UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA AL-QUR’AN SISWA
(Penelitian di SMP Negeri 2 Cipaku)
Oleh
Abstract
This research uses qualitative research methods with the aim of finding out a description of the al-Qur'an
reading ability of students at SMP Negeri 2 Cipaku, what efforts are made by PAI teachers to improve students'
al-Qur'an reading ability and the supporting and inhibiting factors for success in improving students' ability to
read the al-Qur’an.
From this research, research results were obtained that among the efforts of PAI teachers at SMP
Negeri 2 Cipaku in improving students' ability to read the Al-Qur'an was the amount of habituation carried out
consistently, including habituation before starting PAI learning. habituation in the learning process, habituation
after noon prayers, habituation to religious activities every Wednesday and Friday as well as the BTQ
extracurricular program.
Keywords: PAI teacher, Al-Qur'an, BTQ
Abstrak
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kemampuan
membaca al-Qur’an siswa SMP Negeri 2 Cipaku, upaya apa saja yang ditempuh oleh guru PAI dalam
meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an siswa dan faktor pendukung serta penghambat keberhasilan
dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an siswa.
Dari penelitian ini, didapatkan sebuah hasil penelitian bahwa diantara upaya guru PAI SMP Negeri 2
Cipaku dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an siswa adalah dengan banyaknya pembiasaan yang
dilakukan secara konsisten diantaranya, pembiasaan sebelum memulai pembelajaran PAI, pembiasaan dalam
proses pembelajaran, pembiasaan setelah shalat dzuhur, pembiasaan kegiatan keagamaan setiap hari Rabu dan
Jumat serta adanya program ekstrakulikuler BTQ.
Kata kunci: Guru PAI, al-Qur’an, BTQ
Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab
II pasal 3 yang berbunyi : Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga Negara yang demokrasi serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan
tersebut maka lembaga pendidikan atau institusi yang sangat bertanggung jawab
terhadap generasi bangsa yang berkualitas. (Arifin, 2009:40)
Dilihat dari tujuan pendidikan nasional diatas, dapat disimpulkan bahwa
pendidikan di Indonesia bukan hanya diarahkan kepada kecerdasan intelektual
melainkan juga di arahkan kepada pembentukan karakter yang berakhlakul karimah
serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa. Dengan ini pembentukan
karakter yang berakhlakul karimah serta beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang
maha esa menjadi tujuan utama pendidikan nasional, melalui pendidikan agama
tujuan ini dapat dicapai dan diwujudkan karena pendidikan agama menyangkut segala
aspekkebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.
Lembaga Pendidikan dalam hal ini sekolah baik negeri ataupun swasta
memiliki tanggung jawab yang besar dalam menghasilkan lulusan-lulusan yang paling
tidak telah memiliki bekal pengetahuan yang cukup dan mampu bersaing. Dalam hal
ini bukan saja pengetahuan umum yang diperhatikan akan tetapi pengetahuan tentang
agamanya untuk pondasi keyakinan dan keseimbangan dalam berperan di masyarakat
luas.
Betapapun awamnya seorang Muslim, ia memiliki kewajiban yang sama
dalam hal mempelajari dan memahami isi kandungan dari kitab suci yaitu al-Qur’an
al-Karim. Selain daripada al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang beriman, ilmu
membaca dan menulis al-Qur’an dinggap sebagai ilmu basic yang harus dikuasai oleh
setiap orang yang beragama Islam, karena banyak kegiatan dalam bidang Pendidikan
maupun kemasyarakatan yang melibatkan kemampuan membaca maupun menulis al-
Qur’an. Misalnya saja kegiatan tadarus di sekolah, apabila salah seorang siswa tidak
bisa membaca al-Qur’an maka akan timbul perasaan minder bagi siswa yang
bersangkutan dan perasaan miris bagi guru yang menjadi pembimbingnya dalam
bidang keilmuan.
Kemampuan membaca al-Qur’an harus ditanamkan pada anak sedini
mungkin, karena masa anak adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan
pengetahuan dan mengasah berbagai kemampuan. Alasan penulis lebih menyoroti
kemampuan membaca al-Qur’an pada SMP karena SMP merupakan jenjang
pendidikan perantara antara SD dan SMA/SMK. Jenjang Pendidikan SMP merupakan
medium pengontrol antara pendidikan di SD dan di SMA/SMK. Pada jenjang
pendidikan di SMP lah kesempatan yang paling baik untuk lebih mengasah segala
kemampuan siswa setelah lulus SD dan sebagai tempat persiapan menuju pendidikan
selanjutnya, sehingga pada jenjang Pendidikan SMA/SMK siswa sudah kompeten dan
lebih mengembangkan kemampuannya. Untuk bisa membaca al-Qur’an dengan tartil
diperlukan belajar dan latihan yang serius.
Berdasarkan pengalaman dilapangan, yang merupakan salah satu problem
pelaksanaan pendidikan Agama Islam di tingkat sekolah menengah pertama
khususnya di SMP Negeri 2 Cipaku adalah adanya peserta didik yang belum mampu
membaca al-Qur’an dengan baik dan benar, bahkan ada sebagian dari mereka masih
belum hafal huruf Hijaiyah. Oleh karena itu guru khususnya guru Pendidikan agama
Islam harus lebih memperhatikan bacaan al-Qur’an siswa.
Dengan permasalahan yang terurai di atas maka penyusun berinisiatif
mengenai urgensi peningkatan kemampuan membaca al-Qur’an siswa dan apa saja
upaya guru PAI yang dilakukan oleh sekolah, dalam meningkatkan kemampuan
membaca al-Qur’an, dengan judul “UPAYA GURU PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-
QUR’AN SISWA”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan 3 permasalahan yaitu:
1. Apa faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca al-Qur’an siswa
SMP Negeri 2 Cipaku?
2. Bagaimana upaya guru dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an siswa
SMP Negeri 2 Cipaku?
3. Bagaimana faktor pendukung dan penghambat yang dialami dalam upaya peningkatan
kemampuan membaca al-Qur’an siswa SMP Negeri 2 Cipaku?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penelitian dan penulisan artikel ialah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca al-
Qur’an siswa SMP Negeri 2 Cipaku.
2. Untuk mengetahui upaya guru dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an
siswa SMP Negeri 2 Cipaku.
3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang dialami dalam upaya
peningkatan kemampuan membaca al-Qur’an siswa SMP Negeri 2 Cipaku.
Metodologi Penelitian
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Cipaku yang berlokasi di Jalan
Dusun Desa Nomor 05 Rt 04 Rw 02, Desa Cipaku Kecamatan Cipaku Kabupaten
Ciamis. Adapun waktu penelitian dimulai dari tanggal 18-20 Desember 2023 yang
meliputi aktivitas observasi dan wawancara.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan diperlukan untuk menentukan langkah-langkah
yang akan digunakan dalam memecahkan masalah dalam penelitian yang sedang
dilakukan. Adapun metode penelitian yang dilakukan penulis adalah metode
penelitian kualitatif studi kasus.
Sumber data adalah semua subjek yang dapat memberikan informasi terhadap
semua masalah penelitian, menurut Arikunto (2010:172), “yang dimaksud dengan
sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data diperoleh.” Dalam penelitian
ini adalah 2 orang guru dan siswa SMP Negeri 2 Cipaku yang mengikuti ekstrakulikuler
BTQ.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi partisipan dan dokumentasi. Pada penelitian ini, peneliti mengamati secara
langsung untuk memperoleh informasi yang diperlukan mengenai upaya guru
pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an siswa.
Landasan Teori
A. Upaya
Upaya adalah usaha yang dilakukan secara sistematis berencana terhadap
tujuan permaslahan, usaha tersebut berupa tindakan dalam memecahkan
permasalahan dan mencari jalan keluar demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan.
(Muawanah, 2012:90)
Dengan demikian, upaya dapat dipahami sebagai suatu kegiatan atau aktifitas
yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan
dengan mengarahkan tenaga dan pikiran. Sedangkan yang di maksud dalam penelitian
ini adalah upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an
siswa SMP Negeri 2 Cipaku agar dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar
sesuai dengan makharijul huruf dan hukum tajwidnya.
B. Guru Pendidikan Agama Islam
Menurut undang-undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 1
ayat 10 di sebutkan bahwa kompetensi adalah “seperangkat pengetahuan
keterampilan, dan perilaku yang harus di miliki, di hayati, dan di kuasai oleh guru
atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan”. (Lubaba, 2013:28)
Pendidikan Agama Islam menurut Muhammad As-Said adalah pendidikan
islami, yaitu:
pendidikan yang memiliki karakteristik dan sifat keislaman, yakni pendidikan yang didirikan
dan dikembangkan di atas dasar ajaran Islam. Hal ini memberi arti yang signifikan, bahwa
seluruh pemikiran dan aktivitas pendidikan Islam tidak mungkin lepas dari ketentuan bahwa
semua pengembangan dan aktivitas kependidikan Islam haruslah benar-benar merupakan
realisasi atau pengembangan dari ajaran Islam itu sendiri. (Said, 2011:10)
C. Kemampuan Membaca Al-Qur’an
Kemampuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata
“mampu” yang mendapatkan awalan ke dan akhiran kan yang berarti kesanggupan,
kecakapan, dan kekuatan untuk melakukan sesuatu.(KBBI, 2001:5)
Al-Qur’an adalah nama bagi firman Allah SWT yang diturunkan kepada nabi
Muhammad SAW yang ditulis dalam mushaf (lembaran) untuk dijadikan pedoman
bagi kehidupan manusia yang apabila dibaca mendapat pahala (dianggap ibadah).
(Syukur, 2010:53)
Jadi kemampuan membaca Al-Qur’an yang dimaksud oleh peneliti adalah
kesanggupan anak untuk dapat melisankan atau melafalkan apa yang tertulis di dalam
kitab suci Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan makraj dan hukum tajwidnya.
Pembahasan
Orang Islam minimal harus dapat membaca al-Qur’an, karena hukum Islam
bersumber dari al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab. Contohnya kewajiban
tentang shalat yang terdapat dalam al-Qur’an beserta do’a-do’a shalat yang
menggunakan bahasa Arab. Untuk itu siswa perlu dibekali tentang bagaimana cara
membaca al-Qur’an yang baik dan benar agar bisa melakukan ibadah sesuai dengan
syariat Islam. Apabila seseorang tidak mampu membaca al-Qur’an, maka akan sulit
untuk membaca amalan seorang muslim lainnya, seperti shalawat, Debba, al-
Barjanzi, kitab kuning dan lain sebagainya.
Al-Qur’an sebagai sumber ajaran agama Islam yang utama memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia, bernilai ibadah bagi siapa saja yang membacanya.
Umat Islam dituntut agar membaca, mempelajari dan mengajarkan serta
mengamalkan isi yang terkandung di dalam Al-Qur’an. firman Allah SWT dalam
surah Al-Alaq ayat 1-5:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha
Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."( Syaamil Qur’an, 2012:597)
Namun setelah dilakukan observasi, ditemukan sebuah data bahwa masih
terdapat siswa yang belum lancar dalam kemampuan membaca al-Qur’an. Secara
keseluruhan memang belum ada yang secara sempurna mampu membaca al-Quran
secara tartil sesuai dengan hukum tajwid dan makhorijul huruf, namun sudah
dikategorikan lancar membaca apabila sudah tidak terputus-putus dalam membaca al-
Qur’an.
Secara umum kemampuan membaca al-Qur’an siswa di SMP 2 Cipaku hampir
sebagian sudah cukup baik sekitar 65%. Dikarenakan, siswa sudah memahami tajwid
walaupun belum semua hukum tajwid diketahui dan yang belum bisa membaca al-
Qur’an sekitar 20%. Dikarenakan, siswa belum hafal sebagian huruf hijaiyahnya yang
mengakibatkan bacaanya terbata-bata dan terkadang siswa suka lupa huruf. Siswa di
tingkat ini butuh adanya bimbingan dan pembelajaran serta penanganan khusus yang
berkelanjutan agar siswa yang belum bisa membaca al-Qur’an dapat membaca al-
Qur’an lebih baik lagi. Sedangkan siswa yang membaca al-Qur’an di tingkat sedang
itu 15%. Dikarenakan siswa membacanya masih terbata-bata dan maih belum
mengenal tajwid. Siswa di tingkat ini juga butuh bimbingan dan pembelajaran
kembali akan tetapi tidak butuh waktu yang lama dibandingkan siswa pada tingkat
yang rendah.
Adapun siswa yang dikategorikan masih butuh pengawasan dan bimbingan
yang ekstra dalam peningkatan kemampuan membaca al-Qur’an melalui metode BTQ
atau IQRA’ adalah sebagai berikut:
Dari kelas VII A berjumlah 4 orang siswa
Dari kelas VII B berjumlah 3 orang siswa
Dari kelas VII C berjumlah 3 orang siswa
Dari kelas VIII A berjumlah 4 orang siswa
Dari kelas VIII B berjumlah 4 orang siswa
Dari kelas VIII C berjumlah 2 orang siswa
Untuk siswa dari kelas IX sudah memasuki tingkat sedang secara keseluruhan
karena telah diberikan bimbingan ekstra pada saat mereka duduk dikelas VII dan VIII.
Melihat fakta tersebut, bimbingan pembelajaran BTQ menjadi urgen
dilaksanakan dalam pembelajaran PAI, sesuai dengan fungsi dan tujuan mata
Pelajaran PAI yang dikemukakan oleh Zakiah Darajat:
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam
meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui
kegiatanbimbingan, pengarahan atau latihan dengan memerhatikan tuntutan untuk
menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional. (Darajat, 2011:39)
A. Faktor Penyebab Rendahnya Kemampuan Membaca al-Qur’an Siswa
Banyak faktor yang menjadi pendorong minimnya kemampuan membaca al-Qur’an
pada siswa, diantaranya:
1. Faktor rasa malas dan motivasi belajar al-Qur’an yang rendah, siswa merasa
kurang penting untuk menguasai ilmu membaca al-Qur’an. Ini bisa dilihat, pada
setiap kegiatan Rabu dan Jumat pagi, yaitu kegiatan pembiasaan mengaji bagi
seluruh siswa dan guru. Siswa terlihat berleha-leha dan sulit untuk berkumpul di
masjid tepat pada pukul 07.15 WIB, meski sudah dipanggil berulang kali melalui
speaker bahkan dipanggil langsung ke kelas, masih ada siswa yang malah berlari
kea rah kantin atau sengaja berdiam diri di parkiran sekolah.
2. Faktor tidak lagi mengikuti pengajian Diniyyah di DTA setempat. Hal ini menjadi
salah satu sebab yang bisa membuat kemampuan membaca al-Qur’an siswa sulit
meningkat. Meskipun pihak sekolah telah bekerja sama dengan pihak DTA di
lingkungan sekitar siswa, salah satunya dengan dibuatnya buku absensi kegiatan
mengaji di DTA yang harus ditanda tangani oleh guru mengaji atau Ustadz di DTA
masing-masing, yang dibagikan disetiap hari Senin dan dikumpulkan setiap
seminggu sekali. Masih saja ada siswa yang bolos mengaji.
Pengajian DTA di lingkungan masing-masing siswa sebetulnya bisa sangat
membantu meningkatkan kemampuan membaca al-Qur’an, jika saja siswa masih
rajin dalam mengikuti kegiatan pengajian tersebut.
3. Kurangnya dorongan dan bimbingan orang tua di rumah
Kemampuan membaca al-Qur’an siswa bukan hanya menjadi tanggung jawab
pihak sekolah saja, melainkan juga kewajiban dan tanggung jawab orang tuanya
sebagai wali siswa. Kurangnya dorongan atau motivasi dari orang tua akan
mempengaruhi minat anak untuk belajar mengaji dan ikut melaksanakan pengajian
di DTA.
Selain itu, apabila diberikan tugas kepada siswa untuk kembali belajar
membaca al-Qur’an di rumah, ketika diulang di sekolah ternyata belum ada
perubahan, saat ditanya apakah di rumah dibaca lagi atau tidak, anak cenderung
menjawab tidak belajar membaca lagi saat di rumah.
4. Kurangnya minat siswa untuk mengikuti ekstrakulikuler keagamaan
Dalam ekstrakulikuler keagamaan, sebetulnya difasilitasi lebih ekstra dalam
upaya peningkatan kemampuan membaca al-Qur’an, namun minat siswa untuk
mengikuti ekstrakulikuler keagamaan sangat rendah. Sehingga terpaksa bagi siswa
yang cenderung belum bisa membedakan dan menghafal huruf hijaiyah diberikan
kewajiban untuk mengikuti ekstrakulikuler keagamaan, agar memiliki lebih banyak
waktu dan kesempatan dalam belajar membaca al-Qur’an.
5. Faktor kedisiplinan
Kedisiplinan menjadi faktor yang sangat menentukan peningkatan
kemampuan membaca al-Qur’an siswa, seperti anak jarang mengikuti kegiatan
kegamaan, kegiatan KBM, anak kurang konsentrasi, anak suka bergurau, tidak
memperhatikan apa yang sudah guru terangkan, kemudian selalu ada saja tingkah
laku anak untuk mendapatkan perhatian dari guru dan teman-temannya, hal ini
menjadi faktor penghambat dalam proses belajar mengajar karena dapat
mengganggu konsentrasi belajar siswa yang lain
6. Faktor keterlambatan pemahaman peserta didik, sehingga dalam menyerap dan
menangkap pelajaran juga terhambat.
B. Upaya Guru PAI dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca al-Qur’an
Siswa
Adapun upaya guru, khususnya guru PAI dalam upaya meningkatkan
kemampuan membaca al-Qur’an siswa adalah sebagai berikut:
1. Kegiatan Keagamaan Rabu dan Jumat Pagi
Kegiatan keagamaan setiap hari Rabu dan Jumat telah disepakati oleh seluruh
warga sekolah, kegiatan ini berlangsung dari pukul 07.15-08.00 WIB dan diikuti
oleh seluruh siswa kelas VII, VIII dan IX. Alasan mengapa kegiatan ini
dilaksanakan di hari Rabu adalah karena hari Rabu adalah hari yang disunnahkan
untuk memulai segala kebiasaan yang baik. Seperti dalam sebuah qaul ulama
Syeikh az-Zarnuji dalam kitab Taklimul Mutaalim:
،كان أستاذنا شيخ اإلسالم برهان الدين رحمه الله يوقف بداية السبق على يوم األربعاء
ما من شيئ بدئ: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:وكان يروى فى ذلك حديثا ويستدل به ويقول
يوم األربعاء إال وقد تم
Artinya: Guru kita Syaikhul Islam Burhanuddin memulai belajar tepat pada
hari rabu. Dalam hal ini beliau telah meriwayatkan sebuah Hadits sebagai
dasarnya, dan beliau mengatakan: Rasulullah saw bersabda: “Tiada lain segala
sesuatu yang di mulai pada Hari Rabu, kecuali akan menjadi sempurna.”
Adapun hari Jumat adalah hari yang mulia sebagaimana sabda Rasulullah
Saw:
َأ
َسِّيُد اَأْلَّياِم ِع ْنَد اللِه َيْوُم اْلُج ُمَعِة َوُهَو ْعَظُم ِمْن َيْوِم الَّنَح ِر َوَيْوُم اْلِفْطِر َوِفْيِه
َوِفْيِه ُتُوِّفَي َوِفْيِه َس اَعٌة اَل َل َأْل ْل ُأ َط َل
َخ ْمُس ِخ َصاٍل ِفْيِه َخ َق اللُه آَدَم َوِفْيِه ْهِب ِمَن ا َجَّنِة ِإ ى ا ْر ِض
َأ َأ َأ َأ
َيْس ُل اْلَعْبُد ِفْيَها اللَه َش ْيًئا ِإاَّل ْعَطاُه ِإَّياُه َما َلْم َيْس ْل ِإْثًما ْو َقِطْيَعَة َر ِح ٍم َوِفْيِه َتُقْوُم
َأ
الَّس اَعُة َوَما ِمْن َمَلٍك ُمّقَّرٍب َواَل َسَماٍء َواَل ْر ٍض َواَل ِرْيٍح َواَل َجَبٍل َواَل َحَج ٍر ِإاَّل َوُهَو ُمْش ِفٌق
ِمْن َيْوِم اْلُج ُمَعِة
Artinya : Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada
Hari Raya Kurban dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumat terdapat lima keutamaan
Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga
ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat, pada hari Jumat terdapat waktu
yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah
mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali
silaturahim. Kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada malaikat yang didekatkan di
sisi Allah, langit, bumi dan angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya
kiamat saat hari Jumat
Pada hari Jumat disunnahkan untuk memperbanyak amalan membaca al-
Qur’an dan Shalawat, sehingga digunakanlah hari Jumat untuk melaksanakan
kegiatan keagamaan yang meliputi kegiatan tadarus, ataupun membaca surah
pilihan seperti surah Yasin, al-Kahfi, ar-Rahman, Waqi’ah dan sebagainya, juga
kegiatan kultum dari bapak Kepala Sekolah ataupun dari guru PAI.
2. Pembiasaan Sebelum Pembelajaran PAI
Pada kegiatan pendahuluan di dalam RPP telah direncanakan mengenai
pembiasaan membaca hafalan surah Juz Amma. Tujuan dari pembiasaan ini adalah
untuk menjadi sarana latihan pelafalan bacaan ayat suci al-Qur’an, ketika dibaca
hafalan surah juz 30 tersebut, guru PAI akan mengoreksi dan mendemonstrasikan
apabila ada bacaan ayat yang keliru berdasarkan hukum tajwid dan makhorijul
huruf. Hal ini akan meningkatkan kualitas bacaan siswa yang sudah lancar
membaca al-Qur’an namun masih keliru bacaan hukum tajwidnya, adapun bagi
siswa yang belum lancar akan menjadi sarana belajar yang memungkinkan untuk
membantu percepatan kemampuan membaca al-Qur’an.
Pada pelaksanaannya, sembari mempersiapkan diri untuk memulai
pembelajaran, peserta didik akan diminta untuk membaca bersama-sama hafalan
Juz 30, bagi yang sudah hafal maka dipersilahkan untuk membaca tanpa melihat
mushaf ataupun kitab khusus Juz 30, apabila belum hafal maka diperbolehkan
untuk melihat mushaf ataupun kitab khusus Juz 30. Bacaan dimulai dari Surah an-
Naba’ kemudian berakhir di surah an-Naas, surah yang dibaca apabila masuk
kategori surah yang panjang, maka yang dibaca adalah satu surah, apabila pendek
maka bisa 2-4 surah.
3. Pembiasaan Setiap Hari Setelah Dzuhur
Setiap hari mulai dari Senin sampai Kamis, setelah pelaksanaan shalat Dzuhur,
bagi siswa yang belum bisa membaca al-Qur’an mereka belajar BTQ (baca tulis al-
Qur’an) dengan membaca IQRA’. Dalam kegiatan ini, siswa belajar membaca
dengan menggunakan kitab IQRA’ sesuai dengan tingkatan bacaannya. Hal ini
dilakukan agar siswa yang belum bisa membaca al-Qur’an menjadi bisa membaca
al-Qur’an dengan adanya program BTQ dengan melalui proses pembelajaran
secara berulang-ulang.
Metode sorogan diterapkan ketika belajar membaca al-Qur’an dan IQRA’
dimana satu persatu siswa maju mendemonstrasikan kepada guru bacaannya.
Selain itu metode sorogan juga digunakan dengan cara meminta anak yang
dipandang mampu membaca Al-Qur’an untuk membimbing teman-temannya yang
masih kurang mampu.
Pelaksanannya itu mengelompokan siswa/i terukur dengan kemampuannya.
IQRA’ 1-3 metode belajarnya dengan mengeja serta mengenalkan kembali huruf
hijaiyah. IQRA’ 4-6 belajar membaca serta mulai dikenalkan hukum tajwid. Dan
yang sudah al-Qur’an diterapkan pembiasaan untuk membaca juz 30 terlebih
dahulu. Alasannya karena surah-surah yang ada di dalam Juz 30 kerap kali dibaca
dan diamalkan ketika sedang shalat, sehingga akan lebih baik apabila tadarus bagi
siswa yang baru lancar membaca al-Qur’an itu dimulai dari pembiasaan membaca
Juz ke 30.
4. Pembiasaan di dalam Kegiatan Pembelajaran PAI
Kegiatan tadarus Al-Qur’an sudah menjadi kebiasaan siswa untuk memulai
pembelajaran PAI. Guru PAI mencantumkan rencana kegiatan tersebut dalam RPP
sebagai tahap pembukaan pembelajaran. Setiap pertemuan ayat yang dibaca adalah
ayat yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas pada pembelajaran saat itu.
Guru kemudian memberikan contoh pembacaan ayat yang berkaitan dengan materi
ataupun menunjuk secara acak kepada siswa yang dianggap sudah lancer membaca
al-Qur’an, sedangkan siswa yang belum lancar akan diminta untuk mengulangi
bacaan ayat yang telah dicontohkan sebelumnya. Kurang lebih kegiatan ini
berlangsung selama 10 menit, 5 menit selanjutnya adalah pengulasan ilmu tajwid
untuk menjelaskan satu atau dua hukum tajwid.
5. Ujian Praktek Setiap Akhir Semester
Tes praktek baca Al-Qur’an, telah disepakati oleh guru PAI untuk
dicantumkan dalam rencana Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat
pada awal semester. Tes praktek membaca Al-Qur’an ini dilakukan setiap
memasuki ujian praktek pada akhir semester ganjil dan genap. Dengan adanya
praktek tersebut, peserta didik di dalam pelaksanaan KBM akan berupaya untuk
memperlancar bacaan al-Qur’annya, karena ada motivasi bahwa semakin baik
kualitas bacaan al-Qur’an akan semakin baik pula nilai pada mata Pelajaran PAI.
6. Ekstrakulikuler BTQ
Ekstrakurikuler Baca Tulis al-Qur’an (BTA) diadakan sejak tahun 2022.
Waktu pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) di SMP
Negeri 2 Cipaku ini setiap hari Rabu pada pukul 13.20-15.30 WIB. Kegiatan
ekstrakurikuler Baca Tulis Al-Qur’an (BTA) pada hari Rabu dilaksanakan setelah jam
pelajaran atau setelah kegiatan belajar dan mengajar (KBM) yaitu agar tidak
mengganggu kegiatan belajar para siswa. Kegiatan ekstrakurikuler Baca Tulis Al-
Qur’an (BTA) dilaksanakan di Musolla.
Ekstrakulikuler BTQ ini, dikhususkan bagi siswa/i yang ingin belajar
membaca dan menulis al-Qur’an tambahan selain di dalam kegiatan KBM. Namun,
bagi siswa/i yang belum lancar membaca ekstakulikuler BTQ ini diwajibkan untuk
diikuti, selain ekstrakulikuler lain yang dilaksanakan sesuai dengan minat peserta
didik.
C. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan
Membaca al-Qur’an Siswa
Dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya kemampuan membaca
Al-Qur’an tidak lepas dari faktor-faktor yang dapat mendukung dalam pengembangan
pengajarannya. Faktor pendukung upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan
membaca al-Qur’an adalah dengan adanya media atau alat peraga seperti Al-Qur’an,
Iqra’, papan tulis, penghapus, spidol serta guru-guru yang ada di sekolah. Kemudian
faktor pendukung yang lain adalah muncul dari peserta didik itu sendiri, seperti
motivasi dan tekad yang kuat untuk dapat belajar al-Qur’an dengan bersungguh-
sungguh.
Sedangkan faktor penghambatnya antara lain, kurangnya minat dan motivasi
siswa dalam membaca al-Qur’an sehingga ketika proses belajar berlangsung banyak
siswa yang kurang serius dan tidak memperhatikan pada saat penjelasan materi al-
Qur’an dan masalah kedisiplinan, seperti anak jarang berangkat sekolah, anak kurang
konsentrasi, anak suka bergurau, tidak memperhatikan apa yang sudah guru terangkan
inilah yang menjadi faktor penghambat upaya guru PAI dalam meningkatkan
kemampuan siswa membaca al-Qur’an.
A. Penutup
1. Kesimpulan
Secara umum kemampuan membaca al-Qur’an siswa di SMP 2 Cipaku
hampir sebagian sudah cukup baik sekitar 65%, 20% siswa masih belum
lancar membaca al-Qur’an dan 15% sisanya ada pada tingkat sedang, yaitu
sudah tidak terbata-bata namun belum mengetahui hukum tajwidnya.
Faktor yang menyebabkan rendahnya kemampuan membaca al-Qur’an
siswa diantaranya: rasa malas dan motivasi belajar al-Qur’an yang rendah,
tidak lagi mengikuti pengajian Diniyyah di DTA setempat, kurangnya
dorongan dan bimbingan orang tua di rumah, rendahnya minat siswa untuk
mengikuti ekstrakulikuler keagamaan, kurang disiplin dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran dan keterlambatan pemahaman peserta didik, sehingga
dalam menyerap dan menangkap pelajaran juga terhambat.
Adapun upaya guru dalam meningkatkan kemampuan membaca al-
Qur’an siswa meliputi: kegiatan keagamaan setiap hari Rabu dan Jumat pagi,
pembiasaan hafalan juz 30 sebelum kegiatan pembelajaran PAI, pembiasaan
sorogan IQRA’ dan tadarus al-Qur’an setelah shalat dzuhur berjamaah,
pembiasaan membaca ayat dan belajar tajwid pada ayat yang berhubungan
dengan materi pembelajaran PAI, adanya ujian praktek membaca dan menulis
al-Qur’an setiap memasuki ujian akhir semester ganjil dan genap serta
dioptimalkannya kegiatan ekstrakulikuler keagamaan khususnya BTQ setiap
hari Rabu setelah jam pelajaran.
Faktor pendukung upaya guru PAI dalam meningkatkan kemampuan
membaca al-Qur’an adalah dengan adanya media atau alat peraga yang
membantu dalam proses pengajaran, sedangkan faktor penghambatnya adalah
rasa malas dan motivasi belajar yang kurang sehingga dalam pengajaran siswa
kurang konsentrasi dan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.
2. Saran
Tingkat kemampuan peserta didik dalam membaca al-Qur’an itu
berbeda-beda, namun tugas seorang pendidik adalah harus mampu
mengakomodir seluruh perbedaan kemampuan tersebut. Sehingga disarankan
untuk mempertahankan segala aktivitas pembiasaan dalam rangka
meningkatkan kemampuan BTQ peserta didik dan meningkatkan motivasi
dalam mendidik agar tidak menyalahkan atau bahkan malas untuk
membimbing peserta didik karena kesal dengan kemampuannya yang lambat,
sebab Rasulullah bersabda, “sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar al-
Qur’an dan mengajarkannya.”
Daftar Pustaka
Al-Qur’an dan Terjemahannya, 2012. Bandung: Syaamil Qur’an.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Kajian suatu pendekatan praktek. Jakarta:
Rineka Ciputat.
Mu’awanah, Elfi. 2012. Bimbingan Konseling Islam, Yogyakarta:Teras.
As-Said, Muhammad. 2011. Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Lubaba, Nia Muhibatul. 2013. Profesionalisme Guru Dalam Dunia Pendidikan,
Jember.
Syukur, Amin. 2010. Pengantar Studi Islam, Semarang: Pustaka Nuun.
Tim Penyusun Kamus. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Ciputat Press.
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Daradjat, Zakiah. 2011. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.