PERAN GURU DALAM PEMBIASAAN BERBAHASA INDONESIA
PADA PESERTA DIDIK KELAS IV SDN 37/II PASAR
LUBUK LANDAI KECAMATAN TANAH
SEPENGGAL KABUPATEN BUNGO
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh:
ALIF RAKA ARSYA PRIANSYAH
NPM. 241183207035
DOSEN PENGAMPU:
REFRIL DANI, [Link]
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO
2025
ABSTRAK
“Peran Guru Dalam Pembiasaan Berbahasa Indonesia Pada Peserta
Didik Kelas IV SDN 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal
Kabupaten Bungo”.
Proses belajar mengajar di sekolah, melibatkan guru dan siswa yang
diharuskan untuk saling berkomunikasi. Tentunya dalam menjaga komunikasi
antara guru dan siswa diperlukannya penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran guru dan kendala
yang dialaminya dalam membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia di
SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan dengan
pendekatan kualitatif. Prosedur pengumpulan data yaitu observasi, wawancara,
dan dokumentasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi
data. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan verifikasi kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan guru dalam
membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia dengan menerapkan empat
macam keterampilan bahasa dalam pembelajaran yaitu kegiatan menyimak,
berbicara, membaca dan menulis. Selain itu guru juga menjadikan dirinya sebagai
model dalam berkomunikasi dengan membenarkan setiap kosa kata yang salah
dan menegur siswa yang melakukan kesalahan saat berkomunikasi. Adapun
kendala yang dihadapi guru dalam membiasakan siswa mengunakan bahasa
Indonesia yaitu, kebiasaan siswa menggunakan bahasa daerah, kurangnya media
pembelajaran, jarangnya penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-
hari serta kurangnya penguasaan kosa kata pada siswa.
Kata Kunci : Peran Guru, Penggunaan Bahasa Indonesia
i
ABSTRACT
Wiwi, 2023 "The Role of Teachers in Indonesian Language Habituation in
Grade IV Students of SDN 37/II Pasar Lubuk Landai, Tanah
Sepenggal District, Bungo Regency".
The teaching and learning process in schools involves teachers and students
who are required to communicate with each other. Of course, in maintaining
communication between teachers and students, good and correct mastery of
Indonesian is [Link] study aims to describe the role of teachers and the
obstacles they experience in familiarizing students with using Indonesian at SD
Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai, Tanah Sepenggal Lintas District.
The type of research used is field research with a qualitative approach. Data
collection procedures are observation, interviews, and documentation. Checking
the validity of data using data triangulation techniques. Data analysis is carried out
in three stages, namely data reduction, data presentation, and conclusion
verification.
The results showed that the efforts made by teachers in familiarizing students
with using Indonesian by applying four kinds of language skills in learning,
namely listening, speaking, reading and writing activities. In addition, teachers
also make themselves models in communicating by correcting every wrong
vocabulary and reprimanding students who make mistakes when
[Link] obstacles faced by teachers in getting students to use
Indonesian namely, students' habits of using regional languages, lack of learning
media, rare use of Indonesian in daily life and lack of vocabulary mastery in
students.
Keywords: Role of Teacher, Use of Indonesian
ii
DAFTAR ISI
ABSTRAK……............................................................................................…i
ABSTRACK...….........................................................................................…ii
LEMBAR PERNYATAAN.....................................................................….iii
LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................iv
LEMBAR PERSETUJUAN....................................................................…..v
HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN…………………………..vi
KATA PENGANTAR.................................................................................viii
DAFTAR ISI..................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR...................................................................................xii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................1
A. Latar Belakang…………………………………………………… 1
B. Identifikasi Masalah........................................................................ 4
C. Batasan Masalah............................................................................. 5
D. Rumusan Masalah............................................................................5
E. Tujuan Penelitian.............................................................................6
F. Manfaat Penelitian...........................................................................6
BAB II KAJIAN TEORI…………………………………………………...8
A. Landasan Teori............................................................................... 8
A. Peran Guru……………………………………………………8
1. Guru………………………………………………………8
2. Pembiasaan…………………………………………….…9
a. Pengertian Pembiasaan……………….……………. ..9
b. Bentuk-bentuk Pembiasaan……………………….…12
c. Langkah-langkah dalam Pembiasaan……….………14
3. Bahasa Indonesia…………………….………………….19
a. Pengertian Bahasa Indonesia…………...……………19
b. Tujuan Bahasa Indonesia…………………………….21
c. Fungsi Bahasa Indonesia……………………………..21
4. Kendala……………………………………………….…29
B. Penelitian Relevan……………..…………………………….29
iii
C. Kerangka Berpikir………………………..………………………...32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN…………………………………..34
A. Jenis Penelitian……………………………………………………36
B. Setting Penelitian……………………………………….…………35
C. Sumber Data…………...………………………………………….37
D. Teknik Pengumpulan Data……………………….……………….39
E. Teknik Analisis Data………………..…………………………….42
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kemampuan bahasa peserta didik di sekolah masih rendah, peserta
didik di kelas awal khususnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda,
minimnya perbendaharaan kata, penggunaan bahasa daerah di lingkungan
keluarga sehingga terbatasnya kemampuan peserta didik dalam memahami
konteks bahasa Indonesia, oleh sebab itu maka. Pembelajaran dan pembiasaan
menggunakan bahasa Indonesia sangat diperlukan.
Lisdwiana Kurniati (2015:14) Bahasa adalah sistem lambang bunyi
yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja
sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Bahasa merupakan media
komunikasi untuk menyampaikan pesan baik lisan maupun tertulis karena
pesan yang disampaikan memiliki informasi yang ingin dibagikan kepada orang
lain. Bahasa adalah alat bunyi yang dipergunakan oleh masyarakat untuk
bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Bahasa merupakan jenis
tindakan manusia yang niscaya dalam menggunakan kata-kata dan bahasa
dalam kehidupan sehari- hari. Bahasa adalah percakapan, sementara dalam
wacana linguistik bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan
berartikulasi.
Pengertian lain bahasa adalah alat komunikasi dalam kehidupan manusia,
hal ini tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun yang hidup di dunia ini. Di dalam
1
2
Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 “kami putra dan putri Indonesia,
menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Berdasarkan
bunyi Sumpah Pemuda tersebut dapat diuraikan bahwa sebagai rakyat Indonesia
walau kita berbeda bahasa namun kita tetap bangsa Indonesia, di mana
perbedaan itu dapat disatukan melalui interaksi yang baik dengan menggunakan
bahasa Indonesia. Karena itu, bahasa Indonesia menjadi bahasa Nasional
Negera Indonesia Agar komunikasi berjalan dengan baik, hendaknya kita
mempelajarinya dengan sebaik mungkin, salah satunya di dunia pendidikan.
Pendidikan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang
mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh
sebab itu, hampir semua Negara menempatkan pendidikan sebagai sesuatu
yang dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan Negara. Begitu juga
Indonesia menempatkan pendidikan sebagai suatu yang penting dan utama. Hal
ini dapat dilihat dari isi pembukaan UUD 1945 alenea IV yang menegaskan
bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan
Kesejahteraan Umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ikut melaksanakan
ketertiban dunia. Mencerdaskan kehidupan bangsa yang tercantum dalam tujuan
UUD 1945 yaitu khususnya dalam berbahasa Indonesia Febriani (2019:44).
Salah satu komponen penting dalam pendidikan adalah guru. Dalam
konteks pendidikan guru mempunyai peranan yang besar, guru yang langsung
berhadapan dengan siswa untuk memberikan ilmu pengetahuan sekaligus
mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan danketeladannya.
3
Di dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa diharuskan untuk
saling berkomunikasi antara satu hal dengan hal lainnya. Tentunya dalam
menjaga komunikasi antara guru dan peserta didik diperlukannya penguasaan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar Putri (2015:12).
Sekolah merupakan tempat guru dan peserta didik saling berinteraksi dan
saling bertukar fikiran, sehingga saat siswa kembali ke lingkungan peserta
didik dapat di terima dengan baik oleh lingkungan tersebut. Sehingga setiap
sekolah harus memilih peraturan-peraturan tertentu untuk menciptakan generasi
yang disiplin, seperti datang tepat pada waktu, berpakaian dengan rapi dan
bersih, serta sopan dalamberperilaku dan santun dalam berbicara.
Salah satu aspek perkembangan anak menjadi topik penelitian adalah
bahasa. Pengajaran bahasa merupakan salah satu bentuk pengajaran yang
memiliki cara yang berbeda dalam metode pengajarannya dibandingkan dengan
bidang-bidang yang lain. Bahasa didapatkan seseorang melalui dua hal, yaitu
melalui perolehan dan melalui pembelajaran. Maksud dari didapatkan melalui
perolehan yaitu dimana seseorang untuk pertama kalinya memperoleh bahasa
(masih murni), kemudian anak usia dini menerima semua aspek-aspek tentang
bahasa pertamanya dari ibu, kemudian keluarga dan lingkungan sekitarnya
tanpa harus belajar.
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain.
Dalam pengertian ini mencakup semua cara yang dilakukan untuk
berkomunikasi, dimana seluruh aktivitas, pikiran, perasaan, diperlihatkan dalam
bentuk lambang atau simbol untuk dapat menunjukkan suatu pemahaman,
4
seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan dan mimik
muka Mardison, (2016:2).
Demikian juga dengan Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai,
berdasarkan observasi dengan salah satu guru di SD tersebut bernama ibu
Nofiarti [Link]. Alasan peneliti memilih judul ini adalah masalah yang terjadi
pada observasi yaitu semua peserta didik berasal dari desa setempat, mulai
dari kelas I sampai kelas VI, bahwa kemampuan bahasa peserta didik di
sekolah masih rendah, peserta didik di kelas awal khususnya memiliki latar
belakang yang berbeda-beda, minimnya perbendaharaan kata, penggunaan
bahasa daerah di lingkungan keluarga sehingga terbatasnya kemampuan peserta
didik dalam memahami konteks bahasa Indonesia, oleh sebab itu maka (
urgensi penelitian ). Pembelajaran dan pembiasaan menggunakan bahasa
Indonesia sangat diperlukan. Maka guru adalah komponen utama dalam
mengajarkan keterampilan dan pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia di
lingkungan sekolah. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik
melakukan penelitian dengan judul:
“Peran Guru dalam Pembiasaan Berbahasa Indonesia pada Peserta
Didik di Kelas IV SDN 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah
Sepenggal Kabupaten Bungo”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah yaitu:
1. Peserta didik masih kesulitan menggunakan bahasa Indonesia dalam proses
pembelajaran.
5
2. Guru lebih cenderung menggunakan bahasa daerah sehingga peserta didik
kurang terbiasa berbahasa indonesia.
3. Masih kurangnya pembiasaan berbahasa indonesia yang baik dan benar di
lingkungan SDN 37/II Pasar Lubuk Landai.
C. Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini di batasi
masalah yaitu, Upaya Guru Dalam Pembiasaan Berbahasa Indonesia Pada
Peserta Didik Kelas IV SDN 37/II Pasar Lubuk Kecamatan Tanah Sepenggal
Kabupaten Bungo.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas maka peneliti dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana peran guru dalam membiasakan peserta didik menggunakan
bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai
Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo?
2. Apa saja kendala yang dihadapi dalam membiasakan peserta didik
menggunakan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk
Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka peneliti
mengidentifikasikan tujuan penelitian sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui peran yang dilakukan guru dalam membiasakan peserta
6
didik menggunakan bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar
Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
2. Untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam membiasakan peserta
didik menggunakan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar
Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
3. Untuk mengetahui peran untuk mengatasi kendala dalam membiasakan
peserta didik menggunakan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar Negeri
37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik yang
bersifat teoritis maupun praktis, yaitu sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi keilmuan
bagi ilmu pendidikan terutama mengenai peran guru dalam membiasakan
penggunaan Bahasa Indonesia oleh pesrta didik di SD Negeri 37/II Pasar
Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan sebagai bekal dalam menerapkan
ilmu yang telah diperoleh di bangku kuliah apabila nanti berkecimpung
dalam dunia pendidikan yang sesungguhnya.
b. Bagi Sekolah
1) Memberikan sumbangan positif dalam meningkatkan suatu pendidik
an khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia.
7
2) Dapat digunakan sebagai masukan dalam membiasakan penggunaan
Indonesia yang baik dan benar di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk
Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
c. Bagi Guru
1. Dapat membantu guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa
anak yang baik dan benar.
2. Membuka wawasan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik
dan benar dalam proses belajar mengajar.
3. Memberikan referinsi untuk membuka kreatifitas guru dengan
mempertimbangkan arti pentingnya menggunakan bahasa Indonesia
pada mata pelajaran apapun, khususnya pada mata pelajaran bahasa
Indonesia.
d. Bagi Peserta Didik
1) Penerapan berbahasa Indonesia yang baik dan benar mempermudah
peserta didik dalam proses belajar mengajar.
2) Membuat peserta didik tidak merasa kaku dalam hal berbicara dan
berkomunikasi pada proses pembelajaran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Pengertian Peran
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “peran adalah usaha, akal,
ikhtiar, (untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan
keluar, dsb), atau syarat untuk menyampaikan suatu maksud atau upaya juga
diartikan sebagai usaha untuk melakukan suat hal atau kegiatan yang
bertujuanperoleh hasil yang lebih baik.
Menurut Widyastuti (2016:3) peran merupakan usaha atau ikhtiar yang
dilakukan untuk mencapai suatu maksud atau sasaran dalam memecahkan
masalah suatu persoalan. Dengan adanya peran akan terjadi perubahan. Peran
tersebut dilaksanakan secara berkesinambungan hingga suatu persoalan dapat
terpecahkan atau dapat mencapai sasaran yang diharapkan. Dengan peran
tersebut diharapkan berbagai kendala yang menghambat suatu tujuan dapat
diatasi.
Menurut Fauziah. N. (2015:47) peran adalah aspek yang dinamis dalam
kedudukan (status) terhadap sesuatu. Apabila seseorang melakukan hak dan
kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu
upaya”. Peran dijelaskan sebagai usaha (syarat) suatu cara, juga dapat
dimaksud sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis, terencana
dan terarah untuk menjaga sesuatu hal agar tidak meluas atau timbul.
8
9
Pengertian lain peran adalah usaha atau ikhtiar yang dilakukan guru
untuk mencapai suatu maksud, memecahkan persoalan, mencari jalan keluar
dan sebagainya. Jadi yang di maksud peran disini adalah usaha atau ikhtiar
seorang guru dalam membiasakan penggunaan bahasa Indonesia oleh peserta
didik di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal
Kabupaten Bungo.
Kesimpulan peran guru di sini, lebih ditekankan pada peran dalam
meningkatkan kesadaran peserta didik dalam penggunaan bahasa Indonesia.
Peran mendasar yang bisa dilakukan dalam mengaktifkan peserta didik yaitu
memberikan pemahaman yang tepat tentang pentingnya bahasa Indonesia pada
peserta didik. Disamping memberikan pemahaman tentang pentingnya bahasa
Indonesia, upaya yang dilakuan selanjutnya yaitu memulai dan melatih peserta
didik untuk disiplin dalam menggunakan bahasa Indonesia di setiap
percakapan. Hal ini dilakukan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa
Nasional Bangsa Indonesia.
2. Hakikat Guru
a. Pengertian Guru
Menurut Samsul Kurniawan (2012:37) Guru adalah orang dewasa
yang bertanggung jawab memberikan bimbingan kepada peserta didik
dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai
kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dibumi,
sebagai makhluksosial, dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
10
dan memiliki pengetahuan untuk disampaikan serta diajarkan kepada
peserta didik.
Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 bab I pasal I
ayat 6 menjelaskan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai
dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan. Adapun pada bab XI pasal 39 dinyatakan bahwa pendidik
merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbing dan pelatih, serta melakukan penelitian dan
pengabdian kepada masyarakat, terutama pada perguruan tinggi Undang-
undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta:
Departemen Agama RI, (2011:16).
Berdasarkan Undang-undang No 14 tahun 2005 tentang guru dan
dosen, disebutkan bahwa “Guru adalah pendidik professional dengan
tugas uatama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan menevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah
Undang-undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan. Jakarta:
Departemen Agama RI, (2011:125).
Menurut Miftahul Ulum (2017:79) guru adalah orang yang kerjanya
mengajar atau memberikan pelajaran di sekolah/kelas. Guru juga bukan
11
hanya menyampaikan materi akan tetapi guru mengawasi perkembangan
peserta didik. Secara lebih khusus lagi dijelaskan bahwa guru adalah orang
yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ikut
bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai kedawasaan
masing- masing.
Menurut Hawi Akmal (2013:9) Guru adalah semua orang yang
berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan peserta didik, baik
secara individual ataupun klasikal, baik disekolah maupun luar sekolah.
Dari pengertian ini dapat diketahui bahwa guru dalam melaksanakan
pendidikan baik dilingkungan formal dan non formal di tuntuk untuk
mendidik dan mengajar, karena keduanya mempunyai peranan yang
penting dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan ideal
pendidikan.
Menurut Ramayulis (2015:136) pendidik dalam arti sempit adalah
orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk dijadikan guru dan
[Link] jenis pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan
dalam waktu relatif lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil
menerapkannya dilapangan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat di pahami bahwa guru adalah
orang yang kerjanya mengajar atau memberikan pelajaran di
sekolah/kelas. Guru jua bukan hanya menyampaikan materi akan tetapi
guru mengawasi perkembangan peserta didik. Secara lebih khusus lagi
dijelaskan bahwa guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan
12
dan pengajaran yang ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak
mencapai kedawasaan masing- masing, guru adalah semua orang yang
berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid, baik secara
individual ataupun klasikal, baik disekolah maupun luar sekolah.
b. Tugas Dan Tanggung Jawab Guru
Menurut Nowan Ady Wiyani (2013:145) Guru bahasa Indonesia
merupakan seseorang yang berprofesi sebagai pengajar dan pendidik.
Dalam mendidik peserta didiknya, sudah pasti tidak terlepas dari tugas
dang tanggung jawabnya sebagai guru. Secara umum, tugas yang harus
dilaksanakan oleh seorang pendidik adalah mengajak manusia untuk
tunduk dan patuh pada hukum Allah, dengan harapan agar memperoleh
keselamatan dunia dan akhirat.
Menurut Heru juabdin (2015:99) terdapat tiga tugas dan tanggung
jawab seorang pendidik, yaitu guru sebagai pengajar, guru sebagai
pembimbing, dan guru sebagai administrator kelas. Ketiga tugas guru
tersebut merupakan tugas pokok profesi seorang guru. Guru sebagai
pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan
melaksanakan pengajaran. Dalam tugas ini, guru dituntut memiliki
seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis, di samping menguasai
ilmu atau materi yang diajarkan. Guru sebagai pembimbing memberi
tekanan kepada tugas dan memberi bantuan kepada peserta didik dalam
pemecahan masalah yang dihadapi. Sedangkan tugas guru dalam
13
administrator kelas pada hakikatnya merupakan jalinan keterlaksanaan
pada umumnya.
Pendapat lain mengemukakan bahwa tugas seorang pendidik dalam
pendidikan dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: (1) Sebagai pengajar
(instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran dan
melaksanakan program yang telah disusun serta melaksanakan penilaian
setelah program dilakukan. (2) Sebagai pendidik (educator) yang
mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian.
Guru juga harus menjadi prbadi yang dewasa terlebih dahulu, dan
menerapkannya pada peserta didik. (3) Sebagai pemimpin (managerial)
yang memimpin, guru harus mampu mengendalikan diri sendiri, peserta
didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang
menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian,
pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan
Juabdin (2015:145).
Guru adalah orang yang mengajar atau memberikan pelajaran di
sekolah (kelas). Secara lebih khusus lagi, ia mengatakan bahwa guru
berarti orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang
ikut bertanggung jawab dalam membantu anak-anak mencapai
kedewasaan masing-masing. Artinya, guru tidak hanya memberi materi di
depan kelas, tetapi juga harus aktif dan berjiwa kreatif dalam mengarahkan
perkembangan murid Nawawi (2017:3). Guru (pendidik) ialah siapa saja
yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik baik dari segi
14
potensi kognitif, afektif, maupun potensi psikomotorik. Tugas guru dalam
pandangan islam ialah mendidik. Mendidik merupakan tugas yang amat
luas. Sebagian dilakukan dengan cara mengajar, sebagian ada yang
dilakukan dengan memberikan dorongan, memberi contoh (suri tauladan),
menghukum, dan lain-lain Tafsir (2014:4).
Kesimpulan pendapat tersebut menyinggung kembali bahwasanya
tugas seorang pendidik tidak hanya mendidik, tetapi juga merancang dalam
proses pengajaran dan memberi arahan dengan cara mencontohkan
berperilaku yang baik.
c. Fungsi Guru
Pembentukan kemampuan peserta didik disekolah dipengaruhi oleh
proses belajar yang ditempuhnya. Proses belajar akan terbentuk
berdasarkan pandangan dan pemahaman guru tentang karakteristik siswa
dan hakekat belajar. Untuk menciptakan proses belajar yang efektif, hal
yang harus dipahami guru adalah fungsi dan peranannya dalam kegiatan
belajar mengajar. proses belajar yang terjadi tergantung pada pandangan
guru terhadap makna belajar yang akan mempengaruhi aktivitas siswa-
siswanya. Dengan demikian, proses belajar perlu disesuaikan dengan
tingkat perkembangan peserta didik. Untuk mendukung hal tersebut,
diperlukan pemahaman para guru mengenai karakteristik siswa dan proses
pembelajarannya, khususnya di sekolah dasar Nowan Ady Widani
(2013:145). Bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang tidak
disenangi dan membosankan bagi anak sekolah dasar kelas tinggi sebab
15
tingkat kesulitan materi yang di ajaran bertambah banyak. Padahal mata
pelajaran ini merupakan salah satu mata pelajaran yang menentukan
seorang siswa naik kelas atau tidak. Penyebabnya macam-macam, materi
pelajaran yang kaidah-kaidah tata bahasa yang harus dihafalkan atau terlalu
gramatikal-sentris, cara mengajar yang kurang bervariasi dan terlalu
didominasi guru. Guru yang baik harus menguasai bahan pelajaran yang
ditugaskan kepadanya dan tiknik-tiknik mengajar yang menarik dan dapat
mengunggah minat dan perhatian siswa, guru dituntut dapat menguasai
tidak hanya pengetahuan bahasa tetapi juga keterampilan berbahasa
Sumardi Muljanto (2012:206).
Guru merupakan faktor yang penting dalam mempermudah proses
belajar mengajar. Guru yang baik, pada umumnya selalu berusaha untuk
menggunakan metode mengajar yang paling efektif, dan memakai
alat/media yang terbaik. Apa lagi guru tersebut mengajar di sekolah
[Link] guru di tuntut sekreatif dan seaktif mungkin dalam
menyampaikan materi terutama di bidang mata pelajaran Bahasa
Indonesia.
Dari penjelasan diatas dapat di ketahuai bahwasanya fungsi guru
Bahasa Indonesia adalah sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,
fasilator, nara sumber dan pemberi informasi Subyakto Utami (2013:5).
Guru sebagai pelaku utama dalam implementasi atau penerapan
program pendidikan disekolah memiliki peranan yang sangat strategis
dalam mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dalam hal ini guru
16
dipandang sebagai faktor deteminan terhadap pencapaian mutu prestasi
belajar peserta didik. Guru mempunyai tanggungjawab untuk mengabdi
bukan semata-mata karna gaji saja. Mengingat peranannya yang begitu
penting, maka guru dituntut untuk memiliki pemahaman dan kemampuan
secara komprehensef tentang kompetensinya sebagai pendidik, yang
meliputi kinerja, penguasaan landasan professional/akademik, penguasaan
materi akademik, penguasaan keterampilan/proses kerja, penguasaan
penyesuaian interaksional dan kepribadian Yusuf Syamsu (2014:139).
d. Peran Guru
Guru Bahasa dan sastra Indonesia tentulah harus menguasai dengan
benar bidang ilmu sastra. Dalam bidang ini guru haruslah benar-benar
menguasai tujuan pembelajaran, bahan ajar, metodelogi pembelajaran,
sistem evaluasi, pengelolaan kelas, serta media dan sumber belajar bahasa
dan sastra Indonesia. Tanpa penguasaan seluruh dimensi dalam bidang
ini, guru tidak akan secara optimal melaksanakan pembelajaran bahasa.
Dengan demikian harapan mewujudkan pembelajaran Bahasa Indonesia
yang harmonis, bermutu, dan bermartabat tidak akan tercapai Abidin
Yunus (2012:6).
Menurut Mohamad Surya (2014:192) mengemukakan beberapa
peran guru disekolah, sebagai berikut: (1) Suri teladan dalam sikap,
ucapan tingkah laku yang dewasa, baik mental maupun sepiritual. (2)
Director of learning, pemberi arah dalam proses perubahan tingkah laku si
peserta didik. (3) Inovator, penyebar dan pelaksanaan idea-idea baru demi
17
peningkatan mutu pendidikan/pengajaran. (4) Motivator, penggali,
pemupuk, pengembang motivasi, mengapa ana-anak didik itu harus belajar
dengan giat. (5) Conductor of learning, guru seoalah-olah seoran dirigent
suatu orkes, yang dimainkan oleh peserta didiknya. (6) Manager of
learning, dalam hal ini tugas guru selain mengelolah kelas, juga
melakukan pengawasan peserta didiknya, atas apa yang dilakukan peserta
didik.
Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi
pendidikan, lebih jauh guru berperan sebagai :(1) Pengambil inisiatif,
pengarah, penilai dan penilai aktivitas-aktivitas pendidikan. (2) Wakil
masyarakat disekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan
kepentingan masyarakat dalam pendidikan. (3) Seorang pakar dalam
bidangnya, yaitu ia menguasai materi (bahan ajar) yang akan disampaikan
serta yang harus guru ajarkannya pada peserta didik. (4) Penegak disiplin,
yaitu guru harus menjaga agar siswa-siswamelaksanakan disiplin.
Pendapat lain mengenai peran guru menurut Utari. L., Kurniawan. K
(2020:75) yaitu : (1) Guru sebagai pendidik Sebagai seorang pendidik guru
harus memiliki cakupan ilmu yang cukup luas. Guru merupakan pendidik
yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan
lingkungannya. Oleh karena itu,guru harus memiliki standar kualitas
tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.
Dalam kaitannya dengan rasa tanggung jawab seorang guru harus
mengetahui serta memahami nilai, norma moral, dan sosial, serta berusaha
18
berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut. (2) Guru
sebagai pengajar Guru dapat di ibaratkan sebagai pembimbing perjalanan,
yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya bertanggung jawab
atas kelancaran perjalanan itu. Dalam hal ini, istilah perjalanan tidak
hanya menyangkut fisik tetapi juga perjalanan mental, emosional,
kreatifitas, moral dan spiritual yang lebih dalam dan kompleks. (3)
Kegiatan belajar peserta didik dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti
motivasi, kematangan, hubungan peserta didik dengan guru,kemampuan
verbal, tingkat kebebasan, rasa aman dan keterampilan guru dalam
berkomunikasi. Jika faktor-faktor di atas dipenuhi, maka melalui
pembelajaran peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru harus berusaha
membuat sesuatu menjadi jelas bagi peserta didik dan terampil dalam
memecahkan masalah dan mengarahkan peserta didiknya. (4) Guru sebagai
model teladan Model dan teladan, seorang guru dalam hal bertutur kata,
bersikap, berpakaian, penampilan gerak-gerik dan semua perilaku akan
diperhatikan oleh peserta didik. Oleh karena itu guru sebagai model sangat
penting dalam rangka pembentukan akhlak bagi siswanya. (5) Guru sebagai
evaluator evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang
paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan,
serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan
konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi
penilaian. Teknik apapun yang dipilih, dalam penilaian harus dilakukan
19
dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan,
pelaksanaan dan tindak lanjut Penilaian harus adil dan objektif.
Kesimpulan Berdasarkan pendapat di atas dapat dipahami bahwa
peranan guru tidak hanya sebagai pengajar dan pendidik di sekolah, guru
juga memiliki peranan di dalam keluarga dan juga dalam masyarakat.
Guru yang baik adalah guru yang mampu memainkan peranannya dengan
baik. Seorang guru harus selalu menampilkan perilaku yang baik, karena
guru merupakan suri tauladan bagi masyarakat luas terutama bagi peserta
didiknya, ketika berperilaku menyimpang dari ajaran Islam, maka akan
merusak citranya sebagai guru yang dijadikan sebagai contoh dan akan
menjadi sorotan bagi semua orang. Seorang guru harus menjadi suri
tauladan bagi siswa-siswanya, guru hendaknya memberikan contoh yang
baik bagi siswa. Begitu mulianya seorang guru yang dijadikan suri teladan.
3. Pembiasaan
a. Pengertian Pembiasaan
Menurut Muhammad Noer (2013:118) Pembiasaan merupakan
kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dalam kehidupan sehari-hari
anak sehingga menjadi kebiasaan yang baik. Pembiasaan ini meliputi aspek
perkembangan moral, nilai-nilai agama, akhlak, pengembangan sosio
emosional dan kemandirian. Pembiasaan positif yang sejak dini sangat
memberikan pengaruh positif pula pada masa yang akan datang.
Novan Ardy (2014:195) mengemukakan bahwa pembiasaan dinilai
sangat efektif jika diterapkan terhadap anak usia dini. Hal ini dikarenakan
20
anak usia dini memiliki rekaman ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian
yang belum matang, sehingga mereka mudah diatur dengan berbagai
kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Pembiasaan yang dilakukan
sejak dini akan membawa kegemaran dan kebiasaan tersebut menjadi
semacam adat kebiasaan sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari
kepribadiannya.
Menurut Sapendi (2015:27) pembiasaan merupakan suatu kegiatan
untuk melakukan hal-hal yang sama, berulang-ulang secara sungguh-
sungguuh dengan tujuan memperkuat atau menyempurnakan suatu
keterampilan agar menjadi terbiasa. Dengan kata lain pembiasaan
merupakan cara mendidik anak dengan penanaman proses kebiasaan.
Menurut Nurul Ihsani (2018:50) pembiasaan dapat diartikan sebagai
sebuah metode dalam pendidikan berupa proses penanaman kebiasaan. Inti
dari pembiasaan ialah pengulangan. Jika guru setiap masuk kelas
mengucapkan salam, ini dapat diartikan sebagai usaha membiasakan.
Metode pembiasaan sebagai bentuk pendidikan yang dilakukan secara
bertahap dan menjadikan pembiasaan itu sebagai teknik pendidikan yang
dilakukan dengan membiasakan sifat-sifat baik sebagai rutinitas. Hasil
yang dilakukan dari pembiasaan adalah terciptanya suatu kebiasaan anak
didiknya.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan
diadakannya pembiasaan di sekolah adalah untuk melatih serta
membiasakan peserta didik konsisten dengan sebuah tujuan, sehingga
21
benar-benar tertanam pada diri anak dan akhirnya menjadi kebiasaan yang
sulit ditinggalkan dikemudian hari.
b. Bentuk-bentuk pembiasaan
Bentuk-bentuk pembiasaan (1) Kegiatan rutin, kegiatan yang
dilakukan oleh sekolah setiap hari, misalnya berkomunikasi di lingkungan
sekolah wajib menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (2)
Kegiatan spontan, kegiatan yang dilakukan secara spontan misalnya
meminta tolong dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (3)
Pemberian teladan, kegiatan yang dilakukan dengan memberi
teladan/contoh yang baik kepada peserta didik, misalnya berkomunikasi
sesame guru menggunakan bahasa Indonesia yang baik, benar. (4)
Kegiatan terprogram, yaitu kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap
sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Menurut Muhammad Noer (2013:119) Dalam kehidupan sehari-
hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting karena banyak
kita lihat orang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan
semata-mata. Di sekolah pembiasaan dapat dilakukan secara terjadwal atau
tidak terjadwal baik di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan pembiasaan
di sekolah terdiri atas kegiatan rutin kegiatan spontan, kegiatan teladan,
dan kegiatanter program.
c. Langkah-langkah dalam pembiasaan
Langkah-langkah pembiasaan yaitu pendidik hendaknya sesekali
memberikan motivasi dengan kata-kata yang baik dan sesekali dengan
22
petunjuk-petunjuk. (1) Pembiasaan hendaknya dimulai sejak awal sebelum
terlambat, artinya pembiasaan harus segera dilaksanakan sebelum anak
mempunyai kebiasaan yang berkomunikasi menggunakan bahasa daerah. (2)
Pembiasaan itu hendaknya dilakukan secara terus menerus (berulang-ulang)
dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang
otomatis atau menjadi bagian dari karakter anak. (3) Pembiasaan hendaknya
diawasi secara ketat, konsisten, dan tegas. Jangan memberi kesempatan
kepada anak untuk melanggar pembiasaan yang telah di tetapkan. (4)
Pembiasaan yang pada mulanya hanya bersifat mekanistik, akan tetapi
pendidik harus mengupayakan dan mendorong peserta didik untuk
melakukan pembiasaan berdasarkan kata hati atau kesadaran peserta didik
sendiri Muhammad Noer (2012:120).
Kesimpulan belajar kebiasaan adalah proses pembentukan
kebiasaan-kebiasaan baru atau perbaikan kebiasaan- kebiasaan yang telah
ada. Belajar kebiasaan, selain dengan menggunakan perintah suri teladan
dan pengalaman khusus juga menggunakan hukuman dan ganjaran.
Tujuannya agar siswa memperoleh kebiasaan-kebiasaan yang baru yang
lebih tepat dan efektif.
4. Hakikat Bahasa Indonesia
a. Pengertian Bahasa Indonesia
Wibowo (2011:11) Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik
Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia.33 Bahasa Indonesia
diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
23
tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi.
Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisisebagai bahasa kerja.
Subroto (2012:97) Bahasa Indonesia adalah suatu varian bahasa
Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau dari abad ke-19.
Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya
sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai
proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia"
diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk
menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu
tetap [Link] ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat
ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun
Semenanjung Malaya.
Mahayana, Maman S (2021:3) Bahasa Indonesia merupakan bahasa
yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui
penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.
Meskipun dipahami dan dituturkan oleh lebih dari 90% warga
Indonesia, Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan
penuturnya. Sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari
748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa
Indonesia kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) dan / atau
mencampuradukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa ibunya.
Meskipun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat luas di perguruan-
perguruan, di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi,
24
dan berbagai forum publik lainnya,sehingga dapatlah dikatakan bahwa
Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia. Fonologi dan
tata bahasa Bahasa Indonesia dianggap relatif mudah. Dasar-dasar yang
penting untuk komunikasi dasar dapat dipelajari hanya dalam kurun waktu
beberapa minggu Mahayan (2009:14).
Selanjutnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Indonesia
banyak dipengaruhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti Marah Rusli,
Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka,
Roestam Effendi, Idrus, dan Chairil Anwar. Sastrawan-sastrawan di atas
banyak memberikan pengaruh serta kontribusi yang membangun dan
banyak mengisi dan menambah perbendaharaan kata, sintaksis, maupun
morfologi bahasa Indonesia Kridalaksana (2011:75).
b. Tujuan Bahasa Indonesia
Berdasarkan Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) SD/MI mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : (1)
Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara maupun tulis. (2) Menghargai dan bangga
menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
negara. (3) Memahami Bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan
tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. (4) Menggunakan Bahasa
Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial. (5) Menikmati dan memanfaatkan
karya sastra untuk memperhalus budi pekerti,, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa. (6) Mengahrgai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
25
intelektual manusia Indonesia Peraturan Menteri Pendidikan Nasinal
(PERMENDIKNAS) Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
c. Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan
berdasarkan kebutuhan pemakainya Isah Cahyani (2013:36).
1) Alat ekspresi diri
Pada awalnya, seseorang (anak-anak) berbahasa untuk
mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya dan pikirannya pada
sasaran yang tetap, yakni ibu bapaknya atau masyarakat di sekitar tempat
tinggalnya. Dalam perkembangannya, tidak lagi menggunakan bahasa
untuk mengekspresikan kehendaknya tetapi untuk berkomunikasi dengan
lingkungan yang lebih luas di sekitarnya. Setelah dewasa, kita
menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk
berkomunikasi.
2) Alat komunikasi
Ketika kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, maksud
dan tujuan kita yaitu ingin dipahami orang lain. Kita menyampaikan
gagasan, fikiran, pendapat, harapan, perasaan, dan lain-lain yang dapat
diterima orang lain. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat
komunikasi sekaligus merupakan alat untuk menunjukan identitas diri.
Melalui bahasa kita
3.) Alat integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa Indonesia mampu mempersatukan berates-ratus kelompok
etnis di tanah air kita. Sebagai alat integritas bangsa, ada beberapa sifat
26
potensial yang dimiliki bahasa Indonesia (1) Bahasa Indonesia terbukti
dapat mempersatukan bangsa Indonesia yang multicultural, (2) bahasa
Indonesia bersifat demokratis dan egaliter, (3) bahasa Indonesia bersifat
terbuka/transparan, dan (4) bahasa Indonesia sudah mengglobal.
4.) Alat Kontrol Sosial
Sebagai alat kontrol sosial, bahasa Indonesia sangat efektif.
Kontrol sosial dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada
masyarakat pemakainya. Berbagai penerangan, informasi, atau
pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran di sekolah
sampai universitas, buku-buku intruksi, perundang- undangan serta
peraturan pemerintah lainnya adalah salah satu contoh penggunaan
bahasa Indonesia sebagai alat kontrol sosial. Ceramah agama, dakwah,
wujud pembinaan rohani, sebagai peredam rasa emosi dan marah adalah
contoh bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat kontrol .
d. Bahasa Indonesia Masuk Komunikasi
Menurut Badudu, J. S.(2012:103) Bahasa Indonesia yang baik dan
benar adalah bahasa Indonesia yang memenuhi kaidah- kaidah/ketentuan-
ketentuan yang sesuai dengan tata bahasa yang ejaan yang disempurnakan
(EYD) dan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa Indonesia harus
dipelajari karna merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.
Stewart L. (2012:76) komunikasi merupakan proses pembentukan
makna diantara dua orang atau lebih. Komunikasi tidak hanya sebatas
27
pada konseptualisasi satu arah, melainkan juga dapat sebagai suatu proses
interaksi (dua arah), atau transaksi.
E.T. Hall, (2010:25) komunikasi adalah budaya. Bahasa, gesture,
dan pakaian atau aksesoris yang digunakan oleh seseorang bisa menjadi
refleksi dari budaya yang dimiliki orang tersebut. Disisi lain, adanya
komunikasi yang baik antar satu generasi dengan generasi lainnya akan
mempermudah melestarikan budaya suatu kelompok.
Deddy Mulyana (2012:67) telah memberikan gambaran yang
beragam tentang definisi komunikasi. John R. Wenburg dan William
[Link] juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken menjelaskan
setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni
komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi, dan
komunikasi sebagai transaksi.
Devito (2019:3) Komunikasi adalah aktivitas yang dilakukan oleh
seseorang atau lebih, berupa aktivitas menyampaikan dan menerima pesan,
yang mengalami distorsi karena adanya gangguan, dalam suatu konteks,
yang menimbulkan efek dan kesempatan untuk arus balik.
Menurut Effendy (2022:7) ada 4 kendala dalam komunikasi yaitu:
1. Gangguan
Ada 2 jenis gangguan dalam berkomunikasi. Gangguan mekanik, yaitu
gangguan yang disebabkan oleh saluran komunikasi atau kegaduhan yang
bersifat fisik. Gangguan semantik, yaitu gangguan yang bersangkutan
dengan pesan komunikasi yang pengertiannya menjadi rusak.
2. Kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau
menghayati suatu pesan.
28
3. Motivasi Terpendam akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang
sesuai benar dengan keinginan, kebutuhan, dan kekurangannya.
4. Prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi
suatu kegiatan komunikasi oleh karena orang yang mempunyai
prasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang
komunikator yang hendak melancarkan komunikasi.
6. Kendala
Kendala adalah suatu hambatan yang dialami seseorang dalam
pelaksanaan kegiatan tersebut yang membuat hasil kegiatan tersebut tidak
sesuai dengan tujuannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia “kendala bearti
halangan, rintangan, faktor atau keadaan yang membatasi, menghalangi atau
mencegah pencapaian sasaran atau kekuatan yang memaksa pembatalan
pelaksaan Nur Adilah (2021:2).
Kendala disekolah dialami guru dalam membiasakan peserta didik
menggunakan bahasa Indonesia di Sekolah yaitu kebiasaan siswa yang
menggunakan bahasa daerah di lingkungan rumah dan tempat bermainnya,
sehingga kebiasaan siswa tersebut terbawa ke lingkungan sekolah yang
membuat peserta didik tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia sebagai
alat komunikasi, kurangnya media pembelajaran, penggunaan bahasa
Indonesia yang jarang dipergunakan oleh siswa dan penguasaan kosa kata
yang masih sedikit. Hal seperti perlu ditangani oleh guru agar peserta didik
dapat belajar bahasa Indonesia dengan efektif, sehingga bahasa anak bisa
berkembang.
Kesimpulan dapat diuraikan bahwa kendala adalah suatu halangan atau
hambatan yang mencegah suatu pencapaian sasaran yang berdampak
29
negative. Kendala sering kali terjadi di dalam dunia pendidikan, terutama
kendala dalam berkomunikasi dan pembelajaran.
B. Penelitian yang relevan
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan
penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam
mengkaji penelitian yang dilakukan. Penulis mengangkat beberapa penelitian
sebagai referensi dalam memperkaya bahan kajian pada penelitian penulis.
Berikut merupakan penelitian terdahulu berupa beberapa artikel terkait dengan
penelitian yang dilakukan penulis.
1. Nufitriani Kartika Dewi pada tahun 2019 jurnal dengan judul
“Pembiasaan Penggunaan Bahasa Jawa pada Anak Usia Dini di PAUD
Al-Falah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang”.
Permasalahan yang dibahas pada penelitian ini adalah penggunaan bahasa
Jawa untuk anak usia dini. Jenis data yang diambil dalam penelitian
ini adalah data bahasa lisan. Data ini berupa pernyatan- pernyataan atau
kalimat yang menunjukkan wujud pembiasaan Bahasa Jawa anak dalam
interaksi belajar mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah
menggunakan penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data
yang digunakan adalah wawancara dan observasi. Persamaan dari
penelitian Nufitriani Kartika Dewi (2019) dan penelitian penulis yaitu
upaya guru dalam membiasakan bahasa bagi anak. Perbedaan penelitian
Nufitriani Kartika Dewi ini membahas tentang penggunaan bahasa
30
Jawauntuk anak usia dini saja, sedangkan penulis membahas tentang
upaya guru dalam pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia.
2. Maini Sundari (2018), dalam skripsi yang berjudul “Upaya Guru dalam
Meningkatkan Bahasa Anak di Play Group Islam Bina Balita Wayhalim
Bandar Lampung”. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini
adalah belum berkembangnya bahasa anak di Play Group Islam Bina
Balita yang sesuai dengan harapan dan belum optimalnya metode yang
digunakan guru dalam mendorong capaian pekembangan bahasa anak.
Hasil dari penelitian ini adalah upaya guru dalam meningkatkan
kemampuan bahasa anak di PG Islam Bina Balita adalah merangsang
minat anak untuk berbicara, latihan menggabungkan bunyi bahasa,
memperkaya perbendaharaan kata, mengenalkan kalimat melalui cerita,
nyanyian, dan mengenalkan lambing tulisan. Metode penelitian yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah wawancara dan observasi. Persamaan dari penelitian
Maini Sundari (2018) dan penelitian penulis yaitu upaya guru dalam
meningkatkan kemampuan bahasa anak. Maini Sundari meneliti khusus
mengenai upaya guru dalam meningkatkan bahasa pada anak, berbeda
dengan penelitian penulis yang membahas tentang upaya guru dalam
membiaskan menggunakan bahasa Indonesia.
3. Lidya Febriani (2019), dalam skripsi yang berjudul “Upaya Guru
dalam Mengatasi Penggunaan Bahasa Ibu Pada Pembelajaran Bahasa
Indonesia Siswa di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 72 Kaur”.Permasalahan
31
yang dibahas pada penelitian ini adalah penggunaan bahasa ibu pada
pembelajaran bahasa Indonesia.. Jenis data yang diambil dalam penelitian
ini adalah data bahasa ibu dan pembelajaran bahasa Indonesia. Data ini
berupa pernyatan-pernyataan atau kalimat yang menunjukkan wujud
mengatasi penggunaan bahasa ibu pada pembelajaran bahasa Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan penelitian
deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan adalah
wawancara, observasi, dan dokumentasi. Persamaan dari penelitian
Lidya Febriani (2019) dan penelitian penulis yaitu upaya guru dalam
menerapkan dan membiasakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,
perbedaan penelitian Lidya Febriani ini membahas tentang mengatasi
penggunaan bahasa ibu pada pembelajaran bahasa Indonesia, sedangkan
penulis membahas tentang upaya guru dalam pembiasaan penggunaan
bahasa Indonesia. Jadi sama-sama membahas tmengenai pentingnya
bahasa Indonesia.
4. Kartika Dewi pada tahun 2019 jurnal dengan judul Pembiasaan
Penggunaan Bahasa Jawa pada Anak Usia Dini di PAUD Al-Falah
Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang. Permasalahan yang
dibahas pada penelitian ini adalah penggunaan bahasa Jawa untuk anak
usia dini. Jenis data yang diambil dalam penelitian ini adalah data bahasa
lisan. Data ini berupa pernyatan-pernyataan atau kalimat yang
menunjukkan wujud pembiasaan Bahasa Jawa anak dalam interaksi belajar
mengajar. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan
32
penelitian deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah wawancara dan observasi. Dari penelitian Nufitriani Kartika Dewi
(2019) ini hanya membahas tentang penggunaan bahasa Jawa untuk anak
usia dini saja, sedangkan penulis membahas tentang keterampilan anak
usia dini dalam berbahasa Jawa dan bahasa Indonesia.
C. Kerangka Berfikir
Menurut Wiratna Sujarweni (2014:60) Kerangka pemikiran merupakan
penjelasan sementara terhadap gejala yang menjadi objek permasalahan.
Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis perlu
dijelaskan hubungan antara variabel indevenden dan dependen.
Kerangka berpikir penelitian ini yaitu :
1. Peran Guru adalah usaha yang dilakukan guru agar proses belajar
mengajar dapat berjalan dengan baik.
2. Membiasakan adalah upaya seorang guru dalam membiasakan siswa
untuk melakukan suatu hal yang dapat merubah kebiasaannya
terdahulu.
3. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang
memenuhi kaidah-kaidah/ketentuan- ketentuan yang sesuai dengan
tata bahasa yang ejaan yang disempurnakan (EYD) dan kamus besar
bahasa Indonesia (KBBI). Menggunakan Bahasa Indonesia adalah
seseorang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang
digunakan dalam berkomunikasi dengan masyarakat disekitarnya.
33
Berikut bagan kerangka berpikir Upaya Guru dalam
Membiasakan Siswa Menggunakan Bahasa Indonesia di SD
Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal
Kabupaten Bungo.
[Link] didik masih kesulitan menggunakan bahasa
indonesia dalam proses pembelajaran.
[Link] lebih cenderung menggunakan bahasa daerah sehingga
peserta didik kurang terbiasa berbahasa indonesia.
[Link] kurangnya pembiasaan berbahasa indonesia yang
baik dan benar.
lingkungan SDN 37/II Pasar Lubuk Landai
1. Suri teladan dalam sikap 4. Monivator
2. Diretor of learning 5. Conductor of learning
3. Inovator 6. Manager of leaning
4.
Kendala dalam penelitian ini sering kali terjadi di dalam
dunia Pendidikan adalah kendala dalam berkomunukasi dan
Pembelajaran.
Siswa Terbiasa Menggunakan
Bahasa Indonesia di sekolah
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan
metode kualitatif. Dalam menyelesaikan penelitian ini, peneliti menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif merupakan
jenis, desain, atau rancangan penelitian yang biasa digunakan untuk meneliti
objek penelitian yang alamiah atau dalam kondisi riil dan tidak disetting seperti
pada eksperimen. Deskriptif sendiri berarti hasil penelitian akan dideskripsikan
segamblang-gamblangnya berdasarkan penelitian yang telah dilakukan tanpa
menarik suatu kesimpulan berdasarkan hasil penelitiannya.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan maksud
untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian,
misalnya tingkah laku, cara pandang, motivasi, dan tindakan secara menyeluruh
dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu kejadian khusus yang alamiah.
Artinya pendekatan dalam penelitian initidak menggunakan angka.
Menurut Sugiyono (2014:1) metode penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah,
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai
instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna dari pada generalisasi. Penelitian ini yaitu penelitian yang
34
35
menjelaskan tentang Upaya guru dalam membiasakan siswa menggunakan
bahasa Indonesia di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan
Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo. Pendekatan penelitian yang digunakan
dalam penelitian adalah pendekatan deskriptif kualitatif, karena peneliti
menganalisis dan menggambarkan penelitian secara objektif dan mendetail
untuk mendapatkan hasil yang akurat terkait fokus penelitian ditujukan
pada Upaya guru dalam membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia
di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten
Bungo. bahasa Indonesia di SD Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan
Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo Hal ini meliputi pendeskripsian upaya guru
dalam membiasakan penggunaan bahasa Indonesia dan kendala yang dihadapi
guru dalam membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia di SD Negeri
37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
B. Sumber Data
Sumber data terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer adalah data yang diperoleh peneliti secara langsung (dari tangan
pertama), sementara data sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari
sumber yang sudah ada.
36
1. Data Primer
PROFIL SEKOLAH
Identitas Sekolah
Nama Sekolah SDN 037/II PASAR LUBUK LANDAI
NPSN -
Jenjang Pendidikan SD
Status Sekolah Negeri
Alamat Sekolah Pasar Lubuk Landai
SK Pendirian Sekolah 0
Tanggal SK Pendirian 1975-01-01
Status Kepemilikan Pemerintahan Pusat
Nomor Rekening 3001764496
Nama Bank Bank Jambi
Cabang KCP/Unit [Link]
Rekening Atas Nama DN BOS SDN 037/II PASAR LUBUK
LANDAI
MBS Ya
Nama Wajib Pajak Yulita
NPWP 001155928332000
No Telepon 081274472114
Sumber Listrik PLN
Daya Listrik 1300
37
2. Data Sekunder
Data sekunder yaitu kepala sekolah serta catatan dan dokumentasi
Sekolah Dasar Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah
Sepenggal Kabupaten Bungo berupa tujuan serta visi misi sekolah struktur
organisasi, sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, guru dan siswa
sekolah dan lain sebagianya. Data sekunder mengambil hal-hal yang
berkaitan tujuan penelitian, mengenai upaya yang guru lakukan serta
kendala yang dihadapi guru.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah meliputi observasi,
wawancara, dan dokumentasi sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat
dimengerti maknanya secara baik, apabila dilakukan interaksi dengan subjek
melalui wawancara mendalam dan diobservasi pada latar, dimana fenomena
tersebut berlangsung dan di samping itu untuk melengkapi data, diperlukan
dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis atau dengan subyek).
1. Observasi
Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan dengan cara melihat
atau mengamati langsung ketempat penelitian yaitu pada SD Negeri 37/II
Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo, untuk
mendapatkan data yang mudah diamati secara langsung seperti keadaan SD
Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten
Bungo, kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Guru berkaitan dengan
pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia, mengetahui peran guru dalam
38
meningkatkan keterampilan bahasa siswa melalui kegiatan litrasi. Di sini
peneliti ingin mengetahui peran apa yang guru lakukan untuk meningkatkan
keterampilan bahasa siswa. Maka guru adalah komponen utama dalam
mengajarkan keterampilan dan pembiasaan menggunakan bahasa Indonesia
di lingkungan sekolah. Observasi ini dilakukan pada tanggal 12 januari 2023.
2. Wawancara
Sugiono (2015:318) Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk
bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat
dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan
sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi
pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga
apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih
mendalam.
Dalam penelitian ini peneliti mengunakan wawancara sebagai alat
pengumpulan data secara langsung dengan guru dan siswa di SD Negeri
37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal Kabupaten Bungo.
Untuk memperoleh data yang lebih akurat peneliti akan mewawancarai salah
satu guru yang bernama ibu Nofiarti [Link] dan juga peserta didik, mengenai
masalah kemampuan bahasa indonesia peserta didik masih rendah, peserta
didik di kelas awal khususnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda,
minimnya perbendaharaan kata, penggunaan bahasa daerah di lingkungan
keluarga sehingga terbatasnya kemampuan peserta didik dalam memahami
39
konteks bahasa Indonesia dan masih banyak terbiasa menggunakan bahasa
daerah setempat bahkan sudah terbiasa menggunakan bahasa daerah.
3. Dokumentasi
Dokumen Sugiono (2015:326) merupakan catatan peristiwa yang sudah
berlalu. Dokumentasi bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya
catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), biografi, peraturan,
kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup,
sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni,
yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. studi dokumen
merupakann pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara
dalam penelitian kualitatif.
Hasil penelitian juga akan semakin kredibel apabila didukung oleh
foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada. Dengan teknik
ini, peneliti menggali data melalui catatan harian atau lapangan, foto- foto,
dokumen sekolah, dan lain-lain.
D. Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data secara kualitatif.
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, maka dilanjutkan dengan analisis
data. Hal ini dimaksudkan untuk mengiterpretasikan data dari hasil
penelitian. Untuk mengolah data yang terkumpul maka dalam penulisan
skripsi ini akan menggunakan metode yang sesuai dengan sifat dan jenis
datanya.
40
Sugiono (2015:252) Konsep analisis data dalam penelitian ini
menggunakan konsep yang dicetuskan oleh Miles dan huberman yaitu
analisis dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus
sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data
silakukan saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai
pengumpulan data dalam priode tertentu yaitu meliputi data reduction,
data display, dan conclusiondrawing/verification.
Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar berikut :
Gambar 3.1
Teknik Analisis Data Model Interaktif Miles dan Hubberman
Pengumpu Penyajian
lan Data
lan Data
Reduksi Kesimpulan /
Data Verification
Keterangan:
(1) Data Collection (koleksi data) Pengumpulan data observasi, wawancara,
serta dokumentasi yang peneliti butuhkan terkait dengan upaya guru dalam
membiasakan menggunakan bahasa Indonesia di serta faktor pendukung
dan penghambat guru dalam membiasakan menggunakan bahasa Indonesia
di SDN Negeri 37/II Pasar Lubuk Landai Kecamatan Tanah Sepenggal
41
(2) Kabupaten Bungo. (2) Data Reduction (reduksi data) Setelah mendapatkan
hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dibutuhkan, selanjutnya
peneliti memilih hal-hal penting yang diperlukan serta membuang yang
tidak perlu. (3) Data Display (penyajian data) Setelah data direduksi, maka
langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian
kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat,
bagan, hubungan antar kategori, (4) flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini
Miles and Huberman (1984) menyatakan “Yang paling sering digunakan
untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks
yang bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan memudahkan
untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya
berdasarkan apa yang telah difahami tersebut. Peneliti kemudian
memberikan penjelasan secara naratif mengenai esensi dari fenomena yang
diteliti dan mendapatkan makna pengalaman responden mengenai
fenomena tersebut. (5) Conclusion Drawing/verification langkah
selanjutnya dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman
adalah menarik kesimpulan dan verifikasi, dan akan berubah bila tidak
ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap
pengumpulan data berikutnya. Tetapi bila kesimpulan yang dikemukakan
pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat
peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang
dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.
42
Jadi, kesimpulan Menurut Sugiono (2011:247) dalam penelitian
kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan
sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan
bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih
bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada
dilapangan.
E. Teknik Keabsahan Data
Triangulasi merupakan penggunaan lebih dari satu metode untuk
digunakan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dan berbagai cara.
Dengan beberapa temuan yang berbeda diharapkan menghasilkan temuan
yang sama. Sehingga dapat dipastikan data yang diperoleh benar-benar terjadi
dilapangan, dan akan memperkuat data hasil penelitian yang dilakukan.
Menurut Sugiono (2017:309) Terdapat dua macam triangulasi yaitu:
1. Triangulasi Sumber
Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data yang dilakukan
dengan cara mengcek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
Sebagai contoh, untuk menguji kredibilitas data tentang gaya kepemimpinan
seseorang, maka pengumpulan dan pengujian data yang diperoleh dilakukan
kebawahan yang dipimpin, ke atasan yang menugasi, dan ke teman kerja
yang merupakan kelompok kerjasama.
43
2. Triangulasi Teknik
Tringulasi teknik berguna untuk menguji kredibilitas data yang
dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama namun
dengan cara atau teknik yang berbeda.
44
DAFTAR PUSTAKA
Abidin Yunus, Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter,akarta :
Refika Aditama, 2012), h. 6
Fauziah. N. (2015). Upaya Guru dalam Pengembangan Literasi Infomasi Siswa
pada Mata Pelajaran PAI. JURNAL EDUKASI: Jurnal Pendidikan
Agama Islam, 3(l). h. 47.
Gunawan, Pon, “Penerapan Strategi Aktivitas Menulis Terbimbing (SAMT)
Untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Pengumuman Siswa
Kelas VIII SMP Negeri 7 Rambah Rokan Hulu.” Jurnal PAJAR
(Pendidikan dan Pengajaran) 1.2 (2017), h. 223
Hawi Akmal, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam (JakartaHawi
Akmal, Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam
Heru Juabdin Sada. 2015. Pendidik Dalam Perspektif Al-Quran. Al- adzkiyyah:
Jurnal Pendidikan Islam, 6(1), h. 95-98)
Heru Juabdin Sada. 2015. Pendidik Dalam Perspektif Al-Quran…. H 99
Isah Cahyani. Pembelajaran Bahasa Indonesia. (Jakarta : Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam Departemen Agama Republik Indonesia, 2013).hal
36.
Lidya Febriani. 2019. Peran Guru dalam Mengatasi Penggunaan Bahasa Ibu
Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Di Kelas V Sekolah
Dasar Negeri 72 Kaur. Skripsi, Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Tadris Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Bengkulu.
Lisdwiana Kurniati. 2015. Bahasa Dalam Pembelajaran Anak Di sekolah.
Jurnal pesona volume , (1): 1-14
Mahayana, Maman S. (2009). “Perkembangan Bahasa Indonesia - Melayu di
Indonesia dalam Konteks System Pendidikan” (The Development Of
indonesian Malay Language In Indonesia In The Context Of The
Education System). Yhe Journal Of Afternative Education (dalam
45
Bahasa Indonesia). 14 (3): 21. Diakses pada tanggal 28 Desember
2021.
Maini Sundari, Skripsi “Peran Guru dalam Meningkatkan Bahasa Anak di Play
Group Islam Bina Balita Wayhalim Bandar Lampung. (Lampung:
UIN Raden Intan Lampung, 2018)
[Link] Salim & Samsul Kurniawan. Studi Ilmu Pendidikan Islam.
(Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2012). h. 137.
Mohamad Surya, Psikologi Guru Konsep dan Aplikasi(Bandung: Alfabeta,
2014), h. 192
Muhammad Noer Cholifudin Zuhri. “Studi Tentang Efektivitas Tadarus Al-
Qur’an dalam Pembinaan Akhlak di SMPN 8 Yogyakarta”. Cendekia,
Vol 11 NO 1 (Juni 2013), h. 118.
Nur Adilah. 2021. Peran Guru dalam Meningkatkan Keterampilan Bahasa
Siswa Melalui Kegiatan literasi di Kelas II SD Negeri 200508
Sihatang (Doctoral Dissertation, IAIN Padangsidimpuan).
Nufitriani Kartika Dewi, “Pembiasaan Penggunaan Bahasa Jawa pada Anak
Usia Dini di PAUD Al-Falah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten
Semarang”. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia
Anak Usia Dini. Vol 1 No. 2, Juli 2019.
Nowan Ady Wiyani. Konsep, Praktik, dan Strategi Membumikan pendidikan
Karakteristik Di SD. (Jakarta : AR-Ruzz Media, 2013). h. 145)
Novan Ardy Wiyani. Psikologi Perkembangan Anak Usia Dini. (Yogyakarta :
Gava Media, 2014). h.195.
Nurul Ihsani, et. al.. “Hubungan Metode Pembiasaan dalam Pembelajaran
dengan Disiplin Anak Usia Dini”. Jurnal-ilmiah Potensia, Vol 3 No 1
(2018). h. 50-51.
Nurchaili, “Membentuk Karakter Siswa melalui Keteladanan Guru,”urnal
Pendidikan dan Kebudayaan, 16 (2010), h. 44
Rahayu, Arum Putri. 2015. Menumbuhkan Bahasa Indonesia yang Baik dan
Benar dalam Pendidikan dan Pengajaran. Dalam Jurnal:
Paradigma,Volume 2, Nomor 1. h. 12
46
Ramayulis, Dasar-dasar Kependidikan Suatu pengantar Ilmu Pendidikan.
(Jakarta : Kalam Mulia, 2015). h. 135-136.
Sapendi. “Internalisasi Nilai-nilai Moral Agama Pada Anak Usia Dini”, At-
Turats, Vol 9 No 2 (Desember 2015). h. 27.)
Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods. (Bandung
: Alfabeta, 2017). h. 309.
Utari. L., Kurniawan. K. & Fathurrochman. I. (2020). Peran Guru Pendidikan
Agama Islam dalam Membina Akhlak Peserta Didik. JOEAI: Journal
of Education and Instruction. 3(1). h. 75.
Widiyastuti. H. (2016). Peran Guru dalam Menanamkan Akhlakul Karimah
(Studi Kasus di SD Negeri 1 Wonogiri Tahun Pelajaran
Wiratna Sujarweni. Metodologi Penelitian. (Yogyakarta : PT Pustaka Baru
Press, 2014), h. [Link], Memahami Penelitian Kualitatif.
(Bandung : Alfabeta, 2014), h. 1.
2015). Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana IAIN Surakarta.
Yusuf Syamsu dan Sughandi, perkembangan peserta didik, (Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada, 2014), h. 139.