0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan68 halaman

Pusat Kreativitas Seni untuk Difabel Ternate

Dokumen ini membahas perancangan Pusat Kreativitas Seni untuk difabel di Kota Ternate, yang bertujuan untuk menyediakan fasilitas bagi penyandang difabel dalam mengembangkan kreativitas seni. Terdapat penjelasan mengenai tahapan perancangan arsitektur, pengertian pusat kreativitas seni, serta fungsi dan jenis-jenis penyandang difabel. Selain itu, dokumen ini juga menekankan pentingnya aksesibilitas dan penanganan yang tepat untuk mendukung penyandang difabel dalam berpartisipasi secara mandiri dalam kegiatan seni.

Diunggah oleh

Rangga Irhamda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan68 halaman

Pusat Kreativitas Seni untuk Difabel Ternate

Dokumen ini membahas perancangan Pusat Kreativitas Seni untuk difabel di Kota Ternate, yang bertujuan untuk menyediakan fasilitas bagi penyandang difabel dalam mengembangkan kreativitas seni. Terdapat penjelasan mengenai tahapan perancangan arsitektur, pengertian pusat kreativitas seni, serta fungsi dan jenis-jenis penyandang difabel. Selain itu, dokumen ini juga menekankan pentingnya aksesibilitas dan penanganan yang tepat untuk mendukung penyandang difabel dalam berpartisipasi secara mandiri dalam kegiatan seni.

Diunggah oleh

Rangga Irhamda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI
1.1 Tinjauan Objek Perancangan
Judul dari perancangan ini adalah “Perancangan pusat kreativitas seni
untuk difabel di kota ternate dengan pendekatan arsitektur perilaku” yang
merupakan sebagai wadah berkumpulnya para Difabel yang mampu
menampung segala aktivitas mengembangkan berbagai bidang seni, serta
menciptakan fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan sesuai standarisasi
nasional, yang berfungsi sebagai sebuah tempat pelatihan dan pertunjukan
kreativitas seni bagi para Difabel. Dengan adanya Pusat Kreativitas Seni
tempat pelatihan para Difabel lebih mudah dalam mengembangkan kreativitas.
Sebelum membahas lebih lanjut tentang Pusat Kreativitas Seni Difabel dengan
Pendekatan Arsitektur Perilaku di Kota Ternate maka akan dibahas definisi
objek secara terperinci.
2.1.1 Pengertian Perancangan dalam Arsitektur
1. Pengertian perancangan dalam Arsitektur
Perancangan adalah suatu penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa
atau pengaturan dari berbagai elemen yang terpisah ke dalam satu kesatuan
yang utuh dan berfungsi.
2. Pengertian perancangan menurut para ahli
1) Perancangan adalah usulan pokok yang mengubah sesuatu yang sudah ada
menjadi sesuatu yang lebih baik, melalui tiga proses: mengidentifikasi
masalah-masalah, mengidentifikasi metode untuk pemecahan masalah,
dan pelaksanaan pemecahan masalah. Dengan kata lain adalah
pemrograman, penyusunan rancangan, dan pelaksanaan rancangan (John
Wade, 1997).
2) Perancangan mempunyai makna memulai perubahan dalam benda-benda
buatan manusia. (Jc Jones, 1990 dalam Developments in Design
Methodology).
3) Menurut tim (Mcginty, 2005) Perancangan adalah Mengubah sesuatu
yang sudah ada menjadi sesuatu yang lebih baik Perancangan meliputi
fungsi-fungsi: mengidentifikasi masalah, menggunakan metode-metode
dan melakukan sintesa. Perancangan merupakan proses tiga bagian:
keadaan semula, proses transformasi, keadaan kemudian.
3. Tahapan perancangan berdasarkan IAI
Menurut Ikatan Arsitek Indonesia pada buku “Pedoman Hubungan Kerja
Antara Arsitek dengan Pengguna Jasa” (dikutip dari Ananda, 2019), tahapan
dalam proses perancangan terdiri atas:
1) Tahap konsep rancangan
Sebelum memulai kegiatan perancangan, diperlukan adanya kejelasan
mengenai setiap data dan informasi dari pengguna jasa maupun pihak lain
terkait kebutuhan dan persyaratan pembangunan agar maksud dan tujuan
pembangunan dapat terpenuhi dengan sempurna. Pada tahap ini arsitek
melakukan persiapan perancangan yang yang terdiri dari pemeriksaan
setiap data serta informasi yang diterima dan membuat analisis serta
pengolahan data.
2) Tahap Pra-rancangan
Pada tahap ini, dengan didasari konsep rancangan yang sesuai dan dapat
memenuhi persyaratan program perancangan, arsitek menyusun pola dan
gubahan bentuk arsitektur yang diwujudkan dalam gambar, sedangkan
nilai fungsional dalam bentuk diagram. Aspek kualitatif dan kuantitatif
seperti informasi penggunaan bahan, perkiraan luas lantai, sistem
konstruksi, waktu, dan biaya pelaksanaan pembangunan dibuat dalam
bentuk laporan tertulis maupun gambar.
3) Tahapan pengembangan perancangan
Tahapan ini dianggap sebagai rancangan akhir dan digunakan oleh arsitek
sebagai dasar untuk memulai tahap selanjutnya. Hasil karya tahap ini
adalah pengembangan yang terukur dan terperinci, serta terkoordinasi
baik sistem struktur, mekanikal, elektrikal, maupun bidang lainnya.
Dokumen prarancang yang telah mendapat persetujuan dari klien, berupa:
Rancangan tapak, Denah, Tampak, Potongan, dan Detail-detail.
4) Tahapan pembuatan gambar kerja
pada tahap pembuatan Gambar Kerja, arsitek memiliki tugas untuk
menterjemahkan konsep rancang yang disajikan kedalam bentuk uraian
dan gambar teknis secara terinci yang menjelaskan proses pelaksanaan
dan pengawasan konstruksi. Arsitek menyusun dokumen pelaksanaan
dalam bentuk gambar kerja, spesifikasi dan syarat teknik pembangunan
yang jelas, serta perhitungan kuantitas pekerjaan dan perkiraan biaya
pelaksanaan pembangunan.
5) Tahap Proses Pengadaan Pelaksana Konstruksi
Tahap proses pengadaan pelaksanaan konstuksi adalah proses arsitek
mengolah hasil gambar kerja ke dalam format Dokumen Pelelangan yang
dilengkapi dengan Syarat-Syarat teknis pelaksanaan pekerjaan (RKS), dan
Uraian Rencana Kerja, serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) termasuk
Daftar Volume (Bill of Quantity/BQ). Sasaran yang ingin dicapai pada
tahap ini adalah untuk menemukan waktu konstruksi dan penawaran biaya
yang sesuai dengan persyaratan teknis pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan,
hasil karya tahap Proses Pengadaan Pelaksana Konstruksi merupakan
dokumen untuk pelelangan.
6) Tahap Pengawasan Berkala
Adalah tahapan dimana konsultan perencana diwajibkan untuk
mengawasi secara berkala pelaksanaan konstruksi untuk memastikan
bahwa hasil pekerjaan perencanaan yang telah dilakukan dapat
dilaksanakan, atau membutuhkan penyesuaian terhadap hal-hal yang luput
dari perkiraan saat proses perencanaan sebelumnya maupun hal-hal lain
yang berpengaruh terhadap pelaksanan konstruksi yang sedang
dilaksanakannya. Dalam setiap tahapan ini hendaknya dilakukan review,
baik melalui forum seminar laporan pendahuluan, seminar laporan antara,
seminar draft laporan akhir maupun dalam rapat berkala dalam rangka
pengendalian pekerjaan perencanaan sehingga output yang dihasilkan
dapat lebih optimal dan sesuai dengan KAK yang telah ditetapkan
sebelumnya.
1.2 Tinjauan Non Arsitektural
Pada tinjauan non arsitektural membahas tentang objek suatu bangunan
yaitu Pusat Kreatifitas Seni untuk Difabel. Tinjauan arsitektural memiliki
fungsi untuk mengetahui dasar-dasar pemahaman suatu objek sebelum
merancang. Tinjauan non arsitektural sebagai berikut:
2.2.1 Pengertian Pusat Kreativitas Seni Difabel
Pusat Kreativitas Seni untuk difabel adalah suatu tempat atau sarana yang
di khususkan bagi penyandang difabel untuk mengembangkan kreatifitas
dalam Kesenian termasuk mendidik para difabel agar hidup mandiri.
a. Pengertian Pusat
Pusat (center) menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tempat
yang letaknya di bagian tengah, tengah-tengah benar (di bulatan bola,
lingkaran, dan sebagainya), pusar; pokok pangkal atau yg menjadi pumpunan
(berbagai- bagai urusan, hal, dan sebagainya), orang yang membawahkan
berbagai bagian; orang yang menjadi pumpunan dari bagian-bagian. Sehingga
pusat dapat diartikan sebagai sesuatu yang dituju dan memiliki tingkatan yang
lebih tinggi / hirarki yang lebih tinggi dari bagian-bagiannya.
b. Pengertian Kreatifitas
Kreatifitas merupakan fenomena, dimana seseorang (person)
mengkomunikasikan sebuah konsep baru (product) yang diperoleh sebagai
hasil dari proses mental (process) dalam menghasilkan ide, yang merupakan
upaya untuk memenuhi adanya kebutuhan (press) yang dipengaruhi tekanan
ekologis. Dalam pembahasan kreatifitas memuat empat hal yakni person,
process, press dan product. (Mel Rhodes, 1981)
Sebuah proses menjadi sensitif pada suatu permasalahan, kekurangan,
kekosongan dalam pengetahuan, elemen yang hilang, ketidakharmonisan, dan
lain-lain, mengidentifikasi kesulitan, mencari solusi, membuat tebakan, atau
membuat hipotesis mengenai kekurangan: melakukan tes pada hipotesis
dan mengulang tes tersebut dan membuat modifikasi pada tes dan
mengulang tes itu lagi, dan pada akhirnya dapat menjelaskan hasil yang
didapatkan disebut Kreatifitas (Torrence 1974).
c. Pengertian Difabel
Difabel (different abbility people) adalah sebutan untuk orang-orang
yang tumbuh dengan kondisi keterbatasan, atau mengalami kecelakaan saat
proses pertumbuhannya baik secara fisik maupun mental atau dengan kata
lain cacat. Beberapa pengertian tentang difabel:

Menurut WHO, difabel adalah suatu kehilangan atau ketidaknormalan baik


psikologis, fisiologis maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis.

d. Pengertian Pusat Kreativitas Seni untuk Difabel


Pengertian dari Pusat Kreativitas Seni untuk difabeladalah sebuah
tempat atau wadah yang mampu memfasilitasi kegiatan yang menunjang
potensi maupun kreatifitas Seni para penyandang difabel, sehingga dapat
hidup mandiri dan layak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Tempat ini
bertujuan membina dan mengembangkan potensi yang dimiliki para
penyandang difabel. Sehingga masyarakat sadar akan kemampuan kaum
Difabel dan tercipta kesetaraan hak antar manusia, dan terwujudnya
Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Convention
On The Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak
Penyandang Disabilitas), secara tegas dinyatakan bahwa Negara wajib
mengadopsi semua kebijakan legislatif dan administratif sesuai dengan
Konvensi ini. Artinya, seluruh Peraturan Perundang-undangan yang berlaku
positif di Indonesia, seperti Undang-undang Lalu-lintas termasuk Undang-
undang Ketenagakerjaan, dan Undang-undang Bangunan.
2.2.2 Fungsi Pusat Kreativitas Seni untuk Difabel
Pusat Kreatifitas Difabel memiliki beberapa penerapan fungsi dalam
berjalannya bangunan ini (sesuai pengamatan penulis terhadap SMALB
Negeri Ternate), yaitu :
a. Pusat Kegiatan Asah Kreatif Seni
Ini merupakan fungsi terpenting, dimana para difabel menerima
pembelajaran untuk tidak hanya saling mengerti akan kesejajaran antar
penyandang Difabel namun juga dengan masyarakat biasa pada umumnya,
pengarahan yang diterima antara lain :
[Link] Pusat Kreatifitas Seni Difabel. Mengembangkan bahasa,
komunikasi, pengetahuan umum, sikap dan perilaku,
[Link] Pendidikan Ketrampilan. Mengembangkan bakat dan
keahlian kaum difabel sesuai dengan kemampuannya seperti Garmen
apparel, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Processing, Otomotofi,
Refrigerasi, dan Urut,
[Link] Pendidikan Religius. Mengembangkan pengetahuan
tentang cinta kasih hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan
manusia. (Analisa penulis dari SMALB Negeri Ternate).
2.2.3 Jenis-Jenis Penyandang Difabel
Penyandang Difabel terbagi menjadi beberapa jenis yaitu tuna tungu,
tuna netra tuna daksa, tuna wicara tuna grahita , down syndrome,menurut
(Thomson, Neil, Elizabeth Dendy, Diana de Deney Harkness, S.
[Link] untuk tuna netra dan tuna rungu akan disesuaikan sedemikian
rupa, karena jenis difabel yang mereka miliki jelas keterbatasan dalam
melihat dan mendengar, namum dalam pengamatan penulis menemukan
bahwasannya ada beberapa tuna netra yang menggunakan kursi roda dan
tongkat. yaitu :
a. Tuna Rungu
Tuna Rungu merupakan penyandang difabel yang terisolasi
karena jauh dari jangkauan. Penyandang Difabel jenis Tuna Rungu
dapat berkomunikasi dengan kata-kata yang tertulis (audio) dan tanda
yang terlihat (visual). Secara visual mereka tidak terlihat memiliki
perbedaan kemampuan karena tidak ada peralatan khusus untuk mereka
beraktifitas. Beberapa orang tuna rungu total, beberapa orang juga susah
dalam mengalami pendengaran dan beberapa dapat mendengar di ruang-
ruang tertentu tanpa suara yang ambient. Beberapa hal yang menjadi
tanda guna Tuna Rungu seperti alarm, telefon, bel pintu yang berupa
lampu yang berkedip. (Harkness, S. P. (1976))

b. Tuna Netra Pengguna Kursi Roda


Tuna Netra Pengguna kursi roda adalah seseorang yang
bergantung pada kursi roda saat melakukan mobilitasnya. Ada yang
memerlukan asisten dan ada yang sudah dapat bergerak secara mandiri.
Sehingga, pengguna kursi roda dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu
independen dan menggunakan asisten. Pengguna kursi roda mempunyai
perilaku khusus, tergolong pendek, jangkauan gerak sebatas kursi roda
dapat melintas, dan memerlukan sirkulasi yang lebih lebar daripada yang
lain. The Wheelchair adalah seseorang yang bergantung pada kursi roda
untuk mobilitasnya meskipun beberapa dari mereka dapat berdiri saat
berpindah dari atau ke kursi roda. Tuna Netra Pengguna kursi roda bukan
merupakan populasi difabel terbesar tapi menjadi patokan dimensi bagi
penyandang difabilitas yang lain. Perpindahan pengguna kursi roda dari
kursi roda ke tempat lain dapat dilakukan melalui depan, belakang, atau
dari samping. (Thomson, Neil, Elizabeth Dendy, Diana de Deney. 1984).
Di SMALB Negeri Ternate tuna netra ada yang menggunakan kursi roda
dan, tongkat untuk alat bantu berjalan.

c. Tuna Netra
Tuna Netra merupakan orang yang mengalami gangguan
penglihatan, dan paling sulit dipahami dari penyandang difabel lain.
Ada dua jenis Tuna Netra yaitu total dan parsial. Penyandang tuna netra
sangat bergantung dengan suara dan rabaan sebagai penanda untuk
mereka berkomunikasi. Bagi tuna netra, rehabilitasi yang modern
membantu tuna netra bergerak dengan menggunakan tongkat. Anjing
penjaga juga dapat menjadi salah satu rekomendasi penunjuk arah.
Rekomendasi bagi luasan sirkulasi tuna netra adalah tidak terlalu lebar
sehingga dapat dijangkau dengan tongkat. Perubahan material lantai
pada permukaan tanah dapat mengindikasikan perubahan ruang, dapat
berupa pintu masuk, tangga, atau pijakan yang berpotensi
membahayakan. Pemilihan material lantai dapat mempengaruhi
mobilitas pengguna kursi roda dan susah Berjalan. (Thomson, Neil,
Elizabeth Dendy, Diana de Deney. 1984.)

Penerapan pada perancangan Pusat Kreativitas Seni untuk


difabeldengan mempertimbangkan aksesibel pengguna difabel seperti,
penggunaan tanda-tanda yang terlihat untuk tuna rungu, penggunaan lampu
berkedap-kedip untuk peringatan. Penggunaan dinding bertekstur, serta
pemasangan audio pada setiap bangunan memudahkan tuna netra mengetahui
keberadaannya, penggunaan ramp serta hand railing dilengkapi tulisan huruf
briller juga membantu pergerakan tuna netra, serta pemilihan material untuk
mengetahui perubahan ruang. (hasil pengamatan penulis).
2.2.4 Penanganan untuk penyandang Difabel
Penanganan yang dilakukan berupa bimbingan atau pengarahan dan
pelatihan mental, pengasahan kreatifitas Seni difabel, dengan tujuan agar
difabel dapat menerima dan memiliki semangat hidup untuk berjuang
kedepannya.
Pada bangunan Pusat Kreativitas Seni untuk difabelyang akan
dirancang ini akan lebih dikhususkan kepada kaum difabel yang mengalami
keterbatasan tertentu dengan pembatasan umur minimum 14 tahun dan
maksimum 45 tahun. Pembatasan umur ini ditentukan dengan beberapa
pertimbangan diantara lainnya, tidak menerima kaum difabel dengan
keterbatasan fisik dan Autis dengan Tingkat kesadaran sedang dan tinggi
dengan yang masih dibawah umu 17 tahun dikarena oleh pemikiran bahwa
anak dibawah umur 17 tahun masih memerlukan bimbingan oleh
orang terdekatnya khususnya keluarga inti.
2.2.5 Standar Perancangan pusat pemberdayaan kreativitas Difabel
Bangunan publik harus aksesibel dan dapat digunakan oleh orang
yang memiliki Keterbatasan fisik. Orang yang mengalami keterbatasan fisik
atau yang disebut difabel dapat berusaha untuk menjadi independen. Solusi
secara Arsitektural adalah dengan mengeliminasi batasan-batasan sehingga
cocok bagi antropometrik kaum difabel. Setiap jenis difabel mempunyai
batasan mengenai apa yang mereka dapat lakukan dan yang mereka tidak
dapat lakukan. difabel terbagi menjadi beberapa golongan, yaitu, sensori,
manipulatori, difabilitas lokomotor, atau kombinasi. (Harkness, S. P.
(1976).)

1. Disabilitas sensori adalah kaum tuna netra, dan tuna rungu


2. Disabilitas manipulatori adalah yang mengalami
keterbatasan dalam menggunakan satu atau kedua tangannya.
3. Disabilitas lokomotor adalah mereka yang mengalami
kesulitan dalam mobilitas (yang menggunakan tongkat, penguat
kaki, atau kursi roda).
4. Disabilitas kombinasi, adalah mereka yang mengalami
disabilitas tidak hanya pada satu anggota gerak tubuhnya, misal
kaki dan tangan.
Klasifikasi perilaku difabel
Perilaku difabel adalah kegiatan yang dilakukan oleh difabel
dengan berbagai macam karakteristik dan keterbatasan dalam
menunjang setiap aktivitas yang sedang dilakukan. Berikut Jenis
difabel berdasarkan perilakunya masing-masing.
Tuna Rungu
Tunarungu adalah suatu kondisi atau keadaan dari seseorang
yang mengalami kekurangan atau kehilangan indera pendengaran
sehingga tidak mampu menangkap rangsangan berupa bunyi,
suara atau rangsangan lain melalui pendengaran. Perilaku Tuna
rungu sebagai berikut
A. Memiliki IQ yang tinggi dan kemampuan merespon masalah
juga menanggapinya dengan cepat dan senantiasa aktif dalam
suatu kegiatan.
B. Sangat Suka bergerak Dan berksperimen dalam gerak
C. Mudah bergaul dan kreatif
D. Memiliki penciuman dan Penglihatan yang sangat Tajam
dalam merespon masalah maupun berkomunikasi.
E. Memiliki Daya ingat tinggi dan Cepat tanggap
Tuna Netra
Tuna netra adalah istilah yang merujuk pada
ketidakmampuan seseorang untuk melihat, baik secara total
maupun sebagian, walaupun mungkin dengan bantuan alat
bantu penglihatan. Definisi dan pengertian tuna netra dapat
bervariasi berdasarkan berbagai referensi dan konteks hukum.
Perilaku Tuna Netra sebagai berikut.
A. lebih Sering mengeksplore sesuatu dengan indra peraba
berupa tangan dan kaki
B. memiliki kemampuan merasakan sensitivitas getaran yang
rendah-tinggi dalam merespon keadaan lingkungan
sekitar
C. berkomunikasi Melalui pendengaran
D. Suka mendengarkan Musik, cerita, dan lain sebagainya
yang berkaitan dengan suara
E. Cenderung lebih banyak diam di tempat dan kreatif
F. Daya ingat dan kepekaan yang tinggi
Tuna Grahita
Tunagrahita adalah kondisi disabilitas dimana penderita
memiliki keterbatasan dalam fungsi intelektual yang meliputi
kecerdasan penalaran, pembelajaran, keterampilan kognitif
dan penyelesaian masalah lainnya. Perilaku Tuna Grahita
sebagai berikut.
A. selalu aktif dengan kegiatan yang bersifat nonakademik
B. lebih senang dengan hal-hal baru yang unik, menarik dan
membuat penasaran.
C. Tidak suka berpikir banyak dan terbelit-belit
D. Lebih suka praktik daripada teori
E. Suka bermain
F. Banyak berkomunikasi namun tidak mampu merespon
masalah secara umum dengan baik
G. Kreatif namun lebih cenderung meniru
Tuna Daksa
Tunadaksa adalah suatu kondisi dimana terjadi
ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan
fungsinya yang disebabkan kelainan atau kecacatan sistem
otot, tulang atau persendian sehingga mengakibatkan
gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi dan
perkembangan keutuhan pribadi. prilaku Tuna Daksa Sebagai
berikut.
A. aktif dalam melakukan kegiatan kegiatan nonakademik
B. sangat terampil dalam suatu bidang yang diminati
(keterbatasan fisik yang ada)
C. fokus, kreatif, dan imajinatif yang tinggi
D. cenderung suka berkreasi dan komunikatif
Tuna Wicara
Tuna wicara adalah seseorang yang mengalami hambatan
dalam berbicara atau menggunakan bahasa secara lancar.
Tuna wicara mungkin bisa mendengar dengan jelas, namun
kesulitan dalam mengucapkan kata-kata dengan benar atau
merangkai kalimat dengan baik. Perilaku Tuna Wicara sebagi
berikut.
A. memiliki Kemampuan dan kelebihan yang sama dengan
Tuna rungu Namun beda keterbatasan.
B. Lebih cenderung diam dan berinteraksi dengan sesuatu
yang disukai
C. Jarang berkomunikasi tetapi lebih suka mengekspresikan
sesuatu dengan kterampilan sendiri
D. Kreatif, imajinatif namun lebih berkonsentrasi pada satu
bidang yang di minati.
Tuna Ganda
Tuna Ganda adalah sesorang yang memiliki hambatan
keterbatasan yang lebih dari 1 keterbatasan berdasarkan jenis
ketunaan yang dimiliki. perilaku Tuna ganda sebagai berikut.
A. Sulit memfokuskan diri pada satu bidang namun lebih
cenderung aktif pada 1 bidang yang sangat di minati
B. Aktif dengan kegiatan nonakademik
C. Memiliki sensitivitas mood yang berganti-ganti
tergantung karakteristik keterbatasan yang dialami.
D. Komunikatif dan kreatif.

Beberapa standar perancangan dan dimensi kebutuhan dasar mengacu


pada pengguna kursi roda (disabilitas lokomotor). Pengguna kursi roda
memiliki kebutuhan ruang untuk mobilitas yang paling luas. Berikut standar
dimensi kebutuhan dasar dan standar perancangan guna mencapai
kenyamanan secara fisik bagi kaum difabel :

A. Akses Simbol
Simbol internasional dari penyandang difabel terdapat pada area
parkir, pintu masuk, ramp, dan rute-rute yang dapat diakses.

Gambar 2.1 Akses Simbol


Sumber : graceunitedbrampton

B. Dimensi Kursi Roda


Modul kursi roda digunakan sebagai acuan karena paling lebar
daripada modul difabilitas lain, yaitu Luas 1.07x0.69 m2

Gambar 2.2 Dimensi Kursi Roda


Sumber : graceunitedbrampton

C. Area Parkir
Area parkir terletak sedekat mungkin dengan bangunan publik atau
zona publik sehingga pemilik kendaraan dapat secara langsung
berpindah

Dengan mudah ke kendaraan mereka. Lintasan untuk mencapai area


parkir harus mudah dilihat, hal ini memudahkan pengguna kursi roda
mengenali kendaraan mereka.
Gambar 2.3 area dimensi kebutuhan ruang parkir difabel
Sumber : Harkness, 1976:27

D. Area Berjalan (Public Walks)


Area berjalan untuk kaum Difabel seharusnya meminimalisir
adanya hambatan secara vertikal dan memiliki kesan terbuka. Area
berjalan tidak terganggu oleh street furniture, seperti bangku, dan
benda lain yang menghambat proses pergerakan. Roda dari pengguna
kursi roda memiliki lebar 25,4mm maka, tidak boleh terdapat bukaan
sepanjang permukaan area berjalan. Pencapaian menuju pintu masuk,
kemiringan tidak boleh lebih dari 1:20 atau setara dengan 5%. Jikalau
tersedia pegangan tangan (handrails), kemiringan area berjalan dapat
mencapai 1:12 atau setara dengan 8,33%

Gambar 2.4 dimensi kebutuhan lebar pengguna kursi roda dan pengguna
Sumber : Harkness, 1976:28
Gambar 2.5 dimensi kebutuhan lebar sesame pengguna kursi roda
Sumber : Harkness, 1976:28

E. Curb Cuts
Memiliki perbandingan kemiringan 1:12 atau setara dengan 8,33%,
1:6 (16,66%) dapat diterapkan jikalau curb cuts terlalu panjang.
Pertemuan curb cuts dengan jalan harus dibuat sehalus mungkin agar
pengguna kursi roda tidak jatuh.

Gambar 2.6 Curb cuts


Sumber : Harkness, 1976:29

F. Ramp
Perbandingan 1:12 (8,33%) sangat direkomendasikan. Hal ini
terkait dengan kursi roda yang memiliki berat rata-rata 15-34 kg dan
hal ini memberatkan dalam berpindah. Jarak maksimal yang dapat
dilalui pengguna kursi roda maksimal 9,15 meter. Ramp harus aman
dan tidak licin.
Gambar 2.7 Dimensi Ramp
Sumber : Harkness, 1976:30
G. Tangga dan Pijakan

Tangga tidak boleh memiliki tonjolan yang dapat mengganggu


penyandang cacat yang menggunakan penahan kaki atau kaki palsu.
Pegangan tangga berbentuk oval atau lingkaran dengan standar
diameter 4cm. Untuk menghindari jatuh dan menyediakan sarana
pegangan untuk anak-anak, disediakan pegangan tangan yang lebih
rendah.

Gambar 2.8 Dimensi Tangga dan pijakan yang tidak dianjurkan


Sumber : Harkness, 1976:21
H. Jangkauan Tangan
Menggunakan antropometri dari penyandang cacat kaki dengan
pengguna kursi roda. Ketinggian yang dapat dicapai secara efisien
bagi mereka ada pada ketinggian 0,66m hingga 1,57meter
Gambar 2.9 Dimensi jaungakaun tangan
Sumber : Harkness, 1976:20
I. Pintu Masuk
Semua pintu masuk harus dapat menjadi pintu keluar darurat,
serta harus mudah diakses dan digunakan pengguna kursi roda. Untuk
bangunan multilantai, minimal satu akses masuk langsung menuju ke
elevator. Pintu yang digunakan tidak boleh berupa pintu putar yang
menyulitkan pengguna kursi roda yang membahayakan penyandang
cacat tangan dan buta.

Gambar 2.10 Dimensi Pintu Masuk Difabel


Sumber : Harkness, 1976

b. Pintu
Pintu harus cukup lebar, minimal pintu dengan lebar 86cm.
Pegangan pintu dengan ketinggian 91cm. Penerapan pintu geser
otomatis dianjurkan. Pintu ayun 2 arah (tarik dan dorong) dilengkapi
dengan area melihat (viewing panel) yang dapat dilihat dengan
ketinggian pengguna kursi roda.
Gambar 2.11 Dimensi Pintu ayun
Sumber : Harkness, 1976: 32

Gambar 2.12 Dimensi Pintu ayun dan pintu geserl


Sumber : Harkness, 1976: ,33

c. Koridor dan Lantai


arus cukup lebar dan dapat digunakan pengguna kursi roda
manufer [Link] datar dan menggunakan permukaan yang tidak
selip atau licin.

Gambar 2.14 Dimensi Manufer Koridor


Sumber : Harkness, 1976: 35

L. Kontrol Bangunan
Tombol-tombol untuk alarm kebakaran, jendela, kontrol
pendingin ruangan (air conditioner), outlet listrik, dan panel
elektrikal lainnya terletak pada ketinggian minimum 1,22m dari
lantai diakses penyandang cacat kaki dan pengguna kursi roda.
M. Toilet Stall
Pintu dari toilet stall harus mengarah keluar untuk
kenyamanan dan keamanan pengguna kursi roda. Jika pengguna
kursi roda jatuh, pintu dapat dibuka dengan mudah dan dapat
ditolong.

Gambar 2.15 Dimensi Toilet Stall


Sumber : Harkness, 1976: 42

Gambar 2.16 Dimensi Toilet


Sumber : Harkness, 1976: 44-45

N. Pegangan Tangan

Pegangan tangan terdapat di toilet, shower, dan area


lain yang membutuhkan. Terdapat pegangan horisontal untuk
mendorong dan pegangan vertikal untuk menarik. Diameter
pegangan 4cm berbentuk lingkaran maupun oval.
Gambar 2.17 Pegangan Tangan
Sumber : Harkness, 1976
O. Washbin

Pipa dari washbasin yang terdapat di bawah harus terlindungi


dari kaki pengguna kursi roda. Ketinggian washbasin 69 cm dari
permukaan lantai.

Gambar 2.18 Pegangan washbin


Sumber : Harkness, 1976

Gambar 2.19 Contoh kamar mandi untuk difabel


Sumber : Harkness, 1976 : 72
2.3.1 Pengertian Seni
Seni merupakan gabungan dari pemikiran, keahlian yang melibatkan
keterampilan fisik dan hasil akhir yang termanifestasi dalam bentuk atau
gerakan. Manifestasi dari keindahan dan imajinasi manusia melalui berbagai
media seperti lukisan, patung, musik, teater, sastra, tari, dan media kreatif
lainnya. Seni mencerminkan pengalaman manusia, emosi, dan gagasan, serta
dapat memicu respons estetika dari penikmatnya.
2.3.2 Macam-Macam Seni
Secara umum, seni adalah segala sesuatu yang indah dan berkesan. Cara
menangkap dan menghasilkan kesan, dengan itu yang membedakan seni itu
sendiri dan membuat beberapa macam seni, yaitu:
1. Seni Rupa, adalah seni yang dapat menghasilkan karya seni dalam
bentuk dan kualitasnya dapat dirasakan oleh indera manusia,
khususnya indera penglihatan dan indera praba (Prawiro. M, 2018)
2. Seni Musik, merupakan hasil ciptaan manusia yang menghasilkan
bunyi ritme dan harmini yang indah bagi pendengarnya. Music yang
dihasilkan merupakan hasil dari suara manusia contohnya menyanyi
atau yang dihasilkan dari alat bantu music (gitar, dan alat music
lainnya).
3. Seni Tari, yaitu hasil ciptaan manusia yang mengkresikan Gerakan
tubuh dalam menghasilkan keindahan bagi yang melihatnya.
4. Seni Teater, adalah hasil ciptaan manusia dalam menvisualisasikan
imajinasi atau gambaran-gambaran yang ada didalam pikirannya yang
berhubungan dengan tingkah laku manusia baik sebagai individu,
kelompok atau masyarakat.
5. Seni Sastra, merupakan bentuk hasil daya kreasi manusia yang
dinikmati segi visual dari makna dimilikinya, yang menggambarkan
keindahan dalam bentuk kata-kata sepert puisi, kaligrafi dan
sebagainya.
Pada bagian ini Pusat Kreativitas Seni Difabel di Kota Ternate dengan
Pendekatan Arsitektur Perilaku menerapkan 4 macam jenis seni yaitu
seni tari, seni musik, seni rupa dan seni Pertunjukkan.
A. Seni tari
Tarian ternate sering kali dipertunjukan di berbagai wilayah di indonesia,
yang mempunyai ke khasan seni budaya tersendiri maupun yang di
kreasikan berdasarkan cerita maupun cerita cerita rakyat dan mitos yang
ada di masyarakat. Adapun seni tari dari Ternate, sebagai berikut :
[Link] Lalayon
[Link] Dana-dana
[Link] Soya -soya
[Link] Cakalele
[Link] kreasi 5 benteng
[Link] tarian kreasi modern lainnya
B. Seni Musik
Seni musik dari Ternate sering digunakan untuk pengiring tari, hiburan,
acara kebudayaan dan acara konser lainnya. Berikut macam-macam seni
music Ternate. Adalah :
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link] alat music lainnya.
C. Seni Rupa
Seni rupa adalah cabang seni yang menyalurkan karya seni yang
memiliki nilai estetika melalui media yang dapat diraskan oleh indera
manusia terutama indra penglihatan dan indra peraba. Klasifikasi seni
rupa menurut dimensinya, sebagai berikut :
[Link] seni dua dimensi
Karya seni rupa dimensi hanya memiliki dimesi Panjang dan lebar atau
karya yang hanya dapat dilihat dari satu arah pandang saja. Seperti, seni
lukisan dan sebagainya. Konsep karya seni ini dimana semua karya yang
digantung pada dinding.
[Link] seni tiga dimensi
Karya seni rupa tiga dimesi yang memiliki dimesi Panjang, lebar dan
tinggi, atau karya yang memiliki volume dan menepati ruang. Biasa karya
seni ini secara khusus ditempatkan seperti display.
Pada Perancangan pusat kreativitas seni untuk difabel di kota ternate ini
menyediakan ruang latihan/workshop seni rupa dua dimensi yaitu
lukisan. Sedangkan untuk karya seni rupa tiga menyediakan tempat
Latihan dengan peminat yang ada dan juga menyediakan sebuah ruang
(galeri) hanya sebagai tempat untuk memamerkan karya seni tiga
dimensi dari luar seperti patung dan sebagainya.

D. Seni Pertunjukkan
Seni pertunjukan merupakan seni peran umumnya dimainkan di atas
panggung yang dinikmati dengan indra penglihatan dan pendengaran.
Secara umum seni peetunjukan bisa di ekspresikan melalui berbagai
gambaran seperti drama maupun teater akan tetapi jika di khususkan
untuk Difabel pertunjukan yang di tampilkan lebih bersifat ekspresif dan
bisa di kolaborasikan dengan kreatif. Berikut macam-macam
pertunjukan yang di maksud adalah:
[Link] pantomim
[Link] live painting dan lain sebagainya.
1) Fungsi Pusat kreativitas seni Difabel
1. Fungsi Utama
a. Ruang Latihan
Ruang latihan merupakan salah satu fungsi utama pada Pusat
kreativitas seni difabel ini. Ruang latihan akan dibagi menjadi empat
bagian yaitu ruang latihantari, ruang latihan music, ruang latihan seni
rupa dan ruang latihan teater. Ruang latihan berfungsi sebagai tempat
latihan setiang cabang seni tersebut.
1. Sanggar Seni Tari
 Standar Ruang
Standar ruang yang menyediakan tempat latihan seni music
yang praktis. Perancangan tempat latihan music harus didesain
dengan kelebihan teknis suara atau akustik yang terbaik.
Ukuran, bentuk dan bahan bangunan merupakan faktor-faktor
yang penting untuk dipertimbangkan. Berikut standar ruang
latihan seni music menurut NDTA (National Dance Theater
Association), adalah :
1. Permukaan lantai (Floor Surface) menggunakan Bahan
lantai tounge andgroove maple, bebas dari besi dan alat
electrical, setiap langkah penari selalu berpijak pada
lantai. Sehingga kualitas lantai sangat diperhatikan agar
tidak membuat cedera pada penari.
2. Ukuran ruang latihan tari tidak boleh kurang dari 17m x
17m, cukup untuk 36 orang berlatih dan ruang Gudang
dengan lebar 2.50m x 2.50m
3. Ketinggian ruang berkaitan dengan sirkulasi udara dan
pertimbangan lompat saat menari. Ruangan tanpa kolom
yang dapat menjadi sarana baik untuk latihan seni tari.

Gambar 2. 20 Standar Lantai Tari


Sumber : Academy of music and dance
4. Memerlukan ventilasi di ruang latihan, karena
berpengaruh terhadap suhu penari minimal agar tetap
nyaman berada dalam ruangan. Maksimum yang
dipertahankan adalah 24’C dan 21’C.
5. Ruangan harus mempunyai cermin dinding minimal lebar
6m dan ruangan harus kedap suara karena suara pengiring
tari dapat menggangu ruang lainnya.

2. Sanggar Seni Musik

Standar ruang yang menyediakan tempat latihan seni music


yang praktis. Perancangan tempat latihan music harus didesain
dengan kelebihan teknis suara atau akustik yang terbaik. Berikut
standar ruang latihan seni music adalah :
1. Menurut Neufert (1996) standar ruang music sebagai
tempat latihanadalah ruang memiliki luas 65-70 m2
2. Ruangan harus memiliki waktu dengung yang optimum,
pendistribusian suara dan menghindarkan suara yang tidak
dinginkan
3. Ruangan kedap suara dan harus memiliki pencahayaan alami
dan ber-AC
4. Ruangan harus dekat dengan auditorium sehingga kelompok
musik dapat memindahkan instrument dengan mudah
[Link] menyediakan loker dan lemari penyimpanan khusus
untuk peralatan yang yang berukuran 0,9m kedalam, 9,1m
kesamping.
6. Bahan lantai yang tidak licin dan datar dengan lebar pintu
180cm.
3. Sanggar Seni Rupa
Standar Ruang
1. Ruang membutuhkan tempat penyimpanan barang yang
strategis sehingga mampu mengakomodsikan setiap
Teknik pekerjaan dan kebutuhan seni yang berbeda-beda.
2. Ruang seni harus memiliki setidaknya 5,1m2 luas ruang
kerja atau lebar bukaan 0,9 m dan Jalur sirkulasi ke ruang
menjadi tempat untuk menampilkan karya
3. Bahan lantai yang umum menggubakan vinyl, keramik,
teraso, atau beton dan plafon / dinding harus didesain secra
akustik (Prawiro. M, 2018).

Gambar 2.21 Standar ruang latihan seni rupa


Sumber : Data Arsitek jilid1 1, Neuferst, Ernest

Gambar 2.22 Standar ruang latihan seni rupa


Sumber : Data Arsitek jilid1 1, Neuferst, Ernest

Gambar diatas adalah besaran ruang bagi pengguna kursi roda,


space yang dibutuhkan lebih luas dibanding standar yang ada,
yaitu 244cmx336cm.
4. Sanggar Seni Pertunjukkan
Untuk mencapai kenyaman pada pertunjukan, sangat perlu
memenuhi standar ruang yang baik agar pertunjukan yang
disampaikan dapat diterimadengan baik oleh penonton. Sebagai
berikut terdapat beberapa jenis ruangpertunjukan, adalah :
a. menurut Roderick (1972), sebagai berikut:
 Pertunjukan terbuka: Pertunjukan seni dilakukan
diruang terbuka
 Pertunjukan tertutup: Pertunjukan seni dilakukan di
ruang tertutup

Berdasarkan hubungan antara pertunjukan dengan


penonton menurut Roderick (1972), sebagai berikut:

 Tipe transverse perkembangan dan variasi tipe arena,


dimana penonton duduk pada dua sisi yang berlawanan
menghadap panggung.
 Tipe proscenium perkembangan tipe ¼ arena akibat
kuranganya luasan panggung. Penontong menyaksikan
pertunjukan dalam satu arah di depanpanggung.
 Tipe Calliper Stage/Extented Stage Panggung
mengelilingi sebangian daripenonton
 Tipe Arena dimana penonton menglilingi pertunjukan,
tidak memerlukanpenghayatan yang serius.
 Tipe ¾ Arena adalah variasi dari tipe arena, dimana
pemain dapat naik kepanggung tanpa melalui ruang
penontong.
 Tipe ¼ Arena merupakan dimana penonton
menyaksikan pertunjukan dalam satu arah dan luasan
panggung kecil.
Berdasarkan beberapa jenis teater tersebut akan diterapkan
jenis teater terbuka dan tertutup pada rancangan. Adapun jenis
teater sesuai hubungan dengan penonton akan diterapkan
menggunakan tipe proscenium yang penekanan pada satu arah
supaya penonton lebih fokus pada pertunjukan. Berikut dapat
dilihat contoh teater tipe proscenium, adalah :

Gambar 2.23 Layout teater


Sumber : Neufert, 1997 : 137

Bersarkan gambar diatas terlihat pola penatan ruang teater. adapun


standarisasi teater akan dibahas lebi lanjut, sebagai berikut :
Standarisasi pada area penonton dan panggung mulai dari ukuran
tempat duduk dan ketinggian tangga. Ukuran ruang penonton
berbanding jumlah penonton menentukan luas area yang diperlukan
sebagai berikut.
Gambar 2.24 Tata alur sirkulasi tempat duduk
Sumber : Neufert, 1997 : 138

Tinggi tepat duduk di ruang teater juga berpengaruh terhadap kenyamanan


penonton dalam menkmati pertunjukan. tinggi daerah duduk terletak di
garis pandangan. kontruksi garis pandangan berlaku pada seluruh ruang
penonton baik kawasan duduk dilantai bawah juga pada balkon (mezanine).

Gambar 2.25 Ukuran tinggi tempat duduk


Sumber : Neufert, 1997 : 13

Dapat dilihat dari gambar diatas untuk ukuran tinggi bagian muka panggung
dari pandanan mata maksimal 1.10m dan ukuran minimal 0,50 m- 0,90 m.
Dengan tingi pandangan mata penonton menuju panggung 1,10 m.
a. Ruang Ganti Dan Ruang Rias
Ruang ganti difungsikan sebagai area privat bagi para pelaku seni yang
akan tampil pada pertunjukan. Untuk standarisasi ruang daoat lihat gambar
dibawah ini, sebagai berikut :
Gambar 2.26 Ruang ganti pakaian
Sumber : Neufert, 1997 : 144

Gambar 2.27 Ruang tata rias


Sumber : Neufert, 1997 : 144

Dari gambar diatas pembagian ruang ganti berdasarkan klasifikasi


penampilan, sedangkan ruang rias diklasifikasikan menjadi dua bagian
yaitu ruang rias dan ruang pekerja rias.
b. Ruang Penyimpanan
Ruang penyimpanan disebut juga dengan Gudang yang difungsikan
untuk menyimpan perlengkapan-perlengkapan seperti peralatan yang
berkaitan dengan pertujukan.
Gambar 2.28 Layout ruang perlengkapan
Sumber : Neufert, 1997 : 144

Berdasarkan gambar diatas, terdapat beberapa ruang yang dibutuhkan untuk


mengatur perlengkapan, seperti gudang kayu, gudang baja, ruang
mesin,ruang dekorasi, ruang kursi dan lain sebagainya yang masing ruang
tersebut mempunyai standarisasi desainnya.
c. Ruang pertunjukan Terbuka
Ruang pertunjukan terbuka disebut dengan amfiteater yang sudah ada
sejak zaman romawi dan Yunani, sesuai perkembangannya amfiteater ini
digunakan sebagai pertunjukan music maupun seni lainnya (Doelle, 1985).
Amfiteater terbentuk lingkaran dan setengah lingkaran denganarena di
[Link],sekarang ini banyak perubahan dan bervariasi hingga ke
bentuk modern.

Gambar 2.29 Amphitheater


Sumber : [Link]
System penguat bunyi sangat harus diperhatikan karena berhubungan
langsung dengan udara. Untuk mengimbangi pengurangan yang sangat
banyak di udara terbuka, maka menurut Doelle (1985), sebuah pertunjukan
ruang terbuka dapat memperhatikan beberapa hal, sebagai berikut:

1. Lokasi yang dipilih harus memperhatikan pengaruh sumber-sumber


bising luar terhadap perambatan dan penerimaan bunyi.

2. Bentuk, ukuran dan kapasitas dasar dari daerah penoton harus


ditetapkan untuk menjamin kejelasan pembicara yang memuaskan
seluruh daerah penonton.

3. Permukaan-permukaan pemantul yang dekat dengan Gedung-gedung


yang harus diperiksa secara teliti karena berhubungan dengan gema
atau pemantulan yang rusak.

4. Panggung harus tinggi dan daerah penonton dibuat betangga dengan


curam, dengan kemiringan yang lebih pada bagian belakang, untuk
menyediakan jumlah bunyi langsung maksimum bagi penonton.

Pusat kreativitas seni Difabel di Ternate juga menyediakan Gedung


pertunjukan terbuka. Dengan hal tersebut agar para pengunjung dapat
menikmati pertunjukan sekaligus menikmati keindahan alam sekitar.

2. Fungsi Sekunder
Fungsi sekunder muncul akibat adanya kegiatan yang digunakan
untuk mendukung kegiatan utama. Fungsi sekunder yang terdapat pada
Perancangan pusat kreativitas seni untuk difabel adalah Galeri seni rupa
dan perpustakaan.
1. Galeri Seni
a. Definisi Galeri Seni rupa
1. Galeri yaitu ruangan atau Gedung tempat untuk memamerkan benda
karya seni. (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2003).
2. Galeri merupakan sebuah ruang yang digunakan untuk menyajikan
hasil karya seni, sebuah area memajang aktivitas public, area public
yang kadangkala digunakan untuk keperluan khusus (Dictionary of
Architecture and Construction).
Berdasarkan definisi-definisi galeri diatas dapat disimpulkan bahwa
gallery adalah sebuah ruang atau Gedung bersifat public yang
dipergunakan untuk menyajikan dan memamerkan karya seni.
Sebagai berikut galeri seni berdasarkan tingkat dan luas koleksi,
antara lain:
 Galeri lokal, galeri yang mempunyai koleksi dengan obyek-
obyek yang diambil dari lingkungan setempat.
 Galeri regional, galeri seni yang mempunyai kolesi dengan
objek-objek yang diambil dari tingkat daerah, provinsi dan daerah
regional I.
 Galeri internasional, galeri seni yang mempunyai kolesi dengan
obyek- obyek yang diambil dari berbagai negara di dunia.
Dapat disimpulkan berdasarkan tingkat dan luas kolesi galeri pada
Pusat Perancangan Kreativitas Seni berada pada tingkat galeri regional
karena mencakup budaya Ternate secara keseluruhan. Adapun ketentuan
syarat sebuah galeri seni, sebagai berikut :
1. Standar ruang galeri seni
a. Ruangan yang terlindungi dari gangguan, kelembapan, kering dan
debu.
b. Ruang galeri yang mendapatkan cahaya yang terang karena
merupakan bagian pameran yang baik.
c. Galeri seni sebaiknya dapat dilihat oleh publik seperti penyusunan
ruangan dibatasi, dirubah dan dicocokan dengan bentuk ruang.
d. Sesuatu yang khusus untuk di public seperti lukisan-lukisan
minyak, lukisan dinding pameran dibuat dengan menarik dan
fleksibel perletakkannya.
Berikut standarisasi ruangannya, yatitu :
Gambar 2.30 Ruang pamer dengan dinding tertutup
Sumber : Neufert, 1996 : 250

Gambar 2.31 Penerangan dan ukuran ruang pameran


Sumber : Neufert, 1996 : 250

Berdasarkan gambar diatas bahwa dimensi ruang pameran dengan


dinding tertutup dan peneranngan pada ruang pameran karena
Pencahayaan ruang haruslah [Link] juga jika di konsepkan terbuka harus
memiliki area penutup dan pembatas agar menjamin kemanan karya.
Tempat untuk menggantung lukisan yang baik adalah 30’ dan 60’’ pada
ketinggian ruangan 6,70m dan 2,13m untuk lukisan yang panjangnya 3,04
sampa 3,65m.
• Standar jarak pengamat terhadap objek lukisan
Tinggi rata-rata manusia Indonesia sehingga pandangan mata
dapat mencakup obyek yang dilihat dalam posisi nyaman. Standar
jarak pengamat terhadap objek lukisan, sebagai berikut:

Tabel 2.1 Tinggi rata-rata manusia


Tinggi rata-rata Tinggi rata-rata pandangan
mata
Pria 165 cm 160 cm
Wanita 155 cm 150 cm
Anak-anak 115 cm 110 cm
Sumber : Dimensi Manusia dan Ruang Interior, Julius Panero, 2003

Gambar 2.32 Dimensi manusia dan ruang interior


Sumber : Neufert, 1996 : 250

Pandangan yang nyaman kea rah objek lukisan adalah


pandangan di dalam daerah visual 30˚ kearah atas, 30˚ ke arah bawah,
30˚ kea rah kiri. Hal tersebut dikarenakan pada daerah tersebut
merupakan daerah dimana mata kita dapat mengenali warna atau
membedakan daerah diamana kita dapat mengenali warna.
warna.

Gambar 2.33 Dimensi manusia dan ruang interior


Sumber : Neufert, 1996 : 250
Penggunaan konsep sumbu karya yaitu dimana semua karya yang
digantung pada dinding dapat disesuaikan dengan kebutuhan pameran
dengan menyesuaikan dari berbagai aspek karya tersebut seperti dimensi
karya baik panjang, lebar maupun tinggi karya denga mengacu pada satu
titik sumbu acuan karya, yaitu sumbu pemasngan karya yang berupa garis
imajiner dengan jarak 165 cm dari lantai. Garis sumbu rata-rata harus
sesuai dengan sumbu asumsi pengunjung galeri.
• Standar Display
Display digunakan secara khusus untuk menapilkan atau
memajang suatu karya seni yang berwujud 3D. biasanya berupa kota
kaca yang ditata sedemikian rupa dengan lighting yang memperindah
tampilan karya seni. Pemasangan karya pada system display juga
diterapkan pada dinding massif dimana penerapan tersebut menjadi
2 sistem, yaitu:
a. Display Standar
Pada display ini karya akan dipasang cukup kuat sehingga
tidak membutuhkan pengamatan atau perlakuan khusus pada karya
tersebut. Pemasangan karya dalam system ini membutuhkan jarak
kurang 50cm dari pengunjung dengan ditandai oleh perbedaan peil
lantai, hal ini diterapkan pada ruang unutuk meminimalisirkan
kemungkinan pengunjung menyentuh karya yang dipajang.
b. Display Khusus

Karya yang dipasang pada system display ini dipasang pada


dinding masif dan membutuhkan perlakuan dan pengamanan
khsusus dengan alas an agar pengunjung tidak menyentuh karya
yang dipajang sama sekali.
System ini yaitu dengan cara pengatisipasian jarak dan
memberikan pembatas yang berdiri antara karya yang didisplay
dan titik pengunjung berdiri.
2. Perpustakaan/ library
Perpustakaan sebagai fungsi sekunder pada perancangan.
Perpustakaan ini berfungsi ssebagai menyediakan buku-buku
yang berkaitan dengan seni, Sejarah maupun budaya di Kota
Ternate. Perpustakaan ini tidak hanya disediakan bagi pembaca
saja, namun juga menyediakan peminjaman dan penjualan buku
yang ingin mengenal seni, sejarah dan budaya Ternate. Adapun
standarisasi sebuah perpustakaan sebagai berikut:
1. Dimensi ukuran meja single dan double. Dengan ukuran
Panjang meja 1m dan lebar 0,7m

Gambar 2.34 Dimensi ukuran meja


Sumber : Neufert, 1996 : 329

2. Pencahayaan harus sesuai dengan dengan letak perabot.


Rak buku harus dilindungi dari sinar matahri karena
berhubungan dengan material yang digunakan.

Gambar 2.35 Dimensi ukuran meja


Sumber : Neufert, 1996 : 329

3. Idealnya desain lemari harus besar, terbuka, Panjang dan


serbaguna. Bentuk persegi dan terorganisir horizontal
bukan vertical. Dengan sirkulasi minimal 1,30m dan
maksimal 2,30m.

Gambar 2.36 Ruang lantai diantara rak buku


Sumber : Neufert, 1996 : 330

3. Fungsi Penunjang
Fungsi atau kegiatan yang mendukung terlaksananya setiap kegiatan
primer dan sekunder, meliputi mushalla, parkir, toilet, gudang dan lain
sebagainya.
1. Mushalla
Mushalla merupakan bagian penunjang yang penting pada perancangan
pusat kreativitas seni untuk difabel di Kota Ternate, mengingat orang
Ternate mayoritas yang beragama islam. Adapun ruang- ruang yang
menunjang keberadaan sebuah mushalla yaitu, ruang shalat bagi jamah
laik-laki dan perempuan, tempat wudhu dan kamar mandi.
2. Parkir
Pusat kreativitas seni Difabel di Ternate merupakan semi publik. Oleh
karena itu parkir menjadi ruang yang cukup penting. Sebuah bangunan
semi publik membutuhkan parkir yang di sesuaikan dengan kebutuhan
yang ada, mulai dari parkir bus, mobil, dan motor. Berikut terdapat
beberapa bentuk parkir beserta standarisasinya, yaitu:
Gambar 2.37 Jenis Parkir

Standar dimesi ukkuran parkir yaitu 2,50m dengan jarak jalur parkir
berukuran 5,50m dan 5,00 untuk parkir mobil. Parkir yang dapat
diaplikasikan pada Pusat kreativitas seni Difabel di ternate adalah
bentuk parkir sudut 90’ agar lebih fungsional. Besaran luasan area
parkir dapat disesuaikan dengan kapasitas pengguna pada bangunan.
Besaran parkir juga merujuk pada besaran kendaraan. Berikut Standa
risasi kendaraan bermotor.

Gambar 2.38 Dimensi Gambar 2.39 Dimensi


sepeda motor mobil

Sumber : Neufert, 1996 : 100 Sumber : Neufert, 1996 : 100


Selanjutnya bentu parkir bus atau kendaraan ukuran besar berbeda
dengan bentuk parkir sebelumnya. Adapun ukuran parkir yang
dibutuhkan dengan lebar 4m dan Panjang 12m. berikut standar dimensi
kendraan bus, yaitu:

Gambar 2.40 Parkir bus dan dimensi bus


Sumber : Neufert, 1996 : 101-106

Keberadaan parkir bus sangat dibutuhkan karena Pusat kreativitas


seni Difabel di ternate merupakan objek pembelajaran dan transportasi
dalam mengekspolarasi kreativitas.. Pada gambar di atas dimensi bus
rata-rata Panjang bus berukuran 12m dengan lebar 2,2m. maka dari itu
ukuran parkir dibutuhkan harus menyesuaikan ukuran bus untuk
kepentingan sirkulasi.
Klasifikasi Pusat Kreativitas
Menurut dari berbagai sumber dan data yang dikumpulkan, suatu pusat
kreativitas dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Berdasarkan Menurut Kepelayanan Dan Kepemilikan
Pusat Kreativitas Seni Difabel
1. Berfungsi sebagai pelindung, pengembangan dan pemanfaatan
dalam kreatifitas Seni Difabel.
2. Pusat Kreativitas Seni Pendidik
3. Berfungsi sebagai Pendidikan Nonakademik yang akan diarahkan
terutama pada penguasaan pelatihan Seni Kreatif.
b. Berdasarkan Menurut Jenis Pendidikan Kreativitas Seni Yang Terwadahi
1. Umum Mewadahi berbagai fasilitas kegiatan Pendidikan industry
kreatif bagi difabel.

2. Khusus Memfasilitasi satu atau beberapa cabang Pendidikan industry


kreatif bagi difabel.
c. Berdasarkan Usia Pengguna
c. Pusat kreatif seni anak dofabel

d. Pusat kreatif seni remaja difabel

e. Pusat kreatif untuk pengunjung


d. Berdasarkan Jenisnya

Menurut the British Council’s Creative Hub Toolkit, ada terdapat enam
macam berdasarkan jenisnya, sebagai berikut :

c. Studio adalah kumpulan individu-individu dalam


bentuk kecil atau bisnis kecil yang bekerja dalam
suatu co-working space.
d. Centre yaitu bangunan berskala besar untuk
melakukan aktivitas kreatif dengan fasilitas-fasilitas
lain seperti ruang pamer, took, kafee, bioskop, maker
space (tempat produksi) dan sebagainya.
e. Network yaitu kelompok individua tau bisnis-bisnis
yang cenderung tersebar namun membentuk jaringan
berdasarkan sektor yang spesifik tertentu.
f. Cluster adalah sekelompok individu atau bisnis-bisnis
kreatif yang bekerja dalam satu era area geaografis
tertentu.
g. Online Platform merupakan wujud kreative hub yang
hanya menggunakan metode online seperti website
dan media social lainnya yang melakukan
pelaksanaan bisnis kreatif.
h. Alternative merupakan wujud kreative hub yang
hanya fokus pada percobaan dengan komunitas,
sektor dan model keuangan baru.
Pada bagian ini Pusat kreativitas seni difabel
menerapkan berdasarkan jenis bangunannya adalah
Center.
1.3 Tinjauan Khusus Objek Perancangan Pusat Kreativitas Seni
Pusat kreativitas merupakan tempat atau wadah yang menyatukan
orang-orang melakukan kreativitas khususnya bagi penyandang Difabel
Difabel seperti, pertemuan, menyediakan ruang, dukungan untuk jaringan
dan keterlibatan masyarakat dalam sektor kreatif, budaya dan teknologi.
Pada bagian ini pusat kreativitas yang diwujudkan adalah kesenian ternate
dan berdampingan dengan zaman modern saat ini. Kesenian yang ada di
Ternate merupakan perihal masyarakat Ternate mengekspresikan ide-ide
estetika/kreativitas nya baik dengan Gerakan tubuh (tarian), benda dan lain
sebagainya. Sehingga menghasilkan kepuasan batin, suasana yang
menimbulkan rasa indah dan kagum.

Kesenian ini diciptakan oleh masyarakat Ternate sendiri yang menjadi


milik mereka secara Bersama. Oleh sebab itu, kesenian Ternate adalah
representasi budaya ternate juga memberikan kesempatan kepada kaum
Difabel agar mampu dan bisa berkreativitas sebebas dan segembira
mungkin.
Kesenian yang akan di buat oleh remaja Difabel adalah sesuatu yang
mengkombinasikan antara kesenian Ternate dan seni moderen, sehingga
para penyandang disabiltas ketunaan tersebut dapat menyalurkan ide-ide
gagasan, yang memiliki estetika yang berkualitas dan memiliki nilai-nilai
kesenian dalam memberikan ekspresi berbagai macam kesenian yang ada.
1. Karakteristik Bangunan Pusat kreativitas seni Difabel di Ternate
Berdasarkan kegunaanya bangunan Pusat kreativitas seni Difabel
di ternate memiliki karakteristik sama halnya seperti seni, sebagai
berikut:

a. Rasional
Keselarasan bentuk dengan fungsional bangunan yang
mencirikhaskan Pusat Kreativitas Aceh dan cocok untuk pengguna
dan penikmat seni.
b. Universal
Bangunan bersifat umum tanpa membatasi pengguna, baik dari segi
usia maupun kalangan masyarakat. Dan sebagai salah satu fasilitas
publik yang dimanfaatkan untuk kegiatan komunitas.
c. Fungsional
Penggunaan bangunan sebagai kegiatan seni baik itu pengguna dan
penikmat seni.
i. Orisinalitas Menampilkan kesenian khas ternate dan menerapkan
unsur budaya pada konsep bangunan
e. Kreatif Bangunan yang mewadahi para pemikir kreatif untuk
mampu menciptakan dan mengembangkan kreasi seni daerah
dengan seni modern.
6. Atraktif Mempunyai daya Tarik untuk menyenangkan para
pengunjung dengan berbagai pertunjukan seni.
2.3.1 Standar Gedung Pusat kreativitas seni Difabel di Ternate
2. Prinsip Sirkulasi
Terdapat tiga prinsip utama dalam pengaturan Teknik sirkulasi yang
dapat membentuk struktur lingkungan yang kuat, sebagai berikut:
d. Jalan yang tersedia dapat memudahkan pengunjung dan symbol yang
mudah terbaca
e. Adanya keselarasan antara Sektor-sektor public.
f. Sirkulasi merupakan elemen terbuka yang dapat memberikan
dampak positif bagi kondisi psikologi pengunjung. Sirkulasi harus
mempertimbangkan jarak dimensi manusia dalam kebutuhan ruang
sehingga sesuai dengan standar kebutuhan ruang antara dinding
dengan dimensi manusia.

Gambar 2. 41 Kebutuhan Ruang Dan Dimensi Manusia


Sumber : Neufert, 1996

3 Arsitektur dan Perilaku


Arsitektur berwawasan perilaku adalah arsitektur yang manusiawi, yang
mampu memahami dan mewadahi perilaku-perilaku manusia yang
ditangkap dari berbagai macam perilaku, baik itu perilaku pencipta,
pengamat, dan juga perilaku alam sekitarnya (Mangunwijaya, Y. B., 1988).
2.3.2 Pendekatan Arsitektur Perilaku
Menurut Snyder dan Catanese, dalam buku “Pengantar Arsitektur”
(1984), arsitektur berwawasan perilaku adalah arsitektur yang mampu
menanggapi kebutuhan dan perasaan manusia yang menyesuaikan
dengan gaya hidup manusia di dalamnya. Menurut Clovis Heimsath,
AIA dalam buku “Arsitektur dari segi Perilaku” (1988), kata “perilaku”
menyatakan suatu kesadaran akan struktur sosial dari orang-orang, suatu
gerakan bersama secara dinamik dalam waktu. (Ruang Dalam Arsitektur
Berwawasan Perilaku Oleh : Rieka Angkouw , Herry Kapugu)
2.3.3 Teori-Teori Pendekatan Arsitektur Perilaku
a) Menurut Y.B Mangun Wijaya dalam buku Wastu Citra.
Istilah perilaku Arsitektur berwawasan perilaku adalah Arsitektur
yang manusiawi, yang mampu memahami dan mewadahi perilaku-
perilaku manusia yang ditangkap dari berbagai macam perilaku, baik
itu perilaku pencipta, pemakai, pengamat juga perilaku alam
sekitarnya. Disebutkan pila bahwa Arsitektur adalah penciptaan
suasana, perkawinan guna dan citra. Guna merujuk pada manfaat yang
ditimbulkan dari hasil rancangan. Manfaat tersebut diperoleh dari
pengaturan fisik bangunan yang sesuai dengan fungsinya. Namun
begitu guna tidak hanya berarti manfaat saja, tetapi juga mengahsilkan
suatu daya yang menyebabkan kualitas hidup kita semakin meningkat.
Cita merujuk pada image yang ditampilkan oleh suatu karya
[Link] adalah lambing yang membahasakan segala yang
manusiawi, indah da agung dari yang menciptakan (Mangunwijaya ;
1992).
Dari pernyataan di atas dapat dikatakan baha mencapai guna dan
citra yang sesuai tidak lepas dari berbagai perilaku yang berpengaruh
dalam sebuah karya, baik itu perilaku pencipta, perilaku pemakai,
perilaku pengamat juga menyangkut perilaku alam dan sekitarnya.
Pembahasan perilaku dalam buku wastu citra dilakukan satu persatu
menurut beragamnya pengertian Arsitektur, sebagai berikut:
1. Perilaku manusia didasari oleh pengaruh sosial budaya yang
juga mempengaruhi terjadinya proses Arsitektur.
2. Perilaku manusia yang dipengaruhi oleh kekuatan religi dari
pengaruh nilai-nilai kosmologi.
3. Perilaku alam dan lingkungan mendasari perilaku manusia
dalam berArsitektur.
4. Dalam berArsitektur terdapat keinginan untuk menciptakan
perilaku yang lebih baik.
b) Menurut Garry T. More dalam buku Introduction to Architecture.
Istilah perilaku diartikan sebagai suatu fungsi dari tuntutan-tuntutan
organism dalam dan lingkungan sosio-fisik luar. Penkajian perilaku
menurut Garry T. More diakitkan denga lingkungan sekitar yang lebih
dikenal sebagai pengakjian lingkungan-perilaku.
Adapun pengkajian lingkungan perilaku seperti yang dimaksudkan
oleh Garry T. More terdiri atas definisi-defenisi sebagai berikut :
1. Meliputi penyelidikan sistematis tentang hubungan-hubungan antara
lingkungan dan perilaku manusia dan penerapannya dalam proses
perancangan.
2. Pengakjian lingkungan-perilaku dalam Arsitektur mencakup lebih
banyak dari pada sekedar fungsi.
3. Meliputi unsure-unsur keindahan estetika, diaman fungsi bertalian
dengan perilaku dan kebutuhan orang dan estetika.
c) Menurut Donna P Duark.
Dalam bukunya yang berjudul Architectural Programming dijelaskan
bahwa manusia dan perilakunya adalah bagian dari system yang
menempati tempat dan lingkungan tidak dapat dipisahkan secara empiris.
Karena itu perilaku manusia selalu terjadi pada suatu tempat dan dapat
dievaluasi secara keseluruhan tanpa pertimbangan factor-faktor
lingkungan)
1. Lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia.
Orang cenderung menduduki suatu tempat yang biasanya diduduki
meskipun tempat tersebut bukan tempat duduk. Misalnya: susunan anak
tangga didepan rumah, bagasi mobil yang besar, pagar yang rendah dan
sebagainya.
2. Perilaku manusia yang mempengaruhi lingkungan
Pada saat orang cenderung memilih jalan pintas yang dianggapnya
terdekat dari pada melewati pedestrian yang memutar. Sehinga orang
tersebut tanpa sadar telah membuat jalur sendiri meski telah disediakan
pedestrian.

2.3.4 Faktor yang mempengaruhi Arsitektur Perilaku


Perilaku manusia dan hubungannya dengan suatu setting fisik
sebenarnya tedapat keterkaitan yang erat dan pengaruh timbal balik
diantara setting tersebut dengan perilaku manusia. Dengan kata lain,
apabila terdapat perubahan setting yang disesuaikan dengan suatu
kegiatan, maka akan ada imbas atau pengaruh terhadap perilaku manusia.
Menurut (Setiawan,1995),Variabel-variabel yang berpengaruh terhadap
perilaku manusia antara lain :
a. Ruang
b. Ukuran dan bentuk
c. Perabot dan penataannya
d. Warna
e. Suara, Temperatur dan Pencahayaan
1) Faktor-Faktor dalam prinsip Arsitektur Perilaku
Prinsip-prinsip tema arsitektur perilkau ynag harus diperhatikan
dalam penerapan tema arsitektur perilaku menurut Carol Simon
Weisten dan Thomas G David antara lain :
1. Mampu berkomunikasi dengan manusia dan lingkungan:
Rancangan hendaknya dapat dipahami oleh pemakainya melalui
penginderaan ataupun pengimajinasian pengguna bangunan. Bentuk
yang disajikan oleh perancang dapat dimengerti sepenuhnya oleh
pengguna bangunan, dan pada umunya bentuk adalah yang paling
banyak digunakan sebagai media komunikasi karena bentuk yang
paling mudah ditangkap dan dimengerti oleh manusia. Dari bangunan
yang diamati oleh manusi syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah :

a) Pencerminan fungsi bangunan dengan simbol-simbol yang


menggunakan tentang rupa banguna yang nantinya akan
dibandingkan dengan pengalaman yang sudah ada, dan
disimpan kembali sebagai pengalaman baru.
b) Menunjukan skala da proporsi yang tepat serta dapat dinikmati.
c) Menunjukkan bahan dan struktur yang akan digunakan dalam
bangunan.

2. Mewadahi aktivitas penghuninya dengan nyaman dan


menyenangkan.
a) Nyaman berarti nyaman secara fisik dan psikis. Nyaman secara
fisik berarti kenyamanan yang berpengaruh pada keadaan tubuh
manusia secara langsung seperti kenyamanan termal. Nyaman
secara psikis pada dasarnya sulit dicapai karena masing-masing
individu memiliki standart yang berbeda-beda untuk menyatakan
kenyamanan secara psikis.
b) Menyenangkan secara fisik bias timbul dengan adanya
pengolahan- pengolahan pada bentuk atau ruangan yang ada
disekitar kita. Menyengkan secara fisiologis bias timbul denga
adanya kenyamanan termal yang diciptakan lingkungan sekitar
terhadap manusia. Menyenangkan secara psikologis bias timbul
denga adanya ruang terbuka yang merupakan tuntutan atau
keinginan manusia untuk bias bersosialisasi. Menyenangkan
secara kultural bias timbul denga adanya penciptaan karya
arsitektur dengan gaya yang sudah dikenal oleh masyarakat yang
berada di tempat itu.
A. Karakteristik Arsitektur prilaku Tuna Netra berdasarkan
perilakunya menurut Sari Rudiyati (2002: 34-38)
1. Cenderung merasa curiga pada orang lain,
2. Mengandalkan pendengaran dan perabaan sebagai pengganti
daya penglihatannya,
3. Memusatkan konsentrasi pada telinga dalam menganalisis
kondisi sekitarnya,
4. Cenderung mengulurkan tangan untuk mengetahui situasi di
depannya,
5. Kebangakan Tuna netra memiliki ketajaman pendengaran,
peraba dan penciuman melebihi orang normal,
6. Bagi tuna netra dengan tipe totally blind, dapat membedakan
tempat yang terang dan gelap, meraka masih dapat
merasakan adanya cahaya yang datang atau keberadaan
cahaya.
B. Karakteristik Arsitektur prilaku Tuna Netra berdasarkan
psikisnya menurut Sari Rudiyati (2002: 34-38)
1. Perasaan mudah tersinggung, rasa mudah tersinggung yang
dirasakan tuna netra disebabkan kurangnya rangsangan
visual yang diterima,
sehingga cenderung emosi saat mendengar
hal-hal yang tidak bisa dilakukan,
2. Mudah Curiga, sebenarnya rasa curiga terhadap orang kain
adadalh hal yang wajar, namun pada tuna netra melebihi kasus
pada umumnya, bahkaan terhadap orang yang ingin
membantunya.
C. Karakteristik Arsitektur prilaku Tuna Netra low
vision menurut Sari Rudiyati (2002: 34-38)
1. Bisa menulis dan membaca dengan jarak yang sangat dekat,
2. Hanya dapat membaca huruf yang berukuran besar,
3. Matanya terlihat tertutup dengan warna putih di bagian
tengahnya (katarak),
[Link] mata atau mengurut dahi terutama saat
cahaya terang atau mencoba melihat benda.
D. Karakteristik Arsitektur prilaku Tuna Rungu menurut
Aqila Smart (2010: 39-40)
1. Kemampuan bahasannya terlambat,
2. Cenderung pendiam,
3. Tidak mampu mendengar,
4. Lebih sering menggunakan Bahasa isyatar dalam
berkomunikasi,
5. Ucapan saat berbicara tidak terlalu jelas,
6. Kurang atau bahkan tidak menanggapi komunikasi
orang lain terhadapnya,
7. Sering memiringkan telinga data disuruh mendengar,
8. selalu meminta pengulangan pembicaraan
lawannya dalam bicara. (sesuai
pengamatan penulis)
2) Pendekatan Desain Arsitektur Perilaku
Metode perancangan yang dipakai adalah metode desain Glass Box, yaitu
metode berpikir rasional yang secara obyektif dan sistematis dalam
menelaah sesuatu hal secara logis dan terbebas dari pikiran dan
pertimbangan yang tidak rasional (irasional), misalnya sentimen dan
selera. Metode yang dilakukan yaitu:

A. Tahap Identifikasi Objek


Menentukan latar belakang, judul, dan definisi judul. Pada
tahap ini akan diuraikan dasar-dasar pemikiran dan landasan yang
menjadi alasan mengapa Pusat Kreativitas Seni untuk difabelini
diperlukan.
B. Tahap Sintesis
Sesudah memahami dan mengetahui jelas tentang objek
perancangan, maka akan dilaksanakan tahap sintesis dimana
menentukan konsep-konsep yang akan dipakai dari beberapa pilihan
yang di dapat dari tahap analisis data.
C. Eksplorasi Desain
Eksplorasi desain dilakukan dengan menerapkan strategi
implementasi yang menyangkut tema perancangan melalui
transformasi konsep-konsep desain ke dalam bentuk grafis (sketsa
ide).
3) Interpetasi Tema
Untuk mendesain sebuah ruangan yang cocok dan sesuai dengan
difabel kita harus benar-benar menciptakan sebuah lingkungan binaan
yang dapat mengakomodir segala perilaku mereka, serta memberikan
kenyamanan dan kenyamanan bagi setiap penghuni untuk berada didalam
ruangan tersebut.
3. Warna
Warna memiliki pengaruh tertentu terhadap individu secara
positif dan negatif. Secara umum pengaruh dari warna-warna ini
secara umum mungkin bersifat meyesuaikan dengan keinginan dan
karakteristik bangunan akan tetapi untuk bangunan khusus difabel ini
warna yang di ambil harus berkarakter,bahagia senang dan menjadi
warna maupun tekstur khas unutk dapat di kenali oleh difabel
berdasarkan ketunaannya.

Warna dan tekstur yang di rekomendasikan terdapat pada


beberapa kriteria berikut ini

Warna dengan konsep modern dengan di padukan teksture yang


minimalis dengan warna putih,abu abu,hitam memiliki makna
santai,elegan,dan simpel.

Warna dengan konsep pop art dengan di padukan teksture seni


dengan warna yang beragam dan mencorak seperti
merah,kuning,biru,hijau,putih,kuning,orange,ungu,hitam,putih dan
gabungan dari keseluruhan warna memiliki makna
semangat,ceria,mood meningkat,menghidupkan suasana, mudah di
ingat,kreatif,dan mampu berkreasi dengan bebas.

Warna dengan konsep soft/pastel dengan tekture yang polosan


dan tidak bercorak seperti warna pastel yang tidak terlalu gelap
maupun tidak terlalu terang namun memiliki makna
ketenangan,fokus,dan santai ([Link].2004).

Pemilihan warna yang tepat dan mempunyai makna nyaman bagi


setiap ruang untuk difabel sangatlah penting, karena warna dapat
memberikan kesan- kesan tertentu dalam menciptakan suasana ruang
bagi si pengguna. Warna dapat berperan dalam banyak hal antara lain :
a) Rangsangan, warna dapat berperan sebagai stimuli (rangsangan),
dengan menggunakan warna-warna cerah yang menarik
perhatian seperti merah, kuning, orange pada ruang akan
merangsang anak untuk beraktivitas dan berimajinasi.
b) Warna merupakan sebuah elemen penting untuk memudahkan
pergerakan difabel, misalnya diberi warna tertentu untuk
penanda tuna netra dan tuna rungu.
c) Mengatur ruang agar tampak lebih luas atau mengecil, warna
dingin bila digunakan untuk mewarnai ruangan akan
memberikan ilusi jarak, akan terasa maju, sebaliknya warna
hangat, terutama keluarga merah akan terasa seolah-olah objek
kelihatan lebih besar dan ringan daripada sesungguhnya.
Sementara warna gelap membuat ruang lebih kecil dan berat.
d) Mengatur tema yang menarik bagi setiap ruang yang berbeda-
beda dengan menggunakan warna yang menarik perhatian
difabel serta membuat mereka merasa nyaman berasa didalam
ruangan tersebut.
Penggunaan warna yang dominan pada bangunan adalah
hitam dan kuning. Hal ini didasari oleh kemampuan penyandang
low-vision yang mampu mengidentifikasi warna dengan tingkat
kekontrasan yang tinggi. Pengaplikasian warna yang kontras
diadakan pada bagian batas-batas bangunan, seperti pinggir ramp
dan pintu masuk.
4. Bentuk
Bentuk adalah jalan untuk mengatur dan mengartikulasikan
material di dalam ruangan, sama halnya dengan tata bahasa
menyusun kata-kata ke dalam suatu bahasa. Bentuk juga
merupakan konsep disain, sedangkan material membentuk
ekspresi dari bentukan tersebut. Pemikiran bentuk di balik disain
adalah pemodelan mental yang menjelaskan pemikiran-pemikiran
lain untuk memahami penyusunannya. Dari penampilannya bentuk
dapat dibagi dalam :
a. Bentuk yang teratur yaitu bentuk geometris, kotak, kubus,
kerucut, piramida dsb.
b. Bentuk yang lengkung, umumnya bentuk-bentuk alam.

c. Bentuk yang tidak teratur.


Jenis bentuk yang dapat diterapkan dalam rancangan, sebagai
berikut :
A. Segitiga
Bentuk yang dapat menunjukkan stabilitas. Apabila terletak
pada salah satu sisinya, segitiga merupakan bentuk yang sangat
stabil. Jika diletakkkan berdiri pada salah satu sudutnya, dapat
menjadi seimbang bila terletak dalam posisi yang tepat pada
suatu keseimbangan, atau menjadi tidak stabil dan cenderung
jatuh ke salah satu sisinya.
B. Bujur sangkar
Bentuk yang menunjukkan sesuatu yang murni dan rasional.
Bentuk ini merupakan bentuk yang statis dan netral serta tidak
memiliki arah tertentu. Bentuk-bentuk segi empat lainnya dapat
dianggap sebagai variasi dari bentuk bujur sangkar. Seperti
segitiga, bujur sangkar bila berdiri pada salah satu sisinya
tampak stabil dan dinamis bila berdiri tunggal.
C. Lingkaran,
Bentuk yang terpusat. Berarah ke dalam dan pada umumnya
bersifat stabil dan dengan sendirinya menjadi pusat dari
lingkungannya. Penempatan sebuah lingkaran pada suatu
bidang akan memperkuat sifat dasarnya sebagai poros.
Menempatkan garis lurus atau bentuk-bentuk bersudut lainnya
atau unsur menurut arah kelilingnya, dapat menimbulkan
perasaan gerak putar yang kuat. Kriteria tampilan bentuk
bangunan sebagai berikut :
“Mengikuti bentuk yang ada pada sebuah penerapan , yaitu
berbentuk simbol disabilitas yang berbentuk lingkaran, dan
dinamis, mendefinisikan cara kerja Pusat Kreatifitas seni
Difabel,setiap ruas bentukan jari jempol dan jari telunjuk
akan di sambungkan agar menciptakan suatu hierarki dapat
menyeimbangi bentukan tersebut untuk mecpat komunikasi
melalui jari-jarinya. Sama halnya seperti Pusat Kreativitas
Seni untuk difabelyaitu menyeibangi dan mengarahkan setiap
kreatifitas yang dimiliki para difabel.”
5. Skala
Menurut Yoshinobu Ashiara dalam buku Open Space:
a. Untuk menciptakan suasana yang akrab maka skala yang
digunakan adalah skala intim dan skala perkotaan.
b. Skala intim dapat memberikan suasana akrab dan dekat
dengan sesame manusia maupun lingkungannya. Sedangkan
skala perkotaan membuat manusia merasa memiliki atau
kerasan pada lingkungan tersebut
Jika D = jarak, dan H = tinggi, maka:
Skala intim : 1 < D/H < 2 Skala
perkotaan : D/H = 1-2
Desain sebuah ruangan yang menerapkan skala intim
akan memberi kesan nyaman terhadap pengguna, dapat
menguasai ruang atau merasa menjadi sesuatu yang penting
dalam ruangan tersebut.
Maka skala yang akan di gunakan pada Pusat
Kreativitas Seni untuk difabelini adalah skala intim,
bertujuan untuk memudahkan aksibilitas difabel, serta untuk
mewujudkan desain yang amand an nyaman.
6. Tekstur
Menurut (Saliya, 1999).Tekstur : adalah karakter
permukaan suatu bentuk. Tekstur mempengaruhi perasaan kita
pada waktu menyentuh, juga pada saat kualitas pemantulan
cahaya menimpa permukaan bentuk tersebut.
a. Tekstur adalah titik kasar atau halus, titik-titik halus atau
kasar yang tidak teratur pada suatu permukaan. Titik-titik
ini dapat berbeda dalam ukuran, warna, bentuk, atau sifat
dan karakternya. Untuk membuat difabel khususnya tuna
netra mengetahui keberadaannya atau penanda tempat,
b. Fungsi tekstur dapat memberi kesan pada persepsi
manusia melalui penglihatan visual dapat
menghilangkan kesan monoton.
7. Tata Ruang
Ruang sebagai salah satu komponen arsitektur merupakan elemen
yang penting dalam pembahasan arsitektur perilaku. Dalam hal ini
perilaku dioperasionalisasikan sebagai kegiatan manusia yang
membutuhkan setting atau wadah kegiatan berupa ruang. dirancang
untuk memenuhi suatu fungsi dan tujuan tertentu. Selain itu, ruang
juga dirancang untuk memenuhi fungsi yang lebih fleksibel.
4) Persepsi penglihatan
Untuk penglihatan biasanya difabel (tuna rungu) sering melihat simbol-
simbol dan membuat persepsi, selain itu difabel akan mempersepsikan
sesuatu jika ada:
(2) Ada suatu gerakan

(3) Melihat suatu yang kontras

(4) Melihat sesuatu yang lebih terang dari yang lain

(5) Ada suatu yang berbeda

Maka diletakkanya simbol-simbol untuk memudahkan tuna rungu


mengetahui atau mengenali lingkungan sekitarnya. Serta
mengoptimalkan bukaan agar matahari masuk dam memudahkan difabel
menanda waktu melalui cahaya matahari.
5) Persepsi pendengaran
Difabel akan membuat persepsi dari apa yang didengarnya, misalnya
sesuatu yang jatuh, sehingga difabel akan terkejut dan takut dan suara air
akan memberi efek sejuk. Tunanetra sangat mengandalkan pendengaran
mereka untuk memudahkan aktifitas mereka. Maka pada perancangan
mengutamakan penggunaan audio disetiap ruang untuk memudahlan tuda
netra mengenali keberadaannya dalam ruangan.

6) Persepsi perasaan
Persepsi ini didapat melalui indra peraba difabel (tuna netra), misalnya
dengan meraba muka orang tuanya, difabel akan tahu yang mana orang
terdekan dan yang bukan (untuk tuna netra). Unsur-unsur arsitektur yang
menarik perhatian difabel adalah:
1. Bentuk, yaitu:
 Bentuk yang beraturan dan terarah, adalah bentuk yang hubungannya
antara bagian yang satu dengan yang lain tersusun dan konsisten,
pada umumnya bentuk-bentuk yang bersifat stabil.
 Bentuk yang tidak beraturan, adalah bentuk yang bagian-bagiannya
tidak serupa dan hubungan antar bagian tidak konsisten.
“Untuk memudahkan aksibilitas difabel makan digunakan bentuk
yang beraturan dan terarah, agar difabel mudah beraktifitas dalam
bangunan”
2. Warna, memberi pengaruh psikologis sebagaimana yang telah
diuraikan diatas.
“Penggunaan warna yang dapat mengundang mood bagi para difabel,
membuat mereka senang dan lebih bersemangat”
3. Bahan Bangunan Dan Material
Penggunaan perabot dan material pada bangunan memiliki sifat dan
kesan yang ditimbulkan berbeda-beda. Material bangunan dan perabot
harus bersifat kokoh, aman,halus dan tidak bersudut tajam dimana
pengguna utama adalah para difabel dengan ketunaan tertentu.
1.4 Studi Komparasi
Merancang Pusat kreativitas seni Difabel di Ternate perlu adanya
perbandingan untuk mengetahui ruang atau fungsi dari sebuah Pusat
kreativitas seni Difabel, berikut terdapat tiga perbandingan objek sejenis,
yaitu:
2.4.1 Komunitas Salihara

a. Deskripsi Objek
Architect : Adi Purnomo, Marco Kusumawujaya, Andra Martin
Luas : 3.800 m2
Komunitas Salihara adalah sebuah kantong budaya yang
berkiprah sejak 08 Agustus 2008, merupakan pusat kesenian
multidisiplin swasta pertama di yang didirikan oleh Goenawan
Mohamad, sastrawan dan mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo.
Berlokasi di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dengan
luas sekitar 3.800 m2. Bangunan yang berupa kompleks ini dirancang
oleh tiga arsitek Indonesia yang bernama Adi Purnomo, Marco
Kusumawujaya dan Andra Matin yang masing-masing merancang tiga
bangunan berbeda (ruang pertunjukan, galeri dan kantor).

Gambar 2.42 Gedung komunitas Salihara


Sumber : designboom,2019
b. Fasilitas
Komunitas Salihara merupakan bangunan terdiri dari empat lantai
yang memiliki fungsi utama sebagai teater serbaguna dan pusat
komunitas. adapun ruang lainnya fasilitas studio musik, studio tari,
ruang serbaguna, perpustakaan dan wisma dan tempat lainnya.
Berikut fasilitas yang terdapat pada bangunan tersebut, yaitu:
1. Ruang pertujukan.
Ruang Teater Pertunjukan terdapat di Komunitas Salihara.
Gedung komunitas salihara ini sangat mengusung konsep arsitektur
perilaku pada bentuk dan fungsinya, bentuk ruang teater merupakan
pengembangan bentuk sederhana yang menjadi dinamis, dan
menggunakan material modern seperti beton, kaca, dan baja.

Gambar 2.43 Ruang pertunjukan salihara


Sumber : [Link]

Massa penataan gedung komunitas salihra adalah massa banyak yang


terdiri dari tiga gedung dan 4 lantai, berikut penjelsannya:
• Lantai 1
Terdapat pusat kegiatan di mana terdapat akses utama ke semua lantai
dan semua gedung. Terdapat tangga dan ramp juga untuk menuju lantai
atas (galeri dan kantor), Selain itu juga terdapat lift untuk ke gedung
kantor. Untuk jalur masuk barang dan evakuasi, terdapat dua jalur
utama, yaitu masuk pengunjung ke gedung gedung galeri dan teater.
Selain itu dapat juga diakses melalui jalan belakang, yaitu sirkulasi
kendaraan masuk dan keluar gedung melalui sisi barat gedung.
• Lantai 2
Komunitas Salihara Lantai Dua gedung ini terpisah pada akses utama,
yaitu menuju gedung oval (galeri) dan gedung perkantoran. Aksesnya
ada yang melalui tangga dan dapat pula dicapai menggunakan lift
melalui bagian selatan gedung.
• Lantai 3
Komunitas Salihara Akses pada lantai tiga gedung kantor ini dapat
dicapai melalui tangga dan lift. Sebagian besar bagian sisi gedung
menggunakan material kaca dan ditutup jalusi GRC sehingga tidak
perlu khawatir dengan pencahayaan alami yang cukup optimal pada
gedung ini. Sementara itu pada gedung Teater terdapat area kecil yang
dapat digunakan sebagai ruang kontrol maupun ruang rias tambahan.
• Lantai 4
Lantai empat merupakan lantai paling atas dari bangunan ini. Terdapat
di area Gedung Kantor, lantai ini memiliki akses yang cukup minim.
Dapat diakses melalui lift maupun tangga dari rooftop (teater atap.
Sementara itu secara keseluruhan akses dari sisi kanan menuju sisi kiri
bangunan gedung kantor sendiri pun kurang leluasa diakibatkan adanya
void langsung.
2. Ruang latihan
Ruang latihan sebagai ruang artistik yang menunjang proses kreativitas
seni. ruangan di desain dengan interior ruang yang menarik
menggunakan nuansa warna kayu menciptakan melakukan suatu
kegiatan dengan relaks dan ruang latihan ini redam akan suara supaya
tidak terganggu akan kegiatan yang menggangu baik dari luar maupun
dari dalam.

Ruang latihan tari dilengkapi dengan kaca besar yang terdapat didepan
untuk memudahkan pelaku seni dalam melakukan seni tarinya. Ruang
music dan ruang tari menggunakan Bahan lantai yang memudahkan
sang pelaku dalam beraktivitas.
Gambar 2.44 Ruang latihan Tari
Sumber: sewa. salihara
3. Ruang Galeri
Bentuk bangunan silinder yang unik, galeri dengan desain bangunan
silindris yang memberikan ruang dan sudut pandang yang lebih luas.
Galeri ini menggunakan warna cerah yang bertujuan ingin lebih
menonjolak karya-karya seni dan ruangan keliatan seperti bersih dan
luas.

Gambar 2.45 Ruang galeri salihara


Sumber : [Link]

4. Ruang Teater tanjung dan teater atap


Ruang terbuka di titik tertinggi di gedung komuniitas Salihara. Untuk
teatar atap sebuah ruang lapang terbuka beratap langit diatas gedung
pertujukan salihara.
5. Ruang kerja salihara
Sebuah Coworking space yang nyaman dalam lingkungan sejuk kerja
kreatif’
Gambar 2.46 Ruang tkerja salihara
Sumber : [Link]
6. Serambi Salihara dan ruang serbaguna
Serambi salihara ruang dengan format lounge menghadap taman.
Sedangkan ruang serbaguna hanya ruang kosong yang fleksibel dengan
jendela fotogenik.

Gambar 2.47 Ruang serambi dan ruang serbaguna salihara


Sumber : [Link]

2.4.2 Selasar Sunaryo Art

Gambar 2.48 Bangunan Selasar Sunaryo Art Space


Sumber: pinterest,2023
b. Deskripsi Objek
Selasar Sunaryo Art Space adalah sebuah ruang dan organisasi
nirlaba yang bertujuan mendukung pengembangan praktik dan
pengkajian seni dan kebudayaan visual di Indonesia. Didirikan pada
tahun 1998. Nama Selasar Sunaryo Art Space diambil dari nama
seniman yang memiliki galeri seni tersebut. Istilah selasar mengacu
pada filosofi bahwa karya seninya adalah suatu proses kreatif yang
terus berjalan. Selasar Sunaryo terletak di propinsi Jawa Barat tepatnya
di Daerah tingkat II Bandung, Kecamatan Lembang. Letaknya sendiri
berada di kawasan perbukitan alami di jl. Bukit Pakar Timur, Dago,
Bandung.
Letak Selasar Sunaryo yang berada di kawasan perbukitan sangat
menentukan pola peletakan fungsi massa bangunan yang mengisi
seluas 5000m2 dengan tingkat kemiringan sekitar 20-40%. Maka
dalam perancangannya dilakukan pemisahan massa bangunan
berdasarkan pengelompokan fungsi aktifitas. Berikut pengelompokan
massa bangunan di Selasar Sunaryo berdasarkan fungsinya:
1. Fungsi Bangunan Utama, dengan dimensi sekitar 8,4x22 m2 yang
terdiri atas tiga lantai yang berbeda dengan split level yang
memanfaatkan pola kontur eksisting.
2. Fungsi Bangunan Penunjang, yang terdiri atas dua lantai yang
berbeda dengan split level.
3. Ruang Amphiteater terbuka berbentuk setengah lingkaran dengan
diameter sekitar 20m dari lingkar luar amphiteater dan 10m.
c. Fasilitas
Selasar Sunaryo Art Space bangunan yang aktivitas utama sebagai
galeri seni yaitu memarkan, merawat, dan mengapresiasikan karya
seni. Selain itu bangunan ini didukung adanya fasilitas penunjang
seperti studio kerja (ruang latihan), studio seni, ruang pengelola, ruang
pertemuan, lavatory, dan lain sebagainya.
Gambar 2.49 Ruang pertujukan terbuka
Sumber : pinterest,2021

Gambar 2.50 Ruang galeri


Sumber : pinterest,2021

d. Sikulasi
Konsep sirkulasi cenderung menggunakan pola linier yang mengusung
pola ruang yang menerus. Citra bangunan menampilkan image modern
abstrak‟ yang menjadi ekspresi karya-karya seni kontemporer dari
Sunaryo. Tampilan interior tidak menonjol dan cenderung netral untuk
lebih menonjolkan karya karya seni yang dipamerkan di dalamnya.
2.4.3 The Social Heart Centre
Arsitek : Mario Cucinella Architects
Luas : 500 m²
Tahun : 2019

Gambar 2.51 the social heart centre


Sumber : pinterest,2021
Konsep dan ruang Pusat kesehatan sosial di daerah San Felice sul
Panaro akan menyediakan layanan bagi para penyandang cacat, serta
menyediakan layanan perawatan kesehatan untuk sembilan kota di
Modena utara. Tanah di sekitar lokasi bangunan dipenuhi dengan
berbagai tanaman, yang menginspirasi bentuk lumbung bangunan, dan
gambar-gambar yang akrab ini menciptakan rasa aman bagi
penghuninya. Pusat kesehatan sosial dibagi menjadi dua lantai, lantai
dasar adalah area aktivitas, dan lantai atas adalah area
istirahat. Bangunan ini terdiri dari 4 volume yang saling terkait, yang
hanya dapat dilihat dari luar, sedangkan interiornya merupakan bentuk
spasial kontinu.
Gambar 2.52 Ruang kelas
Sumber : pinterest,2021

Gambar 2.53 Ruang makan dan istirahat


Sumber : pinterest,2021
Gambar 2.54 Ruang bermain
Sumber : pinterest,2021

Interior bangunan ini dilengkapi hand railing pad asetiap bagian


dinding, sehingga memudahkan aksibilitas difabel dalam bangunan.
Penggunaan material kayu serta pengoptimalan pencahayaan alami
maupun buatan dengan baik.

Gambar 2.55 lansecape


Sumber : pinterest,2021
Penataan lansekap yang beraturan dan terarah,
memudahkan difabel memudahkan difabel bergerak dalam lingkup
ini.
2.6 Kesimpulan Studi Komparasi
Berdasarkan hasil dari studi komparasi diatas dapat disimpulkan pada tabel
dibawah sebagai berikut:

No Analisa Gedung Selasar Sunaryo The social


komunitas art spacw heart centre
Salihara
1. Bentu bangunan Berbentuk Berbentuk Berbentuk
dan jumlah lantai persegi dengan persegi geometri giometri
beberapa dengan 3 jumlah persegi, dan
bangunan yang lantai bangunan berlantai 1
memiliki 4
jumlah lantai
2. Lansecap/ruang Terdapat ruang Ruang terbuka Terdapat
ruang
luar terbuka hijau hijau yang relax
dan sejuk terbuka hijau
untuk areal
relax.
3. Interior Interior sangat Kesan unik dan Interior
mendukung bentuk di setiap bangunan
aktivitas ruang yang dengan
kegiatan berbeda menggunakan
dengan memberi rasa material kayu
kenyamanan nyaman dan dan kaca
yang tinggi aman.
4. Skala bangunan Skala intim dan Skala intim dan Skala intim.
monumental monumental
5. Hubungan Ruang Dibedakan Dibedakan Dibedakan
menurut fungsi menurut fungsi menurut
fungsi
6. Material Beton,kayu,kaca Vinyl,kayu,beton tanah
liat,kaca

Tabel 2.3 Studi komparasi


Sumber : penulis,2023
Kesimpulan
Dari hasil Studi Komparasi dengan tema maupun tema sejenis Maka Penulis
menarik kesimpulan untuk menerapkan beberap kriteria pada desain Pusat
Kreativitas seni Difabel yaitu sebagai berikut:
 Menerapkan bentuk massa bangunan yang aman sesuai
dengan karakter difabel.
 Menerapkan material alami pada objek rancangan serta
membawa suasana alam ke dalam bangunan untuk
memberikan ketenangan bagi pengguna.
 Mendesain area terbuka yang bertema alam sekitar dan
memanfaatkan potensi ruang luar site untuk dijadikan
tempat berinteraksi para difabel

Anda mungkin juga menyukai