LAPORAN PENDAHULUAN PADA TN.
A DENGAN DIAGNOSA MEDIS TB
PARU DI RUANG GARDENIA RSUD dr. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA
Oleh :
Nama : Indra prabowo
NIM : 2022-01-14401-012
YAYASAN STIKES EKA HARAP PALANGKARAYA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
DIPLOMA TIGA KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Pendahuluan Ini Disusun Oleh :
Nama : Indra prabowo
NIM : 2022-01-14401-012
Program Studi : DIII-Keperawatan
Judul : laporan pendahuluan Pada TN.A Dengan Diagnosa Medis TB Paru Di
Ruang Gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangaka Raya
Telah melakukan asuhan keperawatan sebagai persyaratan untuk menenempuh
Praktik Klinik keperawatan III (PKK 3) pada program studi DIII Keperawatan sekolah
tinggi ilmu Kesehatan eka harap Palangka Raya.
Laporan keperawatan ini telah disetujui oleh :
Pembimbing Akademik Pembibing Klinik
Amiyani Kristina,Ners.,[Link] Erika Sihombing, [Link].,Ns.,[Link]
1
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan anugerah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan
Pendahuluan yang berjudul “laporan pendahuluan pada Tn.A Dengan Diagnosa Medis
TB Paru di ruang gardenia Rsud Dr. Doris Sylvanus Palangka Raya.”.
Laporan pendahuluan ini disusun guna melengkapi tugas Praktek Pra Klinik.
Laporan Pendahuluan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, saya
ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ibu Maria Adelheid Ensia, [Link]., [Link] selaku Ketua STIKes Eka Harap Palangka
Raya.
2. Ibu Dina Rawan [Link], Ners., [Link] selaku Ketua Program Studi Diploma Tiga
Keperawatan STIKes Eka Harap Palangka Raya.
3. Ibu Amiyani Kristina,Ners.,[Link] selaku pembimbing akademik yang banyak
memberikan arahan, masukan dan bimbingan dalam penyelesainan asuhan
keperawatan ini.
4. Ibu Erika Sihombing, [Link].,Ns.,[Link] selaku pembimbing lahan yang banyak
memberikan arahan, masukan dan bimbingan dalam penyelesainan asuhan
keperawatan ini.
5. Semua pihak yang telah banyak membantu dalam pelaksaan kegiatan Praktek
Praklinik ini.
Penulis menyadari bahwa laporan pendahuluan ini mungkin terdapat kesalahan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu penyusun mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca dan mudah-mudahan laporan pendahuluan ini dapat
mencapai sasaran yang diharapkan sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Palangka Raya, 18 November 2024
Penulis
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
LEMBAR PENGESAHAN ii
DAFTAR ISI iii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang
3
1.2. Rumusan Masalah
3
1.3. Tujuan Penulisan
3
1.4. Manfaat Penulian
3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4
2.1. Konsep Dasar Penyakit Hiperglikemia 4
2.1.1. Pengertian 4
2.1.2. Etiologi 4
2.1.3. Tanda dan Gejala 5
2.1.4. Fatofisiologi 5
2.1.5. Pathway/WOC 7
2.1.6. Komplikasi 8
2.1.7. Pemeriksaan Penunjang 8
2.1.6. Penatalaksanaan Medis 9
2.2. Konsep Asuhan Keperawatan 10
2.2.1. Pengkajian 10
2.2.2. Diagnosa 13
2.2.3. Intervensi Keperawatan 14
2.2.4. Implementasi Keperawatan 17
2.2.5. Evaluasi 17
3
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosa). Penyakit ini masih menjadi masalah
kesehatan global. Diperkirakan sepertiga dari populasi dunia sudah tertular TB paru,
dimana sebagian besar penderita TB paru adalah usia produktif (15-50 tahun). Tahun
2013 terdapat 9 juta kasus baru dan 1,5 juta kematian akibat penyakit TB paru (WHO,
2014). TB Paru merupakan penyakit dengan morbiditas tinggi dan sangat mudah
menyebar di udara melalui sputum (air ludah) yang dibuang sembarangan di jalan oleh
penderita TB Paru. Oleh sebab itu TB Paru harus ditangani dengan segera dan hati-hati
apabila ditemukan kasus tersebut di suatu wilayah (Kemenkes RI, 2019).
Menurut WHO tuberkulosis merupakan penyakit yang menjadi perhatian global.
Dengan berbagai upaya pengendalian yang dilakukan, insiden dan kematian akibat
tuberkulosis telah menurun, namun tuberkulosis diperkirakan masih menyerang 9,6
juta orang dan menyebabkan 1,2 juta kematian pada tahun 2014. India, Indonesia dan
China merupakan negara dengan penderita tuberkulosis terbanyak yaitu berturut-turut
23%, 10%, dan 10% dari seluruh penderita di dunia (WHO, 2019).
Lingkungan sosial ekonomi, kualitas rumah kedekatan kontak dengan penjamu
BTA+ sangat mempengaruhi penyebaran bakteri ini pada manusia. Kondisi lingkungan
rumah seperti ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaba, suhu
rumah, dan kepadatan hunian rumah menjadi salah satu faktor yang berperan dalam
penyebaran kuman tuberkulosis (Najmah, 2015).
Di tahun 2014 angka kejadian tuberkulosis berdasarkan data Dinas kesehatan
Provinsi Bali tercatat kasus tuberkulosis yakni sebesar 3.034 kasus dengan rincian
kasus baru sebanyak 2.892 kasus dan pengobatan ulang sebanyak
4
142 kasus penyebaran jumlah pasien tuberkulosis di masing-masing kabupaten di
Provinsi Bali (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2015). Di tahun 2015 angka kejadian
tuberkulosis berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Bali tercatat kasus
tuberkulosis paru yakni sebesar 2.875 kasus dengan rincian kasus baru sebanyak 2.782
kasus dan pengobatan ulang sebanyak 93 kasus. Penyebaran jumlah pasien tuberkulosis
di masing-masing kabupaten di Provinsi Bali tahun 2015 yakni : Denpasar (1028
kasus), Buleleng(585 kasus), Badung (328 kasus), Karangasem (222 kasus), Gianyar
(216 kasus), Tabanan (186 kasus), Jembrana (181 kasus), Klungkung (77 kasus), dan
Bangli (52 kasus).
Berdasarkan data yang didapatkan di Puskesmas Kintamani IV Kabupaten Bangli
pada tahun 2015 sampai dengan 2019 yang dimana di Desa Trunyan memiliki target
suspek sebesar 50 orang/tahun dan kasus sebesar 5 orang/tahun. Desa Terunyan
memiliki penderita penyakit Tuberkulosis paru tertinggi yaitu Tuberkulosis paru positif
sebanyak 14 kasus. Oleh karena itu, upaya penanggulangan dan pencegahan
Tuberkulosis paru di Desa Terunyan berfokus pada bagaimana hubungan sanitasi
lingkungan fisik rumah dengan penderita tuberkulosis paru.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep laporan pendahuluan dengan diagnosa medis TB Paru diruang
gardenia RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya?
1.3. Tujuan Penelitian
1. Agar mahasiswa dapat memahami bentuk konsep laporan pendahuluan pada pasien
dengan diagnosa medis TB Paru.
2. Agar mahasiswa dapat memahami bentuk asuhan keperawatan mulai dari
pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi hingga evaluasi pada pasien dengan
diagnosa medis TB Paru.
5
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Mahasiswa
Agar mahasiswa dapat mengerti mulai dari bentuk laporan pendahuluan, bentuk
asuhan keperawatan, hingga implementasi asuhan keperawatan kepada pasien .
1.4.2. Bagi Pembimbing Akademik/Lahan
Untuk menilai sejauh mana kemampuan mahasiswa dalam membuat laporan
pendahuluan dan asuhan keperawatan sampai menilai kemampuan mahasiswa dalam
mengimplementasikan asuhan keperawatan pada pasien.
6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Penyakit
2.1.1. Definisi
Tuberculosis paru adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman Mycrobacterium Tuberculosis. Sebagian bersar kuman tuberculosis
menyerang paru tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lainnya (Depkes, 2014).
Tuberkulosis (TB) paru- paru adalah infeksi pada paru- paru dan kadang pada
struktur- struktur disekitarnya, yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium
tuberculosis (Ginanjar, 2015). Tuberkulosis paru-paru merupakan penyakit infeksi
yang menyerang parenkim paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
(Kowalak, 2014)
Tuberkulosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis yang dapat menyerang pada berbagai organ tubuh mulai dari paru dan
organ di luar paruseperti kulit, tulang, persendian, selaput otak, usus serta ginjal
yang sering disebut dengan ekstrapulmonal TBC.
2.1.2. Etiologi
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robet
Koch pada tahun 1882. Basil tuberculosis dapat hidup dan tetap virulen beberapa
minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati dalam suhu 600C dalam 15-
20 menit. Fraksi protein basil tuberkulosis menyebabkan nekrosis jaringan,
sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan faktor
terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.(FKUI, 2013)
Basil ini tidak berspora sehingga mudah dibasmi dengan pemanasan sinar
matahari dan sinar ultraviolet. Ada dua macam mikobakterium tuberculosis yaitu
tipe human dan tipe bovin. Basil tipe bovin berada dalam susu sapi yang menderita
mastitis tuberkulosis usus.
7
Basil tipe human bisa berada di bercak ludah (droplet) di udara yang berasal
dari penderita TBC terbuka dan orang yang rentan terinfeksi TBC ini bila menghirup
bercak ini. Perjalanan TBC setelah terinfeksi melalui udara. Bakteri juga dapat
masuk ke sistem pencernaan manusia melalui benda/bahan makanan yang
terkontaminasi oleh bakteri. Sehingga dapat menimbulkan asam lambung meningkat
dan dapat menjadikan infeksi lambung. (Wim de Jong, 2014)
2.1.3. Manifestasi Klinis
Menurut Kowalak, 2014 tanda dan gejala tuberkulosis adalah:
a. Demam
b. Malaise
c. Anoreksia
d. Penurunan berat badan
e. Batuk ada atau tidak (berkembang secara perlahan selama berminggu– minggu
sampai berbulan – bulan)
f. Peningkatan frekuensi pernapasan
g. Ekspansi buruk pada tempat yang sakit
h. Bunyi napas hilang dan ronkhi kasar, pekak pada saat perkusi
i. Demam persisten
j. Manifestasi gejala yang umum: pucat, anemia, kelemahan, dan penurunan berat
badan
2.1.5. Patofisiologi
Menurut Somantri (2014), infeksi diawali karena seseorang menghirup basil
Mycobacterium tuberculosis. Bakteri menyebar melalui jalan napas menuju alveoli
lalu berkembang biak dan terlihat bertumpuk. Perkembangan Mycobacterium
tuberculosis juga dapat menjangkau sampai ke area lain dari paru (lobus atas). Basil
juga menyebar melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lain (ginjal,
tulang dan korteks serebri) dan area lain dari paru (lobus atas). Selanjutnya sistem
kekebalan tubuh memberikan respons dengan melakukan reaksi inflamasi. Neutrofil
dan makrofag melakukan aksi fagositosis (menelan bakteri), sementara limfosit
8
spesifik-tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) basil dan jaringan normal. Infeksi
awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar [Link]
antara Mycobacterium tuberculosis dan sistem kekebalan tubuh pada masa awal
infeksi membentuk sebuah massa jaringan baru yang disebut granuloma. Granuloma
terdiri atas gumpalan basil hidup dan mati yang dikelilingi oleh makrofag seperti
dinding. Granuloma selanjutnya berubah bentuk menjadi massa jaringan fibrosa.
Bagian tengah dari massa tersebut disebut ghon tubercle. Materi yang terdiri atas
makrofag dan bakteri yang menjadi nekrotik yang selanjutnya membentuk materi
yang berbentuk seperti keju (necrotizing caseosa). Hal ini akan menjadi klasifikasi
dan akhirnya membentuk jaringan kolagen, kemudian bakteri menjadi nonaktif.
Menurut Kowalak, 2014, setelah infeksi awaljika respons sistem imun tidak
adekuat maka penyakit akan menjadi lebih parah. Penyakit yang kian parah dapat
timbul akibat infeksi ulang atau bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali
menjadi aktif, Pada kasus ini, ghon tubercle mengalami ulserasi sehingga
menghasilkan necrotizing caseosa di dalam [Link] yang ulserasi
selanjutnya menjadi sembuh dan membentuk jaringan parut. Paru-paru yang
terinfeksi kemudian meradang, mengakibatkan timbulnya bronkopneumonia,
membentuk tuberkel, dan [Link] seluler ini dapat sembuh dengan
sendirinya. Proses ini berjalan terus dan basil terus difagosit atau berkembang biak
di dalam sel. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan
sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit
(membutuhkan 10-20 hari). Daerah yang mengalami nekrosis dan jaringan granulasi
yang dikelilingi sel epiteloid dan fibroblas akan memberikan respons berbeda
kemudian pada akhirnya membentuk suatu kapsul yang dikelilingi oleh tuberkel.
9
WOC TB PARU TB Paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium Tuberculosis, suatu basil aerobik tahan asam yang ditularkan
melalui udara. TB sering menyerang paru-paru, namun juga dapat menyerang
bagian tubuh yang lain seperti selaput otak, kulit, tulang, kelenjar getah bening,
dan bagian tubuh lainnya
Manifestasi Klinis : Pemeriksaan penunjang :
1. Demam 1. Parameter uji tuberkulin
Mycobacterium Tuberculosis
2. Malaise 2. Pasien dengan jumlah skor ≥6 harus ditatalaksana
3. Batuk keing sebagai pasien TB dan mendapat OAT (Skoring TB)
4. Batuk berdarah 3. Foto paru.
5. Sesak napas TB PARU 4. Status gizi.
6. Nyeri dada 5. Pengecekan riwayat penyakit keluarga atau orang
terdekat (Sumber penularan penyakit TB Paru).
B1 Breathing B2 Blood B3 Brain B4 Bladder B5 Bowel B6 Bone
Kurang nafsu makan
Proses peradangan Respon inflamasi Bakteri masuk ke paru Penyebaran Menginfeksi tulang
pada paru-paru belakang
Anoreksia
Produksi mediator Merangsang Kerusakan jaringan
nyeri meningkat Nyeri
Infeksi primer pada hipotalamus
alveoli
Penurunan Penurunan BB
Nasiseptor Peningkatan suhu kemampuan ginjal Kelemahan
terangsang tubuh
Mengganggu perfusi dan
difusi 02 MK : Defisit
MK : Gangguan Nutrisi MK : Intoleransi
Nyeri dada MK : Hipertermi Eliminasi Urin aktivitas
Dyspnea
MK : Nyeri Akut
MK : Pola napas
Tidak Efektif
10
2.1.6. Komplikasi
a. Hepatitis karena efek terapi obat-obatan
b. TB miliaris
c. Dermatitis
d. Gangguan GI
e. Hiperurisemia
f. Neuritis optika
2.1.7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kultur Sputum : Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap
aktif penyakit
2) Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan
cairan darah) : Positif untuk basil asam-cepat.
3) Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer) : Reaksi positif (area indurasi 10
mm atau lebih besar, terjadi 48-72 jam setelah injeksi intradcrmal
antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak
secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien
yang secara klinik sakit berani bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan
atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
4) Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster; urine dan
cairan serebrospinal, biopsi kulit): Positif untuk Mycobacterium
tuberculosis.
5) Biopsi jarum pada jaringan paru: Positif untuk granuloma TB; adanya
sel raksasa menunjukkan nekrosis.
6) Elektrolit : Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya
infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air
dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
7) Pemeriksaan fungsi paru : Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio
udara residu dan kapasitas paru total, dan penurunan saturasi oksigen
11
sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru
dan penyakit pleural (Tuberkulosis paru kronis luas).
b. Pemeriksaan Radiologis
1) Foto thorak: Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas,
simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau effusi cairan. Perubahan
menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk rongga, area fibrosa.
2.1.8. Penatalaksanaan Medis
Tuberkulosis paru terutama diobati dengan agens kemoterapi selama
periode 6-12 bulan. 5 medikasi garis depan digunakan: isoniasid (INH),
rifampin (RIF), Streptomisin (SM), etambutol (EMB), dan Pirasinamid (PZA).
Pengobatan yang direkomendasikan bagi kasus tuberkulosis paru
yang baru didiagnosa adalah regimen pengobatan beragam, terutama INH,
RIF, PZA selama 4 bulan, dengan INH dan RIF dilanjutkan untuk tambahan
2 bulan (totalnya 6 bulan).
12
2.2. Menajemen Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
2.2.1. Pengkajian
a) Identitas klien: selain nama klien, asal kota dan daerah, jumlah
keluarga.
b) Keluhan: penyebab klien sampai dibawa ke rumah sakit.
c) Riwayat penyakit sekarang:
d) Tanda dan gejala klinis TB serta terdapat benjolan/bisul pada tempat-
tempat kelenjar seperti: leher, inguinal, axilla dan sub mandibula.
e) Riwayat penyakit dahulu
f) Riwayat sosial ekonomi dan lingkungan.
1) Riwayat keluarga.
Biasanya keluarga ada yang mempunyai penyakit yang sama.
2) Aspek psikososial.
Merasa dikucilkan dan tidak dapat berkomunikasi dengan bebas, menarik
diri.
3) Biasanya pada keluarga yang kurang mampu.
Masalah berhubungan dengan kondisi ekonomi, untuk sembuh
perlu waktu yang lama dan biaya yang [Link] bersemangat dan
putus harapan.
4) Lingkungan
Lingkungan kurang sehat (polusi, limbah), pemukiman yang padat,
ventilasi rumah yang kurang sehingga pertukaran udara kurang, daerah di
dalam rumah lembab, tidak cukup sinar matahari, jumlah anggota keluarga
yang banyak.
g) Pola fungsi kesehatan.
1) Pola persepsi sehat dan penatalaksanaan kesehatan.
Kurang menerapkan PHBS yang baik, rumah kumuh, jumlah anggota
keluarga banyak, lingkungan dalam rumah lembab, jendela jarang dibuka
sehingga sinar matahari tidak dapat masuk, ventilasi minim menybabkan
pertukaran udara kurang, sejak kecil anggita keluarga tidak dibiasakan
imunisasi.
13
2) Pola nutrisi - metabolik.
Anoreksia, mual, tidak enak diperut, BB turun, turgor kulit jelek, kulit
kering dan kehilangan lemak sub kutan, sulit dan sakit menelan.
3) Pola eliminasi
Perubahan karakteristik feses dan urine, nyeri tekan pada kuadran kanan
atas dan hepatomegali, nyeri tekan pada kuadran kiri atas dan
splenomegali.
4) Pola aktifitas – latihan
Pola aktivitas pada pasien TB Paru mengalami penurunan karena sesak
nafas, mudah lelah, tachicardia, jika melakukan aktifitas berat
timbul sesak nafas (nafas pendek).
5) Pola tidur dan istirahat
sulit tidur, frekwensi tidur berkurang dari biasanya, sering berkeringat
pada malam hari.
6) Pola kognitif – perceptual
Kadang terdapat nyeri tekan pada nodul limfa, nyeri tulang umum,
sedangkan dalam hal daya panca indera (perciuman, perabaan, rasa,
penglihatan dan pendengaran) jarang ditemukan adanya gangguan.
7) Pola persepsi diri
Pasien tidak percaya diri, pasif, kadang pemarah, selain itu Ketakutan dan
kecemasan akan muncul pada penderita TB paru dikarenakan kurangnya
pengetahuan tentang pernyakitnya yang akhirnya membuat kondisi
penderita menjadi perasaan tak berbedanya dan tak ada harapan
8) Pola peran – hubungan
Penderita dengan TB paru akan mengalami gangguan dalam hal
hubungan dan peran yang dikarenakan adanya isolasi untuk menghindari
penularan terhadap anggota keluarga yang lain.
9) Pola reproduksi dan seksual
Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah
karena kelemahan dan nyeri dada.
10) Pola penanggulangan stress
14
Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan
stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap
pengobatan.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya
aktifitas ibadah klien.
h) Pemeriksaan fisik
i) Berdasarkan sistem – sistem tubuh
1) Sistem integument
Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun
2) Sistem pernapasan
3) Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai
- inspeksi : adanya tanda – tanda penarikan paru, diafragma,
pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah.
- Palpasi : Fremitus suara meningkat.
- Perkusi : Suara ketok redup.
- Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah,
kasar dan yang nyaring.
4) Sistem pengindraan
Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan
5) Sistem kordiovaskuler
Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 syang mengeras.
6) Sistem gastrointestinal
Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun.
7) Sistem musculoskeletal
Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan
keadaan sehari – hari yang kurang meyenangkan.
8) Sistem neurologis
Kesadaran penderita yaitu komposments dengan GCS : 456
9) Sistem genetalia
Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia
15
2.2.2. Diagnosa Keperawatan
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas
b. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan hipersekresi jalan
napas
c. Nyeri akut berhubungan dengan proses inflamasi
d. Hipertermi berhubungan dengan konsentas plasma darah
e. Gangguan eliminasi berhubungan dengan penyebaran infeksi
f. Defisit nutrisi berhubungan dengan kurangnya asupan makanan
g. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan bakteri menginfeksi tulang
belakang
16
2.2.3. Intervensi
Diagnosa Keperawatan Tujuan ( Kriteria Hasil ) Intervensi
1. Tekanan ekspirasi meningkat Manajemen Jalan Nafas (I. 01011)
1. Pola Napas Tidak
2. Tekanan inspirasi meningkat Observasi
Efektif berhubungan
3. Dispnea menurun 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
dengan hambatan
4. Penggunaan otot bantu pernapasan 2. Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, weezing, ronkhi kering)
upaya nafas
menurun 3. Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)
Terapeutik
5. Frekuensi napas membaik
1. Posisikan semi-Fowler atau Fowler
6. Kedalaman napas membaik
2. Berikan minum hangat
3. Lakukan fisioterapi dada
4. Berikan oksigen
Edukasi
1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi.
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.
1. Frekuensi nadi meningkat Pemantauan respirasi (I.01014)
2. Bersihan Jalan Napas
17
2. Saturasi oksigen meningkat Observasi :
berhubungan dengan
1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas
hipersekresi jalan 3. Kekuatan tubuh bagian atas
2. Monitor pola napas
napas meningkat
3. Monitor kemampuan batuk efektif
4. Warna kulit membaik 4. Monitor adanya produksi sputum
5. Frekuensi napas membaik 5. Monitor adanya sumbatan jalan napas
Terapeutik :
1. Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi klien
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian ekspektoran
1. Porsi makan yang dihabiskan Menajemen nutrisi (I.03119)
3. Defisit Nutrisi
meningkat Observasi :
berhubungan dengan
1. Identifikasi status nutrisi
kurangnya asupan 2. Berat badan meningkat
2. Identifikasi alergi dan intoleransi makanan
makanan
3. Frekuensi makan bertambah 3. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
18
4. IMT meningkat 4. Identifikasi perlunya pengguaan selang nasogastric
5. Monitor asupan makanan
5. Nafsu makan bertambah
6. Monitor berat badan
Terapeutik :
1. Sajikan makanan secara menarik dan suhu yang sesuai
2. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
3. Berikan suplemen makanan, jika perlu
4. Hentikan pemberian makanan melalui selang nasogastric jika asupan oral dapat
ditoleransi
Edukasi :
1. Ajarkan diet yang diprogram
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang
dibutuhkan.
19
2.2.4. Implementasi
Pada proses keperawatan, implementasi adalah fase ketika perawat
mengimplementasikan intervensi keperawatan. Berdasarkan terminologi NIC,
implementasi terdiri atas melakukan dan mendokumentasikan tindakan yang
merupakan tindakan keperawatan yang khusus yang diperlukan untuk
melaksanakan intervensi (atau program keperawatan). Perawat melaksanakan atau
mendelegasikan tindakan keperawatan untuk intervensi yang disusun dalam tahap
perencanaan dan kemudian mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat
tindakan keperawatan dan respons klien terhadap tindakan tersebut (Kozier et
al.,2013).
2.2.5. Evaluasi
Evaluasi adalah aktivitas yang direncanakan, berkelanjutan, dan terarah
ketika klien dan profesional kesehatan menentukan kemajuan klien menuju
pencapaian tujuan/hasil, dan keefektifan rencana asuhan keperawatan. (Kozier et
al., 2013).
Tujuan evaluasi adalah untusk menilai pencapaian tujuan pada rencana
keperawatan yang telah ditetapkan, mengidentifikasi variabel-variabel yang akan
mempengaruhi pencapaian tujuan, dan mengambil keputusan apakah rencana
keperawatan diteruskan, modifikasi atau dihentikan (Manurung, 2014).
20
DAFTAR PUSTAKA
Kapita Selekta Penyakit Nurse’s Quick Check. edisi 2, alih bahasa Dwi Widiarti,
2011. Jakarta : EGC
Smeltzer, S.C., 2013. “Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth, edisi
12”. Jakarta : EGC,
Somantri, Irman, 2008. “Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan
Sistem Pernapasan.” Jakarta: Salemba Medika.
Wilkinson Judith M, Ahern Nancy R, 2011. “ Buku Saku Diagnosis Keperawatan,
NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.” Jakarta : EGC
Andarmoyo, Sulistyo. (2012). Kebutuhan Dasar Manusia (Oksigenasi).
Yogyakarta :
Graha Ilmu
Bulechek, Gloria M, dkk. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC).
Indonesia : Elsevier
Chandra, Budiman. (2013). Kontrol Penyakit Menular pada Manusia. Jakarta :
EGC Fitriana, Mutiara Ayu Rahma, dkk. (2013). Gambaran Perilaku
Pencegahan Penularan
TB Paru pada Penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Mayong II
Kabupaten Jepara (online), [Link]
Herdman, T. Heather & Shigemi Kamitsuru. (2016). Diagnosis Keperawatan
Definisi & Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta : EGC
PPNI (2018).Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : [Link].
PPNI.(2016).Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta : [Link].
21