0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Dampak Budaya LGBT di Indonesia

Dokumen ini membahas pengaruh budaya LGBT di Indonesia, termasuk perkembangan organisasi LGBT dan tantangan hukum yang dihadapi komunitas tersebut. Meskipun terdapat dukungan dari sebagian masyarakat dan lembaga hak asasi manusia, stigma dan diskriminasi masih kuat, terutama di daerah dengan hukum syariat. Selain itu, dokumen ini juga menguraikan dampak kesehatan, sosial, pendidikan, dan keamanan yang terkait dengan gaya hidup LGBT.

Diunggah oleh

salsabillaaul14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Dampak Budaya LGBT di Indonesia

Dokumen ini membahas pengaruh budaya LGBT di Indonesia, termasuk perkembangan organisasi LGBT dan tantangan hukum yang dihadapi komunitas tersebut. Meskipun terdapat dukungan dari sebagian masyarakat dan lembaga hak asasi manusia, stigma dan diskriminasi masih kuat, terutama di daerah dengan hukum syariat. Selain itu, dokumen ini juga menguraikan dampak kesehatan, sosial, pendidikan, dan keamanan yang terkait dengan gaya hidup LGBT.

Diunggah oleh

salsabillaaul14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pengaruh Masuknya Budaya LGBT di Indonesia

Richo Alfa Kurnia – XII IPS 4

LGBT merupakan istilah yang digunakan untuk melingkupi kelompok orientasi dan
beragam identitas gender. LGBT artinya orang yang memiliki beragam identitas seksual seperti
lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Saat ini, istilah LGBT mulai berkembang menjadi
LGBTQIA+ atau LGBTQ+ yang melingkupi lebih banyak jenis orientasi seks atau gender
lainnya yang ada di masyarakat.
Pada awalnya, LGBT dikategorikan sebagai salah satu jenis gangguan mental. Namun,
pada tahun 1975, American Psychological Association memutuskan bahwa LGBT bukanlah
sebuah gangguan mental, melainkan sebuah orientasi seksual.
Orientasi dan identitas seksual seseorang ini dianggap sebagai sebuah aspek yang
normal dalam seksualitas manusia. Sehingga, saat ini LGBT tidak lagi disebut sebagai bentuk
dari gangguan mental.
Pada tahun 1982, kelompok hak asasi gay didirikan di Indonesia. Lambda
Indonesia dan organisasi sejenis lainnya bermunculan pada akhir tahun 1980-an dan 1990-
an. Kini, asosiasi LGBT utama di Indonesia adalah "Gaya Nusantara", "Arus Pelangi",
Ardhanary Institute, dan GWL INA.
Pergerakan gay dan lesbian di Indonesia adalah salah satu yang tertua dan terbesar di
Asia Tenggara. Kegiatan Lambda Indonesia termasuk mengorganisasikan pertemuan sosial,
peningkatan kesadaran dan menciptakan buletin, tetapi kelompok ini dibubarkan pada tahun
1990-an. Gaya Nusantara adalah sebuah kelompok hak asasi gay yang berfokus pada isu-isu
homoseksual seperti AIDS. Kelompok lain adalah Yayasan Srikandi Sejati, yang didirikan pada
tahun 1998, fokus utama mereka adalah masalah kesehatan yang berkaitan dengan orang-orang
transgender dan pekerjaan mereka termasuk memberikan
konseling HIV/AIDS dan kondom gratis untuk transgender pekerja seks di sebuah klinik
kesehatan gratis. Sekarang ada lebih dari 30 kelompok organisasi LGBT di Indonesia.
Yogyakarta, Indonesia, merupakan tempat diadakannya pertemuan puncak hak LGBT
pada tahun 2006 yang menghasilkan Prinsip-Prinsip Yogyakarta. Namun, pertemuan pada
Maret 2010 di Surabaya diganggu oleh Front Pembela Islam dan demonstran
konservatif. Meskipun mendapat pandangan konservatif, hak LGBT di Indonesia sebagian
didukung oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Komisi Nasional Anti Kekerasan
terhadap Perempuan.
Kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di Indonesia menghadapi
tantangan hukum dan prasangka yang tidak dialami oleh warga non-LGBT. Adat istiadat
tradisional tidak menyetujui homoseksualitas dan berlintas-busana, yang berdampak pada
kebijakan publik. Misalnya, pasangan sesama jenis di Indonesia, atau rumah tangga yang
dikepalai oleh pasangan sesama jenis, dianggap tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan
perlindungan hukum yang lazim diberikan kepada pasangan lawan jenis yang menikah. Secara
khusus, Indonesia tidak memiliki hukum sodomi dan saat ini tidak mengkriminalisasi perilaku
homoseksual pribadi dan nonkomersial di kalangan orang dewasa.
Hukum di Indonesia tidak secara spesifik melindungi komunitas LGBT
terhadap diskriminasi dan kejahatan kebencian. Di Aceh, homoseksualitas merupakan sesuatu
yang ilegal di bawah hukum syariat Islam, dan diancam dengan hukuman cambuk atau penjara.
Saat ini, Indonesia tidak mengakui pernikahan sesama jenis. Pada Juli 2015, Menteri Agama,
Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan bahwa hal itu (red: pernikahan sesama jenis) sulit
diterima di Indonesia, karena norma-norma agama yang menentang hal tersebut. Pentingnya
harmoni sosial di Indonesia menyebabkan penekanan kepada kewajiban (yang berlebihan)
daripada hak, yang berarti bahwa hak asasi manusia bersama dengan hak-hak LGBT tergolong
amat rapuh. Namun, komunitas LGBT di Indonesia perlahan-lahan menjadi lebih terlihat dan
aktif secara politik.
Orang-orang LGBT jarang melela ke keluarga dan teman-teman mereka karena mereka
takut akan penolakan dan reaksi sosial. Namun demikian, walaupun terbilang langka, ada
beberapa keluarga yang memahami dan menerima anggota keluarga mereka yang ternyata
adalah orang LGBT.
Sebuah survey menunjukkan, mayoritas rakyat Indonesia memandang negatif namun
tetap menerima hak hidup mereka dan bahwa mereka harus dilindungi keamanannya. Hal itu
terungkap dalam temuan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melalui sejumlah
survey nasional, yang hasilnya disampaikan kepada pers Kamis, (25/1), di Jakarta.
"Survey nasional (Surnas) SMRC menunjukkan, kendati disebut bertentangan dengan
agama, 57,7 persen publik berpendapat bahwa LGBT punya hak hidup di negara kita. Adapun
yang berpendapat sebaliknya hanya sebesar 41,1 persen," kata Ade Armando, peneliti senior
SMRC.
Disebutkan, sebagian besar masyarakat menyebut kelompok lesbian, gay, biseksual dan
transgender (LGBT) merupakan warga biasa yang memiliki hak yang sama untuk hidup dan
tinggal di Indonesia. Setengah dari penduduk Indonesia juga mendorong pemerintah
melindungi komunitas tersebut.
• 'Politisasi' isu LGBT di balik pembahasan RUU KUHP
• Politisasi atau kriminalisasi LGBT: dari 'lima partai pendukung' sampai 'kucuran dana
asing'
• MK tolak kriminalisasi LGBT dan hubungan di luar nikah
SMRC melakukan tiga tahap survey nasional pada Maret 2016 serta September dan
Desember 2017.
Jajak pendapat itu menyasar 1220 responden, baik laki-laki maupun perempuan dari
beberapa rentang usia, latar belakang agama dan etnis berbeda di 34 provinsi.
Temuan lain survey itu, kata Ade, 45% responden menyatakan bersedia menerima
anggota keluarga mereka yang berorientasi seksual LGBT. Namun mereka yang menjawab
'tidak menerima' berjumlah lebih besar.
Faktanya, penyebaran LGBT begitu cepat. Bahkan, yang tadinya terlahir sebagai
perempuan atau laki-laki "normal" dapat terkena hal tersebut. Hal tersebut tidak boleh
dibiarkan begitu saja karena dampaknya sangat besar. LGBT bisa membahayakan kesehatan,
pendidikan dan moral seseorang.
• DAMPAK KESEHATAN
a. Kanker anal atau dubur; Para gay melakukan hubungan sek anal sehingga
mereka memiliki resiko tinggi terkena penyakit kanker anal.
b. Kanker Mulut; Kebiasaan melakukan oral seks bisa menyebabkan kanker
mulut. Sebab, faktanya rokok bukanlah satu-satunya penyebab kanker mulut
terjadi. Hal ini sesuai dengan studi di New England Journal of Medicine yang
dimuat di situs Dallasvoice.
c. Meningitis; Meningitis atau radang selaput otak terjadi karena infeksi
mikroorganisme, kanker, penyalahgunaan obat-obatan tertentu dan mengalami
peradangan tubuh. Namun, hal lain diungkapkan dalam tulisan di DetikHealth
bahwa meningitis terjadi karena penularan hubungan seks yang dilakukan oleh
LGBT
d. HIV/AIDS; Umumnya, para LGBT memiliki gaya hidup seks bebas dengan
banyak orang sehingga kecenderungan terkena virus HIV/ AIDS sangat tinggi.
• DAMPAK SOSIAL
Seorang gay akan sulit mendapatkan ketenangan hidup karena selalu berganti
ganti pasangan. Penelitian menyatakan: “Seorang gay mempunyai pasangan antara 20-
106 orang pertahunnya. Sedangkan pasangan zina saja tidak tidak lebih dari 8 orang
seumur hidupnya. Sebanyak 43 persen orang gay yang didata dan diteliti menyatakan
bahwa seumur hidupnya melakukan homoseksual dengan 500 orang.
28 persen melakukannya dengan lebih dari 1,000 orang. 79 persen
melakukannya dengan pasangan yang tidak dikenali sama sekali dan 70 persen hanya
merupakan pasangan kencan satu malam atau beberapa menit saja.
Berdasarkan penelitian di atas, melegalkan pasangan LGBT dalam ikatan
pernikahan pada hakikatnya adalah tindakan yang sia-sia.
• DAMPAK PENDIDIKAN
Penelitian membuktikan bahwa pasangan homo menghadapi permasalahan
putus sekolah lima kali lebih besar dari pada siswa normal karena mereka merasakan
ketidakamanan dan 28 persen dari mereka dipaksa meninggalkan sekolah.
• DAMPAK KEAMANAN
Kaum homoseksual menyebabkan 33 persen pelecehan seksual pada anak-anak
di Amerika Serikat (AS), padahal populasi mereka hanyalah 2 persen dari keseluruhan
penduduk negara itu.
Sementara itu, di Indonesia melalui riset dengan bantuan Google dalam kurun
waktu 2014 hingga 2016, telah terjadi 25 kasus pembunuhan sadis dengan latar
belakang kehidupan pelaku dan atau korban dari kalangan pelaku homoseksual.
DAFTAR PUSAKA
Zulfa Ardhini – detikEdu. “Memahami Arti LGBT, Faktor Penyebab dan Berbagai Istilah
LGBT” [Link]
penyebab-dan-berbagai-istilah-lgbt
Wikipedia. “Hak LGBT di Indonesia” [Link]
BBC News Indonesia. “Mayoritas Rakyat Indonesia Menerima Hak Hidup LGBT”
[Link]
RSUD Padang Panjang. “Penyuluhan Tentang Dampak dan Bahaya LGBT Dari Perspektif
Psikologis” [Link]
bahaya-lgbt-dari-perspektif-pisikologis-

Anda mungkin juga menyukai