Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah upaya sadar yang dilakukan agar peserta didik atau siswa dapat
mencapai tujuan tertentu. Agar siwa dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditentukan tersebut dibutuhkan proses yang relatif panjang dimanapun dan kapanpun
juga, sehingga dikatakan pendidikan berlangsung seumur hidup.
Konsep pendidikan tersebut didasarkan atas UU RI No 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional, yaitu:
“pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan bertujun untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia
yang beriman dan bertakwa kepada tuhan yang maha esa berakhlaq mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serata
bertanggung jawab”.
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasioanal itu, pemerintah telah menyelenggarakan
perbaikan-perbaikan peningkatan mutu pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang.
Upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan seakan tidak pernah berhenti.
Namun fakta di lapangan belum menunjukkan hasil yang memuaskan di dalam GBHN
1983-1988 pendidikan dinyatakan sebagai berikut:
“pendidikan nasional berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan
ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa, kecerdasan dan ketrampilan, mempertinggi
budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta
tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat
membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan
bangsa.
Pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan tertentu, yaitu tujuan
pendidikan. Tujuan ini bisa menyangkut kepentingan peserta didik, kepentingan
masyarakat dan tuntutan lapangan pekerjaan atau ketiga-tiganya sekaligus. Proses
pendidikan terarah pada peningkatan penguasaan pengetahuan, kemampuan,
ketrampilan, pengetahuan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan
pengembangan diri peserta didik. Pengembangan diri dibutuhkan untuk menghadapi
tugas-tugas dalam kehidupannya sebagai pribadi,
1
Sebagai siswa, karyawan, profesional, maupun sebagai warga masyarakat.
Menurut R. Soedjadi, matematika sebagai wahana pendidikan tidak hanya dapat
digunakan untuk mencapai satu tujuan, misalnya mencerdaskan siswa, tetapi dapat pula
untuk membentuk kepribadian siswa serta mengembangkan ketrampilan tertentu. Hal itu
mengarahkan perhatian kepada pembelajaran nilai-nilai dalam kehidupan melalui
matematika. Matematika yang diajarkan di sekolah terdiri atas bagian-bagian matematika
yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan dan pembentukan pribadi siswa
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini berarti bahwa
matematika sekolah selain memiliki ciri-ciri yang penting yaitu objek yang abstrak dan
pola pikir deduktif serta kebenaran konsistensi, juga tidak dapat dipisahkan dari
perkembangan ilmnu pengetahuan dan teknologi. Keabstrakan objek-objek matematika
perlu diupayakan agar dapat diwujudkan secara lebih konkrit, sehingga akan
mempermudah siswa memahaminya.
Guru matematika akan mampu menggunakan matematika untuk membawa siswa
menuju tujuan yang ditetapkan, bila ia memahami dengan baik matematika yang akan
digunakan sebagai wahana. Apabila pemahaman guru terhadap matematika kurang baik
dapat dipastikan bahwa penggunaan matematika sebagai wahana pendidikan juga akan
tidak berhasil seperti yang diharapkan. Hal itu dapat diibaratkan atau digambarkan
sebagai seseorang yang aka membawa orang lain dengan sepeda (kendaraan) menuju
suatu tempat tujuan, tetapi orang yang akan membawa itu tidak tahu liku-liku tentag
sepedanya.
Kurangnya minat anak belajar terhadap matematika karena kurangnya pengertian
tentang hakikat dan fungsi terhadap matematika itu sendiri. Padahal, matematika itu
menurut slamet imam santosa merupakan salah satu jalan untuk menuju pemikiran yang
jelas, tepat, teliti. Pemikiran yang melandasi semua ilmu pengetahuan dan filsafat. Salah
satu kemampuan utama yang memegang penting dalam kehidupan dan perkembangan
manusia adalah kreatif.
Ketrampilan berfikir kreatif yaitu ketrampilan individu dalam menggunakan proses
berfikirnya untuk menghasilkan suatu ide yang baru, konstruktif, dan baik berdasarkan
konsep-konsep yang rasional persepsidan intuisi individu (suprapto). Hakekat berpikir
kreatif dan produktif memungkinkan seseorang dapat memecahkan masalah. Misalnya:
dalam mengerjakan soal anak yang lebih kreatif akan lebih mudah dalam memecahkan
masalah. Dapatlah dipahami bahwa seperti ini dapat menimbulkan kelakuan dalam
berfikir dan kesulitan dalam meninjau suatu masalah. Dengan demikian daya fikir kreatif
2
sebagai kemampuan untuk dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut tinjau, justru
terhambat. Jika anak sekolah tidak pernah atau jarang dituntut untuk menjajaki berbagai
alternatif jawaban terhadap suatu persoalan, bagaimana dapat diharapkan bahwa kreatif
akan berkembang.
Menurut Yuli, 2004: 4 berpikir kreatif merupakan suatu proses yang
mengkombinasikan berpikir logis dan berpikir [Link] divergen digunakan
untuk mencari ide-ide untuk menyelesaikan masalah sedangkan berpikir logis digunakan
untuk memverifikasi ide-ide tersebut menjadi sebuah penyelesaian yang kreatif.
Berdasarkan hasil tes awal yang dilakukan peneliti tentang berfikir kreatif yang
menunjukkan bahwa kemampuan berfikir kreatif siswa masih rendah. Hal ini dapat
dilihat dari hasil tes siswa yang belum mencapai kkm smp negeri. Lembar aktif siswa
tersebut dianalisis dan diperoleh gambaran tentang kurangnya kemampuan berfikir
kreatif [Link] karena itu, kemampuan berfikir kreatif siswa tersebut perlu mendapat
perhatian.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa berfikir kreatif merupakan salah
satu tuntutan yang perlu dilatih dan dikembangkan dalam proses pembelajaran.
Salah satu model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif agar kemampuan berfikir
kreatif siswa dapat terlatih adalah pembelajaran berbasis masalah.
“Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang menghadapkan pada
tantangan ‘belajar untuk belajar’. Siswa aktif bekerjasama di dalam kelompok untuk mencari
solusi permasalahan dunia nyata. Permasalahan ini sebagai acuan bagi peserta didik untuk
merumuskan, menganalisis, dan memecahkannya.”
3
[Link] pembelajaran berbasis masalah, guru berperan mengajukan permasalahan,
memberikan dorongan, motivasi dan menyediakan bahan ajar dan fasilitas yang diperlukan
peserta didik untuk memecahkan [Link] penelitian ini, materi pembelajaran akan
difokuskan pada pokok bahasan bilangan pecahan. Masalah disajikan dalam bentuk Lembar
Aktif Siswa (LAS) dan konteks masalah sesuai dengan tingkat kelas atau perkembangan
kognitifnya. Dengan melakukan pemecahan masalah tersebut, diharapkan siswa dapat
mengeluarkan ide dan gagasannya sehingga diharapkan dapat melatih kemampuan berfikir
kreatif [Link] karena itu, berdasarkan uraian di atas peneliti bermaksud mengadakan
penelitian dengan judul: pengaruh penerapan model pembelajaran berbasis masalah
dalam upaya meningkatkan kemampuan berfikir kreatif siswa SMP NEGERI II Tanah
Jawa.
4
1. Pengaruh yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengaruh pembelajaran berbasis
masalah terhadap kemampuan siswa berfikir kreatif.
2. Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang dirancang dan
dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan berfikir kreatif peserta didik dalam
memecahkan masalah.
3. Kemampuan berfikir kreatif dalam penelitian ini ditunjukkan oleh nilai tes essay yang
mengacu pada aspek kemampuan berfikir kreatif yaitu: fluency, fleksibility, originality dan
elaboration.
4. Materi yang akan diajarkan adalah bilangan pecahan.
1.4 Rumusan Masalah
Yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :
Adakah pengaruh positif pembelajaran berbasis masalah terhadap upaya meningkatkan
kemampuan siswa berfikir kreatif.
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh positif pembelajaran berbasis masalah terhadap
kemampuan siswa berfikir kreatif.
2. Pengaruh penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam meningkatkan kemampuan
berfikir kreatif siswa.
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk dapat mengembangkan
kualitas pembelajaran dan pengembangan profesi guru agar tujuan nasional pendidikan dapat
tercapai.
2. Bagi guru
Dapat mengubah pola dan sikap guru dalam mengajar yang semula berperan sebagai
pemberi informasi menjadi berperan sebagai fasilitator dan mediator yang dinamis sehingga
belajar mengajar dapat dirancang dan dilaksanakan secara efektif efisien, kreatif dan inovatif.
BAB II
LANDASAN TEORI
6
2.1.1 Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu bagian dari tipe belajar yang
dikemukakan oleh robert. [Link] yakni belajar pemecahan masalah (problem solving).
Pemecahan masalah merupakan kegiatan belajar yang paling [Link] dapat
memecahkan suatu masalah,seseorang memerlukan pengetahuan-pengetahuan dan
kemampuan-kemampuan yang ada kaitannya dengan masalah [Link] dan
kemampuan tersebut harus diolah secara kreatif dalam rangka memecahkan masalah yang
bersangkutan.
Menurut Riyanto (2010: 285) “pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model
pembelajaran yang dirancang dan dikembangkan untuk mengembangkan kemampuan peserta
didik dalam memecahkan masalah.”
7
Langkah awal dari pembelajaran berbasis masalah adalah mengajukan masalah yang
diajukan menghindari jawaban yang sederhana tetapi memungkinkan adanya berbagai
macam solusi untuk menyelesaikan masalah itu.
2. Keterkaitan antar disiplin ilmu
Walaupun pembelajaran berbasis masalah ditujukan pada suatu ilmu bidang tertentu
tetapi dalam pemecahan masalah-masalah aktual, peserta didik dapat menyelidiki dari
berbagai ilmu.
3. Menyelidiki masalah autentik
Peserta didik diharuskan melakukan penyelidikan autentik untuk menyelesaikan
masalah meliputi: menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan
meramalkan, melaksanakan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi (acuan) dan
menyimpulkan.
4. Memamerkan hasil kerja
Model ini membelajarkan peserta didik untuk menyusun dan memamerkan hasil kerja
sesuai kemampuannya.
5. Kolaborasi
Kerjasama dalam menyelesaikan tugas-tugas dan meningkatkan temuan dan dialog
pengembangan keterampilan berfikir dan keterampila sosial.
Karakteristik pembelajaran berbasis masalah dari oon seng tan (dalam Rusman, 2010: 242)
yaitu:
8
antar disiplin, kemudian dilakukan penyelidikan masalah autentik, menghasilkan hasil kerja
(laporan) serta mempresentasikannya, dan adanya kerja sama antar anggota kelompok.
9
Menurut model struktur intelek oleh Guilford (dalam Munandar, 2009: 167), “berfikir
divergen (disebut juga berfikir kreatif) ialah memberikan macam-macam kemungkinan
jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman jumlah
dan kesesuaian”.pemikiran kreatif akan membantu orang untuk meningkatkan kualitas dan
keefektifan pemecahan masalah dan hasil pengambilan keputusan yang dibuat (evans, 1991:
29).
“definisi kemampuan berfikir secara kreatif (dalam Iskandar, 2009: 88) dilakukan
dengan menggunakan pemikiran dalam mendapatkan idea-idea yang baru, kemungkinan yang
baru, ciptaan yang baru berdasarkan kepada keaslian dalam penghasilannya.”
Menurut supriadi (dalam Riyanto, 2010: 229), “ciri-ciri kreativitas dapat dibedakan ke dalam
ciri kognitif dan non kognitif. Ke dalam ciri kognitif termasuk empat ciri berfikir kreatif yaitu
orisinalitas, fleksibel, kelancaran dan elaborasi”.
Kepekaan berfikir kreatif dapat diukur dengan indikator-indikator yang telah ditentukan
para ahli, salah satunya menurut Torrance dalam Herdian (2010), kemampuan berfikir kreatif
terbagi menjadi tiga hal yaitu:
Menurut model Williams (dalam Munandar, 2009: 192) perilaku siswa yang termasuk
dalam keterampilan kognitif kreatif sebagai berikut.
Tabel I
Perilaku Arti
10
– arus pemikiran lancar;
Munandar memberikan uraian tentang aspek berfikir kreatif sebagai dasar untuk
mengukur kreativitas siswa seperti terlihat dalam tabel di bawah ini.
Tabel II
Pengertian Perilaku
11
2. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika
ada
1. Mencetuskan banyak gagasan,
3. Mempunyai banyak gagasan mengenai
jawaban, penyelesaian masalah atau
suatu masalah
jawaban
4. Lancar mengungkapkan gagasan-
2. Memberikan banyak cara atau
gagasannya
saran untuk melakukan berbagai hal
5. Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih
3. Selalu memikirkan lebih dari
banyak dari orang lain
satu jawaban
6. Dapat dengan cepat melihat kesalahan dan
kelemahan dari suatu objek atau situasi
12
spontan.
13
5. Menambah garis-garis, warna-warna, dan
detail-detail (bagian-bagian) terhadap
gambaranya sendiri atau gambar orang lain.
Pada penelitian ini yang akan dijadikan tolak ukur kemampuan berfikir kreatif adalah
berfikir lancar, kemampuan berfikir luwes, kemampuan berfikir originalitas, dan kemampuan
berfikir elaboratif. Adapun kriteria penskoran yang digunakan dalam penelitian ini adalah
skor rubrik yang dimodifikasi dari bosch (dalam Febrianita, 2010: 44).
Tabel III
Pedoman Penskoran
14
jelas
(originality)
Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi
1
tidak dapat dipahami
15
Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi
terdapat kekeliruan dalam proses perhitungan 3
sehingga hasilnya salah
Guru sebagai salah satu komponen penting yang mendukung dalam proses belajar
mengajar berkewajiban menciptakan suasana proses belajar mengajar yang baik agar tujuan
pendidikan dapat berhasil. Guru yang baik adalah guru yang mempunyai kemampuan dalam
mengolah proses pendidikan. Dalam penelitian ini akan diterapkan pembelajaran berbasis
masalah.
Menurut surakhmad (dalam Arikunto, 2010: 104) “anggapan dasar adalah sebuah titik
tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik”. Dalam pembelajaran berbasis
masalah, siswa harus aktif dalam pembelajaran sehingga pembelajaran berbasis masalah
dapat terlaksana. Siswa SMP Negeri II tergolong aktif maka pembelajaran berbasis masalah
dapat diterapkan di SMP Negeri II.
16
Hipotesis yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh penerapan
pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan siswa berfikir kreatif di SMP Negeri II.
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini digunakan uji-t satu pihak (kanan).
Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini adalah: pertama,
penelitian yang dilakukan oleh Eko Purwantoro (2005) dengan judul “penerapan
pembelajaran berbasis masalah pokok bahasan persamaan garis lurus untuk meningkatkan
kreatif siswa kelas VII-C SMP NEGERI I”. Hasil kajian penelitian tersebut menggambarkan
bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah pokok bahasan persamaan garis lurus telah
dilaksanakan di kelas VII-C semarang dapat meningkatkan kreatif siswa. Hal ini dapat
terlihat dari skor rata-rata kreativitas siswa dari siklus I adalah 2,67 sedangkan pada siklus II
adalah 2,76 dari skala [Link], penelitian yang telah dilakukan oleh Muslimatun
(2006) dengan judul “model pembelajaran berbasis masalah dengan penekanan representasi
untuk meningkatkan hasil belajar dan kerja sama dalam kelompok pokok bahasan dalil
phytagoras siswa SMP NEGERI I semarang kelas VII tahun pelajaran 2005/2006”. Hasil
kajian penelitian tersebut menggambarkan bahwa penerapan model pembelajaran berbasis
masalah dengan penekanan representasi dapat meningkatkan hasil belajar,kreatif siswa dan
kemampuan kerjasama siswa dalam kelompok. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan
diperoleh bahwa pada pertemuan pertama siklus I, rata-rata kelasnya 7.54 dan ketuntasan
belajarnya 76,01%.ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Kusmini (2005) dengan judul
“model pembelajaran berbasis masalah untuk mengembangkan kecakapan matematika siswa
SMP kelas VII sebagai implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)”. Dari hasil
penelitian tersebut diperoleh bahwa model pembelajaran berbasis masalah dengan
serangkaian prompting dan pobing question dapat mengembangkan kecakapan matematika
siswa SMP kelas VII secara optimal.
17
BAB III
MOTODOLOGI PENELITIAN
3.3.1 Populasi
18
Tabel IV
Populasi Penelitian
Vii.1 40
Vii.2 39
Vii.3 40
Vii.4 40
Vii.5 40
Vii.6 40
Jumlah 239
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (arikunto, 2010: 174).
Karena kelas-kelas di SMP Negeri 2 tidak diklasifikasikan berdasarkan peringkat siswa,
maka dari populasi di atas dua kelas (kelas kontrol dan kelas eksperimen) yang dijadikan
sampel-sampel diambil secara random (sampel acak), dengan langkah pengundian.
Tabel V
Sampel Penelitian
19
Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (arikunto,
2010: 262). Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan only-
posttest design.
E X O2
K O4
Keterangan:
E : kelas eksperimen
K : kelas kontrol
Adapun tahap-tahap yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Tahap perencanaan.
a) Meminta surat izin penelitian dari diknas yang selanjutnya diberikan ke sekolah tempat
penelitian.
b) Melakukan observasi di sekolah yang akan menjadi tempat penelitian yaitu smp negeri.
c) Konsultasi dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan dan dosen pembimbing.
d) Menyusun perangkat pembelajaran yaitu desain pembelajaran,Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), bahan ajar, LAS, kisi-kisi tes kemampuan berfikir kreatif, dan lain
sebagainya.
b. Tahap pelaksanaan.
20
hitung penjumlahan dan pengurangan pada pecahan, setelah pembelajaran diadakan tes untuk
melihat kemampuan siswa berfikir kreatif. Pada pertemuan keempat di kelas eksperimen
diadakan tes evaluasi terhadap kemampuan siswa berfikir kreatif setelah diterapkan model
pembelajaran berbasis masalah dengan soal yang sama terhadap kelas kontrol.
Pada pertemuan pertama di kelas kontrol dengan metode ekspositori materi yang
diberikan yaitu menganalisis pecahan dan menentukan nilai pecahan. Pada pertemuan kedua
di kelas kontrol dengan metode ekspositori materi yang diberikan yaitu mengurutkan
pecahan. Pada pertemuan ketiga di kelas kontrol dengan metode ekspositori materi yang
diberikan yaitu menyelesaikan operasi hitung penjumlahan dan pengurangan pada pecahan.
Pada pertemuan keempat di kelas kontrol diadakan tes evaluasi terhadap kemampuan siswa
berfikir kreatif setelah pembelajaran dengan metode ekspositori, menggunakan soal yang
sama dengan kelas eksperimen.
c. Tahap pelaporan.
Setelah didapat data hasil tes siswa setiap pertemuan, tes evaluasi, selanjutnya
dianalisis, kemudian melakukan pembahasan dan membuat kesimpulan dari hasil penelitian
yang telah dilakukan di SMP Negeri 2.
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian
(arikunto, 2010: 161).dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu:
21
gambaran tentang prosedur penelitian dapat dilihat seperti gambar di bawah ini
Pretest Pretest
Model Pembelajaran
Pembelajaran Kreatif
Berbasis Masalah
Analisis
22
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk
mengukur keterampilan pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh
individu atau kelompok (Arikunto, 2010: 193).
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan adalah data hasil tes tertulis yang
berbentuk soal essay. Soal tes merupakan soal uraian yang memiliki kriteria soal berfikir
kreatif yang mengacu pada aspek kemampuan berfikir kreatif.
Kriteria penskoran menggunakan skor rubrik yang dimodifikasi dari bosch yang
disajikan dalam tabel berikut.
Tabel VI
Pedoman Penskoran
23
Memberikan sebuah idea yang relevan dengan
pemecahan masalah tetapi pengungkapannya kurang 1
jelas
(originality)
Memberikan jawaban dengan caranya sendiri tetapi
1
tidak dapat dipahami
24
perhitungan sudah terarah tetapi tidak selesai
Tes ini digunakan pada saat tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) yang
1. Uji Validitas
Agar suatu instrumen atau alat yang digunakan untuk meneliti harus valid.
Instrumen yang valid menunjukan bahwa alat ukur yang digunakan untuk
memperoleh data itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan
validitas instrument digunakan rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh
Pearson dengan rumus:
25
Keterangan:
Kriteria:
program IBM SPSS dengan kriteria pengujian jika korelasi setiap butir
dengan skor total lebih dari 0,3 maka instrumen tersebut dinyatakan valid,
atau sebaliknya jika korelasi setiap butir dengan skor total kurang dari 0,3
Item yang mempunyai korelasi positif dengan kriteria (skor total) serta
(2013: 182).
2. Uji Reliabilitas
Instrumen yang reliabel adalah instrumen yang bila digunakan beberapa kali
untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.
Dimana:
26
∑𝛿𝑖2 : Jumlah varian skor tiap item
𝛿𝑡 2 : Varians total
Kriteria:
berikut:
1. Nilai Alpha Cronbach’s 0,00 sampai dengan 0,20 berarti kurang reliabel.
2. Nilai Alpha Cronbach’s 0,21 sampai dengan 0,40 berarti agak reliabel.
3. Nilai Alpha Cronbach’s 0,41 sampai dengan 0,60 berarti cukup reliabel.
5. Nila Alpha Cronbach’s 0,81 sampai dengan 1,00 berarti sangat reliabel.
Setelah instrumen valid dan reliabel, kemudian diberikan pada sampel yang
Tingkat kesukaran soal digunakan untuk mengetahui soal tersebut mudah, sedang dan
sukar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sukar (sedang).
Untuk menghitung tingkat kesukaran suatu nomor soal dapat digunakan rumus sebagai
berikut.
Keterangan:
Mean : skor rata-rata peserta didik untuk satu nomor butir soal
Skor maksimum: skor tertinggi yang ditetapkan pada pedoman penskoran untuk nomor butir
soal yang dimaksud
27
4. Daya pembeda
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara peserta
didik yang pandai (menguasai materi yang ditanyakan) dengan peserta didik yang kurang
pandai (belum menguasai materi yang ditanyakan). Untuk mengukur daya pembeda tersebut
digunakan rumus sebagai berikut:
Berdasarkan uji coba instrumen yang dilakukan oleh peneliti diperoleh hasil yang
disajikan dalam tabel (terlampir). Setelah dilakukan analisis soal uji coba, selanjutnya
dilakukan penyelesaian soal. Dari perhitungan analisis validitas, reliabilitas, tingkat
kesukaran, dan daya pembeda soal, maka butir soal yang digunakan untuk mengambil data
penelitian sebanyak 4 soal yakni butir soal nomor 3, 4, 7 dan 9.
Pada penelitian ini hasil belajar siswa didapatkan dari hasil pre test dan
post test. Proses mengolah skor menjadi nilai untuk hasil belajar siswa
sebagai berikut:
28
Rata-rata hasil belajar siswa = ∑Nilai Hasil Belajar \ 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑖𝑠𝑤𝑎
80 = baik sekali
66 – 79 = baik
56 – 65 = cukup
40 – 55 = kurang
40 = kurang sekali
2. Pengujian Hipotesis
a. Uji Normalitas
berikut:
a. Nilai Sig. atau signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 maka Ho
29
diterima dengan artian bahwa data tidak terdistribusi secara
normal.
b. Nilai Sig. atau signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05 maka Ha
b. Uji Homogenitas
sebagai berikut:
1. Jika nilai sig. atau signifikansi < 0,05 maka sample tidak homogen.
2. Jika nilai sig. atau signifikansi > 0,05 maka sample homogen.
Hipotesis pertama:
30
Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05 maka H O diterima.
Jika nilai signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05 maka H O ditolak.
31