LAPORAN PENDAHULUAN PADA AN.
C DENGAN PENYAKIT FEBRIS
DIRUANG AL-HUDA RSI AMAL SEHAT SRAGEN
Laporan Pendahuluan ini dibuat untuk memenuhi penugasan pada Mata Kuliah Praktik Profesi
Keperawatan Anak (PPKA)
Dosen Pembimbing : [Link].,Ns.,M. Kep
Clinical Instruktur (CI) : Indiyah Tuti., S. Keb., Bdn
DISUSUN OLEH :
RIKA NOVIA PARAMITHA
SN241197
PROGRAM STUDI PROFESI NERS PROGRAM PROFESI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA
TAHUN 2024/2025
HALAMAN JUDUL
A. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi
Febris atau Demam adalah kenaikan suhu tubuh yang ditengahi oleh kenaikan
titik ambang regulasi panas hipotalamus. Dandapat terjadi bila berbagai proses
infeksi dan non infeksi berinteraksi dengan mekanisme pertahanan hospes (Twisti
ayani & Wintari, 2019).
Demam (Febris) merupakan salah satu tanda tidak normal yang terjadi pada
tubuh, dimana otak memberikan sinyal peningkatan suhu 37,5 oC (Rahmawati &
Purwanto, 2020).
Demam (Febris) adalah kondisi yang terjadi jika suhu tubuh diatas kisaran
normal 37º C (100º C), rektal 38,8oC (101ºC) yang ditandai dengan kulit terasa
hangat, dan kulit kemerahan (Sofikah et al., 2021)
2. Etiologi
Penyebab demam pada anak adalah infeksi, baik karena bakteri maupun virus.
Selain karena infeksi, demam juga dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain
inflamasi atau peradangan, penyakit autoimun seperti kawasaki atau lupus.
Sedangkan penyebab lain dari demam yaitu efektivitas fisik yang berlebihan,
aktivitas fisik yang berlebihan (Sofikah et al., 2021).
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya suatu molekul kecil
di dalam tubuh kita yang disebut dengan Pirogen, yaitu zat pencetus panas.
Biasanya penyebab demam sudah bisa diketahui dalam waktu satu atau dua hari
dengan pemeriksaan medis yang terarah (Ayu Widyawati (2020).
Demam sering disebabkan karena infeksi. Penyebab demam selain infeksi
juga dapat disebabkan oleh keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap
pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya
perdarahan otak, koma). Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis
penyebab demam diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan riwayat penyekit
pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi
pemeriksaan laboratorium, serta penunjang lain secara tepat dan holistic (Nurarif,
2019).
Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran. Demam dapat
berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan, penyakit metabolik
maupun penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena kelainan dalam otak
sendiri atau zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-
penyakit bakteri, tumor otak atau dehidrasi (Guyton dalam Thobroni, 2022).
3. Manifestasi Klinis
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase
demam meliputi:
a) Fase 1 awal (awitan dingin/ menggigil).
Tanda dan gejala : Peningkatan denyut jantung, Peningkatan laju dan
kedalaman pernapasan, Mengigil akibat tegangan dan kontraksi otot,
Peningkatan suhu tubuh , Pengeluaran keringat berlebih, Rambut pada kulit
berdiri g. Kulit pucat dan dingin akibat vasokontriksi pembuluh darah.
b) Fase 2 ( proses demam)
Tanda dan gejala : Proses mengigil lenyap, Kulit terasa hangat / panas, Merasa
tidak panas / dingin, Peningkatan nadi, Peningkatan rasa haus, Dehidrasi,
Kelemahan, Kehilangan nafsu makan ( jika demam meningkat), Nyeri pada
otot akibat katabolisme protein
c) Fase 3 (pemulihan)
Tanda dan gejala : kulit tampak merah dan hangat, Berkeringat, Mengigil
ringan dan Kemungkinan mengalami dehidrasi
4. Komplikasi
a. Takikardi
b. Insufisiensi jantung
c. Insufisiensi pulmonal
d. Kejang
5. Patofisiologi dan Pathway
Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan
dalam yaitu lipid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal,
memmbran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion Kalium (K+) dan
sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) serta elektrolit lainnya kecuali ion
kloirda (Cl-). Akibatnya, konsentrasi ion K+ dalam neuron tinggi dan konsentrasi
ion Na+ rendah, sedangkan di luar sel neuron berlaku sebaliknya. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat
perbedaan potensial membran yang disebut sebagai potensial membran dari
neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran ini, diperlukan energi
dan bantuan enzim Na-K-ATP-ase ynag terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh:
a. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstra seluler
b. Rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawia atau
aliran listrik dari sekitarnya.
c. Perubahan patofisiologi dari membran neuron itu sendiri karena penyakit atau
keturunan
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 10C akan meningkatkan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang anak
berumur 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan
orang dewasa yang hanya mencapai 15%. Oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh
dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran sel
yang mengakibatkan lepasnya aliran listrik. Lepasnya aliran listrik ini sedemikian
besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh bagian sel maupun membran sel di
sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” sehingga terjadilah [Link]
kejang tiap anak berbeda. Pada anak dengan ambang rendah, kejang dapat terjadi
pada suhu 380C, sedang anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 400C atau lebih.
Pathway :
Agen Infeksius Dehidrasi
Mediator
Inflamasi
Tubuh Kehilangan
Cairan
Monosit/Makrofag
Penurunan Cairan
Intrasel
Sitokin Pirogen
Mempengaruhi
Hipothalamus Anterior
Demam
Peningkatan Meningkatnya Peningkatan
Metabolik PH Kurang
Evaporan Suhu Tubuh
Tubuh
Anoreksia
Diare Hipertermi
Kelemahan
Intake
Makanan
Intoleransi Berkurang
Aktivitas
Gangguan Rasa
Defisit Nutrisi
Nyaman
Gelisah
Tidak Bisa Tidur
Kurang Yahya, 2022
Pengetahuan
Gangguan Pola
Tidur
Ansietas
6. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
Penanganan demam terbagi menjadi dua, yaitu penanganan tanpa obat
(terapi non- farmakologis) dan dengan obat (terapi farma- kologis). Penanganan
tanpa obat dilakukan dengan pemberian perlakuan khusus yang dapat membantu
menurunkan suhu tubuh meliputi pemberian cairan, penggunaan kompres hangat
basah, kompres hangat kering menggunakan buli-buli hangat, kompres dingin
basah dengan larutan obat anti septik. Penanganan dengan obat dilakukan dengan
pemberian obat golongan antipiretik yang dapat menurunkan suhu tubuh dengan
berbagai mekanisme (Sudibyo et al., 2020).
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat
1) Keluhan utama : Demam
2) Riwayat kesehatan sekarang
Didapatkan adanya keluhan panas mungkin dengan disertai menggigil dan
saat demam kesadaran komposmentis dan anak semakin lemah. Kadang-
kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual, muntah, anoreksia,
diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot dan persendian, nyeri ulu hati
dan pergerakan bola mata terasa pegal.
3) Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit apa saja yang pernah diderita
4) Riwayat kesehatan keluarga
Apakah ada dalam keluarga klien yang sakit seperti klien
b. Pola Gordon
1. Pola nutrisi dan metabolisme
frekuensi, jenis, pantangan, nafsu makan berkurang, dan nafsu makan
menurun.
2. Pola eliminasi Eliminasi
Eliminasi BAB: kadang-kadang anak mengalami diare atau konstipasi.
Eliminasi BAK : perlu dikaji apakah sering kencing, sedikit atau banyak,
sakit atau tidak
3. Pola aktivitas dan latihan Aktivitas
Klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agar tidak terjadi
komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu
4. Persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan pada orang dewasa terhadap keadaan penyakit
anaknya
5. Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu tubuh
6. Pola sensori dan kognitif
Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan
umumnya tidak mengalami kelainan
7. Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di
rumah sakit dan klien harus bed rest total
8. Pola penanggulangan stress
Biasanya orang dewasa akan tampak cemas (Aru, 2020).
c. Pemeriksaan Fisik
1) KU
2) TTV
S
N
RR
TD
3) TB/BB
4) Lingkar Kepala
5) Mata
6) Hidung
7) Mulut
8) Telinga
9) Tengkuk
10) Dada
11) Jantung
12) Paru-paru
13) Perut
14) Punggung
15) Genetalia
16) Ekstremitas
17) Kulit
d. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan labolatorium :
1) Darah dan urine rutin merupakan pemeriksaan dasar untuk penjajakan
demam. Kalau dari darah dan urine rutin sudah dapat menemukan
penyebab demam, maka pemeriksaan lainnya hanya untuk konfirmasi
diagnostik atau untuk melihat kemungkinan komplikasi. Banyak
penyakit infeksi sudah bisa diketahui atau sudah dapat diduga dengan
pemeriksaan darah dan urine rutin dan dikonfirmasi dengan anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang cermat. Pada Tabel 1 beberapa penyakit
infeksi yang umum di Indonesia dengan manifestasi demam dapat
dibedakan dengan pemeriksaan darah rutine dan mengenali jenis
demamnya. Beberapa petunjuk penting pada kasus demam akibat
penyakit infeksi dan non infeksi yang lazim ditemukan pada
pemeriksaan darah rutin antara lain:
a) Anemia sering dijumpai pada malaria, leptospirosis, demam tifoid,
tuberkulosis, infeksi saluran kemih dengan batu (biasanya disertai
dengan hematuria), SLE, ITP, dan malignansi.
b) Leukopenia sering dijumpai pada infeksi virus akut seperti DBD,
chikungunya, demam tifoid, ITP, anemia aplastik.
c) Leukositosis dijumpai pada infeksi bakteri, malaria, leptospirosis,
leukemia (lebih dari 20.000).
d) Trombositopenia dijumpai pada DBD, chikungunya,
leptosopirosis, malaria, ITP, dan anemia aplastik.
e) Hematokrit meningkat pada keadaan dehidrasi seperti pada diare
f) akut, DBD.
2. Diagnosa Kperawatan
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh
diatas nilai normal (D.0130)
b. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan (D.0056)
3. Perencanaan Keperawatan
SLKI-SIKI
DIAGNOSA
No KEPERAWATAN
(SDKI) SLKI SIKI
1. D.0130 Setelah dilakukan Observasi
Hipertermia berhubungan intervensi keperawatan 1. identifikasi penyebab
dengan proses penyakit diharapkan termogulasi hipertermia
ditandai dengan suhu tubuh membaik dengan kriteria 2. monitor suhu tubuh
diatas nilai normal. hasil : 3. monitor warna dan suhu kulit
Ditandai dengan : - menggigil membaik
- suhu tubuh diatas nilai - kejang menurun Teraupetik
normal - takikardi membaik 4. longgarkan atau lepaslan
- kejang - takipnea membaik pakaian
- takikardi - suhu tubuh membaik 5. berikan cairan oral
- takipnea - suhu kulit membaik 6. lakukan kompres dingin
- kulit terasa hangat - tekanan darah 7. sesuaikan suhu lingkungan
membaik dengan kebutuhan pasien
- ventilasi membaik
Edukasi
8. anjurkan tirah baring
Kolaborasi
9. kolaborasi pemberian cairan
elektrolit
10. Kolaborasikan pemberian
antipiretik
2. D.0056 Setelah dilakukan Observasi
Intoleransi aktivitas b.d intervensi keperawatan 1. monitor kelelahan fisik
tirah baring, kelemahan,. diharapkan toleransi 2. identifikasi kemampuan
Dibuktikan dengan : aktivitas meningkat berpartisipasi dalam aktivitas
Mengeluh lelah dengan kriteria hasil : tertentu
1. Frekuensi jantung 1. kemudahan dalam
meningkat melakukan aktivitas Teraupetik
2. Sianosis sehari-hari meningkat 3. latihan gerak pasif dan aktif
3. Mengeluh lelah 2. kekuatan tubuh bagian 4. libatkan keluarga dalam
4. Merasa tidak nyaman atas dan bawah aktivitas
setelah beraktivitas meningkat
3. keluhan lelah Kolaborasi
membaik 5. anjurkan melakukan aktivitas
4. dispneu saat aktivitas secara bertahap
menurun
4. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan dengan cara
membandingkan tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap hasil yang diharapkan.
Evaluasi juga dilakukan untuk mengidentifikasi sejauh mana tujuan dari rencana
keperawatan tercapai atau tidak. Dalam melakukan evaluasi, perawat seharusnya
memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memahami respon terhadap intervensi
keperawatan, kemampuan menggambarkan kesimpulan tentang tujuan yang ingin dicapai
serta kemampuan dalam menghubungkan tindakan keperawatan dalam kriteria hasil
(Patrisia et al., 2020).
DAFTAR PUSTAKA
Patrisia, I., Juhdeliena, J., Kartika, L., Pakpahan, M., Siregar, D., Biantoro, B., Hutapea, A. D.,
Khusniyah, Z., & Sihombing, R. M. (2020). Asuhan Keperawatan Dasar Pada Kebutuhan
Manusia (Edisi 1). Yayasan Kita Menulis.
[Link]
VeMNEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1
Rahmawati, I., & Purwanto, D. (2020). Efektifitas Perbedaan Kompres Hangat Dan Dingin
Terhadap Perubahan Suhu Tubuh Pada Anak Di Rsud Dr. M. Yunus Bengkulu. Care :
Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 8(2), 246. [Link]
Sofikah, N., Mustaghfiroh, L., & ... (2021). Hubungan Pemberian Kompres Hangat Dan
Paracetamol Pada Anak Usia 12-24 Bulan Dengan Penurunan Demam Di Desa Larikrejo
…. Jurnal Ilmu Kebidanan …, 12(1), 35–49.
[Link]
Sudibyo, D. G., Anindra, R. P., Gihart, Y. El, Ni’azzah, R. A., Kharisma, N., Pratiwi, S. C.,
Chelsea, S. D., Sari, R. F., Arista, I., Damayanti, V. M., Azizah, E. W., Poerwantoro, E.,
Fatmaningrum, H., & Hermansyah, A. (2020). Pengetahuan Ibu Dan Cara Penanganan
Demam Pada Anak. Jurnal Farmasi Komunitas, 7(2), 69.
[Link]
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2019). Standar Diagnosa Keperawatan [Link] Selatan.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2020). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan [Link] Selatan
Twisti ayani, R., & Wintari, H. R. (2017). Hubungan Kadar Hemoglobin dan Leukosit dengan
Kejadian Febris (Demam) pada Anak Usia 6-12 Tahun. Jurnal Sains, 7(14), 37–42.
[Link]