0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan51 halaman

Peran Guru dalam Pembiasaan Bahasa Indonesia

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang membahas peran guru dalam membiasakan siswa kelas IV menggunakan bahasa Indonesia di SDN 37/II Pasar Lubuk Landai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menunjukkan bahwa guru menerapkan keterampilan bahasa dalam pembelajaran, namun menghadapi kendala seperti kebiasaan menggunakan bahasa daerah dan kurangnya media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru dan kendala yang dihadapi dalam proses pembiasaan bahasa Indonesia di kalangan siswa.

Diunggah oleh

Sugeng Raharjo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan51 halaman

Peran Guru dalam Pembiasaan Bahasa Indonesia

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang membahas peran guru dalam membiasakan siswa kelas IV menggunakan bahasa Indonesia di SDN 37/II Pasar Lubuk Landai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menunjukkan bahwa guru menerapkan keterampilan bahasa dalam pembelajaran, namun menghadapi kendala seperti kebiasaan menggunakan bahasa daerah dan kurangnya media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peran guru dan kendala yang dihadapi dalam proses pembiasaan bahasa Indonesia di kalangan siswa.

Diunggah oleh

Sugeng Raharjo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN GURU DALAM PEMBIASAAN BERBAHASA INDONESIA

PADA PESERTA DIDIK KELAS IV SDN 37/II PASAR


LUBUK LANDAI KECAMATAN TANAH
SEPENGGAL KABUPATEN BUNGO

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh:

ALIF RAKA ARSYA PRIANSYAH


NPM. 241183207035

DOSEN PENGAMPU:
REFRIL DANI, [Link]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO
2025
ABSTRAK

“Peran Guru Dalam Pembiasaan Berbahasa Indonesia Pada Peserta


Didik Kelas IV SDN 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal
Kabupaten Bungo”.

Proses belajar mengajar di sekolah, melibatkan guru dan siswa yang


diharuskan untuk saling berkomunikasi. Tentunya dalam menjaga komunikasi
antara guru dan siswa diperlukannya penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dan kendala
yang dialaminya dalam membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia di
SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan
pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data yaitu observasi, wawancara,
dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi
data. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan verifikasi kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan guru dalam
membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia dengan menerapkan empat
macam keterampilan bahasa dalam pembelajaran yaitu kegiatan menyimak,
berbicara, membaca dan menulis. Selain itu guru juga menjadikan dirinya sebagai
model dalam berkomunikasi dengan membenarkan setiap kosa kata yang salah
dan menegur siswa yang melakukan kesalahan saat berkomunikasi. Adapun
kendala yang dihadapi guru dalam membiasakan siswa mengunakan bahasa
Indonesia yaitu, kebiasaan siswa menggunakan bahasa daerah, kurangnya media
pembelajaran, jarangnya penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-
hari serta kurangnya penguasaan kosa kata pada siswa.

Kata Kunci : Peran Guru, Penggunaan Bahasa Indonesia

i
ABSTRACT

Wiwi, 2023 "The Role of Teachers in Indonesian Language Habituation in


Grade IV Students of SDN 37/II Pasar Lubuk Landai, Tanah
Sepenggal District, Bungo Regency".

The teaching and learning process in schools involves teachers and students
who are required to communicate with each other. Of course, in maintaining
communication between teachers and students, good and correct mastery of
Indonesian is [Link] study aims to describe the role of teachers and the
obstacles they experience in familiarizing students with using Indonesian at SD
Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai, Tanah Sepenggal Lintas District.
The type of research used is field research with a qualitative approach. Data
collection procedures are observation, interviews, and documentation. Checking
the validity of data using data triangulation techniques. Data analysis is carried out
in three stages, namely data reduction, data presentation, and conclusion
verification.
The results showed that the efforts made by teachers in familiarizing students
with using Indonesian by applying four kinds of language skills in learning,
namely listening, speaking, reading and writing activities. In addition, teachers
also make themselves models in communicating by correcting every wrong
vocabulary and reprimanding students who make mistakes when
[Link] obstacles faced by teachers in getting students to use
Indonesian namely, students' habits of using regional languages, lack of learning
media, rare use of Indonesian in daily life and lack of vocabulary mastery in
students.

Keywords: Role of Teacher, Use of Indonesian

ii
DAFTAR ISI
ABSTRAK……............................................................................................…i
ABSTRACK...….........................................................................................…ii
LEMBAR PERNYATAAN.....................................................................….iii
LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................iv
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................…..v
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN…………………………..vi
KATA PENGANTAR.................................................................................viii
DAFTAR ISI..................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR...................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................1
A. Latar Belakang…………………………………………………… 1
B. Identifikasi Masalah........................................................................ 4
C. Batasan Masalah............................................................................. 5
D. Rumusan Masalah............................................................................5
E. Tujuan Penelitian.............................................................................6
F. Manfaat Penelitian...........................................................................6
BAB II KAJIAN TEORI…………………………………………………...8
A. Landasan Teori............................................................................... 8
A. Peran Guru……………………………………………………8
1. Guru………………………………………………………8
2. Pembiasaan…………………………………………….…9

a. Pengertian Pembiasaan……………….……………. ..9


b. Bentuk-bentuk Pembiasaan……………………….…12
c. Langkah-langkah dalam Pembiasaan……….………14
3. Bahasa Indonesia…………………….………………….19
a. Pengertian Bahasa Indonesia…………...……………19
b. Tujuan Bahasa Indonesia…………………………….21
c. Fungsi Bahasa Indonesia……………………………..21
4. Kendala……………………………………………….…29
B. Penelitian Relevan……………..…………………………….29

iii
C. Kerangka Berpikir………………………..………………………...32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN…………………………………..34
A. Jenis Penelitian……………………………………………………36
B. Setting Penelitian……………………………………….…………35
C. Sumber Data…………...………………………………………….37
D. Teknik Pengumpulan Data……………………….……………….39
E. Teknik Analisis Data………………..…………………………….42

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemampuan bahasa peserta didik di sekolah masih rendah, peserta

didik di kelas awal khususnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda,

minimnya perbendaharaan kata, penggunaan bahasa daerah di lingkungan

keluarga sehingga terbatasnya kemampuan peserta didik dalam memahami

konteks bahasa Indonesia, oleh sebab itu maka. Pembelajaran dan pembiasaan

menggunakan bahasa Indonesia sangat diperlukan.

Lisdwiana Kurniati (2015:14) Bahasa adalah sistem lambang bunyi

yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja

sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Bahasa merupakan media

komunikasi untuk menyampaikan pesan baik lisan maupun tertulis karena

pesan yang disampaikan memiliki informasi yang ingin dibagikan kepada orang

lain. Bahasa adalah alat bunyi yang dipergunakan oleh masyarakat untuk

bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Bahasa merupakan jenis

tindakan manusia yang niscaya dalam menggunakan kata-kata dan bahasa

dalam kehidupan sehari- hari. Bahasa adalah percakapan, sementara dalam

wacana linguistik bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan

berartikulasi.

Pengertian lain bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan manusia,

hal ini tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun yang hidup di dunia ini. Di dalam

1
2

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 “kami putra dan putri Indonesia,

menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Berdasarkan

bunyi Sumpah Pemuda tersebut dapat diuraikan bahwa sebagai rakyat Indonesia

walau kita berbeda bahasa namun kita tetap bangsa Indonesia, di mana

perbedaan itu dapat disatukan melalui interaksi yang baik dengan menggunakan

bahasa Indonesia. Karena itu, bahasa Indonesia menjadi bahasa Nasional

Negera Indonesia Agar komunikasi berjalan dengan baik, hendaknya kita

mempelajarinya dengan sebaik mungkin, salah satunya di dunia pendidikan.

Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang

mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh

sebab itu, hampir semua Negara menempatkan pendidikan sebagai sesuatu

yang dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan Negara. Begitu juga

Indonesia menempatkan pendidikan sebagai suatu yang penting dan utama. Hal

ini dapat dilihat dari isi pembukaan UUD 1945 alenea IV yang menegaskan

bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah melindungi

segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan

Kesejahteraan Umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ikut melaksanakan

ketertiban dunia. Mencerdaskan kehidupan bangsa yang tercantum dalam tujuan

UUD 1945 yaitu khususnya dalam berbahasa Indonesia Febriani (2019:44).

Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Dalam

konteks pendidikan guru mempunyai peranan yang besar, guru yang langsung

berhadapan dengan siswa untuk memberikan ilmu pengetahuan sekaligus

mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan danketeladannya.


3

Di dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa diharuskan untuk

saling berkomunikasi antara satu hal dengan hal lainnya. Tentunya dalam

menjaga komunikasi antara guru dan peserta didik diperlukannya penguasaan

Bahasa Indonesia yang baik dan benar Putri (2015:12).

Sekolah merupakan tempat guru dan peserta didik saling berinteraksi dan

saling bertukar fikiran, sehingga saat siswa kembali ke lingkungan peserta

didik dapat di terima dengan baik oleh lingkungan tersebut. Sehingga setiap

sekolah harus memilih peraturan-peraturan tertentu untuk menciptakan generasi

yang disiplin, seperti datang tepat pada waktu, berpakaian dengan rapi dan

bersih, serta sopan dalamberperilaku dan santun dalam berbicara.

Salah satu aspek perkembangan anak menjadi topik penelitian adalah

bahasa. Pengajaran bahasa merupakan salah satu bentuk pengajaran yang

memiliki cara yang berbeda dalam metode pengajarannya dibandingkan dengan

bidang-bidang yang lain. Bahasa didapatkan seseorang melalui dua hal, yaitu

melalui perolehan dan melalui pembelajaran. Maksud dari didapatkan melalui

perolehan yaitu dimana seseorang untuk pertama kalinya memperoleh bahasa

(masih murni), kemudian anak usia dini menerima semua aspek-aspek tentang

bahasa pertamanya dari ibu, kemudian keluarga dan lingkungan sekitarnya

tanpa harus belajar.

Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Dalam pengertian ini mencakup semua cara yang dilakukan untuk

berkomunikasi, dimana seluruh aktivitas, pikiran, perasaan, diperlihatkan dalam

bentuk lambang atau simbol untuk dapat menunjukkan suatu pemahaman,


4

seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan dan mimik

muka Mardison, (2016:2).

Demikian juga dengan Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai,

berdasarkan observasi dengan salah satu guru di SD tersebut bernama ibu

Nofiarti [Link]. Alasan peneliti memilih judul ini adalah masalah yang terjadi

pada observasi yaitu semua peserta didik berasal dari desa setempat, mulai

dari kelas I sampai kelas VI, bahwa kemampuan bahasa peserta didik di

sekolah masih rendah, peserta didik di kelas awal khususnya memiliki latar

belakang yang berbeda-beda, minimnya perbendaharaan kata, penggunaan

bahasa daerah di lingkungan keluarga sehingga terbatasnya kemampuan peserta

didik dalam memahami konteks bahasa Indonesia, oleh sebab itu maka (

urgensi penelitian ). Pembelajaran dan pembiasaan menggunakan bahasa

Indonesia sangat diperlukan. Maka guru adalah komponen utama dalam

mengajarkan keterampilan dan pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia di

lingkungan sekolah. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik

melakukan penelitian dengan judul:

“Peran Guru dalam Pembiasaan Berbahasa Indonesia pada Peserta

Didik di Kelas IV SDN 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah

Sepenggal Kabupaten Bungo”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah yaitu:

1. Peserta didik masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dalam proses

pembelajaran.
5

2. Guru lebih cenderung menggunakan bahasa daerah sehingga peserta didik

kurang terbiasa berbahasa indonesia.

3. Masih kurangnya pembiasaan berbahasa indonesia yang baik dan benar di

lingkungan SDN 37/II Pasar Lubuk Landai.

C. Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini di batasi

masalah yaitu, Upaya Guru Dalam Pembiasaan Berbahasa Indonesia Pada

Peserta Didik Kelas IV SDN 37/II Pasar Lubuk Kecamatan Tanah Sepenggal

Kabupaten Bungo.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah di atas maka peneliti dapat dirumuskan

masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana peran guru dalam membiasakan peserta didik menggunakan

bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai

Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo?

2. Apa saja kendala yang dihadapi dalam membiasakan peserta didik

menggunakan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk

Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka peneliti

mengidentifikasikan tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui peran yang dilakukan guru dalam membiasakan peserta


6

didik menggunakan bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar

Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.

2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam membiasakan peserta

didik menggunakan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar

Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.

3. Untuk mengetahui peran untuk mengatasi kendala dalam membiasakan

peserta didik menggunakan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri

37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik yang

bersifat teoritis maupun praktis, yaitu sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi keilmuan
bagi ilmu pendidikan terutama mengenai peran guru dalam membiasakan
penggunaan Bahasa Indonesia oleh pesrta didik di SD Negeri 37/II Pasar
Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
2. Manfaat Praktis

a. Bagi Penulis

Dapat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam menerapkan

ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah apabila nanti berkecimpung

dalam dunia pendidikan yang sesungguhnya.

b. Bagi Sekolah

1) Memberikan sumbangan positif dalam meningkatkan suatu pendidik

an khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia.


7

2) Dapat digunakan sebagai masukan dalam membiasakan penggunaan

Indonesia yang baik dan benar di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk

Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.

c. Bagi Guru

1. Dapat membantu guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa

anak yang baik dan benar.

2. Membuka wawasan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik

dan benar dalam proses belajar mengajar.

3. Memberikan referinsi untuk membuka kreatifitas guru dengan

mempertimbangkan arti pentingnya menggunakan bahasa Indonesia

pada mata pelajaran apapun, khususnya pada mata pelajaran bahasa

Indonesia.

d. Bagi Peserta Didik

1) Penerapan berbahasa Indonesia yang baik dan benar mempermudah

peserta didik dalam proses belajar mengajar.

2) Membuat peserta didik tidak merasa kaku dalam hal berbicara dan

berkomunikasi pada proses pembelajaran.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Peran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “peran adalah usaha, akal,

ikhtiar, (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan

keluar, dsb), atau syarat untuk menyampaikan suatu maksud atau upaya juga

diartikan sebagai usaha untuk melakukan suat hal atau kegiatan yang

bertujuanperoleh hasil yang lebih baik.

Menurut Widyastuti (2016:3) peran merupakan usaha atau ikhtiar yang

dilakukan untuk mencapai suatu maksud atau sasaran dalam memecahkan

masalah suatu persoalan. Dengan adanya peran akan terjadi perubahan. Peran

tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan hingga suatu persoalan dapat

terpecahkan atau dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Dengan peran

tersebut diharapkan berbagai kendala yang menghambat suatu tujuan dapat

diatasi.

Menurut Fauziah. N. (2015:47) peran adalah aspek yang dinamis dalam

kedudukan (status) terhadap sesuatu. Apabila seseorang melakukan hak dan

kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu

upaya”. Peran dijelaskan sebagai usaha (syarat) suatu cara, juga dapat

dimaksud sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana

dan terarah untuk menjaga sesuatu hal agar tidak meluas atau timbul.

8
9

Pengertian lain peran adalah usaha atau ikhtiar yang dilakukan guru

untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar

dan sebagainya. Jadi yang di maksud peran disini adalah usaha atau ikhtiar

seorang guru dalam membiasakan penggunaan bahasa Indonesia oleh peserta

didik di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal

Kabupaten Bungo.

Kesimpulan peran guru di sini, lebih ditekankan pada peran dalam

meningkatkan kesadaran peserta didik dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Peran mendasar yang bisa dilakukan dalam mengaktifkan peserta didik yaitu

memberikan pemahaman yang tepat tentang pentingnya bahasa Indonesia pada

peserta didik. Disamping memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa

Indonesia, upaya yang dilakuan selanjutnya yaitu memulai dan melatih peserta

didik untuk disiplin dalam menggunakan bahasa Indonesia di setiap

percakapan. Hal ini dilakukan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa

Nasional Bangsa Indonesia.

2. Hakikat Guru

a. Pengertian Guru

Menurut Samsul Kurniawan (2012:37) Guru adalah orang dewasa

yang bertanggung jawab memberikan bimbingan kepada peserta didik

dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai

kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dibumi,

sebagai makhluksosial, dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.


10

dan memiliki pengetahuan untuk disampaikan serta diajarkan kepada

peserta didik.

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 bab I pasal I

ayat 6 menjelaskan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang

berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,

widyaiiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai

dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan

pendidikan. Adapun pada bab XI pasal 39 dinyatakan bahwa pendidik

merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan

melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,

melakukan pembimbing dan pelatih, serta melakukan penelitian dan

pengabdian kepada masyarakat, terutama pada perguruan tinggi Undang-

undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta:

Departemen Agama RI, (2011:16).

Berdasarkan Undang-undang No 14 tahun 2005 tentang guru dan

dosen, disebutkan bahwa “Guru adalah pendidik professional dengan

tugas uatama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,

menilai, dan menevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini

jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta:

Departemen Agama RI, (2011:125).

Menurut Miftahul Ulum (2017:79) guru adalah orang yang kerjanya

mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah/kelas. Guru juga bukan


11

hanya menyampaikan materi akan tetapi guru mengawasi perkembangan

peserta didik. Secara lebih khusus lagi dijelaskan bahwa guru adalah orang

yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut

bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedawasaan

masing- masing.

Menurut Hawi Akmal (2013:9) Guru adalah semua orang yang

berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan peserta didik, baik

secara individual ataupun klasikal, baik disekolah maupun luar sekolah.

Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa guru dalam melaksanakan

pendidikan baik dilingkungan formal dan non formal di tuntuk untuk

mendidik dan mengajar, karena keduanya mempunyai peranan yang

penting dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan ideal

pendidikan.

Menurut Ramayulis (2015:136) pendidik dalam arti sempit adalah

orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk dijadikan guru dan

[Link] jenis pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan

dalam waktu relatif lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil

menerapkannya dilapangan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat di pahami bahwa guru adalah

orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di

sekolah/kelas. Guru jua bukan hanya menyampaikan materi akan tetapi

guru mengawasi perkembangan peserta didik. Secara lebih khusus lagi

dijelaskan bahwa guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan
12

dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak

mencapai kedawasaan masing- masing, guru adalah semua orang yang

berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid, baik secara

individual ataupun klasikal, baik disekolah maupun luar sekolah.

b. Tugas Dan Tanggung Jawab Guru

Menurut Nowan Ady Wiyani (2013:145) Guru bahasa Indonesia

merupakan seseorang yang berprofesi sebagai pengajar dan pendidik.

Dalam mendidik peserta didiknya, sudah pasti tidak terlepas dari tugas

dang tanggung jawabnya sebagai guru. Secara umum, tugas yang harus

dilaksanakan oleh seorang pendidik adalah mengajak manusia untuk

tunduk dan patuh pada hukum Allah, dengan harapan agar memperoleh

keselamatan dunia dan akhirat.

Menurut Heru juabdin (2015:99) terdapat tiga tugas dan tanggung

jawab seorang pendidik, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai

pembimbing, dan guru sebagai administrator kelas. Ketiga tugas guru

tersebut merupakan tugas pokok profesi seorang guru. Guru sebagai

pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan

melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini, guru dituntut memiliki

seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis, di samping menguasai

ilmu atau materi yang diajarkan. Guru sebagai pembimbing memberi

tekanan kepada tugas dan memberi bantuan kepada peserta didik dalam

pemecahan masalah yang dihadapi. Sedangkan tugas guru dalam


13

administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan keterlaksanaan

pada umumnya.

Pendapat lain mengemukakan bahwa tugas seorang pendidik dalam

pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) Sebagai pengajar

(instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan

melaksanakan program yang telah disusun serta melaksanakan penilaian

setelah program dilakukan. (2) Sebagai pendidik (educator) yang

mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian.

Guru juga harus menjadi prbadi yang dewasa terlebih dahulu, dan

menerapkannya pada peserta didik. (3) Sebagai pemimpin (managerial)

yang memimpin, guru harus mampu mengendalikan diri sendiri, peserta

didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang

menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian,

pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan

Juabdin (2015:145).

Guru adalah orang yang mengajar atau memberikan pelajaran di

sekolah (kelas). Secara lebih khusus lagi, ia mengatakan bahwa guru

berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang

ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai

kedewasaan masing-masing. Artinya, guru tidak hanya memberi materi di

depan kelas, tetapi juga harus aktif dan berjiwa kreatif dalam mengarahkan

perkembangan murid Nawawi (2017:3). Guru (pendidik) ialah siapa saja

yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik baik dari segi
14

potensi kognitif, afektif, maupun potensi psikomotorik. Tugas guru dalam

pandangan islam ialah mendidik. Mendidik merupakan tugas yang amat

luas. Sebagian dilakukan dengan cara mengajar, sebagian ada yang

dilakukan dengan memberikan dorongan, memberi contoh (suri tauladan),

menghukum, dan lain-lain Tafsir (2014:4).

Kesimpulan pendapat tersebut menyinggung kembali bahwasanya

tugas seorang pendidik tidak hanya mendidik, tetapi juga merancang dalam

proses pengajaran dan memberi arahan dengan cara mencontohkan

berperilaku yang baik.

c. Fungsi Guru

Pembentukan kemampuan peserta didik disekolah dipengaruhi oleh

proses belajar yang ditempuhnya. Proses belajar akan terbentuk

berdasarkan pandangan dan pemahaman guru tentang karakteristik siswa

dan hakekat belajar. Untuk menciptakan proses belajar yang efektif, hal

yang harus dipahami guru adalah fungsi dan peranannya dalam kegiatan

belajar mengajar. proses belajar yang terjadi tergantung pada pandangan

guru terhadap makna belajar yang akan mempengaruhi aktivitas siswa-

siswanya. Dengan demikian, proses belajar perlu disesuaikan dengan

tingkat perkembangan peserta didik. Untuk mendukung hal tersebut,

diperlukan pemahaman para guru mengenai karakteristik siswa dan proses

pembelajarannya, khususnya di sekolah dasar Nowan Ady Widani

(2013:145). Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang tidak

disenangi dan membosankan bagi anak sekolah dasar kelas tinggi sebab
15

tingkat kesulitan materi yang di ajaran bertambah banyak. Padahal mata

pelajaran ini merupakan salah satu mata pelajaran yang menentukan

seorang siswa naik kelas atau tidak. Penyebabnya macam-macam, materi

pelajaran yang kaidah-kaidah tata bahasa yang harus dihafalkan atau terlalu

gramatikal-sentris, cara mengajar yang kurang bervariasi dan terlalu

didominasi guru. Guru yang baik harus menguasai bahan pelajaran yang

ditugaskan kepadanya dan tiknik-tiknik mengajar yang menarik dan dapat

mengunggah minat dan perhatian siswa, guru dituntut dapat menguasai

tidak hanya pengetahuan bahasa tetapi juga keterampilan berbahasa

Sumardi Muljanto (2012:206).

Guru merupakan faktor yang penting dalam mempermudah proses

belajar mengajar. Guru yang baik, pada umumnya selalu berusaha untuk

menggunakan metode mengajar yang paling efektif, dan memakai

alat/media yang terbaik. Apa lagi guru tersebut mengajar di sekolah

[Link] guru di tuntut sekreatif dan seaktif mungkin dalam

menyampaikan materi terutama di bidang mata pelajaran Bahasa

Indonesia.

Dari penjelasan diatas dapat di ketahuai bahwasanya fungsi guru

Bahasa Indonesia adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,

fasilator, nara sumber dan pemberi informasi Subyakto Utami (2013:5).

Guru sebagai pelaku utama dalam implementasi atau penerapan

program pendidikan disekolah memiliki peranan yang sangat strategis

dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam hal ini guru
16

dipandang sebagai faktor deteminan terhadap pencapaian mutu prestasi

belajar peserta didik. Guru mempunyai tanggungjawab untuk mengabdi

bukan semata-mata karna gaji saja. Mengingat peranannya yang begitu

penting, maka guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan

secara komprehensef tentang kompetensinya sebagai pendidik, yang

meliputi kinerja, penguasaan landasan professional/akademik, penguasaan

materi akademik, penguasaan keterampilan/proses kerja, penguasaan

penyesuaian interaksional dan kepribadian Yusuf Syamsu (2014:139).

d. Peran Guru

Guru Bahasa dan sastra Indonesia tentulah harus menguasai dengan

benar bidang ilmu sastra. Dalam bidang ini guru haruslah benar-benar

menguasai tujuan pembelajaran, bahan ajar, metodelogi pembelajaran,

sistem evaluasi, pengelolaan kelas, serta media dan sumber belajar bahasa

dan sastra Indonesia. Tanpa penguasaan seluruh dimensi dalam bidang

ini, guru tidak akan secara optimal melaksanakan pembelajaran bahasa.

Dengan demikian harapan mewujudkan pembelajaran Bahasa Indonesia

yang harmonis, bermutu, dan bermartabat tidak akan tercapai Abidin

Yunus (2012:6).

Menurut Mohamad Surya (2014:192) mengemukakan beberapa

peran guru disekolah, sebagai berikut: (1) Suri teladan dalam sikap,

ucapan tingkah laku yang dewasa, baik mental maupun sepiritual. (2)

Director of learning, pemberi arah dalam proses perubahan tingkah laku si

peserta didik. (3) Inovator, penyebar dan pelaksanaan idea-idea baru demi
17

peningkatan mutu pendidikan/pengajaran. (4) Motivator, penggali,

pemupuk, pengembang motivasi, mengapa ana-anak didik itu harus belajar

dengan giat. (5) Conductor of learning, guru seoalah-olah seoran dirigent

suatu orkes, yang dimainkan oleh peserta didiknya. (6) Manager of

learning, dalam hal ini tugas guru selain mengelolah kelas, juga

melakukan pengawasan peserta didiknya, atas apa yang dilakukan peserta

didik.

Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi

pendidikan, lebih jauh guru berperan sebagai :(1) Pengambil inisiatif,

pengarah, penilai dan penilai aktivitas-aktivitas pendidikan. (2) Wakil

masyarakat disekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan

kepentingan masyarakat dalam pendidikan. (3) Seorang pakar dalam

bidangnya, yaitu ia menguasai materi (bahan ajar) yang akan disampaikan

serta yang harus guru ajarkannya pada peserta didik. (4) Penegak disiplin,

yaitu guru harus menjaga agar siswa-siswamelaksanakan disiplin.

Pendapat lain mengenai peran guru menurut Utari. L., Kurniawan. K

(2020:75) yaitu : (1) Guru sebagai pendidik Sebagai seorang pendidik guru

harus memiliki cakupan ilmu yang cukup luas. Guru merupakan pendidik

yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan

lingkungannya. Oleh karena itu,guru harus memiliki standar kualitas

tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

Dalam kaitannya dengan rasa tanggung jawab seorang guru harus

mengetahui serta memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha
18

berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. (2) Guru

sebagai pengajar Guru dapat di ibaratkan sebagai pembimbing perjalanan,

yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab

atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak

hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional,

kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. (3)

Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti

motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru,kemampuan

verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam

berkomunikasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui

pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha

membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam

memecahkan masalah dan mengarahkan peserta didiknya. (4) Guru sebagai

model teladan Model dan teladan, seorang guru dalam hal bertutur kata,

bersikap, berpakaian, penampilan gerak-gerik dan semua perilaku akan

diperhatikan oleh peserta didik. Oleh karena itu guru sebagai model sangat

penting dalam rangka pembentukan akhlak bagi siswanya. (5) Guru sebagai

evaluator evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang

paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan,

serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan

konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi

penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan


19

dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan,

pelaksanaan dan tindak lanjut Penilaian harus adil dan objektif.

Kesimpulan Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa

peranan guru tidak hanya sebagai pengajar dan pendidik di sekolah, guru

juga memiliki peranan di dalam keluarga dan juga dalam masyarakat.

Guru yang baik adalah guru yang mampu memainkan peranannya dengan

baik. Seorang guru harus selalu menampilkan perilaku yang baik, karena

guru merupakan suri tauladan bagi masyarakat luas terutama bagi peserta

didiknya, ketika berperilaku menyimpang dari ajaran Islam, maka akan

merusak citranya sebagai guru yang dijadikan sebagai contoh dan akan

menjadi sorotan bagi semua orang. Seorang guru harus menjadi suri

tauladan bagi siswa-siswanya, guru hendaknya memberikan contoh yang

baik bagi siswa. Begitu mulianya seorang guru yang dijadikan suri teladan.

3. Pembiasaan

a. Pengertian Pembiasaan

Menurut Muhammad Noer (2013:118) Pembiasaan merupakan

kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari

anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Pembiasaan ini meliputi aspek

perkembangan moral, nilai-nilai agama, akhlak, pengembangan sosio

emosional dan kemandirian. Pembiasaan positif yang sejak dini sangat

memberikan pengaruh positif pula pada masa yang akan datang.

Novan Ardy (2014:195) mengemukakan bahwa pembiasaan dinilai

sangat efektif jika diterapkan terhadap anak usia dini. Hal ini dikarenakan
20

anak usia dini memiliki rekaman ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian

yang belum matang, sehingga mereka mudah diatur dengan berbagai

kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Pembiasaan yang dilakukan

sejak dini akan membawa kegemaran dan kebiasaan tersebut menjadi

semacam adat kebiasaan sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari

kepribadiannya.

Menurut Sapendi (2015:27) pembiasaan merupakan suatu kegiatan

untuk melakukan hal-hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-

sungguuh dengan tujuan memperkuat atau menyempurnakan suatu

keterampilan agar menjadi terbiasa. Dengan kata lain pembiasaan

merupakan cara mendidik anak dengan penanaman proses kebiasaan.

Menurut Nurul Ihsani (2018:50) pembiasaan dapat diartikan sebagai

sebuah metode dalam pendidikan berupa proses penanaman kebiasaan. Inti

dari pembiasaan ialah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas

mengucapkan salam, ini dapat diartikan sebagai usaha membiasakan.

Metode pembiasaan sebagai bentuk pendidikan yang dilakukan secara

bertahap dan menjadikan pembiasaan itu sebagai teknik pendidikan yang

dilakukan dengan membiasakan sifat-sifat baik sebagai rutinitas. Hasil

yang dilakukan dari pembiasaan adalah terciptanya suatu kebiasaan anak

didiknya.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan

diadakannya pembiasaan di sekolah adalah untuk melatih serta

membiasakan peserta didik konsisten dengan sebuah tujuan, sehingga


21

benar-benar tertanam pada diri anak dan akhirnya menjadi kebiasaan yang

sulit ditinggalkan dikemudian hari.

b. Bentuk-bentuk pembiasaan

Bentuk-bentuk pembiasaan (1) Kegiatan rutin, kegiatan yang

dilakukan oleh sekolah setiap hari, misalnya berkomunikasi di lingkungan

sekolah wajib menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (2)

Kegiatan spontan, kegiatan yang dilakukan secara spontan misalnya

meminta tolong dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (3)

Pemberian teladan, kegiatan yang dilakukan dengan memberi

teladan/contoh yang baik kepada peserta didik, misalnya berkomunikasi

sesame guru menggunakan bahasa Indonesia yang baik, benar. (4)

Kegiatan terprogram, yaitu kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap

sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Menurut Muhammad Noer (2013:119) Dalam kehidupan sehari-

hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting karena banyak

kita lihat orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan

semata-mata. Di sekolah pembiasaan dapat dilakukan secara terjadwal atau

tidak terjadwal baik di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan pembiasaan

di sekolah terdiri atas kegiatan rutin kegiatan spontan, kegiatan teladan,

dan kegiatanter program.

c. Langkah-langkah dalam pembiasaan

Langkah-langkah pembiasaan yaitu pendidik hendaknya sesekali

memberikan motivasi dengan kata-kata yang baik dan sesekali dengan


22

petunjuk-petunjuk. (1) Pembiasaan hendaknya dimulai sejak awal sebelum

terlambat, artinya pembiasaan harus segera dilaksanakan sebelum anak

mempunyai kebiasaan yang berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. (2)

Pembiasaan itu hendaknya dilakukan secara terus menerus (berulang-ulang)

dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang

otomatis atau menjadi bagian dari karakter anak. (3) Pembiasaan hendaknya

diawasi secara ketat, konsisten, dan tegas. Jangan memberi kesempatan

kepada anak untuk melanggar pembiasaan yang telah di tetapkan. (4)

Pembiasaan yang pada mulanya hanya bersifat mekanistik, akan tetapi

pendidik harus mengupayakan dan mendorong peserta didik untuk

melakukan pembiasaan berdasarkan kata hati atau kesadaran peserta didik

sendiri Muhammad Noer (2012:120).

Kesimpulan belajar kebiasaan adalah proses pembentukan

kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan- kebiasaan yang telah

ada. Belajar kebiasaan, selain dengan menggunakan perintah suri teladan

dan pengalaman khusus juga menggunakan hukuman dan ganjaran.

Tujuannya agar siswa memperoleh kebiasaan-kebiasaan yang baru yang

lebih tepat dan efektif.

4. Hakikat Bahasa Indonesia

a. Pengertian Bahasa Indonesia

Wibowo (2011:11) Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik

Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.33 Bahasa Indonesia

diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,


23

tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.

Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisisebagai bahasa kerja.

Subroto (2012:97) Bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa

Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19.

Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya

sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai

proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia"

diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk

menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu

tetap [Link] ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat

ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun

Semenanjung Malaya.

Mahayana, Maman S (2021:3) Bahasa Indonesia merupakan bahasa

yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui

penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga

Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan

penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari

748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa

Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan / atau

mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya.

Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-

perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi,


24

dan berbagai forum publik lainnya,sehingga dapatlah dikatakan bahwa

Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia. Fonologi dan

tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang

penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu

beberapa minggu Mahayan (2009:14).

Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia

banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli,

Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka,

Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan-sastrawan di atas

banyak memberikan pengaruh serta kontribusi yang membangun dan

banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun

morfologi bahasa Indonesia Kridalaksana (2011:75).

b. Tujuan Bahasa Indonesia

Berdasarkan Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan


(KTSP) SD/MI mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : (1)
Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara maupun tulis. (2) Menghargai dan bangga
menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
negara. (3) Memahami Bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan
tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. (4) Menggunakan Bahasa
Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial. (5) Menikmati dan memanfaatkan
karya sastra untuk memperhalus budi pekerti,, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa. (6) Mengahrgai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
25

intelektual manusia Indonesia Peraturan Menteri Pendidikan Nasinal


(PERMENDIKNAS) Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
c. Fungsi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan

berdasarkan kebutuhan pemakainya Isah Cahyani (2013:36).

1) Alat ekspresi diri

Pada awalnya, seseorang (anak-anak) berbahasa untuk

mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya dan pikirannya pada

sasaran yang tetap, yakni ibu bapaknya atau masyarakat di sekitar tempat

tinggalnya. Dalam perkembangannya, tidak lagi menggunakan bahasa

untuk mengekspresikan kehendaknya tetapi untuk berkomunikasi dengan

lingkungan yang lebih luas di sekitarnya. Setelah dewasa, kita

menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk

berkomunikasi.

2) Alat komunikasi

Ketika kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, maksud

dan tujuan kita yaitu ingin dipahami orang lain. Kita menyampaikan

gagasan, fikiran, pendapat, harapan, perasaan, dan lain-lain yang dapat

diterima orang lain. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat

komunikasi sekaligus merupakan alat untuk menunjukan identitas diri.

Melalui bahasa kita

3.) Alat integrasi dan adaptasi sosial

Bahasa Indonesia mampu mempersatukan berates-ratus kelompok

etnis di tanah air kita. Sebagai alat integritas bangsa, ada beberapa sifat
26

potensial yang dimiliki bahasa Indonesia (1) Bahasa Indonesia terbukti

dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multicultural, (2) bahasa

Indonesia bersifat demokratis dan egaliter, (3) bahasa Indonesia bersifat

terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mengglobal.

4.) Alat Kontrol Sosial

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.

Kontrol sosial dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada

masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau

pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah

sampai universitas, buku-buku intruksi, perundang- undangan serta

peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan

bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah,

wujud pembinaan rohani, sebagai peredam rasa emosi dan marah adalah

contoh bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat kontrol .

d. Bahasa Indonesia Masuk Komunikasi

Menurut Badudu, J. S.(2012:103) Bahasa Indonesia yang baik dan

benar adalah bahasa Indonesia yang memenuhi kaidah- kaidah/ketentuan-

ketentuan yang sesuai dengan tata bahasa yang ejaan yang disempurnakan

(EYD) dan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Indonesia harus

dipelajari karna merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

Stewart L. (2012:76) komunikasi merupakan proses pembentukan

makna diantara dua orang atau lebih. Komunikasi tidak hanya sebatas
27

pada konseptualisasi satu arah, melainkan juga dapat sebagai suatu proses

interaksi (dua arah), atau transaksi.

E.T. Hall, (2010:25) komunikasi adalah budaya. Bahasa, gesture,

dan pakaian atau aksesoris yang digunakan oleh seseorang bisa menjadi

refleksi dari budaya yang dimiliki orang tersebut. Disisi lain, adanya

komunikasi yang baik antar satu generasi dengan generasi lainnya akan

mempermudah melestarikan budaya suatu kelompok.

Deddy Mulyana (2012:67) telah memberikan gambaran yang

beragam tentang definisi komunikasi. John R. Wenburg dan William

[Link] juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken menjelaskan

setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni

komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi, dan

komunikasi sebagai transaksi.

Devito (2019:3) Komunikasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh

seseorang atau lebih, berupa aktivitas menyampaikan dan menerima pesan,

yang mengalami distorsi karena adanya gangguan, dalam suatu konteks,

yang menimbulkan efek dan kesempatan untuk arus balik.

Menurut Effendy (2022:7) ada 4 kendala dalam komunikasi yaitu:

1. Gangguan
Ada 2 jenis gangguan dalam berkomunikasi. Gangguan mekanik, yaitu
gangguan yang disebabkan oleh saluran komunikasi atau kegaduhan yang
bersifat fisik. Gangguan semantik, yaitu gangguan yang bersangkutan
dengan pesan komunikasi yang pengertiannya menjadi rusak.
2. Kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau
menghayati suatu pesan.
28

3. Motivasi Terpendam akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang


sesuai benar dengan keinginan, kebutuhan, dan kekurangannya.
4. Prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi
suatu kegiatan komunikasi oleh karena orang yang mempunyai
prasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang
komunikator yang hendak melancarkan komunikasi.
6. Kendala

Kendala adalah suatu hambatan yang dialami seseorang dalam

pelaksanaan kegiatan tersebut yang membuat hasil kegiatan tersebut tidak

sesuai dengan tujuannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia “kendala bearti

halangan, rintangan, faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi atau

mencegah pencapaian sasaran atau kekuatan yang memaksa pembatalan

pelaksaan Nur Adilah (2021:2).

Kendala disekolah dialami guru dalam membiasakan peserta didik

menggunakan bahasa Indonesia di Sekolah yaitu kebiasaan siswa yang

menggunakan bahasa daerah di lingkungan rumah dan tempat bermainnya,

sehingga kebiasaan siswa tersebut terbawa ke lingkungan sekolah yang

membuat peserta didik tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai

alat komunikasi, kurangnya media pembelajaran, penggunaan bahasa

Indonesia yang jarang dipergunakan oleh siswa dan penguasaan kosa kata

yang masih sedikit. Hal seperti perlu ditangani oleh guru agar peserta didik

dapat belajar bahasa Indonesia dengan efektif, sehingga bahasa anak bisa

berkembang.

Kesimpulan dapat diuraikan bahwa kendala adalah suatu halangan atau

hambatan yang mencegah suatu pencapaian sasaran yang berdampak


29

negative. Kendala sering kali terjadi di dalam dunia pendidikan, terutama

kendala dalam berkomunikasi dan pembelajaran.

B. Penelitian yang relevan

Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan

penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam

mengkaji penelitian yang dilakukan. Penulis mengangkat beberapa penelitian

sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis.

Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa beberapa artikel terkait dengan

penelitian yang dilakukan penulis.

1. Nufitriani Kartika Dewi pada tahun 2019 jurnal dengan judul

“Pembiasaan Penggunaan Bahasa Jawa pada Anak Usia Dini di PAUD

Al-Falah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang”.

Permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah penggunaan bahasa

Jawa untuk anak usia dini. Jenis data yang diambil dalam penelitian

ini adalah data bahasa lisan. Data ini berupa pernyatan- pernyataan atau

kalimat yang menunjukkan wujud pembiasaan Bahasa Jawa anak dalam

interaksi belajar mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah

menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data

yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Persamaan dari

penelitian Nufitriani Kartika Dewi (2019) dan penelitian penulis yaitu

upaya guru dalam membiasakan bahasa bagi anak. Perbedaan penelitian

Nufitriani Kartika Dewi ini membahas tentang penggunaan bahasa


30

Jawauntuk anak usia dini saja, sedangkan penulis membahas tentang

upaya guru dalam pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia.

2. Maini Sundari (2018), dalam skripsi yang berjudul “Upaya Guru dalam

Meningkatkan Bahasa Anak di Play Group Islam Bina Balita Wayhalim

Bandar Lampung”. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini

adalah belum berkembangnya bahasa anak di Play Group Islam Bina

Balita yang sesuai dengan harapan dan belum optimalnya metode yang

digunakan guru dalam mendorong capaian pekembangan bahasa anak.

Hasil dari penelitian ini adalah upaya guru dalam meningkatkan

kemampuan bahasa anak di PG Islam Bina Balita adalah merangsang

minat anak untuk berbicara, latihan menggabungkan bunyi bahasa,

memperkaya perbendaharaan kata, mengenalkan kalimat melalui cerita,

nyanyian, dan mengenalkan lambing tulisan. Metode penelitian yang

digunakan adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah wawancara dan observasi. Persamaan dari penelitian

Maini Sundari (2018) dan penelitian penulis yaitu upaya guru dalam

meningkatkan kemampuan bahasa anak. Maini Sundari meneliti khusus

mengenai upaya guru dalam meningkatkan bahasa pada anak, berbeda

dengan penelitian penulis yang membahas tentang upaya guru dalam

membiaskan menggunakan bahasa Indonesia.

3. Lidya Febriani (2019), dalam skripsi yang berjudul “Upaya Guru

dalam Mengatasi Penggunaan Bahasa Ibu Pada Pembelajaran Bahasa

Indonesia Siswa di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 72 Kaur”.Permasalahan


31

yang dibahas pada penelitian ini adalah penggunaan bahasa ibu pada

pembelajaran bahasa Indonesia.. Jenis data yang diambil dalam penelitian

ini adalah data bahasa ibu dan pembelajaran bahasa Indonesia. Data ini

berupa pernyatan-pernyataan atau kalimat yang menunjukkan wujud

mengatasi penggunaan bahasa ibu pada pembelajaran bahasa Indonesia.

Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan penelitian

deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

wawancara, observasi, dan dokumentasi. Persamaan dari penelitian

Lidya Febriani (2019) dan penelitian penulis yaitu upaya guru dalam

menerapkan dan membiasakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,

perbedaan penelitian Lidya Febriani ini membahas tentang mengatasi

penggunaan bahasa ibu pada pembelajaran bahasa Indonesia, sedangkan

penulis membahas tentang upaya guru dalam pembiasaan penggunaan

bahasa Indonesia. Jadi sama-sama membahas tmengenai pentingnya

bahasa Indonesia.

4. Kartika Dewi pada tahun 2019 jurnal dengan judul Pembiasaan

Penggunaan Bahasa Jawa pada Anak Usia Dini di PAUD Al-Falah

Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Permasalahan yang

dibahas pada penelitian ini adalah penggunaan bahasa Jawa untuk anak

usia dini. Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah data bahasa

lisan. Data ini berupa pernyatan-pernyataan atau kalimat yang

menunjukkan wujud pembiasaan Bahasa Jawa anak dalam interaksi belajar

mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan


32

penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan

adalah wawancara dan observasi. Dari penelitian Nufitriani Kartika Dewi

(2019) ini hanya membahas tentang penggunaan bahasa Jawa untuk anak

usia dini saja, sedangkan penulis membahas tentang keterampilan anak

usia dini dalam berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

C. Kerangka Berfikir

Menurut Wiratna Sujarweni (2014:60) Kerangka pemikiran merupakan

penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan.

Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis perlu

dijelaskan hubungan antara variabel indevenden dan dependen.

Kerangka berpikir penelitian ini yaitu :

1. Peran Guru adalah usaha yang dilakukan guru agar proses belajar

mengajar dapat berjalan dengan baik.

2. Membiasakan adalah upaya seorang guru dalam membiasakan siswa

untuk melakukan suatu hal yang dapat merubah kebiasaannya

terdahulu.

3. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang

memenuhi kaidah-kaidah/ketentuan- ketentuan yang sesuai dengan

tata bahasa yang ejaan yang disempurnakan (EYD) dan kamus besar

bahasa Indonesia (KBBI). Menggunakan Bahasa Indonesia adalah

seseorang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang

digunakan dalam berkomunikasi dengan masyarakat disekitarnya.


33

Berikut bagan kerangka berpikir Upaya Guru dalam

Membiasakan Siswa Menggunakan Bahasa Indonesia di SD

Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal

Kabupaten Bungo.

[Link] didik masih kesulitan menggunakan bahasa

indonesia dalam proses pembelajaran.

[Link] lebih cenderung menggunakan bahasa daerah sehingga

peserta didik kurang terbiasa berbahasa indonesia.

[Link] kurangnya pembiasaan berbahasa indonesia yang

baik dan benar.

lingkungan SDN 37/II Pasar Lubuk Landai

1. Suri teladan dalam sikap 4. Monivator


2. Diretor of learning 5. Conductor of learning
3. Inovator 6. Manager of leaning

4.
Kendala dalam penelitian ini sering kali terjadi di dalam
dunia Pendidikan adalah kendala dalam berkomunukasi dan
Pembelajaran.

Siswa Terbiasa Menggunakan


Bahasa Indonesia di sekolah
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan

metode kualitatif. Dalam menyelesaikan penelitian ini, peneliti menggunakan

pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif merupakan

jenis, desain, atau rancangan penelitian yang biasa digunakan untuk meneliti

objek penelitian yang alamiah atau dalam kondisi riil dan tidak disetting seperti

pada eksperimen. Deskriptif sendiri berarti hasil penelitian akan dideskripsikan

segamblang-gamblangnya berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tanpa

menarik suatu kesimpulan berdasarkan hasil penelitiannya.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan maksud

untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian,

misalnya tingkah laku, cara pandang, motivasi, dan tindakan secara menyeluruh

dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu kejadian khusus yang alamiah.

Artinya pendekatan dalam penelitian initidak menggunakan angka.

Menurut Sugiyono (2014:1) metode penelitian kualitatif adalah metode

penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah,

(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai

instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi

(gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih

menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian ini yaitu penelitian yang

34
35

menjelaskan tentang Upaya guru dalam membiasakan siswa menggunakan

bahasa Indonesia di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan

Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo. Pendekatan penelitian yang digunakan

dalam penelitian adalah pendekatan deskriptif kualitatif, karena peneliti

menganalisis dan menggambarkan penelitian secara objektif dan mendetail

untuk mendapatkan hasil yang akurat terkait fokus penelitian ditujukan

pada Upaya guru dalam membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia

di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten

Bungo. bahasa Indonesia di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan

Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo Hal ini meliputi pendeskripsian upaya guru

dalam membiasakan penggunaan bahasa Indonesia dan kendala yang dihadapi

guru dalam membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia di SD Negeri

37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.

B. Sumber Data

Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan

pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari

sumber yang sudah ada.


36

1. Data Primer

PROFIL SEKOLAH

Identitas Sekolah

Nama Sekolah SDN 037/II PASAR LUBUK LANDAI

NPSN -

Jenjang Pendidikan SD

Status Sekolah Negeri

Alamat Sekolah Pasar Lubuk Landai

SK Pendirian Sekolah 0

Tanggal SK Pendirian 1975-01-01

Status Kepemilikan Pemerintahan Pusat

Nomor Rekening 3001764496

Nama Bank Bank Jambi

Cabang KCP/Unit [Link]

Rekening Atas Nama DN BOS SDN 037/II PASAR LUBUK

LANDAI

MBS Ya

Nama Wajib Pajak Yulita

NPWP 001155928332000

No Telepon 081274472114

Sumber Listrik PLN

Daya Listrik 1300


37

2. Data Sekunder

Data sekunder yaitu kepala sekolah serta catatan dan dokumentasi

Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah

Sepenggal Kabupaten Bungo berupa tujuan serta visi misi sekolah struktur

organisasi, sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, guru dan siswa

sekolah dan lain sebagianya. Data sekunder mengambil hal-hal yang

berkaitan tujuan penelitian, mengenai upaya yang guru lakukan serta

kendala yang dihadapi guru.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah meliputi observasi,

wawancara, dan dokumentasi sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat

dimengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan interaksi dengan subjek

melalui wawancara mendalam dan diobservasi pada latar, dimana fenomena

tersebut berlangsung dan di samping itu untuk melengkapi data, diperlukan

dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis atau dengan subyek).

1. Observasi

Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan dengan cara melihat

atau mengamati langsung ketempat penelitian yaitu pada SD Negeri 37/II

Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo, untuk

mendapatkan data yang mudah diamati secara langsung seperti keadaan SD

Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten

Bungo, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Guru berkaitan dengan

pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia, mengetahui peran guru dalam


38

meningkatkan keterampilan bahasa siswa melalui kegiatan litrasi. Di sini

peneliti ingin mengetahui peran apa yang guru lakukan untuk meningkatkan

keterampilan bahasa siswa. Maka guru adalah komponen utama dalam

mengajarkan keterampilan dan pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia

di lingkungan sekolah. Observasi ini dilakukan pada tanggal 12 januari 2023.

2. Wawancara

Sugiono (2015:318) Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk

bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat

dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan

sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi

pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga

apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih

mendalam.

Dalam penelitian ini peneliti mengunakan wawancara sebagai alat

pengumpulan data secara langsung dengan guru dan siswa di SD Negeri

37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.

Untuk memperoleh data yang lebih akurat peneliti akan mewawancarai salah

satu guru yang bernama ibu Nofiarti [Link] dan juga peserta didik, mengenai

masalah kemampuan bahasa indonesia peserta didik masih rendah, peserta

didik di kelas awal khususnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda,

minimnya perbendaharaan kata, penggunaan bahasa daerah di lingkungan

keluarga sehingga terbatasnya kemampuan peserta didik dalam memahami


39

konteks bahasa Indonesia dan masih banyak terbiasa menggunakan bahasa

daerah setempat bahkan sudah terbiasa menggunakan bahasa daerah.

3. Dokumentasi

Dokumen Sugiono (2015:326) merupakan catatan peristiwa yang sudah

berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya

monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya

catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), biografi, peraturan,

kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup,

sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni,

yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. studi dokumen

merupakann pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara

dalam penelitian kualitatif.

Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh

foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada. Dengan teknik

ini, peneliti menggali data melalui catatan harian atau lapangan, foto- foto,

dokumen sekolah, dan lain-lain.

D. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data secara kualitatif.

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, maka dilanjutkan dengan analisis

data. Hal ini dimaksudkan untuk mengiterpretasikan data dari hasil

penelitian. Untuk mengolah data yang terkumpul maka dalam penulisan

skripsi ini akan menggunakan metode yang sesuai dengan sifat dan jenis

datanya.
40

Sugiono (2015:252) Konsep analisis data dalam penelitian ini

menggunakan konsep yang dicetuskan oleh Miles dan huberman yaitu

analisis dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus

sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data

silakukan saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai

pengumpulan data dalam priode tertentu yaitu meliputi data reduction,

data display, dan conclusiondrawing/verification.

Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut :

Gambar 3.1

Teknik Analisis Data Model Interaktif Miles dan Hubberman

Pengumpu Penyajian
lan Data
lan Data

Reduksi Kesimpulan /
Data Verification

Keterangan:
(1) Data Collection (koleksi data) Pengumpulan data observasi, wawancara,

serta dokumentasi yang peneliti butuhkan terkait dengan upaya guru dalam

membiasakan menggunakan bahasa Indonesia di serta faktor pendukung

dan penghambat guru dalam membiasakan menggunakan bahasa Indonesia

di SDN Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal


41

(2) Kabupaten Bungo. (2) Data Reduction (reduksi data) Setelah mendapatkan

hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dibutuhkan, selanjutnya

peneliti memilih hal-hal penting yang diperlukan serta membuang yang

tidak perlu. (3) Data Display (penyajian data) Setelah data direduksi, maka

langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian

kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,

bagan, hubungan antar kategori, (4) flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini

Miles and Huberman (1984) menyatakan “Yang paling sering digunakan

untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks

yang bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan

untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya

berdasarkan apa yang telah difahami tersebut. Peneliti kemudian

memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang

diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai

fenomena tersebut. (5) Conclusion Drawing/verification langkah

selanjutnya dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman

adalah menarik kesimpulan dan verifikasi, dan akan berubah bila tidak

ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap

pengumpulan data berikutnya. Tetapi bila kesimpulan yang dikemukakan

pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat

peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang

dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.


42

Jadi, kesimpulan Menurut Sugiono (2011:247) dalam penelitian

kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan

sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan

bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih

bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada

dilapangan.

E. Teknik Keabsahan Data

Triangulasi merupakan penggunaan lebih dari satu metode untuk

digunakan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dan berbagai cara.

Dengan beberapa temuan yang berbeda diharapkan menghasilkan temuan

yang sama. Sehingga dapat dipastikan data yang diperoleh benar-benar terjadi

dilapangan, dan akan memperkuat data hasil penelitian yang dilakukan.

Menurut Sugiono (2017:309) Terdapat dua macam triangulasi yaitu:

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan

dengan cara mengcek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.

Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan

seseorang, maka pengumpulan dan pengujian data yang diperoleh dilakukan

kebawahan yang dipimpin, ke atasan yang menugasi, dan ke teman kerja

yang merupakan kelompok kerjasama.


43

2. Triangulasi Teknik

Tringulasi teknik berguna untuk menguji kredibilitas data yang

dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama namun

dengan cara atau teknik yang berbeda.


44

DAFTAR PUSTAKA

Abidin Yunus, Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter,akarta :


Refika Aditama, 2012), h. 6
Fauziah. N. (2015). Upaya Guru dalam Pengembangan Literasi Infomasi Siswa
pada Mata Pelajaran PAI. JURNAL EDUKASI: Jurnal Pendidikan
Agama Islam, 3(l). h. 47.
Gunawan, Pon, “Penerapan Strategi Aktivitas Menulis Terbimbing (SAMT)
Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Pengumuman Siswa
Kelas VIII SMP Negeri 7 Rambah Rokan Hulu.” Jurnal PAJAR
(Pendidikan dan Pengajaran) 1.2 (2017), h. 223
Hawi Akmal, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (JakartaHawi
Akmal, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam
Heru Juabdin Sada. 2015. Pendidik Dalam Perspektif Al-Quran. Al- adzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam, 6(1), h. 95-98)
Heru Juabdin Sada. 2015. Pendidik Dalam Perspektif Al-Quran…. H 99
Isah Cahyani. Pembelajaran Bahasa Indonesia. (Jakarta : Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2013).hal
36.
Lidya Febriani. 2019. Peran Guru dalam Mengatasi Penggunaan Bahasa Ibu
Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Di Kelas V Sekolah
Dasar Negeri 72 Kaur. Skripsi, Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Bengkulu.
Lisdwiana Kurniati. 2015. Bahasa Dalam Pembelajaran Anak Di sekolah.
Jurnal pesona volume , (1): 1-14
Mahayana, Maman S. (2009). “Perkembangan Bahasa Indonesia - Melayu di
Indonesia dalam Konteks System Pendidikan” (The Development Of
indonesian Malay Language In Indonesia In The Context Of The
Education System). Yhe Journal Of Afternative Education (dalam
45

Bahasa Indonesia). 14 (3): 21. Diakses pada tanggal 28 Desember


2021.
Maini Sundari, Skripsi “Peran Guru dalam Meningkatkan Bahasa Anak di Play
Group Islam Bina Balita Wayhalim Bandar Lampung. (Lampung:
UIN Raden Intan Lampung, 2018)
[Link] Salim & Samsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam.
(Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2012). h. 137.
Mohamad Surya, Psikologi Guru Konsep dan Aplikasi(Bandung: Alfabeta,
2014), h. 192
Muhammad Noer Cholifudin Zuhri. “Studi Tentang Efektivitas Tadarus Al-
Qur’an dalam Pembinaan Akhlak di SMPN 8 Yogyakarta”. Cendekia,
Vol 11 NO 1 (Juni 2013), h. 118.
Nur Adilah. 2021. Peran Guru dalam Meningkatkan Keterampilan Bahasa
Siswa Melalui Kegiatan literasi di Kelas II SD Negeri 200508
Sihatang (Doctoral Dissertation, IAIN Padangsidimpuan).
Nufitriani Kartika Dewi, “Pembiasaan Penggunaan Bahasa Jawa pada Anak
Usia Dini di PAUD Al-Falah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten
Semarang”. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia
Anak Usia Dini. Vol 1 No. 2, Juli 2019.
Nowan Ady Wiyani. Konsep, Praktik, dan Strategi Membumikan pendidikan
Karakteristik Di SD. (Jakarta : AR-Ruzz Media, 2013). h. 145)
Novan Ardy Wiyani. Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini. (Yogyakarta :
Gava Media, 2014). h.195.
Nurul Ihsani, et. al.. “Hubungan Metode Pembiasaan dalam Pembelajaran
dengan Disiplin Anak Usia Dini”. Jurnal-ilmiah Potensia, Vol 3 No 1
(2018). h. 50-51.
Nurchaili, “Membentuk Karakter Siswa melalui Keteladanan Guru,”urnal
Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (2010), h. 44
Rahayu, Arum Putri. 2015. Menumbuhkan Bahasa Indonesia yang Baik dan
Benar dalam Pendidikan dan Pengajaran. Dalam Jurnal:
Paradigma,Volume 2, Nomor 1. h. 12
46

Ramayulis, Dasar-dasar Kependidikan Suatu pengantar Ilmu Pendidikan.


(Jakarta : Kalam Mulia, 2015). h. 135-136.
Sapendi. “Internalisasi Nilai-nilai Moral Agama Pada Anak Usia Dini”, At-
Turats, Vol 9 No 2 (Desember 2015). h. 27.)
Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods. (Bandung
: Alfabeta, 2017). h. 309.
Utari. L., Kurniawan. K. & Fathurrochman. I. (2020). Peran Guru Pendidikan
Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik. JOEAI: Journal
of Education and Instruction. 3(1). h. 75.
Widiyastuti. H. (2016). Peran Guru dalam Menanamkan Akhlakul Karimah
(Studi Kasus di SD Negeri 1 Wonogiri Tahun Pelajaran

Wiratna Sujarweni. Metodologi Penelitian. (Yogyakarta : PT Pustaka Baru


Press, 2014), h. [Link], Memahami Penelitian Kualitatif.
(Bandung : Alfabeta, 2014), h. 1.
2015). Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta.
Yusuf Syamsu dan Sughandi, perkembangan peserta didik, (Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, 2014), h. 139.

Anda mungkin juga menyukai