0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan28 halaman

Hakikat dan Pengertian Hasil Belajar Matematika

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan28 halaman

Hakikat dan Pengertian Hasil Belajar Matematika

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN

HIPOTESIS PENELITIAN

A. Landasan Teori

1. Hakikat hasil belajar Matematika

a. Pengertian Belajar

Belajar merupakan suatu proses yang erat kaitannya dengan

kehidupaan manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Disadari

ataupun tidak, sejak kecil kita sebenarnya sudah mengenal belajar.

Ketika baru lahir bayi sudah mulai belajar mendengar. Beberapa lama

kemudian, indera pengelihatannya bisa difungsikan dan ia mulai

belajar melihat. Ia sudah bisa mendengar apa yang di dengarny. Sudah

bisa melihat, tetapi belum bisa mengungkapkan dengan kata-kata.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai mengingat apa yang di dengar dan

dilihatnya dan mencoba belajar berbicara menirukan ucapan orang

lain. Selain belajar mendengar, melihat dan berbicara, ia juga belajar

melalui gerakan dengan bantuan orangtua kita mulai belajar

merangkak, berdiri, sampai bisa berjalan dengan lancar. Jadi,

sebenarnya kita belajar menggunakan seluruh panca indera kita.

Dalyono (2005:49) mendefinisikan belajar adalah suatu usaha

atau kegiatan yang bertujuan mengadakan perubahan didalam diri

seseorang, mencangkup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan,

9
10

ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sebagainya. Selain itu, Harold

Spears (Sardiman, 2011: 20) menyatakan, “Learning is to observe, to

read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow

direction”. Artinya, belajar adalah mengamati, membaca, meniru,

mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan, dan lain sebagainya. Jadi,

belajar dimulai dengan adanya tindakan atau perbuatan yang

melibatkan panca indera melalui kegiatan yang dilakukan untuk

mencapai suatu hasil berupa perubahan-perubahan yang terjadi

didalam kehidupannya.

Moh. Surya mengemukakan (2001:32), belajar adalah suatu

proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu

perubahan tingkah laku yang baru keseluruhan, sebagai hasil

pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan

lingkungan.

Sedangkan menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of

Learning 1997, belajar merupakan sejenis perubahan yang

diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaannya

berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sudah

melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya

suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-

merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.

Dari beberapa pengertian belajar diatas, maka disimpulkan

bahwa semua aktifitas mental atau psikis yang dilakukan oleh


11

seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang

berbeda antara sesudah belajar dan sebelum belajar.

b. Pengertian Hasil Belajar

Menurut Usman (2005:5), belajar diartikan sebagai proses

perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi

antara individu dan individu dengan lingkungannya. Dalam pengertian

ini terdapat kata perubahan yang berarti bahwa seseorang setelah

mengalami proses belajar, Akan mengalami perubahan tingkah laku,

baik aspek pengetahuan, keterampilan, maupun aspek sikapnya.

Misalnya dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi

mengerti, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi

sopan. Kriteria keberhasilan dalam belajar diantaranya ditandai

dengan terjadinya perubahan tingkah laku para individu yang belajar.

Sejalan dengan pengertian di atas, Winkle (1986:5)

mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian belajar yang

sesungguhnya, yaitu: Kegiatan psikis seseorang yang berlangsung

dalam interaksi aktif dengan lingkungan. Begitu pula dengan pendapat

Soemanto (2003:47) dalam bukunya psikologi penelitian: belajar

adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang

menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri sendiri, baik untuk

pengetahuan dan keterampilan maupun dalam bentuk sikap dan nilai

yang positif.
12

Berbicara tentang belajar pada dasarnya berbicara tentang

bagaimana tingkah laku seseorang berubah sebagai akibat

pengalaman. Agar terjadi proses belajar atau terjadinya perubahan

tingkah laku yang membutuhkan suatu pengakuan maka proses belajar

dapat terjadi atau dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan formal

atau non formal yang sesuai dengan kebutuhan akan suatu

pengetahuan dan pengalaman seseorang. Hal ini ditegaskan oleh J.

Crobach (2006:13), yang menytakan bahwa: Belajar menunjukkan

adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Oemar

Hamalik (2002:28) mengemukakan: “Belajar adalah suatu bentuk

perubahan atau perubahan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru

berkat pengalaman dan latihan”. Walaupun belajar didefinisasikan

dalam berbagai asumsi tetapi dalam prinsipnya tidak nampak

kontradiksi antara pendapat yang satu dengan pendapat yang lainnya.

Dengan demikian dapat kita ambil kesimpulan bahwa hakikat belajar

adalah adanya perubahan tingkah laku akibat suatu perubahan melalui

latihan dan pengalaman yang bersifat permanen dan dapat bertahan

dalam waktu yang cukup lama. Tanpa belajar manusia akan

mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan dan

tuntutan hidup yang senantiasa berubah.

Di dalam belajar pasti ada tujuan, ada yang ingin dicapai.

Keberhasilan tujuan belajar tidak terlepas dari individu dan dari proses

belajarnya. Hasil belajar dapat dikatakan identik dengan tujuan


13

belajar. Hasil belajar merupakan tingkat penguasaan yang dicapai oleh

siswa setelah mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan

tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Sudjana (1992:20-21)

mengemukakan: Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku, dan

perubahan tersebut didasari dan timbul akibat praktek, pengalaman

dan latihan. Perubahan itu juga relatif permanen sebagai hasil praktek

dan latihan. Dimyati (2002:9) mengemukakan bahwa: Hasil belajar

akan mengukur sejauh mana perubahan tingkah laku (afektif, kognitif,

psikomotorik) yang terjadi pada siswa. Hasil belajar pada hakikatnya

adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar

mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Secara garis

besar Bloom mengklasifikasikan hasil belajar menjadi 3 (tiga) ranah,

yaitu: ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ranah

kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual terdiri dari 6

(enam) aspek, yaitu: (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) aplikasi, (4)

analisis, (5) strategi dan, (6) evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan

sikap terdiri dari 5 (lima) aspek, yaitu: (1) penerimaan, (2) jawaban

atau reaksi, (3) penilaian, (4) organisasi dan, (5) internalisasi. Ranah

psikomotorik berkenaan dengan keterampilan dan kemampuan

bertindak terdiri atas 6 (enam) aspek, yaitu: (1) gerakan refleks, (2)

keterampilan gerakan dasar, (3) kemampuan perseptual, (4)

keharmonisan atau ketepatan, (5) gerakan keterampilan kompleks dan

(6) gerakan ekspresif-interpretatif.


14

Menurut Block (2005: 64), Ciri khas belajar pada aspek kognitif

terletak dalam belajar memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk

representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi, entah itu objek

orang, benda, atau kejadian-kejadian. Ini menjelaskan bahwa belajar

itu harus dihadapkan pada hal-hal yang bersifat konkrit. Sedangkan

menurut Simpson yang dikutip oleh Anas (2001:57-58)

mengemukakan: Hasil belajar psikomotorik sebenarnya merupakan

kelanjutan dari hasil belajar kognitif dan afektif yang tampak dalam

kecenderungan berperilaku. Ini berarti hasil belajar kognitif dan hasil

belajar afektif akan menjadi hasil belajar psikomotorik apabila peserta

didik menunjukan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan

makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan ranah afektifnya.

Dari beberapa definisi di atas dikatakan bahwa dengan belajar

akan terjadi perubahan pada diri seseorang yang dilakukan dengan

sengaja dan disadari, bukan dilakukan secara kebetulan. Perubahan

tingkah laku dalam belajar dikatakan sebagai hasil belajar. Untuk

mengetahui hasil belajar yang telah dicapai dalam proses belajar,

dapat dilakukan evaluasi. Suharsimi Arikunto (2000:3) menjelaskan

bahwa: Evaluasi meliputi kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur

adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran, pengukuran

bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu

keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik atau buruk, penilaian

bersifat kualitatif.
15

Menurut Asmawi (2007:5), Pengukuran adalah pemberian angka

pada suatu karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau

objek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. Lebih lanjut

Asmawi (1997:6) menyatakan, Dalam suatu pengukuran terdapat dua

karakteristik yang utama, penggunaan angka atau skala tertentu dan

menurut suatu aturan atau formula tertentu. Pada karakteristik yang

pertama yaitu penggunaan angka atau skala tertentu dapat diketahui

setelah diadakan tes sebagai alat ukur non tes berupa observasi, skala

rating dan sebagainya. Pengukuran menurut suatu aturan atau formula

tertentu dilakukan berdasarkan suatu kesepakatan secara umum

bagaimana memberi pengukuran pada karakteristik tertentu.

Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap

hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu . Hasil

belajar dapat dilihat dengan mengguanakan tes. Sudjana (2000:35),

mengatakan bahwa: Tes pada umumnya digunakan untuk menilai dan

mengukur hasil belajar siswa, terutama hasil belajar kognitif

berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan

pendidikan dan pengajaran. Dalam batas tertentu, tes dapat pula

digunakan untuk mengukur atau menilai hasil belajar bidang afektif

dan pikomotorik. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa

hasil belajar adalah kemapuan yang didapat akibat proses belajar serta

perubahan tingkah laku yang didasari dan ditimbulkan akibat dari


16

praktek, pengalaman dan latihan yang hasil kesemuanya dapat

diketahui lewat kegiatan evaluasi.

c. Konsep Belajar Matematika

Menurut Hujodo (2000:3), mengartikan bahwa matematika

berkenaandengan konsep-konsep atau ide-ide abstrak yang tersusun

secara hirarkis dan penalarannya deduktif. Ia menambahkan, karena

matematika merupakan ide-ide abstrak yang terdiri dari simbol-

simbol, maka konsep-konsep matematika harus lebih dipahami lebih

dahulu sebelum memanipulasi symbol-simbol itu.

Rusefendi (2010:11) menambahkan bahwa kegunaan dari

matematika sebagai berikut :

1) Matematika sebagai bekal kehidupan sehari-hari

2) Matematika sebagai study lanjut

3) Matematika sebagai pemahaman dan kemampuan bersyarat

4) Matematika sebagai pembantu bidang studi lain

5) Matematika untuk pengembangan ilmu

d. Pengertian Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar matematika siswa merupakan suatu indikator untuk

mengukur suatu keberhasilan siswa dalam proses pembelajaran

matematika. Dengan adanya hasil belajar matematika ini, siswa

diharapkan mengalami perubahan kearah yang lebih positif baik dari

segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik sebagai bukti keberhasilan

dari proses kegiatan belajar mengajar matematika yang telah


17

dilakukan. Perubahan kognitif menekankan pada aspek intelektual

yaitu peningkatan/penambahan pengetahuan. Perubahan Afektif yaitu

penambahan yang berhubungan dengan sikap atau lebih menekankan

pada aspek perasaan dan emosi. Sedangkan perubahan Psikomotorik

yaitu peningkatan yang berhubungan dengan keterampilan motorik

atau keaktifan fisik, seperti mengetik, menulis, berenang dan

berenang. Sedangkan menurut Khodijah dan Rahayu (2006:7), hasil

belajar matematika adalah perubahan tingkah laku siswa setelah siswa

tersebut mengalami proses belajar matematika, yaitu perubahan

kearah berpikir logis dan sistematis.

Berkaitan dengan hasil belajar matematika, Rosadi, dkk

(2006:95) berpendapat bahwa hasil belajar merupakan perubahan

tigkah laku secara menyeluruh pada diri siswa yang belajar baik

perubahan secara kognitif, afektif, dan psikomotorik serta dapat

menerapkan pemahaman dan penguasaan materi pelajaran yang telah

dipelajarinya kedalam kehidupan sehari-hari. Perubahan yang terjadi

dalam proses belajar ini merupakan pengalaman atau praktek yang

dilakukan dengan sengaja dan disadari atau dengan kata lain terjadi

bukan karena kebetulan. Untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil

belajar siswa atau kemampuan siswa dalam suatu pokok bahasan, guru

biasanya mengadakan tes hasil belajar. Hasil belajar dinyatakan dalam

bentuk skor yang diperoleh siwa setelah mengikuti suatu tes hasil

belajar yang diadakan setelah selesai program pengajaran. Hasil


18

belajar matematika juga dapat ditunjukkan dalam bentuk perubahan

pengetahuan dan pemahaman serta perubahan aspek-aspek lain pada

individu secara bertahap. Jadi hasil belajar itu adalah hasil yang

dicapai siswa sebagai bukti keberhasilan proses belajar mengajar yang

dialami siswa dalam pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil

belajar matematika adalah hasil yang dicapai siswa sebagai bukti

keberhasilan dalam proses belajar matematika, baik dalam bentuk

pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai.

2. Strategi Team Teaching

a. Pengertian Strategi

Strategi biasa diartikan sebagai pola - pola umum kegiatan guru dan

anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai

tujuan yang telah digariskan. Strategi secara umum dapat didefinisikan

sebagai suatu garis besar haluan bertindak untuk mencapai sasaran yang

telah ditetapkan. Menurut Newman dan Logan, dalam bukunya yang

bejudul Strategi Policy And Central Management (2001 : 8), strategi dasar

dalam setiap usaha akan mencakup hal sebagai berikut :

a. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dalam kualifikasi


hasil seperti apa yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha
itu yang sesuai dengan aspirasi dan selera masyarakat.
b. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama
manakah yang dipandang paling efektif guna mencapai sasaran
tersebut.
c. Mempertimbangkan dan menetpkan langkah-langkah apa saja
yang akan ditempuh untuk mencapai sasaran tersebut.
19

d. Mempertimbangkan dan menetapkan kriteria dan patokan


ukuran yang harus dipergunakan untuk mengukur dan menilai
taraf keberhasilan usaha tersebut.

Empat strategi dasar dalam belajar mengajar meliputi hal-hal berikut:

a. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi


perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana
yang diharapkan.
b. Memilih strategi pendekatan belajar mengajar bedasarkan
aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar
mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif, sehingga dapat
dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan
pembelajaran.
d. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau
criteria serta standar keberhasilan, sehingga dapat dijadikan
pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan
belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik
buat penyempurnaan sistem intruksional yang bersangkutan
secara keseluruhan.

Berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar yang

secara keseluruhan diklasifikasikan seperti berikut :

a. Konsep dasar strategi belajar mengajar

b. Sasaran kegiatan belajar

c. Belajar mengajar sebagai suatu sistem

d. Hakikat proses belajar

e. Entering behavior peserta didik

f. Pola-pola belajar peserta didik

g. Memilih strategi belajar peserta didik

h. Pengorganisasian kelompok belajar

i. Pengelolaan atau implementasi proses belajar mengajar


20

Berbicara tentang penyelenggaraan pendidikan di sekolah, tentu

tidak terlepas dari peran serta guru dalam melaksanakan proses

pembelajaran siswa, yang diwujudkan dalam bentuk interaksi belajar

mengajar, baik antara pendidik dengan pendidik lainnya, pendidik dengan

peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik dan

lingkungannya. Dalam menyelenggarakan pembelajaran formal, pendidik

berpedoman pada rencana dan pengaturan tentang pendidikan, yang

keseluruhannya dikemas dalam bentuk kurikulum

Ketika dihadapkan dengan tuntutan kurikulum yang sangat kompleks

dan kondisi nyata yang kurang kondusif, guru seringkali menjadi tidak

berdaya dan memiliki keterbatasan untuk dapat mengimplementasikan

kurikulum sesuai dengan apa yang diharapkan dan digariskan dalam

ketentuan yang ada.

b. Pengertian Strategi Team teaching

Dalam hal ini, strategi Team teaching tampaknya bisa dijadikan

sebagai alternatif untuk mengatasi permasalahan yang ada. Team teaching

merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua

orang guru atau lebih dalam proses pembelajaran siswa, dengan

pembagian peran dan tanggung jawab secara jelas dan seimbang. Melalui

strategi Team teaching, diharapkan antar mitra dapat bekerja sama dan

saling melengkapi dalam mengelola proses pembelajaran. Setiap

permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran dapat diatasi secara


21

bersama-sama. Melalui tulisan ini akan dipaparkan tentang konsep dasar

team teaching dan tahapan-tahapan dalam pembelajaran team teaching.

1) Konsep Dasar Team teaching

Dewasa ini, seiring dengan semakin modernnya pendidikan dan

tuntutan yang semakin berkembang, tak jarang sekolah-sekolah yang

masih menggunakan sistem pembelajaran konvensional dalam

melaksanakan proses pembelajarannya. Dalam proses pembelajaran

dengan sistem konvensional ini, proses pembelajaran dilakukan secara

soliter, artinya proses pembelajaran yang dimulai dari perencanaan,

pelaksanaan, sampai kepada evaluasi pembelajaran siswa dilakukan oleh

satu orang guru (Soewarni, 2007:diakses tanggal 10 November 2014).

Padahal sebenarnya, sekarang ini kurikulum pendidikan di Indonesia

sudah makin berkembang. Telah banyak tuntutan-tuntutan yang ditujukan

kepada guru. Saat ini, guru dituntut untuk lebih inovatif dan kreatif dalam

menentukan/memilih metode pembelajaran yang digunakan, yang tentunya

harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan kepada

siswa. Selain itu, guru di era sekarang juga dituntut untuk lebih mengenal

setiap individu dari diri siswa. Dan melihat ratio antara jumlah guru dan

siswa yang tidak seimbang, tentu seorang guru tidak mungkin bisa

menangani jumlah siswa yang banyak itu.

Satu hal yang juga penting, bahwa yang namanya guru bukan berarti

orang yang tahu akan segala hal. Dalam hal ini, setiap manusia tentulah

memiliki kekurangan pengetahuan. Ini menunjukkan bahwa guru pun


22

membutuhkan sosok lain yang bisa diajak kerja sama dalam menghadapi

segala kesulitan yang ada pada saat melaksanakan proses pembelajaran.

Jika melihat beberapa masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan,

dalam hal ini pihak sekolah dan guru-guru dituntut daya kreatifitasnya

dalam memilih strategi yang tepat agar segala tuntutan yang ditujukan

terhadap guru khususnya itu dapat terpenuhi dengan maksimal. Dan

tampaknya strategi Team teaching merupakan cara tepat.

Team teaching merupakan strategi pembelajaran yang kegiatan proses

pembelajarannya dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan

pembagian peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Definisi ini

sesuai dengan yang dijelaskan oleh Martiningsih (2007) bahwa Metode

pembelajaran team teaching adalah suatu metode mengajar dimana

pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas.

Lebih lanjut Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team

teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan

bersama oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan

bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan

pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Menurut

Ahmadi (2005), Para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan,

melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Pelaksanaan

belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah atau

bersama-sama dengan metode diskusi panel.


23

Sebenarnya ada beberapa jenis dari strategi Team teaching, sesuai

yang dijelaskan oleh Soewalni S (2007), yaitu:

1. Semi Team teaching (team planning) atau perencanaan

Semi Team teaching (team planning) atau perencanaan dalam tim

merupakan variasi yang paling banyak ditemukan. Dalam variasi ini,

anggota tim membuat perencanaan bersama, tetapi mengajar sendiri-

sendiri.

a. Tipe 1 = sejumlah guru mengajar mata pelajaran yang sama di kelas

yang berbeda. Perencanaan materi dan metode disepakati bersama.

b. Tipe 2a = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru secara

bergantian dengan pembagian tugas, materi dan evaluasi oleh guru

masing-masing.

c. Tipe 2b = satu mata pelajaran disajikan oleh sejumlah guru dengan

mendesain siswa secara berkelompok.

Pada dasarnya, perencanaan dalam tim dilakukan oleh anggota tim

sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Pemrakarsa perencanaan dapat

dilakukan oleh guru senior atau yang dianggap senior atau juga oleh

guru muda yang mempunyai gagasan untuk melakukan semi teaching

(team planning).

2. Team teaching Penuh atau mengajar bertim secara penuh.

Tipe 3 = satu tim terdiri dari dua orang guru atau lebih, waktu kelas

sama, pembelajaran mata pelajaran / materi tertentu. Perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi secara bersama dan sepakat. Variasi team


24

teaching penuh juga dapat bervariasi sesuai dengan hakikat materi/mata

pelajaran dan kesepakatan anggota tim, adapun variasi Team teaching

Penuh menurut Soewalni S (2007) ialah :

a. Pelaksanaan bersama, seorang guru sebagai penyaji atau

menyampaikan informasi, seorang guru membimbing diskusi

kelompok atau membimbing latihan individual.

b. Anggota tim secara bergantian menyajikan topik/materi. Diskusi /

tanya jawab dibimbing secara bersama dan saling melengkapi

jawaban dari anggota tim.

c. Seorang guru (senior) menyajikan langkah latihan, observasi,

praktek dan informasi seperlunya. Kelas dibagi dalam kelompok,

setiap kelompok dipandu seorang guru (tutor, fasilitator, mediator).

Akhir pembelajaran masing-masing kelompok menyajikan laporan

(lisan/tertulis) dan ditanggapi bersama serta disimpulkan bersama.

Variasi lain dapat diciptakan jika seorang guru sudah terbiasa

mengajar sebagai tim, karena pengalaman yang kaya akan mampu

menghasilkan variasi baru. Seperti halnya semi teaching (team

planning), team teaching penuh juga memerlukan penilaian yang

berkesinambungan. Setiap akhir sajian anggota tim dapat berkumpul

sejenak untuk melakukan penilaian proses dan hasil dalam bentuk

refleksi. Setiap anggota tim dapat mengungkapkan pengalamannya

selama bertugas dalam team teaching penuh.


25

Namun, dari beberapa jenis Team teaching yang dikemukakan oleh

Soewalni S, penulis lebih tertuju pada jenis Team teaching penuh,

karena disana lebih terlihat nyata strategi Team teaching-nya. Guru

yang mengajar lebih dari satu orang, mereka mengajar di kelas yang

sama dengan materi yang sama dan pada waktu yang sama, serta setiap

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya pun dilakukan atas

kesepakatan bersama. Hal ini sangat sesuai dengan prinsip

pembentukan team dalam sebuah pelaksanaan tugas, bahwa segala

sesuatunya yang berkaitan dengan misi pencapaian tujuan dilakukan

secara bersama-sama, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai

kepada evaluasi terhadap apa yang telah dilaksanakan.

2) Tahapan Pembelajaran dengan Strategi Team teaching

1. Tahap Awal

a. Perencanaan Pembelajaran Disusun Secara Bersama

Menurut Jamal (2007:53), Perencanaan pembelajaran atau

yang saat ini lebih populer dengan istilah Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) harus disusun secara bersama-sama oleh

setiap guru yang tergabung dalam Team teaching. Agar setiap

guru yang tergabung dalam team teaching memahami tentang

apa-apa yang tercantum dalam isi Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) tersebut, mulai dari standar kompetensi,

kompetensi dasar, dan indikator yang harus diraih oleh siswa


26

dari proses pembelajaran, sampai kepada penilaian hasil

evaluasi siswa.

b. Metode Pembelajaran Disusun Bersama

Selain Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang

harus disusun bersama oleh team, metode yang akan digunakan

oleh mereka dalam proses pembelajaran Team teaching pun

harus direncanakan bersama-sama oleh anggota Team teaching.

Perencanaan metode secara bersama ini dilakukan agar setiap

guru Team teaching mengetahui alur proses pembelajaran dan

tidak kehilangan arah pembelajaran (Asmani, 2007:54-56).

c. Partner Team teaching Memahami Materi dan Isi Pembelajaran

Guru sebagai partner dalam Team teaching bukan hanya

harus mengetahui tema dari materi yang akan disampaikan

kepada siswa saja, lebih jauh dari itu, mereka juga harus sama-

sama mengetahui dan memahami isi dari materi pelajaran

tersebut. Hal ini agar keduanya bisa saling melengkapi

kekurangan pengetahuan yang ada di dalam diri masing-masing.

Terutama ini dapat dirasakan manfaatnya dalam penyampaian

materi pada siswa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa

atas penjelasan guru

d. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab Secara Jelas

Dalam Team teaching, pembagian peran dan tanggung

jawab masingmasing guru harus dibicarakan secara jelas ketika


27

merencanakan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan,

agar ketika proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas,

mereka tahu peran dan tugasnya masing-masing. Tidak ada lagi

yang namanya ketidakjelasan peran dan tanggung jawab dalam

hal ini.

2. Tahap Inti

a. Satu guru sebagai pemateri dalam dua jam mata pelajaran

penuh, dan satu orang sebagai pengawas dan pembantu team.

b. Dua orang guru bergantian sebagai pemateri dalam dua jam

pelajaran, dalam hal ini berarti tugas sebagai pemateri dibagi

dua dalam dua jam pelajaran yang ada.

3. Tahap Evaluasi

a. Evaluasi Guru

Evaluasi guru selama proses pembelajaran dilakukan oleh

partner team setelah jam pelajaran berakhir. Evaluasi dilakukan

oleh masing-masing partner dengan cara memberi kritikan-kritikan

dan saran yang membangun untuk perbaikan proses pembelajaran

selanjutnya. Dalam hal ini setiap guru yang diberi saran harus

menerima dengan baik saran-saran tersebut, karena hakekatnya

itulah kelebihan dari team teaching. Setiap guru harus merasa

bahwa mereka banyak mengalami kekurangan dalam diri mereka,

tidak merasa diri paling benar dan paling pintar. Evaluasi ini
28

dilakukan di luar ruang kelas, ini dilakukan untuk menjaga image

masing-masing guru dihadapan siswa (Asmani, 2007:54-56).

b. Evaluasi Siswa

Evaluasi siswa dalam hal ini mencakup pembuatan soal

evaluasi dan merencanakan metode evaluasi, yang semuanya

dilakukan secara bersama-sama oleh guru Team teaching. Atas

kesepakatan bersama guru harus membuat soal-soal evaluasi yang

akan diberikan kepada siswa, disini guru Team teaching harus

secara bersama-sama menentukan bentuk soal evaluasi, baik lisan

ataupun tulisan, baik pilihan ganda, atau uraian.

Satu hal yang tak kalah pentingnya adalah dalam evaluasi

siswa, guru juga diharuskan merencanakan metode evaluasi.

Perencanaan metode evaluasi siswa ini di dalamnya mencakup

pembagian peran dan tanggung jawab setiap guru Team teaching

dalam pelaksanaan evaluasi, serta pembagian pos-pos pengawasan.

3) Manfaat Team teaching

Dalam team teaching, sekelompok guru mengadakan kerjasama,

merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran

kepada sekelompok siswa (satu kelas). Dengan demikian, kelemahan

dalam hal tertentu pada diri seseorang guru dapat ditutup oleh guru

yang lain (Asmani, 2007:56).

Team teaching merupakan strategi pembelajaran yang berfungsi

untuk mengorganisasikan guru, meskipun dalam praktiknya terdapat


29

format dan model yang berbeda-beda. Dalam team teaching, guru-guru

yang mempunyai kompetensi dan keahlian yang berbeda-beda, mereka

bergabung dalam satu team work untuk merencanakan dan

melaksanakan pembelajaran pada jam dan rombongan belajar yang

sama. Sehingga, sistem ini dapat memacu percepatan dan peningkatan

mutu sebuah pembelajaran.

4) Kelemahan Team teaching

Kelemahan team teaching pada umumnya bersumber dari anggota

tim dan persiapan yang diperlukan. Team teaching memerlukan

persiapan yang relative lebih banyak/lebih lama daripada kalu mengajar

sendiri, tidak semua guru mampu berperan sebagai anggota tim yang

kompak, sering terjadi anggota tim ingin menonjolkan kemampuan diri

sendiri sehingga partnernya dianggap tidak ada/diabaikan. Team

teaching memerlukan dana/fasilitas yang lebih banyak dibandingkan

jika mengajar sendiri (Wardani, 2010:22-23)

Dalam melaksanakan team teaching, para guru dituntut

mempunyai waktu ekstra dalam memadukan pemikiran, pendapat, dan

ide-ide yang cemerlang. Hal ini dimaksudkan agar dalam menghadapi

kelas, mereka berada dalam satu kesatuan yang kompak dan solid. Hal

ini memerlukan pembiasaan dan kedisiplinan yang tinggi. Sebab, bila

salah satu anggota team tidak disiplin, bahkan tidak mau berbagi

pengalaman, maka akan rusaklah team teaching yang dibentuk tersebut

(Asmani, 2007:61).
30

Jadi, tidak selamanya pelaksanaan team teaching itu berujung

sukses atau berhasil. Hal tersebut dikarenakan strategi ini memiliki

kelemahan, yang diantaranya muncul karena faktor anggota team

teaching sendiri. Berikut beberapa kelemahan strategi pembelajaran

team teaching.

1. Sebagai guru resistant saja, terhadap satu macam metode pengajaran

saja, yaitu pengajaran single teacher teaching. Sehingga, strategi

team teaching dirasakan oleh meraka sebagai suatu hal yang

mengungkung.

2. Sebagian guru tidak suka terhadap perilaku atau hal lain anggota

timnya. Sehingga, hal ini akan menghambat kerja sama di antara

anggota team.

3. Sebagian lainnya merasa bahwa mereka bekerja lebih banyak dan

lebih keras, namun gajinya sama dengan anggota teamnya yang

notabene kinerjanya lebih buruk.

4. Ada juga guru yang tidak mau berbagi ilmu sesama anggota tim

karena mereka merasa bahwa mendapatkan ilmu itu sangat susah.

Sehingga, mereka lebih memilih untuk menikmati sendiri

pengetahuan yang dimilikinya.

5. Team teaching memerlukan energi dan pemikiran lebih banyak

dibandingkan dengan mengajar secara individu.

Mungkin, masih banyak kelemahan lain dalam strategi ini. Namun

begitu, kelemahan-kelemahan tersebut dapat diatasi bila seluruh anggota


31

team, dan juga pihak-pihak yang ada diluar team-pemimpin sekolah dan

pengambilan keputusan-menyadari bahwa team teaching akan lebih baik

daripada individual teaching.

5) Efektifitas Team teaching

Berbicara mengenai efektifitaas pembelajaran dengan menggunakan

strategi team teaching, pada dasarnya sangat bergantung kepada

pemahaman tiap-tiap guru tentang konsep dasar pada strategi ini. Konsep

dasar (mindset) itu sangat penting, sebab unsur ini merupakan hal pokok

terlaksananya sebuah program. Secara umum, kondisi tersebut merupakan

prasyarat agar setiap program dapat berjalan dengan lancar. Ketika kita

berbicara mengenai satu hal maka yang harus diperhatikan adalah konsep

dasarnya (Asmani, 2007:62-63).

Oleh karena itulah, jika kita menerapkan strategi team teaching

dalam proses pembelajaran, kita harus benar - benar memahami konsep

dasarnya. Hal ini untuk menghindari terjadinya kesalah pahaman antara

sesama anggota team. Kita mengakui bahwa masih banyak guru yang

belum memahami konsep dasar pembelajaran team.

Berdasarkan temuan dilapangan, banyak guru yang menganggap

bahwa pembelajaran team dapat “digantikan” oleh teman satu team. Proses

pembelajaran yang seharusnya dilangsungkan dengan banyak nara sumber

dan pembimbing, ternyata dijadikannya sebagai kesempatan untuk

mangkir. Pola pikir seperti itu harus segera diluruskan.


32

Ada juga para guru yang memanfaatkan strategi pembelajaran ini

sebagai kesempatan pribadi. Mereka membuat jadwal tersendiri dibalik

jadwal yang sudah disusun oleh bagian kurikulum ataupun ketua program

keahlian. Hal inilah yang sangat membahayakan dalam proses

pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran team teaching akan efektif jika benar-

benar sesuai dengan konsep yang ada. Sebab, anak didik akan

mendapatkan materi yang lengkap. Setiap guru, dalam proses

pembelajaran, memberikan materi pembelajaran sesuai dengan

kopetensinya masing-masing. Dengan demikian, efektifitas program

pembelajaran dengan sistem team teaching tergantung kepada kinerja para

guru yang terlibat dalam team teaching. Sedangkan kinerja tersebut

merupakan hasil dari pemahaman mereka terhadap konsep dasar tentang

strategi pembelajaran team teaching.

6) Strategi Pelaksanaan Team teaching

Team teaching dilaksanakan tidak semudah pengajaran sendiri.

Team teaching memerlukan persiapan yang matang. Team teaching

memerlukan team yang padu dan seirama. Ibarat team paduan suara, guru

yang akan berkolaborasi harus mampu memainkan pembelajaran yang

padu dan kompak ke arah tujuan yang akan dicapai. Suara guru, antara

yang satu dengan guru yang lainnya, harus di atur sehingga enak didengar

siswa. Posisi berdiri team juga harus teratur. Upayakan kelas benar-benar
33

hidup dalam satu makna. Jangan sampai guru yang satu lebih berkuasa

dibandingkan guru lainnya (Asmani, 2007:65).

Adapun cara-cara mudah dalam menerapkan team teaching seperti

yang dikemukakan oleh Asmani, (2007:66) adalah sebagai berikut.

1. Rencanakan Bersama

Duduklah bersama untuk merencanakan pembelajaran yang akan

dilaksanakan. Lalu, aturlah perencanaan tersebut sampai ke hal yang

menyangkut teknis. Perencanaan yang dibuat bersama itu harus menjadi

pedoman utama.

2. Laksanakan Bersama

Semua team harus berada dikelas dengan posisi dan tugas yang

telah di atur dalam perencanaan. Jangan sampai ada guru atau anggota

team yang tidak masuk kelas dengan alasan “percaya” terhadap guru

lainnya dalam satu team. Jangan lupa, ukurlah tingkat pemahaman

siswa saat pelaksanaan. Kendali keberhasilan harus menjadi kunci kerja

team.

3. Evaluasi Bersama

Setelah pembelajaran usai, team perlu melakukan evaluasi

bersama. Team memerlukan catatan khusus selama proses pembelajaran

berlangsung. Kemudian, mereka harus melakukan diskusi untuk

mencari solusi terhadap permasalahan yang ditemukan. Selanjutnya,

team bisa menentukan metode dan langkah berikutnya yang lebih baik.
34

Selain itu, menurut Asmani (2007:67), strategi team teaching bisa

terlaksana dengan baik kalau guru atau team memiliki beberapa hal

sebagai berikut.

a. Kemauan dan komitmen dalam team teaching, bukan terpaksa.


b. Menyadari keterbatasan (pengetahuan, waktu, komunikasi) pada
diri masing-masing.
c. Mau memberikan kepercayaan kepada orang lain, dan memegang
kepercayaan orang lain (saling percaya).
d. Mau bekerja sama dalam satu team.
e. Memiliki pribadi yang sehat, terbuka, tidak emosional, dan tidak
mudah putus asa.
f. Mampu berkomunikasi secara efektif.
g. Mampu mengembangkan bidang keahlian atau bidang yang di
ampu.

Menurut Asmani (2007:71-82), Pelaksanaan team teaching dapat

dilakukan melalui beberapa pola. Berikut pola-pola dalam penerapan team

teaching tersebut.

a. Beberapa guru mengajarkan mata pelajaran yang sama dikelas


yang berbeda-beda. Dalam proses perencanaan, materi, bahan
ajar, atau hand out dapat disusun secara bersama-sama., walaupun
penyajian dan evaluasinya dilakukan secara sendiri-sendiri.
b. Setiap guru melakukan perencanaan, menentukan materi, dan
penyajian masing-masing. Tetapi, pada tahap evaluasi dilakukan
secara bersama-sama.
c. Satu mata pelajaran dapat ditangani oleh lebih dari seorang guru,
baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Dalam
pelaksanaan pembelajaran, seorang guru bertindak sebagai
penyaji atau menyamaikan informasi, sedangkan guru yang lain
membantu menyiapkan media pembelajaran, membimbing
diskusi kelompok, atau membimbing latihan individual. Anggota
team teaching dapat juga secara bergantian menyeajikan topik
atau materi pelajaran. Diskusi dan tanya jawab di bimbing secara
bersama-sama, dan harus saling melengkapi.

Sedangkan langkah-langkah sistem pelaksanaan team teaching


adalah sebagai berikut.

a. Menyusun perencanaan pembelajaran secara bersama. Sehingga,


setiap guru yang bergabung dalam team teaching memahami
35

semua yang tercantum dalam isi perencanaan itu beserta sistem


evaluasi yang akan dilakukan.
b. Menyusun metode pembelajaran secara bersama, sehingga
diharapkan setiap anggota tim mengetahui tujuan dan alur proses
pembelajaran.
c. Membedah dan mendiskusikan materi pembelajaran yang akan
diberikan kepada siswa. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota
team dapat saling melengkapi kekurangah yang ada pada diri
masing-masing. Selain itu, agar anggota team dapat memprediksi
berbagai kemungkinan yang kan timbul menyangkut kesulitan
siswa.
d. Membagi peran dan tanggung jawab bagi tiap-tiap anggota team.
Langkah ini ditempuh agar dalam proses pembelajaran dikelas,
tiap-tiap anggota mengetahui peran dan tugasnya masing-masing.
Selain itu, agar mereka dapat saling membantu satu sama lain
dalam pelaksanaan pembelajaran.
e. Apabila telah selesai melaksanakan pembelajaran, semua anggota
team duduk bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan
pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh berbagai
rumusan perbaikan yang tepat untuk pembelajaran berikutnya.

Team teaching, dengan demikian, merupakan salah satu cara dalam

mengimplementasikan kegiatan lesson study yang belakangan ini banyak

dikembangkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Sebab,

pelaksanaan pembelajaran team teaching berdasarkan pada prinsip

kolegialitas (kebersamaan) dan kolaborasi (kemitraan)

([Link], yang diakses pada 9 Oktober 2014).

3. Strategi Pembelajaran Konvensional Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah pembelajaran yang

menekankan kepada proses penyampaian meteri secara verbal dari

seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa

dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.

Menurut Sanjaya (2008:179), strategi penbelajaran ekspositori

adalah suatu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centered


36

approach) guru sangat dominan dan fokus utamanya adalah lebih

kepada kemanouan akademik siswa.

Pembelajaran ekpositori dan ceramah adalah berbeda, pada

metode ekspositori dominasi guru banyak dikurangi. Guru tidak terus

berbicara, informasi hanya diberikan pada saat atau bagian-bagian yang

diperlukan saja, seperti di awal pembelajaran, menjelaskan konsep-

konsep dan prinsip baru, pada saat memberikan contoh kasus di

lapangan dan sebagainya (Soemantri, 2001:45)

B. Kerangka Berfikir

Pembelajaran konvensional yang dilakukan dikelas saat ini terkesan

monoton dan hanya berpusat pada satu guru sehingga segala sesuatunya

dipersiapkan secara sendiri. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga

evaluasi, selain itu kurangnya perhatian guru pada saat mengajar terhadap

siswa dapat memicu rendahnya hasil belajar matematika siswa.

Team teaching merupakan suatu strategi pembelajaran beregu, dimana

segala sesuatunya dilakukan secara bersama-sama mulai dari perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi. Berdasarkan hal tersebut, dengan strategi team

teaching diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa

C. Hipotesis

Berdasarkan penjelasan diatas, maka hipotesis yang dapat

dikemukakan oleh peneliti adalah terdapat pengaruh team teaching

terhadap hasil belajar matematika siswa SMA FATAHILLAH.

Anda mungkin juga menyukai