0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Pemahaman Matematika Siswa Kelas VII

Penelitian ini menganalisis pemahaman konsep matematika siswa di SMP Negeri 1 Sei Kepayang Barat dengan pendekatan pembelajaran berbasis konstruktivisme. Hasil menunjukkan bahwa 13% siswa memiliki pemahaman sangat tinggi, 34,8% tinggi, dan 43,5% sedang, sementara kesulitan yang dihadapi siswa termasuk memberikan contoh konsep dan mengidentifikasi hubungan antar konsep. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan7 halaman

Pemahaman Matematika Siswa Kelas VII

Penelitian ini menganalisis pemahaman konsep matematika siswa di SMP Negeri 1 Sei Kepayang Barat dengan pendekatan pembelajaran berbasis konstruktivisme. Hasil menunjukkan bahwa 13% siswa memiliki pemahaman sangat tinggi, 34,8% tinggi, dan 43,5% sedang, sementara kesulitan yang dihadapi siswa termasuk memberikan contoh konsep dan mengidentifikasi hubungan antar konsep. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan konstruktivisme untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Indonesian Journal of Education and Learning

Vol. xx, No. xx, Bulan 20xx


DOI: 1

ANALISIS PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA SISWA DALAM


PENERAPAN PEMBELAJARAN BERBASIS KONSTRUKTIVISME

Azzahra Febindayanti1, Bornok Sinaga 2


1
Mahasiswa Sarjana Prodi Pendidikan Matematika UNIMED
2
Dosen Profesor Prodi Pendidikan Matematika UNIMED

Article Info ABSTRAK


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat pemahaman
Article history:
konsep matematika siswa dan mengidentifikasi kesulitan yang
Received mm dd, yyyy mereka hadapi dalam pembelajaran berbasis konstruktivisme.
Revised mm dd, yyyy Dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sei Kepayang Barat, penelitian ini
Accepted mm dd, yyyy melibatkan siswa kelas VII yang mempelajari aritmatika sosial.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, dengan instrumen
tes dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 13%
Keywords: siswa memiliki kemampuan sangat tinggi, 34,8% tinggi, 43,5%
Pemahaman Konsep sedang, 4,3% rendah, dan 4,3% sangat rendah. Kesulitan yang
Konstruktivisme dialami siswa meliputi kesulitan dalam memberikan contoh dari
Kesulitan Siswa suatu konsep dan menentukan hubungan antar konsep dalam
pemecahan masalah.
ABSTRACT
This study aims to describe students' level of understanding of
mathematical concepts and identify the difficulties they face in
constructivism-based learning. Conducted at SMP Negeri 1 Sei
Kepayang Barat, the research involved seventh-grade students
learning social arithmetic. This qualitative study used tests and
interviews as research instruments. The results showed that 13% of
students had very high abilities, 34.8% high, 43.5% moderate, 4.3%
low, and 4.3% very low abilities. The difficulties students
experienced included challenges in providing examples and non-
examples of a concept and in identifying relationships between
concepts in problem-solving.
Corresponding Author:
Nama Penulis Korespodensi
Instansi Penulis
Alamat instansi
Email: korespodensi@[Link]

1. PENDAHULUAN
Menyadari betapa pentingnya peran pendidikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi para siswa,
maka sudah seharusnya dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan tersebut. Untuk
mencapai hal ini, diperlukan suatu proses pembelajaran yang matang dengan menerapkan berbagai pendekatan
yang dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efisien, serta memicu terjadinya proses pembelajaran
yang optimal (Harefa, 2022; Waruwu, 2022; Zagoto et al., 2019).
Bila perhatikan pembelajaran matematika yang dilakukan oleh kebanyakan guru disekolah masih
berpusat pada guru. Banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan
membahas tugas-tugas lalu, memberikan pelajaran baru, kemudian memberi tugas kepada siswa. Akibatnya
siswa pasif dan hanya menerima apa yang disampaikan oleh guru, dan yang terjadi adalah siswa tidak
memahami konsep secara baik.
Pendekatan pembelajaran konstruktivisme adalah metode yang memberikan kebebasan kepada peserta
didik untuk secara aktif menggali dan menemukan pengetahuan serta kompetensi mereka sendiri, dengan tujuan

Journal homepage: [Link]


Judul Artikel
Nama Penulis 1, Penulis 2
DOI:

mengembangkan kemampuan yang sudah ada dalam diri mereka. Pendekatan ini melibatkan pendidik dalam
merancang berbagai tugas, pertanyaan, dan interaksi lainnya yang mendorong rasa ingin tahu peserta didik untuk
menyelesaikannya. Pendekatan ini memungkinkan pengetahuan yang dimiliki peserta didik untuk dimodifikasi
atau diperluas melalui interaksi dengan materi pembelajaran
(Linda Antika et al., 2023; Putra Marunduri et al., 2022)
. Pemilihan pendekatan konstruktivisme didorong oleh beberapa argumen. Dalam pembelajaran
konstruktivisme, peserta didik diminta untuk menemukan, memahami, mentransformasikan, atau bahkan
merevisi informasi atau masalah yang ada untuk memperoleh pemecahan masalah (Kukuh & Pinton, 2021) ,
Selanjutnya pendekatan konstruktivisme dapat memfasilitasi peserta didik untuk proses membangun dan
menemukan pengetahuan sendiri, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan bagi
mereka. Ketiga, dalam pembelajaran konstruktivisme, "strategi memperoleh" lebih diutamakan daripada
seberapa banyak peserta didik dapat mengingat pengetahuan (Mariama, 2023).
Di dunia pendidikan, matematika diperkenalkan kepada siswa sejak usia kanak-kanak hingga tingkat
perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan matematika memiliki peran yang luas dalam berbagai aspek kehidupan
manusia, termasuk dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Andika Pratama et al., 2018) . . Dalam
kemampuan pemahaman konsep, siswa harus mampu menjelaskan kembali materi dan mampu menyelesaikan
berbagai permasalahan atau pemecahan masalah matematika sesuai dengan konsep yang telah mereka dapatkan
(Alzanatul Umam & Zulkarnaen, 2022).
Pemahaman yang baik tentang konsep matematika seringkali tidak sejalan dengan kualitas pemahaman
konsep yang sebenarnya dimiliki siswa. Faktanya, banyak siswa menghadapi berbagai kendala, seperti hanya
mengandalkan hafalan rumus tanpa mampu mengaitkan asal-usul rumus tersebut dengan konsep yang
mendasarinya. Kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep menjadi salah satu aspek penting dalam
pembelajaran matematika, di mana diharapkan dapat mencapai tingkat keahlian yang memadai.
Gambaran kemampuan siswa di Indonesia pada pelajaran matematika dapat dilihat dari hasil TIMSS,
PISA, dan OECD. Mengacu pada hasil survey Program for International Student Assessment (PISA) 2022 baru-
baru ini diumumkan pada 5 Desember 2023, dan Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor; matematika
(379), sains (398), dan membaca (371). Penelitian ini mengevaluasi prestasi siswa yang berusia 15 tahun dalam
disiplin ilmu matematika, membaca, dan sains. Partisipasi PISA 2022 melibatkan sekitar 690 ribu siswa dari 81
negara, dan survei ini dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Sejak 2000, OECD secara konsisten telah
mengadakan penilaian ini. Jika melihat pencapaian skor PISAIndonesia sejak ikut pertama kali tahun 2000
hingga 2022, skor PISA 2022 termasuk terendah, terutama skor matematika 379, skor tersebut di bawah rata-rata
skor internasional yaitu 494.
Faktor yang mempengaruhi rendahnya pemahaman konsep matematika siswa adalah model
pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Ketidaktepatan pemilihan model pembelajaran oleh guru dapat
berdampak negatif pada proses pembelajaran siswa, selain itu matematika masih didominasi oleh paradigma
bahwa pembelajaran matematika adalah sekumpulan fakta-fakta yang harus di hafal. Oleh karena itu, diperlukan
pendekatan pembelajaran yang dapat mempermudah siswa dalam memahami konsep matematika.

2. METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu jenis
penelitian ilmiah yang memiliki tujuan untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial atau perilaku
manusia. Dalam penelitian ini, peneliti melakukan analisis mendalam terhadap data non-angka, seperti kata-kata,
gambar, suara, dan elemen-elemen lainnya yang bersifat deskriptif. Pendekatan kualitatif lebih menekankan pada
interpretasi, pemahaman konteks, dan konstruksi makna dari data yang dikumpulkan. Hasil dari penelitian
kualitatif dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang dinamika sosial atau keunikan perilaku
manusia yang sulit diukur secara kuantitatif.

Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 1 Sei Kepayang Barat. Waktu penelitian ini akan
dilaksanakan pada semester genap pada tahun ajaran 2023/2024.

Target atau Subjek Penelitian


Penelitian ini fokus pada kelas VII di SMP Negeri 1 Sei Kepayang Barat, dengan perlakuan berupa
penerapan pembelajaran berbasis konstruktivisme pada semester genap tahun pelajaran 2023/2024, yang
melibatkan 23 siswa. Materi pembelajaran yang disampaikan adalah aritmatika sosial. Setelahnya, dilakukan tes

2
Judul Artikel
Nama Penulis 1, Penulis 2
DOI:

untuk mengukur pemahaman konsep, dan akhirnya dipilih subjek untuk menjalani wawancara. Proses
pengambilan subjek yang akan mengikuti wawancara didasarkan pada kriteria indikator kemampuan siswa.
Subjek tersebut dibagi menjadi lima kategori, yaitu (1) sangat rendah (2) rendah (3) sedang (4) tinggi dan (5)
sangat tinggi, kemudian jawaban siswa dari kelima kategori tersebut dianalisis untuk menentukan pola-pola
jawaban yang dominan. Subjek wawancara dipilih dengan mempertimbangkan peninjauan dari setiap klasifikasi
jawaban. Wawancara dilakukan terhadap siswa-siswa tersebut dengan memperhatikan kemampuan mereka
dalam memberikan data secara jelas, benar, dan dapat dipercaya. Apabila data yang diperoleh masih belum
lengkap, maka subjek wawancara yang baru akan dipilih. Pertimbangan pemilihan subjek diharapkan bahwa
siswa yang diwawancarai akan memberikan keterangan yang lebih lengkap. Proses ini berlanjut hingga subjek
yang diwawancarai dapat memberikan data yang dikumpulkan sampai jenuh (Sugiyono, 2016).

Prosedur
Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu : (1) tahap perencanaan meliputi observasi awal
dan penyusunan perangkat pembelajaran, (2) tahap pelaksanaan meliputi validasi instrumen penelitian dan (3)
tahap akhir yang meliputi mengelola data dari hasil penelitian.

Instrumen
Teknik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah tes dan wawancara. Jenis tes yang digunakan
adalah uraian sebanyak 6 soal yang sudah di sesuaikan dengan indikator pemahaman konsep. Kemudian
wawancara dilakukan secara mendalam mengenai pertanyaan – pertanyaan berbasis kesalahan yang dilakukan
siswa pada lembar jawaban tes pemahaman konsep, untuk menjaring sebanyak -banyaknya hal yang berkaitan
dengan proses siswa dalam menyelesaikan soal yang diujikan untuk menelusuri berbagai kesulitan siswa
melalui kesalahan dalam lembar jawaban tes pemahaman konsep.

Teknik Analisis Data


Tabel 1. Nilai Kemampuan Pemahaman Konsep
No. Nilai Kriteria
1 M +1 ,5 SD< x Sangat Baik
2 M +0 , 5 SD< x ≤+1 ,5 SD Baik
3 M −0 , 5 SD< x ≤ M + 0 ,5 SD Sedang
4 M −1 , 5 SD< x ≤ M −0 ,5 SD Rendah
5 x ≤ M −1 , 5 SD Sangat Rendah

Teknik analisis data menggunakan analisis Milles and Huberman yang terdiri dari tiga tahap yaitu :
tahap pertama atau reduksi data meliputi proses merangkum, pemilihan inti, fokus pada hal – hal penting serta
mencari tema dan pola dalam data, selanjutnya tahap kedua atau penyajian data dapat berupa uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori, flowerchart, dan sejenisnya. Penyajian data dilakukan dengan menampilkan
kumpulan data yang sudah terorganisir dan terkategori, memungkinkan penarikan kesimpulan dan tahap ketiga
atau penarikan kesimpulan setelah diperoleh dan menganalisis data, tahap wawancara terhadap subjek penelitian
dianalisis secara kualitatif. wawancara dilakukan dengan merujuk pada lembar jawaban tes pemahaman konsep
matematika siswa, sehingga diperoleh analisis pemahaman konsep matematika siswa. Selanjutnya, seluruh data
yang dihasilkan dari wawancara dengan siswa dianalisis untuk penulisan dalam laporan penelitian.

3
Judul Artikel
Nama Penulis 1, Penulis 2
DOI:

Gambar 1. Langkah - langkah Analisis Data Miles and Huberman

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Setelah melaksanakan pembelajaran berbasis konstruktivisme pada materi aritmatika sosial, dilanjutkan
dengan pemberian tes kemampuan pemahaman konsep matematika berbentuk essai yang terdiri dari 6 butir soal
yang bertujuan untuk mendapatkan data kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang kemudian di
olah dan di analisis.
Tabel 2. Hasil Tes Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa

Jumlah Siswa Skor Maksimum Skor Minimum Skor Rata – Rata Kategori
23 96 25 67,91 Sedang
tabel hasil tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang menunjukkan bahwa skor
tertinggi yang diperoleh siswa adalah 96 dan skor terendah adalah 25 dengan skor rata – rata sebesar 67,91
dengan kategori sedang. Adapun hasil kategorisasi tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika yang
dikelompokkan dalam 5 tingkatan sebagai berikut :

Tabel 3. Tingkat Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa

Kategori Rentang Skor Jumlah Siswa Persentase


Sangat Tinggi 89 , 81 ≤ skor ≤ 100 3 13%
Tinggi 72 , 91≤ skor<89 , 81 8 34,8%
Sedang 56 , 01 ≤ skor<72 , 91 10 43,5%
Rendah 39 , 11≤ skor<56 ,01 1 4,3%
Sangat Rendah 0 ≤ skor< 39 ,11 1 4,3%
Jumlah 23 100%
Adapun diagram tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika adalah :

4
Judul Artikel
Nama Penulis 1, Penulis 2
DOI:

Pemahaman Konsep Matematika


Siswa
15

Jumlah Siswa
10
Series 1
5
0
Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat
Rendah Tinggi
Kategori

Gambar 2. Tingakat Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa


Dari 23 siswa yang mengikuti tes kemampuan pemahaman konsep matematika diperoleh banyaknya
siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep kategori ‘sangat tinggi’ adalah 3 orang dengan persentase
13% , banyaknya siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep kategori ‘tinggi’ adalah 8 orang dengan
persentase 34,8%, banyaknya siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep kategori ‘sedang’ adalah 10
orang dengan persentase 43,5%, banyaknya siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep kategori
‘rendah’ adalah 1 orang dengan persentase 4,3% dan banyaknya siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman
konsep kategori ‘sangat rendah’ adalah 1 orang dengan persentase 4,3%.
Tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika
siswa, proses jawaban tes kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dalam penerapan pembelajaran
berbasis konstruktivisme. Kesulitan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa berhubungan dengan
kemampuan belajar siswa yang kurang sempurna. Kekurangan tersebut dapat dilihat dari proses jawaban siswa
dalam menyelesaikan soal tes yang tidak tuntas karena kesalahan dalam penggunaan konsep maupun prinsip.

3.1. Tingkat Kemampuan Pemahaman Konsep


Berdasarkan data skor hasil tes kemampuan pemahaman konsep matematika yang diperoleh skor rata –
rata kemampuan pemahaman konsep matematika siswa adalah 67,91 atau dapat dikatakan rata – rata
kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dalam kategori “sedang”. Kelompok siswa dengan tingkat
kemampuan pemahaman konsep matematika kategori ‘sedang’ memiliki proporsi tertinggi yaitu 43,5% , diikuti
oleh tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika kategori ‘tinggi’ yaitu 34,8%, kemudian tingkat
kemampuan pemahaman konsep matematika kategori ‘sangat tinggi’ yaitu 13,0%, lalu tingkat kemampuan
pemahaman konsep matematika kategori ‘rendah’ yaitu 4,3%, dan tingkat kemampuan pemahaman konsep
matematika kategori ‘sangat rendah’ yaitu 4,3%. Dari 23 siswa yang mengikuti tesbkemampuan pemahaman
konsep matematika, 3 orang siswa memiliki kemampuan pemahaman konsep ‘sangat tinggi’, 8 orang siswa
memiliki kemampuan pemahaman konsep ‘tinggi’, 10 orang siswa memiliki kemampuan pemahaman konsep
matematika ‘sedang’, 1 orang siswa memiliki kemampuan pemahaman konsep matematika ‘rendah’, dan 1 orang
siswa memiliki kemampuan pemahaman konsep matematika ‘sangat rendah’.

3.2. Kesulitan Siswa Dalam Pemahaman Konsep


Berdasarkan hasil wawancara pada setiap tingkat kategori siswa maka siswa dengan tingkat
kemampuan pemahaman konsep sangat tinggi tidak mengalami kesulitan dalam menyatakan ulang sebuah
konsep dengan baik sesuai pengalaman belajarnya, menyajikan contoh dan bukan contoh dengan baik, tetapi
masih mengalami kesulitan dalam menjalankan rumus dalam pemecahan masalah. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian (Panjaitan et al., 2022) bahwa siswa kemampuan pemahaman konsep sangat tinggi mampu menguasai
indikator menyatakan ulang sebuah konsep dan memberikan contoh dan bukan contoh dari suatu konsep, akan
tetapi dalam penerapkan konsep / algoritma kedalam pemecahan masalah siswa kurang teliti saat menghitung
hasil sehingga melakukan kesalahan perhitungan pada soal.
Selanjutnya, siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep tinggi tidak mengalami kesulitan
dalam menyatakan ulang sebuah konsep dan menerapkan konsep/ algoritma kedalam pemecahan masalah
dengan baik sesuai pengalaman belajarnya, tetapi masih mengalami kesulitan dalam menyajikan contoh dan

5
Judul Artikel
Nama Penulis 1, Penulis 2
DOI:

bukan contoh disertai dengan alasan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Yani et al., 2019) menunjukkan
bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memberikan contoh dan bukan contoh disertai dengan alasan dari
konsep karena tidak memahami konsep dan hanya menghafal rumusnya.
Selanjutnya, siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika sedang mengalami
kesulitan dalam memberi contoh dan bukan contoh dari suatu konsep dan menerapkan konsep/algoritma kedalam
pemecahan masalah. (Laila Sulistiowati, 2022) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kesulitan siswa dapat
terjadi karena kurangnya pemahaman dan kemampuan untuk menghubungkan satu konsep matematika dengan
konsep lainnya. Kelemahan ini dapat terjadi karena tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam
mengingat dan menerapkan konsepmatematika yang sudah dipelajari.
Selanjutnya, siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika renda mengalami
kesulitan dalam menyatakan ulang suatu konsep dengan bahasa sendiri, memberi contoh dan bukan contoh dari
suatu konsep dan menerapkan konsep/algoritma kedalam pemecahan masalah. (Ayu et al., 2021) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa kesulitan yang dialami siswa disebabkan oleh kurangnya pemahaman konsep
dan siswa masi kebingungan ketika menyelesaikan soal yang berbeda dari contoh guru, serta mereka juga sering
menggunakan rumus yang salah saat menyelesaikan suatu permasalahan.
Selanjutnya, siswa dengan tingkat kemampuan pemahaman konsep sangat rendah mengalami kesulitan
dalam menyatakan ulang suatu konsep dengan bahasa sendiri, memberi contoh dan bukan contoh dari suatu
konsep dan menerapkan konsep/algoritma kedalam pemecahan masalah. Penyebab munculnya kesulitan yang
dialami oleh siswa kerena siswa belum sepenuhnya dan tuntas dalam memahami definisi, sifat–sifat atau rumus,
dan materi prasyarat sehingga dalam penyelesaiannya siswa mengalami kesulitan dan berakibat banyaknya
keslahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal tes. Selain itu faktor penyebab kesulitan pemahaman
konsep mencakup kesulitan siswa dalam memahami soal ini tergantung pada pemahaman masing - masing
terhadap pelajaran matematika. Hal ini terlihat dari beberapa peserta didik yang mengalami kesulitan, baik
mereka yang berkemampuan rendah, sedang, maupun tinggi (Ruben & Desfitri, 2021).

4. SIMPULAN
Berdasarkan analisis data hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
1. Tingkat kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dalam penerapan pembelajaran berbasis
konstruktivisme berada pada tingkat sedang. Dari 23 siswa sebanyak 3 siswa tingkat kemampuan
pemahaman konsep matematikanya ‘sangat tinggi’, 8 siswa tingkat kemampuan pemahaman konsep
matematikanya ‘tinggi’, 10 siswa tingkat kemampuan pemahaman konsep matematikanya ‘sedang’,
1 siswa tingkat kemampuan pemahaman konsep matematikanya ‘rendah’, dan 1 siswa memiliki
tingkat kemampuan pemahaman konsep matematikanya ‘sangat rendah’.
2. Kesulitan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dalam penerapan pembelajaran
berbasis konstruktivisme diantaranya kesulitan dalam memberi dan menentukan contoh dan bukan
contoh dari bruto, neto, tara, diskon dan kesulitan menentukan hubungan antar konsep aritmatika
sosial dalam pemecahan masalah.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih sebesar – besarnya ditujukan kepada Bapak Bornok Sinaga selaku pembimbing dan
pemberi arahan terhadap penyusunan jurnal ini.
DAFTAR PUSTAKA
Alzanatul Umam, M., & Zulkarnaen, R. (2022). Analisis Kemampuan Pemahaman Konsep Matematis Siswa Dalam
Materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 8(1), 303–312.
[Link]
Andika Pratama, G., Tanggu Renda, N., Pudjawan, K., & Pendidikan Guru Sekolah Dasar, J. (2018). PENGARUH
MODEL PEMBELAJARAN CRH BERBANTUAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP HASIL
BELAJAR IPS. In Jurnal Mimbar Ilmu (Vol. 23, Issue 1).
Ayu, S., Ardianti, S. D., & Wanabuliandari, S. (2021). ANALISIS FAKTOR PENYEBAB KESULITAN BELAJAR
MATEMATIKA. AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 10(3), 1611.
[Link]
Harefa, A. (2022). Pengaruh Globalisasi Terhadap Perilaku Sosial Siswa. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 271–
277. [Link]

6
Judul Artikel
Nama Penulis 1, Penulis 2
DOI:

Kukuh, N. M., & Pinton, M. S. (2021). Teori Belajar Konstruktivisme dan Implikasinya dalam Pendidikan dan
Pembelajaran. [Link]
Laila Sulistiowati, D. (2022). Faktor Penyebab Kesulitan Siswa dalam Memecahkan Masalah Geometri Materi Bangun
Datar. BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu, 941–951.
Linda Antika, T., Saefudin Wahid, F., Rizki Yono, R., Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, P., & Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, F. (2023). Upaya Meningkatkan Hasil Pembelajaran Siswa dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia Menggunakan Model Pembelajaran Konstruktivisme Efforts to Improve Student Learning Outcomes
in Indonesian Learning Using the Constructivism Learning Model (Vol. 1, Issue 1).
Mariama. (2023). Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Dengan Pendekatan Contextual Teaching And Learning Di
SD Negeri 5 Kuripan. Journal of Elementary School Education, 3.
Panjaitan, S. M., Sitepu, C., Hutabarat, C. P., Manalu, D. B., Joissalina, E., Sihaloho, B., & Tampubolon, A. M.
(2022). Analisis Kesulitan Pemahaman Konsep Matematika Peserta Didik Pada Materi Aritmatika Sosial Di
Kelas Viii Smp Negeri 3 Tarutung. Journal of Mathematics Education and Applied, 26–31.
[Link]
Putra Marunduri, R., Otniel, H., & Harefa, N. (2022). Upaya Guru PPKn Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Anti
Korupsi Pada Siswa. EDUCATIVO: JURNAL PENDIDIKAN, 1(2), 486–495.
[Link]
Ruben, I. F., & Desfitri, R. (2021). ANALISIS KESULITAN PEMAHAMAN KONSEP BILANGAN BULAT PADA
SISWA KELAS VIII SMPN 18 PADANG.
Sugiyono. (2016). Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: ALFABETA.
Waruwu, S. (2022). Pendekatan Konstruktivisme Dengan Teknik M3 (Mengamati, Menirukan, Memodifikasi) Untuk
meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Pidato. Educativo: Jurnal Pendidikan, 1(1), 326–333.
[Link]
Yani, C. F., Roza, Y., Murni, A., Zuhri Daim, dan, Studi Magister Pendidikan Matematika, P., & Riau Jalan Kampus
Bina Widya, U. K. (2019). Analisis Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa pada Materi Bangun Ruang Sisi
Lengkung. Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika , 8(2), 2086–4280.
[Link]
Zagoto, M. M., Yarni, N., & Dakhi, O. (2019). PERBEDAAN INDIVIDU DARI GAYA BELAJARNYA SERTA
IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN. Jurnal JRPP, 2(2), 259.
[Link]

Anda mungkin juga menyukai