0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui pembelajaran berbasis masalah, yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh model pembelajaran tersebut terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa di SMP Negeri II Tanah Jawa, dengan fokus pada materi bilangan pecahan. Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan masukan bagi pengembangan kualitas pembelajaran dan peran guru dalam proses pendidikan.

Diunggah oleh

novalina pasaribu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan31 halaman

Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah

Dokumen ini membahas pentingnya pendidikan dan pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui pembelajaran berbasis masalah, yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh model pembelajaran tersebut terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa di SMP Negeri II Tanah Jawa, dengan fokus pada materi bilangan pecahan. Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan masukan bagi pengembangan kualitas pembelajaran dan peran guru dalam proses pendidikan.

Diunggah oleh

novalina pasaribu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.1 Latar belakang

Pendidikan adalah upaya sadar yang dilakukan agar peserta didik atau siswa dapat
mencapai tujuan tertentu. Agar siwa dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditentukan tersebut dibutuhkan proses yang relatif panjang dimanapun dan kapanpun
juga, sehingga dikatakan pendidikan berlangsung seumur hidup.
Konsep pendidikan tersebut didasarkan atas UU RI No 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional, yaitu:
“pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan bertujun untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa berakhlaq mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serata
bertanggung jawab”.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasioanal itu, pemerintah telah menyelenggarakan
perbaikan-perbaikan peningkatan mutu pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang.
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti.
Namun fakta di lapangan belum menunjukkan hasil yang memuaskan di dalam GBHN
1983-1988 pendidikan dinyatakan sebagai berikut:
“pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan
ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi
budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta
tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat
membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.
Pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, yaitu tujuan
pendidikan. Tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik, kepentingan
masyarakat dan tuntutan lapangan pekerjaan atau ketiga-tiganya sekaligus. Proses
pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan,
ketrampilan, pengetahuan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan
pengembangan diri peserta didik. Pengembangan diri dibutuhkan untuk menghadapi
tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai pribadi,

1
Sebagai siswa, karyawan, profesional, maupun sebagai warga masyarakat.
Menurut R. Soedjadi, matematika sebagai wahana pendidikan tidak hanya dapat
digunakan untuk mencapai satu tujuan, misalnya mencerdaskan siswa, tetapi dapat pula
untuk membentuk kepribadian siswa serta mengembangkan ketrampilan tertentu. Hal itu
mengarahkan perhatian kepada pembelajaran nilai-nilai dalam kehidupan melalui
matematika. Matematika yang diajarkan di sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika
yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan dan pembentukan pribadi siswa
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini berarti bahwa
matematika sekolah selain memiliki ciri-ciri yang penting yaitu objek yang abstrak dan
pola pikir deduktif serta kebenaran konsistensi, juga tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan ilmnu pengetahuan dan teknologi. Keabstrakan objek-objek matematika
perlu diupayakan agar dapat diwujudkan secara lebih konkrit, sehingga akan
mempermudah siswa memahaminya.
Guru matematika akan mampu menggunakan matematika untuk membawa siswa
menuju tujuan yang ditetapkan, bila ia memahami dengan baik matematika yang akan
digunakan sebagai wahana. Apabila pemahaman guru terhadap matematika kurang baik
dapat dipastikan bahwa penggunaan matematika sebagai wahana pendidikan juga akan
tidak berhasil seperti yang diharapkan. Hal itu dapat diibaratkan atau digambarkan
sebagai seseorang yang aka membawa orang lain dengan sepeda (kendaraan) menuju
suatu tempat tujuan, tetapi orang yang akan membawa itu tidak tahu liku-liku tentag
sepedanya.
Kurangnya minat anak belajar terhadap matematika karena kurangnya pengertian
tentang hakikat dan fungsi terhadap matematika itu sendiri. Padahal, matematika itu
menurut slamet imam santosa merupakan salah satu jalan untuk menuju pemikiran yang
jelas, tepat, teliti. Pemikiran yang melandasi semua ilmu pengetahuan dan filsafat. Salah
satu kemampuan utama yang memegang penting dalam kehidupan dan perkembangan
manusia adalah kreatif.
Ketrampilan berfikir kreatif yaitu ketrampilan individu dalam menggunakan proses
berfikirnya untuk menghasilkan suatu ide yang baru, konstruktif, dan baik berdasarkan
konsep-konsep yang rasional persepsidan intuisi individu (suprapto). Hakekat berpikir
kreatif dan produktif memungkinkan seseorang dapat memecahkan masalah. Misalnya:
dalam mengerjakan soal anak yang lebih kreatif akan lebih mudah dalam memecahkan
masalah. Dapatlah dipahami bahwa seperti ini dapat menimbulkan kelakuan dalam
berfikir dan kesulitan dalam meninjau suatu masalah. Dengan demikian daya fikir kreatif
2
sebagai kemampuan untuk dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut tinjau, justru
terhambat. Jika anak sekolah tidak pernah atau jarang dituntut untuk menjajaki berbagai
alternatif jawaban terhadap suatu persoalan, bagaimana dapat diharapkan bahwa kreatif
akan berkembang.
Menurut Yuli, 2004: 4 berpikir kreatif merupakan suatu proses yang
mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir [Link] divergen digunakan
untuk mencari ide-ide untuk menyelesaikan masalah sedangkan berpikir logis digunakan
untuk memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang kreatif.
Berdasarkan hasil tes awal yang dilakukan peneliti tentang berfikir kreatif yang
menunjukkan bahwa kemampuan berfikir kreatif siswa masih rendah. Hal ini dapat
dilihat dari hasil tes siswa yang belum mencapai kkm smp negeri. Lembar aktif siswa
tersebut dianalisis dan diperoleh gambaran tentang kurangnya kemampuan berfikir
kreatif [Link] karena itu, kemampuan berfikir kreatif siswa tersebut perlu mendapat
perhatian.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa berfikir kreatif merupakan salah
satu tuntutan yang perlu dilatih dan dikembangkan dalam proses pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif agar kemampuan berfikir
kreatif siswa dapat terlatih adalah pembelajaran berbasis masalah.

Menurut Riyanto (2010: 285) mengemukakan bahwa “pembelajaran berbasis masalah


adalah suatu model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam memecahkan suatu masalah”. Pembelajaran berbasis masalah
menuntut siswa untuk dapat memecahkan masalah yang diberikan dengan cara mereka
sendiri. Dengan kata lain, siswa dituntut untuk berfikir secara kreatif agar dapat
memecahkan masalah tersebut.

Menurut Duch (dalam Riyanto 2010: 285) menyatakan bahwa:

“Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang menghadapkan pada
tantangan ‘belajar untuk belajar’. Siswa aktif bekerjasama di dalam kelompok untuk mencari
solusi permasalahan dunia nyata. Permasalahan ini sebagai acuan bagi peserta didik untuk
merumuskan, menganalisis, dan memecahkannya.”

Hasil penelitian Eko Purwantoro (2005) menyimpulkan bahwa model pembelajaran


berbasis masalah dengan penekanan representatif dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas
siswa dan kemampuan kerjasama dalam kelompok. Jika aktivitas aktif siswa di suatu kelas
tergolong baik, maka diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berfikir kreatif

3
[Link] pembelajaran berbasis masalah, guru berperan mengajukan permasalahan,
memberikan dorongan, motivasi dan menyediakan bahan ajar dan fasilitas yang diperlukan
peserta didik untuk memecahkan [Link] penelitian ini, materi pembelajaran akan
difokuskan pada pokok bahasan bilangan pecahan. Masalah disajikan dalam bentuk Lembar
Aktif Siswa (LAS) dan konteks masalah sesuai dengan tingkat kelas atau perkembangan
kognitifnya. Dengan melakukan pemecahan masalah tersebut, diharapkan siswa dapat
mengeluarkan ide dan gagasannya sehingga diharapkan dapat melatih kemampuan berfikir
kreatif [Link] karena itu, berdasarkan uraian di atas peneliti bermaksud mengadakan
penelitian dengan judul: pengaruh penerapan model pembelajaran berbasis masalah
dalam upaya meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa SMP NEGERI II Tanah
Jawa.

1.2 Identifikasi Masalah


Berkaitan dengan penelitian, tentang pengaruh pembelajaran berbasis masalah
terhadap kreatif matematika siswa, maka muncul pokok permasalahan antara lain sebagai
berikut:
1. Apakah penguasaan materi berpengaruh terhadap kemampuan berfikir kreatif siswa?
2. Apakah faktor intelegensi (iq) seseorang berpengaruh terhadap kemampuan berfikir
kreatif siswa?
3. Apakah motivasi siswa terhadap matematika berpengaruh terhadap kemampuan
berfikir kreatif?
4. Apakah frekuensi latihan soal-soal berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan
berbasis masalah?
5. Apakah kemampuan siswa dalam mencari informasi yang relevan berpengaruh
terhadap kemampuan berfikir kreatif?
6. Apakah kemampuan dalam memilih pembelajaran pemecahan berbasis masalah
berpengaruh terhadap kemampuan berfikir kreatif?
7. Apakah kemampuan berpikir kreatif berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan
berbasis masalah?

1.3 Pembatasan Masalah


Adapun pembatasan masalah pada penelitian ini antara lain:

4
1. Pengaruh yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh pembelajaran berbasis
masalah terhadap kemampuan siswa berfikir kreatif.
2. Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang dirancang dan
dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif peserta didik dalam
memecahkan masalah.
3. Kemampuan berfikir kreatif dalam penelitian ini ditunjukkan oleh nilai tes essay yang
mengacu pada aspek kemampuan berfikir kreatif yaitu: fluency, fleksibility, originality dan
elaboration.
4. Materi yang akan diajarkan adalah bilangan pecahan.
1.4 Rumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :
Adakah pengaruh positif pembelajaran berbasis masalah terhadap upaya meningkatkan
kemampuan siswa berfikir kreatif.
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh positif pembelajaran berbasis masalah terhadap
kemampuan siswa berfikir kreatif.
2. Pengaruh penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan
berfikir kreatif siswa.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk dapat mengembangkan
kualitas pembelajaran dan pengembangan profesi guru agar tujuan nasional pendidikan dapat
tercapai.
2. Bagi guru
Dapat mengubah pola dan sikap guru dalam mengajar yang semula berperan sebagai
pemberi informasi menjadi berperan sebagai fasilitator dan mediator yang dinamis sehingga
belajar mengajar dapat dirancang dan dilaksanakan secara efektif efisien, kreatif dan inovatif.

1.7 Asumsi dan Keterbatasan


Penelitian ini diadakan di sekolah yaitu SMP Negeri II Tanah Jawa. Dalam penelitian ini
diasumsikan bahwa siswa yang menjadi subjek penelitian adalah sungguh-sungguh dalam
mengikuti proses pembelajaran berbasis masalah dalam menyelesaikan tes berpikir kreatif
5
pada materi bilangan pecahan. Kegiatan pembelajaran dilakukan berkelompok dan setiap
siswa berperan aktif dalam kegiatan kelompok tersebut.
Dalam penerapan pembelajaran berbasis masalah yang berorientasi meningkatkan
kemampuan berpikir kreatif terhadap objek matematika dengan materi bilangan pecahan.
Peneliti sebagai motivator, moderator, dan fasilitator serta evaluator dalam pembelajaran
yang berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan alur
penerapan pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kreatif siswa.
1.8 Defenisi Operasional
1) Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran yang diawali dengan
penyajian masalah yang dirancang dalam konteks yang relevan dengan materi yang
dipelajari.
2) Berfikir kreatif adalah kemampuan untuk menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru
dan menerapkannya dalam pemacahan masalah. Dalam makalah ini yang dimaksud dengan
menemukan sesuatu yang baru adalah dapat menyelsaikan soal-soal yang diberikan dengan
beberapa cara atau menemukan cara baru untuk menyelesaikannya.
3) Kemampuan berfikir kreatif adalah kemampuan berpikir yang bersifat baru yang diperoleh
dengan mencoba-coba dan ditandai dengan keterampilan berpikir lancar, luwes, orisinil, dan
elaborasi.
4) Kadar aktivitas siswa hasil observasi yang dilakukan oleh observer dan dianalisis dengan
mendeskripsikan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.
5) Proses guru mengelola pembelajaran adalah proses untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
dimulai dengan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pembelajaran Berbasis Masalah

6
2.1.1 Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu bagian dari tipe belajar yang
dikemukakan oleh robert. [Link] yakni belajar pemecahan masalah (problem solving).
Pemecahan masalah merupakan kegiatan belajar yang paling [Link] dapat
memecahkan suatu masalah,seseorang memerlukan pengetahuan-pengetahuan dan
kemampuan-kemampuan yang ada kaitannya dengan masalah [Link] dan
kemampuan tersebut harus diolah secara kreatif dalam rangka memecahkan masalah yang
bersangkutan.

Tan (dalam Rusman, 2010: 229) mengemukakan bahwa,“pembelajaran berbasis masalah


merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam pbm kemampuan berpikir siswa betul-
betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga
siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan
berpikirnya secara berkesinambungan.”

Menurut Arends (dalam Trianto, 2007:68) “pembelajaran berbasis masalah merupakan


suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik
dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan
keterampilan berfikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.”

Menurut Riyanto (2010: 285) “pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model
pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik dalam memecahkan masalah.”

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran


berbasis masalah adalah suatu proses pembelajaran yang menggunakan masalah untuk
mengembangkan kemampuan berfikir tingkat tinggi peserta didik.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis masalah siswa mempresentasikan gagasannya,


siswa terlatih merefleksikan persepsinya,mengargumentasikan dan mengomunikasikan ke
pihak lain sehingga guru dapat membimbing serta mengintervensikan ide baru berupa konsep
dan prinsip (Rusman, 2010: 245).

2.1.2 Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah


Arends (dalam Riyanto, 2010: 287) mengidentifikasi karakteristik pembelajaran berbasis
masalah yakni:
1. Pengajuan masalah

7
Langkah awal dari pembelajaran berbasis masalah adalah mengajukan masalah yang
diajukan menghindari jawaban yang sederhana tetapi memungkinkan adanya berbagai
macam solusi untuk menyelesaikan masalah itu.
2. Keterkaitan antar disiplin ilmu
Walaupun pembelajaran berbasis masalah ditujukan pada suatu ilmu bidang tertentu
tetapi dalam pemecahan masalah-masalah aktual, peserta didik dapat menyelidiki dari
berbagai ilmu.
3. Menyelidiki masalah autentik
Peserta didik diharuskan melakukan penyelidikan autentik untuk menyelesaikan
masalah meliputi: menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan
meramalkan, melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi (acuan) dan
menyimpulkan.
4. Memamerkan hasil kerja
Model ini membelajarkan peserta didik untuk menyusun dan memamerkan hasil kerja
sesuai kemampuannya.
5. Kolaborasi
Kerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas dan meningkatkan temuan dan dialog
pengembangan keterampilan berfikir dan keterampila sosial.

Menurut Riyanto (2010: 290), karakteristik pembelajaran berbasis masalah seperti


berikut:“pertama, ide pokok dibalik pembelajaran berbasis masalah adalah titik awal
pembelajaran sebaiknya sebuah masalah; kedua, adalah sifat model pembelajaran berbasis
masalah berpusat pada peserta didik yang menekankan pembelajaran mandiri (self directed
learning); ketiga, pembelajaran berbasis masalah ditujukkan untuk kelompok kecil.”

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah dari oon seng tan (dalam Rusman, 2010: 242)
yaitu:

1) Pengajuan pertanyaan atau masala (memahami masalah);


2) Berfokus pada keterkaitan antar disiplin;
3) Penyelidikan autentik;
4) Menghasilkan produk atau karya yang kemudian dipamerkan;
5) Kerja sama.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik dari
pembelajaran berbasis masalah yaitu: dimulai dengan pengajuan masalah, adanya keterkaitan

8
antar disiplin, kemudian dilakukan penyelidikan masalah autentik, menghasilkan hasil kerja
(laporan) serta mempresentasikannya, dan adanya kerja sama antar anggota kelompok.

2.1.3 Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah

Langkah-langkah (sintaks) pembelajaran berbasis masalah, yaitu:

1) Tahap I : orientasi siswa pada masalah


a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
b. Guru menjelaskan logistik yang dibutuhkan
c. Mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah
d. Memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilih
2) Tahap II: mengorganisasi siswa untuk belajar
a. Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang
berhubungan dengan masalah tersebut
3) Tahap III : membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
a. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan
eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

4) Tahap IV : mengembangkan dan menyajikan hasil karya


a. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan katya yang sesuai seperti
laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
5) Tahap V : menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
a. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka
dan proses-proses yang mereka gunakan.
2.1.4 Kelebihan Pembelajaran Berbasis Masalah
Kelebihan pembelajaran berbasis masalah adalah:
a) Peserta didik dapat belajar, mengingat, menerapkan, dan melanjutkan proses belajar secara
mandiri. Prinsip-prinsip “membelajarkan” seperti ini tidak bisa dilayani melalui pembelajaran
tradisional yang banyak menekankan pada kemampuan menghafal.
b) Peserta didik diperlakukan sebagai pribadi yang dewasa. Perlakuan ini memberikan
kebebasan kepada peserta didik untuk mengimplementasikan pengetahuan atau pengalaman
yang dimiliki untuk memecahkan masalah.

2.2 Kemampuan Berfikir Kreatif

2.2.1 Kemampuan Berfikir Kreatif

9
Menurut model struktur intelek oleh Guilford (dalam Munandar, 2009: 167), “berfikir
divergen (disebut juga berfikir kreatif) ialah memberikan macam-macam kemungkinan
jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman jumlah
dan kesesuaian”.pemikiran kreatif akan membantu orang untuk meningkatkan kualitas dan
keefektifan pemecahan masalah dan hasil pengambilan keputusan yang dibuat (evans, 1991:
29).

“definisi kemampuan berfikir secara kreatif (dalam Iskandar, 2009: 88) dilakukan
dengan menggunakan pemikiran dalam mendapatkan idea-idea yang baru, kemungkinan yang
baru, ciptaan yang baru berdasarkan kepada keaslian dalam penghasilannya.”

Menurut supriadi (dalam Riyanto, 2010: 229), “ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan ke dalam
ciri kognitif dan non kognitif. Ke dalam ciri kognitif termasuk empat ciri berfikir kreatif yaitu
orisinalitas, fleksibel, kelancaran dan elaborasi”.

Berdasarkan pada uraian yang telah dikemukakan dapat dirumuskan pengertian


berfikir kreatif matematika adalah kemampuan berfikir yang sifatnya baru yang diperoleh
dengan mencoba-coba dan ditandai dengan keterampilan berfikir lancar (fuency), berfikir
luwes/lentur (flexibility), berfikir asli (originality), dan berfikir memerinci (elaboration).

2.2.2 Indikator Berfikir Kreatif

Kepekaan berfikir kreatif dapat diukur dengan indikator-indikator yang telah ditentukan
para ahli, salah satunya menurut Torrance dalam Herdian (2010), kemampuan berfikir kreatif
terbagi menjadi tiga hal yaitu:

1) Fluency (kelancaran), yaitu menghasilkan banyak ide dalam berbagai kategori/bidang


2) Originality (keaslian), yaitu memiliki ide-ide baru untuk memecahkan persoalan
3) Elaboration (penguraian), yaitu kemampuan memecahkan masalah secara detail.

Menurut model Williams (dalam Munandar, 2009: 192) perilaku siswa yang termasuk
dalam keterampilan kognitif kreatif sebagai berikut.

Tabel I

Perilaku Siswa Dalam Keterampilan Kognitif Kreatif

Perilaku Arti

1) berfikir lancar – menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang


relevan;

10
– arus pemikiran lancar;

– menghasilkan gagasan-gagasan yang seragam;


2) berfikir luwes
– mampu mengubah cara atau pendekatan;
(fleksibel)
– arah pemikiran yang berbeda;

– memberikan jawaban yang tidak lazim, yang lain


3) berfikir orisinal
dari yang lain, yang jarang diberikan kebanyakan orang;

– mengembangkan, menambah, memperkaya suatu


4) berfikir terperinci gagasan;

(elaborasi) – memperinci detail-detail;

– memperluas suatu gagasan

Sedangkan menurut Guilford dalam Herdian (2010) menyebutkan lima indikator-


indikator berfikir kreatif, yaitu:

1) Kepekaan (problem sensitivity), adalah kemampuan mendeteksi, mengenali dan memahami


serta menanggapi suatu pernyataan, situasi atau masalah
2) Kelancaran (fluency), adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan
3) Keluwesan (flexibility), adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam
pemecahan atau pendekatan terhadap masal
4) Keaslian (originality), adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang
asli, tidak klise dan jarang diberikan kebanyakan orang
5) Elaborasi (elaboration), adalah kemampuan menambah suatu situasi atau masalah sehingga
menjadi lengkap, dan merincinya secara detail, yang di dalamnya terdapat berupa tabel,
grafik, gambar model, dan kata-kata.

Munandar memberikan uraian tentang aspek berfikir kreatif sebagai dasar untuk
mengukur kreativitas siswa seperti terlihat dalam tabel di bawah ini.

Tabel II

Indikator Kemampuan Berfikir Kreatif

Pengertian Perilaku

Berfikir lancar (fluency) 1. Mengajukan banyak pertanyaan

11
2. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika
ada
1. Mencetuskan banyak gagasan,
3. Mempunyai banyak gagasan mengenai
jawaban, penyelesaian masalah atau
suatu masalah
jawaban
4. Lancar mengungkapkan gagasan-
2. Memberikan banyak cara atau
gagasannya
saran untuk melakukan berbagai hal
5. Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih
3. Selalu memikirkan lebih dari
banyak dari orang lain
satu jawaban
6. Dapat dengan cepat melihat kesalahan dan
kelemahan dari suatu objek atau situasi

Berfikir luwes (flexibility) 1. Memberikan aneka ragam penggunaan

1. Menghasilkan gagasan, yang tak lazim terhadap suatu objek


jawaban, atau pertanyaan yang 2. Memberikan bermacam-macam penafsiran
bervariasi terhadap suatu gambar, cerita atau masalah

2. Dapat melihat suatu masalah 3. Menerapkan suatu konsep atau asas


dari sudut pandang yang berbeda dengan cara yang berbeda-beda

3. Mencari banyak alternatif atau 4. Memberikan pertimbangan terhadap


arah yang berbeda situasi yang berbeda dari yang diberikan orang

4. Mampu mengubah cara lain


pendekatan atau pemikiran 5. Dalam membahas, mendiskusikan suatu
situasi selalu mempunyai posisi yang
bertentangan dengan mayoritas kelompok

6. Jika diberikan suatu masalah biasanya


memikirkan bermacam-macam cara untuk
menyelesaikannya

7. Menggolongkan hal-hal menurut


pembagian (kategori) yang berbeda-beda

8. Mampu mengubah arah berfikir secara

12
spontan.

1. Memikirkan masalah-masalah atau hal


yang tidak terkpikirkan orang lain.

2. Mempertanyakan cara-cara yang lama dan


berusaha memikirkan cara-cara yang baru.

Berfikir orisinil (originality) 3. Memilih asimetri dalam mengambarkan

1. Mampu melahirkan ungkapan atau membuat desain.


yang baru dan unik 4. Memilih cara berpikir lain dari pada yang

2. Memikirkan cara-cara yang tak lain.


lazim untuk mengungkapkan diri. 5. Mencari pendekatan yang baru dari yang

3. Mampu membuat kombinasi- klise


kombinasi yang tak lazim dari 6. Setelah membaca atau mendengar
bagian-bagian atau unsur-unsur. gagasan-gagasan, bekerja untuk menyelesaikan
yang baru.

7. Lebih senang mensintesa dari pada


menganalisis sesuatu.

Berpikir elaboratif (elaboration) 1. Mencari arti yang lebih mendalam

1. Mampu dan terhadap jawaban atau pemecahan masalah


memperkaya
mengembangkan suatu gagasan atau dengan melakukan langkah-langkah yang
produk terperinci

2. Menambah atau merinci detail- 2. Mengembangkan atau memperkaya

detail dari suatu objek, gagasan atau gagasan orang lain


situasi sehingga menjadi lebih 3. Mencoba atau menguji detail-detail untuk
menarik melihat arah yang akan ditempuh

4. Mempunyai rasa keindahan yang kuat,


sehingga tidak puas dengan penampilan yang
kosong atau sederhana

13
5. Menambah garis-garis, warna-warna, dan
detail-detail (bagian-bagian) terhadap
gambaranya sendiri atau gambar orang lain.

Pada penelitian ini yang akan dijadikan tolak ukur kemampuan berfikir kreatif adalah
berfikir lancar, kemampuan berfikir luwes, kemampuan berfikir originalitas, dan kemampuan
berfikir elaboratif. Adapun kriteria penskoran yang digunakan dalam penelitian ini adalah
skor rubrik yang dimodifikasi dari bosch (dalam Febrianita, 2010: 44).

Tabel III

Pedoman Penskoran

Kemampuan Berfikir Kreatif Matematika

Aspek yang diukur Respon siswa terhadap soal/masalah Skor

Tidak menjawab/memberikan jawaban yang salah 0

Terdapat kekeliruan dalam memperluas situasi tanpa


1
disertai perincian

Terdapat kekeliruan dalam memperluas situasi dan


2
Elaborasi disertai perincian yang kurang detil

Memperluas situasi dengan benar dan merincinya


3
kurang detil

Memperluas situasi dengan benar dan memerincinya


4
secara detil

Kelancaran Tidak menjawab/memberikan ide yang tidak relevan


0
(fluency) untuk pemecahan masalah

Memberikan sebuah idea yang relevan dengan 1


pemecahan masalah tetapi pengungkapannya kurang

14
jelas

Memberikan sebuah ide yang relevan dengan


pemecahan masalah dan pengungkapannya lengkap 2
serta jelas

Memberkan lebih dari satu ide yang relevan


pemecahan masalah tetapi pengungkapannya kurang 3
jelas

Memberikan lebih dari satu ide yang relevan dengan


pemecahan masalah dan pengungkapannya lengkap 4
serta jelas

Tidak menjawab/memberikan ide yang tidak relevan


0
untuk pemecahan masalah

Memberikan jawaban hanya satu cara dan terdapat


kekeliruan dalam proses perhitungan sehingga 1
hasilnya salah

Keluwesan Memberikan jawaban dengan satu cara, proses


2
(flexibility) perhitungan dan hasilnya benar

Memberikan jawaban lebih dari satu cara (beragam)


tetapi hasilnya ada yang salah karena terdapat 3
kekeliruan dalam proses perhitungan

Memberikan jawaban lebih dari satu cara (beragam),


4
proses perhitungan dan hasilnya benar

Keaslian Tidak menjawab/memberikan jawaban yang salah 0

(originality)
Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi
1
tidak dapat dipahami

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri, proses 2


perhitungan sudah terarah tetapi tidak selesai

15
Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi
terdapat kekeliruan dalam proses perhitungan 3
sehingga hasilnya salah

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri dan


4
proses perhitungan serta hasilnya benar

2.2.3 Hubungan Pembelajaran Berbasis Masalah Dengan Kemampuan Siswa Berfikir


Kreatif

Guru sebagai salah satu komponen penting yang mendukung dalam proses belajar
mengajar berkewajiban menciptakan suasana proses belajar mengajar yang baik agar tujuan
pendidikan dapat berhasil. Guru yang baik adalah guru yang mempunyai kemampuan dalam
mengolah proses pendidikan. Dalam penelitian ini akan diterapkan pembelajaran berbasis
masalah.

Pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran dengan ciri utamanya meliputi


pengajuan pertanyaan atau masalah, memusatkan pada keterkaitan antar disiplin,
penyelidikan autentik, kerja sama, dan menghasilkan karya atau hasil peraga (Riyanto, 2010:
287). Pembelajaran ini didasarkan pada anggapan dasar bahwa situasi teka-teki atas masalah
yang tidak terdefinisi secara ketat akan merangsang rasa ingin tahu peserta didik sehingga
melibatkan mereka secara inkuiri (Arends dalam Riyanto, 2010: 298). Di sini guru
mengajukan masalah, membimbing dan memberikan petunjuk minimal kepada siswa dalam
memecahkan masalah. Anak didik yang terbiasa dihadapkan pada masalah dan berusaha
memecahkannya akan cepat tanggap dan kreatif (Djamarah dalam Indriati, 2009: 46). Oleh
karena itu, dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah diharapkan akan
memperoleh gambaran kemampuan siswa berfikir kreatif.

2.2.4 Anggapan Dasar

Menurut surakhmad (dalam Arikunto, 2010: 104) “anggapan dasar adalah sebuah titik
tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik”. Dalam pembelajaran berbasis
masalah, siswa harus aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran berbasis masalah
dapat terlaksana. Siswa SMP Negeri II tergolong aktif maka pembelajaran berbasis masalah
dapat diterapkan di SMP Negeri II.

2.2.5 Hipotesis Penelitian

16
Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh penerapan
pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan siswa berfikir kreatif di SMP Negeri II.

2.2.6 Kriteria Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan uji-t satu pihak (kanan).

Ho : tidak ada pengaruh penerapan pembelajaran berbasis masalah terhadap upaya


meningkatkan kemampuan siswa berfikir kreatif di SMP Negeri II.

Ha : ada pengaruh penerapan pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan siswa


berfikir kreatif di SMP Negeri II.

2.2.7 Kajian Terdahulu Yang Relevan

Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah: pertama,
penelitian yang dilakukan oleh Eko Purwantoro (2005) dengan judul “penerapan
pembelajaran berbasis masalah pokok bahasan persamaan garis lurus untuk meningkatkan
kreatif siswa kelas VII-C SMP NEGERI I”. Hasil kajian penelitian tersebut menggambarkan
bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah pokok bahasan persamaan garis lurus telah
dilaksanakan di kelas VII-C semarang dapat meningkatkan kreatif siswa. Hal ini dapat
terlihat dari skor rata-rata kreativitas siswa dari siklus I adalah 2,67 sedangkan pada siklus II
adalah 2,76 dari skala [Link], penelitian yang telah dilakukan oleh Muslimatun
(2006) dengan judul “model pembelajaran berbasis masalah dengan penekanan representasi
untuk meningkatkan hasil belajar dan kerja sama dalam kelompok pokok bahasan dalil
phytagoras siswa SMP NEGERI I semarang kelas VII tahun pelajaran 2005/2006”. Hasil
kajian penelitian tersebut menggambarkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis
masalah dengan penekanan representasi dapat meningkatkan hasil belajar,kreatif siswa dan
kemampuan kerjasama siswa dalam kelompok. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan
diperoleh bahwa pada pertemuan pertama siklus I, rata-rata kelasnya 7.54 dan ketuntasan
belajarnya 76,01%.ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Kusmini (2005) dengan judul
“model pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kecakapan matematika siswa
SMP kelas VII sebagai implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)”. Dari hasil
penelitian tersebut diperoleh bahwa model pembelajaran berbasis masalah dengan
serangkaian prompting dan pobing question dapat mengembangkan kecakapan matematika
siswa SMP kelas VII secara optimal.

17
BAB III

MOTODOLOGI PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan tujuan untuk melihat
tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa dengan menerapkan pembelajaran berbasis
masalah.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri II Tanah Jawa. Waktu penelitian
dilaksanakan pada T.A. 2018/2019. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah :
1) Pembelajaran matematika disekolah ini masih belum mengembangkan
kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran berbasis masalah.
3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010: 173). Adapun


populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri II Tanah Jawa

18
Tabel IV

Populasi Penelitian

Kelas Jumlah siswa

Vii.1 40

Vii.2 39

Vii.3 40

Vii.4 40

Vii.5 40

Vii.6 40

Jumlah 239

3.3.2 Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (arikunto, 2010: 174).
Karena kelas-kelas di SMP Negeri 2 tidak diklasifikasikan berdasarkan peringkat siswa,
maka dari populasi di atas dua kelas (kelas kontrol dan kelas eksperimen) yang dijadikan
sampel-sampel diambil secara random (sampel acak), dengan langkah pengundian.

Tabel V

Sampel Penelitian

Kelas Jumlah siswa Keterangan

Vii.2 39 Kelas eksperimen

Vii.3 40 Kelas control

3.4 Metode Penelitian

19
Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (arikunto,
2010: 262). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan only-
posttest design.

E X O2

K O4

Keterangan:

E : kelas eksperimen

K : kelas kontrol

O2 : nilai post-test pada kelas eksperimen

O4 : nilai post-test pada kelas kontrol

X : treatment / perlakukan (pembelajaran berbasis masalah)

Adapun tahap-tahap yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Tahap perencanaan.
a) Meminta surat izin penelitian dari diknas yang selanjutnya diberikan ke sekolah tempat
penelitian.
b) Melakukan observasi di sekolah yang akan menjadi tempat penelitian yaitu smp negeri.
c) Konsultasi dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan dan dosen pembimbing.
d) Menyusun perangkat pembelajaran yaitu desain pembelajaran,Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), bahan ajar, LAS, kisi-kisi tes kemampuan berfikir kreatif, dan lain
sebagainya.
b. Tahap pelaksanaan.

Penelitian yang dilaksanakan adalah kegiatan pembelajaran matematika, pada kelas


eksperimen dan kelas kontrol. Dengan pembelajaran berbasis masalah pada kelas
eksperimen dan metode ekspositori pada kelas kontrol. Pelaksanaan penelitian dilakukan
secara bertahap dan diadakan dalam 4 kali pertemuan. Pertemuan pertama di kelas
eksperimen dengan pembelajaran berbasis masalah pada materi menganalisis bilangan
pecahan dan menentukan nilai pecahan, setelah pembelajaran diadakan tes untuk melihat
kemampuan siswa berfikir kreatif. Pada pertemuan kedua di kelas eksperimen dengan
pembelajaran berbasis masalah pada materi mengurutkan pecahan, setelah pembelajaran
diadakan tes untuk melihat kemampuan siswa berfikir kreatif. Pada pertemuan ketiga di kelas
eksperimen dengan pembelajaran berbasis masalah pada materi menyelesaikan operasi

20
hitung penjumlahan dan pengurangan pada pecahan, setelah pembelajaran diadakan tes untuk
melihat kemampuan siswa berfikir kreatif. Pada pertemuan keempat di kelas eksperimen
diadakan tes evaluasi terhadap kemampuan siswa berfikir kreatif setelah diterapkan model
pembelajaran berbasis masalah dengan soal yang sama terhadap kelas kontrol.

Pada pertemuan pertama di kelas kontrol dengan metode ekspositori materi yang
diberikan yaitu menganalisis pecahan dan menentukan nilai pecahan. Pada pertemuan kedua
di kelas kontrol dengan metode ekspositori materi yang diberikan yaitu mengurutkan
pecahan. Pada pertemuan ketiga di kelas kontrol dengan metode ekspositori materi yang
diberikan yaitu menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pada pecahan.
Pada pertemuan keempat di kelas kontrol diadakan tes evaluasi terhadap kemampuan siswa
berfikir kreatif setelah pembelajaran dengan metode ekspositori, menggunakan soal yang
sama dengan kelas eksperimen.

c. Tahap pelaporan.

Setelah didapat data hasil tes siswa setiap pertemuan, tes evaluasi, selanjutnya
dianalisis, kemudian melakukan pembahasan dan membuat kesimpulan dari hasil penelitian
yang telah dilakukan di SMP Negeri 2.

3.5 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian
(arikunto, 2010: 161).dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu:

1) Variabel bebas (y) : pembelajaran berbasis masalah


2) Variabel terikat (x) : kemampuan siswa berfikir kreatif

21
gambaran tentang prosedur penelitian dapat dilihat seperti gambar di bawah ini

Studi Pendahuluan,Indentifikasi Masalah,Rumusan


Masalah,DLL

Pengembangan Bahan Ajar,Pendekatan


Pembelajaran,Instrumen Penelitian

Pretest Pretest

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

Model Pembelajaran
Pembelajaran Kreatif
Berbasis Masalah

Analisis

Kesimpulan & Saran

22
3.5 Teknik Pengumpulan Data

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
mengukur keterampilan pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok (Arikunto, 2010: 193).

Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data hasil tes tertulis yang
berbentuk soal essay. Soal tes merupakan soal uraian yang memiliki kriteria soal berfikir
kreatif yang mengacu pada aspek kemampuan berfikir kreatif.

Kriteria penskoran menggunakan skor rubrik yang dimodifikasi dari bosch yang
disajikan dalam tabel berikut.

Tabel VI

Pedoman Penskoran

Kemampuan Berfikir Kreatif Matematika

Aspek yang diukur Respon siswa terhadap soal/masalah Skor

Tidak menjawab/memberikan jawaban yang salah 0

Terdapat kekeliruan dalam memperluas situasi tanpa


1
disertai perincian

Terdapat kekeliruan dalam memperluas situasi dan


2
Elaborasi disertai perincian yang kurang detil

Memperluas situasi dengan benar dan merincinya


3
kurang detil

Memperluas situasi dengan benar dan memerincinya


4
secara detil

Kelancaran Tidak menjawab/memberikan ide yang tidak relevan 0


untuk pemecahan masalah

23
Memberikan sebuah idea yang relevan dengan
pemecahan masalah tetapi pengungkapannya kurang 1
jelas

Memberikan sebuah ide yang relevan dengan


pemecahan masalah dan pengungkapannya lengkap 2
serta jelas
(fluency)
Memberikan lebih dari satu ide yang relevan
pemecahan masalah tetapi pengungkapannya kurang 3
jelas

Memberikan lebih dari satu ide yang relevan dengan


pemecahan masalah dan pengungkapannya lengkap 4
serta jelas

Tidak menjawab/memberikan ide yang tidak relevan


0
untuk pemecahan masalah

Memberikan jawaban hanya satu cara dan terdapat


kekeliruan dalam proses perhitungan sehingga 1
hasilnya salah

Keluwesan Memberikan jawaban dengan satu cara, proses


2
(flexibility) perhitungan dan hasilnya benar

Memberikan jawaban lebih dari satu cara (beragam)


tetapi hasilnya ada yang salah karena terdapat 3
kekeliruan dalam proses perhitungan

Memberikan jawaban lebih dari satu cara (beragam),


4
proses perhitungan dan hasilnya benar

Keaslian Tidak menjawab/memberikan jawaban yang salah 0

(originality)
Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi
1
tidak dapat dipahami

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri, proses 2

24
perhitungan sudah terarah tetapi tidak selesai

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi


terdapat kekeliruan dalam proses perhitungan 3
sehingga hasilnya salah

Memberikan jawaban dengan caranya sendiri dan


4
proses perhitungan serta hasilnya benar

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Lembar tes soal

Tes ini digunakan pada saat tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) yang

berbentuk soal uraian untuk mengukur hasil belajar siswa.

2. Lembar keterlaksanaan model pembelajaran berbasis masalah

Lembar observasi yang mengukur sejauh mana keterlaksanaan model

pembelajaran berbasis masalah digunakan dalam proses pembelajaran.

3.7 Analisis Instrumen

Sebelum instrumen dipakai dalam sampel, instrumen harus diuji terlebih

dahulu dengan menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas dengan

menggunakan program IBM SPSS 21.

1. Uji Validitas

Agar suatu instrumen atau alat yang digunakan untuk meneliti harus valid.

Instrumen yang valid menunjukan bahwa alat ukur yang digunakan untuk

memperoleh data itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan

untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (ketepatan). Untuk menguji

validitas instrument digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh
Pearson dengan rumus:

rxy = 𝑁 ∑𝑋𝑌 − (∑𝑋)(∑𝑌) \ √{𝑁∑𝑋2 − (∑𝑋)2}{𝑁 ∑𝑌2 − (∑𝑌)2}

25
Keterangan:

N : Jumlah siswa yang dites

∑XY : Jumlah (skor item nomor x skor total)

∑X : Jumlah skor item nomor

∑Y : Jumlah skor total

∑𝑋2 : Jumlah kuadrat skor item

∑𝑌2 : Jumlah kuadrat skor total

Kriteria:

Apabila rxy > rtabel, maka butir soal valid.

Uji validitas yang di gunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan

program IBM SPSS dengan kriteria pengujian jika korelasi setiap butir

dengan skor total lebih dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid,

atau sebaliknya jika korelasi setiap butir dengan skor total kurang dari 0,3

maka instrumen tersebut dinyatakan tidak valid.

Item yang mempunyai korelasi positif dengan kriteria (skor total) serta

korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas

yang tinggi juga. Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi

syarat adalah kalau rl = 0,3 berdasarkan pendapat Masrun dalam Sugiyono

(2013: 182).

2. Uji Reliabilitas

Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali

untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.

Perhitungan untuk mencari harga reliabilitas instrumen dengan menggunakan

rumus alpha, yaitu:

r11 = (𝑛 \ 𝑛 − 1)(1 − ∑𝛿𝑖2 \ 𝛿𝑡 2 )

Dimana:

𝑟11 : Reliabilitas yang dicari

26
∑𝛿𝑖2 : Jumlah varian skor tiap item

𝛿𝑡 2 : Varians total

Kriteria:

Apabila rxy> rtabel, instrument reliable.

Kuesioner dinyatakan reliabel jika mempunyai nilai koefisien alpha, oleh

karena itu digunakan ukuran kemantapan alpha yang diinterpretasikan sebagai

berikut:

1. Nilai Alpha Cronbach’s 0,00 sampai dengan 0,20 berarti kurang reliabel.

2. Nilai Alpha Cronbach’s 0,21 sampai dengan 0,40 berarti agak reliabel.

3. Nilai Alpha Cronbach’s 0,41 sampai dengan 0,60 berarti cukup reliabel.

4. Nilai Alpha Cronbach’s 0,61 sampai dengan 0,80 berarti reliabel.

5. Nila Alpha Cronbach’s 0,81 sampai dengan 1,00 berarti sangat reliabel.

Setelah instrumen valid dan reliabel, kemudian diberikan pada sampel yang

sesungguhnya. Skor total setiap siswa diperoleh dengan menjumlah skor

setiap nomor soal.

3. Taraf kesukaran soal

Tingkat kesukaran soal digunakan untuk mengetahui soal tersebut mudah, sedang dan
sukar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar (sedang).
Untuk menghitung tingkat kesukaran suatu nomor soal dapat digunakan rumus sebagai
berikut.

Keterangan:

Mean : skor rata-rata peserta didik untuk satu nomor butir soal

Skor maksimum: skor tertinggi yang ditetapkan pada pedoman penskoran untuk nomor butir
soal yang dimaksud

Adapun klasifikasi soal untuk tingkat kesukaran sebagai berikut:

0,00 – 0,30 adalah soal sukar

0,31 – 0,70 adalah soal sedang

0,71 – 1,00 adalah soal mudah

27
4. Daya pembeda

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara peserta
didik yang pandai (menguasai materi yang ditanyakan) dengan peserta didik yang kurang
pandai (belum menguasai materi yang ditanyakan). Untuk mengukur daya pembeda tersebut
digunakan rumus sebagai berikut:

Adapun klasifikasi soal untuk daya pembeda sebagai berikut:

R £ 0,21 soal ditolak

0,22 £ r £ 0,31 soal direvisi

0,32 ≥ r soal diterima

3.8 Hasil Uji Coba Instrumen

Berdasarkan uji coba instrumen yang dilakukan oleh peneliti diperoleh hasil yang
disajikan dalam tabel (terlampir). Setelah dilakukan analisis soal uji coba, selanjutnya
dilakukan penyelesaian soal. Dari perhitungan analisis validitas, reliabilitas, tingkat
kesukaran, dan daya pembeda soal, maka butir soal yang digunakan untuk mengambil data
penelitian sebanyak 4 soal yakni butir soal nomor 3, 4, 7 dan 9.

3.8 Teknik Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

1. Teknik Analisis Data Hasil Belajar

Pada penelitian ini hasil belajar siswa didapatkan dari hasil pre test dan

post test. Proses mengolah skor menjadi nilai untuk hasil belajar siswa

sebagai berikut:

1) Skor yang diperoleh dari masing – masing siswa adalah jumlah

skor dari setiap soal.

2) Persentase pencapaian hasil belajar siswa diperoleh dengan rumus:

% Pencapaian Hasil Belajar = 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ \ 𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙 𝑋


100%

3) Nilai hasil belajar siswa adalah:

Nilai hasil belajar siswa = % prestasi belajar siswa (dihilangkan % nya).

4) Nilai rata – rata hasil belajar siswa diperoleh dengan rumus :

28
Rata-rata hasil belajar siswa = ∑Nilai Hasil Belajar \ 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎

Hasil belajar siswa di lihat dari kriteria berikut ini:

80 = baik sekali

66 – 79 = baik

56 – 65 = cukup

40 – 55 = kurang

40 = kurang sekali

2. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan tiga metode analisis dalam

IBM SPSS 21 yaitu:

a. Uji Normalitas

Untuk menguji apakah sampel penelitian merupakan jenis data

terdistribusi normal, dapat dilakukan dengan uji statistik non-parametrik

kolmogrov smirnov. Caranya adalah menentukan terlebih dahulu

hipotesis pengujiannya yaitu:

H0 : data tidak terdistribusi secara normal.

H1 : data terdistribusi secara normal.

Dasar dari pengambilan keputusan uji normalitas, dihitung menggunakan

program aplikasi IBM SPSS dengan metode kolmogrov smirnov

berdasarkan pada besaran probabilitas atau nilai sig nilai 𝛼 yang

digunakan adalah 0,05 dengan pedoman pengambilan keputusan sebagai

berikut:

a. Nilai Sig. atau signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 maka Ho

29
diterima dengan artian bahwa data tidak terdistribusi secara

normal.

b. Nilai Sig. atau signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05 maka Ha

diterima dengan artian bahwa data terdistribusi normal.

b. Uji Homogenitas

Uji ini dilakukan untuk mengetahui kehomogenan dari prilaku yang

diberikan kepada sampel. Ketentuan pengambilan keputusan adalah

sebagai berikut:

1. Jika nilai sig. atau signifikansi < 0,05 maka sample tidak homogen.

2. Jika nilai sig. atau signifikansi > 0,05 maka sample homogen.

c. Uji T Untuk Dua Sampel Bebas (Independent Sample T Test)

Uji ini dilakukan untuk membandingkan dua sampel yang berbeda

(bebas). Independent Sample T Test digunakan untuk mengetahui ada

atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang

tidak berhubungan. Hipotesis yang akan di uji adalah:

Hipotesis pertama:

H 0 : Tidak ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah dalam upaya


meningkatkan kreatif siswa.

H1 : Ada pengaruh pembelajaran berbasis masalah dalam upaya


meningkatkan kreatif siswa.

Dimana t adalah t hitung. Kemudian t tabel dicari pada tabel distribusi t

dengan α= 5% : 2 = 2,5% (uji 2 sisi) dengan derajat kebebasan (df) n-

2. Setelah diperoleh besar thitung dan ttabel maka dilakukan pengujian

dengan kriteria pengujian sebagai berikut :

HO diterima jika – ttabel < - thitung < ttabel

HO ditolak jika - thitung < - ttabel atau thitung >

Berdasarkan nilai signifikansi atau nilai probabilitas:

30
Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05 maka H O diterima.

Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 maka H O ditolak.

31

Anda mungkin juga menyukai