0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan37 halaman

Pengembangan PowerPoint Interaktif IPAS

Dokumen ini adalah proposal skripsi yang membahas pengembangan media pembelajaran PowerPoint interaktif untuk siswa kelas 5 pada mata pelajaran IPA di SD Negeri Karangreja 01. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan antusiasme dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran melalui penggunaan media berbasis teknologi yang menarik. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan solusi atas kurangnya penggunaan media pembelajaran yang efektif di kelas.

Diunggah oleh

Öim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan37 halaman

Pengembangan PowerPoint Interaktif IPAS

Dokumen ini adalah proposal skripsi yang membahas pengembangan media pembelajaran PowerPoint interaktif untuk siswa kelas 5 pada mata pelajaran IPA di SD Negeri Karangreja 01. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan antusiasme dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran melalui penggunaan media berbasis teknologi yang menarik. Penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan solusi atas kurangnya penggunaan media pembelajaran yang efektif di kelas.

Diunggah oleh

Öim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN POWERPOINT INTERAKTIF

PADA KELAS 5 MATA PELAJARAN IPAS


DI SD NEGERI KARANGREJA 01

PROPOSAL SKRIPSI
OLEH
IKBAL IBRAHIM
NPM 19120322

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PGRI SEMARANG 2022

1
A. Judul Penelitian

Pengembangan Media Pembelajaran Powerpoint Interaktif Pada Kelas 5 Mata


Pelajaran IPAS di SD Negeri Karangreja 01

B. Latar Belakang

Media pembelajaran dibuat untuk memberikan suatu informasi dan


menumbuhkan interaksi dengan menggunakan berbagai bentuk peralatan fisik yang
dirancang secara sistematik (Yaumi, 2018: 7). Penerapan media dalam proses
kegiatan belajar bukan bermaksud mengubah cara ajar guru, tetapi untuk
mencukupi dan mempermudah para guru dalam memberikan materi atau informasi
(Hasan, 2021: 41). Adanya penggunaan media diharapkan bisa terjadi korelasi
antarpengajar, maupun antara pemelajar dengan pengajar. Sebenarnya tidak ada
suatu ketentuan kapan media harus digunakan dalam pembelajaran, namun para
pengajar wajib memiliki kemampuan dalam menentukan dan menerapkan media
pembelajaran yang sesuai dan efektif. Secara umum tujuan dari penggunaan media
dalam pembelajaran yaitu membantu penyampaian informasi yang berupa materi
dari pengajar kepada pemelajar, supaya materi tersebut mudah untuk dipahami,
menjadi menarik, dan lebih menyenangkan bagi siswa. Sadiman dalam (Hasan,
2021: 41) pemakaian media pendidikan secara jitu dan beragam bisa mengatasi
sikap pasif siswa. Keberagaman dan kejituan dalam pemakaiannya, bisa
menumbuhkan semangat belajar yang memotivasi siswa untuk belajar lebih
mandiri, memungkinkan adanya hubungan langsung siswa dengan lingkungan
sekitarnya.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan, bahwa media yang berisi berbagai
informasi atau pesan instruksional dan bisa digunakan dalam proses kegiatan
belajar. Media pembelajaran merupakan media yang menerangkan informasi atau
pesan yang berisi maksud atau tujuan dalam kegiatan belajar. Media pembelajaran
penting untuk mendukung siswa mendapatkan persepsi baru, keterampilan dan
kompetensi. Pendidik wajib mewujudkan kreativitas dan keinovatifannya dalam

2
membuat media pembelajaran sehingga bisa digunakan dalam penyampaian pesan
materi kepada para siswa. Penggunaan media pembelajaran yang sesuai bisa
menumbuhkan korelasi dalam proses kegiatan belajar sehingga siswa tidak akan
mudah jenuh dalam kegiatan belajar di kelas. Selain itu para siswa juga senang
dengan adanya media pembelajaran karena media tersebut bisa meningkatkan
kualitas hasil belajar siswa. Media pembelajaran yang sesuai dalam proses
pembelajaran akan mendapatkan hasil yang memuaskan termasuk perubahan
tingkah laku siswa. Pemakaian media yang sesuai dalam menyampaikan materi
akan memberikan hasil yang baik. Di era digital, siswa harus memiliki ide-ide
kreatif dengan adanya media dalam pembelajaran.
Proses pembelajaran adalah kegiatan penyampaian suatu informasi dan sumber
informasi kepada peserta didik untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran
(Suarmika: 2018). Proses pembelajaran wajib disesuaikan dengan perkembangan
psikologis siswa pada berbagai tingkatan umur. Proses pembelajaran akan lebih
berdaya guna dan sukses jika pengajar bisa untuk membuat media pembelajaran
yang sesuai dengan materi dan jenjang umur siswa. Kegiatan pembelajaran tidak
bisa lepas dari media karena menjadi sarana untuk menggapai tujuan pembelajaran.
Media merupakan wadah dari pesan (Susilana dan Riyana, 2009: 7). Naz & Akbar
dalam Hasan (2021: 27) dalam perspektif pembelajaran, media yaitu pengantar
informasi dari pengajar kepada peserta didik untuk menggapai pembelajaran yang
efektif. Untuk bisa membuat media yang baik dibutuhkan keterampilan pengajar
dalam membuat dan berinovasi supaya siswa lebih tertarik dan bersemangat dalam
pembelajaran sehingga pesan atau materi yang akan disampaikan pengajar melalui
media tersebut bisa diterima siswa.
Berdasarkan observasi dari daftar nilai UTS siswa kelas V, menunjukkan KKM
yang digunakan yaitu 65, bahwa 12 dari 21 siswa nilainya tuntas, 2 siswa pas KKM
sedangkan 5 siswa belum tuntas. Walaupun sudah tuntas, ada 5 siswa yang nilainya
masih dikisaran angka Lima. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih
kurang maksimal.

3
Berdasarkan wawancara pada tanggal 7 Februari 2024 dengan guru wali Kelas
5 SDN KARANGREJA 01 Bapak Trijayanto Wismoraharto, S. Pd, menyatakan
bahwa:
“Pelajaran yang disukai siswa yaitu PJOK dan SBdP karena seru dan
menyenangkan. Sedangkan yang kurang disukai yaitu Matematika dan
IPA, karena siswa malas berhitung dan menghafal materi. Ketika
pembelajaran tersebut siswa masih kurang aktif, kurang antusias, mudah
bosan, susah mengingat materi dan merasa keberatan jika diberikan
tugas.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Matematika dan IPA merupakan


muatan pelajaran dari tematik yang menjadi tantangan bagi siswa. Peneliti lebih
tertarik dan menguasai pelajaran IPA sehingga peneliti akan memberikan solusi
agar siswa menjadi antusias dalam belajar pelajaran tersebut.
Berdasarkan wawancara dengan guru wali kelas V mengenai media
pembelajaran, menyatakan bahwa:
“Saat pembelajaran jarang sekali menggunakan media, hanya
menggunakan media gambar yang ada di buku. Apalagi menggunakan
media yang berbasis teknologi belum pernah sama sekali karena masih
kurang menguasai. Untuk sarana dalam pembelajaran juga masih
kurang.”

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa guru jarang menggunakan media ketika


di kelas dan guru juga mengalami keterbatasan keterampilan dalam hal teknologi
sehingga belum mencoba menggunakan media berbasis teknologi.
Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa Kelas 5, menyatakan bahwa:
“Media yang digunakan guru masih belum menarik dan guru tidak
sering menggunakan media saat pembelajaran.”

Penggunaan media sangat diperlukan untuk bisa meningkatkan motivasi belajar


siswa dan memberikan peran dalam proses pembelajaran baik di dalam maupun di
luar kelas. Media yaitu alat yang sangat diperlukan oleh siswa, karena adanya media
memudahkan siswa dalam memahami materi, menumbuhkan minat dan semangat
siswa untuk belajar. Guru dalam menggunakan media juga harus dinamis dan
menyesuaikan dengan kondisi atau lingkungannya, namun guru harus selalu bisa
mewujudkan bahan pembelajaran yang inovatif, efisien dan efektif.

4
Berdasarkan wawancara dengan guru wali Kelas 5 mengenai Powerpoint
Interaktif, menyatakan bahwa:
“Media pembelajaran Powepoint Interaktif sangat menarik bagi
siswa, karena menjadi suatu hal yang baru. Kemungkinan besar siswa
juga menyukai sesuatu yang berhubungan dengan video dan suara.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Powerpoint Interaktif menjadi suatu


hal baru dan keunikan tersendiri jika diterapkan di dalam pembelajaran kelas.
Alasan peneliti memilih Powerpoint Interaktif karena di era digital ini semua orang
suka dengan sesuatu yang berbasis audiovisual dan dengan penerapan Powerpoint
Interaktif ini dirasa peneliti akan mampu membuat siswa sangat antusias dalam
kegiatan belajar.
Menurut Sadiman, dkk (2014, h. 7) menjelaskan media pembelajaran adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat
serta perhatian siswa sehingga proses belajar dapat terjadi. Tri Siswaryanti (2012,
h. 28) power point adalah software yang dibuat dan dikembangkan oleh microsoft
dan merupakan salah satu program berbasis multimedia. Menurut Rudi dan Cepi
(2009, h. 23) interaktif adalah siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek
saja melainkan juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran,
yakni interaksi yang menunjukkan siswa berinteraksi dengan sebuah program,
siswa berinteraksi dengan mesin dan mengatur interaksi antara siswa secara teratur
tapi tidak terprogram. Berdasarkan pendapat di atas maka dapat dinyatakan bahwa
media pembelajaran power point interaktif adalah segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima pesan yang
berbentuk software yang dibuat dan dikembangkan oleh microsoft yang dapat
menciptakan siswa tidak hanya memperhatikan media atau objek saja melainkan
juga dituntut untuk berinteraksi selama mengikuti pembelajaran. Di SDN
KARANGREJA 01juga sudah mendukung adanya proyektor LCD yang bisa
dipindah-pindah, sehingga ini memudahkan guru dulu dalam mengajar serta
mampu membuat siswa lebih antusias dan tertarik untuk belajar di kelas.
Dari hasil studi pendahuluan, solusi yang diberikan peneliti untuk
meningkatkan antusias dan ketertarikan siswa, maka peneliti membuat media

5
Powerpoint Interaktif. Media Powerpoint Interaktif ini diharapkan mampu
membuat siswa lebih mudah dalam memahami materi pelajaran tematik terutama
IPA. Selain itu, media Powerpoint Interaktif juga sangat berguna untuk menunjang
terbatasnya media pembelajaran yang ada di sekolah. Alasan pemilihan materi
berdasarkan hasil oberservasi awal, bahwa siswa susah mengingat materi dan
mengalami kesulitan pada pelajaran muatan IPA Tema Organ Gerak Hewan dan
Manusia yang membahas mengenai alat gerak manusia dan bagiannya.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis akan meniliti “Pengembangan Media
Powerpoint interaktif pada Kelas 5 Tema 1 Organ Gerak Hewan dan Manusia di
SD Negeri Karangreja 01”.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:


Bagaimana pengembangan media Powerpoint Interaktif pada Pembelajaran Muatan
IPA Tema 1 Organ Gerak Hewan dan Manusia pada Siswa Kelas 5 SD Negeri
Karangreja 01?

D. Tujuan Pengembangan

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk:
Mengembangkan media Powerpoint Interaktif pada pembelajaran tematik muatan
IPA Tema 1 Organ Gerak Hewan dan Manusia pada siswa kelas V SD Negeri
Karangreja 01

E. Spesifikasi Produk yang Diharapkan

Produk yang dihasilkan dalam penelitian pengembangan Powerpoint


Interaktif ini memiliki speksifikasi berikut:
1. Media multimedia dalam format slide.
2. Media pembelajaran yang cocok untuk pembelajaran di Kelas 5 SD.
3. Media Powerpoint Interaktif sesuai RPP dan silabus yang
dikembangkan peneliti.
4. Media pembelajaran untuk pembelajaran di sekolah.

6
5. Tampilan Powerpoint interaktif pembelajaran yang memenuhi
kriteria untuk siswa sekolah dasar.
6. Media bergambar jelas dan memiliki suara yang jelas dapat ditayangkan.
7. Media yang tahan lama dan dapat dikembangkan, serta dapat disimpan
dalam perangkat elektronik.

F. Pentingnya Pengembangan

Pengembangan produk ini dilakukan dengan menganalisis kebutuhan terlebih


dahulu. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru wali Kelas 5 SDN
KARANGREJA 01 Bapak Trijayanto Wismoraharto kurangnya penggunaan media
berbasis teknologi, keterbatasan keterampilan guru dalam teknologi, dan kurangnya
antusiasme siswa dalam pembelajaran.
Berdasarkan keadaan lapangan tersebut, perlu kiranya mengembangkan sumber
belajar, dana atau media pembelajaran. Selain itu manfaat penelitian secara teoritis
penelitian ini diharapkan bermanfaat karena nantinya bisa digunakan sebagai
pedoman bagi guru yang lain untuk mengembangkan media pembelajaran
Powerpoint Interaktif, secara praktis media Powerpoint Interaktif dapat dijadikan
sebagai pendukung atau suplemen dalam proses pembelajaran. Bagi guru, hasil
penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan guru, sebagai alat bantu
mengajar mata pelajaran tematik IPA, serta dapat merangsang kreativitas guru
dalam mengembangkan media pembelajaran.
Dengan adanya media pembelajaran Powerpoint Interaktif ini, siswa diharapkan
bisa lebih mudah dalam memahami materi pembelajaran dan bisa
meningkatkan antusiasme dalam belajar. Sehingga hasil belajarnya bisa lebih
baik dari sebelumnya.

G. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan

Asumsi yang digunakan peneliti dalam pengembangan media Powerpoint


Interaktif pada tema 1 subtema 2 pembelajaran pada kelas V adalah:
a. Validator media atas hasil pengembangan memiliki pengalaman dan
kompeten dalam bidang penelitian dan pengembangan (R&D).
b. Validator materi yaitu ahli yang kompeten dalam pembelajaran tematik.

7
c. Validasi didasarkan pada keadaan sebenarnya dan tanpa rekayasa guna
memperbaiki produk agar memperoleh produk yang maksimal.
Validasi yang dilakukan mencerminkan keadaan sebenar-benarnya dan tanpa
rekayasa, paksaan, maupun pengaruh dari siapapun. Batasan penelitian
pengembangan media pembelajaran Powerpoint Interaktif yaitu:
1. Produk Powerpoint Interaktif hanya terbatas dengan materi yang ada dalam
silabus dan RPP.
2. Produk pengembangan yang dilakukan peneliti hanya berfokus pada muatan
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Tema 1 Subtema 2 Pembelajaran
1
3. Penelitian dilakukan pada siswa kelas V SDN Karangreja 01
4. Produk pengembangan ini hanya Powerpoint Interaktif yang sebatas audio
visual.
5. Pengembangan dilakukan untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan, dan
daya guna media.

H. Definisi Istilah

Untuk mengurangi adanya penafsiran lebih luas terkait permasalahan yang akan
diteliti, maka perlu adanya penjelasan mengenai beberapa batasan definisi istilah
sebagai berikut:
1. Pengembangan
Pengembangan adalah upaya untuk mengembangkan dan menghasilkan
suatu produk berupa materi, media, alat dan atau strategi pembelajaran,
digunakan untuk mengatasi pembelajaran di kelas/laboratorium, dan bukan
untuk menguji teori (Tegeh, 2014: 12).
2. Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan sebagai
perantara atau penghubung dari dari pemberi informasi yaitu guru kepada
penerima informasi atau siswa yang bertujuan untuk menstimulus para
siswa agar termotivasi serta bisa mengikuti pembelajaran secara utuh dan
bermakna (Hasan, 2021: 29).
3. Powerpoint
Microsoft PowerPoint interaktif. Aplikasi ini adalah salah satu dari beberapa
8
program yang ada dalam Microsoft Office yang biasanya dimanfaatkan dalam
kegiatan presentasi dan berbasis multimedia (Mulyawan dalam Maryatun,
2015).
I. Kajian Pustaka

Media merupakan wadah dari pesan (Susilana dan Riyana, 2009: 7). Naz &
Akbar dalam Hasan (2021: 27) dalam perspektif pembelajaran, media yaitu
pengantar informasi dari pengajar kepada peserta didik untuk menggapai
pembelajaran yang efektif. Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang
digunakan sebagai perantara atau penghubung dari pemberi informasi yaitu guru
kepada penerima informasi atau siswa yang bertujuan untuk menstimulus para
siswa agar termotivasi serta bisa mengikuti pembelajaran secara utuh dan bermakna
(Hasan, 2021: 29). (Wati, 2016: 5) Jenis media meliputi:
1. Media audio merupakan media yang dapat didengar, berupa suara dengan
berbagai alat penyampai suara baik dari manusia maupun immanusia.
2. Media visual merupakan suatu alat atau sumber belajar, yang didalamnya
berisikan pesan, informasi yang disajikan secara menarik dan kreatif dan
diterapkan dengan menggunakan indera penglihatan.
3. Media audio visual adalah jenis media pembelajaran atau sumber belajar yang
berisikan pesan atau informasi yang dibuat secara menarik dan kreatif dengan
menggunakan indra pendengaran dan penglihatan. Media ini berupa suara dan
gambar.
Media pembelajaran adalah suatu sarana dalam bentuk apapun yang digunakan
oleh para pengajar untuk menyampaikan materi kepada para siswa. Dengan alat
bantu ini diharapkan materi yang akan diberikan oleh pengajar akan dapat
tersampaikan dengan baik kepada anak didiknya. Salah satu media pembelajaran
yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran adalah Microsoft PowerPoint
interaktif. Aplikasi ini adalah salah satu dari beberapa program yang ada dalam
Microsoft Office yang biasanya dimanfaatkan dalam kegiatan presentasi dan
berbasis multimedia (Mulyawan dalam Maryatun, 2015).
Penelitian Wibowo (2021) juga menunjukkan bahwa media PowerPoint
interaktif terbukti telah mampu meningkatkan hasil belajar para peserta didik dan
terbukti lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu, penelitian
yang dilakukan oleh Rahmawati, et al (2020) juga menyatakan bahwa media
9
PowerPoint interaktif juga mampu meningkatkan nilai siswa secara umum,
sehingga dapat mencapai target yang diinginkan.
Menurut Sanaky (2009), PowerPoint sebagai media pembelajaran memiliki
beberapa keunggulan secara teknis, diantaranya adalah media ini praktis, memiliki
desain penyajian yang menarik, dapat menampilkan gambar, animasi, suara, dan
juga video yang membuat siswa lebih tertarik mengamatinya, serta dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran berulang kali. Akan tetapi, media
PowerPoint juga memiliki beberapa kelemahan yaitu tidak semua materi dapat
disampaikan dengan media ini, dibutuhkan keterampilan khusus untuk merancang
desain powerpoint yang dapat menarik minat siswa, dan juga membutuhkan lebih
banyak waktu dan persiapan untuk menampilkan animasianimasi yang bersifat lebih
rumit. Seorang pengajar sebaiknya dapat memaksimalkan kelebihan dari media ini
dan menyiasati kelemahan yang ada sehingga hasil maksimal yang diharapkan
dapat tercapai.
Karakteristik siswa yang merasa jenuh selama proses pembelajaran berlangsung
karena bosan dengan metode ceramah konvensional yang sering digunakan guru
(Hasan: 2021). Proses pendidikan formal seolah-olah seperti penjara karena tidak
bisa memunculkan semangat belajar. Apalagi banyak siswa yang sering bolos tanpa
merasa bersalah. Fenomena ini menyebabkan peserta didik sebagai objek atau robot
yang harus dipenuhi dengan berbagai materi, sehingga peserta didik tidak akan
merasa nyaman di dalam kelas. Dalam perspektif berbagai macam teori-teori
belajar menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang baik adalah peserta didik
tidak hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek, sehingga jika hal tersebut
terjadi maka diharapkan peserta didik akan lebih aktif sehingga termotivasi untuk
mengikuti proses pembelajaran dan memahami penjelasan yang diberikan.
Kajian psikologis menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal
yang konkrit ketimbang yang abstrak (Hasan, 2021: 13). Ada beberapa pendapat
yang berkaitan dengan continum konkret-abstrak serta kaitannya dengan
penggunaan media pembelajaran yaitu (1) dalam proses pembelajaran hendaknya
menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film kemudian belajar
dengan menggunakan simbol, hal ini juga berlaku bukan hanya untuk anak, tetapi

10
juga untuk orang dewasa; (2) nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya
dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang dari berbagai jenis media
mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak; dan (3) membuat jenjang konkrit-
abstrak yang dimulai dari partisipasi peserta didik dengan pengalaman nyata,
kemudian peserta didik sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan dengan
peserta didik sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan
terakhir peserta didik sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara
penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar peserta didik dalam
menentukan hasil belajar peserta didik (Supatminingsih: 2020). Artinya, peserta
didik akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan
menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya.
Peserta didik yang memilih tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan
bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atua
film. Sementara peserta didik yang memilih tipe belajar auditif, akan lebih suka
belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah pendidik.
Akan lebih tepat dan menguntungkan peserta didik dari kedua tipe belajar tersebut
jika menggunakan media audio-visual (Hasan: 2021). Berdasarkan landasan
rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan
atas dasar kesukaan pendidik, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara
karakteristik pebelajar, karakteristik media pelajaran, dan karakteristik media itu
sendiri.

J. Kajian Penelitian yang Relevan


Adapun di bawah ini merupakan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian dan
pengembangan berikut:

1. Penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Maharani Delta Dewi, dan
Nur Izzati yang memperlihatkan hasil bahwa pemakaian media pembelajaran berupa
Powerpoint Interaktif dalam pembelajaran pada materi aljabar untuk siswa SMP kelas
VII yang telah dikembangkan layak diterapkan dalam pembelajaran berdasarkan
persentase hasil validasi yang telah diperoleh dari dua validator ahli sebesar 87%, dan
76% untuk kategori mudah digunakan atau praktis baik ketika pemakaian ataupun

11
penyebarluasan media pembelajarannya sendiri yang bisa dilakukan dengan memakai
bluetooth, dan flashdisk.

2. Penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Rizki Prima Putra, dan
Hendri. pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa media interaktif yang
dikembangkan valid, prakts, dan efektif untuk digunakan. hal tersebut dibuktikan
dengan hasil validator sebesar 95.31% dan 89.06% dari tim validator 1 dan 2, kategori
praktis sebesar 95.83% diperoleh dari guru, serta memperoleh hasil sebesar 88% pada
kategori efektifitas.

3. Penelitian relevan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Riska Septia Dewi, dan
Syamsi Aini. pada penelitian tersebut disimpulkan bahwa media interaktif yang
dikembangkan berupa Powerpoint Interaktif berbasis inkuiri terbimbing telah
menghasilkan produk yang valid dan praktis, dengan kevalidan tinggi diperoleh sebesar
0,81 dan sebesar 0,84 serta 0,88 dari guru dan siswa dalam kategori kepraktisan tinggi.

Berdasarkan ketiga penelitian tersebut dapat diketahui bahwa penelitian


tersebut memiliki relevansi dangan penelitian ini yaitu sama-sama mengembangkan
media Powerpoint Interaktif. Penelitian ini dikhususkan pada pembelajaran sekolah
dasar Kelas 5 tema organ gerak hewan dan manusia pada SDN Karangreja 01.
Penelitian ini di sesuaikan dengan kebutuhan siswa agar siswa dapat menerima
pembelajaran dan menguasai materi dengan baik, sehingga dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam menguasai materi tema organ gerak hewan dan manusia.
Dalam penelitian ini produk yang dihasilkan adalah Powerpoint Interaktif yang
mengambil permasalahan yang ada di lingkungan SDN Karangreja 01.

12
K. Kerangka Berpikir

Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan kepada guru Kelas 5 SD di SD


Negeri Karangreja 01 pada pelajaran muatan IPA Tema 1 Subtema 2 Pembelajaran
1 memerlukan media berbasis teknologi Powerpoint Interaktif. Hal ini dikarenakan
guru yang ketika mengajar di kelas hanya mengunakan buku yang tersedia, siswa
menjadi bosan, kurang antusias dan kurang tertarik dengan pembelajaran. Dalam
pembelajarannya guru juga belum pernah mengembangkan media pembelajaran
yang menarik.
Berdasarkan permasalahan di atas, maka guru atau pendidik harus diperlukan
adanya usaha dalam mengembangkan media pembelajaran agar bisa terciptanya
pembelajaran yang lebih bermakna sehingga siswa bisa lebih antusias, tidak mudah
bosan, mudah mengingat materi dan sangat tertarik dengan pembelajaran IPA.
Pengembangan media pembelajaran Powerpoint juga mampu membuat siswa lebih
betah dan menikmati pembelajaran, karena di Powerpoint tersebut menampilkan
Animasi dan video dengan tampilan yang menarik seakan-akan seperti bermain
game di Smartphone. Pengembangan media Powerpoint ini membantu guru dan
sebagai pendukung proses dalam pembelajaran.
Berikut adalah skema kerangka berpikir dalam penelitian:

Pemecahan masalah dengan mendesain


media pembelajaran.

Final Product

13
Gambar Kerangka Berpikir

L. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan kajian teori maka hipotesis dari penelitian ini adalah
" Pengembangan Media Pembelajaran Powerpoint Interaktif Pada Kelas 5 Mata
Pelajaran IPAS di SD Negeri Karangreja 01 ”.

M. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan peneliti adalah penelitian dan pengembangan


yang berorientasi pada produk (Research and Development). Research and
Delevelopment (R&D) adalah metode penelitian yang digunakan untuk
menghasilkan produk tertentu dan menguji keefektifan produk tersebut (Sugiyono,
2016: 297). Jenis penelitian dan pengembangan ini dipilih karena mengembangkan
produk media pembelajaran berupa Powerpoint Interaktif untuk siswa Sekolah
Dasar.
Untuk model RnD dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model Hannafin
& Peck. Model Hannafin & Peck (1987) terdiri dari tiga proses utama, tahap
pertama model ini adalah tahap penilaian kebutuhan, dilanjutkan dengan tahap
desain dan tahap ketiga adalah pengembangan dan implementasi. Dalam model ini,
semua tahapan melibatkan proses evaluasi dan revisi (Tegeh, 2014: 1).

Pengembangan &
Penilaian Kebutuhan Tahap Desain
Implementasi

Evaluasi & Revisi

Gambar Model Hannafin & Peck

N. Prosedur Penelitian

1. Tahap Studi Pendahuluan


a. Tempat Penelitian
14
Penelitian dilaksanakan di SDN Karangreja 01 pada kelas V dengan wali
kelas Trijayanto Wismoraharto, S. Pd.
b. Instrumen Penelitian
Peneliti menggunakan instrumen berupa angket, terdapat empat buah angket
untuk mengumpulkan data yaitu angket ahli materi, angket ahli media, angket
tanggapan siswa dan angket tanggapan guru dengan cara mencentang untuk
mengetahui dan mendapatkan penilian. Penjabarannya adalah sebagai berikut:
1. Angket ahli materi
Lembar angket ahli materi yaitu angket yang ditujukan kepada validator,
dimana validator merupakan seorang ahli yang menguasai dalam bidang
materi pembelajaran.
2. Angket ahli media
Lembar angket ahli media merupakan angket yang ditujukan kepada
validator atau ahli yang menguasai dalam bidang media pembelajaran. yang
nantinya memberi kritikan atau saran terhadap media pengembangan yang
telah dibuat oleh peneliti.
3. Angket tanggapan siswa
Angket ini ditujukan kepada siswa Kelas 5 SDN Karangreja 01, untuk
mendapatkan respon dan penilaian siswa terhadap hasil pengembangan
Powerpoint pembelajaran.
4. Angket tanggapan guru
Angket ini ditujukan kepada guru kelas yang bersangkutan untuk
mendapat kritik atau saran terhadap media pembelajaran yang
dikembangkan oleh peneliti.

Adapun kisi instrumen pengembangan media Powerpoint Interaktif adalah


sebagai berikut:

15
Tabel
Kisi-kisi Angket Validasi Ahli Media

No Aspek Jumlah Kriteria Nomor Butir


1 Indikator Desain 3 1, 2 dan 3
2 Indikator Penggunaan 4 4, 5, 6 dan 7
3 Indikator Kontribusi Produk 4 8, 9, 10 dan 11
4 Indikator Keunggulan Produk 4 12, 13, 14 dan 15

Tabel
Angket Validasi Ahli Media

No Kriteria
Indikator Desain
1 Kejelasan gambar dan video (ketajaman) dalam media pembelajaran film
Pendek
2 Keserasian paduan warna dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif
3 Font atau jenis tulisan dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif
dapat
terbaca dengan jelas
Indikator Penggunaan
4 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mudah dioperasikan
5 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif cocok diterapkan untuk siswa
kelas V SD

6 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif sesuai dengan karakter siswa


kelas V SD

7 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat diterapkan untuk siswa


putra maupun putri kelas V SD

Indikator Kontribusi Produk


8 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat meningkatkan konsentrasi
siswa dalam belajar

9 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mampu mempermudah siswa


dalam memahami materi pembelajaran

16
10 Materi yang tersaji dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat
menambah wawasan siswa
11 Materi yang tersaji dalam pembelajaran dengan media pembelajaran film
pendek dapat merangsang siswa untuk aktif dalam pembelajaran
Indikator Keunggulan Produk
12 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mudah digunakan oleh siswa
13 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif tahan lama digunakan dalam
pembelajaran
14 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat menjangkau sasaran
dalam jumlah
yang banyak
15 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mudah disimpan dan
dipindahkan
Jumlah Skor

17
Tabel
Kisi-kisi Angket Validasi Ahli Materi

No Aspek Jumlah Kriteria Nomor Butir


1 Indikator Kesesuaian 3 1, 2 dan 3
2 Indikator Kelayakan 4 4, 5, 6, 7 dan 8
3 Indikator Penyajian 5 9, 10, 11 dan 12

Tabel
Angket Validasi Ahli Materi

No Kriteria
Indikator Kesesuaian
1 Materi dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif menggunakan
materi
muatan IPA Tema 1 (Organ Gerak Hewan dan Manusia) Subtema 2
(Manusia dan Lingkungan) Pembelajaran 1 pada kelas V Sekolah Dasar
2 Materi dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif pada muatan IPA
Tema 1
Subtema 2 Pembelajaran 1 kelas V SD sesuai dengan KI dan KD dalam
Kurikulum 2013
3 Kesesuaian materi yang tersaji dalam media pembelajaran Powerpoint
Interaktif
dengan karakteristik siswa kelas V
Indikator Kelayakan Media
4 Materi yang tersaji di dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif
sesuai
dengan indikator yang harus dikuasai oleh siswa
5 Materi yang tersaji di dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif
mampu
mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran
6 Materi yang tersaji di dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif
mampu
menambah wawasan atau pengetahuan siswa

18
7 Materi yang tersaji di dalam media pembelajaran mampu meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi muatan IPA pada Tema 1 (Organ
Gerak Hewan dan Manusia) Subtema 2 (Manusia dan Lingkungan)
Pembelajaran 1 Kelas V Sekolah Dasar
8 Materi yang termuat di dalam media pembelajaran dipahami serta
menggunakan bahasa yang benar dan jelas
Indikator Penyajian
9 Informasi yang tersaji dalam pembelajaran pada media pembelajaran
sudah jelas dan mudah dimengerti
10 Informasi yang tersaji dalam pembelajaran dengan media Powerpoint
Interaktif
dapat meningkatkan perhatian siswa
11 Materi pada media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat merangsang
siswa
untuk memahami materi muatan IPA Tema 1 Subtema 2 Pembalajaran 1
12 Informasi yang tersaji dalam pembelajaran dengan media Powerpoint
Interaktif
dapat menambah pemahaman konsep siswa
13 Informasi yang tersaji dalam pembelajaran dengan media Powerpoint
Interaktif
dapat menambah motivasi siswa dalam belajar

Tabel
Kisi-kisi Angket Respon Siswa

Aspek yang diamati Nomor Butir


Kemudahan memahami media pembelajaran Powerpoint 1
Interaktif
Membantu dalam memahami materi pembelajaran 2
Melatih belajar siswa sesuai kemampuan 3
Melatih siswa untuk belajar mandiri 4
Keaktifan dalam mengikuti pembelajaran 5
Meningkatkan konsentrasi siswa 6
Mendorong belajar lebih banyak 7
Keruntutan materi dalam media 8
Perpaduan warna 9

19
Kejelasan video 10
Kejelasan tulisan 11
Kemudahan penggunaan media pembelajaran Powerpoint 12
Interaktif
Menambah semangat belajar 13
Senang menggunakan media pembelajaran Powerpoint 14
Interaktif
Keinginan menggunakan kembali media Powerpoint Interaktif 15

Tabel
Kisi-kisi Angket Respon Guru

No Aspek Jumlah Kriteria Nomor Butir


1 Indikator Kesesuaian 3 1, 2 dan 3
2 Indikator Kelayakan 4 4, 5, 6 dan 7
3 Indikator Kontribusi Produk 4 8, 9, 10 dan 11
4 Indikator Keunggulan Produk 4 12, 13, 14 dan 15

Tabel
Angket Respon Guru

No Kriteria
Indikator Kesesuaian
1 Materi dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif sesuai dengan
materi muatan IPA Tema 1 (Organ Gerak Hewan dan Manusia) Subtema
2 (Manusia dan Lingkungan) Pembelajaran 1 kelas V Sekolah Dasar
dalam
Kurikulum 2013
2 Materi dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif sesuai dengan KI
dan KD dalam Kurikulum 2013

3 Kesesuaian media pembelajaran Powerpoint Interaktif sesuai dengan


karakteristik siswa kelas V SD

Indikator Penggunaan

20
4 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mudah dioperasikan oleh guru
maupun siswa

5 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif cocok diterapkan untuk siswa


kelas V SD

6 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif sesuai dengan karakter siswa


kelas V
SD
7 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat diterapkan untuk siswa
putra
maupun putri kelas V SD
Indikator Kontribusi Produk
8 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat meningkatkan konsentrasi
siswa
dalam belajar
9 Media pembelajaran pendek mampu mempermudah siswa dalam
memahami materi pembelajaran
10 Materi yang tersaji dalam media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat
menambah wawasan siswa
11 Materi yang tersaji dalam pembelajaran dengan media Powerpoint
Interaktif dapat
merangsang siswa untuk aktif dalam pembelajaran
Indikator Keunggulan Produk
12 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mudah digunakan oleh siswa
13 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif tahan lama digunakan dalam
pembelajaran
14 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif dapat menjangkau sasaran
dalam jumiah
yang banyak
15 Media pembelajaran Powerpoint Interaktif mudah disimpan dan
dipindahkan

a. Sumber Data
Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer, dimana data
langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertama yaitu guru dan siswa
kelas V SDN Karangreja 01.
b. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti ketika melakukan penelitian pengumpulan data sebagai berikut:
21
5. Wawancara
Wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara tidak
terstruktur. (Sugiyono, 2016: 233) Wawancara tidak terstruktur adalah
wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman
wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk

22
pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa
garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
6. Kuesioner atau angket.
(Sugiyono, 2016: 216) Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data
yang digunakan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau
pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner yang
disusun peneliti untuk teknik pengumpulan data adalah kuesioner atau
angket kebutuhan siswa yang didalamnya menggunakan skala guttman
sebagai skala pengukurannya. Skala gullman dilakukan bila ingin
mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang
ditanyakan. (Sugiyono, 2016: 169) Skala pengukuran dengan tipe ini, akan
didapat jawaban yang tegas. "ya-tidak", "benar-salah", "pernah-tidak
pernah", "positif-negatif. dan lain-lain".
7. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan
pada obyek yang diteliti, melalui observasi data mengenai hal-hal yang
berupa life skills, silabus, RPP, foto sekolah, data sekolah dan hasil
wawancara.
c. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan disesuaikan dengan jenis
instrumen, yaitu menggunakan teknik analisis deskriptif. Data yang
diperoleh akan diubah menjadi uraian yang berbentuk naratif. Pada data
yang digunakan pada angket validasi ahli materi dan ahli media ada dua,
yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berisi tentang
angka-angka yaitu 1. 2. 3. 4, dan 5. Sedangkan data kualitatif berisi tentang
saran atau komentar.
d. Pengujian Keabsahan data
Pengujian keabsahan data dilakukan dengan adanya penilaian kelayakan
oleh ahli media dan ahli materi sehingga diperlukan adanya validasi. Media
pembelajaran sudah dilakukan validasi dengan ahli materi dan media
pembelajaran yaitu Henry Jamuar Saputra, [Link]., [Link] dan

23
Prasena Arisyanto, [Link]., [Link] di Universitas PGRI Semarang dan guru
kelas 5 SDN Trijayanto Wismoraharto, S. Pd.

2. Tahap Pengembangan
a. Model Pengembangan
Pengembangan media pembelajaran dilakukan sesuai dengan rancangan
prosedur penelitian, dengan langkah-langkah:
1. Penilaian kebutuhan
Fase ini dibutuhkan untuk mengidentifikasi berbagai kebutuhan dalam
mengembangkan suatu media pembelajaran, termasuk di dalamnya tujuan
media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan, kemahiran sasaran, dan
peralatan yang dibutuhkan. Melalui penilaian terhadap kebutuhan, maka
akan didapatkan produk pembelajaran yang sesuai dengan keadaan dan
karakteristik siswa. Setelah fase analisis kebutuhan telah dilakukan,
Hannafin dan Peck menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil
itu sebelum diteruskan ke fase kedua atau fase desain (Wiyani, 2013: 45-
46).
2. Desain
Di dalam fase desain ini informasi dari fase analisis kebutuhan
dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan
pembuatan media pembelajaran. Fase desain bertujuan untuk
mengidentifikasi dan mendokumentasikan kaidah yang terbaik untuk
menggapai tujuan pembuatan media pembelajaran tersebut. Salah satu
bentuk yang dihasilkan dari fase ini adalah dokumen storyboard yang
mengikuti urutan aktivitas berdasarkan keperluan siswa dan media
pembelajaran (Wiyani, 2013: 45-46). Seperti halnya pada tahap penilaian
kebutuhan, setelah melaksanakan fase desain kemudian melakukan
penilaian sebelum dilanjutkan ke fase ketiga.
3. Pengembangan dan implementasi
Aktivitas yang dihasilkan dari fase ini adalah berupa diagram alur,
pengujian, serta penilaian sumatif dan penialain formatif. Dokumen

24
storyboard dijadikan sebagai landasan dalam membuat diagram alur yang
bisa membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai
kelancaran media yang dihasilkan maka dilaksanakan penilaian pada fase
ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian tersebut dipakai dalam proses
penyesuaian untuk menggapai kualitas media. Penilaian yang bisa dipakai
pada model Hannafin dan Peck adalah penilaian formatif dan penilaian
sumatif. Penilaian formatif adalah penilaian yang dilaksanakan selama
proses pengembangan media, sedangkan penilaian sumatif adalah penilaian
yang dilaksanakan setelah media selesai dikembangkan (Wiyani, 2013: 45-
46).

b. Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses para ahli media dan ahli materi menguji
layak atau tidaknya suatu produk yang telah dikembangkan oleh peneliti dengan
memakai instrumen penelitian. Ahli media dan ahli materi memiliki peran
penting dalam menentukan apakah desain sudah sesuai atau masih ada
kekurangan, sehingga apabila masih terdapat kekurangan peneliti wajib
merevisinya.
Tabel
Daftar Nama Ahli Media dan Ahli Materi

No Nama Lengkap Ahli Institusi


Materi dan Universitas PGRI
1 Qoriati Mushafanah, M. Pd.
Media Semarang
Materi dan Universitas PGRI
2 M. Aniq Khairul Basyar, M.
Hum. Media Semarang
Materi dan
3 Trijayanto Wismoraharto, S. Pd. SDN Karangreja 01
Media

25
c. Revisi Desain
Revisi desain dilaksanakan apabila ada saran atau kekurangan pada desain
karena adanya kurang kesesuaian. Dengan revisi desain bisa meminimalisir
kekurangan sehingga bisa mengerti apakah produk layak atau tidak untuk
diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.
d. Uji Coba Produk
Uji coba produk merupakan pengujian tingkat kelayakan suatu produk
melalui dua tahap, yaitu uji ahli materi dan ahli media. Setelah mendapatkan
validasi, maka diuji coba pada subyek penelitian yaitu siswa kelas 5 SDN
Karangreja 01 melalui angket dalam penggunaan media.

Uji coba produk merupakan pengujian tingkat kelayakan suatu produk


melalui dua tahap, yaitu uji ahli materi dan ahli media. Setelah mendapatkan
validasi, maka diuji coba pada subyek penelitian yaitu siswa kelas 5 SDN
Karangreja 01 melalui angket dalam penggunaan media.
1. Desain Uji Coba
Proses pembuatan media video berdasarkan pada ide peneliti dengan
cara mendesain media sebagai berikut:
a. Mengumpulkan sumber materi muatan IPA kelas 5 Tema 1 Subtema 2
Pembelajaran 1
b. Membuat skenario cerita film dari dari materi alat gerak manusia
c. Merancang desain media :

26
Tampilan Aplikasi Microsoft Powerpoint
Berikut ini merupakan beberapa tampilan ataupun fitr yang tersedia dalam aplikasi
Microsoft Powerpoint:52
1) Tampilan awal

Gambar 2.1 tampilan awal aplikasi microsoft Powerpoint Sumber: Aplikasi Microsoft
Powerpoint

2. Tampilan awal slide

Gambar 2.2 Tampilan Awal Slide Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint


Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint

3. Beranda (Home)
Menu ini berisi serangkaian fitur seperti potong(cut), salin(copy),
tempel(paste) ataupun fitur lain yang digunakan untuk
menambah, mengedit, dan menata slide .

Gambar 2.3 Beranda Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint Sumber:


Aplikasi Microsoft Powerpoint
4. Sisipkan (Insert)
Pada bagian sisipkan ini terdapat fitur yang dapat digunakan untuk
menyisipkan berbagai gambar, video, diagram, link, grafik ataupun
animasi lain yang nantinya dapat dikembangkan dalam membuat media
pembelajaran interaktif.

27
Gambar 2.4 Menu Sisipkan Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint
Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint
5. Desain (Design)
Pada menu desain ini berisi berbagai fitur yang dapat digunakan untuk
mengedit tema, atau pilihan warna slide dan mengatur latar belakang
pada slide.

Gambar 2.5 Menu Desain Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint


Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint
6. Transisi (Page layout)
Pada bagian transisi terdapat fitur yang dapat digunakan untuk
menentukan pergerakan slide yang berganti ke slide lain.

Gambar 2.6 Menu Transisi Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint


Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint
7) Animasi (Animation)
Bagian animasi terdapat fitur yang digunakan untuk menciptakan gerakan
dari berbagai animasi yang digunakan pada slide nanti.

Gambar 2.7 Menu Animasi Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint


Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint
8) Peragaan slide (Slide Show)
Menu peragaan slide atau slide show pada Powerpoint digunakan
untuk mengatur tampilan slide pada saat dipresentasikan atau
disajikan.

28
Gambar 2.8 Menu Peragaan Slide Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint
Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint

9) Peninjau (Review)
Bagian peninjau berisi fitur yang digunakan untuk menyisipkan
komentar, pengoreksian ejaan, atau melakukan perbandingan suatu
presentasi dengan presentasi lain

Gambar 2.9 Menu Peninjau Slide Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint


Sumber: Aplikasi Microsoft Powerpoint
10) Tampilan (View)
Bagian tampilan atau view memiliki fitur yang membuat Powerpoint
yang telah disusun memiliki tampilan yang berbeda tergantung pada
format yang pembuat atau pengirim pilih.

Gambar 2.10 Menu Tampilan Pada Aplikasi Microsoft Powerpoint


2. Subyek Uji Coba
Subjek uji coba yang ada pada penelitian ini adalah siswa kelas 5 SDN
kelas V SDN Karangreja 01 dengan jumlah 21 siswa.
3. Jenis Data
Jenis data yang terdapat pada penelitian adalah mengenai kelayakan
media video yang sudah divalidasi oleh ahli media dan ahli materi, serta
sesuai dengan hasil diuji coba oleh guru dan siswa.
4. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang dipakai peneliti yaitu berupa lembar
validasi ahli media dan ahli materi, untuk mengukur apakah media sudah
layak atau belum digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
5. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dipakai disesuaikan dengan jenis instrumen,
yaitu memakai teknik analisis deskriptif. Data yang diperoleh akan diubah
29
menjadi uraian yang berbentuk naratif. Pada data yang dipakai pada angket
validusi ahli materi dan ahli media ada dua, yaitu data kuantitatif dan data
kualitatif. Data kuantitatif berisi mengenai angka-angka yaitu 1.
2. 3. 4, dan 5. Sedangkan data kualitatif berisi mengenai saran atau
komentar.

3. Tahap Pengujian
a. Tempat dan Waktu Penelitian
Uji coba media dilakukan di SDN Karangreja 01, pada tanggal 9-10
Februari 2024.
b. Variabel Penelitian
Variabel penelitian terdiri dari siswa kelas V yang berjumlah 18 siswa. 10
siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan.
c. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan peneliti adalahS penelitian pengembangan
atan Research and Development. Metode ini dipakai untuk menghasilkan atau
mengembangkan suatu produk tertentu dan melakukan adanya pengujian
keefektifan produk supaya mengerti apakah produk sudah efektif dan layak
untuk dipakai. Desain produk yang dipakai oleh peneliti yaitu menggunakan
aplikasi inshot.

30
d. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas V SDN Karangreja 01 yang
berjumlah 21 orang. Sedangkan untuk pengambilan sampel penelitian
berjumlah 21 siswa.
e. Teknik Sampling
Teknik sampling yang dipakai peneliti yaitu Non Probability yaitu dengan
tidak memberikan kesempatan yang sama dengan jenis teknik sampling
insidental atau berdasarkan kebetulan bertemu peneliti bisa dipakai sebagai
sampel.
f. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dipakai oleh peneliti adalah dengan
wawancara awal kepada guru kelas V dan menggunakan angket. Angket yang
digunakan terdiri dari angket validasi ahli media dan ahli materi, angket
tanggapan guru dan siswa.
g. Instrumen Penelitian
Instrumen yang dipakai oleh peneliti yaitu skala likkert dan skala Guttman,
cara untuk mengisi instrumen yaitu dengan cara checklist atau mencetang (V)
pada kolom jawaban yang sudah disediakan oleh peneliti. Penggunaan angket
ini dilaksanakan untuk mendapatkan data atau informasi dari responden.
h. Teknik Analisis Data
Penelitian pengembangan ini memakai dua teknik analisis data, yaitu
analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Dalam penelitian
ini, data kualitatif berupa komentar dan saran dari ahli media pembelajaran dan
ahli materi pembelajaran yang nantinya akan di deskripsikan secara deskriptif
untuk merevisi produk yang dikembangkan. Sedangkan data kuantitatif, yaitu
data berupa skor penilaian ahli media pembelajaran, ahli materi pembelajaran,
serta guru dan siswa kelas V yang berisi angket tanggapan guru dan siswa dan
hasil belajar siswa yang berupa pilihan ganda.

31
Analisis data dilakukan untuk melihat nilai masing-masing aspek pada
angket. Data yang diperoleh dari angket yang diberikan pada ahli media dan
materi. Data yang terkumpul dianalisis persentase yang diperoleh. Data
kualitatif skor penilaian yang diperoleh dari hasil pengisian lembar penilaian
dari para ahli dengan acuan skala likert yang nantinya akan dideskripsikan.
Untuk menganalisis data dari lembar angket dalam skala likert bentuk
checklist dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
Langkah 1 : penelitian menghitung skoring tiap jawaban
Langkah 2 : menghitung jumlah total skor yang diperoleh dari penelitian.
Langkah 3 : menjumlahkan skor ideal kriteria item (kriteria) untuk seluruh
item.
Langkah 4 : membagi jumlah total skor dengan skor ideal kemudin dikalikan
100%
Dari langkah-langkah tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk menghitung
persentase angka dari analisis data yang dilakukan dapat dituliskan sebagai
berikut:
Persentase (%) = Skor total
x 100 %
Skor maksimum

Data yang diperoleh dianalisis dengan cara menghitung rata-rata skor yang
diperoleh. Pedoman skor ahli media dan ahli materi dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel
Pedoman Skor Penilaian
Data Kualitatif Skor
(SS) Sangat Sesuai 4
(S) Sesuai 3
(CS) Cukup Sesuai 2
(TS) Tidak Sesuai 1
Sumber: Sugiyono (2016: 166)

32
Dari persentase yang telah diperoleh kemudian dipindahkan ke dalam
kalimat yang bersifat kualitatif. Menentukan kriteria dilakukan dengan cara
seperti tabel dibawah ini dalam tabel range persentase dan kriteria kualitatif
program (Arikunto, 2013: 281).
Tabel
Range Persentase dan Kriteria Program
Penilaian Kriteria Interpretasi
76% - 100 % Sangat Layak
51% - 75 % Layak
26% - 50 % Tidak Layak
0% - 25 % Sangat Tidak Layak

Untuk memberikan makna dan mengambil keputusan digunakan ketetapan


sebagai indikator keberhasilan validasi ahli media dan ahli materi. Pada uji ahli
media dan materi. hasil persentase setiap item dikatakan berhasil atau valid bila
hasil sesuai tabel.

33
DAFTAR PUSTAKA

Alfathoni, M.A.M., dkk. 2020. Pengantar Teori Film. Yogyakarta: Deepublish.

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian Suatu Pendidikan Praktik.


Jakarta: Rineka

Hasan, M., dkk. 2021. Media Pembelajaran. Klaten: Tahta Media Grup.

Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Repunlik Indonesia. 2011. Kearifan


Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Kebudayaan.
Maryana, Suaedi, & nurdin. (2019). Pengembangan Media Pembelajaran Matematika
Menggunakan Powerpoint Dan. Jurnal Penelitian Matematika Dan Pendidikan
Matematika, 2(3), 53–61. http://
[Link]/ojs/[Link]/epk/article/view/10.
Mukholifah, M., Tisngati, U., & Ardhyantama, V. (2020). Mengembangkan Media
Pembelajaran Wayang
Karakter Pada Pembelajaran Tematik. Jurnal Inovasi Penelitian, 1(4), 673–682.
[Link] org/10.47492/jip.v1i4.152.
Masdudin, Ivan. 2011. Mengenal Dunia Film. Jakarta Barat: Multi Kreasi Satu
Delapan.

Nugroho, Sarwo. 2021. Teknik Kreatif Produksi Film. Semarang: Yayasan Prima
Agus Teknik.

Juhadi, Abdul Muis, & Sriyanto. 2018. Kearifan Lokal Dalam Mitigasi Bencana.
Semarang: Fastindo.

Saputro, B. 2017. Manajemen Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Aswaja


Pressindo.

Saptomo, A. 2014. Budaya Hukum & Kearifan Lokal. Jakarta: FHUP Press.

Sugiyono, 2016. Metode Penelitian & Pengembangan Research & Development.


Bandung: Alfabeta.

, 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

34
Supatminingsih, T., Hasan, M., & Sudirman. 2020. Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Media Sains Indoneisia.

35
Susilana, Rudi, dan Cepi Riyana. 2009. Media Pembelajaran. Bandung: CV
Wacana prima.

Tarbiyah, A., Keguruan, D. A. N., Negeri, U. I., & Lampung, R. I. (2022).


Pengembangan Media Layanan Informasi Berbasis Film Pendek Tentang
Tentang Dampak game Online.

Tegeh, I [Link]. 2014. Model Penelitian Pengembangan. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Wati, Ega R. 2016. Ragam Media Pembelajaran. Yogyakarta: Kata Pena.

Wiyani, Novan A. 2013. Desain Pembelajaran Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz


Media

Yaumi, M. 2018. Media dan Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media.

36
37

Anda mungkin juga menyukai