BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gizi yang baik menjadi landasan bagi setiap individu untuk mencapai
potensi maksimal yang dimilikinya. Karena ibu dengan gizi baik
menentukan kualitas anak yang akan dilahirkan. (Nur’aini et al., 2021).
Gangguan gizi pada ibu hamil yang paling sering terjadi merupakan
Kurang Energi Kronis (KEK). KEK pada ibu hamil merupakan suatu keadaan
ibu kurangnya asupan protein dan energi pada masa kehamilan yang
dapat mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu dan janin.
Ibu hamil yang berisiko mengalami KEK dapat dilihat dari pengukuran
lingkar lengan atas (LILA) dengan nilai kurang dari 23,5 cm. (Teguh et al.,
2019). Perbaikan gizi dilakukan melalui pendekatan continuum of care
dengan fokus pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu mulai dari masa
kehamilan sampai anak berumur 2 tahun (Nur’aini et al., 2021).
World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa prevalensi global
KEK pada kehamilan adalah 35-75% yang secara signifikan lebih tinggi
pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua
[Link] Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa 40%
kematian ibu di negara berkembang terkait dengan kekurangan energi
kronis. Kejadian kekurangan energi kronik di negara-negara berkembang
seperti bangladesh, india, indonesia, myanmar, Nepal, Srilangka dan
Thailand Adalah (15-47%) yaitu dengan BMI<18,5 Adapun negara yang
mengalami kejadian yang tertinggi adalah bangladesh yaitu (47%)
sedangkan indonesia merupakan urutan ke empat terbesar setelah india
dengan (35,5%) dan yang paling rendah adalah Thailand dengan (15-
25%) (Fatimah & Fatmasanti, 2019), Ibu hamil merupakan kelompok
sasaran yang perlu mendapatkan perhatian khusus, oleh karena itu
kekurangan gizi pada ibu hamil harus dihindari karena ibu hamil yang
menderita gizi kurang seperti kekurangan energi kronis memiliki risiko
penyakit yang lebih besar (Retni & Puluhulawa, 2021).
Berdasarkan data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa kejadian
kekurangan energi kronik pada ibu hamil di Indonesia lebih rendah yaitu
17,3%. Dimana Nusa Tenggara Timur (NTT) yang paling tinggi dengan
36,8% dan yang paling rendah di tempati oleh kalimantan utara dengan
1,7%. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013 yang
sebesar 24,2% (Kemenkes RI, 2018). Meskipun telah terjadi penurunan
dalam kurun waktu lima tahun, namun dalam satu tahun terakhir angka
kejadian wanita hamil yang kekurangan energi kronik mengalami
peningkatan. Ini dibuktikan dengan hasil survei pemantauan status gizi
2017, yang menunjukkan 14,8% wanita hamil dengan yang mengalami
risiko kurang energi kronik (Fazirah et al., 2022).
Angka kejadian yang mengalami risiko kurang energi kronik pada wanita
hamil di Sulawesi Barat berdasarkan data Riskesdas 2018 adalah 17,4%,
angka ini menurun jika dibandingkan dengan data Riskesdas 2013 sebesar
20,2%. Meskipun ada penurunan angka kejadian kurang energi kronik,
namun masih menjadi masalah kesehatan di masyarakat yang harus
diselesaikan (Kemenkes RI, 2018).
Hasil pengambilan data dari Dinkes Mamuju dari january-July tahun 2023
ibu yang mengalami risiko Kurang Energi Kronik (KEK) sebanyak 807 ibu
yang mengalami KEK. Data dipuskesmas Tampa Padang Kabupaten
mamuju jumlah ibu hamil yang mengalami risiko Kurang Energi Kronik
(KEK) pada tahun 2023 dari Januari- July sebanyak 121 ibu yang
mengalami kek (PKM Tampa Padang, 2023).
Ibu hamil dengan masalah gizi kurang memiliki dampak signifikan pada
kesehatan dan keselamatan ibu serta kualitas bayi yang dilahirkan. Untuk
mencegah kematian pada janin, perlu untuk mempertahankan kekuatan
otot selama kehamilan (Fazirah et al., 2022). Terjadinya kurang energi
kronik (KEK) pada masa kehamilan diakibatkan oleh kurangnya asupan
energi yang berasal dari zat gizi makro (karbohidrat, protein dan lemak)
maupun zat gizi mikro terutama vitamin A, vitamin D, asam folat, zat besi,
seng, kalsium dan iodium serta zat gizi mikro lain pada wanita usia subur
yang berkelanjutan (remaja sampai masa kehamilan), yang diawali
dengan kejadian ‘risiko’ KEK dapat diukur lingkar lengan atas (LILA) serta
ditandai oleh rendahnya cadangan energi dalam jangka waktu cukup lama
(Retni & Puluhulawa, 2021).
Beberapa penyebab lain yang mempengaruhi kebutuhan ibu akan zat gizi
tidak terpenuhi yaitu disebabkan karena asupan makanan yang kurang
dan penyakit infeksi, ibu hamil yang asupan makanannya cukup tetapi
menderita sakit maka akan mengalami gizi kurang dan ibu hamil yang
asupan makanannya kurang maka daya tahan tubuh akan melemah dan
akan mudah terserang penyakit, tingkat pendidikan yang rendah,
pengetahuan ibu tentang gizi kurang, pendapatan keluarga yang tidak
memadai, usia ibu yang kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
sehingga berpengaruh pada kebutuhan gizinya. Paritas ibu yang tinggi
atau terlalu sering hamil dapat menguras cadangan zat gizi tubuh, jarak
kelahiran yang terlalu dekat menyebabkan ibu tidak memperoleh
kesempatan untuk memperbaiki tubuh setelah melahirkan, ibu hamil yang
bekerja membutuhkan lebih banyak energi karena cadangan energinya
dibagi untuk dirinya sendiri, janin dan bekerja (Nurhayati et al., 2020).
Ibu hamil dengan masalah gizi dan kesehatan berdampak pada kualitas
bayi yang dilahirkan serta terhadap kesehatan dan keselamatan ibu dan
bayi. Kondisi ibu hamil KEK dapat mengakibatkan risiko terjadinya
kematian janin (keguguran), premature, lahir cacat, berat badan lahir
rendah (BBLR) bahkan kematian bayi yang diakibatkan oleh menurunnya
kekuatan otot yang membantu dalam proses persalinan, ibu hamil KEK
dapat mengganggu tumbuh kembang janin yaitu pertumbuhan fisik
(stunting), otak dan metabolisme yang menyebabkan penyakit menular
diusia dewasa (Retni & Puluhulawa, 2021).
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (FARID, 2019) dengan judul
“Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Kekurangan Energi Kronik
(Kek) Di Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin”. Hasil penelitian
Berdasarkan hasil studi kasus yang telah dilakukan pengkajian sehingga
didapatkan hasil analisa data yaitu G4P2A1 usia kehamilan 25 minggu
kehamilan fisiologis janin tunggal hidup intra uteri dengan masalah KEK.
Penatalaksanaan yang diberikan yaitu menganjurkan ibu untuk makan
makanan yang bergizi, pemberian makanan tambahan berupa biscuit dan
susu. Dilakukan pemantauan selama 2 minggu didapatkan hasil terjadinya
kenaikan LILA dari 22 cm menjadi 23,5 cm.
Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Hidayanti & Fitriyani,
2021) dengan judul “Asuhan Kebidanan Kehamilan pada Ny.S dengan
Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Desa Loning Wilayah Kerja Puskesmas
Klareyan Kabupaten Pemalang”. Hasil penelitian yang didapat Asuhan
kebidanan yang dilakukan kepada Ny. S selama masa kehamilan yaitu UK
30 minggu sampai 37 minggu). KEK yang dialami oleh Ny.S karena IMT ibu
dalam kategori kurus, sehingga kalori yang didapatkan sampai kehamilan
masih kurang, selama kehamilan telah diberikan asuhan tentang gizi ibu,
memeriksakan kehamilannya dan mendapat PMT dari Puskesmas,
sehingga pada saat kehamilan berat badan Ny.S mengalami kenaikan 12,7
Kg, serta LILA Ny.S menjadi 22,5 cm.
Menurut penelitian terdahulu yang dilakukan (Sartini & Mona, 2022)
dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Kekurangan
Energi Kronik (KEK) Melalui Pemberian Makanan Tambahan Di Puskesmas
Tanjung Balai Karimun”. Hasil penelitian ini membuktikan adanya
pengaruh yang bermakna pemberian PMT pemulihan selama 3 bulan
terhadap Peningkatan status gizi ibu hamil dengan KEK berdasarkan
pengukuran LILA. Peningkatan berat badan ibu hamil KEK pada penelitian
ini sebesar 3,87±0,77 kg. Hal ini menunjukkan adanya kesesuaian antara
peningkatan konsumsi energi dan protein dengan kenaikan LILA dan juga
berat badan ibu hamil KEK.
Undang-undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 Bab VIII pasal 141
menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan
mutu gizi perseorangan dan masyarakat, peningkatan mutu gizi yang
dimaksud dilakukan melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan
perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan
kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Amanah tersebut
telah ditindak lanjuti sesuai Peraturan Menteri Kesehatan nomor 23 tahun
2014 tentang Upaya Perbaikan Gizi (Kemenkes RI, 2019).
Upaya pemerintah dalam menangulangi masalah KEK pada ibu hamil
yaitu dengan adanya program seribu hari pertama kehidupan (HPK)
dengan pemberian makanan tambahan (PMT), susu dan tablet FE untuk
mencegah anemia dan tetap melakukan komuikasi informasi dan Edukasi
pada ibu hamil, keluarga, dan masyarakat agar tetap menjaga asupan
nutrisi yang baik, menjaga pola hidup sehat dan meningkatkan pelayanan
kesehatan masyarakat (Kemenkes RI, 2019).
Berdasarkan latar belakang penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dan membahas asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan Kekurangan
Energi Kronis (KEK) di Puskesma Tampa Padang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas maka rumusan masalah pada
kasus ini adalah “Bagaimana asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
masalah Kekurangan Energi Kronis (KEK).
[Link]
[Link] Umum
Untuk mengetahui penataklasanaan asuhan kebidanan pada ibu hamil
yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK).
[Link] Khusus
a. Untuk mengkaji asuhan kebidanan ibu hamil dengan
masalah Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Puskesmas
Tampa Padang.
b. Untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah aktual
asuhan kebidanan ibu hamil dengan Kekurangan
Energi Kronis (KEK) di Puskesmas Tampa Padang.
c. Untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalh potensial
asuhan kebidanan ibu hamil dengan masalah
Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Puskesmas Tampa
Padang.
d. Untuk mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan
yang memerlukan penanganan segera asuhan
kebidanan ibu hamil dengan masalah Kekurangan
Energi Kronis (KEK) di Puskesmas Tampa Padang.
e. Untuk merencanakan asuhan kebidanan yang
menyeluruh pada asuhan kebidanan ibu hamil dengan
masalah Kekurangan Energi Kronis (KEK) di Puskesmas
Tampa Padang.f.
f. Untuk mengimplementasikan asuhan kebidanan ibu
hamil dengan masalah kekurangan energi kronis (KEK)
dipuskesmas mamuju tengah.
g. Untuk mengefaluasi asuhan kebidanan ibu hamil
dengan masalah kekurangan energi
kronis(KEK)Dipuskesmas mamuju tengah
h. Untuk mengimplemetasikan asuhan kebidanan ibu
hamil dengan masalah Kekurangan Energi Kronis (KEK)
di Puskesmas mamuju Tengah
B. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Informasi dari data ini dapat di pergunakan sebagai bahan pertimbangan
bagi penulis berikut yang berkaitan dengan ibu hamil yang Kekurangan
Energi Kronis (KEK).
2. Manfaat Praktis
A) Bagi penulis
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan informasi
(pengetahuan) pada masyarakat terutama pada ibu hamil dengan
masalah Kekurangan Energi Kroniks (KEK).
B) Bagi Puskesmas Tampa Padang
Diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dan informasi dalam
memberikan pelayanan sehinggan dapat mempertahankan mutu
pelayanan terutama dalam memberikan asuhan pelayanan kebidanan
dengan baik.
C) Bagi Ibu
Memberikan masukan pada ibu tentang nutrisi sehingga lebih baik
mempertahankan kebutuhan nutrisi gizi selama kehamilan
dansesudahnya sehingga dapat mencegahnya masalah kekurangan gizi
serta diharapakan terjadi perubahan sikap dan perilaku kearah yang lebih
baik.
E. Ruang Lingkup
1. Sasaran
Sasaran pada penelitian ini yaitu pada ibu hamil dengan massalah
Kekurang Energi Kronis (KEK).
2. Tempat
Lokasi pengambilan kasus yaitu di Puskesmas Tampa Padang.
3. Waktu
Penelitian ini di lakukan pada bulan Juli-September 2023.
BAB II
A. Tinjauan Umum Kekurangan Energi Kronis (KEK)
1. Definisi
Kekurangan energi kronis (KEK) merupakan keadaan dimana tidak
seimbangnya antara asupan makan untuk pemenuhan kebutuhan gizi dan
pengeluaran energi yang berlangsung menahun (kronis). Dikatakan
mempunyai risiko KEK apabila pengukuran diameter lingkar lengan atas
(LiLA) pada ibu kurang dari 23,5 cm. Kejadian KEK pada ibu hamil di
pengaruhi oleh faktor langsung dan faktor tidak langsung (Alifka, 2020).
Kekurangan energi kronis (KEK) adalah masalah gizi yang disebabkan
karena kekurangan asupan makanan dalam waktu yang cukup lama,
hitungan tahun. Kurangnya asupan energi yang berasal dari zat gizi makro
(karbohidrat, protein dan lemak) maupun zat gizi mikro terutama vitamin
A, vitamin D, asam folat, zat besi, seng, kalsium dan iodium serta zat gizi
mikro lain pada wanita usia subur yang berkelanjutan (remaja sampai
masa kehamilan), mengakibatkan terjadinya kurang energi kronik (KEK)
pada masa kehamilan, yang diawali dengan kejadian ‘risiko’ KEK dan
ditandai oleh rendahnya cadangan energi dalam jangka waktu cukup lama
yang diukur dengan lingkar lengan atas (LiLA) (Kementerian Kesehatan RI,
2018).
2. Faktor Penyebab Kekurangan Energi Kronis (KEK)
A) Usia
Semakin muda dan semakin tua umur ibu yang sedang hamil akan
berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Umur muda perlu
tambahan gizi yang banyak karena selain digunakan pertumbuhan dan
perkembangan dirinya sendiri, juga harus berbagi dengan janin yang
sedang dikandung. Sedangkan untuk umur tua perlu energi yang besar
juga karena fungsi organ yang melemah dan diharuskan untuk bekerja
maksimal, maka memerlukan tambahan energi yang cukup guna
mendukung kehamilan yang sedang berlangsung. Sehingga usia yang
paling baik adalah lebih dari 20 tahun dan kurang dari 35 tahun, dengan
diharapkan gizi ibu hamil akan lebih baik. Karena pada ibu yang terlalu
muda (kurang dari 20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan antara
janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan
adanya perubahan hormonal yang terjadiKekurangan Energi Kronis (KEK)
dari pada ibu primigravida dan multigravida. Paritas adalah status
seresponden wanita sehubungan dengan jumlah anak yang pernah
dilahirkannya. Paritas merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya
KEK pada ibu hamil. Biasanya ibu dengan paritas lebih dari 5 kali memiliki
kemungkinan besar untuk melahirkan bayi BBLR. Ibu yang baru pertama
kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam
memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan. Sebaliknya ibu yang
sudah pernah melahirkan lebih mempunyai anggapan bahwa ia sudah
berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan
kehamilannya.
B)Pendapatan
Penghasilan adalah jumlah pendapatan yang diperoleh seorang ibu atas
pencapaian pekerjaan mereka dalam periode tertentu, baik harian,
bulanan, dan mingguan tahunan. Tingkat pendapatan adalah faktor utama
dalam menentukan status gizi wanita hamil. Pendapatan kurang lebih
banyak mengalami kejadian KEK di bandingkan dengan pendapatan cukup
hal ini dikarenakan tingkat pendapatan sangat berpengaruh pada
kebiasaan makan. Selanjutnya, nilai gizi berperan dalam memprioritaskan
pasokan makanan. Bagi mereka yang berpenghasilan lebih rendah,
memenuhi kebutuhan makanan pokok hanya dapat dipenuhi melalui
konsumsi sumber karbohidrat. Jika penghasilan meningkat, maka jenis
makan lebih banyak sumber protein murah sehingga makanan yang dibeli
tidak masuk dalam Prioritas kedua. Pada masyarakat yang memiliki
ekonomi tercukupi Bisa membeli bahan pangan prioritas terakhir yaitu
bahan pangan yang Berupa hewani dan produk pangan lainnya.
Umumnya berkaitan Dengan berbagai masalah kesehatan yang dihadapi
disebabkan karena Ketidak mampuan dan ketidak tahuan dalam
mengatasi berbagai Masalah kesehatan terutama masalah asupan gizi.
Tingkat pendapatan Sangat menentukan pola konsumsi secara langsung
yang berpengaruh Terhadap konsumsi pangan keluarga (Fazirah et al.,
2022)
D) Perilaku hidup bersih dan sehat (PBHS)
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan praktik
perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang secara
sadar untuk meningkatkan kesehatannya. PHBS rumah tangga penting
diterapkan untuk meningkatkan kesehatan keluarga khususnya ibu hamil.
Semakin baik PHBSrumah tangga maka produktivitas kerja anggota
keluarga meningkat sehingga pemenuhan gizi keluarga dapat dicapai.
Oleh karena itu didapatkan hasil yang signifiknan antara PHBS dengan
kejadian KEK ibu hamil (Novitasari et al., 2019).
E) Penyakit infeksi
Penyakit infeksi dapat bertindak sebagai pemula terjadinya kurang gizi
sebagai akibat menurunya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan
dalam saluran pencernaan atau peningkatan kebutuhan zat gizi oleh
adanya penyakit. Kaitan penyakit infeksi dengan keadaan gizi kurang
merupakan hubungan timbal-balik, yaitu hubungan sebab akibat. Penyakit
infeksi dapat memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang jelek
dapat mempermudah infeksi. Penyakit yang umumnya terkait dengan
masalah gizi antara lain diare, tuberkulosis, campak dan batuk rejan
(Fitrianingtyas et al., 2018).
F) Pengetahuan
Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang ibu akan memengaruhi dalam
pengambilan keputusan dan juga akan berpengaruh pada perilakunya. Ibu
dengan pengetahuan gizi yang baik kemungkinan akan memberikan gizi
yang cukup pada bayinya hal ini lebih penting lagi apabila ibu memasuki
masa ngidam, yang biasanya perut enggan dimasuki makanan apapun
yang bergizi, karena rasa mual yang dirasakan, justru akan memilih
makanan dengan rasa segar dan asam. Walaupun dalam kondisi yang
demikian apabila seorang ibu memiliki pengetahuan yang baik maka ibu
tersebut akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan gizinya dan juga
bayinya (Fitrianingtyas et al., 2018).
3. Deteksi Dini Kekurangan Energi Kronis (KEK)
Status gizi pada remaja sangat penting terutama pada remaja putri
karena mereka merupakan calon ibu dan mereka membutuhkan
kebutuhan gizi yang terus bertambah untuk proses pertumbuhan. Bila
masa ini konsumsi gizi tidak seimbang maka mengakibatkan kekurangan
gizi. Salah satu alat pengukuran terhadap KEK adalah dengan melakukan
pengukuran terhadap LILA. Lingkar lengan atas menggambarkan
cadangan lemak keseluruhan dalam tubuh. Besarnya ukuran lingkar
lengan atas menunjukkan persediaan lemak tubuh cukup banyak,
sebaliknya ukuran yang kecil menunjukkan persediaan lemak sedikit.
Penggunaan ukuran lingkar lengan atas pada pelayanan kesehatan
digunakan untuk mengetahui risiko kekurangan energi kronis (KEK) pada
wanita usia subur.
Pengukuran LILA pada Wanita Usia Subur (WUS) adalah salah satu cara
deteksi dini yang mudah dan dapat dilaksanakan oleh masyarakat awam,
untuk mengetahui kelompok berisiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur yaitu pita ukur LILA
dan ditandai dengan centimeter. Tetapi pengukuran LILA ini tidak dapat
digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek.
Juga ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, terutama jika
digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi. Sehingga
untuk mengetahui status gizi pada remaja selain dengan menggunakan
LILA perlu dilengkapi dengan teknik pengukuran antropometri yang lain
yang dapat digunakan untuk mengetahui perubahan status gizi seseorang
dalam jangka pendek.
Pada remaja putri wanita hamil yang LILA <23,5cm berarti menderita
risiko kekurangan energi kronik (KEK), yang harus dirujuk ke
puskesmas/sarana pelayanan kesehatan lain, untuk mendapatkan
konseling dan pengobatan. Pengukuran LILA dapat dilakukan oleh remaja
putri atau wanita itu sendiri, kader atau pendidik. Cara ukur pita LILA
untuk mengukur lingkar lengan atas dilakukan pada lengan kiri atau
lengan yang tidak aktif. Pengukuran LILA dilakukan pada pertengahan
antara pangkal lengan atas dan ujung siku dalam ukuran cm (centi
meter). Kelebihannya mudah dilakukan dan waktunya cepat, alat
sederhana, murah dan mudah dibawa (Noor et al., 2021).
4. Dampak Kekurangan Eergi Kronis (KEK)
Kekurangan energi pada masa kehamilan akan menimbulkan masalah
Khususnya masalah kesehatan bagi ibu dan janin. Kekurangan gizi pada
trimester pertama akan berdampak pada janin, menyebabkan keguguran,
kematian bayi pada saat masa newborn, cacat bawaan, anemia atau
kekurangan sel darah pada bayi, kematian dalam kandungan, dan bayi
lahir [Link] pada ibu hamil juga berisiko menyebabkan banyak
penyakit baik pada ibu hamil dan anak yang akan dilahirkan, berikut
merupakan beberapa dampak penyakit yang bisa terjadi pada ibu hamil
A) Anemia pada ibu hamil
Anemia adalah penyakit kekurangan sel darah merah, dimana terjadi saat
kadar hemoglobin seorang ibu hamil kurang dari 11 g/dl di fase trimester I
dan III dan kurang dari 10,5 g/dl pada fase trimester II.
Tanda yang terjadi saat ibu hamil mengalami anemia adalah bermuka
pucat, stomatitis, dan terdapat eodema pada kaki karena
hipoproteinemia. Anemia yang dialami juga bermacam-macam mulai dari
anemia gizi besi, anemia megaloblastik, anemia hipoplastik,hingga
anemia hemolitik Dampak anemia pada ibu hamil sendiri termasuk fatal
karena jika sudah parah, ibu hamil bisa mengalami abortus atau
keguguran yang disebabkan oleh darah ibu yang tak cukup mengikat
oksigen untuk metabolisme bayi yang dikandungnya.
Si ibu juga akan lebih rentan melahirkan bayi prematur, ketuban pecah
dini, perdarahan postpartum dan BBLR (Putri et al., 2023).
B) Preeklamsia
Preeklamsia adalah penyakit yang berhubungan dengan kehamilan yang
diakibatkan oleh tekanan darah yang terlalu tinggi dan juga tidak
terkontrol. Preeklampsia dapat terjadi dengan atau tanpa gejala. Gejala
preeklampsia meliputi sakit kepala, kelainan penglihatan,
ketidaknyamanan perut bagian kanan atas, mual dan muntah, dan
berkurangnya produksi urin. Penyakit terusan dari preeklamsia adalah
eklampsia, yaitu kelainan selama kehamilan, persalinan atau setelah
persalinan yang diawali dengan kejang ringan dan dapat disertai koma.
Pada umumnya, preeklamsia muncul pada saat kehamilan mencapai
minggu ke-20, dan dalam beberapa situasi, dapat berkembang menjadi
kondisi yang lebih serius, yaitu eclampsia yang akan datang Gejala
eklampsia adalah gangguan penglihatan, oliguria, mual dan muntah, sakit
kepala yang parah, tangan dan kaki membengkak, sakit perut dibagian
kanan atas, hingga proteinuria. Cara menangani eklampsia mulai dari
bedrest seharian dan banyak istirahat, minum obat pengontrol tekanan
darah dan vitamin, juga pemeriksaan janin secara Berkala ke dokter. Ibu
hamil dengan penyakit KEK berisiko lebih besar terkena preeklamsia
karena status gizi berpengaruh pada tekanan darah. Apabila tekanan
darah tinggi dan status gizi underweight / kurang gizi, ibu hamil bisa
terkena eklamsia yang bisa berdampak pada kesehatan ibu hamil dan
bayi (Putri et al., 2023).
c) Bayi lahir stunting
Stunting adalah kondisi di mana bayi tidak tumbuh dengan benar karena
kekurangan gizi kronis, mengakibatkan terlalu pendek untuk ukuran usia
mereka. Nutrisi yang tidak memadai pada bayi dapat memiliki efek
negatif pada pertumbuhan fisik dan mental mereka, menghalangi kinerja
belajar mereka. Konsekuensi lain termasuk kekebalan yang berkurang,
peningkatan risiko penyakit, cacat, dan tingkat kematian yang lebih tinggi.
KEK ibu dapat mempengaruhi terjadinya stunting pada bayi. Kesehatan
dan status KEK ibu selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan janin. Wanita hamil dengan asupan energi rendah juga
dapat mengakibatkan pasokan energi yang tidak memadai ke janin. KEK,
seperti yang diukur oleh Lingkaran Tangan Menengah atas (LILA), perlu di
pantau sebelum kehamilan dan selama usia reproduksi untuk memastikan
kehamilannya yang aman dan bebas risiko. Asupan vitamin dan mineral
yang disarankan juga harus dijamin (Putri et al.. 2023).
d) Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Apabila seorang ibu hamil mengalami gizi buruk atau kekurangan energi
kronis (KEK), hal ini akan memiliki dampak yang signifikan pada
pertumbuhan janin yang dikandungnya. Dampak ini akan mempengaruhi
berat badan lahir bayi, yang kemungkinan akan lebih rendah dari yang
seharusnya. Berat badan bayi yang rendah ini memiliki risiko kematian
bayi yang lebih tinggi. Status gizi janin merupakan faktor penentu dalam
menentukan berat badan bayi yang baru lahir, dan status gizi janin ini
dipengaruhi oleh status gizi ibu selama hamil hingga melahirkan (Putri et
al., 2023).
Kondisi ketidakseimbangan nutrisi atau malnutrisi ini menyebabkan
penurunan jumlah darah dalam tubuh ibu. Volume darah yang cukup
penting dalam mengirimkan nutrisi dan oksigen ke janin melalui plasenta.
Ketika terjadi penurunan volume darah, curah jantung menjadi tidak
mencukupi, sehingga pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin
melalui plasenta mengalami penurunan. Akibatnya, ukuran plasenta juga
menjadi lebih kecil. Selain itu, gangguan dalam sirkulasi oksigen dan
nutrisi juga dapat menghambat pertumbuhan janin atau menyebabkan
bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) (Putri et al., 2023).
e) Komplikasi Persalinan dan Proses Pertumbuhan Janin yang Terganggu
Kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil dapat memiliki dampak
negatif pada proses persalinan. Hal ini dapat menyebabkan Persalinan
yang sulit, memanjang, persalinan prematur, pendarahan pasca
persalinan, serta meningkatkan risiko persalinan melalui operasi KEK juga
dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan berkontribusi pada risiko
keguguran, abortus, kelahiran mati, kematian neonatal, cacat bawaan,
anemia pada bayi, asfiksia intrapartum (kematian dalam kandungan), dan
kelahiran bayi dengan berat badan rendah (BBLR) Bayi yang lahir dengan
BBL.R memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, mengalami kekurangan
gizi, gangguan pertumbuhan, dan gangguan perkembangan (Putri et al.,
2023).
5. Gizi Seimbang bagi Ibu Hamil
Cara sederhana pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil adalah dengan
menerapkan prinsip gizi seimbang yang diwujudkan dalam Isi Piringku
pada setiap kali makan (makan pagi, makan siang, dan makan
sore/makan malam). Selain itu, perlu disertai dengan dua kali
snack/kudapan setiap hari yaitu snack/kudapan pagi dan snack/kudapan
sore. Beragam jenis pangan dalam Isi Piringku dapat dikelompokkan
menjadi enam kelompok pangan (makanan dan minuman), yaitu: 1)
makanan pokok, sebagai pangan sumber karbohidrat seperti nasi,
singkong, ubi, kentang, sagu, jagung dan pangan pokok lainnya. 2) lauk
pauk sebagai pangan sumber protein yang juga kaya vitamin dan mineral
seperti ikan, telur, daging, susu, tahu dan tempe. 3) Buah-buahan sebagai
pangan sumber vitamin C, vitamin dan mineral lainnya, seperti pepaya,
jeruk, pisang, semangka, dan buah lainnya
.4) Sayur-sayuran sebagai pangan sumber serat, vitamin dan mineral
seperti hayam, daun singkong, daun kelor, daun katuk, [Link],
wortel, dan lainnya. 5) Gula, garam dan lemak yang biasanya digunakan
dalam pengolahan makanan dan perlu dibatasi agar tidak berlebihan. 6)
Air minum sebagai sumber air bagi tubuh (PERGIZI, 2021).
[Link]
Seorang wanita selama kehamilan memiliki kebutuhan energi yang
meningkat. Energi ini digunakan untuk pertumbuhan janin, pembentukan
plasenta, pembuluh darah, dan jaringan yang baru. Selain itu, tambahan
kalori dibutuhkan sebagai cadangan lemak serta untuk proses
metabolisme jaringan baru. Ibu hamil memerlukan sekitar 80.000
tambahan kalori pada kehamilan. Dengan demikian dalam satu hari
asupan energi ibu hamil trimester ketiga dapat mencapai 2300 kkal/hari.
[Link]
Pada saat hamil terjadi peningkatan kebutuhan protein yang disebabkan
oleh peningkatan volume darah dan pertumbuhan jaringan baru. Jumlah
protein yang harus tersedia sampai akhir kehamilan adalah sebanyak 925
gr yang tertimbun dalam jaringan ibu, plasenta, serta janin. Sebanyak 17
gram untuk kehamilan pada trimester ketiga atau sekitar 1,3 g/kg/hr.
Dengan demikian, dalam satu hari asupan protein dapat mencapai 67-100
gr.
[Link], Bagi pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin
dan mineralseperti vitamin C, asam folat, zat besi, kalsium,dan zink.
Angka kecukupan untuk tambahan gizi ibu hamil pada trimester ketiga
adalah vitamin A +300 RE, vitamin C +10 mg, tiamin +0.3 mg. Riboflavin
+0,3 mg, niasin 4 mg, asam folat +200 με.Vitamin B12 +0,2 µg, kalsium
+150 mg, magnesium +40 mg, zat besi +13 mg, zink +10,2 mg, serta
iodium +50 µg
d. Zat besi
Selama hamil, zat besi banyak dibutuhkan untuk mensuplai pertumbuhan
janin dan plasenta serta meningkatkan jumlah sel darah merah ibu. Zat
besi merupakan senyawa yang digunakan untuk memproduksi
hemoglobin yang berfungsi untuk: (1. Mengangkut oksigen dari paru-paru
ke seluruh tubuh( 2. Sintesis enzim yang terkait besi (3. Penggunaan
oksigen untuk produksi energi sel. Kebutuhan zatBBesi yang besar
terutama pada kehamilan yang menginjak usia trimester ketiga tidak akan
mungkin tercukupi hanya melalui diet. Oleh Karena itu, suplementasi zat
besi sangat penting sekali, bahkan kepada ibu hamil status gizinya sudah
baik.
e. Asam folat
Asam folat berperan dalam berbagai proses metabolik seperti metabolism
beberapa asam amino, sintesis purin, dan timidilat sebagai senyawa
penting dalam sintesis asam nukleat. Selain itu asam folat juga
dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan sel darah putih
dalam sum-sum tulang belakang dan untuk pendewasaannya. Kekurangan
asam folat berkaitan dengan tingginya insiden komplikasi kehamilan
seperti aborsi spontan, toxemia, prematur, pendeknya usia kehamilan dan
hemorrhage (pendarahan).
[Link]
Ibu hamil dan bayi membutuhkan kalsium untuk menunjang
perrtumbuhantulang dan gigi serta persendian janin. Selain itu kalsium
juga digunakan untuk membantu pembuluh darah berkontrkasi dan
berdilatasi. Jika kebutuhan kalsium tidak tercukupi dari makanan, kalsium
yang dibutuhkan bayi akan diambil dari tulang ibu yang mengakibatkan
tulang ibu menjadi keropos atau [Link] kalsium selama
hamil akan menyebabkan tekanan darah ibu menjadi meningkat.
g. Yodium Ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi yodium sekitar 200
miligram dalam bentuk garam beryodium. Kekurangan yodium dapat
menyebabkan hipotirodisme yang berkelanjutan menjadi kretinisme.
[Link] berperan dalam pembentukan tulang dan gigi janin serta
kenaikan metabolisme kalsium ibu. Kekurangan fosfor menyebabkan kram
pada tungkai ibu hamil.
[Link] diperlukan tubuh untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Kekurangan
fluor menyebabkan pembentukan gigi tidak sempurna. Fluor terdapat
dalam air minum.
[Link] berperan dalam metabolisme air dan bersifat mengikat cairan
dalam jaringan sehingga mempengaruhi keseimbnagan cairan tubuh pada
ibu hamil. Kebutuhan natrium meningkat seiring dengan meningkatnya
kerja ginjal. Kebutuhan natrium ibu hamil sekitar 3,3 gram per minggu
(Purwanto & Sumaningsih, 2019).
6. Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT)
Penigkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan adanya
adaptasi ibu terhadap pertumbuhan janin. Analisis dari berbagai
penelitian menunjukkan bahwa berat badan yang bertambah
berhubungan dengan perubahan fisiologi yang terjadi pada kehamilan dan
lebih dirasakan pada ibu primigravida untuk menambah berat badan pada
masa kehamilan.
Perkiraan peningkatan berat badan:
1) Kg dalam kehamilan 20 minggu
2) 8,5 dalam 20 minggu kedua (0,4kg/minggu dalam trimester akhir)
3) Totalnya sekitar 12,5 kg
Banyak factor yang mempengaruhi peningkatan berat badan adanya
Edema, proses metabolisme, pola makan,muntah atau diare dan merokok.
Perubahan berat badan ini dapat dirinci sebagai berikut:
1) – Janin 3-3,5 kg
2) – Plasenta 0,5 kg
3) Air ketuban 1 kg
4) – Rahim 1 kg
5) Timbunan lemak 1,5 kg
6) Timbunan protein 2 kg
7) Retensi air garam 1,5 kg.