0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan4 halaman

Perencanaan Struktur Bangunan Gedung

Dokumen ini membahas ruang lingkup perencanaan struktur bangunan, termasuk kriteria bahan bangunan dan perhitungan struktur bangunan atas. Pedoman perencanaan yang digunakan mencakup berbagai standar dan peraturan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bangunan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan metodologi penelitian dan langkah-langkah perencanaan pelat lantai dalam proyek gedung kuliah di Semarang.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan4 halaman

Perencanaan Struktur Bangunan Gedung

Dokumen ini membahas ruang lingkup perencanaan struktur bangunan, termasuk kriteria bahan bangunan dan perhitungan struktur bangunan atas. Pedoman perencanaan yang digunakan mencakup berbagai standar dan peraturan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan bangunan. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan metodologi penelitian dan langkah-langkah perencanaan pelat lantai dalam proyek gedung kuliah di Semarang.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

2 Ruang Lingkup Perencanaan Ruang lingkup perencanaan dalam penulisan jurnal ilmiah ini
adalah sebagai berikut :
1. Struktur bangunan adalah satu kesatuan dan rangkaian dari beberapa elemen yang
direncanakan agar mampu menerima beban dari luar maupun berat sendiri tanpa mengalami
perubahan bentuk yang melampaui batas persyaratan.
2. Struktur bangunan yang direncanakan dalam penelitian adalah struktur bangunan atas (upper
structure) dimana struktur bangunan atas harus sanggup mewujudkan perencanaan dari segi
arsitektur dan harus mampu menjamin mutu baik dari segi keamanan maupun kenyamanan bagi
penggunanya. Untuk itu, bahan bangunan yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar
dari konstruksi hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Tahan api
b. Kuat dan kokoh, setiap bangunan yang direncanakan harus kuat menahan beban dan
tahan terhadap goyangan yang diakibatkan oleh gempa, beban angin, dan sebagainya.
c. Awet untuk jangka waktu yang lama.
d. Ekonomis, setiap konstruksi yang dibangun harus seekonomis mungkin dan disesuaikan
dengan biaya yang ada tanpa mengurangi mutu dan kekuatan bangunan.
e. Aman dan nyaman, setiap bangunan yang dibangun harus memperhatikan aspekaspek
kenyamanan serta orang-orang yang menghuni merasa aman dan nyaman.
[Link] perencanaan bangunan atas meliputi :
a. Perhitungan pelat atap
b. Perhitungan pelat lantai
c. Perhitungan tangga
d. Perhitungan portal
e. Perhitungan balok
f. Perhitungan kolom
1.3 Dasar Perhitungan dan Pedoman Perencanaan Dalam perencanaan struktur gedung kuliah ini,
pedoman peraturan serta buku acuan yang digunakan antara lain :
1. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2013).
2. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non
Gedung (SNI 03-1726-2012).
3. Pedoman Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983 (PPIUG 1983).
4. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987 (PPIUG 1987).
5. Peraturan-peraturan lain yang relevan.
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1Tinjauan Umum Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturan-
peraturan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman secara
konstruksi. Struktur bangunan yang direncanakan harus mampu menahan beban mati, beban
hidup dan beban gempa yang bekerja pada struktur bangunan tersebut. Maka ketelitian dan nilai
ketepatan dalam merencanakan pembebanan merupakan salah satu point penting dalam
perancangan struktur bangunan tersebut sehingga struktur menjadi aman dan nyaman bila nanti
digunakan sesuai dengan standar peraturan serta peruntukkannya.
2.2 Jenis Pembebanan Mengacu pada Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1987
(PPIUG 1987), jenis pembebanan yang dipakai dalam perencanaan struktur gedung kantor ini
adalah :
A. Beban Statis
1. Beban Mati (Dead Load) Beban mati adalah berat dari semua bagian dari suatu gedung yang
bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan, penyelesaian-penyelesaian, mesinmesin serta
peralatan tetap yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung.
2. Beban Hidup (Live Load) Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghuni atau
penggunaan suatu gedung, dan kedalamnya beban-beban pada lantai yang berasal dan barang-
barang yang dapat dipindahpindah, mesin-mesin, serta peralatan yang tidak merupakan bagian
tak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup gedung itu, sehingga
mengakibatkan perubahan dalam pembebanan lantai dan atap tersebut.
B. Beban Dinamik
1. Beban Gempa (Earthquake Load) Beban gempa adalah semua beban statik ekivalen yang
bekerja pada gedung atau bagian gedung yang menirukan pengaruh dari gerakan tanah akibat
gempa itu. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu
analisa dinamik, maka yang diartikan dengan beban gempa disini adalah gaya-gaya di dalam
struktur jurnal Teknokris vol. 24, No. 1 , Juni 2021 P- ISSN : 1411-0539 E-ISSN : 2622-8300 3
tersebut yang terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu.
2. Beban Angin (Wind Load) Beban angin adalah beban yang bekerja pada suatu struktur, akibat
pengaruh struktur yang memblok aliran angin, sehingga energi kinetik angin akan dikonversi
menjadi tekanan energi potensial yang menyebabkan terjadinya beban angin. Efek beban angin
pada suatu struktur bergantung pada berat jenis dan kecepatan udara, sudut luas angin, bentuk,
dan kekakuan struktur, dan faktor-faktor yang lain.
2.3 Kombinasi Pembebanan Di dalam peraturan SNI 03-1726-2012, dijelaskan mengenai Tata
Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.
Dinyatakan bahwa struktur lainnya dirancang memakai kombinasi pembebanan, kombinasi-
kombinasi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut : 1. U = 1,4D 2. U = 1,2D + 1,6L 3. U =
1,2D + 1,0L + 1,0 (I/R) Ex + 0,3 (I/R) Ey 4. U = 1,2D + 1,0L + 0,3 (I/R) Ex + 1,0 (I/R) Ey
Dimana : D = beban mati (dead load) L = beban hidup (live load) E = beban gempa (earthquake
load) R = faktor reduksi I = faktor keutamaan Gedung 3 METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metodologi Penelitian Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan jurnal ilmiah
ini adalah studi pustaka.
3.2 Data Umum Struktur
1. Nama proyek : Kampus Smart Building STIE Bank BPD Jateng
2. Lokasi proyek : Jalan Soekarno Hatta Kecamatan Pedurungan Kota Semarang
3. Jenis bangunan : Gedung bertingkat
4. Jenis konstruksi : Struktur beton bertulang
5. Struktur pondasi : Pondasi tiang pancang
6. Peruntukan bangunan :
a. Lantai Ground Floor sampai dengan Lantai 3 untuk ruang kuliah, ruang yayasan,
perpustakaan, laboratorium, serta fasilitas pendukung lainnya.
b. Lantai 4 untuk aula, ruang pertemuan, serta ruang-ruang unit kegiatan mahasiswa.
c. Lantai 5 dan lantai 6 untuk tambahan ruang perkuliahan.
7. Luas bangunan : a. Lantai Ground Floor : 973 2 m b. Lantai 2 – 6 : 807 2 m c. Lantai Atap :
807 2 m 8. Elevasi :
a. Lantai Ground Floor : +3.50 m b. Lantai 2-6 : +2.90 m c. Lantai Atap : +0.00 m 9. Spesifikasi
material :
a. Mutu beton : 30 Mpa
b. Mutu baja : 400 Mpa
10. Gambar rencana
11. Data tanah
3.3 Diagram Alir Gambar
3.1 Bagan Alir Perencanaan Struktur Gedung Mayora Indah
4 PERENCANAAN
4.1 Perencanaan Pelat Lantai Langkah-langkah dalam perencanaan plat lantai dalam penulisn
jurnal ilmiah ini adalah sebagai berikut :
1. Menentukan syarat-syarat batas dan bentang pelat lantai
2. Mentukan apakah plat lantai termasuk one way slab atau two way slab.
3. Menentukan tebal plat lantai. Langkah selanjutnya adalah
4. Menghitung beban yang bekerja pada pelat (beban mati dan beban hidup)
5. Menghasilkan nilai momen plat lantai yang dihitung sesuai ketentuan pada buku CUR IV
karya Gideon.
6. Menghitung kebutuhan diameter tulangan dan jarak antar tulangan plat. Dari hasil perhitungan
didapat tulangan arah x D10-125 dan arah y D10-125, penulangan arah x dan y sama karena
rasio penulangan menggunakan pmin 0,0058. Detail penulangan dapat dilihat pada gambar
4.1 berikut ini :

Anda mungkin juga menyukai