Catatan bebas mengenai :
Integrated Circuit (IC) Linier
By : Budic Utom
Jika anda suka dengan catatan bebas versi NISG ini jangan lupa kunjungi kami di : [Link]
1. Rangkaian Terpadu Linier
1.1 Elektronika Linier
IC (integrated circuit), rangkaian terpadu linier, hampir tiap hari terlihat dalam pemakaian elektronika yang semakin bertambah di bidang-bidang seperti komunikasi audio dan radio, teknologi kedokteran, proses kontrol dan teknologi automotif. Jadi sebuah IC linier adalah sebuah rangkaian yang terintegrasi dalam ukuran yang kecil yang digunakan sebagai blok fungsional dengan sedikit tambahan komponen luar pada IC tersebut yang menggunakan tegangan dasar DC dan AC. Hasil keluaran dari rangkaian tersebut berbentuk linier, seperti penguatan, penjumlahan, pembanding, pengaturan dan pensaklaran. Elektronika linier adalah rangkaian aplikasi yang menghasilkan dan memproses sinyal analog, yang membentuk suatu proses penguatan, penjumlahan, pembanding, pengaturan dan pensaklaran. Contoh penerapan dari IC linier adalah dalam sebuah rangkaian penguat audio, seperti IC keluarga LM380. IC ini adalah penguat audio dengan daya output kurang dari 50 mW, yang sering kita sebut sebagai Pra-penguat (preamplifier). Pra-penguat dioptimasikan untuk derau rendah karena dipakai pada ujung muka dari sistem audio dimana mereka memperkuat sinyal yang lemah, seperti phonograph cartidge, magnetic tape heads, mikropon dan sebagainya.
Gambar 1. Skema sederhana keluarga LM380 untuk penguat audio Sebuah IC linier selalu mempunyai 4 elemen operasi dasar utama, yaitu: Tegangan Input +VCC -VEE : VINPUT : Tegangan positif : Tegangan negatif Tegangan Output : VOUTPUT
Semua rangkaian linier menggunakan transistor sebagai tulang punggung rangkaian, serta beberapa komponen R dan C untuk pengaturan penguatan dan penyetabil output. Contoh IC linier yang lain diantaranya, yakni IC filter LM311 (gambar 2) dan IC pewaktu NE555 (gambar 3) yang dapat menghasilkan gelombang (oscillator) atau timer.
Gambar 2. Skema rangkaian internal LM311 untuk aplikasi filter
Gambar 3. Skema rangkaian internal NE555 untuk aplikasi timer
1.2 Bipolar Junction Transistor (BJT)
BJT merupakan gabungan (junction) dari dua buah dioda yang salah satu lapisannya digabung menjadi satu. Ada dua jenis model transistor, yaitu:
Transistor pnp Transistor npn
C B E E
Gambar 4. Tiga daerah transistor dan simbol. (a) transistor npn. (b) transistor pnp Transistor pada gambar 4 mempunyai dua junction, yang salah satu adalah antara Emiter (E) dan Basis (B), dan yang lain antara Basis (B) dan Kolektor (C). Karenanya, transistor seperti dua dioda. Kita sebut dioda sebelah kiri sebagai dioda basis-emiter (dioda emiter), dan dioda sebelah kanan adalah dioda basis-kolektor (dioda kolektor). Transistor pnp adalah komplemen dari trasistor npn; berarti pada transistor pnp diperlukan arus dan tegangan yang berlawanan. Pada kesempatan kali ini, pada pembicaraan awal, kita akan konsentrasi pada transistor npn. Kurva Transistor Gambar 5.b. menunjukkan simbol skematik transistor npn. Emiter mempunyai tanda kepalapanah tetapi kolektor tidak. Yang penting yaitu kepala-panah menunjukkan arah dari arus konvensional emitter. Dengan perkataan lain, elektron mengalir ke dalam emiter dan ke luar ke basis dan kolektor. Arus konvensional mengalir dalam arah yang berlawanan seperti ditunjukkan dalam Gambar 5.b. Arus konvensional emiter mengalir ke luar dari emiter; arus konvensional basis dan kolektor mengalir ke dalam transistor npn.
Kolektor
IC IB
Basis
IE
Emiter (a) (b)
Gambar 5. Simbol kontruksi (a) dan skematik (b) transistor npn
Kurva Kolektor Dalam Gambar 6 menggambarkan kerja transistor. Jika VCE nol, dioda kolektor tidak terbias reverse, oleh sebab itu arus kolektor sangatlah kecil. Untuk VCE antara 0 dan 1 V atau sekitar itu, arus kolektor bertambah dengan cepat dan kemudian menjadi hampir konstan. Hal ini
sesuai dengan memberikan bias reverse dioda kolektor. Kira-kira diperlukan 0,7 V untuk membias reverse dioda kolektor. Setelah mencapai level ini, kolektor mengumpulkan semua elektron yang mencapai lapisan pengosongan. Karena kita menggunakan transistor dengan dc kira-kira 100, arus kolektor kira-kira 100 kali lebih besar daripada arus basis untuk setiap titik di atas knee dari kurva tersebut. Oleh karena arus kolektor sedikit bertambah dengan bertambahnya VCE, dc sedikit bertambah dengan bertambahnya VCE. Knee
VCE
Gambar 6. Kurva kolektor Tegangan Saturasi Kolektor Pada kerja normal suatu transistor, dioda kolektor harus dibias reverse. Hal ini memerlukan VCE yang lebih besar atau sama dengan suatu tegangan, tergantung pada besarnya arus kolektor yang mengalir. Sebagai patokan, banyak lembar data menuliskan VCE(sat) transistor.
IC IB VCE (sat)
VCE
Gambar 7. Daerah saturasi
Gambar 7 menunjukkan apa yang kita maksudkan dengan VCE(sat). Ini adalah harga VCE pada beberapa titik di bawah knee dengan posisi tepatnya ditentukan pada lembar data. Biasanya, VCE(sat) hanya beberapa perpuluhan volt, walaupun pada arus kolektor yang sangat besar bisa melebihi 1 volt. Bagian dari kurva di bawah knee pada Gambar 7 dikenal sebagai daerah saturasi.
1.3 Field Efect Transistor (FET)
FET pertemuan (JFET, junction FET), adalah sebuah transistor kutub tunggal; untuk bekerjanya dia hanya memerlukan pembawa mayoritas (majority carrier). Transistor kutub tunggal ini lebih mudah dipahami dari pada transistor bipolar.
(a)
(b)
(c)
(d)
Gambar 8. Pola pembiasan JFET (a), Kontruksi (b dan c) dan Simbol skematik (c) Gambar 8 (a) menunjukkan bagian dari suatu JFET. Ujung yang bawah disebut sumber (source) dan ujung yang atas disebut cerat (drain); potongan semi konduktor antara sumber dan cerat merupakan kanal (channel). Karena dalam Gambar 8 (a) digunakan bahan-n pembawa mayoritasnya adalah elektron pita konduksi. Tergantung pada besarnya tegangan VDD dan resistansi kanal, kita dapatkan sejumlah arus tertentu. Dengan melekatkan dua daerah-p pada sisi-sisi kanal, kita dapatkan JFET kanal-n seperti Gambar 8 (b). Tiap-tiap daerah-p disebut sebuah gerbang (gate). Jika kita menghubungkan suatu kawat luar yang terpisah ke tiap gerbang, kita sebut alat tersebut sebuah JFET gerbangganda. Penggunaan utama dan suatu JFET gerbang ganda adalah dengan sebuah rangkaian penyampur (mixer). Pada kesempatan kali ini kita mengkonsentrasikan diri pada JFET gerbang tunggal, suatu alat (device) yang gerbang-gerbangnya dihubungkan di bagian dalam, Gambar 8 (c). Gambar 8 (d) adalah simbol rangkaian dari komponen JFET kanal-n. Pembiasan JFET Gambar 9(a) menunjukkan polaritas normal untuk bias suatu JFET kanal-n. Caranya adalah menggunakan tegangan negatif antara gerbang dan sumber; ini membias reverse gerbang tersebut. Karena gerbang dibias reverse arus yang mengalir dalam penghubung gerbang hanyalah suatu arus yang kecil yang dapat diabaikan. Untuk pendekatan pertama, arus gerbang adalah nol. Lapisan Pengosongan
(a) (b) Gambar 9. Pembiasan normal dari JFET (a) Bias Normal (b) Lapisan pengosongan
Nama efek medan (field effect) dihubungkan dengan lapisan-lapisan pengosongan (depletion layers) di sekitar tiap sambungan pn. Gambar 9(b) menunjukkan lapisan-lapisan pengosongan tersebut. Arus dari sumber ke cerat (drain) harus mengalir melalui kanal sempit antara lapisanlapisan pengosongan. Ukuran dari lapisan-lapisan pengosongan tersebut menentukan lebar dari saluran konduksi. Makin negatif tegangan gerbang, saluran konduksi menjadi makin sempit, karena lapisan-lapisan pengosongan satu sama lain menjadi lebih dekat. Dengan
perkataan lain, tegangan gerbang mengendalikan arus antara sumber dan cerat. Makin negatif tegangan gerbang, arusnya makin kecil. Perbedaan kunci antara suatu JFET dan suatu transistor bipolar adalah gerbang dibias reverse sedangkan basis dibias forward. Perbedaan penting ini berarti JFET bekerja seperti suatu alat yang tegangannya dikendalikan; secara ideal, tegangan input sendiri mengendalikan arus output. Hal ini berbeda dari suatu transistor bipolar di mana arus input mengendalikan arus output. Kita dapat meringkas bahwa perbedaan besar yang pertama antara JFET dan transistor bipolar dalam hal resistansinya. Resistansi input dari suatu JFET secara ideal mendekati tak terhingga. Untuk aproksimasi kedua resistansi tersebut dalam orde mega ohm, tergantung pada jenis JFET tertentu. Karena itu, dalam penggunaan dimana diperlukan resistansi input yang tinggi, JFET lebih disukai. Kurva Cerat ( Drain) JFET Kurva cerat tampak sangat mirip dengan kurva kolektor. Gambar 10 menunjukkan kurva cerat untuk suatu JFET yang tipikal. Kurva yang paling atas adalah untuk VGS = nol, kondisi gerbang yang dihubung singkat. ID 10mA VGS = 0
5,62 mA
VGS = -1 VGS = -2 VGS = -3 4 15 30 Gambar 10. Set tipikal dari kurva cerat (Drain) VGS = -4 VDS
2,5 mA 0,625 mA
1.4 Rangkaian Penguat Differensial
Penguat diferensial ialah rangkaian penguat sinyal yang berfungsi untuk memperkuat selisih antara dua sinyal masukan. Terdapat 2 macam sinyal masukan dalam penguat diferensial, yaitu: Sinyal Common Mode atau Inphase. Sinyal Differential Mode atau Antiphase.
Marilah kita lebih dulu membuat dan menganalisa penampilan penguat diferensial dasar ini. Empat tahanan presisi (1%) dan sebuah op amp membentuk sebuah penguat diferensial, seperti terlihat dalam Gambar 11. Terminal masukannya ada dua, masukan bertanda (-), dan masukan (+), dihubungkan dengan terminal op amp yang terdekat. Jika E1 diganti oleh sebuah hubungan singkat, E2 menghadapi penguat pembalik dengan gain sebesar m. Karena itu, tegangan keluaran akibat E2 adalah mE2. Sekarang misalkan E2 dihubung-singkatkan. E1 akan terbagi di antara R dan mR untuk menerapkan tegangan sebesar E1m/(1 + m) pada masukan (+) op amp tersebut.
Tegangan yang terbagi ini menghadapi penguat tak-membalik dengan gain sebesar (m + 1). Tegangan keluaran akibat E1 adalah tegangan yang terbagi, E1m/(1 + m), dikali gain penguat tak-membalik itu, (1 + m), yang memberikan mE1. Karena itu, E1 diperkuat di keluarannya dengan pengali m menjadi mE1 . Bila E1 dan E2 masing-masing ada di masukan (+) dan masukan (), maka besarnya V0 adalah mE1 mE2, atau
VO = mE1 mE2 = m(E1 E2)
Persamaan diatas memperlihatkan bahwa tegangan keluaran dari penguat diferesial, VO, sebanding dengan perbedaan tegangan yang diterapkan ke masukan (+) dan masukan (). Pengali m disebut gain diferensial dan ditentukan oleh perbandingan tahanannya.
Gambar 11. Penguat diferensial dasar Contoh 1-1 Dalam Gambar 11, gain diferensial didapatkan dari:
m=
Carilah VO untuk E1 = 10 mV dan (a) E2 = 10 mV. (b) E2 = 0 mV. (c) E2 = 2OmV.
mR 100k = = 100 R 1k
Penyelesaian. Dengan Persamaan VO = mE1 mE2 = m(E1 E2) Maka (a) V0 = 100 (10 10) mV = 0 V. (b) V0 = 100 (10 0) mV = 1,0 V. (c) V0 = 100.10 ( 20) mV = 3 V. Dari contoh 1-1, bila E1 = E2 tegangan keluaran besarnya nol. Untuk mengatakannya dengan cara lain, bila suatu tegangan bersama (yang sama) diterapkan keterminal-terminal
masukannya, maka V0 = 0. Idealnya, sebuah amplifier diferensial menghilangkan segala reject (kesalahan) secara komplet pada terminal sinyal input dan hanya memperkuat tegangan potensialnya saja. Namun pada prakteknya tidak demikian. Ada pendekatan lain, yakni adanya Common Mode Rejection Ratio (CMRR), dengan persamaan: CMRR = 20 log (AD / ACM) AD = penguatan differensial dan ACM = penguatan common-mode. CMRR adalah rasio antara sinyal penguatan differensial pada input yang melewati amplifier dengan sinyal penguatan common-mode. Common Mode Rejection Ratio (CMRR) terukur dalam dB. Karakteristik Operaional Amplilfier Parameter Nilai Satuan Keterangan Tegangan yang harus diberikan antara terminal-terminal masukan melalui dua resistansi yang sama untuk memperoleh tegangan keluaran nol. Perbedaan arus yang memasuki dua terminal masukan bila keluarannya nol. Rata-rata dari dua arus masukan Perbandingan perubahan tegangan masukan terhadap arus masukan pada salah satu masukan sementara masukan yang lain terground. Ayunan tegangan keluaran puncak, yang diacukan ke nol, yang dapat diperoleh tanpa penjepitan. Perbandingan ayunan tegangan keluaran terhadap perubahan tegangan masukan. Perbandingan antara sinyal penguatan differensial pada input yang melewati amplifier dengan sinyal penguatan common-mode.
Tegangan Ofset Masukan
1-5
mV
Arus Ofset Masukan Arus Bias Masukan
20 - 200 80 - 500
nA nA
Resistansi Masukan
0,3 - 2
Ayunan Tegangan Keluaran
10 - 14
Gain Tegangan Keluaran Open Loop
50000 200.000
CMRR
70 - 90
dB
1.5 Macam-macam Rangkaian Menggunakan Op-Amp Prinsip Dasar Penguat Operasional Penguat operasional yang ideal memiliki sifat-sifat : Open loop Voltage gain Input Impedance Output Impedence Input offset Voltage Input bias current : AV : ZIN : VIN : IB = = ~ = ~ = 0
: ZOUT = 0
IB1 + IB2 =0 2
Input offset current
: IIN = IB1 - IB2 = 0
Rangkaian Inverting Inverting untuk konfigurasi dimana masukan positip menghasikan keluaran negatip atau masukan negatip menghasilkan keluaran positip. Rangkaian dari penguat operasional inverting ditunjukan dengan gambar berikut ini:
Rf
R1
Op-Amp
VIN + VOUT
Gambar 12. Rangkaian Inverting Bila suatu tegangan DC (+VIN )dipasang pada masukan (-) lewat tahanan R1, maka arus I akan mengalir seperti terlihat pada gambar 12. Arus dikendalikan oleh Op-Amp sedemikian rupa sehingga tegangan jatuh pada R1 = VIN hal ini di mungkinkan karena disini digunakan teori pengendalian dengan feed-back negatip (Tahanan Rf sebagai elemen feed-back negatip). Bila tegangan pada input dan + kecil maka Op -Amp akan mengoreksi sedemikian rupa sehingga selisih VIN - dengan VIN + sama dengan nol. Dengan demikian berlaku persamaan: VIN = I.R1 VOUT = -[Link]. Oleh karena arus I besarnya sama, maka
VOUT =
Rf VIN R1
Gain Op-Amp dengan konfigurasi inverting adalah :
A=
VOUT Rf = VIN R1
tanda negatip disini menyatakan berbalik polaritas atau antara masukan dan keluaran berbalik fasa 180, bila ditinjau dengan sinyal sinusoida.
Rangkaian Non Inverting Non-Inverting untuk konfigurasi dimana masukan positip menghasilkan keluaran positip. Atau masukan negatif menghasilkan keluaran negatif. Seperti halnya pada rangkaian inverting, disinipun akan ditunjukan rumus gain dari rangkaian ini.
Rf
IL
+
RL Vin R1 Vout
Gambar 13. Rangkaian Non-Inverting Tegangan positip VIN dihubungkan ke terminal masukan (+) Op-Amp, seperti halnya pada rangkaian inverting beda tegangan pada masukan (-) dan (+) adalah sama dengan 0(nol), sehingga tegangan masukan sama dengan tegangan jatuh pada R1 dan tegangan keluaran akan sama dengan tegangan pada R1 ditambah dengan tegangan pada Rf. Untuk itu berlaku rumus hubungan antara masukan dan keluaran sebagai berikut: VIN = I.R1 VOUT = I(R1 +Rf)
VOUT =
Gain Op-Amp
R1 + Rf VIN R1
VOUT R1 + Rf Rf = = 1+ VIN R1 R1
Rangkaian Voltage Folower
Feedback Negatip Menyebabkan VIN = VOUT + VIN VOUT Op-Amp
Gambar 14. Op-Amp sebagai Voltage Folower Untuk dapat menganalisa dengan mudah kita berikan harga ekstrim pada rangkaian gambar 13, yaitu dengan mamasang Rf = 0 dan Ri = ~. Pada kondisi ini (lihat gambar 15) Ri seolah terputus dan Rf hubung singkat, sehingga didapatkan persamaan:
VOUT Rf 0 = 1+ = 1+ = 1 VIN Ri ~
Rf
Ri
Op-Amp + VIN
VOUT
Gambar 15. Voltage Follower (Ri = ~, Rf = 0) Jadi penguatan tegangan (gain) dari rangkaian ini = 1 dan polaritasnya tidak terbalik antara masukan dan keluaran. Rangkaian ini sering juga disebut dengan rangkaian penyangga (buffer)
2. Penguat Instrumentasi
2.1 Cara Kerja Rangkaian
Rg
Gambar 16. Penguat Instrumentasi Penguat instrumentasi adalah salah satu dari penguat-penguat yang paling bermanfaat, cermat, dan serbaguna yang ada pada saat ini. Penguat ini dibuat dari tiga penguat dan tujuh tahanan, seperti terlihat dalam Gambar 16. Untuk menyederhanakan analisis rangkaiannya, catatlah saja bahwa penguat instrumentasi sesungguhnya dibuat dengan menghubungkan sebuah penguat tersangga ke sebuah penguat diferensial dasar. Op-amp A3 dan empat tahanan R yang sama membentuk sebuah penguat diferensial dengan gain (penguatan) sebesar 1. Yang harus digandengkan hanyalah tahanan-tahanan R saja. Tahanan yang disiapkan R dapat diubah-ubah untuk menyeimbangkan setiap tegangan mode-bersama. Hanya ada satu tahanan, Rg, yang digunakan untuk menyetel gain sesuai dengan persamaan:
Vo 2 = 1+ E1 E 2 a
di mana a =
Rg R
E1 diterapkan ke masukan (+) dari A2 dan E2 ke masukan (-) dari A1. VO sebanding dengan perbedaan antara tegangan-tegangan masukan. Ciri-ciri penguat instrumentasi diringkas sebagai berikut: 1. Gain tegangannya, dari masukan differensial (E1 - E2) ke keluaran berujung tunggal, disetel oleh satu tahanan. 2. Resistansi masukan dari kedua masukannya sangat tinggi dan tak berubah jika gainnya berubah. 3. VO tidak tergantung pada tegangan bersama E1 maupun E2 (CMRR tinggi).
Contoh 2-1 Dalam Gambar 16, R = 25 kOhm dan Rg = 50 Ohm. Hitunglah gain tegangannya. Penyelesaian. Dari persamaan a = Maka
Rg 50 1 = = R 25000 500
Vo 2 2 = 1+ = 1+ = 1 + ( 2 500) = 1001 E1 E 2 a 1 / 500
Contoh 2-2 Jika Rg dalam Gambar 16 dilepas sedemikian rupa sehingga Rg = , berapakah gain tegangannya? Penyelesaian.
a=
, ,jadi
Vo 2 = 1+ = 1 E1 E 2
2.2 IC Penguat Instrumentasi
Gambar 17 adalah sebuah contoh rangkaian dari penguat instrumentasi, sebuah penguat diferensial yang dioptimasikan untuk impedansi input yang tinggi dan CMRR yang tinggi. Dalam versi penguat instrumentasi yang sederhana ini, sinyal input menggerakkan pengikut tegangan yang kemudian menggerakkan penguat diferensial. Penguat seperti ini berguna pada bagian muka dari instrumen ukur karena impedansi inputnya yang tinggi. Pabrikan (manufacturer) dapat menaruh pengikut tegangan dan penguat differensial pada sebuah chip tunggal untuk mendapatkan penguat instrumentasi yang terintegrasi. Contoh yang baik adalah LM102. IC BIFET ini mempunyai JFET pada input, diikuti dengan transistor bipolar. Ini menghasilkan impedansi input kira-kira 2 X 1012 dan arus bias input hanya 3 pA. JFET juga mempunyai derau (noise) yang sangat rendah, karakteristik dasar dari penguat instrumentasi yang baik. LM102 mempunyai ciri yang menonjol lainnya seperti CMRR yang paling sedikit 110 dB, arus catu yang hanya 1 mA dan resistor luar tunggal untuk mengendalikan penguatan.
Gambar 17. IC LM102-Penguat Instrumentasi
Aplikasi Penguat Instrumentasi pada Rangkaian Transduser Salah satu aplikasi dari penguat instrumentasi adalah pada rangkaian transduser. Dalam hal ini transduser adalah alat yang mengubah perubahan lingkungan menjadi perubahan tahanan. Umpamanya, pada thermistor konfigurasi jembatan Wheatstone, adalah sebuah transduser yang resistansinya naik bersama kenaikan suhu. Untuk analisa rangkaian, transduser jembatan Wheatstone dinyatakan oleh sebuah tahanan R ditambah perubahan resistansi R. Perubahan resistansi tersebut akan mengubah besarnya tegangan. Gambar 18. ada dua transduser yang akan aktif, 500k+R, dan dua transduser yang pasif sebesar 500k. R+R B 4 R R+R R
+
Penguat Instrumentasi Rf R5 R1
Rangkaian Transduser
Rg R4
R6
R3
Gambar 18. Aplikasi Penguat Instrumentasi pada Transduser Pada gambar 18. thermistor mempunyai resistansi sebesar 500k pada suhu 25C (suhu kamar), dan akan naik sebesar 1k setiap perubahan suhu sebesar 1C. Output tegangan konfigurasi jembatan pada titik A dan B dihubungkan dengan rangkaian penguat [Link] kita gunakan R1=R3=R4=R5=R6=Rf=1,8k ,Rg=100. Tegangan catu pada jembatan sebesar Vs=4V, dan kondisi balance jembatan pada suhu 25C, maka kita bisa menentukan besarnya Vo pada suhu transduser mencapai 70C dengan penyelesaian dibawah ini. Perubahan suhu, T = (70 - 25) = 45 ; jadi perubahan resistansi R = -45 k. Maka tegangan differensial antara titik A dan B = VAB , sebesar : = VA - VB = ( Vs x = Vs x
R + R R ) ( Vs x ) R + R + R R + R + R
45k R R = Vs x =4x = -188,5 mV (2 500k) 45k R + R + R 2 R + R
Rg 100 1 Vo 2 2 = = , maka AV , = 1+ = 1+ = 1 + (2 18) = 37 R 1800 18 V A VB a 1 / 18
Dengan persamaan = a =
Jadi tegangan keluaran Vo = VAB x AV = - 6,975 V
2.3 Chopper (Perajang)
Chopper atau perajang adalah sebuah unit yang terdiri dari saklar elektronik yang dipakai untuk mengubah isyarat tegangan DC menjadi AC. Saklar tersebut benar-benar merajang DC untuk menghasilkan gelombang persegi dengan amplitudo (peak-to-peak) yang sebanding dengan harga tegangan DC dan frekuensi yang ditetapkan oleh frekuensi penggerak saklar. Elemen saklar biasanya adalah suatu MOSFET mode peninggian karena piranti ini memberikan performansi terbaik yang berkenaan dengan kecepatan pensaklaran, offset saklar rendah dan resistansi saat OFF tinggi. MOSFET dapat dipakai dalam mode deret atau mode shunt atau digabungkan dengan menggunakan konfigunasi deret-shunt. Mode deret, menggunakan MOSFET pada posisi seri terhadap input. Mode shunt, menggunakan MOSFET pada posisi parallel terhadap input. Lebih jelas terlihat gambar dibawah ini.
Input DC
Output AC
(a) Copper Mode Deret
Input DC Output AC (b) Copper Mode Shunt Isyarat gerbang
Chopper Non-Stabilised Salah satu dari masalah penguatan isyarat DC kecil (kurang dari 1 mV) adalah hanyutan yang melekat dalam penguat DC itu sendiri. Dalam rangkaian Op-Amp, yang dirangkai sebagai suatu penguat DC, hanyutannya adalah akibat dari perubahan-perubahan dalam VIO (tegangan offset masukan) dan IIO (arus offset masukan) dengan suhu. Offset-offset itu sendiri dapat ditiadakan, tetapi hanyutan dengan suhu bisa menutupi isyarat yang sedang dikuatkan dan akan menimbulkan kesalahan-kesalahan besar. Metoda lain untuk penguatan DC adalah merajang isyarat DC (mode deret-shunt) sehingga terjadi gelombang persegi dan kemudian menguatkan isyarat AC ini dengan penguat AC (Gambar 19). Keluaran dari penguat lalu didemodulasi secara sinkron sehingga keluaran dari sistem menjadi suatu versi masukan DC asli yang sudah dikuatkan.
Karena terkopel AC, penguat ini tidak dapat menambah kesalahan hanyutan apa pun yang menutupi isyarat DC yang sedang dikuatkan. Namun, lebar-jalur sistem dibatasi oleh frekuensi penggerakan perajang.
Penguat AC Input DC Demodulator Output DC yang dikuatkan
Chopper Mode DeretShunt
Penggerak Saklar
Gambar 19. T Chopper Non-Stabilised T Chopper Stabilised T Chopper stabilised adalah adalah suatu jenis penguat DC yang menggabungkan hanyutan rendah dengan lebar-jalur (bandwidth) lebar. Rangkaian biasanya dalam bentuk IC, terdiri atas dua penguat. Penguat utamanya adalah suatu penguat operasi terkopel langsung yang disambung sebagai penguat menjungkirkan dengan penguatan tegangan ditetapkan oleh R1 dan R2. Dengan cara demikian hanyutan apa pun akan ditiadakan secara otomatis. Lebar-jalur rangkaian utama tidak dibatasi oleh frekuensi penggerakan perajang karena penguat perajang mempunyai tugas tunggal yaitu mengurusi hanyutan. Jadi, tercapailah performansi lebarjalur yang lebar dikopelkan dengan hanyutan rendah. Lebar-jalur yang lazim bisa 10 MHz dengan hanyutan lebih rendah dari 1V/C. Gambar 20. T Copper Stabilised Setiap hanyutan dimasukan dari titik x lalu diumpankan ke penguat chopper. Lebar jalur perajang dibatasi sedemikian rupa sehingga perajang hanya efektif pada frekuensi-frekuensi yang bersangkutan dengan hanyutan, yaitu kurang dari 0,05 Hz, dan keluarannya disambungkan dengan masukan non-inverting di penguat operasi utama.
2.4 Karakteristik Penguat Daya IC Linier
CA3020 dari perusahaan RCA, sebagai sebuah IC monolitik, sebuah penguat daya multi-guna, multi-fungsi yang dirancang untuk digunakan dalam peralatan komunikasi audio portabel dan permanen dan sistem pengendali servo. Diagram skema dari CA 3020 ditunjukan oleh Gambar 21; blok diagram fungsionalnya pada Gambar 22. Penguat kopling langsung ini bekerja sebagai penguat depan, pembalik fasa, pendorong, dan fungsi daya keluaran tanpa transformator. IC ini dapat bekerja dari sebuah catu daya +3 sampai +9V. Daya keluaran ditentukan oleh tegangan catu. Jangkauan dari keluaran langsungnya adalah dari 35 mW pada + 3V sampai 550mW pada + 9V. Sebuah regulator tegangan kompensasi suhu mengijinkan IC ini untuk beroperasi pada jangkauan suhu 55 sampai 125C.
Gambar 21. Diagram skema dari penguat audio CA3020 (RCA). Dioda D1, D2, dan D3 yang terhubung seri bersama-sama dengan tahanan R11 dan R10 membentuk regulator tegangan. Tegangan catu eksternal dihubungkan diantara terminal 9 dan 12 dan memberikan tegangan yang relatif tetap sebesar 1,4V (pertemuan D1 dan D2) untuk catu basis dan 2,1V (pertemuan D1 dan R11) untuk kolektornya. Transistor Q2 dan Q3, bersama-sama dengan tahanan kolektor R1 dan R3, tahanan emitor R2, dan tahanan panjaran basis R4, R5, R6, dan R7, membentuk penguat (diferensial) dan pembalik fasa. Masukan isyarat ac dapat dikopling kapasitor ke terminal 3 atau terminal 10. Jika diberikan pada terminal 10, Q1 dioperasikan sebagai sebuah dari Q2 dan Q3. kopling dari Q2 dan arus maksimum dicapai melalui tahanan emitor tunggal R2. Dua isyarat beramplitudo sama, 180 berbeda fasa, terbentuk pada pasangan Q2 dan Q3. Isyarat-isyarat ini terkopling langsung ke basis penguat pengikut-emitor Q4 dan Q5. Umpan balik negatif pada Q2 diberikan oleh R5 dan R7 untuk stabilitas dc dan ac dari Q2 dan Q3. Isyarat tersebut terkopling-langsung dari emitor Q4 dan Q5 pada basis Q6 dan Q7.
Gambar 22. Blok diagram fungsional dari sebuah CA3020. (RCA) Batas Operasi IC Penguat Daya CA 3020 adalah sebuah penguat audio penguatan-tinggi. Dalam melaksanakan pengawatan rangkaian eksternal harus benar-benar diperhatikan untuk menghindari terjadinya osilasi.
Gambar 23. Cara pemasangan yang dianjurkan untuk CA3020. Tidak ada masalah dalam penggunaan komersial selama panjang kaki dibuat pendek dan komponen-komponen luar diorientasikan secara unik untuk meminimalkan terjadinya umpanbalik regeneratif yang tidak diinginkan. Metode yang gambar 23. dapat menghilangkan ketidakstabilan dan karena itu dianjurkan untuk digunakan sebuah bantalan khusus yang disiapkan untuk CA 3020 dari sebuah papan terkikis 3 1 in. Terminal pin pada papan ini, diberi nomor 1 sampai 12 berlawanan dengan arah jarum jam, yang berhubungan dengan kaki terminal dari CA 3020. Kapasitor dan resistor ditempatkan pada papan dengan konfigurasi rangkaian khusus. Ujung kaki kapasitor dan resistor dililitkan melingkar pada pin, sehingga membentuk hubungan kontak yang baik secara mekanis dan kelistrikan. Penempatan dari komponen disusun untuk menjaga hubungan antar komponen sependek mungkin. Dimana hubungan dengan komponen luar diperlukan, seperti pada transformator, kaki komponen juga dibuat
sependek mungkin. Hubungan antara terminal-terminal CA 3020, dimana diperlukan, dilakukan dengan melilitkan kabel fleksibel telanjang pada terminal-terminal tersebut sebagai penghubung. Metoda alternatif lainnya adalah menggunakan kemasan IC dual-in-line yang dapat dipasangkan secara langsung pada papan-racik komersial. Adapun komponen yang digunakan mempunyai spesifikasi berikut ini: Resistor Kapasitor Potensiometer Speaker impedansi : 0,68, 560k, -W : 0,01F 12V ; 0,1F 12V ; 1F 12V berbentuk miniatur elco : 5k 2-W : < 8
Transformator keluaran timbangan : kelvin 149-18
3. Interface Driver
3.1 Karakteristik IC Interface Driver
IC periferal drivers memiliki banyak situasi variasi pembebanan, tergantung pada aplikasi dan penerapan. Oleh karena itu seorang teknisi atau engineer harus dapat menginterprestasikan spesifikasi dari devise secara detail. Karakteristik Arus dan Tegangan Gambar 24. menunjukkan karakteristik output sebuah transistor gate TTL ketika ON dan ketika OFF. Tidak akan ada output para transistor bila IC melebihi 1 Amp ketika saat ON, dan spesifikasi ON ketika VOL = 0,7V pada 300 mA. Output transistor bisa mencapai lebih dari 30V tanpa adanya tegangan breaking down, namun akan terjadi beberapa tegangan breakdown seperti LVCEO, BVCER dan BVCES. LVCEO : tegangan jatuh output transistor, hal ini terjadi ketika keadaan pengukuran open basis. LVCEO terukur bila dilampaui tegangan jatuh BVCES dan terjadi pada arus 1 sampai 10 mA pada kurva transistor. : tegangan jatuh ketika output transistor ditahan oleh beban sebesar 500 Ohm, dan terjadi jika VCC sebesar 0 V. : tegangan jatuh ketika output transistor bertahan pada tegangan lebih rendah pada transistor gate TTL , dan terjadi jika VCC sebesar 5 V.
BVCER BVCES
Gambar 24. Karakteristik Output saat ON dan OFF
Karakteristik Transfer Pembebanan Induktif dan Kapasitif Gambar 25. (a) menunjukkan karakteristik transfer switching superimposed operasi DC pada output transistor untuk beban induktor. Gambar 25. (b) menunjukkan karakteristik transfer switching superimposed operasi DC pada output transistor untuk beban kapasitor. (a) (b)
Gambar 25. Karakteristik Output (a) Beban Induktif (b) Beban Kapasitif Pada kedua contoh beban induktif dan kapasitor tersebut, tegangan beban (VB) melebihi LVCEO. 1. Pembebanan induktor : Inisial output transistor saat turn-on, arus pada beban mula-mula 0 mA dan sedikit demi sedikit melintas kekiri menuju (VOL) serta induktor perlahan mulai tercharge hingga mencapai IOL sebesar 300mA. Saat turn-off, arus IOL menurun hingga melintasi titik tegangan beban VB, lalu memasuki saat OFF saat melebihi LVCEO dengan arus dan tegangan yang tinggi. Perputaran arus dan tegangan seperti arah jarum jam. 2. Pembebanan kapasitor : Inisial output transistor saat turn-on, arus pada beban langsung menunjukkan nilai besar hingga melewati VB kekiri sampai pada pada IOL sebesar 300mA. Saat turn-off, arus IOL menurun hingga melintasi titik tegangan beban VB, lalu memasuki saat OFF saat melebihi LVCEO dengan arus dan tegangan yang tinggi. Perputaran arus dan tegangan seperti berlawanan dengan arah jarum jam.
3.2 Motor Stepper
Motor stepper dikenal lebih mempunyai banyak kelebihan dari pada motor dc. Hal ini karena motor stepper lebih luas penggunaan dan aplikasi dalam dunia elektronika dan industri. Seperti halnya kontruksi robot, yang lebih banyak menggunakan motor stepper dalam kontruksinya.
Dalam bidang automatisasi, animatronics dan kontrol posisi. Dan banyak bidang lain yang menggunakan motor stepper. Motor stepper, berjalan pada sekuensi pulsa elektronik yang akan mengatur perputaran motor. Setiap pulsa elektronik menggerakkan rotor dari motor stepper dengan kenaikan yang tepat. Pergerakan rotor dari hasil kenaikan tersebut mengacu seperti sebuah langkah (step), hal inilah mengapa kita namakan motor stepper. Step kenaikan dari rotor membentuk rotasi (berputar) menjadi sudut yang lebih besar, diatur pada posisi tertentu, sehingga setiap motor berotasi membentuk perubahan sudut dan bergerak secara linier. Motor steper dibuat dengan sudut yang bervariasi, dengan acuan step per rotasi. Kita dapat menemukan dipasaran dengan sudut terkecil (0,12O) per step sampai sudut terbesar (22,5O) per step. Rotor
Stator
Gambar 26. Penampang Motor Stepper Rotor dan Stator Stepper motor terbuat dari Magnet permanen dan Elektromagnetik. Magnet permanen yang kuat, bertugas sebagai tangkai berputar, dinamakan Rotor. Sedang elektromagnet berupa lilitan yang terletak membentuk lingkaran dan dengan posisi tidak bergerak, dinamakan Stator. Gambar 26. sebuah stepper motor menunjukkan perbedaan rotor dan stator. Resolusi / Full-Stepping Resolusi dari sebuah stepper motor adalah jumlah rotasi sudut per pulsa. Pada contoh gambar 27. rotor berputar 90 per pulsa. Hal ini untuk mempermudah pengertian tentang resolusi, karena pada kenyataan yang ada dipasaran, resolusinya bisa mencapai 1 per step/pulsa. Sehingga untuk membentuk satu putaran penuh (1 revolusi) atau 360, akan memerlukan 360 step.
Gambar 27. Stepper motor membentuk 1 rotasi penuh (Full-Stepping) dengan step 1-5
Pada contoh diatas, kita membutuhkan 4 step untuk membentuk 1 revolusi (satu putaran).
Half-Stepping Pengoperasian Half-stepping merupakan dua kali satu resolusi dengan proses pengaktifan dua buah stator secara bersamaan. Proses tersebut seperti gambar 28. Dengan penjelasan sebagai berikut: a. Posisi I, motor mulai bergerak ketika stator atas pada keadaan ON. b. Posisi II, stator sebelah kanan menjadi ON namun stator atas masih tetap ON. Ketika dua buah lilitan tersebut sama-sama ON, posisi Rotor menjadi diantara stator atas dan stator kanan. Sebutan diantara dua posisi stator inilah yang dikenal sebagai Half-stepping. c. Posisi III, stator atas OFF dan rotor menjadi lengkap 1 step.
Pada contoh gambar 28 hanya dibahas satu kali half-stepping saja, namun tidak menutup kemungkinan untuk terjadi stator-stator lain yang mempunyai kombinasi seperti yang dijelaskan diatas.
II Gambar 28. Operasi Half-stepping
III
Rangkaian Ekivalen Stepper Motor Gambar 29. menujukkan rangkaian ekivalen dari stepper motor yang sering digunakan. Motor stepper mempunyai 6 kabel keluaran dari bodynya. Kita dapat melihat dari gambar tersebut bahwa dua kabel (Kuning dan Coklat) terhubung setengah lilitan koil dengan kabel Putih. Dan dua kabel yang lain (Biru dan Merah) menjadi pasangan dari lilitan koil dengan kabel Hitam. Prinsip kerja ini sama dengan Unipolar Empat Fasa stepper motor. Hal serupa dapat kita asumsikan tentang resistansi dari masing-masing koil. Seperti pada gambar ada 13 Ohm resistansi di center tap dari kabel kuning dan putih, serta 13 Ohm yang lain ada resistansi antara kabel putih dan kabel Coklat. Sehingga kita dapat total seluruh resistansi sebesar 26 Ohm.
Stator 1
Stator 4 Rotor
Stator 2
Kuning Putih Coklat Biru Hitam Merah
Stator 3
Gambar 29. Ekivalen elektronika dari stepper motor
Kuning / Biru
Putih / Hitam
Coklat / Merah Gambar 30. Resistansi dari Motor Stepper
3.3 IC Driver UCN5804 Motor Stepper
Saat ini telah ada dalam satu chip rangkaian pengendali motor stepper. IC ini dapat melakukan driver cukup baik untuk mengendalikan motor stepper. Interface driver ini menggunakan dua pasang transistor sebagai penggerak motor yang terhubung dengan enam kabel keluaran motor. Susunan kaki dari UCN5804 terlihat dari gambar 31. Keunggulan dari IC tersebut adalah : 1. Maksimum arus output mencapai 1,25 A. 2. Tegangan tahan output mencapai 35 V. 3. Full-step dan Half-step output. 4. Output enable dan control direction. 5. Internal dioda clamp.
6. Power-on Reset. 7. Internal thermal shutdown circuitry.
Gambar 31. Pin UCN5804
Semua input kompatibel untuk macam komponen CMOS dan TTL, dengan demikian kita langsung menghubungkan kaki input UCN5804 dengan chip controller yang mudah diprogram, misal komputer, -processor dan -controller. Bila kita menggunakan stepper motor bervoltase 5 V, resistansi sebesar 13 Ohm, maka arus yang digunakan untuk menggerakkan motor sebesar 5 V/ 13 Ohm = 0,385 A atau 385 mA, hal ini sudah mencukupi untuk UCN5804 yang mencapai arus output hingga 1,25 A. Seleksi Posisi Stepper Motor UCN5804 Jika kita menginginkan pengoperasian posisi stepper motor secara system stand-alone, maka kita membutuhkan sebuah sumber pulsa oscillator. Kita bisa membuat oscillator yang bervariasi dalam output frekuensi, pada contoh kali ini kita menggunakan 3-posisi frekuensi oscillator.
3 x 10k
ke STEP INPUT, pin 11 dari UCN5804
Gambar 32. Oscillator 3-posisi frekuensi
Dalam gambar 32. kita menggunakan IC 74C14 hex Schmitt trigger untuk membuat rangkaian oscillator. Frekuensinya bisa kita atur dengan mengubah nilai tahanan yang terhubung dengan sebuah switch. Hal ini memudahkan dalam perancangan rangkaian. Output frekuensi dari rangkaian tersebut menggunakan persamaan:
Sehingga jika kita gunakan C1 = 1 F dan R bernilai 10 kOhm berjumlah 3 kali maka kita dapatkan frekuensi output f0 dari 59 Hz sampai 177 Hz. Sebagai catatan bahwa range frekuensi tersebut untuk menentukan kecepatan terhadap karakteristik torsi dari motor stepper. Kita juga akan mengontrol arah perputaran motor. Sebuah switch akan kita rangkai ke DIRECTION, pin 14, seperti terlihat pada gambar 33. Ketika switch terhubung dengan VCC, maka motor bergerak sesuai dengan arah jarum jam dan ketika switch terhubung dengan GROUND arah perputaran motor berlawanan arah jarum jam. Rangkaian lengkap untuk membentuk system motor stepper stand-alone dapat melihat pada gambar 33.
Oscillator
UCN5804
Gambar 33. Rangkaian Test Motor Stepper Stand-alone dengan UCN5804 Catatan: pemakaian rx dan ry untuk jenis stepper motor yang digunakan, jika kita menggunakan jenis stepper motor bertegangan lebih dari 5V atau mempunyai spesifikasi penggunaan arus yang besar.
3.4 Aplikasi IC Driver Motor Stepper Dalam dunia industri, sering kita melihat penggunaan motor stepper. Seperti penggerak floppy disk pada komputer, printer, kontruksi penggerak robot, kamera sekuriti yang bisa bergerak kekiri dan kekanan serta dalam proses industri sering kita melihat adanya konveyor yang digerakkan oleh sebuah motor stepper. Seperti pada rangkaian floppy disk komputer, dimana motor stepper bergerak maju dan mundur untuk menggerakkan sensor baca berupa laser untuk membaca data yang tersimpan pada sebuah disket.
4. Rangkaian Komparator
4.1 Window Komparator
Rangkaian dari Gambar 34. dirancang untuk memonitor suatu tegangan masukan dan menunjukkan kapan tegangan ini menuju ke atas atau ke bawah batas-batas yang telah ditentukan sebelumnya. Misalnya, suplai daya IC logika untuk TTL harus diatur sampai 4.0 V. Jika tegangan suplal melebihi 5.5 V, logik tersebut bisa rusak, dan jika tegangan suplai turun di bawah 4.5 V, logik itu memperlihatkan cara kerja setengah-setengah. Karena itu, batas-batas untuk suplai daya TTL adalah 4.5 V dan 5.5 V, sehingga namanya detektor jendela. Kadangkadang rangkaian ini disebut detektor batas bertepi ganda. Dalam Gambar 34. tegangan masukan Ei dihubungkan ke masukan () dari pembanding A dan masukan (+) dari pembanding B. Batas atas VUT diterapkan ke masukan (+) dari A, sedangkan batas bawah diterapkan ke masukan () darii B. Bila Ei terletak di antara VLT dan VUT, cahaya/tanda bahayanya mati. Tapi bila Ei turun di bawah VLT atau naik di atas VUT, cahaya/tanda bahayanya hidup untuk menunjukkan bahwa Ei tidak terdapat di antara batasbatas yang ditetapkan sebelumnya.
Gambar 34. Rangkaian Pembanding Jendela Cara-kerja Rangkaian Cara-kerja rangkaiannya sebagai berikut. Misalkan bahwa Ei = 5 V. Karena Ei lebih besar dari VLT dan lebih kecil dari VUT, maka tegangan keluaran dari dua pembanding itu besamya V++ sebab kedua saklar keluarannya terbuka. Lampu/tanda bahayanya mati. Kemudian, misalkan bahwa Ei = 6.0 V atau Ei > VUT. Masukan pada titik 3 dari A lebih positif dari yang di titik 2, sehingga keluaran A ada pada potensial titik 1 atau ground. Ground ini menyalakan lampunya, dan V0 = 0 V. Sekarang misalkan bahwa Ei turun ke 4. 0 V atau Ei < VLT. Masukan (+) dari B lebih kecil dari masukan () nya, sehingga keluaran B menjadi 0 V (tegangan pada titik 1 nya). Sekali lagi ground ini menyebabkan lampu/tanda bahayanya menyala. Ingat bahwa pemakaian ini memperlihatkan bahwa titik-titik keluaran dari IC keluarga 311 dapat dihubungkan bersamasama dan keluarannya ada di V++ hanya bila keluaran dari tiap pembanding ada di V++. Bentuk gelombang keluaran dari Rangkaian komparator detektor jendela seperti pada gambar 35.
Gambar 35. Tegangan Ambang-atas dan Ambang-bawah
4.2 Detektor Penyilang-Nol (Zero Crossing Detector)
4.2.1 Detektor Penyilang-Nol Tak-Membalik Op amp dalam Gambar 36. bekerja sebagai sebuah pembanding. Masukan (+) nya membandingkan tegangan Ei dengan tegangan acuan yang besarnya 0 V (Vref = 0 V). Bila Ei berada di atas Vret, V0 menyamai +Vsat. Hal ini disebabkan tegangan pada masukan (+) nya lebih positif dan tegangan pada masukan () nya, akibatnya V0 positif. Polaritas V0 menunjukkan apakah Ei berada di atas atau di bawah Vref. Peralihan V0 menunjukkan bila Ei menyilang acuannya dan ke arah mana. Sebagai contoh, bila Vo menjalani suatu peralihan menuju positif dari -Vsat, ini menunjukkan bahwa Ei tepat menyilang 0 dalam arah positif.
Gambar 36. Zero Crossing Detector Tak-membalik; bila Ei di atas VREF, VO = +VSAT
4.2.2
Detektor Penyilang-Nol Pembalik
Masukan () op amp dalam Gambar 37 membandingkan Ei dengan suatu tegangan acuan yang besarnya 0 V (Vret = 0 V). Rangkaian ini adalah sebuah detektor penyilang-nol pembalik. Bentuk gelombang V0 terhadap waktu dan V0 terhadap Ei dapat diterangkan dengan ringkasan berikut: 1. Jika Ei berada di atas Vref, V0 menyamai Vsat 2. Bila Ei menyilang acuan menuju positif, V0 menjalani peralihan menuju negatif dari +Vsat ke -Vsat
Gambar 37. Zero Crossing Detector Membalik; bila Ei di atas VREF, VO = VSAT
4.3 Aplikasi Detektor Penyilang-Nol (Zero Crossing Detector)
Rangkaian Pengendali Pengisi-Batere
Relay
Gambar 38. Deteksi tegangan dengan Zero Crossing Detertor Misalkan bahwa kita ingin memonitor sebuah batere 12V. Bila tegangan batere tersebut turun di bawah 10,5V, kita ingin menghubungkannya ke sebuah pengisi (charger). Bila tegangan batere mencapai 13,5 V, kta ingin agar pengisinya terlepas. Karena itu, tegangan ambang bawah (VLT) sebesar 10.5 V dan tegangan ambang atas (VUT) sebesar 13,5 V. Marilah kita gunakan tegangan suplai -V sebagai VREF dan memisalkan bahwa ini menyamai -15V. Selanjutnya, marilah kita misalkan bahwa VSAT = 13,0 V. Maka kita bisa menentukan tegangan histeris (VH) dan tegangan tengah (VCTR) seperti persamaan dibawah ini:
Catat tegangan tengah (VCTR) adalah tegangan nominal dari batere. Secara sembarang kita pilih tahanan R sebesar harga yang sudah ada yaitu 100 kOhm. Sehingga kita bisa menentukan harga tahanan mR dengan persamaan ini:
V m = REF V CTR
15V = = 1,25 12V
mR = 1,25 x 100 kOhm = 125 kOhm Lalu kita mencari nR dengan persamaan :
nR = 8,66 x 100 kOhm = 886 kOhm Rangkaian akhir terlihat dalam Gambar 38. Bila Ei turun di bawah 10,5 V, V0 menjadi negatif, melepaskan relay ke kedudukan tertutup biasanya (normally close). Relay tersebut biasanya merupakan kontak tertutup (NC) yang menghubungkan pengisi ke batere Ei. Dioda D1 melindungi transistornya terhadap bias balik yang berlebihan bila V0 = Vsat. Bila baterenya terisi sampai 13,5 V, V0 pindak ke +Vsat, yang menghidupkan transistor dan mengoperasikan relay-nya. Kontak-kontak NC terbuka untuk melepaskan pengisinya. Dioda D2 melindungi op amp dan transistor terhadap transien yang diakibatkan oleh runtuhnya medan magnit relay tersebut. Gambar bentuk gelombang Vo, terlihat pada gambar 39.
Gambar 39. Bentuk gelombang Vo
5. Solid State Relay (SSR)
5.1 Prinsip Kerja Opto-Coupling (Photo-Coupler)
Opto-coupler adalah komponen yang mengombinasikan sebuah LED dan sebuah detektor foto dalam suatu kemasan tunggal. Dalam sebuah LED-dioda foto coupler, cahaya dari LED mengatur arus terbalik pada dioda foto. Dalam kondisi ini, rangkaian yang menggunakan komponen opto-coupler masukan dan keluaran terisolasi secara kelistrikan. Hal ini kenapa disebut pula sebagai opto-isolator. Pada saat ini, istilah komponen opto sudah mulai banyak digunakan dalam aneka pensaklaran dan isolasi. Komponen ini dapat berupa relay dan tranformer untuk eliminasi nois, konversi level dan isolasi potensial tinggi. System processor telah banyak menggunakan opto-coupler untuk I/O interface serta penggunaan lain, karena dari segi fisik paket manufakturing, hanya dibuat dalam 4 pin (untuk satu kanal) sampai 16 pin (untuk 4 kanal). Pada kali ini kita bahas opto-coupler buatan NEC semikonduktor seri PS25xx sampai PS86xx.
Sinyal elektro (forward current) Sinyal cahaya Emitter Detector
Sinyal elektro (collector current)
Input
Output
Konfigurasi dari rangkaian opto-coupler terdiri dari: Emitter : berupa Light Emitting Diode (LED) Saat ini ada dua macam LED, yaitu: 1. GaAs LED (Gallium Arsenida). 2. GaAlAs LED (Gallium Aluminium Arsenida). Detektor : berupa Single foto-transistor, Foto-Darlington-transistor, Photo-triac, Photo dioda.
Karakteristik sebuah Opto-coupler
Klasifikasi Symbol VF IF LED VR IR CT PD Transistor BVCEO ICEO CTR VCE(SAT) RI-O BV Coupled CI-O tON tOFF SOA SOA Forward voltage Forward current Reverse voltage Reverse current Input kapasitansi Power disipasi Collector to emitter breakdown volatage Collector to emitter current Current trasfer rasio Colecctor saturation voltage Isolation resistane Isolation voltage (AC voltage) Isolation kapasitif Turn-on time Turn-off time Safe operation area (DC) Safe operation area (pulse) Item
Tabel 5.1 Karakteristik Photocoupler Kontruksi Gambar 40. menunjukkan perspektif internal dari paket IC photocooupler. Sebuah LED ditempatkan berhadapan terhadap elemen photo-sensitif (photodarlington atau phototransistor, dan lain-lain) dengan sebuah epoksi resin light-transmittable diantara kedua elemen tersebut. Sinyal cahaya yang teremisi oleh LED ditransfer ke elemen photo-sensitif melalui internal epoksi resin. Untuk menyempurnakan pemotongan cahaya akibat efek cahaya luar, digunakan epoksi resin hitam diluar resin. Dengan kontruksi seperti pada gambar 40, akan menutup hubungan antara resin dalam dan resin luar, sehingga photocoupler akan bagus dalam isolasi, resistansi panas serta tegangan terjaga.
Kolektor Emitor Gambar 40. Perspektif Internal Paket IC Photocooupler Anoda Katoda
5.1.1 Karakteristik Utama [Link] Rasio Arus Transfer (Current Transfer Ratio = CTR) Current transfer ratio (CTR) dari sebuah photocoupler adalah harga dari arus output IC terhadap harga arus maju IF. Dalam persamaan dapat kita tuliskan :
CTR =
Ic x100% If
CTR adalah parameter ekivalen terhadap faktor penguatan hFE arus DC dari sebuah transistor. CTR merupakan karakteristik terpenting dari photocoupler karena item ini menunjukkan baik tidaknya sebuah photocoupler dalam isolasi tegangan.
[Link] Karakteristik CTR terhadap IF Gambar 41. menunjukkan karakteristik CTR terhadap IF dimana CTR tergantung besarnya arus maju IF.
Gambar 41. Karakteristik CTR terhadap IF
Ketika arus IF sangat rendah atau sangat tinggi terhadap besarnya yang layak, maka CTR akan mengecil. Dari gambar tersebut kita bisa melihat, bahwa terjadi perubahan CTR menjadi tinggi ketika arus IF sekitar 5mA sampai sekitar 20mA. Dan ditengah-tengah antara 5mA dan 20mA, CTR pada titik puncak tertinggi. Dengan kata lain bahwa CTR tertinggi akan terjadi pada range antara arus maju IF terendah dan tertinggi. [Link] Karakteristik CTR terhadap TA (Ambient temperatur) Karakteristik temperatur CTR adalah seberapa besar total efisiensi cahaya emisi dari LED dan hFE photocoupler dimana efisiensi cahaya berupa temperatur negatif, sedangkan hFE berupa koefisien temperatur positif. Sehingga dapat kita jelaskan kondisi temperatur CTR pada gambar dibawah ini. Efisiensi Cahaya Emisi LED HFE dari phototransistor CTR
+
TA 5.1.2 Karakteristik Respons TA
=
TA
Karakteristik respon dari photocoupler adalah sama seperti karakteristik respon dari phototransistor. Persamaan untuk waktu jatuh (tF) adalah: tF = RL x hFE x CCB
RL : Beban resistor hFE : faktor penguatan CCB : Kolektor-basis kapasistansi Jika RL terlalu besar, tF menjadi besar sehingga transmisi sinyal menjadi sangat cepat. Untuk melakukan test dari karakteristik waktu-respon, dapat kita lakukan rangkaian seperti berikut:
Gambar 42. Test Rangkaian untuk Respons-time
Opto-Interupter Opto-interupter adalah komponen peralatan yang terdiri dari sumber cahaya berupa LED dan sebuah foto-sensor yang dipisahkan oleh piranti lain, biasanya berupa lempengan yang berlubang, yang bisa digunakan untuk proses interup karena adanya device berurutan antara lubang (mewakili logika 1) dan tertutup (mewakili logika 0), atau sebaliknya tergantung dari aplikasi yang digunakan. Contoh komponen opto-interupter dapat dilihat pada gambar 43.
Gambar 43. Komponen dasar opto-interupter Pada LED , akan memancarkan cahaya yang melewati sebuah piringan (disk). Bila pada saat cahaya menembus lubang piringan A, maka photo-transistor akan teremisi cahaya dan kondisi transistor B dalam keadaan ON. Maka output perangkat akan OFF. Namun bila cahaya terhalang oleh piringan, maka transistor akan OFF dan output perlatan menjadi ON. Bila piringan A berputar terus menerus, maka pada photo-transistor B akan terbentuk seperti pulsa gelombang kotak. Gambar 44. menunjukkan pola gelombang keluaran dari sensor photo.
Gambar 44. Output gelombang kotak Kondisi seperti gambar 44. bisa digunakan untuk sinyal interupsi atau menghitung berapa pulsa yang akan digunakan untuk pengontrolan peralatan lain.
5.2 Aplikasi Opto-Coupling
Optocoupler pada rangkaian dua buah lampu DC 12V DC 5V 220 1N4001 AC 12V 1
Opto-coupler 4N25 2
Gambar diatas merupakan aplikasi sederhana dari optocoupler sebagai penggerak relay untuk menghidupkan dua buah lampu secara bergantian. Cara kerja rangkaian sebagai berikut: 1. Saat piranti switch pada posisi OFF, maka tidak ada arus yang mengalir pada LED optocoupler 4N25. 2. Sehingga menyebabkan kondisi photo-transistor OFF.
3. Relay tidak terinduksi, sehingga kontak relay tidak berubah posisi karena tidak ada arus yang mengalir dari VCC DC 12V ke ground. 4. Hal ini mengakibatkan lampu 1 menyala, lampu 2 padam. 5. Ketika switch pada posisi ON, yakni adanya arus sebesar : ILED =
5V = 0,0227 A = 22,7 mA 220
cukup mengemisi LED optocoupler sehingga memancarkan cahaya. 6. Photo-transistor pada posisi ON, mengakibatkan relay terinduksi sehingga kontaktor menjadi berubah posisi. 7. Akhirnya lampu 2 menyala dan lampu 1 padam. Rangkaian ini bermanfaat untuk melindungi atau mengisolasi si pengguna dari tegangan tinggi, misalnya yang digunakan adalah peralatan bertegangan tinggi.
5.3 Solid State Relay (SSR)
Perbandingan antara solid state relay (SSR) dengan relay konvensional EMR (electromagnetic relay) terlihat pada:
Input ac atau dc SSR (Solid State Relay) EMR (Electromagnetic Relay) LED dioda Lilitan koil
Output Photo-transistor, photo-dralington, light active-SCR, Rangkaian kontak ; kontak yang selalu tertutup (NC) atau terbuka (NO) tergantung sinyal kontrol pada peralatan
Gambar 45 Rangkaian input untuk SSR
Gambar 45 menunjukkan penambahan komponen yang komplek sebagai input terhadap optocoupler. Transistor Q1 dan Q2 serta komponen tahanan berfungsi sebagai rangkaian Schmitt trigger yang akan mengubah tegangan input gelombang sinus menjadi gelombang kotak pada kaki emitor Q2. Sinyal gelombang kotak ini akan mengubah kondisi LED menjadi ON dengan mengatur Q3 sampai pada tegangan saturasi, atau mengubah kondisi menjadi OFF ketika mengatur Q3 menjadi ON. Untuk tegangan yang diberikan, level trigger tertinggi dari rangkaian input sekitar 4 V. Jika tegangan input ac menjadi positif (positive-going), rangkaian schmitt trigger mengubah keadaan pada tegangannya. Ketika tegangan input menjadi negatif (negative-going), bernilai positif namun menurun, rangkaian trigger kembali pada keadaan untriggered yang bernilai sekitar 1 V.
Gambar 46 menunjukkan keadaan saat LED pada posisi dari A ke B dalam kondisi ON dan saat OFF pada posisi dari B ke E. Tergantung pada amplitudo gelombang input ac, LED akan ON maka output peralatan juga akan ON. Contoh rangkaian relay diatas, menjelaskan dari sinyal ac relay. Namun SSR juga tersedia untuk input ac atau dc input dan untuk berbagai penggunaan tegangan standart.
Gambar 46 Kondisi SSR saat ON selama periode AB dan OFF selama BE Output relay dari phototransistor dan LASCR (Light Active SCR) menghasilkan arus yang relatif kecil, namun dapat digunakan untuk mentrigger daya tinggi dari rangkaian SCR dan TRIAC, jadi bisa untuk mengontrol beban yang besar. Sebagai contoh sebuah SSR bersama dengan rectifier jembatan gelombang penuh dapat menggunakan sebuah triac yang bisa diatur, beban full-wave ac power. Untuk beban ac low-power full-wave, dua buah opto-coupler dengan output SCR bisa dihubungkan berbelakangan yang berperan sebagai SSR ac, seperti terlihat pada gambar 47. Dalam rangkaian ini dua LED terhubung secara seri terhadap sumber kontrol dc dan dua output SCR yang terhubung parallel. SCR terhubung seri dengan sumber beban ac full-wave.
Gambar 47. Dua opto-coupler output SCR, sebagai relay ac untuk beban ac
Keunggulan SSR Solid State Relay mempunyai keunggulan yang banyak dibanding dengan EMR, yakni: 1. Tidak ada bagian yang bergerak, yang membuat usang atau patah. 2. Tidak terjadi kontak yang bergetar. 3. Tidak ada interferensi electromagnetik (EMI) ketika terjadi pelepasan energi pada input (deenergized). 4. Pengoperasian yang cepat (kontak tertutup dalam ukuran mikrodetik lebih cepat dari milidetik). 5. Tahan terhadap gonjangan, tekanan dan kondisi alam yang jelek. 6. Sensitifitas tinggi (namun menggunakan daya kecil). 7. Isolasi yang bagus dan kopling kapasitif yang kecil antara input dan output. Kerugian SSR Kerugian dari SSR antara lain: 1. Bila terjadi tegangan transien yang melampaui batas (spikes) pada tegangan input akan mengakibatkan kerusakan komponen SSR. 2. Kontak output tidak terbuat dari metal ke metal seperti EMR, sehingga ada tegangan drop (sekitar 1V) yang terjadi pada SSR ketika terjadi kontak. 3. Adanya leakage arus yang kecil pada SSR ketika kondisi OFF yang menyebabkan resistansi yang rendah saat kontak open, tidak seperti pada EMR. 4. Dapat rusak akibat radiasi nuklir, dan 5. Harganya mahal.
Aplikasi rangkaian lengkap SSR dapat dilihat pada rangkaian dibawah ini:
AC 220V plug H11C6
Gambar 48. Aplikasi SSR Aplikasi sederhana ini (Gambar 48) menggunakan IC H11C6 sebagai SSR dalam pengontrolan lampu 60W. Selama S1 tidak aktif, meskipun S2 aktif maka lampu tidak akan menyala.
5.4 Saklar Analog Solid State
SCR (Silicon Controlled Rectifier )adalah salah satu keluarga komponen saklar analog yang solid state yang khusus dan dapat digunakan sebagai saklar pengontrol elektronik yang sederhana serta pada penggunaan lainnya. SCR dapat bekerja selama waktu bagian positip dari sumber gelombang sinus (lihat Gambar 49). Karena karakteristik tersebut, maka SCR banyak digunakan untuk pengatur daya.
(a) Konduksi penuh ( 180o )
(b) Konduksi 90
(c) Konduksi 45
Gambar 49. SCR dapat dibuat bekerja pada beberapa titik dari setengah gelombang positip
SINAR TERANG
Pada Gambar 50. terlihat SCR akan konduksi dan dalam waktu yang cepat akan dapat menyalurkan sedikit daya ke beban. Jadi SCR dapat digunakan sebagai pengatur panas, pengatur kecepatan motor, dan pengatur las.
SINAR SEDANG
SINAR REDUP
Gambar 50. Sudut konduksi yang rendah menyalurkan sedikit daya SCR mempunyai kerugian yang besar yaitu hanya dapat konduksi pada setengah gelombang input karena SCR adalah suatu penyearah. Akibatnya output tidak pernah menghasilkan daya lebih dari 50% daya maksimum suatu sumber ac. Kadang-kadang kerugian ini dapat menjadi suatu keuntungan. Biasanya digunakan pada motor-motor ac yang mempunyai tenaga putaran yang besar dan dapat mengatur kecepatan serta SCR dapat mengubah daya ac menjadi dc maka tidak diperlukan lagi penyearah yang lain. SCR selain menyearahkan juga pada waktu yang sama akan mengontrol daya atau kecepatan.
Seperti transistor, SCR juga mempunyai 3 terminal yaitu anoda, katoda dan gate (lihat Gambar 51) dan termasuk komponen 4 lapis yang mempunyai 3 junction PN. Bila anoda dan katoda mendapat bias maju (forward biased) sebuah junction (yang di tengah) akan mendapat bias mundur (reverse biased), maka SCR tidak akan konduksi sampai junction ini tembus (overcome) oleh tegangan yang diberikan. Titik dimana SCR mulai konduk disebut tegangan tembus maju (forward breakover voltage) = VBRF Karakteristik tegangan arus dari SCR pada gate terbuka dapat dilihat pada gambar 52.
ANODA
N
KATODA GATE
GATE KATODA (a)
P N P
ANODA
(b) Gambar 51. (a) Simbol rangkaian SCR (b) Penyajian bentuk 4 lapis
IF ARUS NAIK TINGGI HOLDING CURRENT
ARUS ARAH MUNDUR VR TEGANGAN PUNCAK ARAH MUNDUR ARUS ARAH MAJU TEGANGAN BREAK OVER ARAH MAJU VF
TURUNYA ARUS ARAH MUNDUR
IR
Gambar 52. Karakteristik V - I dari SCR dengan gate terbuka Bias maju dari junction gatekatoda lebih rendah dari tegangan tembus maju, karena itu sedikit tegangan yang diperlukan untuk membuat SCR bekerja. Arus gate mengatur tegangan tembus maju yang akan menyebabkan SCR konduksi (lihat Gambar 53).
IF
IG3>IG2
IG2>IG1
IG1>IG0
IG0 = 0
VF VBRF3 VBRF2 VBRF1 VBRF0
Gambar 53. Pengaruh arus gate pada kondisi tegangan tembus maju ( forward voltage breakover ) Ingat bahwa bila arus gate membesar maka SCR menjadi seperti dioda silikon dan bila SCR dalam bekerja akan bersifat sebagai dioda dengan bias maju. Dalam kondisi konduk SCR mempunyai resistansi yang sangat rendah dan tegangan jatuh yang kecil sehingga tegangan sumber dapat disalurkan ke beban. SCR akan terus konduksi sampai polaritas sumber membalik (reverse) atau arus menurun lebih kecil dari arus yang dibutuhkan untuk tetap konduksi (holding current). Selama SCR konduksi, arus gate dapat dihentikan tanpa adanya pengaruh pada kerja SCR. Pengontrol Fasa SCR Mengontrol dengan SCR sering dikerjakan dengan menggunakan suatu arus ac pada gate. Fasanya akan bergeser dengan pemberian polaritas tegangan katoda. Dengan menggunakan
suatu pergeseran fasa seperti pada Gambar 54, gate dapat memberikan arus kerja pada setiap titik pada setengah gelombang sinus positip. Dengan cara ini begitu arus gate diberikan maka SCR akan konduksi. Jadi SCR akan bekerja pada setiap saat selama setengah gelombang, maka SCR tepat waktu untuk menyalurkan daya ke beban yang dikontrol. Kontrol beban dikerjakan dengan berbagai perioda (duty cycle).
V BEBAN
BEBAN MENERIMA ARUS 0 MENDEKATI 150
dc MOTOR
V GATE
1,5 V DIHUBUNGKAN KEGATE MEMBERIKAN ARUS GATE AGAR SCR MULAI BEKERJA
TEGANGAN SUMBER
RANGKAIAN PHASE SHIFT
SCR
V SUMBER
Gambar 54. SCR mengontrol pergeseran fasa
Jika suatu motor berputar lebih cepat atau pemanas menjadi lebih panas, maka harus diberikan arus untuk waktu yang lebih lama . SCR tetap akan bekerja lebih lama. Jika SCR tidak dibuat untuk konduksi sampai akhir perioda, maka sedikit daya yang sampai ke beban. Perioda kerja SCR yang lebih rendah berarti kecepatan motor lebih lambat, sedikit panas dan seterusnya . Karakteristik SCR. Kemampuan SCR menangani daya mulai dari 1 A sampai beberapa ratus ampere . Bentuk fisik SCR bervariasi dari yang seperti transistor sampai yang besar seperti yang terlihat pada Gambar 55. ( bolt-on stud types )
Gambar 55. Suatu stud-mounted SCR , GE type C20
Spesifikasi SCR Tj VROM IH PFV IF VGRm PGav TGT = suhu junction = tegangan puncak balik ( peak reverse = holding current = tegangan puncak maju ( peak forwar voltage ) saat gate terbuka = arus maju efektif = tegangan puncak gate balik = disipasi daya gate rata-rata = waktu mulai kerja waktu yang dibutuhkan voltage ) saat gate terbuka
SCR untuk mencapai konduksi penuh setelah arus gate mengalir.
5.5 Relay DIL
Gambar 56. IC Analog Switch IC MAX4502 adalah contoh saklar SPST (single-pole/single-throw), satu input-satu output, yang dalam keadaan biasa selalu tertutup (normally Close-NC pada pin 8). IC ini terdiri dari switch analog CMOS yang bisa dioperasikan dengan tegangan tunggal +2V sampai +12V. Switch tersebut bisa untuk sinyal analog.
Dengan digital input (pin 6) sebagai kontrol pengaktifan switch, hanya memerlukan tegangan 0,8V untuk logika 0 dan 2,4V untuk logika 1 sehingga bisa kompatibel digunakan model IC TTL maupun CMOS.
Timing Diagram
Test Circuit
Gambar 57. Rangkaian Test dan Timing Diagram Pada rangkaian test diatas menunjukkan pola kerja dari MAX4502 saat VIN kita beri sinyal untuk mengontrol operasi switch, maka saat kondisi 50% sinyal input mau menjadi 1, output VOUT mulai menurun ketika tOFF hingga mencapai 90 %. Hal ini karena adanya rangkaian RC yang menunda. Dan berarti kondisi saklar menjadi terbuka (disconnect). Ketika VIN akan menjadi 0, maka VOUT berlahan menjadi aktif setelah melewati tON. Sinyal ini bisa kita perhatikan dengan osiloskop, karena perubahan sinyal yang cepat. Adapun fitur dari MAX4502 adalah : 1. Paket DIL (Dual In Line ) yang mudah digunakan. 2. Tegangan tunggal mulai +2V hingga +12V. 3. Resistansi saat ON sebesar 250 Ohm. 4. Arus bocor yang kecil saat Off sebesar 1nA hingga 10 nA. 5. Arus bocor yang kecil saat On sebesar 2nA hingga 20 nA. 6. Kecepatan saklar: tON = 50ns, tOFF = 75 ns. 7. Kompatible dengan logika rangkaian TTL atau CMOS.
Gambar chip internal dari MAX4502
Batas penggunaan saklar solid state dan relay DIL
Item Operasi Catu Daya Komponen Dasar Penggunaan Rangkaian Kemampuan Daya
Saklar Solid State AC dan DC SCR Motor ac dan dc Komponen tunggal Min. 1 Ampere ratusan Ampere
Relay DIL DC +2 V - +12V CMOS Frekuensi 20MHz 250MHz IC 8-pin Max. 20 mA