Efektivitas Pembelajaran dan PBL
Efektivitas Pembelajaran dan PBL
LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori
1. Efektivitas Pembelajaran.
organisasi. Padahal suatu tujuan atau saran yang telah tercapai sesuai dengan rencana
dapat dikatakan efektif, tetapi belum tentu efisien. Meskipun terjadi peningkatan
efektivitas dalam suatu organisasi maka belum tentu itu efisien. Jelasnya, jika tujuan
telah tercapai sesuai dengan yang direncanakan maka dapat dikatakan efektif. Jadi bila
suatu pekerjaan itu tidak selesai sesuai waktu yang telah ditentukan, maka dapat
keunggulan dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan dan adanya keterkaitan antara
tujuan tertentu yang dapat membawa hasil belajar secara maksimal. Keefektivan proses
pembelajaran berkenaan dengan jalan, upaya teknik dan strategi yang digunakan dalam
mencapai tujuan secara optimal, tepat dan cepat (Nana Sudjana, 1990:50).
12
13
Pengukuran pencapaian secara akurat itu sangat penting, karena guru tidak dapat
membantu siswanya secara efektif jika tidak mengetahui ketrampilan dan pengetahuan
yang dikuasai siswanya dan pelajaran apa yang menjadi masalah bagi siswanya.
Pencapaian siswa itu dimaksudkan agar pengetahuan dan ketrampilan dapat dikuasai
learning centered dan yang memberdayakan pemelajar adalah metode Problem Based
Learning (PBL). PBL memiliki ciri-ciri seperti dijelaskan Tan dan Wee (dalam Taufik
Amir 2009:12), pembelajaran dimulai dengan dunia nyata, pemelajar secara berkelompok
mempelajari dan mencari sendiri materi yang terkait dengan masalah, dan melaporkan
Prof. Howard Barrows dan Kelson (dalam Taufik Amir 2009:21) mengungkapkan
PBL dalam kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam kurikulum, pentingnya masalah-
mahir dalam memecahkan masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki
kemudian peserta didik diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang sedang dibahas
pembelajaran ini meminta peserta didik untuk berpikir, berkomunikasi, mencari dan
mengolah data sehingga pada akhirnya dapat menyimpulkan apa yang telah dipelajari
dijelaskan Ali Muchson (2008:13) sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
pembelajaran berbasis masalah adalah proses belajar dimana siswa harus aktif dalam
menemukan dan mencari pengetahuan atau pengalaman baru melalui pengumpulan dan
individu.
PBL adalah suatu pergeseran fokus kelas dari pengajaran menuju pembelajaran.
Landasan pemikiran model PBL adalah bahwa kebanyakan siswa akan lebih baik belajar
para siswa mencoba untuk memecahkan permasalahan spesifik dan terbuka. Di luar satu
melakukan aktivitas dan penemuan. Para siswa saling berhubungan dengan satu sama
lain. Usaha yang dibagi bersama dari pembelajaran berdasarkan penemuan. Ketika para
konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih
sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah
16
tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa
tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat
pola berpikir kritis. Jika pembelajaran dimulai dengan suatu masalah dan masalah
tersebut bersifat kontekstual, maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri
siswa. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacam-
macam pertanyaan. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri siswa
maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Pada kondisi tersebut
diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang konsep apa
yang diperlukan untuk memecahkan masalah dan apa yang harus dilakukan. Dari paparan
tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong
siswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Pengalaman ini sangat
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
PBL (Problem Based Learning) merupakan salah satu dari sekian banyak model
pembelajaran di mana ciri khas dari model ini adalah masalah yang menjadi stimulus
berpikir secara kritis, analitis, sistematis dan logis dalam menemukan alternatif
pemecahan suatu masalah. Siswa dituntut untuk belajar mandiri secara individu maupun
17
kelompok dalam memecahkan masalah yang disajikan oleh guru. Guru berperan
Secara garis besar PBL dapat menumbuhkan keaktifan dan kemandirian siswa
dalam proses pembelajaran terutama dalam pemecahan suatu masalah yang terkait
dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Karena dalam PBL, siswa
dihadapkan pada masalah dunia nyata dan dituntut untuk dapat mencari pemecahan
masalah tersebut. Hal ini akan menimbulkan rasa penasaran siswa terhadap masalah yang
pemecahannya. Penerapan model PBL dilakukan di dalam kelas. Penerapan model PBL
akan menimbulkan kesinambungan yang melibatkan langsung antara siswa dengan guru
keterampilan siswa yang diharapkan setelah model ini diterapkan seperti bagaimana
siswa itu bisa bekerjasama, mengeluarkan pendapat, menjadi pendengar yang baik, serta
mampu bertanya tentang apa yang belum dipahami dalam proses kegiatan belajar
mengajar atau ini bisa dikatakan keterampilan sosial yang harus bisa tercapai. Selain itu
juga seorang guru bisa menilai bagaimana siswa mampu mengidentifikasi masalah dan
Dengan demikian sebuah masalah utama tersebut dapat menggali segenap potensi
belajar yang ada guna menyelesaikan masalah. Rancangan masalah harus berasas
permasalahan dilematis dan kompleks yang lazim dialami mereka di dunia nyata.
Sehingga akan memotivasi para siswa untuk meneliti dan menemukan solusi terbaik.
diberikan harus dapat merangsang dan memicu anak didik untuk menjalankan
pembelajaran dengan baik. Poin-poin penting yang disajikan pendidik dalam sebuah
masalah dengan menggunakan proses PBL merujuk pada Taufiq Amir (2009 :32),
pembelajaran.
Selain keunggulan PBL yang terletak pada perancang masalah juga dapat dilihat
dari pemecahan suatu masalah. Mengikuti Wina Sanjaya (2009 : 218-219) bahwa
kehidupan nyata,
6) Pada dasarnya setiap mata pelajaran merupakan media berpikir dan sesuatu
Hakikat masalah dalam PBL adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan
kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.
Kesenjangan tersebut bisa dirasakan dari adanya keresahan, keluhan, kerisauan, atau
20
kecemasan. Oleh karena itu, maka materi pelajaran atau topik tidak terbatas pada materi
pelajaran yang bersumber pada buku saja, akan tetapi juga dapat bersumber dari
Kriteria pemilihan bahan pembelajaran dalam PBL yang merujuk pada Wina
Sanjaya (2009 : 214 – 215), selain mengandung isu–isu konflik (conflik issue) yang bisa
bersumber dari berita, rekaman video, dan yang lainnya, bahan pembelajaran PBL juga
dengan baik.
manfaatnya.
3) Mendukung atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan
mempelajarinya.
Keunggulan PBL terletak pada suatu masalah yang berguna untuk merangsang
dan memicu anak didik. Selain menjelaskan tentang keunggulannya, PBL juga memiliki
yang dipelajari akan terasa sulit untuk dipecahkan dalam sekali pertemuan,
Memahami proses PBL merupakan hal utama, tetapi selain itu guru juga
harus siap dengan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Setiap
penjelasan Taufiq Amir (2009:24 – 25), dikenal dengan tujuh (7) proses langkah
3) Menganalisis masalah;
kelompok);
22
kelas.
Selain tujuh (7) proses langkah PBL, merujuk pada John Dewey (dalam Wina
Sanjaya 2009 : 215) ada enam prosedur PBL yang sering disebut dengan metode
sudut pandang.
pemecahan masalah.
Tahap-tahap PBL ini mengarahkan siswa untuk melakukan penelitian, siswa aktif
mencari informasi dari berbagai sumber sehingga mampu menjawab hipotesis dan pada
23
akhirnya siswa dapat menyelesaikan masalah. Setiap siswa dituntut untuk memberikan
tercurahkan.
d. Skenario Pembelajaran
Menurut Ibrahim dan Nur (dalam Trianto 2010: 97) di dalam kelas PBL, peran
guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBL antara lain :
2) Merumuskan masalah,
Dalam tahap ini siswa melakukan analisis terhadap fakta yang disampaikan
3) Menganalisis masalah,
kemampuan dan kecerdasan yang dimilki dan mencatat hal-hal yang sudah
diketahui dan yang belum diketahui sebagai pedoman dalam mencari data
4) Menyusun hipotesis,
kelompok masing-masing.
25
berbagai media seperti buku, internet maupun informasi dari luar. Tutor
membimbing siswa.
8) Pengujian hipotesis,
diajukan.
Menurut berbagai pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa model PBL
tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna
konsep diterapkan.
Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi
umum yang terjadi pada siswa pada saat ini adalah “malas berpikir” mereka
cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau
pendapat tersebut.
27
Oleh sebab itu, sangat penting adanya pendampingan oleh guru. Walaupun guru
tidak melakukan intervensi terhadap masalah tetapi dapat memfokuskan masalah melalui
pertanyaan-pertanyaan agar siswa melakukan refleksi lebih dalam terhadap masalah yang
dipilih. Dalam hal ini guru harus berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran tetap
pada bingkai yang direncanakan. Suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam
PBL adalah pertanyaan berbasis why bukan sekedar how. Setiap tahap dalam pemecahan
permasalahan dapat terjadi. Namun yang harus dicapai pada akhir pembelajaran adalah
tersebut serta kedudukan permasalahan tersebut dalam tatanan sistem yang sangat luas.
dengan pendekatan teacher centered sudah dianggap tradisinal dan perlu diubah. Dimana
pembelajaran berpusat pada pendidik dengan penekanan pada peliputan dan penyebaran
materi, sementara pembelajaran kurang aktif, sudah tidak memadai untuk tuntutan era
pengetahuan saat ini. Era pengetahuan yang sedang kita alami memiliki terobosan-
terobosan baru dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Dengan pendekatan pembelajar
baik. Tidak banyak yang mereka dapatkan. Bagaimana perbedaan model pembelajaran
28
konvensional dengan model pembelajaran PBL dijelaskan dalam tabel berikut dengan
ringkas.
punya banyak kelemahan. Meskipun pada dasarnya pendidik dan pembelajar sangat
familier dengan paradigma tradisional dimana konten yang akan dipelajari dapat
Metode ceramah boleh dikatakan sebagai model konvensional yang sejak dulu
masih digunakan guru sebagai metode dalam proses belajar-mengajar. Pada dasarnya
ceramah murni cenderung pada bentuk komunikasi satu arah. Meskipun metode ceramah
29
lebih banyak menuntut keaktifan guru daripada siswa tetapi metode ini tidak bisa
Menurut Wina Sanjaya (2009:177) yang dimaksud metode ceramah adalah metode
pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari
seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai
Kegiatan guru yang utama adalah menerangkan dan siswa mendengarkan atau
mencatat apa yang akan disampaikan. Guru biasanya mengajar dengan berpedoman pada
buku test atau LKS, dengan mengutamakan metode ceramah dan kadang-kadang tanya
jawab. Tes atau evaluasi yang bersifat sumatif dengan maksud untuk mengetahui
perkembangan jarang dilakukan. Selain harus mengikuti cara belajar yang dipilih oleh
guru, dengan patuh mempelajari urutan yang ditetapkan guru, dan kurang sekali
mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapat. Disamping itu, guru jarang mengajar
siswa untuk menganalisa secara mendalam tentang suatu konsep dan jarang mendorong
siswa untuk menggunkan penalaran logis yang lebih tinggi seperti kemampuan
verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan metode ini.
Kedua, materi yang disampaikan adalah materi yang sudah jadi, seperti data dan fakta,
30
konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir
ulang. Ketiga, tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri.
dengan benar.
kelas, metode yang digunakan tidak lepas dari bentuk metode ceramah. Hasibuan dan
Moedjiono (2000:13) mengemukakan bahwa agar metode ceramah yang efektif perlu
Ceramah merupakan metode yang konvensional dan masih tetap eksis digunakan
dalam pembelajaran meskipun perkembangan IPTEK sekarang ini semakin pesat. Oleh
karena itu, untuk mengoptimalkan penggunaan metode ini perlu dipelajari karakteristik,
didik.
cenderung pada komunikasi satu arah, sehingga sukar bagi pendidik untuk
Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila tidak menguasai
suatu model atau strategi pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar menjadi menarik dan
yang bervariasi. Problem Based Learning adalah salah satu strategi pembelajaran yang
dapat digunakan untuk menghindari proses pembelajaran yang tampak kaku, siswa-siswa
berkesinambungan.
33
4. Metode Diskusi
diskusi diartikan sebagai metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu
keputusan.
Secara umum ada dua jenis metode diskusi yang sering digunakan. Pertama
adalah diskusi kelompok atau sering disebut diskusi kelas. Kedua diskusi kecil yang
terdiri dari 3-5 orang. Tetapi dijelaskan juga diskusi lain seperti simposium dan diskusi
panel.
1. Diskusi kelompok
Diskusi ini dilakukan oleh seluruh anggota kelas sebagai peserta diskusi.
Sumber masalah bisa guru itu sendiri, siswa maupun ahli tertentu dari luar.
2. Diskusi kelas.
3. Simposium.
4. Diskusi panel.
Dilakukan oleh beberapa panelis yang biasanya terdiri dari 4-5 orang di
hadapan peserta. Berbeda dengan diskusi lain, peserta dalam diskusi ini
tidak terlibat langsung tetapi hanya berperan sebagai peninjau para panelis
yang sedang melaksanakan diskusi. Oleh karena itu diskusi ini perlu
5. Aktivitas Belajar.
a. Aktivitas.
Aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat penting dalam interaksi
pembelajaran sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah
laku. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Dalam kegiatan belajar, subyek didik/
35
siswa aktif berbuat. Dengan kata lain, bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya
macam, meliputi Visual activities, oral activities, listening activities, writing activities,
Interaksi sesama guru dan siswa sangat beragam dalam pembelajaran, penjelasan
dari teman biasanya juga lebih bisa diterima siswa. Belajar berkelompok juga akan
menimbulkan rasa malu jika tidak bisa menjawab pertanyaan sehingga akan memperkuat
motivasi dan keinginan kuat mempelajari materi itu. Belajar bersama-sama juga akan
terasa menyenangkan, suasana ini diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keaktifan siswa adalah aktifitas
fisik dan mental siswa dalam proses pembelajaran yang dapat dilihat dari berbagai aspek.
Aspek-aspek dalam keaktifan siswa dapat dilihat dengan melihat aktifitas siswa yang
diklasifikasikan menjadi aktifitas mata, telinga, mulut, tangan, gerak, mental dan emosi.
Keaktifan siswa tidak bisa lepas dari interaksi dengan guru maupun siswa yang lain
b. Belajar.
Belajar adalah suatu kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat
Syah 2007 : 89). Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh setiap individu
melalui kegiatan pendidikan baik formal maupun non formal. Belajar tidak hanya
dilakukan oleh pelajar saja namun tiap individu yang sedang mengikuti kursus, pelatihan,
seminar, dan lain-lain juga termasuk dalam kegiatan belajar. Belajar bertujuan untuk
dapat membawa perubahan kearah yang lebih baik. Perubahan ini dapat berupa
pengetahuan sikap, maupun ketrampilan bagi tiap individu (Baharuddin , 2008 : 12).
Belajar pada dasarnya tidak hanya sebagai suatu kegiatan atau aktivitas yang bisa
dilakukan siapa saja. Dalam belajar ada beberapa prinsip-prinsip yang perlu diketahui
3) Belajar akan lebih mantap dan efektif apabila didorong oleh motivasi,
terutama dari dalam,
4) Dalam banyak hal, belajar merupakan proses pembiasaan dan
percobaan,
5) Kemampuan belajar seorang siswa darus diperhitungkan dalam
menentukan isi pelajaran.
6) Belajar dapat dilakukan dengan cara : diajar secara langsung; kontrol;
kontak; pengalaman langsung; dan pengenalan atau peniruan.
7) Adanya praktek, belajar akan lebih efektif dibandingkan dengan hafalan
saja.
8) Bahan pelajaran yang bermakna lebih menarik untuk dipelajari
dibandingkan bahan yang kurang bermakna.
9) Informasi tentang perilaku, pengetahuan, kesalahan, serta keberhasilan
siswa akan membantu kelancaran belajar.
10) Belajar sedapat mungkin diubah ke dalam bentuk tugas sehingga anak
mengalaminya sendiri.
Merujuk pada teori yang dikemukakan Muhibbin Syah (2007 : 116), terdapat ciri-
ciri perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku. Meliputi perubahan intensional,
1. Perubahan Intensional,
Terjadi pada setiap individu disebabkan adanya pengalaman atau praktek yang
diinginkan.
adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan
sumber-sumber belajar yang ada. Belajar membawa perubahan yang positif bagi tiap
individu baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan,
kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
c. Faktor-faktor belajar
tidak dapat dijadikan hukum belajar yang bersifat mutlak, karena jika tujuan belajar
berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus beda. Karena itu, belajar yang
efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada seperti yang
sebagai berikut:
kajian yang mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia
melalui koridor pendidikan nilai. Konfigurasi atau kerangka sistematik PKn dibangun
atas dasar paradigma pengembangan potensi individu agar menjadi warga negara
Indonesia yang berakhlak mulia, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab. PKn secara
afektif dan psikomotorik yang bersifat konfluen atau saling berpenetrasi dan terintegrasi
dalam substansi ide, nilai, konsep, dan moral Pancasila yang nantinya diwujudkan dalam
adalah partisipasi yang bermutu dan bertanggung jawab dari warga negara dalam
kehidupan politik dan masyarakat baik pada tingkat lokal maupun nasional, maka dari itu
pengembangan karakter dan sikap mental tertentu, komitmen yang benar terhadap nilai
kewarganegaraan yaitu civic knowledge, civic skills, civic dispositions (Branson, 1998:5),
pikir (mindset) atau apa yang seharusnya diketahui warga negara. Komponen pertama ini
secara bertahap harus diimplementasikan dalam bentuk lima (5) pertanyaan penting
sebagai sumber belajar PKn. Lima (5) pertanyaan meliputi kehidupan warga negara,
berpengetahuan, efektif dan bertanggung jawab (kritis). Civic education yang bermutu
pada sesuatu yang berwujud. Civic education juga memberdayakan seseorang untuk
memberi makna atau arti penting pada sesuatu yang tidak berwujud. Kemampuan untuk
mengidentifikasi bahasa dan simbol-simbol penting bagi seorang warga negara. Mereka
harus mampu menelaah dengan jelas pengertian secara hakiki dari bahasa dan simbol-
simbol tersebut.
sosial, ekonomi, atau politik dan lembaga-lembaga. Kemampuan dalam menganalisis ini
memungkinkan seseorang untuk membedakan antara fakta dengan opini atau antara cara
dengan tujuan. Hal ini juga membantu warga negara dalam mengklarifikasi berbagai
macam tanggung jawab, misalnya antara tanggung jawab publik dan privat. Pada
masyarakat yang otonom, warga negara adalah pembuat keputusan. Oleh karena itu,
mengambil dan mempertahankan pendapat. Kemampuan itu sangat penting jika nanti
mereka diminta menilai isu-isu yang ada dalam agenda publik, dan mendiskusikan
penilaian mereka dengan orang lain dalam masalah privat dan publik.
42
untuk warga negara dan masyarakat demokratis harus difokuskan pada kecakapan-
kecakapan yang dibutuhkan untuk partisipasi yang bertanggung jawab efektif dan, ilmiah
dalam proses politik dan dalam civic society. Kecakapan-kecakapan tersebut dapat
kecakapan-kecakapan warga negara dalam komunikasi dan bekerja sama dengan orang
lain. Berinteraksi adalah menjadi tanggap terhadap warga negara lain. Selanjutnya
dibutuhkan warga negara untuk terlibat dalam proses politik dan pemerintahan.
Monitoring juga berarti fungsi pengawasan atau watchdog warga negara. Akhirnya,
proses-proses politik dan pemerintahan, baik proses formal maupun proses informal
berkembang secara perlahan sebagai akibat dari apa yang telah dipelajari dan dialami
43
demokrasi mensyaratkan adanya pemerintahan mandiri yang bertanggung jawab dari tiap
individu. Karakter privat seperti tanggung jawab, moral, disiplin diri dan penghargaan
terhadap hakikat dan martabat manusia dari setiap individu adalah wajib. Karakter publik
juga tidak kalah penting, keperdulian sebagai warga negara, kesopanan, mengindahkan
aturan main (rule of law), berpikir kritis, dan kemampuan untuk mendengar, bernegosiasi
dan berkompromi merupakan karakter yang sangat diperlukan agar demokrasi berjalan
sukses.
berbagai bidang pemerintahan. Hal tersebut membawa implikasi terhadap sistem dan
merespon hal tersebut, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah melakukan
penyusunan Standar Isi (SI), yang kemudian dituangkan kedalam Peraturan Menteri
diketahui, dan mahir dilakukan oleh peserta didik pada setiap tingkatan dari
Semester II
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
3. Menampilkan sikap positif 3.1 Menguraikan hakikat, hukum dan
terhadap perlindungan dan kelembagaan HAM
penegakan Hak Azasi 3.2 Mendeskripsikan kasus pelanggaran dan
Manusia (HAM) upaya penegakan HAM
3.3 Menghargai upaya perlindungan HAM
3.4 Menghargai upaya penegakan HAM
Dari Standar Kompetensi di atas peneliti memilih salah satu SK yang akan diteliti
yaitu Menunjukkan sikap positif terhadap norma-norma yang berlaku dalam kehidupan
memiliki tiga Kompetensi Dasar. Dari tiga kompetensi Dasar peneliti hanya mengambil
a. Hakikat norma.
46
Mengapa kita harus berbakti kepada orang tua dan sebaliknya orang tua
yang dibuat.
Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya harus ada tata krama dan sikap
yang bisa diterima di dalamnya. Oleh karena itu norma yang ada dan
saling bergantung satu sama lain. Baik norma yang tertulis maupun tidak.
c. Macam-macam norma.
Secara lebih jelas, hukum bagi warga negara memiliki arti penting
kepastian hukum.
mencapai ketertiban harus ada kepastian. Oleh karena itu hukum harus
mengatur hal yang jelas, baik subyek maupun obyek atau wilayah
berlakunya.
Hukum bukan semata-mata dibuat agar warga negara menjadi takut akan
pemahaman kepada siswa sebagai warga negara Indonesia. Meliputi nilai-nilai, kepekaan
terhadap lingkungan, menyadari adanya perbedaan, hak dan kewajiban, serta mengenal
fungsi mata pelajaran PKn untuk SD dan MI, SMP dan MTs, SMA dan MA
adalah sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil, dan berkarakter.
Menurut Permendiknas No.22 tahun 2006, untuk tujuan mata pelajaran PKn bagi siswa
berinteraksi.
48
wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil dan berkarakter yang
berfikir dan bertindak sesuai dengan amanah Pancasila dan UUD 1945
Pendidikan Kewarganegaraan meliputi persatuan dan kesatuan bangsa, norma hukum dan
peraturan, Hak Asasi Manusia, kebutuhan warga negara, kekuasaan politik, pancasila,
konstitusi negara, dan globalisasi. Adapun fokus ruang lingkup pembahasan mata
Inetrnasional.
4) Kebutuhan warga negara, meliputi : hidup gotong royong, harga diri, sebagai
a. Rahmawati , 2008,
dengan uji t untuk semua kelompok uji, kecuali uji rata-rata pre-test
50
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata post-test baik pada kelas
ceramah. Secara uji statistik berbeda secara signifikan dengan p-value (Sig) 0,000
< 0,05 level of Significant. Maka H0 ditolak atau Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa metode Problem Solving lebih baik atau lebih efektif
daripada metode ceramah pada mata pelajaran Ekonomi materi indeks harga dan
inflasi
ini disebabkan karena siswa yang sebelumnya merasa asing dengan objek-objek
ruang dimensi tiga dengan hanya menghafal rumus dan menyelesaikannya soal-
soal tanpa memahami apa yang dikerjakannya dan apa kegunaannya dalam
kehidupan sehari-hari menjadi tahu apa yang dikerjakannya dan apa manfaatnya
didalam pembelajaran.
51
Menurut dari data-data hasil penelitian relevan di atas, peneliti bisa menarik
menyimpulkan bahwa penggunaan model PBL ini dapat efektif untuk meningkatkan
aktifitas dan hasil belajar siswa. Dengan adanya bukti-bukti di atas, peneliti ingin
menunjukkan dan menerapkan model PBL dalam pembelajaran PKn karena pada
dasarnya mata pelajaran PKn memuat substansi yang bisa dikatakan bekal seseorang
hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Penelitian ini dikhususnya pada
kelas VII untuk memberikan pemahaman awal tentang suatu model pembelajaran yang
baru dan menarik bagi siswa. Menurut pra-observasi yang dilakukan peneliti di bulan
Agustus 2012, model PBL belum pernah digunakan di kelas VII SMP Negeri 16
4. Kerangka berpikir
Proses belajar saat ini harus lebih memberdayakan potensi siswa dalam setiap
kegiatan. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber informasi atau teacher-centered
yang siap mentransfer pengetahuan kepada siswa, namun fungsinya berubah menjadi
fasilitator dalam proses pembelajaran yang tujuannya adalah siswa lebih mandiri dalam
usang atau tidak kompeten lagi dan berubah ke arah paradigma baru dimana siswa aktif
lapangan.
52
menemukan pengetahuan baru,dan sesuatu yang belum pernah ditemukan atau belum
Salah satu alternatif yang bisa diterapkan adalah dengan menggunakan model
Problem Based Learning (PBL), atau sering disebut pembelajaran berbasis masalah.
mudah dijawab. Pertanyaan yang dapat dijawab secara singkat dan tanpa berpikir keras
tidak termasuk bagian dari masalah. Pertanyaan akan menjadi masalah jika menunjukkan
adanya suatu tantangan yang tidak dapat dipecahkan dengan suatu prosedur rutin. Dalam
menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa aktif berkelompok, berpikir,
maka pelaksanaan proses pembelajaran sebagai wadah untuk meningkatkan kedua aspek
tersebut perlu terus dikembangkan agar dapat berperan sesuai dengan yang diterapkan.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan penerapan model pembelajaran yang melibatkan
siswa secara aktif sehingga siswa tidak lagi merasa abstrak dan asing terhadap materi
pelajaran.
53
Dilihat dari aspek psikologi belajar PBL bersandar kepada psikologi kognitif yang
berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman. Belajar bukan semata-mata proses menghafal sejumlah fakta, tetapi suatu
proses interaksi secara sadar antara individu dengan lingkungannya. Melalui proses ini
sedikit demi sedikit siswa akan berkembang secara utuh. Artinya, perkembangan siswa
tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik melaui
5. Hipotesis Penelitian.
Berdasarkan pada kajian teori dan kerangka berpikir yang telah disusun, maka