0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan70 halaman

Tinjauan Pustaka Perencanaan Struktur Bangunan

Dokumen ini membahas aspek-aspek penting dalam perencanaan bangunan, termasuk arsitektur, struktur, dan mekanikal elektrikal. Terdapat penjelasan tentang landasan teori struktur bangunan, jenis-jenis pondasi, dan persyaratan perencanaan pondasi yang aman dan efektif. Beberapa contoh perencanaan bangunan yang mengutamakan aspek struktur dan kesehatan ruangan juga disertakan.

Diunggah oleh

Tony kristianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan70 halaman

Tinjauan Pustaka Perencanaan Struktur Bangunan

Dokumen ini membahas aspek-aspek penting dalam perencanaan bangunan, termasuk arsitektur, struktur, dan mekanikal elektrikal. Terdapat penjelasan tentang landasan teori struktur bangunan, jenis-jenis pondasi, dan persyaratan perencanaan pondasi yang aman dan efektif. Beberapa contoh perencanaan bangunan yang mengutamakan aspek struktur dan kesehatan ruangan juga disertakan.

Diunggah oleh

Tony kristianto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Tinjauan Pustaka


Perencanaan sebuah bangunan akan mencakup banyak aspek.
Aspek tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan
sebuah bangunan, antara lain adalah Aspek Arsitektural, Aspek
Struktur, Aspek Mekanikal Elektrikal, Aspek Plumbing [Link] yang
menjadi bahan pertimbangan yang dominan adalah aspek struktur.
Dalam perencanaan suatu struktur bangunan diperlukan beberapa
landasan teori untuk mendukung proses perencanaan. Landasan teori
tersebut bias berupa pengetahuan dan perangkat untuk
memudahkan menganalisa sebuah struktur yaitu analisa struktur.
Selain analisa struktur juga dibutuhkan informasi tentang bahan,
kekuatan suatu bahan yang nanti akan digunakan, serta hal hal lain
yang berpedoman pada peraturan-peraturan yang telah ditetapkan
dan beraku di Indonesia yang menjadi Standart Perencanaan.
Perencanaan sebuah gedung juga perlu memperhatikan aspek
Arsitekturalnya, supaya Gedung tersebut mempunyai karakteristik
tertentu misalkan sesuai dengan kekhasan suatu daerah( Ikonik ).
Sebagai acuan untuk perencanaan Kantor Bersama Mall Pelayanan
Publik Kabupaten Banjarnegara antara lain adalah :
Christina Lilies Vellani dalam tugas Akhir dengan judul
Perencanaan Pembangunan Kantor Dinas Pendapatan Daerah
Kabupaten [Link] Pembangunan Kantor Dinas
Pendapatan Daerah Kabupaten Banjarnegara tersebut direncanakan
menggunakan konsep bangunan hijau, yaitu dengan adanya bukaan
pada dinding dindingnya sehingga memungkinkan semakin banyak
sinar masuk ke dalam setiap ruangan sehingga menyehatkan

6
penghuninya. Dalam hal ini Christina Lilies Vellani menonjolkan aspek
Kualitas kesehatan dalam ruangan.
Iqbal Hasan dalam tugas akhir dengan judul Perencanaan
Struktur Gedung Asrama Mahasiswa Politeknik Negeri
[Link] ini mengutamakan Aspek Strukturnya,
Bangunan tersebut terdiri dari 5 Lantai dengan tinggi tiap lantai
adalah 4 [Link] bangunan tersebut adalah 35,20 meter dan
panjangnya adalah 40 meter, di lengkapi dengan Lobby. Ketinggian
bangunan tersebut adalah 20 [Link] tanah keras lokasi
tersebut adalah 10 meter maka untuk mendukung kekuatan Pondasi
digunakan Tiang pancang sedalam 10 [Link] hal ini Iqbal
Hasan menonjolkan aspek Struktur.

Tabel Perencanaan terdahulu sebagai Referensi.


No Nama Mahasiswa Judul Resume
1 Christina Lilis Perencanaan - Perencanaan Kantor
Vellani Pembangunan Dinas 3 Lantai.
Kantor Dinas - Atap tertutup tanpa
Pendapatan Roof Top
Daerah Kabupaten - Menggunakan
Banjarnegara. Akses Tangga.

2 Iqbal Hasan Perencanaan - Perencanaan Kantor


Struktur Gedung Dinas 5 lantai.
asrama Mahasiswa - Menggunakan
Politeknik Negeri Akses tangga.
Cilacap. - Atap tertutup tanpa
rooftop
3 Henricus Tony Perencanaan - Perencanaan Kantor
Kristianto Struktur Gedung Dinas 5 lantai.

7
Kantor Bersama - Terdapat Rooftop
Mall Pelayanan pada bangunan
Publik ( MPP ) paling atas
Kabupaten - Akses naik
Banjarnegara menggunakan Lift
dan Tangga.
- Konsep bangunan
taman hijau.

2.2 Landasan Teori


Pengertian struktur bangunan adalah bagian-bagian dari
sebuah bangunan yang membentuk bangunan [Link]
struktur bangunan tersebut mulai dari pondasi, balok, kerangka,
pelengkung, dinding dan lain-lainnya. Struktur-struktur ini berfungsi
untuk mendukung elemen-elemen konstruksi lain seperti interior dan
arsitektur bangunan. Elemen-elemen struktur rangka bangunan
memang memiliki fungsi berbeda, tetapi tujuannya tetap sama.
Struktur rangka bangunan memiliki peran yang penting dalam
dunia [Link] orang sangat tergantung oleh
[Link] atau kerusakan bisa menyebabkan cedera
atau pun [Link] itu, struktur itu tidak boleh sembarangan
dibangun.

Dengan itu, beberapa undang-undang sudah mengatur


pembangunannya. Para arsitek bisa merujuk kepada beberapa
ketentuan untuk merencanakan struktur bangunan seperti:
a. Peraturan tentang Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk
Gedung 1983;

8
b. Standar Tata Cara Menghitung Struktur Beton No: SK SNI T-15-
1991-03; dan
c. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung tahun 1983.

Struktur rangka bangunan terdiri dari 2 bagian yaitu struktur


bawah, struktur tangah dan struktur atas.
1. Struktur bangunan bawah ( Sub struktur )
Struktur bawah adalah bagian-bagian bangunan yang terletak
di bawah permukaan [Link] adalah pondasi,
basement, dan sloof.
2. Struktur bangunan atas ( Upper struktur )
Untuk bagian struktur yang paling atas berfungsi sebagai
penopang atap yang berbentuk memanjang ke atas. Contohnya
seperti Kolom, Dinding, Rangka Atap, kuda kuda, kerangka dan
lain-lain.

2.2.1 Struktur bangunan bawah


[Link] Pondasi
1) Pengertian pondasi
Pondasi bangunan adalah kontruksi yang paling terpenting
pada suatu bangunan. Karena pondasi berfungsi sebagai "penahan
seluruh beban (hidup dan mati ) yang berada di atasnya dan gaya –
gaya dari luar". Pondasi merupakan bagian dari struktur yang
berfungsi meneruskan beban menuju lapisan tanah pendukung
[Link] struktur apapun, beban yang terjadi baik yang
disebabkan oleh berat sendiri ataupun akibat beban rencana harus
disalurkan ke dalam suatu lapisan pendukung dalam hal ini adalah
tanah yang ada di bawah struktur [Link] bertulang adalah
material yang paling cocok sebagai pondasi untuk struktur beton
bertulang maupun bangunan baja, jembatan, menara, dan struktur

9
[Link] dari kolom yang bekerja pada pondasi ini harus disebar
ke permukaan tanah yang cukup luas sehingga tanah dapat memikul
beban dengan [Link] tegangan tekan melebihi tekanan yang
diizinkan, maka dapat menggunakan bantuan tiang pancang untuk
membantu memikul tegangan tekan pada dinding dan kolom pada
struktur.
Dasar pondasi harus di letakkan di atas tanah kuat pada
kedalaman cukup tertentu, bebas dari lumpur, humus, dan pengaruh
perubahan cuaca ( Dipohusodo, 1994).
2) Persyaratan Perencanaan Pondasi
Dengan memperhatikan faktor-faktor dalam pemilihan tipe
pondasi terdapat juga Syarat-syarat umum dari pondasi yaitu :
1. Kedalaman harus memadai untuk menghindarkan pergerakan
tanah lateral dari bawah pondasi khususnya untuk pondasi
telapak dan pondasi rakit.
2. Kedalaman harus berada dibawah daerah perubahan volume
musiman yang disebabkan oleh pembekuan, pencairan dan
pertumbuhan tanaman.
3. Sistem harus aman terhadap penggulingan, rotasi,
penggelinciran atau pergeseran tanah.
4. Sistem harus aman terhadap korosi atau kerusakan yang
disebabkan oleh bahan berbahaya yang terdapat didalam
tanah.
5. Sistem harus mampu beradaptasi terhadap beberapa
perubahan geometri konstruksi atau lapangan selama proses
pelaksanaan perlu dilakukan.
6. Metode pemasangan harus seekonomis mungkin.
7. Pergerakan tanah keseluruhan dan pergerakan diferensial harus
dapat ditolerir dan elemen pondasi dan elemen bangunan atas.

10
8. Pondasi dan konstruksinya harus memenuhi syarat standar
untuk perlindungan lingkungan.
3) Pemilihan Pondasi berdasarkan daya dukung tanah
• Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter
di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah
pondasi dangkal. (misal: pondasi jalur, pondasi telapak atau
pondasi strauss).
• Bila tanah keras terletak pada kedalaman sekitar 10 meter atau
lebih di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah
pondasi tiang minipile, pondasi sumuran atau pondasi bored
pile.
• Bila tanah keras terletak pada kedalaman 20 meter atau lebih
di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah
pondasi tiang pancang atau pondasi bored pile.
Standar daya dukung tanah menurut Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 adalah :
• Tanah keras (lebih dari 5 kg/cm2).
• Tanah sedang (2-5 kg/cm2)
• Tanah lunak (0,5-2 g/cm2)
• Tanah amat lunak (0-0,5 kg/cm2)
Kriteria daya dukung tanah tersebut dapat ditentukan melalui
pengujian secara sederhana. Misal pada tanah berukuran 1 cm x 1 cm
yang diberi beban 5 kg tidak akan mengalami penurunan atau amblas
maka tanah tersebut digolongkan tanah keras.
4) Jenis jenis Pondasi
Bentuk pondasi ditentukan oleh berat bangunan dan keadaan
tanah disekitar bangunan, sedangkan kedalaman pondasi ditentukan
oleh letak tanah padat yang mendukung [Link] terletak pada
tanah miring lebih dari 10%, maka pondasi bangunan tersebut harus
dibuat rata atau dibentuk tangga dengan bagian bawah dan atas

11
[Link] pondasi dibagi menjadi 2, yaitu pondasi dangkal dan
pondasi dalam.

A. Pondasi dangkal
Pondasi dangkal biasanya dibuat dekat dengan permukaan
tanah, umumnya kedalaman pondasi didirikan kurang 1/3 dari lebar
pondasi sampai dengan kedalaman kurang dari 3 m. Kedalaman
pondasi dangkal ini bukan aturan yang baku, tetapi merupakan
sebagai pedoman. Pada dasarnya, permukaan pembebanan atau
kondisi permukaan lainnya akan mempengaruhi kapasitas daya
dukung pondasi dangkal. Pondasi dangkal biasanya digunakan ketika
tanah permukaan yang cukup kuat dan kaku untuk mendukung
beban yang dikenakan dimana jenis struktur yang didukungnya tidak
terlalu berat dan juga tidak terlalu tinggi, pondasi dangkal umumnya
tidak cocok dalam tanah kompresif yang lemah atau sangat buruk,
seperti tanah urug dengan kepadatan yang buruk , pondasi dangkal
juga tidak cocok untuk jenis tanah gambut, lapisan tanah muda dan
jenis tanah deposito aluvial, dll. Apabila kedalaman alas pondasi (Df)
dibagi lebar terkecil alas pondasi (B) kurang dari 4, (Df/B < 4) dan
apabila letak tanah baik (kapasitas dukung ijin tanah > 2,0 kg/cm2)
relatif dangkal (0,6-2,0 m) maka digunakan pondasi ini. Pondasi
dangkal juga digunakan bila bangunan yang berada di atasnya tidak
terlalu [Link] sederhana [Link] ini juga bisa dipakai
untuk bangunan umum lainnya yang berada di atas tanah yang keras.
Yang termasuk dalam pondasi dangkal adalah sebahai berikut :
1) Pondasi Tapak (Pad Foundations), Pondasi tapak (pad
foundation) digunakan untuk mendukung beban titik individual
seperti kolom struktural. Pondasi pad ini dapat dibuat dalam
bentuk bukatan (melingkar), persegi atau rectangular. Jenis
pondasi ini biasanya terdiri dari lapisan beton bertulang

12
dengan ketebalan yang seragam, tetapi pondasi pad dapat
juga dibuat dalam bentuk bertingkat atau haunched jika
pondasi ini dibutuhkan untuk menyebarkan beban dari kolom
berat. Pondasi tapak disamping diterapkan dalam pondasi
dangkal dapat juga digunakan untuk pondasi dalam.

Gambar 2.1 Pondasi tapak

2) Pondasi Jalur atau Pondasi Memanjang (Strip Foundations),


Pondasi jalur/ pondasi memanjang (kadang disebut juga
pondasi menerus) adalah jenis pondasi yang digunakan untuk
mendukung beban memanjang atau beban garis, baik untuk
mendukung beban dinding atau beban kolom dimana
penempatan kolom dalam jarak yang dekat dan fungsional
kolom tidak terlalu mendukung beban berat sehingga pondasi
tapak tidak terlalu dibutuhkan. Pondasi jalur/ pondasi
memanjang biasanya dapat dibuat dalam bentuk memanjang
dengan potongan persegi ataupun trapesium. Bisanya
digunakan untuk pondasi dinding maupun kolom praktis. Bahan
untuk pondasi ini dapat menggunakan pasangan patu pecah,
batu kali, cor beton tanpa tulangan dan dapat juga

13
menggunakan pasangan batu bata dengan catatan tidak
mendukung beban struktural.

Gambar 2.2 Pondasi jalur/menerus

3) Pondasi Tikar (Raft foundations),


Pondasi tikar/ pondasi raft digunakan untuk menyebarkan
beban dari struktur atas area yang luas, biasanya dibuat untuk
seluruh area struktur. Pondasi raft digunakan ketika beban
kolom atau beban struktural lainnya berdekatan dan pondasi
pada saling berinteraksi. Pondasi raft biasanya terdiri dari pelat
beton bertulang yang membentang pada luasan yang
ditentukan. Pondasi raft memiliki keunggulan mengurangi
penurunan setempat dimana plat beton akan mengimbangi
gerakan diferensial antara posisi beban. Pondasi raft sering
dipergunakan pada tanah lunak atau longgar dengan kapasitas
daya tahan rendah karena pondasi radft dapat menyebarkan
beban di area yang lebih besar.

14
Gambar 2.3 Pondasi tikar

4) Pondasi Rakit/ Raft Foundation,


Pondasi rakit adalah plat beton besar yang digunakan untuk
mengantar permukaan dari satu atau lebih kolom di dalam
beberapa garis/ beberapa jalur dengan tanah. Digunakan di
tanah lunak atau susunan jarak kolomnya sangat dekat di
semua arahnya, bila memakai telapak, sisinya berhimpit satu
sama lain.

Gambar 2.4 Pondasi rakit


5) Pondasi Sumuran,
Pondasi sumuran atau cyclop beton menggunakan beton
berdiameter 60 – 80 cm dengan kedalaman 1 – 2 [Link]
dalamnya dicor beton yang kemudian dicampur dengan batu
kali dan sedikit pembesian dibagian [Link] ini kurang
populer sebab banyak kekurangannya, diantaranya boros
adukan beton dan untuk ukuran sloof haruslah [Link]
tersebut membuat pondasi ini kurang diminati. Pondasi
sumuran dipakai untuk tanah yang labil, dengan sigma lebih
kecil dari 1,50 kg/cm2. Seperti bekas tanah timbunan sampah,

15
lokasi tanah yang [Link] bagian atas pondasi yang
mendekati sloof, diberi pembesian untuk mengikat sloof.

Gambar 2.5 Pondasi sumuran

6) Pondasi Umpak,
Pondasi ini diletakan diatas tanah yang telah padat atau
[Link] dan jenis pondasi ini sampai sekarang terkadang
masih digunakan, tetapi ditopang oleh pondasi batu kali yang
berada di dalam tanah dan sloof sebagai pengikat struktur,
serta angkur yang masuk kedalam as umpak kayu atau umpak
batu dari bagian bawah umpaknya atau tiangnya. Pondasi ini
membentuk rigitifitas struktur yang dilunakkan, sehingga sistim
membuat bangunan dapat menyelaraskan goyangan goyangan
yang terjadi pada permukaan tanah, sehingga bangunan tidak
akan patah pada tiang-tiangnya jika terjadi gempa.

16
Gambar 2.6 Pondasi umpak

7) Pondasi Plat Beton Lajur


Pondasi plat beton lajur adalah pondasi yang digunakan untuk
mendukung sederetan kolom Pondasi plat beton lajur sangat
kuat, sebab seluruhnya terdiri dari beton bertulang dan
harganya lebih murah dibandingkan dengan pondasi batu kali.
Ukuran lebar pondasi lajur ini sama dengan lebar bawah dari
pondasi batu kali, yaitu 70 Cm. Sebab fungsi pondasi plat beton
lajur adalah pengganti pondasi batu kali. berjarak dekat dengan
telapak, sisinya berhimpit satu sama lain.

Gambar 2.7 Pondasi Plat Beton Lajur

17
B. Pondasi dalam
Pondasi dalam adalah pondasi yang didirikan permukaan tanah
dengan kedalam tertentu dimana daya dukung dasar pondasi
dipengaruhi oleh beban struktural dan kondisi permukaan tanah,
pondasi dalam biasanya dipasang pada kedalaman lebih dari 3 m di
bawah elevasi permukaan tanah. Pondasi dalam dapat dijumpai
dalam bentuk pondasi tiang pancang, dinding pancang dan caissons
atau pondasi kompensasi . Pondasi dalam dapat digunakan untuk
mentransfer beban ke lapisan yang lebih dalam untuk mencapai
kedalam yang tertentu sampai didapat jenis tanah yang mendukung
daya beban strutur bangunan sehingga jenis tanah yang tidak cocok
di dekat permukaan tanah dapat dihindari. Apabila lapisan atas
berupa tanah lunak dan terdapat lapisan tanah yang keras yang
dalam maka dibuat pondasi tiang pancang yang dimasukkan ke
dalam sehingga mencapai tanah keras (Df/B >10 m), tiang-tiang
tersebut disatukan oleh poer/pile [Link] ini juga dipakai pada
bangunan dengan bentangan yang cukup lebar (jarak antar kolom
6m) dan bangunan bertingkat. Yang termasuk didalam pondasi ini
antara lain pondasi tiang pancang, (beton, besi, pipa baja), pondasi
sumuran, pondasi borpile dan lain-lain. Jenis-jenis pondasi dalam
adalah sebagai berikut:
1) Pondasi Tiang Pancang.
Pada dasarnya sama dengan bore pile, hanya saja yang
membedakan bahan dasarnya. Tiang pancang menggunakan
beton jadi yang langsung ditancapkan langsung ketanah dengan
menggunakan mesin pemancang. Karena ujung tiang pancang
lancip menyerupai paku, oleh karena itu tiang pancang tidak
memerlukan proses pengeboran. Pondasi tiang pancang
dipergunakan pada tanah-tanah lembek, tanah berawa, dengan
kondisi daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah

18
tinggi dan tanah keras pada posisi sangat dalam. Bahan untuk
pondasi tiang pancang adalah : bamboo, kayu besi/ kayu ulin,
baja, dan beton bertulang.

Gambar 2.8 Pondasi Tiang pancang


2) Pondasi Piers (dinding diafragma)
Pondasi piers adalah pondasi untuk meneruskan beban berat
struktural yang dibuat dengan cara melakukan penggalian dalam,
kemudian struktur pondasi pier dipasangkan kedalam galian
tersebut. Satu keuntungan pondasi pier adalah bahwa pondasi
jenis ini lebih murah dibandingkan dengan membangun pondasi
dengan jenis pondasi menerus, hanya kerugian yang dialami
adalah jika lempengan pondasi yang sudah dibuat mengalami
kekurangan ukuran maka kekuatan jenis pondasi tidak menjadi
normal. Pondasi pier standar dapat dibuat dari beton bertulang
pre cast. Karena itu, aturan perencanaan pondasi pier terhadap
balok beton diafragman adalah mengikuti setiap ukuran
ketinggian pondasi yang direncanakan. Pondasi pier dapat
divisualisasikan sebagai bentuk tabel , struktur adalah sistem
kolom vertikal yang terbuat dari beton bertulang ditempatkan di
bawah bangunan yang ditanamkan dibawah tanah yang sudah
digali. Lempengan beton diafragma ini mentransfer beban
bangunan terhadap tanah. Balok dibangun di atas dinding
diafragma vertikal (pondasi pier) yang menahan dinding rumah

19
atau struktur. Banyak rumah didukung sepenuhnya dengan jenis
pondasi ini, dimana beton yang dipasang juga berguna sebagai
dinding pada ruang bawah tanah, dimana ruang tersebut
digunakan sebagai gudang penyimpanan atau taman. Beton
pondasi pier biasanya dibuat dalam bentuk pre cast dalam
berbagai ukuran dan bentuk, dimana sering dijumpai dalam
bentuk persegi memanjang dengan ketinggian sesuai dengan
ukuran kedalaman yang diperlukan. Tapi beton dapat juga dibuat
dalam bentuk bulatan. Setelah beton bertulang cukup kering
kemudian di masukkan ke dalam tanah yang sudah digali dan
disusun secara bersambungan. Setelah tersusun dengan baik
kemudian baru dilanjutkan dengan konstruksi diatasnya.

Gambar 2.9 Pondasi Piers

3) Pondasi Caissons (Bor Pile)

20
Pondasi bor pile adalah bentuk pondasi dalam yang dibangun di
dalam permukaan tanah, pondasi di tempatkan sampai ke
dalaman yang dibutuhkan dengan cara membuat lobang
dengan sistim pengeboran atau pengerukan tanah. Setelah
kedalaman sudah didapatkan kemudian pondasi pile dilakukan
dengan pengecoran beton bertulang terhadap lobang yang
sudah di bor. Sisitim pengeboran dapat dialakukan dalam
berbagai jenis baik sistim manual maupun sistim hidrolik. Besar
diameter dan kedalaman galian dan juga sistim penulangan
beton bertulang didesain berdasarkan daya dukung tanah dan
beban yang akan dipikul. Fungsional pondasi ini juga hampir
sama pondasi pile yang mana juga ditujukan untuk menahan
beban struktur melawan gaya angkat dan juga membantu
struktur dalam melawan kekuatan gaya lateral dan gaya guling.

Gambar 2.10 Pondasi Bor Pile

[Link] Basement
1) Pengertian Basement
Basement adalah sebuah tingkat atau beberapa tingkat dari
bangunan yang keseluruhan atau sebagian terletak di bawah tanah.
Basement adalah ruang bawah tanah yang merupakan bagian dari
bangunan gedung. Pada masa ini basement dibuat sebagai usaha

21
untuk mengoptimalkan penggunaan lahan yang semakin padat dan
mahal.

Gambar 2.11 Gambar Basement


Tidak semua bangunan memiliki basement. Untuk bangunan
yang memilikinya, tungku perapian (furnace), alat pemanas air (water
heater), pelataran mobil dan sistem pengaturan suhu dari satu rumah
atau bangunan secara khas terlokasi pada tingkatan terbawah
bangunan ini; sehingga menjadi suatu kenyamanan tersendiri untuk
pemasangan dan aplikasi bagian seperti sistem distribusi elektrik.

Gambar 2.12 Gambar Basement

22
Basement memberikan satu kesempatan untuk ahli bangunan
untuk mencapai suatu titik balik dalam pengeluarannya, dan
customer/klien untuk mendapatkan keuntungan dengan membangun
sebuah bagunan yang bernilai potensi lebih.
Basement biasanya digunakan sebagai ruang utilitas untuk
bangunan, tempat ruang utilitas seperti boiler, pemanas air, panel
pemutus atau kotak sekering, tempat parkir, dan sistem pendingin
udara. Begitu juga fasilitas seperti sistem distribusi listrik dan titik
distribusi televisi kabel.
Di kota-kota dengan harga properti yang tinggi, seperti Jakarta,
basement atau ruang bawah tanah sering dilengkapi dengan fasilitas
sehingga dapat digunakan sebagai ruang [Link] atau ruang
bawah tanah sejatinya sudah ada sejak zaman dahulu dimana
beberapa istana kerajaan memiliki ruang bawah tanah sebagai
tempat bersembunyi atau melarikan [Link] menjadi lebih
mudah dibangun sejak adanya industrialisasi dalam pembangunan
rumah.
Mesin penggali bertenaga besar seperti backhoe dan front-end loader
telah mengurangi waktu dan tenaga yang diperlukan untuk menggali
ruang bawah tanah secara dramatis dibandingkan dengan menggali
dengan tangan dengan sekop, meskipun metode ini mungkin masih
digunakan di negara berkembang. Sistem bangunan dengan
basement sangat cocok digunakan untuk bangunan [Link]
bangunan tinggi, diperlukan pondasi yang sangat dalam, daripada
membiarkan pondasi besar yang dalam ke tanah, lebih baik
difungsikan sebagai ruang untuk utilitas atau back office.
Meskipun basement adalah salah satu cara untuk menghemat
lahan dan menyediakan ruang servis, pada rumah tinggal basement
jarang dibuat karena biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 1,5 kali
lebih banyak dibandingkan biaya membuat struktur tingkat.

23
Namun, meski tergolong mahal namun bukan berarti pembuatan
basement tidak [Link] sering dimanfaatkan untuk
fungsi ruang servis seperti gudang, workshop, ruang cuci, toilet
maupun ruang-ruang yang memerlukan persyaratan khusus seperti
home theatre dan ruang musik/studio yang membutuhkan kekedapan
suara lebih tinggi sehingga tidak mengganggu tetangga.
Keuntungan dari keberadaan basement adalah kita bisa
menyembunyikan kegiatan-kegiatan yang tidak enak dipandang mata
orang luar (misalnya ruang ME, gudang, dll) dan kita dapat
memaksimalkan penggunaan ruang pada lantai yang ada di atasnya.
Aplikasi dan penggunaan basement pada bangunan sangat luas
dan bisa digunakan sebagai solusi untuk menambah ruang yang
dibutuhkan. Basement adalah solusi terbaik untuk menambah
kapasitas parkir kendaraan sehingga jumlah mobil dan sepeda motor
yang bisa ditampung semakin banyak. Berikut ini merupakan contoh
aplikasi basement pada bangunan.

24
Gambar 2.13 Aplikasi Basement pada hotel
Penggunaan basement paling sering dibuat untuk bangunan
hotel untuk menghemat lahan parkir hotel. Sebuah hotel tentunya
memerlukan tampilan bangunan yang estetis dan tidak terganggu
oleh banyaknya kendaraan yang parkir sehingga semua kendaraan
pengunjung dan pengelola hotel akan diarahkan ke basement. Selain
untuk parkir, basement hotel juga digunakan sebagai tempat untuk
utilitas MEP.

Gambar 2.14 Aplikasi Basement pada mall

Basement pada bangunan mall juga sangat diperlukan untuk


tambahan ruang khususnya parkir [Link] mall yang
banyak memerlukan tempat parkir yang luas, tidak heran jika pada
basement mall dibuat bertingkat ke bawah untuk akomodasi parkir.

25
Gambar 2.15 Aplikasi Basement pada rumah
Basement juga bisa dibuat di rumah sebagai gudang atau
tempat meletakan [Link] ingin membuat basement di rumah
pastikan memiliki sistem yang dapat melindungi basement dari air
dan sistem untuk mengeluarkan air tersebut dari basement.
Demikianlah mengenai perngertian basement dalam bangunan,
semoga artikel ini dapat bermandaat dan dapat menambah wawasan
sahabat [Link] kasih.

[Link] Sloof
1) Pengertian Sloof
Secara umum sloof merupakan sebuah bangunan yang berada
di atas pondasi konstruksi. Meski berada di atas struktur pondasi.
Namun tak jarang juga sloof terletak di dalam tanah. sloof digunakan
untuk meratakan beban bangunan. Selain itu sloof juga berguna
untuk mengunci bagian tembok jika sewaktu-waktu terjadi

26
pergeseran [Link] sloof bisa menjadi komponen bangunan
yang berguna menahan beban komponen lain di atasnya. Tentunya
keberadaan dari struktur sloof sangat membantu komponen di
bawahnya yaitu [Link] struktur sloof bisa digunakan untuk
area atau tempat untuk menempelkan komponen batako maupun
[Link] sloof bisa digunakan untuk area berdirinya komponen
[Link] suatu waktu struktur sloof patah atau [Link] dinding
masih bisa tertolong dengan pondasi yang ada di [Link]
sloof berguna untuk menjadi jembatan antara bagian dinding dengan
struktur [Link] terjadinya sebuah kondisi pergeseran tanah,
struktur sloof bisa berguna untuk mengunci bagian dinding yang ada
di atasnya, Struktur sloof bisa membantu bagian pondasi
mendapatkan beban secara [Link] sloof bisa berfungsi
untuk mengikat [Link] bangunan tetap aman meskipun
terjadi bencana seperti angin, gempa dan lainnya.

Jenis – Jenis Struktur Sloof


1. Struktur Sloof dari Beton Bertulang
Jenis yang pertama dari struktur sloof adalah beton
[Link] sloof ini biasanya digunakan diatas pondasi
sebuah bangunan seperti rumah atau gedung yang nantinya tidak
memiliki sebuah [Link] bisa dibilang jika sloof jenis ini
hanya digunakan untuk rumah maupun gedung satu atap.
Adapun perlengkapan yang dibutuhkan adalah seperti
sebuah kolom [Link] kolom praktis ini memiliki jarak
dengan dinding sebesar kurang lebih tiga [Link] untuk
ukuran lebar maupun tinggi dari struktur sloof sendiri adalah lebih
besar 15 atau 20 cm.

27
2. Struktur Sloof dari batu bata.
Selanjutnya ada jenis struktur sloof batu bata. Struktur sloof
jenis ini juga kerap disebut dengan nama rolag. Proses pembuatan
struktur sloof jenis ini menggunakan batu bata yang disusun
dengan bentuk [Link] agar batu bata terpasang lebih
kuat, struktur sloof jenis ini diberikan sebuah pengikat yang
terbuat dari adukan [Link] adukan pasangan tidak
bisa dilakukan secara [Link] perhitungan
perbandingan yang diperlukan pada pembuatan adukan pasangan
untuk mengikat struktur sloof dari batu bata [Link]
tersebut adalah satu bagian semen dan empat bagian pasir.
Perlu diketahui juga jika struktur sloof jenis ini tidak bisa
membagi beban dengan begitu [Link] adalah
karena karena batu bata memiliki sifat [Link] sifat
lembab inilah struktur sloof jenis ini tidak bisa menahan beban
dinding dengan baik.

3. Struktur Sloof dari kayu


Ketiga ada struktur sloof jenis [Link] jenis dari
struktur sloof ini digunakan untuk pembangunan sebuah rumah
tradisional atau rumah adat yang berbahan dasar [Link]
adalah rumah [Link] struktur sloof jenis ini juga
membutuhkan sebuah balok [Link] jika penerapan
struktur sloof jenis ini berada di atas area pondasi lajur dengan
bahan dasar batu atau [Link] balok tunggal adalah pilihan
yang tepat.

4. Struktur sloof dari besi


Terakhir ada struktur sloof dari [Link] seperti namanya,
struktur sloof jenis ini memerlukan bahan dasar seperti besi

28
tulangan, cincin dan [Link] bahan yang diperlukan pada
struktur sloof jenis ini harus dibuat dengan komposisi yang tepat.
Dari keempat jenis struktur sloof seperti penjelasan di atas.
Tentunya Anda akan semakin tahu bagaimana pentingnya sebuah
sloof untuk suatu konstruksi bangunan. Selain itu Anda juga tahu
jika setiap jenis dari sloof memiliki kelebihan, kekurangan dan
fungsi masing-masing. Dengan begini Anda bisa memilih jenis
struktur sloof sesuai dengan kebutuhan pembangunan konstruksi
yang akan dijalankan.

[Link] Tie Beam


1) Pengertian Tie Beam
Tie beam adalah elemen struktur yang terdapat pada bangunan
gedung atau bangunan yang menggunakan pondasi dalam atau
pondasi dangkal setempat. Tie beam ini terletak di atas tanah dan di
atas pondasi dangkal setempat seperti pondasi footplat ataupun
pondasi dalam. Tie beam ini sama dengan balok hanya saja letaknya
di struktur bawah.

Gambar 2.16 Gambar Tie Beam

2.2.2 Struktur bangunan atas

29
[Link] Kolom
1) Pengertian Kolom
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adapun yang
dimaksud kolom adalah tiang (pilar) penyangga yang biasanya
terbuat dari beton yang bertulang besi. Sementara menurut
Sudarmoko (1996), kolom merupakan suatu struktur tekan yang
memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga
keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya lantai dan runtuhnya bangunan secara total.
Struktur dalam kolom terbuat dari besi dan [Link] bahan
ini memiliki sifat gabungan yang cukup baik di mana besi merupakan
material yang tahan terhadap tarikan, sedangkan beton merupakan
material yang tahan tekanan.

Gambar 2.17 Gambar Kolom Segi empat


Jika dilihat berdasarkan bentuk dan susunan tulangnya, adapun
jenis kolom terbagi menjadi tiga kategori. Di antaranya adalah
sebagai berikut:

30
1. Kolom segi empat atau bujur sangkar dengan tulangan
memanjang dan menyengkang
2. Kolom bundar dengan tulangan memanjang dan menyengkang
berbentuk spiral. Adapun fungsi dari tulangan spiral ini adalah
memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup
besar sebelum runtuh sehingga mampu mencegah terjadinya
kehancuran seluruh struktur bangunan sebelum proses
redistribusi momen dan tegangan terwujud
3. Kolom komposit, yaitu gabungan antara beton dan profil baja
sebagai pengganti tulangan di dalamnya.

Gambar 2.18 Gambar Kolom menurut bentuk dan susunan tulangnya

Selain tiga jenis kolom yang telah disebutkan di atas, terdapat


dua jenis kolom yang dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu
kolom utama dan kolom praktis.
Kolom utama biasanya terpasang dalam jarak 3,5 meter agar
dimensi balok untuk menopang lantai tidak begitu besar. Kolom jenis
ini memiliki peran yang cukup penting dalam menopang seluruh

31
bagian bangunan secara [Link] kolom utama umumnya
lebih besar, panjang, serta tersembunyi dalam dinding dan tidak
terlihat dari luar.
Sementara pada kolom praktis, biasanya jarak kolom ini
berkisar antara 3 sampai 4 [Link] struktur dari kolom jenis ini
biasanya berada dalam posisi vertikal untuk menopang beban balok.
Fungsi kolom praktis ini adalah untuk menahan dinding dari gaya
melintang agar tidak roboh. Letak kolom praktis juga tersembunyi di
dalam dinding sehingga tidak terlihat dari luar.
Jenis kolom menurut kelangsingannya
Berdasarkan kelangsingannya, kolom terbagi menjadi dua jenis.
Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Kolom pendek, di mana masalah tekuk tidak menjadi perhatian
dalam merencanakan kolom karena pengaruhnya cukup kecil
2. Kolom langsing, di mana masalah tekuk perlu diperhitungkan
dalam merencakanan kolom

2. Jenis Kolom.
Merujuk SK SNI T-15-1991-03, fungsi kolom adalah sebagai
penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Beban sebuah
bangunan yang dimulai dari atap akan diterima oleh kolom. Seluruh
beban yang diterima oleh kolom kemudian didistribusikan ke
permukaan tanah di bawahnya.
Dengan begitu, kolom pada sebuah bangunan memiliki fungsi
yang sangat vital. Jika melihat penjelasan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa kolom termasuk struktur utama bangunan untuk
meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup
(manusia dan barang-barang), maupun beban hembusan angin.
Keruntuhan dan kegagalan struktur pada kolom menjadi titik
kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan. Namun yang

32
perlu diingat juga, selain harus melalui proses perhitungan yang
tepat, kondisi tanah pun harus benar-benar mampu menerima beban
dari pondasi. Untuk itu, peran penyedia jasa desain struktur
bangunan profesional sangat dibutuhkan untuk memastikan
perencanaan dan pelaksanaan proyek bangunan dapat berjalan
memenuhi standar
3. Dasar – dasar perhitungan kolom
Menurut SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, adapun dasar-dasar dalam
melakukan perhitungan kolom pada bangunan adalah sebagai
berikut:
1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial
terfaktor yang bekerja pada semua lantai atau atap dan
momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu
bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Adapun
kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio maksimum
dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan
secara baik.
2. Pada sistem konstruksi rangka atau struktur menerus,
pengaruh dari adanya beban yang tak seimbang pada lantai
atau atap terhadap kolom luar ataupun dalam harus ikut
diperhitungkan. Demikian pula pengaruh beban eksentris
(ganjil atau tidak wajar) karena sebab lainnya juga harus
diperhitungkan.
3. Selanjutnya, dalam menghitung momen yang diakibatkan
beban gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung terjauh
kolom dapat dianggap terjepit selama ujung-ujung tersebut
menyatu (monolit) terhadap komponen struktur lainnya.
4. Momen-monen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap
harus didistribusikan pada kolom di atas dan di bawah lantai

33
berdasarkan pada kekakuan relatif kolom dengan ikut
memperhatikan kondisi kekangan pada ujung kolom.

[Link] Tangga
1) Pengertian Tangga
Tangga adalah sebuah konstruksi yang dirancang untuk
menghubungi dua tingkat vertikal yang memiliki jarak satu sama
[Link] sarana vertikal antar lantai, tangga harus memberikan
rasa aman dan nyaman bagi pemakainya. Dalam merencanakan
tangga harus memenuhi persyaratan:

a. Anak Tangga
Istilah yang bisa dipakai dalam membuat tangga adalah ukuran
“tinggi” dan “lebar” anak [Link] dimaksud dengan lebar
anak tangga (Antrede) adalah ukuran area pada anak tangga
dimana kaki menjejak di [Link] tinggi anak tangga
(Optride) adalah perbedaan tinggi antara satu anak tangga
dengan anak tangga lainnya.
Untuk mencapai tingkat kenyamanan yang ideal, ukuran lebar
anak tangga(Antrede) antara 20 – 33 cm, sementara tinggi anak
tangga (Optride) antara 15 – 18 cm.
Agar tidak mengganggu kenyamanan, ada sebuah rumus yang
bisa menjadi patokan dalam menentukan tinggi (Optride) dan
lebar anak tangga (Antrede).Tinggi anak tangga (Optride)
dilambangkan dengan (a) dan lebar anak tangga (Antrede)
dilambangkan dengan (b).
Idealnya adalah 2a + b = 60 s/d 65 cm Jika 2a + b > 65 cm, maka
tangga tersebut akan sangat curam. Sementara itu, jika 2a + b <
60, maka tangga akan sangat landai. Memiliki tangga curam

34
memang menghemat tempat, karena anak tangganya tidak lebar.
Tetapi tangga seperti ini tidak nyaman dan lebih berbahaya buat
anak kecil atau orang lanjut usia.
Ukuran tinggi (Optride) dan lebar (Antrede) anak tangga
mempengaruhi kecuraman sebuah tangga. Semakin besar tinggi
(Optride) anak tangga, akan semakin curam tangga tersebut.
Sedangkan jika Anda ingin tangga yang landai, maka lebar
(Antrede) tangga harus besar.

35
Gambar 2.19 Denah tangga
Ketinggian setiap anak tangga (Optride) juga harus tepat sama
dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Jika satu anak
tangga saja berbeda ukurannya, akan terasa canggung bagi yang
melewatinya karena seseorang biasanya selalu melangkah
dengan irama yang sama.
[Link] Atap
1) Pengertian Atap
Salah satu fungsi dari rumah adalah untuk melindungi
seseorang atau keluarga dari panasnya cahaya matahari dan air
[Link] bagian rumah sudah memiliki perannya masing-masing,
sehingga bisa menciptakan satu kesatuan. Atap merupakan bagian
atau komponen yang harus ada dalam membangun rumah karena
tanpa adanya atap, maka penghuni rumah akan terkena atau air
hujan.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka tampilan eksterior
rumah sangat [Link] yang tampak keren dari luar
menandakan bahwa memiliki desain yang cukup [Link] membuat
desain atau tampilan pada eksterior rumah sebenarnya bisa melalui
mana saja, bahkan atap yang sejatinya berada di bagian paling atas
rumah ini ternyata bisa membuat rumah terlihat lebih minimalis dan
elegan.
Maka dari itu, kita tidak boleh salah memilih desain atap yang
tepat dengan dekorasi rumah, sehingga bangunan rumah bisa terlihat
indah dan menarik. Bukan hanya desain atap saja, tetapi bahan
pembuatan atap harus diperhatikan juga karena akan memengaruhi
keawetan dari atap rumah.
Saat ini, sudah banyak sekali model-model atap yang bisa
mempercantik rumah dan bahan-bahan pembuatan atap sangat
[Link] kamu tidak bingung untuk menentukan model atap

36
dan bahan atap yang cocok untuk bangunan rumah, maka kamu bisa
membaca artikel ini. Dalam pembahasan tentang atap rumah ini akan
dibahas mulai dari fungsi atap rumah hingga model-model atap
rumah yang menginspirasi.

2) Fungsi Atap Rumah


Pastinya sudah banyak orang yang tahu kalau atap rumah
merupakan salah satu bagian terpenting yang harus ada pada
bangunan rumah. Jadi, atap rumah memiliki beberapa fungsi, di
antaranya:

1. Mencegah sinar matahari masuk secara langsung

2. Mencegah debu-debu yang berasal dari luar rumah

3. Memberikan perlindungan terhadap orang-orang yang dan


barang- barang barang yang ada di bawah atau di dalam
bangunan rumah dari berbagai macam hal, seperti air hujan dan
panasnya matahari

Dari beberapa fungsi atap rumah tersebut, bisa disimpulkan


bahwa fungsi utama atap rumah adalah melindungi setiap orang yang
ada di dalam rumah dan benda-benda yang ada di dalam rumah dari
sinar matahari dan air [Link] demikian dapat dikatakan
bahwa atap rumah bisa diibaratkan seperti payung yang bisa
melindungi seseorang dari panasnya cahaya matahari dan derasnya
air hujan.

3) Bagian – Bagian Atap Rumah


Atap rumah yang sudah menjadi komponen penting pada
bangunan rumah memiliki beberapa [Link] dasarnya, bagian-

37
bagian rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu penutup atap, rangka
atap, dan plafon (di dalam rumah). Penjelasan bagian bagian dari
atap adalah sebagai berikut :

1. Penutup Atap

Penutup atap merupakan bagian paling luar dari [Link]


bagian ini, tukang bangunan harus bisa memastikan kalau penutup
atap sudah rapat, sehingga turun hujan tidak mengalami
[Link], beberapa penutup atap yang sering digunakan,
seperti genteng tanah liat, asbes, genteng metal, beton, dan
sebagainya.

2. Rangka Atap

Rangka atap adalah bagian dari atap rumah yang memiliki


fungsi untuk menopang penutup atap. Dengan kata lain, tanpa
adanya rangka atap, maka penutup atap tidak akan bisa
diletakkan. Rangka atap bisa terbuat dari berbagai macam, mulai
dari kayu, baja ringan, besi, hingga beton.

3. Plafon

Plafon merupakan langit-langit yang ada di dalam rumah yang


dapat mempercantik [Link] ini terhubung langsung
dengan bagian rangka atap dan penutup [Link] adanya
plafon, maka sinar matahari yang masuk bisa membuat ruangan di
dalam rumah tak begitu [Link] pemasangan plafon tetap
harus diberikan kerangka yang terbuat dari kayu atau baja
[Link] bahan plafon yang digunakan bisa gypsum dan
plafon berbahan PVC.

Terkadang ada beberapa atap rumah yang di mana rangka atap


dan penutup atap dijadikan satu, biasanya atap rumah seperti itu

38
disebut dengan dak beton karena atap rumah terbuat dari
[Link] itu, pada beberapa rumah ada juga yang tidak
menggunakan plafon, sehingga bisa dibilang kalau plafon bukanlah
hal yang wajib pada bangunan rumah.

4) Jenis Jenis Atap Rumah berdasarkan bahannya.


Atap rumah yang biasa kita temui terbuat dari berbagai macam
bahan. Pada pembahasan kali ini akan diberikan beberapa jenis atap
rumah berdasarkan bahan pembuatannya:

1. Atap Genteng Tanah Liat.

Atap genteng tanah liat merupakan penutup atap yang sudah


lama digunakan oleh masyarakat perkotaan atau masyarakat
[Link] banyak sekali yang pakai genteng berbahan
tanah liat ini, maka sudah banyak orang yang mengenalinya.

39
Gambar 2.20 Atap Genteng tanah liat
Apalagi harga dari genteng ini cukup murah, mudah dicari,
kokoh, terdiri dari berbagai macam model, dan pastinya tahan
[Link], kekurangan dari genteng ini, seperti harus
membutuhkan kerangka atap yang cukup banyak, mudah
berjamur, dan membutuhkan kemiringan yang cukup tinggi agar
tidak melorot.

2. Atap Genteng Kaca.

Bahan utama dari atap genteng kaca adalah [Link]


genteng kaca bisa membuat cahaya matahari mudah masuk, maka
genteng ini biasanya digunakan sebagai ventilasi dari bangunan
rumah.

40
Gambar 2.21 Atap Genteng kaca
Genteng kaca memiliki beberapa kelebihan, seperti ruangan
akan terhindar dari kelembapan karena cahaya matahari mudah
masuk dan mencegah jamur tumbuh pada suatu ruangan.
Beberapa kekurangan dari genteng kaca, yaitu mudah sekali
pecah, suhu ruangan bisa terasa panas, dan modelnya sangat
sedikit.

3. Atap Genteng Metal


Genteng metal dipilih karena memiliki beberapa keunggulan,
salah satunya adalah karena genteng metal tidak mudah berkarat
karena terbuat dari bahan logam anti karat. Logam anti karat itu
sendiri terdiri dari campuran alumunium, besi, tembaga, dan seng.
Oleh karena itu, bentuk dari atap genteng metal hampir sama
dengan seng

41
Gambar 2.22 Atap Genteng metal
Atap genteng metal memiliki beberapa kelebihan, seperti antu
lumut, lebih ringan, tidak muda terbakar, mudah dipasang, dan
tidak membutuhkan perawatan khusus. Sementara itu, harga dari
genteng metal cukup mahal dan ketika memasangnya harus teliti.

4. Atap genteng keramik.


Seperti dengan namanya, maka atap genteng ini terbuat dari
keramik yang berasal dari tanah liat. Oleh karena itu, pembuatan
genteng ini hampir sama dengan pembuatan genteng tanah liat,
hanya saja diberikan tambahan pelapisan pewarna glatzur.
Biasanya, genteng keramik dipasang pada rumah-rumah mewah.

42
Gambar 2.23 Atap Genteng keramik
Kelebihan dari genteng ini, yaitu warna genteng tidak mudah
pudar, tahan terhadap api, banyak sekali pilihan warna, dan tidak
mudah lumutan. Kekurangan dari genteng keramik, seperti
pemasangan cukup rumit, harga yang cukup mahal, dan
kemiringan rumah minimal 30 derajat.
5. Atap Genteng Beton
Jika ingin menggunakan atap rumah minimalis, maka atap
genteng beton sangat pas. Pada dasarnya, atap genteng beton
hampir sama dengan atap tanah liat hanya saja pemilihan
warnanya lebih beragam dan bentuknya lebih bervariasi.

Gambar 2.24 Atap Genteng beton

43
Kelebihan dari atap genteng ini, seperti lebih modern dan
menarik, bisa tahan terhadap berbagai macam cuaca, kuat dan
kokoh karena berasal dari bahan cor-coran. Kekurangan dari atap
genteng beton, seperti harga yang cukup lama, pemasangan
genteng membutuhkan waktu yang cukup lama, dan lebih berat.
6. Atap Beton Cor
Atap beton cor ini merupakan atap yang tidak ada penutupnya.
Dengan kata lain, atap beton cor memiliki struktur bangunan yang
rata, sehingga sering digunakan untuk menjemur pakaian. Selain
itu, atap beton cor biasanya juga digunakan untuk bangunan
bertingkat.

Gambar 2.25 Atap Genteng cor


Kelebihan dari atap beton cor, yaitu tahan lama, tidak mudah
terbakar, bentuknya kokoh, dan tidak mudah [Link] dari
atap beton cor ini, yaitu mudah terkena lumut, rawan sekali retak
yang bisa menyebabkan kebocoran, dan dibutuhkan
pondasi yang kuat agar bisa menopang genteng beton cor.
7. Atap Seng
Atap seng merupakan bahan atap rumah yang harganya cukup
[Link] karena itu, atap seng bukan hanya digunakan pada

44
pembangunan rumah saja, tetapi juga dipakai untuk membangun
warung pinggir jalan dan garasi rumah.

Gambar 2.26 Atap Genteng seng


Selain biaya yang cukup murah, ketika menggunakan atap seng
tidak membutuhkan rangka atap yang terlalu banyak, memiliki
berat yang ringan, itulah beberapa kelebihan dari atap seng.
Dibalik kelebihan itu, atap seng memiliki beberapa kekurangan,
seperti mudah karatan, sehingga semakin lama akan tampak
seperti rumah rusak, memunculkan suara berisik ketika hujan, dan
suhu ruangan akan terasa panas karena bisa menyerap panas.
8. Atap Asbes
Atap asbes bisa dibilang memiliki kemiripan dengan atap
[Link] semua karakteristik yang ada pada atap seng dimiliki
juga oleh atap [Link] bicara soal harga, atap asbes termasuk
kategori atap dengan harga yang murah.

45
Gambar 2.27 Atap Genteng asbes
Adapun beberapa kelebihan dari atap asbes, seperti ringan dan
tahan lama dan harga yang cukup [Link] dari atap
asbes ini mudah sekali pecah, sehingga pemasangan harus penuh
dengan kehati-hatian, serta memiliki kandungan karbon yang bisa
membuat kesehatan pernapasan terganggu.

4) Macam macam Atap Rumah berdasarkan modelnya.


Atap rumah yang kita temui memiliki model yang berbeda beda
sesuai dengan keinginan pemilik. Satu model dengan model yang lain
memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Berdasarkan
modelnya, Atap di bedakan menjadi beberapa macam.

1. Atap Rumah dengan model datar


Atap rumah dengan desain minimalis merupakan model atap
rumah terbaru dan [Link] kita ingin membangun rumah
minimalis, maka atap rumah datar sangat direkomendasikan.
Rumah akan terlihat lebih unik karena berbeda dengan rumah-
rumah pada umumnya. Selain itu, atap rumah model ini bisa
membuat rumah seperti terlihat lebih modern.

46
Gambar 2.28 Atap model datar

2. Atap rumah dengan model sandar


Desain rumah yang terkesan unik dan kontemporer bisa
dilakukan dengan memilih atap dengan model sandar. Atap rumah
model ini biasanya akan terlihat seperti asimetris karena atap
rumah hanya membentuk satu bidang saja sekaligus hanya
menempel pada tembok vertikal. Bukan hanya itu, dengan atap
model sandar, rumah akan terlihat lebih elegan dan mewah.

Gambar 2.29 Atap model sandar

47
3. Atap rumah dengan model mansard
Pada atap rumah model mansard terdapat 4 sisi yang di mana
setiap sisinya memiliki kemiringan yang cukup curam. Selain itu,
pada bangunan rumah ini, akan terlihat banyak sekali jendela
apabila kita melihatnya dari depan. Pada bagian atapnya,
umumnya digunakan untuk menyimpan barang atau dijadikan
gudang

Gambar 2.30 Atap model mansard


4. Atap rumah dengan model kubah
Atap rumah dengan model kubah ini akan terlihat mirip dengan
rumah teletubbies. Dengan atap rumah kubah, maka risiko
terkena luka ketika gempa bumi menjadi berkurang.

48
Gambar 2.31 Atap model kubah

5. Atap rumah melengkung


Atap rumah model melengkung dibilang cukup unik karena
bangunan rumah akan terlihat lebih cantik dan menarik perhatian
banyak orang. Lebih bagus lagi, jika atap rumah melengkung
dipadukan dengan atap rumah model datar.

Gambar 2.32 Atap model melengkung

6. Atap rumah model limas


Seperti bangun ruang limas yang terbentuk dari segitiga, maka
atap rumah model limas mempunyai dua bidang segitiga yang

49
saling bertemu dengan garis [Link] itu, dua bidang
lainnya yang ada di atap limas berbentuk trapesium. Kedua
bentuk trapesium itu akan bertemu dengan sebuah bubungan
atas. Ketika kamu membangun rumah dengan atap model ini,
maka rumah akan terlihat lebih modern.

Gambar 2.33 Atap model limas

7. Atap rumah model trapezium


Pada dasarnya, atap rumah trapesium ini hampir sama dengan
atap rumah dengan model limas. Akan tetapi, jika kita melihatnya
dari depan rumah, maka atap akan terlihat cukup jelas berbentuk
trapesium. Pada umumnya, model atap trapesium digunakan pada
rumah-rumah yang bernuansa eropa yang di mana ukuran kaca
dan pintunya cukup besar.

50
Gambar 2.34 Atap model trapesium

8. Atap rumah model joglo


Indonesia sangat dikenal dengan atap rumah dengan model
joglo terutama rumah-rumah yang bernuansa [Link] model
ini, bentuk atapnya biasanya bertingkat yang di mana pada
bagian bawah lebih mengarah keluar. Atap rumah yang menjorok
keluar rumah berfungsi agar cahaya matahari yang masuk tidak
terlalu banyak, sehingga ruangan akan terasa dingin.

Gambar 2.35 Atap model joglo

51
9. Atap rumah model pelana
Jika kita memiliki luas rumah yang cukup besar, maka atap
dengan model pelana sangat pas karena atap model ini memiliki
kemiringan kurang lebih 30 derajat yang membuat bangunan
rumah tampak [Link] itu, pada bagian dindingnya supaya
dapat menunjang penutup atap, maka dibuat dengan bentuk
segitiga dan terletak pada dua sisi bangunan. Melihat bentuknya
saja, kita akan bilang mirip dengan pelana kuda.

Gambar 2.36 Atap model pelana

2.3 Pembebanan
Standar umur rencana dari suatu bangunan yang di tetapkan di
Negara Indonesia pada umumnya adalah 50 ( lima puluh ) tahun.
Oleh karena itu, pada rentang waktu 50 tahun inilah struktur
bangunan dapat menerima berbagai macam kondisi yang mungkin
terjadi, salah satu kondisi yang paling berpengaruh adalah
pembebanan. Maka menjadi sangat penting dalam proses
perencanaan, perhitungan pembebanan harus betul betul baik dan
presisi. Karena, apabila perencana salah menghitung beban maka
akibatnya akan fatal, yaitu kegagalan struktur. Oleh karena itu,

52
sebelum melakukan analisis dan desain struktur perlu adanya
gambaran yang jelas mengenai perilaku dan besar beban yang
nantinya akan bekerja pada struktur tersebut.
Menurut SNI-1727-2013, beban minimum untuk perancangan
bangunan gedung dan struktur lain, struktur komponen dan pondasi
harus dirancang sedemikian rupa sehingga kekuatan desainnya sama
atau melebihi efek dari beban terfaktor dalam kombinasi berikut :
1. 1,4 D
2. 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( Lr atau S atau R )
3. 1,2 D + 1,0 W + L +0,5 ( Lr atau S atau R )
4. 0,9 D + 1,0 E

2.3.1 Beban Hidup ( Live Load disingkat LL )


Beban Hidup menurut SNI 03-1727-1989 adalah semua beban
yang terjadi akibat peghunian atau penggunaan suatu gedung dan
termasuk benda benda pada lantai yang berasal dari barang barang
yang dapat berpindah dan beban genangan maupun tekanan jatuh air
[Link] hidup tersebut sudah termasuk perlengkapan ruang
sesuai dengan kegunaan lantai ruang yang di gunakan.
Beban hidup pada lantai gedung diambil menurut Peraturan
Pembebaban Indonesia ( PBI ) yang di tuangkan dalam table berikut
ini :
Tabel 2.1 Beban Hidup Pada Lantai Gedung
No Beban Hidup Berat Satuan

a Lantai dan tangga rumah tinggal, kecuali 200 kg/m2


yang disebut dalam b.

b Lantai dan tangga rumah sederhana dan 125 kg/m2


gudang-gudang tidak penting yang bukan
untuk toko, pabrik atau bengkel.

c Lantai sekolah, ruang kuliah, kantor, toko, 250 kg/m2

53
toserba, restoran, hotel, asrama dan rumah
sakit.

d Lantai ruang olah raga 400 kg/m2

e Lantai ruang dansa 500 kg/m2

f Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang 400 kg/m2


untuk pertemuan yang lain dari pada yang
disebut dalam a s/d e, seperti masjid, gereja,
ruang pagelaran, ruang rapat, bioskop dan
panggung penonton

g Panggung penonton dengan tempat duduk 500 kg/m2


tidak tetap atau untuk penonton yang berdiri.

h Tangga, bordes tangga dan gang dari yang 300 kg/m2


disebut dalam c

i Tangga, bordes tangga dan gang dari yang 500 kg/m2


disebut dalam d, e, f dan g.

j Lantai ruang pelengkap dari yang disebut 250 kg/m2


dalam c, d, e, f dan g.

k Lantai untuk: pabrik, bengkel, gudang, 400 kg/m2


perpustakaan, ruang arsip, toko buku, toko
besi, ruang alat-alat dan ruang mesin, harus
direncanakan terhadap beban hidup yang
ditentukan tersendiri, dengan minimum

l Lantai gedung parkir bertingkat:

– untuk lantai bawah 800 kg/m2

– untuk lantai tingkat lainnya 400 kg/m2

m Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar 300 kg/m2


harus direncanakan terhadap beban hidup
dari lantai ruang yang berbatasan, dengan
minimum

54
Sumber : SNI 03-1727-1989

2.3.2 Beban mati ( Dead Load disingkat DL )


Beban mati menurut SNI 03-1727-1989 adalah berat dari semua
bagian gedung yang bersifat tetap, termasuk segala unsur tambahan,
penyelesaian penyelesaian, mesin mesin serta peralatan tetap yang
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari gedung [Link]
mati yang digunakan pada pembebanan dapat diperoleh dari Tabel
Berat sendiri bahan bangunan dan komponen gedung.

Tabel 2.2 Berat – berat bahan bangunan

Bahan Bangunan Berat Satuan

Baja 7850 Kg/m³

Batu alam 2600 Kg/m³

Batu belah, batu bulat, abut gunung 1500 Kg/m³


( berat tumpuk )

Batu karang ( berat tumpuk ) 700 Kg/m³

Batu pecah 1450 Kg/m³

Besi tuang 7250 Kg/m³

Beton ( 1) 2200 Kg/m³

Beton bertulang (2) 2400 Kg/m³

Kayu kelas I (3) 1000 Kg/m³

Kerikil, Koral ( kering udara sampai 1650 Kg/m³


lembab, tanpa diayak )

Pasangan batu merah 1700 Kg/m³

55
Pasangan batu belah, batu bulat, 2200 Kg/m³
batu gunung

Pasangan batu cetak 2200 Kg/m³

Pasangan batu karang 1450 Kg/m³

Pasir ( kering udara sampai 1600 Kg/m³


lembab )

Pasir ( Jenuh air ) 1800 Kg/m³

Pasir kerikil, koral ( kering udara 1850 Kg/m³


sampai lembab )

Tanah, lempung dan lanau ( kering 1700 Kg/m³


udara sampai lembab )

Tanah, lempung dan lanau ( basah ) 2000 Kg/m³

Timah Hitam ( timbel ) 11400 Kg/m³

Sumber : SNI 03-1727-1989

Tabel 2.3 Berat- berat komponen Gedung

Komponen Gedung Berat Satuan

Adukan, per cm tebal :

- dari semen 21 Kg/m²

- dari kapur, semen merah atau 17 Kg/m²


tras

Aspal, termasuk bahan-bahan 14 Kg/m²

56
mineral tambahan, per cm tebal

Dinding Pas. Bata merah Kg/m²

- satu batu 450 Kg/m²

- setengah batu 250 Kg/m²

Dinding pasangan batako Kg/m²

Berlubang Kg/m²

- tebal dinding 20 cm (HB 20) 200 Kg/m²

- tebal dinding 10 cm (HB 10) 120 Kg/m²

Tanpa lubang Kg/m²

- tebal dinding 15 cm 300 Kg/m²

- tebal dinding 10 cm 200 Kg/m²

Langit-langit dan dinding (termasuk Kg/m²


rusuk-rusuknya, tanpa penggantung
langit-langit atau pengaku), terdiri
dari :

- semen asbes (eternit dan 11 Kg/m²


bahan lain sejenis), dengan
tebal maksimum 4 m

- kaca, dengan tebal 3 – 4 mm 10 Kg/m²

Lantai kayu sederhana dengan 40 Kg/m²


balok kayu, tanpa langit-langit
dengan bentang maksimum

dan untuk beban hidup maksimum 200 Kg/m²

57
Penggantung langit-langit (dari 7 Kg/m²
kayu), dengan bentang maksimum

Penutup atap genting dengan reng 50 Kg/m²


dan usuk/kaso per m2Bidang atap

Penutup atap sirap dengan reng dan 40 Kg/m²


usuk/kaso per m2

Penutup atap seng gelombang 10 Kg/m²


(BWG 24) tanpa gordeng

Penutup lantai dari ubin semen 24 Kg/m²


portland, teraso dan betontanpa
adukan, per cm tebal

Semen asbes gelombang (tebal 5 11 Kg/m²


mm)

Sumber : SNI 03-1727-1989

2.3.3 Beban hidup atap ( Lr )


Beban pada atap yang diakibatkan pelaksanaan pemeliharaan
oleh pekerja, peralatan dan material serta selama masa layanan
struktur yang diakibatkan oleh benda bergerak.

2.3.4 Beban angin ( W )


Menurut SNI 03-1727-1989, beban angina adalah semua beban
yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang disebabkan oleh
selisih dalam tekanan udara. Beban angina ditenukan dengan
menganggap adanya tekanan positif dan tekanan negative( hisapan ),
yang bekerja tegak lurus pada bidang atap. Tekanan angina diambil
sebesar 25 kg/m2, yang kemudian dikalikan dikalikan dengan sudut
kemiringan atap (  )sebesar 0,02 x  – 0,4 maka koefisien anginnya
sebesar :

58
a. Di pihak angina, ka =  < 65º

= 0,02x – 0,4

Di pihak angina, ka = 65º<<90º

= 0,02x+0,9

b. Di belakang angina, untuk semua  = - 0,4

2.3.5 Beban Gempa ( E )


Beban gempa adalah semua beban yang bekerja pada suatu
struktur akibat pergerakan tanah yang disebabkan karena adanya
gempa bumi ( bak itu gempa tektonik atau vulkanik ) yang
mempengaruhi struktur tersebut. Dalam perkembangannya, beban
gempa dapat dihitung dengan cara static ekivalen dan respon
spectrum.
Berikut adalah langkah langkah dalam menentukan besarnya
beban gempa yang terjadi pada struktur gedung dengan cara static
ekivalen :
a. Menentukan wilayah gempa
Wilayah Indonesia terbagi dalam 6 wilayah gempa , dimana
wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling
rendah dan wilayah gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi.

59
Gambar 2.37 Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan
puncak batuan dasar dengan periode ulang 500 tahun
( Sumber : Gambar 1 SNI-1726-2002)
b. Perhitungan waktu getar alami fundamental
Waktu getar alami fundamental (Periode struktur ) bisa dihitung
dengan metode approksimasi ( pendekatan ) atau metode
sederhana dengan catatan bahwa pendekatan metode
sederhana digunakan untuk struktur dengan ketinggian tidak
melebihi 12 tingkat dan tinggi tingkat paling sedikit 3 m.
c. Perhitungan waktu getar alami fundamental Maksimum
Nilai waktu getar alami fundamentak T dari struktur gedung
harus dibatasi dengan T < N. Dengan n adalah jumlah tingkat
dan koefisien ς ditetapkan menurut tabel koefisien yang
membatasi waktu getar alami fundamental.
Tabel 2.4 Koefisien waktu getar alami fundamental.

Wilayah Gempa ς
1 0,20
2 0,19
3 0,18

60
4 0,17
5 0,16
6 0,15
Sumber : Tabel 8 SNI-1726-2002
d. Menentukan Spektrum Respons Gempa Rencana
Mengingat pada kisaran waktu getar alami pendek 0 < T < 0,2
detik terdapat ketidakpastian, baik dalam karakteristik gerakan
tanah maupun dalam tingkat daktalitas strukturnya, factor
respon gempa C nilainya tidak diambil kurang dari nilai
maksimumnya untuk jenis tanah yang bersangkutan. Nilai nilai
Am dan Ar diambi dari dalam tabel berikut ini :
Tabel 2.5 Spektrum respons gempa rencana

Wilaya Tanah keras Tanah sedang Tanah lunak


h Tc = 0,5 det Tc = 0,6 det Tc = 1,0 det
gempa Am Ar Am Ar Am Ar
1 0,10 0,05 0,13 0,08 0,20 0,20
2 0,30 0,15 0,38 0,23 0,50 0,50
3 0,45 0,23 0,55 0,33 0,75 0,75
4 0,60 0,30 0,70 0,42 0,85 0,85
5 0,70 0,35 0,83 0,50 0,90 0,90
6 0,83 0,42 0,90 0,54 0,95 0,95
Sumber : Tabel 6 SNI-1726-2002
e. Menentukan Faktor Respon Gempa atau Koefisien Gempa ( C )

61
Gambar 2.36 : Respon Spektrum Gempa
( Sumber : Gambar 2 Respon spectrum Gempa SNI-1726-2002 )
f. Menentukan factor keamanan struktur
Untuk berbagai kategori gedung, bergantung pada probabilitas
terjadinya keruntuhan struktur gedung selama umur gedung dan
umur gedung tersebut yang diharapka pengaruh gempa encana
terhadapnya harus dikalikan dengan suatu factor keutamaan I
menurut persamaam : I = I1.I2
Tabel 2.6 Faktor Keutamaan I untuk berbagai kategori gedung

Kategori gedung Faktor Keutamaan

I1 I2 I
Gedung umum seperti untuk 1,0 1,0 1,0
penghunian, perniagaan dan
perkantoran
Monumen dan bangunan 1,0 1,0 1,6
monumental

62
Gedung penting pasca gempa 1,4 1,0 1,4
seperti rumah sakit, instalasi air
bersih, pembangkit tenaga
listrik,pusatpenyelamatandalam
keadaan darurat, fasilitas radio dan
televisi.
Gedung untuk menyimpan bahan 1,6 1,0 1,6
berbahaya seperti gas, produk
minyak bumi, asam, bahan
beracun.
Cerobong, tangki di atas menara 1,5 1,0 1,5

Sumber : Tabel 6 SNI-1726-2002


g. Penentuan Faktor Modifikasi Respon Gempa ( R )
Faktor modifikasi respon gempa ( R ) ditentukan berdasarkan
tabel 2.11 dan tabel 2.12 berikut ini :
Tabel 2.7 Parameter daktalitas struktur gedung

Taraf kinerja μ R
Struktur gedung pers.( 6)
struktur
Elastik penuh 1,0 1,6
Daktail parsial 1,5 2,4
2,0 3,2
2,5 4,0
3,0 4,8
3,5 5,6
4,0 6,4
Daktail penuh 5,3 8,5
Sumber : Tabel 6 SNI-1726-2002

63
Tabel 2.8 Faktor reduksi gempa maksimum untuk
beberapa jenis system dan subsistem struktur gedung.

Sistem dan Uraian sistem μm Rm f


subsistem struktur pemikul beban Pers. Pers.
1. gedung
Sistem dinding gempa
1. Dinding geser beton 2,7 (6)
4,5 (39)
2,8
penumpu(Sistem bertulang
struktur yang tidak [Link] penumpu 1,8 2,8 2,2
memiliki rangka ruang dengan rangka baja
pemikul beban gravitasi ringan danbresing
secara lengkap. Dinding 3. tarik
Rangka bresing di
penumpu atau mana bresingnya
sistem bresing memikul memikul beban
hampir semua beban [Link] 2,8 4,4 2,2
gravitasi. Beban lateral [Link] bertulang 1,8 2,8 2,2
dipikul dinding geser (tidak untuk Wilayah
atau rangka bresing). 5 & 6)
2. Sistem rangka 1. Rangka bresing 4,3 7,0 2,8
gedung(Sistem struktur eksentris baja (RBE)
yang pada dasarnya 1. Dinding geser beton 3,3 5,5 2,8
memiliki rangka ruang bertulang
pemikul beban gravitasi 2. Rangka bresing biasa
secara lengkap. [Link] 3,6 5,6 2,2
Beban lateral dipikul [Link] bertulang 3,6 5,6 2,2
dinding geser atau (tidak untuk Wilayah
rangka bresing). 5 & 6)
[Link] bresing
konsentrik khusus
[Link] 4,1 6,4 2,2

64
[Link] geser beton 4,0 6,5 2,8
bertulang berangkai
daktail
[Link] geser beton 3,6 6,0 2,8
bertulang kantilever
daktailpenuh
[Link] geser beton 3,3 5,5 2,8
bertulang kantilever
daktailparsial
3. Sistem rangka [Link] pemikul
pemikul momen momen khusus
(Sistem struktur yang (SRPMK)
[Link] 5,2 8,5 2,8
pada dasarnya memiliki [Link] bertulang 5,2 8,5 2,8
rangka ruang pemikul [Link] pemikul 3,3 5,5 2,8
beban gravitasi secara momen menengah
lengkap. [Link]
beton (SRPMM)pemikul
Beban lateral dipikul momen biasa
rangka pemikul momen (SRPMB)
[Link] 2,7 4,5 2,8
terutama melalui [Link] bertulang 2,1 3,5 2,8
mekanisme lentur) 3. Rangka batang 4,0 6,5 2,8
baja pemikul
momen khusus
4. Sistem ganda 1. Dinding geser
(Terdiri dari: 1) rangka
a. Beton bertulang 5,2 8,5 2,8
ruang yang memikul
dengan SRPMK beton
seluruh beban gravitasi;
bertulang
2) pemikul beban lateral
berupa dinding geser b. Beton bertulang 2,6 4,2 2,8

atau rangka bresing dengan SRPMB baja

65
dengan rangka pemikul c. Beton bertulang 4,0 6,5 2,8
momen. Rangka dengan SRPMM beton
pemikul momen harus [Link]
RBE baja
direncanakan secara a. Dengan 5,2 8,5 2,8
terpisah SRPMK
b. baja
Dengan 2,6 4,2 2,8
mampu memikul SRPMB bajabresing
2. Rangka
sekurang- kurangnya biasa
a. Baja dengan 4,0 6,5 2,8
25% dari seluruh beban SRPMK baja
lateral; 3) kedua sistem b. Baja dengan 2,6 4,2 2,8
harus direncanakan SRPMB baja
untuk memikul secara [Link] bertulang 4,0 6,5 2,8

bersama-sama seluruh dengan SRPMK

beban lateral dengan beton bertulang

memperhatikan [Link] bertulang 2,6 4,2 2,8

interaksi dengan SRPMM

/sistem ganda) beton bertulang


3. Rangka bresing
konsentrik khusus
[Link] dengan SRPMK 4,6 7,5 2,8
baja dengan SRPMB 2,6
[Link] 4,2 2,8
baja
5. Sistem struktur Sistem struktur kolom 1,4 2,2 2
gedung kolom kantilever
6. Sistem interaksi Beton bertulang biasa 3,4 5,5 2,8
dinding geser (tidak untuk Wilayah 3,
7. Subsistem tunggal 1.
4, 5Rangka
& 6) terbuka baja 5,2 8,5 2,8
(Subsistem struktur 2. Rangka terbuka 5,2 8,5 2,8
bidang yang beton bertulang
membentuk struktur 3. Rangka terbuka 3,3 5,5 2,8
gedung secara beton bertulang
dengan balok beton

66
keseluruhan) 4. Dinding geser 4,0 6,5 2,8
beton bertulang
berangkai
daktailpenuh.
h. Perhitungan Gaya Geser Dasar Nominal ( V ).
1. Dalam arah sumbu y

Cy . I
Vy = . Wty …………………………………………………........2.126
Rm

2. Dalam arah sumbu x


Cy . I
Vx= . Wtx ………………………………………………….......2.127
Rm
i. Perhitungan Distribusi Beban Gempa Per Lantai ( F1 )
Distribusi beban gempa pada setiap lantai dihitung dengan
persamaan,
Wi . hi
F= .V
∑ Wi .hi
Apabila H/B≥ 3 , 00 maka,
a. Untuk lantai atas,
Wi . hi
F= i=n .0 , 9 v+ 0 ,1 v
…………………………………………… 2.128
∑ Wi .hi
i=1

b. Untuk lantai yang lain


Wi . hi
F= i=n .0 , 9
2.128
∑ Wi .hi
i=1

j. Analisis struktur akibat beban Gempa ( memakai SAP 2000 )


k. Kontrol Waktu Getar Alami dengan cara Rayleigh
Waktu getar alami fundamental cara pendekatan (empiris ) dicek
dengan waktu getar alami fundamental Rayleigh menurut
persamaan,

67
√∑
n
wi . di ²
i =0
T =6 , 3 x n

∑ Fi . di
i=0

2.130Dengan,
Wi = berat bangunan lantai ke I (kN)
Fi = beban gempa pada struktur bangunan lantai ke I ( kN )
di = simpangan horizontal akibat gempa pada lantai ke
(mm)i
g = percepatan gravitasi ( mm/det² )
= 9810 mm/det²
Pada Tugas Akhir ( Perencanaan Kantor Bersama Mall Pelayanan
Publik Kabupaten Banjarnegara ) ini menggunakan analisis
respon spectrum karena pada permodelan struktur
menggunakan program SAP 2000 dengan model 3 dimensi.

Berikut adalah langkah langkah dalam menentukan besarnya


beban gempa yang terjadi pada struktur gedung dengan cara
Respon Spektrum :
1. Menentukan beban gempa yang diperoleh dari data desain
spectra dari Website PUSKIM Indonesia dengan berdasarkan letak
bangunan dan jenis tanah guna mendapatkan data tersebut.
2. Kemudian data tersebut diolah berdasarkan periode waktu getar.
3. Untuk kombinasi beban gempa digunakan 2 kombinasi yaitu 100
% arah Y +30 % arah X dan 100 % arah X +30 % Y.
4. Tentukan kategori resiko bangunan berdasarkan tabel 1 SNI 1726-
2012
Tabel 2. 9 Kategori resiko bangunan gedung dan non
gedung untuk gempa

68
Jenis Pemanfaatan Kategori
Resiko

Gedung dan non gedung yang memiliki resiko


rendah terhadap jiwa manusia pada saat terjadi
kegagalan, termasukm tapi tidak dibatasi untuk,
antara lain :
 Fasilitas pertanian, perkebunan, peternakan I
dan perikanan
 Fasilitas sementara
 Gudang penyimpanan
 Rumah jaga dan struktur kecil lainnya

Semua gedung dan struktur lain, kecuali yang


termasuk dalam kategori resiko I,III,IV, termasuk tapi
tidak dibatasi untuk :
 Perumahan
 Rumah toko dan rumah kantor
 Pasar
 Gedung perkantoran II
 Gedung apartemen / rumah susun
 Pusat perbelanjaan / mall
 Bangunan industry
 Fasilitas manufaktur
 Pabrik

Gedung dan non gedung yang memiliki resiko tinggi


terhadap jiwa manusia pada saat terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :
 Bioskop
 Gedung pertemuan

69
 Stadion
 Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit
bedah dan unit gawat darurat
 Fasilitas penitipan anak III
 Penjara
 Bangunan untuk orang jompo

Gedung dan non gedung, tidak termasuk kedalam


kategori resiko IV yang memiliki potensi
menyebabkan dampak ekonomi yang besar dan /
atau gangguan masal terhadap kehidupan
masyarakat sehari hari bila terjadi kegagalan,
termasuk, tapi tidak dibatasi untuk :

 Pusat pembangkit listrik biasa


 Fasilitas penanganan air
 Fasilitas penanganan limbah
 Pusat telekomunikasi
Gedung dan non gedung yang tidak termasuk dalam
kategori resiko IV, ( termasuk, tetapi tidak dibatasi
untuk fasilitas manufaktur, proses, penanganan,
penyimpanan, penggunaan atau tempat
pembuangan bahan bakar berbahaya, bahan kimia
berbahaya, limbah berbahaya, atau bahan yang
mudah meledak ) yang mengandung bahan beracun
atau peledak dimana jumlah kandungan bahannya
melebihi nilai batas yang disyaratkan oleh instansi
yang berwenang dan cukup menimbulkan bahaya
bagi masyarakat jika terjadi kebocoran.

Gedung dan non gedung yang ditunjukkan sebagai


fasilitas yang penting, termasuk, tetapi tidak

70
dibatasi untuk :
 Bangunan bangunan monumental
 Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
 Rumah sakit dan fasilias kesehatan lainnya
yang memiliki fasilitas bedah unit gawat
darurat.
 Fasilitas pemadak kebakaran, ambulance, dan
kantor polisi serta garasi kendaraan darurat.
 Tempat perlindungan terhadap gempa bumi,
angina badai, dan tempat perlindungan
darurat lainnya.
 Fasilitas kesiapan darurat, Komunikasi, pusat
operasi dan fasilitas lainnya untuk tanggap
darurat.
 Pusat pembangkit energy dan fasilitas public
lainnya yang dibutuhkan pada saat keadaan
darurat.
 Struktur tambahan ( termasuk menara
telekomunikasi, tangki penyimpanan bahan
bakar, menara pendingin, struktur stasiun
listrik, tangki air pemadam kebakaran atau
struktur rumah atau struktur pendukung air
atau material atau peralatan pemadam
kebakaran ) yang disyaratkan untuk
beroperasi pada saat keadaan darurat.
Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi struktur bangunan lain
yang masuk kedalam kategori resiko IV.

Sumber : SNI 1726 - 2012

71
5. Menentukan factor keutamaan gempa berdasarkan kategori resiko
gempa berdasarkan tabel 2 sesuai SNI 1726 – 2012 :
Tabel 2.10 Faktor keutamaan gempa

Kategori Resiko Faktor Keutamaan Gempa, l e

I atau II 1,0

III 1,25

IV 1,50

Sumber : SNI 1726 - 2012


6. Untuk kombinasi pembebanan pada struktur skibat gempa yaitu :
a. U1 = EX + EY...........................................................................
31
b. U2 = EX - EY............................................................................
31
c. U3 = -EX + EY.........................................................................
31
d. U4 = -EX - EY...........................................................................
31
Keterangan :
U = Kombinasi pembebanan
EX = Beban gempa pada sumbu X
EY = Beban gempa pada sumbu Y

Tabel 2.11 Faktor R untuk Sistem Penahan Gaya Gempa

Sistem dan subsistem Sistem penahan gaya R


struktur bangunan gedung seismik

Sistem rangka pemikul 1. Rangka Pemikul Khusus


momen ( System struktur

72
yang pada dasarnya a. Baja 8
memiliki rangka ruang b. Beton bertulang 8
pemikul beban gravitasi 2. Rangka beton pemikul
secara lengkap ). Beban momen menengah
lateral dipikul rangka ( SRPMM ) 5,5
pemikul momen terutama 3. Rangka pemikul momen
melalui mekanisme lentur. biasa ( SRPMB ).
a. Baja 3,5
b. Beton bertulang 3
4. Rangka batang baja
pemikul momen khusus
( SRBPMK ) 7

Sumber : Tabel 9 SNI 1726 - 2012

2.3.6 Beban Air Hujan ( R )


Beban air hujan pada atap yang tidak melendut, dalam lb/ft²
(kN/m²). Apabila istilah atap yang tidak melendut digunakan,
lendutan dari beban ( termasuk beban mati) tidak perlu
diperhitungkan ketika menentukan jumlah air hujan pada atap.

2.3.7 Rencana Anggaran Biaya


Rencana Anggaran Biaya adalah perhitungan banyaknya
biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya
lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau
proyek tersebut.
Anggaran biaya merupakan harga dari bangunan yang
dihitung dengan teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran
biaya pada bangunan yang sama akan berbeda di masing
masing daerah disebabkan karena perbedaan harga bahan dan

73
harga upah tenaga kerja. Tujuan dari pembuatan RAB itu sendiri
adalah untuk memberikan gambaran yang pasti tentang
besarnya biaya. Sedangkan menurut para ahli mendefinisikan
secara detail, seperti :

2.3.8 Kurva S
2.3.9

74
75

Anda mungkin juga menyukai