Tinjauan Pustaka Perencanaan Struktur Bangunan
Tinjauan Pustaka Perencanaan Struktur Bangunan
TINJAUAN PUSTAKA
6
penghuninya. Dalam hal ini Christina Lilies Vellani menonjolkan aspek
Kualitas kesehatan dalam ruangan.
Iqbal Hasan dalam tugas akhir dengan judul Perencanaan
Struktur Gedung Asrama Mahasiswa Politeknik Negeri
[Link] ini mengutamakan Aspek Strukturnya,
Bangunan tersebut terdiri dari 5 Lantai dengan tinggi tiap lantai
adalah 4 [Link] bangunan tersebut adalah 35,20 meter dan
panjangnya adalah 40 meter, di lengkapi dengan Lobby. Ketinggian
bangunan tersebut adalah 20 [Link] tanah keras lokasi
tersebut adalah 10 meter maka untuk mendukung kekuatan Pondasi
digunakan Tiang pancang sedalam 10 [Link] hal ini Iqbal
Hasan menonjolkan aspek Struktur.
7
Kantor Bersama - Terdapat Rooftop
Mall Pelayanan pada bangunan
Publik ( MPP ) paling atas
Kabupaten - Akses naik
Banjarnegara menggunakan Lift
dan Tangga.
- Konsep bangunan
taman hijau.
8
b. Standar Tata Cara Menghitung Struktur Beton No: SK SNI T-15-
1991-03; dan
c. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung tahun 1983.
9
[Link] dari kolom yang bekerja pada pondasi ini harus disebar
ke permukaan tanah yang cukup luas sehingga tanah dapat memikul
beban dengan [Link] tegangan tekan melebihi tekanan yang
diizinkan, maka dapat menggunakan bantuan tiang pancang untuk
membantu memikul tegangan tekan pada dinding dan kolom pada
struktur.
Dasar pondasi harus di letakkan di atas tanah kuat pada
kedalaman cukup tertentu, bebas dari lumpur, humus, dan pengaruh
perubahan cuaca ( Dipohusodo, 1994).
2) Persyaratan Perencanaan Pondasi
Dengan memperhatikan faktor-faktor dalam pemilihan tipe
pondasi terdapat juga Syarat-syarat umum dari pondasi yaitu :
1. Kedalaman harus memadai untuk menghindarkan pergerakan
tanah lateral dari bawah pondasi khususnya untuk pondasi
telapak dan pondasi rakit.
2. Kedalaman harus berada dibawah daerah perubahan volume
musiman yang disebabkan oleh pembekuan, pencairan dan
pertumbuhan tanaman.
3. Sistem harus aman terhadap penggulingan, rotasi,
penggelinciran atau pergeseran tanah.
4. Sistem harus aman terhadap korosi atau kerusakan yang
disebabkan oleh bahan berbahaya yang terdapat didalam
tanah.
5. Sistem harus mampu beradaptasi terhadap beberapa
perubahan geometri konstruksi atau lapangan selama proses
pelaksanaan perlu dilakukan.
6. Metode pemasangan harus seekonomis mungkin.
7. Pergerakan tanah keseluruhan dan pergerakan diferensial harus
dapat ditolerir dan elemen pondasi dan elemen bangunan atas.
10
8. Pondasi dan konstruksinya harus memenuhi syarat standar
untuk perlindungan lingkungan.
3) Pemilihan Pondasi berdasarkan daya dukung tanah
• Bila tanah keras terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter
di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah
pondasi dangkal. (misal: pondasi jalur, pondasi telapak atau
pondasi strauss).
• Bila tanah keras terletak pada kedalaman sekitar 10 meter atau
lebih di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah
pondasi tiang minipile, pondasi sumuran atau pondasi bored
pile.
• Bila tanah keras terletak pada kedalaman 20 meter atau lebih
di bawah permukaan tanah maka jenis pondasinya adalah
pondasi tiang pancang atau pondasi bored pile.
Standar daya dukung tanah menurut Peraturan Pembebanan
Indonesia Untuk Gedung tahun 1983 adalah :
• Tanah keras (lebih dari 5 kg/cm2).
• Tanah sedang (2-5 kg/cm2)
• Tanah lunak (0,5-2 g/cm2)
• Tanah amat lunak (0-0,5 kg/cm2)
Kriteria daya dukung tanah tersebut dapat ditentukan melalui
pengujian secara sederhana. Misal pada tanah berukuran 1 cm x 1 cm
yang diberi beban 5 kg tidak akan mengalami penurunan atau amblas
maka tanah tersebut digolongkan tanah keras.
4) Jenis jenis Pondasi
Bentuk pondasi ditentukan oleh berat bangunan dan keadaan
tanah disekitar bangunan, sedangkan kedalaman pondasi ditentukan
oleh letak tanah padat yang mendukung [Link] terletak pada
tanah miring lebih dari 10%, maka pondasi bangunan tersebut harus
dibuat rata atau dibentuk tangga dengan bagian bawah dan atas
11
[Link] pondasi dibagi menjadi 2, yaitu pondasi dangkal dan
pondasi dalam.
A. Pondasi dangkal
Pondasi dangkal biasanya dibuat dekat dengan permukaan
tanah, umumnya kedalaman pondasi didirikan kurang 1/3 dari lebar
pondasi sampai dengan kedalaman kurang dari 3 m. Kedalaman
pondasi dangkal ini bukan aturan yang baku, tetapi merupakan
sebagai pedoman. Pada dasarnya, permukaan pembebanan atau
kondisi permukaan lainnya akan mempengaruhi kapasitas daya
dukung pondasi dangkal. Pondasi dangkal biasanya digunakan ketika
tanah permukaan yang cukup kuat dan kaku untuk mendukung
beban yang dikenakan dimana jenis struktur yang didukungnya tidak
terlalu berat dan juga tidak terlalu tinggi, pondasi dangkal umumnya
tidak cocok dalam tanah kompresif yang lemah atau sangat buruk,
seperti tanah urug dengan kepadatan yang buruk , pondasi dangkal
juga tidak cocok untuk jenis tanah gambut, lapisan tanah muda dan
jenis tanah deposito aluvial, dll. Apabila kedalaman alas pondasi (Df)
dibagi lebar terkecil alas pondasi (B) kurang dari 4, (Df/B < 4) dan
apabila letak tanah baik (kapasitas dukung ijin tanah > 2,0 kg/cm2)
relatif dangkal (0,6-2,0 m) maka digunakan pondasi ini. Pondasi
dangkal juga digunakan bila bangunan yang berada di atasnya tidak
terlalu [Link] sederhana [Link] ini juga bisa dipakai
untuk bangunan umum lainnya yang berada di atas tanah yang keras.
Yang termasuk dalam pondasi dangkal adalah sebahai berikut :
1) Pondasi Tapak (Pad Foundations), Pondasi tapak (pad
foundation) digunakan untuk mendukung beban titik individual
seperti kolom struktural. Pondasi pad ini dapat dibuat dalam
bentuk bukatan (melingkar), persegi atau rectangular. Jenis
pondasi ini biasanya terdiri dari lapisan beton bertulang
12
dengan ketebalan yang seragam, tetapi pondasi pad dapat
juga dibuat dalam bentuk bertingkat atau haunched jika
pondasi ini dibutuhkan untuk menyebarkan beban dari kolom
berat. Pondasi tapak disamping diterapkan dalam pondasi
dangkal dapat juga digunakan untuk pondasi dalam.
13
menggunakan pasangan batu bata dengan catatan tidak
mendukung beban struktural.
14
Gambar 2.3 Pondasi tikar
15
lokasi tanah yang [Link] bagian atas pondasi yang
mendekati sloof, diberi pembesian untuk mengikat sloof.
6) Pondasi Umpak,
Pondasi ini diletakan diatas tanah yang telah padat atau
[Link] dan jenis pondasi ini sampai sekarang terkadang
masih digunakan, tetapi ditopang oleh pondasi batu kali yang
berada di dalam tanah dan sloof sebagai pengikat struktur,
serta angkur yang masuk kedalam as umpak kayu atau umpak
batu dari bagian bawah umpaknya atau tiangnya. Pondasi ini
membentuk rigitifitas struktur yang dilunakkan, sehingga sistim
membuat bangunan dapat menyelaraskan goyangan goyangan
yang terjadi pada permukaan tanah, sehingga bangunan tidak
akan patah pada tiang-tiangnya jika terjadi gempa.
16
Gambar 2.6 Pondasi umpak
17
B. Pondasi dalam
Pondasi dalam adalah pondasi yang didirikan permukaan tanah
dengan kedalam tertentu dimana daya dukung dasar pondasi
dipengaruhi oleh beban struktural dan kondisi permukaan tanah,
pondasi dalam biasanya dipasang pada kedalaman lebih dari 3 m di
bawah elevasi permukaan tanah. Pondasi dalam dapat dijumpai
dalam bentuk pondasi tiang pancang, dinding pancang dan caissons
atau pondasi kompensasi . Pondasi dalam dapat digunakan untuk
mentransfer beban ke lapisan yang lebih dalam untuk mencapai
kedalam yang tertentu sampai didapat jenis tanah yang mendukung
daya beban strutur bangunan sehingga jenis tanah yang tidak cocok
di dekat permukaan tanah dapat dihindari. Apabila lapisan atas
berupa tanah lunak dan terdapat lapisan tanah yang keras yang
dalam maka dibuat pondasi tiang pancang yang dimasukkan ke
dalam sehingga mencapai tanah keras (Df/B >10 m), tiang-tiang
tersebut disatukan oleh poer/pile [Link] ini juga dipakai pada
bangunan dengan bentangan yang cukup lebar (jarak antar kolom
6m) dan bangunan bertingkat. Yang termasuk didalam pondasi ini
antara lain pondasi tiang pancang, (beton, besi, pipa baja), pondasi
sumuran, pondasi borpile dan lain-lain. Jenis-jenis pondasi dalam
adalah sebagai berikut:
1) Pondasi Tiang Pancang.
Pada dasarnya sama dengan bore pile, hanya saja yang
membedakan bahan dasarnya. Tiang pancang menggunakan
beton jadi yang langsung ditancapkan langsung ketanah dengan
menggunakan mesin pemancang. Karena ujung tiang pancang
lancip menyerupai paku, oleh karena itu tiang pancang tidak
memerlukan proses pengeboran. Pondasi tiang pancang
dipergunakan pada tanah-tanah lembek, tanah berawa, dengan
kondisi daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah
18
tinggi dan tanah keras pada posisi sangat dalam. Bahan untuk
pondasi tiang pancang adalah : bamboo, kayu besi/ kayu ulin,
baja, dan beton bertulang.
19
atau struktur. Banyak rumah didukung sepenuhnya dengan jenis
pondasi ini, dimana beton yang dipasang juga berguna sebagai
dinding pada ruang bawah tanah, dimana ruang tersebut
digunakan sebagai gudang penyimpanan atau taman. Beton
pondasi pier biasanya dibuat dalam bentuk pre cast dalam
berbagai ukuran dan bentuk, dimana sering dijumpai dalam
bentuk persegi memanjang dengan ketinggian sesuai dengan
ukuran kedalaman yang diperlukan. Tapi beton dapat juga dibuat
dalam bentuk bulatan. Setelah beton bertulang cukup kering
kemudian di masukkan ke dalam tanah yang sudah digali dan
disusun secara bersambungan. Setelah tersusun dengan baik
kemudian baru dilanjutkan dengan konstruksi diatasnya.
20
Pondasi bor pile adalah bentuk pondasi dalam yang dibangun di
dalam permukaan tanah, pondasi di tempatkan sampai ke
dalaman yang dibutuhkan dengan cara membuat lobang
dengan sistim pengeboran atau pengerukan tanah. Setelah
kedalaman sudah didapatkan kemudian pondasi pile dilakukan
dengan pengecoran beton bertulang terhadap lobang yang
sudah di bor. Sisitim pengeboran dapat dialakukan dalam
berbagai jenis baik sistim manual maupun sistim hidrolik. Besar
diameter dan kedalaman galian dan juga sistim penulangan
beton bertulang didesain berdasarkan daya dukung tanah dan
beban yang akan dipikul. Fungsional pondasi ini juga hampir
sama pondasi pile yang mana juga ditujukan untuk menahan
beban struktur melawan gaya angkat dan juga membantu
struktur dalam melawan kekuatan gaya lateral dan gaya guling.
[Link] Basement
1) Pengertian Basement
Basement adalah sebuah tingkat atau beberapa tingkat dari
bangunan yang keseluruhan atau sebagian terletak di bawah tanah.
Basement adalah ruang bawah tanah yang merupakan bagian dari
bangunan gedung. Pada masa ini basement dibuat sebagai usaha
21
untuk mengoptimalkan penggunaan lahan yang semakin padat dan
mahal.
22
Basement memberikan satu kesempatan untuk ahli bangunan
untuk mencapai suatu titik balik dalam pengeluarannya, dan
customer/klien untuk mendapatkan keuntungan dengan membangun
sebuah bagunan yang bernilai potensi lebih.
Basement biasanya digunakan sebagai ruang utilitas untuk
bangunan, tempat ruang utilitas seperti boiler, pemanas air, panel
pemutus atau kotak sekering, tempat parkir, dan sistem pendingin
udara. Begitu juga fasilitas seperti sistem distribusi listrik dan titik
distribusi televisi kabel.
Di kota-kota dengan harga properti yang tinggi, seperti Jakarta,
basement atau ruang bawah tanah sering dilengkapi dengan fasilitas
sehingga dapat digunakan sebagai ruang [Link] atau ruang
bawah tanah sejatinya sudah ada sejak zaman dahulu dimana
beberapa istana kerajaan memiliki ruang bawah tanah sebagai
tempat bersembunyi atau melarikan [Link] menjadi lebih
mudah dibangun sejak adanya industrialisasi dalam pembangunan
rumah.
Mesin penggali bertenaga besar seperti backhoe dan front-end loader
telah mengurangi waktu dan tenaga yang diperlukan untuk menggali
ruang bawah tanah secara dramatis dibandingkan dengan menggali
dengan tangan dengan sekop, meskipun metode ini mungkin masih
digunakan di negara berkembang. Sistem bangunan dengan
basement sangat cocok digunakan untuk bangunan [Link]
bangunan tinggi, diperlukan pondasi yang sangat dalam, daripada
membiarkan pondasi besar yang dalam ke tanah, lebih baik
difungsikan sebagai ruang untuk utilitas atau back office.
Meskipun basement adalah salah satu cara untuk menghemat
lahan dan menyediakan ruang servis, pada rumah tinggal basement
jarang dibuat karena biaya yang dikeluarkan bisa mencapai 1,5 kali
lebih banyak dibandingkan biaya membuat struktur tingkat.
23
Namun, meski tergolong mahal namun bukan berarti pembuatan
basement tidak [Link] sering dimanfaatkan untuk
fungsi ruang servis seperti gudang, workshop, ruang cuci, toilet
maupun ruang-ruang yang memerlukan persyaratan khusus seperti
home theatre dan ruang musik/studio yang membutuhkan kekedapan
suara lebih tinggi sehingga tidak mengganggu tetangga.
Keuntungan dari keberadaan basement adalah kita bisa
menyembunyikan kegiatan-kegiatan yang tidak enak dipandang mata
orang luar (misalnya ruang ME, gudang, dll) dan kita dapat
memaksimalkan penggunaan ruang pada lantai yang ada di atasnya.
Aplikasi dan penggunaan basement pada bangunan sangat luas
dan bisa digunakan sebagai solusi untuk menambah ruang yang
dibutuhkan. Basement adalah solusi terbaik untuk menambah
kapasitas parkir kendaraan sehingga jumlah mobil dan sepeda motor
yang bisa ditampung semakin banyak. Berikut ini merupakan contoh
aplikasi basement pada bangunan.
24
Gambar 2.13 Aplikasi Basement pada hotel
Penggunaan basement paling sering dibuat untuk bangunan
hotel untuk menghemat lahan parkir hotel. Sebuah hotel tentunya
memerlukan tampilan bangunan yang estetis dan tidak terganggu
oleh banyaknya kendaraan yang parkir sehingga semua kendaraan
pengunjung dan pengelola hotel akan diarahkan ke basement. Selain
untuk parkir, basement hotel juga digunakan sebagai tempat untuk
utilitas MEP.
25
Gambar 2.15 Aplikasi Basement pada rumah
Basement juga bisa dibuat di rumah sebagai gudang atau
tempat meletakan [Link] ingin membuat basement di rumah
pastikan memiliki sistem yang dapat melindungi basement dari air
dan sistem untuk mengeluarkan air tersebut dari basement.
Demikianlah mengenai perngertian basement dalam bangunan,
semoga artikel ini dapat bermandaat dan dapat menambah wawasan
sahabat [Link] kasih.
[Link] Sloof
1) Pengertian Sloof
Secara umum sloof merupakan sebuah bangunan yang berada
di atas pondasi konstruksi. Meski berada di atas struktur pondasi.
Namun tak jarang juga sloof terletak di dalam tanah. sloof digunakan
untuk meratakan beban bangunan. Selain itu sloof juga berguna
untuk mengunci bagian tembok jika sewaktu-waktu terjadi
26
pergeseran [Link] sloof bisa menjadi komponen bangunan
yang berguna menahan beban komponen lain di atasnya. Tentunya
keberadaan dari struktur sloof sangat membantu komponen di
bawahnya yaitu [Link] struktur sloof bisa digunakan untuk
area atau tempat untuk menempelkan komponen batako maupun
[Link] sloof bisa digunakan untuk area berdirinya komponen
[Link] suatu waktu struktur sloof patah atau [Link] dinding
masih bisa tertolong dengan pondasi yang ada di [Link]
sloof berguna untuk menjadi jembatan antara bagian dinding dengan
struktur [Link] terjadinya sebuah kondisi pergeseran tanah,
struktur sloof bisa berguna untuk mengunci bagian dinding yang ada
di atasnya, Struktur sloof bisa membantu bagian pondasi
mendapatkan beban secara [Link] sloof bisa berfungsi
untuk mengikat [Link] bangunan tetap aman meskipun
terjadi bencana seperti angin, gempa dan lainnya.
27
2. Struktur Sloof dari batu bata.
Selanjutnya ada jenis struktur sloof batu bata. Struktur sloof
jenis ini juga kerap disebut dengan nama rolag. Proses pembuatan
struktur sloof jenis ini menggunakan batu bata yang disusun
dengan bentuk [Link] agar batu bata terpasang lebih
kuat, struktur sloof jenis ini diberikan sebuah pengikat yang
terbuat dari adukan [Link] adukan pasangan tidak
bisa dilakukan secara [Link] perhitungan
perbandingan yang diperlukan pada pembuatan adukan pasangan
untuk mengikat struktur sloof dari batu bata [Link]
tersebut adalah satu bagian semen dan empat bagian pasir.
Perlu diketahui juga jika struktur sloof jenis ini tidak bisa
membagi beban dengan begitu [Link] adalah
karena karena batu bata memiliki sifat [Link] sifat
lembab inilah struktur sloof jenis ini tidak bisa menahan beban
dinding dengan baik.
28
tulangan, cincin dan [Link] bahan yang diperlukan pada
struktur sloof jenis ini harus dibuat dengan komposisi yang tepat.
Dari keempat jenis struktur sloof seperti penjelasan di atas.
Tentunya Anda akan semakin tahu bagaimana pentingnya sebuah
sloof untuk suatu konstruksi bangunan. Selain itu Anda juga tahu
jika setiap jenis dari sloof memiliki kelebihan, kekurangan dan
fungsi masing-masing. Dengan begini Anda bisa memilih jenis
struktur sloof sesuai dengan kebutuhan pembangunan konstruksi
yang akan dijalankan.
29
[Link] Kolom
1) Pengertian Kolom
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), adapun yang
dimaksud kolom adalah tiang (pilar) penyangga yang biasanya
terbuat dari beton yang bertulang besi. Sementara menurut
Sudarmoko (1996), kolom merupakan suatu struktur tekan yang
memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga
keruntuhan pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat
menyebabkan runtuhnya lantai dan runtuhnya bangunan secara total.
Struktur dalam kolom terbuat dari besi dan [Link] bahan
ini memiliki sifat gabungan yang cukup baik di mana besi merupakan
material yang tahan terhadap tarikan, sedangkan beton merupakan
material yang tahan tekanan.
30
1. Kolom segi empat atau bujur sangkar dengan tulangan
memanjang dan menyengkang
2. Kolom bundar dengan tulangan memanjang dan menyengkang
berbentuk spiral. Adapun fungsi dari tulangan spiral ini adalah
memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi cukup
besar sebelum runtuh sehingga mampu mencegah terjadinya
kehancuran seluruh struktur bangunan sebelum proses
redistribusi momen dan tegangan terwujud
3. Kolom komposit, yaitu gabungan antara beton dan profil baja
sebagai pengganti tulangan di dalamnya.
31
bagian bangunan secara [Link] kolom utama umumnya
lebih besar, panjang, serta tersembunyi dalam dinding dan tidak
terlihat dari luar.
Sementara pada kolom praktis, biasanya jarak kolom ini
berkisar antara 3 sampai 4 [Link] struktur dari kolom jenis ini
biasanya berada dalam posisi vertikal untuk menopang beban balok.
Fungsi kolom praktis ini adalah untuk menahan dinding dari gaya
melintang agar tidak roboh. Letak kolom praktis juga tersembunyi di
dalam dinding sehingga tidak terlihat dari luar.
Jenis kolom menurut kelangsingannya
Berdasarkan kelangsingannya, kolom terbagi menjadi dua jenis.
Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Kolom pendek, di mana masalah tekuk tidak menjadi perhatian
dalam merencanakan kolom karena pengaruhnya cukup kecil
2. Kolom langsing, di mana masalah tekuk perlu diperhitungkan
dalam merencakanan kolom
2. Jenis Kolom.
Merujuk SK SNI T-15-1991-03, fungsi kolom adalah sebagai
penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Beban sebuah
bangunan yang dimulai dari atap akan diterima oleh kolom. Seluruh
beban yang diterima oleh kolom kemudian didistribusikan ke
permukaan tanah di bawahnya.
Dengan begitu, kolom pada sebuah bangunan memiliki fungsi
yang sangat vital. Jika melihat penjelasan sebelumnya, dapat
disimpulkan bahwa kolom termasuk struktur utama bangunan untuk
meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup
(manusia dan barang-barang), maupun beban hembusan angin.
Keruntuhan dan kegagalan struktur pada kolom menjadi titik
kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya bangunan. Namun yang
32
perlu diingat juga, selain harus melalui proses perhitungan yang
tepat, kondisi tanah pun harus benar-benar mampu menerima beban
dari pondasi. Untuk itu, peran penyedia jasa desain struktur
bangunan profesional sangat dibutuhkan untuk memastikan
perencanaan dan pelaksanaan proyek bangunan dapat berjalan
memenuhi standar
3. Dasar – dasar perhitungan kolom
Menurut SNI 03-2847-2002 tentang Tata Cara Perhitungan
Struktur Beton untuk Bangunan Gedung, adapun dasar-dasar dalam
melakukan perhitungan kolom pada bangunan adalah sebagai
berikut:
1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial
terfaktor yang bekerja pada semua lantai atau atap dan
momen maksimum yang berasal dari beban terfaktor pada satu
bentang terdekat dari lantai atau atap yang ditinjau. Adapun
kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio maksimum
dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan
secara baik.
2. Pada sistem konstruksi rangka atau struktur menerus,
pengaruh dari adanya beban yang tak seimbang pada lantai
atau atap terhadap kolom luar ataupun dalam harus ikut
diperhitungkan. Demikian pula pengaruh beban eksentris
(ganjil atau tidak wajar) karena sebab lainnya juga harus
diperhitungkan.
3. Selanjutnya, dalam menghitung momen yang diakibatkan
beban gravitasi yang bekerja pada kolom, ujung-ujung terjauh
kolom dapat dianggap terjepit selama ujung-ujung tersebut
menyatu (monolit) terhadap komponen struktur lainnya.
4. Momen-monen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap
harus didistribusikan pada kolom di atas dan di bawah lantai
33
berdasarkan pada kekakuan relatif kolom dengan ikut
memperhatikan kondisi kekangan pada ujung kolom.
[Link] Tangga
1) Pengertian Tangga
Tangga adalah sebuah konstruksi yang dirancang untuk
menghubungi dua tingkat vertikal yang memiliki jarak satu sama
[Link] sarana vertikal antar lantai, tangga harus memberikan
rasa aman dan nyaman bagi pemakainya. Dalam merencanakan
tangga harus memenuhi persyaratan:
a. Anak Tangga
Istilah yang bisa dipakai dalam membuat tangga adalah ukuran
“tinggi” dan “lebar” anak [Link] dimaksud dengan lebar
anak tangga (Antrede) adalah ukuran area pada anak tangga
dimana kaki menjejak di [Link] tinggi anak tangga
(Optride) adalah perbedaan tinggi antara satu anak tangga
dengan anak tangga lainnya.
Untuk mencapai tingkat kenyamanan yang ideal, ukuran lebar
anak tangga(Antrede) antara 20 – 33 cm, sementara tinggi anak
tangga (Optride) antara 15 – 18 cm.
Agar tidak mengganggu kenyamanan, ada sebuah rumus yang
bisa menjadi patokan dalam menentukan tinggi (Optride) dan
lebar anak tangga (Antrede).Tinggi anak tangga (Optride)
dilambangkan dengan (a) dan lebar anak tangga (Antrede)
dilambangkan dengan (b).
Idealnya adalah 2a + b = 60 s/d 65 cm Jika 2a + b > 65 cm, maka
tangga tersebut akan sangat curam. Sementara itu, jika 2a + b <
60, maka tangga akan sangat landai. Memiliki tangga curam
34
memang menghemat tempat, karena anak tangganya tidak lebar.
Tetapi tangga seperti ini tidak nyaman dan lebih berbahaya buat
anak kecil atau orang lanjut usia.
Ukuran tinggi (Optride) dan lebar (Antrede) anak tangga
mempengaruhi kecuraman sebuah tangga. Semakin besar tinggi
(Optride) anak tangga, akan semakin curam tangga tersebut.
Sedangkan jika Anda ingin tangga yang landai, maka lebar
(Antrede) tangga harus besar.
35
Gambar 2.19 Denah tangga
Ketinggian setiap anak tangga (Optride) juga harus tepat sama
dari yang paling bawah sampai yang paling atas. Jika satu anak
tangga saja berbeda ukurannya, akan terasa canggung bagi yang
melewatinya karena seseorang biasanya selalu melangkah
dengan irama yang sama.
[Link] Atap
1) Pengertian Atap
Salah satu fungsi dari rumah adalah untuk melindungi
seseorang atau keluarga dari panasnya cahaya matahari dan air
[Link] bagian rumah sudah memiliki perannya masing-masing,
sehingga bisa menciptakan satu kesatuan. Atap merupakan bagian
atau komponen yang harus ada dalam membangun rumah karena
tanpa adanya atap, maka penghuni rumah akan terkena atau air
hujan.
Seiring dengan perkembangan zaman, maka tampilan eksterior
rumah sangat [Link] yang tampak keren dari luar
menandakan bahwa memiliki desain yang cukup [Link] membuat
desain atau tampilan pada eksterior rumah sebenarnya bisa melalui
mana saja, bahkan atap yang sejatinya berada di bagian paling atas
rumah ini ternyata bisa membuat rumah terlihat lebih minimalis dan
elegan.
Maka dari itu, kita tidak boleh salah memilih desain atap yang
tepat dengan dekorasi rumah, sehingga bangunan rumah bisa terlihat
indah dan menarik. Bukan hanya desain atap saja, tetapi bahan
pembuatan atap harus diperhatikan juga karena akan memengaruhi
keawetan dari atap rumah.
Saat ini, sudah banyak sekali model-model atap yang bisa
mempercantik rumah dan bahan-bahan pembuatan atap sangat
[Link] kamu tidak bingung untuk menentukan model atap
36
dan bahan atap yang cocok untuk bangunan rumah, maka kamu bisa
membaca artikel ini. Dalam pembahasan tentang atap rumah ini akan
dibahas mulai dari fungsi atap rumah hingga model-model atap
rumah yang menginspirasi.
37
bagian rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu penutup atap, rangka
atap, dan plafon (di dalam rumah). Penjelasan bagian bagian dari
atap adalah sebagai berikut :
1. Penutup Atap
2. Rangka Atap
3. Plafon
38
disebut dengan dak beton karena atap rumah terbuat dari
[Link] itu, pada beberapa rumah ada juga yang tidak
menggunakan plafon, sehingga bisa dibilang kalau plafon bukanlah
hal yang wajib pada bangunan rumah.
39
Gambar 2.20 Atap Genteng tanah liat
Apalagi harga dari genteng ini cukup murah, mudah dicari,
kokoh, terdiri dari berbagai macam model, dan pastinya tahan
[Link], kekurangan dari genteng ini, seperti harus
membutuhkan kerangka atap yang cukup banyak, mudah
berjamur, dan membutuhkan kemiringan yang cukup tinggi agar
tidak melorot.
40
Gambar 2.21 Atap Genteng kaca
Genteng kaca memiliki beberapa kelebihan, seperti ruangan
akan terhindar dari kelembapan karena cahaya matahari mudah
masuk dan mencegah jamur tumbuh pada suatu ruangan.
Beberapa kekurangan dari genteng kaca, yaitu mudah sekali
pecah, suhu ruangan bisa terasa panas, dan modelnya sangat
sedikit.
41
Gambar 2.22 Atap Genteng metal
Atap genteng metal memiliki beberapa kelebihan, seperti antu
lumut, lebih ringan, tidak muda terbakar, mudah dipasang, dan
tidak membutuhkan perawatan khusus. Sementara itu, harga dari
genteng metal cukup mahal dan ketika memasangnya harus teliti.
42
Gambar 2.23 Atap Genteng keramik
Kelebihan dari genteng ini, yaitu warna genteng tidak mudah
pudar, tahan terhadap api, banyak sekali pilihan warna, dan tidak
mudah lumutan. Kekurangan dari genteng keramik, seperti
pemasangan cukup rumit, harga yang cukup mahal, dan
kemiringan rumah minimal 30 derajat.
5. Atap Genteng Beton
Jika ingin menggunakan atap rumah minimalis, maka atap
genteng beton sangat pas. Pada dasarnya, atap genteng beton
hampir sama dengan atap tanah liat hanya saja pemilihan
warnanya lebih beragam dan bentuknya lebih bervariasi.
43
Kelebihan dari atap genteng ini, seperti lebih modern dan
menarik, bisa tahan terhadap berbagai macam cuaca, kuat dan
kokoh karena berasal dari bahan cor-coran. Kekurangan dari atap
genteng beton, seperti harga yang cukup lama, pemasangan
genteng membutuhkan waktu yang cukup lama, dan lebih berat.
6. Atap Beton Cor
Atap beton cor ini merupakan atap yang tidak ada penutupnya.
Dengan kata lain, atap beton cor memiliki struktur bangunan yang
rata, sehingga sering digunakan untuk menjemur pakaian. Selain
itu, atap beton cor biasanya juga digunakan untuk bangunan
bertingkat.
44
pembangunan rumah saja, tetapi juga dipakai untuk membangun
warung pinggir jalan dan garasi rumah.
45
Gambar 2.27 Atap Genteng asbes
Adapun beberapa kelebihan dari atap asbes, seperti ringan dan
tahan lama dan harga yang cukup [Link] dari atap
asbes ini mudah sekali pecah, sehingga pemasangan harus penuh
dengan kehati-hatian, serta memiliki kandungan karbon yang bisa
membuat kesehatan pernapasan terganggu.
46
Gambar 2.28 Atap model datar
47
3. Atap rumah dengan model mansard
Pada atap rumah model mansard terdapat 4 sisi yang di mana
setiap sisinya memiliki kemiringan yang cukup curam. Selain itu,
pada bangunan rumah ini, akan terlihat banyak sekali jendela
apabila kita melihatnya dari depan. Pada bagian atapnya,
umumnya digunakan untuk menyimpan barang atau dijadikan
gudang
48
Gambar 2.31 Atap model kubah
49
saling bertemu dengan garis [Link] itu, dua bidang
lainnya yang ada di atap limas berbentuk trapesium. Kedua
bentuk trapesium itu akan bertemu dengan sebuah bubungan
atas. Ketika kamu membangun rumah dengan atap model ini,
maka rumah akan terlihat lebih modern.
50
Gambar 2.34 Atap model trapesium
51
9. Atap rumah model pelana
Jika kita memiliki luas rumah yang cukup besar, maka atap
dengan model pelana sangat pas karena atap model ini memiliki
kemiringan kurang lebih 30 derajat yang membuat bangunan
rumah tampak [Link] itu, pada bagian dindingnya supaya
dapat menunjang penutup atap, maka dibuat dengan bentuk
segitiga dan terletak pada dua sisi bangunan. Melihat bentuknya
saja, kita akan bilang mirip dengan pelana kuda.
2.3 Pembebanan
Standar umur rencana dari suatu bangunan yang di tetapkan di
Negara Indonesia pada umumnya adalah 50 ( lima puluh ) tahun.
Oleh karena itu, pada rentang waktu 50 tahun inilah struktur
bangunan dapat menerima berbagai macam kondisi yang mungkin
terjadi, salah satu kondisi yang paling berpengaruh adalah
pembebanan. Maka menjadi sangat penting dalam proses
perencanaan, perhitungan pembebanan harus betul betul baik dan
presisi. Karena, apabila perencana salah menghitung beban maka
akibatnya akan fatal, yaitu kegagalan struktur. Oleh karena itu,
52
sebelum melakukan analisis dan desain struktur perlu adanya
gambaran yang jelas mengenai perilaku dan besar beban yang
nantinya akan bekerja pada struktur tersebut.
Menurut SNI-1727-2013, beban minimum untuk perancangan
bangunan gedung dan struktur lain, struktur komponen dan pondasi
harus dirancang sedemikian rupa sehingga kekuatan desainnya sama
atau melebihi efek dari beban terfaktor dalam kombinasi berikut :
1. 1,4 D
2. 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( Lr atau S atau R )
3. 1,2 D + 1,0 W + L +0,5 ( Lr atau S atau R )
4. 0,9 D + 1,0 E
53
toserba, restoran, hotel, asrama dan rumah
sakit.
54
Sumber : SNI 03-1727-1989
55
Pasangan batu belah, batu bulat, 2200 Kg/m³
batu gunung
56
mineral tambahan, per cm tebal
Berlubang Kg/m²
57
Penggantung langit-langit (dari 7 Kg/m²
kayu), dengan bentang maksimum
58
a. Di pihak angina, ka = < 65º
= 0,02x – 0,4
= 0,02x+0,9
59
Gambar 2.37 Wilayah Gempa Indonesia dengan percepatan
puncak batuan dasar dengan periode ulang 500 tahun
( Sumber : Gambar 1 SNI-1726-2002)
b. Perhitungan waktu getar alami fundamental
Waktu getar alami fundamental (Periode struktur ) bisa dihitung
dengan metode approksimasi ( pendekatan ) atau metode
sederhana dengan catatan bahwa pendekatan metode
sederhana digunakan untuk struktur dengan ketinggian tidak
melebihi 12 tingkat dan tinggi tingkat paling sedikit 3 m.
c. Perhitungan waktu getar alami fundamental Maksimum
Nilai waktu getar alami fundamentak T dari struktur gedung
harus dibatasi dengan T < N. Dengan n adalah jumlah tingkat
dan koefisien ς ditetapkan menurut tabel koefisien yang
membatasi waktu getar alami fundamental.
Tabel 2.4 Koefisien waktu getar alami fundamental.
Wilayah Gempa ς
1 0,20
2 0,19
3 0,18
60
4 0,17
5 0,16
6 0,15
Sumber : Tabel 8 SNI-1726-2002
d. Menentukan Spektrum Respons Gempa Rencana
Mengingat pada kisaran waktu getar alami pendek 0 < T < 0,2
detik terdapat ketidakpastian, baik dalam karakteristik gerakan
tanah maupun dalam tingkat daktalitas strukturnya, factor
respon gempa C nilainya tidak diambil kurang dari nilai
maksimumnya untuk jenis tanah yang bersangkutan. Nilai nilai
Am dan Ar diambi dari dalam tabel berikut ini :
Tabel 2.5 Spektrum respons gempa rencana
61
Gambar 2.36 : Respon Spektrum Gempa
( Sumber : Gambar 2 Respon spectrum Gempa SNI-1726-2002 )
f. Menentukan factor keamanan struktur
Untuk berbagai kategori gedung, bergantung pada probabilitas
terjadinya keruntuhan struktur gedung selama umur gedung dan
umur gedung tersebut yang diharapka pengaruh gempa encana
terhadapnya harus dikalikan dengan suatu factor keutamaan I
menurut persamaam : I = I1.I2
Tabel 2.6 Faktor Keutamaan I untuk berbagai kategori gedung
I1 I2 I
Gedung umum seperti untuk 1,0 1,0 1,0
penghunian, perniagaan dan
perkantoran
Monumen dan bangunan 1,0 1,0 1,6
monumental
62
Gedung penting pasca gempa 1,4 1,0 1,4
seperti rumah sakit, instalasi air
bersih, pembangkit tenaga
listrik,pusatpenyelamatandalam
keadaan darurat, fasilitas radio dan
televisi.
Gedung untuk menyimpan bahan 1,6 1,0 1,6
berbahaya seperti gas, produk
minyak bumi, asam, bahan
beracun.
Cerobong, tangki di atas menara 1,5 1,0 1,5
Taraf kinerja μ R
Struktur gedung pers.( 6)
struktur
Elastik penuh 1,0 1,6
Daktail parsial 1,5 2,4
2,0 3,2
2,5 4,0
3,0 4,8
3,5 5,6
4,0 6,4
Daktail penuh 5,3 8,5
Sumber : Tabel 6 SNI-1726-2002
63
Tabel 2.8 Faktor reduksi gempa maksimum untuk
beberapa jenis system dan subsistem struktur gedung.
64
[Link] geser beton 4,0 6,5 2,8
bertulang berangkai
daktail
[Link] geser beton 3,6 6,0 2,8
bertulang kantilever
daktailpenuh
[Link] geser beton 3,3 5,5 2,8
bertulang kantilever
daktailparsial
3. Sistem rangka [Link] pemikul
pemikul momen momen khusus
(Sistem struktur yang (SRPMK)
[Link] 5,2 8,5 2,8
pada dasarnya memiliki [Link] bertulang 5,2 8,5 2,8
rangka ruang pemikul [Link] pemikul 3,3 5,5 2,8
beban gravitasi secara momen menengah
lengkap. [Link]
beton (SRPMM)pemikul
Beban lateral dipikul momen biasa
rangka pemikul momen (SRPMB)
[Link] 2,7 4,5 2,8
terutama melalui [Link] bertulang 2,1 3,5 2,8
mekanisme lentur) 3. Rangka batang 4,0 6,5 2,8
baja pemikul
momen khusus
4. Sistem ganda 1. Dinding geser
(Terdiri dari: 1) rangka
a. Beton bertulang 5,2 8,5 2,8
ruang yang memikul
dengan SRPMK beton
seluruh beban gravitasi;
bertulang
2) pemikul beban lateral
berupa dinding geser b. Beton bertulang 2,6 4,2 2,8
65
dengan rangka pemikul c. Beton bertulang 4,0 6,5 2,8
momen. Rangka dengan SRPMM beton
pemikul momen harus [Link]
RBE baja
direncanakan secara a. Dengan 5,2 8,5 2,8
terpisah SRPMK
b. baja
Dengan 2,6 4,2 2,8
mampu memikul SRPMB bajabresing
2. Rangka
sekurang- kurangnya biasa
a. Baja dengan 4,0 6,5 2,8
25% dari seluruh beban SRPMK baja
lateral; 3) kedua sistem b. Baja dengan 2,6 4,2 2,8
harus direncanakan SRPMB baja
untuk memikul secara [Link] bertulang 4,0 6,5 2,8
66
keseluruhan) 4. Dinding geser 4,0 6,5 2,8
beton bertulang
berangkai
daktailpenuh.
h. Perhitungan Gaya Geser Dasar Nominal ( V ).
1. Dalam arah sumbu y
Cy . I
Vy = . Wty …………………………………………………........2.126
Rm
67
√∑
n
wi . di ²
i =0
T =6 , 3 x n
∑ Fi . di
i=0
2.130Dengan,
Wi = berat bangunan lantai ke I (kN)
Fi = beban gempa pada struktur bangunan lantai ke I ( kN )
di = simpangan horizontal akibat gempa pada lantai ke
(mm)i
g = percepatan gravitasi ( mm/det² )
= 9810 mm/det²
Pada Tugas Akhir ( Perencanaan Kantor Bersama Mall Pelayanan
Publik Kabupaten Banjarnegara ) ini menggunakan analisis
respon spectrum karena pada permodelan struktur
menggunakan program SAP 2000 dengan model 3 dimensi.
68
Jenis Pemanfaatan Kategori
Resiko
69
Stadion
Fasilitas kesehatan yang tidak memiliki unit
bedah dan unit gawat darurat
Fasilitas penitipan anak III
Penjara
Bangunan untuk orang jompo
70
dibatasi untuk :
Bangunan bangunan monumental
Gedung sekolah dan fasilitas pendidikan
Rumah sakit dan fasilias kesehatan lainnya
yang memiliki fasilitas bedah unit gawat
darurat.
Fasilitas pemadak kebakaran, ambulance, dan
kantor polisi serta garasi kendaraan darurat.
Tempat perlindungan terhadap gempa bumi,
angina badai, dan tempat perlindungan
darurat lainnya.
Fasilitas kesiapan darurat, Komunikasi, pusat
operasi dan fasilitas lainnya untuk tanggap
darurat.
Pusat pembangkit energy dan fasilitas public
lainnya yang dibutuhkan pada saat keadaan
darurat.
Struktur tambahan ( termasuk menara
telekomunikasi, tangki penyimpanan bahan
bakar, menara pendingin, struktur stasiun
listrik, tangki air pemadam kebakaran atau
struktur rumah atau struktur pendukung air
atau material atau peralatan pemadam
kebakaran ) yang disyaratkan untuk
beroperasi pada saat keadaan darurat.
Gedung dan non gedung yang dibutuhkan untuk
mempertahankan fungsi struktur bangunan lain
yang masuk kedalam kategori resiko IV.
71
5. Menentukan factor keutamaan gempa berdasarkan kategori resiko
gempa berdasarkan tabel 2 sesuai SNI 1726 – 2012 :
Tabel 2.10 Faktor keutamaan gempa
I atau II 1,0
III 1,25
IV 1,50
72
yang pada dasarnya a. Baja 8
memiliki rangka ruang b. Beton bertulang 8
pemikul beban gravitasi 2. Rangka beton pemikul
secara lengkap ). Beban momen menengah
lateral dipikul rangka ( SRPMM ) 5,5
pemikul momen terutama 3. Rangka pemikul momen
melalui mekanisme lentur. biasa ( SRPMB ).
a. Baja 3,5
b. Beton bertulang 3
4. Rangka batang baja
pemikul momen khusus
( SRBPMK ) 7
73
harga upah tenaga kerja. Tujuan dari pembuatan RAB itu sendiri
adalah untuk memberikan gambaran yang pasti tentang
besarnya biaya. Sedangkan menurut para ahli mendefinisikan
secara detail, seperti :
2.3.8 Kurva S
2.3.9
74
75