0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan112 halaman

Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

Karya tulis ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien Ny. S yang mengalami stroke hemoragik di RSUD Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan menunjukkan bahwa setelah perawatan, dua dari tiga diagnosa keperawatan mengalami perbaikan. Penulis berharap karya ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan tentang penanganan stroke hemoragik.

Diunggah oleh

jelitazahra406
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan112 halaman

Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

Karya tulis ilmiah ini membahas asuhan keperawatan pada pasien Ny. S yang mengalami stroke hemoragik di RSUD Sleman, Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan menunjukkan bahwa setelah perawatan, dua dari tiga diagnosa keperawatan mengalami perbaikan. Penulis berharap karya ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan tentang penanganan stroke hemoragik.

Diunggah oleh

jelitazahra406
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.”S” DENGAN STROKE


HEMORAGIK DI RUANG ALAMANDA 1 RSUD SLEMAN
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Karya Tulis Ilmiah ini disusun guna melengkapi syarat untuk menyelesaikan
Program Pendidikan Diploma III Keperawatan

Disusun oleh :
JERINA PUSPITA 26211121

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN SEKOLAH


TINGGI ILMU KESHATAN AL-ISLAM YOGYAKARTA
2024

PERSETUJUAN PEMBIMBING

i
Karya Tulis Ilmiah berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. “S”
DENGAN STROKE HEMORAGIK DI RUANG ALAMANDA 1 RSUD
SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA” telah mendapat
persetujuan pada tanggal 20 Juni 2024

Menyetujui, Pembimbing

Husnul Khotimah, [Link]., Ns., MPH


NIDN : 0529118901

Mengetahui, Ketua Stikes Al-Islam Yogyakarta

Husnul Khotimah, [Link]., Ns., MPH


NIDN : 0529118901

KARYA TULIS ILMIAH

Asuhan Keperawatan pada Ny.”S” dengan Stroke Hemoragik di Ruang


Alamanda 1 RSUD Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Disusun oleh :

JERINA PUSPITA 26211121

ii
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada
tanggal 22 Juni 2024

SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Penguji I
Husnul Khotimah, [Link]., Ns., MPH ………………….
NIDN : 0529118901

Penguji II
Aini Hidayati, [Link]., Ns., MM ………………….
NIDN : 0526129601

Penguji III
Candra, SKM., [Link] ………………….
NIDN : 0512128702
Mengetahui,
Ketua Stikes Al-Islam Yogyakarta

Husnul Khotimah, [Link]., Ns., MPH


NIDN : 0529118901

MOTTO

“Sembilan bulan ibuku merakit tubuhku untuk menjadi mesin penghancur badai,
maka tak pantas aku tumbang hanya karena mulut seseorang”

“Direndahkan dimata manusia, ditinggikan dimata Tuhan, Prove Them Wrong”

“Gonna fight and don’t stop, until you are proud”

“Selalu ada harga dalam sebuah proses. Nikmati saja lelah-lelah itu. Lebarkan lagi
rasa sabar itu. Semua yang kau investasikan untuk menjadikan dirimu serupa yang

iii
kau impikan, mungkin tidak akan selalu berjalan lancar. Tapi gelombang-
gelombang itu yang nanti akan bisa kau ceritakan”

PERSEMBAHAN

Laporan Karya Tulis Ilmiah ini saya persembahkan kepada :

1. Kepada kedua orang tuaku tercinta Bapak Sukiman dan Ibu Tumirah yang

telah memberikan kepercayaan kepada penulis untuk menlanjutkan

Pendidikan ke tahap ini, yang mengorbankan segalanya untuk penulis, selalu

bersabar disetiap proses yang dilalui, dan pantang menyerah dalam menggapai

target hidup, serta tiada hentinya selalu mendoakan yang terbaik untuk penulis

disetiap langkah.

2. Kepada Wahyu Setiawan selaku kakak penulis, terimakasih selalu

memberikan motivasi, kasih sayang, dukungan dan kakak paling hebat bagi

penulis.

iv
3. Teruntuk Fatikhatus Solikhah dan Betty Dwi Mayangsari , adalah orang-orang

pilihan yang selalu berada dibalik layar, membersamai dalam perjuangan dan

selalu mau saya repotkan, terimakasih semoga sama-sama dilancarkan sampai

akhir perjuangan.

4. Kepada sosok yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup penulis,

Carellia Rinjani, terima kasih telah menjadi tempat berkeluh kesah untuk

penulis. Terima kasih atas dukungan, motivasi dan doanya sehingga penulis

dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.

5. Teman-teman seperjuangan Stikes Al-Islam Yogyakarta.

6. Seluruh pihak yang memeberikan bantuan kepada penulis namun tidak dapat

penulis sebutkan satu persatu. Terimakasih bantuan dan semangat yang telah

diberikan pada penulis.

7. Teruntuk seseorang yang belum bisa dituliskan Namanya dengan jelas disini,

namun sudah tertulis jelas di Lauhul Mahfudz untuk penulis, terima kasih

sudah menjadi sumber motivasi penulis dalam menyelesaikan tulisan ini

sebagai salah satu upaya dalam memantaskan diri. Karena penulis percaya

bahwa sesuatu yang ditakdirkan menjadi milik kita akan menuju kepada kita

bagaimanapun caranya.

8. Dan yang terakhir, kepada diri saya sendiri Jerina Puspita. Terimakasih sudah

bertahan sejauh ini. Terimakasih tetap memilih berusaha dan merayakan

dirimu sendiri sampai dititik ini, walau seringkali merasa putus asa atas apa

yang diusahakan dan belum berhasil, namun terimakasih tetap menjadi

manusia yang selalu mau berusaha dan tidak lelah mencoba. Berbahagialah

dimanapun berada, Jerina. Apapun kurang dan lebihmu mari merayakan diri

sendiri.

v
INTISARI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.”S” DENGAN STROKE


HEMORAGIK DI RUANG ALAMANDA 1 RSUD SLEMAN DAERAH
ISTIMEWA YOGYAKARTA
Jerina Puspita¹, Husnul Khotimah²
Latar belakang : Karya tulis ilmiah ini dilatar belakangi oleh banyaknya kasus
stroke hemoragik. Pada penelitian yang dilakuakan oleh oleh (Ningrum,2022)
pada tahun 2021 berdasarkan data dari ruang Alamanda 1 RSUD Sleman jumlah
pasien penderita stroke rata-rata sebanyak 120 pasien.
Tujuan : Dapat mengambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien Ny.
S dengan Stroke Hemoragik
Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pemaparan kasus
dan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Proses keperawatan dilakukan
berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran
Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI).
Hasil : Keluhan yang didapatkan pada Ny.S dengan Stroke Hemoragik yaitu lemas
dan tidue terus menerus pasien tampak mengalami penurunan kesadaran, penulis
menegakkan tiga diagnosa keperawatan, yaitu penurunan kapasitas adaptif
intracranial berhubungan dengan edema serebral, pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan hambatan upaya nafas dan gangguan mbilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
Kesimpulan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3 x 24 jam pada Ny. S
terdapat dua dignosa keperawatan teratasi sebagian yaitu penurunan kapasitas
adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral sebagian dan satu
diagnosa dan gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan
otot, dan satu diagnose teratasi yaitu pola nafas tidak efektif berhubungan dengan
hambatan upaya nafas.

Kata kunci : Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik

¹ : Mahasiswa STIKES Al- Islam Yogyakarta

vi
² : Dosen STIKES Al-Islam Yogyakarta

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wa Barookatuh

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah S.W.T ysng telah melimpahkan

rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan

karya tulis ilmiah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Ny. S dengan Stroke

Hemoragik diruang Alamanda 1 RSUD Sleman”. Penulisan karya tulis ini

dimaksudkan untuk memenuhi sebagai syarat untuk menyelesaikan program

Diploma III Pendidikan Ahli Madya Keperawatan Al-Islam Yogyakarta.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam

pembuatan laporan kasus ini kepada :

1. Ibu Husnul Khotimah, [Link]., Ns., MPH, selaku Ketua Stikes Al-Islam

Yogyakarta yang telah memberikan masukan dan pengarahan kepada penulis.

2. Ibu Husnul Khotimah., [Link]., Ns., MPH, selaku dosen pembimbing dan

penguji yang telah dengan sabar membimbing dan mengarahkan, memberikan

motivasi kepada penulis.

3. Ibu Aini Hidayati, [Link]., Ns., MM selaku penguji Karya Tulis Ilmiah I.

4. Bapak Candra, SKM., MPH, selaku penguji Karya Tulis Ilmiah II.

5. Kedua orangtua, dan kakak yang telah memberikan dukungan serta do’a.

6. Dosen dan staf karyawan Stikes Al-Islam Yogyakarta atas ilmu dan bantuannya

selama ini.

vii
7. Sahabat- sahabatku di Studi DIII Keperawatan Angkatan 2021 dan semua

pihak yang telah membantu sehingga penulisan karya tulis ilmiahini dapat

selesai tepat pada waktunya.

Penulis berharap masukan, kritikan dan saran yang bersifat membangun senantiasa

penulis harapkan agar penulis dapat memeperbaikinya dikemudian hari. Semoga

penulisan karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan pembaca

menambah wawasan pengetahuan kita.

Wassaalamualaikum Wa Rahmatullahi Wa Barookatuh

Yogyakarta, 20 Juni 2024

Jerina Puspita

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i

viii
PERSETUJUAN ..................................................................................................... ii

KARYA TULIS ILMIAH ...................................................................................... iii

MOTTO ................................................................................................................. iv

PERSEMBAHAN ................................................................................................... v

INTISARI ..............................................................................................................
vii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... viii

DAFTAR ISI ........................................................................................................... x

DAFTAR TABEL ................................................................................................ xiii

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

A. Latar Belakang ............................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 3

C. Ruang Lingkup ............................................................................................. 4

D. Tujuan .......................................................................................................... 5

E. Manfaat ........................................................................................................ 6

F. Metode.......................................................................................................... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 9

A. Konsep Dasar Stroke .................................................................................... 9

1. Pengertian ................................................................................................
.9

2. Klasifikasi ...............................................................................................
10

3. Etiologi ...................................................................................................
11
4. Faktor Resiko .........................................................................................
12

5. Patofisiologi ............................................................................................
14

6. Manifestasi Klinis ...................................................................................


19

ix
7. Pemerksaan Fisik ....................................................................................
20

8. Pemeriksaan Penunjang ..........................................................................


21

9. Komplikasi .............................................................................................
23

10. Prognosis ............................................................................................. 25

11. Penatalaksanaan .................................................................................. 25

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan .......................................................... 31

1. Pengkajian ..............................................................................................
31

2. Diagnosa Keperawatan ...........................................................................


43

3. Perencanaan ............................................................................................
44

4. Implementasi ..........................................................................................
48

5. Evaluasi ..................................................................................................
48

C. Dokumentasi .............................................................................................. 49

BAB III TINJAUAN KASUS ............................................................................... 51

A. Pengkajian .................................................................................................. 51

B. Diagnosa Keperawatan............................................................................... 68

C. Perencanaan................................................................................................ 69

D. Catatan Perkembangan dan Evaluasi Keperawatan ................................... 71

BAB IV PEMBAHASAN ..................................................................................... 79

A. Pengkajian .................................................................................................. 79

B. Diagnosa ..................................................................................................... 81

C. Perencanaan................................................................................................ 85

D. Implementasi .............................................................................................. 91
E. Evaluasi ...................................................................................................... 95

F. Pendokumentasian...................................................................................... 98
x
BAB V PENUTUP .............................................................................................. 100

A. Kesimpulan .............................................................................................. 100

B. Saran ......................................................................................................... 102

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 104


DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perencanaan..............................................................................................45
Tabel 2. Pola Aktivitas dan Latihan.......................................................................60
Tabel 3. Terapi........................................................................................................64
Tabel 4. Pemeriksaan Penunjang...........................................................................65
Tabel 5. Pemeriksaan Penunjang...........................................................................66
Tabel [Link] Data..............................................................................................67
Tabel 7. Intervensi keperawatan.............................................................................69

Tabel 8. Catatan perkembangan .............................................................................


71
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pathway ................................................................................................


18
Gambar [Link] ..............................................................................................
54
Gambar [Link] otot ........................................................................................
57

xi
xii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Stroke merupakan suatu penyakit yang tidak menular dan menjadi

penyakit yang perlu diwaspadai oleh setiap orang, karena stroke adalah

penyakit neurologis yang menyerang bagian otak, begitu juga jaringan dan

saraf yang ada di otak (Auryn, 2017). Stroke terbagi menjadi dua tipe, yaitu

stroke iskemik yang disebabkan karena sumbatan pada pembuluh darah

(trombosis, emboli) dan stroke hemoragik yang disebabkan oleh pecahnya

pembuluh darah di otak (Auryn, 2017).

Stroke merupakan masalah kesehatan global yang signifikan dengan

dampak yang luas. Pada tahun 2019, WHO mencatat 13,7 juta kasus stroke

secara global, dengan 5,5 juta diantaranya berujung kematian. (World Health

Organization, 2022) Di Amerika Serikat, stroke menempati posisi sebagai

penyebab utama kecacatan dan penyebab kematian kelima. (Benjamin, E. J.,

et al. 2019) Setiap tahunnya, sekitar 795.000 penduduk Amerika Serikat

mengalami stroke, baik baru maupun berulang. (Virani, S. S., et al. 2021)

Studi epidemiologi lebih lanjut mengungkapkan bahwa mayoritas stroke di

Amerika Serikat, antara 82-92%, adalah stroke iskemik. (Jauch, E. C., et al.

2020) Data-
2

data ini menegaskan urgensi penanganan dan pencegahan stroke secara

komprehensif.

Prevalensi stroke di Indonesia menunjukkan variasi yang signifikan

antar wilayah dan dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko. Secara nasional,

prevalensi stroke pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 10,9%

pada tahun 2018, dengan perkiraan jumlah penderita sebanyak 2.120.362

orang (Kemenkes RI, 2018). Namun, di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

(DIY), prevalensi stroke pada kelompok usia yang sama tercatat lebih rendah,

yaitu sebesar 1,7% pada tahun yang sama (Azzahra, 2018). Penelitian Azzahra

juga mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berhubungan signifikan

dengan kejadian stroke, termasuk usia, aktivitas fisik, hipertensi, penyakit

jantung, dan diabetes melitus. Di sisi lain, Provinsi Jawa Tengah mencatatkan

prevalensi stroke yang lebih tinggi, mencapai 11,8% pada tahun 2018, dengan

jumlah penderita sekitar 96.794 orang (Riskesdas, 2018). Sementara itu, data

dari ruang Alamanda 1 RSUD Sleman menunjukkan rata-rata 120 pasien

stroke per tahun pada tahun 2021 (Ningrum, 2022). Temuan ini menegaskan

perlunya upaya pencegahan dan penanganan stroke yang komprehensif dan

disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.

Stroke yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan

ketergantungan pasien pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari

(Handayani & Dewi, 2016). Hemiplegi atau hemiparesis merupakan

konsekuensi umum dari stroke, bahkan 80% pasien stroke mengalaminya

(Aprilia, 2017). Oleh karena itu, perawat memiliki peran krusial dalam
3

penanganan pasien stroke melalui upaya promotif, preventif, kuratif, dan

rehabilitatif. Upaya promotif dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan

masyarakat mengenai stroke (Mutiarasari, 2019). Upaya preventif dilakukan

dengan menjelaskan cara pencegahan stroke melalui kontrol gaya hidup dan

riwayat penyakit (Anita dkk, 2021). Sementara itu, upaya kuratif melibatkan

kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi dan obat-obatan (Ayub,

2016). Dengan demikian, peran perawat sangat penting dalam meningkatkan

kualitas hidup pasien stroke melalui berbagai intervensi keperawatan.

Mencermati dari narasi di beberapa teori maka dalam kasus KTI ini

stroke sangat dibutuhkan pemahaman dan penatalaksanaan asuhan

keperawatan untuk mengurangi komplikasi yang disebabkan penyakit stroke.

Selain itu, gejala stroke yang datang dengan tiba-tiba membuat penderita tidak

menyadarinya, sehingga mengalami kelainan seperti lumpuh pada sebagian

tubuhnya, bicara pelo, pandangan kabur, dan lain sebagainya tergantung

bagian otak mana yang terkena. Sesuai latar belakang diatas, maka penulis

tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan

Stroke

Hemoragik Di Ruang Alamanda 1 RSUD Sleman”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah

:”Bagaimana gambaran asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit


Stroke Hemoragik pada Ny.”S” di Ruang Alamanda 1 RSUD Sleman Daerah

Istimewa Yogyakarta?”
4

C. Ruang Lingkup

1. Mata Ajaran

Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit Stroke Hemoragik

termasuk dalam mata ajaran Keperawatan Medikal Bedah (KMB).

2. Lingkup Asuhan Keperawatan

Pemberian asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses

keperawatan meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,

implementasi, evaluasi keperawatan.

3. Lingkup Waktu

Berdasarkan waktu asuhan keperawatan ini dilaksanakan selama 3x 24

jam pada pasien Ny.S dengan Stroke Hemoragik di ruang Alamanda 1

RSUD

Sleman Provinsi D.I Yogyakarta.

4. Lingkup Tempat

Di ruang Alamanda 1 RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi D.I.

Yogyakarta.

5. Lingkup Kasus

Dari berbagai kasus yang ada penulis mengambil satu kasus pada pasien

Ny.S dengan Stroke Hemoragik diruang Alamanda 1 RSUD Sleman

Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta.

D. Tujuan

1. Tujuan Umum

Asuhan Keperawatan ini disusun untuk menggambarkan asuhan

keperawatan kepada Ny. S dengan Stroke Hemoragik diruang Alamanda


5

1 RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus

Penulis mendapatkan pengalaman nyata dalam :

a. Mendiskripsikan pada pasien dengan Stroke Hemoragik dan

mengetahui data yang muncul pada Ny. S dengan Stroke Hemoragik

diruang Alamanda 1 RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi D.I.

Yogyakarta.

b. Mendiskripsikan analisis data, menentukan diagnosa keperawatan dan

membuat prioritas diagnosa keperawatan pada Ny. S dengan Stroke

Hemoragik di ruang Alamanda 1 RSUD Sleman Kabupaten Sleman

Provinsi D.I. Yogyakarta.

c. Mendeskripsikan tujuan keperawatan dan rencana tindakan

keperawatan sesuai diagnosa yang sudah ditegakkan pada Ny. S

dengan Stroke Hemoragik di ruang Alamanda 1 RSUD Sleman

Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta.

d. Mendeskripsikan intervensi keperawatan sesuai dengan rencana yang

telah ditetapkan pada Ny. S dengan Stroke Hemoragik di ruang

Alamanda 1 RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi D.I.

Yogyakarta.

e. Mendeskripsikan evaluasi proses keperawatan untuk mengetahui

diagnose keperawatan yang teratasi, teratasi sebgaian dan tidak

teratasi pada Ny. S dengan Stroke Hemoragik di ruang Alamanda 1

RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta.


6

f. Mendokumentasikan proses asuhan keperawatan yang sudah

dilakukan pada Ny. S dengan Stroke Hemoragik di ruang Alamanda 1

RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta.

E. Manfaat

1. Bagi Profesi Keperawatan

Diharapkan karya tulis ilmiah ini dapat digunakan sebagai masukan dalam

membantu pengembangan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien

Stroke Hemoragik.

2. Bagi Institusi

KTI ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan untuk meningkatkan

pengetahuan bagi mahasiswa STIKES AL-ISLAM khususnya dalam

memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan Stroke Hemoragik.

3. Bagi Penulis

Diharapkan penulis dapat menambah pengetahuan dan pengalaman yang

lebih mendalam dan upaya dalam memberikan asuhan keperawatan

khususnya pada pasien Stroke Hemoragik.

F. Metode

1. Metode Pembuatan Karya Tulis Ilmiah

Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini menggunakan desain studi kasus

deskriptif yang bertujuan untuk mendiskripsikan asuhan keperawatan pada

pasien dengan Stroke Hemoragik di ruang Alamanda 1 RSUD Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan pada studi

kasus ini adalah pendekatan proses keperawatan meliputi melakukan


7

pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan,

penatalaksanaan, dan evaluasi keperawatan.

2. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan

proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu

penelitian (Nursalam, 2020). Teknik pengumpulan data dalam penelitian

ini meliputi :

a. Wawancara

Wawancara adalah metode pengumpulan data yang dapat dilakukan

dengan cara berinteraksi, bertanya atau mendengarkan apa yang

disampaikan secara lisan melalui responden atau partisipan (Nursalam,

2020). Peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara terstruktur

sesuai dengan format asuhan keperawatan dan dilakukan secara

fleksibel sesuai dengan respon yang diberikan pasien dan keluarga

seperti riwayat penyakit terdahulu pasien dan keluarga.

b. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh untuk menentukan

adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu organ bagian

tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk

(perkusi) dan mendengarkan (auskultasi) (Arafah,2021). Pemeriksaan

fisik dilakukan kepada klien dan seluruh anggota keluarga meliputi

keadaan umum, tanda-tanda vital, BB, TB, dan pemeriksaan secara

head to toe.

c. Dokumentasi
8

Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data yang berasal dari

dokumen asli (Nursalam, 2020). Dokumen asli tersebut berupa

mengambil data yang diperlukan melalui less pasien.

d. Observasi

Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan klien menggunakan

kepekaan panca indra untuk memperoleh data tentang masalah

kesehatan dan keperawatan klien (Arafah,2021). Observasi yang

dilakukan meliputi perilaku, keadaan, lingkungan sekitar, dan tanda

gejala penyakit yang dialami.


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Stroke

1. Pengertian

Stroke merupakan suatu penyakit yang tidak menular dan menjadi

penyakit yang perlu diwaspadai oleh setiap orang, karena stroke adalah

penyakit neurologis yang menyerang bagian otak, begitu juga jaringan dan

saraf yang ada diotak (Auryn, 2017). Stroke terbagi menjadi dua tipe, yaitu

stroke iskemik yang disebabkan karena sumbatan pada pembuluh darah

(trombosis, emboli) dan stroke hemoragik yang disebabkan oleh pecahnya

pembuluh darah di otak (Auryn, 2017).

Stroke hemoragik adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh

pecahnya pembuluh darah di sekitar atau di dalam otak, sehingga suplai

darah ke jaringan otak akan tersumbat. Darah yang pecah bisa membanjiri

jaringan otak yang ada disekitarnya, sehingga fungsi otak akan terganggu

(Kanggeraldo, Sari, & Zul, 2018).

Stroke hemoragik merupakan stroke yang terjadi karena pecahnya

pembuluh darah, sehingga mengakibatkan darah di otak mengalir ke

rongga sekitar jaringan otak. Seseorang yang menderita stroke hemoragik

akan mengalam penurunan kesadaran, karena kebutuhan oksigen dan

nutrisi yang dibawa oleh darah ke otak tidak terpenuhi akibat pecahnya

pembuluh darah (Ainy & Nurlaily, 2021).

9
10

2. Klasifikasi

Menurut Indrawati dkk., (2016) Klasifikasi stroke hemoragik dibedakan

atas dua kelompok yaitu sebagai berikut :

a. Perdarahan Intraserebral

Perdarahan Intra Serebral diakibatkan oleh pecahnya pembuluh

darah intraserebral sehingga darah keluar dari pembuluh darah dan

kemudian masuk ke dalam jaringan otak. Pada stroke jenis ini

pembuluh darah pada otak pecah dan darah membasahi jaringan otak.

Darah ini sangat mengiritasi jaringan otak sehingga menyebabkan

spasme atau menyempitnya arteri di sekitar tempat perdarahan. Sel-

sel otak yang berada jauh dari tempat perdarahan juga akan

mengalami kerusakan karena aliran darah terganggu. Selain itu, jika

volume darah yang keluar lebih dari 50 ml maka dapat terjadi proses

desak ruang yakni rongga kepala yang luasnya tetap, “diperebutkan”

oleh darah “pendatang baru” dan jaringan otak sebagai “penghuni

lama”. Biasanya pada proses desak ruang ini, jaringan otak yang

relatif lunak mengalami kerusakan akibat penekanan oleh jendela

darah.

b. Perdarahan Subarakhnoid

Perdarahan subarakhnoid adalah masuknya darah ke ruang

subarachnoid baik dari tempat lain (perdarahan subarachnoid

sekunder) dan sumber perdarahan berasal dari rongga subarachnoid

itu sendiri/perdarahan subarachnoid primer. Perdarahan yang terjadi

di pembuluh darah yang terdapat pada pembungkus selaput

pembungkus otak. Selanjutnya, darah mengalir keluar mengisi rongga

antara tulang tengkorak dan otak. Sama seperti perdarahan


11

intraserebral, darah yang keluar dapat menyebabkan spasme arteri

sekitar tempat perdarahan, mengiritasi jaringan sekitar, serta

menyebabkan proses desak ruang.

3. Etiologi

Terjadinya penyakit stroke hemoragik dapat melalui beberapa

mekanisme. Stroke hemoragik yang berkaitan dengan penyakit hipertensi

terjadi pada stroke bagian otak dalam yang diperdarahi oleh penetrating

artery seperti pada area ganglia basalis (50%), lobus serebral (10% hingga

20%), talamus (15%), pons dan batang otak (10% hingga 20%), dan

serebelum (10 %), stroke lobaris yang terjadi pada pasien usia lanjut

dikaitkan dengan cerebral amyloid angiopathy. Selain diakibatkan oleh

hipertensi, stroke hemoragik juga bisa diakibatkan oleh tumor intrakranial,

penyakit moyamoya, gangguan pembekuan darah, leukimia, serta

dipengaruhi juga oleh usia, jenis kelamin, ras/suku, dan faktor genetik

(Setiawan, 2021).

Pada umumnya stroke hemoragik terjadi pada lanjut usia,

dikarenakan penyumbatan terjadi pada dinding pembuluh darah yang

sudah rapuh (aneurisma), pembuluh darah yang rapuh disebabkan oleh

factor usia (degeneratif), tetapi juga disebabkan oleh factor keturunan

(genetik) (Junaidi, 2018). Menurut Junaidi (2018) Stroke hemoragik

disebabkan oleh arteri yang mensuplai darah ke otak pecah. Pembuluh

darah pecah umumnya karena arteri tersebut berdinding tipis berbentuk

balon yang disebut aneurisma atau arteri yang lecet bekas plak

aterosklerotik. Penyebabnya terjadi peningkatan tekanan darah yang

mendadak tinggi dan atau oleh stress psikis berat. Peningkatan tekanan

darah yang mendadak tinggi juga disebabkan oleh trauma kepala atau
12

peningkatan lainnya seperti mengedan, batuk keras, mengangkat beban

dan sebagainya.

4. Faktor Resiko

Menurut (Haryono & Sari Utami, 2019) ada banyak faktor yang dapat

meeningkatkan resiko stroke yaitu :

a. Faktor resiko gaya hidup:

1) Kelebihan berat badan atau obesitas

2) Ketidakaktifan fisik

3) Minum berat atau pesta

4) Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan


metamfetamin

b. Faktor medis

1) Memiliki tekanan darah lebih tinggi dari 120/80 mmHg

2) Merokok atau terpapar asap rokok bekas

3) Kolesterol tinggi

4) Diabetes

5) Apnea tidur obstruktif

6) Penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung, cacat jantuk,

infeksi jantung atau irama jantung yang tidak normal

7) Riwayat pribadi atau keluarga terkait stroke, serangan jantung, atau

serangan iskemik transien.

c. Faktor-faktor lain terkait stoke hemoragik adalah;

1) Usia. Orang berusia 55 tahun atau lebih memiliki risiko stroke

yang lebih tinggi daripada orang yang lebih muda.


13

2) Hormon. Penggunaan pil KB atau terapi hormone yang termasuk

estrogen, serta peningkatan kadar estrogen dari kehamilan dan

persalinan.

Sedangkan menurut (Unnithan & Mehta, 2022) faktor resiko stroke

hemoragik yaitu:

1) Merokok dan konsumsi alkohol sedang atau berat dan

alkoholisme kronis.

2) Penyakit hati kronis meningkatkan kemungkinan ICH karena

koagulopati dan trombositopenia.

3) Penurunan kolesterol lipoprotein densitas rendah dan trigliserida

rendah.

4) Simpatomimetik seperti kokain, heroin, amfetamin, efedrin, dan

fenilpropanolamin meningkatkan risiko perdarahan otak.

5) Microbleeds serebral (CMBS) yang terkait dengan hipertensi,

diabetes mellitus, dan merokok meningkatkan risiko ICH.

6) Usia tua dan jenis kelamin laki-laki. Insiden ICH meningkat

setelah usia 55 tahun. Risiko relatif setelah 70 tahun adalah 7.

7) Tumor yang lebih mudah berdarah adalah glioblastoma, limfoma,

metastasis, meningioma, adenoma hipofisis dan

hemangioblastoma.

5. Patofisiologi

Faktor resiko stroke seperti gaya hidup, Diabetes Melitus, riwayat

penyakit jantung dan sebagainya dapat menyebabkan kerja norepinefrin

dipembuluh darah meningkat sehingga tekanan darah meningkat atau

hipertensi akut. Hipertensi yang terus menerus dapat mengakibatkan

timbulnya penebalan dan degeneratif pembuluh darah yang dapat


14

menyebabkan rupturnya arteri serebral sehingga perdarahan menyebar

dengan cepat dan menimbulkan perubahan setempat serta iritasi pada

pembuluh darah otak. Perubahan yang terus berlanjut ini dapat

menyebabkan pembuluh darah otak (serebral) pecah sehingga terjadi

stroke hemoragik (Rahmayanti, 2019).

Mekanisme yang sering terjadi pada stroke perdarahan

intraserebral adalah faktror dinamik yang berupa peningkatan tekanan

darah. Hipertensi kronis menyebabkan pembuluh darah arteriol yang

berdiameter 100-400 mikrometer mengalami perubahan yang patologik.

Perubahan tersebut berupa lipohyalinosis, fragmentasi, nekrosis, dan

mikroaneurisma pada arteri di otak. Kenaikan tekanan darah secara

mendadak ini dapat menginduksi pecahnya pembuluh darah. Jika

pembuluh darah tersebut pecah, maka akan menyebabkan perdarahan.

(Munir, 2015). Pecahnya pembuluh darah otak mengakibatkan darah

masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa atau hematom yang

menekan jaringan otak dan

menimbulkan oedema di sekitar otak. Peningkatan Transient Iskemic Attack

(TIA) yang terjadi dengan cepat dapat mengakibatkan kematian yang mendadak

karena herniasi otak. Perdarahan Intraserebral sering dijumpai di daerah pituitary

glad, thalamus, sub kartikal,lobus parietal, nucleus kaudatus, pons, dan

cerebellum. Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan struktur dinding

pembuluh darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid (Perdana, 2017).

Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau Arteriovenous

Malformati (AVM). Aneurisma paling sering di dapat pada percabangan

pembuluh darah besar di sirkulasi willis sedangkan AVM (Arteriovenous

Malformatio) dapat dijumpai pada jaringan otak di permukaan pia meter


15

dan ventrikel otak, ataupun di dalam ventrikel otak dan ruang

subarachnoid (Perdana, 2017). Aneurisma merupakan lesi yang didapatkan

karena berkaitan dengan tekanan hemodinamik pada dinding arteri

percabangan dan perlekukan. Prekursor awal aneurisma adalah adanya

kantong kecil melalui arteri media yang rusak. Kerusakan ini meluas

akibat tekanan hidrostatik dari aliran darah pulsatif dan turbulensi darah,

yang paling besar berada di bifurcatio atrei. Suatu anuerisma matur

memiliki sedikit lapisan media, diganti dengan jaringan ikat, dan

mempunyai lamina elastika yang terbatas atau tidak ada sehingga mudah

terjadi ruptur. Saat aneurisma ruptur, terjadi ekstravasasi darah dengan

tekanan arteri masuk ke ruang subarachnoid dan dengan cepat menyebar

melalui cairan serebrospinal mengelilingi otak dan medulla spinalis.

Ekstravasasi darah menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (TIK)

global dan mengiritasi meningeal

(Munir, 2015).
Peningkatan TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan

subhialoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarachnoid

dapat mengakibatkan vasopasme pembuluh darah serebral. Vasopasme ini

seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai

puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang setelah minggu ke 2-5.

Timbulnya vasopasme diduga karena interaksi antara bahan-bahan yang

berasal dari darah dan dilepaskan ke dalam cairan serebrospinalis dengan

pembuluh darah arteri di ruang subarachnoid. Ini dapat mengakibatkan

disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal

(hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia, dan lain-lain). Otak dapat

berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi

yang dihasilkan di dalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses


16

oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran

darah otak walau sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi (Wati,

2019).

Perdarahan subarachnoid (PSA) yang mengacu pada perdarahan

otak di bawah arachnoid, sering menyebabkan onset cepat defisit

neurologis dan hilangnya kesadaran. Perdarahan subarachnoid ini akan

direspon tubuh dengan cara mengkonstraksi pembuluh darah

(vasokonstriksi atau vasospasme) yang diransang oleh zat-zat yang bersifat

vasokonstriksi seperti serotonin, prostaglandin, dan produk pecahan darah

lainnya. Keadaan ini akan memicu ion kalsium untuk masuk kedalam sel

otot polos pembuluh darah. Akibatnya konstraksi atau spasme akan

semakin hebat dan lambat laun, yaitu sekitar hari kelima setelah

perdarahan, kontraksi akan mencapai puncaknya sehingga terjadi

penutupan lumen atau saluran pembuluh darah secara total dan darah tidak

dapat mengalir lagi ke sel saraf yang bersangkutan. Akhirnya terjadi

kematian pada sel saraf dan menyebabkan kehilangan kontrol

mengakibatkan terjadinya hemiplegi dan hemiparesis. Hemiplegi dan

hemiparesis dapat mengakibatkan kelemahan pada alat gerak dan

menyebabkan keterbatasan dalam pergerakan fisik pada ekstremitas

sehingga muncul masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik (Black

dan Hawks, 2014).


17
18

Gambar 1. Pathway Stroke Hemoragik (Pinzon & Asanti, 2019)

6. Manifestasi Klinis

Menurut (Setiyawan, Nurlely, & Hatati, 2019) berikut ini tanda-tanda

Stroke Hemoragik:

a. Sakit kepala hebat tiba-tiba

b. Kelemahan di lengan atau di kaki

c. Penurunan kesadaran

d. Kehilangan ketrampilan motorik (gerak) halus

e. Kehilangan keseimbangan tubuh

Menurut (Unnithan & Mehta, 2022) manifestasi klinis umum dari stroke

hemoragik:

a. Sakit kepala lebih sering terjadi pada hematoma besar.

b. Muntah menunjukkan peningkatan tekanan intrakranial dan umum

terjadi pada hematoma sereblar.

c. Koma terjadi pada keterlibatan sistem aktivasi retikuler batang otak.

d. Kejang, afasia, dan hemianopia terlihat pada perdarahan lobar.

Prodrom yang terdiri dari mati rasa, kesemutan, dan kelemahan juga

dapat terjadi pada perdarahan lobaris.

e. Defisit sensorimotor kontralateral merupakan gambaran perdarahan

ganglia basalis dan talamus.

f. Hilangnya semua modalitas sensorik adalah fitur utama dari

perdarahan thalamic.

g. Perluasan hematoma talamus ke otak tengah dapat menyebabkan

kelumpuhan tatapan vertikal, ptosis, dan pupil tidak reaktif.


19

h. Disfungsi saraf kranial dengan kelemahan kontralateral menunjukkan

hematoma batang otak.

i. Biasanya, hematoma pontine menghasilkan koma dan quadriparesis.

7. Pemerksaan Fisik

Pada pengkajian fisik menurut Hidayat (2021) meliputi pemeriksaan pada :

a. Kepala dan leher

Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher,

telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran,

lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah

goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur /

ganda, diplopia, lensa mata keruh.

b. Sistem integument

Turgor kulit menurun, adanya luka akibat bed rest yang lama ,

kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.

c. Sistem pernafasan

Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada.

d. Sistem kardiovaskuler

Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang,

takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.

e. Sistem gastrointestinal

Terdapat adanya kesulitan menelan , nafsu makan menurun , mual

muntah pada fase akut . Mual sampai muntah disebabkan oleh

peningkatan produksi asam lambung sehingga menimbulkan masalah

pemenuhan nutrisi . Pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat

penurunan peristaltic usus .

f. Sistem urinary
20

Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine.

g. Sistem musculoskeletal

Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan,

cepat lelah, lemah dan nyeri.

h. Sistem neurologis

Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk,

reflek lambat, kacau mental, disorientasi

8. Pemeriksaan Penunjang

Menurut Wati (2019), pemeriksaan penunjang pada pasien yang

mengalami stroke hemoragik adalah sebagai berikut :

a. Angiografi serebral. Membantu menentukan penyebab stroke secara

spesifik misalnya pertahanan atau sumbatan arteri, meperlihatkan

secara tepat letak oklusi atau ruptur.

b. Scan tomografi komputer (Computer Tomography scan-CT scan).

Mengetahui adanya tekanan normal dan adanya trombosis, emboli

serebral, dan tekanan intrakranial (TIK). Peningkatan TIK dan cairan

yang mengandung darah menunjukkan adanya perdarahan

subarakhnoid dan perdarahan intrakranial. Kadar protein total

meningkat, beberapa kasus trombosis disertai proses inflamasi. CT

secara sensitif mendeteksi perdarahan subarachnoid akut, tetapi

semakin lama interval antara kejadian akut dengan CT-scan, semakin

mungkin temuan CT-scan negative. Jika SAH masih masih dicurigai

pada CT-scan normal, pungsi lumbal harus dilakukan.

c. Fungsi lumbal. Pemeriksaan ini menunjukkan terlihatnya darah atau

siderofag secara langsung pada cairan serebrospinal.


21

d. Magnetic Resonance Imaging (MRI). Menunjukkan daerah infark,

perdarahan, malformasi arteriovena (MAV)

e. Ultrasonografi doppler (USG doppler). Mengidentifikasi penyakit

arteriovena (masalah sistem arteri karotis/aliran darah atau timbulnya

plak) dan arterioklerosis (Munir, 2015). Pemeriksaan sinar x kepala

dapat menunjukkan perubahan pada glandula pineal pada sisi yang

berlawanan dari massa yang meluas, klasifikasi karotis internal yang

dapat dilihat pada trombosis serebral, klasifikasi parsial pada dinding

aneurisme pada perdarahan subaraknoid

f. Elektroensefalogram (Electroencephalogram-EEG). Mengidentifikasi

masalah pada gelombang otak dan memperlihatkan daerah lesi yang

spesifik.

g. Sinar tengkorak. Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pienal

daerah yang berlawanan dan massa yang meluas, klasifikasi karotis

interna terdapat pada trombosis serebral; kalsifikasi parsial dinding

aneurisma pada perdarahan subarakhnoid.

h. Pemeriksaan Laboratorium

1) Pemeriksaan gula darah: gula darah bisa meningkat karena keadaan

hiperglikemia.

2) Faktor risiko stroke hemoragik yang dapat dimodifikasi, sebagian

besar pasien memiliki hipertensi (82,30%), kadar gula darah

meningkat (63,54%), LDL meningkat (65,63%), triglserida

meningkat (64,58%), dan kholesterol total meningkat (69,79%),

pasien dengan kadar HDL normal lebih banyak (48,96).


22

9. Komplikasi

Menurut Rahmayanti (2019) komplikasi yang dapat terjadi pada klien

stroke hemoragik adalah sebagai berikut :

a. Fase akut

1) Hipoksia serebral dan menurunnya aliran darah otak

Pada area otak yang infark atau terjadi kerusakan karena

perdarahan maka terjadi gangguan perfusi jaringan akibat

terhambatnya aliran darah otak. Tidak adekuatnya aliran darah dan

oksigen mengakibatkan hipoksia jaringan otak. Fungsi otak akan

sangat tergantung pada derajat kerusakan dan lokasinya. Aliran

darah ke otak snagat tergantung pada tekanan darah, fungsi jantung

atau kardiak output, keutuhan pembuluh darah. Sehingga pada

pasien dengan stroke keadekuatan aliran darah sangat dibutuhkan

untuk menjamin perfusi jaringan yang baik untuk menghindari

terjadinya hipoksia serebral.

2) Edema serebri

Merupakan respon fisiologis terhadap adanya trauma jaringan.

Edema terjadi jika pada area yang mengalami hipoksia atau

iskemik maka tubuh akan meningkatkan aliran darah pada lokasi

tersebut dengan cara vasodilatasi pembuluh darah dan

meningkatkan tekanan sehingga cairan interstresial akan berpindah

ke ekstraseluler sehingga terjadi edema jaringan otak.

3) Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)

Bertambahnya massa pada otak seperti adanya perdarahan atau

edema otak akan meningkatkan tekanan intrakranial yang ditandai


23

adanya defisit neurologi seperti adanya ganggua motorik, sensorik,

nyeri kepala, gangguan kesadaran. Peningkatan teakanan

intrakranial yang tinggi dapat mengakibatkab herniasi serebral

yang dapat mengancam kehidupan.

4) Aspirasi

Pasien stroke dengan gangguan kesadaran atau koma sangat rentan

terhadap adanya aspirasi karena tidak adanya reflek batuk dan

menelan

b. Komplikasi pada masa pemulihan atau lanjut

1) Komplikasi yang sering terjadi pada masa lanjut atau pemulihan,

biasanya terjadi akibat immobilisasi seperti pneumonia, dekubitus,

kontraktur, thrombosis vena dalam, atropi, inkontinensia urine

2) Kejang, terjadi akibat kerusakan atau gangguan pada aktifitas

listrik otak

3) Nyeri kepala kronis seperti migraine, nyeri kepala tension, nyeri

kepala clauster

4) Malnutrisi, karena intake yang tidak adekuat.

10. Prognosis

Jumlah darah yang keluar menentukann prognosis, jika volume awal darah

lebih dari 60 cc maka resiko kematian sebesar 93%, pada perdarahan

dalam dan 71 % pada perdarahan lobar. Jika terjadi perdarahan selebral

dengan volume antara 30-60 cc diperkirakan kematian sebesar 75%,

namun volume 5 cc dan terdapat di pons sudah berakibat fatal.

11. Penatalaksanaan
24

Penatalaksanaan farmakologi dan non-farmakologi penanganan

stroke merupakan salah satu kunci penting dalam mengurangi kematian

dan meminimalkan kerusakan otak yang ditimbulkan oleh stroke adalah

dengan memberikan penanganan yang cepat dan tepat. Jika penanganan

stroke diberikan lebih dari rentang waktu (golden hour) maka kerusakan

neorologis yang dialami pasien stroke akan bersifat permanen. Fassbender

(2017) menyatakan bahwa waktu yang paling direkomendasikan pada

pasien stroke adalah 3-4,5 jam yang disebut dengan golden hour.

a. Menurut (Unnithan & Mehta, 2022) Penatalaksanaan farmakologis

sebagai berikut:

1) Manajemen tekanan darah

Peningkatan tekanan darah adalah faktor risiko paling umum untuk

ICH. Hipertensi akut adalah pendorong utama ekspansi hematoma

dini, sehingga kontrol tekanan darah yang agresif sangat

diperlukan sebagai tindakan untuk mencegah perluasan perdarahan

dan menjadi fokus utama manajemen awal ICH. Kontrol tekanan

darah yang tepat dan tepat diperlukan tanpa menginduksi

hipotensi, sehingga agen titrasi kerja cepat seperti nicardipine

digunakan dalam manajemen awal. Pada fase akut, sebaiknya

menghindari obat antihipertensi yang meningkatkan tekanan

intrakranial, terutama hydralazine, nitroprusside, dan nitro-gliserin.

Pengobatan antihipertensi akut untuk pasien dengan ICH

bermanfaat dan aman dengan kisaran target tekanan darah sistolik

atau Systolic Blood

Pressure (SBP) yang optimal antara 120 dan 160 mm Hg.

2) Penatalaksanaan Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)


25

Perawatan awal untuk peningkatan TIK adalah meninggikan kepala

tempat tidur hingga 30 derajat dan agen osmotik (manitol, salin

hipertonik). Manitol 20% diberikan dengan dosis 1,0 hingga 1,5

g/kg. Hiperventilasi setelah intubasi dan sedasi, hingga pCO 28-32

mmHg akan diperlukan jika TIK meningkat lebih lanjut. ASA

merekomendasikan pemantauan intracranial pressure (ICP) dengan

parenkim atau kateter ventrikel untuk semua pasien dengan GCS

keuntungan untuk drainase cairan serebrospinal (CSF) pada kasus

hidrosefalus. Tujuannya adalah untuk menjaga tekanan perfusi

serebral (CPP) antara 50 hingga 70mmHg.

3) Terapi Hemostatik

Terapi hemostatik diberikan untuk mengurangi perkembangan

hematoma. Ini sangat penting untuk membalikkan koagulopati

pada pasien yang memakai antikoagulan. Pada saat akan

melakukan koreksi koagulopati, diperlukan pemeriksaan

hemostasis, misalnya

Prothrombin Time (PT), Activated Aartial Thrombin Time (APTT),

International Normalized Ratio (INR) dan trombosit. Koreksi

koagulopati bertujuan untuk mencegah perdarahan yang lebih

lanjut.17 Penghentian warfarin dan pemberian vitamin K secara

intravena (IV) adalah langkah terapi pertama. Vitamin K harus

diinfuskan perlahan (lebih dari 10 menit), dengan dosis 10 mg

dengan pemantauan ketat tanda-tanda vital. Pada pasien yang

mengalami peningkatan INR karena penggunaan antagonis

Vitamin K (VKA) padat diberikan penambahan faktor emergent

biasanya menggunakan Fresh Freozen Plasma (FFP) dan


26

Prothrombin Complex Concentrates (PCC). Pedoman (AHA/ASA

kelas IIb, level B) lebih menganjurkan menggunakan PCC

dibandingkan dengan FFP karena tindakan yang lebih cepat dan

memiliki efek samping yang lebih sedikit. Pencapaian nilai INR di

bawah 1,3 dalam waktu 4 jam sejak masuk dikaitkan dengan

penurunan risiko ekspansi hematoma.

4) Terapi Antiepilepsi

Sekitar 3- 17% pasien akan mengalami kejang dalam dua minggu

pertama, dan 30% pasien akan menunjukkan aktivitas kejang

listrik pada pemantauan EEG. Mereka yang mengalami kejang

klinis atau kejang elektrografik harus diobati dengan obat

antiepilepsi. Hematoma lobaris dan pembesaran hematoma

menghasilkan kejang, yang berhubungan dengan perburukan

neurologis. Kejang subklinis dan status epilepsi non-konvulsif juga

dapat terjadi. Pemantauan EEG berkelanjutan diindikasikan pada

pasien dengan penurunan tingkat kesadaran . Jika tidak, obat

antikonvulsan profilaksis tidak dianjurkan, menurut pedoman

ASA.

5) Pembedahan

Penatalaksanaan bedah untuk stroke hemoragik adalah kraniotomi,

kraniektomi dekompresi, aspirasi stereotaktik, aspirasi endoskopi,

dan aspirasi kateter. Beberapa percobaan yang dilakukan

menunjukkan bahwa tidak didapatkan manfaat secara keseluruhan

dari operasi dini untuk perdarahan intraserebral bila dibandingkan

dengan pengobatan konservatif awal. Pasien yang mengalami

perdarahan lobaris dalam jarak 1 cm dari permukaan otak dan


27

defisit klinis yang lebih ringan (GCS>9) mendapatkan manfaat dari

pembedahan dini. Evakuasi bedah darurat diindikasikan pada

perdarahan serebral dengan hidrosefalus atau kompresi batang

otak.

Pasien dengan perdarahan sereblar dengan diameter >3 cm akan memiliki hasil

yang lebih baik dengan pembedahan. Hematoma serebelum dievakuasi dengan

kraniektomi suboksipital. Evakuasi perdarahan batang otak tidak dianjurkan.

Kraniektomi dekompresi dan evakuasi hematoma sekarang lebih sering dilakukan

untuk stroke hemoragik. Tindakan ini menunjukkan peningkatan hasil yang

diperoleh dengan menambahkan kraniektomi dekompresi dengan duraplasti

ekspansif untuk evakuasi ICH hemisfer hipertensi. Hemikraniektomi dekompresi

dengan evakuasi hematoma dilakukan pada pasien dengan skor GCS ≤8 dan

hematoma besar dengan volume lebih besar dari 60 ml dapat menghindari

kejadian kematian dan dapat meningkatkan hasil fungsional.

b. Penatalaksanaan terapi non-farmakologis menurut (Saidi &

Andrianti, 2021)

1) Posisi tubuh dan kepala pada 15-30 derajat. Gerakan bertahap

dapat dimulai setelah pasien berada di sisinya dengan muntah

dan hemodinamik stabil.

2) Jaga agar jalan nafas tetap bersih dan ventilasi memadai

3) Mempertahankan tanda-tanda vital stabil

4) Istirahat di tempat tidur

5) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit

6) Hindari tejadinya demam, batuk, sembelit dan minum

berlebihan
28

Sedangkan menurut Wati (2019), penatalaksanaan yang dapat dilakukan

pada pasien yang mengalami stroke hemoragik adalah sebagai berikut :

a. Saran operasi diikuti dengan pemeriksaan

b. Masukan klien ke unit perawatan saraf untuk dirawat I bagian bedah

saraf

c. Pada stroke hemoragik, terutama disebabakan SAH, manajemen

cairan merupakan prioritas, sehingga pasien berada dalam status

euvolemi dengan pemberian cairan isotonik. Tidak dianjurkan

menggunakan cairan hipotonik karena dapat mencetuskan atau

memperberat edema serebral yang terjadi, dan larutan yang

mengandung glukosa sebaiknya tidak diberikan kecuali pasien berada

dalam keadaan hipoglikemik

d. Penatalaksanaan umum di bagian saraf Neuroprotektor yang umum

digunakan pada pasien stroke adalah citicolin dan piracetam.

Berdasarkan penelitian penggunaan neuroprotektor memberikan

luaran yang signifikan terhadap kesadaran, fungsi kognitif, dan

motorik pada pasien stroke. Citicolin dengan dosis 2 x 250 mg

maupun 2 x 500 mg memberikan nilai GCS yang tidak jauh berbeda

baik pada pasien stroke iskemik maupun stroke hemoragik.

e. Penatalaksanaan khusus pada kasus

1. Subarachnoid hemorrhage dan intraventricular hemorrahage

2. Kombinasi antara parenchymatous dan subarachnoid hemorrhage

3. Parenchymatous hemorrhage

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Pengkajian keperawatan pada klien stroke hemoragik adalah sebagai


29

berikut:

a. Anamnesis (Khaira, 2018)

1) Identitas Klien

a) Umur

Stroke dapat menyerang semua umur, tetapi lebih sering

dijumpai pada populasi usia tua. Setelah berumur 55 tahun,

risikonya berlipat ganda setiap kurun waktu sepuluh tahun.

Pada stroke hemoragik dengan perdarahan intraserebral lebih

sering ditemukan pada usia 45-60 tahun, sedangkan stroke

hemoragik dengan perdarahan subarachnoid lebih sering

ditemukan pada usia 20-40 tahun.

b) Jenis Kelamin

Laki-laki lebih cenderung terkena stroke lebih tinggi

dibandingkan wanita, dengan perbandingan 1,3 : 1, kecuali

pada usia lanjut laki-laki dan wanita hampir tidak berbeda.

Laki-laki yang berumur 45 tahun bila bertahan hidup sampai

85 tahun kemungkinan terkena stroke 25%, sedangkan risiko

bagi wanita hanya 20%. Pada laki-laki cenderung terkena

stroke iskemik sedangkan wanita lebih sering menderita

stroke hemoragic subarachnoid dan kematiannya 2 kali lebih

tinggi dibandingkan laki-laki.

c) Pekerjaan

Stroke dapat menyerang jeis pekerjaan lainnya dan beberapa

ahli menyebutkan bahwa stroke cenderung diderita oleh

golongan dengan sosial ekonomi yang tinggi karena

berhubungan dengan pola hidup, pola makan, istirahat dan


30

aktivitas. Hasil penelitian menunjukkan sebagaian besar

(50%) berpendidikan sarjana, yang memiliki kecenderungan

adanya perubahan gaya dan pola hidup yang dapat memicu

terjadinya stroke

b. Keluhan Utama

Keluhan yang didapatkan biasanya gangguan motorik kelemahan

anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat

berkomunikasi, nyeri kepala, gangguan sensorik, kejang, penurunan

kesadaran (Gefani, 2017).

c. Riwayat Penyakit Sekarang

Serangan stroke hemoragik sering kali berlangsung sangat mendadak

pada saat pasien sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri

kepala, mual, muntah bahkan kejang sampai tidak sadar selain gejala

kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak yang lain

(Rahmayanti, 2019).

d. Riwayat Penyakit Dahulu

Adanya riwayat hipertensi, riwayat diabetes mellitus, penyakit

jantung, anemia, trauma kepala, kontrasepsi oral yang lama,

penggunaan obat antikoagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif,

kegemukan. Selain itu, pada riwayat penyakit dahulu juga ditemukan

riwayat tinggi kolesterol, merokok, riwayat pemakaian kontrasepsi

yang disertai hipertensi dan meningkatnya kadar estrogen, dan

riwayat konsumsi alcohol (Khaira, 2018).

e. Riwayat Penyakit Keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes

mellitus atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu (Khaira,


31

2018).

f. Pola Fungsi Kesehatan (Wati, 2019)

1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan

Berkaitan dengan fungsi peran yang tergambar dari penyesuaian

atau pencerminan diri yang tidak adekuat terhadap peran baru

setelah stroke serta masih menerapkan pola tidak sehat yang

dapat memicu serangan stroke berulang. Pengkajian perilaku

adaptasi interdependen pada pasien paska stroke antara lain

identifikasi sistem dukungan sosial pasien baik dari keluarga,

teman, maupun masyarakat

2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pasien stroke sering mengalami disfagia yang menyebabkan

gangguan intake dan pola nutisi. Respons adaptasi tidak efektif

yang sering ditunjukkan pasien antara lain mual, muntah,

penurunan asupan nutrisi dan perubahan pola nutrisi. Stimulus

fokal yang sering menyebabkan respons adaptasi tidak efektif

pada pola nutrisi pasien stroke yaitu disfagia dan penurunan

kemampuan mencerna makanan. Stimulus konstekstual yaitu

kelumpuhan saraf kranial, faktor usia dan kurangnya

pengetahuan tentang cara pemberian makanan pada pasien stroke

yang mengalami disfagia. Stimulus residual yaitu faktor budaya

serta pemahaman pasien dan keluarga tentang manfaat nutrisi

bagi tubuh.

3) Pola Eliminasi

Pengkajian eliminasi meliputi BAB dan BAK, konsistensi feses,

jumlah dan warna urin, inkontinensia urin, inkontinensia bowel,


32

dan konstipasi. Selama periode ini, dilakukan kateterisasi

intermitten dengan teknik steril. Inkontinensia urin yang

berlanjut menunjukkan kerusakan neurologis luas.

4) Pola Aktivitas dan Latihan

Sulit beraktivitas, kehilangan sensasi penglihatan, gangguan

tonus otot, gangguan tingkat kesadaran.

5) Pola Tidur dan Istirahat

Mudah lelah, kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot).

6) Pola Hubungan dan Peran

Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami

kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara .

7) Pola Persepsi Dan Konsep Diri

Konsep diri merupakan pandangan individu tentang dirinya yang

terbentuk dari persepsi internal dan persepsi berdasarkan reaksi

orang lain terhadap dirinya. Konsep diri terbagai menjadi dua

aspek yaitu fisik diri dan personal diri. Fisik diri adalah

pandangan individu tentang kondisi fisiknya yang meliputi

atribut fisik, fungsi tubuh, seksual, status sehat dan sakit, dan

gambaran diri. Personal diri adalah pandangan individu tentang

karakteristik diri, ekspresi, nilai yang meliputi konsistensi diri,

ideal diri, dan moral etika spiritual diri

8) Pola Sensori dan Kognitif


33

Sinkop atau pingsan, vertigo, sakit kepala, penglihatan berkurang

atau ganda, hilang rasa sensorik kontralateral, afasia motorik,

reaksi pupil tidak sama

9) Pola Penanggulangan Stress

Dalam hubungannya dengan kejadian stroke, keadaan stress

dapat memproduksi hormone kortisol dan adrenalin yang

berkonstribusi pada proses aterosklerosis. Hal ini disebabkan

oleh kedua hormon tadi meningkat jumlah trombosit dan

produksi kolestrol. Kortisol dan adrenalin juga dapat merusak sel

yang melapisi arteri, sehingga lebih mudah bagi jaringan lemak

untuk tertimbun di dalam dinding arteri

10) Pola Tata Niai dan Kepercayaan

Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku

yang tidak stabil, kelemahan atau kelumpuhan pada salah satu

sisi tubuh

g. Pemeriksaan Fisik (Amanda, 2018)

1) Keadaan Umum

Tingkat kesadaran menurun karena terjadinya perdarahan yang

menyebabkan kerusakan otak kemudian menekan batang otak.

Evaluasi tingkat kesadaran secara sederhana dapat dibagi


atas :

a) Compos mentis : kesadaran baik

b) Apatis : perhatian kurang

c) Samnolen : kesadaran mengantuk

d) Stupor : kantuk yang dalam pasien dibangunkan dengan

rangsangan nyeri yang kuat

e) Soparokomatus : keadaan tidak ada respon verbal


34

f) Tidak ada respon sama sekali

2) Tanda-Tanda Vital

a) Tekanan darah : pasien stroke hemoragik memiliki riwayat

tekanan darah dengan tekanan systole > 140 dan diastole >

80 mmHg

b) Nadi : pasien stroke nadi terhitung normal

c) Pernapasan : pasien stroke mengalami nafas cepat dan

terdapat gangguan pada bersihan jalan napas

d) Suhu tubuh : pada pasien stroke tidak ada masalah suhu

pada pasien denga stroke hemoragik

3) Pemeriksaan Head To Toe

a) Pemeriksaan Kepala

(1) Kepala : Pada umumnya bentuk kepala pada pasien

stroke normocephalic

(2) Rambut : Pada umumnya tidak ada kelainan pada

rambut pasien

(3) Wajah : Biasanya pada wajah klien stroke terlihat

miring kesalah satu sisi.

b) Pemeriksaan Integumen

(1) Kulit : Biasanya pada klien yang kekurangan O2 kulit

akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka

turgor kulit kan jelek.

(2) Kuku : Biasanya pada pasien stroke hemoragik ini

capilarry refill timenya < 3 detik bila ditangani secara

cepat dan baik

c) Pemeriksaan Dada
35

Pada inspeksi biasanya didapatkan klien batuk,

peningkatan produksi sputum, sesak nafas, penggunaan

otot bantu nafas, dan peningkatan frekuensi pernafasan.

Pada auskultasi biasanya terdengar bunyi nafas tambahan

seperti ronchi pada klien dengan peningkatan produksi

sekret dan kemampuan batuk menurun yang sering

didapatkan pada klien stroke dengan penurunan tingkat

kesadaran koma. Pada klien dengan tingkat kesdaran

compos mentis, pada pengkajian inspeksi biasanya

pernafasan tidak ada kelainan. Palpasi thoraks didapatkan

fremitus kiri dan kanan, dan pada ausklutasi tidak

didapatkan bunyi nafas tambahan

d) Pemeriksaan Abdomen

Biasanya pada klien stroke didapatkan distensi pada

abdomen, dapatkan penurunan peristaltik usus, dan

kadangkadang perut klien terasa kembung.

e) Pemeriksaan Genitalia

Biasanya klien stroke dapat mengalami inkontinensia

urinarius sementara karena konfusi dan ketidakmampuan

mengungkapkan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk

menggunakan urinal karena kerusakan kontrol motorik

dan postural. Kadang- kadang kontrol sfingter urinarius

eksternal hilang atau berkurang. Selama periode ini,

dilakukan kateterisasi intermiten dengan teknik steril,

inkontenesia urine yang berlanjut menunjukkan kerusakan

neurologis luas.
36

f) Pemeriksaan Ekstremitas

(1) Ekstremitas Atas Biasanya terpasang infuse bagian

dextra / sinistra. CRT biasanya normal yaitu < 2

[Link] pemeriksaan nervus XI (aksesorius) :

biasanya pasien stroke hemoragik tidak dapat melawan

tahanan pada bahu yang diberikan perawat. Pada

pemeriksaan reflek, biasanya saat siku diketuk tidak

ada respon apa-apa dari siku, tidak fleksi maupun

ekstensi (reflek bicep (-)) dan pada pemeriksaan tricep

respon tidak ada fleksi dan supinasi (reflek bicep (-)).

Sedangkan pada pemeriksaan reflek hoffman tromer

biasanya jari tidak mengembang ketika diberi reflek

(reflek Hoffman tromer (+)).

(2) Ekstremitas Bawah Pada pemeriksaan reflek, biasanya

saat pemeriksaan bluedzensky I kaki kiri pasien fleksi (

bluedzensky (+)). Pada saat telapak kaki digores

biasanya jari tidak mengembang (reflek babinsky (+)).

Pada saat dorsum pedis digores biasanya jari kaki juga

tidak beresponn (reflek caddok (+)). Pada saat tulang

kering digurut dari atas ke bawah biasanya tidak ada

respon fleksi atau ekstensi (reflek openheim (+)) dan

pada saat betis diremas dengan kuat biasanya pasien

tidak merasakan apa-apa (reflek gordon (+)). Pada saat

dilakukan reflek patella biasanya femur tidak bereaksi

saat di ketukkan (reflek patella (+)).

g) Pemeriksaan Neurologis
37

(1) Pemeriksaan Nervus Cranialis

(a) Nervus I (Olfaktorius). Biasanya pada klien stroke

tidak ada kelainan pada fungsi penciuman

(b) Nervus II (Optikus). Disfungsi persepsi visual

karena gangguan jaras sensori primer diantara mata

dan korteks visual. Gangguan hubungan

visualspasial biasanya sering terlihat pada klien

hemiplegia kiri. Klien mungkin tidak dapat

memakai pakaian tanpa bantuan karena

ketidakmampuan untuk mencocokkan pakaian ke

bagian tubuh.

(c) Nervus III (Okulomotoris), IV(Troklearis), dan VI

(Abdusen). Pemeriksaan ini diperiksa secara

bersamaan, karena saraf ini bekerjasama dalam

mengatur otot-otot ekstraokular. Jika akibat stroke

menyebabkan paralisis, pada satu sisi okularis

biasanaya didapatkan penurunan kemampuan

gerakan konjugat unilateral disisi yang sakit.

(d) Nervus V (Trigeminus). Pada beberapa keadaan

stroke menyebabkan paralisis saraf trigeminus,

penurunan kemampuan koordinasi gerakan

mengunyah, penyimpangan rahang bawah ke sisi

ipsilateral, serta kelumpuhan satu sisi pterigoideus

internus dan eksternus.

(e) Nervus VII (Fasialis). Pada keadaan stroke

biasanya persepsi pengecapan dalam batas normal,


38

namun wajah asimetris, dan otot wajah tertarik

kebagian sisi yang sehat.

(f) Nervus VIII (Vestibulokoklearis/Akustikus).

Biasanya tidak ditemukan adanya tuli konduktif

dan tuli persepsi.

(g) Nervus IX (Glosofaringeus) dan X (Vagus). Secara

anatomi dan fisisologi berhubungan erat karena

glosofaringeus mempunyai bagian sensori yang

mengantarkan rangsangan pengecapan,

mempersyarafi sinus karotikus dan korpus

karotikus, dan mengatur sensasi faring. Bagian dari

faring dipersarafi oleh saraf vagus. Biasanya pada

klien stroke mengalami penurunan kemampuan

menelan dan kesulitan membuka mulut.

(h) Nervus XI (Aksesoris). Biasanya tidak ada atrofi

otot sternokleisomastoideus dan trapezius

(i) Nervus XII (hipoglosus). Biasanya lidah simetris,

terdapat deviasi pada satu sisi dan fasikulasi serta

indra pengecapan normal.

(2) Pemeriksaan Motorik

Biasanya didapatkan hemiplegia (paralisis pada salah

satu sisi) karena lesi pada sisi otak yang berlawanan.

Hemiparise atau kelemahan salah satu sisi tubuh

adalah tanda yang lain. Juga biasanya mengalami

gangguan keseimbangan dan koordinasi karena


39

hemiplegia dan hemiparese. Pada penilaian dengan

menggunakan

kekuatan otot, tingkat kekuatan otot pada sisi yang

sakit adalah 0.

(3) Pemeriksaan Refleks

Pada pemerikasaan refleks patologis. Biasanya pada

fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan

menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis

akan muncul kembali didahuli dengan reflek patologis.

h. Pemeriksaan Pada Penderita Koma

1) Gerakan penduler tungkai

Pasien tetap duduk di tepi tempat tidur dengan tungkai

tergantung, kemudian kaki diangkat ke depan dan dilepas. Pada

waktu dilepas akan ada gerakan penduler yang maikn lama

makin kecil dan biasanya berhenti 6 atau 7 gerakan. Beda pada

rigiditas ekstrapiramidal akan ada pengurangan waktu, tetapi

tidak teratur atau tersendat-sendat.

2) Menjatuhkan tangan

Tangan pasien diangkat kemudian dijatuhkan. Pada kenaikan

tonus (hipertoni) terdapat penundaan jatuhnya lengan ke

bawah.

Sementara pada hipotomisitas jatuhnya cepat.

3) Tes menjatuhkan kepala

Pasien berbaring tanpa bantal, pasien dalam keadaan relaksasi,

mata terpejam. Tangan pemeriksa yang satu dilektakkan di

bawah kepala pasien, tangan yang lain mengangkat kepala dan


40

menjatuhkan kepala lambat. Pada kaku kuduk (nuchal rigidity)

karena iritasi meningeal terdapat hambatan dan nyeri pada

fleksi leher.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan merupakan suatu penelitian klinis

mengenai repon pasien terhadap masalah kesehatan atau respon kehidupan

yang dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial.

Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respon pasien

terhadap situasi yang berkaitan dengan Kesehatan (PPNI, 2017).

Menurut Tim Pokja SDKI DPP PPNI (2017) diagnosa keperawatan yang

timbul pada pasien Stroke Hemoragik adalah sebagai berikut :

a. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

b. Penurunan kapasitas adaptif b.d edema selebral

c. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

3. Perencanaan

Perencanaan keperawatan atau intervensi keperawatan adalah

perumusan tujuan, tindakan dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan

pada klien berdasarkan analisa pengkajian agar masalah kesehatan dan

keperawatan klien dapat diatasi (Nurarif H, 2016). Intervensi keperawatan

adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan

pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran yang

diharapkan (PPNI,2018).

Perencanaan atau intervensi keperawatan merupakan tahap ketiga

dari proses keperawatan dimana perawat menetapkan tujuan dan kriteria

hasil yang diharapkan bagi pasien dan rencana tindakan yang akan

dilakukan. Penentuan tujuann pada perencanaan dari proses keperawatan


41

adalah sebagai arah dalam membuat rencana tindakan dari masing-masing

diagnosa keperawatan. Kriteria hasil dilakukan untuk memberi pentunjuk

bahwa tujuan telah [Link] perencanaan tindakan penulis mengacu

pada referensi Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar

Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI).


42

Tabel 1. Perencanaan
Tanggal Diagnose keperawatan Tujuan Intervensi
27 Januari Penurunan kapasitas Setelah
krit dilakukan tindakan 3x 8 Manajemen peningkatan tekanan
adaptif intracranial jam,
2024 − maka kapasitas adaptif intrakranial (I.09325)
b.d edema selebral
intracranial meningkat dengan 1. Identifikasi penyebab TIK(mis. lesi,
eria hasil : gangguan metabolism, edema selebral)
− Tingkat kesadaran 2. Monitor tanda dan gejala peningkatan

− meningkat (GDS E3 V3 TIK


M6) 3. Monitor status pernafasan

− Fungsi kognitif meningkat Terapeutik


Tekanan darah membaik 1. Minimalkan stimulus dengan
(120/80 mmHg) menyediakan lingkungan yang tenang
Pola nafas membaik 2. Berikan posisi semi fowler
(16-24 x/m) 3. Cegah terjadinya kejang
4. Pertahankan suhu tubuh normal
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian sedasi, jika perlu
43

Pola nafas tidak efektif b.d Setelah dilakukan tindakan 3x 8 Pemantauan Respirasi (I.01014)
hambatan upaya nafas jam maka pola nafas membaik Observasi
dengan kriteria hasil : 1. Monitor pola nafas (frekuensi,
− Dipsnea menurun kedalaman, dan upaya nafas)
− Frekuensi nafas membaik 2. Monitor adanya produksi sputum
(16-24 x/m) 3. Monitor adanya sumbatan jalan nafas
Terapeutik
1. Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan, jika
perlu

Gangguan mobilitas fisik b.d Setelah dilakukan tindakan 3x 8 Perawatan tirah baring (I.14572)
penurunan kekuatan jam maka, mobilitas fisik Observasi
otot meningkat dengan kriteria hasil : 1. Monitor kondisi kulit
− Pergerakan ekstremitas
meningkat
44

− Kekuatan otot meningkat 2. Monitor komplikasi tirah


4 2 baring([Link] masa otot, sakit
4 2
Rentang gerak punggung , konstipasi,dll)
(ROM) menigkat Terapeutik

1. Posisikan senyaman mungkin
2. Pertahankan kebersihan pasien
3. Ubah posisi setiap 2 jam sekali
Edukasi
Jelaskan tujuan dilakukan tirah baring
45

4. Implementasi

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang

dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan

yang dihadapi ke status kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria

hasil yang diharapkan. Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada

klien terkait dengan dukungan dan pengobatan dan tindakan untuk

memperbaiki kondisi dan pendidikan untuk klien keluarga atau tindakan

untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul dikemudian hari. Proses

pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien dan faktor-

faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan dan strategi

implementasi keperawatan dan kegiatan komunikasi (Siregar, 2016).

5. Evaluasi

Tahap evaluasi atau penilaian adalah perbandingan yang terencana dan

sistematis mengenai kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan,

dilakukan dengan cara bersambung dengan melibatkan klien, keluarga, dan

tenaga kesehatannya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien

mencapai tujuan yang disesuaikan dengan kriteria hasil pada perencanaan

(Wahyuni, 2016 Dalam Ni’amatul).


46

C. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan bukti pencatatan pelaporan yang dimiliki perawat

dalam melakukan catatan yang berguna untuk kepentingan klien, perawat, dan tim

kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. (Nookasiani, 2015).

Pendokumentasian yang baik mempunyai ciri-ciri berdasarkan fakta, data yang

akurat, kelengkapan, ringkas, terorganisasi, ketepatan waktu, mudah untuk dibaca.

Standar pendokumentasian meliputi pengkajian keperawatan, diagosa

keperawatan, rencana keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi

keperawatan sesuai 3S (SDKI, SLKI, SIKI).

Prinsip Dokmentasi Penulisan Pengkajian menurut Maharani (2016) yaitu:

1. Sistematis: pengkajian dari saat masuk rumah sakit sampai pulang.

2. Format tersusun dan berkesinambungan.

3. Terdiri dari pencatan pengumpulan data, terkelompok dan analisa data yang

mendukung klien.

4. Ditulis secara jelas dan singkat.

5. Menuliskan identitas waktu tanggal, nama dan tanda tangan pelaksana

pengkajian.

6. Ikut aturan atau prosedur yang dipakai dan disepakati instansi.

Menurut Muharani A (2016) prinsip dokmentasi penulisan diagnosa yaitu:

1. Gunakan format masalah b.d penyebab d.d tanda/gejala untuk diagnosa

aktual, diagnosa resiko menggunakan format masalah d.d faktor resiko.


47

2. Masukkan diagnosis keperawatan ke dalam daftar masalah.

3. Hubungkan pada tiap-tiap diagnosa keperawatan ketika menemui masalah

keperawatan.

4. Setiap pergantian jaga perawat, gunakan diagnosa keperawatan sebagai

pedoman untuk pengkajian, tindakan dan evaluasi.

5. Menuliskan identitas waktu tanggal dan tanda tangan pelaksana perumusan

Menurut Muharani (2016) prinsip dokmentasi penulisan Intervensi

1. Sebelum menuliskan rencana tindakan, kaji ulang semua data yang ada.

2. Daftar dan jenis masalah actual resiko dan kemungkinan. Berikan prioritas

utama pada masalah actual yang mengancam kesehatan.

3. Tulis dengan jelas khusus, terukur, kriteria hasil yang diharapkan untuk

menetapkan masalah bersama dengan klien tentukan ketrampilan kognitif,

afektif dan psikomotor yang merupakan perhatian.

4. Mulai rencana tindakan dengan menggunakan action verb.

5. Catat tanda- tanda vital setiap pergantian dinas.

6. Tulis rasional dari rencana tindakan

7. Menuliskan identitas waktu tanggal dan tanda tangan pelaksana.

8. Rencana tindakan harus dicatat sebagai hal yang permanen.

9. Klien dan keluarganya jika memungkinkan diikutkan dalam perencanaan.

10. Rencana tindakan harus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan

diusahakan untuk selalu diperbaharui.


BAB III TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian

Hari / tanggal : Senin/ 29 Januari 2024

Waktu : 10.00 WIB

Oleh : Jerina Puspita

Tempat : Ruang Alamanda 1 RSUD Sleman Daerah

Istimewa Yogyakarta
Sumber data
: Pasien, keluarga pasien, studi dokumentasi,
tim kesehatan

: Observasi wawancara, pemeriksaan fisik


Metode pengumpulan data

1. Identitas

a. Identitas pasien

Nama : Ny. S

Umur : 73 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status perkawinan : Kawin

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Pedagang

Suku / kebangsaan : Jawa


51

Alamat : Mandan, Banyurejo, Tempel, Sleman


49

Diagnosa Medis : HT emergency

b. Identitas penanggungjawab

Nama : Tn. M

Umur : 49 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Alamat : Mandan, Banyurejo, Tempel,

Sleman

Pekerjaan : Petani

Hubungan dengan pasien : Anak

2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan utama

Keluarga pasien mengatakan jika pasien lemas dan tidur terus


menerus.

b. Riwayat kesehatan sekarang

Pada tanggal 26 Januari 2024 malam kondisi pasien tiba-tiba lemas,

pusing dan bicara susah, kemudian keluarga langsung membawa ke

IGD RSUD Sleman dan diputuskan opname masuk bangsal Alamanda

1.

c. Riwayat kesehatan dahulu

Pasien mempunyai riwayat penyakit hipertensi sejak tahun 2015 dan

tidak rutin minum obat. Pada bulan November 2023 pasien opname di

RSUD Sleman dengan penyakit jantung mengalami pembengkakan.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Keluarga pasien mengatakan tidak ada yang memiliki hipertensi.


50

e. Genogram
51

Gambar [Link] Keterangan


:

: Laki-laki

: Perempuan

: Pasien

: Garis

: Meninggal

: Tinggal
serumah

3. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum

1) Kesadaran : somnolen
52

GCS : E : 2, V : 2, M : 5

2) Status Gizi

BB : 60 kg

TB : 155 cm

IMT : 25 (BB lebih)

b. Tanda-tanda vital

TD : 161/100 mmHg

N : 120 x/menit

RR : 26 x/menit

S : 37.7 ⁰C

c. Pemeriksaan cepalo-caudal

1) Kepala

Bentuk kepala mesochepal, tidak ada nyeri tekan, rambut bersih

dan tidak ada benjolan abnormal

2) Wajah

Simetris, tidak ada lesi, bentuk oval, tidak ada nyeri tekan, tidak

teraba benjolan

3) Mata

Simetris kanan kiri, tidak ada lesi pada palpebra, konjuntiva

berwarna merah

4) Hidung

Simetris, tidak ada lesi, tidak ada pergerakan cuping hidung,

tidak ada nyeri tekan, posisi sputum nasal terletak ditengah,

terpasang

NGT pada lubang hidung sebela kiri

5) Mulut
53

Bersih, gigi ompong, mukosa bibir berwarna merah muda,

mukosa bibir tampak kering

6) Telinga

Daun telinga tampak simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidk

ada nyeri tekan, tidak menggunakan alat bantu pendengaran

7) Leher

Simetris, tidak ada lesi, tidak ada pembengkakan kelenjar

thyroid, terdapat gangguan menelan

8) Jantung

Inspeksi : ictus cordis tidak tampak

Palpasi : ictus cordis teraba di intercostal IV

Perkusi : suara redup

Auskultasi : S1 dan S2 ritmis tidak ada suara tambahan

9) Paru – paru

Inspeksi : simetris, tidak ada retraksi dinding dada

Palpasi : tidak ada nyeri tekan

Perkusi : sonor

Auskultasi : vesikuler

10) Abdomen
Inspeksi : simetris, tidak ada lesi

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak teraba massa

Perkusi : thympani

Auskultasi : peristaltic normal 8x/menit


11) Genetalia

Jenis kelamin perempuan, vagina tampak bersih, menggunakan

alat bantu berkemih dower cateeter sejak tanggal 27 Januari

2024
54

12) Ekstremitas

a) Atas :

Kanan : lengkap, tidak ada kelainan jari, tidak ada odem,

tidak ada lesi

Kiri : lengkap, tidak ada kelainan jari, tidak ada oedem,

terpasang infus Nacl 20 tpm

b) Bawah :

Kanan : lengkap, tidak ada kelainan jari, tidak ada oedem,

tidak ada lesi

Kiri : lengkap, tidak ada kelainan jari, tidak ada oedem,

tidak ada lesi

Kekuatan otot
3 1

3 1

Gambar [Link] otot

13) Kulit

Warna kulit sawo matang, tidak ada kelianan kulit, turgor kulit

normal

14) Kuku

Bersih, CRT <3 detik, tidak ada sianosis

4. Pola fungsional Gordon

a. Pola persepsi dan manajemen ketika kessehatan

Keluarga pasien mengatakan kesehatan itu penting dan ketikasakit

berobat ke fasilitas kesehatan

b. Pola nutrisi dan metabolic

1) Sebelum sakit
55

a) Intake makanan (frekuensi, jenis makanan, porsi,

makanan pantangan dll)

Makan : 3x sehari

Jenis makanan : nasi, sayur, lauk 1 porsi

Makanan pantangan : tidaka ada makanan pantangan

b) Intake cairan(frekuensi, jenis minuman, volume)

Minum : 5-6x/hari

Jenis minuman : air putih, the

Volume : 1 liter/ hari

2) Selama sakit

a) Intake makanan (frekuensi, jenis makanan, porsi, makanan

pantangan dll)

Makan : 3x sehari

Jenis makanan : sonde susu

Makanan pantangan : tidak ada makanan pantangan

b) Intake cairan

Minum : 3x sehari

Jenis air : putih

Volume : 700cc/hari

c. Pola eliminasi

1) Sebelum sakit

a) BAB

Frekuensi : 1x sehari

Konsistensi : lunak

Warna : kuning kecoklatan

Bau : khas
56

b) BAK

Frekuensi : 5-6 x sehari dengan spontan

Warna : kuning jernih

Bau : khas

2) Selama sakit

a) BAB

Frekuensi : 1x sehari

Konsistensi : lunak

Warna : kuning kecoklatan

Bau : khas

b) BAK

Frekuensi : 500 cc dalam 4 jam dengan dower cateter

Warna : kuning jernih

Bau : khas

d. Pola aktivitas dan latihan

1) Sebelum sakit

Tabel 2 Pola Aktivitas dan Latihan


Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4

Makan/ minum √

Mandi √

Toileting √

Berpakaian √

Mobilitas di tempat tidur √

Berpindah √

Ambulasi/ ROM √

Kebutuhan oksigen dan mobilisasi :


57

− Keluarga mengatakan selama dirumah tidak menggunakan

alat bantu pernafasan

− Keluarga pasien mengatakan jika dirumah pasien berjalan

dengan menggunakan tongkat

2) Selama sakit
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4

Makan/ minum √

Mandi √

Toileting √

Berpakaian √

Mobilitas di tempat tidur √

Berpindah √

Ambulasi/ ROM √

Kebutuhan Oksigen :
− Nasal kanul 3 liter

− Selama dirawat pasien bedrest


Keterangan :

0 : Mandiri

1 : Menggunakan alat bantu

2 : Dibantu orang lain

3 : Dibantu orang lain dan alat

4 : Tergantung total

e. Pola istirahat dan tidur

1) Sebelum sakit
58

Keluarga pasien mengatakan sebelum sakit biasanya tidur pukul

21.00 – 05.00 dan tidak ada gangguan tidur, untuk tidur siang 2

jam

2) Selama sakit

Keluarga pasien mengatakan pasien tidur terus menerus,

kesadaran pasien menurun stupor

f. Pola persepsi dan kognitif

1) Pengelihatan : mata normal tidak menggunakan alat bantu

pengelihatan

2) Pendengaran : pendegaran normal pasien tidak menggunakan alat

bantu pendengaran

3) Pengecapan : pengecapan normal, keluarga pasien mengatakan

bisa merasakan macam-macam rasa

4) Penciuman : penciuman normal

5) Sensasi : sensasi normal dapat merasakan sensasi dari luar

g. Pola konsep diri


1) Gambaran diri : tidak terkaji karena pasien mengalami

penurunan kesadaran

2) Identitas diri : Tidak terkaji

3) Ideal diri : Tidak terkaji

4) Harga diri : Tidak terkaji

5) Peran diri : pasien merupakan seorang ibu dan sebagai

istri serta nenek bagi cucu-cucunya


h. Pola peran dan hubungan

Hubungan pasien dengan keluarga, kerabat, dan warga ditempatnya

berjalan dengan baik

i. Pola reproduksi dan seksual


59

Pasien berjenis kelamin perempuan dan mempunyai 1 orang anak

j. Pola koping dan stress

Dalam mengambil keputusan pasien dibantu keluarga, hal dilakukan

apabila ada masalah ada bercerita ke keluarganya

k. Pola nilai dan kepercayaan

Pasien beragama islam

5. Program terapi

Tabel 3 Terapi
Hari, Terapi Dosis Rute Fungsi
tanggal
Senin, 29 Furosemide 2 x 10 mg IV Mengatasi
Januari penumpukan
2024 cairan dalam tubuh
Mannitol 500 mg IV Mengurangi
60

pembengkakan
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV Mengatasii infeksi bakteri
Amlodipine 1 x 10 mg IV Menurunkan tekanan
darah
Kalnex 2 x 500 mg IV Menghentikan
perdarahan
Citicoline 2 x 500mg IV Mengatasi gangguan
memori
Selasa, 30 Furosemide 2x 10 mg IV Mengatasi
Januari penumpukan
2024 cairan dalam tubuh
Mannitol 500 mg IV Mengurangi
pembengkakan
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV Mengatasii infeksi bakteri
Amlodipine 1 x 10 mg IV Menurunkan tekanan
darah
Citicoline 2 x 500mg IV Mengatasi gangguan
memori
Rabu, 31 Furosemide 2x 10 mg IV Mengatasi
Januari penumpukan
2024 cairan dalam tubuh
Mannitol 500 mg IV Mengurangi
pembengkakan
Ceftriaxone 2 x 1 gr IV Mengatasii infeksi bakteri
Amlodipine 1 x 10 mg IV Menurunkan tekanan
darah
Citicoline 2 x 500mg IV Mengatasi gangguan
memori

6. Hasil pemeriksaan laboratorium

Tabel 4 Pemeriksaan Penunjang


Hari, Jenis Hasil Nilai Keterangan
tanggal pemeriksaan Normal
Sabtu, 27 Hematologi
Januari Hemoglobin 14.0 12.0 - 16.0 Normal
2024 Leukosit 18.7 4.5 - 11.0 Tinggi
61

Eritrosit 4.94 4.2 - 5.4 Normal


Trombosit 345 150 – 440 Normal
Hematocrit 4.3 37 -47 Rendah
MPV 9.1 7.2 – 11.1 Normal
PDW 9.6 9 – 13 Normal
Basofil 0 0–1 Normal
Segmen 65 51 -67 Normal
Limfosit 16 20 – 35 Rendah
Monosit 5 4–8 Normal
Fungsi hati
Ureum 42 17 – 43 Normal
Kreatinin 0.49 0.5 – 0.9 Tinggi

7. Pemeriksaan penunjang

Tabel 5 Pemeriksaan Penunjang


Hari,tanggal Jenis pemeriksaan Hasil

Sabtu, Januari Foto thorax − Pulmo tak tampak


27 kelainan
2024 − Cardiomegaly
MSCT kepala Intra celebral hematom
temporalis dextra
62

ANALISA DATA
63

Tabel [Link] Data


Tanggal Data Problem Etiologi
27 Januari DS : keluarga pasien Penurunan Edema serebral
2024 mengatakan pasien tidur kapasitas adaptif 64
terus-menerus
DO :
− Pasien mengalami
penurunan
kesadaran GCS
E2V1M3
− Hasil MSCT kepala :
Intra celebral
hematom temporalis
dextra
DS : keluarga pasien Pola nafas tidak Hambatan upaya
mengatakan nafas pasien efektif nafas
terlihat cepat
DO :
− Pola nafas pasien
tampak cepat
− Pasien tampak
menggunakan alat
bantu pernafasan
oksigen nasal kanul
3
lpm
− Frekuensi nafas pasien
26x/m
DS : keluarga mengatakan Gangguan Penurunan
pasien mengalami mobilitas fisik kekuatan otot
kelemahan pada anggota
tubuh sebelah kanan DO :
− Tampak aktivitas dan
mobilisasi pasien
dibantu perawat dan
keluarga pasien
− Kekuatan otot
3 1

3 1

B. Diagnosa Keperawatan

1. Penurunan kapasitas adaptif b.d edema serebral

Ditandai dengan :

DS : keluarga pasien mengatakan pasien tidur terus- menerus

DO : Pasien mengalami penurunan kesadaran GCS E2V1M3, Hasil MSCT

kepala Intra celebral hematom temporalis dextra


65

2. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

Ditandai dengan :

DS : keluarga pasien mengatakan nafas pasien terlihat cepat

DO : Pola nafas pasien tampak cepat, pasien tampak menggunakan alat

bantu pernafasan oksigen nasal kanul 3 lpm, frekuensi nafas pasien 26x/m

3. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

Ditandai dengan :

DS : keluarga pasien mengatakan pasien mengalami kelemahan anggota

tubuh sebelah kanan

DO : Tampak aktivitas dan mobilisasi pasien dibantu perawat dan keluarga

pasien

Kekuatan otot
3 1
3 1
C. Perencanaan

Nama : Ny.S Ruangan : Alamanda 1

Umur : 73 tahun No. Register : 169003

Tabel 7 Intervensi keperawatan


Tanggal Diagnose keperawatan Tujuan Intervensi
27 Januari Penurunan kapasitas adaptif Setelah
krit dilakukan tindakan 3x 8 Manajemen peningkatan tekanan
2024 intracranial b.d edema jam,
− maka kapasitas adaptif intracranial (I.09325)
serebral intracranial meningkat dengan 1. Identifikasi penyebab TIK(mis. lesi,
eria hasil : gangguan metabolism, edema serebral)
− Tingkat kesadaran 2. Monitor tanda dan gejala peningkatan
meningkat (GCS : E3 V3 TIK
− M6) 3. Monitor status pernafasan
Tekanan darah membaik Terapeutik
(120/80 mmHg) 1. Minimalkan stimulus dengan
Pola nafas membaik (16-24 menyediakan lingkungan yang tenang
x/m) 2. Berikan posisi semi fowler
3. Pertahankan suhu tubuh normal
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian sedasi, jika perlu
Pola nafas tidak efektif b.d Setelah dilakukan tindakan 3x 8 Pemantauan Respirasi (I.01014)
hambatan upaya nafas jam maka pola nafas membaik Observasi
dengan kriteria hasil : 1. Monitor pola nafas (frekuensi,
− Dipsnea menurun kedalaman, dan upaya nafas)
67

69

− Frekuensi nafas membaik (16- 2. Monitor adanya produksi sputum


24 x/m) 3. Monitor adanya sumbatan jalan
nafas Terapeutik
1. Atur interval pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
2. Dokumentasikan hasil pemantauan
Edukasi
1. Jelaskan tujuan pemantauan
2. Informasikan hasil pemantauan, jika
perlu
Gangguan mobilitas fisik b.d Setelah dilakukan tindakan 3x 8 Perawatan tirah baring (I.14572)
penurunan kekuatan otot jam maka, mobilitas fisik Observasi
meningkat dengan kriteria hasil : 1. Monitor kondisi kulit
− Pergerakan ekstremitas 2. Monitor komplikasi tirah
meningkat baring([Link] masa otot, sakit
− Kekuatan otot meningkat punggung , konstipasi,dll)
4 2 Terapeutik
4 2 1. Posisikan senyaman mungkin
2. Pertahankan kebersihan pasien
− Rentang gerak (ROM) 3. Ubah posisi setiap 2 jam sekali
meningkat Edukasi
Jelaskan tujuan dilakukan tirah baring

D. Catatan Perkembangan dan Evaluasi Keperawatan

Diagnose keperawatan : Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema selebral Ruangan : Alamanda 1

Nama : Ny. S No. RM : 169003


68

Umur : 73 tahun

Tabel 8 Catatan perkembangan Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema selebral
Tanggal Jam Implementasi Jam Evaluasi TTD
Senin, 09.00 1. Mengkaji tingkat kesadran pasien 13.50 S : keluarga asien mengatakan pasien
29 10.00 2. Mengukur vital sign tidur terus menerus
Januari 11.30 3. Memonitor adanya tanda-tanda O : KU lemah, somnolen GCS E2,
2024 PTIK V2, M5
13.00 4. Memberikan terapi obat − TD : 150/ 98 mmHg
− Furosemide 10 mg − RR : 26x/m
− Mannitol 500 mg − N : 87x/m
− Ceftriaxone 1 gr − Terapi obat masuk/IV
− Amlodipine 10 mg A : Masalah belum teratasi
− Citicoline 500 mg P : lanjutkan intervensi
13.30 5. Mengevaluasi KU − Observasi KU pasien
Selasa, 14.00 1. Mengkaji tingkat kesadran pasien S : keluarga pasien mengatakan pasien
30 15.30 2. Mengukur vital sign tidur terus-menerus
Januari 15.45 3. Memonitor adanya tanda-tanda O : KU lemah, somnolen GCS E2 V2
2024 PTIK M5
18.00 4. Memberikan terapi obat − TD : 140/ 90 mmHg
− Furosemide 10 mg − RR : 26x/m
− Mannitol 500 mg − N : 85x/m
− Ceftriaxone 1 gr − Terapi obat masuk/IV
− Amlodipine 10 mg A : Masalah belum teratasi
− Citicoline 1000 mg valuasi P : lanjutkan intervensi
5. Menge KU Observasi KU pasien
69

Rabu, 09.00 1. Mengkaji tingkat kesadran pasien 14.05 S : keluarga pasien mengatakan pasien
31 10.00 2. Mengukur vital sign masih tidur belum sadar
Januari 10.15 3. Memonitor adanya tanda-tanda O : KU lemah, somnolen GCS E2 V2
2024 PTIK M5
11.00 4. Memberikan terapi obat − TD : 135/ 80 mmHg
− Furosemide 10 mg − RR : 24x/m
− Mannitol 500 mg − N : 88x/m
− Ceftriaxone 1 gr − Terapi obat masuk/IV
− Amlodipine 10 mg A : Masalah belum teratasi
− Citicoline 1000 mg P : lanjutkan intervensi
14.00 5. Mengevaluasi KU − Observasi KU pasien

Catatan Perkembangan dan Evaluasi Keperawatan

Diagnose keperawatan : Pola nafas tidak efektif b.d Hambatan upaya nafas Ruangan : Alamanda 1

Nama : Ny. S No. RM : 169003

Umur : 73 tahun

Tabel [Link] perkembangan Pola nafas tidak efektif b.d Hambatan upaya nafas
Tanggal Jam Implementasi Jam Evaluasi TTD
70

Senin, 29 09.00 1. Mengkaji pasien 09.30 S : keluarga pasien mengatakan nafas


Januari 2. Mengobservasi KU pasien pasien tampak cepat O : KU lemah,
2024 3. Memonitor pola nafas somnolen
4. Memberikan terapi oksigen nasal kanul 3 − RR : 26x/m
lpm − Auskultasi : vesikuler
− Terpasang nasal kanul 3 lpm

12.00 5. Memberikan posisi semi fowler S : keluarga pasien mengatakan nafas


13.00 6. Mengevaluasi KU pasien 13.05 pasien tampak cepat
O : KU lemah, somnolen, tampak
posisi pasien semi fowler A
: Masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
− Observasi KU pasien
− Observasi respirasi pasien

Selasa, 30 14.00 1. Mengkaji pasien 14.30 S : keluarga pasien mengatakan pasien


Januari 2. Mengobservasi KU pasien terkadang batuk-batuk
2024 3. Memonitor respirasi dan status O2 O : KU lemah,somnolen
15.00 4. Mengukur vital sign − RR 25x/m, SpO2 : 97%
18.00 5. Mengevaluasi KU pasien − Auskultasi : vesikuler
− Terpasang nasal kanul 3 lpm
18.05 S : keluarga pasien mengatakan pasien
terkadang batuk-batuk
O : KU lemah, somnolen
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
71

Rabu, 31 09.00 1. Mengobservasi KU pasien 09.35 S : keluarga pasien mengatakan


Januari 09.30 2. Mengukur vital sign batuk-batuk berkurang O : KU
2024 lemah,somnolen
− RR 24x/m
− TD : 140/95 mmHg
− Terpasang nasal kanul 3 lpm

10.00 3. Memonitor respirasi dan status O2 13.05 S : keluarga pasien mengatakan batuk-
13.00 4. Mengevaluasi KU pasien batuk sudah berkurang
O : KU lemah,
− RR : 24x/m, SpO2 : 97%
A : Masalah teratasi sebagian
P : Pertahankan intervensi
72

Catatan Perkembangan dan Evaluasi Keperawatan

Diagnose keperawatan : Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot Ruangan : Alamanda 1

Nama : Ny. S No. RM : 169003

Umur : 73 tahun

Tabel [Link] perkembangan Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot
Tanggal Jam Implementasi Jam Evaluasi TTD
Senin, 29 09.00 1. Mengobservasi KU pasien 13.05 S : keluarga pasien mengatakan pasien
Januari 10.00 2. Mengukur vital sign mengalami kelemahan anggota gerak
2024 sebelah kanan O : KU lemah
Kekuatan otot
3 1

3 1
− TD : 150/ 98 mmHg
− RR : 26x/m
− N : 87x/m

12.00 3. Mengajarkan rom pasif dan 12.35 S : keluarga pasien mengatakan belum paham
pentingnya rom kepada pentingnya rom
keluarga pasien O : keluarga pasien tampak memperhatikan saat
12.30 4. Mengevaluasi KU pasien diajarkan room
A : masalah belum teratai

P : lanjutkan intervensi
73

− Observasi vital sign dan kekuatan otot


Selasa, 14.00 1. Mengobservasi KU pasien 18.05 S : keluarga pasien mengatakan pasien
30 14.30 2. Mengukur vital sign mengalami kelemahan anggota gerak
Januari sebelah kanan O : KU lemah
2024 Kekuatan otot
3 1

3 1
− TD : 140/ 90 mmHg
− RR : 26x/m
− N : 85x/m

15.00 3. Mengajarkan rom pasif dan 15.20 S:


pentingnya room − keluarga pasien mengatakan sudah paham
15.10 4. Mempertahankan sprei tetap mengenai rom
bersih dan kering − keluarga pasien mengatakan lebih bersih
dan nyaman saat sprei kering O :
− keluarga pasien dapat mempraktekan rom
− pasien tampak lebih nyaman saat sprei
bersih dan kering
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
74

Rabu, 31 09.00 1. Mengobservasi KU pasien 14.05 S : keluarga pasien mengatakan pasien mengalami
Januari 10.00 2. Mengukur vital sign kelemahan anggota gerak sebelah kanan
2024
O : KU lemah
Kekuatan otot
3 1

3 1
− TD : 135/ 80 mmHg
− RR : 24x/m
− N : 88x/m

12.00 3. Mengubah posisi pasien setiap 14.00 S : keluarga pasien mengatakan akan merubah
2 jam posisi pasien setiap 2 jam
O :posisi tidur pasien tampak dimiringkan,
tampak ada pergerakan pada anggota tubuh
sebelah kiri
A : masalah teratasi sebagian
P : pertahankan intervensi
− Observasi vital sign dan kekuatan otot
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini membahas tentang kesamaan dan kesenjangan antara tinjauan

pustaka dan tinjauan kasus termasuk dalam pemberian asuhan keperawatan pada

klien Ny.”S” dengan Stroke Hemoragik diruang Alamanda 1 RSUD Sleman

Kabupaten Sleman Provinsi D.I. Yogyakarta yang dilaksanakan pada 29 Januari

2024 sampai dengan 31 Januari 2024. Berikut ini diuraikan pelaksanaan asuhan

keperawatan pada klien Ny.”S” dengan Stroke Hemoragik sesuai tahap fase dalam

proses keperawatan meliputi : Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan,

Pelaksanaan dan Evaluasi keperawatan.

A. Pengkajian

Stroke hemoragik adalah jenis stroke yang terjadi akibat pecahnya

pembuluh darah di otak, menyebabkan perdarahan intrakranial (Wati, 2019).

Hipertensi kronis merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke hemoragik,

selain itu faktor risiko lain meliputi usia lanjut, riwayat stroke sebelumnya,

diabetes mellitus, dislipidemia, merokok, dan konsumsi alkohol (Tsai, et al.,

2018). Gejala stroke hemoragik bervariasi tergantung lokasi dan luas

perdarahan, namun gejala umum meliputi sakit kepala hebat yang tiba-tiba,

mual, muntah, penurunan kesadaran, kelemahan atau kelumpuhan pada satu

sisi tubuh, gangguan bicara, gangguan penglihatan, dan kesulitan menelan

(Hemphill, et al., 2019). Penatalaksanaan stroke hemoragik meliputi


76

79
penanganan segera untuk menghentikan perdarahan, mengontrol tekanan

darah, mencegah komplikasi, dan memberikan terapi suportif (Smithard, et al.,

2020).

Pada kasus Ny. S, seorang wanita berusia 73 tahun yang didiagnosis

stroke hemoragik, ditemukan beberapa data penting selama pengkajian

keperawatan. Pasien mengalami penurunan kesadaran (GCS E2, V2, M5),

kelemahan pada anggota tubuh sebelah kanan, dan riwayat hipertensi selama 9

tahun yang tidak terkontrol dengan baik. Pemeriksaan fisik menunjukkan

keadaan umum lemah, gangguan menelan, dan tanda-tanda vital yang tidak

stabil. Pasien juga mengeluhkan lemas, pusing, dan kesulitan berbicara secara

mendadak.

Beberapa temuan pada kasus Ny. S sejalan dengan teori yang ada

yaitu riwayat hipertensi kronis yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko

utama stroke hemoragik, sesuai dengan penelitian Tsai, et al (2018). Gangguan

menelan (disfagia) yang dialami Ny. S juga merupakan gejala umum pada

pasien stroke, seperti yang dilaporkan oleh Smithard, et al (2020). Penurunan

kesadaran yang ditunjukkan oleh GCS Ny. S juga sesuai dengan penelitian

Hemphill, et al (2019) yang menyebutkan penurunan kesadaran sebagai gejala

umum pada stroke hemoragik. Namun, ada temuan yang tidak sejalan dengan

teori. Brouwers & Sudano (2020) menunjukkan bahwa pasien yang rutin

mengonsumsi obat hipertensi memiliki risiko lebih rendah mengalami stroke,

sedangkan Ny. S tidak rutin minum obat. Morgenstern, et al (2021)

menemukan bahwa intervensi medis yang cepat dapat meningkatkan

prognosis pasien stroke hemoragik, sedangkan Ny. S baru dirawat di hari ke-3

setelah kejadian.
77

Kasus Ny. S menunjukkan pentingnya pengkajian keperawatan yang

komprehensif dan akurat untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan

pasien secara tepat. Perawat perlu menggali lebih dalam mengenai riwayat

kesehatan pasien, termasuk kepatuhan dalam mengonsumsi obat-obatan.

Kolaborasi dengan tim kesehatan lain juga penting untuk memastikan

penanganan yang tepat dan cepat. Selain itu, perawat perlu memberikan

edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya kontrol tekanan

darah, gaya hidup sehat, dan kepatuhan dalam pengobatan untuk mencegah

terjadinya stroke.

B. Diagnosa

Pembahasan mengenai diagnosa keperawatan dibagi menjadi empat sub

topik yaitu, diagnosa keperawatan yang sesuai dengan teori, diagnosa

keperawatan yang terdapat dalam teori tetapi tidak muncul pada pasien, dan

diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas.

1. Diagnosa keperawatan sesuai teori

a. Penurunan kapasitas adaptif b.d edema selebral

Dalam kasus yang disajikan, penulis menemukan bahwa pasien

mengalami penurunan kesadaran, kelemahan, dan muntah, disertai

riwayat hipertensi. Observasi klinis menunjukkan tanda-tanda

peningkatan TIK, seperti tekanan darah tinggi dan takipnea. Keluarga

pasien melaporkan adanya riwayat hipertensi yang merupakan faktor

risiko utama perdarahan otak. Berdasarkan teori dan temuan klinis,

penulis menegakkan diagnosis keperawatan penurunan kapasitas

adaptif intrakranial berhubungan dengan edema serebral.


78

Penelitian Fitriani dan Sari (2018) di RSUD Dr. Soetomo

mendukung temuan penulis. Mereka menemukan bahwa pasien stroke

hemoragik sering mengalami penurunan kapasitas adaptif intrakranial

akibat edema serebral, dan pemantauan TIK sangat penting dalam

manajemen pasien. Namun, penelitian Lee et al. (2019) menunjukkan

bahwa tidak semua kasus perdarahan otak dengan edema serebral

menunjukkan peningkatan TIK yang signifikan. Beberapa kasus

mungkin memiliki mekanisme kompensasi otak yang efektif.

Faktor pendukung utama dalam kasus ini adalah riwayat hipertensi

pasien yang merupakan faktor risiko utama perdarahan otak dan edema

serebral. Selain itu, gejala klinis yang ditunjukkan pasien, seperti

penurunan kesadaran dan muntah, sejalan dengan teori tentang dampak

edema serebral pada fungsi neurologis. Faktor penghambat dalam

kasus ini adalah kemungkinan adanya mekanisme kompensasi otak

yang efektif, seperti yang dijelaskan dalam penelitian Lee et al. (2019).

Mekanisme ini dapat mengurangi dampak edema serebral pada TIK

dan

gejala klinis.

Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan TIK secara

kontinu pada pasien dengan perdarahan otak dan edema serebral.

Perawat perlu waspada terhadap tanda-tanda peningkatan TIK dan

perubahan neurologis. Intervensi keperawatan meliputi pemberian

obatobatan penurun TIK, seperti manitol, dan kolaborasi dengan tim

medis untuk mengurangi edema serebral. Selain itu, perawat perlu

mengedukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya manajemen


79

hipertensi dan faktor risiko perdarahan otak lainnya untuk mencegah

kejadian serupa di masa depan.

b. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

Dalam kasus ini, diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif

ditegakkan berdasarkan laporan keluarga tentang napas pasien yang

cepat, observasi penggunaan nasal kanul 3lpm, dan frekuensi napas

26x/menit. Kondisi ini dianggap mengancam kehidupan dan

memerlukan penanganan segera setelah masalah sirkulasi teratasi.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Sari, dkk. (2021) yang

mengidentifikasi pola napas tidak efektif sebagai masalah keperawatan

yang sering terjadi pada pasien stroke iskemik. Faktor risiko seperti

usia lanjut, riwayat stroke sebelumnya, dan tingkat keparahan stroke

dapat memperburuk gangguan pola nafas. Selain itu, penelitian

Ningsih et al. (2018) juga mendukung temuan ini dengan menunjukkan

bahwa pemberian oksigen saja tidak cukup untuk mengatasi pola napas

tidak efektif pada pasien stroke hemoragik.

Faktor pendukung yang memperkuat diagnosis pola napas tidak

efektif adalah penggunaan alat bantu napas (nasal kanul) dan frekuensi

napas yang melebihi batas normal (26x/menit). Implikasi dari temuan

ini pada praktik keperawatan adalah pentingnya pemantauan ketat

terhadap saturasi oksigen dan frekuensi napas pasien stroke. Intervensi

keperawatan yang komprehensif diperlukan, termasuk penggunaan

ventilasi noninvasif jika diperlukan, penyesuaian posisi pasien untuk

memfasilitasi pernapasan, pemberian oksigen tambahan, serta

pemantauan tanda-tanda vital dan respons pasien terhadap terapi.


80

Kolaborasi dengan tim kesehatan lain, seperti fisioterapis pernapasan,

juga penting untuk mengoptimalkan penanganan pola napas tidak

efektif pada pasien stroke.

c. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

Pada kasus ini, pasien menunjukkan tanda-tanda gangguan

mobilitas fisik yang ditandai dengan kelemahan pada anggota tubuh

sebelah kanan, kondisi lemah dan bedrest, serta penurunan kekuatan

otot pada ekstremitas atas dan bawah. Pasien juga membutuhkan

bantuan keluarga dalam melakukan aktivitas dan mobilisasi.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Putri et al. (2020) di RSUP

Dr. Kariadi, Semarang, yang menunjukkan bahwa gangguan mobilitas

fisik sering terjadi pada pasien stroke hemoragik. Penelitian ini juga

menggarisbawahi pentingnya rehabilitasi fisik sedini mungkin untuk

meningkatkan kekuatan otot dan mobilitas pasien.

Faktor pendukung dalam kasus ini adalah adanya intervensi

rehabilitasi fisik yang melibatkan fisioterapis, penggunaan alat bantu

mobilitas, dan latihan penguatan otot secara teratur. Hal ini sesuai

dengan rekomendasi praktik keperawatan untuk mengatasi gangguan

mobilitas fisik. Perawat berperan penting dalam mengidentifikasi

gangguan mobilitas fisik sejak dini, melakukan pengkajian

komprehensif, merencanakan intervensi keperawatan yang tepat,

berkolaborasi dengan tim rehabilitasi medik, dan memberikan edukasi

kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya latihan fisik dan

mobilisasi dini.

2. Terdapat dua diagnosa keperawatan yang ada pada teori menurut

(Pinzon & Asanti, 2019) tetapi tidak muncul pada pasien, antara lain :
81

a. Risiko perfusi selebral tidak efektif

Penulis tidak menggunakan diagnosis "risiko perfusi

serebral tidak efektif" karena pasien telah menunjukkan gejala

penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran ini dianggap sebagai

bukti adanya gangguan perfusi serebral yang sudah terjadi,

sehingga intervensi segera menjadi prioritas untuk mencegah

komplikasi

lebih serius.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Rahman et al. (2018)

yang menunjukkan bahwa penurunan kesadaran pada pasien stroke

hemoragik sering kali mengindikasikan adanya gangguan perfusi

serebral yang signifikan. Penelitian ini juga menekankan

pentingnya intervensi cepat untuk memperbaiki hasil klinis.

Namun, temuan ini tidak sejalan dengan penelitian Handayani et

al. (2017) yang berfokus pada pencegahan risiko perfusi serebral

tidak efektif pada pasien stroke hemoragik yang belum

menunjukkan gejala penurunan kesadaran. Meskipun demikian,

penelitian ini tetap menekankan pentingnya pemantauan perfusi

serebral untuk mencegah komplikasi.

Faktor yang mendukung temuan ini adalah bukti klinis

yang menunjukkan bahwa penurunan kesadaran pada pasien stroke

hemoragik sering kali berkaitan dengan gangguan perfusi serebral

yang sudah terjadi. Selain itu, penelitian Rahman et al. (2018) juga

memberikan bukti kuat mengenai pentingnya intervensi cepat pada

pasien dengan penurunan kesadaran untuk mencegah komplikasi

dan memperbaiki hasil klinis.


82

Temuan ini memiliki implikasi penting dalam praktik

keperawatan. Perawat harus peka terhadap gejala penurunan

kesadaran pada pasien stroke hemoragik dan segera melakukan

intervensi untuk memperbaiki perfusi serebral. Pemantauan ketat

terhadap tanda-tanda vital dan status neurologis sangat penting

untuk mengidentifikasi perubahan yang memerlukan intervensi

lebih lanjut. Kolaborasi dengan tim medis lain juga diperlukan

untuk memastikan penanganan yang optimal bagi pasien.

b. Nyeri

Alasan penulis tidak mengambil diagnosa nyeri karena pasien

dengan penurunan kesadaran tidak dapat mengkomunikasikan rasa

nyeri secara verbal, sehingga penilaian nyeri menjadi subjektif dan

beresiko tidak akurat. Penelitian oleh Susanti et al. (2016) di

RSUD

Dr. Moewardi, Solo menunjukkan bahwa penilaian nyeri tetap

relevan meskipun pasien mengalami penurunan kesadaran. Mereka

menggunakan skala nyeri non-verbal untuk menilai nyeri pada

pasien yang tidak dapat mengkomunikasikan rasa nyeri secara

verbal, menunjukkan bahwa penilaian nyeri masih bisa dilakukan

dengan akurat.

C. Perencanaan

Perencanaan keperawatan atau intervensi keperawatan adalah perumusan

tujuan, tindakan dan penilaian rangkaian asuhan keperawatan pada klien

berdasarkan analisa pengkajian agar masalah kesehatan dan keperawatan klien

dapat diatasi (Nurarif H, 2016). Intervensi keperawatan adalah segala


83

treatment yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan

dan penilaian klinis untuk mencapai luaran yang diharapkan (PPNI,2018).

Pada perencanaan tindakan penulis mengacu pada referensi Standar Luaran

Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia

(SIKI).

1. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema selebral

Intervensi keperawatan berupa manajemen peningkatan tekanan

intrakranial (TIK) yang dilakukan selama 3x24 jam bertujuan untuk

mengatasi kapasitas adaptif intrakranial. Kriteria hasil yang diharapkan

meliputi peningkatan tingkat kesadaran dan fungsi kognitif, perbaikan

tekanan darah (<140/90 mmHg) dan tekanan nadi (60-100x/menit), serta

normalisasi pola nafas (16-24x/menit). Intervensi keperawatan meliputi

identifikasi penyebab TIK, pemantauan tanda dan gejala peningkatan TIK,

pemantauan status pernapasan, minimalisasi stimulus, pengaturan posisi

semi fowler, pencegahan kejang, pengaturan suhu tubuh normal, dan

kolaborasi pemberian sedasi. Penelitian Handayani, et al. (2020)

menunjukkan hasil yang sejalan dengan intervensi keperawatan ini.

Manajemen TIK yang efektif terbukti memperbaiki kondisi pasien dengan

edema serebral dan menurunkan TIK. Namun, penelitian Wijaya &

Kusuma (2019) menemukan hasil yang tidak sejalan. Intervensi tertentu

tidak selalu efektif dalam mengurangi TIK pada pasien dengan edema

serebral.

Faktor penghambat yang mungkin terjadi adalah kompleksitas kondisi

pasien, penyebab TIK yang bervariasi, serta respon individual terhadap

intervensi. Keberhasilan intervensi dapat dipengaruhi oleh keparahan

edema serebral, adanya kondisi penyerta, dan ketepatan waktu dalam


84

memberikan intervensi. Faktor pendukung keberhasilan intervensi antara

lain pemantauan ketat tanda-tanda vital, identifikasi dini penyebab TIK,

serta kolaborasi efektif dengan tim kesehatan lainnya. Temuan ini

menggarisbawahi pentingnya pemantauan ketat terhadap tanda-tanda

peningkatan TIK dan penyesuaian intervensi berdasarkan kondisi

individual pasien. Perawat perlu memiliki pemahaman mendalam tentang

patofisiologi

TIK dan berbagai intervensi yang tersedia.

2. Pola nafas tidak tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

Intervensi pemantauan respirasi dilakukan untuk mencapai tujuan

perbaikan pola nafas pasien dalam 3x24 jam dengan kriteria hasil

penurunan dipsnea dan frekuensi nafas membaik (16-24 x/menit).

Pemantauan ini meliputi frekuensi, kedalaman, upaya nafas, produksi

sputum, dan adanya sumbatan jalan nafas.

Penelitian Suryani & Putri (2021) sejalan dengan intervensi ini,

menunjukkan bahwa pemantauan dan intervensi dini terhadap pola nafas

yang tidak efektif dapat meningkatkan kondisi pernapasan pasien.

Pemantauan ketat terhadap pola nafas memungkinkan deteksi dini masalah

pernapasan dan intervensi yang tepat waktu, seperti yang dilakukan dalam

intervensi ini. Penelitian Ananda & Setiawan (2019) menunjukkan bahwa

intervensi tertentu, seperti suction, tidak selalu efektif dalam meningkatkan

pola nafas pada semua pasien. Ini menyiratkan bahwa pemantauan saja

mungkin tidak cukup, dan intervensi tambahan mungkin diperlukan

tergantung pada kondisi individu pasien. Faktor-faktor seperti kondisi

medis yang mendasari, kepatuhan pasien, dan respons terhadap intervensi

dapat mempengaruhi efektivitas pemantauan respirasi.


85

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemantauan respirasi yang

cermat dan berkelanjutan sebagai bagian integral dari perawatan pasien

dengan masalah pernapasan. Perawat perlu mempertimbangkan kondisi

individu pasien, menggunakan berbagai intervensi yang sesuai, dan

mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi tersebut untuk mencapai

hasil yang optimal.

3. Gangguan mobilitas fisik b.d kekuatan otot menurun

Intervensi perawatan tirah baring yang dilakukan, yaitu pemantauan

kondisi kulit, pemantauan komplikasi, pengaturan posisi yang nyaman,

menjaga kebersihan, perubahan posisi setiap 2 jam, dan penjelasan tujuan

tirah baring, diharapkan dapat meningkatkan mobilitas fisik pasien dalam

3x24 jam. Peningkatan mobilitas fisik ini ditandai dengan meningkatnya

pergerakan ekstremitas dan kekuatan otot.

Penelitian Rachmwati, et al (2019) sejalan dengan intervensi yang

dilakukan. Perawatan tirah baring yang tepat dan perubahan posisi berkala

terbukti dapat mengurangi komplikasi dan meningkatkan mobilitas fisik

pasien. Namun, penelitian Mahendra, R., & Susanti, E. (2019)

menunjukkan hasil yang tidak sejalan. Tirah baring yang berkepanjangan

justru dapat menurunkan kekuatan otot dan mobilitas.

Faktor penghambat utama yang tidak sejalan dengan teori adalah

lamanya waktu tirah baring. Penelitian Mahendra, R., & Susanti, E. (2019)

menunjukkan bahwa semakin lama pasien tirah baring, semakin besar

penurunan kekuatan otot dan mobilitasnya. Faktor pendukung yang sejalan

dengan teori adalah intervensi perawatan tirah baring yang komprehensif,

seperti dalam penelitian Rachmwati, et al (2019). Perubahan posisi


86

berkala, latihan fisik yang sesuai, dan pemantauan komplikasi secara ketat

dapat meminimalkan efek negatif tirah baring.

Perawat perlu mempertimbangkan durasi tirah baring yang optimal

untuk setiap pasien. Jika memungkinkan, durasi tirah baring harus

dipersingkat untuk mencegah penurunan mobilitas fisik. Selain itu,

perawat harus memastikan intervensi perawatan tirah baring dilakukan

secara komprehensif dan konsisten. Perubahan posisi berkala, latihan fisik

yang sesuai dengan kondisi pasien, dan pemantauan ketat terhadap

komplikasi adalah kunci untuk meningkatkan mobilitas fisik pasien selama

tirah baring.

D. Implementasi

Melaksanakan tindakan keperawatan pada Ny. S berkesinambungan

dengan adanya kerja sama yang baik antara penulis, perawat bangsal,

pembimbing akademik maupun pembimbing lapangan, pasien, keluarga

pasien, tenaga kesehatan lainnya, jika tidak terlepas dari ketersediaannya

fasilitas kesehatan

yang memadai sehingga membantu terlaksananya

rencana tindakan keperawatan.

1. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema serebral

Tindakan keperawatan yang dilakukan penulis dalam mengelola pasien

dengan peningkatan tekanan intrakranial (PTIK) meliputi pengkajian

kesadaran, pemantauan tanda vital, pemberian terapi obat (furosemide,

mannitol, ceftriaxone, amlodipine, citicoline), dan evaluasi kondisi umum

pasien. Tindakan ini sesuai dengan rencana tindakan berdasarkan Standar

Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI, 2017).


87

Penelitian oleh Sari et al. (2020) mendukung temuan penulis,

menunjukkan bahwa kombinasi mannitol dan citicoline efektif dalam

mengurangi PTIK dan meningkatkan kesadaran pasien stroke hemoragik.

Namun, penelitian oleh Hasan et al. (2018) menemukan bahwa mannitol

tidak selalu efektif dalam mengurangi PTIK dibandingkan dengan terapi

lain seperti hiperventilasi atau saline hipertonik.

Faktor pendukung keberhasilan intervensi keperawatan ini adalah

kepatuhan terhadap SIKI dan penggunaan kombinasi obat yang terbukti

efektif seperti mannitol dan citicoline. Faktor penghambat potensial adalah

variasi respons pasien terhadap mannitol, seperti yang ditunjukkan oleh

penelitian Hasan et al. (2018). Selain itu, ketersediaan sumber daya dan

pengetahuan terkini tentang penanganan edema serebral dan PTIK dapat

menjadi faktor penghambat dalam beberapa situasi.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan individual dalam

penanganan PTIK. Perawat harus mempertimbangkan berbagai pilihan

terapi dan menyesuaikannya berdasarkan respons pasien. Pemantauan

ketat terhadap tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran sangat penting untuk

mengevaluasi efektivitas intervensi. Selain itu, perawat perlu terus

memperbarui pengetahuan mereka tentang perkembangan terbaru dalam

penanganan edema serebral dan PTIK untuk memberikan perawatan yang

optimal.

2. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

Pemberian posisi semi-fowler selama 3x24 jam pada pasien dengan

masalah pernapasan menunjukkan pengaruh positif terhadap oksigenasi,

yang ditandai dengan peningkatan SpO2. Hal ini sesuai dengan panduan

SIKI (2017) dan didukung oleh penelitian Ali et al. (2021) yang
88

menyatakan bahwa posisi semi-fowler memaksimalkan volume, laju

aliran, dan kapasitas paru-paru, serta meningkatkan sistem pernapasan.

Temuan ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa posisi

semifowler meningkatkan ekspansi paru-paru dan memperbaiki

oksigenasi. Namun, penelitian Brown et al. (2019) menunjukkan bahwa

pada beberapa pasien, posisi supine mungkin lebih efektif. Hal ini

mengindikasikan bahwa tidak ada satu posisi yang optimal untuk semua

pasien, dan posisi terbaik dapat bervariasi tergantung pada kondisi spesifik

pasien.

Faktor pendukung keberhasilan posisi semi-fowler dalam

meningkatkan oksigenasi adalah pemahaman perawat tentang teknik

penempatan posisi yang benar dan penggunaan alat bantu pernapasan.

Selain itu, pemantauan rutin terhadap pola napas dan saturasi oksigen

pasien juga penting untuk memastikan efektivitas intervensi. Faktor

penghambat yang mungkin terjadi adalah kondisi medis tertentu pada

pasien yang membuat posisi semi-fowler kurang efektif, seperti obesitas

atau penyakit paru obstruktif kronik.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi individual terhadap

pasien untuk menentukan posisi optimal yang dapat meningkatkan

oksigenasi. Perawat perlu mempertimbangkan kondisi spesifik pasien dan

memantau respons mereka terhadap posisi yang diberikan. Selain itu,

pelatihan berkelanjutan bagi perawat tentang teknik penempatan posisi dan

penggunaan alat bantu pernapasan sangat penting untuk memastikan

perawatan yang efektif dan berbasis bukti.

3. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot


89

Pelaksanaan tindakan keperawatan selama 3x24 jam meliputi observasi

kondisi umum pasien, pengukuran tanda vital, pengajaran ROM pasif dan

ROM aktif kepada keluarga, pemeliharaan kebersihan sprei, dan

perubahan posisi pasien setiap 2 jam. Tindakan ini sesuai dengan rencana

tindakan berdasarkan SIKI (2017).

Temuan ini sejalan dengan penelitian Hosseini et al. (2019) yang

menunjukkan peningkatan fungsi motorik ekstremitas atas dan bawah

setelah pemberian terapi ROM pasif selama tiga bulan. Terapi ini

melibatkan keluarga dan pemberian leaflet untuk kemandirian terapi di

rumah. Namun, temuan ini tidak sepenuhnya sejalan dengan Kim et al.

(2018) yang menyatakan bahwa latihan ROM pasif saja tidak cukup untuk

meningkatkan fungsi motorik pada beberapa pasien stroke. Studi ini

merekomendasikan kombinasi latihan aktif dan pasif serta terapi fisik

tambahan.

Faktor pendukung keberhasilan terapi ROM adalah keterlibatan

keluarga dalam program latihan dan pemberian edukasi mengenai

pentingnya latihan ini (Kim et al., 2018). Selain itu, perawatan yang

berfokus pada pencegahan komplikasi akibat imobilitas, seperti perubahan

posisi rutin dan menjaga kebersihan lingkungan pasien, juga berkontribusi

positif (Kim et al., 2018). Faktor penghambat yang mungkin terjadi adalah

kurangnya intensitas atau durasi latihan ROM pasif yang optimal (Kim et

al., 2018). Kombinasi latihan aktif dan pasif mungkin diperlukan untuk

hasil yang lebih baik pada beberapa pasien.

Temuan ini menggarisbawahi pentingnya terapi ROM pasif dalam

meningkatkan fungsi motorik pasien stroke. Namun, perawat perlu

mempertimbangkan pendekatan individual, termasuk kombinasi latihan


90

aktif dan pasif serta terapi fisik tambahan jika diperlukan. Keterlibatan

keluarga dan edukasi yang memadai juga krusial untuk keberhasilan terapi.

Perawat juga harus fokus pada pencegahan komplikasi imobilitas melalui

perubahan posisi dan menjaga kebersihan lingkungan pasien.

E. Evaluasi

Pada evaluasi ini penulis menggunakan evaluasi proses dan evaluasi hasil.

Evaluasi proses dibuat untuk menegtahui keberhasilan tindakan yang

dilaksanakan oleh perawat, sedangkan evaluasi hasil merupakan catatan

perkembangan dari keseluruhan tindakan yang dijadikan sebagai bahan

pertimbangan untuk menyusun asuhan keperawatan. Hasil evaluasi adalah

sebagai berikut :

1. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema serebral

Hasil evaluasi pada pasien Ny. S di hari pertama didapatkan masalah

keperawatan penurunan kapasitas adaptif intrakranial belum teratasi

dikarenakan data yang didapatkan belum memenuhi seluruh kriteria hasil

yang disusun yaitu, kesadaran belum meningkat GCS E2, V2, M5, tekanan

darah masih tinggi 150/98 mmHg dan pola nafas cepat dengan frekuensi

26x/m, sehingga intervensi manajemen tekanan intrakranial perlu

dilanjutkan. Sedangkan evaluasi yang didapatkan di hari ketiga masalah

teratasi sebagian dikarenakan tekanan darah sudah membaik 135/80

mmHg, pola nafas membaik 24x/m, namun kesadaran pasien belum

meningkat yaitu GCS E2, V2, M5, sehingga intervensi manajemen tekanan

intrakranial masih perlu dilanjutkan.

Penelitian oleh Wijaya (2021) menunjukkan bahwa manajemen

tekanan intrakranial efektif dalam mengurangi tekanan darah dan

memperbaiki pola nafas, namun peningkatan kesadaran memerlukan


91

waktu lebih lama, sedangakan penelitian oleh Sari (2022) menunjukkan

bahwa beberapa pasien tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan

dalam tekanan darah dan kesadaran meskipun manajemen tekanan

intrakranial dilakukan. Perawat harus terus memantau tekanan intrakranial,

tekanan darah, dan tingkat kesadaran pasien. Intervensi seperti manajemen

tekanan intrakranial dan monitoring ketat harus dilanjutkan untuk

mencegah komplikasi lebih

lanjut.

2. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

Hasil evaluasi pada pasien Ny. S dihari pertama didapatkan hasil

masalah keperawatan pola nafas tidak efektif belum teratasi dikarenakan

dipsnea belum menurun, frekuensi nafas belum membaik yaitu 26x/m,

sehingga intervensi pemantauan respirasi perlu dilanjutkan. Sedangkan

evaluasi yang didapatkan di hari ketiga masalah sudah teratasi dikarenakan

data yang didapatkan sudah memenuhi seluruh kriteria yang disusun yaitu,

dipsnea sudah memebaik, frekuensi nafas sudah membaik 24x/m. Penulis

berasumsi intervensi yang diberikan seperti pemeberian terapi oksigen dan

memposisikan pasien semifowler dapat membantu pemenuhan supali

oksigen sehingga masalah pola nafas tidak efektif teratasi.

Penelitian oleh Susilo et al. (2020) menemukan bahwa intervensi

seperti terapi oksigen dan posisi semifowler efektif dalam mengurangi

frekuensi nafas dan meningkatkan saturasi oksigen pada pasien dengan

pola nafas tidak efektif, sedangkan penelitian oleh Budi (2021)

menemukan bahwa tidak semua pasien dengan pola nafas tidak efektif

menunjukkan perbaikan yang signifikan setelah terapi oksigen dan posisi

semifowler, mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih individual.


92

Intervensi seperti terapi oksigen dan posisi semifowler harus menjadi

bagian dari rencana perawatan standar untuk pasien dengan pola nafas

tidak efektif. Evaluasi rutin frekuensi nafas dan dispnea penting untuk

menilai efektivitas intervensi.

3. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

Hasil evaluasi pada pasien Ny. S dihari pertama didapatkan hasil

masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik belum teratasi dikarenakan

data yang didapatkan belum memenuhi seluruh kriteria hasil yang disusun

yaitu, pergerakan ekstremitas belum meningkat, kekuatan otot belum

meningkat dan keluarga pasien belum paham mengenai ROM sehingga

intervensi perawatan tirah baring masih perlu dilanjutkan. Sedangkan pada

hari ketiga masalah sudah teratasi sebagian dikarenakan terdapat

pergerakan pada anggota tubuh sebelah kiri, keluarga pasien sudah paham

mengenai ROM dan dapat mendemonstrasikan kembali, namun kekuatan

otot pasien belum meningkat, sehingga intervensi perawatan tirah baring

masih perlu dilanjutkan. Penulis berasumsi belum membaiknya kekuatan

otot pada pasien karena penurunan kekuatan otot yang terjadi

membutuhkan waktu cukup lama untuk pulih kembali sehingga intervensi

perawatan tirah baring perlu dilanjutkan dan di edukasikan kepada

keluarga pasien untuk mencegah komplikasi yang terjadi akibat tirah

baring.

Penelitian oleh Putri (2019) menyimpulkan bahwa latihan ROM dan

pendidikan keluarga tentang perawatan tirah baring dapat meningkatkan

mobilitas fisik dan kekuatan otot pada pasien stroke, sedangkan penelitian

oleh Aditya (2020) menunjukkan bahwa latihan ROM saja tidak cukup

untuk meningkatkan kekuatan otot pada beberapa pasien, dan diperlukan


93

kombinasi intervensi lain seperti fisioterapi intensif. Pendidikan keluarga

tentang pentingnya latihan ROM dan perawatan tirah baring harus

dilakukan secara terus-menerus. Kombinasi intervensi seperti latihan fisik

dan fisioterapi harus dipertimbangkan untuk meningkatkan kekuatan otot

dan mobilitas fisik pasien.

F. Pendokumentasian

Dokumentasi merupakan bukti pencatatan pelaporan yang dimiliki

perawat dalam melakukan catatan yang berguna untuk kepentingan klien,

perawat, dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan.

(Nookasiani, Gustina, R & Maryam, 2015). Penulis menggunakan urutan

dokumentasi keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,

perencanaan, pelaksanaan keperawatan dan evaluasi keperawatan. Penulis

melaksanakan pendokumentasian sesuai dengan format dalam asuhan

keperawatan. Pada tahap evaluasi penulis menggunakan acuan SOAP : S :

subyektif, O : objektif, A : Analisa, P : perencanaan. Pendokumentasian

dengan metode SOAP dilakukan setelah melakukan tindakan keperawatan

dengan mencantumkan tanggal, jam, nama, dan tanda tangan.

Faktor pendukung pada tahap dokumentasi adalah pasien dan keluarga

yang kooperatif pada tindakan keperawatan yang diberikan, perawat dan

dokter beserta tenaga medis lainnya yang membantu dalam memberikan

informasi mengenai kondisi pasien, adanya rekam medis atau status pasien

yang membantu penulis melengkapi data.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melakukan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan Stroke

Hemoragik diruang Alamanda 1 RSUD Sleman Kabupaten Sleman Provinsi

D.I. Yogyakarta, penulis mendapatkan pengalaman nyata dalam melaksanakan

proses keperwatan yaitu pengkajian, perumusan diagnosa, perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi keperawatan.

1. Pengkajian

Penulis melakukan pengkajian pada Ny. S diruang Alamanda 1 RSUD

Sleman yang berusia 73 tahun, beragama islam, dan status kawin di rawat

dirumah salit pada tanggal 27 Januari 2024 dengan diagnosa awal HT

emergency, dalam menentukan masalah keperawatan penulis

menggunakan observasi, pemeriksaan fisik, wawancara, dan studi

dokumentasi. Data-data yang didapatkan pada pasien Ny. S adalah

keluarga pasien megatakan pasien terlihat lemas dan tidur terus menerus,

keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat hipertensi sejak lama

dan tidak mengkonsumsi obat rutin, keluarga pasien juga tidak begitu

mengetahui tentang hipertensi, dan aktivitas pasien dibantu oleh orang

lain.

2. Diagnosa keperawatan
95

Pada tahap ini penulis menemukan 3 diagnosa keperawatan pada Ny.S

dengan Stroke Hemoragik sebagai berikut :

100
a. Penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema serebral

b. Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

c. Gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

3. Perencanaan

a. Pada diagnosa penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema

serebral penulis mengambil SLKI kapasitas adaptif intrakranial dengan

SIKI manajemen penigkatan tekanan intrakranial.

b. Pada diagnosa pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

penulis mengambil SLKI pola nafas dengan SIKI pemantauan respirasi

c. Pada diagnosa gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot

penulis mengambil SLKI mobilitas fisik dengan SIKI perawatan tirah

baring.

4. Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan selama 3x 8 jam yang akan dilakukan sesuai

dengan perencanaan yang ditetapkan dan dilaksanakan secara terus

menerus dan berkesinambungan guna mengatasi masalah pada pasien.

Dalam melakukan tindakan keperawatan penulis didukung dengan adanya

saling percaya dan kerja sama yang baik antara penulis, keluarga pasien

dan tim kesehatan lainnya serta saranan dan prasarana rumah sakit

khususnya ruang Alamanda 1 RSUD Sleman yang memadai untuk

melakukan asuhan keperawatan sehingga pelaksanaan pada pasien dapat

dilakukan dengan baik.

5. Evaluasi
96

a. Evaluasi asuhan keperawatan pada ketiga diagnosa keperawatan ada

yang teratasi dana ada yang teratasi sebagian yaitu :

1) Pada diagnosa penurunan kapasitas adaptif intrakranial b.d edema

serebral teratasi sebagian, adapun tujuan yang belum tercapai yaitu

tingkat kesadaran pasien belum meningkat.

2) Pada diagnosa pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya nafas

masalah teratasi. Dikarenakan sudah sesuai dengan tujuan yang

diharapkan.

3) Pada diagnosa gangguan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan

otot teratasi sebagian. Adapun tujuan yang belum teratasi yaitu

kekuatan otot pasien belum meningkat.

B. Saran

Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien Ny. S dengan Stroke

Hemoragik diruang Alamanda 1 RSUD Sleman selama 3 x 8 jam penulis

mencoba menyampaikan beberapa saran yaitu :

1. Untuk Perawat Alamanda 1

Kinerja perawat di RSUD Sleman khususnya diruang Alamanda 1 sudah

cukup baik karena perawat di bangsal tersebut banyak memberikan saran

maupun masukan ilmu yang belum penulis ketahui, diharapkan

mempertahankan dan lebih ditingkatkan kinerjanya dalam merawat pasien

di RSUD Sleman.

2. Bagi Institusi Stikes Al-Islam Yogyakarta

Diharapkan dapat menjadi tambahan wawasan buku darurat tentang stroke

dan pengetahuan bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan

stroke hemoragik khususnya bagi mahasiswa keperawatan Stikes Al-Islam


97

Yogyakarta.

3. Bagi Penulis

Hasil dari studi kasus ini diharapkan dapat dijadikan ilmu pengetahuan dan

menambah wawasan dalam melakukan Asuhan Keperawatan pada pasien

dengan Stroke Hemoragik, dan dapat megaplikasikan ilmu kepada

masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Aditya, D. (2020). Latihan ROM dan Kekuatan Otot pada Pasien Stroke: Sebuah
Kajian. Jurnal Rehabilitasi, 8(3), 45-52.
Ainy, R. E. N., & Nurlaily, A. P. (2021). Asuhan keperawatan pasien stroke
hemoragik dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis: Oksigenasi. Journal of
Advanced Nursing and Health Sciences, 2(1), 21-25.
Amanda, Arora Nexi. (2018). Asuhan Keperawatan Gangguan Oksigenasi Pada
Pasien Stroke Hemoragik Di Ruang Rawat Inap Syaraf RSUP Dr. M.
Djamil Padang. Karya Tulis Ilimiah, Prodi D-III Keperawatan. Padang :
Poltekkes Kemenkes RI Padang
Amelia, R., Widiastuti, H. P., & Setiani, D. (2023). Asuhan Keperawatan pada
Pasien Dengan Stroke Hemoragik Di RSUD Abdul Wahab Sjahranie.
Apriliyani, T. (2017). Pemberian Range Of Motion (ROM) Terhadap Kekuatan
Otot Ekstremitas Pada Asuhan Keperawatan Tn. A Dengan Stroke
Hemoragik Di Ruang Aggrek II RSUD dr. Moewardi Surakarta. Tugas
Akhir. Surakarta: Program Studi DIII Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Kusuma Husada Surakarta.
Auryn, V. (2017). Mengenal Dan Memahami Stroke. Jogjakarta : KATAHATI.
Budi, S. (2021). Analisis Efektivitas Terapi Oksigen dan Posisi Semifowler pada
Pasien dengan Pola Nafas Tidak Efektif. Jurnal Keperawatan, 13(4),
98105.
Cahyati, Peni, Dudi Hartono, and Unang Arifin. (2024): 101-106 "Optimalisasi
Peran Kader Posbindu Melalui Psikoedukasi dalam Pengendalian
Penyakit Hipertensi di Kelurahan Nagarasari Wilayah Kerja Puskesmas
Cigeureung Kota Tasikmalaya." Abdimas Galuh 6.1.
Hutagalung, Joel Ignasius. (2020). "Literature Review: Asuhan Keperawatan
Pada Klien Yang Mengalami Stroke Hemoragik Dengan Hambatan
Mobilitas Fisik Dalam Penerapan Terapi Range Of Motion Di Rumah
Sakit Umum Dr. Ferdinand Lumban Tobing Kota Sibolga Tahun 2020."
Indah Sari, T. R. I. (2020).Asuhan Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik Pada
Tn. M Dengan Stroke Di Ruangan Anggrek Rsud Dr. R. Goeteng
Taroenadibrata. Diss. Unoversitas Harapan Bangsa.
Indrawati, L. & dkk. (2016). Stroke Cegah dan Obati Sendiri. Jakarta: Penebar
Swadaya Group
Kanggeraldo, J., Sari, R. P., & Zul, M. I. (2018). Sistem Pakar Untuk
Mendiagnosis Penyakit Stroke Hemoragik dan Iskemik Menggunakan
Metode Dempster Shafer. Jurnal RESTI (Rekayasa Sistem Dan Teknologi
Informasi), 2(2), 498-505.
Khaira, Fathmi. (2018). ‘Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Stroke
Hemoragik Di Bangsal Saraf RSUP Dr M. Djamil Padang’. Karya Tulis
Ilimiah, Prodi D-III Keperawatan. Padang : Poltekkes Kemenkes RI
Padang.

Lee, J., Kim, H., & Park, S. (2019). Intracranial Hemorrhage and Cerebral
Edema: A Comparative Study. Journal of Stroke and Cerebrovascular
Diseases, 28(4), 1021-1030.
Ningrum, A. T. (2022). Laporan Asuhan Keperawatan Pada Ny. S. Dengan Stroke
Hemoragik Di Ruang Alamanda 1 Rsud Sleman Yogyakarta (Doctoral
dissertation, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta).
Ningsih, D. A., Yulianto, C. E., & Nirmala, D. (2018). Efektivitas Pemberian
Oksigen terhadap Pola Napas pada Pasien Stroke Hemoragik. Jurnal
Kesehatan Metro, 16(2), 101-106.
Nursalam. (2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pendekatan Praktis
Edisi 4. Jakarta : Salemba Medika.
PPNI (2017) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2019) Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan (1st ed.). Jakarta: DPP PPNI.
Putri, S. (2019). Pengaruh Latihan ROM dan Edukasi Keluarga terhadap
Mobilitas Fisik Pasien Stroke. Jurnal Keperawatan dan Kebidanan, 10(2),
112-120.
Rachmawati, D., Ulum, E. M. R., & Septdianto, T. C. (2019). Pencegahan
Dekubitus Pasien Stroke Hemorrhagic Setelah 24 Jam Serangan Di Stroke
Center RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Dunia Keperawatan: Jurnal
Keperawatan dan Kesehatan, 7(2), 118-127.
Rahmayanti, Destia. (2019). ‘Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Stroke
Hemoragik Di Ruang Rawat Inap Saraf RSUP Dr. M. Djamil Padang’.
Karya Tulis Ilimiah, Prodi D-III Keperawatan. Padang : Poltekkes
Kemenkes RI Padan
Renata Dwi Putri, R. E. N. A. T. A. (2023). Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Stroke Akut: Pola Napas Tidak Efektif Dengan Intervensi Semifowler
(Doctoral dissertation, Universitas Kusuma Husada Surakarta).
Riskesdas. (2018). Riset kesehatan dasar. Jakarta : Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia.
Sari, M. (2022). Tantangan dalam Manajemen Tekanan Intrakranial pada Pasien
Stroke. Jurnal Neurologi, 11(2), 89-97.
Sari, R. D., Yulianto, C. E., & Rini, E. (2021). Asuhan Keperawatan Pola Napas
Tidak Efektif pada Pasien Stroke Hemoragik dengan Penerapan Teknik
Pernapasan Diafragma. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 6(2),
115121.
Setiawan, P. A. (2021). Diagnosis dan tatalaksana stroke hemoragik. Jurnal
Medika Hutama, 3(01 Oktober), 1660-1665.
Shahab, Fatimah, Ilsa Hunaifi, and I. Wayan Subagiartha. (2020): 264-267"A
Hemichorea and Hemiplegy as a clinical manifestation of acute ischemic
stroke." Baphomet University: Situs Slot Online Gacor Terbaik Hari ini
Server Thailand Gampang Maxwin 2024 9.4.
Susilo, H., et al. (2020). Efektivitas Terapi Oksigen pada Pasien dengan Pola
Nafas Tidak Efektif. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 15(1), 34-42.
Venanda Putri Sholihah, Venanda.(2022).Hubungan Response Time Dengan
Tingkat Keparahan Stroke Di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr.
Moewardi Surakarta. Diss. Universitas Kusuma Husada Surakarta.
Wati, Eno Apriliya. (2019). ‘Asuhan Keperawatan Stroke Hemoragik Pada Ny. B
dan Ny. M Dengan Masalah Keperawatan Hambatan Mobilitas Fisik Di
Ruang Melati RSUD Dr. 61 Haryoto Lumajang Tahun 2019’. Study
Literatur, Prodi D-III Keperawatan. Lumajang : Universitas Jember.
Wijaya, R. (2021). Manajemen Tekanan Intrakranial pada Pasien Stroke
Hemoragik. Jurnal Keperawatan Indonesia, 24(3), 187-195.
Yusnita, E. D., Darliana, D., & Amalia, R. (2022). Manajemen Keperawatan Pada
Pasien Stroke Hemoragik Di Ruang Saraf: Suatu Studi Kasus. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan, 6(1).
Rahman, A., Suryadi, T., & Widodo, S. (2018). Manajemen Perfusi Serebral pada
Pasien Stroke Hemoragik di Indonesia. Jurnal Neurologi Indonesia, 45(3),
210-217.
Nursalam. (2015). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai