0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Interaksi Guru-Siswa untuk Kedisiplinan

Dokumen ini membahas tinjauan pustaka terkait interaksi antara guru dan siswa serta upaya peningkatan kedisiplinan siswa di berbagai lembaga pendidikan. Penelitian terdahulu menunjukkan pentingnya pola interaksi dalam mendidik siswa, dengan fokus pada hubungan timbal balik yang mempengaruhi kedisiplinan. Penelitian yang akan dilakukan penulis akan lebih menekankan pada interaksi tersebut dan implementasinya di SMP Negeri 41 Seram Bagian Timur.

Diunggah oleh

Aisah Tuanaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Interaksi Guru-Siswa untuk Kedisiplinan

Dokumen ini membahas tinjauan pustaka terkait interaksi antara guru dan siswa serta upaya peningkatan kedisiplinan siswa di berbagai lembaga pendidikan. Penelitian terdahulu menunjukkan pentingnya pola interaksi dalam mendidik siswa, dengan fokus pada hubungan timbal balik yang mempengaruhi kedisiplinan. Penelitian yang akan dilakukan penulis akan lebih menekankan pada interaksi tersebut dan implementasinya di SMP Negeri 41 Seram Bagian Timur.

Diunggah oleh

Aisah Tuanaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelusuran terhadap penelitian dan penyajian yang telah ada,

ditemukan karya ilmiah terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini,

diantaranya adalah:

No Nama Peneliti Judul Peneliti Hasil Peneliti

1 Husni Mubarok Pola Interaksi Guru Pertama, pola interaksi

dan Siswa sebagai sesama guru di MTs Nurul

Proses Peningkatan Hidayah Tapaan Sampang,

Kedisiplinan Siswa termasuk dalam interaksi

di MTs Nurul sosial yang bersifat asosiatif

Hidayah Tapaan yakni dalam bentuk kerjasama

Sampang. primer yang sifatnya positif

untuk menghasilkan sebuah

persatuan. Guru diharuskan

selalu berinteraksi dengan

guruguru lain sembari

membicarakan solusi ketika

ada siswanya yang melakukan

perbuatan menyimpang atau

ketidakdisiplinan di sekolah.

Setiap bulannya guru

7
8

diharuskan untuk mengikuti

rapat khusus untuk membahas

kedisipinan siswa, yang mana

rapat itu dihadiri oleh semua

dewan guru. Kedua, pola

interaksi antara guru dengan

siswa di MTs Nurul Hidayah

Tapaan Sampang, terwujud

dalam interaksi sosial yang

mana semua guru harus selalu

memperhatikan dan berusaha

mengenali semua perilaku

maupun tingkah laku siswa

baik secara personal maupun.

secara kelompok, baik di

dalam kegiatan pembelajaran

amupun di luar kegiatan

pembelajaran. Sehingga, pola

interaksi ini terwujud dalam

sebuah kontrak sosial yang

merupakan norma dalam

bentuk peraturan atau tata

tertib kelas baik secara tertulis


9

maupun secara lisan dengan

tujuan untuk mengukur dan

mengetahui standar tingkah

laku maupun pelanggaran

yang telah dilakukan oleh

siswa. Ketiga, pola interaksi

antara guru dan wali murid di

MTs Nurul Hidayah Tapaan

Sampang, di sini guru selalu

berusaha untuk berinteraksi

dengan orang tua siswa untuk

mensosialisasikan atau

mengajak orang tua untuk

berpartisipasi dalam

mendidiknya, karena guru

mengira tidak cukup mendidik

siswa hanya di sekolah saja,

akan tetapi juga ketika siswa

berada di luar sekoah.

Keempat, tindakan guru

dalam proses meningkatkan

kedisiplinan siswa di MTs

Nurul Hidayah Tapaan


10

Sampang, dilakukan dengan

cara melakukan pendekatan

dengan siswa. Pendekatan ini

dilakukan guru dengan cara

memimpin dalam pengelolaan

siswa di kelas, selain itu guru

juga harus memperhatikan

kondisi psikologis siswa yang

beragam. Dalam kaitannya

dengan kedisiplinan, sekolah

menerapkan hukuman bagi

siswa yang tidak disiplin,

seperti membersihkan kelas,

dan membuang sampah

selama tiga hari berturut-turut.

Dari hasil penelitian di atas

menunjukkan bahwa

penelitian yang akan penulis

lakukan berbeda dengan

penelitian sebelumnya, karena

penelitian sebelumnya lebih

memfokuskan pada upaya

yang dilakukanoleh guru


11

dalam meningkatkan

kedisiplinan siswa. Sedangkan

pada penelitian yang akan

penulis lakukan lebih

menekankan pada interaksi

antara guru dan siswa serta

bagaimana

mengimplementasikan pola

interaksi tersebut dalam

kaitannya dengan

meningkatkan kedisiplinan

siswa.

2 M. Nyoto Arif Pola Interaksi Guru Pertama, Ada tiga pola

Febrianto dan Siswa sebagai interaksi antara guru dan

Proses Peningkatan murid di SD NU 05 Ampel

Kedisiplinan Siswa Wuluhan diantaranya ialah

Kelas 2 SD NU 05 kesepakatan dalam kaitannya

Hidayatul Murid dengan pembuatan peraturan,

Ampel Wuluhan keterbukaan dan kebersamaan

Jember. untuk bisa memahami kondisi

fisik dan psikis siswa, serta

akomodasi. Kedua,
12

pelaksanaan kedisiplinan

siswa kelas 2 SD NU 05

Hidayatul Murid Ampel

Wuluhan ialah dengan

membangun kreatifitas siswa

dan prestasi siswa melalui

disiplin waktu dan disiplin

belajar. Mempertegas tata

tertib sekolah dan

menggalakkan sikap

kebersamaan dengan saling

bekerja sama, saling

memberikan saran, toleransi

dalam menumbuhkan

kedisiplinan, serta pembagian

tugas piket Wakasek dan piket

guru serta administrasi piket.7

Dari hasil penelitian di atas

menunjukkan bahwa

penelitian yang akan penulis

lakukan berbeda dengan

7
M. Nyoto Febrianto, Pola Interaksi Guru dan Siswa sebagai Proses Peningkatan
Kedisiplinan Siswa Kelas 2 SD NU 05 Hidayatul Murid Ampel Wuluh Jember (Skripsi: IAIN
Jember, 2015).
13

penelitian sebelumnya, karena

penelitian sebelumnya lebih

memfokuskan pada

pelaksanaan kedisiplinan

siswa. Sedangkan pada

penelitian yang akan penulis

lakukan lebih menekankan

pada interaksi antara guru dan

siswa serta bagaimana

mengimplementasikan pola

interaksi tersebut dalam

kaitannya dengan

meningkatkan kedisiplinan

siswa.

3 Millatun Hamidah Upaya Guru dalam Pertam, hasil penelitian

Meningkatkan menunjukkan bahwa

Kedisiplinan Siswa kedisiplinan siswa di SMK

SMK Muhamadiyah Parakan

Muhammadiyah dipengaruhi oleh dua faktor

Parakan Tangerang utama, yaitu faktor internal

Selatan. dan faktor eksternal. Kedua,

upaya yang telah dilakukan

oleh guru-guru di SMK


14

Muhammadiyah Parakan

berupa pembiasaan seperti

teladan, penyadaran dan

pengawasan terhadap siswa.

Dari hasil penelitian di atas

menunjukkan bahwa

penelitian yang akan penulis

lakukan berbeda dengan

penelitian sebelumnya, karena

penelitian sebelumnya lebih

memfokuskan pada faktor-

faktor yang mempengaruhi

kedisiplinan siswa serta upaya

yang dilakukan oleh guru.

sedangkan penelitian yang

peneliti lakukan lebih

memfokuskan pada interaksi

antara guru dan siswa di

SMPN 41 seram bagian timur

(tinjauan sosiologi

pendidikan). Jadi ada

perbedaanantara penelitian

terdahulu dengan peneliti.


15

Karena peneliti lebih

memfokuskan pada interaksi

antara guru dan siswa di

SMPN 41 seram bagian timur.

Artinya Seperti apa interaksi

antara guru dan

[Link] penelitian

terdahulu Lebih memfokuskan

pada Faktor-Faktor yang

mempengaruhi kedisiplinan

siswa serta upaya yang di

lakukan oleh guru.

Penelitian terdahulu diatas merupakan penelitian yang relevan dengan

kajian yang dilakukan penulis yang peneliti ajukan dengan judul “Interaksi

Antara Guru dan Siswa Di SMP Negeri 41 Seram Bagian Timur (Tinjauan

Sosiologi pendidikan)”. Sepengetahuan peneliti belum pernah diteliti

sebelumnya.

B. Interaksi Guru Dan Siswa

1. Pengertian Interaksi

Kata interaksi berasal dari Bahasa Inggris Interaction artinya suatu

tindakan atau hubungan yang berbalasan. Dengan istilah lain yaitu proses

terjadinya hubungan timbal balik atau yang saling berhubungan dan memberikan
16

pengaruh satu sama lainnya.8 Interaksi adalah pengaruh timbal balik saling

mempengaruhi satu sama lain.9

Interaksi adalah hubungan timbal balik antara orang satu dengan orang

lainnya. Interaksi akan selalu berkaitan dengan istilah komunikasi atau

hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan

komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena

menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (message).

Kemudian untuk menyampaikan atau mengontakan pesan itu diperlukan adanya

media atau saluran (channel). Jadi unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi

itu adalah: komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga

dengan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, empat

unsur untuk terjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada.10

Proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara guru dengan siswa,

antara siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan sekitar. Mengajar

interaktif tak melulu guru yang mesti jadi sumber utama, tapi siswa juga bisa

leluasa berargumentasi, sementara siswa-siswa yang lainnya diminta

menanggapi. Suasana hidup itu akan terbangun dengan sendirinya ketika guru

mampu membangun kehangatan dalam bentuk diskusi atau dalam bentuk forum

lainnya.11 Dalam setiap bentuk kegiatan/interaksi pengajaran haruslah

berorientasi pada tujuannya. Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan

8
Fathur Rohman, “Pola Interaksi Guru Dan Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 3
Surabaya”, Volume 02 Nomer 03 Tahun 2014.
9
Windi Novia, Kamus Ilmiah Populer (Pustaka Gama, 2016), 211.
10
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2012), 1.
11
Sardiman A.M, h. 7
17

pada pencapaian tujuan itu. Semua faktor yang terlibat untuk mendukung

manifestasi interaksi pengajaran. Harusnya diarahkan dan disesuaikan dengan

tujuan pengajaran itu sendiri. Maka, tujuan pengajaran itu harus berfungsi:

1. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan

aktivitas/ interaksi pengajaran

2. Menjadi penentu arah kegiaatan/ interaksi pengajaran

3. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain

pengajaran

4. Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam

dan memperluas ruang lingkup pengajaran.

5. Menjadi pedoman untuk mencegah/ menghindari penyimpangan

pengajaran.

Maka dapat disimpulkan bahwa pola interaksi merupakan suatu bentuk

kegiatan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang menghasilkan suatu

hubungan timbal balik antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam

proses pembelajaran, pola interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh

guru kepada siswa dan terjadinya hubungan timbal balik antara guru dan siswa

pada saat pembelajaran berlangsung demi tercapainya tujuan yang telah

ditetapkan.12

2. Pengertian Guru Dan Siswa

Secara etimologi guru sering disebut sebagai pendidik. Dalam bahasa

Arab, ada beberapa kata yang menunjukkan profesi ini, seperti mudarris,
12
Rudi Hartono, Ragam Model Mengajar Yang Mudah Diterima Murid, Jogjakarta: Diva
Press, 2013, h. 28-30
18

mu‟allim, murabbi dan mu‟addib, yang meskipun memiliki makna yang sama,

namun masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda.13 Dalam

pengertian Murrabi mengisyaratkan bahwa guru adalah orang yang memiliki

sifat rabbani yang artinya orang yang bijaksana, bertanggung jawab, berkasih

sayang kepada siswa dan memiliki pengetahuan tentang rabb. Dalam pengertian

mu‟allim ia mengandung arti bahwa guru adalah orang yang berilmu. Sedangkan

dalam konsep mu‟addib terkandung pengertian integrasi antara ilmu dan amal

sekaligus.14

Sedangkan secara terminologis, guru sering diartikan sebagai orang yang

bertanggung jawab terhadap perkembangan siswa dengan mengupayakan

perkembangan seluruh potensi (fitrah) siswa, baik pada potensi kognitif, potensi

afektif, maupun potensi psikomotorik. Oleh karena itu, seorang guru harus

memiliki standar kualitas pribadi yang meliputi tanggung jawab, wibawa,

mandiri, dan juga disiplin. Disamping itu, seorang guru juga harus memiliki

kompetensi yang baik agar ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya

secara layak dan bertanggung jawab.

Pembahasan mengenai guru selalu dikaitkan dengan profesi yang berkaitan

dengan pendidikan anak disekolah, di lembaga pendidikan, dan dituntut harus

menguasai bahan ajar yang terdapat dalam kurikulum. Para pakar pendidikan

mendefinisiskan makna guru diantarannya, menurut Poerwadarminta, guru

adalah orang yang kerjanya mengajar. Sedangkan menurut Dzakiah Darajat,

13
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016), 211.
14
Chaerul Rochman dan Heri Gunawan, Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru
yang Dicintai dan Diteladani oleh Siswa (Bandung: Nuansa Cendekia, 2012), 23-24.
19

guru adalah pendidik professional karena guru telah menerima dan memikul

beban berat dari orang tua untuk ikut serta dalam mendidik anak-anaknya supaya

mempunyai penegetahuan yang luas. Namun yang perlu diperhatikan, tetaplah

orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Sedangkan guru adalah tenaga

professional yang membantu orang tua untuk mendidik anak-anak pada jenjang

pendidikan sekolah, antara orang tua dan guru harus saling bekerjasama dalam

melaksanakan tanggung jawabnya mendidik anak. Agar terwujudnya tujuan

yang ingin dicapai secara maksimal.15

Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional

menegaskan bahwa:

Guru merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan

melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan

pembimbingan, pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada

masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.16

Disini guru memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi nilai dan juga

karakter siswa.17 Selain itu guru juga memiliki peranan yang sangat penting

berkaitan dengan siswa, yaitu berkaitan dengan interaksi sosial yang sedang

dihadapinya. Baik itu pada situasi formal dalam kegiatan belajar mengajar

didalam kelas maupun pada situasi informal lainnya. Sehingga dapat

disimpulkan bahwasannya guru merupakan seorang pendidik yang memiliki

15
Binti Maunatul, Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kenakalan
Peserta didik Broken Home Di SMP Bina Taruna Surabaya, (Surabaya: Skripsi Diterbitkan,
2015), hal. 14
16
UU No. 20, Tentang Sisdiknas, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hal. 27
17
Thomas Lickona, Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi
Pintar dan Baik (Bandung: Nusa Media, 2018), 99.
20

tugas utama untuk mendidik, membimbing, mengajar, melatih, mengarahkan

serta mengevaluasi siswa baik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas maupun

diluar kelas.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru adalah figur manusia

yang menempatkan posisi dalam memegang peranan penting dalam pendidikan

untuk mengabdi, mendidik dan mencerdaskan peserta didik, yang mempunyai

tanggung jawab serta pemegang amanat dalam membimbing dan membina

peserta didik dalam mencapai tujuan.

Sedangankan Secara etimologi peserta didik merupakan anak yang

mendapatkan pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik merupakan anak

yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis,

untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui suatu lembaga pendidikan.18

Oemar Hamalik mendefinisikan peserta didik sebagai suatu komponen

masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses

pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan

pendidikan Nasional. Menurut Abu Ahmadi peserta didik adalah sosok manusia

sebagai individu (manusia seutuhnya). Individu di artikan "orang seorang tidak

tergantung dari orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang

menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan

keinginan sendiri.19 Sedangkan Hasbullah berpendapat bahwa siswa sebagai

peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan

18
Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2014), 208.
19
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta,
2009), h. 205.
21

proses pendidikan.20 Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan

terjadi proses pengajaran. Sebabnya ialah karena peserta didiklah yang

membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha memenuhi

kebutuhan yang ada pada peserta didik.21

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, bisa dikatakan bahwa peserta

didik adalah individu yang mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan

bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik

serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh

pendidiknya.

3. Interaksi Guru Dan Siswa

Proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara guru dengan siswa,

antara siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan sekitar. Mengajar

interaktif tak melulu guru yang mesti jadi sumber utama, tapi siswa juga bisa

leluasa berargumentasi, sementara siswa-siswa yang lainnya diminta

menanggapi. Suasana hidup itu akan terbangun dengan sendirinya ketika guru

mampu membangun kehangatan dalam bentuk diskusi atau dalam bentuk forum

lainnya.

Dalam setiap bentuk kegiatan/interaksi pengajaran haruslah berorientasi

pada tujuannya. Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan pada

pencapaian tujuan itu. Semua faktor yang terlibat untuk mendukung manifestasi

interaksi pengajaran. Harusnya diarahkan dan disesuaikan dengan tujuan

pengajaran itu sendiri. Maka, tujuan pengajaran itu harus berfungsi:


20
Hasbullah, Otonomi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2010), h. 121
21
Departemen Agama, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, ([Link].,
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), h. 47
22

1. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan

aktivitas/ interaksi pengajaran

2. Menjadi penentu arah kegiaatan/ interaksi pengajaran

3. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain

pengajaran

4. Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam

dan memperluas ruang lingkup pengajaran.

5. Menjadi pedoman untuk mencegah/ menghindari penyimpangan

pengajaran.

Dalam kaitannya dengan interaksi antara guru dan siswa, maka disini

gurulah yang berperan sebagai pengajar. Sehingga guru tersebut harus berusaha

secara maksimal dengan menggunakan berbagai kemampuan dan

keterampilannya agar siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sehingga

guru harus bisa menciptakan situasi yang kondusif selama siswa berada di

lingkungan sekolah. Selain itu, interaksi antara guru dan siswa belum bisa

dikatakan berhasil apabila siswa tersebut belum mengalami perubahan tingkah

laku, karena pada dasarnya perubahan tingkah laku merupakan hasil dari adanya

sebuah interaksi. Perubahan tingkah laku ini dapat mencangkup tiga aspek yaitu,

aspek kognitif, aspek psikomotorik, dan aspek afektif.

Pada prinsipnya interaksi antara guru dan siswa ini membutuhkan sebuah

perencanaan dan juga persiapan yang matang. Karena perencanaan dan juga

persiapan yang matang nantinya akan dapat mengurangi hambatan-hambatan


23

yang akan muncul dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa serta

bisa dijadikan sebagai motivasi kedepannya.

C. Sosiologi Pendidikan

1. Pengertian Sosiologi Pendidikan

Secara etimologis (asal-usul kata), “sosiologi pendidikan” berasal dari kata

„sosiologi‟ dan „pendidikan.‟ „Sosilogi‟ berasal dari bahasa Latin dan Yunani,

yakni kata ‘socius’ dan ‘logos’. ‘Socius’ (Yunani) yang berarti „kawan‟,

„berkawan‟, ataupun „bermasyarakat‟, sedangkan „logos’ berarti „ilmu‟ atau bisa

juga „berbicara tentang sesuatu‟. Dengan demikian secara harfiah istilah

“sosiologi” dapat diartikan ilmu tentang masyarakat. Sosiologi adalah ilmu yang

mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur

sosialnya. Jadi sosiologi dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari

bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya

dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta

kaitannya satu dengan yang lain.

Sementara istilah pendidikan, secara etimologis mempunyai padanan kata

education dalam bahasa Inggris, dan al-tarbiyah, alta’lîm, al-ta’dîb, dan al-

riyādah, dalam bahasa Arab. Walau setiap term tersebut mempunyai makna yang

berbeda, karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya, namun dalam beberapa

hal, term-term tersebut mempunyai kesamaan makna. Dalam definisi ini buku ini

diambil sisi kesamaannya. Pengertian „pendidikan‟, secara sederhana, adalah


24

proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam usaha

mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.22

Dari penjelasan tentang asal-usul kata sosiologi pendidikan di atas, kini

saatnya memahami apa arti sebenarnya dari sosiologi pendidikan itu? Secara

singkat, yang menjadi masalah sentral sosiologi pendidikan adalah aspek-aspek

sosiologi dalam pendidikan. Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang

digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh pendidikan

yang sangat fundamental.

Secara terminologis (istilah), menurut Zainuddin Maliki, sosiologi

pendidikan adalah kajian bagaimana institusi dan kekuatan sosial mempengaruhi

proses dan outcome pendidikan dan begitu pula sebaliknya.23 Menurut definisi ini

terdapat hubungan timbal-balik antara pendidikan dan perkembangan sosial.

Pendidikan akan melahirkan perubahan sosial, begitu juga perubahan sosial

mempengaruhi arah pendidikan, sehingga antara pendidikan dan perubahan sosial

terdapat hubungan simbiosis-mutualisme.

Menurut S. Nasution, sosiologi pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk

mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan

kepribadian individu agar lebih baik.24 Definisi ini menginginkan pendidikan

sebagai aktivitas sosial agar dapat mencetak generasi yang memiliki kepribadian,

karakter, dan moral yang baik.

22
Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Prenada, 2011), 8.
23
Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2008), 5.
24
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), 2.
25

Abdullah Idi mendefinisikan sosiologi pendidikan adalah ilmu yang

mendeskripsikan dan menjelaskan tentang lembaga-lembaga, kelompok-

kelompok sosial, proses sosial, dimana terdapat suatu hubungan sosial (social

relationship) yang dengan interaksi sosial itu individu memperoleh dan

mengorganisasikan pengalamannya.25 Dari definisi ini dapat diambil pemahaman

bahwa institusi pendidikan hendaknya dapat dijadikan sebagai wahana untuk

memperoleh dan mengembangkan pengetahuan agar dapat dijadikan bekal dalam

kehidupannya.

Untuk mengerti dan memahami disiplin sosiologi pendidikan, maka

diperlukan telaah secara komprehensif, yang dimulai dari definisi, sejarah

kemunculannya sampai menjadi sebuah pendekatan yang diakui dan dikenal luas.

Mempelajari sosiologi pendidikan tidak bisa dilepaskan dari telaah komprehensif

tersebut, karena kemunculan disiplin ilmu ini merupakan persentuhan antara

disiplin sosiologi dan ilmu pendidikan. Pada awalnya, sosiologi dan ilmu

pendidikan memiliki wilayah kajian yang berbeda. Namun karena perkembangan

sosial yang berlangsung menyebabkan kedua disiplin ilmu ini bersinergi. Dengan

kata lain, sosiologi pendidikan merupakan subdisiplin yang menempati wilayah

kajian yang menjembatani disiplin sosiologi dengan ilmu pendidikan. Ruang

jembatan tersebut secara garis besar diisi dengan titik-titik persentuhan dalam

konsep, teori, metodologi, ruang lingkup, maupun pendekatan yang dipergunakan.

Secara historis, sosiologi dan pendidikan dianggap sebagai pengetahuan

kuno, yang keberadaannya berbarengan dengan awal mula adanya manusia.

25
Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan (Jakarta:
Rajawali Press, 2011), 20.
26

Apabila sosiologi dipahami dalam arti luas, yakni sebagai social interraction

(interaksi sosial) atau human relationship (hubungan antar manusia), maka

sosiologi telah ada sejak zaman Nabi Adam. Namun sosiologi dalam pengertian

scientific (ilmu pengetahuan), yakni sebagai ilmu yang tersistematisasi dan

bermetode, maka baru diakui sejak abad ke 19 melalui Auguste Comte (1798-

1857), yang kemudian ia dikenal sebagai bapak pendiri sosiologi.

2. Tujuan Mempelajari Sosiologi Pendidikan

Ada beberapa konsep tentang pentingnya mempelajari sosiologi pendidikan,

di antaranya, menurut Zainuddin Maliki, tujuan mempelajari sosiologi pendidikan

adalah untuk:

a. Menganalisis proses sosialisasi.

b. Menganalisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat.

c. Menganalisis interaksi sosial di sekolah dan antara sekolah dengan

masyarakat.

d. Membantu memecahkan masalah-masalah sosial pendidikan.

e. Menganalisis tujuan pendidikan secara obyektif.

f. Menpelajari kelakukan sosial serta prinsip-prinsip untuk

mengontrolnya.

D. Konsep Teori

1. Teori interaksi sosial

Adapun landasan teori yang mendasari kajian ini adalah tentang interaksi

sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial timbal balik yang dinamis,
27

yang menyangkut hubungan antara orang-orang secara perorangan, antara

kelompokkelompok manusia, ataupun antara orang dengan kelompok manusia.26

Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubunganhubungan sosial yang

dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu

yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok

lainnya, maupun antara kelompok dengan individu.27 Sedangkan menurut W.A.

Gerungan dalam Soetarno merumuskan interaksi sosial sebagai suatu hubungan

antara dua manusia atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi

yang lain atau sebaliknya.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa interkasi sosial merupakan

hubungan timbal balik antara dua orang individu atau lebih yang mana individu

tersebut akan mempengaruhi individu lain dengan tujuan untuk penyesuaian diri.

Syarat-syarat interaksi sosial Interaksi sosial merupakan hubungan antar

individu. Interaksi sosial baru akan terjadi jika telah melakukan kontak sosial dan

komunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Burhan Bungin yaitu “syarat

terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi”.28

1. Kontak sosial

Interaksi sosial akan diawali dengan kontak sosial. Hal ini sesuai dengan

pendapat Herimanto dan Winarno yang menyatakan: kontak sosial merupakan

awal terjadinya interaksi sosial. Pengertian yang senada dinyatakan Burhan

Bungin kontak sosial adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain dan

26
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.55
27
Yesmir Anwar dan Adang, Sosiologi Untuk Universitas, (Bandung: Refika Aditama,
2013), hlm. 194
28
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 55
28

masing-masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain. Jadi dapat

disimpulkan kalau kontak sosial merupakan suatu hubungan antara

seorangindividu dengan individu lain atau kelompok lain yang menimbulkan

interaksi diantara mereka.

2. Komunikasi

Komunikasi sangat penting dalam hubungan antar manusia. Komunikasi

merupakan faktor penentu dalam pembentukan interaksi sosial. Tanpa

komunikasi interaksi sosial belum bisa terjadi. Dengan komunikasi yang bagus

seseorang akan dapat dengan mudah menyampaikan maksudnya dalam

berinteraksi. Komunikasi merupakan pertukaran pesan baik verbal maupun non

verbal antara si pengirim dan penerima pesan untuk mengubah tingkah laku.

Anda mungkin juga menyukai