100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
16 tayangan533 halaman

Panduan MFR: Alat dan Teknik Pertolongan

Dokumen ini menjelaskan tentang penanganan medis pertama (MFR) termasuk pengertian, alat pelindung diri, dan peralatan yang diperlukan. Selain itu, juga dibahas tentang pemindahan darurat, penilaian dan pemeriksaan korban, serta teknik resusitasi jantung paru (RJP). Penekanan pada keselamatan penolong dan korban serta prosedur triage untuk menentukan prioritas penanganan korban juga disoroti.

Diunggah oleh

Adi yan Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
16 tayangan533 halaman

Panduan MFR: Alat dan Teknik Pertolongan

Dokumen ini menjelaskan tentang penanganan medis pertama (MFR) termasuk pengertian, alat pelindung diri, dan peralatan yang diperlukan. Selain itu, juga dibahas tentang pemindahan darurat, penilaian dan pemeriksaan korban, serta teknik resusitasi jantung paru (RJP). Penekanan pada keselamatan penolong dan korban serta prosedur triage untuk menentukan prioritas penanganan korban juga disoroti.

Diunggah oleh

Adi yan Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SASARAN

Peserta mampu:
•Menyebutkan pengertian MFR
•Menyebutkan 4 Alat Pelindung Diri MFR
•Menyebutkan 5 Peralatan MFR
•Menyebutkan 3 bagian tubuh Manusia
•Menyebutkan 3 Rongga Tubuh Manusia
•Menyebutkan 4 Kuadran Perut
Lanjutan, , ,

• Menyebutkan Pengertian Pemindahan Darurat


•Menyebutkan 4 Pemindahan Darurat
•Menyebutkan 3 kondisi melakukan pemindahan darurat
•Menyebutkan 2 Peralatan Evakuasi
 Penolong yang pertama kali tiba di
tempat kejadian, yang memiliki
kemampuan penanganan kasus
gawat darurat, terlatih untuk tingkat
dasar.
 Menjaga keselamatan diri
 Menjangkau korban
 Mengenali dan mengatasi masalah yang
mengancam nyawa
 Meminta bantuan
 Memberikan pertolongan sesuai
dengan keadaan korban …….
 Membantu pelaku pertolongan pertama
 Mencatat data-data korban
 Berkomunikasi dengan petugas terlibat
lainnya
 Mempersiapkan penderita untuk
transportasi
 Tanggung jawab
 Kemampuan bersosialisasi
 Kejujuran
 Kebanggan (higiene, seragam,
penampilan)
 Kematangan emosi
 Perilaku profesional
 Kondisi fisik baik
 Mempunyai kemampuan nyata
Alat Perlindungan Diri

“Alat perlindungan diri harus


selalu dipakai pada saat
melakukan tugas.”

Darah dan semua cairan


tubuh adalah media
penularan penyakit
Sarung tangan lateks
Pelindung mata
Baju pelindung dan lainnya
Masker Pelindung
Masker Resusitasi
1. Mencuci tangan
2. Membersihkan alat :
a. Mencuci dengan sabun dan air
b. Desinfeksi
c. Sterilisasi
 Perban
 Pembalut luka
 Plester
 Bidai
 Spinal board
 Cervical collar
 Stethoscope
 sphygmomanometer
 Senter kecil
5 bagian Tubuh Manusia

 Kepala ( Cranium )
 Leher ( Cervical )
 Batang Tubuh : Thorax, Abdomen, Pelvic
 Alat gerak atas
 Alat gerak bawah
Rongga tubuh

 Rongga Kepala
 Rongga Dada
 Rongga Perut
 Rongga Panggul
 Rongga Tulang Belakang
Perut (abdomen)

 Kwadran atas kanan


 Kwadran atas kiri
 Kwadran kanan bawah
 Kwadran kiri bawah
 Rencanakan pergerakan sebelum
mengangkat
 Gunakan tungkai
 Upayakan merapatkan beban sedekat
mungkin
 Lakukan gerakan secara menyeluruh dan
upayakan agar bagian tubuh saling
menopang
 Kurangi jarak atau ketinggian
 Perbaiki posisi dan angkat secara bertahap
 Kapan penderita harus dipindahkan ?
 Apakah penilaian dan pemeriksaan harus
selesai sebelum pemindahan ?
 Berapa lama waktu yang dipakai untuk
menjaga tulang belakang ?

•  Tergantung keadaan
Darurat
Biasa
 Bahaya langsung terhadap penderita
 Kebakaran
 Ledakan
 Lingkungan tidak aman :
 Massa
 Material berbahaya
 Tumpahan minyak
 Cuaca ekstrim
 Tarikan Baju / Shirt drag
 Tarikan selimut / Blanket drag
 Tarikan lengan/ forearm drag
 Tarikan kain /Sheet drag
 Gendong / Piggyback carry
 Papah / One rescuer crutch
 Bopong / Craddle carry
 Membawa di lorong sempit
/Firefighter drag
 Pemindahan Langsung
 Pemindahan Tidak Langsung
 Penderita dengan syok
 Penderita dengan gangguan pernapasan
 Penderita dengan nyeri perut
 Penderita yang muntah
 Penderita trauma terutama dengan
kecurigaan cedera spinal
 Posisi pemulihan
 Stretcher beroda
 Basket Stretcher
 Scoop stretcher
 Vest type extrication device (KED)
 Stair chair
 Tandu Folding / lipat
 Backboard / spinal board
 Tandu Improvisasi
Proses memilah korban untuk menentukan korban
mana yang harus menerima perawatan terlebih
dahulu.
S = Simple ( sederhana )
T = Triage ( pemilahan )
And
R = Rapid ( cepat )
T = Treatment ( penanganan)
1. Merah
2. Kuning
3. Hijau
4. Hitam
Merupakan prioritas utama, diberikan kepada
para penderita yang kritis keadaanya seperti
gangguan jalan napas, gangguan pernapasan,
perdarahan berat atau perdarahan tidak
terkontrol, penurunan status mental.
Merupakan prioritas berikutnya diberikan kepada
para penderita yang mengalami keadaan seperti
luka bakar tanpa gangguan saluran napas, nyeri
yang berat atau banyak, bengkak / perubahan
bentuk alat gerak, cidera punggung
Merupakan kelompok yang paling akhir
prioritasnya, dikenal juga sebagai “walking
wounded” atau orang yang dapat berjalan sendiri,
orang dengan cidera ringan dan hanya
membutuhkan perawatan minimal tanpa ada
kekhawatiran cidera tersebut menjadi parah.
Termasuk korban dengan nyeri ringan, bengkak /
perubahan bentuk pada alat gerak, luka – luka
kecil
Diberikan kepada mereka yang meninggal atau
mengalami cidera yang mematikan. Meliputi
cedera-cedera yang tidak dapat diselamatkan
START Flowchart

Patient YES Minor Injurie s


ambulatory? GREEN

NO

NO Patient YES
breathing?

Open airw ay

(30 or more) (29 or less)


YES More than NO
30 RPM?
Patient
NO breathing YES
af ter opening
airw ay?

De ad URGENT
BLACK RED

PERFUSION
Check radial pulse

NO Radial pulse YES


present?

Control bleeding Check mental status

NO Can patient YES


URGENT
f ollow simple
RED
orders?

DELAYED
YELLOW
PENILAIAN &
PEMERIKSAAN
KORBAN
 Bagaimana kondisi pada saat itu ?

 Kemungkinan apa saja yang akan terjadi ?

 Bagaimana mengatasinya ?
Lokasi
Pada saat tiba dilokasi kejadian seorang MFR harus :
 Memastikan keselamatannya

 Memastikan keselamatan penderita

 Menentukan kesan umum kejadian (mekanisme


cidera) dan mulai melakukan penilaian dini dari
penderita (bila sadar perkenalkan diri)
 Mengenali dan mengatasi cedera / gangguan
yang mengancam nyawa
 Stabilkan dan teruskan pemantauan korban.
Memperkenalkan diri

 Nama dan organisasi


 Kemampuan penolong
 Izin untuk menolong
Sumber informasi langsung
 Kejadian itu sendiri
 Si korban (bila sadar)
 Keluarga atau saksi
 Mekanisme kecelakaan
 Perubahan bentuk yang nyata atau cedera yang
jelas
 Gejala dan tanda spesifik suatu cedera atau
penyakit
Definisi : Suatu proses untuk mengenali dan
mengatasi keadaan yang dapat mengancam
nyawa korban
Penilaian Dini

Kesan Umum

Tingkat Kesadaran (Respon)

Airway

Breathing

Circulation

Minta bantuan & Laporan


Kesan umum
Tingkat Kesadaran

Alert
Verbal
Painful
Unresponsive
Airway

Buka jalan napas

Periksa jalan napas


Buka jalan napas : Angkat Dagu Tekan Dahi
Breathing

Cek Pernapaan
Lihat, dengar dan rasakan ada
tidaknya pernapasan
Pernapasan buatan bila diperlukan
Nilai pernapasan : Lihat, Dengar, Rasakan
Pernapasan buatan : Mulut – Masker Resusitasi
Circulation

Cek nadi
Nilai nadi
Nadi radialis : penderita respon
Nadi karotis : penderita tidak respon
Lapor/menghubungi bantuan

Umur dan jenis kelamin


Keluhan utama
Kesadaran
Airway / Breathing
Circulation
Pemeriksaan Fisik

Merupakan pemeriksaan yang


dilakukan untuk membantu dalam
mengidentifikasi keadaan yang
mengancam nyawa korban
Prinsip Pemeriksaan Fisik
 Penglihatan / Inspeksi
 Pendengaran / Auskultasi
 Perabaan / Palpasi
Trauma Medis
 Wawancara 20 % 80 %
 Pemeriksaan 80 % 20 %
Pemeriksaan Fisik
Periksa dan raba untuk mencari
DOTS
Deformities / kelainan bentuk
Open injuries / luka terbuka
Tenderness / nyeri tekan
Swelling / bengkak
Alur Pemeriksaan Fisik

Kepala
Leher
Dada
Perut
Panggul
Alat gerak
Riwayat S.A.M.P.L.E.

Signs / Symptoms  Gejala & tanda


Allergies  Alergi (obat, makanan, debu)
Medications  Pengobatan
Pertinent Past History  Riwayat penyakit
Last Oral Intake  Makan/minum terakhir
Events  Kejadian
Penilaian Berkelanjutan

Penderita stabil :
Setiap 15 menit

Penderita tidak stabil :


Setiap 5 menit
Laporan / Dokumentasi
• Umur dan jenis kelamin
• Keluhan utama
• Kesadaran
• Kondisi ABC
• Tanda Vital
• Temuan pemeriksaan fisik
• Riwayat SAMPLE yang penting
• Tindakan/perawatan yang
sudah diberikan
 Sistem Pernapasan

 Sistem Peredaran Darah


 Lidah : lidah jatuh ke belakang, umumnya
terjadi pada orang yang tidak sadar
 Epiglotis : muncul bila ada alergi, dan kejang
 Benda asing : makanan, es, mainan, gigi,
muntahan dan cairan yang menutup bagian
atas saluran nafas
 Luka : disebabkan karena luka tusuk pada
leher, remuk pada wajah, menghirup udara
panas ( kebakaran ), menelan bahan kimia.
 Sakit : infeksi saluran nafas, asma dll.
 Sumbatan sebagian : penyebab sumbatan
berada di kerongkongan, tetapi tidak menutup
seluruh jalan nafas.
 Sumbatan total : korban tidak dapat berbicara,
bernafas atau batuk dan kedua tangan korban
memegangi leher ( tanda – tanda universal
tersedak )
Tanda universal
Hentakan perut (Heimlich Manouver)
Hentakan perut (Heimlich Manouver –
lanjutan)
Sentakan dada (penderita hamil)
Hentakan perut
Hentakan dada (penderita hamil)
Sapuan jari
Selalu pastikan bahwa jalan napas
terbuka
Teknik Pemberian Pernapasan
Buatan
Mulut ke masker
Mulut ke Mulut dan Hidung

Mulut ke mulut
Memberikan pernapasan buatan melalui
masker
 Penyebaran penyakit

 Kontaminasi bahan kimia

 Muntah penderita
Mati klinis
 Pada saat pemeriksaan penderita tidak
menemukan adanya fungsi sistem perdarahan
dan sistem pernapasan
 Reversibel
Mati biologis
 Kematian sel / jaringan yang sifatnya menetap.
Pada manusia kerusakan paling cepat terjadi
pada otak
 Irreversibel
 Lebam mayat
 Kaku mayat
 Pembusukan
 Tanda lain (cedera yang
mematikan)
Resusitasi Jantung
Paru ( RJP )
Circulatory Support
Breathing Support
AIRWAY CONTROL
Airway

Sistem Pernapasan
Membuka jalan napas

“Salah satu tindakan yang


paling penting yang
dilakukan oleh penolong
pada penderita yang tidak
sadar adalah membuka jalan
napas.”
Angkat dagu tekan dahi

“Merupakan tindakan pilihan


pada penderita yang dicurigai
tidak menderita cedera
spinal.”
Lakukan angkat dagu tekan dahi
Manuver rahang bawah
(Jaw Thrust Manouvre)

“Merupakan cara yang paling


aman untuk uka jalan napas
pada penderita yang dicurigai
menderita cedera spinal.”
Penolong menstabilkan kepala dan leher
penderita, pelindung leher terpasang
 Pada garis tengah tulang dada kurang lebih
dua jari dari pertemuan rusuk kiri dan
kanan
Menentukan titik tekan
Menentukan titik tekan (lanjutan)
Menentukan titik tekan (lanjutan)
30 tekan : 2 tiup
siklus penekanan setidaknya 100 x selama 1
menit
Kedalaman penekanan setidaknya 5 cm
Interfal tiupan masing – masing 1 detik
Mulai menekan (Circulation)
RJP Dewasa – 2 penolong
 Patah tulang
 Paru-paru bocor
 Perdarahan dalam paru-paru
 Luka memar dan robek pada paru
 Robekan pada hati
Respon

Ada Tidak

Airway

Breathing 5 - 10 detik

DIAGRAM Ada Tidak

RJP RJP Reaksi Spontan

Posisi Miring Stabil


Posisi Pemulihan

Manfaatkan gaya tarik bumi untuk


membersihkan jalan napas
Pantau penderita sampai bantuan
tiba dan mengambil alih.
Dipakai pada penderita yang tidak
respon tanpa cedera yang
pernapasannya adekuat.
Posisi Pemulihan
Pembuluh darah
 Pembuluh nadi :
mengangkut darah yang kaya oksigen ke
seluruh tubuh
 Pembuluh kapiler :
tempat pertukaran zat
 Pembuluh balik :
pembuluh darah yang mengangkut darah
yang terutama berisi karbon dioksida
 Sel darah merah
 Sel darah putih
 Keping darah
 Plasma
 Transportasi oksigen dan zat makanan

 Melawan penyakit / infeksi

 Membuang zat sampah

 Kemampuan pembekuan darah


Tiga jenis perdarahan luar

Kaya oksigen
Keseluruh tubuh Keluar perlahan, sedikit
Memancar,
Mirip dengan perd. vena
mengikuti nadi
Merah segar

Terutama karbon dioksida


Keluar merata
Merah tua/gelap
Perdarahan Luar
Perdarahan Luar

Risiko penularan penyakit melalui


darah dan cairan tubuh.

Berat ringannya kehilangan darah


harus didasarkan pada tanda
yang ada pada penderita.
Tekanan langsung
Tekanan langsung
Tinggikan alat gerak
Titik tekan
Titik tekan
Pembalutan penekan
Perdarahan dalam

Cedera atau kerusakan alat dalam


tubuh sering mengakibatkan
perdarahan dalam yang berat.
Nyeri, bengkak, perubahan bentuk
pada alat gerak dapat juga
menyebabkan perdarahan dalam
yang berat.
Gejala dan Tanda

 Batuk darah segar


 Muntah darah hitam
 Bagian tubuh luar memar
 Dinding perut tegang dan nyeri
 Sesak napas
 Riwayat benturan benda tumpul
Perdarahan Dalam
 Jaga jalan napas, beri oksigen bila ada
 Jaga suhu pasien senyaman mungkin
 Rawat syok
 Bawa ke rumah sakit
Syok

“Kegagalan sistem sirkulasi


untuk memberikan darah
yang kaya oksigen ke
seluruh tubuh”
Penyebab syok

 Kegagalan jantung memompa darah

 Kehilangan darah dalam jumlah besar

 Pelebaran pembuluh darah yang luas


Tanda syok

 Pernapasan : dangkal dan cepat

 Nadi : cepat dan lemah

 Kulit : pucat, dingin dan lembab

 Wajah : pucat, mungkin sianosis

 Mata : menerawang, pupil dilatasi


Gejala syok

 Mual, mungkin muntah

 Haus

 Lemah

 Vertigo

 Gelisah dan takut


Penanganan syok

• Awasi jalan napas penderita, beri


oksigen bila ada
• Hentikan perdarahan bila ada
• Tinggikan tungkai sekitar 20 – 30 cm,
kecuali curiga cedera tulang punggung
• Pertahankan suhu tubuh senyaman
mungkin
• Rawat luka lainnya
Jaga suhu tubuh penderita
Cedera Jaringan Lunak

Penutup Luka dan Pembalut


Fungsi

Menghentikan
perdarahan
Melindungi
luka
Mencegah
kontaminasi
PENUTUP LUKA PEMBALUT LUKA
 PENUTUP LUKA TIPIS  PERBAN
 PENUTUP LUKA  MITELA
KEDAP  PERBAN ELASTIS
 PENUTUP LUKA
TEBAL
Penutup luka tipis

Bahan yang digunakan untuk menutupi luka yang


membantu menghentikan perdarahan dan turut mencegah
kontaminasi lebih lanjut
Penutup luka kedap

Bahan kedap air dan udara yang dipakai pada luka untuk mencegah
keluar masuknya udara dan menjaga kelembaban organ dalam
Penutup luka tebal

Setumpuk bahan penutup luka setebal kurang lebih 2 – 3 cm


 Kontrol perdarahan
 Pemasangan aseptik
 Menutup seluruh permukaan luka
 Pembalut dan penutup kuat, nyaman
 Tidak ada ujung bebas
 Jangan menutup ujung jari
Definisi : Tidak rusaknya / sobek
jaringan kulit luar

Penanganan
 Awasi tanda vital

 Rawat syok bila ada

 Bawa ke rumah sakit secepatnya


Definisi : Rusaknya jaringan kulit luar / robek.
Jenisnya :
 Lecet
 Sayat dan robek
 Tusuk
 Avulsi
 Amputasi
 Tembak
 Remuk
 Gigitan
Lecet / Abrasi
Robek
Sayat
Luka tusuk
Amputasi
 Paparkan luka
 Bersihkan disekitar lukanya
 Hentikan perdarahan
 Cegah kontaminasi
 Buat korban senyaman mungkin
 Rawat syok bila ada
Luka tusuk :
 Tutup seluruh permukaan luka
 Periksa apakah tembus

Benda menancap :
 Jangan dicabut
 Hentikan perdarahan
 Stabilkan benda menancap dengan penutup
tebal dan balut
Benda menancap
 Jaga jalan napas
 Tekan kedua cuping hidung
 Perintahkan korban duduk diam
 Periksa apakah ada cairan otak yang keluar,
bila ada jangan menutup hidung
 Jangan mengeluarkan benda dalam hidung
 Bila ada avulsi pakai pembalut penekan
 Posisikan Litotomi
 Jangan Mereposisi Usus yang terburai / keluar
 Jaga Airway, Breathing, Circulation
 Jaga syok
Luka perut terbuka / Eviserasi
1. Membentuk tubuh
2. Melindungi organ penting
3. Pergerakan tubuh
4. Membentuk sel darah merah
Terputusnya jaringan tulang

 Tertutup
 Bagian tulang yang patah tidak berhubungan
dengan udara luar

 Terbuka
 Bagian tulang yang patah berhubungan dengan
udara luar
1. Perubahan bentuk
2. Nyeri dan kaku pada saat
ditekan/digerakkan
3. Krepitus – suara berderak
4. Bengkak
5. Memar dan perubahan warna
6. Terlihat bagian tulang
7. Persendian sukar atau tidak dapat digerakkan
8. Mati rasa dan kelumpuhan
9. Perubahan sirkulasi pada bagian distal cedera
ditandai dengan perubahan warna kulit, suhu
atau pengisian kapiler
Keluarnya salah satu tulang dari sendinya

Gejala dan tanda


1. Perubahan bentuk
2. Bengkak ringan – berat di sendi
3. Nyeri dan kaku atau perasaan tertekan pada
daerah sendi
4. Gangguan gerak pada sendi yang cedera
Sprain
 Ligamen tertarik atau robek
sebagian

Strain
 Cedera pada otot atau tendon

Gejala dan tanda


 Serupa dengan dislokasi
1. Mencegah pergerakan sendi atau bagian
tulang yang patah
2. Mengurangi rasa sakit dan derita
3. Mengurangi kerusakan pada jaringan lunak
4. Mencegah patah tulang tertutup menjadi
patah tulang terbuka
5. Membantu mengatasi perdarahan
 Bidai lurus
 Bidai lipat
 Bidai traksi
 Gendongan
 Improvisasi
 Komunikasi dengan penderita
 Rawat luka dan perdarahan terlebih dulu
 Buka pakaian, perhiasan di daerah cedera
 Periksa PSM
 Jangan merubah posisi bagian cedera,
bidai pada posisi ditemukan
 Lapisi bidai dengan bahan lunak
 Isilah bagian yang kosong
 Tulang : bidai kedua sendi
 Sendi : bidai kedua tulang
 Jangan membidai berlebihan
 Apabila Mengalami Patah Tulang, Pembidaian
Melewati 2 Sendi
 Apabila Mengalami Dislokasi Sendi,
Pembidaian Melawati 2 Tulang
 Cedera kepala dan otak hampir serupa
 Jangan mencoba mencabut benda yang
menancap di kepala tetapi stabilkan
 Jangan menhalangi aliran cairan otak atau
melalui hidung, telinga atau luka di kepala
 Semua yang berhubungan dengan
tulang belakang, mulai dari tulang
leher sampai tulang ekor termasuk
persarafan di dalamnya
Divisions
of the Spine
1. Mati rasa pada alat gerak
2. Kelumpuhan alat gerak
3. Nyeri pada saat menggerakkan lengan atau
tungkai
4. Ada bagian yang lebih sensitif atau nyeri di
bagian distal atau
5. Pada punggung :
 Perubahan bentuk
 Cedera kepala , gumpalan darah di bahu,
punggung atau sisi
6. Pada korban :
 Hilangnya kemampuan mengendalikan
BAB/BAK
 Sulit bernapas, dengan atau tanpa pergerakan
dada
 Korban mungkin ditemukan dengan posisi
lengan di atas kepala
 Priapismus
1. Selidiki mekanisme cedera
2. Stabilisasi manual netral satu garis lurus
pada leher dan kepala saat kontak
pertama kali dengan penderita
3. Penilaian dini
4. Oksigen bila ada
5. Pemeriksaan fisik
6. Pertahankan stabilisasi kepala leher
sampai seluruh proses selesai
7. Periksa tanda vital selama transportasi
“ GUNAKAN TANDU SPINAL UNTUK
KORBAN YANG MENGALAMI CEDERA
TULANG SPINAL / BELAKANG ”
 Ada luka
 Sukar berbicara, suara hilang
 Sumbatan jalan napas
 Deviasi trakea
 Perubahan bentuk
1. Pasang penutup luka kedap pada luka
besar
2. Baringkan korban dengan baik
3. Jangan mencabut benda yang
menancap tetapi stabilkan
4. Rawat syok bila ada
 Nyeri pada daerah yang cedera
 Perubahan bentuk pada dada, batuk darah
 Napas dangkal, bunyi tambahan di sekitar
cedera
 Rasa nyeri bertambah bila bernapas
 Postur pasien terkesan melindungi bagian
yang cedera
 Memar yang jelas dan luas di daerah dada
 Krepitus
 Pelebaran pembuluh balik leher, mata
merah, sianosis, bagian tubuh atas bengkak
1. Pastikan korban dapat bernapas dengan baik
2. Pasang gendongan lengan, beri ganjal bantal
kecil atau selimut di daerah cedera
3. Posisikan penderita senyaman mungkin
4. Pasang penutup oklusif pada luka tusuk
LUKA BAKAR
&
KEDARURATAN LINGKUNGAN
LUKA BAKAR
Definisi : Cidera yang
disebabkan oleh panas / suhu
yang tinggi, bahan kimia, listrik
atau radiasi.
Luka bakar

Pembagian

Luka bakar Ringan /Superfisial Luka bakar Lebih dalam


/Sebagian

Luka Bakar Berat / lebih


dalam
 Panas
 Kimia
 Listrik
 Radiasi
Luka bakar Ringan
Luka bakar Sedang
Luka bakar berat
Rumus sembilan (rule of nine)

Anak Dewasa

Kepala 9% 18 %
Alat gerak atas 9% 9%
Tubuh depan 18 % 18 %
Tubuh belakang 18 % 18 %
Kemaluan termasuk tubuh depan 1%
Alat gerak bawah 18% 18%
 Ringan
 Derajat 3: < 2%, derajat 2: < 15%,
derajat 1: < 50%
 Sedang
 Derajat 3 : 2 – 5%, derajat 2 : 15 –
30%, derajat 1: > 50%
 Berat
 Derajat 3 : >10%, derajat 2: >30%,
 Sal. Napas, jaringan lunak, tulang,
alat gerak
 Wajah, tangan, kaki, kemaluan,
sirkumferensial
Penanganan luka bakar
SCENE SAFETY

PERSONAL SAFETY

HENTIKAN PROSES BAKAR

SIRAM DENGAN AIR


Penanganan luka bakar (1)
•Hentikan proses luka bakarnya.
Alirkan air dingin pada bagian
yang terkena. Bila ada bahan kimia
alirkan air terus menerus sekurang-
kurangnya 20 menit
•Buka pakaian dan perhiasan
•Lakukan penilaian dini
Penanganan luka bakar (2)
•Berikan oksigen bila ada, berikan
pernapasan buatan bila perlu
•Tentukan derajat berat dan luas
luka bakar
•Tutup luka bakar, jangan
memecahkan gelembungnya. Bila
yang terbakar adalah jari-jari maka
balut masing-masing jari tersediri
•Upayakan penderita senyaman
mungkin.
Dapat terjadi akibat udara panas, asap atau
bahan racun yang masuk ke saluran napas.
Gejala dan tandanya pada awalnya mungkin
ringan dan berangsur-angsur menjadi berat.
 Berikan oksigen bila ada
 Penilaian dini terutama A dan B
 Siap-siap melakukan pernapasan buatan
 Panas :
 Heat cramps (Kejang panas)
 Heat exhaustion (Kelelahan panas)
 Heat stroke (Sengatan panas)
 Dingin
 Hipotermia
Kejang otot yang terjadi akibat
kehilangan garam tubuh yang
berlebihan melalui keringat.
Penanganan :
 Baringkan penderita di tempat teduh

 Berikan minuman Oralit kepada penderita, bila


perlu berikan sedikit garam

 Jangan membuang waktu dengan


mencari garam !
Terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat
melakukan aktivitas di lingkungan yang
suhu udaranya relatif tinggi, sehingga
mengakibatkan terganggunya aliran darah.
 Baringkan penderita di tempat teduh
 Kendorkan pakaian yang mengikat
 Tinggikan tungkai penderita 20 – 30 cm
 Berikan oksigen bila ada
 Beri minuman bila penderita sadar
Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh
menurun.
Suhu lingkungan tidak perlu sampai beku
untuk mencetuskan hipothermia.
Ada beberapa keadaan yang memperburuk
hipothermia yaitu faktor angin dan
kekurangan makanan.
 Penilaian dini dan lakukan pemeriksaan korban
 Pindahkan penderita dari lingkungan dingin
 Jaga jalan napas dan berikan oksigen bila ada
 Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita,
upayakan agar tetap kering
 Bila penderita sadar dapat diberikan minuman
hangat secara pelan-pelan
 Pantau tanda vital secara berkala
1. Harness
2. Tali Pengaman
3. Helmet
4. Sarung tangan
5. Sepatu Safety
6. Kacamata safety
7. Carabiner
8. Pluit
9. Personal First Aid kit
• Konsentrasi dalam melaksanakan tugas

• Pencegahan untuk menghindari Insiden


yang tidak diinginkan
 Berlatih hal baru dan layak
 Penyelenggaraan dan pendekatan berdasarkan
tugas
 Pengamatan dengan penuh perhatian
 Kerja sama tim
 Briefing
 Pengecekan dan monitoring
 Koordinator Safety
 Pemilihan Personil
- Sehat
- Sikap
- Cakap
 Kondisi
 Kelayakan
 Aman
 Mudah di capai
 Fasilitas Pertolongan
 Lokasi
 Komunikasi
1. UIAA : Union International Alpines Association

2. CE : Certificate of Equipment

3. NFPA : National Fire Protection Association

1 KN = 110 Kg
America : 1/10
Australia & Indonesia : 1/8

DARI NILAI PERALATAN


NK x SF = SWL
Safety Factor = 1/8 ( Indonesia )
 Personil di cek oleh Safety Officer
 Anchor
 APD
 Pengereman
 Prosedur kedaruratan
 Peringatan
 Cek alat, sebelum, selama dan sesudah
 Tali Pengaman
 Batas aman/ safety area
 Anchor
 Simpul
 Pengaman peralatan di area kerja
 Gunakan pelindung tali
 Hindari tali menyilang
 Tidak melempar peralatan ( Terpaksa )
 Peringatan apabila ada benda yang jatuh
(batuan)
 Gunakan APD :
- Helmet dengan pengikat dagu
- Safety Shoes
- Sarung tangan
- Membawa Self Rescue di ketinggian
- Pluit
 BASARNAS
TUJUAN
1. MAMPU MENYEBUTKAN ALAT YANG
TERBUAT DARI BAHAN METAL UNTUK
VERTICAL RESCUE
2. MENJELASKAN FUNGSI PERALATAN
3. MENGGUNAKAN PERALATAN
4. BERTINDAK DENGAN PERTIMBANGAN
FAKTOR-FAKTOR KESELAMATAN
PENGERTIAN

Peralatan evakuasi dari metal


(HARDWARE) adalah peralatan yang
terbuat dari steel digunakan untuk High
Angle Rescue Technique / Evakuasi korban
dari lokasi yang bahaya ke tempat yang
aman/ fasilitas kesehatan.
Metal pengunci yang digunakan untuk
penghubung antar alat – alat evakuasi.
 Mayor Axis
(memanjang) BAHAYA :
 Minor axis (bag
Gate terbuka
pendek)
Tertekan di sudut
 Gate
Gate tertarik tali
 Screw
 Keeper
 Pin
 Gunakan dua carabiner dengan posisi saling
berlawanan
 Gunakan pada posisi mayor axis
 Hindari penggunaan posisi minor axis
 Rescuer selalu memonitor carabiner setiap
saat
PERAWATAN
Jangan menjatuhkan / membenturkan dengan
benda keras
ADALAH METAL PENGAIT YANG TIDAK
DILENGKAPI SNAP / KEEPER SEBAGAI
PENGUNCI LANGSUNG MENGGUNAKAN SCREW

 Maillon dibuat dari stell atau alooy


 Kekuatan tinggi hingga mencapai 6000 kg
 Delta maillon menguntungkan jika
digunakan pembebanan pada tiga arah
Adalah alat bantu turun yang
ditempatkan pada tali dan dicantolkan
pada rescuer
Jenis :
Figure of eight
Autostop
Inpanic descender
Adalah alat bantu naik / pemanjatan melalui
tali sebagai jalur

Sistem kerja : Gerigi


mencengkeram tali
untuk menahan saat
terbebani dan
bergeser jika tidak
terbebani
Ascender Handle
Ascender non handle

CROLL

GIB

BASIC
KELEMAHAN : PER GERIGI / SLIP

Perawatan :
Gunakan beban sesuai dengan kapasitasnya
Bersihkan setiap selesai menggunakan
Jagalah agar tidak berbenturan dengan benda
keras
Hindari penggunaan disudut benda keras
Kekuatan 650-850 kg
Alat yang digunakan untuk katrol atau roller,
penyalur arah dan ,mechanical sistem
Bagian :
Cheek plate
Sheave
Bearing
Axle (kiri dan
kanan
Adalah alat proteksi tali dari kemungkinan
terkikir saat tali ditarik atau dubebani.

Penempatan : Jenis :

Disudut yang tajam Tunggal

Tempat-tempat yang Ganda


kasar
Alat angkut / pemindahan korban

 Basket (vertcal rescue)


 Skop
 Sked
 Kanvas
“ Peralatan non metal yang digunakan untuk
mendukung kegiatan di ketinggian seperti; Tali,
Webbing & harnest ”
PENGETAHUAN TALI, & SIMPUL

Tujuan :
1. Menyebutkan Tali dinamik dan tali statik
2. Merawat Tali
3. Menghitung SWL Tali
4. Membuat 8 simpul pokok
Tali
Tali adalah serat yang dirajut dan mempunyai
kekuatan tertentu sesuai dengan diameternya.
Fungsi
Alat pendukung utama kegiatan evakuasi di
lingkungan vertikal

Type
Tali Rescue yang sering digunakan adalah Syntetis
Fiber kermantel
KERNMANTEL

Kern / Core = inti


Mantel / Sheath = selimut
Kermantel terdiri Kern / Core (inti) Dirancang dengan
kemampuan yang tinggi.
Mantel yang membungkus inti juga memberikan tambahan
kekuatan tali. Selain berfungsi melindungi terhadap abrasi dan
lumpur.
Keuntungan : Kuat, tahan dari kerusakan, ringan, mudah
dipegang.
Type Dinamic dan Statik
KARAKTERISTIK TALI KERMANTEL DINAMIC
a. Kelenturan mencapai 60 %
b. Mantel sedikit melindungi kerenggangan tali
c. Mempunyai kemampuan tinggi menyangga kejut
terhadap orang yang jatuh
d. Kerenggangan yang tinggi cenderung bermasalah
ketika digunakan Desending. Ascending atau hauling.

TALI DINAMIC TIDAK


DIREKOMENDASI DALAM SYSTEM
VERTICAL RESCUE
KARAKTERISTIK TALI KERMANTEL STATIK
a. Kemuluran sekitar 3 % - 20 %.
b. Tali statik tidak menyangga kejut
c. Mantel tebal untuk melindungi inti
d. Keuntungan :
> Kerenggangan rendah
> Tahan terhadap abrasi dan gangguan lumpur
> Kekuatan menegang tinggi
e Kerugian
> Tidak menahan kejut
> kaku untuk dipegang dan untuk pembuatan simpul
PERAWATAN TALI
a. Hindari memotong tali kecuali memang mengharuskan
[Link] meninggalkan ikatan pada tali saat menyimpan
c. Hindari gumpalan di ujung tali
d. Gunakan ukuran yang tepat di pulley
e. Hindari hentakan tiba-tiba dan ketegangan terlampau kuat
pada tali
f. Hindari terkena lompatan batu atau terinjak
[Link] melewatkan tali pada tikungan yang tajam atau
permukaan yang kasar
h. Tali yang terkena lumpur atau pasir harus segera dicuci
dengan air yang mengalir
i. Jangan mengeringkan tali dengan api atau matahari
j. Simpanlah Tali dalam kantong
k. Tali yang cacat atau rusak harus diberi lebel
l. Jangan menempatkan tali terkena sinar matahari langsung
m. Hindari tersentuh dengan bahan kimia yang mencemarkan
seperti : lemak, gemuk, oli, minyak, bensin, minyak hidraulic,
dll.
MENCUCI TALI
1. Gunakan air yang mengalir
2. Jangan mencuci dengan sabun
3. Gunakan busa untuk membersihkan tali

MENGERINGKAN TALI
1. Keringkan tali dengan adanya sirkulasi udara
2. Bentangkan tali antara dua tiang
3. Gunakan tangga
PEMERIKSAAN
a. Pemeriksaan dengan menilai secara visual
> Warna filamin yang memudar
> Tampak lembek dan lembut
> Filamin tampak putih. Dimana sarung telah rusak
> Tampak tidak seragam
> Terkikis
b. Pemeriksaan dengan merasakan / meraba
> Filamin kakau
> Perubahan ukuran
> Contaminasi
PENGAFKIRAN TALI
1. Terkikis
2. Beban lebih
3 Contaminasi
4. Perbedaan ukuran
5. Susunan mantel
6. Sarung tertembus
KEKUATAN SAVE WORKING LOAD
Reta strange = kekuatan yang dinyatakan dari pabrik sesuai
hasil uji coba.
Safe Working Load adalah kekuatan yang paling aman saat
digunakan
Safety Factor 1/8 ini mengingat Usia tali, pengaruh
lingkungan, pemakaian kurang sempurna, pengikatan simpul.
11 mm 3000 kg 375 kg
12 mm 3300 kg 412,5 kg
13 mm 3600 kg 450 kg
14 mm 3900 kg 487,5 kg
15 mm 4200 kg 525 kg
PACKING TALI
a. Coilling
b. Hanking
c. Chaining
d. Memasukan kantong

Peringatan
Setiap Rescuer harus memaparkan tali
yang akan digunakan untuk meyakinkan
kondisi dan menghindari kusut
CORD / PRUSIK
Adalah Tali kernmantel statik yang berdiameter kurang dari 9
mm digunana untuk GRASP FRICKTION KNOT
Fungsi :
Prusik loop, Ikatan plate, Pengikat edge roller dan matras

ukuran
6 mm RS 750 kg
7 mm RS 1200 kg
8 mm RS 1500 kg
MEMPROTEKSI TALI
Penyebab Kerusakan :
a. Benturan batu yang jatuh
b. Sudut yang tajam
c. Kotoran masuk ke dalam mantel

PROTEKSI
a. Gunakan alas matras
b. Canvas fire hose
c. Edge rooller
PITA / WEBBING
ADALAH ALAT SERBA GUNA BAGI RESCUER
UNTUK PENGIKATAN ATAU SLING
Fungsi : Sling, Improv Harnest, Lissing korban, Pijakan
kaki, ikatan pada anchor point

Konstruksi : Flat dan Tobular


Ukuran 25mm dan 50 mm
Kekuatan 1500 kg
SAFETY RULE PEMAKAIAN WEBBING
a. Jangan mengalungkan pita di leher
b. Cantolkan di harnes atau silangkan di ketiak
c. Simpul secara berkala dichek
d. Gunakan jenis tobular
e. Dirawat sama dengan merawat tali
SIMPUL
Dasar pembuatan simpul

a. Bight b. Loop
Terminologi :
a. Bight, tekukan tali yang tidak menyilang
b. Loop, tekukan tali hingga bersilangan
c. Running end, ujung dari bagian tali yang digunakan
d. Turn, satu putaran pada batang atau tali lain
e. Round turn, dua kali putaran
f. Standing part, bagian tali yang akan dipergunakan
g. Rope sack tas tali
 Mudah dibuat
 Mudah diingat

 Menghasilkan ikatan yang kuat

 Mudah dibuka
 Thum / Overhand Knot; gunanya sebagai simpul
dasar dan pengaman simpul
 Figure of 8 Knot; gunanya sebagai simpul
diujung tali/stopper knot
 Figure 8 on Bight Knot; gunanya untuk
tambatan pada tiang atau sesuatu secara tidak
langsung
 Figure 8 follow through Knot; gunanya untuk
tambatan pada tiang atau sesuatu secara
langsung
 Figure 8 double bight Knot; untuk tambatan di
anchor
 Butterfly Knot; gunanya untuk membuat
simpul di tengah tali, menyimpan bagiaan
tali yang rusak
 Clove Hitch; gunanya untuk membuat
simpul di pangkal
 Double Fisherman Knot; gunanya untuk
menyambung tali yang sama besar dan licin
 Round Turn & Two Half Hitch; gunanya
untuk mengikat di anchor point (boomprof)
 Figure 8 on line Knot; gunanya untuk
membuat simpul di tengah tali, untuk
menggantung korban daan penolong (tiga
beban dua arah)
1. Memahami Bagian-bagian anchor
2. Memahami Macam-macam Anchor
3. Membuat Anchor
4. Mengetahui peralatan belay
5. Mengetahui Sistem kerja belay
6. Memasang belay
Pengertian Anchoring
“ Adalah sistem penambatan yang dibuat dari tali
(webbing/Kernmantle) untuk menahan Beban

Kegunaan Anchor
Penahan beban saat kita melakukan kegiatan dengan
menggunakan tali Kernmantle (Ascending &
Descending/ Lowering & Lifting)
1. Arah Lintasan
2. Point Anchor
3. Kaki Anchor
1. Anchor Alam;
2. Anchor Buatan;
 Anchor point, dari alam biasanya banyak
menggunakan pohon atau batu
 Di lingkungan perkotaan, terdapat bagian
bangunan yang dapat digunakan sebagai
anchor point, beberapa yang tidak baik :
- Besi yang berkarat
- Bangunan batu yang terkena korosi
- Tembok semen yang kasar
 Anchor Point pada gedung dapat
memanfaatkan bagian-bagian sebagai
berikut :
- Struktur tiang
- Tonjolan tiang penyangga
- Penopang mesin pendingin
- Gondola
- Tonjolan tembok yang ada pada dinding
 Anchor Buatan, Adalah peralatan yang
didesign khusus sebagai anchor point dengan
memanfaatkan kondisi alam, seperti celah
batu.
Macamnya : chocks, Hexentrik, dan piton

 Kekuatan harus diperhatikan dengan seksama


dan sedapat mungkin anchor point dapat
menahan beban yang sangat berat

 Anchor yang sangat kuat disebut Boom Proof


Yang perlu diperhatikan dalam memasang
sebuah anchor :
 Anchor Point

 Bagian Pengikatan

 Arah Penarikan

 Posisi Anchor (Overhead/ Inside)

 Sudut Anchor antara 45 – 90 derajat


 Anchor perlu dibuat backup-nya untuk mengurangi
kegagalan/ kerusakan

 Hal ini juga dilakukan untuk pengamanan

 Dua cara pokok dalam mem-back up Anchor :


- Back Up pada Anchor point yang sama
- Back Up pada Anchor point yang terpisah
 Kondisi Anchor Point
 Operasi Pertolongan di alam terbuka
 Beban & tegangan
 Anchor dapat dibuat dengan tali utama/ tali pokok
ataupun dengan tali lainnya
 Penggunaan webbing/ Pita merupakan peralatan yang
tepat untuk anchor
 Anchor ganda digunakan jika satu anchor point
dianggap tidak cukup untuk menahan antisipasi
kekuatan
 Pembagian beban pada anchor harus diperhatikan agar
beban terbagi dengan rata
 Sudut Anchor yang baik berada antara sudut 45 – 90
derajat dan tidak pernah melebihi 120 derajat
 Tali adalah nyawa anda, perhatikan & perlakukan
dengan baik
 Simpul yang baik adalah simpul yang mudah dibuat,
mudah diingat dan mudah dilepaskan, sesuaikan
dengan kebutuhan anda
 Pembuatan Anchor harus pasti dan jangan ragu-ragu,
buatlah Back Up Anchor setiap saat
 Berlatih adalah kunci Penguasaan keterampilan simpul
dan tali temali
 Keterampilan tali temali merupakan keterampilan
dasar bagi seorang rescuer untuk mempermudah
pertolongan
Belay Adalah tindakan mengamankan semua aktivitas di tali

Belayer adalah orang yang membelay

Sistem kerja Belay memanfaatkan friksi tali dengan Belay


Device(Belay Plate, Carabiner, Figure 8)

Istilah :
a. Active Rope, adalah bentangan tali diantara Rescuer & Belayer,
Kondisi Selalu Tegang
b. In Active, Adalah sisa tali yang siap ditarik & berada antara
Belayer dengan Tali Bebas
Memasang Belay;
1. Dibuat Anchor terpisah dari Anchor tali
Utama
2. Pengaman Belayer tidak dikaitkan pada sistem
Belay
3. Anchor Belay dibuat berdekatan dengan
Anchor Utama
4. Hindari Tali Menyilang
1. Menggunakan Carabiner, Dengan Simpul Itali
2. Menggunakan Figure 0f 8
3. Menggunakan Autostop
1. Anchor harus cukup kuat
2. Belayer menggunakan hand glove
3. Menggunakan pemanggilan yang mudah dipahami
bersama
4. Hindari Tali Menyilang
5. Belayer harus selalu konsentrasi
6. Dapat mengunci saat emergency
7. Selalu menghadap ke dinding untuk memperhatikan
kemungkinan terjadi adanya barang atau Rescuer
yang jatuh
8. Carabiner yang digunakan harus Screw Gate
9. Sistem Belay harus selalu dicek oleh Safety Officer
Sasaran

Setelah mengikuti materi ini peserta akan mampu :


1. Menjelaskan Descending & Ascending (tehnik
turun & naik tali)
2. Mengetahui APD (alat pelindung diri) untuk
kegiatan Descending & Ascending
3. Mengetahui Peralatan Descending & Ascending
KEGIATAN TEHNIK TURUN DENGAN
MENGGUNAKAN TALI SEBAGAI JALUR
UTAMA
1. APD (ALAT PELINDUNG DIRI)
2. TALI KERMANTLE SEBAGAI JALUR UTAMA
3. SEAT HARNESS/ WEBBING
4 CARABINER
5. FIGURE OF 8
6. AUTOSTOP
TEHNIK NAIK DENGAN
MENGGUNAKAN TALI SEBAGAI
JALUR UTAMA
1. APD (ALAT PELINDUNG DIRI)
2. TALI KERMANTLE SEBAGAI JALUR UTAMA
3. SEAT HARNESS 1 BH
4. CARABINER 2 BH
5 ASCENDER NON HANDLE 1 BH
6. ASCENDER HANDLE 1 BH
7. WEBBING 2 BH
8. PRUSIK 2 BH
1. ASCEND FRICTION KNOT;
- SIMPUL PRUSIK
- SIMPUL BACHMAN
- SIMPUL KELMHEST
2. ASCEND MECHANICAL SYSTEM
HIGH ANGLE LOWERING

Tujuan :
1. Menyusun Tali-temali untuk menurunkan korban
2. Mengevakuasi korban dari atas ke bawah
3. Mempacking korban di tandu
4. Mengatasi kesulitasi saat membawa korban
HIGH ANGLE LOWERING / VERTICAL LOWERING / TECHNICAL
LOWERING
Adalah : Kegiatan menurunkan korban dari ketinggian yang dikontrol oleh
Rescuer dengan menggunakan tali.

Elemen dalam Lowering system


a. Beban / Load ( korban, Rescuer dan tandu)
b. Litter Tender , Rescuer yang mengawal korban ketia turun,
bertugas mengawasi dan mengatasi kesulitan.
c. Spider / Bridle, gantungan tandu, ini minimal 4 kaki
d. Tali utama
e. Tali belay
f. Belay device, (carabiner, figure of 8 dll)
g. Break Device
h. Belayer, Rescuer yang bertugas membelay
I. Breakman, Rescuer yang bertugas Mengkontrol laju
korban.
J. Rope handler, Rescuer yang bertugas membantu
breakman untuk mereleas tali yang kusut.
K. Edge Tender, Rescuer yang bertugas membatu saat Exit
dan Entry

CATATAN DALAM SYSTEM LOWERING TIDAK DIREKOMENDASI UNTUK


MEMBELAY DENGAN BODY BELAY ATAS MENEMPATKAN BODY SEBAGAI
LINTASAN TALI
Penurunan satu orang dengan menggunakan Figure 8
a. Tentukan daerah aman
b. Buat anchor
c. Kenakan sit harnest
d. Pasang figure 8 untuk belay device
e. Ujung tali buat simpul 8 on bight
f. Hubungkan simpul 8 on bight ke korban dengan carabiner
g. Break man harus diamankan
h. gunakan sarung tangan
I. Perintah turun
j. gunakan tali pengaman
PENGUNCIAN :
a. Ketika Rescuer berteriak stop
b. Saat rescuer menghendaki berhenti
c. Mengatasi rintangan yang ada

CARA MENGUNCI
Jepitkan In active rope diantara Belay device dan Active rope kemudian
akhiri dengan Overhand knot.
MENURUNKAN KORBAN
1. ANCHOR OVERHEAD SEBAGAI TUMPUHAN UTAMA
a. Buat anchor terpisah 2 tempat (untuk utama & safety)
b. Kasih carabiner setiap anchor
c. Hubungkan tali utama dengan figure 8 ke anchor
d. Buat simpul 8 on bight ujung tali utama
e. Cantolkan ke korban ujung tali yang sudah disimpul
f. Lakukan pemasangan tali safety seperti langkah (c, d, e, )
g. lakukan Final Chek (safety officer)
h. Perintah turun oleh Komandan tim kecepatan disesuaikan permintaan
Litter tender.
2. ANCHOR OVERHEAD SEBAGAI PENYALUR
a. Buat anchor terpisah 2 tempat (utama dan safety)
b. Cantolkan Pulley ke anchor point
c. Buat anchor di bagian dalam 2 buah untk tambatan ( utama dan
safety)
d. Pasang tali utama dan safety ke pulley
e. Buat simpul 8 on bight
g. Pasang tali utama ke break device dan safety rope ke Belay device
h. Cantolkan Simpul 8 on bight ke korban
I. Lakukan final Chek
j. Perintah turun oleh komandan tim
3. ANCHORE POIN INSIDE
a. Buat anchor 2 untuk (tali utama dan safety)
b. Buat anchor 2 untuk edge tender
c. Buat anchor langsung untuk Rescuer siaga di sudut dinding
d. Pasang Break device dan Belay device dengan tali utama dan tali safety
e. Hubungkan 2 simpul 8 on bight ke korban dan Rescuer
f. Edge tender memposisikan diri bergantung di sudut dinding
g. Litter tender turun posisi kurang lebih 1 m dari sudut atad
h Korban diturnkan dengan dibantu edge tender sampai bergantung
I. Setelah bergantung litter tender pindah ke tali utama
MEMBUAT SPIDER DENGAN TALI
a. Siapkan dua utas tali dengan panjangmasing -masing kurang lebih 4 m
b. Buat simpul pada ujung-ujungnya dengan simpul 8 on bight
c. lengkapi bight dengan carabiner besar
d. masing-masing tali bagi menjadi dua bagian dan buat simpul 8 on bight
e. Cantolkan carabiner (4 buah) ke hole tandu
f. Simpul delapan ditengan tali jadikan satu dan hubungkan ke tali utama
PEMBUATAN SPIDER DENGAN WEBBING
Alat yang digunakan
a. Webbing 2 rool
b. Descender figure 8 / Delta MR
CARA MEMBUAT
a. tekuk 2 webbing menjadi dua bagian yang sama dan buat simpul
jangkar/clove hitch ke dalam ring besar descender figure 8
b. Beri tanda pada webbing berapa panjang yang dikehendaki sebagai
kaki spider, dengan simpul pita
c. masuk ujung webbing ke hole tandu dan hubungkan dengan simpul pita
yang sudah dibuat.
PENGIKATAN LITTER TENDER
Tujuan :
a. memberikan keseimbangan, leluasa mengatur tandu dan merawat
korban
b. mengamankan kemungkinan jatuh
c. Membuat rasa nyaman
d. Dapat bergerak leluasa disekitar tandu.
CARA PENGIKATAN
1. Pig tail terpisah
a. Alat yang digunakan : pig tail (tali kernmantel  5 m), Ascender
handle 2 buah, Carabiner 4 buah, prusik 2 buah.
b. Buat simpul 8 on bight di kedua ujungnya
c. Simpul ujung 1 cantolkan ke tali utama bersama spider tandu
d. Simpul ujung ke 2 cantolkan ke Litter tender
e. Cantolkan ascender ke pig tail untuk pengaturan posisi litter tender ( satu
ke sit harnest dan satu untuk pijakan)
f. Buat pengaman dengan cord hubungkan antara Litter tender dengan
tandu.
g. Pasang Safety rope Ke Spider dan hubungkan ke bagian kepala
tandu
2. Pig Tail Langsung di main rope
a. Alat : Pig tail dari main rope, Prusik 2 buah, carabiner 4 buah
b. Ukur ± 5 meter dari ujung tali
c. Buat simpul 8 on line dan simpul 8 on bight diujungnya
d. Hubungkan Spider dengan simpul 8 0n line
e. Cabtolkan simpul on bight diujung tali ke litter tender
f. Ikatkan Cord ke Pig tail, ukur posisi tandu diatas paha
g. Ikatkan prusik ke 2 ke paig tail digunakan untuk pengaturan posisi
h. Ikatkan cord 3 ke tandu dan hubungkan ke sit harnes Rescuer
I. Pasang safety rope Ke Spider dan hhubungkan ke bagian kepala tandu.
LITTER TENDER
1. Tugas :
a. Merawat medik yang dibutuhkan korban
b. Meyakinkan pergerakan baik bagi korban
c. Berhubungan dan menentramkan korban
d. Membawa menggantungkan tandu
e. Membentengi korban dari pengaruh lingkungan
2. Posisi
Posisi duduk di seat harnest, tandu beberapa inch diatas paha kaki
menginjak dinding.
3. Posisi tangan
Memegang rail tandu didekatnya untuk manouvre

The auxiliary tender


Untuk mebawa korban dapat dilakukan dua atau tiga orang litter tender,
kuncinya kerjasama dan bertugas :
a. Melakukan perawatan awal
b. Membantu mangangkat tandu diatas sudut turun
c. Mambantu memasukkan korban ke dalam tandu
d. Membantu manouvre tandu terhadap hambatan
LANGKAH KERJA
1. Pastikan Seluruh anggota tim menggunakan PPE lengkap
2. Pastikan daerah aman
3. Tentukan Safety Zone, tentukan safety officer.
4. Tunjuk tugas anggota tim untuk naik (± 5 orang First aider, 2 org edge
tender, Breakman, belayer)
5. Pembuatan riging sistem di tandu (spider, Pigtail, tag line)
6. Perawatan korban sesuai kondisinya.
7. Chek akhir sistem di bagian atas oleh Vice capten
8. General chek oleh Kapten
9. Perintah penurunan oleh Kapten dan pengaturan oleh Litter tender
LIFTING/ PENGANGKATAN
KORBAN DARI JURANG
PENGERTIAN
Usaha pertolongan / evakuasi korban dari tempat
yang dalam dengan menggunakan sistem hauling.

MEDIA
Gudang penyimpanan bawah
Sumur tanah
Jurang / Tabing Cerobong udara
Selokan Tangki minyak
Kolam Galian bekas penambangan
Ruang bawah tanah Goa
PERSOALAN

GAYA GRAVITASI
FRIKSI TALI

UPAYA

Membuat Mechanical advantage system

Maksud :
Membuat pengangkatan mudah
Membuat pengangkatan ringan
Yang mempengaruhi lifting tidak efektif

Friksi pada pulley


Tali terkikis oleh medan operasi
Pembuatan simpul yang tidak beraturan
MECHANICAL ADVANTAGE SYSTEM

wcd wcd

1:1 Moving block


2:1
MECHANICAL ADVANTAGE SYSTEM

Abchor WCD

Pulley
stopper

Ascent
hauling

Z RIG > 3 : 1
MA Rasio 6:1
PULLEY

ASCENDER

CARABINER

Beban
APLIKASI OPERASI PENGANGKATAN

Hauling
stoper man Edge tender
/ Capt

Edge tender
hauling man

Belayer

tagliner
LANGKAH KERJA
1. Pastikan PPE Digunakan oleh seluruh anggota tim
2. Pastikan area kerja aman
3. Tentukan safety zone dan safety officer
4. Tunjuk Rescuer yang turun ( first aider 2 orang, tag
liner)
5. Pembuatan sistem pengikatan (riging) > spider,
pigtail dan tagline
6. Buat mechanical advantage system
7. Perawaatan korban sessuai dengan kondisinya
8. Final chek sebelum beban digerakan
9. Perintah turun dari kapten dan litter tender
PENGIKATAN TANDU UNTUK MEDAN
VERTICAL DAN SLOPE
PENGETAHUAN DAN
PEMADAMAN API
Setelah mempelajari materi ini
peserta mampu;
1. Mengetahui proses terjadinya api
2. Mengetahui Sifat-sifat penjalaran panas
3. Mengetahui fase-fase Kebakaran
4. Menjelaskan bahaya-bahaya kebakaran
4. Mengetahui Klasifikasi APAR
5. Menggunakan APAR
6. Melakukan pemeriksaan APAR
7. Melakukan perawatan APAR
PENGETAHUAN DAN PEMADAMAN API

SAHABAT BENCANA
PENGETAHUAN DAN PEMADAMAN API

PEMBAKARAN
KEBAKARAN

PANAS
BAHAN BAKAR

GAS LIQUIDS BAHAN PADAT


> Gas alam > Bensin > arang > Kayu
> Propane > Minyak tanah > Kertas > Kain
> Butane > Minyak cat > lilin > grease
> Hydrogen > Alcohol > Kulit > plastik
> Acetylene > Minyak ikan > gula > gandum
> Carbon > Cat > Jerami > gabus
monoxida > Pernis
0XIGEN

DIBUTUHKAN SEKITAR 16 %
DIUDARA NORMAL TERDAPAT :
21 % O2
78% NITROGEN
1 % Gas lain seperti : Uap air, neon dan carbon dioxide

BEBERAPA MATERIAL BAHAN BAKAR


BERISI CUKUP OXIGEN YANG
MEMPERMUDAH KEBAKARAN
H E A T/ PANAS

UNTUK MENCAPAI TEMPERATUR


PEMBAKARAN

PANAS TERBUKA >> SINAR MATAHARI


PERMUKAAN YANG PANAS
PERCIKAN
GESEKAN
LISTRIK
GAS
P E N J A LA R A N PA N A S

KONDUKSI : Perpindahan panas melalui benda lain


sebagai penghantar
KONVEKSI : Perpindahan panas akibat adanya
penguapan, membakar bagian atas
RADIASI : Perpindahan panas karena adanya
pancaran panas dari kebakaran itu sendiri
KONDUKSI

RADIASI KONVEKSI
PA S E K E B A K AR A N

KAPAN SAJA
DIMANA SAJA

Rollover
Flashover
Backdraft

Oxigen terbatas
Asap api terperangkap
Oxigen tdk terbatas dalam ruangan dan
Asap dapat hilang berkumpul
EFEK PHISIKOLOGIS KARENA
KEKURANGAN OXIGEN
Gejala-gejala
Oxigen di udara
Tidak ada -kondisi normal
21 % Sebagian koordinasi otot
17 % rusak, napas cepat karena
oxigen kurang
12 % Pusing sakit kepala

9% Tidak sadarkan diri


Mati beberapa menit akibat
6% kegagalan napas dan jantung
BAHAYA-BAHAYA KEBAKARAN

Kebakaran Awal

> Api kecil


> Gas-gas meningkat
> Oxigen sekitar 20 %

>Pembakaran bebas
>Asap dan gas yang
panas berkumpul di
langit-langit.

Awal terjadi rollover bila gas-gas mudah terbakar yang belum


terbakar kumpul dibawah langit-langit
Contoh Rollover

>Uap pembakaran yang sangat panas


>Pembakaran langsung dibagian langit-langit
> Pembakaran serentak diseluruh ruangan
> Panas tinggi dari lantai sampai langit-langit.

Pase kebakaran tetap

Flashover

Api mulai mengecil :


Oxigen kurang 15 %, Temperatur
meningkat, CO dan karbon menyebabkan
Backdraft
Phenomena kebakaran
INTENSITAS

3 - 10 menit

Growth STEADY
Fully development fires
(600-1000 o C)

Energy Source (1) TIME


BACKDRAFT
> Api belum sepenuhnya padam
Mengecil karena kekurangan oxigen masih
berpotensi terbakar jika ada oxigen

Karakteristik yg menunjukan backdraft


dapat terjadi :
> Asap hitam menjadi padat dan
berwarna kuning abu-abu
> Kalor yg terperangkap semakin
meningkat
> Nyala api kecil tidak nampak
> Asap menutupi kaca
> Suara bising

Keadaan yang paling berbahaya bagi petugas pemadam


LAPISAN PANAS

Sangat panas

Panas sedang

Panas rendah

Tempat bagi penolong


EMPAT PRODUK KEBAKARAN

Cahaya

oxigen oxigen
PEMADAMAN API

Pendinginan/
Penurunan
Suhu

Memutuskan bahan bakar

Menipiskan oxigen

Memutus reaksi kimia


KLASIFIKASI KEBAKARAN DAN CARA
PEMADAMAN

Kebakaran KELAS A
Kayu, kain, kertas, karet dan plastik Alat pemadam yang
digunakan “AIR”
Kebakaran KELAS B
Cairan yang mudah terbakar : Bensin, minyak, penis, cat,
spirtus dan alkohol Alat pemadam Foam untuk menutup atau
menyelimuti oxigen.
Kebakaran KELAS C
Semua alat yang menggunakan listrik, alat pemadam yang
digunakan Halon, kimia kering atau CO (tidak menghantar
arus) Yang paling aman memadamkan rangkaian listriknya
Kebakaran KELAS D
Kebakaran pada logam : Magnesium, Titanium,
Zirconium, Sodium, Potasium, Lithium, Calcium, besi
Zat khusus untuk mnyelimuti bahan yang terbakar dan
menutup api.
APAR (ALAT PEMADAM API RINGAN)
ALAT PEMADAM PORTABLE

Fungsi : Digunakan pada fase awal terjadinya kebakaran

Penempatan : di tempat yang mudah di lihat dan mudah


dijangkau, dengan tanda yang mencolok
KLASIFIKASI APAR
PENANDAAN

Dua sistem digunakan untuk memberi tanda APAR

BAHAN BAKAR KEBAKARAN ALAT-ALAT


YANG MUDAH BAHAN LISTRIK
MENYALA BAKAR CAIR
PENSELEKSIAN DAN PENGGUNAAN ALAT-
ALAT PEMADAM KEBAKARAN

“SIMBUL GAMBAR”
ALAT PEMADAM
YANG SESUAI
UNTUK KEBAKARAN
KELAS B DAN C
BUKAN A
ALAT PEMADAM
BERLABEL INI COCOK
UNTUK KEBAKARAN
KELAS A BUKAN KELAS B
DAN C
LABEL MENUNJUKAN
PADA PEMADAM YANG
COCOK UNTUK
KEBAKARAN KELAS A
DAN B BUKA KELAS C
PENGOPERASIAN ALAT PEMADAM API RINGAN

(APAR)
PA S S
P = Pull >> Tarik pin pengunci pada bagian atas APAR

A = Aim The Nozle >> Arahkan nosel atau saluran keluar


ke api
S = Squeeze the handle >> Remas handel untuk mencoba
sebelum langsung ke arah api
S = Sweep >> Sapukan noselnya maju mundur ke pusat
nyala api
PEMERIKSAAN APAR

Prosedur pemeriksaan :
 Tempat ( mudah dijangkau, mudah dilihat orang banyak)
 Periksa nosel ( Saluran keluar, karet )
 Label / marker yang tertempel pada alat
 Periksa segel ( membuktikan bahwa alat belum terpakai)
 Pastikan masih berisi penuh ( balikan untuk mengetahui
ada isi / tidak) bila kurang dari 10 % harus diganti.
 Periksa lebel pemeriksaan ( untuk mengetahui kapan
terakhir diperiksa)
 Pastikan semua bagian terpasang ditempatnya
PEMELIHARAAN

PEMERIKSAAN PALING SEDIKIT SETAHUN SEKALI


Untuk tahu kemungkinan perbaikan/pemeliharaan

Bagian-bagian mekanis, Zat-zat Pemadam, Alat-alat


pengeluaran.

APAR harus mendapat pengujian “Hidrostatik setiap 12


tahun.
Dikosongkan setiap 6 tahun >> Kecuali APAR yang diisi
setiap tahun.
HOSE

MEMBAWA
MENGGULUNG
MELEMPAR
MENYAMBUNG
POSISI PEGANGAN SAAT FITING
Safe
Confined Space
Space Entry

339
340
341
 65% dari kejadian fatal (kematian) terjadi karena masalah kualitas udara.
 100% dari kejadian fatal (kematian) pada 139 lokasi di 17 negara dalam 2
tahun terakhir memiliki satu masalah yang sama yaitu tidak ada detektor
(gas detector instruments) atau sistem ventilasi.
 29% dari pekerja yang meninggal dunia adalah supervisor.
 60% dari pekerja yang meninggal dunia adalah penolong.
 25% meninggal dunia di lokasi yang “ready to kill”

342
343
Definisi-definisi

344
Confined Space

Manhole Silo

345
Confined Space

Tank Pipelines

346
* Ruang Cukup Besar Untuk Dimasuki; NO
* Ruang terbatas untuk Keluar & Masuk; Not a confined Space
* Bukan Untuk aktivitas kerja rutin

YES
Confined Space

Kekurangan Oksigen

or

Gas Beracun Ijin Kerja


Ijin Kerja YES NO
Tidak
Diperlukan or
Diperlukan
Gas Mudah Terbakar

or

Any other recognized


serious hazard
347
 Ruang Terbatas tanpa Ijin Kerja
 Tidak ada bahaya terkait udara

 Ruang Terbatas memerlukan Ijin Kerja


 Ruang Terbatas memerlukan Ijin Kerja
dapat diklasifikasikan menjadi tanpa Ijin
Kerja.

348
349
o Tidak ada bahaya yang muncul
atau
o Dapat dilakukan pengendalian konsentrasi bahan
kimia thd udara menggunakan ventilasi.
o Sumber bahaya dapat dikendalikan, dinetralisasi
dan dipindahkan.
o Supervisor memberikan ijin tertulis untuk masuk
ulang setelah bahaya dilakukan pengendalian.

350
 Permit Required Confined Space
 PRCS – Permit Required Confined Space
 Mengandung atau memiliki potensial
mengandung udara berbahaya.
 Mengandung material dengan potensi untuk
tenggelam/terjebak (seperti air, biji-bijian).
 Konfigurasi internal terhadap trapping atau
asphyxiation (kekurangan oksigen)
 Mengandung bahaya yang dikenali SERIUS
dapat mengancam keselamatan dan kesehatan.

351
 Ijin Kerja Ruang Terbatas membutuhkan
identifikasi biasanya dalam bentuk Tanda
Peringatan.
 Ruang Terbatas yang tidak boleh dimasuki
juga harus diberikan tanda.

352
353
 Hilangkan semua bahaya keselamatan yang serius
sebelum masuk ruang terbatas.
 Hilangkan semua bahaya udara yang ada (actual)
dan potensial sebelum masuk ke ruang terbatas.
(Catatan : pengendalian bahaya udara sederhana
seperti ventilasi belum cukup).
 Bahaya harus secara keseluruhan terkendali.
 Lengkapi dan lakukan evaluasi ulang terhadap ijin
kerja yang sudah ada.

354
Selalu perkirakan
hal yang tidak
diperkirakan
dalam ruang
terbatas.

Pertimbangkan
bahaya yang
mungkin terjadi
karena sangat
mungkin terjadi.
355
Bahaya di Ruang Terbatas

1. Kekurangan Oksigen atau Kelebihan


Oksigen
2. Gas mudah meledak dan terbakar.
3. Gas beracun.
4. Bahaya fisik

356
 Pertama – Oksigen dan Konsentrasi.
 Kedua – Gas Mudah Terbakar (Flammables)
 Ketiga – Gas Beracun (Toxics)
 Keempat – Gas lainnya (PH3)

357
• Verifikasi adanya kualitas udara yang aman untuk
melakukan pekerjaan sebelum melakukan pekerjaan
dan secara periodik setelah itu.
• Lakukan di seluruh area : Atas, Tengah dan Bawah.
• Methane (CH4) lebih ringan dari udara.
• Carbon monoxide (CO) dan Hydrogen sulfide (H2S)
lebih berat dibanding udara.
• Oxygen deficiency (<19.5%)
358
Kekurangan Oksigen atau Kelebihan
Oksigen

Konsentrasi Oksigen, yaitu


konsentrasi udara bebas
yang diperlukan untuk
pernafasan dalam ruang
terbatas dan tertutup
dimana harus mempunyai
konsentrasi sebesar 21 %.

359
Penyebab Kekurangan Oksigen

1. Kebakaran dan ledakan.


2. Korosi/karat (bereaksi dengan Oksigen).
3. Tergantikan oleh senyawa lain (seperti
CH4 – metana, yang dihasilkan dari
proses karat).

360
Ketahanan tanpa oksigen

Manusia hanya dapat bertahan


hidup selama 4 menit tanpa
pasokan oksigen yang cukup,
sehingga tindakan pertolongan
harus segera dilaksanakan saat
bahaya terjadi.
After only four minutes without
oxygen, it is very likely that a
worker will experience
asphyxiation, which may result in
brain damage or death.
361
Oksigen dan pengaruhnya

19.5 % Batas Oksigen Normal


15 - 19% Penurunan Kemampuan Kerja.
Gangguan Konsentrasi.
12-14% Nafas Tersengal. Gangguan Konsentrasi.
10-12% Nafas Tersengal. Bibir Membiru.
8-10% Gangguan Mental. Lemas. Mual Muntah. Pingsan
6-8% 8 minutes - fatal, 6 minutes - 50% fatal,
4-5 minutes - possible recovery.
4-6% Koma 40 detik. Meninggal

362
• Level oksigen diatas 21%.
• Menyebabkan kondisi, bahan mudah menyala
(flammable) dan mudah terbakar (combustible)
terbakar secara mendadak ketika tersulut api (burn
violently when ignited).
• Jangan gunakan oksigen murni untuk ventilasi
(campuran udara 21%O2 dan 78%N2).
• Jangan menyimpan dan menempatkan bejana
bertekanan di dalam ruang terbatas.

363
Sirkulasi Udara

aktivitas yang dilakukan


untuk menetralisir udara
dalam ruang terbatas dan
tertutup sehingga konsentrasi
oksigen dan gas / uap
beracun maupun gas / uap
yang mudah terbakar dalam
kondisi aman.

364
Sirkulasi Udara
Udara Bersih

Jika konsentrasi gas


berbahaya / sangat tinggi, Udara bersih dialirkan dalam
Harus dilakukan ventilasi ruang terbatas & tertutup untuk
untuk menetralisir udara ?? mendilusi & memindahkan Gas
Sebelum petugas / berbahaya dan supply oxygen.
karyawan masuk ruang
Terbatas & tertutup ??
O2

??

O2

?? O2
O2

365
Sirkulasi Udara

• Gunakan alat sirkulasi secara mekanis


• Fans
• Air horns
• Sirkulasi udara 4 x volume ruangan / jam
• Pastikan udara bersih tidak terkontaminasi gas
beracun / berbahaya

366
Gas mudah meledak dan terbakar.

Gas / Uap yang mudah terbakar atau


meledak, yaitu suatu gas atau uap yang
mempunyai nilai batas bawah dan atas
yang dapat terbakar atau meledak dan
konsentrasi gas atau uap terukur harus 0 %
(Lower Explosive Limit / LEL = 0 %)

367
Gas beracun.

Kandungan Gas atau Uap Beracun,


yaitu kandungan suatu gas atau uap yang
mempunyai konsentasi diatas nilai ambang
batas yang telah ditentukan dan konsentrasi
gas atau uap terukur harus 0 ppm.

368
Risiko Gas beracun :

1. Iritasi. Sedikit gas beracun dapat menyebabkan


kerusakan sistem pernafasan atau sistem syaraf
pusat sehingga menyebabkan kematian.
2. Chemical Asphyxiation (sesak nafas). Ketika
sejumlah bahan kimia (gas) masuk ke dalam sistem
pernafasan dan menghambat pasokan oksigen
atau masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan
sesak nafas.
369
370
• Proses Pembusukan Material. (Tinja dsb)
• Konsentrasi rendah seperti bau telor busuk
• Kemungkinan tidak berbau jika konsentrasi tinggi
PPM Effect Time
10 ppm Ambang Batas Yang Diijinkan 8 Hours
50 - 100 Iritasi sedang - mata, tenggorokan 1 Hour
200 - 300 Iritasi Berat 1 Hour
500 -700 Pingsan, Meninggal 1/2 - 1 Hour
>1000 Pingsan, Meninggal Minutes
371
Carbon Monoxide (CO)

• Gas Tidak Berwarna & Tidak Berbau


• Bisa terbakar
• Kehilangan kesadaran mendadak pada konsentrasi tinggi.
PPM Effect Time
50 Nilai Ambang Batas 8 Hours
200 Pusing Ringan, Gelisah 3 Hours
600 Pusing, Gelisah 1 Hour
1000-2000 Gelisah, Mual, Pusing 2 Hours
1000-2000 Kecenderungan Hiperaktif 1 1/2 Hours
1000-2000 Jantung Berdebar 30 Min.
2000-2500 Kehilangan Kesadaran 30 Min.
372
Bahaya fisik
 Bahaya Listrik  Kebakaran & Ledakan
 Tergelincir dan Jatuh  Kebisingan (Noise)
 Turbine, blades dan  Panas (Heat stress)
pompa.  Psikologi
 Benda dan Material
Jatuh.
 Drowning or
engulfment
 Converging sections

373
374
375
Bahaya lain

376
Bahaya lain

377
Safety Procedure
at Confined
Space Entry

378
379
 Harus ada prosedur tertulis di
lokasi kerja untuk memastikan
pekerjaan di ruang terbatas
dilakukan dalam kondisi aman.
 Lengkapi prosedur dan permit yang akan digunakan.
TEMPATKAN ijin kerja di 2 lokasi, lokasi kerja dan
panel pengendali.

380
 Ijin harus disiapkan dan semua kondisi dinyatakan
aman sebelum masuk ruang terbatas.
 Pastikan hal sebagai berikut :
 Isi ijin kerja
 Lama bekerja
 Tugas supervisor
 Dokumentasi (penyimpanan).

381
 Buat ruang terbatas bersih secepatnya
sebelum masuk. Tujuannya adalah
memimalkan pemakaian Alat Pelindung
Diri.
 Apabila tujuan masuk ke ruang terbatas
adalah untuk membersihkan ruang
terbatas, lakukan pengendalian untuk
mengendalikan bahaya sebelumnya.

382
Sebelum masuk, ruang terbatas
harus dalam kondisi tidak ada energi
(masuk dan keluar). Setiap orang
yang menggunakan lockout harus
mendapatkan pelatihan sebagai
“authorized personnel”.

383
Lakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Lakukan persiapan matang sebelum


masuk.
2. Lakukan pemeriksaan konsentrasi udara
di ruang terbatas.
3. Siagakan “buddy” di luar ruangan untuk
pengamanan.

384
Persiapan matang sebelum masuk

1. Pastikan senyawa/material dalam ruang terbatas.


2. Periksa dan ikuti prosedur selama melakukan
kegiatan di lokasi.
3. Bersihkan area apabila memungkinkan.
4. Gunakan respiratory protection yang tepat 
masker tipe canister tidak layak digunakan di
ruang dengan tingkat oksigen rendah.
5. ……
385
Persiapan matang sebelum masuk (2)

5. Gunakan peralatan penyedot / ventilating unit.


6. Terapkan LOTO (lock out – tag out).
7. Lakukan prosedur Permit Entry. Informasikan
permit tsb kepada orang lain.

386
Pemeriksaan konsentrasi udara di ruang
terbatas.

1. Lakukan test sebelum membuka manhole ruang


terbatas.
2. Dalam ruang terbatas lakukan test sebagai
berikut :
• Atas – CH4 (ringan dibanding udara).
• Tengah – CO (sama dengan udara).
• Bawah – H2S (lebih berat dibanding udara).

387
Pemeriksaan konsentrasi udara di ruang
terbatas (2)

3. Apabila ada bahaya (gas beracun, mudah


meledak, oksigen kurang atau lebih), lakukan
sistem ventilasi, pembersihan dan test ulang
sebelum masuk ruang terbatas.
4. Lakukan test secara periodik.

388
Petugas Pemeriksa Gas

yaitu seorang pekerja dari EHS


Department atau bagian lain yang
mempunyai kwalifikasi untuk
melakukan pengukuran gas dan
memberikan rekomendasi
keselamatan kerja untuk pekerjaan
dalam ruang terbatas dan tertutup.

389
 Konsentrasi Oksigen:
– Antara 19.5% dan 23.5%
 Combustibles / Flammable Gas:
– Less than 10% of the LEL
 Konsentrasi Toxic Gasses:
– carbon monoxide (PEL <35 ppm)
– Dan gas / material lain yang berbahaya dalam
confined space.

390
 Lakukan pengujian ulang dalam setiap kondisi
pekerjaan, yaitu :
 Awal ijin kerja dilakukan.
 Awal setiap pergantian pekerja.
 Apabila ruang terbatas telah ditinggalkan lebih
dari 5 menit.
 Apabila ada pergantian pekerja.

391
 Push clean air in
 Jika menggunakan portable
generator jinjing untuk
menggerakkan
peniup/penghembus, pastikan
bahwa saluran pembuangan
(exhaust) generator diposisikan
mengarah ke bawah dari ruang
terbatas.
 Apabila menggunakan kabel
GFCI = Ground Fault Circuit Interrupter. The
extension, usahakan menggunakan GFCI is a fast-acting circuit breaker that
senses small imbalances in an electrical
GFCI. circuit caused by the electrical current
leaking to ground. If this imbalance occurs,
 Jangan gunakan blower dalam the GFCI shuts off the electricity within a
ruang terbatas apabila terdapat fraction of a second. 392
 Sistem Ventilasi dapat berupa blowers, fans atau
pengendali udara lain.
 Pemilihan sistem tergantung dari besaran ruang
terbatas, tipe bahaya udara yang ada di ruang
terbatas (gases, vapors, or dusts to be exhausted),
dan sumber udara bersih.
 Blowing udara segar ke dalam ruang terbatas
merupakan hal yang paling baik.

393
Persyaratan untuk ventilasi
 Pastikan udara yang dikeluarkan tidak disirkulasikan
kedalam ruang terbatas.
 Pengendali ventilation harus ditempatkan dalam jarak
yang aman dari ruang terbatas.
 Untuk kondisi udara mudah meledak atau mudah
terbakar, sistem harus dalam kondisi tahan ledakan
(explosion proof).
 Sistem ventilasi harus dilengkapi audible warning
(peringatan melalui bunyi) sebagai tanda kegagalan
sistem.

394
Siagakan “buddy” di luar ruangan untuk
pengamanan.

INGAT !!!

Jangan pernah masuk ke dalam


ruang terbatas tanpa ada buddy yang
menunggu diluar lokasi.

Buddy harus menggunakan peralatan


yang sama dengan entrant (petugas
yang masuk ke ruang terbatas).

395
buddy

seorang pekerja yang ditugasi


untuk melakukan pengawasan
diluar lubang keluar masuk (man
hole) untuk membantu pekerjaan
ataupun memberikan bantuan
dalam keadaan darurat.

396
Tanggung Jawab

• Monitoring selama pekerjaan dilakukan & menjaga keselamatan


petugas
• Dilarang meninggalkan tugas kecuali diganti oleh personel lain
yang mempunyai kualifikasi yang sama
• Melakukan monitoring konsentrasi O2
• Melalukan pengawasan pada jalan masuk
• Meminta pertolongan dalam keadaan emergency
• Menilai potensi bahaya sekitar lokasi & tindakan perbaikan
• Melakukan pencatatan pekerjaan (jumlah personil keluar masuk,
hasil pengukuran gas dsb)

397
Ketika di Ruang Terbatas
• Pertahankan ventilasi.
• Gunakan selalu alat pelindung diri anda (respirator,
kacamata, helm, pakaian pelindung dan ear plug).
• Ambil seluruh peralatan yang anda butuhkan di dalam ruang
terbatas.
• JANGAN MEROKOK, MAKAN DAN MINUM selama di dalam
ruang terbatas.
• Selesaikan pekerjaan secepat mungkin dan SEGERA
KELUAR.

398
BADAN SAR NASIONAL
CONFINED SPACE
Pertolongan di ruangRESCUE
terbatas

– Pengetahuan dan Pelatihan yang diperlukan CSR–


1. Menunjukkan pengetahuan bahaya yang berhubungan dengan ruang terbatas
2. Rencana masuk ruang terbatas
3. Menjelaskan koordinasi sistem manajemen insiden dalam kegiatan tanggap darurat
4. Melindungi kesehatan dan keamanan di tempat kerja
5. Menggunakan dan mengoperasikan alat bantu pernafasan dalam keadaan darurat
6. Menunjukkan pengetahuan dan keamanan personil dalam insiden kebakaran dan kedaruratan lainnya
7. Rescuer yang menjadi korban dapat melakukan teknik-teknik penyelamatan
8. Melakukan pengujian gas di lingkungan yang mengandung bahan kimia dan energi
9. Menunjukkan pengetahuan operasi pertolongan dan bahaya dengan menggunakan tali
10. Melakukan respon awal dengan menggunakan tali dalam suatu insiden
11. Melakukan prosedur penyelamatan dari bahaya
12. Komunikasi di luar ruangan menggunakan radio dua arah
13. Mengatur pertolongan pertama dalam situasi darurat
14. Memberikan pertolongan pertama
15. Memberikan resusitasi
CONFINED SPACE
Pertolongan di ruangRESCUE
terbatas

– PROSEDUR PERTOLONGAN –

 JANGAN MASUK RUANGAN MESKIPUN ANDA


MELIHAT KORBAN TIDAK SADAR DI DALAM
RUANGAN !!
 Laporkan insiden tersebut dan tunggu bantuan
 Jangan masuk tanpa alat pernafasan khusus dan bantuan
asisten
Catatan: Banyak rescuer yang menjadi korban
meninggal !
CONFINED SPACE
Pertolongan di ruangRESCUE
terbatas

– Prosedur Pertolongan –
 Adanya Kontrol poin Kedaruratan dan
Pertolongan sebelum masuk ruangan
 Usaha Pertolongan hanya dilakukan di luar
Ruang Terbatas
 Lakukan Prosedur Perawatan Pada Korban!
 Semua personil yang bekerja di ruangan harus
dilatih prosedur pertolongan
 Gunakan Self-Contained Breathing Apparatus
(SCBA) untuk atmosfir yang rendah oksigen
CONFINED SPACE
Pertolongan di ruangRESCUE
terbatas

– KETIKA RESCUER MASUK RUANG TERBATAS –

Pengawas
4 Mengetahui bahaya, tanda dan konsekwensinya!
4 Memeriksa izin dengan menentukan jika kondisi
memungkinkan untuk masuk
4 Kewenangan untuk masuk
4 Mengawasi kegiatan masuk
4 Mengakhiri masuk
4 Memeriksa pelayanan keselamatan
4 Memindahkan orang yang tidak berkepentingan
4 Bertindak sebagai asisten (jika diperlukan)
CONFINED SPACE RESCUE

The Entrant ( Rescuer yang masuk kedalam


confined space)
 Mengetahui bahaya, tanda dan
konsekwensinya!
 Menggunakan peralatan dengan tepat
 Berkomunikasi terus menerus dengan
attendant
 Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan
– peringatkan attendant
 segera keluar jika404terjadi bahaya
CONFINED SPACE RESCUE

The Attendant ( Pemandu Rescuer)


 Mengetahui bahaya, tanda dan konsekwensinya!
 Mengetahui potensi efek tingkah laku
 Memeriksa orang yang masuk dan menghitungnya
 Monitor bahaya dan kegiatan di dalam dan di luar
ruangan
 Berada di luar entry point
 Berkomunikasi dengan entrant
 Mengontrol entry point
 Memanggil rescuer
 Melakukan pertolongan di luar ruangan jika diperlukan
405
Pertolongan di ruang terbatas

– KETIKA RESCUER MASUK RUANG TERBATAS –


 Verifikasi bahwa penggunaan ventilasi udara
berjalan baik
 Mengawasi dan mengecek ventilasi udara selalu
bekerja efektif
 Data didokumentasikan dan dibuat untuk
entrants

Ingat – jika harus masuk untuk melakukan monitoring


dan inspeksi awal, harus dilakukan sesuai dengan
prosedur standar.
 Pastikan keamanan sebelum memindahkan penghalang
 Uji atmosfir di ruangan – pengamatan tersedia untuk entrant
 Ventilasi udara yang terus menerus
 Uji atmosphere secara berkala - pengamatan tersedia untuk
entrant
 Evakuasi segera jika perlu dan evaluasi apa yang tidak
berjalan sebagaimana mestinya
 Periksa prosedur-prosedur ini, jika dilakukan dengan
keterangan tertulis Keterangan harus berisi tentang tanggal
/ lokasi ruangan, dan tanda tangan orang yang melakukan
pemeriksaan. Pernyataan ini dibuat sebelum masuk dan
memberikan entrant perwakilannya
407
Pertolongan di ruang terbatas

– VENTILASI SELAMA DI DALAM RUANG TERBATAS –


Peralatan ventilasi
Blower & kipas angin memberikan pelemahan ventilasi mekanis. Pastikan ukuran
blower tepat, tahan ledakan, dan pipa hisapnya diletakkan jauh dari sumber
kontaminasi – seperti pipa pembuangan pada kendaraan!

Ruang pada tekanan positif akan mengeluarkan zat pencemar melalui lubang, tetapi
berapa lama waktu yang dibutuhkan ? Hal itu menjadi pertanyaan.

Melokalisir ventilasi keluar adalah lebih baik dan cocok untuk menangkap asap debu,
dan zat-zat kimia.
Tidak dianjurkan Dianjurkan

Ingat, ventilasi harus


tetap berjalan selama
masuk
Pertolongan di ruang terbatas

– Peraturan Keamanan –
 Jangan bekerja sendirian Peralatan C.S.R.
 Perlu pengamat atau
1. Tripod or pneumatic supporters
attendant
 Perlu dilakukan 2. Pulleys, ropes, carabiners, etc.
komunikasi 3. PPE - SCBA, gloves, Knee pads etc.
4. Stretcher - litter
 Gunakan ventilasi keluar
 Meskipun alat pernafasan 5. Lifeline, whistle
diperlukan dan digunakan 6. Communication
7. Ventilating
8. Testing and monitoring Hazmat
9. Lighting
10. Barriers and isolating devices
SCBA
(Self-Contained Breathing Apparatus)
Perlengkapan pernapasan pribadi
FISIK MEDIS MENTAL
TANGKAS SEHAT SYARAF Pelatihan yang tepat
untuk penggunaan
SCBA
KONDISI SEHAT SEHAT OTOT Percaya pada diri
sendiri dan peralatan
KEBUGARAN TUBUH SEHAT JANTUNG Emosi Stabil
TERJAGA
PERNAFASAN BAIK Tidak Fobi Ruangan
tertutup dan fobi
lainnya
KETERBATASAN SCBA

Keterbatasan
Keterbatasan
proteksi
pandangan
Menambah
beban Mengurangi
kemampuan
Keterbatasan berkomunikasi
persediaan
udara
Mengurangi
mobilitas
(perlengkapan
tidak praktis)
KETERBATASAN PERSEDIAAN UDARA SCBA

Kerja berat Durasi persediaan udara


Kurang lebih 20 menit dipengaruhi oleh :

Kondisi fisik pengguna,


Tingkat pengerahan tenaga,

Kestabilan emosi pengguna,


Kondisi perlengkapan,

Tekanan silinder sebelum


digunakan, dan

Pelatihan dan pengalaman


Kerja ringan
Kurang lebih 30 menit pengguna,
TS 4B–1

 SCBA terbuka (Open-


circuit SCBA)  SCBA tertutup
(Closed-circuit SCBA)
 Menggunakan udara
kempaan/ mampat  Menggunakan
oksigen cair atau
 Udara yang oksigen kempaan/
dihembuskan mampat.
dilepas keluar sistem
 Udara yang
dihembuskan tetap
berada dalam
sistem untuk
digunakan kembali
SCBA terbuka
(Open-circuit SCBA tertutup (Closed-
SCBA) circuit SCBA)
PEMASANGAN HARNESS DAN BACKPACK
SCBA

Bantalan silinder
Tali bahu

Tali
pengunci

Tali
pinggang
PEMASANGAN SILINDER UDARA SCBA

Alarm bertekanan rendah Katup


silinder

Mur
penghubung

Katup
silinder
rodatangan
silinder
Meteran
silinder
TS 4B–2

 30-menit, 2,216 psi (15 290 kPa), 45 ft3 (1 270 L)


silinder

 30-menit, 4,500 psi (31 000 kPa), 45 ft3 (1 270 L) silinder

 45-menit, 3,000 psi (21 000 kPa), 66 ft3 (1 870 L) silinder

 45-menit, 4,500 psi (31 000 kPa), 66 ft3 (1 870 L) silinder

 60-menite, 4,500 psi (31 000 kPa), 87 ft3 (2 460 L) silinder


PEMASANGAN REGULATOR SCBA

Selang bertekanan
tinggi dari silinder
Katup
lintas
utama Meteran
regulator

Udara luar

Rincian
pemasangan katup
ekhalasi Selang
bertekanan
rendah ke
facepiece
PEMASANGAN FACEPIECE
SCBA
Memeriksa facepiece

Tutup selang Facepiece harus


bertekanan rendah tetap sedikit
dengan tangan kempis sampai
dihembuskan
Hirup perlahan

Tahan nafas
selama 10 detik

Hembuskan perlaha
Tutup kembali
selang Hembusan nafas
bertekanan harus keluar melalu
rendah dengan katup ekhalasi
tangan
TS 4B–6

 Sebelum menggunakan SCBA, ikuti prosedur operasi


standar untuk menyatakan bahwa anda secara fisik
sehat.

 Monitor perasaan anda, istirahat jika merasa lelah.

 Jangan buka facepiece yang dipakai sampai keluar dari


tempat yang terkontaminasi.

 Selalu bekerja dalam tim, berdua atau lebih.


TS 4B–7

Kondisi Fisik

Tugas yang dikerjakan

Tingkat pelatihan

Lingkungan

Tingkat kesulitan
TS 4B–8a

 Jangan panik, panik menyebabkan pernapasan yang


cepat hingga banyak menghirup udara.

 Berhenti dan berfikir. Cari tempat aman, apakah ke


lantai atas atau lantai bawah.

 Gunakan radio untuk memberitahukan posisi


terakhir.
TS 4B–8b

 Dengarkan.
 Suara personil tim lainnya
 Pengoperasian selang dan peralatan

 Aktifkan peralatan sistem peringatan


keselamatan pribadi.

 Taruh senter di lantai dengan lampu menyala


ke arah atap/ langit-langit.
TEKNIK-TEKNIK BERNAPAS

Pernapasan terkontrol

Tarik napas
Hembuskan napas melalui mulut
Tarik napas melalui hidung

Pernapasan lompatan

Tarik napas
Tahan napas sampai terasa udara ingin
keluar
Tarik nafas kembali
Hembuskan nafas
PENGGUNAAN DARURAT
KATUP BYPASS

Meteran Selang bertekanan rendah


regulator
Tutup katup utama
Buka katup bypass untuk
Katup menghirup udara
bypass
Tutup katup bypass untuk
menghembuskan udara

Selang bertekanan tinggi


katup
utama
TS 4B–11

 Periksa meteran silinder untuk memastikan bahwa


silinder penuh.

 Periksa meteran remote and meteran silinder


pastikan bahwa masing-masing tertera angka
berkisar 100 psi.

 Periksa pemasangan harness dan facepiece untuk


memastikan bahwa seluruh ikatan terpasang.

 Periksa semua katup untuk meyakinkan bahwa


semua katup sudah pada posisi yang tepat.
METODE PEMASANGAN/ PENYIMPANAN
TS 4B–12a

 Pastikan tidak terdapat rambut antara kulit dan


facepiece.

 Tempatkan dagu di tempat dagu.

 Tempatkan harness di kepala bagian belakang.

 Kencangkan ikatan dengan menekan secara datar dan


simultan ke bagian belakang.
TS 4B–12b

 Periksa segel dan penggunaan facepiece sudah tepat.

 Periksa tekanan positif dengan membuka segel


secara perlahan.

 Menggunakan tudung (hood) di atas harness atau


ikatan facepiece.

 Kunci seluruh ikatan helm.


Durasi Penuh =
Tekanan Silinder x Volume
Rata-rata pernapasan dalam liter

Durasi Pekerjaan Aktual dalam menit =

tekanan udara pada silinder dalam liter x volume - Safety margin


Rata-rata pernapasan dalam liter
Safety Margin =
Tekanan Alarm x volume
Rata-rata pernapasan dalam liter

Durasi Bekerja = Durasi Penuh – Safety Margin


TS 4B–13a

1. Pastikan anda berada diluar area yang


terkontaminasi.

2. Matikan aliran udara dari regulator ke facepiece.

3. Lepaskan selang bertekanan rendah dari


regulator atau facepiece.

4. Lepaskan facepiece.

5. Lepaskan backpack sambil mengamankan


regulator.
TS 4B–13b

6. Tutup katup silinder.

7. Mengurangi tekanan dari regulator.

8. Kendorkan seluruh ikatan.

9. Isi ulang dan ganti silinder.


PERAWATAN DAN PEMERIKSAAN
HARIAN

Apakah silinder penuh ?

Apakah meteran berfungsi ?

Berfungsikah alarm bertegangan rendah ?

Berfungsikah selang penghubung?

Apakah facepeace baik?

Apakah harness baik ?

Apakah bypass dan katup utama bekerja


dengan baik ?

Apakah katup bypass tertutup rapat ?

Tepatkah Cara pemakainnya ?


TS 4B–18

 Periksa semua komponen yang rusak.

 Pastikan tidak ada kebocoran di katup dan


sambungan silinder udara.

 Periksa meteran, katup, regulator, katup


ekhalasi dan alarm udara rendah.
TS 4B–19

 Membutuhkan keahlian teknisi perusahaan


yang bersertifikat.

 Silinder harus diberi cap atau label tanggal


pengujian terakhir :
 Baja dan almunium — setiap lima tahun
 Campuran — setiap tiga tahun
MEMBERSIHKAN SCBA
SETELAH DIGUNAKAN

Mencuci
Membersihkan Mengeringkan
1. Persiapan
2. Respon
3. Size Up
4. Safety
5. Penunjukan Pimpinan
6. Stabilisasi
7. Akses ke korban
8. Perawatan Medis Darurat
9. Ekstrikasi
10. Memindahkan & Menyerahkan Ke Paramedis
11. Akhir Tugas
1. Personil
- Physik
- Mental
2. Peralatan
- Equipment
- Tools
3. Prosedur ;
a. polisi
b. perhubungan
c. pmk/ 118
d. Rescue ;
* Komando
* Penilaian pertolongan
* Access
* Prosedur Pembebasan
* Hati-hati pada kendaraan yang rusak
Parkir kendaraan :
1. Dekat dengan lokasi kejadian
2. Memanfaatkan masyarakat dilokasi kejadian
3. Beri jalan kendaraan emergency dilokasi
kejadian
A. Fire dan safety hazards
 Api
 Tumpahan minyak
 Kabel yang jatuh dikendaraan
 Material berbahaya
 Kendaraan tidak stabil
 Penonton yang gaduh
 Berapa jumlah korban
 Dimana korban;

- Didalam kendaraan
- Dijalan terlempar
 Periksa keliling radius 30 M
 Akses
 Tenaga
 Penerangan
 Komandan tim
 Menggali informasi
 Menentukan tindakan yang tepat
 Pemeriksaan keliling dilakukan radius 30M
Pemasangan safety line;
- Rescuer
- Medis

- Pengoperasian rescue extrikasi


1. Prioritas Keselamatan
2. Penyebab penolong cidera/meninggal
3. Alat pelindung diri

Ketentuan yang harus diperhatikan;


1. Rescuer terluka / cidera berikan perawatan
2. Ambil tempat yang aman
3. Penggunaan peralatan ada batasan dan aturannya
4. Istirahat dan minum air putih untuk menghindari dehidrasi
5. Hindari pemikiran hiroik
6. Jangan kerja dengan mempertaruhkan hidup
1. Kendaraan terbakar
2. Tangki meledak
3. Kebocoran bahan bakar
4. Kejatuhan kabel
• Suatu benda ketika menyebar menimbulkan
panas yang membahayakan orang atau
lingkungan

• Jangan parkir kendaraa Rescue kurang dari 600


mtr dari tempat kecelakaan
 Seseorang yang mengetahui prosedur dan teknik dan
harus terlatih serta berlatar belakang pengetahuan
seperti kegiatan yang akan dilaksanakannya untuk
mengetahui potensi bahaya

 Kemampuan yang harus dimiliki;


- Terlatih ekstrikasi
- Berpengalaman
- Cakap mengatur personil dan peralatan
- Sikap mental menghadapai situasi korban
- Mengetahui kekuatan dan kelemahan sendiri
1. Center of Gravity (semua berat terkonsentrasi
pada satu titik)
2. Base of Support (menyangga Dasar obyek)

Tujuannya : untuk mencegah pergerakkan yang


tiba-tiba
1. Posisi normal
Menahan roda-roda kendaraan dari semua sisi
agar tidak bergerak
Dapat menggunakan;
* Dongkrak
* Airbag
* Balok kayu
2. Kendaraan miring;
a. Cari tambatan
b. Gunakan tali
c. Ganjal bagian yang belum
menyentuh tanah
Mekanika Kejadian
“ Dididapat dari asumsi cidera korban
berdasarkan effect dari kecelakaan”
1. Benturan samping;
a. Fracture tungkai atas/bawah
b. Sisi yag tertabrak fracture
panggul
c. Curiga pada bahu/cidera lengan
atas pada sisi yang tertabrak
d. Benturan tiang telah hancur,
cidera kepala
2. Tabrakan dengan kecepatan tinggi;
a. dipastikan cidera bagian dalam
b. Fracture ganda
c. panggul tertekan
d. Cidera kepala dan tulang
belakang
e. Korban tdk sadarkan diri dengan
cidera kepala
3. Tertabrak bagian belakang;
a. Cervical Spine Injuries (leher
tersentak)
b. Cidera bagian muka
4. Terlempar dari kendaraan;
a. Cidera kepala & tulang spinal
b. Tidak sadarkan diri
c. Fractue ganda
d. Luka koyak bagian kepala dan
bagian atas badan
e. Perdarahan dalam
5. Roll Over;
a. Cidera yang di derita keseluruhan
tubuh
b. Pengemudi dan penumpang
umumnya terlempar
c. Terlepas dari seatbeltnya, tidak ter
kontrol pada saat berputar,
terlebih pada anak-anaknya,
karena seatbelt dirancang untuk orang
dewasa
6. Kecelakaan Sepeda Motor;
a. Pengemudi dan pembonceng fracture & femur
pinggang dan angkle, kepala, dan dipastikan
perdarahan dalam.
b. Helmet jangan dilepas kecualai mengganggu
jalan nafas.
c. Korban tidak bernafas, helmet harus dibuka.
d. Pelepasan helmet dibutuhkan 2 orang Rescuer,
dan hati2 saat melepas agar tidak
menggerakkan leher
7. Kecelakaa Pengendara Sepeda;
a. Fracture ganda
b. Goresan dan cidera kepala
c. Anak2 mudah kena fracture greenstcik lengan
& cidera pinggang
8. Pejalan Kaki
a. Dewasa tertabrak samping terliht nyata pada
sisi yang terkena hantaman
b. Korban terlempar keatas umumnya cidera
kepala dan tulang belakang
3 cara pembebasan korban dalam kendaraan;
1. Pintu kendaraan
2. Memecahkan kaca
3. Memotong kap kendaraan
1. Penilaian korban
2. Penilaian fokus
3. Stabiisasi leher
4. Pemasangan neck collar
5. Pemasangan KED
6. Pemeriksaan fisik
7. Immobilisasi fracture jika ada
8. Hentikan perarahan jika ada
9. Cek tanda vital & sample
10. Buat laporan
11. Segera transportasi ke rumah sakit
1. Lakukan perawatan secukupnya, stabilisasi
kepala, kaki dan tangan ikat dengan mitela
2. Tentukan bagian kepala/ kaki lebih dahulu
untuk mengeluarkan
3. Gunakan KED
4. Tempatkan LSB diantara jok kendaran dan
pantat korban
5. Tempatkan minimal 3 orang untuk
memegang LSB (2 Rescuer dekat kendaraan,
dan 1 Rescuer di ujung LSB)
6. Putar tubuh korban dengan mempertahankan
sumbunya dan sedikit mungkin terjadi
pergerakan
7. Posisikan korban senyaman mungkin diatas
LSB, dan stabilkan kepala
8. Serahkan ke paramedik untuk dibawa ke rumah
sakit.
Catatan ;
Penyerahan harus melaporkan;
1. Kasus yang diderita
2. Penanganan yang sudah dilakukan
3. Vital Sign
1. Seatbelt;

a. Lepas dari kuncinya


b. gunting
2. Terjepit setir/dashboard

2.1. Singkirkan semua rongsokan


2.2. Rebahkan kursi korban kebelakang
2.3. Keluarkan korban dengan hati2
2.4. Gunakan pisau untuk menyobek busanya
2.5. Gunakan hidrolik Comby Cutter untuk
membuat access
3. Kaki terjepit pedal gas/ kopling
3.1. Lepas sepatu
3.2. Buka tali sepatu/sobek sepatu
3.3. Tarik pedal yang menjepit kaki dengan
pertimbangan tidak memperparah kondisi
korban
3.4. gunakan peralatan hidrolik comby cutter
Pemindahan korban dari Kendaraan
yang mempunyai ketinggian 2 – 4
meter ;

1. Hinge

2. Slidding
1. Cek seluruh kendaraan yang terkena musibah
2. Periksa ulang daerah sekitar kejadian
3. Packing peralatan
Tanggung jawab
 Menghitng peralatan
- Sebelum dan sesudah di gunakan
2. Pemeliharaan
- Mengisi kembali APAR jika di gunakan
- Mengisi kembali BBM
- Memeriksa dan mengisi oli
- Mengasah atau mengganti pisau yang telah di gunakan
- Membersihkan kabel yang kotor
- Mengganti lampu penerangan yang tidak berfungsi
- Membersihkan kotak penyimpanan kendaraan dalam gudang
Ketentuan keselamatan di air yang harus diikuti
ketika berada disekitar air
1. Berenang
2. Medical First Responder
3. Pengendalian Boat
4. Teknik Pertolongan di air
Definisi :
Tahapan / urutan untuk memudahkan penolong
memberi pertolongan kepada korban
 R > Reach ( Menjangkau)
 T > Throw (Melempar)
 R > Row (Menghampiri dengan alat bantu)
 G > Go (Menghampiri dengan keahlian)
 T > Tow / Carry (Menarik)
 L > Locate (Lokasi)
 A > Access (Menuju / menjangkau)
 S > Stabilize (Menstabilkan)
 T > Transportation (Membawa korban)
1. Pertolongan tanpa menggunakan alat

2. Pertolongan menggunakan alat


 Under Arm Carry ( menarik dibawah siku)

 Tired Swimmer Tow / Carry ( mendorong kaki


korban dipundak)

 Wrist Tow (Menarik Lengan)

 Hip Carry ( Menarik panggul)


 Hip Carry with pistol grip (Menarik panggul
dengan menopang dagu)

 Double chin carry (menarik dagu dengan 2


tangan)
Alat – alat yang digunakan :
 Life Jacket

 Ring Buoy

 Papan Spinal (Dolphin)


Setelah mempelajari materi ini, peserta :
 Mampu Menjelaskan Fungsi Peta dan Cara
Merawat Peta
 Mampu membaca Peta
 Mampu menentukan Koordinat
 Mampu melakukan penggunaan Kompas
 Mampu berjalan dengan menggunakan Peta
 Mampu berjalan dengan berpedoman Sudut
Kompas
PETA adalah Gambaran seluruh atau sebagian
dari permukaan bumi yang diproyeksikan ke
dalam bidang datar dengan perbandingan
tertentu.
 untuk mengetahui medan yang sebenarnya
 Sebagai alat Bantu perencanaan operasi SAR
A. Topografi
B. Rupabumi
C. On Navigatioan Chart
D. Typical Pilotage Chart
E. Anroute Chart
A. Melipat bagian yang akan di gunakan berada
di luar.
B. Menggulung dan memasukan ke dalam
tabung
C. Membungkus dengan plastik
D. Laminating
Skala Peta adalah Perbandingan antara 2 titik di
Peta dengan Jarak Mendatar antara 2 titik di
medan sebenarnya.

RUMUS SKALA PETA :


Jarak Di Peta x Skala Peta = Jarak di medan
Sebenarnya
Anda di minta berjalan dari titik A ke titik B, hasil
pengukuran di Peta Jaraknya 10 cm, Skala Peta
yang anda gunakan 1 : 25.000 cm. Berapa jarak di
peta sebenarnya?
Anda diminta berjalan dari titik A ke titik B,
dengan hasil pengukuran di Peta Jaraknya 17 cm,
Skala Peta yang anda gunakan 1 : 50.000 cm.
Berapa jarak di peta sebenarnya?
Legenda Peta adalah Keterangan Peta yang
berupa simbol atau tanda-tanda disamping Peta
atau di bawah
Sudut kompas adalah Sudut yang ditunjukan oleh
kompas yang terbentuk antara 2 garis dimana
yang satu ke arah utara dan yang satu ke arah
sasaran
Sudut balik dari suatu arah dimana nilainya
diperoleh dari :

A. Sudut yang ditunjukan kompas bila kurang


dari 180o maka sudutnya di tambah 180o pada
peta
B. Sudut yang ditunjukan kompas bila lebih dari
180o maka sudutnya di kurang 180o pada peta
1. Berapakah Back Azimuth dari sudut 98o ?

2. Berapakah Back Azimuth dari sudut 272o ?


 Garis ketinggian adalah garis yang berkelok-
kelok dan tertutup serta merupakan rangkaian
titik-titik yang sama tingginya diukur dari
permukaan laut.
sungai puncak

625

sungai
Punggungan

lembah

Curam puncak Interval Kountur


landai 1/2000 x 50.000 =
25 m
Kompas adalah alat penunjuk arah dengan
berpedoman pada utara magnetik bumi
 Jarum magnetik
 Skala lingkar mendatar ( 0 – 360 derajat )
 Bidang penyangga
 Kompas Prisma
 Kompas Orientering
 Buka kompas dan tutupnya tegak lurus keatas
 Tutupkan prisma diatas kaca kompas
 Tarik cincin ibu jari jauh kebawah
 Masukkan ibu jari kedalam cincin dan letakkan
jari telunjuk menekan kotak komps
 Bawalah prisma kedepan mata

Continue…..
 Arahkan kompas pada medan yang dicari,
tentukan sudut kompasnya dengan melihat
celah melalui bidikan pada prisma, garis
rambut berada pada satu garis lurus dengan
sasaran bidik.
 Baca melalui prisma nilai skala mendatar yang
ditunjuk plot yang ada dalam kompas
Orientasi Peta adalah bagaimana
meletakkan peta secara benar, sesuai dengan
keadaan dimedan sebenarnya
Resection adalah Cara menetukan kedudukan /
posisi kita di peta dengan menggunakan 2 titik
acuan dan memindahkan kedudukan dari medan
sebenarnya ke peta
Intersection adalah Cara menetukan objek lain
yang ada di depan kita
Setelah mempelajari materi ini, peserta :
1. Mampu menjelaskan mode preliminary
2. Mampu menjelaskan mode confinement
3. Mampu menjelaskan mode detection
4. Mampu menjelaskan mode tracking
5. Mampu menjelaskan mode evacuation
6. Mampu membuat marker
7. Mampu melakukan teknik pencarian
Teknik Pencarian adalah Metode atau cara yang
akan dilakukan pada saat pencarian orang/benda
yang hilang di alam.
 Preliminary Mode
 Confinement Mode
 Detection Mode
 Tracking Mode
 Evacuation Mode
Proses mengumpulkan semua informasi awal, saat
tim pencari diminta bantuan sampai dilokasi,
formasi rencana pencarian awal, penghitungan
dan perkiraan orang yang hilang
Metode dengan cara membuat batas - batas untuk
mengurung orang yang hilang agar berada dalam
area pencarian
 Trail Blok
 Road Block
 Lock Out
 Camp In
 Track Traps
 String Line
Tindakan pencarian yang didasarkan pada
besarnya kemungkinan ditemukanya ceceran
korban dan korban.

Pada mode detection apabila ditemukan ceceran korban


dan korban maka harus di buat marker (tanda)
BADAN SAR NASIONAL
TIM : ……. TANGGAL :……………….. JAM : …… MARKER : …….

INFORMASI GRID : TYPE GRID : ………………………………..


UJUNG KIRI START
TENGAH DISINI
TERAKHIR
UJUNG KANAN

KET BARANG TEMUAN DIAMBI L (JIKA ADA)


DISINI
DITINGGAL

MARKER
 Pencarian Type 1
 Pencarian type 2
 Pencarian type 3
Pencarian Type 1 adalah Pencarian atau
pemeriksaan yang segera (hasty Search) pada
daerah yang mempunyai kemungkinan
ditemukannya korban
Pencarian yang cepat atas daerah pencarian yang
luas, pencarian menyapu secara lurus dan bersama
antara anggota tim pencari dan tim pencari
lainnya dimana jarak antar anggota tim 3 m s/d 5
m di sesuaikan dengan jumlah tim yang terlibat
dan luas daerah pencarian.
Tindakan pencarian dengan memamfaatkan
personil yang memiliki kemampuan dalam
membaca jejak.

Contoh :
Personil yang terlatih

Anjing pelacak
Tindakan memberikan pertolongan yang segera
kepada korban setelah tim pencari menemukan
korban tersebut.
1. Berikan pertolongan pertama segera
2. Berikan kepercayaan diri kepada korban,
tenangkan korban
3. Pelajari situasi lingkungan korban ditemukan
dan kondisi korban
1. Luka ringan, korban masih bisa berjalan
dengan baik.
2. Luka yang menyebabkan korban tidak
bisa berjalan.
3. Meninngal dunia
1. Dengan tandu yang telah disiapkan
2. Tandu darurat.
3. Dengan Helikopter

Anda mungkin juga menyukai