7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelusuran terhadap penelitian dan penyajian yang telah ada,
ditemukan karya ilmiah terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini,
diantaranya adalah:
No Nama Peneliti Judul Peneliti Hasil Peneliti
1 Husni Mubarok Pola Interaksi Guru Pertama, pola interaksi
dan Siswa sebagai sesama guru di MTs Nurul
Proses Peningkatan Hidayah Tapaan Sampang,
Kedisiplinan Siswa termasuk dalam interaksi
di MTs Nurul sosial yang bersifat asosiatif
Hidayah Tapaan yakni dalam bentuk kerjasama
Sampang. primer yang sifatnya positif
untuk menghasilkan sebuah
persatuan. Guru diharuskan
selalu berinteraksi dengan
guruguru lain sembari
membicarakan solusi ketika
ada siswanya yang melakukan
perbuatan menyimpang atau
ketidakdisiplinan di sekolah.
Setiap bulannya guru
7
8
diharuskan untuk mengikuti
rapat khusus untuk membahas
kedisipinan siswa, yang mana
rapat itu dihadiri oleh semua
dewan guru. Kedua, pola
interaksi antara guru dengan
siswa di MTs Nurul Hidayah
Tapaan Sampang, terwujud
dalam interaksi sosial yang
mana semua guru harus selalu
memperhatikan dan berusaha
mengenali semua perilaku
maupun tingkah laku siswa
baik secara personal maupun.
secara kelompok, baik di
dalam kegiatan pembelajaran
amupun di luar kegiatan
pembelajaran. Sehingga, pola
interaksi ini terwujud dalam
sebuah kontrak sosial yang
merupakan norma dalam
bentuk peraturan atau tata
tertib kelas baik secara tertulis
9
maupun secara lisan dengan
tujuan untuk mengukur dan
mengetahui standar tingkah
laku maupun pelanggaran
yang telah dilakukan oleh
siswa. Ketiga, pola interaksi
antara guru dan wali murid di
MTs Nurul Hidayah Tapaan
Sampang, di sini guru selalu
berusaha untuk berinteraksi
dengan orang tua siswa untuk
mensosialisasikan atau
mengajak orang tua untuk
berpartisipasi dalam
mendidiknya, karena guru
mengira tidak cukup mendidik
siswa hanya di sekolah saja,
akan tetapi juga ketika siswa
berada di luar sekoah.
Keempat, tindakan guru
dalam proses meningkatkan
kedisiplinan siswa di MTs
Nurul Hidayah Tapaan
10
Sampang, dilakukan dengan
cara melakukan pendekatan
dengan siswa. Pendekatan ini
dilakukan guru dengan cara
memimpin dalam pengelolaan
siswa di kelas, selain itu guru
juga harus memperhatikan
kondisi psikologis siswa yang
beragam. Dalam kaitannya
dengan kedisiplinan, sekolah
menerapkan hukuman bagi
siswa yang tidak disiplin,
seperti membersihkan kelas,
dan membuang sampah
selama tiga hari berturut-turut.
Dari hasil penelitian di atas
menunjukkan bahwa
penelitian yang akan penulis
lakukan berbeda dengan
penelitian sebelumnya, karena
penelitian sebelumnya lebih
memfokuskan pada upaya
yang dilakukanoleh guru
11
dalam meningkatkan
kedisiplinan siswa. Sedangkan
pada penelitian yang akan
penulis lakukan lebih
menekankan pada interaksi
antara guru dan siswa serta
bagaimana
mengimplementasikan pola
interaksi tersebut dalam
kaitannya dengan
meningkatkan kedisiplinan
siswa.
2 M. Nyoto Arif Pola Interaksi Guru Pertama, Ada tiga pola
Febrianto dan Siswa sebagai interaksi antara guru dan
Proses Peningkatan murid di SD NU 05 Ampel
Kedisiplinan Siswa Wuluhan diantaranya ialah
Kelas 2 SD NU 05 kesepakatan dalam kaitannya
Hidayatul Murid dengan pembuatan peraturan,
Ampel Wuluhan keterbukaan dan kebersamaan
Jember. untuk bisa memahami kondisi
fisik dan psikis siswa, serta
akomodasi. Kedua,
12
pelaksanaan kedisiplinan
siswa kelas 2 SD NU 05
Hidayatul Murid Ampel
Wuluhan ialah dengan
membangun kreatifitas siswa
dan prestasi siswa melalui
disiplin waktu dan disiplin
belajar. Mempertegas tata
tertib sekolah dan
menggalakkan sikap
kebersamaan dengan saling
bekerja sama, saling
memberikan saran, toleransi
dalam menumbuhkan
kedisiplinan, serta pembagian
tugas piket Wakasek dan piket
guru serta administrasi piket.7
Dari hasil penelitian di atas
menunjukkan bahwa
penelitian yang akan penulis
lakukan berbeda dengan
7
M. Nyoto Febrianto, Pola Interaksi Guru dan Siswa sebagai Proses Peningkatan
Kedisiplinan Siswa Kelas 2 SD NU 05 Hidayatul Murid Ampel Wuluh Jember (Skripsi: IAIN
Jember, 2015).
13
penelitian sebelumnya, karena
penelitian sebelumnya lebih
memfokuskan pada
pelaksanaan kedisiplinan
siswa. Sedangkan pada
penelitian yang akan penulis
lakukan lebih menekankan
pada interaksi antara guru dan
siswa serta bagaimana
mengimplementasikan pola
interaksi tersebut dalam
kaitannya dengan
meningkatkan kedisiplinan
siswa.
3 Millatun Hamidah Upaya Guru dalam Pertam, hasil penelitian
Meningkatkan menunjukkan bahwa
Kedisiplinan Siswa kedisiplinan siswa di SMK
SMK Muhamadiyah Parakan
Muhammadiyah dipengaruhi oleh dua faktor
Parakan Tangerang utama, yaitu faktor internal
Selatan. dan faktor eksternal. Kedua,
upaya yang telah dilakukan
oleh guru-guru di SMK
14
Muhammadiyah Parakan
berupa pembiasaan seperti
teladan, penyadaran dan
pengawasan terhadap siswa.
Dari hasil penelitian di atas
menunjukkan bahwa
penelitian yang akan penulis
lakukan berbeda dengan
penelitian sebelumnya, karena
penelitian sebelumnya lebih
memfokuskan pada faktor-
faktor yang mempengaruhi
kedisiplinan siswa serta upaya
yang dilakukan oleh guru.
sedangkan penelitian yang
peneliti lakukan lebih
memfokuskan pada interaksi
antara guru dan siswa di
SMPN 41 seram bagian timur
(tinjauan sosiologi
pendidikan). Jadi ada
perbedaanantara penelitian
terdahulu dengan peneliti.
15
Karena peneliti lebih
memfokuskan pada interaksi
antara guru dan siswa di
SMPN 41 seram bagian timur.
Artinya Seperti apa interaksi
antara guru dan
[Link] penelitian
terdahulu Lebih memfokuskan
pada Faktor-Faktor yang
mempengaruhi kedisiplinan
siswa serta upaya yang di
lakukan oleh guru.
Penelitian terdahulu diatas merupakan penelitian yang relevan dengan
kajian yang dilakukan penulis yang peneliti ajukan dengan judul “Interaksi
Antara Guru dan Siswa Di SMP Negeri 41 Seram Bagian Timur (Tinjauan
Sosiologi pendidikan)”. Sepengetahuan peneliti belum pernah diteliti
sebelumnya.
B. Interaksi Guru Dan Siswa
1. Pengertian Interaksi
Kata interaksi berasal dari Bahasa Inggris Interaction artinya suatu
tindakan atau hubungan yang berbalasan. Dengan istilah lain yaitu proses
terjadinya hubungan timbal balik atau yang saling berhubungan dan memberikan
16
pengaruh satu sama lainnya.8 Interaksi adalah pengaruh timbal balik saling
mempengaruhi satu sama lain.9
Interaksi adalah hubungan timbal balik antara orang satu dengan orang
lainnya. Interaksi akan selalu berkaitan dengan istilah komunikasi atau
hubungan. Dalam proses komunikasi, dikenal adanya unsur komunikan dan
komunikator. Hubungan antara komunikator dengan komunikan biasanya karena
menginteraksikan sesuatu, yang dikenal dengan istilah pesan (message).
Kemudian untuk menyampaikan atau mengontakan pesan itu diperlukan adanya
media atau saluran (channel). Jadi unsur-unsur yang terlibat dalam komunikasi
itu adalah: komunikator, komunikan, pesan dan saluran atau media. Begitu juga
dengan hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, empat
unsur untuk terjadinya proses komunikasi itu akan selalu ada.10
Proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara guru dengan siswa,
antara siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan sekitar. Mengajar
interaktif tak melulu guru yang mesti jadi sumber utama, tapi siswa juga bisa
leluasa berargumentasi, sementara siswa-siswa yang lainnya diminta
menanggapi. Suasana hidup itu akan terbangun dengan sendirinya ketika guru
mampu membangun kehangatan dalam bentuk diskusi atau dalam bentuk forum
lainnya.11 Dalam setiap bentuk kegiatan/interaksi pengajaran haruslah
berorientasi pada tujuannya. Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan
8
Fathur Rohman, “Pola Interaksi Guru Dan Siswa Kelas VII SMP Muhammadiyah 3
Surabaya”, Volume 02 Nomer 03 Tahun 2014.
9
Windi Novia, Kamus Ilmiah Populer (Pustaka Gama, 2016), 211.
10
Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2012), 1.
11
Sardiman A.M, h. 7
17
pada pencapaian tujuan itu. Semua faktor yang terlibat untuk mendukung
manifestasi interaksi pengajaran. Harusnya diarahkan dan disesuaikan dengan
tujuan pengajaran itu sendiri. Maka, tujuan pengajaran itu harus berfungsi:
1. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan
aktivitas/ interaksi pengajaran
2. Menjadi penentu arah kegiaatan/ interaksi pengajaran
3. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain
pengajaran
4. Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam
dan memperluas ruang lingkup pengajaran.
5. Menjadi pedoman untuk mencegah/ menghindari penyimpangan
pengajaran.
Maka dapat disimpulkan bahwa pola interaksi merupakan suatu bentuk
kegiatan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang menghasilkan suatu
hubungan timbal balik antara satu individu dengan individu lainnya. Dalam
proses pembelajaran, pola interaksi adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh
guru kepada siswa dan terjadinya hubungan timbal balik antara guru dan siswa
pada saat pembelajaran berlangsung demi tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan.12
2. Pengertian Guru Dan Siswa
Secara etimologi guru sering disebut sebagai pendidik. Dalam bahasa
Arab, ada beberapa kata yang menunjukkan profesi ini, seperti mudarris,
12
Rudi Hartono, Ragam Model Mengajar Yang Mudah Diterima Murid, Jogjakarta: Diva
Press, 2013, h. 28-30
18
mu‟allim, murabbi dan mu‟addib, yang meskipun memiliki makna yang sama,
namun masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda.13 Dalam
pengertian Murrabi mengisyaratkan bahwa guru adalah orang yang memiliki
sifat rabbani yang artinya orang yang bijaksana, bertanggung jawab, berkasih
sayang kepada siswa dan memiliki pengetahuan tentang rabb. Dalam pengertian
mu‟allim ia mengandung arti bahwa guru adalah orang yang berilmu. Sedangkan
dalam konsep mu‟addib terkandung pengertian integrasi antara ilmu dan amal
sekaligus.14
Sedangkan secara terminologis, guru sering diartikan sebagai orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan siswa dengan mengupayakan
perkembangan seluruh potensi (fitrah) siswa, baik pada potensi kognitif, potensi
afektif, maupun potensi psikomotorik. Oleh karena itu, seorang guru harus
memiliki standar kualitas pribadi yang meliputi tanggung jawab, wibawa,
mandiri, dan juga disiplin. Disamping itu, seorang guru juga harus memiliki
kompetensi yang baik agar ia dapat melaksanakan kewajiban-kewajibannya
secara layak dan bertanggung jawab.
Pembahasan mengenai guru selalu dikaitkan dengan profesi yang berkaitan
dengan pendidikan anak disekolah, di lembaga pendidikan, dan dituntut harus
menguasai bahan ajar yang terdapat dalam kurikulum. Para pakar pendidikan
mendefinisiskan makna guru diantarannya, menurut Poerwadarminta, guru
adalah orang yang kerjanya mengajar. Sedangkan menurut Dzakiah Darajat,
13
Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2016), 211.
14
Chaerul Rochman dan Heri Gunawan, Pengembangan Kompetensi Kepribadian Guru
yang Dicintai dan Diteladani oleh Siswa (Bandung: Nuansa Cendekia, 2012), 23-24.
19
guru adalah pendidik professional karena guru telah menerima dan memikul
beban berat dari orang tua untuk ikut serta dalam mendidik anak-anaknya supaya
mempunyai penegetahuan yang luas. Namun yang perlu diperhatikan, tetaplah
orang tua sebagai pendidik pertama dan utama. Sedangkan guru adalah tenaga
professional yang membantu orang tua untuk mendidik anak-anak pada jenjang
pendidikan sekolah, antara orang tua dan guru harus saling bekerjasama dalam
melaksanakan tanggung jawabnya mendidik anak. Agar terwujudnya tujuan
yang ingin dicapai secara maksimal.15
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
menegaskan bahwa:
Guru merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan, pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.16
Disini guru memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi nilai dan juga
karakter siswa.17 Selain itu guru juga memiliki peranan yang sangat penting
berkaitan dengan siswa, yaitu berkaitan dengan interaksi sosial yang sedang
dihadapinya. Baik itu pada situasi formal dalam kegiatan belajar mengajar
didalam kelas maupun pada situasi informal lainnya. Sehingga dapat
disimpulkan bahwasannya guru merupakan seorang pendidik yang memiliki
15
Binti Maunatul, Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kenakalan
Peserta didik Broken Home Di SMP Bina Taruna Surabaya, (Surabaya: Skripsi Diterbitkan,
2015), hal. 14
16
UU No. 20, Tentang Sisdiknas, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hal. 27
17
Thomas Lickona, Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi
Pintar dan Baik (Bandung: Nusa Media, 2018), 99.
20
tugas utama untuk mendidik, membimbing, mengajar, melatih, mengarahkan
serta mengevaluasi siswa baik dalam kegiatan belajar mengajar di kelas maupun
diluar kelas.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa guru adalah figur manusia
yang menempatkan posisi dalam memegang peranan penting dalam pendidikan
untuk mengabdi, mendidik dan mencerdaskan peserta didik, yang mempunyai
tanggung jawab serta pemegang amanat dalam membimbing dan membina
peserta didik dalam mencapai tujuan.
Sedangankan Secara etimologi peserta didik merupakan anak yang
mendapatkan pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik merupakan anak
yang sedang tumbuh dan berkembang, baik secara fisik maupun psikologis,
untuk mencapai tujuan pendidikannya melalui suatu lembaga pendidikan.18
Oemar Hamalik mendefinisikan peserta didik sebagai suatu komponen
masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses
pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan
pendidikan Nasional. Menurut Abu Ahmadi peserta didik adalah sosok manusia
sebagai individu (manusia seutuhnya). Individu di artikan "orang seorang tidak
tergantung dari orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang
menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan
keinginan sendiri.19 Sedangkan Hasbullah berpendapat bahwa siswa sebagai
peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan
18
Heri Gunawan, Pendidikan Islam Kajian Teoritis dan Pemikiran Tokoh (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2014), 208.
19
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta,
2009), h. 205.
21
proses pendidikan.20 Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan
terjadi proses pengajaran. Sebabnya ialah karena peserta didiklah yang
membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha memenuhi
kebutuhan yang ada pada peserta didik.21
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, bisa dikatakan bahwa peserta
didik adalah individu yang mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan
bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh dan berkembang dengan baik
serta mempunyai kepuasan dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh
pendidiknya.
3. Interaksi Guru Dan Siswa
Proses belajar mengajar adalah proses interaksi antara guru dengan siswa,
antara siswa dengan siswa, dan siswa dengan lingkungan sekitar. Mengajar
interaktif tak melulu guru yang mesti jadi sumber utama, tapi siswa juga bisa
leluasa berargumentasi, sementara siswa-siswa yang lainnya diminta
menanggapi. Suasana hidup itu akan terbangun dengan sendirinya ketika guru
mampu membangun kehangatan dalam bentuk diskusi atau dalam bentuk forum
lainnya.
Dalam setiap bentuk kegiatan/interaksi pengajaran haruslah berorientasi
pada tujuannya. Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan pada
pencapaian tujuan itu. Semua faktor yang terlibat untuk mendukung manifestasi
interaksi pengajaran. Harusnya diarahkan dan disesuaikan dengan tujuan
pengajaran itu sendiri. Maka, tujuan pengajaran itu harus berfungsi:
20
Hasbullah, Otonomi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2010), h. 121
21
Departemen Agama, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, ([Link].,
Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), h. 47
22
1. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam melaksanakan
aktivitas/ interaksi pengajaran
2. Menjadi penentu arah kegiaatan/ interaksi pengajaran
3. Menjadi titik sentral perhatian dan pedoman dalam menyusun desain
pengajaran
4. Menjadi materi pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam
dan memperluas ruang lingkup pengajaran.
5. Menjadi pedoman untuk mencegah/ menghindari penyimpangan
pengajaran.
Dalam kaitannya dengan interaksi antara guru dan siswa, maka disini
gurulah yang berperan sebagai pengajar. Sehingga guru tersebut harus berusaha
secara maksimal dengan menggunakan berbagai kemampuan dan
keterampilannya agar siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sehingga
guru harus bisa menciptakan situasi yang kondusif selama siswa berada di
lingkungan sekolah. Selain itu, interaksi antara guru dan siswa belum bisa
dikatakan berhasil apabila siswa tersebut belum mengalami perubahan tingkah
laku, karena pada dasarnya perubahan tingkah laku merupakan hasil dari adanya
sebuah interaksi. Perubahan tingkah laku ini dapat mencangkup tiga aspek yaitu,
aspek kognitif, aspek psikomotorik, dan aspek afektif.
Pada prinsipnya interaksi antara guru dan siswa ini membutuhkan sebuah
perencanaan dan juga persiapan yang matang. Karena perencanaan dan juga
persiapan yang matang nantinya akan dapat mengurangi hambatan-hambatan
23
yang akan muncul dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa serta
bisa dijadikan sebagai motivasi kedepannya.
C. Sosiologi Pendidikan
1. Pengertian Sosiologi Pendidikan
Secara etimologis (asal-usul kata), “sosiologi pendidikan” berasal dari kata
„sosiologi‟ dan „pendidikan.‟ „Sosilogi‟ berasal dari bahasa Latin dan Yunani,
yakni kata ‘socius’ dan ‘logos’. ‘Socius’ (Yunani) yang berarti „kawan‟,
„berkawan‟, ataupun „bermasyarakat‟, sedangkan „logos’ berarti „ilmu‟ atau bisa
juga „berbicara tentang sesuatu‟. Dengan demikian secara harfiah istilah
“sosiologi” dapat diartikan ilmu tentang masyarakat. Sosiologi adalah ilmu yang
mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur
sosialnya. Jadi sosiologi dapat dipahami sebagai ilmu yang mempelajari
bagaimana manusia itu berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya
dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu wilayah serta
kaitannya satu dengan yang lain.
Sementara istilah pendidikan, secara etimologis mempunyai padanan kata
education dalam bahasa Inggris, dan al-tarbiyah, alta’lîm, al-ta’dîb, dan al-
riyādah, dalam bahasa Arab. Walau setiap term tersebut mempunyai makna yang
berbeda, karena perbedaan teks dan konteks kalimatnya, namun dalam beberapa
hal, term-term tersebut mempunyai kesamaan makna. Dalam definisi ini buku ini
diambil sisi kesamaannya. Pengertian „pendidikan‟, secara sederhana, adalah
24
proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam usaha
mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.22
Dari penjelasan tentang asal-usul kata sosiologi pendidikan di atas, kini
saatnya memahami apa arti sebenarnya dari sosiologi pendidikan itu? Secara
singkat, yang menjadi masalah sentral sosiologi pendidikan adalah aspek-aspek
sosiologi dalam pendidikan. Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh pendidikan
yang sangat fundamental.
Secara terminologis (istilah), menurut Zainuddin Maliki, sosiologi
pendidikan adalah kajian bagaimana institusi dan kekuatan sosial mempengaruhi
proses dan outcome pendidikan dan begitu pula sebaliknya.23 Menurut definisi ini
terdapat hubungan timbal-balik antara pendidikan dan perkembangan sosial.
Pendidikan akan melahirkan perubahan sosial, begitu juga perubahan sosial
mempengaruhi arah pendidikan, sehingga antara pendidikan dan perubahan sosial
terdapat hubungan simbiosis-mutualisme.
Menurut S. Nasution, sosiologi pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk
mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan
kepribadian individu agar lebih baik.24 Definisi ini menginginkan pendidikan
sebagai aktivitas sosial agar dapat mencetak generasi yang memiliki kepribadian,
karakter, dan moral yang baik.
22
Damsar, Pengantar Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Prenada, 2011), 8.
23
Zainuddin Maliki, Sosiologi Pendidikan (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press,
2008), 5.
24
S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), 2.
25
Abdullah Idi mendefinisikan sosiologi pendidikan adalah ilmu yang
mendeskripsikan dan menjelaskan tentang lembaga-lembaga, kelompok-
kelompok sosial, proses sosial, dimana terdapat suatu hubungan sosial (social
relationship) yang dengan interaksi sosial itu individu memperoleh dan
mengorganisasikan pengalamannya.25 Dari definisi ini dapat diambil pemahaman
bahwa institusi pendidikan hendaknya dapat dijadikan sebagai wahana untuk
memperoleh dan mengembangkan pengetahuan agar dapat dijadikan bekal dalam
kehidupannya.
Untuk mengerti dan memahami disiplin sosiologi pendidikan, maka
diperlukan telaah secara komprehensif, yang dimulai dari definisi, sejarah
kemunculannya sampai menjadi sebuah pendekatan yang diakui dan dikenal luas.
Mempelajari sosiologi pendidikan tidak bisa dilepaskan dari telaah komprehensif
tersebut, karena kemunculan disiplin ilmu ini merupakan persentuhan antara
disiplin sosiologi dan ilmu pendidikan. Pada awalnya, sosiologi dan ilmu
pendidikan memiliki wilayah kajian yang berbeda. Namun karena perkembangan
sosial yang berlangsung menyebabkan kedua disiplin ilmu ini bersinergi. Dengan
kata lain, sosiologi pendidikan merupakan subdisiplin yang menempati wilayah
kajian yang menjembatani disiplin sosiologi dengan ilmu pendidikan. Ruang
jembatan tersebut secara garis besar diisi dengan titik-titik persentuhan dalam
konsep, teori, metodologi, ruang lingkup, maupun pendekatan yang dipergunakan.
Secara historis, sosiologi dan pendidikan dianggap sebagai pengetahuan
kuno, yang keberadaannya berbarengan dengan awal mula adanya manusia.
25
Abdullah Idi, Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan (Jakarta:
Rajawali Press, 2011), 20.
26
Apabila sosiologi dipahami dalam arti luas, yakni sebagai social interraction
(interaksi sosial) atau human relationship (hubungan antar manusia), maka
sosiologi telah ada sejak zaman Nabi Adam. Namun sosiologi dalam pengertian
scientific (ilmu pengetahuan), yakni sebagai ilmu yang tersistematisasi dan
bermetode, maka baru diakui sejak abad ke 19 melalui Auguste Comte (1798-
1857), yang kemudian ia dikenal sebagai bapak pendiri sosiologi.
2. Tujuan Mempelajari Sosiologi Pendidikan
Ada beberapa konsep tentang pentingnya mempelajari sosiologi pendidikan,
di antaranya, menurut Zainuddin Maliki, tujuan mempelajari sosiologi pendidikan
adalah untuk:
a. Menganalisis proses sosialisasi.
b. Menganalisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat.
c. Menganalisis interaksi sosial di sekolah dan antara sekolah dengan
masyarakat.
d. Membantu memecahkan masalah-masalah sosial pendidikan.
e. Menganalisis tujuan pendidikan secara obyektif.
f. Menpelajari kelakukan sosial serta prinsip-prinsip untuk
mengontrolnya.
D. Konsep Teori
1. Teori interaksi sosial
Adapun landasan teori yang mendasari kajian ini adalah tentang interaksi
sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan sosial timbal balik yang dinamis,
27
yang menyangkut hubungan antara orang-orang secara perorangan, antara
kelompokkelompok manusia, ataupun antara orang dengan kelompok manusia.26
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubunganhubungan sosial yang
dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu
yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok
lainnya, maupun antara kelompok dengan individu.27 Sedangkan menurut W.A.
Gerungan dalam Soetarno merumuskan interaksi sosial sebagai suatu hubungan
antara dua manusia atau lebih, dimana kelakuan individu yang satu mempengaruhi
yang lain atau sebaliknya.
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa interkasi sosial merupakan
hubungan timbal balik antara dua orang individu atau lebih yang mana individu
tersebut akan mempengaruhi individu lain dengan tujuan untuk penyesuaian diri.
Syarat-syarat interaksi sosial Interaksi sosial merupakan hubungan antar
individu. Interaksi sosial baru akan terjadi jika telah melakukan kontak sosial dan
komunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Burhan Bungin yaitu “syarat
terjadinya interaksi sosial adalah adanya kontak sosial dan adanya komunikasi”.28
1. Kontak sosial
Interaksi sosial akan diawali dengan kontak sosial. Hal ini sesuai dengan
pendapat Herimanto dan Winarno yang menyatakan: kontak sosial merupakan
awal terjadinya interaksi sosial. Pengertian yang senada dinyatakan Burhan
Bungin kontak sosial adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain dan
26
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm.55
27
Yesmir Anwar dan Adang, Sosiologi Untuk Universitas, (Bandung: Refika Aditama,
2013), hlm. 194
28
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 55
28
masing-masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain. Jadi dapat
disimpulkan kalau kontak sosial merupakan suatu hubungan antara
seorangindividu dengan individu lain atau kelompok lain yang menimbulkan
interaksi diantara mereka.
2. Komunikasi
Komunikasi sangat penting dalam hubungan antar manusia. Komunikasi
merupakan faktor penentu dalam pembentukan interaksi sosial. Tanpa
komunikasi interaksi sosial belum bisa terjadi. Dengan komunikasi yang bagus
seseorang akan dapat dengan mudah menyampaikan maksudnya dalam
berinteraksi. Komunikasi merupakan pertukaran pesan baik verbal maupun non
verbal antara si pengirim dan penerima pesan untuk mengubah tingkah laku.