1
1.1.1 Definisi RDS
Respiratory Distress Syndrome adalah penyakit yang disebabkan oleh
ketidakmaturan dari sel tipe II dan ketidakmampuan sel tersebut untuk menghasilkan
surfaktan yang memadai. Respiratory Distress Syndrome terjadi pada bayi prematur
atau kurang bulan, karena kurangnya produksi surfaktan. Produksi surfaktan ini
dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula
kemungkinan terjadi RDS. Terdapat 4 faktor penting penyebab defisiensi surfaktan
pada RDS yaitu prematur, asfiksia perinatal, maternal diabetes, maupun seksio sesaria
(Nugraha, 2014
Respiratory Distress Syndrome (RDS) dapat juga disebut dengan nama
Hyaline Membrane Disease (HMD) atau penyakit membran hialin. Gejala dari dari
penyakit RDS terdiri dari dispnea dan takipnea dengan frekuensi pernafasan lebih dari
60x/menit, adanya sianosis, suara rintihan pada saat melakukan eskpirasi dan otot
pernafasan yang lemah. Penyakit ini menyerang pada bayi preterm yang dimana
sistem pernafasannya tidak mampu melakukan pertukaran gas secara normal tanpa
adanya bantuan(Surasmi, 2013).
1. Anatomi Fisiologi Sistem Pernapasan
Anatomi
Dengan bernapas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan
oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidanya.
Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dan jaringan
memungkinkan setiap sel melangsungkan sendiri proses metabolismenya,
yang berarti pekerjaan selesai dan hasil buangan dalam bentuk
karbondioksida (CO2) dan air (H2O) dihilangkan (Pearce, 2016).
Menurut Syaifuddin (2016) sistem pernapasan terdiri atas :
1) Hidung
Merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai alat pernapasan
(respirasi) dan indera penciuman (pembau).
2) Faring
Suatu saluran otot selaput kedudukannya tegak lurus antara basis kranii
dan vertebrae servikalis VI.
3) Laring
Merupakan jalinan tulang rawan yang dilengkapi dengan otot,
2
membran, jaringan ikat, dan ligamentum.
4) Trakea
Tabung berbentuk pipa seperti huruf O, yang dibentuk oleh tulang –
tulang rawan yang disempurnakan oleh selaput, terletak di antara
vertebrae servikalis VI sampai ke tepi bawah kartilago krikoldea
vertebra torakalis V. Panjang nya kurang lebih 13 cm dan diamet 2.5
cm, dilapisi oleh otot polos, mempunyai dinding fibroelastis yang
tertanam dalam balok – balok hialin yang mempertahankan trakea tetap
terbuka.
5) Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea, yang terdiri atas dua percabangan
kanan dan kiri. Bagian kanan lebih pendek dan lebar dari pada bagian
kiri yang memiliki tiga lobus atas, tengah dan bawah, sedangkan
bronkus kiri lebih panjang dari bagian kanan yang berjalan dari lobus
atas dan bawah.
6) Bronkiolus
Bronkiolus merupakan percabangan setelah bronkus
7) Paru – paru
Paru merupakan organ utama dalam sistem pernapasan. Paru terletak
dalam rongga toraks setinggi tulang selangka sampai dengan
diafragma. Paru terdiri atas beberapa lobus yang diselaputi oleh pleura
parietalis dan pleura viseralis, serta dilindungi oelh cairan pleura yang
berisi surfaktan. Paru kanan terdiri dari tiga lobus dan paru kiri dua
lobus.
Paru sebagai alat pernapasan terdiri atas dua bagian, yaitu paru kanan
dan kiri. Pada bagian tengah organ ini terdapat organ jantung beserta
pembuluh darah yang berbentuk bagian puncak disebut apeks. Paru
memiliki jaringan yang bersifat elasti berpori, serta berfungsi sebagai
tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida yang dinamakan
alveolus
Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit RDS dikarenakan kurangnya surfaktan, yang
dimana surfaktan tersebut adalah suatu zat aktif pada alveoli yang dapat mencegah
3
terjadinya kolaps paru. Menurut (Rahardjo & Marmi, 2012) yang menjadi penyebab
kegagalan pernafasan pada neonatus yaitu terdiri dari faktor ibu, faktor janin, dan
faktor persalinan.
1. Faktor Ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35
tahun, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang
mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit jantunng, diabetes
mellitus, dan lain-lain.
2. Faktor Plasenta
Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil,
plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
3. Faktor janin atau neonatus
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat melilit
leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, prematur, kelainan kongenital
pada neonatus dan lain-lain.
4. Faktor Persalinan
Faktor persalinan yang meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan lain-
lain
1.1.2 KlasifikasiRDS
Menurut (Haryani dkk, 2021), klasifikasi RDS antara lain :
1. Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory Distress Syndrome,
disebabkan karena kekurangan aerasi (underaration). Volume paru-paru yang
menurun, parenkim paru-paru yang memiliki polaretikulogranurer difusi, dan
terdapat gambaran bronkogram udara yang meluas ke perifer.
2. Sindrom gawat nafas sedang-berat atau Moderately Severe Respiratory
Distress Syndrome, polaretikulogranuler terlihat lebih menonkol dan
terdistribusi lebih merata. Paru-paru hypoaerated. Terlihat pada gambaran
bronkogram udara yang meningkat.
3. Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory Distress Syndrom,
terdapat retikulogranuler yang berbentuk opaque pada kedua paru-paru pada
area cystic pada paru-paru kanan yang dapat menunjukkan alveoli yang
berdilatasi atau empisemaintertitial
4
1.1.1 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari RDS menurut (Hidajat & Firdaus, 2012) , antara lain :
1. Peningkatan frekuensi nafas : > 60x/menit
2. Pernafasan dangkal
3. Retraksi antar iga atau dada setiap kali bernafas
4. Nafas cuping hidung setiap kali bernafas
5. Apnea atau henti nafas
6. Suara merintih pada saat ekspirasi
Tabel 2.1 Respiratory Distress Score Downe
0 1 2
Frekuensi Nafas < 60x/menit 60 – 80x/menit > 80x/menit
Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat
Sianosis Tidak sianosis Sianosis hilang Sianosis menetap
dengan O2 walaupun
diberikan O2
Air Entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara
udara masuk masuk
Merintih Tidak merintih Merintih Merintih
terdengar dengan terdengar tanpa
stetoskop stetoskop
Tabel 2.2 Keterangan Respiratory Distress Score
Skor Kondisi
Skor < 4 Gangguan pernafasan ringan
Skor 4 – 5 Gangguan Pernafasan Sedang
Skor > 6 Ancaman Gagal Nafas (Cek Analisa Gas Darah)
Sumber: Marni(2014) dalam Haryani (2021)
1.1.3 PatofisiologiRDS
Bayi prematur lahir dengan kondisi paru yang belum siap sepenuhnya untuk
5
berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal ini merupakan faktor
utama terjadinya RDS. Ketidaksiapan paru menjalankan fungsinya tersebut
terutama disebabkan oleh kekurangan atau tidak adanya surfaktan.
Kekurangan atau ketidakmatangan fungsi sufaktan menimbulkan
ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli saat ekspirasi.
Tanpa surfaktan, janin tidak dapat menjaga parunya tetap mengembang. Setiap
kali bernafas menjadi sukar dan memerlukan usaha yang keras untuk
mengembangkan parunya pada setiap hembusan napas (ekspirasi). Hal ini
mengakibatkan bayi lebih banyak menghabiskan oksigen untuk menghasilkan
energi daripada menerima sehingga menyebabkan bayi kelelahan. Dengan
meningkatnya kekelahan, bayi akan semakin sedikit membuka alveolinya.
Ketidakmampuan mempertahankan pengembangan paru ini dapat
menyebabkan atelektasis (Wijanarti, 2020)
Kolaps paru (atelektasis) akan menyebabkan terganggunya ventilasi pulmonal
sehingga terjadi hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah kontraksi vaskularisasi
pulmonal yang menimbulkan penurunan oksigenasi jaringan dan selanjutnya
menyebabkan metabolisme anaerobik. Metabolisme anaerobik menghasilkan
timbunan asam laktat sehingga terjadi asidosis metabolik pada bayi dan
penurunan curah jantung yang menurunkan perfusi ke organ vital. Asidosis dan
atelektasis juga menyebabkan aliran darah paru menurun dan mengakibatkan
berkurangnya pembentukan zat surfaktan (Wijanarti, 2020). Atelektasis
menyebabkan paru tidak mampu mengeluarkan karbon dioksida dari sisa
pernapasan sehingga terjadi asidosis respiratorik. Penurunan pH menyebabkan
vasokonstriksi yang semakin berat. Dengan penurunan sirkulasi paru dan
perfusi alveolar, PaO2 akan menurun tajam, pH juga akan menurun tajam,
serta materi yang diperlukan untuk produksi surfaktan tidak mengalir ke dalam
alveoli (Wijanarti, 2020)
Sintesis surfaktan dipengaruhi sebagian oleh pH, suhu dan perfusi normal,
asfiksia, hipoksemia dan iskemia paru terutama dalam hubungannya dengan
hipovolemia, hipotensi dan stress dingin dapat menekan sintesis surfaktan. Lapisan
epitel paru dapat juga terkena trauma akibat kadar oksigen yang tinggi dan pengaruh
penatalaksanaan pernapasan yang mengakibatkan penurunan surfaktan lebih lanjut
(Wijanarti, 2020). Akibat lain adalah kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus
6
alveolus yang menyebabkan terjadinya transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya
fibrin, selanjutnya fibrin bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik
membentuk suatu lapisan yang disebut membran hialin. Membran hialin ini melapisi
alveoli dan menghambat pertukaran gas sehingga timbul masalah gangguan pertuka gas
(Wijanarti, 2020).
1.1.4 Komplikasi RDS
Komplikasi RDS menurut (Haryani dkk, 2021), antara lain
1. Komplikasi Jangka Pendek
a. Ruptur Alveoli
Bila dicurigai terjadi kebocoran udara (pneumothoraks,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema interstitial) pada bayi
dengan RDS yang tiba-tiba kondisinya memburuh dengan gejala apnea atau
bradikardia.
b. Infeksi
Terjadi karena keadaan yang memburuk dan adanya perubahan jumlah
leukosit dan trombositopenia. Infeksi timbul karena tindakan invasif seperti
pemasangan alat respirasi dan jarum vena.
c. Perdarahan Intra Kranial leukomalasia periventrikular
Perdarahan intraventrikular terjadi pada 20 – 40% bayi prematur
dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS.
d. PDA (Peningkatan Duktus Arterious) dengan peningkatan shunting dari kiri
ke kanan
Komplikasi pada bayi dengan RDS terutama pada bayi yang dihentikan
terapi surfaktannya.
2. Komplikasi Jangka Panjang
a. Broncho Pulmonary Dysplasia (BPD)
Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan karena pemakaian oksigen
pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan dengan
tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu menggunakan
ventilasi mekanik karena adanya infeksi, inflamasi dan defisiensi vitamin A
b. Retinopaty Premature
Kegagalan fungsi neurologik terjadi sekitar 10 – 70% pada bayi yang
berhubungan dengan masa gestasi karena adanya hipoksia, komplikasi
7
intrakranial, dan adanya infeksi
1.1.2 Pemeriksaan Penunjang RDS
Pemeriksaan pada bayi dengan RDS, yaitu (Marfuah dkk, 2013) :
1. Nilai darah lengkap pada bayi RDS, terdiri dari :
a. Hb (normal 15 – 19 g/dL) , biasanya Hb pada bayi dengan RDS cenderung
turun karena O2 dalam darah sedikit.
b. Leukosit lebih dari 10.0 (normal 4.0 – 10.0 10^3/µL) karena pada bayi
preterm, imunitas masih rendah sehingga beresiko tinggi terhadap infeksi.
c. Trombosit (normal 100 – 300 10^3/µL)
d. Distrofiks pada bayi preterm dengan RDS cenderung turun karena sering
terjadi hipoglikemia.
2. Pemeriksaan Analisa Gas Darah karena didapatkan adanya hipoksemia
kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik.
a. pH (normal 7,36 – 7, 46)
b. PCO2 (normal 35 – 45 mmHg)
c. PO2 (normal 80 – 100 mmHg)
d. SaO2 (normal 95% - 97%), < 90% dapat mengidentifikasikan hipoksemia.
e. HCO3 (normal 24 – 28 mEq/L)
f. SpO2 (normal 80 – 100%)
3. Pemeriksaan Radiologis, setelah 14 – 24 jam akan tampak infiltrat alveolar tanpa
batas yang tegas di seluruh paru.
4. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal di dalam
parenkim paru.
1.1.5 Penatalaksanaan RDS
Prinsip penatalaksanaan pada bayi dengan RDS menurut (Suminto, 2017),
adalah mencegah terjadinya hipoksemia dan asidosis respiratorik, mencegah perburukan
atelektasis dan edema pulmoner, mengurangi oxidant lung injury, dan mengurangi
kerusakan yang terjadi pada paru akibat dari ventilasi mekanik. Berikut ini adalah
penatalaksanaan pada bayi dengan RDS (Haryani dkk, 2021) :
1. Antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan cairan paru.
3. Vitamin E untuk menurunkan radikal bebas oksigen
8
4. Pertahankan PO2 dalam batas normal
5. Ventilasi dan oksigenasi (3 – 5 liter dengan menggunakan masker)
6. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaannya dalam
pengobatan RDS adalah pemberian terapi surfaktan eksogen. Surfaktan eksogen
merupakan derivat dari sumber alami misalnya manusia (didapatkan dari cairan
amnion, akan tetapi juga bisa berbentuk surfaktan buatan). Dosis surfaktan
diberikan secara bervariasi antara 100mg/kgBB sampai 200 mg/kgBB. Dengan
dosis 100 mg/kgBB maka sudah dapat memberikan oksigenasi dan ventilasi
yang baik dan dapat menurunkan angka kematian neonatus. Pemberian terapi
surfaktan eksogen tersebut dikombinasikan dengan menggunakan CPAP atau
Continues Positives Airway Pressure(Suminto, 2017).
1.2 Konsep Asuhan keperawatan
1.2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan berbagai
informasi yang berkaitan dengan masalah yang dialami oleh klien. Pengkajian
dilakukan dengan berbagai cara yaitu anamnesa, observasi, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan diagnostik yang dilakukan di laboratorium (Surasmi dkk, 2013).
1. Identitas : Nama bayi, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, agama, anak ke berapa
dan identitas orang tua.
2. Kaji riwayat kehamilan dan Persalinan : Apakah selama hamil, ibu menderita
penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, atau perdarahan.
3. Kaji riwayat neonatus : Apakah bayi lahir dengan gangguan pernafasan seperti
adanya takipnea atau dispnea, pernafasan cuping hidung, retraksi dada serta
adanya suara merintih pada saat ekspirasi dan apakah bayi terpajan pada keadaan
hipotermia.
4. kaji riwayat penyakit keluarga : Apakah ada keluarga yang pernah mengalami
penyakit yang sama atau penyakit yang lainnya.
5. Kaji nilai APGAR bayi : Apabila rendah maka lakukan tindakan resusitasi pada
bayi.
Pemantauan nilai APGARscore dilakukan pada menit ke 1 dan menit
ke 5, apabila penilaian apgar 5 menit masih kurang dari 7 maka penilaian
selanjutnya dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7 (Fida & Maya,
9
2012).
a. Bayi normal atau tidak asfiksia :
Skor APGAR 8-10 dianggap normal, tidak memerlukan resusitasi dan
pemberian oksigen secara terkendali.
b. Bayi dengan asfiksia ringan (Vigorus Baby)
Skor APGAR 5-7 dianggap bayi sehat dan tidak memerlukan tindakan
seperti resusitasi dan pemberian oksigen.
c. Bayi dengan asfiksia sedang (Mild Moderate Asphyksia)
Skor APGAR 3-4, pada saat dilakukan pemeriksaan fisik akan
didapatkan frekuensi jantung >100x/menit, tonus otot kurang baik atau baik,
terjadi sianosis, memerlukan tindakan resusitasi dan pemberian oksigen sampai
bayi dapat bernafas dengan normal.
d. Bayi dengan asfiksia berat
Skor APGAR 0-3, akan memerlukan tindakan resusitasi dan pemberian
oksigen secara terkendali. Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan
didapatkan frekuensi jantung <100x/menit, tonus otot buruk, sianosis berat dan
terkadang pucat, serta refleks iritabilitas tidak ada
6. Riwayat Perkembangan
a. Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial)
Berhubungan dengan reflek menangis, bersosialisasi, dan berinteraksi
dengan lingkungan sekitar.
b. Gerakan motorik halus
Berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu untuk
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan
dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan koordinasi cepar misalnya memegang
ibu jari, memegang suatu benda dan merentangkan tangan.
c. Gerakan motorik kasar
Berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
d. Kognitif dan Bahasa
Kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara secara spontan.
7. Kaji Pola Aktivitas sehari-hari
Pengkajian terhadap Activity Daily Life yang meliputi pola nutrisi, pola
eliminasi, pola tidur, kebersihan diri, psikososial, dan spiritual.
10
8. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaat fisik menurut (Sudarti dkk, 2013), antara lain :
a. B1 (Breathing)
Takipnea merupakan manifestasi awal distress pernafasan pada bayi.
Meningkatknya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung retraksi
dinding dada, dan yang sering dijumpai yaitu obstruksi jalan nafas serta alveolar.
b. B2 (Blood)
Pemeriksaan nada sangat penting untuk mengetahui volume dan aliran
sirkulasi perifer nadi yang tidak adekuat dan tidak teraba pada satu sisi yang
menandakan berkurangnya aliran darah atau tersumbatnya aliran darah.
c. B3 (Brain)
Terjadi imobilitas, kelemahan, dan penurunan suhu tubuh.
d. B4 (Bladder)
Akan terjadi penurunan produksi atau laju filtrasi glomerulus.
e. B5 (Bowel)
Biasanya pasien akan mengalami mual dan muntah, anoreksia akibat
pembesaran vena dan statis vena di dalam rongga abdomen serta penurunan
berat badan.
f. B6 (Bone)
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak, tangan dan kaki teraba dingin dan pucat.
1.2.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul pada Respiratory Distress Syndrome, (DPP
PPNI, 2016) diantaranya :
1. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan Ketidakseimbangan Ventilasi-
Perfusi (D.0003)
2. Pola Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Imaturitas Neurologis
(D.0005)
3. R e s i k o Hipotermia berhubungan dengan Berat Badan Lahir Rendah
(D.0140)
4. Resiko Infeksi ditandai dengan Ketidakadekuatan Pertahanan Tubuh Sekunder
: Leukopenia(D.0142)
5. Resiko Perdarahan ditandai dengan Trombositopenia (D.0012)
11
1.2.3 Intervensi Keperawatan
1. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan Ketidakseimbangan Ventilasi-
Perfusi.
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka pertukaran gas
membaik.
Kriteria Hasil :
a. Dispnea menurun.
b. Nafas cuping hidung menurun.
c. Takikardia membaik.
d. Sianosis membaik.
Intervensi Keperawatan :
1) Monitor frekuensi, irama, kedalam dan upaya nafas
Rasional : Untuk meminimalisir perburukan kondisi pernafasan pasien.
2) Monitor pola nafas
Rasional : Untuk mengetahui pola nafas pasien yang tidak efektif
(misalnya dispnea, takipnea, bradipnea, hiperventilasi, kussmaul).
3) Monitor saturasi oksigen
Rasional : Untuk mengetahui kadar oksigen di dalam darah
4) Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien
Rasional : Agar dapat memantau respirasi pasien secara berkala.
5) Dokumentasikan hasil pemantauan
Rasional : Agar dapat memberikan informasi yang diperlukan untuk
perencanaan asuhan keperawatan.
2. Pola Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Imaturitas Neurologis Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka pola nafas
efektif.
Kriteria Hasil :
a. Frekuensi nafas membaik.
b. Penggunaan otot bantu nafas menurun.
c. Pernafasan cuping hidung menurun.
12
d. Parameter oksigen yang adekuat.
Intervensi Keperawatan :
1) Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas)
Rasional : Untuk mengetahui pola nafas pasien yang tidak efektif.
2) Monitor bunyi nafas
Rasional : Untuk mengetahui tambahan suara nafas (mis. gargling, mengi,
wheezing, ronchi atau pada bayi dengan RDS akan terdengar suara
merintih (grunting) pada saat ekspirasi).
3) Pertahankan kepatenan jalan nafas
Rasional : Agar dapat mempertahankan atau memperbaiki pola nafas.
4) Berikan oksigen
rasional : Untuk menurunkan distress respirasi dan sianosis.
5) Posisikan semi fowler atau fowler
Rasional : Meningkatkan ekspansi paru dan memudahkan
pernafasan.
3. Resiko Hipotermia berhubungan dengan Berat Badan Lahir Rendah Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan intervensi keperawatan maka
termoregulasi neonatus membaik.
Kriteria hasil :
a. Suhu tubuh membaik.
b. Suhu kulit menurun.
c. Frekuensi nadi menurun.
d. Ventilasi menurun.
e. Konsumsi oksigen meningkat.
Intervensi Keperawatan :
1) Monitor suhu tubuh
13
Rasional : Untuk memantau suhu tubuh pasien (36,5oC – 37oC).
2) Identifikasi penyebab hipotermia
Rasional : Untuk mengetahui penyebab terjadinya hipotermia, pada bayi
dengan BBLR disebabkan karena kurangnya jaringan lemak
subkutan.
3) Monitor tanda dan gejala akibat hipotermia
Rasional : Untuk mengetahui tanda gejala terjadinya hipotermia (misalnya
pada hipotermia ringan, tanda gejalanya yaitu takipnea).
4) Sediakan lingkungan yang hangat
Rasional : Agar lingkungan yang ditempati bayi tetap hangat seperti
inkubator.
5) Lakukan penghangatan pasif
Rasional : Untuk memberikan kehangatan bagi tubuh bayi.
4. Resiko Infeksi ditandai denganKetidakadekuatan Pertahanan Tubuh Sekunder :
Leukopenia
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka tingkat infeksi
menurun
Kriteria Hasil :
a. Demam menurun
b. Kemerahan menurun
c. Kadar darah sel putih menurun
d. Kultur darah membaik Intervensi Keperawatan :
1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik Rasional :
Memantau tanda gejala terjadinya infeksi
2) Berikan perawatan kulit pada pada area edema
Rasional : Dapat membantu mencegah terjadinya infeksi yang lebih luas.
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
Rasional : Untuk menjaga kebersihan lingkungan pasien.
14
4) Pertahankan teknik aseptik pada pasien beresiko tinggi
15
Rasional : Untuk mencegah terjadinya resiko infeksi.
5. Resiko Perdarahan berhubungan dengan Trombositopenia
Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan maka tingkat perdarahan
menurun.
Kriteria Hasil :
a. Hemoglobin membaik (normal 7 – 20 g/dL)
b. Hematokrit membaik (normal 38.0 – 68.0 %)
c. Trombosit membaik (normal 100 – 300 10^3/µL )
d. Kelembapan membran mukosa meningkat Intervensi Keperawatan :
1) Monitor tanda dan gejala perdarahan
Rasional : Untuk mengetahui tanda gejala terjadinya perdarahan.
2) Monitor nilai hemoglobin, hematokrit, trombosit
Rasional : Untuk mengetahui nilai kadar hemoglobin, hematokrit dan
trombosit dalam rentang normal atau tidak.
3) Kolaborasi pemberian produk darah
Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan darah
4) Atur interval pemantauan sesuai kondisi pasien
Rasional : Agar dapat memantau kondisi pasien secara berkala.
5) Dokumentasi hasil pemantauan
Rasional : Agar dapat melakukan perencanaan tindakan asuhan
keperawatan selanjutnya
1.2.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh perawat
untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang di hadapi kedalam suatu
kasus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
Dalam pelaksanaan implementasi meliputi pengumpulan data berkelanjutan,
mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan dan menilai data
16
yang baru (Ilmi dkk, 2019).
1.2.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah tahapan akhir yang ada di dalam proses
keperawatan dimana tujuan dari evaluasi adalah untuk menilai apakah tindakan
keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau tidak. Untuk mengatasi suatu masalah
dari klien pada tahap evaluasi ini perawat dapat mengetahui seberapa jauh diagnose
keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan sudah tercapai yang telah dilakukan
oleh perawat (Ilmi dkk, 2019).
Agrina, M. F., Toyibah, A., & Jupriyono. (2016). Tingkat Kejadian Respiratory Distress
Syndrome (RDS) Antara Bblr Preterm Dan Bblr Dismatur. Jurnal Sain Veteriner,
3(2), 125–131.
Azzahroh, P., & Utami, W. E. (2017). Hubungan BBLR Dengan Kejadian Sepsis
Neonatorum di RSUD DR. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015.
Jurnal Ilmu Dan Budaya, Edisi Khusus Fakultas Ilmu Kesehatan, 40(57), 6609–
6616.
Dinkes Jatim, R. (2020). Profil Kesehatan 2020.
DPP PPNI, T. P. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi dan
Indikator Diagnostik (1st ed.). DPP PPNI.
DPP PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan
Tindakan Keperawatan. DPP PPNI.
Effendi, sjarif. (2011). Nutrisi parenteral pada neonatus. Ilmu, Bagian Anak, Kesehatan
Kedokteran, Fakultas Padjadjaran, Universitas Sakit, Rumah Pusat, Umum
Sadikin, Hasan.
Fajariyah, S. U., Bermawi, H., & Tasli, J. M. (2016). Terapi Surfaktan pada Penyakit
Membran Hyalin. Oktober, 3(3), 194–202.
Fida, & Maya. (2012). Pengantar Ilmu Kesehatan Anak. D-Medika.
Habibah, N., Indriatie, Joelantina, A., & Nurhasanah. (2014). Body Temperature
Differences in Low Birth Weight Infants Using the Incubator. Jurnal
17
Keperawatan, VII(2), 51–54.
Halimah, I. (2016). Upaya Konservasi Pada Neonatus Dengan Non-Nutritive Sucking
Dan Pijat Ekstremitas. Ners Jurnal Keperawatan, 12(No.1), 82–91.
Hanum, S., Hasanah, O., & Elita, V. (2014). Gambaran Morbiditas Bayi Dengan Berat
Badan Lahir Rendah (BBLR) di Ruang Perinatologi RSUD Arifin Achmad
Pekanbaru. Jom Psik, 1(2), 1–8.
Haryani, Hardiani, S., & Thoyibah, Z. (2021). Asuhan Keperawatan Pada Bayi Dengan
Risiko Tinggi. CV. Trans Info Media.
Hidajat, S., & Firdaus, A. (2012). Diagnosis Dan Penatalaksanaan Kegagalan Nafas.
Diagnosis Dan Penatalaksanaan Kegagalan Napas Pada Neonatus, 1– 15.
18
IDAI, I. (2016). Konsensus Asuhan Nutrisi pada Bayi Prematur. Konsensus Und
Interessen, 15–88. [Link]
Ilmi, M. N., Saraswati, R., & Hartono. (2019). Analisis Asuhan Keperawatan.
University Research Colloqium, 331–339.
Kemenkes RI. (2019). Profil Kesehatan Indonesia 2019. In Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. [Link]
Kementerian Kesehatan RI. (2015). Buku Ajar Imunisasi. In Kementerian Kesehatan
RI. Sekretariat r Jenderal. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun. [Link] Ind r
Madyastuti, L. (2017). Bahan Ajar Keperawatan Dasar Anak. 1–99.
Marfuah, M., Barlianto, W., & Susmarini, D. (2013). Faktor Risiko Kegawatan Nafas
Pada Neonatus Di Rsd. Dr. Haryoto Kabupaten Lumajang Tahun 2013. Jurnal
Ilmu Keperawatan, 1(2), pp.119-127.
Marni. (2014). Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Gangguan Pernapasan.
Gosyen Publishing.
Maryamah, A., Raksanagara, A. S., Rasyad, A. S., Wijayanegara, H., Garna, H., &
Sutisna, M. (2019). Pengaruh Penggunaan Hypothermic Baby Blanket Dalam
Meningkatkan Body LBWB Temperature in RSU Dr . Slamet Garut. Jsk, 5(71),
24–30.
Maryunani, A. (2014). Asuhan Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
CV. Trans Info Media.
Nency, Y. M., & Sumanti, D. (2016). Latar Belakang Penyakit pada Penggunaan
Transfusi Komponen Darah pada Anak. Sari Pediatri, 13(3), 159.
[Link]
Nurviyanti, N., & Suparti, S. (2021). Efektifitas Terapi Oksigen Terhadap Downes
Score pada Pasien Asfiksia Neonatus di Ruang Perinatologi. Faletehan Health
Journal, 8(01), 65–70. [Link]
Padila, P., Amin, M., & Rizki, R. (2018). Pengalaman Ibu dalam Merawat Bayi Preterm
yang Pernah dirawat di Ruang Neonatus Intensive Care Unit Kota Bengkulu.
Jurnal Keperawatan Silampari, 1(2), 1–16. [Link]
19
Proverawati, A., & Ismawati, C. (2010). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Nuha
Medika.
Putri, I. M., & Utami, F. S. (2017). ASI dan Menyusui. In Buku (Vol. 13, Issue 26).
[Link]
Rahardjo, & Marmi. (2012). Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Prasekolah.
Pustaka Belajar.
RISKESDAS. (2018). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehatan
RI, 53(9), 1689–1699.
Septa, W., & Darmawan, M. (2013). Faktor Risiko Bayi Berat Badan Lahir Rendah di
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Indonesia, 3(8), 45–51.
Setiyani, A., Sukesi, & Esyuananik. (2016). Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita
dan Anak Pra Sekolah. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Stevens, L. M., Lynm, C., & Glass, R. M. (2014). Low birth weight. Journal of the
American Medical Association, 287(2), 270.
[Link]
Subarkah, A. R. (2019). Analisis Asuhan Keperawatan BBLR Prematur dengan
Ketidakefektifan Pola Menyusu Bayi di Ruang Melati RSUD Margono Soekarjo
Purwokerto. Proceeding of The URECOL, 327–330.
Sudarti, & Fauziyah. (2013). Asuhan Kebidanan Neonatus Resiko Tinggi dan
Kegawatan. Nuha Medika.
Suminto, S. (2017). Peranan Surfaktan Eksogen pada Tatalaksana Respiratory Distress
Syndrome Bayi Prematur. Cermin Dunia Kedokteran, 44(8), 568– 571.
Surasmi, & Asrining. (2013). Perawatan Bayi Resiko Tinggi. EGC.
Wahyuni, S., & Asthiningsih, N. W. W. (2020). Hubungan Usia Ibu dan Asfiksia
Neonatorum dengan Kejadian Respiratory Distress Syndrome ( RDS ) pada
Neonatus di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Borneo Student Research,
1(3), 1824–1833.
Widiatmoko, A., Gede, I. D., Wisana, H., & Rahmawati, T. (2019). Rancang
Bangun Pengukur Konsentrasi Oksigen Pada Alat Bubble CPAP. 8, 182–188. Yustika,
G., Jalaluddin, S., & H, F. A. (2020). Analisis Parameter Leukosit Dalam
20
Diagnosis Neonatorum Awitan Dini Di RSIA ANANDA MAKASSAR.
Journal of Health Science, 13(02), 204–214.