0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Strategi Rehabilitasi Pascabencana Maros

Dokumen ini membahas rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Maros yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat. Proses penyusunan rencana didasarkan pada pengkajian kebutuhan pascabencana dan harus terintegrasi dengan program pembangunan yang ada. Kebijakan dan strategi yang diusulkan mencakup pencegahan, mitigasi, pemulihan ekonomi, serta penguatan tata kelola untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas pemulihan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan15 halaman

Strategi Rehabilitasi Pascabencana Maros

Dokumen ini membahas rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Maros yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat. Proses penyusunan rencana didasarkan pada pengkajian kebutuhan pascabencana dan harus terintegrasi dengan program pembangunan yang ada. Kebijakan dan strategi yang diusulkan mencakup pencegahan, mitigasi, pemulihan ekonomi, serta penguatan tata kelola untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas pemulihan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 3: PRINSIP, KEBIJAKAN DAN STRATEGI

REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASCA


BENCANA
Penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir dan
Tanah Longsor di Kabupaten Maros dikoorainasikan oleh Pemerintan Kabupaten
Maros melalui Bappeda dan BPBD Kabupaten Maros dengan melibatkan partisipasi
aktif SKPD terkait dan dengan difasilitasi oleh BNPB. Proses penyusunan rencana
rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana didasarkan pada hasil Pengkajian
Kebutuhan Pascabencana (Jitu Pasna) yang dipadukan dengan kebijakan dan
kemampuan pembiayaan dari pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan
sumber dana lainnya yang sah.

Jitupasna dilakukan melalui penilaian kerusakan dan kerugian serta kajian


kebutuhan akibat banjir dan tanah longsor di Kabupaten Maros dengan pendekatan
sektoral menggunakan metodologi survei, pengkajian dan pembahasan oleh tim
terpadu. Hasil Jitu Pasna dipadukan dengan kebijakan dan strategi pembangunan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Kabupaten Maros dan Pemerintah Provinsi Sulawesi
Selatan yang merupakan daerah terdampak serta penyediaan anggaran dari berbagai
pihak yang berkomitmen untuk membiayai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi
pascabencana.

Pemulihan suatu wilayah pascabencana merupakan tanggung jawab pemerintah


daerah terdampak bersama-sama dengan pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
Maka rencana pemulihan yang memuat kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi
pascabencana wilayah dan kehidupan masyarakat yang terdampak bencana harus
diintegrasikan dengan program dan kegiatan permbangunan yang sudah ditetapkan
oleh pemerintah daerah.

Penyediaan dana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dilakukan denqan


menghimpun potensi-potensi sumber pendanaan yang tersedia, seperti APBD
Kabupaten Maros dan APBD Provinsi Sulses, APBN dan DIPA Kementerian/Lembaga
yang lainnya sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta program dan kegiatannya,
sekaligus dana yang bersumber dari dunia usaha dan organisasi pembangunan
multilateral. Beberapa pokok pikiran yang perlu ditindaklaniuti pascabencana banjir di
Kabupaten Maros:
1. Masyarakat Kabupaten Maros perlu mendapatkan informasi yang benar, dapat
dipertanggungjawabkan dan akurat secara periodik;
2. Masyarakat yang menjadi korban bencana membutuhkan perbaikan rumah tangguh
bencana dan perbaikan infrastruktur publik dengan segera;
3. Pemerintah Kabupaten dan BNPB bersama dengan Kementerian/Lembaga,
menugaskan tim pengkajian kebutuhan pascabencana sehingga hasilnya dapat
menjadi dasar dalam penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi
pascabencana;
4. Identifikasi dan inventarisasi dukungan oleh Pemerintah Kabupaten Maros,
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Kementerian/Lembaga;
5. Mempercepat upaya pemulihan penghidupan masyarakat di daerah terdampak
bencana dengan sumber pembiayaan berasal dari APBD, BNPB dan
Kementerian/Lembaga sesuai tugas pokok dan fungsi serta kewenangannya;
6. Dalam upaya pengurangan risiko bencana perlu dioptimalkan upaya pencegahan
dan mitigasi pada kawasan rawan bencana baik berupa mitigasi struktural maupun
non struktural. Seperti diketahui, mitigasi strukural merupakan upaya untuk
meminimalkan bencana yang dilakukan melalui pembangunan berbagai prasaranan
fisik dan menggunakan penekatan teknologi. Sementara, mitigasi nonstruktural
adalah upaya mengurangi dampak bencana melalui pembuatan kebijakan seperti
pembuatan suatu peraturan, peningkatan kapasitas masyarakat atau aktivitas
lainnya. Untuk itu mitigasi non struktural juga bisa dilakukan dengan
mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal yang hidup dalam masyarakat yang
dipercaya sarat dengan ajaran-ajaran bijak yang berorientasi pada mitigasi bencana.
7. Untuk mengurangi resiko bencana dimasa yang akan datang, perlu dilakukan
relokasi terhadap penduduk yang tinggal di daerah rawan bencana.

Untuk melaksanakan pemulihan pascabencana yang efektif dan berkelanjutan,


kerangka kerja rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Kabupaten Maros
berdasar pada kerangka kerja Global Sendai Framework for Disaster Risk Reduction
(SFDRR). Keempat prioritas aksi dalam SFDRR adalah:
1. Memahami risiko bencana;
2. Memperkuat tata kelola risiko bencana dan manajemen risiko bencana;
3. lnvestasi dalam pengurangan risiko bencana untuk ketangguhan;
4. Meningkatkan kesiapsiagaan bencana untuk respon yang efektif dan untuk
“membangun kembali dengan lebih baik" dalam pemulihan, rehabilitasi dan
rekonstruksi

Kerangka kerja rencana rehabilitasi dan rekonstruksi diilustrasikan pada Gambar di


bawah ini. Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi harus dilakukan secara
terencana dan mengedepankan prinsip membangun kembali dengan lebih baik dan
lebih aman dan berpusat pada masyarakat (people-centered build back better and
safer)

Gambar 14. Kerangka kerja rehabilitasi dan rekonstruksi

A. Prinsip Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana

Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana pada prinsipnya merupakan


upaya mengembalikan kondisi kehidupan masyarakat dan lingkungan hidup yang
terkena bencana pada situasi yang lebih baik daripada sebelumnya. Perencanaan
kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana berpedoman pada:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2009 tentang Keuangan Negara;
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
4. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
6. Undanq-Undanq Nomor 23 Tahun 2014 tentanq Pemerintah Daerah;
7. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (Convention On
The Elimination Of All Form Of Discrimination Againts Women) (Lembaran
Negara Tahun 1984 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3277);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentana Tata Cara Pengendalian
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan
Pengelolaan Bantuan Bencana;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008 tentang Peran Serta Lembaga
Internasional dan Lembaga Asing Nonpemerintah dalam Penanggulangan
Bencana;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN);
14. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Nomor 6 Tahun 2009 tentang Penyelenggraan Data Gender dan Anak (Berita
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 254 );
15. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum
Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah (Berita Negara Republik
Indonesia Tahun 2011 Nomor 927);
16. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 13 Tahun
2014 tentang Pengarusutamaan Gender di bidang Penanggulangan Bencana
(Berita Neaara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 1604);
17. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 15 Tahun
2011 tentang Pedoman Pengkajian Kebutuhan Pascabencana;

Adapun prinsip dasar penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana


sebagaimana disebutkan dalam Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nomor 15 Tahun 2011 tentang peaoman pengkajian kebutuhan
pascabencana adalah:
1. Merupakan tanggungjawab Pemerintah Daerah dan Pemerintah;
2. Mengedepankan keadilan dan kesetaraan jender serta mendahulukan
kepentingan kelompok rentan seperti lansia, perempuan, anak, remaja dan
penyandang disabilitas;
3. Membangun menjadi lebih baik (build back better) yang terpadu dengan konsep
pengurangan risiko bencana dalam bentuk pengalokasian dana minimal 10% dari
dana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana;
4. Mengoptimalkan seluruh sumberdaya daerah yakni; Sumber Daya Alam,
Sumber Daya Manusia, Kearifan Lokal, Lembaga Non Pemerintah dan sektor
swasta;
5. Mengarah pada pencapaian kemandirian masyarakat, keberlanjutan program
dan kegiatan, kelestarian serta perwujudan tatakelola pemerintahan yang baik;

B. Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana


Berdasarkan karakteristik hasil dan dampak sosialnya. maka pokok-pokok kebiiakan
rehabilitasi danrekonstruksi pasca bencana banjir di Kabupaten Maros meliputi:
1. Aspek Kebijakan Pencegahan dan Mitigasi
a. Peningkatan peran Penataan Ruang dalam pelaksanaan Pembangunan
Daerah dimulai dari pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana dalam
Perencanaan Tata Ruang meningkatkan konsistensi pelaksanaan
pemanfaatan ruang dan pengendaliannya;
b. Meningkatkan upaya pencegahan dan mitigasi struktural untuk penanganan
bencana banjir dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana;
c. Meningkatkan upaya pencegahan dan mitigasi non struktural untuk
penanganan bencana dengan membangun kesadaran tentang pengurangan
risiko bencana dan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui penguatan
nilai-nilai kearifan lokal yang berorientasi pada pergurangan risiko bencana.
d. Mengembangkan solusi alternatif mata pencaharian baqi penduduk yang
tinggal di zona rawan bencana tinggi, terlarang dan terbatas.

2. Aspek Kebiiakan Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Pemulihan Ekonomi


a. Melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana secara
bertahap terhadap lingkungan permukiman dan prasarana lingkungan
pendukungnya, infrastrutur Publik dan Pemerintanan yang rusak akibat
bencana banjir, khususnva dengan memperhatikan standar teknis oerbaikan
lingkungan permukiman pada daerah rawan bencana dengan prinsip build
back better and safer dan yang berperspektif keadilan gender;
b. Mengupayakan dengan segera pemulihan kegiatan ekonomi masyarakat baik
pada sektor pertanian, usaha mikro kecil dan menengah dan Industri Kecl dan
Menengah;
c. Melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana secara
bertahap terhadap permukiman penduduk terdampak dengan tetap
mempertimbangkan upaya pengurangan risiko bencana di Kabupaten Maros.

3. Aspek Kebiiakan Umum


a. Dilaksanaan dengan pendatan tata kelola pemerintanan yang baik seningga
menjamin adanya keterbukaan (transparansi) dalam proses dan
pertanggungjawaban yang akuntabel, efisien, efektif, dan sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku, serta pengawasan yang kuat;
b. Meningkatan koordinasi yang efektif antar pelaksana kegiatan dan
mengedepankan aspirasi masyarakat korban bencana;
c. Dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Maros, Pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan dan Pemerintah Pusat sesuai dengan kewenangannya
yang harus diikuti dengan mekanisme pemantauan, evaluasi dan pelaporan
secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
dan
d. Dengan pertimbangan dampak kerusakan dan ketersediaan anggaran, maka
rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana akan meliputi periode
tahun anggaran 2025-2027, baik kegiatan Pencegahan dan Mitigasi maupu
kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Pemulihan Ekonomi.

C. Strategi
Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana merupakan tanggung
jawab bersama antara Pemerintah Kabupaten Maros, Pemerintah Provinsi Sulawesi
Selatan, dan Pemerintah Pusat melalui Kementerian/Lembaga terkait. Terkait
tanggung jawab tersebut, dalam menyusun rencana rehabilitasi dan rekonstruksi,
Pemerintah Kabupaten Maros telah membentuk Tim Penyusunan Rencana
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana.
Tim ini diketuai oleh Sekretaris Daerah, Kepala BAPPEDA, Kepala Pelaksana BPBD
yang bertanggungjawab kepada Bupati Maros dengan beranggotakan para Kepala
OPD terkait, yang didukung oleh sekretariat pendukung dan pendamping. Adapun
tugas-tugas tim R3P (Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana) di atas
adalah:
1. Menyusun Persiapan R3P;
2. Menyusun rancangan R3P;
3. Penyajan rancangan R3P;
4. Konsultasi dan konsolidasi R3P:
5. Finalisasi R3P; dan
6. Penetapan R3P.

Berdasarkan kerusakan yang telah disampaikan pada Bab 2, maka disusun strategi
rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana sebagai berikut:

1. Sektor Perumahan dan Permukiman


Strategi rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perumahan dan permukiman sebagai
berikut:
1) Membentuk Tim Pengelola dan Pelaksana perbaikan rumah pasca bencana
banjir dan longsor Kabupaten Maros yang melibatkan partisipasi perempuan
dan kelompok rentan lainnya. Tim dimaksud akan ditetapkan dengan Surat
Keputusan Bupati Maros, dengan tugas:
a. memberikan sosialisasi dan arahan kepada masyarakat yang terkena
dampak bencana di lokasi bencana;
b. menyusun rencana operasional dan program kerja kegiatan penanganan
rehabilitasi
c. melakukan verifikasi data pengungsi;
d. merehabilitasi pemukiman terdampak bencana banjir;
e. melaporkan hasil kegiatan Tim kepada Bupati melalui Sekretariat Daerah
Kabupaten Maros;

2) Menyusun Surat Keputusan Bupati Maros terkait korban terdampak yang


akan memperoleh program rehabilitasi pemukiman dengan pola
pemberdayaan masyarakat;
3) Mengidentifikasi data dan informasi secara lengkap dengan melakukan input
data yang dibutuhkan pada sistem informasi penanggulangan bencana -
siguna (data terlama hingga terbaru) dalam mendukung proses rehabilitasi
dan rekonstruksi perumahan dan permukiman:
a. Menyiapkan informasi dan data yang relevan tentang kondisi permukiman
dan perumahan pasca bencana khususnya terkait dengan data geologi
lingkungan wilayah;
b. Menggunakan data historis bencana sebagai acuan dalam mengestimasi
bencana dimasa depan;
4) Sosialisasi data korban terdampak sektor perumahan secara berjenjang mulai
dari tingkat Kecamatan, Desa/Kelurahan, RW dan RT, berdasarkan
peraturan dan ketentuan yang ada;
5) Membantu dan melaksanakan rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan:
a. Menetapkan jenis bantuan rumah dengan model tipikal untuk
meminimalisir terjadinya konflikk sosial;
b. Membantu korban yang ingin kembali ke tempat tinggal semula dalam
bentuk in-cash atau in-kind yang setara;
c. Membantu penyediaan perumahan, prasarana dan sarana dasar
pendukung bagi korban bencana yang mengingingkan pindah ke tempat
baru (relokasi);
d. Pembangunan rumah bantuan mengikuti standar teknis sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
e. Pembangunan rumah mengikuti standar teknis sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan dan memperhatikan masukan dari instansi/lembaga
terkait sekaligus aspirasi masyarakat korban bencana;
f. Penyusunan dokumen perencanaan teknis Detail Engineering Design
(DED) untuk pembangunan rumah bantuan yang dilakukan oleh
Kementerian PUPR;
g. Pemberian bantuan stimulan untuk pelaksanaan pemulihan sektor
permukiman berdasarkan hasil verifikasi penerima bantuan perumahan,
status kepemilikan lahan dan bangunan berdasarkan data dalam sistem
informasi penanggulangan bencana (Siguna) yang ditetapkan dalam surat
keputusan Bupati Maros tentang Penetapan rumah yang terdampak
dengan besaran stimulan ditetapkan berdasarkan tingkat kerusakan
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan disertai dengan
pendampingan, pemantauan dan evaluasi;
h. Bantuan diberikan melalui pola pemberdayaan masyarakat dengan
memperhatikan kearifan lokal, karakter, dan budaya masyarakat setempat
sesuai mekanisme yang telah ditetapkan;

6) Menetapan dan menerapkan pembangunan berbasis mitigasi risiko bencana


untuk kawasan permukiman, dengan melakukan;
a. Menetapkan lokasi rawan bencana banjir berdasarkan informasi risiko
bencana;
b. Membangun mitigasi struktural untuk kawasan permukiman seperti
drainase dan embung di kawasan permukiman;
c. Membangun mitigasi non-struktural berupa pembangunan desa tangguh
bencana dengan menggalang praktik budaya pengurangan risiko
bencana yang didukung serta diperkuat oleh para pemangku
kepentingan, baik akademisi, tokoh adat, praktisi maupun pemerintah;

7) Memantau penyaluran bantuan stimulan dana rumah dari pemberi dana (non
APBD), dari APBN maupun APBD Kabupaten Maros bagi pemilik rumah
dengan kategori rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan dengan Sistem
Informasi Penanggulangan Bencana (Siguna);
8) Melakukan penggalangan dana dan bantuan non pemerintah untuk
pembangunan rumah maupun bantuan stimulan perumahan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan;
9) Menyampaikan permohonan usulan kegiatan bantuan rehabilitasi dan
rekonstruksi pasca bencana sektor permukiman Kepada
Kementerian/Lemabaga dan BNPB sesual ketentuan yang berlaku.

2. Sektor Infrastruktur dan Pembangunan


Strategi pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sektor
infrastruktur meliputi:
1) Rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana sektor infrastruktur dilaksanakan
dalam rangka mendukung terselenggaranva pemulihan perekonomian
masvarakat;
2) Pembangunan kembali infrastruktur publik dengan memperhatikan
kebijakan sektor terkait dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota;
3) Mengidentifikasi data dan informasi yang akan digunakan dalam pelaksanaan
rehabiitasi dan rekonstruksi yang terinput pada sistem informasi
penanggulangan bencana (Siguna) melalui:
a. Menyediakan data dan informasi lengkap (data terlama hingga terbaru)
mengenai kondisi infrastruktur yang ada di wilayah terdampak pasca
bencana secara rinci dalam Siguna;
b. Menggunakan data historis bencana alam melihat potensi bencana
serta notensi kerusakan pada infrastruktur;
c. Melakukan analisis multi risiko bencana untuk infrastruktur yang akan
dibangun kembali.

4) Memulihkan fungsi dan membangun kembali infrastruktur dasar meliputi:


a. Pembangunan kembali sarana dan prasarana kebutuhan dasar yang
tahan terhadap bencana banjir serta bencana lain yang relevan;
b. Menetapkan prioritas utama pada pembangunan kembali infrastruktur air
minum sanitasi, drainase, dan persampahan terpadu.

5) Mengembangkan kembali sistem transportasi dan komunikasi meliputi:


a. Membuka akses dan jalur jalan utama untuk pengembangan wilayah;
b. Memprioritaskan pelaksanaan rehabilitasi prasarana terkait dengan akses
transportasi darat dan danau strategis beserta jaringan pendu
pendukungnya;
c. Merehabilitasi tasilitas telekomunikasi yang ada dan/ atau membangun
fasilitas baru yang tahan terhadap potensi bencana di masa depan;

6) Merehabilitasi dan merekontruksi infrastruktur pendukung ketersediaan


pangan meliputi:
a. Memprioritaskan rehabilitasi jaringan irigasi pada wilayah dimana petani
penggarapnya telah siap dan diutamakan pada wilayah-wilayah pusat
kegiatan ekonomi dan permukiman;
b. Membantu upaya perbaikan jaringan perikanan rakyat, khususnya pada
jaringan primer dan sekunder;
7) Memulihkan rasa aman bagi penduduk terkena bencana meliputi:
a. Meningkatkan persiapan fasilitas mendukung upaya penyelamatan
bencana;
b. Mengatasi masalah genangan melalui rehabilitasi dan pembangunan
saluran drairase utama atau perbaikan alur alam;
c. Merehabilitasi dan merekonstruksi drainase kawasan untuk mengurangi
potensi dampak negatif kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat;
d. Membangun sistem peringatan dini dan fasilitas penyelamatan melalui
pembangunan bukit penyelamatan dan jalur penyelamatan pada daerah
pemukiman kawasan rawan banjir;
e. Mengendalikan longsor dan banjir untuk wilayah yang rawan gerakan
tanah melalui kegiatan normalisasi sungai, perbaikan/ pembangunan
tanggul, dan perbaikan fasilitas pengendali banjir;

8) Menerapkan secara konsisten prinsip-prinsip investasi meliputi:


a. Melakukan studi kelayakan ekonomi, teknis, Iingkungan, sosial, budaya,
dan agama untuk setiap kegiatan peningkatkan dan pembangunan fasilitas
baru sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melakukan investasi;
b. Memperioritaskan optimalisasi prasarana dan sarana yang telah dibangun
sebelum menetapkan pembangunan fasilitas baru;
c. Menerapkan keterpaduan intermodal prasarana dan sarana dalam
menetapkan prioritas pelaksanaan kegiatan;
d. Keputusan jadwal pelaksanaan perlu selalu memperhatikan tingkat
kepentingan (urgency) dan tingkat kesiapan (readines);
e. Menerapkan metode pelaksanaan dan sistem logistik yang efisien.

9) Rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana infrastruktur mengacu pada


standar teknis terkait
10)Pembangunan pengendali banjir yang baru serta perawatan bangunan
pengendali secara berkesinambungan agar tetap berfungsi optimal;
11)Menyampaikan permohonan usulan kegiatan bantuan rehabilitasi dan
rekonstruksi pascabencana sektor infrastruktur kepada Kementerian/
Lembaga dan BNPB;
3. Sektor Ekonomi Produktif
Pada sektor ekonomi, strategi yang ditetapkan meliputi:
1) Pemulihan fasilitas pelayanan masyarakat yang mendukung kegiatan
ekonomi dengan melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana
prasarana fisik dan non-fisik di bidang ekonomi dengan mempertimbangkan
perekonomian Kabupaten Maros yang masih didominasi oleh sektor
Pertanian, Perdagangan, Konstruksi, dan Pemerintahan. Sektor dengan
pertumbuhan terpesat dalam 3 tahun di Kabupaten Maros adalah jasa
Keuangan Jasa Kesehatan dan Sosial dan Pengadaan Listrik dan gas;
2) Pemulihan pendapatan masyarakat korban bencana meliputi:
a. Penyediaan lapangan kerja yang berkaitan dengan rehabilitasi dan
rekonstruksi yang sesuai dengan lokasi permukiman baru seperti: program
padat karya pada kegiatan pemulihan pasca bencana dengan memastikan
keterlibatan dan partisipasi perempuan dalam program tersebut;
b. Memberikan pelatihan berbagai keahlian kerja kepada masyarakat yang
kehilangan pekerjaan melalui pelatihan vokasi, kewirausahaan, dan mobile
training unit (MTU) atau program pelatihan kerja yang dilaksanakan di
lingkungan tempat tinggal warga;
c. Pemberian bantuan kepada masyarakat korban bencana dengan
memberikan prioritas dan mempertimbangkan kebutuhan khusus kepada
kelompok-kelompok paling rentan seperti; perempuan kepala keluarga,
remaja, laki-laki kepala keluarga yang memiliki balita, anak-anak dan
penyandang disabilitas, dalam bentuk bantuan jangka menengah dan
jangka panjang meliputi:
(a) Bantuan langsung melalui pendekatan berbasis masyarakat;
(b) Hibah langsung;
(c) Bantuan tanah untuk usaha atau perumahan; dan
(d) Bantuan stimulan untuk pemulihan ekonomi masyarakat. Bantuan
tersebut diatas berorientasi pada kehidupan masyarakat yang sehat
perekonomiannya dan berkesinambungan;

3) Peningkatan dukungan kepada masyarakat korban bencana meliputi:


a. Menyediakan bantuan kredit berupa pemulihan kredit dan peringanan
beban kredit dan pemberian layanan bantuan teknis;
b. Mengoptimalkan pemanfaatan dana desa untuk padat karya tunai;
c. Penguatan koperasi, UMKM dan IKM melalui penyuluhan, bimbingan
teknis, pendampingan dan bantuan stimulan modal usaha;
d. Menyediakan pendampingan kepada komunitas.
4) Pembentukan kelompok usaha kecil menengah berbadan hukum di lokasi
relokasi untuk pemenuhan penyaluran bantuan sektor ekonomi;
5) Menyampaikan permohonan usulan kegiatan bantuan rehabilitasi dan
rekonstruksi pascabencana sektor ekonomi kepada Kementerian/Lembaga
dan BNPB sesuai ketentuan yang berlaku.

4. Sektor Sosial dan Budaya


Strategi yang ditetapkan untuk mencapai sasaran penyelenggaraan pelayanan
pendidikan, kesehatan peribadahan dan lembaga sosial dalam rehabilitasi dan
rekonstruksi pascabencana di sektor sosial meliputi:
1) Penulihan fasilitas keagamaan dan perlindungan masyarakat melalui
pendataan korban sehingga diketahui jumlah kebutuhan dasar, memberi
bantuan tempat perlindungan sementara dan fasilitas dasar dan memberikan
bantuan dan jaminan bagi masyarakat rentan meliputi:
a. Perempuan termasuk Perempuan Kepala Keluarga, lbu hamil;
b. Anak-anak
c. Remaja
d. Lansia; dan
e. Penyandang disabilitas;

2) Meningkatkan perlindungan korban kekerasan berbasis gender melalui


kegiatan:
a. Pencegahan, dilakukan dengan peningkatan penyadaran kepada seluruh
masyarakat melalui sosialisasi intensif tentang pentingnya keadilan
jender;
b. Penanganan kekerasan berbasis jender di wilayah pemukiman, dilakukan
dengan respon cepat melalui penyediaan unit-unit layanan pengadaan,
layanan kesehatan, layanan penegakan dan bantuan hukum serta layanan
rehabilitasi dan reintegrasi sosial (termasuk konseling, bimbingan rohani,
rumah aman, pemberdavaan ekonomi dan atau pengasuhan alternatif
untuk anak korban);

3) Kegiatan pemberdayaan perempuan dengan memastikan keterlibatan


perempuan dan kelompok rentan dalam proses pengambilan kebijakan
disemua tingkatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta monitoring
dan evaluasi pembangunan rehabilitasi dan rekonstruksi;
4) Pemulihan layanan pendidikan melalui rehabilitasi sarana dan prasarana
pendidikan milik pemerintah (misalnya fasilitas PAUD, TK, SD, SMP, dan
SMU) mengoptimalkan fungsi fasilitas pendidikan, menyelenggarakan
pendidikan darurat, pemberian bantuan peralatan sekolah,
menyelenggarakan pendidikan bencana pada seluruh golongan usia, dan
inisiasi sekolah siaga bencana;
5) Pemulihan sarana dan prasarana peribadahan (rehabilitasi masjid dan
gereja);
6) Pemulihan pelayanan lembaga sosial (panti) dengan merehabilitasi sarana
dan prasarana panti;
7) Pelestarian warisan budaya meliputi membangun kembali bukti sejarah
masyarakat melalui puing-puing barang pasca bencana, mengoptimalkan
fungsi komunitas dalam menjaga adat tradisi dan kegiatan seni lokal;
8) Menyampaikan permohonan usulan kegiatan bantuan rehabilitasi dan
rekonstruksi pascabencana sektor sosial kepada Kementerian/Lembaga dan
BNPB sesuai sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Lintas Sektor
Strategi untuk mencapai sasaran penyelenggaraan pelayanan lintas sektor
meliputi:
1) Penerapan sistem informasi penanggulangan bencana (Siguna) dengan
mengadopsi dari recovery Aceh-Nias Database) dengan server yang telah
terintegrasi di Bappenas, RAND adalah system untuk mengumpulkan,
input, monitor, analisa dan menampilkan informasi proyek rehabilitasi dan
rekonstruksi dari donor yang digunakan oleh pelaksana Bappenas, Bappeda,
media mahasiswa dan publik melalui internet di [Link]
RAND ini pertujuan untuk mendukung kegiatan Pemantauan, Evaluasi dan
Pelaporan Kegiatan Kemajuan Proyek dan Rencana Awal dan Proyek Donor
di wilayah pasca bencana (baik yang bersumber dari dana On Budget dan
maupun Off Budget} Termasuk dalam memantau kegatan proyek
APBN/APBD dalam rangka meningkatkan dan mendukung UU No 045/2008
tentang Transparansi lnformasi Publik. Kemanfaatan Siguna bagi pemerintah
Kabupaten Maros adalah sebagai alat untuk pengawasan dan koordinasi
kegiatan donor yang punya perhatian besar pada proyek rehabilitasi dan
rekonstruksi dalam periode rencana aksi. Disamping bermanfaat sebagai
sumber data tambahan dalam perencenaan dan info tentang dana off
budgeting yang tersedia dan memberikan informasi yang transparan untuk
proyek rencana rehabilitasi rekonstruksi (on-buget). Memudahkah pemerintah
dalam mendapatkan sumber data yangmudah diakses dalam penyusunan
laporan kemajuan proyek Rencana Aksi dan kegiatan donor secara regular
kepada Bupati dan stakeholders yang berweanang.

Anda mungkin juga menyukai