BAB II
FUNGSI
2.1. Fungsi Satu Variabel
2.1.1 Fungsi dan Grafiknya
Konsep fungsi sangat berperan dalam kalkulus. Semua topik dalam
Kalkulus baik dalam membicarakan limit, kekontinuan, turunan, maupun
dalam integral selalu melibatkan suatu fungsi. Oleh karena itu,
pemahaman akan konsep fungsi seperti daerah asal, daerah nilai,
operasi-operasi pada fungsi komposisi fungsi, dan fungsi invers sangat
diperlukan sekali. Pemahaman konsep fungsi akan disajikan dengan dua
pendekatan, yaitu fungsi sebagai himpunan pasangan berurutan dan
fungsi sebagai pemetaan.
Definisi 2.1.1 (Fungsi sebagai pasangan terurut):
Misalkan A dan B himpunan-himpunan tidak kosong. Suatu fungsi f dari A
ke B ditulis f : A → B adalah himpunan pasanngan terurut f ⊂ A × B sehingga
(i) Untuk setiap x ∈ A , ada y ∈ B berlaku (x , y )∈ f
(ii) Jika (x , y )∈ f dan (x , z )∈ f , maka y=z
Apabila (x , y )∈ f , ditulis y=f (x ) atau f : x → y , dan y disebut nilai fungsi
f di x . Himpunan A disebut daerah asal (daerah definisi/domain/wilayah)
fungsi f dan dinotasikan dengan Df . Sedangkan himpunan { y ∈ B │( x , y )∈ f }
disebut daerah nilai (daerah hasil/range/jelajah) fungsi f dan dinotasikan
dengan R f .
Dalam kalkulus yang sering digunakan adalah fungsi dengan daerah
asal dan daerah nilai merupakan himpunan bilangan real, jadi
A=Df ⊂ R , Rf ⊂ R . . Misalnya fungsi f mungkin mengambil sebuah bilangan
real x dan mengkuadratkannya sehingga menghasilkan bilangan real x 2.
Dalam hal ini dipunyai sebuah rumus atau aturan yaitu f ( x )=x 2. Bisa juga
ditulis y=f (x ) dengan aturan f ( x )=x 2atau y=x 2
Pada aturan fungsi y=f (x ), x disebut variabel bebas dan y yang
nilainya tergantung dari x disebut variabel tak bebas.
Jika untuk sebuah fungsi daerah asalnya tidak disebutkan secara
eksplisit, dianggap bahwa daerah asalnya adalah himpunan bilangan real
sehingga aturan fungsi ada maknanya dan memberikan nilai bilangan real.
Daerah asal ini disebut daerah asal alamiah.
CONTOH 1: Periksa apakah pengaitan-pengaitan di bawah ini merupakan
suatu fungsi atau bukan.
a. f : R → R dengan aturan f ( x )=x
b. g : R → R dengan aturan g ( x )=x 2
c. h : [ −5 , 5 ] → [ −5 ,5 ] dengan aturan {( x , y ) : x 2 + y 2=25 }
Penyelesaian:
Untuk memeriksa pengaitan-pengaitan tersebut dapat dilakukan
secara geometri yaitu dengan cara membuat sketsa grafiknya, kemudian
gambarkan garis yang sejajar dengan sumbu y . Pilih bilangan x , apabila
garis tersebut yang melalui x memotong kurva di satu titik maka fungsi
tersebut merupakan suatu fungsi. Tetapi apabila garis tersebut memotong
kurva di dua titik, maka kurva tersebut bukan merupakan suatu fungsi.
Berdasarkan gambar 1.4.1 di bawah ini dapat disimpulkan bahwa f dan g
merupakan suatu fungsi, tetapi h bukan merupakan suatu fungsi.
y y y
g(x)
f(x) h(x)
x x x
-5 5
Gambar 2.1
Definisi 2.1.2 (Fungsi sebagai pemetaan):
Misalkan A dan B himpunan-himpunan tidak kosong. Suatu fungsi f dari A
ke B di tulis f : A → B adalah suatu aturan yang memasangkan setiap x ∈ A
dengan tepat satu anggota f (x)∈ B
y
f(x)
A B
Rf f B
Df f Rf
A= Df
x y x y
Rf
x
Df
Gambar 2.2 Gambar 2.3 Gambar 2.4
Dalam definisi di atas, x dinamakan variabel bebas dan y yang
nilainya tergantung dari x dinamakan variabel tak bebas. Himpunan A
dinamakan daerah asal fungsi f dan dinotasikan dengan Df = A . Sedangkan
himpunan { f ( x ) │ x ∈ A }dinamakan daerah nilai fungsi f dan dinotasikan
dengan R f = { f ( x ) │ x ∈ A }. Suatu fungsi f dapat digambarkan sebagai suatu
grafik (lihat gambar 1.4.2) dan sebagai suatu pemetaan (gambar 1.4.3,
1.4.4).
CONTOH 2: Periksa apakah pengaitan-pengaitan di bawah ini merupakan
suatu fungsi atau bukan
a. f : R → R dengan aturan f ( x )=x
b. g : R → R dengan aturan g ( x )=x 3
c. f : [−5 , 5 ] → [ −5 , 5 ] dengan aturan x 2+ y 2=25
Penyelesaian:
a. Ambil x , y ∈ R sebarang dengan x= y
Karena x= y , f ( x )=x = y=f ( y )Ini berarti setiap x ∈ R
dikaitkan “secara tunggal” dengan y ∈ R . Jadi f merupakan suatu
fungsi.
b. Ambil sebarang dengan x , y ∈ R sebarang dengan x= y
3 3
Karena x= y , g ( x ) =x = y =g( y ). Ini berarti setiap x∈ R dikaitkan
“secara tunggal”dengan y ∈ R . Jadi g merupakan suatu fungsi.
c. Ambil 3 ∈ [ −5 , 5 ] .
2 2 2
3 + y =25 Jika dan hanya jika y =16 . Dari sini diperoleh y=−4 atau
y=4 Jadi ada 3 ∈ [ −5 , 5 ] . yang dikaitkan dengan dua unsur di [ −5 , 5 ]
yaitu -4 dan 4 (tidak tunggal). Jadi h adalah bukan fungsi.
CONTOH 3: Tentukan daerah asal alamiah, daerah nilai, dan sketsa grafik
setiap fungsi berikut:
a. f ( x )=x 2
b. g ( x )=x+ 1
c. h ( x )=│ x │
2
x −1
d. f ( x )=
x −1
e. g ( x )=h ( x )=│ x 2−2 x │
Penyelesaian:
a. Daerah asal alamiah fungsi f adalah Df =R .Karena f ( x )=x 2 ≥ 0
untuk setiap x ∈ R, maka daerah nilai fungsi f adalah R f = { x ∈ R │ x ≥ 0 }
atau R f =¿ [0 ,+ ∞}. Sketsa grafiknya dapat dilihat pada gambar 2.5.
f(x) = x2
Gambar 2.5
b. g ( x )=x+ 1, D g=R, dan R g=R
Sketsa grafiknya berupa garis lurus. Coba gambarkan !
c. h ( x )=│ x │ , Dh =R
Karena h ( x )=│ x │≥ 0 ,maka Rh =¿ [0 ,+ ∞)
Fungsi h dapat dituliskan dengan aturan: h ( x )= {
−x , x >0
x ,x ≥0
Sketsa grafiknya dapat dilihat pada gambar 2.6.
y
h(x) = |x|
Gambar 2.6
2
x −1
d. f ( x )=
x −1
Karena fungsi f tak terdefinisi di x=1 (mengapa?), maka Df =R−¿
{1}. Fungsi f dapat ditulis dengan f ( x )=x +1, x ≠ 1 (mengapa ?),
sehingga diperoleh R f =R−¿{2}
Sketsa grafiknya dapat dilihat pada gambar 2.7.
y
x2 −1
f(x) = x−1
Gambar 2.7
e. h ( x )=│ x2−2 x │, Dh=R ,dan Rh =[ 0 ,+ ∞ ) .
Fungsi h dapat disajikan oleh:
{
2 2
h ( x )= x −2
2
x , x −2 x ≥ 0
2
−x + 2 x , x −2 x <0
{
h ( x )= x −22x , x ∈¿ ∪ [ 2 ,+∞
2 2
)
−x +2 x , x ∈(0 , 2)
Sketsa grafiknya dapat dilihat pada gambar 2.8
y
2
h(x) = |x −2x|
Gambar 2.8
CONTOH 4: Diberikan fungsi f dengan aturan f (x) = x2 – 2x
Cari dan sederhanakanlah:
a. f (4 )
b. f ( 4+ h )
c. f ( 4+ h )−f (4 )
f ( 4 +h ) −f (4)
d.
h
Penyelesaian:
a. f ( 4 )=4 2−2.4=8
b. f ( 4+ h )=(4+ h)2−2 ( 4+ h )=16+ 8 h+h2−8−2 h=8+6 h+ h2
c. f ( 4+ h )−f ( 4 )=8+6 h+ h2−8=6 h+h 2
f ( 4 +h ) −f (4) 6 h+h2
d. = =6+ h
h h
2.1.2 Macam-macam Fungsi dan Grafiknya
Macam-macam fungsi yang akan dibahas ditinjau dari berbagai cara,
yaitu: cara perpaduannya, kesimetrian grafiknya, dan operasi yang
bekerja padanya.
[Link] Fungsi Dilihat Dari Cara Perpaduannya
Fungsi dilihat dari cara perpaduannya memberikan fungsi injektif,
fungsi surjektif, dan fungsi bijektif yang pengertiannya disajikan pada
definisi berikut ini.
Definisi 2.1.3 (Fungsi Injektif, Surjektif, dan Bijektif):
Misalkan A dan B himpunan-himpunan yang tak kosong, dan fungsi f : A → B
(i) f dikatakan fungsi satu-satu ditulis f : A 1−1
→
B apabila x , x ∈ A dan
1 2
f ( x 1 ) =f ( x 2 ), maka x 1=x 2 ; atau ekuivalen dengan pernyataan: Apabila
x 1 , x 2 ∈ A dan x 1 ≠ x 2maka f ( x 1 ) ≠ f ( x 2 ) .Fungsi satu-satu juga disebut fungsi
injektif.
(ii) f dikatakan fungsi pada (onto) ditulis, apabila f : A pada B , apabila
→
R f =B .Fungsi ini disebut juga fungsi surjektif.
(iii) Jika fungsi f tidak pada , maka f dikatakan “ke dalam” (into) dan
ditulis f : A ke dalam
→
B
(iv) Jika fungsi f satu-satu dan pada, maka f dikatakan suatu
korenspondensi satu-satu antara A dan B . Fungsi ini disebut juga
fungsi bijektif.
Catatan: Pada fungsi f : A → B ; jika B selalu dipandang sebagai R f maka f
selalu merupakan fungsi pada.
CONTOH 5: Periksa di antara fungsi-fungsi berikut, mana yang
merupakan fungsi satu-satu.
a. f ( x )=x 3
b. g ( x )=x 2−1
Penyelesaian:
a. Ambil x 1 , x 2 ∈ Df dengan f ( x 1 ) =f ( x 2 ), akan dibuktikan bahwa x 1=x 2. Karena
f ( x 1 ) =f ( x 2 ), maka
x 31=x 32 ↔ x 31−x 32=0 ↔ ( x 1−x 2) ( x21 + x 1 x 2 + x 22 )=0
Diperoleh,
2 2
( x 1−x 2 )=0 ↔ x 1=x 2 atau x1 + x 1 x 2 + x 2=0 ↔ x1= x2=0
Jadi terbukti bahwa f fungsi satu-satu
b. g ( x )=x 2−1
Ambil. 1 ∈ D gdan −1 ∈ D g. Jelas 1 ≠−1. Akan tetapi g ( 1 )=0=g (−1 ) . Ini
menunjukkan bahwa fungsi g bukan fungsi satu-satu.
[Link] Fungsi Dilihat Dari Kesimetrian Grafiknya
Fungsi dilihat dari cara kesimetrian grafiknya memberikan fungsi
genap dan fungsi ganjil. Grafik fungsi genap simetri terhadap sumbu Y dan
grafik fungsi ganjil simetri terhadap titik O. Pengertian kedua fungsi
tersebut disajikan pada definisi berikut ini.
Definisi 2.1.4 (Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil)
Diberikan f suatu fungsi sebarang.
(i) f dikatakan fungsi genap apabila f (−x ) =f (x )untuk setiap x ∈ Df
(ii) f dikatakan fungsi ganjil apabila f (−x ) =−f (x )untuk setiap x ∈ Df
CONTOH 6: Periksalah apakah fungsi-fungsi berikut merupakan fungsi
genap atau ganjil atau tidak keduanya:
a. f ( x )=x 2−2
b. g ( x )=x
c. hs ( x ) =x3 −x
Penyelesaian:
a. Perhatikan bahwa f ( x )=x 2−2, dan f (−x ) =(−x 2 )−2=x 2−2=f (x)
Dengan demikian f adalah fungsi genap.
b. Perhatikan bahwa g ( x )=x dan g (−x )=−x=−g ( x)
Dengan demikian gadalah fungsi ganjil
3 3
c. Karena s ( x )=x 3−x ,, dan, s (−x )=(−x) −(−x ) =−x + x=−( x ¿¿ 3−x )=−s( x) ,¿
maka s adalah fungsi ganjil.
Silahkan gambar fungsi genap dan fungsi ganjil pada contoh di atas,
kemudian perhatikan kesimetrian gambar tersebut. Berdasarkan grafik-
grafik fungsi tersebut dapat disimpulkan bahwa
(i) Grafik fungsi genap simetri terhadap sumbu Y
(ii) Grafik fungsi ganjil simetri terhadap titik O.
[Link] Fungsi Dilihat dari Operasi yang Bekerja Padanya
Fungsi dilihat dari operasi yang bekerja padanya memberikan fungsi
aljabar, dan fungsi transenden. Pada bab pendahuluan ini, fungsi
transenden tidak akan dibahas semuanya, hanya fungsi trigonometri dan
invers trigonometri. Sedangkan fungsi eksponen, fungsi logaritma dan
fungsi hiperbolik akan dibahas pada bab selanjutnya.
Yang dimaksud dengan fungsi aljabar adalah fungsi yang diperoleh
dari 1 dan x dengan melakukan sejumlah hingga “operasi aljabar”. Operasi
aljabar pada kasus ini ialah penjumlahan, pengurangan, perkalian,
pembagian, dan penarikan akar. Sebagai contoh yang termasuk fungsi
aljabar adalah
(x +2)
2
√x
f ( x )=
x 3−√ x 2+1
4
Secara umum fungsi aljabar terdiri dari:
(a) Fungsi polinom (suku banyak) dengan bentuk umum:
2 n
Pn ( x )=a 0+ a1 x +a 2 x +…+a n x
Jika a n ≠ 0 , Pn ( x ) adalah polinom berderajat n.
(b)Fungsi rasional dengan bentuk umum:
Pn (x )
f ( x )= , di mana Pn ( x ) dan Pm ( x ) masing-masing adalah polinom.
Pm (x )
(c) Fungsi irasional adalah akar dari fungsi rasional.
Selanjutnya yang dimaksud dengan fungsi transenden adalah
fungsi yang bukan fungsi aljabar, misalnya fungsi trigonometri, fungsi
siklomoetri (invers trigonometri), fungsi eksponen, fungsi logaritma,
dan fungsi hiperbolik.
2.1.2 Operasi pada Fungsi
Pada operasi pada fungsi akan dibicarakan bagaimana membangun
suatu fungsi baru dari dua fungsi yang diberikan dan syarat apakah yang
harus dienuhi agar fugsi baru tersebut terdefinisi. Suatu cara yang
sederhana untuk membangun suatu fungsi baru adalah dengan
menjumlah, mengurangi, mengalikan, membagi, dan memangkatkan
fungsi-fungsi yang diketahui.
[Link] Jumlah, Selisih, Hasil kali, Hasil bagi, dan Pangkat
2x
Perhatikan fungsi f dan g yang didefinisikan dengan aturan f ( x )=
x−1
dan g ( x )=√ 1−x . Daerah asal fungsi f dan g berturut-turut adalah dan
Df =R−{ 1 } dan D g=¿Dari fungsi f dan g dapat dibentuk fungsi baru dengan
aturan
2x
( f +g ) ( x ) =f ( x ) g ( x )= + √ 1−x
x−1
Dalam hal ini, harus hati-hati dalam menentukan daerah asal fungsi f +g .
Jelas bahwa x harus berupa sebuah bilangan di mana fungsi f dan g
berlaku. Dengan kata lain bahwa x harus anggota Df ∩ D g. Oleh karena itu,
fungsi f +g terdefinisi jika Df ∩ D g ≠∅ . Jadi himpunan Df ∩ D g ≠∅ merupakan
syarat perlu agar fungsi f +g ada.
Definisi 2.1.7:
Diberikan f . g adalah fungsi dan c suatu konstanta. Fungsi-fungsi
f
f +g , f −g , cf , f . g , dan untuk setiap x ∈ Df ∩ D g didefinisikan sebagai
g
(i) ( f +g ) ( x ) =f ( x )+ g (x)
(ii) ( f −g ) ( x )=f ( x )−g (x)
(iii) ( cf )( x )=cf ( x )
(iv) ( fg )( x )=f ( x ) . g ( x)
(v) ()f
g
( x )=
f (x )
g (x)
, g(x )≠ 0
(vi) ( f n ) ( x )=(f ( x ))n
CONTOH 9: Misalkan fungsi f dan g diberikan oleh f ( x )=x dan g ( x )=√ x−1
a) Jika tentukan rumus untuk h=f + g , tentukan rumus untuk h , tentukan
pula daerah asal dan daerah nilainya.
b) Jika H=f . g , tentukan rumus untuk H , kemudian tentukan pula
daerah asal dan daerah nilainya.
Penyelesaian:
a) Berdasarkan definisi jumlah dari fungsi di atas, diperoleh:
h ( x )=f ( x ) + g ( x )=x + √ x−1
Dengan Df =R , Rf =R , Dg=¿, dan R g=¿, Akibatnya
Dh=D f ∩ Dg =R ∩ [ 1 ,+ ∞ )=[ 1,+ ∞ )
Kemudian, karena h ( 1 )=1 dan h ( x ) >1 untuk setiap x ∈ ( 1 ,+ ∞ )maka Rh =¿
b) Berdasarkan definisi jumlah dari fungsi di atas, diperoleh
H ( x )=( fg ) ( x )=f ( x ) . g ( x )=x √ x −1
dengan
D H =Df ∩ D g=R ∩ [ 1 ,+∞ )=[ 1 ,+∞ )
Karena H ( 1 )=0 dan h ( x ) >0 untuk setiap x ∈(1 ,+ ∞), maka Rh =[ 1 ,+ ∞ )
CONTOH 10: Diketahui fungsi f dan g yang didefinisikan dengan aturan
{ −x ,∧x< 0
f ( x )= x ,∧x ≤0 dan g ( x )= 2
−1 ,∧x >0 x ,∧x ≥ 1 {
Tentukan f +g .
Penyelesaian:
Fungsi f dan g bisa dituis dengan bentuk:
{ {
x, x≤0 −x , x ≤ 0
f ( x )= −1 , 0< x <1 dan f ( x )= −x , 0< x <1
2
−1 , x ≥ 1 x , x≥1
Berdasarkan definisi jumlah dari fungsi, diperoleh
{
0, x≤0
(f + g) ( x )= −1−x , 0< x <1
2
−1+ x , x ≥ 1
Sketsa grafik fungsi f +g nampak pada gambar 2.9
Gambar 2.9
[Link] Fungsi Komposisi
Konsep peta dan prapeta suatu fungsi adalah menjadi dasar untuk
memahami konsep fungsi komposisi. Agara lebih memahami konsep
tersebut perhatikan contoh berikut.
CONTOH 11: Perhatikan fungsi f dengan aturan f ( x) ¿ x 2 . Nilai fungsi f
yaitu di x=2 ,yaitu f ( 2 )=[Link] f ( 2 )=4 disebut peta dari x=2dan
himpunan f
−1
( 4 )={−2 ,2 }disebut prapeta dari y=4 Situasi
tersebut diperlihatkan pada gambar berikut.
y
f(x) = x2
Gambar 2.10
Berdasarkan contoh tersebut, konsep peta dan prapeta suatu fungsi
dirumuskan pada definisi di bawah ini.
Definisi 2.1.8 (Peta dan Prapeta):
Diberikan y=f (x )suatu fungsi
(i) Jika x ∈ Df , maka f ( x ) disebut peta dari x
(ii) Jika y ∈ R f . maka himpunan {x ∈ D f │ f ( x )= y } diseput prapeta dari y ,
ditulis f −1 y
Situasi definisi di atas dapat digambarkan sebagai berikut:
f
Df Rf
x f(x) = peta dari x
x1
x2 y
x3
Gambar 2.11
Perhatikan contoh berikut!
CONTOH 12: Diberikan fungsi f dengan aturan f ( x )=x 2 . Dengan
memperhatikan gambar 2.1.15 dan menggunakan definisi di
atas, diperoleh bahwa peta dari interval [ 0 , 2 ]adalah selang
[ 0 , 4 ]dan prapeta dari selang [ 0 , 4 ]adalah selang [ −2 ,2 ] .
Berdasarkan contoh tersebut, konsep peta dan prapeta suatu fungsi
pada suatu himpunan dirumuskan pada definisi di bawah ini.
Definisi 2.1.9 (Peta dan Prapeta Suatu Himpunan):
Misalkan f suatu fungsi .
(i) Jika A ⊂ Df , maka himpunan f ( A )={ f ( x )|x ∈ A }disebut peta dari
himpunan A .
B={ x ∈ Df|f ( x ) ∈ B }disebut prapeta
−1
(ii) Jika B⊂ R f , maka himpunan f
dari himpunan B .
Catatan: (1) Peta dari Df adalah R f ,
(2) Prapeta dari R f adalah R f
Sebelum mendefinisikan fungsi komposisi, terlebih dahulu
perhatikan fungsi f dan g yang didefinisikan dengan aturan f ( x )=2 x +1dan
g ( x )=√ x . Diperoleh Df =R , Rf =R , Dg=[0 ,+∞ ]dan ¿. Perhatikan bahwa −2 ∈ D f
dan nilai fungsi f di x=−2adalah f (−2 )=−3 ∈ R f . Untuk −2 ∈ D f ini tidak dapat
ditentukan nilai fungsi g di f (−2 ) yaitu g ¿sebab f (−2 )=−3 ∉ D g. Berdasarkan
uraian tersebut, timbul suatu pertanyaan syarat pakah yang harus
dipenuhi agar nilai g ( f ( x ) )ada untuk x ∈ Df . Syarat tersebut disajikan pada
definisi di bawah ini.
Definisi 2.1.10 (Fungsi Komposisi gof )
Misalkan f dan g adalah fungsi dengan R f ∩ Dg ≠∅ . Terdapat fungsi dari
himpunan bagian Df ke himpunan bagian R g. Fungsi ini disebut komposisi
dari f dan g, ditulis gof (dibaca f bundaran g) dan persamaannnya
ditentukan oleh ( gof ) ( x ) =g (f ( x ) )
Daerah asal gof adalah prapeta R f ∩ Dgterhadap f , ditulis
−1
D gof =f ( R f ∩ Dg ) ={x ∈ D f │ f (x)∈ D g }
Daerah nilai gof adalah peta R f ∩ Dgterhadap g, ditulis
R gof =g ( Rf ∩ D g )= {g ( x ) ∈ R g|x ∈ Rf }={g (f ( x ) )│ x ∈ D gof }
Gambar 2.12
CONTOH 13: Diberikan f dan gadalah fungsi-fungsi yang diberikan
berturut-turut oleh f ( x )=x −2 dan g ( x )=x 2−1. Tentukan fungsi
gof jika ada, selanjutnya tentukan daerah asal dan daerah
nilainya.
Penyelesaian:
Perhatikan bahwa Diperoleh Df =R , Rf =R , Dg=R ,dan R g=¿¿¿ .
Karena R f ∩ Dg=R ∩ R=R ≠∅ maka berdasarkan definisi fungsi komposisi di
atas, komposisi gof ada dengan aturan
( gof ) ( x ) =g ( f ( x 1 ) ) =g ( x −2 )=(x−2)2 −1
Dengan
−1
D gof =f ( R f ∩ Dg ) =f −1 (R)¿=R dan R gof =g ( Rf ∩ D g )=g (R)¿=¿
CONTOH 14: Diberikan fungsi f dan g dengan aturan berturut-turut
f ( x )=1−x
2
dan g ( x )=√ x .Tentukan gof jika ada, selanjutnya
tentukan daerah asal dan daerah nilainya.
Penyelesaian:
Perhatikan bahwa Df =R , Rf =(−∞ , 1 ] , Dg =¿ ,dan R g=¿¿¿ . Kemudian, karena
R f ∩ R g =(−∞ ,1 ] ∩ [ 0 ,+∞ )=[ 0 , 1 ] ≠ ∅ maka fungsi komposisi gof ada dengan
aturan
( gof ) ( x ) =g ( f ( x ) )=g ( 1−x 2 ) =√1−x 2
dengan Dgof = f −1(Rf ∩ D g ¿=f −1 ( [ 0.1 ]) ={x ∈ R|1−x 2 ≥0 }= [−1 , 1 ]|
Dan Rgof = g¿f∩ D g ¿=g ( [ 0 ,1 ] ) ={g ( x )=√ x|0≤ x ≤ 1|}¿ [ 0 , 1 ]
Situasi tersebut, diperhatikan pada gambar di bawah ini.
y
y y
f(x) = 1 – x 2 (gof)(x) = √ 1−x 2
x g(x) =√ x
x x
Gambar 2.13
CONTOH 15 : Daftar berikut ini memperlihatkan berbagai fungsi yang dapat dikembalikan
sebagai komponen dua fungsi.
Fungsi Komposisi y= (gof)
y = g(x) y = f(x)
(x)
y= ( x 2+ 7 ¿ ¿2/ 3 g ( x )=x 2/ 3 f ( x )=x 2 +7
y = 4 + √ 2+ x 2
g ( x )=4 + √ x f ( x )=2+ x
2
y = 4 + √ 2+ x 2 g ( x )=4 + x f ( x )= √ 2+ x 2
8 8
y= g ( x )= f ( x )=3+ x
4
|3+ x |
4
| x|
8 8
y= g ( x )= f ( x )=|3+ x 4|
|3+ x |
4
x
Dengan cara yang sama, dapat didefinisikan fungsi komposisi f o g. sebagai latihan silahkan
tuliskan definisi fungsi komposisi tersebut, kemudian carilah fungsi komposisi f o g untuk
fungsi pada contoh 3 dan contoh 4.
Latihan 2.1 x
c. f ( x )=
x +4
1. Selidiki apakah persamaan yang
3. Carilah daerah asal dan daerah hasil
berikut merupakan suatu fungsi
masing-masing fungsi berikut.
atau bukan ? berikan alasan yang
mendasari jawaban anda. a. f ( z )= √ 2 z +3
a. x 2+ y 2=9 b. g ( x )=√ x2 −9
b. xy + y +3 x=4 1
c. h ( y )=
4 y−1
c. x=√ 3 y +1
2
4−t
y d. F ( t )=
d. 3 x= 2
t −t−6
y+ 1
2. Cari dan sederhanakanlah e. G ( u )=u 2/3 −4
f ( a+ h )−f (a) f. H ( w )=|2 x+ 3|
Nilai , jika
h g. f ( x )= √ 1−2 sinx
a. f ( x )=2 x 2−1 h. g ( z ) √ sinx+cosx
3
b. f ( x )=
x−2
4. Selidiki apakah fungsi yang f ( x + y )=f ( x )+ f ( y) untuk setiap
diberikan genap, ganjil, atau tidak x , y ∈R
kedua-duanya, kemudian sketsa a. f ( t )=2 t
grafiknya. b. f ( t )=2 t+ 1
a. f ( x )=3 x 2 +2 x−1 c. f ( t )=t 2
3
y d. f ( t )=−3 t
b. g ( y )=
8
9. Diketahui fungsi f dengan aturan
t
c. h ( t )= 2 2
f ( x )=−x + 4 x . tentukanlah
t −1
a. Peta dari interval [ 1 , 4 ]
d. F ( w )= √ w−1
b. Prapeta dari interval [ 0 , 3 ]
e. G ( u )=−|u+3|
10. Diketahui fungsi f ( x )=x 2 + x dan
f. H ( z )=[ 2 x−1 ]
2
{
1 , jika t ≤ 0 g ( x )= . Carilah nilai fungsi
x +3
g. g ( t ) = t+1 , jika 0<t <2
2
t −1 , jika t ≥ 2 berikut :
a. ( f −g ) ( 2 )
{
2
h. h ( x )= −x + 4 , jika x ≤1
3 x , jika x >1 b. g2 ( 3 )
5. Sebuah tabung lingkaran tegak c. ( gof ) ( 1 )
berjari-jari r satuan diletakkan di d. ¿
dalam sebuah bola yang berjari-jari e. ( fog )( 1 )
2 r satuan. Cari rumus volume f. ( gog ) (3)
tabung, dinyatakan dalam r , V (r ). 2
11. Jika f ( x )= √ x 2−1 dan g ( x )= , cari
6. Diketahui f adalah suatu fungsi x
dengan daerah asal bilangan asli N , rumus-rumus yang berikut dan
dan memenuhi tentukan daerah asalnya,
f ( 1 ) =3 , f ( 2 )=1 , f ( 3 )=4 , f ( 4 ) =1 , f (5 )=5 , a. ( f . g ) (x )
dan f ( 6 )=9. setelah menemukan b. ( fog ) (x)
polanya, tuliskan rumus untuk f (n) c. ( gof ) ( x )
dan tentukan daerah hasilnya. d. f 4 ( x )+ g 4 (x )
7. Tentukan daerah hasil dari fungsi f 12. Carilah fungsi f dan g sehingga
bila f (n) adalah angka ke npada F=gof .
3 a. F ( x )= √ x +7
deretan desimal ?
13
b. F ( x )=¿
8. Manakah dari fungsi-fungsi berikut
2
c. F ( x )=
yang memenuhi ¿¿
d. F ( x )=log ( x3 +3 x )
13. Gambar grafik setiap fungsi
berikut.
a. f ( x )= [ 2 x ] +| x|
b. f ( x )=x + [ x 2 ]
14. Sketsa grafik fungsi f dengan
menggunakan pergeseran.
a. f ( x )= √ x−2−3
b. f ( x )=| x+3|−4
c. f ( x )=¿
d. f ( x )=¿
ax +b
15. Diketahui f ( x )= . Buktikan
cx −a
bahwa f ( f ( x ) )=x dengan
2
a + bc ≠ 0 dan x ≠ a /c.
x−3
16. Diketahui f ( x )= . Buktikan
x +1
bahwa f ¿
2.2 Persamaan Trigonometri
Pada bagian ini, persamaan trigonometri yang akan dibahas hanya merupakan
ringkasan nya saja yang dianggap penting dan sering digunakan dalam pembahasan
selanjutnya. Adapun pembuktiannya tidak akan dibahas disini, diberikan sebagai latihan
untuk membuktikan kebenarannya.
1. Persamaan ganjil-genap
a. sin (−x )=−sin x
b. cos (−x ) =cos x
c. tan (−x ) =−tan x
2. Persamaan Pythagoras
a. sin2 x+ cos2 x=1
b. 1+ tan2 x=sec 2 x
c. 1+cot2 x=csc 2 x
3. Persamaan Penambahan
a. sin ( x + y )=sin x cos y +cos x sin y
b. cos ( x + y ) =cos x cos y−sin x sin y
tan x+ tan y
c. tan ( x + y ) =
1−tan x tan y
4. Persamaan Sudut Ganda
a. sin 2 x=2 sin x cos x
b. cos 2 x=cos 2 x−sin2 x=2cos 2 x−1=1−2 sin2 x
5. Persamaan Setengah Sudut
2 1−cos 2 x
a. sin x=
2
2 1+cos 2 x
b. cos x=
2
6. Persamaan Jumlah
a. sin x +sin y=2 sin ( x +2 y ) cos( x−2 y )
cos x +cos y=2 cos (
2 )
cos (
2 )
x+ y x−y
b.
7. Persamaan Hasil kali
1
a. sin x sin y = [cos ( x + y ) −cos ( x− y ) ]
2
1
b. cos x cos y = [cos ( x + y ) +cos ( x− y ) ]
2
1
c. sin x cos y = [sin ( x + y ) +sin ( x− y ) ]
2
CONTOH 1 : Hitung tanpa menggunakan kalkulator:
−π
a. tan ( )
4
−π
b. cos ( )
3
−3
c. sin ( )
4
Penyelesaian:
−π π
a. tan ( ) = tan ( ) = 1
4 4
−π π 1
b. cos ( ) = cos ( ) =
3 3 2
−3 1 1 1
c. sin ( ) = sin ( ) = sin = √ 2
4 4 4 4
CONTOH 2 : Tentukan daerah definisi dan daerah nilai fungsi
a) f(x) = cos 4 x+ sin4 x
b) g(x) = 3 cos x – 4 sin x
Penyelesaian :
a) Daerah definisi fungsi f adalah Df = R
f(x) = cos 4 x+ sin4 x
= (cos 2 x +sin2 x ¿ 2−2 sin2 x cos2 x
−1
=1 (2 sin x cos x¿2
2
−1
=1 (sin 2x¿2
2
−1 1 1
=1 ( − cos 4 x )
2 2 2
3 1
= + cos 4x
4 4
Daerah nilai fungsi f dapat dicari sebagai berikut:
-1 cos 4x 1
1 1 1
- ≤ cos 4x
4 4 4
1 3 1
≤ + cos 4x 1
2 4 4
1
f (x) 1
2
1
Jadi daerah nilai fungsi f adalah R f = [ , 1¿
2
b) Daerah definisi fungsi g adalah D g=R. Untuk menentukan daerah nilai fungsi g,
nyatakan fungsi g dalam bentuk g(x) = k cos (x+) dengan k dan konstanta positif.
Dengan menggunakan dua aturan untuk fungsi, diperoleh g(x) = 5 cos(x+) (silahkan
periksa). Dengan menggunakan sifat keterbatasan fungsi kosinus diperoleh
-1 cos (x + ) 1
-5 5 cos (x + ) 5
-5 g(x) 5
Jadi daerah nilai fungsi g adalah R g=[ −5 , 5 ]
π
CONTOH 3 : Gambar grafik fungsi f dengan persamaan f(x) = sin ( x− ) pada [- , 2].
4
Penyelesaian :
Grafik fungsi f dapat dilakukan dengan cara menggambar grafik fungsi sinus kemudian
π
digeser kekanan sejauh pada selang [ -, 2].
4
π
x−
f(x) = sin( 4)
x
g(x) = sin(x)
Gambar 2.14