0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan18 halaman

Proses Pembuatan Pupuk Kompos Organik

Diunggah oleh

rasdhy88c
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan18 halaman

Proses Pembuatan Pupuk Kompos Organik

Diunggah oleh

rasdhy88c
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari limbah peternakan dan pertanian yang
kurang dimanfaatkan dan telah mengalami proses pengomposan oleh mikroorganisme, proses
pengomposan merupakan proses dimana bahan organik mengalami proses penguraian secara
biologis oleh mikroorganisme serta memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi dalam
kondisi yang terkontrol sehingga menghasilkan kompos yang bermutu. Kompos yang berkualitas
memiliki ph 6, 80-7,49 secara fisik kompos yang telah matang memiliki warna coklat kehitaman,
tekstur remah dan tidak berbau, bahan yang bisa digunakan pembuatan kompos adalah fases sapi,
fases ayam, sekam dan jerami padi.
Kotoran sapi banyak tersedia di lingkungan sekitar karena ternak sapi merupakan salah satu
ternak ruminansia yang banyak dipelihara oleh masyarakat dan menghasilkan limbah peternakan
berupa kotoran,urine dan sisa pakan. Jika kotoran sapi dibiarkan akan menyebabkan pencemaran
lingkungan, maka potensi untuk melakukan pembuatan kompos dengan bahan kotoran sapi akan
menjadi lebih ringan, karena mudah untuk mendapatkannya. Kotoran sapi mengandung unsur
hara seperti nitrogen 0,33% fosfor 0,11% kalium 0,13% kalsium 0,26% sehingga kompos fases
sapi baik untuk pembenahan tanah dan dapat meningkatkan produksi tanaman.
Kotoran ayam merupakan salah satu bahan organik yang berpengaruh terhadap sifat fisik
kimia dan pertumbuhan tanaman. Kotoran ayam mempunyai kadar unsur hara dan bahan organik
yang tinggi serta kadar air yang rendah sehingga kotoran ayam dapat digunakan sebagai pupuk
organik untuk berbagai komoditas tanaman.
Limbah pertanian adalah sisa dari suatu kegiatan usaha pertanian seperti jerami padi dapat
dimanfaatkan sebagai pupuk organik karena mempunyai kandungan kalium dan lignin tinggi
pengomposan jerami padi bertujuan untuk meningkatkan unsur hara tanah serta dapat
mengurangi biaya produksi pertanian dalam pembelian [Link] jerami padi menjadi
kompos merupakan salah satu alternatif untuk substitusi penggunaan pupuk kimia.
Salah satu sisa panen padi sawah yang dapat dimanfaatkan kembali adalah sekam padi
mengandung silika yang tinggi sehingga dapat dijadikan sebagai sumber hara bagi tanaman
sekam padi adalah salah satu bahan campuran dalam proses pembuatan pupuk kompos sekam
memiliki manfaat yaitu;
1. Menjaga kondisi tanah tetap gembur karena memiliki porositas tinggi dan ringan.
2. Memacu pertumbuhan mikroorganisme yang berguna bagi tanaman.
3. Mengatur pH tanah pada kondisi tertentu.
4. Mempertahankan kelembaban.
5. Menyuburkan tanah dan tanaman.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana proses pembuatan kompos ?
2. Bagaimana hasil pengomposan limbah ternak menggunakan bioaktivator lokal
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui proses pembuatan kompos
2. Untuk mengetahui hasil pengomposan limbah ternak menggunakan bioaktivator lokal
D. Manfaat
Penelitian ini sangat bermanfaat bagi petani karena dapat menambah pengetahuan tentang
bagaimana cara mengelola limbah peternakan dan limbah pertanian sehingga menghasilkan pupuk
kompos, dan juga dapat menambah wawasan serta ilmu pengetahuan kepada peneliti mengenai
metode pembuatan kompos.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kompos
Kompos pada umumnya adalah bahan organik yang telah mengalami pelapukan sehingga
terjadi perubahan bentuk. Kompos juga dapat diartikan yaitu hasil penguraian persial/tidak
lengkap dari campuran bahan organik yang dapat dipercepat penguraiannya oleh populasi
berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik/anaerobik
(Suryanti, 2009). Proses pengomposan yaitu proses biologis yang memanfaatkan
mikroorganisme untuk mengubah material organik seperti kotoran ternak, sampah, daun,sayuran
menjadi kompos, selain itu pengomposan juga bisa diartikan sebagai proses penguraian senyawa
yang terkandung dalam sisa bahan organik dengan suatu perlakuan [Link] pembuatan
kompos berlangsung dengan menjaga keseimbangan kandungan nutrien, kadar air, pH, dan
temperatur yang optimal melalui penyiraman dan pembalikkan, pada tahap awal proses
pengomposan, temperatur kompos akan mencapai 65 – 70 oC sehingga organisme patogen,
seperti bakteri, virus dan parasit, bibit penyakit tanaman serta bibit gulma yang berada pada
limbah yang dikomposkan akan mati dan pada kondisi tersebut gas-gas yang berbahaya dan
baunya menyengat tidak akan muncul.
a. kelebihan Pupuk kompos
Kompos mempunyai beberapa kelebihan yaitu sebagai berikut (soeryoko 2011).
1. Dapat meningkatkan kualitas tanah karena cacing yang ada di tanah hidup dan menyerap
nutrisi dari kompos
2. Aktivitas cacing di tanah menjadikan tanah gembur.
3. Menghemat uang dari pembelian pupuk kimia.
4. Mudah dibuat sendiri.
5. Dapat meningkatkan daya ikatan tanah kepada air.
b. sifat kompos
Berikut ini sifat dari pupuk kompos (Sucipto, 2012).(12) Sebagai berikut ;
1. .Daya ikat tanah menjadi bertambah.
2. Meringankan pasir karena daya ikatnya menjadi besar.
3. Mengikat unsur hara ke tanah.
4. Mengubah unsur tanah menjadi lebih gembur.
5. Meningkatkan drainase tanah.
6. Menghilangkan hama yang mengganggu.
7. Memberikan unsur hara ke tanah.
8. Mempermudah lapuknya mineral ke tanah.
9. Menyalurkan nutrisi untuk tanaman.
B. metode pengomposan
Dalam proses pembuatan kompos ada banyak metode, antara metode satu dengan yang lain
tidak banyak berbeda, karena metode tersebut hanya merupakan modifikasi dari metode lain.
Berikut beberapa metode yang dapat digunakan (Djaja, 2008).
a. Pengomposan berdasarkan kesediaan udara
Umumnya metode ini dibagi dua cara yaitu aerobik dan anaerobik, proses pengomposan
aerobik membutuhkan udara dari luar. Karena itu proses ini perlu dilakukan aerasi dan aerasi ini
bisa dengan dua cara yaitu aktif dan pasif. Aerasi pasif adalah cara pengaliran udara tanpa
menggunakan alat bantu jadi udara masuk kedalam proses pengomposan melalui beda tekanan
antara luar dan dalam di timbunan bahan baku kompos, aerasi aktif dilakukan dengan
menggunakan tekanan yang umumnya berasal dari mesin. Sedangkan proses pengomposan
secara anaerobik merupakan modifikasi biologis pada struktur kimia dan biologi bahan organik
tanpa kehadiran oksigen (hampa udara). Proses ini merupakan proses yang dingin dan tidak
terjadi fluktuasi temperatur seperti yang terjadi pada proses pengomposan secara aerobik.
Namun, pada proses anaerobik perlu tambahan panas dari luar sebesar 300 oC.
b. Pengomposan dengan penutup
Teknik ini dilakukan dengan cara menutup permukaan timbunan, baik menggunakan plastik,
terpal ditempat pengomposan dan di sarankan untuk permukaan 2m, tinggi 1,5m,. Jadi sejak awal
semua bahan dicampur dan ditutup dengan terpal sampai selesai. Namun bisa juga bahan belum
dicampur dalam pengomposan tetapi pada saat proses pengadukan dan penambahan air
pengomposan baru di aduk.
C. faktor faktor yang mempengaruhi pengomposan
Menurut Suryanti (2009). Sebelum membuat kompos ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan, yaitu komposisi bahan, reaksi kimiawi, tempat, waktu yang menunjang untuk
proses pembuatan kompos tujuannya agar hasil kompos, didalam tumpukan bahan-bahan organik
akan terjadi berbagai perubahan yang dilakukan oleh jasadjasad renik dan perubahan tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut:
a. Susunan bahan
Jika bahan kompos merupakan campuran dari berbagai macam bahan tanaman, proses
penguraiannya relatif lebih cepat dari bahan yang berasal dari tanaman sejenis.

b. Ukuran bahan
Semakin kecil ukuran potongan bahan asalnya, semakin cepat proses penguraian bahan,
ukuran ideal potongan bahan mentah sekitar 4 cm, jika potongannya terlalu kecil, timbunan
menjadi padat sehingga tidak ada sirkulasi udara.
c. Suhu optimal
Panas pada kompos ini terjadi karena mikroba mulai aktif memanfaatkan oksigen dan mulai
mengurai bahan organik menjadi gas CO2, uap air dan [Link] semua bahan terurai maka suhu
akan berangsur mengalami penurunan,Temperatur kompos dijaga antara 55-65 derajat Celcius.
d. Derajat Keasaman atau pH pada tumpukan kompos
pH selama pengomposan menunjukkan nilai pH awal sampai hari ke 15 berkisar antara 6,5 –
6,8, setelah hari ke 15 sampai ke 21 nilai pH meningkat menjadi 7. Perubahan pH kompos
berawal dari pH agak asam karena terbentuknya asam-asam organik sederhana, kemudian pH
meningkat pada inkubasi lebih lanjut akibat terurainya protein dan terjadinya pelepasan ammonia
(Supadma, 2008).
e. Kandungan air dan oksigen (O2)
Kandungan kadar air mentah idealnya 50 – 70%. Jika tumpukan kompos kurang mengandung
air maka bahan akan bercendawan. Hal ini merugikan, karena proses penguraian bahan
berlangsung lambat dan tidak sempurna, aktifitas perombakan bahan organik secara aerob
memerlukan oksigen karena itu, untuk memaksimalkan proses pengomposan, pembuatan lubang
didasar komposter dapat membantu sirkulasi udara terjaga.
f. Kandungan nitrogen (N)
Semakin banyak kandungan senyawa nitrogen, semakin cepat bahan terurai karena jasad-
jasad renik memerlukan senyawa N untuk perkembangannya.
g. C/N ratio
Perbandingan jumlah karbon (C) dengan nitrogen (N) dalam satuan bahan. Idealnya,
perbandingan C dan N dalam proses pengomposan adalah 25 : 1 hingga 30 : 1, jika salah satu
berlebih, maka proses pengomposan akan berlangsung lebih [Link] yang dihasilkan pun
kurang baik.
D. Pengertian mikroorganisme lokal (mol) atau bioaktivator lokal
Mol bisa juga disebut degan bioaktivator lokal karena pada umumnya sama saja,bioaktivator
lokal yaitu sekumpulan mikroorganisme yang bermanfaat sebagai starter dalam penguraian,
fermentasi bahan organik menjadi pupuk organik padat maupun [Link] memiliki kepanjangan
mikroorganisme lokal. Mall dapat berbentuk pupuk cair. Di dalam kandungan MOL terdapat
unsur hara dan mikroorganisme yang bermanfaat untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, MOL
juga berfungsi untuk mengendalikan organisme yang merugikan, seperti hama dan penyakit.
Bakteri-bakteri yang ada pada kandungan MOL bermanfaat untuk proses pembusukan atau
pembuatan pupuk kompos. Struktur bahan pembusukan juga mempengaruhi proses pembuatan
mol. Bahan yang berukuran halus dan busuk membuat proses itu menjadi sangat cepat
dibandingkan bahan yang kasar dan segar (Nisa, khalimatu, 2016).(25)MOL dihasilkan dari
proses fermentasi berbagai jenis bahan utama yang mudah didapat di lingkungan sekitar. MOL
berbentuk larutan yang mengandung unsur hara mikro dan makro untuk mengubah bahan
organik, pengendali penyakit dan hama, perangsang pertumbuhan tanaman dan sebagainya
menjadi pupuk. Larutan MOL dapat digunakan untuk dekomposer, pestisida dan pupuk
[Link] yang dapat digunakan dalam pembuatan mol antara lain nasi basi,lumpur,daun
bambu dan molases.
a. Nasi basi
Nasi basi digunakan sebagai media tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme. Jenis mikroba
yang yang terkandung dalam nasi basi adalah Sachharomyces cerevicia dan Aspergillus sp yang
berperan dalam proses pengomposan.
b. Lumpur
Mikroorganisme yang terdapat dalam sistem biologi lumpur aktif meliputi protozoa, fungi dan
bakteri,Tujuan dari lumpur aktif adalah untuk menghilangkan bahan organik terlarut setelah
pengolahan primer terjadi.
c. Daun bambu yang sudah lapuk
Daun bambu memiliki jenis mikroba,Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR)
merupakan kelompok bakteri menguntungkan yang secara aktif mengkolonisasi rhizosfer. PGPR
berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil panen dan kesuburan lahan
(Rahni, 2012).
d. Molases
Molases adalah produk sampingan berwarna gelap, manis, seperti sirup yang dibuat selama
ekstraksi gula dari tebu dan bit [Link] molases berfungsi sebagai sumber energi dan penyubur
bagi bakteri dalam proses pembuatan mikroorganisme lokal (mol) untuk menghasilkan pupuk
organik cair (Lepongbulan et al., 2017).

E. Peran mikroorganisme bekerja dalam proses pengomposan


Mikroorganisme ini bertugas sebagai dekomposer, apabila mereka hidup dalam lingkungan
yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan berkembang dengan baik pula. Faktor-faktor yang
Mempengaruhi kondisi lingkungan yang ideal antara lain; kelembaban, suhu, derajat keasaman
(pH).Dalam pengomposan terdapat kelompok utama yang berperan pada proses pengomposan
adalah :
a. Bakteri
Bakteri adalah organisme sederhana dan kecil yang sering juga dengan tumbuhan berklorofil.
Karena ukurannya kecil bakteri ini hanya bisa dilihat dengan melalui mikroskop. Besar kecilnya
bakteri ini tergantung pada keadaan medium dan umur bakteri. Dalam pengomposan, jumlah
bakteri paling banyak dibandingkan dengan kelompok mikroba lainnya. Pasalnya bakteri bisa
lebih cepat mengubah bahan organik menjadi kompos dibandingan dengan mikroba lainnya.
Bakteri yang dominan berperan pada proses pengomposan yang berhasil diidentifikasi adalah
Enterobacter sp, dan Bacillus sp.
Bakteri Enterobacter sp. Merupakan strain fermentasi optimal untuk pengomposan yang dapat
memperpanjang tahap termofilik pengomposan, mempercepat laju dekomposisi bahan organik
dan mempercepat laju penurunan rasio C/N. Bakteri Bacillus sp, juga memilik peran penting
karena mampu menghambat pertumbuhan patogen dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
b. Aktinomisetes
Aktinomisetes sering juga disebut aktinomisit. Aktinomisetes akan berkembang membentuk
filament seperti jamur. Ukurannya kecil dan struktur selnya rumit menyebabkan dikelompokkan
menjadi bakteri. Bersifat aerob, cenderung terlihat tumbuh lebih jelas setelah senyawa kimia
dipecah menjadi rendah dan tahan terhadap asam, berbentuk memanjang, berkembang biak
membelah diri, tubuh mempunyai pigmen serta membutuhkan angin, hujan, dan air seperti hal
nya bakteri.
c. Jamur
Jamur merupakan organisme yang lebih besar dan ukurannya bervariasi. Jamur tidak
mempunyai klorofil tapi mempunyai miselum, selain itu jamur bisa hidup dalam keadaan asam
atau pH rendah tetapi kurang tahan pada tempat yang punya oksigen rendah. Jamur ini biasanya
dalam penyebaran bisa lewat angin, namun spesies jamur yang berkaitan dengan pengomposan
dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu bahkan bisa sampai [Link]
jamur yang teridentifikasi pada proses pengomposan adalah Aspergillus spp dan Sachharomyces
cerevicia.

Berdasarkan penelitian Hamdani (2015), Aspergillus sp, Termasuk genus fungi yang memiliki
kemampuan selulolitik dalam mempercepat proses pengomposan sehingga menghasilkan kompos
dengan kualitas [Link] Saccharomyces cerivicia, merupakan jenis khamir atau ragi atau
yeast yang Memiliki kemampuan mengubah glukosa menjadi etanol dan CO2. Sacharomyces
cerivicia, merupakan mikroorganisme bersel satu, tidak berklorofil, dan termasuk golongan
Eumycetes, tumbuh baik pada suhu 30ºC dan pH 4,5-5. Pertumbuhan Saccharomyces dipengaruhi
oleh adanya penambahan nutrisi yaitu unsur C Sebagai sumber karbon, unsur N, unsur ammonium
dan pepton, unsur mineral dan Vitamin (Ahmad, 2005)
F. proses pembuatan mikroorganisme atau bioaktivator lokal
a. Alat dan bahan
1. dapun alat yang digunakan yaitu;
a. Skop f. panci
b. Cangkul g. Skop
c. ember h. baskom
d. drum i. blender
e. baskom
2. sedangkan bahan yang di gunakan
a. daun bambu yang sudah lapuk
b. Nasi
c. Molases
d. Lumpur
e. Air
b. Persiapan bahan baku
1. Daun Bambu
a. mengambil daun bambu yang sudah lapuk degan cara menyapu permukaan di bawah pohon
bambu Supaya daun yang baru jatuh tidak ikut terambil.
b. kumpulkan daun bambu yang sudah lapuk degan menggunakan cangkul.
c. kemudian masukkan di dalam karung menggunakan skop.
2. Lumpur
a. mengambil lumpur seperti di irigasi sawah atau di mana saja yang terdapat lumpur.
b. mengambil lumpur yang memiliki bau tidak sedap atau menyengat.
c. kemudian di masukkan di dalam ember.

3. Nasi
a. Memasak nasi sebanyak 10 liter.
b. Kemudian semua nasi dihaluskan menggunakan blender dengan mecampurkannya sedikit air.
c. kemudian di simpan di baskom.
d. Menyiapkan molases.
e. Setelah smua bahan" siap kemudian di timbang sesuai takaran yang akan di gunakan untuk
membuat Bioktifator lokal.
c. Penimbangan bahan baku
a. nasi yang sudah di haluskan degan campuran air 20kg
b. molases 10kg
c. lumpur 20kg
d. Daun bambu yang sudah lapuk 20kg
d. Proses pembuatan bioaktivator lokal
1. Masukkan smua bahan" yang sudah di timbang ke dalam drum.
2. Kemudian masukkan air sebanyak 160 liter.
3. Setelah itu di aduk hingga semua bahan" tercampur merata.
4. Setelah tercampur merata drum di tutup degan rapat untuk prosesfermentasi.
5. Bioktifator lokal membutuhkan waktu satu bulan untuk proses fermentasi.
BAB III
METODOLOGI

A. Tempat dan waktu


Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 15 Januari 2024 s.d sampai dengan tanggal 07 maret
2024 di PT Sitinrola Organik,dusun Bakke desa Kajaolaliddong,[Link],[Link]
B. Alat dan bahan
1. adapun alat yang di gunakan pada penelitian ini adalah;
a. cangkul. e. gembor
b. Skop f. timbah
c. Sprayer g. ember
d. terpal plastik
2. Sedangkan bahan yang di gunakan yaitu;
a. Kotoran ayam e. Sekam padi
b. Kotoran sapi f. Mol
c. Air g. Dedak
d. Molases/gula
C. Prosedur pengomposan
Adapun prosedur dari penelitian ini adalah sebagai berikut;
1. Persiapan bahan baku yang akan digunakan
a. Kotoran sapi sebanyak 25 karung
b. Menyiapkan kotoran ayam yang sudah kering dan sudah tercampur dengan sekam padi
sebanyak
25 karung.
c. Menyiapkan dedak 5 timbah
d. Membuat larutan pengurai
2. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan larutan pengurai sebagai berikut;
a. molases 200ml
b. bioaktivator 1 timbah
3. Adapun alat yang digunakan
a. sprayer
b. ember
c. timbah
4. Proses pembuatan larutan pengurai
a. molases 200 ml dilarutkan di dalam ember, diaduk dengan menggunakan tangan.
b. larutan molases tersebut dimasukkan ke dalam sprayer.
c. mencampurkan satu timbah bioaktivator lokal ke dalam sprayer.
d. kemudian tambahkan air hingga sprayer terisi penuh.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. proses pembuatan pupuk kompos


Adapun proses pembuatan pupuk kompos adalah sebagai berikut;
1. Bersihkan area permukaan tanah yang akan dipakai untuk membuat kompos.
2. Tumpahkan kotoran ayam yang sudah tercampur dengan sekam padi sebanyak 5 karung.
3. Kemudian ratakan berbentuk persegi panjang.
4. Selanjutnya siram dengan air menggunakan gembor secara merata.
5. Tahapan berikutnya semprotkan larutan pengurai.
6. Setelah disemprot dengan larutan pengurai tahapan berikutnya tumpahkan kotoran sapi
sebanyak 5. karung di atas kotoran ayam yang sudah tercampur dengan sekam.
7. Kemudian ratakan juga kotoran sapi seperti kotoran ayam yang telah tercampur dengan sekam
yang sudah di ratakan.
8. Setelah kotoran sapi rata kemudian disemprotkan juga larutan pengurai secara merata.
9. Setelah disemprot larutan pengurai, taburkan satu timbah dedak secara tipis-tipis di atas kotoran
sapi secara merata.
10. Setelah ditaburkan dedak diatas permukaan kotoran sapi tumpahkan lagi kotoran ayam yang
sudah tercampur dengan sekam sebanyak 5 karung di atasnya.
11. Lakukan hal yang sama pada tahapan awal apabilan kotoran ayam yang telah tercampur degan
sekam telah di tumpahkan,setelah smua itu dilakukan tumpahkan lagi diatasnya degan kotoran
sapi sebanyak 5 Karung.
12. Lakukan hal yang sma juga pada tahapan awal setelah kotoran sapi di tumpahkan.
13. Lakukan tahapan tersebut dengan berselang seling sampai kotoran ayam yang telah tercampur
dengan sekam degan kotoran sapi masing-masing memiliki 5 lapisan karena jumlah
keseluruhan 50 karung sedangkan setiap lapisannya digunakan 5 karung.
14. Setelah semua itu di lakukan tumpukan nya pasti menjadi tinggi,kemudian tutup dengan terpal
untuk fermentasi selama satu bulan.
15. Kompos di lakukan pembalikan pada minggu 1,2 dan minggu ke 3.
16. Pada minggu ke 4 kompos tidak lagi di tumpuk dan di tutup terpal plastik karena kompos sudah
jadi, Tetapi kompos di ratakan untuk menurunkan suhunya.
B. Hasil pengomposan limbah ternak dengan menggunakan bioaktivator lokal

Lama waktu pengomposan dengan menggunakan bioaktivator lokal ini adalah satu
bulan ,kondisi kompos setelah satu bulan di sajikan pada tabel 4.1

Tabel 4.1 Hasil pengomposan

Pengamatan Perlakuan

Minggu 0 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4

Warna Coklat Coklat gelap Coklat Hitam Hitam


kehitaman menyerupai menyerupai
tanah tanah
Bau Bau Bau gas,busuk Bau gas,busuk Bau gas Bau tanah
kotoran
Hewan

Suhu 31,4 53,8 53,7 61,7 36,2

Kelembapan 78 91 99 99 88

Tekstur Kasar Kasar Sedikit kasar Remah Remah

Tabel [Link] pengomposan


Tabel diatas menunjukkan perbedaan yang signifikan pada warna, bau, suhu, kelembapan, dan
tekstur kompos sebagai berikut;
[Link]
Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa kompos mengalami perubahan warna dari coklat, coklat
gelap, coklat kehitaman, menjadi hitam menyerupai warna tanah setelah mengalami dekomposer
selama 1 bulan, setelah proses pengomposan selesai, bahan baku berubah warna menjadi hitam
selayaknya tanah, perubahan warna terjadi dapat disebabkan oleh aktivitas bakteri
Flavobaacterium yang bekerja selama proses penguraian. Warna yang dihasilkan pada penelitian
ini sudah memenuhi standar (SNI 19-7030-2004) yaitu kompos berwarna kehitaman menyerupai
tanah.
[Link]
Dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa perlakuan Minggu 0, berbau kohe hal ini disebabkan
karena belum mengalami proses fermentasi,pada perlakuan Minggu 1,2, dan 3 berbau gas dan
bau busuk, komposisi berbau busuk menandakan bahwa proses dekomposisi belum selesai dan
proses penguraian masih berlangsung. Pada saat Minggu ke 4 kompos berbau seperti tanah.
Kondisi tersebut diduga karena proses dekomposisi dan aktivitas mikroorganisme berjalan
dengan baik dan menunjukkan bahwa kompos telahmatang Kompas yang sudah matang akan
berbau seperti humus atau [Link] ini sudah sesuai dengan standar (SNI 19-7030-2004) bahwa
kompos matang berbau tanah.
[Link]
Dari tabel 4.1 dapat diketahui bahwa suhu sangat rendah pada Minggu 0(31,4), kemudian
mengalami kenaikan setelah Minggu 1(53,8), pada saat Minggu 2(53,7) mengalami penurunan,
kemudian Minggu 3(61,7) mengalami kenaikan suhu sangat tinggi. Hal ini diduga terjadi karena
proses dekomposisi masi berlangsung sehingga suhu masi tinggi , kemudian pada Minggu 4(36,2)
suhu mengalami penurunan hal itu terjadi karena adaanya proses dekomposisi oleh bakteri Bacillus
sp, pengurai yang mampu menekan pertumbuhan patogen sesuai dengan pendapat Sutedjo et al.,
(1991), yang menyatakan bahwa suhu pengomposan mempunyai pengaruh baik karena mampu
menurunkan bakteri patogen (mikroba/gulma), jika suhu dalam proses pengomposan hanya
berkisar kurang dari 20˚C, maka kompos dinyatakan gagal sehingga harus diulang kembali.
[Link]
Perubahan kelembapan pada setiap perlakuan pembuatan pupuk kompos organik ini terjadi
disebabkan oleh kadar air pada yang terkandung pada pupuk kompos , dapat kita lihat pada
Minggu 0 Tingkat kelembapannya hanya mencapai angka 78, sebelum dilakukan proses
[Link] pada Minggu 1 tingkat kelembapan naik menjadi 91 hal ini terjadi karena
telah di lakukan proses penyiraman pada kompos sehingga kadar airnya naik. Dapat kita lihat pada
Minggu ke 2 dan 3 tingkat kelembapannya mencapai angka 99, hal ini disebabkan oleh bahan baku
kompos yang sudah mulai lapuk terurai oleh bakteri dan jamur pengurai, sehingga kadar air nya
meningkat. Dan pada saat Minggu 4 tingat kelembapannya terjadi penurunan menjadi 88 ini terjadi
disebabkan karena kompos sudah matang membentuk tanah humus, sehingga tingkat
kelembapannya menurun.
[Link]
Sifat fisik proses pengomposan bahan organik ditandai dengan adanya perubahan yang terjadi
pada tekstur bahan dasar kompos selama proses dekomposisi berlangsung. Hasil yang diperoleh
setelah dilakukan pengamatan pada tabel 4.1 tekstur pada saat Minggu 0 dan Minggu 1 kompos
terasa kasar, hal ini disebabkan karna bakteri dan jamur pengurai belum mengurai keseluruhan
bahan” organik,pada saat Minggu 3 sedikit kasar karna hampir keseluruhan bahan” organik sudah
terurai, sedangkan pada minggu 4 menghasilkan tekstur 100% [Link] ini terjadi karena proses
penguraian bekerja degan baik sehingga terjadi perubahan pada bahan dasar dan tidak lagi
menyerupai komposisi awal lagi.

C. Faktor yamg menyebabkan perubahan fisik kompos pada proses pengomposan


Pengomposan ini dilakukan dengan metode penutup,Teknik ini dilakukan dengan cara menutup
permukaan timbunan, baik menggunakan plastik, terpal ditempat pengomposan dan di sarankan
untuk permukaan 2m, tinggi 1,5m,. Jadi sejak awal semua bahan dicampur dan ditutup dengan
terpal sampai selesai. Namun bisa juga bahan belum dicampur dalam pengomposan tetapi pada saat
proses pengadukan dan penambahan air pengomposan baru di [Link] penutupan pada proses
pembuatan kompos adalah karena udara bisa membuat proses pembusukan tidak berjalan dengan
sempurna.
Proses pengomposan ini dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengubah
material organik yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos seperti kotoran hewan dan
sekam padi. Untuk mengetahui bahwa proses pengomposan oleh mikroorganisme sedang bekerja
adalah dengan bau atau aroma yang dihasilkan pada proses pengomposan merupakan suatu tanda
bahwa terjadi aktivitas dekomposisi bahan oleh [Link] setiap minggunya kompos dibalik
agar proses dekomposisi merata keseluruh bahan-bahan baku yang digunakan dalam pembuatan
pupuk kompos, dan untuk memberikan sirkulasi udara dan mempercepat proses [Link]
pada saat proses fermentasi kompos menghasilkan biogas yang di hasilkan oleh kotoran hewan.
a. Faktor yang menyebabkan perubahan warna pada proses pengomposan
Perubahan sifat fisik kompos yaitu warna kompos dari kuning kecoklatan menjadi coklat
kehitaman terjadi akibat adanya proses penguraian yang dilakukan oleh bakeri Flavobaacterium
apabila kompos sudah berwarna hitam menandakan bahwa kompos sudah matang dan sudah bisa
untuk kita gunakan.
b. Faktor yang menyebabkan perubahan bau pada proses pengomposan
Bau atau aroma yang dihasilkan pada proses pengomposan merupakan suatu tanda bahwa terjadi
aktivitas dekomposisi bahan oleh mikroba. Mikroba merombak bahan organik tersebut salah
satunya menjadi amonia, hingga gas yang dihasilkan dapat mempengaruhi bau yang ada pada
[Link] pada kompos juga merupkan salah satu tanda apabila kompos sudah matang.
c. Faktor yang menyebabkan perubahan suhu pada proses pengomposan
Kadar air mempengaruhi perubahan suhu dalam kompos karena air memiliki panas jenis yang
lebih tinggi dibandingkan bahan lainnya, campuran kompos yang lebih kering cenderung memanas
dan mendingin lebih cepat dibandingkan campuran yang lebih basah, sehingga menjaga tingkat
kelembapan yang cukup untuk pertumbuhan mikroba.

d. Faktor yang menyebabkan perubahan kelembapan pada proses pengomposan


Kelembaban berperan penting dalam proses dekomposisi bahan baku kompos karena
berhubungan dengan aktivitas mikroba. Jika kelembaban kurang dari 50 % maka aktivitas mikroba
akan turun atau malah terhenti sama [Link] kelembapan pada proses pengomposan
disebabkan oleh tingkat kebasahan pada kompos.
e. Faktor yang mempengaruhi perubahan tekstur pada proses pengomposan
Tekstur kompos akan mengalami perubahan dari tekstur kasar menjadi remah,hal ini
disebabkan karena terjadi pelapukan bahan-bahan organik yang di lakukan oleh Enterobacter sp,
Bacillus sp, dan Escherichia coli sehingga terjadi perubahan tekstur pada kompos,perubahan tekstur
juga mejadi salasatu ciri-cri kompos yang sudah matang apa bila kompos sudah bertekstur remah.
BAB V
PENUTUP

A. kesimpulan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik
yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi
lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik.
Pembuatan pupuk kompos organik adalah proses menguraikan bahan organik menjadi pupuk
yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk kompos organik terbuat dari
sisa-sisa organik seperti limbah pertanian dan limbah peternakan , yang kemudian diuraikan oleh
mikroorganisme menjadi bahan yang lebih sederhana. Proses ini disebut dekomposisi.
Secara keseluruhan, pembuatan pupuk kompos organik adalah langkah penting dalam upaya
menjaga keberlanjutan lingkungan dan pengembangan pertanian yang ramah lingkungan. Pupuk
kompos organik memiliki banyak manfaat bagi tanah, tanaman, dan kesehatan manusia, sehingga
lebih disukai daripada pupuk kimia.
A. Saran
Kompos juga dapat dijadikan sebagai mata pencaharian yang menjanjikan dengan jalan
dikemas sebelum dipasarkan. Apabila kompos akan dijual, ukuran kemasan disesuaikan dengan
target pasar penjualan. Ukuran kemasan dapat bervariasi mulai dari 1 kg hingga 25 kg. pada
plastic/kantong kemasan perlu dicantumkan nama, produk, kandungan hara, dan spesifikasi
lainnya.

Anda mungkin juga menyukai