan padadaerah,


ciri khas panorama, budaya masyarakat dan perilaku, sertakemakmuran
penduduk juga dapat membuat hubungan yang saling [Link] unsur
tersebut merupakan hal yang penting untuk di perhatikandalam pembangunan
dan pengembangan potensi daerah (Nurrachman et al., 2022)

2.2 Pola Persebaran

Menurut Singh (1989) dalam (Angelica et al., 2022 )menyatakan bahwapola


persebaran wisata alam umumnya memiliki tiga kelompok antara lain :
(1) Pola persebaran mengelompok biasanya dipengaruhi oleh faktor-faktor
permukaan lahan yang datar, lahan subur, curah hujan relatifkurang, kebutuhan
akan kerjasama, ikatan sosial, ekonomi, agama, kurangnya keamanan waktu
lampu,tipe pertanian, lokasi mandiri dan mineral.
17

(2) Pola persebaran tersebar (random) biasanyadipengaruhi oleh topografi kasar,


keanekaragaman kesuburan lahan, curah hujan, air permukaan yang melimpah,
keamanan waktu lampau dansuasana kota.
(3) Pola persebaran seragam yakni pola suatu permukiman dapat dipengaruhi
pola oleh lingkungan fisik seperti relief sumber air, jalur drainase, kondisi
lahan serta kondisi sosial ekonomi, tata guna lahan, rotasi tanaman,
prasarana transportasi, komunikasi serta kepadatan penduduk. Pola
persebaran dalam menggunakan pendekatan spasial sehingga menetapkan
persebaran wisata alam dengan lokasi titik terdekat dengan pusat
perekonomian

2.3 Aksesibilitas

Aktivitas kepariwisataan banyak tergantung pada transportasi dan komunikasi


karena faktor jarak dan waktu yang sangat mempengaruhi keinginan seseorang
untuk melakukan perjalanan wisata. Unsur yang terpenting dalam aksesibilitas
adalah transportasi, maksudnya yaitu frekuensi penggunaannya,kecepatan yang
dimilikinya dapat mengakibatkan jarak seolah-olah menjadi [Link]
transportasi yang berkaitan dengan aksesibilitas adalah prasarana meliputi jalan,
jembatan, terminal, stasiun, dan bandara. Prasarana ini berfungsiuntuk
menghubungkan suatu tepat dengan tempat yang lain. Keberadaan prasarana
transportasi akan mempengaruhi laju tingkat transportasi itu sendiri. Kondisi
prasarana yang baik akan membuat laju transportasi optimal. Aksesibilitas
merupakan cara untuk menyediakan sarana transportasi publik bagi wisatawan
yang berpengaruh terhadap biaya, waktu dan [Link] serta kenyamanan
ketika berwisata. Aksesibilitas terdiri berbagai infrastrukur dan sarana transpotasi
public yaitu, tempat parkir, terminal bis, bandara, stasiun kereta api, pelabuhan,
dermaga, bus wisata, taksi, pesawat terbang, kereta api, kendaraan pribadi, kapal
samudra, kapal ferry, kapal pesiar, jalan raya, jalan tol dan [Link]
pariwisata, para wisatawan harus datang ke daerah dimana terdapat produk wisata
untuk mengkonsumsi produk-produk wisata tersebut terutama objek dan daya
18

tarik wisata. Jarak dan ketersediaan sarana dan prasaranatransportasi ke daerah


wisata merupakan hal terpenting. Jenis, volume, tarif danfrekuensi moda angkutan
ke dan dari daerah wisata akan berpengaruh kepada jumlah kedatangan
wisatawan. Kenyamanan selama perjalanan menuju daerah wisata dan kawasan
wisata harus diperhatikan.

Aksesibilitas memiliki peran yang sangat penting dalam merangsang


perekonomian di suatu wilayah yang artinya, keberadaan aksesibilitas akan
mampu merangsang berbagai sektor perekonomian. Rangsangan itu juga
berlaku untuk sektor pariwisata yang termasuk dalam perekonomian. Terlebih
pariwisata dapat menjadi sebuah katalisator dalam pembangunan ekonomi
karena akan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi penduduk
setempat artinya, aksesibilitas yang berkaitan erat dengan kemudahan atau
kesulitan seseorang untuk mencapai lokasi tertentu merupakan hal yang
sebaiknya dipahami terutama oleh wisatawan yang akan melakukan
kunjungan untuk pertamakali atau kunjungan [Link] yang tinggi
akan memudahkan suatu pergerakan dalam perekonomian dan telah menjadi suatu
pelayanan publik karena akan memudahkan interaksi satu wilayah dengan wilayah
lain. Dalam mengukur tingkat aksesibilitas dapat digunakan berbagai variabel
mulai dari jumlah alat transportasi, kualitas jalan, waktu tempuh, panjang jalan,
menunjuk arah, dan lain sebagainya. Dalam hal pengembangan pariwisata,
aksesibilitas menjadai suatu faktor yang sangat penting karena menyangkut lintas
sektoral yang didasari bahwa tanpa adanya jaringan transportasi tidak
memungkinkan suatu lokasi wisata mendapat kunjungan. Dengan arti lain
bahwa suatu lokasi wisata harus dapat dicapai dengan sendirinya serta mudah
ditemukan oleh wisatawan, akan tetapi hal yang paling mendasari dalam
aksesibilitas adalah terkait sistem transportasi untuk mempermudah bagi
kelancaran interaksi (Makrifah et al., 2023).
19

2.4 Analisis Tetangga Terdekat

Analisis tetangga terdekat, juga disebut sebagai analisis tetangga terdekat, adalah
metode analisis kuantitatif geografi yang digunakan untuk menentukan pola
persebaran permukiman. Salah satu jenis analisis ini digunakan untuk
menjelaskan pola persebaran dari titik-titik lokasi tempat dengan menggunakan
perhitungan yang mempertimbangkan jarak, jumlah titik lokasi, dan luas wilayah.
Hasil akhir dari metode ini adalah perhitungan indefisien. Menurut Peter Haggett
dalam Bintarto, 1978: 76. Untuk mempermudah perbandingan antar pola titik,
parameter tetangga terdekat T, yang juga dikenal sebagai parameter tetangga
statistik T, dapat ditunjukkan dengan rangkaian kesatuan atau kontinuum. Nilai
hasil perhitungan dibandingkan dengan rangkaian satuan nilai parameter tetangga
terdekat (T) untuk masing-masing pola, sehingga pola yang terbentuk dapat
diketahui (Muta'ali, 2015).

Gambar 2.1 pola analisis tetangga terdekat

Jika nilai T = 0, maka pola penyelesaiannya mengelompok. Jika nilai T = 1,0


maka pola penyelesaiannya acak. Sedangkan jika nilai T = 2,15 maka pola
pengendapannya seragam. Selain untuk mencari pola sebaran pemukiman,
penerapan analisis tetangga terdekat juga dapat digunakan untuk mencari nilai
indeks pola sebaran fenomena lain, seperti sebaran pusat pelayanan, sebaran
bangunan, dll. Memperbaiki intensitas kawasan dan pola sebaran fasilitas umum
di wilayah.
20

2.5 Analisis Kernel Density

Kernel density adalah model perhitungan untuk mengukur kepadatan secara non-
parametrik. Dalam statistik, intilah non-parametrik pada umumnya digunakan
untuk menjelaskan metode perhitungan yang bersifat free distribution. Bentuk
persebaran data tidak dijadikan sebagai permasalahan yang perlu dipertimbangkan
lebih lanjut. Selain itu, sesuai dengan istilah non-parametrik, perhitungan ini tidak
menggunakan parameter-parameter tertentu sebagai tolak ukur perhitungan.

Formula dasar estimasi kepadatan non-parametrik adalah:

(1) ......

Dimana,V adalah volume di sekitar X, N adalah total sampel, dan k adalah total
sampel dalam radius V

Pada prinsipnya, dua bentuk pendekatan dapat dilakukan dalam mengaplikasikan


formula dasar estimasi kepadatan:
 Memilih nilai V dan menentukan jumlah sampel (k) dalam radius V yang
kemudian disebut kernel density estimation.
 Memilih jumlah sampel tertentu (k) dan menentukan nilai V sebagai nilai
yang paling memiliki kedekatan dengan k. Perhitungan ini disebut sebagai
metode k Nearest Neigbour.

Dalam konteks kepadatan penduduk, perhitungan kernel density lebih cocok


untuk digunakan daripada nearest neighbour karena persebaran kepadatan
penduduk relatif tidak terlalu dipengaruhi dengan jarak terdekat antar pusat
kepadatan tetapi lebih dipengaruhi oleh pola persebaran (pemukiman) secara
umum. Pada ArcGIS 10.8, kalkulasi kernel density menghasilkan gambaran
persebaran kepadatan di sekitar fitur point (titik) ataupun line (garis), dengan
demikian bidang (poligon) yang diketahui sebagai daerah dengan volume tertentu
(volume dalam hal ini adalah jumlah penduduk) perlu di transformasi ke dalam
bentuk point dan berbasis raster.
21

Perlu dipahami bahwa Kernel density ini tidak terbatas hanya untuk mengetahui
persebaran kepadatan penduduk. Banyak sekali hal-hal yg dapat dianalisis dengan
bantuan perhitungan ini dalam konteks ilmu perencanaan wilayah dan kota.
Persebaran kepadatan wilayah terbangun, perumahan, atau pun terkait dengan
persebaran lokasi potensial terjadi tindak kejahatan, persebaran fasilitas, ataupun
kemacetan dengan mengukur tingkat utilitas penggunaan jaringan (line) tertentu
juga dapat dianalisis melalui perhitungan kernel density.

Secara konseptual, suatu bentuk kurva akan menjelaskan persebaran kepadatan


dari suatu volume di titik atau garis tertentu. Nilai kepadatan akan tinggi di sekitar
titik atau garis. Semakin jauh dari titik atau garis referensi, nilai kepadatan ini
akan berkurang dan pada jarak tertentu akan mencapai titik 0. Gambar2.2
mengilustrasikan bagaimana persebaran titik dimana setiap titik memiliki
‘volume‘ tertentu akan membetuk pola persebaran sesuai dengan persebaran titik-
titik referensi.

Karena perhitungan kernel density dalam ArcGIS ini adalah berbasis raster, maka
ukuran grid akan sangat mempengaruhi tingkat kedetailan estimasi hasil
perhitungan. Tidak ada kriteria umum yang dapat dijadikan acuan. Tidak selalu
berarti grid dengan ukuran terkecil akan memberikan hasil terbaik karena akan
memberikan keluaran yang lebih detail. Luasan wilayah studi, kualitas data, jarak
antar point referensi dan kombinasi volume setiap titik referensi sangat
mempengaruhi keakuratan dan kedalaman hasil perhitungan.

Kalkulasi kernel density menghasilkan pola persebaran kepadatan disekitar titik-


titik referensi. Dalam analisis ini titik-titik referensi adalah kecamatan yang
fiturnya dirubah terlebih dahulu dari polygon menjadi point.
22

Gambar 2.2 Ilustrasi pola persebaran titik-titik (points) referensi

Terdapat dua hal mendasar yang perlu diperhatikan untuk memahami pola
persebaran kepadatan berdasarkan perhitungan kernel density. Pertama adalah
ukuran grid cell (raster). Seperti telah diungkapkan sebelumnya. tidak ada kriteria
khusus untuk menentukan ukuran yang teroptimal karena sangat tergantung
dengan kualiats/kuantitas data dan jenis persebaran kepadatan yang ingin di cari.
Dalam hal ini, try and error melalui pencatatan dalam log book merupakan metode
yang paling umum digunakan. Kedua adalah radius. Prinsipnya sama dengan
ukuran raster, perlu dilakukan beberapa ujj coba dengan radius yang bervariasi
untuk menemukan pola persebaran yang paling baik. Baik dalam arti terlihat
polanya dan ada dukungan faktor penjelasnya. Gambar 2 mengilustrasikan pola
persebaran dalam prinsip radius dan ukuran grid cell.
23

Gambar 2.3 Ilustrasi pola persebaran dalam radius dan grid cell

2.6 Analisis Sentralitas

Metode Index Sentralitas Terbobot (ICT) atau disebut Weighted Centrality Index
(WCI) merupakan metode analisis untuk menentukan hirarki wilayah, atau
menentukan wilayah pusat dan hinterland-nya. (Imam Buchori dan Kristiana Dwi
Astuti, 2015). Metode ICT pertamakali digunakan oleh Marshall, sehingga sering
disebut indek sentralitas Marshall (Lutfi Muta’ali, 2015)

Data yang digunakan adalah data ketersediaan fasilitas pelayanan sosial dan
ekonomi. Sehingga hasilnya dapat menunjukkan bagian wilayah mana yang
kurang mendapatkan pelayanan. Selanjutnya dalam bentuk peta akan dapat
tergambar hirarki wilayah, pada mana terlihat wilayah yang mempunyai tingkatan
hirarki lebih tinggi dan lebih rendah. Hasilnya dapat dipergunakan untuk
pertimbangan dalam pengambilan keputusan terutama perlakuan terhadap wilayah
tersebut sesuai dengan tujuan pembangunannya.

Metode ICT merupakan lanjutan dari skala Guttman dan Skalogram yang
mempunyai kesalahan pada asumsi bahwa keberadaan fungsi yang jarang atau
sedikit, seperti halnya skala pusat yang lebih rendah tidak memberikan kontribusi
pada keterpusatannya. (CS Yadav, 1986). Dapat dikatakan ketersediaan fasilitas
24

pelayanan pada suatu wilayah dan memberikan nilai tertinggi pada wilayah adalah
wilayah yang memiliki jumlah fasilitas terbesar. Padahal dimungkinkan tingkatan
fasilitas yang dimiliki oleh wilayah tersebut lebih rendah. Sebagai contoh, dalam
tabel skalogram, misalnya wilayah A memiliki jumlah Sekolah Dasar lebih
banyak (misalnya 7 SD), namun tidak memiliki SLTA, sementara wilayah B
memiliki satu SD, satu SLTP dan satu SLTA. Berdasarkan data tersebut, dengan
menggunakan analisis skalogram, wilayah A mempunyai hirarki lebih tinggi dari
wilayah B. padahal fasilitas SD memiliki frekuensi atau tingkatan lebih rendah
daripada SLTA. Kondisi seperti ini juga dapat terjadi pada wilayah dengan
berbagai jenis fasilitas, seperti fasilitas perdagangan, kesehatan dan lain-lain.

Menghadapi hal tersebut, Marshall menyempurnakan metode Skalogram dengan


metode Weighted Centrality Index (WCI), yaitu dengan memperbaiki kesalahan
yang terjadi, dimana setiap fasilitas akan diberi bobot, yang mana setiap fasilitas
akan mempunyai bobot sesuai keseluruhan fasilitas yang sama yang dimiliki
seluruh wilayah yang dinilai.

Index sentralitas suatu wilayah akan dihitung dari jumlah bobot yang dimiliki.
Semakin besar jumlah bobot, wilayah tersebut akan memiliki hirarki lebih tinggi
dibandingkan wilayah lainnya. Adapun langkah-langkah untuk melakukan
perhitungan index sentralitas terbobot adalah sebagai berikut (CS Yadav, 1986):

Buatlah tabel yang berisikan jumlah satuan permukiman pada bagian barisnya dan
jumlah fasilitas pelayanan sosial ekonomi pada bagian kolomnya. Isilah jumlah
satuan permukiman dan jumlah fasilitas pelayanan sosial ekonomi sesuai dengan
jumlah satuan permukiman dan fasilitas pelayanan sosial ekonomi yang ada
diwilayah studi, dengan bentuk skalogram. Hitung jumlah total menurut baris dan
kolom. Menggunakan asumsi bahwa jumlah total setiap fungsi atau fasilitas
pelayananpada wilayah studi mempunyai centralitas total 100, maka bobot atau
koefisien lokasi dari masing-masing fungsi atau fasilitas pelayanan ditentukan
dengan menggunakan rumus:
25

t
C
T

Keterangan:
C = bobot fungsi atau fasilitas pelayanan
t = nilai sentralitas gabungan dari 100
T = jumlah total masing-masing fasilitas pelayanan dalam wilayah yang
ditinjau

Tambahkan satu baris pada tabel dimaksud dan tuliskan pada baris tersebut hasil
perhitungan bobot setiap fungsi atau fasilitas pelayanan tadi. Hitung jumlah total
dari setiap bobot fungsi atau fasilitas pelayanan untuk mendapatkan index
sentralitas terbobot dari setiap satuan permukiman.

2.7 Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis atau Geographical Information System (GIS)


merupakan computer yang berbasis pada sistem informasi yang digunakan untuk
memberikan bentuk digital dan analisa terhadap permukaan geografi bumi .
Sistem Informasi Geografis adalah sistem komputer yang digunakan untuk
memanipulasi data geografi. Sistem ini diimplementasikan dengan perangkat
keras dan perangkat lunak computer yang berfungsi untuk akuisisi dan verifikasi
data, kompilasi data, penyimpanan daya, perubahan data dan updating data,
memanajemen data dan pertukaran data, manipulasi data, pemanggil data,
presentasi data dan analisa data. Sistem Informasi Geografis sebagai suatu sistem
yang berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi
informasi-informasi geografis. Sistem Informasi Geografis dirancang untuk
mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena dimana
lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis
(Kambuno et al., 2020).

2.7.1 Sub Sistem Sig


26

Jika definisi sistem informasi geografis diperhatikan maka, sistem informasi


geografis dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem berikut:

1. Data Input : Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan, mempersiapkan dan


menyimpan data spasial dan artibutnya dari berbagai sumber.

2. Data Output : Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran


(termasuk mengekspornya keformat yang dikendaki) seluruh atau sebagian
basisdata (spasial) baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy.

3. Data Management : Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun


tabel-tabel atribut terkait ke dalam sebuah basisdata sedemikian rupa sehingga
mudah dipanggil kembali atau di-retrieve,di update, dan di edit.

4. Data Manipulation dan Analysis : Subsistem ini menentukan informasi-


informasi yang dapat dihasilkan oleh sistem informasi geografis. Selain itu,
subsistem ini juga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk
menghasilkan informasi yang diharapkan (Kambuno et al., 2020).

2.7.2 Komponen Sig

SIG merupakan sistem kompleks yang biasanya terintegrasi dengan lingkungan


sistem-sistem komputer yang lain di tingkat fungsional dan jaringan. Menurut
Gistut, komponen SIG terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data dan
informasi geografi, sera manajemen. Komponen SIG dijelaskan di bawah ini:

a) Perangkat keras (Hardware): Pada saat ini SIG tersedia untuk berbagai platform
perangkat keras mulai dari PC desktop, workstations, hingga multiuser host yang
dapat digunakan oleh banyak orang secara bersamaan dalam jaringan komputer
yang luas, berkemampuan tinggi, memiliki ruang penyimpanan (harddisk) yang
besar, dan mempunyai kapasitas memori (RAM) yang besar. Walaupun demikian,
fungsionalitas SIG tidak terikat secara ketat terhadap karakteristik-karakteristik
fisik perangkat keras ini sehingga keterbatasan memori pada PC30 pun dpat
diatasi. Adapun perangkat keras yang sering digunakan untuk SIG adalah
komputer (PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.
27

b) Perangkat lunak (Software): Bila dipandang dari sisi lain, SIG juga merupakan
sistem perangkat lunak yang tersusun secara modular dimana basisdata memegang
peranan [Link] subsistem diimplementasikan dengan menggunakan
perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul, hingga tidak mengherankan
jika ada perangkat SIG yang terdiri dari ratusan modul program yang masing-
masing dapat dieksekusi sendiri.

c) Data dan Informasi Geografi: SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data
dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara
mengimport-nya dari perangkatperangkat lunak SIG yang lain maupun secara
langsung dengan cara mendigitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data
atributnya dari table-tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.

d) Manajemen: Suatu proyek SIG akan berhasil jika dimanage dengan baik dan
dikerjakan oleh orang-orang memiliki keahlian yang tepat pada semua tingkatan
(Mamonto et al., 2020).

2.7.3 Fungsi dan Manfaat Sig

1. Fungsi SIG

Fungsi yang sangat mendasar dari sistem informasi geografis (SIG) adalah dapat
digunakan untuk mengintegrasikan data spasial secara sistematis sistem informasi
geografis (SIG) telah menunjukkan kegunaannya dalam mengintegrasikan
berbagai data untuk tujuan menilai perubahan terkait lahan, terutama perubahan
penggunaan lahan. Fungsionalitas yang terkandung dalam SIG dapat menghasilkan
informasi baru dan menggabungkan data spasial sehingga dapat dianalisis dan
diubah menjadi informasi untuk tujuan tertentu (Jauzali, 2019).

Dengan menggunakan sistem informasi geografis, informasi yang ada dapat


diasosiasikan pada sebuah struktur informasi yang berbasis pemetaan secara
geografis, sehingga sistem informasi geografis akan memberikan peran yang besar
dalam membantu mengorganisasikan informasi-informasi yang diinginkan dan
akan diperoleh lebih banyak lagi informasi yang didapatkan (Sulaksono, 2020).
28
29

2. Manfaat SIG

Menurut Satiawan dalam Yuliana (2020) Manfaat penggunaan sistem informasi


geografi (SIG) adalah:

1. Dapat melakukan pengolan data dengan format yang lebih baik.

2. Mengelola data dengan biaya murah dibandingkan dengan survei


lapangan.

3. Data dapat diubah dan diambil dangan cepat karena tersimpan dalam file
komputer.

4. Data yang berbentuk spasial dan non spasial dapat dikelola secara
bersama-sama.

5. Analisa dapat dilakukan secara efisien.

6. Data yang sulit diolah secara manual dapat diolah komputer danbisa
ditampilkan secara tiga dimensi.

7. Data berbentuk gambar, peta atau bagan dapat diperoleh secara cepat dan
tepat.

8. Mengolah dan menganalisa data, seperti mengubah, menambah atau


menghapus tanpa mengganggu data lain yang telah disusun
30

2.8 Penelitian –Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu

Hasil penelitian
dan
No Nama Judul Tujuan Metode
Kesimpulan

1 Mentari Persebaran Untuk Metode Hasil penelitian


Partami Objek Wisata memetakan penelitian terdapat 30 objek
(2021) Dengan objek wisata menggunakan wisata dimana
Sistem di Kabupaten penelitian terdiri dari wisata
Informasi Lampung deskriptif dengan alam, wisata buatan,
Geografi(SIG) Barat pendekatan dan wisata budaya.
Kabupaten menggunakan spasial/keruanga Penelitian ini
Lampung Sistem n. diharapkan dapat
Barat Informasi dijadikan sebagai
Geografis bahan pertimbangan
untuk pemerintah
dalam perencanaan
pembangunan pada
sektor
pariwisataserta
dijadikan sebagai
media informasi
mengenai
persebaran objek
wisata yang ada di
Kabupaten
Lampung Barat

2 Shafira Analisis Tujuan Metode yang Berdasarkan hasil


Susanti Spasial penelitian digunakan penelitian
(2020) Sebaran adalah untuk dengan ditemukan ternyata
resapan Air mengetahui memberikan kondisi resapan air
Pada Kawasan area kondisi pembobotan dan mulai kritis 2508.52
31

Bandung resapan air di skoring pada data Ha, agak kritis


Utara (Studi kawasan peta serta 1511.79 Ha, Kritis
Kasus: lindung. melakukan 465.47 Ha, dan
Kecamatan analisis spasial sangat kritis 22.96
lembang dan berupa overlay. Ha.
Kecamatan
Parongpong,
Kabupaten
Bandung
Barat)

3 Imam Pemetaan Penelitian ini Penelitian ini Hasil penelitian


Ahmad Objek Wisata bertujuan menggunakan menunjukkan : 1.
Mustain diwilayah untuk metode penelitian Terdapat 43 lokasi
(2017) Kabupaten mengkaji survey. Objek objek wisata di
Pesawaran tentang penelitian ini wilayah Kabupten
tahun 2017 pemetaan berupa data Pesawaran yang
objek wisata geospasial tersebar wilayah
di wilayah tentang objek diantaranya
Kabupaten wisata. Subjek Kecamatan Punduh
Pesawaran. penelitian yaitu Pidada, Marga
daerah objek- Punduh, Way
objek wisata. Khilau, Way Ratai,
Pengumpulan Gedung Tataan,
data dengan Padang Cermin, dan
teknik Kedondong. 2.
dokumentasi dan Akesibilitas menuju
observasi. Teknik objek wisata di
analisis data wilayah Kabupaten
dilakukan dengan Pesawaran dihitung
cara analisis data menggunakan 3
secara kunatitatif parameter yakni
waktu tempuh,
kondisi jalan,
jaringan
transportasi.
32

Melalui 3 parameter
tersebut diketahui
aksesibilitas menuju
objek menuju objek
wisata dalam
kategori sedang.
Yang berarti untuk
mencapai lokasi
objek wisata cukup
mudah untuk
dijangkau
menggunakan
kendaraan. 3. Pola
sebaran objek
wisata di Kabupaten
Pesawaran adalah
pola seragam.
Dimana jarak rata-
rata antar objek
wisata yang tidak
terlalu jauh dan
tidak terlalu
berdekatan.

4 R Analisis Skripsi ini Skripsi ini Dari penelitian yang


Rahmawa Persebaran bertujuan menggunakan dilakukan penulis,
ti, F Pedagang untuk penelitian diperoleh hasil
Muhamm Kaki Lima mengetahui kualitatif kesimpulan yaitu,
ad, IAS (PKL) tentang faktor yang deskriptif dengan pertama faktor
Huda Peraturan mem jenis penelitian keterbatasan
(2022) Wilayah Kota pengaruhi studi kasus ekonomi, sewa
Jambi No.12 pedagang kaki dengan pasar yang tinggi,
Tahun 2016 lima (PKL) pengumpulan kurangnya
Berbasis Berdagang di data diperoleh pendidikan dan
Geographic pusat melalui modal, usaha,
Information perdagangan wawancara, kurangnya lapangan
System (GIS) dan observasi, dan pekerjaan, serta
33

di Kota Jambi perkantoran dokumentasi. keterbatasan usia


serta objek dan kemampuan
wisata di Kota yang terbatas, dan
Jambi, dan kedua analisis
analisis persebaran
persebaran pedagang kaki lima
pedagang kaki di masing-masing
lima (PKL) di zona kawasan pusat
masing- perdagangan dan
masing zona perkantoran serta
kawasan pusat objek wisata di kota
perdagangan jambi yaitu di
dan kawasan kantor
perkantoran gubernur kota
serta objek Jambi,Danau Sipin
wisata di Kota kota Jambi, dan
Jambi Tugu Keris Siginjai
berbasis Kota Baru Kota
geographic Jambi di padati oleh
information pedagang kaki lima.
system (GIS). Padatnya pedagang
kaki lima tersebut
memberikan
dampak bagi tata
kota yang tidak
tertata dengan baik,
serta timbulnya
polusi udara dan
kemacetan di
beberapa kawasan
akibat kegiatan
berdagang
pedagang kaki lima
tersebut.
Berdasarkan
persebaran tersebut,
didapati beberapa
34

pedagang kaki lima


yang berpindah dari
satu tempat ketepat
lain sesuai kondisi
dan keramaian di
suatu tempat
tersebut.

5 NAN Strategi Tujuan dari Penelitian ini Hasil penelitian ini


Panggula Pengembanga penelitian menggunakan menjelaskan bahwa
(2022) n Objek adalah untuk pendekatan Tana Toraja
Wisata di mendeskripsi deskriptif memiliki potensi
Kabupaten kan dan kualitatif dengan wisata yang dapat
Tana Toraja = menganalisis jenis data primer meningkatkan
Tourism strategi dan sekunder pendapatan asli
Object pengembanga yang diperoleh daerah jika dikelola
Development n Objek dari observasi dengan baik, masih
Strategy In Wisata di dan wawancara banyaknya kendala
Tana Toraja Kabupaten dan pengamatan yang dihadapi oleh
Tana Toraja langsung. Dinas Pariwisata
dalam
mengembangkan
pariwisata yang ada
di Tana Toraja,
semakin majunya
teknologi yang
memudahkan untuk
melakukan promosi
di media sosial dan
berkembang
pesatnya
pembangunan dan
pengembangan
pariwisata yang ada
di Kabupaten Tana
Toraja hingga
pesaing semakin
35

tinggi. Terdapat
beberapa strategi
untuk
pengembangan
produk wisata,
pengembangan
produk wisata,
pengembangan
kapasitas sumber
daya manusia,
pengembangan area
sebaran tujuan
wisata.

Sumber : Data diolah, 2023

Anda mungkin juga menyukai