0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan13 halaman

Laporan Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Laporan ini membahas risiko bunuh diri sebagai tindakan agresif yang dilakukan individu untuk mengakhiri hidup, yang sering kali dipicu oleh faktor psikologis, sosial, dan biokimia. Terdapat berbagai jenis bunuh diri dan faktor yang mempengaruhi, termasuk gangguan jiwa, kepribadian, dan lingkungan. Rencana tindakan keperawatan difokuskan pada membina hubungan saling percaya, meningkatkan harga diri, dan melindungi pasien dari risiko bunuh diri.

Diunggah oleh

Darhan Pebriyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan13 halaman

Laporan Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Laporan ini membahas risiko bunuh diri sebagai tindakan agresif yang dilakukan individu untuk mengakhiri hidup, yang sering kali dipicu oleh faktor psikologis, sosial, dan biokimia. Terdapat berbagai jenis bunuh diri dan faktor yang mempengaruhi, termasuk gangguan jiwa, kepribadian, dan lingkungan. Rencana tindakan keperawatan difokuskan pada membina hubungan saling percaya, meningkatkan harga diri, dan melindungi pasien dari risiko bunuh diri.

Diunggah oleh

Darhan Pebriyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO BUNUH DIRI


Diajukan guna memenuhi laporan praktik klinik : Keperawatan Jiwa
Pembimbing Klinik (CI) : Ns. Sri Sugiatun

Disusun oleh:
Fitri Purnamasari

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANTEN
JURUSAN KEPERAWATAN TANGERANG
PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI

I. Masalah Utama
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang secara sadar dilakukan oleh
seseorang untuk merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Perilaku
bunuh diri yang tampak pada seseorang disebabkan karena stres yang tinggi dan
kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah
(Akemat, 2009 dalam Satrio, 2015).
Risiko bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan
disengaja untuk mengakhiri kehudupan (Herdman, 2012). Individu secara sadar
berkeinginan untuk mati, sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk
mewujudkan keinginan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mendefinisikan bunuh diri sebagai tindakan membunuh diri sendiri. Tindakan itu
harus dilakukan dengan sengaja dan dilakukan oleh orang yang bersangkutan
dengan pengetahuan penuh, atau harapan, atau akibat fatal (Sutejo, 2019).

II. Proses Terjadinya Masalah


a. Faktor predisposisi
1) Diagnosis Psikiatri Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri
hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai riwayat gangguan jiwa.
Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan efektif, penyalagunaan
zat, dan skizofrenia.
2) Sifat kepribadian Tiga tipe keperibadian yang erat hubungannya dengan
besarnya resiko bunuh diri adalah antipati, impulsif, dan depresi
3) Lingkungan psikososial Pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan
sosial, kejadiankejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan
dan bahkan perceraian. Kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam
menciptakan intervensi yang terapiutik, dengan terlebih dahulu
mengetahui penyebab maslah, respon seorang dalam menghadapi masalah
tersebut, dan lain-lain.
4) Riwayat keluarga Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang melakukan
tindakan bunuh diri.
5) Faktor Biokimia Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko
bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak
seperti serotonim, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut
dapat dilihat melalui rekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph
(EEG).

b. Faktor presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres yang berlebihan yang
dialami oleh individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri ataupun
percobaan bunu diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut menjadi
sangat rentan.

c. Jenis-jenis
Sementara menurut Yosep (2014) mengklasifikasikan terdapat 3 jenis bunuh
diri, meliputi :
1. Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh
factor lingkungan yang penuh tekanan (Stressful) sehingga mendorong
seseorang untuk bunuh diri
2. Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistic adalah tindaka bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksakan tugasnya
3. Bunuh diri egoistic
Bunuh diri egoistic adalah tindkaan bunuh diri yang diakibatkan factor
dalam diri seseorang seperti putus cinta atau putus harapan
d. Rentang respon
Menurut Yosep (2014)

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Peningkatan
diri
Berisiko
destruktif
Destruktif diri
tidak
langsung
Pencederaan
diri
e. Mekanisme koping
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping.
Ancaman bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk
mendapatkan pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang
terjadi merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada diri
seseorang.
a. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau
pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan
pertahanan diri.
b. Berisiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau berisiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap
situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang
patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap
pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang
kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya
untuk mempertahankan diri.
d. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
e. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai
dengan nyawanya hilang.

[Link] Masalah
Resiko cedera/kematian effect

Resiko bunuh diri Core Probblem

Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis Causa


IV. Diagnosa Keperawatan
Resiko bunuh diri

Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu dikaji


Data Masalah
Data Objektif: Resiko Bunuh Diri
Klien mengungkapkan tentang :
 Merasa hidupnya tak bergua
lagi
 Ingin mati
 Pernah mencoba bunuh diri
 Mengancam bunuh diri
 Merasa bersalah, sedih,
marah, putus asa, tidak
berdaya

Data Subjektif
 Ekspresi murung
 Tak bergairah
 Banyak diam
 Ada bekas percobaan bunuh
diri

V. Rencana Tindakan
Diagnosa Perencanaan
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
(TUK/TUM)
Dx 1 : Risiko TUM : Pasien 1.1. bina hubungan hubungan saling
bunuh diri : Pasien tidak menunjukkan saling percaya dengan percaya
Ancaman/ mencederai tanda-tanda mengemukakan prinsip merupakan
percobaan dirinya sendiri percaya kepada komunikasi terapeutik : dasar untuk
bunuh diri atau tidak perawat melalui : a. Mengucapkan salam memperlancar
melakukan bunuh 1. Ekspresi wajah terapeutik. Sapa interaksi yang
diri. cerah, pasien dengan selanjutnya akan
TUK 1 : tersenyum ramah, baik verbal dilakukan
Pasien dapat 2. Mau berkenalan maupun non verbal
membina 3. Ada kontak b. Berjabat tangan
hubungan saling mata dengan pasien
percaya. 4. Bersedia c. Perkenalkan diri
menceritakan dengan sopan
perasaannya d. Tanyakan nama
5. Bersedia lengkap pasien dan
mengungkapkan nama panggilan yang
masalah disukai pasien
e. Jelaskan tujuan
pertemuan
f. Membuat kontrak
topik, waktu, dan
tempat setiap kali
bertemu pasien
g. Tunjukkan sikap
empati dan menerima
pasien apa adanya
h. Beri perhatian
kepada pasien dan
perhatian kebutuhan
dasar pasien
TUK 2 : Kriteria evaluasi : 2.1. Menemani pasien Pasien tidak
Pasien tetap aman Pasien tetap aman terus menerus sampai dia melakukan
dan terlindungi dan terlindungi dapat dipindahkan ke tindakan
tempat yang aman percobaan
2.2. Menjauhkan semua bunuh diri.
benda-benda yang
berbahaya atau
berpotensi
membahayakan pasien
(misalnya : pisau, silet,
kaca, gelas, ikat
pinggang)
2.3. Mendapatkan orang
yang dapat dengan
segera membawa pasien
ke rumah sakit untuk
pengkajian lebih lanjut
dan kemungkinan di
rawat
2.4. Memeriksa apakah
pasien benar-benar telah
meminum obatnya, jika
pasien mendapatkan obat
2.5. Dengan lembut
menjelaskan kepada
pasien bahwa perawat
akan melindungi pasien
sampai tidak ada
keinginan bunuh diri
Dx 2 : TUK 1 : Kriteria Evaluasi : 1.1. Mendiskusikan cara Pasien tidak
Risiko bunuh Pasien mendapat Pasien tetap dalam mengatasi keinginan melakukan
diri : isyarat perlindungan dari keadaan aman dan bunuh diri, yaitu dengan tindakan
bunuh diri lingkungannya selamat meminta bantuan dari percobaan
keluarga atau teman bunuh diri
TUK 2 : Kriteria Evaluasi : 2.1. Memberi
Pasien dapat Pasien mampu kesempatan pasien untuk
meningkatkan meningkatkan mengungkapkan
harga dirinya harga dirinya perasaannya
2.2. Berikan pujian bila
pasien dapat mengatakan
perasaan positif
2.3. Meyakinkan pasien
bahwa dirinya penting
2.4. Merencanakan
aktifitas yang pasien
dapat lakukan
TUK 3 : Kriteria Evaluasi : 1.1. Mendiskusikan
Meningkatkan Pasien mampu dengan pasien cara
kemampuan menggunakan cara menyelesaikan
pasien dalam penyelesaian yang masalahnya
memecahkan baik 2.1. Mendiskusikan
masalah dengan pasien tentang
efektifitas tiap-tiap cara
penyelesaian masalah
tersebut
3.1. Mendiskusikan
dengan pasien cara
menyelesaikan masalah
yang lebih baik
TUK 4 : Kriteria Evaluasi : 4.1. Mendiskusikan Meningkatkan
Meningkatkan Pasien mampu dengan pasien tentang kepercayaan diri
kemampuan menyusun rencana harapan pasien dan harapan
menyusun rencana masa depan 4.2. Mendiskusikan cara- pasien serta
masa depan cara mencapai masa mencegah
depan perilaku
4.3. Melatih pasien deskruptif diri.
langkah-langkah
kegiatan mencapai masa
depan
4.4. Mendiskusikan
dengan pasien efektifitas
masing-masing kegiatan
mencapai masa depan
TUK 5 : Kriteria Evaluasi : 5.1. Mengajarkan Mendorong
Meningkatkan Keluarga keluarga tentang tanda keluraga untuk
pengetahuan dan mengetahui tanda dan gejala bunuh diri mampu merawat
kesiapan keluarga dan gejala bunuh yang muncul pada pasien pasien secara
dalam merawat diri serta dan tanda gejala yang mandiri di
pasien dengan perawatanannya umumnya muncul pada rumah
risiko bunuh diri terhadap anggota pasien berisiko bunuh
keluarga dengan diri. Keluarga
risiko bunuh diri 5.2. Mengajarkan cara sebagai support
melindungi pasien dari system (sistem
perilaku bunuh diri, pendukung)
seperti : akan sangat
a. Mendiskusikan cara berpengaruh
yang dapat dilakukan dalam
jika pasien mempercepat
memperlihatkan tanda proses
dan gejala bunuh diri penyembuhan
b. Memberikan tempat pasien
aman
c. Manjauhkan barang- Meningkatkan
barang yang peran keluarga
berpotensi digunakan dalam merawat
untuk bunuh diri pasien di rumah
d. Senantiasa melakukan
pengawasan
5.3. Mengajarkan
keluarga tantang hal-hal
yang dapat dilakukan
apabila pasien
melakukan percobaan
bunuh diri, yaitu :
a. Mencari bantuan pada
tetangga sekitar atau
pemuka masyarakat
b. Segera membawa
pasien ke rumah sakit
atau puskesmas untuk
mendapatkan
penanganan medis
5.4. Membantu keluarga
mencari rujukan fasilitas
kesehatan yang tersedia
bagi pasien denga cara :
a. Memberikan
informasi tentang
nomor telpon darurat
tenaga kesehatan
b. Menganjurkan
keluarga untuk
mengantarkan pasien
berobat/kontrol secara
teratur
c. Menganjurkan
membantu pasien
meminum obat sesuai
prinsip 5 benar
DAFTAR PUSTAKA

F, Wira. 2016. Panduan Askep pada Pasien Resiko Bunuh Diri. Padang :
Pemerintahan Provinsi Sumatera Barat Rumah Sakit Jiwa Prof. Hb. Saanin.
Satrio, Dkk. 2015. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Lampung : LP2M.
Sutejo. 2019. Keperawatan Jiwa : Konsep Dan Praktik Asuhan Keperawatan Jiwa
Gangguan Jiwa Dan Psikososial. Yogyakarta : Pustaka Baru Press.
Yosep, Iyus. (2016). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Bandung : PT Refika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai