PERAN MASJID DALAM MEMBANGUN UMAT YANG
RELIGIUS SPRITUALISTIS, SEHAT ROHANI, DAN
JASMANI, CERDAS (EMOSIONAL, INTELEKTUAL, DAN
SPRITUAL) DAN SEJAHTERA
DOSEN PENGAMPU:
[Link] PUTRA [Link]
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 13
EFRI (202405033)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PAT PETULAI
TAHUN 2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang telah memberikan
banyak kemudahan dan limpahan rezeki-Nya sehingga kami mampu
menyelesaikan tugas kelompok dalam membuat makalah yang bertajuk "Agama
Islam dalam pengembangan manusia seutuhnya dan sarjana muslim yang
profesional".
Kami sadar betul dalam penggarapan makalah ini tak lepas dari bantuan
banyak pihak, termasuk dosen pengampu bapak M. iman putra [Link] yang sudah
membimbing kelompok 13 dari mulai penggarapan sampai rampungnya makalah.
Selain itu, makalah yang kami garap masih jauh dari kata sempurna
karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan kami. Kiranya, kami berharap
adanya saran dan kritik untuk makalah yang baru kami buat. Terakhir, kami
berharap semoga makalah ini bisa memberi manfaat yang banyak bagi pembaca.
Curup,23 Desember 2024
Kelompok.13
i
BAB 1
1.1 LATAR BELAKANG
Masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan dan sosial
memiliki peran strategis dalam membangun umat yang berkualitas. Umat Islam di
Indonesia menghadapi berbagai tantangan, seperti kemerosotan moral, kesehatan
yang memburuk, dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, diperlukan peran masjid
yang efektif dalam membangun umat yang religius-spiritualis, sehat rohani dan
jasmani, cerdas, serta sejahtera.
A. PENDAHULUAN
Masjid disebut sebagai bangunan tempat berlangsungnya segala kegiatan
yang menyangkut ketaatan kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman
Allah yang tercatat dalam surat Jin dan maknanya sebagai berikut: "Sesungguhnya
masjid itu untuk Allah, maka jangan menyembah selain Allah". Fungsi masjid
sebagai tempat ibadah seperti ini sepertinya sudah lumrah dilakukan sebagian
besar masyarakat Indonesia. Masjid ditempati pada waktu-waktu salat tertentu,
termasuk salat lima. waktu, salat Jumat, dan salat Idul Fitri. Di beberapa daerah,
masjid sepi pengunjung karena berbagai alasan milik masyarakat.
Masjid merupakan ruang ketiga yang berkarakteristik ruang sosial semi
publik dan tempat berkumpul. Artinya, meskipun masjid bukan milik pribadi,
tidak semua orang dapat menggunakannya sebagai tempat ibadah. Hal ini
menunjukkan bahwa masjid merupakan ruang sosial untuk kepentingan khusus
Bagi masyarakat Indonesia, masjid lebih dari sekedar bangunan yang
mengandung nilai-nilai keagamaan. Sebagai daerah dengan budaya yang beragam.
ii
bangunan masjid dan keadaan sosial budaya masyarakatnya juga khas.
Hal ini terkait dengan sejarah penyebaran Islam di Indonesia yang banyak
menghasilkan produk akulturasi. Misalnya, Masjid Laksamana Zheng He yang
dibangun dengan arsitektur Tiongkok. Fleksibilitas bangunan masjid dan
keunikan arsitektur masjid memberikan nilai estetika yang memungkinkan
digunakan sebagai tempat [Link] menilik bentuk dan fungsi masjid, ada satu
masjid yang sangat menarik untuk dibahas dan dianalisis.
Masjid Darsaada Kota Bandung. Lokasi tepatnya berada di Kelurahan
Dago, Kecamatan Koburon, Kota Bandung. Masjid tidak hanya berfungsi sebagai
tempat beribadah, namun juga berfungsi sebagai tempat pendidikan, sosial dan
budaya. Terletak dekat dengan pusat kota, masjid berperan sentral dalam
pengembangan nilai-nilai keagamaan dan pendidikan. Selain itu, Masjid Darsaada
berfungsi sebagai tempat berkumpulnya gagasan dan gagasan masyarakat.
Semua masjid mempunyai fungsi utama sebagai tempat ibadah. Namun
fungsi masjid saat ini masih mengalami pengembangan lebih lanjut. Misalnya,
beberapa masjid mungkin berfungsi sebagai tempat perayaan, hiburan keagamaan,
atau wisata religi. Demikian pula Masjid Darsaada juga sedang dikembangkan
untuk meningkatkan fungsi pendidikan dan budayanya. Melihat perkembangan
tersebut, fungsi agama, pendidikan, dan kebudayaan akhirnya dianalisis dengan
menggunakan konsep penguatan komunitas. Penguatan tersebut terjadi pada
bidang keagamaan, yaitu peran masjid sebagai ruang keagamaan, pendidikan, dan
budaya.
iii
BAB 2
PEMBAHASAN
1. Peran Masjid berdasarkan Al-Quran
Masyarakat menyebut masjid sebagai rumah Allah Subhanahu wa Ta'ala
yang digunakan untuk salat. Selain itu, pengajaran agama atau pembacaan Al-
Qur'an juga sering dilakukan di masjid-masjid. Namun dengan bantuan masjid,
banyak hal yang bisa dilaksanakan untuk kemaslahatan umat.
Hal ini menunjukkan bahwa selain dapat melindungi agama Allah SWT, masjid
juga dapat digunakan untuk menciptakan kesejahteraan dan ketertiban masyarakat
melalui dakwah agama.
Jika Indonesia terdiri dari masyarakat majemuk, seharusnya masjid
memberitakan kesejukan dalam kehidupan sehari- hari. Al-Quran antara lain
menyebutkan misi masjid dalam firman Allah SWT:"Bersyukurlah kepada Allah
di masjid-masjid yang disucikan untuk memuji, yang namanya disebutkan pada
waktu pagi dan sore hari, orang-orang yang tidak lalai dalam usaha dan (juga)
dalam jual beli atau dalam segala kegiatan. dari) shalat dan membayar zakat,
mereka takut pada hari yang (pada hari itu) gemetar hati dan mata." (QS. An-Nur:
36-37)
Perintah memuji bukan sekedar mengucapkan Subhanallah saja, namun
lebih luas makna dan konteks yang dicakup oleh kata tersebut, padahal makna dan
konteksnya dapat diringkas dalam kata kesalehan. Ketakwaan sendiri tidak hanya
diwujudkan dalam hablum minallah (hubungan dengan Tuhan) tetapi juga dalam
hablum minannas (hubungan antar manusia) dan hablum minal Alam (hubungan
dengan alam/lingkungan). Pada titik ini, masjid harus menjadi titik awal
perubahan masyarakat dimana terdapat keadilan sosial di segala bidang.
iv
Pentingnya Masjid Dalam buku Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Maudhu'i
tentang Berbagai Pertanyaan Orang (Mizan, 2000), kata masjid diulang sebanyak
28 (dua dua puluh delapan) kali dalam Al-Qur'an. Secara linguistik, kata masjid
berasal dari akar kata sajada-sujud yang berarti patuh, patuh dan beribadah dengan
penuh rasa hormat dan ta'dzim. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki di
tanah, yang kemudian dalam syariat disebut sebagai sujud, merupakan bentuk
lahiriah yang paling kentara dari makna di atas. Oleh karena itu bangunan. tempat
beribadah disebut masjid yang artinya "tempat ibadah".
Dalam istilah sehari-hari, masjid adalah bangunan tempat umat Islam
beribadah. Namun karena akar kata tersebut mengandung arti ketundukan dan
ketaatan, maka hakikat masjid adalah tempat di mana segala aktivitas yang
menyangkut ketaatan kepada Allah saja dapat dilakukan. Misalnya pada Al-
Qur'an Surat Al-Jin ayat 18 mengatakan bahwa:"Sesungguhnya masjid-masjid itu
milik Allah, karena mereka tidak menyembah selain Allah." (QS. Al-Jin: 18)
Selain itu, Quraish Shihab menyatakan dalam kitab yang sama bahwa
Rasululullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bumi diciptakan untukkudan
umatku) sebagai masjid dan sarana penyucian diri." (HR melalui Bukhari dan
Muslim Jabir bin Abdullah).
Jika Nabi menghubungkan masjid dengan tanah ini, maka jelas masjid
bukan hanya sekedar tempat ibadah dan sarana bersuci. Masjid tidak hanya berarti
bangunan tempat beribadah, atau bahkan tayamum sebagai sarana bersuci sebagai
pengganti mencuci, tetapi masjid juga berarti tempat dilakukannya segala aktivitas
manusia yang mencerminkan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Peran Masjid pada masa Rasulullah
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, masjid yang pertama kali dibangun
adalah Masjid Quba, masjid ini awalnya merupakan pelataran yang kemudian
dipagari dengan dinding tembok yang cukup tinggi. Selain itu, ketika Nabi
Muhammad bermigrasi dari Makkah ke Madinah, tugas pertama dan segera yang
berkaitan dengan misi pembangunan komunitas muslim adalah membangun
masjid utama di kota itu, yaitu Masjid Nabawi.
v
Pada zaman Rasul SAW, masjid dengan segala aktivitasnya menyatu
dengan realitas kehidupan. Hal itu sesuai dengan kriteria pemakmur masjid yang
terdapat dalam Q.S. an-Nur [24] ayat 36-38 yaitu: Artinya: "(Bertasbih kepada
Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut
nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah,
dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut
kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.
(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada
mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan
supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki
kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas."
Masjid dimaksudkan tidak hanya untuk melakukan salat pada waktu yang
ditentukan, tetapi juga untuk banyak fungsi keagamaan, sosial, politik,
administrasi, dan budaya lainnya. Berikut kami merangkum selengkapnya.
beberapa fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW yang menarik diketahui:
a. Sebagai tempat pelaksana peribadatan
Fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW yang utama dan masih terus
berlangsung hingga kini yaitu sebagai tempat pelaksana peribadatan.
Umat muslim pergi ke masjid untuk melaksanakan salat wajib berjemaah
maupun salat sunah. Masjid berasal dari kata sajada yasjudu yang berarti
merendahkan diri, menyembah atau bersujud, dengan demikian sebagai
tempat salat dan zikir kepada Allah SWT merupakan fungsi utama dari
masjid.
vi
b. Sebagai Tempat Pertemuan
Fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW berikutnya yaitu sebagai
tempat pertemuan. Masjid menjadi tempat yang paling rutin digunakan
oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya bertemu. Rasulullah juga
menjadikan masjid sebagai tempat mengumumkan hal-hal penting yang
menyangkut hidup masyarakat Muslim. Apapun itu, berkaitan dengan
masyarakat dan acara-acara besar Islam juga diumumkan agar semua
orang mengetahuinya.
c. Sebagai Tempat Bermusyawarah
Pada masa Rasulullah SAW masjid juga digunakan sebagai tempat
bermusyawarah, baik dalam merencanakan suatu program maupun
memecahkan persoalan yang terjadi.
d. Sebagai Tempat Perlindungan
Fungsi masjid pada zaman Rasulullah SAW selanjutnya yaitu sebagai
tempat perlindungan. Rasul dan para sahabatnya sering memberikan
perlindungan atau jaminan keamanan bagi seseorang bila dia masuk ke
masjid.
e. Sebagai Tempat Kegiatan Sostal
Rasulullah SAW dan para sahabatnya menjadikan masjid sebagai tempat
kegiatan sosial, misalnya mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah melalui
masjid, lalu menyalurkannya kepada para sahabat yang sangat
membutuhkannya.
f. Sebagai Tempat Pengobatan Orang Sakit
Pada masa Rasulullah SAW perawatan dan pengobatan terhadap pasukan
perang dilakukan di lingkungan masjid.
g. Sebagai Tempat Latihan dan Mengatur Strategi Perang
Di samping memusyawarahkan pengaturan strategi perang di masjid, di
masjid juga langsung dilakukan latihan dan membentuk prajurit atau
mujahidin yang berkepribadian Islami dan memiliki kemampuan yang
biasa diandalkan.
vii
h. Sebagai Tempat Dakwah dan Madrasah
Rasulullah SAW juga menjadikan masjid sebagai tempat untuk
mengajarkan ilmu yang telah diperoleh dari Allah SWT berupa wahyu. Ini
berarti masjid berfungsi sebagai madrasah bagi kaum muslimin untuk
memperoleh ilmu pengetahuan. Inilah yang dilakukan Rasulullah SAW di
Masjid Nabawi. Rasulullah di masjid tersebut mendidik umat Islam dari
segala umur dan jenis kelamin; dewasa, remaja, anak-anak, baik laki-laki
maupun perempuan.
Bagi orang dewasa, mereka memanfaatkan masjid untuk tempat belajar
Alquran, hadis, fikih, dasar-dasar agama, bahasa dan sastra Arab.
Sementara bagi wanita, mereka mempelajari Alquran, hadis, dasar-dasar
Islam dan keterampilan menenun atau memintal, dengan frekuensi
seminggu sekali. Sementara anak-anak belajar di serambi masjid dengan
materi Al Quran, agama, bahasa Arab, berhitung, keterampilan berkuda,
memanah dan berenang.
3. Peran Masjid pada zaman modern
Di era milenial saat ini, masjid-masjid dipenuhi dengan berbagai macam
kegiatan keagamaan dan masjid yang masih menjadi tempat perjalanan
[Link] generasi Muslim muda pada era millennial menjadi titik
sentral dalam meramaikan masjid dan mendukung berbagai kegiatan
keagamaan. Kegelisahan muncul di Masyarakat akibat kemajuan zaman yang
marak terjadi, Masyarakat khawatir dengan fungsi masjid pada era Rasulullah
perlahan luntur atau hilang akibat kemajuan [Link] di era milenial
seperti sekarang ini, fungsi masjid telah mengalami perubahan dibandingkan
dengan fungsi masjid pada masa Rasulullah. Namun, hal itu tetap ada
kaitannya dengan apa yang disabdakan Nabi. Fungsi masjid saat ini adalah
sebagai berikut:
viii
a. Mengisi malam-malam Ramadhan dan memperingati hari-hari besar
Islam, tahun baru Islam, maulid Nabi dan zikir bersama.
b. Mendirikan shalat jum'at secara bersama.
c. Tempat kegiatan-kegiatan perlombaan seperti kasidah rabanah dan didikan
subuh bagi anak-anak.
Di era milenial saat ini, masjid diisi dengan kegiatan pendidikan dengan
pelatihan pendidikan Islam. Rata-rata masjid mempunyai TPA (Taman
Pendidikan Al-Quran), TK Islam, perpustakaan masjid, pesantren Ramadhan, SD
Islam bahkan Universitas Islam. Lalu terdapat juga unit pengumpul sadaqah di
beberapa masjid serta wadah sebagai tempat berdonasi. Di masjid juga sering
diadakan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, seperti
mengaji, kajian agama, remaja masjid dan lain-lain. Tak heran jika kita banyak
melihat ustadz-ustadz yang memberikan materi atau khotbah kepada jamaah,
seperti Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Yahya dan pemateri
lainnya. Ini menggambarkan bahwa masjid di era milenial masih menjadi tempat
berdakwah untuk umat Islam dan merupakan wadah diskusi antar manusia,
Generasi milenial umat Islam saat ini cukup bergairah menuju masjid.
Terlihat dengan banyaknya generasi milenial yang aktif mempelajari ilmu agama
dibandingkan orang yang lebih tua. Khusus untuk kota-kota besar di negeri ini.
sudah banyak kajian-kajian yang dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan
sarana komunikasi. Dalam buku berjudul Panduan Pengelolaan Masjid dijelaskan
beberapa fungsi masjid yang erat kaitannya dengan era milenial, seperti: Masjid
difungsikan untuk melaksanakan ibadah, tempat pengajian keagamaan terbukti
dengan adanya kegiatankegiatan untuk anak-anak dan remaja serta kegiatan untuk
orang tua, tempat membahas persoalan sosial dan mencari solusi demi kebaikan
bersama, masjid sebagai lembaga kesehatan dan bisnis, masjid dijadikan tempat
berdiskusi oleh remaja-remaja dalam mengkaji permasalahan agama, masjid
dijadikan lokasi pernikahan, dan masjid sebagai wadah dalam pengumpulan
sedekah serta zakat.. Semua fungsi tersebut tentu menjadikan masjid menjadi satu
tempat yang nyaman untuk berbagai kegiatan bermanfaat.
ix
BAB 3
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan, literasi, dan wawancara yang kami
lakukan, dapat disimpulkan bahwa peran Masjid tidak hanya sebagai tempat
ibadah kepada Allah (Hablum Minallah) namun juga sebagai tempat berinteraksi,
menjalin silaturahmi (Hablum Minannas) untuk melakukan kebaikan.
x
DAFTAR PUSTAKA
Azyumardi Azra, "Pembangunan Masyarakat: Teori dan Praktik" (Yayasan Obor
Indonesia, 2018).
Imam Ghazali, "Ihya' Ulumuddin" (Pustaka Azzam, 2017).
Muhammad Quraish Shihab, "Tafsir Al-Qur'an Al-Karim" (Lentera Hati, 2018).
Malik Badri, "Psikologi Islam" (Pustaka Jaya, 2017).
DAFTAR ISI
xi
xii