PROPOSAL
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN DIAGNOSA
DIARE DI RUANGAN KEPERAWATAN ANAK
DI RSUD [Link] PAREPARE
NURSAIDATUL ALISA
NIM.PO713202231020
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
PRODI KEPERAWATAN PAREPARE
TAHUN 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT ataas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan proposal berjudu l”Asuhan keperawatan tentang pemberian cairan prenteral
pada anak dengan diare di ruangan keperawatan anak di rsud [Link] parepare ’’. Proposal ini
sebagai tugas akhir semester untuk mata kuliah metodologi penelitian. Penulis ingin menyampaikan
rasa terimakasih yang tulus kepada semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun
tidak langsung.
Ucapan terimakasih ini penulis hunturkan kepada :
1. Kedua orang tuaku ayah dan ibuku ( Saini dan Haderia) yang telah dengan sabar mendidik saya
dari kecil hingga sekarang, yang rela bekerja keras mencari uang demi menyekolahkan saya sampai
saat ini, keberhasilan dan perjuangan saya yang telah saya capai tidak lepas dari kasi sayang,
bimbingan, dan doa dari mereka berdua.
2. Dr. EDI HASAN, SKM, S,Kep.,[Link], selaku dosen metoddologi penelitian yang telah
mengejar kami cara membuat dan menyusun hasil penelitian dan memberikan tugas membuat
proposal untuk bekal nanti nya sebagai dasar membuat KTI di semester akhir.
3. Teman sekelasku kelas 2A yang selalu memberikan support kepada saya dan selalu memberikan
saya saran
ABSTRACT
Nursaidatul Alisa “Asuhan Keperawatan Tentang Pemberian Cairan Prenteral Pada
Anak Dengan Diare Di Ruangan Keperawatan Anak Di Rsud [Link] Parepare
Tahun 2024”
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diare masih menjadi masalah kesehatan yang umum terjadi di masyarakat saat ini.
Diare juga menjadi penyebab utama penyakit dan kematian pada anak-anak di
berbagai negara (Widoyono, 2011). Sebaliknya menurut (Soedjas, 2011), diare dapat
menyerang semua kelompok umur terutama [Link]-anak lebih rentan
terserang diare karena sistem pertahanan tubuhnya yang belum berkembang
sempurna. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) (2012) mencantumkan diare sebagai
penyebab kematian nomor 10. Pada tahun 2012, 1,5 juta orang meninggal karena
diare. Sepanjang tahun 2012, sekitar 5 juta bayi meninggal pada tahun pertama
kehidupannya. Penyebab kematian tersebut adalah pneumonia (18%), komplikasi
kelahiran prematur (14%), dan diare (12%).
Berdasarkan hasil Riskesdas (2013), angka kejadian diare pada anak di Indonesia
sebesar 6,7%. Lima provinsi dengan kejadian diare tertinggi adalah Aceh (10,2%),
Papua (9,6%), DKI Jakarta (8,9%), Sulawesi Selatan (8,1%), dan Banten (8,0%).
Gejala diare pada anak kecil paling banyak terjadi pada kelompok umur 12-23 bulan
(7,6%), laki-laki (5,5%), dan perempuan (4,9%). Di Kota Bandung, dilaporkan 70.094
kasus diare pada tahun 2012. Dibandingkan tahun 2011 sebanyak 77.829 kasus,
jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar 7.735 kasus. Secara regional,
dilaporkan 4.444 kasus diare, terutama di Kecamatan Bandung Kulon, Astanayar, dan
Kobron.
(Mohe, 2012)
Diare adalah suatu kondisi di mana tubuh kehilangan banyak air dan ditandai dengan
buang air besar sebanyak tiga kali atau lebih dalam bentuk cairan, lendir, dan
terkadang darah.(Suliadi, 2010).Pengobatan diare akut yang pertama adalah
menentukan derajat dehidrasi. Tujuan utama pengobatan adalah untuk mencegah
dehidrasi, khususnya untuk memperbaiki kekurangan cairan dan elektrolit (terapi
hidrasi) dan untuk mencegah malnutrisi (Gunardi 2008). Anak kecil sering menderita
diare karena daya tahan tubuhnya masih lemah dan mudah terpapar bakteri penyebab
[Link] diare diikuti muntah, terjadi dehidrasi (kekurangan air). Anda harus selalu
mewaspadai hal ini, karena bantuan sering kali tertunda dan dapat mengakibatkan
korban jiwa.
Gejala dehidrasi pada bayi Jika tidak, kondisi anak akan cepat memburuk. Hal ini
karena berat badan anak-anak lebih ringan dibandingkan orang dewasa. Oleh karena
itu, cairan tubuh relatif sedikit. Oleh karena itu, kehilangan cairan sedikit pun dapat
menyebabkan kerusakan pada organ vital. Dehidrasi diperparah dengan gejala seperti
mencret dan demam akibat kehilangan cairan melalui penguapan. Kematian anak di
bawah usia lima tahun akibat dehidrasi masih tetap tinggi, terutama karena kegagalan
orang tua dalam mengenali tanda-tanda peringatan tersebut (Cahyono, 2010).
Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan. Cairan tubuh merupakan komposisi
terbesar dalam tubuh manusia. Cairan tubuh berperan dalam menjaga proses
metabolisme dalam tubuh. Untuk menjaga kelangsungan proses tersebut.
Keseimbangan cairan tubuh. Asupan dan keluaran cairan dalam tubuh manusia
biasanya seimbang. Jumlah cairan yang dikonsumsi harus sesuai dengan jumlah
cairan yang dikeluarkan dari tubuh. Perubahan kecil pada keseimbangan cairan dan
elektrolit tidak berpengaruh pada tubuh. Namun jika keseimbangan antara asupan dan
ekskresi terganggu, tentu akan berdampak pada tubuh manusia. Pengaturan
keseimbangan cairan, proses difusi melalui membran sel, dan tekanan osmotik yang
dihasilkan oleh elektrolit pada kedua kompartemen (Mubarak, 2007). Di dalam tubuh,
fungsi sel bergantung pada keseimbangan cairan dan elektrolit. Keseimbangan ini
dipertahankan oleh banyak mekanisme fisiologis dalam tubuh. Gangguan
keseimbangan sering terjadi pada bayi dan anak-anak dan biasanya disertai dengan
perubahan pH cairan tubuh.
(Irwan, 2013). Gangguan kadar cairan dan elektrolit tubuh merupakan salah satu
kebutuhan dasar fisiologis manusia yang harus dipenuhi. Dehidrasi terjadi ketika
orang yang terkena kehilangan sejumlah besar cairan dan elektrolit. Diare khususnya
pada anak harus ditangani dengan cepat dan tepat agar tidak mempengaruhi tumbuh
kembang anak (Sodikin, 2011). Wong (2008) menyatakan pengkajian keperawatan
diare diawali dengan observasi kondisi umum dan perilaku anak. Evaluasi selanjutnya
yang dilakukan pada pasien diare yang mengalami gangguan keseimbangan cairan
adalah menilai tanda-tanda dehidrasi, Penurunan haluaran urin, penurunan turgor
kulit, dan ubun-ubun kepala cekung. Nursalam (2008) menyatakan dampak sebesar.
dapat ditimbulkan jika mengalami gangguan keseimbangan cairan yaitu terjadi hal-hal
seperti dehidrasi pada bayi dan balita, hipoglikemia, mengalami gangguan gizi,
gangguan sirkulasi, hingga terjadi komplikasi pada anak.
Diagnosis keperawatan yang sering muncul pada pasien yang menderita diare adalah
kekurangan volume cairan dan ketidakseimbangan nutrisi. Peran perawat sebagai
pemberi pelayanan keperawatan pada anak yang dirawat dengan diare, diantaranya
memantau asupan dan pengeluaran cairan. Anak yang mendapatkan terapi cairan
melalui intravena perlu pengawasan untuk asupan cairan, kecepatan tetesan harus
diatur untuk memberikan cairan dengan volume yang dikehendaki dalam waktu
tertentu dan lokasi pemberian infus harus dijaga (Wong, 2008). Tindakan keperawatan
yang harus dilakukan selanjutnya yaitu menimbang berat badan anak secara akurat,
memantau input dan output yang tepat dengan meneruskan pemberian nutrisi per oral
dan melakukan pengambilan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.
Selain dari tindakan keperawatan, orang tua dan keluarga juga ikut memberikan
perawatan seperti memberikan perhatian, semangat dan mendampingi anak selama
dirawat dirumah sakit (Nursalam, 2008).