OPEN ACCESS JAKARTA JOURNAL
OF HEALTH SCIENCES
OAJJHS
Vol. 01, No. 06, Juni 2022
P-ISSN 2798-2033, E-ISSN 2798-1959
DOI 10.53801/oajjhs.v1i6.47
Original Article
Gambaran Dukungan Keluarga Tentang Kepatuhan Minum Obat Klien
TB Paru
Eti Rohaeti1, Emi Yuliza2, Nurul Ainun Shifa3
1,2,3
Program Studi Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju
Jln. Harapan nomor 50, Lenteng Agung-Jakarta Selatan 12610
Email: etiwarta03@gmail.com1
Abstract
Editor: Wawan Kurniawan Pendahuluan: Tuberculosis (TB) merupakan salah satu penyakit
menular yang menyebabkan angka kematian, Deteksi kasus
Diterima: 17/04/2022 angka kesembuhan TB di Indonesia masih belum mencapai target
Direview: 23/06/2022 global, Hal ini dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah
kepatuhan minum obat pada klien TB menelan anti tuberculosis.
Publish: 29/06/2022 Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Gambaran
Dukungan Keluraga Tentang Kepatuhan Pasien Minum Obat
Klien TB Paru.
Available Article: (doi) Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif
dengan pendekatan wawancara mendalam dan observasi. Peneliti
Hak Cipta: mendapatkan 5 sampel dari populasi keluarga TB Paru yang
©2022 Artikel ini memiliki akses terbuka tinggalsatu rumah menggunakan teknik purposive sampling.
dan dapat didistribusikan berdasarkan Hasil: Hasil penelitian bahwa dukungan keluarga dalam
ketentuan Lisensi Atribusi Creative memberikan semangat dan memberikan motivasi, memastikan
Commons, yang memungkinkan peng- ketersediaan obat di rumah, dan menjadi pengamat dalam minum
gunaan, distribusi, dan reproduksi yang obat berefek positif dalam menjalani pengobatan TB paru. Dan
tidak dibatasi dalam media apa pun, hasil penelitian bahwa sebagian besar penderita TB paru yang
asalkan nama penulis dan sumber asli putus obat di poli dots rumah sakit paru [Link]
disertakan. Karya ini dilisensikan di Partowidigdo Cisarua Bogor merasa bosan minum obat terlalu
bawah Lisensi Creative Commons lama dan merasakan efek samping obat.
Attribution-Share Alike 4.0 Interna- Kesimpulan: Dukungan Keluraga Tentang Kepatuhan Pasien
sional. Minum Obat Klien TB dalam meningkatkan kepatuhan minum
OAT berefek positif terhadap jalannya pengobatan. Kepatuhan
minum obat klien TB paru sebagian besar mengalami efek
samping dan lama sehinnga malas dan bosan untuk minum obat.
Kata Kunci: dukungan keluarga, kepatuhan minum obat, tb
paru.
- 219 -
OPEN ACCESS JAKARTA JOURNAL
OF HEALTH SCIENCES
OAJJHS
Vol. 01, No. 06, Juni 2022
P-ISSN 2798-2033, E-ISSN 2798-1959
DOI 10.53801/oajjhs.v1i6.47
Pendahuluan
Di Bulan Maret sekitar 1,3 abad yang lalu tepatnya tanggal 2 Maret 1882 merupakan
hari saat Robert Koch mengumumkan bahwa dia telah menemukan bakteri penyebab
tuberculosis (TBC) yang kemudian membuka jalan menuju diagnosis dan penyembuhan
penyakit ini. Meskipun jumlah kematian akibat tuberkulosis menurun 22% antara tahun 2000
dan 2015, namun tuberkulosis masih menepati peringkat ke-10 penyebab kematian tertinggi
di dunia.1 Oleh sebab itu hingga saat ini TBC masih menjadi prioritas utama di dunia dan
menjadi salah satu tujuan dalam SDGs (Sustainability Development Goals). Angka prevalensi
TBC Indonesia pada tahun 2014 sebesar 297 per 100.000 penduduk. Eliminasi TBC juga
menjadi salah satu dari 3 fokus utama pemerintah di bidang kesehatan selain penurunan
stunting dan peningkatan cakupan dan mutu imunisasi.2
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun 50% dari penderita TB akan meninggal, 25%
akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap
menular.3 Jika penderita melaksanakan pengobatan dengan baik atau pengobatan dengan
pengawasan minum obat secara langsung sehingga mampu mempertahankan diri terhadap
penyakit, mencegah masuknya kuman dari luar dan dapat menekan angka kematian yang
disebakan oleh TB Paru.4 Berdasarkan laporan hasil survei yang dilakukan oleh dari tahun
2008 sampai dengan 2012 di negara-negara di dunia, bahwa penggunaan Directly Observed
Treatment Short Course (DOTS) dan strategi stop TB mampu menurunkan beban TB setiap
tahunnya.5 Penggunaan DOTS dan strategi stop TB merupakan pengobatan dengan
pengawasan 2 JOM PSIK VOL.1 NO 2 diobati dan disembuhkan.6 Pengobatan TB Paru dapat
diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif 2 bulan pengobatan dan tahap lanjutan 4-6 bulan
berikutnya. Dengan pengobatan yang teratur pada pasien TB Paru dapat sembuh secara total,
apabila pasien itu sendiri mau patuh dengan aturan-aturan tentang pengobatan TB Paru.
Sangatlah penting bagi penderita untuk tidak putus berobat dan jika penderita menghentikan
pengobatan, kuman TB Paru akan mulai berkembang biak lagi yang berarti penderita
mengulangi pengobatan intensif selama 2 bulan pertama.7
Pada tahun 2017 Jumlah kasus baru TB di Indonesia sebanyak 420.994 kasus (data per
17 Mei 2018). Berdasarkan jenis kelamin, jumlah kasus baru TBC tahun 2017 pada laki- laki
1,4 kali lebih besar dibandingkan pada perempuan.8 Bahkan berdasarkan Survei Prevalensi
Tuberkulosis prevalensi pada laki- laki 3 kali lebih tinggi dibandingkan pada perempuan.
Begitu juga yang terjadi di negara- negara lain. Sebagai salah satu jenis penyakit berbahaya,
dibutuhkan kesadaran dan pemahaman masyarakat dengan baik mengenai penyakit ini. Di
indonesia sendiri, TBC termasuk dalam satu dari 10 penyebab kematian dan penyebab utama
agen infeksius. Menurut data WHO 2019 menyebutkan jumlah estimasi kasus TBC di
Indonesia sebanyak 843.000 orang. Menurut data TB Indonesia tahun 2020, jumlah kasus
TBC meningkat menjadi 845,000 dan jumlah kematian lebih dari 98.000 orang.9
Kepatuhan pasien dalam minum obat merupakan faktor penting dalam keberhasilan
suatu pengobatan. Pengobatan TB paru yang lama sering membuat pasien bosan dan
menimbulkan ketidakpatuhan pasien dalam minum obat.10 Yang jadi permasalahan kepatuhan
pasien penyakit TB paru di pengaruhi beberapa, yaitu faktor obat, faktor sistem kesehatan,
faktor lingkungan, faktor sosial ekonomi, dan faktor pasien. Dukungan keluarga dan
pengetahuan pasien terhadap penyakit tuberkulosis, obat anti tuberkulosis, dan keyakinan
terhadap efikasi obatnya akan mempengaruhi keputusan pasien untuk menyelesaikan terapinya
atau tidak11. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara pengetahuan
- 220 -
OPEN ACCESS JAKARTA JOURNAL
OF HEALTH SCIENCES
OAJJHS
Vol. 01, No. 06, Juni 2022
P-ISSN 2798-2033, E-ISSN 2798-1959
DOI 10.53801/oajjhs.v1i6.47
pasien TB paru dan dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum obat anti tuberculosis.
Dukungan keluarga sangat menunjang keberhasilan pengobatan pasien TB Paru dengan
cara selalu mengingatkan penderita agar makan obat, pengertian yang dalam terhadap
penderita yang sedang sakit dan memberi semangat agar tetap rajin berobat. 12 Dukungan
keluarga yang diperlukan untuk mendorong pasien TB Paru dengan menunjukkan kepedulian
dan simpati, dan merawat pasien.13 Dukungan keluarga, yang melibatkan keprihatinan
emosional, bantuan dan penegasan, akan membuat pasien TB Paru tidak kesepian dalam
menghadapi situasi serta dukungan keluarga dapat memberdayakan pasien TB Paru selama
masa pengobatan dengan mendukung terus menerus, seperti mengingatkan pasien untuk
mengambil obat-obatan dan menjadi peka terhadap penderita TB Paru jika mereka mengalami
efek samping dari obat TB.14 Menurut penelitian yang menemukan bahwa dukungan keluarga
merupakan faktor penting keberhasilan pasien TB dalam mematuhi program pengobatan.15
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan
wawancara mendalam dan observasi. Peneliti mendapatkan 5 sampel dari populasi keluarga
TB Paru yang tinggal satu rumah menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian ini
sudah lolos uji etik pada komisi etik stikim dengan nomer: /Sket/Ka-
Dept/RE/STIKIM/XII/2021.
Hasil dan Pembahasan
Dukungan Intrumental
“surat rujukan disana agak susah prosesnya jadi istri males cape ya udah lah ga usah
diterusin “, “ dibawa kerumah sakit terdekat “ (P1 ). “ berjalan 2 minggu minum obatnya
karna ga kuat, dosisnya terlalu tinggi setelah minum obat itu ibu merasakan gelisah mual
,selama minum obat itudia ngerasain ga nyaman, balik lagi sama dokter di kurangin dosisnya
sama dokter, karna istri gamau minum obat itu lagi saya jadi saya bantuin sama obat herbal”
( P3 ). “kadang suruh minum obat nanti nanti ga langsung, mengingatkan ini
jadwalnya harus berobat lagi “ (P4 ). “selama jalan 2 minggu ga kuat minum obat ga bisa
napas akhirnya saya bawa ke puskesmas di infus, ga ada perubahan juga saya bawa ke dhuafa
penuh kehabisan tempat, akhirnya saya bawa kesini” (P5)
Dukungan Emosinal
“pertamanya dia kan udah cape udah males lagi minum obat sampe ngedrop lagi tetep
gamau minum obat lagi, kita kumpul keluarga trus pengenya apa di tanyain kamu mau gini
terus kamu gamau liat anak besar,anak anak butuh kamu kamu harus semangat berobat lagi
ya,,” (P1). “aga susah minum obatnya kalau ga di paksa-paksa suka bilang enek mual gtu,
suka di iniin ya eee mau sembuh ga? itukan , iya mau makanya minum obatnya ,, iya kata dia
gtu “ ( P2) “ awal awalnya si emang dia kalau ga saya ingetin itu obat ga di minum, juga saya
ga bisa ditinggal jauh jauh , dengan ngobrol aja saya bilang ke istri saya inget anak anak inget
keluarga kalau mau sembuh ayo diminum obatnya gtu” ( P3 ). “pokoknya harus semangat aja
semangat, kan punya anak karena harus punya ya semangat dari diri sendiri kan? Dinasehatin
dengan omongan aja harus semangat “ ( P4). “kemauan istri dia itu gamau minum obat lagi
takutnya dia efek samping kena bayi, saya ga konsultasi saya ke puskesmas atau bagaimana”
(P5).
- 221 -
OPEN ACCESS JAKARTA JOURNAL
OF HEALTH SCIENCES
OAJJHS
Vol. 01, No. 06, Juni 2022
P-ISSN 2798-2033, E-ISSN 2798-1959
DOI 10.53801/oajjhs.v1i6.47
Dukungan Informasional
“ga boleh putus kalau ini di ulang lagi ya” (P1). “ulang lagi gitu kan ngedengernya,
paling parahnya kurang tau sih “ ( P2). “ tau denger dari cerita orang yang kena penyakit
paru juga katanya ga boleh putus, klo putus berarti di ulang lagi” ( P3). “harus 6 bulan
yah,harus kembali ke awal berobat lagi, paling lebih parah dari yang pertama “ (P4). “kurang
tau, katanya harus 6 bulan, saya ga tau, dokter ga ngomong katanya cuman berobat 6 bulan “
(P5)
Dukungan Penilaian atau Penghargaan
“kendalanya buat surat rujukan disana aga susah prosesnya jadi istri jadi males gitu
jadi cape ya udah lah udah aja ga usah di terusin, minum obat 5 bulan, jarak juga jauh “ (P1).
“gimana ya, agak susah sih minum obatnya kalau ga di paksa paksa” ( P2). “ya awalnya
emang kesulitanya bu, karna saya juga masih punya anak kecil 2 umur 4 tahun sama 2 tahun
saya juga harus merawat anak juga, istri juga itu kan, saya juga harus kerja juga, tapi
Alhamdulilah orang tua mendukung jadi anak anak saya di bawa sama orang tua sama
nenenya jadi saya focus ngurus istri saya di rumah” (P3).
“minum obat paling, kalau disuruh minum obat nanti nanti ga langsung walaupun kita
ni minum sekarang nanti nanti, paling mengingatkan paling waktunya berobat hari ini
jadwalnya harus ini lagi atau bagaimana “ (P4).“selama dia sakit paru pertama dia sakit
batuk batuk biasa aja bu, emang disitu kan emang penyakit keturunan bu emang orang tuanya
sakit sakit batuk kemugkinan nular ke keluarganya, ada orang tua laki yang sakit batuk, jadi
kalau dibawa kerumah sakit keluarganya yang laki itu orang tuanya gamau, iya… adatnya
keras lah, pas dia sakit saya bawa pertama ke dokter biasa aja puskesmas, pas parah ke
dokter ferah disuruh ronsen jadi hasilnya katanya disuruh menjalani perawatan paru selama
6 bulan, nah selama minum obat baru jalan 2 minggu minum obat ga kuat panas jantung
gamau makan segala macem, akhirnya udah parah begitu saya bawa ke puskesmas di infus,
yakan ga ada perubahan juga, saya bawa lagi ke dhuafa ga kebagian tempat atau ga tau saya
ya bu ya, abis taun baru akhirnya dirujuk ke rumah sakit paru kesini “ ( P5)
“saya punya pikiran waktu itu saya merokok ya, istri punya penyakit paru berarti saya
harus berhenti merokok, harus lebih ini lagi jagain istri jagain anak.” “mendukung buat
sembuh, saya kan tadinya kerja, saya ada niatan focus buat merawat istri jadi saya berhenti
bekerja dulu biar sembuh tatal dulu nanti lanjut kerja lagi”( P1). “iya minum obat apa itu
namanya waktu itu sih emang aga susah minum obatnya gitu ya, kalau ga di paksa paksa
selalu bilang enek mual gitu, suka di inikan.. mau sembuh engga makanya minum obatnya
gitu, oh iya kata dia gitu “. “kadang kadang suka kaya ke anak kecil aja ayo cepet nanti kita
ini kita jalan jalan ayo ke laut ngeledek nanti kita naek bananas ya bu, mau ga kelaut ,cepet
sembuh nanti kita maen sama cucu cucu”(P2).
“saya bilang ke istri saya inget anak anak kalau mau sembuh ayo diminum obatnya
,motivasi dia aja biar dia cepet sembuh “ (P3). “mendukung banget kalau keluarga tuh pengen
sehat lagi sampe istilahnya dia ga mau di bawa ke rumah sakit tapi dipaksa, kalau misalnya
ga dari kita sendiri harus punya semangat buat diri sendiri buat sembuh gitu bu, punya anak,
awalnya udah ga semangat itu cuma kemarin bicara sama anak istrinya kasih dorongan
semangat kaya gtu ya, akhirnya aga mulai naik lah “ (P4). “ dengan cara nasehatin kalu emang
mau bener-bener sembuh jalanin dengan rutin dan harus teratur minum obatnya (P5).
- 222 -
OPEN ACCESS JAKARTA JOURNAL
OF HEALTH SCIENCES
OAJJHS
Vol. 01, No. 06, Juni 2022
P-ISSN 2798-2033, E-ISSN 2798-1959
DOI 10.53801/oajjhs.v1i6.47
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tentang gambaran dukungan keluarga
tentang kepatuhan minum obat klien tb paru dapat disimpulkan. Dukungan keluarga Dukungan
Keluarga Tentang Kepatuhan Pasien Minum Obat Klien TB Paru di Rumah Sakit Paru
[Link] Partowidigdo Cisarua Bogor dalam meningkatkan kepatuhan minum
OAT berefek positif terhadap jalannya pengobatan. Dan kepatuhan minum obat klien TB paru
sebagian besar mengalami efek samping dan lama sehingga malas dan bosan untuk minum
obat.
Konflik Kepentingan
Peneliti menyatakan bahwa penelitian ini independen dari konflik kepentingan individu
dan organisasi
Ucapan Terimakasih
Peneliti mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat pada penelitian
ini, terutama kepada responden penelitian.
Pendanaan
Sumber pendanaan diperoleh dari penulis.
References
1. Kemenkes RI. Tuberkulosis (TB). Tuberkulosis. 2018;1(april):2018.
2. Kemenkes. Pusat Data Dan Informasi Tuberkulosis Kementrian Kesehatan RI.;2018.
3. AINI FN. Hubungan Dukungan KeluargaDengan Kepatuhan Minum Obat Pada Penderita Tb Paru Di
Puskesmas Tulangan Kabupaten Sidoarjo. | J Ilm Kesehat Ilmu 2012;1(2).
4. Kesehatan M, Indonesia R. No Title.; 2016.
5. Who. Defenition and diagnosis of pulmonolgy tuberculosis. Diakses
dari[Link] e/ pada tanggal 27 Desember 2007.
6. Siregar I, Siagian P, Effendy E. Dukungan Keluarga meningkatkan Kepatuhan Minum Obat pada
Penderita Tuberkulosis Paru di Kabupaten Tapanuli Utara. J KedoktBrawijaya. Published online 2019.
doi:10.21776/[Link].2019.030.04.14
7. World Health Organization. GlobalTuberculosis Report.; 2015. doi:978 92 4 156450 2
8. Pusdatin RI. InfoDatin Tuberculosis 2018. Kementeri Kesehat RI. Published online 2018.
9. WHO. WHO | Global Tuberculosis Report 2019.; 2020. doi:1037//0033-2909.I26.1.78
10. Ana S. Evaluasi Kepatuhan Penggunaan Obat Pada Pasien Tuberkulosis Rawat Jalan di Balai Besar
Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta. Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta Tahun 2012.
11. Kristanti H, Sekarwati N. Dukungan Keluarga Dan Motivasi Diri Tentang Tingkat Kepatuhan Minum
Obat Anti Tuberculosis Di Wilayah Puskesmas Jetis 1, Bantul. J Kesehat Masy. Published online
[Link].47317/jkm.v13i1.234
12. Jufrizal HM. Peran Keluarga Sebagai Pengawas Minum Obat (Pmo) Dengan Tingkat Keberhasilan
Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru. J Ilmu Keperawatan. Published online 2016.
13. Friedman. Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori, Dan Praktek. Edisi Ke-5. Jakarta:EGC.;
2014.
14. Nasution SZ, Ariga RA, Siregar CT, Amal MRH. Family Support Perceived among Pulmonary
Tuberculosis (TB) Patients in Medan, Indonesia. In: ; [Link].5220/0008788701880195
15. Septia A, Rahmalia S, Sabrian F. Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada
penderita tb paru. Published online 2013:1-10.
- 223 -