0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan109 halaman

Transparansi Pengelolaan Dana Desa Nggorang

Skripsi ini menganalisis transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana desa di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan dana desa pada tahun 2021 telah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 dalam hal transparansi dan akuntabilitas. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Diunggah oleh

Rupina Aritonang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan109 halaman

Transparansi Pengelolaan Dana Desa Nggorang

Skripsi ini menganalisis transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana desa di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan dana desa pada tahun 2021 telah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 dalam hal transparansi dan akuntabilitas. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Diunggah oleh

Rupina Aritonang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN

DANA DESA PADA DESA NGGORANG, KECAMATAN KOMODO,


KABUPATEN MANGGARAI BARAT

SKRIPSI
Oleh:
Nama: Ulfa Afifah
No. Mahasiswa: 18312240

FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2022
ANALISIS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN DANA

DESA PADA DESA NGGORANG, KECAMATAN KOMODO, KABUPATEN

MANGGARAI BARAT

SKRIPSI

Disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu syarat untuk mencapaiderajat
Sarjana Strata-1 Program Studi Akuntansi pada Fakultas Bisnis dan Ekonomika
Universitas Islam Indonesia

Oleh:
Nama: Ulfa Afifah
NIM: 18312240

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS BISNIS DAN EKONOMIKA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2022

ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

iii
ANALISIS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN

DANA DESA PADA DESA NGGORANG, KECAMATAN KOMODO,

KABUPATEN MANGGARAI BARAT

SKRIPSI

Diajukan Oleh:

Nama:Ulfa Afifah

No. Mahasiswa: 18312240

Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing

Pada Tanggal: 15 November 2022

Dosen Pembimbing

Johan Arifin, S.E., [Link]., Ph.D., CFrA

iv
BERITA ACARA UJIAN TUGAS AKHIR SKRIPSI

v
MOTTO

Ikhtiar, Tawakal, Sabar, Ikhlas, lalu Bersyukur

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berilah kelapangan


didalam majelis-majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan
mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi
ilmu beberapa derajat. Dan Allah mahateliti apa yang kamu kerjakan.

(Al-Mujadalah:11)

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu. Dan siapa
yang menghendaki kehidupan akhirat, juga harus dengan ilmu”

(Imam Syafi’i)

“Terkadang kesulitan harus kamu rasakan terlebih dahulu sebelum kebahagiaan yang
sempurna datang kepadamu”

(RA. Kartini)

vi
HALAMAN PERSEMBAHAN

Skripsi ini ku persembahkan untuk:

Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Kedua Orang Tuaku, Abiku Syamsul Bahri dan Mamaku Nurmini sebagai support

system dunia akhiratku yang selalu ikhlas dalam berdoa untuk kedua anaknya dan

selalu meridhoi di setiap langkah anaknya. Tak lupa Kakakku Soraya yang selalu

memberikan motivasi dan dukungan dalam mengerjakan skripsi ini, serta Keluarga

besarku, Sahabat-sahabatku, Teman-teman seperjuanganku, Guru-guguku dan

Almamaterku tercinta.

vii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahirrabill’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan

kepada kehadirat ALLAH SWT tuhan semesta alam karena atas berkah rahmat dan

karunianya yang telah diberikan, Sholawat beserta salam semoga senantiasa

terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW., kepada keluarganya, sahabatnya dan

para pengikutnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul

“ANALISIS TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN

ALOKASI DANA DESA PADA DESA NGGORANG, KECAMATAN

KOMODO, KABUPATEN MANGGARAI BARAT”. Skripsi ini diajukan sebagai

syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata-1 pada program studi Akuntansi

Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna karena

kesempurnaan hanya milik Allah SWT., oleh karena itu, segala kritik dan saran yang

bersifat membangun dari para pembaca sangat diharapkan dan diterima dengansenang

hati. Dalam perjalanan menyelesaikan studi sampai ke tahap penyusunan skripsi

penulis memperoleh banyak dukungan, bantuan doa, bimbingan, motivasi, serta

bantuan tenaga dari berbagai pihak. Sehingga pada kesempatan kali ini dengan

viii
segenap ketulusan dan kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak syukur dan

terima kasih kepada:

1. Allah SWT., yang telah memberikan nikmat dan rahmatnya mulai dari

kesehatan, kekuatan, kemudahan, rezeki, rasa sabar, dan rasa syukur yang

tiada henti sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini

dengan baik.

2. Nabi Muhammad SAW., sebagai suri tauladan bagi seluruh umat manusia

3. Kedua orang tua yang penulis cintai, Abiku Syamsul Bahri dan Mamaku

Nurmini yang tiada henti mendoakan, memberikan dukungan, menasehati,

menjaga, membimbing, dan menyayangi sedari kecil. Terimakasih banyak

untuk semua ketulusan cinta dan kasih sayangnya, terimakasih banyak sudah

menjadi support system terbaik sampai saat ini, semoga diberikan umur yang

panjang dan bisa sama-sama terus sampai nanti.

4. Bapak Johan Arifin, S.E., [Link]., Ph.D., CfrA. selaku Dekan Fakultas Bisnis

dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia dan selaku dosen pembimbing

skripsi yang telah memberikan banyak waktu dan ilmunya dengan kesabaran,

keikhlasan dan memberikan kritik, nasihat serta arahan dan saran yang sangat

membantu penulis hingga tugas akhir skripsi ini dapat terselesaikan dengan

baik. Semoga segala yang diberikan menjadi amal jariyah dan bermanfaat bagi

penulis di kemudian hari.

5. Bapak Fathul Wahid, S.T., [Link]., PhD selaku rektor Universitas Islam

Indonesia

ix
6. Bapak Rifqi Muhammad, S.E., S.H., [Link]., Ph.D., SAS., ASPM selaku Ketua

Prodi Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia

7. Seluruh Dosen dan Staff Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam

Indonesia yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat

berharga selama penulis menempu pendidikan Strata-1

8. Kakak tercinta Soraya yang selalu memberikan dukungan baik moril maupun

materil, serta memberikan perhatian, motivasi, dan semangat yang tiada henti

hingga saat ini. Terimakasih atas cinta dan kasih sayangnya selama ini

9. Keluarga besar Ismail Karim dan Keluarga Besar H. Husen Ismail yang selalu

memberikan doa, perhatian, dan kasih sayang kepada penulis dari kecil hingga

sampai pada tahap ini

10. Sahabat Till Jannahku, Fidiyati Darmalian, Nining Andriyani Sutra Dewi, dan

Salmawati yang telah bersahabat sejak tahun 2012, selalu memberikan

motivasi, semangat dan menjadi tempat berkeluh kesah selama masa

perkuliahan sampai saat ini

11. Teman-teman seperjuangan dari MIN, MTSN dan MAN Labuan Bajo yang

telah memberikan banyak pengalam berharga dan cerita indah selama masa

sekolah yang selalu dikenang penulis hingga saat ini

12. Teman-teman OCB Kelas E yang sama-sama berjuang dari awal semester

sampai dengan perkuliahan ini selesai dan sama-sama ambis pada masanya:

Nadilah, Tasya, Naufal, Jerry, Ridho, Kifni, Khofiyya, Nyimas, Mely, Hanif,

Haris, Sekar, Ayung, Kartika, Vabi, Fani, Abizard, Fafa, Hafidh, Orin, Maul,

Astila, Akmal, Yupi, Ghazy, Caca, Novi, Agnes, Valdo, Mutia. Terimakasih

x
sudah banyak mewarnai dan memberikan cerita yang berkesan selama masa

perkuliahan.

13. Teman-teman Organisasi KOPMA FBE UII periode 2018/2019 dan teman-

teman Pengurus Toko KOPMA FE UII yang sudah mengajarkan arti

perjuangan, kesabaran, kerjasama, dan manajemen waktu dalam berorganisasi

kepada penulis semasa kuliah.

14. Teman-teman Organisasi Kepengurusan BAK UII periode 2019/2020 dan

periode 2020/2021 yang sudah mengajarkan arti kebersamaan, arti kerja sama

dalam tim dan arti pentingnya manajemen waktu kepada penulis. Terimakasi

banyak atas kerja samanya selama 2 periode.

15. Pemerintah Desa Nggorang yang sudah bersedia memberikan waktu dan

tenaga kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian untuk

kelengkapan skripsi.

16. Semua pihak yang telah banyak membantu dan berpartisipasi dalam

penyusunan skripsi ini, yang penulis tidak dapat sebutkan satu persatu.

xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ....................................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................... iv
BERITA ACARA UJIAN TUGAS AKHIR SKRIPSI ..................................... v
MOTTO ............................................................................................................ vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ vii
KATA PENGANTAR....................................................................................... viii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL ......................................................................................... ...xiv
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xv
ABSTRAK ......................................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................... 6
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................... 6
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................................ 6
1.5 Sistematika Penulisan ................................................................................... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DasarTeori .................................................................................................... 10
2.1.1 Teori Agensi ................................................................................. 10
2.1.2 Konsep Transparansi...................................................................... 12
2.1.3 Konsep Akuntabilitas ..................................................................... 17
2.1.4 Dana Desa...................................................................................... 24
2.1.5 Alokasi Dana Desa ......................................................................... 27
2.2 Penelitian Terdahulu ...................................................................................... 29
2.3 Kerangka Berpikir ......................................................................................... 33
BAB III METODE PENELITIAN

xii
3.1 Jenis Penelitian ............................................................................................... 34
3.2 Lokasi Penelitian ............................................................................................ 34
3.3 Subjek Penelitian ............................................................................................ 35
3.4 Jenis dan Sumber Data .................................................................................... 36
3.5 Teknik Pengumpulan Data .............................................................................. 37
3.6 Analisis Data .................................................................................................. 38
3.7 Pengujian Keabsahan Data .............................................................................. 41
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Desa Nggorang ................................................................... 44
4.1.1 Sejarah Desa ................................................................................... 44
4.1.2 Pertumbuhan Penduduk .................................................................. 45
4.1.3 Struktur Organisasi Desa................................................................. 45
4.1.4 Gambaran Umum Pengelolaan Keuangan Desa ............................... 48
4.2 Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa ................................................. 50
4.3 Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa ................................................ 53
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan...................................................................................................... 75
5.2 Keterbatasan Penelitian .................................................................................... 77
5.3 Saran ............................................................................................................... 77
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 78
LAMPIRAN ......................................................................................................... 81

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Indikator Transparansi ......................................................................... 13


Tabel 2.2 Indikator Akuntabilitas ........................................................................ 20
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu ........................................................................... 28
Tabel 3.1 Informan Penelitian ............................................................................. 34
Tabel 3.2 Teknik Pemeriksaan ............................................................................ 40
Tabel 4.1 Kelompok Penduduk Berdasarkan Umur ............................................. 43
Tabel 4.2 APBDes Desa Nggarong ..................................................................... 46
Tabel 4.3 Indikator Kesesuaian Transparansi ...................................................... 49
Tabel 4.4 Indikator Kesesuaian Akuntabilitas ..................................................... 54
Tabel 4.5 Indikator Kesesuaian Akuntabilitas ..................................................... 58
Tabel 4.6 Buku Kas Umum ................................................................................. 62

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ........................................................................... 32


Gambar 3.1 Model Analisis Data ........................................................................ 39
Gambar 4.1 Struktur Pemerintah Desa Nggorang ................................................ 44

xv
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji apakah Transparansi


pengelolaan Dana Desa Tahun 2021 pada Desa Nggorang di Kecamatan Komodo,
Kabupaten Manggarai Barat telah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
dan untuk mengetahui dan menguji apakah Akuntabilitas pengelolaan Dana Desa
Tahun 2021 pada Desa Nggorang di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai
Barat telah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan
pendekatan analisis deskriptif. Penelitian ini dilakukan di Desa Nggorang, Kecamatan
Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Teknik pengumpulan data menggunakan
teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Haisl penelitian menunjukkan bahwa
transparansi pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Desa Nggorang pada tahun 2021
sudah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Akuntabilitas tahap
perencanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Desa Nggorang tahun 2021 dimana
penerapannya sudah sesuai dan berpedoman pada Permendagri Nomor 113 Tahun
2014. Akuntabilitas tahap pelaksanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa Pada Desa
Nggorang tahun 2021 telah akuntabel dan berpedoman pada Permendagri Nomor 113
Tahun 2014.

Kata Kunci: Transparansi, Akuntabilitas, Dana Desa

ABSTRACT

This study aims to find out and test whether the transparency of village fund
management in 2021 in Nggorang Village in Komodo District, West Manggarai
Regency is in accordance with Permendagri Number 113 of 2014 and whether the
accountability of village fund management in 2021 in Nggorang Village in Komodo
District, West Manggarai Regency is in accordance with Permendagri Number 113
of 2014.
The type of research used is qualitative research with a descriptive analysis
approach. This research was conducted in Nggorang Village, Komodo District, and
West Manggarai Regency. Data collection techniques use observation, interviewing,
and documentation techniques. Haisl's research shows that the transparency of
village fund allocation management in Nggorang Village in 2021 is in accordance
with Permendagri Number 113 of 2014. Accountability of the planning stage of
managing the Village Fund Allocation in Nggorang Village in 2021, where the
implementation is appropriate and guided by Permendagri Number 113 of 2014. The
accountability of the implementation stage of the management of the Village Fund
Allocation in Nggorang Village in 2021 has been guided by Permendagri Number
113 of 2014.

Keywords: Transparency, Accountability, Village Fund

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 desa merupakan

kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang mempunyai

wewenang untuk mengatur dan mengurus semua urusan seperti

penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan kepentingan

masyarakat yang ada berdasarkan prakarsa masyarakat, hak atas asal usul,

dan hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan

negara indonesia. Perubahan sistem yang dimiliki pemerintah dari

sentralisasi pada masa orde baru menjadi desentralisasi yang membuat

perubahan kebijakan yang baru pada kewenangan pemerintah daerah itu

sendiri. Sistem sentralisasi yaitu sistem yang memusatkan pemerintah pusat

dalam menentukan arah pembangunan negara. Sistem tersebut dinilai

kurang efektif karena terdapat pembangunan yang kurang merata di seluruh

indonesia. Sedangkan sistem desentralisasi merupakan sistem pemerintah

daerah dalam menanggulangi pembangunan yang tidak merata serta untuk

meningkatkan fungsi-fungsi pelayanan pemerintah kepada masyarakat

sehingga hal tersebut akan menjadikan desa menjadi objek yang paling

penting terkait dengan pembangunan yang ada di seluruh indonesia.

Desa memiliki peran kunci dalam membantu pemerintah pusat dalam

pembangunan dan aspek lain dari penyelenggaraan pemerintahan. Jika

1
pembangunan di setiap desa dapat berjalan dengan cukup baik, maka tujuan

awal dari pemerintah pusat untuk pemerataan kesejahteraan dan

pembangunan yang adil akan dapat terwujud dengan baik. Namun, kondisi

beberapa daerah di wilayah indonesia belum sesuai dengan apa yang

diharapkan pemerintah pusat. Oleh karena itu, peran pemerintah daerah

dalam hal ini cukup diperlukan dalam otonomi daerah dikarenakan desa

memiliki hak kebebasan untuk membuat regulasi dan aturan dalam

kehidupan yang ada di desa sebelum diatur oleh pemerintah pusat. Peran

dari pemerintah daerah sangat diharapkan dapat membimbing serta

mengawasi setiap kebijakan maupun program yang dikerjakan pemerintah

desa supaya kewenangan yang diberikan kepada pemerintah desa dapat

dipertanggungjawabkan dari program-program yang dikelolah pemerintah

desa. Oleh karena itu, kepala desa maupun aparatur desa yang lain

diwajibkan untuk memahami fungsi dan tugas pokok yang berguna untuk

meningkatkan kinerja dari pemerintah desa agar menjadi lebih baik lagi

sehingga program-program yang telah direncanakan oleh pemerintah desa

dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu, desa saat ini

menjadi salah satu objek perhatian dan pengawasan dalam kinerja

pemerintah daerah.

Menurut Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014, dana desa merupakan

dan yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi desa yang

ditransfer melalui APBD Kabupaten/Kota dan digunakan untuk membiayai

penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan

2
kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat. Sejak tahun 2015, desa

mendapatkan sumber anggaran baru yaitu dana desa yang bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sehingga setiap desa

akan mengelola tambahan anggaran berupa dana desa yang akan diterima

secara bertahap. Pembagian dana yang akan diberikan ke desa dihitung

berdasarkan empat faktor utama yaitu berdasarkan jumlah penduduk desa,

berdasarkan luas wilayah desa, dan berdasarkan angka kemiskinan dan

kesulitan geografis yang ada di desa. Dana desa akan diprioritaskan untuk

membiayai pelaksanaan kegiatan dan program kerja berskala lokal dalam

bidang pembangunan desa seperti sarana dan prasarana permukiman,

ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan dan untuk membiayai bidang

pemberdayaan masyarakat yaitu program yang bertujuan untuk

meningkatkan kapasitas masyarakat desa dalam pengembangan wirausaha,

peningkatan pendapatan, serta perluasan skala ekonomi individu warga atau

kelompok masyarakat.

Pemendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengelolaan

keuangan Desa yang merupakan perubahan dari permendagri nomor 37

Tahun 2007 yang diharapkan dapat menjadi pedoman dalam pengelolaan

keuangan desa karena didalamnya telah mencakup berbagai prosedur

pengelolaan keuangan desa mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan,

penatausahaan, pelaporan sampai dengan tahap pertanggungjawaban.

Disamping itu Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 ini mengharuskan agar

pengelolaan keuangan desa dilakukan secara transparan, akuntabel dan

partisipatif serta tertib dan disiplin anggaran. Penelitian ini akan


3
menjelaskan bagaimana akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana

desa yang mengambil objek penelitian di Desa Nggorang Kecamatan

Komodo Kabupaten Manggarai Barat.

Di laman website resmi Media Indonesia pada November 2019 dengan

judul “34 Desa di Manggarai Barat Bermasalah dalam Penggunaan dan

Pengelolaan Dana Desa” mengungkap bahwa kasus ini pertama kali

ditemukan oleh tim Audit Inspektorat Manggarai Barat pada tahun 2018.

Kasus ini terjadi disebabkan oleh penggunaan dana desa dan syarat

administrasi desa yang terjadi penyimpangan dan tidak sesuai dengan

peraturan hukum yang ada. Disebutkan juga pada penelitian (Widagdo,

Widodo, dan Ismail, 2016) bahwa masih ada pihak yang menganggap

kemampuan para pemerintah desa apalagi di daerah yang masih rendah dan

belum siap tersebut justru sangat menghawatirkan akan membawanya ke

jalur hukum. Dalam pengelolaan dana desa, akan ada risiko yang terjadi

karena kesalahan baik berupa administratif maupun substantif yang dapat

mengakibatkan terjadinya permasalahan dikarenakan kompetensi di desa

yang belum memadai mulai dari aparat desa, penatausahaan, pelaporan dan

pertanggungjawaban keuangan desa. Hal tersebut bisa saja terjadi akibatnya

pemerintah desa yang akan mendapatkan pendanaan program dan kegiatan

dari berbagai sumber seperti APBN dan APBD yang membuat konsekuensi

pemerintah desa harus mampu mengelola dana tersebut secara transparan

dan akuntabel.

4
Beberapa penelitian sebelumnya telah melakukan pengujian terhadap

akuntabilitas dan transparansi pemerintah desa dalam pengelolaan Dana

Desa seperti: Muntahanah, Murdijaningsi (2013) dan Aprilia (2014)

dimana penelitian tersebut menganalisis tentang akuntabilitas dan

transparansi terhadap beberapa desa yang ada. Dengan adanya penelitian

tersebut, penulis berusaha menguji tingkat akuntabilitas dan transparansi

pemerintah desa dalam mengelola kinerja keuangan dengan objek

penelitian yang berbeda yaitu pemerintah desa yang ada di Kecamatan

Komodo, Labuan Bajo dengan menggunakan laporan pertanggungjawaban

Alokasi Dana Desa tahun 2021 dengan menggunakan metode kualitatif

dikarenakan agar peneliti lebih membahas secara rinci dan detail tentang

masalah keuangan dan Pengelolaan Dana Desa yang ada di desa Nggorang

dengan menggunakan metode wawancara dan dokumentasi. Dengan

demikian, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tugas akhir

yang berjudul “Analisis Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Dana

Desa Pada Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai

Barat”.

5
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan

dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah Transparansi dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa pada tahun

2021 pada Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai

Barat sudah baik?

2. Apakah Akuntabilitas pengelolaan Alokasi Dana Desa pada tahun 2021

pada Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat

sudah baik?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menguji apakah Transparansi pengelolaan Dana

Desa Tahun 2021 pada Desa Nggorang di Kecamatan Komodo, Kabupaten

Manggarai Barat telah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

2. Untuk mengetahui dan menguji apakah Akuntabilitas pengelolaan Dana

Desa Tahun 2021 pada Desa Nggorang di Kecamatan Komodo, Kabupaten

Manggarai Barat telah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat terkait dengan sistem

Transparansi dan Akuntabilitas pengelolaan Dana Desa pada tahun 2021 di

Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Berikut

beberapa manfaat yang dapat dikontribusikan oleh peneliti melalui hasil

penelitian ini

6
1. Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dan gambaran mengenai

kondisi pertanggungjawaban pelaksanaan pengelolaan dana desa sehingga

dapat meningkatkan akuntabilitas dalam pengelolaannya khususnya di desa

Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat dan juga

sebagai bahan evaluasi bagi para aparat desa mengenai cara pengelolaan

Alokasi Dana Desa yang baik dan benar khusunya di daerah Kabupaten

Manggarai Barat.

2. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi

peneliti serta dapat mengetahui informasi kinerja dalam pemerintahan desa

khususnya pada desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten

Manggarai Barat.

3. Bagi penelitian selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat memberi pandangan kepada calon peneliti

selanjutnya khususnya yang akan melakukan penelitian yang berkaitan

dengan pengelolaan Dana Desa.

4. Bagi Masyarakat Desa

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan bagi masyarakat

desa setempat mengenai pengelolaan Dana Desa yang ada di desa Nggorang

7
sehingga masyarakat desa dapat berpartisipasi dan mensukseskan

pelaksanaan Alokasi Dana Desa.

1.5 Sistematika Penulisan

Penulisan skripsi dengan judul Analisis Transparansi dan Akuntabilitas

Pengelolaan Dana Desa pada Desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten

Manggarai Barat tersusun dalam lima bab dengan sistematika penulisan sebagai

berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi tentang latar belakang masalah yang menjelaskan

mengenai arti penting dari penelitian, apa yang di teliti, dan untuk

apa penelitian ini dilakukan. Sehingga permasalahan-permasalahan

yang ada untuk di bahas akan membuat suatu rumusan masalah,

tujuan dari penelitian, manfaat yang akan di peroleh, serta

sistematika penulisan yang ada.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini berisi tentang teori-teori yang digunakan dalam penelitian

ini yang mana nantinya teori ini akan menjadi dasar dalam

penyususnan penelitian ini. Dalam bab ini juga akan dikemukakan

mengenai tinjauan penelitian terdahulu tentang pengelolaan dana

desa.

8
BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini berisi tentang penjelasan jenis penelitian yang dipilih dalam

penelitian, jenis data yang dipilih, teknik pengumpulan data, dan

metode analisis yang akan digunakan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi tentang gambaran umum objek penelitian dan

pembahasan yang menjelaskan tentang temuan-temuan yang di

dapatkan selama melakukan penelitian di kantor desa Nggorang.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil pembahasan penelitian

yang dilakukan dan memberikan saran untuk perbaikan pada

penelitian yang ada di masa yang akan datang terkait dengan

pengelolaan dana desa.

9
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

2.1.1 Teori Agensi

Teori Agensi (Agency theory) merupakan basis teori yang mendasari

praktik bisnis perusahaan yang dipakai selama ini. Teori tersebut berakar

dari sinergi teori ekonomi, teori keputusan, teori sosiologi, dan teori

organisasi. Praktik utama dari teori ini menyatakan bahwa adanya

hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang (principal) yaitu

masyarakat desa dengan pihak yang menerima wewenang (agen) yaitu

pemerintah desa. Hubungan antara agen dan prinsipal untuk melakukan

kegiatan khusus untuk prinsipal dan bertanggung jawab atas tugas yang

didelegasikan oleh prinsipal. Agen berhak atas pembayaran dari prinsipal

untuk layanan yang diberikan oleh agen. Konflik keagenan muncul ketika

agen dan prinsipal memiliki kepentingan yang bertentangan (Bandariy,

2011).

Hubungan antara teori keagenan dengan penelitian ini adalah

pemerintah desa yang bertindak sebagai agen yang harus menetapkan

strategi tertentu agar dapat memberikan pelayanan terbaik dalam

mengelola Alokasi Dana Desa untuk masyarakat sebagai pihak prinsipal.

Pihak prinsipal dalam hal ini masyarakat desa tentu menginginkan hasil

kinerja yang baik berupa transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan

dana desa. Akuntabilitas dalam hal ini adalah kewajiban para pemegang

amanah atau pemerintah desa untuk memberikan pertanggungjawaban,


10
menyajikan, melaporkan, serta mengungkapkan semua aktivitas dan

kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah

(principals) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta

pertanggungjawaban sehingga kepala desa beserta aparatur desa lainnya

harus dapat mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pelaksanaan

kebijakan yang dipercayakan kepada entitas dalam mencapai tujuan yang

telah ditetapkan secara periodik. Transparasi dalam hal ini memberikan

informasi keuangan yang jujur dan terbuka kepadamasyarakat berdasarkan

pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara

terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam

pengelolaan dana desa yang dipercayakan kepadanya dan ketaatanya yang

sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Widagdo, Widodo, dan

Ismail, 2016).

Menurut Eisenhardt (1989) menyatakan bahwa teori agensi

menggunakan3 (tiga) asumsi sifat manusia yaitu: 1. Manusia pada umumnya

mementingkandiri sendiri (self interest); 2. Manusia memiliki daya pikir

yang terbatas mengenai persepsi masa yang akan datang (bounded

rationality); 3. Manusia selalu menghindari resiko (risk averse). Dari

asumsi sifat dasar manusia tersebut dapat dilihat bahwa konflik agensi yang

sering terjadi antara pemerintah desa dengan masyarakat desa yang dipicu

karena adanya sifat dasar tersebut. Aparat pemerintah dalam mengelola

perusahaan cenderung mementingkan kepentingan pribadi dari pada

kepentingan untuk meningkatkan nilai suatu organisasi atau pemerintahan.

Dengan adanya perilaku tersebut, pemerintah yang bertindak sesuai

dengan kepentingan mereka sendiri padahal sebagai aparat pemerintah

11
seharusnya seharusnya memihak kepada kepentingan rakyatnya karena

mereka adalah pihak yang memberi kuasa aparat pemerintah untuk

menjalankannya.

2.1.2 Konsep Transparansi

a. Pengertian Transparansi

Transparansi adalah prinsip keterbukaan yang memungkinkan

masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi yang

seluas-luasnya. Dengan adanya transparansi akan menjamin akses atau

kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang

penyelenggaraan pemerintah seperti informasi tentang kebijakan, proses

pembuatan dan pelaksanaannya, seta hasil-hasil yang akan dicapai. Tata

pemerintahan yang baik mensyaratkan adanya keterlibatan, keterbukaan

dan kemudahan akses bagi masyarakat terhadap proses penyelenggaraan

pemerintah yang dapat memberikan pengaruh untuk mewujudkan berbagai

indikator lainnya (Sujarweni, 2015).

Transparansi menjadi sangat penting bagi pelaku fungsi-fungsi pemerintah

dalam menjalankan mandat dari masyarakat. Mengingat pemerintah saat

memiliki kewenangan mengambil berbagai keputusan penting yang akan

berdampak bagi orang banyak, pemerintah juga harus menyediakan

informasi yang lengkap mengenai apa saja yang dikerjakannya. Dengan

adanya transparansi, kebohongan akan sulit untuk disembunyikan. Dengan

demikian, transparansi menjadi instrumen penting yang dapat

menyelamatkan uang rakyat dari perbuatan korupsi. Dengan dilakukannya

transparansi tersebut, publik atau masyarakat akan memperoleh informasi

yang aktual dan faktual sehingga mereka dapat menggunakan informasi

12
tersebut untuk (Wahyuni, 2019):

1. Membandingkan kinerja keuangan yang akan dicapai dengan

yang direncanakan.

2. Menilai ada dan tidaknya korupsi dan manipulasi dalam

perencanaan, pelaksanaan, dan laporan pertanggungjawaban

terhadap anggaran yang digunakan.

3. Menentukan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan

terkait dengan pengelolaan dana desa.

4. Mengetahui hak dan kewajiban masing-masing pihak yaitu

antara pemerintah desa dengan masyarakat dan dengan pihak

lain yang terkait.

Transparansi berarti keterbukaan (openness) pemerintah dalam

memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumber

daya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi

(Mardiasmo, 2012). Salah satu prinsip-prinsip good governance adalah

transparansi aparatur desa dan sistem manajemen publik yang harus

mengembangkan sistem akuntabilitas dan keterbukaan. Pemerintah desa

yang baik (good governance) sasaran pokoknya adalah terwujudnya

penyelenggaraan pemerintahan yang profesional, berkepastian hukum,

transparan, akuntabel, bertanggungjawab kepada pihak dalam

mengembankan amanah dalam hal ini masyarakat desa. Transparansi

pengelolaan keuangan publik merupakan prinsip good governance yang

harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik dalam hal ini pemerintah desa.

Dengan dilakukannya transparansi tersebut, maka publik akan

memperoleh informasi yang aktual dan faktual.

13
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 tentang pedoman pengelolaan

keuangan daerah, menyebutkan bahwa transparan adalah prinsip

keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan

mendapatkan akses informasi seluas-luasnya tentang keuangan daerah

dalam hal ini dana desa. Dengan adanya transparansi akan menjamin akses

atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang

penyelanggaraan pemerintahan yakni informasi tentang kebijakan, proses

pembuatan dan pelaksanaan serta hasil-hasil yang telah dicapai.

Indikator transparansi menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

tentang pengelolaan keuangan desa yang dilakukan untuk mengukur dan

menggambarkan penelitian ini meliputi:

Tabel 2.1

Indikator Transparansi

No Indikator
1. Kegiatan pencatatan kas masuk maupun kas keluar dapat diakses
dengan mudah oleh masyarakat. Serta ada papan pengumuman
mengenai kegiatan yang sedang dijalankan mulai dari proses
perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan pertanggungjawaban.

14
2. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi
pelaksanaan APBDesa diinformasikan kepada masyarakat serta tertulis
dan dengan media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat
seperti website.
3. Laporan pertanggungjawaban dan laporan realisasi pelaksanaan
APBDesa disampaikan paling lambat 1 bulan setelah akhir tahun
anggaran berekenaan.
Sumber: Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

Laporan keuangan daerah dapat dikatakan transparan apabila

memenuhi syarat peraturan yang tertuang dalam Permendagri Nomor 113

tahun 2014 adalah :

a. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan dana

desa diinformasikan kepada masyarakat secara tertulis.

b. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi

pelaksanaan dana desa diinformasikan dengan media informasi yang

mudah diakses oleh masyarakat antara lain papan pengumuman, radio

komunikasi dan media informasi lainnya.

c. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi

pelaksanaan dana desa disampaikan kepada Bupati melalui Camat.

d. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan dana desa

disampaikan paling lambat satu bulan setelah akhir tahun anggaran

berkenaan.

15
b. Prinsip-Prinsip Transparansi

Dalam mewujudkan transparansi tentunya harus memenuhi beberapa

prinsip. Humanitarian Forum Indonesia (HFI) telah menggariskan enam

prinsip transparansi, antara lain (Irfan, 2017):

1) Masyarakat memiliki akses dan dapat dengan mudah memahami

informasi, seperti rincian pandangan, strategi pelaksanaan, dan

program atau opsi dukungan.

2) Tersedianya publikasi dan media yang menggambarkan jalannya

peristiwa dan informasi keuangan.

3) Tersedianya laporan berkala tentang penggunaan sumber daya dalam

pengembangan proyek yang dapat dilihat oleh masyarakat umum.

4) Laporan tahunan.

5) Situs web atau outlet media organisasi.

6) Petunjuk penyebaran informasi.

Didjaja (2003), prinsip transparansi juga mencakup perencanaan

pemerintah, dan ini mencakup hal-hal berikut:

a. Transparansi selama pertemuan penting ketika publik diundang

untuk menyuarakan ide-ide mereka.

b. Membuat informasi publik tentang materi yang harus diketahiu

masyarakat umum.

c. Transparansi dalam metode yang digunakan untuk mempersiapkan

dan mengambil keputusan.

16
d. Pengungkapan dalam register yang memuat fakta hukum, seperti

tanah, buku, dan catatan sipil.

e. Kesediaan untuk menerima keterlibatan dari masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas, beberapa prinsip yang disebut dalam

penelitian ini antara lain adanya keterbukaan informasi yang mudah

dipahami oleh masyarakat, publikasi informasi keuangan mengenai Dana

Alokasi Desa, dan adanya laporan berkala mengenai pengelola Alokasi

Dana Desa (ADD) yang dilakukan oleh pemerintah desa kepada

masyarakat.

Karena adanya kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam

pengambilan keputusan melalui, misalnya, musyawarah desa yang

dilakukan melalui musyawarah, penyebaran berbagai informasi yang

selama ini hanya tersedia bagi pemerintah akan membantu mengurangi

tingkat ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Proses pengambilan

keputusan mengenai pengelolaan dana desa.

2.1.3 Konsep Akuntabilitas

a. Pengertian Akuntabilitas

Akuntabilitas adalah mempertangguangjawabkan pengelolaan sumber

daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipecayakan kepada entitas pelaporan

dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periode. Akuntabilitas

dalam penyelenggaraan daerah untuk mempertanggungjawabkan

pengelolaan dan pelaksanaan pemerintahan di daerah dalam rangka otonomi

17
daerah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui media

pertanggungjawaban yang terukur baik dari kualitasnya maupun dari segi

kuantitasnya.

Akuntabilitas adalah salah satu kewajiban untuk memberikan

pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan segala

aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawab para pengambil

keputusan kepada pihak yang telah memberikan amanah, hak, dan

kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban (Mardiasmo, 2012).

Akuntabilitas publik terdiri atas 2 macam menurut (Mardiasmo, 2012)

yaitu:

1. Akuntabilitas vertikal (vertical accountability)

Akuntabilitas vertikal adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan

dana desa kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya

pertanggungjawaban unit-unit kerja kepada pemerintah daerah,

pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada pemerintah pusat dan

pertanggungjawaban pemerintah pusat kepada MPR.

2. Akuntalibilitas horisontal (horizontal accountability)

Akuntabilitas horisontal adalah peeranggungjawaban kepada

masyarakat yang lebih luas.

Akuntabilitas perlu dilakukan melalui media yang selanjutnya dapat

dikomunikasikan kepada pihak internal maupun pihak eksternal secara

periode maupun secara tak terduga sebagai suatu kewajiban hukum dan

bukan karena sukarela. Akuntabilitas mempunyai 2 (dua) tipe yaitu:

18
1) Akuntabilitas Internal

Akuntabilitas ini berlaku untuk setisp tingkatan dalam organisasi

internal penyelenggaraan negara termasuk pemerintah dimana setiap

jabatan atau petugas publik baik individu atau kelompok yang

berkewajiban untuk mempertanggungjawabkan kepada atasan langsung

mengenai perkembangan kinerja atau hasil pelaksanaan kegiatan secara

periodik atau sewaktu-waktu jika diperlukan.

2) Akuntabilitas Eksternal

Akuntabilitas ini terdapat pada setiap lembaga negara sebagai suatu

organisasi untuk mempertanggungjawabkan semua amanat yang telah

diterima dan juga dilaksanakan untuk kemudian dikomunikasikan

kepada pihak eksternal dan lingkungannya.

Mardiasmo (2012) menjelaskan terdapat empat dimensi

akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik, yaitu:

1) Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountability

for probity and legality). Akuntabilitas kejujuran terkait dengan

penghindaran penyalahgunaan jabatan (abuse of power),

sedangkan akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya

kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain yang disyaratkan

dalam penggunaan sumber daya publik.

2) Akuntabilitas proses (process accountability). Akuntabilitas ini

terkait dengan apakah yang digunakan dalam melaksanakan tugas

19
sudah cukup baik dalam hal kecukupan informasi akuntabilitas,

sistem informasi manajemen, dan prosedur administrasi.

3) Akuntabilitas program (program accountability). Akuntabilitas ini

terkait dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat

dicapai atau tidak, dan apakah telah mempertimbangkan alternatif

program yang memberikan hasil yang optimal dan biaya yang

minimal.

4) Akuntabilitas kebijakan (policy accountability). Akuntabilitas ini

terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah, baik pusat

maupun pemerintah daerah atas kebijakan-kebijakan yang diambil

pemerintah terhadap DPR/DPRD dan masyarakat luas.

Untuk menilai kinerja pemerintah desa dalam menyelenggarakan

pemerintahan harus dengan parameter dan tolak ukur yang pasti. Hak ini

dimaksudkan agar kesinambungan pembangunan dan pelayanan publik

dapat dikontrol dengan kriteria yang terukur. Kemampuan pemerintah desa

salam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dalam pelaksanaan jabatannya

yang menjadi tanggungjawab. Parameter kinerja pemerintah harus dijadikan

acuan untuk menilai apakah suatu program yang direncanakan berhasil atau

tidak dan upaya untuk mengevaluasi kinerja pemerintah yang telah

dilakukan pada periode tertentu.

Indikator akuntabilitas menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

tentang pengelolaan keuangan desa, dilakukan untuk mengukur dan

menggambarkan penelitian ini, meliputi :

20
Tabel 2.2
Indikator Akuntabilitas

No Indikator
1. Tahapan Perencanaan
a. Sekretaris desa akan menyusun rancangan peraturan desa tentang
APBDesa berdasarkan RKPDesa untuk tahun berkenaan.
b. Sekretaris desa akan menyampaikan rancangan peraturan desa
tentang APBDesa kepada kepala desa.
c. Rancangan peraturan desa tentang APBDesa disampingkan oleh
kepada desa kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk dibahas
dan disepakati bersam.
d. Rancangan peraturan desa tentang APBDesa yang telah disepakati
bersama disampaikan oleh kepada desa Bupati melalui Camat.
2. Pelaksanaan
a. Semua penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka
melaksanakan kewenangan desa dilakukan melalui rekening kas
desa yang dimiliki.
b. Pelaksanaan semua kegiatan mengajukan surat Permintaan
Pembayaran (SPP) kepada kepala desa.
c. Sekretaris desa menerima SPP dari kepala desa dan
memverifikasikan.
d. SPP yang sudah diverifikasi sekretaris desa, kemudian kepala desa
menyetujui permintaan pembayaran dan bendahara melakukan
pembayaran serta melakukan pencatatan pada pengeluaran dana
desa.
3. Penatausahaan
a. Wajib dilaksanakan oleh Bendahara Desa
b. Pencatatan setiap penerimaan dan pengeluaran
c. Melakukan tutup buku setiap akhir bulan
d. Mempertanggungjawabkan uang melalui laporan

21
e. Laporan disampaikan setiap bulan kepada Kepala Desa paling
lambat tgl 10 bulan berikutnya
f. Menggunakan Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak, dan
Buku Bank
4. Pelaporan dan Pertanggungjawaban
a. Kepala desa akan menyampaikan laporan kepada Bupati melalui
Camat yang terdiri dari laporan realisasi pelaksanaan APBDesa
semester pertama dan semester akhir tahun.
b. Laporan realisasi pelaksanaan APBDesa semester pertama paling
lambat bulan juli tahun berjalan dan semester akhir paling lambat
akhir bulan januari tahun berikutnya.
c. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan PBDesa
disampaikan setiap akhir tahun anggaran yang terdiri dari
pendapatan, belanja, dan pembiayaan, dimana ditetapkan dengan
peraturan desa.
Sumber: Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

b. Prinsip Akuntabilitas

Menurut Mardiasmo (2012) ada tiga prinsip utama yang mendasari

pengelolaan keuangan daerah dalam hal ini dana desa:

1. Prinsip transparasi atau keterbukaan. Transparansi disini memberikan

arti bahwa masyarakat desa memiliki hak dan akses yang sama untuk

mengetahui proses anggaran karena menyangkut aspirasi dan keinginan

masyarakat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat

banyak.

2. Prinsip akuntabilitas adalah prinsip pertanggungjawaban publik yang

berarti bahwa proses penganggaran mulai dari perencanaan,

penyusunan, dan pelaksanaan yang harus benar-benar dapat dilaporkan

22
dan dipertanggungjawabkan masyarakat dan pihak yang berwenang.

Masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk megetahui anggaran

tersebut tapi juga berhak untuk menuntut pertanggungjawaban atas

rencana atau pelaksanaan anggaran yang dilakukan pemerintah desa.

3. Prinsip value for money. Prinsip ini berarti diterapkannya tiga pokok

dalam proses penganggaran yaitu efektif, efisien, dan ekonomis. Efektif

dapat diartikan bahwa penggunaan anggaran tersebut harus mencapai

target atau tujuan dalam kepentingan masyarakat. Efisien adalah

penggunaan dana masyarakat tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang

maksimal atau memiliki daya guna. Sedangkan ekonomis adalah

pemilihan dan penggunaan sumber daya dalam jumlah dan kualitas

tertentu dengan harga yang murah.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa akuntabilitas

bertujuan untuk memberikan penanggungjawaban kepada pihak yang

berkepentingan yaitu masyarakat atas dana yang akan digunakan

pemerintah desa untuk meningkatkan kinerja pemerintah dalam

peningkatan dan pemberian pelayanaan kepada masyarakat.

Dalam pelaksanaan akuntabilitas dilingkungan instansi pemerintah,

dalam Syahadatina (2017) terdapat prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staff instansi

untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel.

23
2. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin

penggunaan sumber-sumber daya secara konsisten dengan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran

yang telah ditetapkan.

4. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan

manfaat yang akan diperoleh.

5. Harus jujur, objektif, transparan dan inovatif sebagai perubahan

manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran

metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan

akuntabilitas.

2.1.4 Dana Desa

Dana desa sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 6

Tahun 2014 adalah dana yang ditransfer dari Anggaran Pendapatan dan

Belanja Negara (APBN) ke desa melalui anggaran pendapatan dan belanja

daerah kebupaten/kota. Dana tersebut digunakan untuk mendanai

penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan, pembangunan, pengembangan

masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat. Berikut ini adalah tujuan dari

penyaluran dana desa:

a. Meningkatkan keamanan perintah desa dalam melaksanakan

tanggung jawabnya terhadap pembangunan dan masyarakat.

24
b. Meningkatkan kemampuan kelembagaan lokasi untuk berpartisipasi

dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian pembangunan

sesuai denagan potensi desa yang sudah ada.

c. Mempromosikan perluasan swadaya masyarakat pedesaan dan

gotong royong.

Dana desa adalah dana yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan

belanja daerah (APBD) kabupaten/kota yang berasal dari anggaran

pendapatan dan belanja negara (APBN) dan diperuntukan bagi desa.

Mereka digunakan untuk mendanai penyelenggaraan pemerintah,

pelaksanaan pembangunan, pengembangan masyarakat, dan pemberdayan

masyarakat. Setiap tahun, pemerintahaan mengalokasikan uang tunai untuk

desa melalui APBN. 10% dari total anggaran disisihkan untuk desa secara

langsung, dengan 90% sisanya berasal dari pembayaran transfer daerah.

Bupati atau Walikota menghitung besarnya uang desa untuk setiap desa

di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran dana di setiap

kabupaten/kota. Peraturan Bupati atau Walikota mengatur proses

pengolokasian dan penghitungan jumlah uang desa di setiap desa.

Berdasarkan jumlah penduduk, luar wilayah, angkat kemiskinan, dan

tingkat kesulitan geografis masing-masing desa, dengan bobot 30% untuk

jumlah penduduk desa, 20% untuk wilayah desa dan 50% untuk angka

kemiskinan desa.

25
a. Pendapatan Desa

Sumber dana yang diterima melalui rekening kas desa, yang jatuh tempo

ke desa sekali (sekali) dalam satu tahun anggaran dan tidak memerlukan

pembayaran kembali oleh desa, termasuk dalam pendapatan masyarakat.

Pasal 72 UU Desa menyebutkan bahwa sumber pendapatan desa adalah

sebagai berikut:

1. Pendapatan yang dihasilkan secara lokal.

2. Alokasi anggaran untuk penerimaan dan pengeluaran negara

(APBN).

3. Porsi pajak daerah dan distribusi yang masuk ke kabupaten dan

kota.

4. Pembagian uang desa.

5. Dukungan keuangan yang diberikan oleh APBD provisi data kota.

6. Hibah dan kontribusi tidak wajib dari sumber luar.

7. Tambahan pendapatan desa yang sah.

b. Pembiayaan Desa

Penerimaan pembiayaan desa mencakup:

1. Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya

SiLPA sebagaimana dimaksud antara lain pelampauan

penerimaan pendapat terhadap balanja, penghematan belanja, dan

sisa dari kegiatan lanjutan. SiLPA yang dimaksud merupakan

pembiayaan yang digunakan untuk:

26
1) Menutupi defisi anggaran apabila realisasi pendapatan lebih

kecil daripada belanja.

2) Mendanai pelaksanaan kegiatan lanjutan.

3) Mendanai kewajiban lainnya yang sampai dengan akhir

tahun anggaran belum diselesaikan.

2. Pencairan Dana Cadangan

Pencairan dana cadangan digunakan untuk menganggarkan

pencairan dana cadangan dari rekening dan cadangan ke rekening

kas desa dalam tahun berkenaan.

3. Hasil penjualan kekayaan yang dipisahkan

Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan akan

digunakan untuk menggambarkan hasil penjualan kekayaan desa

yang dipisahkan.

2.1.5 Alokasi Dana Desa

Alokasi Dana Desa (ADD) merupakan dana yang harus dialokasikan

oleh pemerintah kabupaten untuk desa. Itu berasal dari sebagian dana

perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima dari kabupaten, yang

digunakan 70% untuk belanja publik dan pemberdayaan masyarakat dan

30% untuk biaya kepegawaian dan operasional.

Syachbrani (2012) Alokasi Dana Desa (ADD) adalah bagian dari

keuangan desa yang diperoleh dari bagian hasil pajak daeah dan bagian dari

dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh

kabupaten. Tujuan dari alokasi dana desa ini adalah sebagai berikut:

27
a. Penanggulangan kemiskinan dan penganggaran kesenjangan.

b. Peningkatan perencanaan dan penganggaran pembangunan

ditingkat desa dan pemberdayaan masyarakat.

c. Peningkatan infrastruktur yang ada di pedesaan.

d. Peningkatan pengamalan nilai-nilai keagamaan dan sosial budaya

dalam rangka mewujudkan peningkatan sosial desa.

e. Meningkatkan pendapatan desa melalui Badan Usaha Milik Desa

(BUMDesa).

Alokasi Dana Desa (ADD) adalah dana yang dialokasikan

pemerintah kabupaten/kota kepada desa. Berasal dari sebagian dana

perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima kabupaten/kota dan

digunakan untuk membiayai program pemerintah desa yang

menyelenggarakan kegiatan pemerintahan, mengembangkan masyarakat

desa, dan memberi kekuatan lebih. Untuk mendorong peningkatan swadaya

masyarakat, kelembagaan masyarakat di desa dapat lebih siap untuk

merencanakan, melaksanakan, dan mengatur pembangunan secara

partisipatif sesuai dengan potensi desa untuk meningkatkan pemerataan

pendapatan dan prospek lapangan kerja (Wida, 2016).

Prinsip-prinsip pengelolaan ADD berikut harus dipatuhi dalam

penatausahaan keuangan Alokasi Dana Desa (ADD) yang merupakan aspek

integral dari pengelolaan keuangan desa dalam APBDes:

28
1. Semua proyek yang didanai ADD memenuhi syarat untuk perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi terbuka di bawah prinsip panduan dari, oleh,

dan untuk masyarakat.

2. Semua tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan secara

administratif, teknis, dan hukum.

3. Gagasan alokasi dana desa (ADD) yang hemat, terarah, dan terkendali

dapat dipraktikkan.

4. Jenis kegiatan yang akan dibiayai melalui ADD sangat terbuka untuk

peningkatan fasilitas pelayanan masyarakat berupa pemenuhan

kebutuhan pokok, penguatan kelembagaan desa, dan kegiatan lain yang

dibutuhkan masyarakat desa yang diputuskan melalui musyawarah.

5. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) harus memuat

catatan berupa Alokasi Dana Desa (ADD), dan tata cara

penganggarannya harus mengikuti mekanisme terkait.

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.3
Penelitian Terdahulu

No Peneliti Variabel yang Hasil penelitian


digunakan
1. Basri dan Nabiha, Pandangan umum Berdasarkan temuan studi
(2014) pemerintah daerah tersebut, jelas bahwa masalah
Aceh, khususnya status otonomi Provinsi Aceh
mengenai masalah khususnya telah
pemerintahan dan mengakibatkan pemasukan
akuntabilitas sumber daya keuangan yang

29
signifikan. Namun, pada saat
ini, pemerintah daerah
kurang memiliki keahlian
dan kemampuan untuk
mengelola sumber daya
keuangan dengan baik.
Ketiadaan perencanaan dan
penganggaran keuangan,
serta kelemahan dalam
sistem pelaporan keuangan,
sangat terkait dengan
masalah akuntabilitas ini.

30
2. Farida, (2015) Mengetahui Berdasarkan hasil penelitian
seberapa jauh ini menunjukkan bahwa
penerapan prinsip- transparansi dan akuntabilitas
prinsip transparansi di Desa Sidogedungbatu
dan akuntabilitas sudah baik.
kepala desa dalam Pertanggungjawaban ADD
pengelolaan baik secara teknis maupun
APBDes di Desa administrasi sudah baik,
Sidogedungbatu namun dalam hal
Kecamatan pertanggungjawaban
Sangkapura administrasi keuangan
Kabupaten Gresik kompetensi sumber daya
manusia pengelola
merupakan kendala utama
sehingga masih memerlukan
pendamping dari aparat
pemerintah daerah untuk
menyesuaikan perubahan
aturan setiap tahun.
3. Riharjo, (2016) Transaparansi dan Berdasarkan hasil penelitian
akuntabilitas ini menunjukkan bahwa
pemerintah desa pemerintah Desa Bomo
dalam pengelolaan Kecamatan Ragojampi telah
alokasi dana desa melaksanakan prinsip-prinsip
di desa Bomo akuntabilitas yang baik pada
Kecamatan pengelolaan ADD.
Ragojampi Perencanaan dan pelaksanaan
Kabupaten alokasi dana desa tersebut
Banyuwangi. telah menerapkan prinsip
transparansi dan akuntabilitas

31
seperti dalam hal
pertanggungjawaban
keuangan terkendala
kompetensi SDM dalam
pengelolaan dana desa.
4. Nurodin, (2017) Memgetahui Berdasarkan hasil dari
transparansi, penelitian ini menunjukkan
akuntabilitas dan bahwa transparansi dan
manajemen akuntabilitas berpengaruh
keuangan yang ada secara signifikan terhadap
di Desa pengelolaan keuangan yang
artinya semakin tinggi
transparansi dan akuntabilitas
maka semakin bagus
manajemen keuangan yang
ada di desa tersebut.
5. Christianingrum, Mengetahui Berdasarkan hasil dari
(2018) akuntabilitas dalam penelitian ini menunjukkan
pengelolaan dana bahwa Desa-desa yang ada di
desa yang ada di Kabupaten Bangka telah
Kabupaten Bangka menerapkan prinsip
akuntabilitas mulai dari
perencanaan, pelaksanaan
dan pelaporan bila diukur
dari 5 prinsip akuntabilitas
yang terdiri dari kewajiban,
pengendalian,
tanggungjawab dan
responsivitasi.

32
2.3 Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir analisis Transparansi dan Akuntabilitas Alokasi

Dana Desa di Desa Nggorang Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai

Barat dapat digambarkan dalam bagan kerangka berpikir sebagai berikut:

Gambar 2.1
Kerangka Berpikir

Analisis Transparansi dan Akuntabilitas


Pengelolaan Dana Desa Nggorang Tahun 2021

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang


Pengelolaan Dana Desa

1. Apakah penerapan Transparansi pengelolaan Dana Desa pada Desa


Nggorang telah sesuai dengan Permendagri No. 113 Tahun 2014

2. Apakah penerapan Transparansi pengelolaan Dana Desa pada Desa


Nggorang telah sesuai dengan Permendagri No. 113 Tahun 2014

Pelaporan &
Perencanaan Pelaksanaan Penatausahaan
Pertanggungjawaban

Data Data
Wawancara Dokumentasi

Analisi Data

Deskripsi Hasil
Penelitian

Kesimpulan

33
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan

pendekatan analisis deskriptif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang

bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dinilai oleh subjek

penelitian misalnya prilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain.

Penelitian deskriptif kualitatif menjelaskan dalam bentuk kata-kata dan bahasa,

pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai

metode alamiah. Penelitian kualitatif diharapkan mampu menghasilkan

penelitian serupa uraian yang mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau

prilaku yang dapat diamati dalam suatu konteks tertentu yang dikaji dari sudut

pandang yang utuh dan komprehensif (Moleong, 2018).

Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mendeskripsikan

bagaimana para pemerintah desa mampu memahami sistem transparansi dan

akuntabilitas terhadap alokasi dana desa melalui data yang dikumpulkan

dengan menjelaskan berupa kata-kata dengan model pendekatan kualitatif yang

tertuang dalam penelitian ini.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Nggorang, Kecamatan Komodo,

Kabupaten Manggarai Barat dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara

penerapan transparansi dan akuntabilitas terhadap pengelolaan keuangan dana

desa dan untuk mengetahui gaya kepemimpinan yang berpengaruh terhadap

34
kinerja pemerintah desa terhadap kesejahteraan masyarakat desa. Durasi waktu

yang digunakan dalam penelitian ini adalah selama satu (1) bulan yaitu pada

bulan Januari tahun 2022.

3.3 Subjek Penelitian

Dalam sebuah penelitian tentunya harus ada subjek dalam hal ini

informan yang dapat memberikan beberapa informasi yang dipercaya dapat

memberikan informasi yang dibutuhkan dengan akurat sesuai denganketentuan

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 yang meliputi:

Tabel 3.1
Informan Penelitian
No Informan Penelitian Jumlah Keterangan
Informan
1. Kepala Desa 1 Orang Bertanggungjawab terhadap
Nggorang penyelenggaraan dan
penggunaan dana desa.
2. Sekretaris 1 Orang Bertanggungjawab terhadap
penataan administrasi dan
pengelolaan dana.
3. Bendahara 2 Orang Bertanggungjawab terhadap
penatausahaan pengeluaran
dan penerimaan dana desa
serta melakukan pencatatan
seluruh transaksi keuangan
yang disertai dengan laporan.
4. Kaur Pembangunan 1 Orang Bertanggungjawab terhadap
pembangunan yang dilakukan
pemerintah desa.
5. BPD (Badan 1 Orang Bertanggungjawab dalam
Permusyawaratan membahas dan menyepakati
Desa) rancangan peraturan desa
bersama kepala desa.
6. Masyarakat 2 Orang Sebagai penerima hasil dari
pembangunan yang ada
didesa. Kriteria masyarakat
yaitu masyarakat yang
memahami tentang
bagaimana proses dan

35
mekanisme pengelolaan dana
desa.
Jumlah 8 Orang
Sumber: Data yang diolah peneliti

3.4 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang pertama kali dicatat dan dikumpulkan

oleh peneliti yang diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pihak

yang kompeten yang telah ditentukan seperti kepala desa, sekretaris,

bendahara,kaur pembangunan, dan perwakilan masyarakat desa Nggorang

yang berguna untuk mengetahui informasi dan data yang berkaitan dengan

transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana desa. Informan yang

dipilih adalah informan yang terlibat langsung serta memahami dan dapat

memberikan informasi tentang pengelolaan keuangan desa yang ada di

desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sudah tersedia dan dikumpulkan

pihak lain, sehingga peneliti tinggal memanfaatkan data tersebut sesuai

kebutuhannya. Data sekunder dalam penelitian ini berupa dokumen-

dokumen yang dibutuhkan oleh peneliti seperti: laporan APBDesa tahun

2021, peraturan perundang-undangan yang terkait dengan transparansi dan

akuntabilitas pengelolaan dana desa yang dilakukan oleh pemerintah desa

Nggorang. Selain itu, adanya riset kepustakaan yaitu teknik pengumpulan

36
data yang dilakukan dengan mempelajari buku-buku referensi, jurnal,

laporan-laporan dan media berita yang berkaitan dengan obyek penelitian.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data yang

sistematis terhadap objek penelitian yang akan digunakan baik secara

langsung maupun secara tidak langsung (Hardani, 2020). Dalam

pelaksanaanya, peneliti menggunakan metode observasi/ pengamatan untuk

mengetahui secara langsung apa saja yang terdapat di lapangan tentang

penerapan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan

keuangan dana desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai

Barat.

2. Wawancara

Untuk mengumpulkan data dan informasi yang valid dan akurat, maka

pengumpulan data yang utama peneliti akan melakukan wawancara secara

langsung kepada informan yang kompeten dalam bidang pengelolaan dana

desa, serta mencatat kejadian serta informasi hasil wawancara dari

informan yang kemudian dijadikan sebagai bahan penulisan laporan hasil

penelitian.

Informan yang kompeten dalam pengelolaan dana desa yaitu orang-

orang yang memiliki pengetahuan atau sebagai partisipan untuk menggali

informasi dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan

atau tugas yang dijalankan sesuai dengan bidangnya masing-masing

37
diantaranya: kepala desa, sekretaris, bendahara, kaur pembangunan dan

masyarakat sebagai penerima hasil dari pengelolaan dana desa tersebut.

3. Dokumentasi

Menurut (Hardani, 2020) dokumentasi merupakan cara mengumpulkan

data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen yang sudah ada. Dokumen

yang digunakan dalam penelitian ini adalah informasi yang disimpan atau

didokumentasikan seperti dokumen, data soft file, foto danarsip lainnya

yang berkaitan dengan transparansi dan akuntabilitas penyusunan laporan

keuangan dana desa Nggorang yang dapat digunakan sebagai data

pelengkap dari data yang diperoleh dalam kegiatan wawancara dan

observasi.

3.5 Analisis Data

Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan

cara mendeskripsikan atau menggambarkan secara utuh dan nyata mengenai

transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa Nggorang. Adapun analisa data

yang dilakukan dengan cara membandingkan penerapan transparansi dan

akuntabilitas pemerintah desa dalam pengelolaan alokasi dana desa yang sesuai

dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014.

Menurut Miles dan Huberman (1992) dalam Hardani (2020) menjelaskan

bahwa ada tiga (3) jalur analisis data kualitatif yang dapat terjadi secara

bersamaan yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display),

dan penarikan kesimpulan/verifikasi (conclusion drawing/verifications).

1. Reduksi Data (Data reduction).

38
Hal pertama yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

mengumpulkan data primer melalui wawancara dan data sekunder yang

terkait dengan pengelolaan yang mencakup dari proses perencanaan,

pelaksanaan sampai ke tahap pelaporan dan pertanggungjawaban.

Kemudian setelah data tersebut diperoleh, peneliti akan melakukan

pemilihan data yang penting dan melakukan penyederhanaan terhadap

data yang diperoleh dari lokasi penelitian.

Reduksi data merupakan bagian dari analisis. Reduksi data

merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan,

mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data

dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan-kesimpulan finalnya

dapat ditarik dan diverifikasi. Mereduksi data berarti merangkum,

memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting,

dicari tema polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan

memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti

untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila

diperlukan. Reduksi data dapat dibantu dengan cara membuat ringkasan

dan membuat memo.

Tahap reduksi ini merupakan tahap awal dalam analisis data yang

dilakukan dengan tujuan untuk mempermudah peneliti dalam

memahami data yang telah diperoleh. Reduksi data dilakukan dengan

memilih dan menyeleksi setiap data yang masuk dari hasil observasi,

wawancara, dan dokumentasi, kemudian mengolah dan memfokuskan

39
semua data mentah agar lebih bermakna.

2. Penyajian Data (Data Display)

Langkah kedua yang dilakukan dalam penelitian ini adalah

penyajian data. Penyajian data adalah sekumpulan informasi tersusun

yang memberikan kemungkinan untuk adanya penarikan simpulan dan

atau pengambilan tindakan. Penyajian data dapat membantu peneliti

dalam memahami apa yang terjadi dan untuk melakukan rencana kerja

selanjutnya. Bentuk penyajian data kualitatif dalam penelitian ini adalah

berupa teks naratif yang berbentuk wawancara dan dokumentasi. Proses

ini dilakukan penyajian data dari hasil wawancara yang dituangkan

dalam bentuk teks kemudian dokumen-dokumen yang sudah diperoleh

akan dievaluasi dengan menggunakan indikator yang sesuai dengan

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014.

3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verifications)

Langkah ketiga yang paling penting adalah menarik kesimpulan dan

verifikasi terhadap informasi atau data yang telah di dapatkan di lokasi

penelitian. Dalam penelitian ini, penarikan kesimpulan tersebut

dikaitkan dengan pedoman undang-undang yang mengatur pengelolaan

dana desa agar bisa dikatakan transparan dan akuntabel yaitu

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014.

40
Secara skematis proses analisis data menggunakan model analisis data

interaktif yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dapat dilihat pada

gambar berikut:

Gambar 3.1
Model analisis data menurut Miles dan Huberman

Pengumpulan Penyajian
Data Data

Reduksi Penarikan
Data Kesimpulan/
Verifikasi

3.6 Pengujian Keabsahan Data

Suatu penelitian kualitatif dapat dikatakan sebagai suatu karya ilmiah

apabila terdapat tingkat kepercayaan data. Oleh karena itu, peneliti

menggunakan teknik keabsahan data untuk mempertanggungjawabkan

penelitiannya. Untuk menentukan keabsahan data, maka diperlukan teknik

pemeriksaan. Dalam teknik pemeriksaan terdapat 4 kriteria tertentu yaitu

kredibilitas (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan

41
(dependability), dan kepastian (confirmability) yang masing-masing

memiliki teknik pemeriksaan sebagai berikut (Moleong, 2018):

Tabel 3.2
Teknik Pemeriksaan

KRITERIA TEKNIK PEMERIKSAAN


Credibility Perpanjangan keikutsertaan
Ketekunan pengamatan
Triangulasi
Pengecekan Sejawat
Kecukupan referensial
Kajian kasus negative
Pengecekan anggota

Transferability Uraian rinci


Dependability Audit kebergantungan
Confirmability Audit kepastian
Sumber: Moleong 2018

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kriteria kredibilitas data dengan

menggunakan dua macam teknik pemeriksaan yaitu triangulasi dan kecukupan

referensi. Menurut Moleong (2018) Triangulasi adalah teknik pemeriksaan

keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain dalam membandingkan hasil

wawancara terhadap objek penelitian. Selain itu, triangulasi dapat digunakan untuk

mengecek kebenaran data juga dilakukan untuk memperkaya data.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pemeriksaan triangulasi yang

berguna untuk pemeriksaan keabsahan data dengan memeriksa berbagai bukti yang

berasal dari sumber-sumber data yang berbeda tersebut serta menggunakannya

untuk membangun justifikasi tema tersebut secara terkait. Peneliti akan melakukan

42
perbandingan dari sumber yang berbeda yaitu sesuai dengan penelitian ini,

menggunakan hasil wawancara dengan pertanyaan yang sama pada beberapa subjek

(Informan) yang terkait.

Selain itu, peneliti menggunakan teknik pemeriksaan kecukupan referensial

yaitu suatu teknik untuk melakukan perbandingan atau pengecekan terhadap

kebenaran maupun kesesuaian data melalui alat bantu yang digunakan peneliti

selama proses penelitian dalam mengumpulkan data sehingga teknik ini dapat

digunakan sebagai pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh

peneliti. Alat-alat bantu tersebut berupa: perekam suara, bukti dokumentasi (foto),

dokumen pendukung, dan sebagainya.

43
BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Desa Nggorang

4.1.1 Sejarah Desa

Desa Nggorang merupakan salah satu dari tujuh belas desa yang ada di

wilayah Kecamatan Komodo yang terletak di sebelah timur dengan luas

wilayah 1.178,8 Ha. Desa Nggorang awalnya berdiri bersama desa induk

yang dikenal dengan nama desa Golo Bilas. Dikarenakan keadaan penduduk

yang semakin padat serta pelayanan pendekatan kepada masyarakat yang

semakin sulit maka terjadilah proses pemekaran wilayah desa Golo Bilas

yang terjadi pada bulan juli tahun 1997. Dari hasil pemekaran wilayah, desa

tersebut diberi nama desa Nggorang karena seluruh masyarakat desa pada saat

itu masih mempertahankan kekuasaan kedaluan Nggorang. Yang menjabat

sebagai kepala desa pada saat itu dan sampai sekarang adalah bapakAbubakar

Sisik. Desa Nggorang masuk dalam kategori desa definitif pada tahun 2000

sampai saat ini.

Berdasarkan data perhitungan yang ada, luas keseluruhan wilayah desa

Nggorang adalah sebesar 1.178,8 Ha dengan perbatasan meliputi: sebelah

utara berbatasan dengan desa Pota Wangka, sebelah selatan berbatasan

dengan desa Compang Longgo, sebelah timur berbatasan dengan desa Watu

Nggelek, dan sebelah barat berbatasan dengan desa Golo Bilas.

44
4.1.2 Pertumbuhan Penduduk

Desa Nggorang memiliki jumlah keseluruhan penduduk adalah

sebanyak 2.122 jiwa dengan komposisi penduduk laki-laki sebanyak 1.117

jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 1.005 jiwa dengan jumlah keluarga

sebanyak 541 KK yang tersebar di tiga dusun dan 13 RT. Dari jumlah

penduduk tersebut, dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah perdusun,

meliputi:

Tabel 4.1

Kelompok Penduduk Berdasarkan Dusun

No Dusun Jumlah L P Total L+P


KK
1. Dusun I 196 404 361 765
2. Dusun II 162 336 302 638
3. Dusun III 183 377 342 719
Jumlah 541 1117 1005 2122
Sumber: profil desa Nggorang tahun 2021

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk

terbanyak pada desa Nggorang di dominasi oleh Dusun I dengan jumlah 765

jiwa dengan total 404 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 361 jiwa berjenis

kelamin perempuan.

4.1.3 Struktur Organisasi Desa

Dalam melaksanakan pemerintahan desa, terdapat pembagian wewenang

dari masing-masing aparatur desa sebagai bentuk perwujudan kemandirian

desa sehingga pembagian wewenang dalam menjalankan pemerintahan desa

sangat diperlukan agar pemerintah desa dapat terselenggara dengan baik

45
sesuai dengan undang-undang yang telah ditentukan. Pembagian wewenang

dari masing-masing dari aparatur desa diwujudkan dengan adanya struktur

organisasi dari tiap-tiap desa. Berikut adalah struktur organsisasi pemerintah

desa Nggorang, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat padatahun

2021 sampai saat ini.

Gambar 4.1 Struktur Pemerintah Desa Nggorang tahun 2021

Berdasarkan struktur organisasi pemerintah desa Nggorang dapat

dijelaskan sebagai berikut:

46
a. Kepala Desa

Kepada desa adalah pejabat pemerintah desa yang bertugas dalam

menyelenggarakan pemerintahan desa, melaksanakan pembangunan desa,

pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan masyarakat desa.

b. Sekretariat Desa

Sekrtariat desa adalah pejabat pemerintah desa yang bertugas dalam

menyelenggarakan administrasi kesekretariatan yang dipimpin oleh

sekretaris desa dan dibantu oleh unsur staf sekretariat yang terdiri dari Kaur

Keuangan (Bendahara), Kaur Pembangunan, dan Kaur Umum yang masing-

masing di pimpin oleh kepala urusan.

c. Pelaksana Teknis

Pelaksana teknis adalah pejabat pemerintah desa yang bertugas dalam

melaksanakan tugas dan wewenang pekerjaan yang ada di desa secara teknis

yang terdiri dari: Seksi Kesejahteraan, Seksi Pemerintahan, dan Seksi

Pelayanan yang masing-masing dipimpin oleh kepala seksi.

d. Pelaksana Kewilayahan

Pelaksana kewilayahan adalah bagian dari aparatur desa yang bertugas

untuk mewakili masing-masing wilayah kerja yang dilaksanakan oleh

kepala dusun masing-masing yang terdiri tiga (3) dusun.

Selain perangkat desa yang ada menjalankan roda pemerintahan desa,

terdapat pula Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang berkoordinasi

dengan kepala desa berkaitan dengan menetapkan peraturan yang ada di desa

serta menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat desa.

47
4.1.4 Gambaran Umum Pengelolaan Kuangan Desa

Pengelolaan keuangan desa diatur dalam dua rencana kerja, yaitu RPJM

(Rencana Pembangunan Jangka Menengah) desa dan RKP (Rencana Kerja

Pembangunan) desa yang termasuk dalam APBDes (Anggaran Pendapatan

Belanja Desa) yang berisi tentang informasi program yang akan dikerjakan

dalam satu tahun berjalan. Berikut ini adalah realisasi pelaksanaan

pengelolaan keuangan desa Nggorang:

Tabel 4.2

Anggaran Pendapatan Belanja Desa Pemerintah Desa Nggorang


Tahun anggaran 2021

Kode Uraian Anggaran Bertambah Keterangan


Rekening (Rp.) (Berkurang)
Semula Menjadi
PENDAPATAN
Pendapatan Transfer [Link],00 [Link],00 (52.607.355)
Dana Desa 768.800.000,00 768.800.000,00 0,00 DDS
Bagi Hasil Pajak dan 66.612.300,00 63.288.945,00 (3.323.355) PBH
Retribusi
Alokasi Dana Desa 339.552.000,00 290.268.000,00 (49.284.000) ADD
Pendapatan Lain-lain 2.000.000,00 2.000.000,00 0,00
Bunga Bank 2.000.000,00 2.000.000,00 0,00
JUMLAH [Link],00 [Link],00 (52.607.355)
PENDAPATAN
BELANJA
BIDANG 432.653.923,25 382.981.395,25 (49.672.582)
PENYELENGGARAAN
PEMERINTAH DESA
Penyelenggaraan Belanja 379.893.923,25 333.312.395,25 (46.572.528) ADD, PBH,
Siltap, Tunjangan dan DLL
Operasional Pemerintah
Desa
(Maksimal 30% untuk
kegiatan)
Penyediaan sarana 3.100.000,00 0 (3.100.000) PBH, DDS
prasarana Pemerintah
Desa

48
Administrasi 16.150.000,00 16.150.000,00 0,00 DDS, ADD,
Kependudukan, PBH
Pencatatan Sipil, Statistik
dan Kearsipan
Tata Praja Pemerintahan, 27.510.00,00 27.510.000,00 0,00 DDS
Perencanaan, Keuangan
dan Pelaporan
Sub Bidang Pertanahan 6.000.000,00 6.000.000,00 0,00 PBH
BIDANG 130.740.000,00 130.740.000,00 0,00
PELAKSANAAN
PEMBANGUNAN
DESA
Sub Bidang Kesehatan 127.845.000,00 127.845.000,00 0,00 DDS
Sub Bidang Perhubungan, 2.886.000,00 2.886.000,00 0,00 DDS
Komunikasi dan
Informatika
BIDANG PEMBINAAN 8.380.905,00 5.446.078,00 (2.934.827)
KEMASYARAKATAN
Sub Bidang Ketentraman 3.900.000,00 3.900.000,00 0,00 PBH
dan Ketertiban Umum
dan Perlindungan
Masyarakat
Sub Bidang Kelembagaan 4.480.905,00 1.546.078,00 (2.934.827) ADD, PBH
Masyarakat
BIDANG 6.640.000,00 6.640.000,00 0,00
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
Sub Bidang Peningkatan 6.640.000,00 6.640.000,00 0,00 ADD
Kapasitas Aparatur Desa
BIDANG 612.000.000,00 612.000.000,00 0,00
PENANGGULANGAN
BENCANA, DARURAT
DAN MENDESAK
DESA
Sub Bidang Keadaan 612.000.000,00 612.000.000,00 0,00 DDS
Mendesak
JUMLAH BELANJA [Link],25 [Link],25 (52.607.355)
SURPLUS/ (DEFISIT) (13.450.528,25) (13.450.528,25) 0,00
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan (13.450.528,25) (13.450.528,25) 0,00
PEMBIAYAAN NETO (13.450.528,25) (13.450.528,25) 0,00
SISA LEBIH/ 0,00 0,00 0,00
(KURANG)
PEMBIAYAAN
ANGGARAN
Sumber: ABPDesa Nggorang Tahun 2021

49
4.2 Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa

Transparansi merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan

masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi yang seluas-

luasnya tentang keuangan daerah. Dengan adanya transparansi tersebut akan

menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi

tentang penyelenggaraan pemerintahan seperti informasi tentang kebijakan,

proses pembuatan dan pelaksanaanya serta hasil yang telah di capai.

Transparansi diadakan atas dasar arus informasi yang terbuka dan bebas.

Seluruh proses yang dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga, hal

yang berhubungan dengan informasi wajib untuk dapat diakses olehmasyarakat

luas dan informasi tersebut harus memadai dan mudah dimengerti. Berikut ini

adalah informasi yang diperoleh mengenai transparansi yang didapatkan dari

hasil wawancara dengan beberapa informan desa Nggorang.

“jadi sebenarnya pemerintah desa itu sudah transparanmemberikan


informasi mengenai kegiatan keuangan yang ada di desa kepada
masyarakat setempat seperti adanya papan informasi yang berada di
depan kantor, kemudian setiap tahun juga kita pasang informasi
APBDes berupa banner yang di tempel di samping pintu kantor desa
dan kita juga menyimpan informasi tersebut di halaman situs web yang
dimiliki kantor desa” (Informan 1)

“ya itu tadi, dengan membuat papan informasi, RKPDes perubahan


untuk setiap pembangunan biasanya menyimpan papan informasi
dengan total jumlah anggaran yang dikeluarkan. Kemudian selain itu
pemerintah desa juga menyimpan informasi tersebut di halaman situs
web. Kemudian kita umumkan, kita musyawarahkan, menginformasikan
bahwa anggaranya yang keluar sekian, itulah bentuk transparansi dari
pemerintah desa Nggorang. Jadi isi dari papan informasi itu berupa
volume luas pembangunanya berapa, lebarnya berapa, di bangun
kapan dan diselesaikan sampai batas waktu kapan serta besaran
anggaran yang akan dikeluarkan. Selain itu, bentuk transparansi yang
dibuat desa Nggorang yaitu memasang baliho APBDes perubahantahun
anggaran yang sudah berjalan”. (Informan 3)
50
Tabel 4.3
Indikator Kesesuaian Transparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa menurut
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pasal 40-41

No Indikator Hasil Wawancara Keterangan


Informan 1 Informan 2
1. Kegiatan pencatatan Pencatatan kas Pencatatan kas S
kas masuk maupun masuk dan kas masuk dan kas
kas keluar dapat keluar dapat di keluar dapat di oleh
diakses dengan akses dengan mudah masyarakat melalui
mudah oleh oleh masyarakat halaman web serta
masyarakat serta serta terdapat papan terdapat papan
informasi mengenai pengumuman pengumuman
kegiatan yang informasi mengenai informasi mengenai
sedang dijalankan dana yang akan dana yang akan
pemerintah desa. digunakan dalam digunakan dalam
kegiatan yang kegiatan yang
sedang di jalankan sedang di jalankan
pemerintah desa pemerintah desa
2. Laporan realisasi Laporan realisasi Laporan realisasi S
dan laporan dan laporan dan laporan
pertanggungjawaban pertanggungjawaban pertanggungjawaban
pelaksanaan pelaksanaan pelaksanaan
APBDesa APBDesa APBDesa
diinformasikan diinformasikan diinformasikan
kepada masyarakat. kepada masyarakat kepada masyarakat
berupa banner yang berupa banner yang
dipasang didepan dipasang didepan
kantor desa kantor desa
3. Laporan realisasi Laporan realisasi Laporan realisasi S
dan laporan dan laporan dan laporan
pertanggungjawaban pertanggungjawaban pertanggungjawaban
pelaksanaan ADD realisasi realisasi
akan disampaikan pelaksanaan ADD pelaksanaan ADD
kepada sudah di sampaikan sudah di sampaikan
Bupati/Walikota kepada Bupati kepada Bupati
melalui Camat. melalui perantara melalui perantara
Camat berupa LKPJ Camat berupa LKPJ
Sumber: Hasil wawancara dengan kedua informan pemerintah desa terkait
transparansi yang sesuai dengan indikator Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

Keterangan:
S= Sesuai, TS= Tidak Sesuai, BT= Belum terjadi

51
Pada Penelitian Mardiasmo (2018) juga dijelaskan bahwa transparansi

merupakan prinsip yang menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang

untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan desa,

yaitu informasi tentang kebijakan, proses perencanaan dan pelaksanaannya,

serta hasil-hasil yang dicapai. Selain itu, transparansi yakni adanya kebijakan

terbuka bagi pengawasan, sedangkan yang dimaksud dengan informasi adalah

informasi mengenai setiap aspek kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau

oleh masyarakat. Upaya dalam meningkatkan pengelolaan alokasi dana desa

harus terbuka atas semua informasi yang didapatkan serta melibatkan

masyarakat didalamnya. Keterbukaan atau informasi yang didapat dan

keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa adalah awal

dari perencanaan penyusunan dana desa melalui musyawarah rencana

pembangunan (musrenbang). Pada saat musyawarah rencana pembangunan

usulan pembangunan adalah berdasarkan pada skala prioritas yang langsung

diusulkan oleh publik. Pelaksanaan dari musyawarah rencana pembangunan

yang sudah disusun pemerintah desa berdasarkan skala prioritas harus sesuai

dengan usulan pada saat musyawarah rencana pembangunan. Sehingga

semakin transparan pemerintah desa terhadap perencanaan pembangunan dan

pengelolaan keuangan, maka semakin mudah dalam mewujudkan Good

Village Governance.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, Transparansi pengelolaan ADD pada

Desa Nggorang secara penerapannya sudah sesuai dengan Permendagri Nomor

113 Tahun 2014 dimana setiap kegiatan yang ada di Desa, Pemerintah desa

52
sudah melakukan pencatatan kas masuk maupun kas yang keluar. Dengan

adanya papan pengumuman informasi mengenai kegiatan yang sedang

dijalankan maka masyarakat dengan mudah mengetahui berapa nominal yang

dikeluarkan pemerintah desa dalam menjalankan kegiatan pelaksanaan yang

ada di Desa. Adanya laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban

realisasi pelaksanaan APBDesa yang diinformasikan kepada masyarakat secara

tertulis dan dengan menggunakan media yang mudah di akses masyarakat

seperti adanya baliho Laporan APBDesa yang tertempel didepan kantor desa,

situs website dan Grup Whatsapp. Selain itu, Laporan realisasi dan Laporan

Pertanggungjawaban pelaksanaan APBDesa akan di sampaikan kepada Bupati

melalui pihak Kecamatan sebagai bentuk transparansi Pemerintah Desa

Nggorang..

4.3 Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa

Keberhasilan akuntabilitas Alokasi Dana Desa sangat dipengaruhi

olehkebijakan dan penerapannya. Tetapi, didalam pelaksanaannya tergantung

bagaimana pemerintah melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap

pengelolaan dana desa dalam mendukung terbukanya informasi secara baik dan

jelas kepada masyarakat desa, sehingga setiap kegiatan fisik ADD yang ada di

desa supaya di pasang papan informasi kegiatan dimana lokasi kegiatantersebut

dilaksanakan. Sehingga untuk mewujudkan pelaksanaan prinsip- prinsip

akuntabiitas tersebut maka diperlukan adanya kepatuhan pemerintah desa

khususnya yang mengelola ADD untuk melaksanaknnya sesuai dengan

53
ketentuan yang berlaku baik dari proses perencanaan, pelaksanaan, sampai ke

tahap pelaporan dan pertanggungjawaban (Syahadatina 2017).

1. Tahap Perencanaan

Alokasi Dana Desa adalah salah satu pendapatan desa yang

penggunaanya tertuang didalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa

(APBDes) oleh karena itu, program perencanaan dan kegiatannya akan

disusun melalui Musyawarah Perencanaan Desa yang biasa disebut

Musrenbangdes. Musrenbangdes tersebut mengharuskan keterlibatan

masyarakat dalam pengambilan keputusan dan menentukan pembangunan

yang akan dilaksanakan.

Mekanisme tahap perencanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa di

Desa Nggorang dimulai dari membahas pokok permasalahan dari sarana

dan prasarana berbagai bidang, kemudian membahas pokok permasalahan

tersebut lewat Musrenbangdes yang mana musyawarah tersebut

diselenggarakan oleh pemerintah desa yang diikuti oleh perwakilan

masyarakat Desa dengan tujuan untuk membahas Rencana Kerja

Pembangunan (RKP) desa. Tahun 2021 Alokasi Dana Desa yang diterima

oleh pemerintah Desa Nggorang sebesar Rp. 290.268.000 yang rencana

penggunaannya untuk penyelenggaraan pemerintah desa, pembangunan

desa, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa.

Perencanaan pengelolaan ADD Desa Nggorang seperti hasil wawancara

yang dilakukan di Kantor Desa Nggorang, adalah:

“ada yang namanya musyawarah tingkat dusun atau


biasnaya disebut rapat bersama, nah jadi musyawarah tingkat

54
dusun ini biar lebih khusus terperinci apa kebutuhan masyarakat di
tiap wilayah dusun yang dipimpin. Di desa Nggorang sendiri
memiliki 3 dusun dimana dusun I membawahi RT 01-04, dusun II
membawahi RT 05-08, dan dusun III membawahi RT 09-13, jadi
fungsi musyawarah tingkat dusun ini biar lebih terperinci apa
kebutuhan tiap RT yang di pimpin kadus. Nah dari hasil
musyawarah dusun ini, pemerintah desa jadi tau dusun ini mau
pembangunan apa, RT ini mau pembangunan apa, dari situ
pemerintah desa akan tau dan merangkup mana yang lebih di
prioritaskan untuk di bangun. Karena rata-rata warga desa tidak
tau mana skala prioritas. Karna pembangunan yang mereka
inginkan ini kembali lagi kepada pemerintah desa maka pemerintah
desa akan membuat Musdes dengan tujuan apakah bisa di
realisasikan dengan anggaran dana desa yang di dapat. Kemudian
pemerintah desa akan melakukan Musyawarah tingkat akhir yang
biasa disebut Musrenbang ini biasanya di pimin oleh BPD, dimana
BPD ini diibaratkan sebagai perwakilan dari masyarakat. Nah, jadi
BPD ini yang akan mengatur musrenbang dalam menentukan
pembangunan untuk tahun atau periode berikutnya”. (Informan 1).

“jadi tugas saya sebagai sekretaris itu yang pertama


mengkoordinasi kaur keuangan, kaur pembangunan, dan kaur
umum juga, dan kasi juga pokoknya mengkoordinasi dalam semua
kegiatan yang ada di kantor desa ini Terus kalau di tanya soal
perencanaan yang ada di desa ini, sebelum melakukan perencanaan
eeee kita biasnya melakukan musyawarah jadi ada musyawarah
tingkat desa yang di dalamnya hanya ada pemerintah desa sendiri
dan dipimpin oleh kepala desa, tetapi sebelum itu ada yang
namanya Musdus nah itu musyawarah yang dilakukan setiap dusun
dan dipimpin oleh kepala dusun masing-masing, jadi musyawarah
itu tujuannya menampung aspirasi masyarakat mereka maunya apa,
atau mau pembangunan apa, terus nanti dikumpulkan semua
aspirasi tersebut. kemudian di lanjutkan dengan musyawarah
tingkat tinggi yaitu musrenbang yang biasanya dilakukan hampir di
akhir tahun untuk perencanaan RKP biasanya dihadiri oleh
pemerintah desa, BPD, terus ada perwakilan anak anak muda juga,
terus ada masyarakat biasa juga yang menghadiri musyawarah
tersebut. nah nanti disitu ditentukan mana prioritas pembangunan
desa yang lebih di utamakan, setelah kita musyawarah mana
pembangunan yang diutamakan atas kesepakatan bersama
kemudian membuat perencanaan sesuai dengan APBDesa yang

55
dijabarkan dalam RAB kemudian nanti diverifikasi dan disetujui
oleh kepala desa dan yang terakhir dana pembangunan tersebut
akan di cairkan oleh bendahara sesuai dengan nominal yang telah
ditentukan dan setelah itu akan disampaikan ke bupati melalui
kecamatan. (Informan 2).

Tabel 4.4
Indikator Kesesuaian Akuntabilitas Perencanaan Menurut
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

No Indikator Hasil Wawancara Keterangan


Informan 1 Informan 2
1. Sekretaris Sekretaris Desa Sekretaris Desa S
Desa akan menyusun akan menyusun
menyusun Rancangan Rancangan
Rancangan Peraturan Desa Peraturan Desa
Peraturan Desa tentang APBDesa tentang APBDesa
tentang yang sesuai yang sesuai
APBDesa dengan dengan
tahun RKPDesa. RKPDesa.
berkenaan.
2. Sekretaris Setelah Setelah S
Desa Rancangan Rancangan
menyampaikan Peraturan Peraturan
rancangan tersebut disusun, tersebut disusun,
peraturan Desa maka akan maka akan
tentang disampaikan disampaikan
APBDesa kepada Kepala kepada Kepala
kepada kepala Desa. Desa.
Desa.
3. Rancangan Rancangan Rancangan S
peraturan Desa peraturan Desa peraturan Desa
tentang tentang APBDesa tentang APBDesa
APBDesa akan dibahas dan akan dibahas dan
disampaikan disepakati disepakati
oleh kepala bersama oleh bersama oleh
Desa kepada kepala Desa dan kepala Desa dan
BPD untuk Badan Badan
dibahas dan Permusyawaratan Permusyawaratan
disepakati Desa. Desa.
bersama.
4. Rancangan Kemudian Kemudian S
peraturan Desa Kepala desa akan Kepala desa akan
tentang menyampaikan menyampaikan

56
APBDesa yang APBDesa yang APBDesa yang
telah telah disepakati telah disepakati
disepakati bersama kepada bersama kepada
bersama Bupati melalui Bupati melalui
disampaikan pihak pihak
oleh kepala Kecamatan. Kecamatan.
Desa kepada
Bupati melalui
Camat.
Sumber: Hasil wawancara dengan kedua Informan Pemerintah desa
Nggorang

Keterangan:

S= Sesuai, TS= Tidak Sesuai, BT= Belum Terjadi

Menurut Subroto (2009) mekanisme perencanaan ADD dimulai dari

Kepala Desa selaku penanggungjawab ADD mengadakan musyawarah

desa untuk membahas rencana penggunaan ADD, yang dihadiri oleh

unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa, lembaga

kemasyarakatan desa dan tokoh masyarakat, hasil musyawarah tersebut

dituangkan dalam Rancangan Penggunaan Dana (RPD) yang merupakan

salah satu bahan penyusunan APBDes. Adapun tahap perencanaan alokasi

dana desa terdiri dari: Pertama, sekretaris Desa menyusun Rancangan

Peraturan Desa tentang APBDesa berdasarkan RKPDesa tahun

berkenaan: Kedua, sekretaris Desa menyampaikan rancangan Peraturan

Desa tentangAPBDesa kepada Kepala Desa: Ketiga, rancangan peraturan

Desa tentang APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan

oleh Kepala Desa kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk dibahas

dan disepakati bersama. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa

57
disepakati bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) paling lambat

bulan Oktober tahun berjalan.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa

dalam perencanaan pengelolaan dana Desa pemerintah Desa Nggorang

akan memilah setiap sasaran dan masukan yang akan diajukan dari

masyarakat Desa ke pemerintah Desa Nggorang. Kemudian BPD yang

diibaratkan sebagai perwakilan suara dari masyarakat akan membantu

menentukan mana skala prioritas yang ingin utama dilaksanakan

menggunakan anggaran dana Desa pada saat waktu berjalan. Sesuai

dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 pasal 20 bahwa perencanaan

dana Desa itu dimulai dari proses penyusunan rancangan yang sesuai

dengan tahun yang berjalan oleh sekretaris desa, kemudian

menyampaikan hasil rancangan tersebut kepada kepala desa melalui

Musdes, kemudian rancangan tersebut akan disampaikan oleh kepala desa

ke BPD untuk di bahas dan di sepakati bersama melalui Musrenbang.

Kemudian unsur yang di undang dalam musyawarah ini meliputi: Kepala

Desa, BPD, Kepala Dusun, Pemerintah desa, dan Masyarakat yang ikut

berpartisipasi dalam pengambilan keputusan perencanaan pengunaan

dana Desa yang bisa dikatakan bahwa partisipasi mereka cukup baik.

2. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan kegiatan yang pembiayaannya bersumber dari

Alokasi Dana Desa sepenuhnya akan dilaksanakan oleh tim pelaksana

yang ada di desa sehingga dalam pelaksanaan program Alokasi Dana Desa

58
ini dibutuhkan adanya keterbukaan dari pemerintah desa kepada seluruh

masyarakat desa yang berguna untuk mendukung keterbukaan dan

penyampaian informasi secara jelas kepada masyarakat desa. Sehingga di

setiap kegiatan fisik yang ada di desa harus dipasang papan informasi

dilokasi kegiatan tersebut berlangsung, sehingga masyarakat dengan

bebas dapat mengetahui tentang program Alokasi Dana Desa yang akan

dikeluarkan maupun dapat memberikan kritik dan saran kepada tim

pelaksana desa demi terlaksananya transparansi dan akuntabilitas dalam

pengelolaan Alokasi Dana Desa.

Terbukanya informasi mengenai pelaksanaann pengelolaan Alokasi

Dana Desa adalah usaha pemerintah desa dalam mengedepankan prinsip

terbuka kepada masyarakat dan bertanggungjawab atas kegiatan

pelaksanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa. Dalam realisasipelaksanaan

yang keuangannya bersumber dari Alokasi Dana Desa maka pemerintah

desa mengadakan sosialisasi kepada masyarakat melalui forum

musyawarah dengan tujuan agar masyarakat Desa memahami dan

mengetahui pembiayaan pembangunan yang telah dilaksanakan di Desa.

Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan kedua informan

berikut:

“jadi pada tahun sebelum sebelumnya itu kita memang


selalu mengadakan sosialisai tentang penyampaian informasi
Alokasi Dana Desa secara jelas kepada masyarakat desa melalui
rapat bersama, dengan adanya rapat bersama, maka masyarakat
akan mengetahui dana desa yang akan di cairkan pada tahun ini itu
untuk pelaksanaan program apa yang dananya berasal dari Alokasi
Dana Desa, misalnya pada tahun 2020 itu Alokasi Dana desa itu

59
digunakan untuk pembangunan pasar Nggorang, jadi ini hasil
kesepakatan bersama di forum rapat bersama tadi. Sehingga
pemerintah desa transparan kepada masyarakat terkait realisasinya
anggaran yang dikeluarkan untuk pembangunan pasar tadi”.
(Informan 2)

“Kalau untuk pelaksanaan pembangunan, saya sendiri disini


sebagai penanggungjawab di bidang pembangunan desa, jadi kita
disini itu sebelum melakukan pelaksanaan pembangunan yang di
inginkan masyarakat desa terlebih dahulu kita turun tangan
langsung dalam arti kita buat musyawarah dulu dengan kepala
dusun serta masyarakat lain, nah dalam musyawarah itu hasilnya
berdasarkan kesepakatan bersama juga, jadi untuk tahun ini
masyarakat itu mau bangun apa misal perbaiki jalan raya, terus
kemarin kita juga sempat bangun pasar yang tempatnya di seberang
kantor desa. Jadi itu semua anggarannya berasal dari alokasi dana
desa, jadi nanti kita hitung dulu untuk pembangunan ini RABnya
berapa kemudia kita ajukan SPP ke Kepala desa biar anggarannya
di cairkan” (Informan 4).

Tabel 4.5
Indikator Kesesuaian Akuntabilitas Pelaksanaan Menurut
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

No Indikator Hasil Wawancara Keterangan


Informan 1 Informan 2
1. Semua penerimaan Semua Semua S
dan pengeluaran penerimaan penerimaan
desa dalam rangka maupun maupun
pelaksanaan pengeluaran pengeluaran
kewenangan desa yang ada di yang ada di
dilaksanakan desa dilakukan desa dilakukan
melalui rekening dengan dengan
kas desa. menggunakan menggunakan
rekening kas rekening kas
desa desa
2. Pelaksanaan Semua Semua S
kegiatan pelaksanaan pelaksanaan
mengajukan Surat kegiatan yang kegiatan yang
Permintaan berhubungan berhubungan
Pembayaran (SPP) dengan uang dengan uang
terlebih terlebih

60
kepada kepala dahulu akan dahulu akan
desa. diajukan SPP diajukan SPP
kepada Kepala kepada Kepala
Desa Desa
3. Sekretaris desa Sekretaris Sekretaris S
akan menerima desa sebelum desa sebelum
SPP dari kepala memverifikasi memverifikasi
desa dan akan terlebih akan terlebih
memverifikasinya. dahulu dahulu
mengecek mengecek
dengan teliti dengan teliti
kelengkapan kelengkapan
permintaan permintaan
pembayaran pembayaran
dan kebenaran dan kebenaran
dalam dalam
perhitungan perhitungan
4. SPP yang sudah di Setelah Setelah S
verifikasi diverifikasi diverifikasi
sekretaris desa, sekretaris desa sekretaris desa
kemudian kepala maka maka
desa menyetujui kemudian kemudian
permintaan kepala desa kepala desa
pembayaran dan akan membuat akan membuat
bendahara akan persetujuan persetujuan
melakukan dan kemudian dan kemudian
pembayaran bendahara bendahara
tersebut. akan akan
melakukan melakukan
pembayaran pembayaran
sesuai dengan sesuai dengan
nilai yang nilai yang
ditetapkan ditetapkan
Sumber: Hasil wawancara dengan kedua Informan pemerintah desa
Nggorang
Keterangan
S= Sesuai, TS= Tidak Sesuai, BT= Belum Terjadi

Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang

dana desa yang bersumber dari APBN dan peraturan pemerintah Nomor

43 Tahun 2014 tentang peraturan pelaksanaan Undang Undang Nomor 6

61
Tahun 2014 tentang desa telah di atur beberapa pokok penggunaan

keuangan desa. Pada pasal 100 PP Nomor 43 Tahun 2014 disebutkan

bahwa belanja desa yang ditetapkan dalam APBD desa digunakan dengan

ketentuan: Paling sedikit 70% dari jumlah anggaran belanja digunakan

untuk mendanai penyelenggaraan pemerintah desa, pelakasanaan

pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa dan pemberdayaan

masyarakat desa dan paling banyak 30% dari jumlah belanja desa

digunakan untuk penghasilan tetap dan tunjangan kepala desa dan

perangkat desa, operasional pemerintah desa, tunjangan dan operasioanl

badan permusyawaratan desa dan insentif rukun tetangga dan rukun warga.

Dalam merealisasikan APBDesa, kepala desa bertindak sebagai

koordinator kegiatan yang dilaksanakan oleh perangkat desa atau unsur

masyarakat desa. Pelaksanaan kegiatan harus mengutamakan pemanfaatan

sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada didesa serta

mendaaygunakan swadaya dan gotong royong masyarakat. Semua

ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 121 PP Nomor 43 Tahun 2014.

Selain itu APBD dapat digunakan untuk pembangunan antar desa atau

disebut pembangunan kawasan pedesaan. Pembangunan kawasan

pedesaan merupakan perpaduan pembangunan antar desa yang

dilaksanakan dalam upaya mempercepat dan menigkatkan kualitas

pelayanan, pembangunan partisipatif, inisiatif untuk melakukan

pembangunan kawasan pedesaan dapat dilakukan secara bottom up

62
dengan pengusulan kepala desa dan kepada Bupati/Walikota dan dapat

juga secara top down sebagai program gubernur atau Bupati/Walikota

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa pada

tahap pelaksanan yang dilakukan pemerintah desa sudah sesuai dengan

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 yang menunjukkan bahwa dalam

pelaksanaan Alokasi Dana Desa pemerintah desa senantiasa melaporkan

perkembangan pelaksanaan kegiatan mulai dari penerimaan dan

pengeluaran yang dilakukan menggunakan Rekening kas yang dimiliki

desa, kemudian mengajukan Surat Permintaan Pembayaran kepada

Kepala Desa, diverifikasi oleh sekretaris desa dan yang terakhir bendahara

desa akan mengeluarkan anggaran yang akan digunakan untuk kegiatan

pelaksanaan desa. Dapat disimpulkan juga bahwa adanya sosialisasi yang

dilakukan pemerintah desa merupakan prinsip yang transparan dan

akuntabel. Sehingga prinsip ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh HFI

(Humanitarian Forum Indonesia) yaitu adanya informasi yang mudah

dipahami dan di akses oleh masyarakat desa sehingga masyarakat desa

dapat mengetahui informasi mengenai dana yang di alokasikan, cara

pelaksanaannya dan bentuk bantuan atau program yang akan dijalankan.

3. Tahap Penatausahaan

Menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 pada pasal 35

menyebutkan bahwa penatausahaan yang dilakukan oleh Bendahara desa

yaitu wajib melakukan pencatatan setiap pemasukan dan pengeluaran kas

yang ada di desa kemudian melakukan tutup buku setiap akhir bulan

63
secara teratur. Pemerintah desa khususnya Bendahara desa harus

menggunakan Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak dan Buku

Bank yang berguna untuk membantu dalam pencatatannya. Semua hasil

pencatatan yang dilakukan kemudian dilaporkan melalui Laporan

Pertanggungjawaban kepada Kepala Desa selaku pemangku kepentingan

tertinggi, laporan pertanggungjawaban paling lambat disampaikan pada

tanggal 10 bulan berikutnya.

Penatausahaan Desa Nggorang secara teknis sudah berpedomanpada

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Hal ini dapat diketahui dengan

adanya peraturan desa mengenai APBDesa yang telah di bahas dan

disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa. Penatausahaan yang

dilakukan oleh Bendahara desa Nggorang adalah melalui pencatatan yang

meliputi Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak dan Buku Bank

yang berguna untuk membantu pencatatannya. Berikut contoh format

Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak dan Buku Bank yang ada di

desa Nggorang.

Tabel 4.6
Buku Kas Umum Desa Nggorang
Tahun Anggaran 2021

No Tanggal Kode Uraian Penerimaan Pengeluaran No Jumlah Saldo


(Rp.) (Rp.) Bukti Pengeluaran (Rp.)
1. Xxxxx xxx xxxx Xx xx Xxxx xxxx
2. Xxxxx xxx xxxx xx xx Xxx xxxx
3.

64
4.
Jumlah xx Xx
Sumber: Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

Tabel 4.7
Buku Pembantu Pajak Desa Nggorang
Tahun Anggaran 2021

No Tanggal Uraian Pemotongan Penyetoran Saldo


(Rp.) (Rp.) (Rp.)
1. Xxxx Xxxxx Xxx xxx

2.

Sumber: Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

Tabel 4.8
Buku Bank Desa Nggorang
Tahun Anggaran 2021

No Tanggal Uraian Bukti Pemasukan Pengeluaran Saldo


(Rp.) (Rp.) (Rp.)
Setoran Bunga Penarikan Pajak Biaya
Bank Admin
1. xxx xxxxx xxx xxx xxx xxx xxx
2.
Total transaksi bulan ini xxx xxx xxx xxx xxx xxx
Total transaksi kumulatif xxx xxx xxx xxx xxx xxx
Sumber: Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

Penatausahaan Pengelolaan Alokasi Dana Desa Nggorang sesuai dengan

hasil wawancara terhadap kedua informan sudah sesuai dengan Permendagri

Nomor 113 Tahun 2014. Berikut hasil wawancara yang dilakukan:

65
“kalau untuk penatausahaan yang lebih spesifiknya nanti
tanyakan ke bagian keuangan, tapi saya jelaskan sedikit kalau tahap
penatausahan ini jadi desa itukan punya dana desa, nah dana desa
yang di keluarkan itukan harus di catat secara rinci, jadi biasanya
pencatatan itu di lakukan oleh bagian keuangan jadi kita di desa ini
ada namanya Buku Kas Umum, Buku Bank punya desa sendiri, terus
sama Buku Pembantu pajak. Jadi buku buku ini formatnya sudah
sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, bisa di bilang
ini merupakan tranparansi dan akuntabilitas kita kepada
masyarakat dan pihak yang berkepentingan” (Informan 2).

“Jadi penatausahaan yang dilakukan pemerintah Nggorang


terutama yang saya lakukan sebagai bagian keuangan di kantor ini,
mulai dari tahap perencanaan sampai ke tahap pelaporan dan
pertanggungjawaban yang akan di berikan ke Bupati nanti itu
sebelumnya kita buat rincian dulu jadi kita buat Buku Kas Umum,
Buku Kas Pembantu Pajak yang digunakan untuk pencatatan kalau
kita bayar pajak dan Buku Bank yang disitu isinya laporan laporan
keuangan yang di setor, kemudian di tarik untuk kepentingan desa
terus ada juga rincian bunga bank dalam rekening desa. Jadi
pencatatan itu sudah terkomputerisasi jadi kita tidak tulis manual
lagi” (Informan 3)

Tabel 4.9
Indikator Kesesuaian Akuntabilitas Penatausahaan Menurut
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

No Indikator Hasil Wawancara Keterangan


Informan 1 Informan 2
1. Penatausahaan Penatausahaan Penatausahaan S
dilakukan oleh di Desa di Desa
Bendahara Desa Nggorang Nggorang
dilakukan oleh dilakukan oleh
Bendahara Bendahara
Desa Desa
2. Pencatatan Setiap Setiap S
setiap penerimaan penerimaan
penerimaan dan dan dan
pengeluaran pengeluaran pengeluaran
pengelolaan bendahara bendahara
Alokasi Dana akan mencatat akan mencatat
Desa secara manual secara manual

66
maupun maupun
komputerisasi. komputerisasi.
3. Pemerintah Setiap bulan Setiap bulan S
Desa pemerintah pemerintah
melakukan desa desa
tutup buku melakukan melakukan
setiap akhir tutup buku tutup buku
bulan yang dibantu yang dibantu
pengelolaan Bendahara Bendahara
Alokasi Dana Desa Desa
Desa
4. Laporan Laporan Laporan S
pengelolaan pengelolaan pengelolaan
Alokasi Dana dana desa yang dana desa yang
Desa yang akan disampaikan disampaikan
disampaikan setiap berupa setiap berupa
setiap bulan Buku Kas Buku Kas
kepada Kepala Umum yang Umum yang
Desa paling ditandatangani ditandatangani
lambat tgl. 10 Kepala Desa Kepala Desa
bulan
berikutnya
5. Pemerintah Desa Desa S
Desa harus Nggorang Nggorang
menggunakan sudah sudah
Buku Kas menggunakan menggunakan
Umum, Buku Buku Kas Buku Kas
Kas Pembantu Umum, Kas Umum, Kas
Pajak, dan Buku Pembantu Pembantu
Bank Pajak dan Pajak dan
Buku Bank. Buku Bank.
Sumber: Hasil wawancara dengan Kedua Informan Pemerintah Desa
Nggorang

Berdasarkan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam judul

“Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konsultasi Pengelolaan Keuangan

Desa” menjelaskan bahwa Bendahara Desa melakukan pencatatan atas

seluruh penerimaan dan pengeluaran dalam Buku Kas Umum untuk yang

bersifat tunai. Sedangkan transaksi penerimaan dan pengeluaran yang

melalui bank/transfer dicatat dalam Buku Bank. Buku Kas Pembantu

67
Pajak digunakan oleh Bendahara Desa untuk mencatat penerimaan uang

yang berasal dari pungutan pajak dan mencatat pengeluaran berupa

penyetoran pajak ke kas Negara. Khusus untuk pendapatan dan

pembiayaan, terdapat buku pembantu berupa Buku Rincian Pendapatan

dan Buku Rincian Pembiayaan nya sendiri.

Berdasarkan hasil wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa

penatausahaan yang dilakukan pemerintah desa sudah cukup baik dengan

berpedoman pada Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Sesuai dengan

indikator yang ada bahwa pada desa Nggorang penatausahan dilakukan

oleh bagian keuangan desa, kemudian setiap penerimaan dan pengeluaran

Alokasi Dana Desa harus membuat pencatatan dimana pencatatan yang

dilakukan pemerintah desa Nggorang sudah menggunakan komputer

artinya tidak lagi mencatat secara manual. Setiap akhir bulan pemerintah

desa melakukan tutup buku pengelolaan Alokasi Dana Desa yang mana

nantinya laporan tutup buku tersebut akan disampaikan kepada Kepala

Desa. Buku tersebut berupa: Buku Kas Umum, Buku Kas Pembantu Pajak

dan Buku Bank yang dimiliki Desa Nggorang. Dilihat dari sisi

administrasi penyusunan laporan keuangan sudah sesuai dengan

ketentuan atau aturan yang berlaku di desa sehingga hasil fisik laporan

pertanggungjawaban keuangan juga menunjukkan pelaksanaan yang

akuntabel dan transparan.

68
4. Tahap Pelaporan dan Pertanggungjawaban

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 pasal 38 menyebutkan bahwa

Kepala Desa akan menyampaikan kepada Bupati/Walikota melalui

Kecamatan setiap akhir tahun anggaran yang berupa laporan

pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa yang terdiri atas

pendapatan, belanja dan pembiayaan yang sudah dikeluarkan dan

ditetapkan dalam peraturan desa Nggorang yang disertai dengan lampiran

dan format laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa

Tahun Anggaran yang berjalan.

Pelaporan pengelolaan Alokasi Dana Desa secara teknis telah diatur

dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 pada pasal 37 yang dimana

Kepala Desa akan menyampaikan laporan realisasi APBDesa yang berupa

laporan semester pertama dan laporan semester akhir. Laporan realisasi

pertanggungjawaban paling lambat disampaikan pada akhir bulan juli

tahun berjalan dan semester akhir tahun paling lambat disampaikan bulan

januari tahun berikutnya. Berikut format Laporan Pertanggungjawaban

realisasi APBDesa Nggorang Tahun Anggaran 2021

Tabel 4.10
Laporan Pertanggungjawaban Realisasi APBDesa Nggorang

Tahun Anggaran 2021


Kode Uraian Anggaran Keterangan
Rekening (Rp.)
PENDAPATAN
Pendapatan Transfer [Link],00
Dana Desa 768.800.000,00

69
Bagi Hasil Pajak dan 63.288.945,00
Retribusi
Alokasi Dana Desa 290.268.000,00
Pendapatan Lain-lain 2.000.000,00
Bunga Bank 2.000.000,00
JUMLAH [Link],00
PENDAPATAN
BELANJA
BIDANG 382.981.395,25
PENYELENGGARAAN
PEMERINTAH DESA
Penyelenggaraan Belanja 333.312.395,25
Siltap, Tunjangan dan
Operasional Pemerintah
Desa
(Maksimal 30% untuk
kegiatan)
Penyediaan sarana 0
prasarana Pemerintah
Desa
Administrasi 16.150.000,00
Kependudukan,
Pencatatan Sipil, Statistik
dan Kearsipan
Tata Praja Pemerintahan, 27.510.000,00
Perencanaan, Keuangan
dan Pelaporan
Sub Bidang Pertanahan 6.000.000,00
BIDANG 130.740.000,00
PELAKSANAAN
PEMBANGUNAN
DESA
Sub Bidang Kesehatan 127.845.000,00
Sub Bidang Perhubungan, 2.886.000,00
Komunikasi dan
Informatika
BIDANG PEMBINAAN 5.446.078,00
KEMASYARAKATAN
Sub Bidang Ketentraman 3.900.000,00
dan Ketertiban Umum
dan Perlindungan
Masyarakat
Sub Bidang Kelembagaan 1.546.078,00
Masyarakat

70
BIDANG 6.640.000,00
PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT
Sub Bidang Peningkatan 6.640.000,00
Kapasitas Aparatur Desa
BIDANG 612.000.000,00
PENANGGULANGAN
BENCANA, DARURAT
DAN MENDESAK
DESA
Sub Bidang Keadaan 612.000.000,00
Mendesak
JUMLAH BELANJA [Link],25
SURPLUS/ (DEFISIT) (13.450.528,25)
PEMBIAYAAN
Penerimaan Pembiayaan (13.450.528,25)
PEMBIAYAAN NETO (13.450.528,25)
SISA LEBIH/ 0,00
(KURANG)
PEMBIAYAAN
ANGGARAN
Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Realisasi APBDesa Nggorang,
2021

Berdasarkan tabel di atas, laporan pertanggungjawaban realisasi

APBDesa Nggorang tahun 2021 telah di laporkan sesuai dengan

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Dimana dalam pengelolaanya

melalui beberapa proses sehingga dapat optimal penggunaanyadan dapat

dipertanggungjawabkan secara benar sebagaimana sesuai dengan hasil

wawancara berikut ini:

“jadi, mengenai prinsip akuntabilitas dalam proses


laporan pertanggungjawaban pada desa sudah di atur
sesuai mekanisme yang ditentukan seperti membuat SPJ,
dan melaporkan laporan realisasi per periode. Jadi proses
pertanggungjawaban kita seumpamanya begini, setelah
kepala desa memberikan laporan realisasi kepada pihak
BPD, maka pihak BPD akan menilai dan memeriksa kembali
betul atau tidaknya ada pembangunan atau kegiatan lain

71
yang dilakukan, kalau misalnya ada maka dari pihak BDP
akan menandatangani laporan realisasi tersebut. dan
sebagaimana aturan yang ada, maka laporan realisasi yang
sudah ditandatangani akan disampaikan paling lambat
akhir tahun sebelum tutup buku, untuk penjelasan yang lebih
jelas coba tanyakan ke informan 3” (Informan 1).

“jadi saya jelaskan terlebih dahulu, kita di desa itu


sudah ada aturannya sendiri dan aturan itu berpedoman
pada aturan pemerintah, mungkin sama dengan aturan
aturan desa yang lain kalau untuk pelaporan laporan
realisasi APBDesa itu kita di beri waktu, jadi dibagi jadi 2
semester begitu, nah semester pertama itu paling lambat
bulan juli, jadi kami pemerintah desa harus berusaha
sebelum atau pada bulan juli itu laporan sudah selesai,
eeeeee... untuk semester 2 itu kalau tidak salah sampai akhir
tahun pokoknya sebelum kita melakukan tutup buku itu, nah
untuk tahun 2021 kemarin Alhamdulillah kita bisa
mengumpulkan laporan itu tepat waktu untuk tanggalnya
saya lupa tanggal berapa. Nah jadi laporan itu nanti di kirim
ke bupati tapi bukan melalui pemerintah desa tetapi dibantu
oleh pihak kecamatan” (Informan 3).

Tabel 4.11
Indikator Kesesuaian Akuntabilitas Pelaporan dan Pertanggungjawaban Menurut
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

N Indikator Hasil Wawancara Keterang


o Informan 1 Informan 2 an
1. Kepala desa Laporan realisasi Laporan realisasi S
menyampaikan pelaksanaan pelaksanaan
laporan kepada APBDesa setiap APBDesa setiap
Bupati/Walikota semester akan semester akan
melalui Camat dilaporkan dilaporkan
yang terdiri dari kepada Bupati kepada Bupati
laporan realisasi
pelaksanaan
APBDesa
semester I dan II.
2. Laporan realisasi Laporan setiap Laporan setiap S
pelaksanaan semester semester
APBDesa dilaporkan oleh dilaporkan oleh

72
semester I paling Kepala desa Kepala desa
lambat bulan juli Kepada Bupati Kepada Bupati
tahun berjalan melalui pihak melalui pihak
dan semester II Kecamatan tepat Kecamatan tepat
paling lambat waktu sesuai waktu sesuai
akhir bulan yang ditentukan yang ditentukan
januari tahun
berikutnya.
3. Laporan Setiap tahun Setiap tahun S
pertanggungjawa anggaran anggaran
ban realisasi pemerintah desa pemerintah desa
pelaksanaan membuat laporan membuat laporan
APBDesa pertanggungjawa pertanggungjawa
disampaikan ban realisasi ban realisasi
setiap akhir pelaksanaan pelaksanaan
tahun anggaran. APBDesa APBDesa
Sumber: Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

Berdasatkan peraturan pemerintah No. 8 Tahun 2016 bahwa pelaporan

pertanggungjawaban Alokasi Dana Desa yang terintegrasi dengan

pertanggungjawaban pelaksanaan APBDesa wajib melaporkan pelaksanaan

ADD yang berupa laporan bulanan yang mencakup perkembangan

pelaksanaan dan penyerapan dana serta laporan kemajuan fisik pada setiap

tahapan pencairan ADD yang merupakan gambaran dari kemajuan kegiatan

fisik desa yang telah dilaksanakan seperti: Pertama Kepala Desa akan

menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan

APBDesa kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran; Kedua,

Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa sebagaimana

dimaksud pada ayat (1), terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan;

Ketiga, Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Desa;

73
Keempat, Peraturan Desa tentang laporan pertanggungjawaban realisasi

pelaksanaan APBDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilampiri:

format Laporan Pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APBDesa

Tahun Anggaran berkenaan, format Laporan Kekayaan Milik Desa per 31

Desember Tahun Anggaran berkenaan, dan format Laporan Program

Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang masuk ke desa

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa laporan

pertanggungjawaban yang dibuat pemerintah desa Nggorang sudah sesuai

dengan peraturan pemerintah No. 8 Tahun 2016 dan Permendagri Nomor

113 Tahun 2014 diaman pemerintah desa Nggorang telah melakukan

pencatatan Laporan Realisasi Anggaran setiap semester kemudian laporan

tersebut akan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan yaitu

Bupati/Walikota dengan waktu yang telah ditentukan. Pada tahun 2021

pemerintah desa menyampaikan laporan tersebut dengan tepat waktu setiap

semester sehingga dapat dikatakan pemerintah desa telah melaksanakan

prinsip akuntabilitas secara baik.

74
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang tertuang didalam hasil analisis

pengelolaan dana desa dan pembahasan, maka dapat disimpulkan akhir dari

penelitian transparansi dan akuntabilitas pemerintah desa Nggorang dalam

Pengelolaan Alokasi Dana Desa pada tahun 2021, yaitu sebagai berikut:

1. Transparansi pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Desa Nggorang pada

tahun 2021 sudah sesuai dengan Permendagri Nomor 113 Tahun 2014

yaitu adanya kegiatan pencatatan kas masuk dan kas keluar yang dapat

diakses dengan mudah oleh masyarakat dengan disertai informasi

mengenai kegiatan yang sedang dijalankan, adanya laporan realisasi dan

laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan ADD tersebut yang

akan disampaikan kepada Bupati melalui pihak Kecamatan.

2. Akuntabilitas tahap perencanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa pada

Desa Nggorang tahun 2021 dimana penerapannya sudah sesuai dan

berpedoman pada Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Hal ini dapat

dibuktikan dengan adanya Musrenbang dimana dalam musyawarah

tersebut membahas dan mengsepakati bersama tentang perencanaan

penggunaan dana desa antara kepala desa dengan BPD, pemerintah desa

terbuka untuk menerima segala masukan dari perwakilan dan partisipasi

masyarakat yang hadir untuk menjalankan pembangunan yang ada di

desa Nggorang.

75
3. Akuntabilitas tahap pelaksanaan pengelolaan Alokasi Dana Desa Pada

Desa Nggorang tahun 2021 telah akuntabel dan berpedoman pada

Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Dapat dibuktikan dengan adanya

mekanisme pelaksanaan yang telah sesuai dengan Permendagri yaitu

desa Nggorang mengunakan rekening pribadi dalam penerimaan dana

pengeluaran dalam melaksanakan pembangunan yang ada didesa, dan

memiliki surat permintaan pembayaran yang kemudian akan

ditandatangani oleh kepala desa.

4. Akuntabilitas tahap penatausahaan pengelolaan Alokasi Dana Desapada

Desa Nggorang tahun 2021 telah memperlihatkan pengelolaan yang

akuntabel dan berpedoman pada Permendagri Nomor 113 tahun 2014.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya Buku Kas Umum, Buku Kas

Pembantu Pajak, Buku Bank, dan laporan realisasi APBDesa yang sudah

digunakan dan dimiliki pemerintah Desa Nggorang.

5. Akuntabilitas tahap laporan dan pertanggungjawaban pada desa

Nggorang tahun 2021 telah menggunakan format laporan

pertanggungjawaban realisasi dan penyusunannya sudah berpedoman

pada Permendagri Nomor 113 Tahun 2014. Hal ini dapat dibuktikan

dengan laporan realisasi APBDesa yang dilaporkan setiap semester

secara tepat waktu kemudia laporan tersebut akan disampaikan kepada

pihak yang berkepentingan seperti Bupati.

76
5.2 Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini hanya memfokus dalam membahas pengelolaan keuangan

yang ada di desa berdasarkan indikator Permendagri Nomor 113 Tahun

2014 tentang perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan dan pelaporan

dan pertanggungjawaban.

2. Kelemahan dalam penelitian ini adalah peneliti tidak membahas secara

detail terhadap setiap komponen pengelolaan keuangan dana desa dan

tidak membahas nominal keuangan desa secara lebih detail.

5.3 Saran

1. Diharapkan kepada penelitian selanjutnya agar dapat membahas

komponen pengelolaan keuangan desa secara detail dan terperinci

seperti tahap pembinaan dan pengawasan yang ada dalam pemerintah

desa, penilaian kinerja pemerintah desa, faktor pendukung dan

penghambat pengelolaan alokasi dana desa serta pembahasan nominal

uang yang tertera secara detail dan terperinci.

2. Masukan kepada pemerintah desa Nggorang, walaupun dalam

melaksanakan pengelolaan keuangan desa sudah transparan dan

akuntabel dengan cukup baik, namun tetap harus ada kemajuan dan

peningkatan dalam pengelolaan keuangan yang transparan dan

akuntabel yaitu seperti mencri inovasi baru dengan cara melakukan studi

banding ke desa-desa diluar kecamatan komodo dengan harapan agar

dapat menambah wawasan dan pengalam baru khususnya bagi aparat

pemerintah desa Nggorang.

77
DAFTAR PUSTAKA

Apriliani, G. S. (2014). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Desa


Kedungrejo Kecamatan Mancar Kabupaten Banyuwani. Skripsi. Surabaya:
Universitas Jember

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (2015). Petunjuk Pelaksanaan


Bimbingan dan Konsultasi Pengelolaan Keuangan Desa. Jakarta: Badan
Pengawasan penyelenggaraan Keuangan Derah, Hal. 90

Bandariy, (2011). Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan Daerah Dan


Aksesibilitas Laporan Keuangan Terhadap Penggunaan Informasi
Keuangan Daerah (Studi Pada Kabupaten Eks Karesidenan Banyumas).
Skripsi. Semarang: Universitas Diponegoro

Basri, H., & Nabiha, A. K. S. (2014). Accountability of local government: The case
of Aceh Province, Indonesia. Asia Pacific Journal of Accounting and
Finance, Volume 3, No. 1

Didjaja, Mustopa. (2003). Transparansi Pemerintah. Jakarta: Rineka Cipta.

Eisenhardt. (1989). Agency Theory: An Assessment and Review. Academy of


Management Review, 14(1), 57-74.

Faridah. (2015). Transparansi dan Akuntabilitas Pemerintah Desa Dalam


Pengelolaan Anggaran Pendapatan Desa Dan Belanja Desa (APBDes).
Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, Volume 4 No. 5

Hardani, dkk. (2020). Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta:


CV Pustaka Ilmu Group.

I Wayan, Irfan M (2017). Penerapan Transparansi Pengelolaan Anggaran


Pendapatan dan Belanja Desa, Studi Kasus Desa Sidoharjo Kecamatan
Way Panji Kabupaten Lampung Selatan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik: Universitas Lampung.

Lewar, John (2019) 34 Desa di Manggarai Barat Bermasalah Pengelolaan Dana.


Diakses pada 23 Februari 2022 melalui

78
[Link]
bermasalah-pengelolaan-dana

Mardiasmo. (2012). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset.

Miles, B. Mathew dan Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif Buku
Sumber Tentang Metode-metode Baru. Jakarta: UIP.

Moleong, Lexy J. 2018. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

Muntahanah, S., & Murdijaningsih, T. (2013). Efektivitas Pengelolaan Keuangan


Alokasi Dana Desa Di Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas.
Sustainable Competitive Advantage, Volume 3, No. 1, 4-7.

Pasal 72 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2016 tentang Dana Desa yang bersumber
dari APBN

Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa

Riharjo, I. B. (2016). Transparansi Dan Akuntabilitas Pemerintah Desa Dalam


Pengelolaan Alokasi Dana Desa. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi, Volume
5, No. 11.

Subroto, Agus. (2009). Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa (Studi Kasus


Pengelolaan Alokasi Dana Desa Di Desa- Desa Dalam Wilayah
Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung Tahun 2008, Skripsi.
Program Studi Magister Sains Akuntansi, Universitas Diponegoro :
Semarang.

Sujarweni, V. W. (2015). Akuntansi Desa. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Syachbrani, W. (2012). Akuntansi dan Akuntabilitas Pemerintahan Desa. Tugas


Akhir Mata Kuliah Program Magister Sains Akuntansi Fakultas Ekonomika
dan Bisnis. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
79
Syahadatina, R. (2017). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Desa
Rapa Laok Kecamatan Omben Kabupaten Sampang. Jurnal Akuntansi Dan
Investasi, Volume 2, No. 1. Hal. 1–18.

Umami, R., & Nurodin, I. (2017). Pengaruh Transparansi Dan Akuntabilitas


Terhadap Pengelolaan Keuangan Desa. Jurnal Ilmiah Ilmu Ekonomi (Jurnal
Akuntansi, Pajak dan Manajemen), Volume 6, No. 11.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Wahyuni, S. (2019). Penerapan Akuntabilitas Dan Transparansi Pengelolaan


Alokasi Dana Desa Dalam Pembangunan Desa (Studi Kasus Desa Kuta
Bakti Kecamatan Babul Bakmur Kabupaten Aceh Tenggara). Skripsi.
Medan: Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.

Widagdo, A. K., Widodo, A., & Ismail, M. (2016, Agustus). Sistem Akuntansi
Pengelolaan Dana Desa. Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 19, No. 2, 326-
327.

Wida, S. A. (2016). Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) Di Desa-


Desa Kecamatan Regojampi Kabupaten Banyuwangi. Jurnal Ekonomi:
Universitas Jember.

Yunita, A., & Christianingrum. (2019). Evaluasi Akuntabilitas Dan Efektivitas


Pengelolaan Dana Desa Di Kabupaten Bangka Dan Kabupaten Belitung:
Suatu Kajian Komprehensif. Tirtayasa Ekonomika, Volume 14, No. 1.

80
LAMPIRAN

Pertanyaan wawancara

Pertanyaan Wawancara terkait Transparansi

No Indikator Informan

1 2 3 4 5 6 7 8
1. Kegiatan pencatatan
kas masuk maupun kas
keluar dapat diakses
dengan mudah oleh
masyarakat serta
informasi mengenai
kegiatan yang sedang
dijalankan pemerintah
desa.
2. Laporan realisasi dan
laporan
pertanggungjawaban
pelaksanaan APBDesa
diinformasikan kepada
masyarakat.
3. Laporan realisasi dan
laporan
pertanggungjawaban
pelaksanaan ADD
akan disampaikan
kepada
Bupati/Walikota
melalui Camat.

81
Pertanyaan Wawancara terkait Akuntabilitas

 Tahap Perencanaan

No Indikator Informan

1 2 3 4 5 6 7 8
1. Sekretaris desa
menyusun
rancangan peraturan
desa tentang
APBDesa tahun
berkenaan.
2. Sekretaris desa
menyampaikan
rancangan peraturan
desa tentang
APBDesa kepada
kepala desa.
3. Rancangan
peraturan desa
tentang APBDesa
disampaikan oleh
kepala desa kepada
BPD untuk dibahas
dan disepakati
bersama.
4. Rancangan
peraturan desa
tentang APBDesa
yang telah disepakati
bersama
disampaikan oleh
kepala desa kepada
Bupati melalui
Camat.

82
 Tahap Pelaksanaan

No Indikator Informan

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Semua penerimaan dan


pengeluaran desa dalam
rangka pelaksanaan
kewenangan desa
dilaksanakan melalui
rekening kas desa.
2. Pelaksanaan kegiatan
mengajukan Surat
Permintaan Pembayaran
(SPP) kepada kepala desa.

3. Sekretaris desa akan


menerima SPP dari kepala
desa dan memverifikasinya.

4. SPP yang sudah di


verifikasi sekretaris desa,
kemudian kepala desa
menyetujui permintaan
pembayaran dan bendahara
akan melakukan
pembayaran tersebut.

83
 Tahap Penatausahaan

No Indikator Informan

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Penatausahaan
dilakukan oleh
Bendahara Desa
2. Pencatatan setiap
penerimaan dan
pengeluaran
pengelolaan Alokasi
Dana Desa
3. Pemerintah Desa
melakukan tutup buku
setiap akhir bulan
pengelolaan Alokasi
Dana Desa
4. Laporan pengelolaan
Alokasi Dana Desa
yang akan
disampaikan setiap
bulan kepada Kepala
Desa paling lambat tgl.
10 bulan berikutnya
5. Pemerintah Desa harus
menggunakan Buku
Kas Umum, Buku Kas
Pembantu Pajak, dan
Buku Bank

84
 Tahap Pelaporan dan Pertanggungjawaban

No Indikator Informan

1 2 3 4 5 6 7 8

1. Kepala desa
menyampaikan
laporan kepada
Bupati/Walikota
melalui Camat yang
terdiri dari laporan
realisasi pelaksanaan
APBDesa semester I
dan II.
2. Laporan realisasi
pelaksanaan APBDesa
semester I paling
lambat bulan juli
tahun berjalan dan
semester II paling
lambat akhir bulan
januari tahun
berikutnya.
3. Laporan
pertanggungjawaban
realisasi pelaksanaan
APBDesa
disampaikan setiap
akhir tahun anggaran.

85
Hasil Wawancara

86
87
88
89
Bukti Dokumentasi

90
91
92
Surat pengantar ijin penelitian

93

Anda mungkin juga menyukai