0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan28 halaman

Tingkatan dan Cara Memperoleh Pengetahuan

Dokumen ini membahas konsep pengetahuan, termasuk definisi, tingkatan, cara memperoleh, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2018). Selain itu, juga dijelaskan tentang personal hygiene saat menstruasi, pentingnya menjaga kebersihan, dampak masalah hygiene, serta faktor-faktor yang mempengaruhi praktik hygiene individu. Pengetahuan dan praktik hygiene yang baik berkontribusi pada kesehatan fisik dan psikososial seseorang.

Diunggah oleh

LALU ADHEN
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan28 halaman

Tingkatan dan Cara Memperoleh Pengetahuan

Dokumen ini membahas konsep pengetahuan, termasuk definisi, tingkatan, cara memperoleh, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2018). Selain itu, juga dijelaskan tentang personal hygiene saat menstruasi, pentingnya menjaga kebersihan, dampak masalah hygiene, serta faktor-faktor yang mempengaruhi praktik hygiene individu. Pengetahuan dan praktik hygiene yang baik berkontribusi pada kesehatan fisik dan psikososial seseorang.

Diunggah oleh

LALU ADHEN
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

10

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengetahuan

2.2.1 Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah keseluruhan pikiran, gagasan, ide, konsep

dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala

isinya termasuk manusia dan isinya. (Notoatmodjo, 2018).

Pengetahuan juga merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi

setelah melakukan penginderaan terjadi melalui panca indera manusia

dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang di dasari

pengetahuan-pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang

sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo,

2018).

2.2.2 Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, 2018 tingkat Pengetahuan yang

dicakup dalam dominan kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan yaitu:

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali secara spesifik dari seluruh badan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh sebab itu tahu

merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Misalnya

dapat menyebutkan, mendefenisikan, menetapkan dan lain

sebagainya (Notoatmodjo, 2018)..

10
11

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar (Notoatmodjo,

2018).

3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang tidak dipelajari pada situasi atau kondisi rill

(sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode dan sebagainya dalam

konteks situasi yang lain (Notoatmodjo, 2018)..

4. Analisa (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampaun untuk menjabarkan

materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi

masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada

kaitan satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari

penggunaan kata kerja, dapat membedakan dan mengelompokkan

(Notoatmodjo, 2018).

5. Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjukkan suata kemampaun untuk menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada misalnya dapat

menyusun dan merencanakan dapat menyesuaikan dan sebagainya

terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada(Notoatmodjo,

2018).
12

6. Evaluasi (Evalution)

Evaluasi berkaitan dalam kemampuan untuk melakukan

penelitian terhadap suatau materi dan objek, pengukuran dan

pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menyertakan tentang isi materi yang ingin diulas dari subjek

penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin

disesuaiakan dengan tingkatan-tingkatan tersebut diatas

(Notoatmodjo, 2018).

2.2.3 Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2018), cara memperoleh pengetahuan

untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat

dikelompokkan menjadi dua yaitu:

1. Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan antara lain

meliputi :

Cara ini paling tradisional yang pernah digunakan manusia

untuk memperoleh pengetahuan yaitu melalui cara coba-coba.

Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya peradaban. Pada

waktu itu seseorang apabila menghadapi masalah, upaya

pemecahannya dengan cara coba-coba. Cara coba-coba ini

dilakukan dengan menggunakan kemungkinan memecahkan

masalah, apabila tidak berhasildicoba kemungkinan yang lain

sampa imasalah terselesaikan (Notoatmodjo, 2018).

2. Cara kekuasaan atau otoriter


13

Sumber pengetahuan tersebut berupa pemimpin-pemimpin

masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama pemegang

pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan

tersebut dapat diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan

baik tradisi otoritas pemerintah, otoritas pemerintah agama

maupun ahli ilmu pengetahuan, dimana perinsip ini orang lain

berpendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai

otoritas tanpa menguji dulu atau membuktikan kebenarannya baik

berdasarkan data empiris atau penalaran sendiri (Notoatmodjo,

2018).

3. Berdasarkan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya untuk

memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara

mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam

memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu,

bila gagal dengan cara tersebut, tidak akan mengulangi cara itu

dan berusaha untuk mencari cara lain, sehingga dapat berhasil

memecahkannya (Notoatmodjo, 2018).

4. Melalui jalan pikiran

Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalaran

dalam memperoleh pengetahuan. Dalam memperoleh kebenaran

pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan pikirannya baik

melalui pernyataan-pernyataan khusus kepada yang umum disebut

induksi, sedangkandeduksi adalah pembuatan kesimpulan dari


14

pernyataan-pernyataan umum kepada khusus (Notoatmodjo,

2018).

5. Cara modern atau ilmiah

Cara baru memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih

sistematis logis dan ilmiah yang disebut metode penelitian ilmiah.

Kemudian metode berpikir induct = f yang berkembang oleh B

Bacon dilanjutkan adalah Van Dalen bahwa dalam memperoleh

kesimpulan dengan mengadakan observasi langsung dan membuat

pencatatan terhadap semua fakta berhubungan dengan objek yang

diamati (Notoatmodjo, 2018).

2.2.4 Cara pengukuran pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat diukur menurut jenis

penelitianya yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pada

penelitian kuantitatif maka pengetahuan dapat diiukur dengan

wawancara dan angket (kuesioner) yang menyatakan tentang isi

materi atau objek yang ingin diukur dari subjek penelitian. Sedangkan

pada penelitian kualitatif, pengetahuan dapat diukur dengan cara

wawancara mendalam dan Diskusi Kelompok Terfokus (DKT)

(Notoatmodjo, 2018).

Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor

jawaban benar dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian

dikalikan 100%. Selanjutnya pengetahuan seseorang dapat diketahui

dan diiterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:

1. Baik : hasil skoring 76%-100%


15

2. Cukup : hasil skoring 56%-75%

3. Kurang : hasil skoring ≤56%

2.2.5 Faktor – Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmojo (2010) dalam Purwaningsih, U. (2015),

pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Pengalaman

Pengalaman seseorang baik yang dialami pribadi maupun oleh

orang lain diyakini dapat memperluas pengetahuan seseorang.

2. Tingkat pendidikan

Pendidikan merupakan sebagai sarana seseorang untuk

memperoleh pengetahuan dan wawasan yang luas. Dapat

digambarkan dari seseorang yang memiliki pendidikan lebih tinggi

akan mempunyai pengetahuan lebih luas dibandingkan dengan

seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.

3. Budaya

Budaya menggambarkan tingkah laku manusia dalam memenuhi

kebutuhan seperti keyakinan. Keyakinan seseorang dapat diperoleh

baik secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih

dahulu. Keyakinan yang bersifat baik maupun tidak diyakini dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

4. Fasilitas informasi

Fasilitas informasi sebagai media atau sarana informasi yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi,

majalah, koran, buku. Seseorang yang memperoleh fasilitas yang


16

memadai maka memiliki pengetahuan yang lebih tinggi.

(Notoatmodjo, 2018).

5. Sosial Ekonomi

Sosial ekonomi menggambarkan kemampuan seseorang untuk

memilih kebutuhan hidup. Semakin seseorang memiliki tingkatan

sosial dan ekonomi yang tinggi akan menambah tingkat

pengetahuan

6. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan yang baik akan menjadikan seseorang

memperoleh pengetahuan yang baik secara langsung maupun tidak

langsung dan sebaliknya.

7. Umur

Umur menggambarkan tingkat kematangan dan kedewasaan yang

akan mempengaruhi dalam kematangan berfikir seseorang.

2.2 Konsep Personal Hygiene Saat Menstruasi

2.2.1 Pengertian Personal Hygiene Saat Menstruasi

Personal Hygiene saat menstruasi adalah tindakan untuk

memelihara kesehatan dan kebersihan pada daerah kewanitaan

pada saat menstruasi (Laksmana, 2018). Alat kelamin

terutamanya vagina memiliki kelembaban yang cukup tinggi

sehingga merupakan media yang baik bertumbuhnya berbagai

kuman penyakit atau bakteri termasuk jamur. Sehingga dengan

demikian perempuan diwajibkan menjaga kebersihan alat

reproduksi dengan berkala dan dengan cara yang benar (Windi,


17

dkk dalam Wardani 2018).

Hygiene menstruasi merupakan hygiene personal pada saat

menstruasi. Hygiene menstruasi sangat penting, karena bila

penanganan selama haid tidak steril maka dapat mengakibatkan

infeksi alat reproduksi (Laksmana, 2018).

Hygiene pada saat menstruasi merupakan hal penting dalam

menentukan kesehatan organ reproduksi remaja putri, khususnya

terhindar dari infeksi alat reproduksi. Pada saat menstruasi

seharusnya perempuan benar-benar dapat menjaga kebersihan

organ reproduksi dengan baik, terutama pada bagian vagina,

karena apabila tidak dijaga kebersihannya, maka akan

menimbulkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus

yang berlebih sehingga dapat mengganggu fungsi organ

reproduksi (Indriastuti, 2018).

Saat menstruasi tubuh cenderung memproduksi lebih

banyak keringat, minyak dan cairan tubuh lainnya. Bagian tubuh

yang tertutup dan lipatan- lipatan kulit seperti daerah alat kelamin

merupakan bagian yang paling penting. Ketika tubuh

mengeluarkan banyak keringat maka bagian ini cenderung

lembab dan mikroorganisme jahat seperti jamur mudah

berkembang biak yang akhirnya dapat menimbulkan infeksi

(Pudiastuti, 2018). (AGRA, 2016).Tujuan Personal Hygiene

Menurut Mardani 2018 tujuan dari personal hygiene

adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan, memelihara


18

kebersihan diri, mencegah timbulnya penyakit, menciptakan

keindahan dan meningkaykan rasa kepercayaan diri. Sedangkan

menurut Laksamana 2016 tujuan dari personal hygiene adalah

meningkatkan derajat seseorang, memelihara kebersihan diri

seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang,

mencegah penyakit, menciptakan keindahan, serta meningkatkan

rasa percaya diri. (AGRA, 2016)

2.2.2 Dampak Yang Timbul Pada Masalah Personal Hygiene

Menurut (Darwiten & Dkk, 2020) dampak yang

timbul pada masalah personal hygiene tidak hanya memberikan

dampak secara fisik tapi berdampak juga pada psikosisial.

1. Fisik

Gangguan kesehatan fisik yang diderita sesorang karena tidak

terpelihara kebersihan perorangan adalah gangguan integritas

kulit.

2. Psikososial

Gangguan personal hygiene yang berkaitan dengan psikososial

berkaitan dengan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai

dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan

interaksi sosial juga terjadi gangguan. Misalnya gangguan pada

kulit, maka akan menimbulkan individu merasa kurang

nyaman, kurang percaya diri dalam hal mencintai dan

dicintai, terbatasnya interaksi sosial maupun aktualisasi.

2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene


19

Menurut Isro‟in 2018 faktor-faktor yang

mempengaruhi personal hygiene diantaranya adalah sebagai

berikut:

1. Praktek Sosial

Manusia merupakan makhluk sosial dan karenanya berada

dalam kelompok sosial. Kondisi ini akan memungkinkan

seseorang untuk berhubungan, berinteraksi dan bersosialisasi

satu dengan yang lainnya. Personal hygiene atau kebersihan

diri seseorang sangat mempengaruhi praktik sosial seseorang.

Selama masa anak- anak kebiasaan keluarga mempengaruhi

praktik hygiene, misalnya frekuensi mandi, waktu mandi, dan

jenis hygiene mulut. Pada masa remaja, hygiene pribadi

dipengaruhi oleh kelompok teman sebaya. Remaja wanita

misalnya, mulai tertarik dengan penampilan pribadi dan mulai

memakai riasan wajah. Pada masa dewasa, teman dan

kelompok kerja membentuk harapan tentang penampilan

pribadi. Sedangkan pada lansia, akan terjadi beberapa

perubahan dalam bentuk praktik hygiene karena perubahan

dalam kondisi fisiknya (Laksmana, 2018).

2. Pilihan Pribadi

Setiap orang memiliki keinginan dan pilihan tersendiri dalam

praktik personal hygienenya, misalnya kapan dia harus mandi,

bercukur, melakukan perawatan rambut, dsb. Dan juga

termasuk memilih produk yang digunakan dalam


20

praktek hygienenya misalnya sabun, sampo, deodoran, dan

pasta gigi, menurut pilihan dan kebutuhannya (Laksmana,

2018).

3. Citra Tubuh

Citra tubuh adalah cara pandang seeorang terhadap bentuk

tubuhnya. Citra tubuh sangat mempengaruhi dalam praktik

higiene seseorang. Ketika seseorang yang tampak berantakan,

tidak rapi, atau tidak peduli dengan hygiene pada dirinya

maka dibutuhkan edukasi tentang pentingnya higine untuk

kesehatan, selain itu juga dibutuhkan kepekaan untuk melihat

mengapa hal ini bisa terjadi, apakah memang

kurang/ketidaktahuan seseorang akan personal hygiene atau

ketidakmampuan seseorang dalam menjalankan praktek

hygiene dirinya, hal ini bisa dilihat dari partisipasi seseorang

dalam hygiene harian (Laksmana, 2018).

4. Status Sosial Ekonomi

Status ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkatan

praktek hygiene perorangan. Sosial ekonomi yang rendah

memungkinkan hygiene perorangan rendah pula (Laksmana,

2018).

5. Motivasi Pengetahuan

Pengetahuan tentang hygiene akan mempengaruhi praktek

hygiene seseorang. Namun, hal ini saja tidak cukup, karena

motivasi pengetahuan merupakan kunci penting dalam


21

pelaksanaan hygiene tersebut. Permasalahan yang sering

terjadi adalah kurangnya pengetahuan mengenai hygiene

karena ketiadaan motivasi pengetahuan (Laksmana, 2018).

6. Budaya

Kepercayaan budaya dan nilai pribadi akan mempengaruhi

perawatan hygiene seseorang. Berbagai budaya memiliki

praktek higiene yang berbeda. Beberapa budaya

memungkinkan juga menganggap bahwa kesehatan dan

kebersihan tidaklah penting. (AGRA, 2016)

2.2.4 Aspek Pesonal Hygiene

Perawatan diri saat menstruasi merupakan upaya

yang dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan

selama menstruasi (Potter&Perry, 2016). Perawatan diri yang

baik perlu saat menstruasi, hal tersebut termasuk; mengganti

dengan teratur pakaian dan celana dalam, mengganti pembalut

setiap 3-4 jam sekali, mandi setiap hari khususnya saat

dysmenorrhea, membasuh area genitalia setelah buang air besar

atau kecil, melanjutkan aktivitas normal sehari-hari (contohnya

pergi ke sekolah, melakukan aktivitas fisik atau olahraga), dan

memelihara keseimbangan asupan makanan seperti

mengkonsumsi banyak buah- buahan serta sayuran yang kaya

akan zat besi dan kalsium (Santina, Wehbe, Ziade, & Nehme,

2015). Sedangkan menurut Poureslami & Ashtiani (2016),

perawatan diri terkait dengan menstruasi diantaranya


22

mengkonsumsi nutrisi yang tepat, aktivitas fisik dan olahraga,

personal hygiene, dan tepat menggunakan obat sesuai resep yang

diberikan dokter. (Tantry et al., 2019).

1. Pelaksanaan Personal Hygiene Saat Menstruasi

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh remaja putri pada

saat menstruasi, yaitu:

a. Kebersihan tubuh

Kebersihan tubuh pada saat menstruasi juga sangat penting

diperhatikan, dan sebaiknya mandi 2 kali sehari, dengan

sabun mandi biasa, pada saat mandi organ reproduksi luar

perlu cermat dibersihkan. Cara membersihkan daerah

kewanitaan yang terbaik ialah membasuhnya dengan air

bersih. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam membasuh

daerah kewanitaan kita, terutama setelah buang air besar

(BAB), yaitu dengan membasuhnya dari arah depan ke

belakang (dari vagina ke arah anus), bukan sebaliknya.

Karena apabila terbalik arah membasuhnya, maka kuman dari

daerah anus akan terbawa ke depan dan dapat masuk ke dalam

vagina (AGRA, 2016)

Pada saat membersihkan alat kelamin, tidak perlu dibersihkan

dengan cairan pembersih atau cairan lain dan douche karena

cairan tersebut akan semakin merangsang bakteri

menyebabkan infeksi. Apabila menggunakan sabun,

sebaiknya gunakan sabun yang lunak (dengan pH 3,5)


23

misalnya sabun bayi yang biasanya ber pH netral. Setelah

memakai sabun, hendaklah dibasuh dengan air sampai bersih.

Setelah dibasuh, harus dikeringkan dengan handuk dan

tissue, tetapi jangan digosok-gosok (AGRA, 2016).

b. Kebersihan pakaian sehari-hari

Mengganti pakaian setiap hari sangatlah penting terutama

pakaian dalam, gunakan pakaian dalam yang kering dan

menyerap keringat karena pakaian dalam yang basah akan

mempermudah tumbuhnya jamur. Pakaian dalam yang telah

terkena darah sebaiknya direndam terlebih dahulu dan setelah

kering disetrika. Pemakaian celana yang terlalu ketat

sebaiknya dihindari, karena hal ini menyebabkan kulit susah

bernafas dan akhirnya bisa menyebabkan daerah kewanitaan

menjadi lembab dan teriritasi. Untuk pemilihan bahan,

sebaiknya gunakan bahan yang nyaman dan menyerap

keringat, seperti misalnya katun. Pemakaian pantyliner setiap

hari secara terus menerus juga tidak dianjurkan. Pantyliner

sebaiknya hanya digunakan pada saat keputihan banyak saja,

dan sebaiknya jangan memilih pantyliner yang berparfum

karena dapat menimbulkan iritasi kulit (AGRA, 2016).

c. Penggunaan pembalut

Pilihlah pembalut daya serapnya tinggi, sehingga tetap merasa

nyaman selama menggunakannya. Sebaiknya pilih pembalut

yang tidak mengandung gel, sebab gel dalam pembalut


24

kebanyakan dapat menyebabkan iritasi dan rasa gatal.

Pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur 4-5

kali atau setiap setelah mandi dan buang air kecil (AGRA,

2016).

Penggantian pembalut yang tepat adalah apabila dipermukaan

pembalut telah ada gumpalan darah. Alasannya ialah karena

gumpalan darah yang terdapat dipermukaan pembalut tersebut

merupakan tempat yang sangat baik untuk perkembangan

bakteri dan jamur. Jika menggunakan pembalut sekali pakai

sebaiknya dibersihkan dulu sebelum dibungkus lalu dibuang

ke tempat sampah. Untuk pembalut lainnya sebaiknya

direndam memakai sabun di tempat tertutup terlebih dahulu

sebelum dicuci (Yuni, 2016).

Menurut Kusmiran (2015) adapun langkah-langkah

pemeliharaan Kesehatan reproduksi pada wanita remaja

antara lain;

1) Mengganti celana dalam minimal 2x sehari

2) Menggunakan celana dalam yang menyerap keringat dan

tidak terlalu ketat

3) Pada saat menstruasi pembalut tidak boleh dipakai lebih

dari 6 jam atau harus diganti sesering mungkin bila sudah

penuh oleh darah menstruasi

4) Membersihkan kotoran yang keluar dari alat kelamin dan

anus dengan air atau kertas pembersih (tisu) dengan


25

gerakan cara membersihkan anus untuk perempuan adalah

dari daerah vagina ke arah anus untuk mencegah kotoran

dari anus masuk ke vagina

5) Tidak menggunakan air kotor untuk mencuci vagina

6) Dianjurkan untuk mencukur atau merapikan rambut

kemaluan karena bisa ditumbuhi jamur atau kutu yang

dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan gatal.

d. Bahaya Atau Akibat

Akibat yang sering terjadi karena kurangnya kebersihan

pada saat menstruasi adalah:

1) Demam

2) Radang pada permukaan vagina

3) Gatal-gatal pada kulit vagina

4) Keputihan

5) Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut (Yuni,

2016).

2.3 Konsep Menstruasi

2.3.1 Definisi Menstruasi

Menstruasi merupakan perdarahan dari uterus yang terjadi

secara periodik dan siklik, hal ini disebabkan oleh pelepasan atau

deskuamasi endometrium akibat hormon ovarium yaitu hormon

estrogen dan progesteron yang mengalami penurunan terutama

progesteron pada akhir siklus ovarium yang dimulai biasanya 14 hari

setelah ovulasi (Novita, 2018). Menstruasi adalah salah satu aspek


26

kematangan seksual yang pertama kali terjadi pada masa pubertas

seorang wanita. Periode menstruasi penting dalam reproduksi.

Menstruasi yang terjadi secara reguler setiap bulan akan membentuk

suatu siklus menstruasi (Tombokan, 2017).

Menstruasi ialah bagian dari proses reguler yang

mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan.

Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik

darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim

wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas antara umur 10 dan 16 tahun

tergantung pada berbagai faktor (Hatmanti, 2018)

2.3.2 Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi adalah pola yang menggambarkan jarak antara

hari pertama menstruasi dengan hari pertama menstruasi berikutnya

(Yudita., 2017). Siklus menstruasi merupakan serangkaian proses

menstruasi yang terdiri dari siklus hari pertama menstruasi sampai

datangnya menstruasi periode berikutnya (Utami & Mardiyaningsih,

2015). Siklus menstruasi yang terganggu mengacu pada siklus

menstruasi yang tertunda selama lebih dari 7 hari, atau bahkan 40-50

hari untuk setiap menstruasi (Cai & Wu, 2009).

Panjang siklus menstruasi ialah jarak antara tanggal mulainya

menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Pada

masing- masing wanita mempunyai variasi dalam siklus menstruasinya

ada yang masih dalam batas normal (Bustam, 2015). Buku Manajemen

Kesehatan Menstruasi (Sianaga, 2017) menjelaskan lamanya waktu


27

tahapan-tahapan siklus menstruasi berdeda-beda untuk setiap wanita

tapi umumnya pada siklus dengan rata-rata 28 hari terjadi tahapan

seperti :

1. Hari ke-1-5 yaitu perdarahan menstruasi (masa menstruasi)

2. Hari ke-7 yaitu sel telur dalam ovarium sudah cukup matang

3. Hari ke-7-11 yaitu saat dinding rahim mulai menebal, sebagai

persiapan untuk sel telur yang telah dibuahi (oleh sperma) agar dapat

tertanam di dalam jaringan spons (spongy tissue)

4. Hari ke-14 sel telur terlepas dari ovarium menuju kedalam tuba

fallopi, proses ini dikenal dengan nama ovulasi.

5. Hari ke-14-28 sel telur bergerak kebawah menuju rahim. Jika sel

telur tersebut dibuahi, maka sel tersebut akan tertanam dalam

dinding Rahim. Jika tidak dibuahi, sel telur akan bergerak terus,

bersama dengan sebagian diding rahim, menandai dimulainya hari

ke-1 pada siklus berikutnya.

Siklus menstruasi, rata-rata, berlangsung dari 21-35 hari, siklus

menstruasi yang biasa dimulai lapisan uterus terlepas. Rata-rata

kehilangan darah seluruh periode sekitar 40 mililiter, dari tingkat

rendah selama aliran, estrogen naik ke puncak siklus pertengahan

selama 9-20 hari. Selanjutnya, puncak hipofisis Luteinizing Hormon

(LH) memicu pelepasan sel telur, yang disebut sebagai ovulasi,

setelah ovulasi, produksi progesteron naik tajam sementara estrogen

berkurang minimal sampai keduanya berkurang pada periode

berikutnya. Luteal, juga dikenal sebagai pasca ovulasi, fase biasanya


28

berlangsung 10-14 hari (Webster, 2017).

Hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus

mengontrol dua siklus. Hormon utama yang berfluktuasi di seluruh

rahim dan siklus ovarium adalah hormon perangsang folikel (FSH),

hormon luteinizing (LH), yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis

anterior, dan estrogen steroid jenis kelamin wanita (estriol, estrone

dan p-estradiol), dan progesteron, yang dilepaskan oleh korpus

luteum (uterus). FSH dan LH, yang mendorong stimulasi ovulasi dan

perkembangan folikel ovarium, dilepaskan dari hipofisis anterior

untuk memulai produksi folikel dan mendorong ovulasi dalam siklus

ovarium. Peran FSH adalah untuk merangsang perkembangan folikel

ovarium, yang mengeluarkan estrogen, sehingga LH dapat

mengembangkan folikel ovarium lebih lanjut. Luteinizing hormon

juga membantu memulai ovulasi dan merangsang produksi empat

hormone utama corpus luteum: estrogen, progesteron, inhibin, dan

relaxin ( berguna untuk melahirkan).

Menstruasi adalah endometrium uterus melepaskan keluarnya

sel yang sekarat, yang mengandung sekitar 50 hingga 150 ml darah,

cairan jaringan, lendir, dan sel-sel epitel karena menurunnya kadar

estrogen dan progesteron di dalam rahim. Awal menstruasi, kadar

FSH meningkat untuk merangsang perkembangan folikel primer,

yang menghasilkan kadar estrogen yang rendah. Pada akhir

menstruasi siklus, folikel primer ini telah berkembang menjadi folikel

sekunder atau tumbuh, yang terdiri dari oosit sekunder dan beberapa
29

lapisan sel epitel berbentuk kubus yang berasal dari sel epitel

berbentuk kubus di sekitar folikel primer Pada awal fase ini, level

FSH sedikit lebih tinggi untuk merangsang pengembangan folikel dan

memungkinkan sekresi estrogen oleh folikel. Hanya satu dari folikel

yang jatuh tempo telah mencapai kematangan. Folikel yang tumbuh

melepaskan estrogen, merangsang proses atresia, yang merupakan

penghambat negatif Sekresi FSH menyebabkan folikel yang kurang

berkembang berhenti tumbuh dan berdegenerasi. Folikel yang satu ini

matang menjadi folikel ovarium vesikular, atau Graafian, atau folikel

matang, sementara itu meningkatkan produksi estrogen. Tepat

sebelum ovulasi, peningkatan jumlah LH adalah kadar estrogen yang

disekresi dan melengkung berada pada titik tertinggi, memungkinkan

penebalan dinding endometrium. Tingkat estrogen yang tinggi ini

memberikan efek umpan balik positif, menstimulasi hormon hipofisis

anterior untuk melepaskan LH dan GnRH, yang mempromosikan

pelepasan lebih banyak LH. Peningkatan jumlah LH ini memicu

ovulasi. Ovulasi, yang biasanya terjadi pada hari ke 14 dari siklus

rata-rata, adalah pelepasan folikel ovarium vesikular matang dan oosit

sekunder ke dalam rongga panggul. Butuh sekitar 20 hari (mulai enam

hari terakhir dari siklus sebelumnya) untuk folikel berkembang

menjadi folikel ovarium vesikular dewasa dan menunggu dalam

tabung rahim. Setelah ovulasi terjadi, bekuan darah terbentuk untuk

menghancurkan ovarium vesikular folikel untuk menjadi

hemorrhagicum dan diserap oleh sel-sel folikel untuk terbentuk corpus


30

luteum, dengan bantuan LH, corpus luteum mengeluarkan estrogen

dan progesteron. Ini menandakan waktu setelah ovulasi dan sebelum

menstruasi berikutnya, juga dikenal sebagai fase postovulasi. Fase ini

biasanya berlangsung sekitar 14 hari dalam siklus 28 hari. Dalam

siklus ovarium, ini juga dikenal sebagai luteal tahap; dalam siklus

menstruasi ini juga disebut fase sekretori. Selama fase ini, produksi

progesteron tinggi hingga siapkan endometrium untuk menerima sel

telur yang dibuahi (Cruteau, 2015).

2.3.3 Siklus Menstruasi Normal

Menstruasi yang terjadi secara regular setiap bulan akan

membentu k siklus menstruasi. Jika siklus menstruasi yang regular

terjadi maka itu penandaan bahwa organ reproduksi seorang wanita

berfungsi dengan baik. Siklus menstruasi yaitu terhitung mulai dari hari

pertama dalam satu periode sampai dengan hari pertama periode

berikutnya. Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara

21- 35 hari dengan rata-rata durasi siklus adalah 28 hari ( Women’s

health U.S., 2014). Lama menstruasi biasanya antara 3-7 hari (Utomo,

2007), jumlah rata-rata keluarnya darah selama menstruasi adalah 50

ml (rentang 20-80 ml), atau 2-5 kali pergantian pembalut perhari.

2.3.4 Gangguan Siklus Menstruasi

Gangguan menstruasi yang termasuk kedalam siklus menstruasi

yang tidak normal adalah perubahan pada siklus menstruasi dan

perubahan jumlah darah menstruasi (Bull et al., 2019). Perubahan pada

siklus menstruasi ada 3 yaitu :


31

1. Polimenorea

Polimenorea merupakan siklus menstruasi yang lebih pendek yaitu

kurang dari 21 hari, menjadi pendeknya masa luteal.

2. Oligomenorea

Oligomenorea adalah siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari.

Hal ini karena masa proliferasi lebih panjang dari biasa.

3. Amenorea

Amenorea dibagi menjadi 2 yaitu, amenorea primer dan amenorea

sekunder. Amenorea primer apabila seorang perempuan berumur

18 tahun ke atas tetapi belum pernah mendapatkan haid,

sedangkan amenorea sekunder pernah mendapat haid tetapi

kemudian sedikitnya 3 bulan berturut-turut tidak mendapatkannya

lagi.

Sedangkan Perubahan jumlah darah terdapat 2 yaitu:

a. Hipermenorea atau menoragia

Hipermenorea adalah pendarahan haid yang lebih banyak dari

normal (lebih dari 7 hari).

b. Hipomenorea

Hipomenorea adalah pendarahan haid yan lebih pendek dari

biasa dan/atau lebih kurang dari biasa (kurang dari 3 hari)

penyebabnya kemungkinan gangguan hormonal, kondisi

wanita dengan penyakit tertentu.

2.3.5 Hormon Pengendali Proses Menstruasi

Dalam buku manajemen kesehataan menstruasi tahun 2017


32

menjelakan bahawa sistem hormon merupakan salah satu faktor

terpenting dalam siklus menstruasi. Sistem hormonlah pengendali

proses menstruasi adalah:

1. Hormon kelenjar hipofisis—hipotalamus

Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen dan

progesteron dalam darah menurun. Kadar hormon ovarium yang

rendah dalam darah ini menstimulasi hipotalamus untuk mensekresi

Gn-RH. Gonadotropin realising hormon (Gn-RH) menstimulasi

sekresi FSH. Folikel stimulating hormon (FSH) menstimulasi

perkembangan folikel dan produksi estrogennya. Kadar estrogen

mulai menurun dan Gn-RH, hipotalamus memicu hipofisis anterior

untuk mengeluarkan LH. Lutenizing hormone (LH) mencapai

puncak pada sekitar hari ke-13 atau ke-14 dari siklus 28 hari.

Apabila tidak terjadi fertilisasi dan implantasi, korpus luteum

menyusut, oleh karena itu kadar estrogen dan progesteron menurun,

maka terjadi menstruasi.

2. Hormon ovarium

Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Estrogen

bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pemeliharaan organ-

organ serta mempercepat proses pematangan fololikel ke bentuk

perkembangan lebih lanjut dan memastikan dinding Rahim menebal

sebagai persiapan tempat implantasi bagi sel telur yang sudah di

buahi. Estrogen memainkan peranan penting dalam perkembangan

payudara dan dalam perubahan siklus bulanan dalam uterus.


33

Progesteron juga penting dalam mengatur perubahan yang terjadi

dalam Rahim selama siklus menstruasi. Progesteron merupakan

hormon yang paling penting untuk menyiapkan endometrium untuk

berdiamnya sel telur yang telah dibuahi.

2.3.6 Fase-Fase Pada Siklus Menstruasi

Menurut Fauziah, (2017) siklus menstruasi terbagi menjadi tiga fase

yaitu :

1. Fase poliferasi

Setelah menstruasi selesai, hanya lapisan tipis stroma endometrium

tersisa pada basis endometrium asli, dan satu-satunya sel epitel yang

tertinggal terletak pada bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptis

endometrium. Dibawah pengaruh estrogen yang sekresinya

ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama siklus ovarium,

sel-sel stroma dan sel- sel epitel dengan cepat berpoliferasi.

Permukaan endometrium mengalami repitalisasi dalam tiga sampai

tujuh hari setelah permulaan menstruasi. Selama dua minggu

pertama siklus seksual (yaitu sampai ovulasi) tebal endometrium

sangat bertambah karena peningkatan jumlah sel-sel stroma dan

karena pertumbuhan progresif kelenjar-kelenjar endometrium, semua

efek ini ditingkatkan oleh estrogen. Pada saat ovulasi tebal


34

endometrium sekitar 2- 3 mm.

2. Fase Sekresi

Selama separuh terakhir siklus seksual, progesteron dan estrogen

(dominan progesteron) disekresi oleh korpus luteum. Estrogen

menyebabkan poliferasi sel tambahan dan progesterone

menyebabkan pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi

endometrium. Kelenjar tambah berkelok-kelok, Zat yang disekresi

tertimbun dalam sel epitel kelenjar, dan kelenjarnya menyekresi

sedikit cairan endometrium. Sitoplasma sel stroma juga bertambah,

lipid dan glikogen banyak mengendap dalam sel stroma, dan suplai

darah ke endometrium meningkat lebih lanjut sebanding dengan

aktivitas sekresi yang sedang berkembang. Pada fase ini,

endometrium mempunyai ketebalan 4-6 mm. Tujuan dari seluruh

perubahan endometrium ini adalah untuk menghasilkan

endometrium yang banyak menyekresikan dan sangat banyak

mengandung cadangan zat gizi yang dapat memberikan keadaan

yang sesuai untuk implantasi ovum yang telah dibuahi selama

separuh terakhir siklus menstruasi.

3. Fase Menstruasi

Jika ovum tidak dibuahi, korpus luteum pada ovarium menjadi

involusi, hormone ovarium (estrogen dan progesterone) akan turun

sampai level terendah, dan terjadilah menstruasi. Menstruasi

disebakan oleh pengurangan mendadak progesterone dan estrogen

pada akhir siklus ovarium. Efek pertama adalah penurunan


35

ransangan sel-sel endometrium oleh kedua hormone tersebut, diikuti

dengan cepat oleh involusi endometrium itu sendiri sampai sekitar

65% tebal sebelumnya. Selama 24 jam sebelum mulai menstruasi.

Pembuluh darah yang menuju kelapisan mukosa endometrium

menjadi vasopastik, mungkin karena efek involusi, seperti

pengeluaran zat vasokontriktor. Vasopasme dan kehilangan rangsang

hormonal mulai menimbulkan nekrosis pada endometrium. Sebagai

akibatnya, darah merembes dalam lapisan vaskuler fase

endometrium area perdarahan mulai terbentuk setelah 24-36 jam.

Lapisan luar endometrium yang nekrotik terlepas dari uterus pada

tempat pendarahan, pada 48 jam setelah mulainya menstruasi, semua

lapisan superfisial endometrium telah deskuamasi. Jaringan

deskuamasi dan darah dalam kubah uterus memulai kontraksi uterus.

Selama menstruasi normal, sekitar 40 ml darah dan 35 ml cairan

serosa hilang. Cairan menstruasi ini dalam keadaan normal tidak

membeku, karena fibrinolysin dikeluarkan bersama endometrium

yang nekrotik. Dalam 3-7 hari setelah menstruasi mulai perdarahan

berhenti karena pada saat ini endometrium sudah mengalami

epitalisasi penuh.
36

2.4 Kerangka Teori

Tingkat Pengetahuan 1. Tahu (Know)


2. Memahami
(Comprehension)
3. Aplikasi
Pengetahuan Remaja Putri (Aplication)
4. Analisa (Analysis)
Sintesis (Syntesis)
5. Evaluasi
Faktor-faktor yang (Evalution)
mempengaruhi Personal
Hygiene saat Menstruasi :
1. Umur
2. Usia menrache
3. Minat
4. Pengalaman
5. Kebudayaan
6. Lingkungan Sekitar

Keterangan :
: Variabel yang diteliti
37

: Variabel yang tidak diteliti

Bagan 2.1 : Kerangka Teori gambaran tingkat pengetahuan remaja putri


tenatang personal hygine saat menstuasi di SMP Yarsi Mataram.
((Ulina Gultom, 2021) Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Personal
Hygiene Saat Menstruasi di SMP Swasta Bahagia Jalan Mangaan I No.
60 Mabar Kecamatan Medan Deli Provinsi Sumatera Utara Tahun
2021.

Anda mungkin juga menyukai