0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan6 halaman

Epidemiologi Penyakit Vektor di Indonesia

Dokumen ini membahas epidemiologi penyakit yang ditularkan oleh vektor dan binatang pembawa, termasuk DBD, malaria, chikungunya, dan rabies, serta dampaknya di Indonesia dan Sulawesi Selatan. Penyakit ini memiliki faktor risiko yang dipengaruhi oleh lingkungan dan sosial ekonomi, serta tantangan dalam pengendaliannya seperti perubahan iklim dan resistensi insektisida. Pencegahan dan pengendalian memerlukan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk mengurangi dampak kesehatan masyarakat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan6 halaman

Epidemiologi Penyakit Vektor di Indonesia

Dokumen ini membahas epidemiologi penyakit yang ditularkan oleh vektor dan binatang pembawa, termasuk DBD, malaria, chikungunya, dan rabies, serta dampaknya di Indonesia dan Sulawesi Selatan. Penyakit ini memiliki faktor risiko yang dipengaruhi oleh lingkungan dan sosial ekonomi, serta tantangan dalam pengendaliannya seperti perubahan iklim dan resistensi insektisida. Pencegahan dan pengendalian memerlukan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk mengurangi dampak kesehatan masyarakat.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Mata Kuliah : Pengendalian Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit

Dosen : Rostina, [Link]., [Link]

ULANGAN AKHIR SEMESTER


RANGKUMAN EPIDEMIOLOGI VEKTOR DAN BINATANG
PEMBAWA PENYAKIT" YANG DISAMPAIKAN OLEH
PROF. DR. RIDWAN AMIRUDDIN

DISUSUN OLEH :
NAURAH RAYYANI SADLY
PO714221231023
D-IV/ TK 2.A

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
PRODI SARJANA TERAPAN
SANITASI LINGKUNGAN
TAHUN 2024
A. Epidemiologi Penyakit Terkait Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
Penyakit yang ditularkan oleh vektor, seperti Demam Berdarah Dengue
(DBD), malaria, dan chikungunya, memiliki dampak signifikan terhadap
kesehatan masyarakat di seluruh dunia, terutama di negara tropis seperti
Indonesia.
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Global: DBD endemik di lebih dari 100 negara dengan 50–100 juta
infeksi setiap tahun. Faktor-faktor yang berkontribusi termasuk
urbanisasi, perubahan iklim, dan mobilitas manusia.
b. Indonesia: DBD menjadi masalah kesehatan utama dengan 52,12 kasus
per 100.000 penduduk pada 2022, dengan Provinsi Bali mencatat angka
kesakitan tertinggi.
2. Malaria
a. Global: Pada 2021, terdapat 247 juta kasus malaria dan 619.000
kematian. Anak-anak di bawah 5 tahun adalah kelompok yang paling
rentan.
b. Indonesia: 72,4% kabupaten/kota bebas malaria pada 2022, tetapi
daerah endemis tinggi di Indonesia bagian timur menyumbang lebih dari
90% kasus nasional.
3. Chikungunya
a. Global: Penyakit ini menyebar ke berbagai benua, dengan wabah besar
di India pada 2006 dan virusnya diperkenalkan ke Amerika pada 2013.
b. Indonesia: Banyak infeksi chikungunya sering tidak terdiagnosis, dan
ada kebutuhan untuk meningkatkan akses tes diagnostik dan pelatihan
klinis.
B. Tren Epidemiologi DBD, Malaria, Chikungunya, dan Rabies di Sulawesi
Selatan
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Tren Kasus: Pada April 2024, Sulawesi Selatan melaporkan 28 kasus
DBD.
b. Upaya Pengendalian: Program 3M (Menguras, Menutup, Mengubur),
fogging, dan edukasi masyarakat.
2. Malaria
a. Tren Kasus: Data spesifik di Sulawesi Selatan belum tersedia, tetapi
secara nasional, Indonesia melaporkan 119.709 kasus malaria hingga
Mei 2024.
b. Upaya Pengendalian: Distribusi kelambu berinsektisida, penyemprotan
insektisida, dan pengobatan dini.
3. Chikungunya
a. Tren Kasus: Data spesifik belum tersedia, tetapi secara nasional, tetap
menjadi perhatian di daerah dengan populasi nyamuk Aedes aegypti
tinggi.
b. Upaya Pengendalian: Surveilans aktif dan edukasi masyarakat.
4. Rabies
a. Tren Kasus: Pada April 2024, Sulawesi Selatan melaporkan 28 kasus
rabies.
b. Upaya Pengendalian: Vaksinasi massal hewan penular rabies, edukasi
tentang penanganan gigitan hewan.
C. Gejala, Tanda, dan Anamnesis
1. Demam Berdarah Dengue (DBD)
a. Gejala: Demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot, ruam, mual.
b. Tanda: Tes tourniquet positif, petekie, trombosit rendah.
2. Malaria
a. Gejala: Demam siklik, menggigil, nyeri otot, mual.
b. Tanda: Splenomegali, anemia, tanda neurologis.
3. Chikungunya
a. Gejala: Demam tinggi mendadak, nyeri sendi berat, ruam kulit.
b. Tanda: Pembengkakan sendi, konjungtivitis ringan.
D. Konsep Dasar Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
1. Definisi Vektor
Vektor adalah organisme yang mentransmisikan patogen, contohnya
nyamuk (malaria, DBD, chikungunya), lalat, dan kutu. Penularan dapat
bersifat biologis atau mekanis.
2. Definisi Binatang Pembawa Penyakit
Binatang pembawa adalah hewan yang menjadi reservoir patogen,
seperti tikus (leptospirosis), anjing (rabies), dan kelelawar. Penularan terjadi
melalui kontak langsung atau gigitan.
E. Epidemiologi Penyakit Terkait Vektor
1. Distribusi dan Tren
Penyakit terkait vektor lebih umum di wilayah tropis dan subtropis.
Faktor lingkungan, iklim, dan sosial ekonomi berperan besar dalam
penyebaran penyakit ini.
2. Penyakit Utama
a. Malaria: Terutama di Afrika Sub-Sahara dan Asia Tenggara.
b. DBD: Insidensi meningkat selama musim hujan; gejala utama adalah
demam tinggi dan nyeri sendi.
F. Epidemiologi Penyakit Terkait Binatang Pembawa Penyakit
1. Distribusi dan Tren
Penyakit zoonotik sering terjadi di wilayah tropis dan subtropis.
Deforestasi, urbanisasi, dan perdagangan hewan berkontribusi pada
penyebaran penyakit ini.
2. Penyakit Utama
a. Rabies: Kematian global mencapai 59.000 per tahun, dengan prevalensi
tinggi di Afrika dan Asia.
b. Leptospirosis: Terjadi setelah banjir dan berisiko tinggi di kalangan
petani.
c. Hantavirus: Menyebabkan sindrom pernapasan berat dan memiliki
tingkat kematian yang signifikan.
G. Faktor Risiko Penyakit Terkait Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit
1. Faktor Ekologis
a. Deforestasi dan urbanisasi menciptakan habitat bagi vektor penyakit.
b. Perubahan iklim memperluas distribusi vektor ke wilayah baru.
2. Faktor Sosial Ekonomi
a. Kemiskinan dan sanitasi buruk meningkatkan risiko infeksi.
b. Perilaku manusia, seperti penyimpanan air terbuka, juga berkontribusi.
H. Tantangan dalam Pengendalian Penyakit
1. Perubahan Iklim
Mempengaruhi distribusi geografis vektor dan meningkatkan habitat
mereka.
2. Resistensi Insektisida
Penggunaan insektisida yang berlebihan menyebabkan resistensi,
mengurangi efektivitas pengendalian penyakit.
3. Urbanisasi Tak Terkendali
Lingkungan kumuh meningkatkan risiko penyakit seperti DBD.
4. Mobilitas Penduduk dan Globalisasi
Mobilitas tinggi mempercepat penyebaran penyakit ke wilayah baru.
I. Pencegahan dan Pengendalian
1. Strategi Pengendalian Vektor
a. Mengelola lingkungan dengan 3M (Menguras, Menutup, Mendaur
ulang).
b. Penggunaan insektisida dan perangkap.
2. Pencegahan Penyakit dari Binatang
Vaksinasi dan edukasi masyarakat mengenai penanganan binatang
pembawa penyakit.
J. Kesimpulan
Penyakit terkait vektor dan binatang pembawa adalah ancaman serius
yang memerlukan pemahaman mendalam tentang epidemiologi untuk
pencegahan dan pengendalian. Pendekatan multidimensi yang melibatkan
kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sangat penting untuk
mengatasi tantangan yang ada dan mengurangi dampak penyakit ini terhadap
kesehatan masyarakat.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai