MAKALAH PENYULUHAN PERIKANAN
BUDIDAYA IKAN BAWAL
OLEH:
RIZKY ADITIA
NIM : 3202208068
PRODI BUDIDAYA PERIKANAN
JURUSAN ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
POLITEKNIK NEGRI PONTIANAK
2024
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik dan
inayah-Nya serta nikmat sehat sehingga penyusunan makalah guna memenuhi tugas mata
pelajaranPrakarya ini dapat selesai sesuai dengan yang diharapkan. Shalawat serta
salam selalutercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW dan semoga kita selalu berpegang
teguhpada sunnahnya Amiin...Dalam penyusunan makalah ini tentunya hambatan selalu
mengiringi namun atas bantuan, dorongan dan bimbingan dari orang tua, akhirnya semua
hambatan dalam penyusunan makalah ini dapat [Link] makalah ini dapat
memberikan manfaat dan sebagai sumbangsih pemikirankhususnya untuk para pembaca dan
tidak lupa kami mohon maaf apabila dalam penyusunanmakalah ini terdapat kesalahan baik
dalam kosa kata ataupun isi dari keseluruhan makalah [Link] sebagai penulis sadar bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan untuk itukritik dan saran sangat kami
harapkan demi kebaikan kami untuk kedepannya.
Pontianak, November 2024
RIZKY ADITIA
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................................2
DAFTAR ISI........................................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................................5
1.1 Latar Belakang.............................................................................................................................5
1.2 Tujuan Dan Manfaat....................................................................................................................6
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................................7
2.1 Klasifikasi Ikan Bawal (Colossoma macropomum)........................................................................7
2.2 Morfologi Ikan Bawal (Colossoma macropomum)......................................................................7
2.3 Habitat Ikan Bawal (Colossoma macropomu)..............................................................................8
2.4 Kebiasaan Makan Ikan Bawal (Colossoma macropomu)....................................................8
2.5 Budidaya Ikan Bawal (Colossoma macropomu)...........................................................................8
2.5.1 Pembenihan Ikan Bawal (Colossoma macropomu)..............................................................8
PERSIAPAN KOLAM........................................................................................................8
2.5.2 Pemeliharaan Induk..............................................................................................................9
2.5.3 Penjaringan dan Seleksi Induk.............................................................................................10
2.5.4 Penyuntikan........................................................................................................................10
2.5.5 Pemijahan induk.................................................................................................................10
2.5.6 Seleksi dan Penetasan Telur................................................................................................10
2.5.7 Pemeliharaan larva.............................................................................................................11
2.5.8 Pendederan.........................................................................................................................11
2.6 Pembesaran Ikan Bawal (Colossoma macropomu)...................................................................11
2.6.1 Penebaran...........................................................................................................................11
2.6.2 Pemberian Pakan................................................................................................................12
2.6.3 Manajemen Kualitas Air......................................................................................................12
3
2.6.4 Pemanenan.........................................................................................................................12
2.7 Manajemen Penyakit Ikan Bawal (Colossoma macropomu)......................................................12
BAB III PENUTUP...........................................................................................................................14
3.1 Kesimpulan...............................................................................................................................14
3.2 Saran.........................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................15
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah sebuah negara yang sanga kaya dengan sumber daya alam
termasuk dengan iklim tropis. Panas matahari yang muncul sepanjang tahun
membuat keanekaragaman hayati dan biodiversity di kepualauan katulistiwa ini
menjadi primadona di berbagai bidang termasuk dalam hal budidaya ikan air tawar.
Hanya saja hal ini sedikit ironi dari segi pemanfaatan belum terlihat upaya
maksimal dari masyarakat indonesia untuk mengoptimalkan sumberdaya perikanan
dan kelautan ini. Sektor kelautan dan perikanan mempunyai andil besar dalam
menciptakan ketahanan pangan lokal jika mampu dioptimalkan sebaik mungkin
(Dahuri, 2006).
potensi lahan perikanan budidaya secara nasional diperkirakan sebesar 17,74
juta Ha, yang terdiri atas lahan budidaya air tawar 2,23 juta Ha, budidaya air payau
2,96 juta Ha dan budidaya laut 12,55 juta Ha. Sedangkan pemanfaatannya hingga
saat ini masing-masing baru mencapai 16,62 % untuk budidaya air tawar, 50,06 %
untuk budidaya air payau dan 2,09 % untuk budidaya laut. (Anonim, 2014)
Menurut Daryanto (2007), sumber daya pada sektor perikanan merupakan
salah satu sumber daya yang penting bagi hajat hidup masyarakat dan memiliki
potensi dijadikan sebagai penggerak utama (prime mover) ekonomi nasional. Hal
ini didasari pada kenyataan bahwa pertama, Indonesia memiliki sumber daya
perikanan yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun diversitas. Kedua,
Industri di sektor perikanan memiliki keterkaitan dengan sektor-sektor lainnya.
Ketiga, Industri perikanan berbasis sumber daya nasional atau dikenal dengan
istilah national resources based industries, dan keempat Indonesia memiliki
keunggulan (comparative advantage) yang tinggi di sektor perikanan sebagaimana
dicerminkan dari potensi sumber daya yang ada.
Salah satu sektor yang perlu mendapatkan perhatian adalah sektor budidaya
perikanan air tawar. Saat ini budidaya perikanan air tawar telah muncul menjadi
alternatif utama budidaya ikan di masyarakat. Hal ini dapat terlihat dari
peningkatan jumlah Rumah Tangga Pembudidayaan Ikan (RTP) dari tahun-ke
tahun dengan kenaikan rata-rata sebesar 5,32%. (Anonim, 2014)
5
Jenis-jenis ikan air tawar yang pada saat ini sudah dibudidayakan cukup
banyak. Namun demikian, masih terdapat berbagai jenis ikan yang banyak
dikonsumsi oleh masyarakat, namun belum populer dibudidayakan Hal ini karena
informasi potensi dan peluang budidayanya masih sangat sedikit. Perairan tawar
(fresh water) dIndonesia memiliki potensi sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai
lahan budidaya ikan air tawar. Jenis-jenis yang sudah umum dibudidayakan, antara
lain ikan nila, ikan tombro, lele, gurameh, tawes, dan ikan bawal. Jenis-jenis ikan
tersebut sudah secara luas dibudidayakan oleh masyarakat. Apabila dibandingkan
dengan luas perairan yang ada, hasil budidaya perikanan tawar di Indonesia masih
belum optimal. Budidaya ikan air tawar ini masih sangat potensial untuk
dikembangkan (Cahyono, 2000)
Salah satu jenis ikan air tawar yang sangat digemari oleh masyarakat adalah
ikan Bawal (Colossoma macropomum).Ikan bawal air tawar (Colossoma
macropomum), merupakan ikan introduksi yang berasal dari wilayah Amazon
negara bagian Amerika Serikat. Di negara asalnya ikan ini telah dibudidayakan
secara luas karena mempunyai keunggulan seperti pertumbuhannya cepat, nafsu
makan yang baik dan relatif tahan terhadap penyakit.
Keunggulan yang lain, merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang
mempunyai nilai ekonomis tinggi baik sebagai ikan konsumsi maupun ikan hias.
Sebagai ikan konsumsi, ikan bawal air tawar memiliki rasa daging enak dan gurih.
Keistimewaan tersebut membuat banyak petani ikan membudidayakan dan
menjadi peluang usaha yang menjanjikan dalam usaha budidaya ikan bawal air
tawar (Arie, 2009). Informasi mengenai budidaya ikan bawal. sangat penting untuk
di ketahui, oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, saya akan menyusun sebuah
makalah mengenai budidaya ikan Bawal(Colossoma macropomum).
1.2 Tujuan Dan Manfaat
Adapaun Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Bagaimanakah Kasifikasi dari Ikan Bawal?
2. Bagaimana Cara Merawat Benih Ikan Bawal?
3. Bagaimana Panduan Budidaya Ikan Bawal?
6
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Klasifikasi Ikan Bawal (Colossoma macropomum)
Ikan bawal merupakan ikan dari keluarga Characidae dengan spesies
Colossoma macropomum. Ikan ini terdiri dari dua sub spesies yakni bawal putih
dan bawal hitam. Arie (2006) mengemeukanan spesies ikan bawal air tawar
sebagai berikut :
Klasifikasi Ikan Bawal
Filum : Chordata
Sub filum: Craniata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Neopterygii
Ordo : Cypriniformes
Sub ordo : Cyprinoida
Famili : Characidae
Genus : Colossoma
Spesies : Colossoma macropomum
2.2 Morfologi Ikan Bawal (Colossoma macropomum)
Ikan bawal air tawar mempunyai bentuk badan agak bulat pipih dan ukuran
sisiknya kecil-kecil. Bentuk kepalanya membulat dengan lubang hidung agak
besar. Sirip dadanya terletak di bawah tutup insang, sedangkan sirip perut dan sirip
duburnya terpisah.
Bagian ujung siripnya berwarna kuning sampai merah, lalu punggungnya
berwarna abu-abu tua. Bagian perut berwarna putih abu-abu dan merah
(Khairuman & Amri, 2008).
7
2.3 Habitat Ikan Bawal (Colossoma macropomu)
Habitat asli ikan bawal air tawar hidup di perairan tawar, seperti danau,
waduk, sungai, rawa, serta dapat hidup dan berkembang biak di air payau. Selain
itu, ikan bawal air tawar mempunyai toleransi yang besar terhadap lingkungan
yang kurang baik dibandingkan ikan air tawar lainnya.
2.4 Kebiasaan Makan Ikan Bawal (Colossoma macropomu)
Kebiasaan makan ikan bawal air tawar termasuk ke dalam kelompok ikan
pemakan semuanya (omnivora), tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa ikan ini
cenderung menjadi karnivora (pemakan daging). Hal tersebut terlihat dari bentuk
giginya yang tajam. Saat masih kecil, ikan ini menyukai plankton serta tumbuhan
air, namun setelah dewasa, selain pakan yang disebutkan tadi, ikan ini juga
memangsa hewan seperti ikan kecil, udang kecil atau serangga air.
Apabila dibudidayakan di kolam, bawal air tawar dapat diberi pakan alami
dan pakan tambahan berupa pakan buatan seperti pelet. Pakan yang baik adalah
pakan yang mempunyai gizi seimbang, baik protein, karbohidrat, lemak, vitamin
dan mineral. Untuk itu, pelet yang diberikan sebagai pakan tambahan adalah pelet
komersial dengan kandungan protein 30-40% (Azam et al., 2010).
2.5 Budidaya Ikan Bawal (Colossoma macropomu)
2.5.1 Pembenihan Ikan Bawal (Colossoma macropomu)
Proses produksi pembenihan ikan bawal air tawar terdiri dari beberapa tahap
yaitu persiapan kolam, pemeliharaan induk, penjaringan dan seleksi induk,
penyuntikan, pemijahan induk, penetasan telur, pemeliharaan larva, pencegahan
dan pengobatan penyakit, pemanenan larva dan pengepakan.
PERSIAPAN KOLAM
Ada beberapa tahap untuk mempersiapkan kolam induk, yaitu :
a. Pengeringan
Pengeringan dan penjemuran dasar kolam dengan bantuan sinar matahari ini
bertujuan untuk mengoksidasi bahan organik yang terkandung di dalam lumpur
dasar tersebut menjadi mineral (hara). Proses pengeringan tersebut berlangsung
hingga tanah dasar kolam retak-retak, adanya retak-retak pada dasar kolam
8
memungkinkan udara (mengandung oksigen) dapat masuk ke dalam lapisan tanah
lumpur yang lebih dalam untuk mengoksidasi bahan organik di dalamnya.
Selain untuk oksidasi tanah dasar, pengeringan dan penjemuran ini dimaksudkan
juga untuk membunuh bakteri patogen dan membunuh telur dan benih organisme
hama yang kelak bisa menjadi kompetitor (penyaing makanan) atau predator ikan
kultur.
b. Pengapuran
Sarana produksi lainnya yang cukup penting adalah kapur. Pengapuran pada
umumnya memiliki beberapa tujuan, untuk meningkatkan pH tanah serta
membunuh bakteri patogen dan organisme hama (eradiksi). Kapur yangdigunakan
pekerjaan ini adalah kapur pertanian (CaCo3), kapur tohor (CaOH2) dan dolomit.
Dosis yang digunakan tergantung pada kondisi pH tanah. Semakin rendah pH
tanah maka kebutuhan kapur untuk pengapuran semakin banyak
c. Pemupukan
Pupuk adalah bahan yang digunakan untuk menyuburkan air kolam.
Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan kandungan hara bagi kebutuhan
fitoplankton untuk berfotosintesis. Kolam yang subur akan banyak mengandung
pakan alami yang bermacam-macam jenisnya dan beragam ukurannya. Salah satu
cara untuk menyuburkan kolam adalah dengan mengadakan pemupukan, pupuk
yang digunakan biasanya pupuk organik (kotoran ayam dan ternak lainnya,
kompos) dan anorganik (urea, TSP, NPK, KCL). Pupuk organik yang diberikan ke
kolam harus diurai terlebih dahulu oleh bakteri sebelum haranya dimanfaatkanoleh
fitoplankton sehingga berpotensi menurunkan kandungan oksigen terlarut air
kolam
2.5.2 Pemeliharaan Induk
Pemeliharaan induk bertujuan untuk menumbuhkan dan mematangkan
gonad (sel telur dan sperma) ikan. Penumbuhan dan pematangan gonad ikan dapat
dipacu melalui pendekatan lingkungan, pakan dan hormonal. Kegiatan ini
merupakan kegiatan yang sangat penting dari pembenihan. Karena pemeliharaan
induk akan mempengaruhi daya tetes telur bawal yang akan dipijahkan.
2.5.3 Penjaringan dan Seleksi Induk
9
Penjaringan dan seleksi induk dilakukan langsung di dalam kolam
pemeliharaan induk. Ciri-ciri induk betina yang baik untuk dipijahkan adalah perut
ikan yang buncit dan kelamin ikan yang berwarna kemerahan. Penyeleksian atau
pemilihan induk jantan hasil penjaringan dilakukan dengan memeriksa dan
memencet perlahan di alat kelamin agar keluar cairan sperma berwarna putih susu,
jika sperma keluar maka ikan tersebut siap untuk dipijahkan. Perbandingan seleksi
induk ikan jantan untuk pemijahan adalah tiga ekor untuk setiap satu induk ikan
betina.
Tujuan kegiatan seleksi induk dilakukan untuk mendapatkan induk betina
yang matang telur dan siap untuk dipijahkan. Seleksi induk dilakukan dengan cara
pemeriksaan kondisi telur induk dengan selang kateter, yaitu selang kecil
berdiameter 3 mm yang akan dimasukaan ke dalam lubang kelamin induk
betinauntuk diambil beberapa telurnya yang akan diperiksa. Telur yang baik adalah
warna telur kebiruan dan sedikit lengket jika dipegang.
2.5.4 Penyuntikan
Penyuntikan merupakan kegiatan memasukkan hormon perangsang ke
dalam induk dengan menggunakan alat suntik. Penyuntikan bertujuan untuk
merangsang kematangan [Link] untuk perangsang pemijahan antara lain
golongan gonadotropin, LHRH-a dan steroid. LHRH (luteinizing hormone
releasing hormone) adalah hormon dari golongan protein yang dihasilkan oleh
hipotalamus seperti Hipofisa dan Ovaprim.
2.5.5 Pemijahan induk
Pemijahan induk adalah proses pembuahan telur oleh sperma. Pemijahan
dapat secara alami. Menurut Sunarma (2004), pemijahan alami dilakukan dengan
cara memilih induk jantan dan induk betina yang benar-benar matang gonad
kemudian dipijahkan secara alami dalam bak/wadah pemijahan dengan pemberian
kakaban. Pemijahan dengan perbandingan 1 indukan betina dengan 3 indukan
jantan.
2.5.6 Seleksi dan Penetasan Telur
Kakaban kemudian dipindahkan ke wadah penetasan yang telah di siapkan
dan ditreatmen wadah serta airnya. Telur-telur yang tidak dibuahi warna kuning
susu dan tidak akan menetas serta akan membusuk. Telur-telur yang dibuahi
terlihat kuning transparan dan akan [Link] telur-telur menjadi larva
ikan bawal air tawar biasanya dalam waktu 16-24 jam.
10
2.5.7 Pemeliharaan larva
Pemeliharaan larva adalah kegiatan untuk merawat telur-telur yang baru
menetas (larva) sampai siap untuk di masukkan ke tempat pemeliharaan. Yang
dilakukan dalam proses pemeliharaan larva yaitu pemeliharaan dan pengontrolan
larva, penyiponan dan penggantian air akuarium larva dan pemberian pakan
artemia.
Air pemeliharaan larva perlu dijaga kualitasnya agar derajat kehidupan
tinggi dan bebas dari penyakit. Parameter kualitas air yang perlu diperhatikan yaitu
suhu dengan kisaran 28-30ºC, pH 6,5-7,5 , DO lebih dari 3 ppm.
2.5.8 Pendederan
Larva ditebar pada pagi hari dengan kepadatan 50-100 ekor/m2. Setiap hari
diberi pakan alami sampai larva siap diberikan pakan tambahan berupa pellet5%
dari berat tubuh dengan frekuensi tiga kali sehari. Pemeliharaan dikolam
pendederan selama satu bulan dengan ukuran benih ikan bawal 1,5-3 cm dan siap
di besarkan.
2.6 Pembesaran Ikan Bawal (Colossoma macropomu)
Usaha pembesaran dilakukan dengan maksud untuk memperoleh ikan
ukuran konsumsi atau ukuran yang disenangi oleh konsumen. Pembesaran ikan
bawal dapat dilakukan di kolam tanah maupun kolam permanen maupun
[Link] menggunakan kolam maka, perlu dilakukan persiapan kolam seperti
pada kegiatan penbenihan. Persiapan kolam tersebut meliputi pengeringan,
pengkapuran, pemupukan.
2.6.1 Penebaran
Sebelum benih dari pendederan ditebar perlu diadaptasikan terlebih dahulu,
dengan tujuan agar ikan tidak dalam kondisi stres saat berada dalam Kolam atau
11
KJA. Cara adaptasi : ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih
tertutup rapat dimasukkan kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik
mengembun. Ini tandanya air kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya,
setelah itu dibuka plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit
kedalam plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik.
Selanjutnya benih ditebar/dilepaskan dalam kolam secara perlahan-lahan, padat
tebar benih yaitu 30-50 ekor/m2.
2.6.2 Pemberian Pakan
Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang diberikan
bisaberupa daun-daunan maupun berupa pelet. Pakan diberikan 3-5 % dari
beratbadan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian pakan
dapat ditebar secara langsung. Pakan diberikan 3 kali sehari, pagi (07.30), siang
(12.30)dan sore (17.00). Selain pemberiaan pakan pengontrolan terhadapkolam dan
ikan serta airpun harus terus dilakukan agar ikan tetap terjaga.
2.6.3 Manajemen Kualitas Air
Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) (1999) kualitas air yang sesuai
untuk benih ikan adalah,suhu 25-30°C, pH 6.5-8.5, oksigen terlarut lebih dari 5
mg/L, amoniak kurang dari 0.02 mg/L, dan kecerahan lebih dari 30 cm
2.6.4 Pemanenan
Pemungutan hasil usaha pembesaran dapat dilakukan setelah ikan
bawaldipelihara 4-5 bulan, waktu tersebut ikan bawal telah mencapai ukuran
kuranglebih 500 gram/ekor,
2.7 Manajemen Penyakit Ikan Bawal (Colossoma macropomu)
Berikut ini penyakit yang menyerang ikan bawal (Anonim, 2017) :
a. Penyakit Jamur
Penyebab : jamur Sprologniasp dan Achlyasp.
Gejala : ikan akan terdapat jamur berwarna keputihan hingga ke abu-abuan, bobot
berkurang, gerakan lambat, dan juga akan mengakibatkan angka kematian yag
tinggi.
Pengendalian : Menjaga kualitas air, memberikan pakan tambahan yang bergizi
dan juga menjaga kualitas kolam.
12
Ikan terserang harus di lakukan perendaman dengan larutan formalin atau Malacyte
green sesuai dengan petunjuk.
b. Penyakit bintik putih
Penyebab : protozoa Ichthyopthirusmultifliis.
Gejala : permukaan kulit terdapat bintik putih, ikan berwarna pucat dan juga
gerakan sangat lambat. Serta nafsu makan berkurang.
Pengendalian :
Menjaga kualitas air, dan juga melakukan pembersihan kolam dengan baik.
Melakukan perendaman ikan terserang dengan larutan formalin atau garam selama
1-2 jam.
c. Trichodiniasis
Penyebab : Trichodinasp
Gejala : ikan terserang akan pucat, terdapat pendarahan pada ikan di bagian insang,
sirp dan kulit yang di serang penyakit ini.
Pengendalian :
Menjaga kualitas air, memberikan pakan tamabahan bernutrisi dan juga menaikan
suhu air.
Melakukafilterisasi dan perendaman ikan terserang dengan garam atau vaksinasi
sesuai petunjuk.
d. Bakteri
Penyebab : Bakteri Aeromonas dan Pseudomonas.
Gejala : nafsu makan ikan berkurang, ikan berwarna pucat, gerakan lambat dan
bobot badan menurun.
Pengendalian :
Melakukan pergantian air secara teratur.
Melakukan perendaman ikan terserang dengan larutan formalin, bakterisida dan
juga vaksinasi sesuai petunjuk.
13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah menyusun makalah ini, dapat saya simpulkan bahwa terdapat dua
kegiatan budidaya ikan bawal yaitu pembenihan dan pembesaran. Pembenihan
ikan bawal dimulai dari persiapan kolam hingga sampai ke tahapan pendederan.
Pembesaran ikan bawal bertujuan untuk mendapatkan ikan dengan ukuran
komsumsi yang dimulai dari persiapan wadah hinggah pemanenan.
3.2 Saran
Manusia tidak luput dari keslahan dan rasa khilaf. Barangkali hanya ini yang
dapat kami ungkapkan. Jika ada kesalahan materi maupun merugikan pihak –
pihak tertentu kami meminta kritik dan sarannya, kritik maupun sarannyan
sangatlah penting untuk pengintrospesikan diri melengkapi makalah ini. Terima
kasih.
14
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Peran sub sektor perikanan budidaya dalam perekonomian
nasional. [Link]
dalamperekonomian-nasional diakses tanggal 5 mei 2018.
Anonim. 2017. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan Bawal. Dalam
[Link] Di akses
pada 5 mei 2018.
Anonim. 2018. Mengenal Umpan Jitu Mancing Ikan Bawal. Dalam
[Link]
[Link]. Di akses pada 5 mei 2018.
Arie U. 2006. Budidaya Bawal Air Tawar Untuk Konsumsi dan Hias. Jakarta :
Penebar Swadaya.
Arie, U. 2009. Panen Bawal 40 Hari. PT. Penebar Swadaya. Jakarta
Azam, A., Alfian, R, Barkah, S, Muhammad, Y dan Sungging, P. 2010. Pengaruh
Kunyit Terhadap Pertumbuhan dan Kelulusan Hidup (SR) Ikan Bawal Air Tawar
(Colossoma macropomum) dengan Sistem Resirkulasi Tertutup. Universitas
Airlangga, Surabaya.
Cahyono, B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar: Ikan Gurami, Ikan Nila, Ikan Mas.
Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Dahuri, R. 2006. Optimalisasi Pengelolaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan Pulau
Pulau Kecil secara berkelanjutan. Materi Presentasi pada Konprensi Nasional V
Pesisir dan Pulau-Pulau kecil. Batam.
Daryanto, Arief. 2007. Dari Klaster Menuju Peningkatan Daya Saing Industri
Perikanan. Buletin Craby & Starky, Edisi Januari 2007.
15
Khairuman. & K. Amri. 2008. Buku Pintar Budidaya 15 Ikan Konsumsi.
Jakarta:PT Agro Media Pustaka.
Sunarma, A. 2004. Peningkatan produktivitas usaha lele Sangkuriang (Clarias sp.).
Makalah disampaikan pada Temu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan Temu Usaha
Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Departemen Kelautan dan Perikanan. 4-7
Oktober 2004. Bandung, 13 hl
16