10
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Pengetahuan
2.2.1 Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah keseluruhan pikiran, gagasan, ide, konsep
dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala
isinya termasuk manusia dan isinya. (Notoatmodjo, 2018).
Pengetahuan juga merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi
setelah melakukan penginderaan terjadi melalui panca indera manusia
dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang di dasari
pengetahuan-pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang
sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo,
2018).
2.2.2 Tingkatan Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo, 2018 tingkat Pengetahuan yang
dicakup dalam dominan kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan yaitu:
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini
adalah mengingat kembali secara spesifik dari seluruh badan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, oleh sebab itu tahu
merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Misalnya
dapat menyebutkan, mendefenisikan, menetapkan dan lain
sebagainya (Notoatmodjo, 2018)..
10
11
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar (Notoatmodjo,
2018).
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang tidak dipelajari pada situasi atau kondisi rill
(sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode dan sebagainya dalam
konteks situasi yang lain (Notoatmodjo, 2018)..
4. Analisa (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampaun untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi
masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada
kaitan satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja, dapat membedakan dan mengelompokkan
(Notoatmodjo, 2018).
5. Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkan suata kemampaun untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada misalnya dapat
menyusun dan merencanakan dapat menyesuaikan dan sebagainya
terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada(Notoatmodjo,
2018).
12
6. Evaluasi (Evalution)
Evaluasi berkaitan dalam kemampuan untuk melakukan
penelitian terhadap suatau materi dan objek, pengukuran dan
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menyertakan tentang isi materi yang ingin diulas dari subjek
penelitian atau responden kedalam pengetahuan yang ingin
disesuaiakan dengan tingkatan-tingkatan tersebut diatas
(Notoatmodjo, 2018).
2.2.3 Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2018), cara memperoleh pengetahuan
untuk memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1. Cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan antara lain
meliputi :
Cara ini paling tradisional yang pernah digunakan manusia
untuk memperoleh pengetahuan yaitu melalui cara coba-coba.
Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya peradaban. Pada
waktu itu seseorang apabila menghadapi masalah, upaya
pemecahannya dengan cara coba-coba. Cara coba-coba ini
dilakukan dengan menggunakan kemungkinan memecahkan
masalah, apabila tidak berhasildicoba kemungkinan yang lain
sampa imasalah terselesaikan (Notoatmodjo, 2018).
2. Cara kekuasaan atau otoriter
13
Sumber pengetahuan tersebut berupa pemimpin-pemimpin
masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama pemegang
pemerintahan dan sebagainya. Dengan kata lain pengetahuan
tersebut dapat diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan
baik tradisi otoritas pemerintah, otoritas pemerintah agama
maupun ahli ilmu pengetahuan, dimana perinsip ini orang lain
berpendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai
otoritas tanpa menguji dulu atau membuktikan kebenarannya baik
berdasarkan data empiris atau penalaran sendiri (Notoatmodjo,
2018).
3. Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya untuk
memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara
mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam
memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa yang lalu,
bila gagal dengan cara tersebut, tidak akan mengulangi cara itu
dan berusaha untuk mencari cara lain, sehingga dapat berhasil
memecahkannya (Notoatmodjo, 2018).
4. Melalui jalan pikiran
Dari sini manusia telah mampu menggunakan penalaran
dalam memperoleh pengetahuan. Dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan pikirannya baik
melalui pernyataan-pernyataan khusus kepada yang umum disebut
induksi, sedangkandeduksi adalah pembuatan kesimpulan dari
14
pernyataan-pernyataan umum kepada khusus (Notoatmodjo,
2018).
5. Cara modern atau ilmiah
Cara baru memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih
sistematis logis dan ilmiah yang disebut metode penelitian ilmiah.
Kemudian metode berpikir induct = f yang berkembang oleh B
Bacon dilanjutkan adalah Van Dalen bahwa dalam memperoleh
kesimpulan dengan mengadakan observasi langsung dan membuat
pencatatan terhadap semua fakta berhubungan dengan objek yang
diamati (Notoatmodjo, 2018).
2.2.4 Cara pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat diukur menurut jenis
penelitianya yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Pada
penelitian kuantitatif maka pengetahuan dapat diiukur dengan
wawancara dan angket (kuesioner) yang menyatakan tentang isi
materi atau objek yang ingin diukur dari subjek penelitian. Sedangkan
pada penelitian kualitatif, pengetahuan dapat diukur dengan cara
wawancara mendalam dan Diskusi Kelompok Terfokus (DKT)
(Notoatmodjo, 2018).
Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor
jawaban benar dengan skor yang diharapkan (tertinggi) kemudian
dikalikan 100%. Selanjutnya pengetahuan seseorang dapat diketahui
dan diiterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu:
1. Baik : hasil skoring 76%-100%
15
2. Cukup : hasil skoring 56%-75%
3. Kurang : hasil skoring ≤56%
2.2.5 Faktor – Faktor yang mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2010) dalam Purwaningsih, U. (2015),
pengetahuan seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Pengalaman
Pengalaman seseorang baik yang dialami pribadi maupun oleh
orang lain diyakini dapat memperluas pengetahuan seseorang.
2. Tingkat pendidikan
Pendidikan merupakan sebagai sarana seseorang untuk
memperoleh pengetahuan dan wawasan yang luas. Dapat
digambarkan dari seseorang yang memiliki pendidikan lebih tinggi
akan mempunyai pengetahuan lebih luas dibandingkan dengan
seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
3. Budaya
Budaya menggambarkan tingkah laku manusia dalam memenuhi
kebutuhan seperti keyakinan. Keyakinan seseorang dapat diperoleh
baik secara turun temurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih
dahulu. Keyakinan yang bersifat baik maupun tidak diyakini dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4. Fasilitas informasi
Fasilitas informasi sebagai media atau sarana informasi yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi,
majalah, koran, buku. Seseorang yang memperoleh fasilitas yang
16
memadai maka memiliki pengetahuan yang lebih tinggi.
(Notoatmodjo, 2018).
5. Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi menggambarkan kemampuan seseorang untuk
memilih kebutuhan hidup. Semakin seseorang memiliki tingkatan
sosial dan ekonomi yang tinggi akan menambah tingkat
pengetahuan
6. Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan yang baik akan menjadikan seseorang
memperoleh pengetahuan yang baik secara langsung maupun tidak
langsung dan sebaliknya.
7. Umur
Umur menggambarkan tingkat kematangan dan kedewasaan yang
akan mempengaruhi dalam kematangan berfikir seseorang.
2.2 Konsep Personal Hygiene Saat Menstruasi
2.2.1 Pengertian Personal Hygiene Saat Menstruasi
Personal Hygiene saat menstruasi adalah tindakan untuk
memelihara kesehatan dan kebersihan pada daerah kewanitaan
pada saat menstruasi (Laksmana, 2018). Alat kelamin
terutamanya vagina memiliki kelembaban yang cukup tinggi
sehingga merupakan media yang baik bertumbuhnya berbagai
kuman penyakit atau bakteri termasuk jamur. Sehingga dengan
demikian perempuan diwajibkan menjaga kebersihan alat
reproduksi dengan berkala dan dengan cara yang benar (Windi,
17
dkk dalam Wardani 2018).
Hygiene menstruasi merupakan hygiene personal pada saat
menstruasi. Hygiene menstruasi sangat penting, karena bila
penanganan selama haid tidak steril maka dapat mengakibatkan
infeksi alat reproduksi (Laksmana, 2018).
Hygiene pada saat menstruasi merupakan hal penting dalam
menentukan kesehatan organ reproduksi remaja putri, khususnya
terhindar dari infeksi alat reproduksi. Pada saat menstruasi
seharusnya perempuan benar-benar dapat menjaga kebersihan
organ reproduksi dengan baik, terutama pada bagian vagina,
karena apabila tidak dijaga kebersihannya, maka akan
menimbulkan mikroorganisme seperti bakteri, jamur dan virus
yang berlebih sehingga dapat mengganggu fungsi organ
reproduksi (Indriastuti, 2018).
Saat menstruasi tubuh cenderung memproduksi lebih
banyak keringat, minyak dan cairan tubuh lainnya. Bagian tubuh
yang tertutup dan lipatan- lipatan kulit seperti daerah alat kelamin
merupakan bagian yang paling penting. Ketika tubuh
mengeluarkan banyak keringat maka bagian ini cenderung
lembab dan mikroorganisme jahat seperti jamur mudah
berkembang biak yang akhirnya dapat menimbulkan infeksi
(Pudiastuti, 2018). (AGRA, 2016).Tujuan Personal Hygiene
Menurut Mardani 2018 tujuan dari personal hygiene
adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan, memelihara
18
kebersihan diri, mencegah timbulnya penyakit, menciptakan
keindahan dan meningkaykan rasa kepercayaan diri. Sedangkan
menurut Laksamana 2016 tujuan dari personal hygiene adalah
meningkatkan derajat seseorang, memelihara kebersihan diri
seseorang, memperbaiki personal hygiene yang kurang,
mencegah penyakit, menciptakan keindahan, serta meningkatkan
rasa percaya diri. (AGRA, 2016)
2.2.2 Dampak Yang Timbul Pada Masalah Personal Hygiene
Menurut (Darwiten & Dkk, 2020) dampak yang
timbul pada masalah personal hygiene tidak hanya memberikan
dampak secara fisik tapi berdampak juga pada psikosisial.
1. Fisik
Gangguan kesehatan fisik yang diderita sesorang karena tidak
terpelihara kebersihan perorangan adalah gangguan integritas
kulit.
2. Psikososial
Gangguan personal hygiene yang berkaitan dengan psikososial
berkaitan dengan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai
dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan
interaksi sosial juga terjadi gangguan. Misalnya gangguan pada
kulit, maka akan menimbulkan individu merasa kurang
nyaman, kurang percaya diri dalam hal mencintai dan
dicintai, terbatasnya interaksi sosial maupun aktualisasi.
2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Personal Hygiene
19
Menurut Isro‟in 2018 faktor-faktor yang
mempengaruhi personal hygiene diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Praktek Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial dan karenanya berada
dalam kelompok sosial. Kondisi ini akan memungkinkan
seseorang untuk berhubungan, berinteraksi dan bersosialisasi
satu dengan yang lainnya. Personal hygiene atau kebersihan
diri seseorang sangat mempengaruhi praktik sosial seseorang.
Selama masa anak- anak kebiasaan keluarga mempengaruhi
praktik hygiene, misalnya frekuensi mandi, waktu mandi, dan
jenis hygiene mulut. Pada masa remaja, hygiene pribadi
dipengaruhi oleh kelompok teman sebaya. Remaja wanita
misalnya, mulai tertarik dengan penampilan pribadi dan mulai
memakai riasan wajah. Pada masa dewasa, teman dan
kelompok kerja membentuk harapan tentang penampilan
pribadi. Sedangkan pada lansia, akan terjadi beberapa
perubahan dalam bentuk praktik hygiene karena perubahan
dalam kondisi fisiknya (Laksmana, 2018).
2. Pilihan Pribadi
Setiap orang memiliki keinginan dan pilihan tersendiri dalam
praktik personal hygienenya, misalnya kapan dia harus mandi,
bercukur, melakukan perawatan rambut, dsb. Dan juga
termasuk memilih produk yang digunakan dalam
20
praktek hygienenya misalnya sabun, sampo, deodoran, dan
pasta gigi, menurut pilihan dan kebutuhannya (Laksmana,
2018).
3. Citra Tubuh
Citra tubuh adalah cara pandang seeorang terhadap bentuk
tubuhnya. Citra tubuh sangat mempengaruhi dalam praktik
higiene seseorang. Ketika seseorang yang tampak berantakan,
tidak rapi, atau tidak peduli dengan hygiene pada dirinya
maka dibutuhkan edukasi tentang pentingnya higine untuk
kesehatan, selain itu juga dibutuhkan kepekaan untuk melihat
mengapa hal ini bisa terjadi, apakah memang
kurang/ketidaktahuan seseorang akan personal hygiene atau
ketidakmampuan seseorang dalam menjalankan praktek
hygiene dirinya, hal ini bisa dilihat dari partisipasi seseorang
dalam hygiene harian (Laksmana, 2018).
4. Status Sosial Ekonomi
Status ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkatan
praktek hygiene perorangan. Sosial ekonomi yang rendah
memungkinkan hygiene perorangan rendah pula (Laksmana,
2018).
5. Motivasi Pengetahuan
Pengetahuan tentang hygiene akan mempengaruhi praktek
hygiene seseorang. Namun, hal ini saja tidak cukup, karena
motivasi pengetahuan merupakan kunci penting dalam
21
pelaksanaan hygiene tersebut. Permasalahan yang sering
terjadi adalah kurangnya pengetahuan mengenai hygiene
karena ketiadaan motivasi pengetahuan (Laksmana, 2018).
6. Budaya
Kepercayaan budaya dan nilai pribadi akan mempengaruhi
perawatan hygiene seseorang. Berbagai budaya memiliki
praktek higiene yang berbeda. Beberapa budaya
memungkinkan juga menganggap bahwa kesehatan dan
kebersihan tidaklah penting. (AGRA, 2016)
2.2.4 Aspek Pesonal Hygiene
Perawatan diri saat menstruasi merupakan upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan
selama menstruasi (Potter&Perry, 2016). Perawatan diri yang
baik perlu saat menstruasi, hal tersebut termasuk; mengganti
dengan teratur pakaian dan celana dalam, mengganti pembalut
setiap 3-4 jam sekali, mandi setiap hari khususnya saat
dysmenorrhea, membasuh area genitalia setelah buang air besar
atau kecil, melanjutkan aktivitas normal sehari-hari (contohnya
pergi ke sekolah, melakukan aktivitas fisik atau olahraga), dan
memelihara keseimbangan asupan makanan seperti
mengkonsumsi banyak buah- buahan serta sayuran yang kaya
akan zat besi dan kalsium (Santina, Wehbe, Ziade, & Nehme,
2015). Sedangkan menurut Poureslami & Ashtiani (2016),
perawatan diri terkait dengan menstruasi diantaranya
22
mengkonsumsi nutrisi yang tepat, aktivitas fisik dan olahraga,
personal hygiene, dan tepat menggunakan obat sesuai resep yang
diberikan dokter. (Tantry et al., 2019).
1. Pelaksanaan Personal Hygiene Saat Menstruasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh remaja putri pada
saat menstruasi, yaitu:
a. Kebersihan tubuh
Kebersihan tubuh pada saat menstruasi juga sangat penting
diperhatikan, dan sebaiknya mandi 2 kali sehari, dengan
sabun mandi biasa, pada saat mandi organ reproduksi luar
perlu cermat dibersihkan. Cara membersihkan daerah
kewanitaan yang terbaik ialah membasuhnya dengan air
bersih. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam membasuh
daerah kewanitaan kita, terutama setelah buang air besar
(BAB), yaitu dengan membasuhnya dari arah depan ke
belakang (dari vagina ke arah anus), bukan sebaliknya.
Karena apabila terbalik arah membasuhnya, maka kuman dari
daerah anus akan terbawa ke depan dan dapat masuk ke dalam
vagina (AGRA, 2016)
Pada saat membersihkan alat kelamin, tidak perlu dibersihkan
dengan cairan pembersih atau cairan lain dan douche karena
cairan tersebut akan semakin merangsang bakteri
menyebabkan infeksi. Apabila menggunakan sabun,
sebaiknya gunakan sabun yang lunak (dengan pH 3,5)
23
misalnya sabun bayi yang biasanya ber pH netral. Setelah
memakai sabun, hendaklah dibasuh dengan air sampai bersih.
Setelah dibasuh, harus dikeringkan dengan handuk dan
tissue, tetapi jangan digosok-gosok (AGRA, 2016).
b. Kebersihan pakaian sehari-hari
Mengganti pakaian setiap hari sangatlah penting terutama
pakaian dalam, gunakan pakaian dalam yang kering dan
menyerap keringat karena pakaian dalam yang basah akan
mempermudah tumbuhnya jamur. Pakaian dalam yang telah
terkena darah sebaiknya direndam terlebih dahulu dan setelah
kering disetrika. Pemakaian celana yang terlalu ketat
sebaiknya dihindari, karena hal ini menyebabkan kulit susah
bernafas dan akhirnya bisa menyebabkan daerah kewanitaan
menjadi lembab dan teriritasi. Untuk pemilihan bahan,
sebaiknya gunakan bahan yang nyaman dan menyerap
keringat, seperti misalnya katun. Pemakaian pantyliner setiap
hari secara terus menerus juga tidak dianjurkan. Pantyliner
sebaiknya hanya digunakan pada saat keputihan banyak saja,
dan sebaiknya jangan memilih pantyliner yang berparfum
karena dapat menimbulkan iritasi kulit (AGRA, 2016).
c. Penggunaan pembalut
Pilihlah pembalut daya serapnya tinggi, sehingga tetap merasa
nyaman selama menggunakannya. Sebaiknya pilih pembalut
yang tidak mengandung gel, sebab gel dalam pembalut
24
kebanyakan dapat menyebabkan iritasi dan rasa gatal.
Pembalut selama menstruasi harus diganti secara teratur 4-5
kali atau setiap setelah mandi dan buang air kecil (AGRA,
2016).
Penggantian pembalut yang tepat adalah apabila dipermukaan
pembalut telah ada gumpalan darah. Alasannya ialah karena
gumpalan darah yang terdapat dipermukaan pembalut tersebut
merupakan tempat yang sangat baik untuk perkembangan
bakteri dan jamur. Jika menggunakan pembalut sekali pakai
sebaiknya dibersihkan dulu sebelum dibungkus lalu dibuang
ke tempat sampah. Untuk pembalut lainnya sebaiknya
direndam memakai sabun di tempat tertutup terlebih dahulu
sebelum dicuci (Yuni, 2016).
Menurut Kusmiran (2015) adapun langkah-langkah
pemeliharaan Kesehatan reproduksi pada wanita remaja
antara lain;
1) Mengganti celana dalam minimal 2x sehari
2) Menggunakan celana dalam yang menyerap keringat dan
tidak terlalu ketat
3) Pada saat menstruasi pembalut tidak boleh dipakai lebih
dari 6 jam atau harus diganti sesering mungkin bila sudah
penuh oleh darah menstruasi
4) Membersihkan kotoran yang keluar dari alat kelamin dan
anus dengan air atau kertas pembersih (tisu) dengan
25
gerakan cara membersihkan anus untuk perempuan adalah
dari daerah vagina ke arah anus untuk mencegah kotoran
dari anus masuk ke vagina
5) Tidak menggunakan air kotor untuk mencuci vagina
6) Dianjurkan untuk mencukur atau merapikan rambut
kemaluan karena bisa ditumbuhi jamur atau kutu yang
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan gatal.
d. Bahaya Atau Akibat
Akibat yang sering terjadi karena kurangnya kebersihan
pada saat menstruasi adalah:
1) Demam
2) Radang pada permukaan vagina
3) Gatal-gatal pada kulit vagina
4) Keputihan
5) Rasa panas atau sakit pada bagian bawah perut (Yuni,
2016).
2.3 Konsep Menstruasi
2.3.1 Definisi Menstruasi
Menstruasi merupakan perdarahan dari uterus yang terjadi
secara periodik dan siklik, hal ini disebabkan oleh pelepasan atau
deskuamasi endometrium akibat hormon ovarium yaitu hormon
estrogen dan progesteron yang mengalami penurunan terutama
progesteron pada akhir siklus ovarium yang dimulai biasanya 14 hari
setelah ovulasi (Novita, 2018). Menstruasi adalah salah satu aspek
26
kematangan seksual yang pertama kali terjadi pada masa pubertas
seorang wanita. Periode menstruasi penting dalam reproduksi.
Menstruasi yang terjadi secara reguler setiap bulan akan membentuk
suatu siklus menstruasi (Tombokan, 2017).
Menstruasi ialah bagian dari proses reguler yang
mempersiapkan tubuh wanita setiap bulannya untuk kehamilan.
Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik
darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim
wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas antara umur 10 dan 16 tahun
tergantung pada berbagai faktor (Hatmanti, 2018)
2.3.2 Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi adalah pola yang menggambarkan jarak antara
hari pertama menstruasi dengan hari pertama menstruasi berikutnya
(Yudita., 2017). Siklus menstruasi merupakan serangkaian proses
menstruasi yang terdiri dari siklus hari pertama menstruasi sampai
datangnya menstruasi periode berikutnya (Utami & Mardiyaningsih,
2015). Siklus menstruasi yang terganggu mengacu pada siklus
menstruasi yang tertunda selama lebih dari 7 hari, atau bahkan 40-50
hari untuk setiap menstruasi (Cai & Wu, 2009).
Panjang siklus menstruasi ialah jarak antara tanggal mulainya
menstruasi yang lalu dan mulainya menstruasi berikutnya. Pada
masing- masing wanita mempunyai variasi dalam siklus menstruasinya
ada yang masih dalam batas normal (Bustam, 2015). Buku Manajemen
Kesehatan Menstruasi (Sianaga, 2017) menjelaskan lamanya waktu
27
tahapan-tahapan siklus menstruasi berdeda-beda untuk setiap wanita
tapi umumnya pada siklus dengan rata-rata 28 hari terjadi tahapan
seperti :
1. Hari ke-1-5 yaitu perdarahan menstruasi (masa menstruasi)
2. Hari ke-7 yaitu sel telur dalam ovarium sudah cukup matang
3. Hari ke-7-11 yaitu saat dinding rahim mulai menebal, sebagai
persiapan untuk sel telur yang telah dibuahi (oleh sperma) agar dapat
tertanam di dalam jaringan spons (spongy tissue)
4. Hari ke-14 sel telur terlepas dari ovarium menuju kedalam tuba
fallopi, proses ini dikenal dengan nama ovulasi.
5. Hari ke-14-28 sel telur bergerak kebawah menuju rahim. Jika sel
telur tersebut dibuahi, maka sel tersebut akan tertanam dalam
dinding Rahim. Jika tidak dibuahi, sel telur akan bergerak terus,
bersama dengan sebagian diding rahim, menandai dimulainya hari
ke-1 pada siklus berikutnya.
Siklus menstruasi, rata-rata, berlangsung dari 21-35 hari, siklus
menstruasi yang biasa dimulai lapisan uterus terlepas. Rata-rata
kehilangan darah seluruh periode sekitar 40 mililiter, dari tingkat
rendah selama aliran, estrogen naik ke puncak siklus pertengahan
selama 9-20 hari. Selanjutnya, puncak hipofisis Luteinizing Hormon
(LH) memicu pelepasan sel telur, yang disebut sebagai ovulasi,
setelah ovulasi, produksi progesteron naik tajam sementara estrogen
berkurang minimal sampai keduanya berkurang pada periode
berikutnya. Luteal, juga dikenal sebagai pasca ovulasi, fase biasanya
28
berlangsung 10-14 hari (Webster, 2017).
Hormon pelepas gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus
mengontrol dua siklus. Hormon utama yang berfluktuasi di seluruh
rahim dan siklus ovarium adalah hormon perangsang folikel (FSH),
hormon luteinizing (LH), yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis
anterior, dan estrogen steroid jenis kelamin wanita (estriol, estrone
dan p-estradiol), dan progesteron, yang dilepaskan oleh korpus
luteum (uterus). FSH dan LH, yang mendorong stimulasi ovulasi dan
perkembangan folikel ovarium, dilepaskan dari hipofisis anterior
untuk memulai produksi folikel dan mendorong ovulasi dalam siklus
ovarium. Peran FSH adalah untuk merangsang perkembangan folikel
ovarium, yang mengeluarkan estrogen, sehingga LH dapat
mengembangkan folikel ovarium lebih lanjut. Luteinizing hormon
juga membantu memulai ovulasi dan merangsang produksi empat
hormone utama corpus luteum: estrogen, progesteron, inhibin, dan
relaxin ( berguna untuk melahirkan).
Menstruasi adalah endometrium uterus melepaskan keluarnya
sel yang sekarat, yang mengandung sekitar 50 hingga 150 ml darah,
cairan jaringan, lendir, dan sel-sel epitel karena menurunnya kadar
estrogen dan progesteron di dalam rahim. Awal menstruasi, kadar
FSH meningkat untuk merangsang perkembangan folikel primer,
yang menghasilkan kadar estrogen yang rendah. Pada akhir
menstruasi siklus, folikel primer ini telah berkembang menjadi folikel
sekunder atau tumbuh, yang terdiri dari oosit sekunder dan beberapa
29
lapisan sel epitel berbentuk kubus yang berasal dari sel epitel
berbentuk kubus di sekitar folikel primer Pada awal fase ini, level
FSH sedikit lebih tinggi untuk merangsang pengembangan folikel dan
memungkinkan sekresi estrogen oleh folikel. Hanya satu dari folikel
yang jatuh tempo telah mencapai kematangan. Folikel yang tumbuh
melepaskan estrogen, merangsang proses atresia, yang merupakan
penghambat negatif Sekresi FSH menyebabkan folikel yang kurang
berkembang berhenti tumbuh dan berdegenerasi. Folikel yang satu ini
matang menjadi folikel ovarium vesikular, atau Graafian, atau folikel
matang, sementara itu meningkatkan produksi estrogen. Tepat
sebelum ovulasi, peningkatan jumlah LH adalah kadar estrogen yang
disekresi dan melengkung berada pada titik tertinggi, memungkinkan
penebalan dinding endometrium. Tingkat estrogen yang tinggi ini
memberikan efek umpan balik positif, menstimulasi hormon hipofisis
anterior untuk melepaskan LH dan GnRH, yang mempromosikan
pelepasan lebih banyak LH. Peningkatan jumlah LH ini memicu
ovulasi. Ovulasi, yang biasanya terjadi pada hari ke 14 dari siklus
rata-rata, adalah pelepasan folikel ovarium vesikular matang dan oosit
sekunder ke dalam rongga panggul. Butuh sekitar 20 hari (mulai enam
hari terakhir dari siklus sebelumnya) untuk folikel berkembang
menjadi folikel ovarium vesikular dewasa dan menunggu dalam
tabung rahim. Setelah ovulasi terjadi, bekuan darah terbentuk untuk
menghancurkan ovarium vesikular folikel untuk menjadi
hemorrhagicum dan diserap oleh sel-sel folikel untuk terbentuk corpus
30
luteum, dengan bantuan LH, corpus luteum mengeluarkan estrogen
dan progesteron. Ini menandakan waktu setelah ovulasi dan sebelum
menstruasi berikutnya, juga dikenal sebagai fase postovulasi. Fase ini
biasanya berlangsung sekitar 14 hari dalam siklus 28 hari. Dalam
siklus ovarium, ini juga dikenal sebagai luteal tahap; dalam siklus
menstruasi ini juga disebut fase sekretori. Selama fase ini, produksi
progesteron tinggi hingga siapkan endometrium untuk menerima sel
telur yang dibuahi (Cruteau, 2015).
2.3.3 Siklus Menstruasi Normal
Menstruasi yang terjadi secara regular setiap bulan akan
membentu k siklus menstruasi. Jika siklus menstruasi yang regular
terjadi maka itu penandaan bahwa organ reproduksi seorang wanita
berfungsi dengan baik. Siklus menstruasi yaitu terhitung mulai dari hari
pertama dalam satu periode sampai dengan hari pertama periode
berikutnya. Siklus menstruasi pada wanita normalnya berkisar antara
21- 35 hari dengan rata-rata durasi siklus adalah 28 hari ( Women’s
health U.S., 2014). Lama menstruasi biasanya antara 3-7 hari (Utomo,
2007), jumlah rata-rata keluarnya darah selama menstruasi adalah 50
ml (rentang 20-80 ml), atau 2-5 kali pergantian pembalut perhari.
2.3.4 Gangguan Siklus Menstruasi
Gangguan menstruasi yang termasuk kedalam siklus menstruasi
yang tidak normal adalah perubahan pada siklus menstruasi dan
perubahan jumlah darah menstruasi (Bull et al., 2019). Perubahan pada
siklus menstruasi ada 3 yaitu :
31
1. Polimenorea
Polimenorea merupakan siklus menstruasi yang lebih pendek yaitu
kurang dari 21 hari, menjadi pendeknya masa luteal.
2. Oligomenorea
Oligomenorea adalah siklus haid lebih panjang, lebih dari 35 hari.
Hal ini karena masa proliferasi lebih panjang dari biasa.
3. Amenorea
Amenorea dibagi menjadi 2 yaitu, amenorea primer dan amenorea
sekunder. Amenorea primer apabila seorang perempuan berumur
18 tahun ke atas tetapi belum pernah mendapatkan haid,
sedangkan amenorea sekunder pernah mendapat haid tetapi
kemudian sedikitnya 3 bulan berturut-turut tidak mendapatkannya
lagi.
Sedangkan Perubahan jumlah darah terdapat 2 yaitu:
a. Hipermenorea atau menoragia
Hipermenorea adalah pendarahan haid yang lebih banyak dari
normal (lebih dari 7 hari).
b. Hipomenorea
Hipomenorea adalah pendarahan haid yan lebih pendek dari
biasa dan/atau lebih kurang dari biasa (kurang dari 3 hari)
penyebabnya kemungkinan gangguan hormonal, kondisi
wanita dengan penyakit tertentu.
2.3.5 Hormon Pengendali Proses Menstruasi
Dalam buku manajemen kesehataan menstruasi tahun 2017
32
menjelakan bahawa sistem hormon merupakan salah satu faktor
terpenting dalam siklus menstruasi. Sistem hormonlah pengendali
proses menstruasi adalah:
1. Hormon kelenjar hipofisis—hipotalamus
Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen dan
progesteron dalam darah menurun. Kadar hormon ovarium yang
rendah dalam darah ini menstimulasi hipotalamus untuk mensekresi
Gn-RH. Gonadotropin realising hormon (Gn-RH) menstimulasi
sekresi FSH. Folikel stimulating hormon (FSH) menstimulasi
perkembangan folikel dan produksi estrogennya. Kadar estrogen
mulai menurun dan Gn-RH, hipotalamus memicu hipofisis anterior
untuk mengeluarkan LH. Lutenizing hormone (LH) mencapai
puncak pada sekitar hari ke-13 atau ke-14 dari siklus 28 hari.
Apabila tidak terjadi fertilisasi dan implantasi, korpus luteum
menyusut, oleh karena itu kadar estrogen dan progesteron menurun,
maka terjadi menstruasi.
2. Hormon ovarium
Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Estrogen
bertanggung jawab terhadap perkembangan dan pemeliharaan organ-
organ serta mempercepat proses pematangan fololikel ke bentuk
perkembangan lebih lanjut dan memastikan dinding Rahim menebal
sebagai persiapan tempat implantasi bagi sel telur yang sudah di
buahi. Estrogen memainkan peranan penting dalam perkembangan
payudara dan dalam perubahan siklus bulanan dalam uterus.
33
Progesteron juga penting dalam mengatur perubahan yang terjadi
dalam Rahim selama siklus menstruasi. Progesteron merupakan
hormon yang paling penting untuk menyiapkan endometrium untuk
berdiamnya sel telur yang telah dibuahi.
2.3.6 Fase-Fase Pada Siklus Menstruasi
Menurut Fauziah, (2017) siklus menstruasi terbagi menjadi tiga fase
yaitu :
1. Fase poliferasi
Setelah menstruasi selesai, hanya lapisan tipis stroma endometrium
tersisa pada basis endometrium asli, dan satu-satunya sel epitel yang
tertinggal terletak pada bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptis
endometrium. Dibawah pengaruh estrogen yang sekresinya
ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama siklus ovarium,
sel-sel stroma dan sel- sel epitel dengan cepat berpoliferasi.
Permukaan endometrium mengalami repitalisasi dalam tiga sampai
tujuh hari setelah permulaan menstruasi. Selama dua minggu
pertama siklus seksual (yaitu sampai ovulasi) tebal endometrium
sangat bertambah karena peningkatan jumlah sel-sel stroma dan
karena pertumbuhan progresif kelenjar-kelenjar endometrium, semua
efek ini ditingkatkan oleh estrogen. Pada saat ovulasi tebal
34
endometrium sekitar 2- 3 mm.
2. Fase Sekresi
Selama separuh terakhir siklus seksual, progesteron dan estrogen
(dominan progesteron) disekresi oleh korpus luteum. Estrogen
menyebabkan poliferasi sel tambahan dan progesterone
menyebabkan pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi
endometrium. Kelenjar tambah berkelok-kelok, Zat yang disekresi
tertimbun dalam sel epitel kelenjar, dan kelenjarnya menyekresi
sedikit cairan endometrium. Sitoplasma sel stroma juga bertambah,
lipid dan glikogen banyak mengendap dalam sel stroma, dan suplai
darah ke endometrium meningkat lebih lanjut sebanding dengan
aktivitas sekresi yang sedang berkembang. Pada fase ini,
endometrium mempunyai ketebalan 4-6 mm. Tujuan dari seluruh
perubahan endometrium ini adalah untuk menghasilkan
endometrium yang banyak menyekresikan dan sangat banyak
mengandung cadangan zat gizi yang dapat memberikan keadaan
yang sesuai untuk implantasi ovum yang telah dibuahi selama
separuh terakhir siklus menstruasi.
3. Fase Menstruasi
Jika ovum tidak dibuahi, korpus luteum pada ovarium menjadi
involusi, hormone ovarium (estrogen dan progesterone) akan turun
sampai level terendah, dan terjadilah menstruasi. Menstruasi
disebakan oleh pengurangan mendadak progesterone dan estrogen
pada akhir siklus ovarium. Efek pertama adalah penurunan
35
ransangan sel-sel endometrium oleh kedua hormone tersebut, diikuti
dengan cepat oleh involusi endometrium itu sendiri sampai sekitar
65% tebal sebelumnya. Selama 24 jam sebelum mulai menstruasi.
Pembuluh darah yang menuju kelapisan mukosa endometrium
menjadi vasopastik, mungkin karena efek involusi, seperti
pengeluaran zat vasokontriktor. Vasopasme dan kehilangan rangsang
hormonal mulai menimbulkan nekrosis pada endometrium. Sebagai
akibatnya, darah merembes dalam lapisan vaskuler fase
endometrium area perdarahan mulai terbentuk setelah 24-36 jam.
Lapisan luar endometrium yang nekrotik terlepas dari uterus pada
tempat pendarahan, pada 48 jam setelah mulainya menstruasi, semua
lapisan superfisial endometrium telah deskuamasi. Jaringan
deskuamasi dan darah dalam kubah uterus memulai kontraksi uterus.
Selama menstruasi normal, sekitar 40 ml darah dan 35 ml cairan
serosa hilang. Cairan menstruasi ini dalam keadaan normal tidak
membeku, karena fibrinolysin dikeluarkan bersama endometrium
yang nekrotik. Dalam 3-7 hari setelah menstruasi mulai perdarahan
berhenti karena pada saat ini endometrium sudah mengalami
epitalisasi penuh.
36
2.4 Kerangka Teori
Tingkat Pengetahuan 1. Tahu (Know)
2. Memahami
(Comprehension)
3. Aplikasi
Pengetahuan Remaja Putri (Aplication)
4. Analisa (Analysis)
Sintesis (Syntesis)
5. Evaluasi
Faktor-faktor yang (Evalution)
mempengaruhi Personal
Hygiene saat Menstruasi :
1. Umur
2. Usia menrache
3. Minat
4. Pengalaman
5. Kebudayaan
6. Lingkungan Sekitar
Keterangan :
: Variabel yang diteliti
37
: Variabel yang tidak diteliti
Bagan 2.1 : Kerangka Teori gambaran tingkat pengetahuan remaja putri
tenatang personal hygine saat menstuasi di SMP Yarsi Mataram.
((Ulina Gultom, 2021) Tingkat Pengetahuan Remaja tentang Personal
Hygiene Saat Menstruasi di SMP Swasta Bahagia Jalan Mangaan I No.
60 Mabar Kecamatan Medan Deli Provinsi Sumatera Utara Tahun
2021.