0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Pranikah dalam Perspektif Islam

Makalah ini membahas tentang pranikah dalam perspektif Islam, termasuk tujuan, syarat, dan akibat hukum dari perjanjian pra nikah. Perjanjian ini dianggap mubah dan bertujuan untuk melindungi hak-hak pasangan serta mencegah perceraian. Pelanggaran terhadap perjanjian pra nikah dapat mengakibatkan pembatalan nikah dan hak bagi istri untuk mengajukan perceraian.

Diunggah oleh

Disya latifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Pranikah dalam Perspektif Islam

Makalah ini membahas tentang pranikah dalam perspektif Islam, termasuk tujuan, syarat, dan akibat hukum dari perjanjian pra nikah. Perjanjian ini dianggap mubah dan bertujuan untuk melindungi hak-hak pasangan serta mencegah perceraian. Pelanggaran terhadap perjanjian pra nikah dapat mengakibatkan pembatalan nikah dan hak bagi istri untuk mengajukan perceraian.

Diunggah oleh

Disya latifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRANIKAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Mata Kuliah: Agama Islam


Dosen Pengampu:
M. Agus Sayuti, Lc. MA

Disusun oleh:

Kelompok 7
Nadila Putri Aura
Nadya Nur Afiza
Nur Ainun Amri

FAKULTAS FARMASI DAN KESEHATAN


PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kami
panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah kepada kami
sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “PRANIKAH DALAM
PERSPEKTIF ISLAM”

Makalah ini kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai pihak
sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari segala hal tersebut, Kami sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya kami dengan lapang
dada menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat maupun
inspirasi untuk pembaca.

Medan, 28 september 2022

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3
BAB I: Pendahuluan 4
A. Latar Belakang 4
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan 5
BAB II: Pembahasan 6
A. Pra Nikah Dalam Perspektif Islam 6
B. Tujuan Pra Nikah 7
C. Syarat-Syarat Perjanjian Pra Nikah 8
D. Akibat Hukum Bagi Pihak yang Melakukan Wanprestasi Perjanjian Pra Nikah 9

BAB III: Penutup 10


A. Kesimpulan 10
B. Saran 10
Daftar Pustaka 11

3
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Perkawinan adalah ikatan antara pria dan Wanita dalam suatu rumah tangga. Melalui
perkawinan dua insan yang berbeda disatukan, dengan segala kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Berdasarkan Undang-Undang perkawinan pasal 1 Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa perkawinan adalah hubungan lahir batin
antara suami dan istri yang bertujuan untuk membentuk keluarga Bahagia kekal berdasarkan
keyakinan dan kepercayaan. Melihat pengertian perkawinan tersebut terdapat tiga hal pokok,
yakni: “Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang Wanita
sebagai suami istri. Ikatan lahir batin itu ditunjukkan untuk membentuk keluarga yang kekal
dan sejahtera. Ikatan lahir batin tersebut berdasarkan pada ketuhanan yang maha esa.”.1
Lalu dilengkapi dengan pasal 2 Kompilasi Hukum Inpres Nomor 1 Tahun 19991 yang juga
mengatur mengenai pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau mitsaqun ghalidzan untuk
menaati perintah allah dan melaksanakannya adalah merupakan ibadah.

Setiap makhluk hidup memiliki hak asasi untuk melanjutkan keturunannya melalui
perkawinan. Tujuan umum dari perkawinan itu sendiri yakni, “memperoleh ketenangan hidup
(Sakinah), yang penuh cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Sebagai tujuan dan pokok
utama, tujuan reproduksi atau regenerasi, pemenuhan kebutuhan biologis, menjaga kehormatan
dan ibadah. Semua tujuan perkawinan tersebut adalah yang menyatu dan terpadu. Artinya,
semua tujuan tersebut harus diletakkan menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan”2

1
Dadan Muttaqien, 2006, Cakap Hukum, Bidang Perkawinan dan Perjanjian, Penerbit Insania Cita Press,
Yogyakarta, hal. 59

2
Khoiruddin Nasution, 2004, Islam Tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum perkawinan 1), penerbit Academia
dan Tazzafa, Yogyakarta, hal 47

4
Rumusan Masalah

Bagaimana pranikah dalam perspektif agama islam?

Apa saja tujuan dari perjanjian pra nikah?

Apa saja syarat yang diperlukan untuk melakukan perjanjian pra nikah?

Bagaimana akibat hukum bagi pihak yang melakukan perjanjian pra nikah?

Tujuan

Mengetahui pranikah dalam perspektif agama islam.

Mengetahui apa saja tujuan dari perjanjian pra nikah.

Mengetahui apa saja syarat yang diperlukan untuk melakukan perjanjian pra nikah.

Mengetahui bagaimana akibat hukum bagi pihak yang melakukan perjanjian pra nikah.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pra nikah Dalam Perspektif Islam

Pekawinan yang sah menurut hukum islam dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama
islam dan sesuai dengan ketentuan di dalam al quran dan sunnah rasul. Dalam pasal 3 kompilasi
hukum islam bahwa pada dasarnya perkawinan bertujuan mewujudkan kehidupan rumah
tangga yang Sakinah,mawaddah dan warahmah,.tujuan perkawinan yang pada umumnya
adalah menaati perintah Allah [Link] memperoleh keturunan yang sah dan membangun
rumah tangga yang Bahagia,damai dan teratur.

perjanjian pra nikah adalah persetujuan antara calon suami atau istri mengatur akibat
perkawinan terhadap harta kekayaan mereka, yang menyimpang dari persatuan harta kekayaan.
Perjanjian pra nikah dapat difungsikan sebagai persiapan untuk sebagai persiapan untuk
memasuki bahtera rumah tangga, karena tidak selamanya perkawinan berjalan seperti yang
diharapkan yaitu terwujudnya kehidupan keluarga yang damai dan kekal dalam arti keluarga
sakinah, mawaddah dan waramah. Sebagai bentuk antisipasi dari kemungkinan gagalnya
perkawinan. Prosuder pelaksaan perjanjian pra nikah menurut hukum islam dilaksanakan di
kantor urusan agama masing-masing wilayah.

“membuat perjanjian dalam perkawinan hukumnya mubah,artinya boleh seseorang


untuk membuat perjanjian dan boleh pula tidak membuat.’’3. Hukum islam memandang bahwa
perjanjian pra nikah patut dilakukan apabila dikhawatirkan suatu saat nanti akan timbul
perceraiaan maka hukum islam mengantisipasinya dengan memperbolehkan membuat
perjanjian pra nikah sebelum perkawinan dilangsungkan seperti yang diungkapkan abdul
manan di bawah ini: “perjanjian ini dapat berupa penggabungan harta milik pribadi masing-
masing menjadi harta Bersama dan dapat pula ditetapkan tentang penggabungan hasil dan
begitupun sebaliknya”.4

3
Amir Syarifuddin, 2007, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang
Perkawinan, Kencana, Jakarta, hal. 148.

4
Abdul Manan, 1995, Masalah Ta’lik Talak Dalam Hukum Perkawinan di Indonesia, Dalam Jurnal Hukum No.
23 Tahun VI, Alhikmah, Jakarta, hal. 103.

6
B. Tujuan Pra Nikah
Tujuan dari pernikahan untuk menjamin kondisi finansial setelah pernikahan apalagi
bagi salah satu pihak yang tidak [Link],pihak lainnya bisa di wajibkan untuk membayar
kebutuhan anak dimasa depan meskipun sudah bercerai atau antara lain :

• Mengetahui kondisi keuangan pasangan.

Harus melakukan keterbukaan terlebih dahulu sebelum melaksanakan pernikahan kita


harus tau mulai dari harta yang dimiliki, kewajiban hutang yang dimiliki, cicilan, dan lain-lain
selain itu juga menghindari kepentingan -kepentingan tersembunyi dan pasamgan. contoh:
pasangan yang dimiliki hutang menumpuk atau mengincar harta gonorgini.

• melindungi kekayaan.

Ada pemisahan harta yang dimiliki masing -masing pihak sebelum pernikahan. Selain itu,
ada penentuan harta setelah berpisah baik karena cerai ataupun ditinggal mati.

• Mencegah terjadinya perceraian.

Setiap isi perjanjian pernikahan dibuat di atas dasar kecepatan Bersama yang isinya
mengikat keduanya dan konsekuensi yang diterima saat terjadi perceraian.

• Mudah menyatukan visi dan misi

Visi dan misi begitu penting dalam sebuah hubungan, sebab, dengan meyamakan visi dan
misi hubungan akan semakin terarah dan jelas arah tujuan.

• Menjamin kondisi finansial setelah pernikahan

Mulai dari harta yang didapatkan dalam pernikahan, apalagi bagi salah satu pihak yang
tidak bekerja.

Perjanjian pernikahan (prenuptial agrement) sendiri telah diatur dalam pasal 29 ayat (1)
UU1 / 19f4 JD putusan mk nomor 69/ PUU-XIII /2015.

7
C. Syarat-Syarat Perjanjian Pra Nikah

Al-Khathtabi menjelaskan bahwa “syarat-syarat dalam pernikahan berbeda-berbeda,


diantaranya ada yang wajib dipenuhi karena cara yang ma’ruf dan diantaranya ada yang tidak
perlu ditepati.”5

a. Syarat yang wajib dipenuhi

Syarat yang wajib dipenuhi adalah syarat yang langsung berkaitan dengan pelaksanaan
kewajiban suami istri dalam perkawinan, merupakan tuntutan dari perkawinan itu sendiri,
sesuai dengan maksud akad dan misi syariat. Artinya syarat- syarat yang diberikan termasuk
dalam rangkaian dan tujuan pernikahan, tidak mengurangi hal-hal yang menyalahi hukum allah
dan rasulnya. Misalmya, suami istri bergaul secara baik, istri mesti melayani kebutuhan seksual
suaminya dan istri harus mendidik anak yang lahir dari perkawinan tersebut.

b. Syarat yang tidak wajib dipenuhi

Syarat yang tidak wajib dipenuhi adalah syarat-syarat yang bertentangan dengan hakikat
perkawinan atau secara khusus dilarang untuk dilakukan atau memberimudharat kepada pihak-
pihak tertentu, bertentangan dengan maksud akad serta melanggar hukum allah dan syariatnya.
Misalnya suami tidak memberikan nafkah.

Langkah yang harus dilakukan sebelum membuat perjanjian pra nikah.

1. Lengkapi daftar kainginan Bersama pasangan.


2. Konsultasi dengan advokat terkait perjanjian tsb.
3. Libatkan notaris dalam pengesahan.
4. Bawa akta perjanjian pranikah ke kua atau kantor pencacatat sipil.
5. Kartu tanda penduduk (KTP) calon 2 mempelai.
6. Kartu keluarga (KK) kedua calon.
7. Foto copy acta perjanjian.
8. Kutipan akta perkawinan.

Sebelum melaksanakan pra nikah, pihak Wanita memberi syarat kepada laki-laki yang
meminangnya dan terkait dengan perjanjian pra nikah ini. Allah menganjurkan kita untuk
berpegang teguh kepadanya dan tidak membatalkan suatu janji begitu saja.

5
Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, 2008, Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari, Terjemahan
Amiruddin Jilid XXV, Pustaka Azzam, Jakarta, hal. 403.

8
Allah SWT berfirman :

Artinya : “ Dan tepatilah janji dengan allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu
melanggar sumpah, setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan allah sebagai saksimu
(terhadap sumpah itu). Sesungguhnya allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

[QS An-Nahl:91]

D. Akibat Hukum Bagi Pihak yang Melakukan Wanprestasi Perjanjian Pra Nikah

Dalam KUH perdata pasal 1304 disebut dengan ancaman hukum, tujuannya supaya
perjanjian tersebut dipenuhi. Pada pasal 51 Kompilasi Hukum Islam, pelanggaran perjanjian
pra nikah bisa dijadikan alasan bagi istri untuk meminta pembatalan nikah. Hal ini bisa
dikategorikan sebagai hukum bagi hukuman bagi suami apabila melanggar perjanjian pra
nikah. Hal ini bisa dikategorikan sebagai hukuman bagi suami apabila melanggar perjanjian
pra nikah, ancaman hukumnya adalah istri berhak mengajukan pembatalan nikah.

Terdapat tiga unsur mengenai pelaksanaan hukuma yang dapat diberikan :

1. Memberi jaminan untuk pelaksanaan perjanjian.

Pelanggaran perjanjian pra nikah bisa memberikan hak bagi istri untuk meminta
pembatalan pernikahan. Pada hakikatnya, hak bagi istri untuk meminta pembatalan nikah
karena ada sebab pelanggaran perjanjian pra nikah.

2. Harus ada wanprestasi untuk dapat berlakunya hukuman.

Hukuman untuk pihak suami berupa hak bagi istri untuk meminta pembatalan nikah hanya
dapat ditimpakan apabila terjadi wanprestasi (ketiadaan pelaksanaan janji). Unsur wanprestasi
harus ada terlebih dahulu sebelum pembatalan nikah diajukan.

3. Hukuman yang diancamkan tersebut harus yang tertentu atau pasti.

Ancaman hukuman terssebut sudah tersurat pasti. Yaitu istri berhak meminta pembatalan
nikah atau sebagai alasan perceraian. Tidak ada ketentuan substitusi atau alternatif, semisal
istri berhak mengajukan klaim material dan sebagainya.

9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ketentuan perjanjian pra nikah dalam hukum islam adalah mubah, artinya boleh seseorang
untuk membuat perjanjian dan boleh juga tidak. Dalam hukum agama khususnya islam yang
tidak boleh diperjanjikan adalah hal yang bertentangan dengan agama islam.

Akibat hukum bagi pihak yang melakukan wanprestasi terhadap perjanjian pra nikah adalah
dapat membuat salah satu puhak meminta pembatalan nikah dengan catatan pelanggaran yang
dilakukan sudah mengancam kehiduoan rumah tangga suami istri.

B. Saran

Sebelum melangsungkan perkawinan diharapkan dapat memahami terlebih dahulu


eksistensi perjanjian perkawinan menurut hukum islam. Calon pasangan juga dianjurkan untuk
mencari informasi dan kejelasan mengenai eksistensi, syarat dan prosedur, serta akibat hukum
diadaknnya sebuah perjanjian.

10
DAFTAR PUSTAKA

Dadan Muttaqien, 2006, Cakap Hukum, Bidang Perkawinan dan Perjanjian, Penerbit Insania
Cita Press, Yogyakarta.

Khoiruddin Nasution, 2004, Islam Tentang Relasi Suami dan Istri (Hukum perkawinan 1),
penerbit Academia dan Tazzafa, Yogyakarta.

Amir Syarifuddin, 2007, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Antara Fiqh Munakahat dan
Undang-Undang Perkawinan, Kencana, Jakarta.

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, 2008, Fathul Baari Syarah Shahih Al-Bukhari,
Terjemahan Amiruddin Jilid XXV, Pustaka Azzam, Jakarta.

Qur’an surah An-Nahl: 91

11

Anda mungkin juga menyukai