0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Pengaruh Media Simulasi PhET pada Fisika

Penelitian ini mengkaji pengaruh penggunaan media simulasi PhET dengan blended learning terhadap hasil belajar fisika siswa berdasarkan kemampuan awal. Hasil menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan awal tinggi yang menggunakan media simulasi PhET memiliki hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan media konvensional, sedangkan siswa dengan kemampuan awal rendah menunjukkan hasil yang lebih buruk. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu dengan analisis data menggunakan uji Anava dua jalur.

Diunggah oleh

Ahmad Rifai
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Pengaruh Media Simulasi PhET pada Fisika

Penelitian ini mengkaji pengaruh penggunaan media simulasi PhET dengan blended learning terhadap hasil belajar fisika siswa berdasarkan kemampuan awal. Hasil menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan awal tinggi yang menggunakan media simulasi PhET memiliki hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan media konvensional, sedangkan siswa dengan kemampuan awal rendah menunjukkan hasil yang lebih buruk. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu dengan analisis data menggunakan uji Anava dua jalur.

Diunggah oleh

Ahmad Rifai
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal_ep Vol.12 No.

2 Agustus 2022

PENGARUH PEMANFAATAN MEDIA SIMULASI PHET


DENGAN BLENDED LEARNING TERHADAP
HASIL BELAJAR FISIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL
SISWA

N.N. Ernawati1, I.G. Sudirtha2, N.M.S. Mertasari3


123
Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia

e-mail: ninyomanernawati@[Link] 1, [Link]@[Link].id2,


srimertasarinimade@[Link].id3

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh pemanfaatan media simulasi PhET
(Physics Education Technology) dengan Blended Learning terhadap hasil belajar Fisika ditinjau
dari kemampuan awal siswa. Populasi dalam penelitian ini adalah 434 siswa Kelas XI di SMAN 7
Denpasar tahun ajaran 2021/2022. Penentuan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik
random sampling, yang mengambil empat kelas secara acak sebagai kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Penelitian ini merupakan eksperimen semu menggunakan desain treatment by level 2 x 2
dengan posttest only control group. Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan tes
kemampuan awal dan tes hasil belajar yang masing-masing terdiri dari 25 soal pilihan ganda. Data
dianalisis menggunakan uji Anava dua jalur menggunakan aplikasi SPSS 16.0 for windows. Hasil
penelitian menunjukkan hasil bahwa (1) Terdapat perbedaan hasil belajar Fisika antara siswa yang
mengikuti pembelajaran blended learning dengan media simulasi PhET dan siswa yang mengikuti
pembelajaran blended learning dengan media konvensional 0,009 < 0,05 (2) Terdapat pengaruh
interaksi antara pembelajaran blended learning dengan media pembelajaran dan kemampuan awal
siswa terhadap hasil belajar Fisika ditunjukkan oleh harga signifikansi 0,000 < 0,05. (3) Pada siswa
berkemampuan awal tinggi, hasil belajar Fisika yang mengikuti pembelajaran blended learning
dengan media simulasi PhET lebih baik dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
media konvensional ditunjukkan oleh harga signifikansi 0,000 < 0,05 (4) Pada siswa
berkemampuan awal rendah, hasil belajar Fisika yang mengikuti pembelajaran blended learning
dengan media simulasi PhET lebih rendah dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran
dengan media konvensional ditunjukkan oleh perolehan harga signifikansi 0,014 < 0,05.

Kata kunci: Blended Learning; Hasil Belajar; Kemampuan Awal; Media Simulasi PhET

Abstract
This research is meant to describe the influence of using PhET (Physics Education Technology)
simulation media within blended learning for Physics competent for the student started with
student’s initial ability. Population within this research are 434 Students of Class XI in SMAN 7
Denpasar in 2021/2022. The sample are decided through random sampling, which result in
choosing four classes as experiment classes and control classes. This research using design
treatment by level 2 x 2 with post-test only control group. Data collected in this research using the
entry behavior test and last study test which consist of 25 multiple choices. The data will be
analyzed using two-ways analysis of variance test with SPSS 16.0 for windows. The result from
this research shows that (1) there is a difference in the student’s learning result between the ones
using blended learning and PhET with the one who learn through conventional learning. It’s shown
in the significant value of 0,009 < 0,05. (2) There is an influence in the interactions between using
PhET with blended learning and student’s entry behavior which shown in significant value of 0,000
< 0,05. (3) Within the student’s group with high ability, there is a significant different between the
PhET with blended learning group and the conventional learning method group which shown in the
value of 0,000 < 0,05. (4) The student with lower entry behavior whom follow the PhET with
blended learning methods result worse than the student with conventional methods, which is
shown with the value of significant value of 0,014 < 0,05.

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 156


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

Keywords: Blended Learning; Learning Outcome;, Entry Behavior; PhET Simulation

PENDAHULUAN perubahan. Strategi pembelajaran


Pembelajaran fisika merupakan tradisional kini mulai ditinggalkan
bagian dari sains yang pada hakikatnya berganti dengan model yang lebih
adalah kumpulan pengetahuan, cara modern. Di tengah pandemi COVID-19
berpikir, dan penyelidikan (Juniartini et (saat penelitian ini dibuat) banyak
al., 2017) Fisika justru dianggap sebagai strategi dan model pembelajaran yang
pelajaran yang sulit dipahami bagi dicoba dan ditawarkan kepada guru dan
sebagian besar siswa karena siswa untuk mencegah penyebaran dan
penggunaan rumus-rumus dan memutus rantai penularan COVID-19.
keterlibatan matematika di dalamnya. Pemerintah memberlakukan proses
Fisika bukan hanya ilmu yang terbentuk pembelajaran daring dan bekerja dari
dari kumpulan rumus matematis rumah sehingga proses pembelajaran
melainkan memiliki konsep-konsep dilaksanakan secara daring. Proses
penting yang menjadi inti dari ilmu itu pemanfaatan teknologi pada
sendiri. Permasalahan dalam pembelajaran biasa disebut dengan
pembelajaran Fisika, diantarnya siswa pembelajaran elektronik atau e-learning.
masih beranggapan bahwa mata Pembelajaran yang populer di
pelajaran Fisika itu sulit, banyak rumus, Indonesia sejak dulu adalah
membosankan dan alat percobaan di pembelajaran tradisional berbasis kelas
laboratorium yang tidak digunakan (klasikal) dengan menggunakan metode
karena siswa belajar dari rumah. Siswa ceramah. Proses belajar siswa dalam
kurang aktif dalam mengajukan pembelajaran klasikal terikat oleh
pertanyaan apabila kurang mengerti dimensi ruang dan waktu yang
dengan penjelasan yang disampaikan mengharuskan siswa berada dalam
oleh guru sehingga mengakibatkan hasil ruang dan waktu yang sama dengan
belajar siswa rendah Memahami konsep- teman sekelas dan gurunya.
konsep Fisika akan terasa sulit bagi Penggunaan metode ceramah akan
siswa apabila hanya mendengarkan dan mengarahkan siswa menjadi kurang aktif
mencatat penjelasan guru saja, oleh karena tidak terbiasa untuk berpikir kritis
karena itu dibutuhkan suatu media dan hanya menerima informasi yang
pembelajaran yang berkaitan dengan disampaikan oleh guru. Siswa menjadi
penjelasan konsep-konsep Fisika. pasif dalam memilih sumber belajar
Faktor lain yang harus diperhatikan tambahan di luar sumber belajar yang
dalam pembelajaran Fisika adalah disediakan oleh guru. Guru bukan satu-
kemampuan awal siswa. Kemampuan satunya sumber belajar terutama di era
awal merupakan kemampuan yang digital dewasa ini, bisa diperoleh dengan
diperlukan oleh seorang siswa untuk relatif mudah melalui pemanfaatan ICT
mencapai tujuan instruksional (Information and Communication
(Purwaningrum and Sumardi 2016). Technology). Kondisi ini akan
Kemampuan awal yang dimiliki siswa menyebabkan siswa kurang aktif dan
berbeda satu dengan yang lainnya. kreatif dalam mengembangkan dan
Kemampuan awal siswa dapat mengeksplorasi pembelajaran dari
berpengaruh terhadap suatu proses berbagai sumber. Implikasinya, lulusan
belajar mengajar di dalam kelas, yang terbentuk tidak akan mandiri dan
misalnya taraf intelegensi, daya percaya diri karena merasa
kreativitas, kadar motivasi belajar, tahap ketergantungan akan kegiatan
perkembangan, kemampuan berbahasa, pembelajaran yang bersumber dari guru.
sikap terhadap tugas, kebiasaan dalam Pembelajaran blended learning
cara belajar, kecepatan belajar dan menjadi salah satu alternatif dalam
kondisi fisik. meningkatkan hasil belajar siswa.
Perkembangan strategi Kombinasi pembelajaran sinkronus dan
pembelajaran terus mengalami asinkronus yang ditambahkan dengan

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 157


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

penggunaan internet menjadi suplemen Pengguna dapat memanipulasi kegiatan-


dalam peningkatan prestasi belajar kegiatan yang berkaitan dengan
siswa. Blended learning merupakan eksperimen. Media simulasi PhET
suatu sistem belajar yang memadukan memiliki kelebihan antara lain: (1)
antara pembelajaran secara sinkronus memiliki tampilan animasi yang menarik;
yaitu secara face to face (bertatap muka) (2) mudah dioperasikan; (3) dapat
dengan pembelajaran secara secara diunduh secara gratis; (4) menyediakan
asinkronus (melalui penggunaan download paket simulasi baik java
fasilitas/media internet) (Sudirtha et al. maupun flash; (5) bisa digunakan secara
2022). Blended learning yang sering online maupun offline, dan (6)
disampaikan adalah pembelajaran yang menyajikan model-model secara
menggabungkan dengan media konseptual fisis yang mudah dimengerti
pembelajaran, pembelajaran yang oleh siswa.
menggabungkan model-model Penelitian yang dilakukan Adesoji
pembelajaran dan teori-teori (2008). menunjukkan bahwa siswa dapat
pembelajaran, dan pembelajaran yang memecahkan masalah dengan baik jika
menggabungkan pembelajaran tatap mereka memiliki tingkat kemampuan
muka (face-to-face) dengan yang tinggi, namun bagi yang memiliki
pembelajaran daring (Sari 2013). kemampuan rendah juga bisa
Berdasarkan paparan para ahli di atas, menyempurnakan kemampuan
dapat didefinisikan blended learning memecahkan masalah mereka jika
merupakan sebuah strategi belajar mereka diberikan instruksi strategi
mengajar yang bertujuan untuk pemecahan masalah. Penelitian yang
mencapai tujuan pembelajaran dengan dilakukan Herawati et al. (2013)
cara memadukan pembelajaran menunjukkan siswa dengan kemampuan
sinkronus (tatap muka) dengan aplikasi awal tinggi meraih prestasi belajar baik
zoom meeting dan pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotor lebih
asinkronus dengan aplikasi e-learning tinggi daripada siswa dengan
seperti google classroom. kemampuan awal rendah. Selain itu,
Banyak media yang dapat penelitian yang dilakukan oleh Astuti
digunakan oleh guru dalam (2015) menyatakan bahwa terdapat
membelajarkan fisika agar siswa lebih pengaruh kemampuan awal dan minat
mudah memahami dan menguasai belajar secara bersama-sama terhadap
konsep dari materi yang dipelajari. prestasi belajar. Materi yang digunakan
Pemanfaatan media simulasi PhET dalam penelitian ini adalah elastisitas
(Physics Education Technology) adalah dan Hukum Hooke yang berisi tentang
salah satu media yang dapat digunakan konsep, namun dapat diamati dalam hal
untuk kegiatan laboratorium virtual nyata.
dengan memanfaatkan teknologi. Media Tujuan yang ingin dicapai dalam
simulasi PhET digunakan untuk penelitian ini yaitu (1) mengetahui
melakukan praktikum atau eksperimen perbedaan hasil belajar fisika antara
secara virtual seperti pada laboratorium siswa yang mengikuti pembelajaran
sebenarnya. Penelitian Asriyadin et al., blended learning dengan simulasi PhET
(2018) menunjukkan ada Pengaruh dan siswa yang mengikuti pembelajaran
penggunaan simulasi PhET sebagai blended learning dengan media
media pembelajaran terhadap hasil konvensional, (2) mengetahui pengaruh
belajar fisika ditinjau dari kemampuan interaksi antara pembelajaran blended
awal. Media simulasi PhET dapat learning dengan media pembelajaran
menampilkan suatu materi yang bersifat dan kemampuan awal siswa terhadap
abstrak dan dapat dijelaskan dengan hasil belajar fisika, (3) mengetahui pada
rinci sehingga siswa dengan mudah siswa yang memiliki kecerdasan tinggi
memahami materi tersebut. Media apakah terdapat perbedaan hasil belajar
simulasi PhET terdapat simulasi yang fisika antara siswa yang mengikuti
bersifat teori dan percobaan yang pembelajaran blended learning dengan
melibatkan pengguna secara aktif. media simulasi PhET dan siswa yang

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 158


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

mengikuti pembelajaran dengan media Penelitian ini merupakan eksperimen


konvensional, dan (4) mengetahui pada semu menggunakan desain treatmen by
siswa yang memiliki kecerdasan rendah, level 2 x 2 dengan posttest only control
apakah terdapat perbedaan hasil belajar group. (modifikasi desain eksperimen
fisika antara siswa yang mengikuti sungguhan dengan komplikasi yang
pembelajaran blended learning dengan ditambahkan pada variabel bebas).
media simulasi PhET dan siswa yang Rancangan penelitian ini skor yang
mengikuti pembelajaran dengan media digunakan untuk mengetahui hasil
konvensional. belajar fisika siswa kelas XI MIPA adalah
skor posttest saja yang dilakukan pada
METODE akhir eksperimen. Rancangan
Rancangan penelitian penelitiannya adalah sebagai berikut.
Penelitian ini merupakan
penelitian semu (Quasy Experiment).

Tabel 1. Desain dan Rancangan Penelitian


Pembelajaran (A) Media Simulasi PhET Media Konvensional
dengan Blended dengan Blended
Learning (A1) Learning (A2)
Kemampuan Awal (B)
Kemampuan Awal Tinggi (B1) A1B1 A2B1
Kemampuan Awal Rendah (B2) A1B2 A2B2

Populasi dan Sampel Penelitian kontrol adalah kelas XI MIPA 5 dan kelas
Populasi dalam penelitian ini XI MIPA 6 yang berjumlah 60 siswa.
adalah seluruh siswa kelas XI MIPA di Kedua kelompok tersebut di atas,
SMA Negeri 7 Denpasar semester I masing-masing kelompok dibedakan
tahun ajaran 2021/2022 yang berjumlah menjadi kelompok siswa dengan
434 siswa. Kesetaraan kelas dihitung kemampuan awal tinggi dan kelompok
dengan menggunakan nilai Penilaian siswa dengan kemampuan awal rendah.
Akhir Tahun (PAT) yang diperoleh siswa Penentuan siswa yang memiliki
dengan menggunakan SPSS 16.0 for kemampuan awal tinggi dan siswa yang
windows. Homogenitas dipenuhi jika memiliki kemampuan awal rendah
hasil uji signifikansi untuk taraf digunakan skor tes kemampuan awal.
signifikansi ( Penetapan Kemampuan awal adalah skor atau nilai
homogenitas digunakan pedoman jika perolehan siswa setelah mengerjakan
signifikansi lebih besar dari taraf tes sebanyak 25 soal pilihan ganda pada
signifikansi (sig > ) maka variasi setiap materi Keseimbangan dan Dinamika
sampel sama (homogen), jika signifikansi Rotasi sebelum proses pembelajaran
lebih kecil dari taraf signifikansi (sig < ) Elastisitas dan Hukum Hooke dimulai.
maka variasi sampel tidak sama (tidak Setelah melaksanakan tes kemampuan
homogen). pengujian statistik diperoleh awal, siswa pada kelas eksperimen
signifikansi 0,861 (sig > ) atau 0,861 melaksanakan pembelajaran blended
lebih besar dari 0,05 sehingga dapat learning dengan media simulasi PhET
ditarik kesimpulan bahwa data sampel dan kelas kontrol melaksanakan
berasal dari kelompok yang sama pembelajaran blended learning dengan
(homogen). Sampel dari penelitian ini media konvensional pada materi
adalah empat kelas yang diambil secara elastisitas dan hukum hooke.
acak (random samping) untuk diberikan
perlakuan. Kelas yang terpilih sebagai Instrumen Penelitian
kelas eksperimen adalah kelas XI MIPA Instrumen yang digunakan untuk
2 dan kelas XI MIPA 3 yang berjumlah mengukur kemampuan awal siswa
60 siswa, dan yang terpilih sebagai kelas dilaksanakan berdasarkan kemampuan
dalam mengerjakan soal keseimbangan
dan dinamika rotasi. Tipe tes yang dipilih

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 159


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

adalah soal pilihan ganda sebanyak 25 Pengujian hipotesis dimaksudkan


soal. Tes pilihan ganda umumnya untuk menjawab hipotesis yang telah
dikenal sebagai bentuk tes yang objektif diajukan. Pengujian hipotesis dilakukan
yang efektif. Instrumen yang digunakan dengan menggunakan uji analisis
untuk mengukur hasil belajar fisika varians dua jalur.
digunakan tes pilihan ganda sebanyak
25 soal setelah diterapkan pembelajaran HASIL DAN PEMBAHASAN
blended learning dengan media simulasi Deskripsi data yang berkaitan
PhET pada kelompok eksperimen dan dengan ukuran tendensi sentral seperti
pembelajaran blended learning dengan rata-rata hitung, modus, median, dan
media konvensional pada kelompok ukuran penyebaran data (standar
kontrol pada materi elastisitas dan deviasi) untuk semua kelompok data
hukum hooke. dapat dilihat dalam Tabel 2.

Uji Hipotesis

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Ukuran Tendensi Sentral dan


Ukuran Penyebaran Data Hasil Belajar Metodologi Penelitian
Variabel
A1 A2 A1B1 A1B2 A2B1 A2B2
Statistik
N 60 60 30 30 30 30
Mean 79,4 75,6 85,47 73,33 72,93 78,27
Median 80 76 88 74 72 80
Mode 88 76 88 76 72 80
[Link] 9,63 7,35 6,60 8,29 7,02 6,78
Variance 92,65 50,67 43,57 68,78 49,31 46,00
Minimum 68 60 68 60 60 64
Maximum 96 88 96 88 88 88
Sum 4.764 4.536 2.564 2.200 2.188 2.348

Keterangan : memiliki kemampuan awal


A1 : Kelompok siswa yang rendah
mengikuti pembelajaran A2B1 : Kelompok siswa yang
blended learning dengan mengikuti pembelajaran
media simulasi PhET blended learning dengan
A2 : Kelompok siswa yang media konvensional dan
mengikuti pembelajaran memiliki kemampuan awal
blended learning dengan tinggi
media konvensional A2B2 : Kelompok siswa yang
B1 : Kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran
memiliki kemampuan awal blended learning dengan
tinggi media konvensional dan
B2 : Kelompok siswa yang memiliki kemampuan awal
memiliki kemampuan awal rendah
rendah
A1B1 : Kelompok siswa yang Uji normalitas ini akan
mengikuti pembelajaran menggunakan uji Kolmogorov-Smirrnov,
blended learning dengan data yang digunakan adalah hasil
media simulasi PhET dan posttest dari kelas eksperimen dan kelas
memiliki kemampuan awal kontrol. Dasar pengambilan keputusan
tinggi dalam uji normalitas ini, melalui
A1B2 : Kelompok siswa yang pendekatan probabilitas, signifikansi
mengikuti pembelajaran yang digunakan = 0,05. Dasar
blended learning dengan pengambilan keputusan adalah melihat
media simulasi PhET dan angka probabilitas, dengan ketentuan

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 160


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

jika nilai Sig. > 0.05 maka asumsi signifikansi yang ada adalah untuk
normalitas terpenuhi dan jika nilai Sig. < probabilitas based on mean = 0,335,
0.05 maka asumsi normalitas tidak untuk based on median = 0,341,
terpenuhi. Hasil analisis data posttest probabilitas based on median and with
kelas eksperimen yang memiliki adjusted df = 0,341 dan probabilitas
kemampuan awal tinggi dan rendah based on trimmed mean = 0,329. Oleh
masing-masing sebesar 0,162 dan karena probabilitas > 0,05, maka dapat
0,200. Nilai probabilitas ini lebih besar diketahui bahwa data hasil belajar fisika
dibandingkan tingkat signifikansi 0,05, memiliki varians yang homogen, atau
hal ini berarti asumsi normalitas untuk data berasal dari populasi-populasi
data posttest kelas eksperimen dengan varians yang sama.
terpenuhi. Nilai sig. data posttest kelas
kontrol yang memiliki kemampuan tinggi Hipotesis I
dan rendah masing-masing sebesar Pengujian hipotesis pertama yaitu
0,200 dan 0,083. Nilai probabilitas ini terdapat perbedaan hasil belajar Fisika
lebih besar dibandingkan tingkat antara siswa yang mengikuti
signifikansi 0,05, hal ini berarti asumsi pembelajaran blended learning dengan
normalitas untuk data posttest kelas media simulasi PhET dan siswa yang
kontrol juga terpenuhi. mengikuti pembelajaran blended learning
Berdasarkan hasil Uji Levene Test dengan media konvensional. Pernyataan
uji homogenitas varians juga dilakukan hipotesis nol dan hipotesis alternatifnya
dengan menggunakan aplikasi SPSS adalah sebagai berikut.
16.0 for windows dengan memperhatikan Ho :
nilai statistik Lavene. Pada output test of H1 :
homogeneity of variance, angka

Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis I dan II Menggunakan SPSS 16.0 for Windows
Type III
Mean
Source Sum of df F Sig.
Square
Squares
Corrected Model 3068.133a 3 1022.711 19.701 0.000
1.388E
Intercept 720750.000 1 720750.000 0.000
4
Media 433.200 1 433.200 8.345 0.009
Kemampuan Awal 346.800 1 346.800 6.680 0.011
Media * Kemampuan Awal 2288.133 1 2288.133 44.077 0.000
Error 6021.867 116 51.913
Total 729840.000 120
Corrected Total 9090.000 119
a. R Squared = ,365 (Adjusted R Squared = ,348)

Hasil uji Hipotesis I diperoleh harga proses pembelajaran. Media simulasi


signifikansi 0,009 < 0,05 atau H0 ditolak, PhET dapat menarik perhatian siswa
sehingga terdapat perbedaan hasil untuk lebih antusias dalam melakukan
belajar Fisika antara siswa yang percobaan elastisitas dan hukum hooke
mengikuti pembelajaran blended learning tanpa takut terjadi kerusakan pada alat
dengan media simulasi PhET dan siswa dan bahan yang digunakan pada
yang mengikuti pembelajaran blended laboratorium nyata.
learning dengan media konvensional. Pembelajaran blended learning
Pembelajaran blended learning dengan dengan media simulasi PhET merupakan
media simulasi PhET merupakan salah salah satu cara untuk meningkatkan
satu cara untuk menarik perhatian siswa perhatian siswa untuk lebih antusias
untuk lebih antusias dalam mengikuti dalam mengikuti proses pembelajaran.
Media simulasi PhET membuat siswa
lebih antusias dalam melakukan

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 161


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

percobaan elastisitas dan hukum hooke H1 : INT. A x B ≠ 0


tanpa takut terjadi kerusakan pada alat Dasar pengambilan keputusan, dapat
dan bahan yang digunakan pada dilakukan melalui pendekatan
laboratorium nyata. Media Simulasi probabilitas, signifikansi yang digunakan
PhET juga mampu menghubungkan = 0,05, Dasar pengambilan keputusan
gagasan yang dimiliki siswa dengan adalah melihat angka probabilitas,
kehidupan nyata yang terjadi dalam dengan ketentuan jika nilai Sig, > 0,05
kehidupan sehari-hari dan menggunakan maka H0 diterima dan jika nilai Sig, <
fenomena sains dalam simulasi PhET 0,05 maka H0 ditolak.
untuk memahami dunia nyata. Hasil Berdasarkan Tabel 3 pada baris
penelitian ini diperkuat dengan penelitian media*kemampuan awal, diperoleh
Sumiyati et al. (2021) yang harga signifikansi 0,000 < 0,05 atau H 0
mengungkapkan bahwa pembelajaran ditolak, sehingga terdapat pengaruh
menggunakan media simulasi PhET interaksi antara pembelajaran Blended
dengan blended learning hasil belajar Learning dengan media pembelajaran
siswa lebih baik dari pada hasil belajar dan kemampuan awal siswa terhadap
siswa dengan menggunakan media hasil belajar Fisika.
konvensional. Hal ini disebabkan Kemampuan awal siswa
pembelajaran yang menggunakan media merupakan faktor penting yang
simulasi PhET dapat menjelaskan materi mempengaruhi hasil belajar siswa. Hal
secara rinci sehingga dapat ini dikarenakan kemampuan awal siswa
meningkatkan hasil belajar siswa. mempunyai kontribusi besar terhadap
Penelitian Insani et al. (2021) pemahaman konsep materi yang akan
mengungkapkan bahwa pemahaman berpengaruh pada hasil belajar
siswa terhadap konsep pelajaran (Rahmadani at al., 2022). Kemampuan
menjadi lebih baik setelah melaksanakan awal siswa berpengaruh dalam proses
pembelajaran media simulasi PhET pembelajaran karena siswa telah
daripada kelas lainnya yang tidak diberi mempunyai pengetahuan prasyarat
perlakuan dengan media pembelajaran untuk mengikuti pelajaran dan sejauh
PhET. mana siswa telah mengetahui materi
yang akan diajarkan begitu juga dalam
Hipotesis II pemahaman konsep. Siswa yang telah
Pengujian hipotesis kedua memahami konsep pembelajaran dapat
dilakukan untuk mengetahui pengaruh menyampaikan kembali materi dengan
interaksi antar pembelajaran blended menggunakan bahasanya sendiri tanpa
learning dengan media pembelajaran mengubah makna sebenarnya. Hal ini
dan kemampuan awal terhadap hasil membuat pembelajaran blended learning
belajar fisika. Pernyataan hipotesis nol dengan media pembelajaran dan
dan hipotesis alternatifnya adalah kemampuan awal siswa terhadap hasil
sebagai berikut. belajar Fisika saling berkaitan.
Ho : INT. A x B = 0

Gambar 1. Visualisasi Interaksi antara Media Pembelajaran dengan


Kemampuan Awal Terhadap Hasil Belajar Fisika

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 162


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

Hipotesis III media konvensional. Uji hipotesis ketiga


Pengujian hipotesis ketiga yaitu pernyataan hipotesis nol dan hipotesis
pada siswa berkemampuan tinggi, hasil alternatifnya adalah sebagai berikut.
belajar fisika yang mengikuti Ho :
pembelajaran blended learning dengan H1 :
media simulasi PhET lebih baik
dibandingkan siswa yang mengikuti
pembelajaran blended learning dengan

Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis III


Sum of df Mean F Sig.
Squares Square
Kemampuan Awal Between Groups 2356.267 1 2356.2 50.741 .000
Tinggi 67
Within Groups 2693.333 58 46.437
Total 5049.600 59

Berdasarkan Tabel 4 diperoleh Fisika yang mengikuti


harga signifikansi 0,000 < 0,05 atau H 0 pembelajaran blended learning dengan
ditolak sehingga pada siswa media simulasi PhET lebih baik
berkemampuan tinggi, hasil belajar dibandingkan siswa yang mengikuti
pembelajaran blended learning dengan
media konvensional.

Tabel 5. Hasil Uji Tukey Pengaruh Interaksi antara Pembelajaran Blended Learning
dengan Media Simulasi PhET dan Pembelajaran Blended Learning dengan
Media Konvensional pada Siswa yang Memiliki Kemampuan Awal Tinggi
Kelompok A1B1 A2B1 Qhitung Qtabel(0,05)
Rata-rata 85,47 72,93
Rata-rata Kuadrat Dalam (RKD) 51,91 9,65 3,845
Derajat Kebebasan 116

Berdasarkan hasil perhitungan uji yang mengikuti pembelajaran blended


tukey pada Tabel 5 pada kelompok learning dengan media konvensional.
siswa yang memiliki kemampuan awal Siswa yang memiliki kemampuan
tinggi dalam mata pelajaran fisika, antara awal tinggi lebih cepat memahami
yang mengikuti pembelajaran blended konsep fisika melalui simulasi PhET
learning dengan media simulasi PhET dibandingkan dengan media
dengan skor rata-rata 85,47, dengan konvensional. Simulasi PhET selain
siswa yang mengikuti pembelajaran mampu menyederhanakan suatu hukum
blended learning dengan media atau teori, siswa juga dapat menjelajahi
konvensional dan memiliki kemampuan variabel dalam simulasi. Siswa mampu
awal tinggi dengan skor rata-rata 72,93. mengerti konsep dan praktik dalam
Rata-rata kuadrat dalam (RJKD) 51,91 simulasi PhET pada materi Elastisitas
ditemukan Qhitung sebesar 9,65 dan Hukum Hooke. Pandangan siswa
sedangkan Qtabel dengan taraf terhadap mata pelajaran fisika yang
signifikansi 0,05 sebesar 3,845. Nilai awalnya sulit menjadi menarik dan
Qhitung > Qtabel sehingga H0 ditolak dan H1 mudah dimengerti dibandingkan dengan
diterima. Hasil hipotesis ketiga media konvensional. Pernyataan ini
menunjukkan bahwa pada siswa didukung oleh hasil penelitian Asriyadin
berkemampuan tinggi, hasil belajar et al. (2018) yang menyatakan bahwa
Fisika yang mengikuti pembelajaran kemampuan awal berpengaruh terhadap
blended learning dengan media simulasi hasil belajar fisika.
PhET lebih baik dibandingkan siswa

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 163


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

Hipotesis IV pembelajaran blended learning dengan


Pengujian hipotesis keempat yaitu media konvensional. Uji hipotesis
pada siswa berkemampuan rendah, hasil keempat pernyataan hipotesis nol dan
belajar Fisika yang mengikuti hipotesis alternatifnya sebagai berikut.
pembelajaran blended learning dengan Ho :
media simulasi PhET lebih rendah H1 :
dibandingkan siswa yang mengikuti

Tabel 6. Hasil Uji Hipotesis IV


Sum of Mean
df F Sig.
Squares Square
Between 6.36
365.067 1 365.067 0.014
Groups 1
Kemampuan Awal
Within
Rendah 3328.533 58 57.389
Groups
Total 3693.600 59

Berdasarkan Tabel 6 diperoleh blended learning dengan media simulasi


harga signifikansi 0,014 < 0,05 atau H 0 PhET lebih rendah dibandingkan siswa
ditolak, sehingga pada siswa yang mengikuti pembelajaran blended
berkemampuan rendah, hasil belajar learning dengan media konvensional.
Fisika yang mengikuti pembelajaran

Tabel 7. Hasil Uji Tukey Pengaruh Interaksi antara Pembelajaran Blended Learning
dengan Media Simulasi PhET dan Pembelajaran Blended Learning dengan
Media Konvensional pada Siswa yang Memiliki Kemampuan Awal Rendah
A1B2 A2B2 Qhitung Qtabel(0,05)
Rata-rata 73,33 78,27
Rata-rata Kuadrat Dalam (RKD) 51,91 4,08 3,845
Derajat Kebebasan 116

Berdasarkan hasil perhitungan uji media konvensional. Hal ini dikarenakan


tukey pada kelompok siswa yang setiap siswa memerlukan kemahiran
memiliki kemampuan awal rendah dalam menggunakan teknologi, ketersediaan
mata pelajaran fisika, antara yang fasilitas dan kemampuan atau
mengikuti pembelajaran blended learning pemahaman yang cukup untuk
dengan media simulasi PhET dengan memaksimalkan potensi dari media
skor rata-rata 73,33 dengan siswa yang simulasi PhET (Masita et al. 2020).
mengikuti pembelajaran blended Kemampuan awal siswa memiliki
learning dengan media konvensional dan dampak dalam pembelajaran. Media
memiliki kemampuan awal rendah PhET mampu meningkatkan kontribusi
dengan skor rata-rata 78,27. Rata-rata siswa untuk menggali suatu topik
kuadrat dalam (RJKD) 51,91 ditemukan sehingga penggunaannya dalam masa
Qhitung sebesar 4,07 sedangkan Qtabel pembelajaran blended learning
dengan taraf signifikansi 0,05 sebesar berdampak baik. Kehadiran guru dan
3,845. Nilai Qhitung > Qtabel sehingga H0 sesi tatap muka dalam blended learning
ditolak dan H1 diterima. Hasil hipotesis dapat diatur proporsinya dalam
keempat menunjukkan bahwa pada membantu siswa untuk bisa memahami
siswa berkemampuan rendah, hasil materi pembelajaran dengan lebih baik.
belajar Fisika yang mengikuti
pembelajaran blended learning dengan PENUTUP
media simulasi PhET lebih rendah Berdasarkan hasil analisis data
dibandingkan siswa yang mengikuti dan pemahaman terhadap hasil
pembelajaran blended learning dengan penelitian yang telah di bahas, maka

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 164


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

dapat disimpulkan terkait beberapa hal di Prestasi Belajar Laju Reaksi Siswa
antaranya adalah sebagai berikut. SMA Negeri I Karanganyar Tahun
1. Terdapat perbedaan hasil belajar Pelajaran 2011/2012.” Jurnal
Fisika antara siswa yang mengikuti Pendidikan Kimia (JPK) 2(2):38–43.
pembelajaran blended learning
Insani, Shofi Nurul, Andik Purwanto, Eko
dengan media simulasi PhET dan
Risdianto, Jl W. R. Supratman,
siswa yang mengikuti pembelajaran
Kandang Limun, Kec Muara, and
blended learning dengan media
Bangka Hulu. 2021. “Jurnal
konvensional.
Pendidikan Fisika COVID-19
2. Terdapat pengaruh interaksi antar
PANDEMIC.” 10:104–11.
pembelajaran blended learning
dengan media pembelajaran dan Juniartini, Ni Wayan, M. P. Dr. A. [Link]
kemampuan awal terhadap hasil Agung Rai Sudiatmika, and M. Si
belajar fisika. Drs. Rai Sujanem. 2017.
3. Pada siswa berkemampuan tinggi, “PENGARUH MODEL
hasil belajar Fisika yang mengikuti PEMBELAJARAN PERUBAHAN
pembelajaran blended learning KONSEPTUAL BERBANTUAN
dengan media simulasi PhET lebih SIMULASI PhET UNTUK
baik dibandingkan siswa yang MENINGKATKAN PEMAHAMAN
mengikuti pembelajaran blended KONSEP FISIKA SISWA.” Jurnal
learning dengan media konvensional. Pendidikan Fisika Undiksha
4. Pada siswa berkemampuan rendah, 7(2):109–19.
hasil belajar Fisika yang mengikuti Masita, Siti Ita, Pujianti Bejahida
pembelajaran blended learning
Donuata, Agustinus A. Ete, and
dengan media simulasi PhET lebih
Muhamad Epi Rusdin. 2020.
rendah dibandingkan siswa yang “Penggunaan Phet Simulation
mengikuti pembelajaran blended Dalam Meningkatan Pemahaman
learning dengan media konvensional.
Konsep Fisika Peserta Didik.”
Jurnal Penelitian Pendidikan Fisika
DAFTAR RUJUKAN
5(2):136.
Adesoji, Francis A. 2008. “Students’
Ability Levels and Effectiveness of Purwaningrum, Dewi, and Sumardi
Problem-Solving Instructional Sumardi. 2016. “Efek Strategi
Strategy.” Journal of Social Pembelajaran Ditinjau Dari
Sciences 17(1):5–8. Kemampuan Awal Matematika
Terhadap Hasil Belajar Matematika
Asriyadin, Ice Puspitasari, and Endang Kelas XI IPS.” Manajemen
Susilawati. 2018. “Pengaruh Pendidikan 11(2):155.
Penggunaan Software Phet
Sebagai Media Pembelajaran Rahmadani, Nur, Sri Wardhani, and
Terhadap Hasil Belajar Fisika Astrid Sri Wahyuni Sumah. 2022.
Ditinjau Dari Kemampuan Awal “Hubungan Kemampuan Awal,
Siswa Kelas X IPA SMA Negeri 1 Pemahaman Konsep, Dan Hasil
Palibelo Tahun Ajaran 2017/2018.” Belajar Siswa Dalam Pembelajaran
Jurnal Pendidikan Mipa 8(1):29–38. Daring Di SMAN Sumatera
Selatan.” Bioma : Jurnal Ilmiah
Astuti, Siwi Puji. 2015. “Pengaruh Biologi 11(1):1–9.
Kemampuan Awal Dan Minat
Belajar Terhadap Prestasi Belajar Sari, Annisa Ratna. 2013. “Strategi
Fisika.” Formatif: Jurnal Ilmiah Blended Learning Untuk
Pendidikan MIPA 5(1):68–75. Peningkatan Kemandirian Belajar
Dan Kemampuan Critical Thinking
Herawati, Rosita Fitri, Sri Mulyani, and Mahasiswa Di Era Digital.” Jurnal
Tri Redjeki. 2013. “Pembelajaran Pendidikan Akuntansi Indonesia
Kimia Berbasis Multiple 11(2):32–43.
Representasi Ditinjau Dari
Kemampuan Awal Terhadap Sudirtha, I. Gede, I. Wayan Widiana,

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 165


Jurnal_ep Vol.12 No.2 Agustus 2022

Komang Setemen, Ni Wayan


Sukerti, Ni Ketut Widiartini, and
Nyoman Santiyadnya. 2022. “The
Impact of Blended Learning
Assisted with Self-Assessment
toward Learner Autonomy and
Creative Thinking Skills.”
International Journal of Emerging
Technologies in Learning
17(6):163–80.
Sumiyati, Sumiyati, Ana Fitrotun Nisa,
Muammar Muammar, Mariana Sri
Rahayu, Yuli Astuti, and Purwati
Purwati. 2021. “Pengaruh Model
Belajar Blended Learning
Menggunakan Phet Simulation
Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas
Vi Sekolah Dasar.” El Midad
13(2):66–75.

Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan | 166

Anda mungkin juga menyukai