BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. HASIL BELAJAR
1. PENGERTIAN BELAJAR
Oemar Hamalik (2001: 27) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Suparwoto (2004: 41) bahwa
belajar pada intinya adalah proses internalisasi dalam diri individu yang belajar
dapat dikenali produk belajarnya yaitu berupa perubahan, baik penguasaan
materi, tingkah laku, maupun keterampilan.
Menurut Winkel belajar adalah semua aktivitas mental atau psikis yang
berlangsung dalam interaksi aktif dalam lingkungan, yang menghasilkan
perubahanperubahan dalam pengelolaan pemahaman. Menurut Ernest R. Hilgard
belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, yang
kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya berbeda dari perubahan
yang ditimbulkan oleh lainnya. Sifat perubahannya relatif permanen, tidak akan
kembali kepada keadaan semula. Tidak bisa diterapkan pada perubahan akibat
situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan, sakit, mabuk, dan sebagainya
(Purwanto, 2008: 51).
Sedangkan pengertian belajar menurut Gagne (Mulyani Sumantri & Johar
Permana, 1999: 16) belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan
dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu
berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu.
Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan
perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa di dalam belajar ada
suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang berupa pengetahuan,
pemahaman, maupun sikap yang diperoleh melalui proses belajar. Perubahan
tingkah laku yang diperoleh merupakan hasil interaksi dengan lingkungan.
Interaksi tersebut salah satunya adalah proses pembelajaran yang diperoleh di
sekolah. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dengan belajar seseorang dapat
memperoleh sesuatu yang baru baik itu pengetahuan, keterampilan maupun sikap.
2. HASIL BELAJAR
Menurut Nana Sudjana (2005: 20) hakikat hasil belajar adalah perubahan
tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor
dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor
lingkungan. Faktor yang datang dari diri siswa terutama kemampuan yang
dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil
belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa, juga ada
faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan
belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendiikan, baik tujuan
kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan hasil belajar dari Bloom
(Purwanto, 2008: 50) yang secara garis besar membaginya dalam tiga ranah yaitu
ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam kawasan
kognisi. Proses belajar yang melibatkan kawasan kognisimeliputi kegiatan sejak
dari penerimaan stimulus, penyimpanan dan pengolahan dalam otak menjadi
informasi hingga pemanggilan kembali informasi ketika diperlukan untuk
menyelesaikan masalah. Menurut Bloom secara hirarki tingkat hasil belajar
kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana yaitu hafalan sampai yang
paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Enam tingkatan itu adalah
pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5)
dan evaluasi (C6).
1) Pengetahuan (knowledge) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat
kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus- rumus dan lain sebagainya,
tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.
2) Pemahaman (comprehension) yakni kemampuan seseorang untuk memahami
sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat melalui penjelasan dari kata-
katanya sendiri.
3) Penerapan (application) yaitu kesanggupan seseorang untuk menggunakan
ide- ide umum, tata cara atau metode- metode, prinsip-prinsip, rumus- rumus,
teori- teori, dan lain sebagainya dalam situasi yang baru dan kongkret.
4) Analisis (analysis) yakni kemampuan seseorang untuk menguraikan suatu
bahan atau keadaan menurut bagian- bagian yang lebih kecil dan mampu
memahami hubungan diantara bagian- bagian tersebut.
5) Sintesis (synthesis) adalah kemampuan berfikir memadukan bagianbagian
atau unsur- unsur secara logis, sehingga menjadi suatu pola yang baru dan
terstruktur.
6) Evaluasi (evaluation) yang merupakan jenjang berfikir paling tinggi dalam
ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom. Penelitian disini adalah
kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi,
nilai atau ide, atas beberapa pilihan kemudian menentukan pilihan nilai atau
ide yang tepat sesuai kriteria yang ada.
b. Ranah Afektif
Kratwohl (Purwanto, 2008: 51) membagi belajar afektif menjadi lima tingkat,
yaitu penerimaan (merespon rangsangan), partisipasi, penilaian (menentukan
pilihan sebuah nilai dari rangsangan), organisasi (menghubungkan nilai – nilai
yang dipelajari), dan internalisasi (menjadikan nilai – nilai sebagai pedoman
hidup). Hasil belajar disusun secara hirarkis mulai dari tingkat yang paling rendah
hingga yang paling tinggi. Jadi ranah 15 afektif adalah yang berhubungan dengan
nilai – nilai yang kemudian dihubungkan dengan sikap dan perilaku.
c. Ranah Psikomotorik
Beberapa ahli mengklasifikasikan dan menyusun hirarki dari hasi belajar
psikomotorik. Hasil belajar disusun berdasarkan urutan mulai dari yang paling
rendah dan sederhana sampai yang paling tinggi hanya dapat dicapai apabila
siswa telah menguasai hasil belajar yang lebih rendah. Simpson (Purwanto, 2008:
51) mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam yaitu,persepsi
(membedakan gejala), kesiapan (menempatkan diri untuk memulai suatu
gerakan), gerakan terbimbing (meniru model yang dicontohkan), gerakan terbiasa
(melakukan gerakan tanpa model hingga mencpai kebiasaan), gerakan kompleks
(melakukan serang serangkaian gerakan secara berurutan), dan kreativitas
(menciptakan gerakan dan kombinasi gerakan baru yang orisinil atau asli).
3. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HASIL BELAJAR
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa factor
yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar. M. Dalyono (2009: 55)
mengemukakan faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kesehatan, intelegensi dan
bakat, minat dan motivasi, dan cara belajar. Sedangkan factor eksternal meliputi
keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan sekitar.
a. Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi:
1) Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap
kemampuan belajar. Bila seseorang tidak sehat dapat mengakibatkan tidak
bergairah untuk belajar. Demikian pula jika kesehatan rohani kurang baik dapat
menganggu atau mengurangi semangat belajar. Dengan semangat belajar yang
rendah tentu akan menyebabkan hasil belajar yang rendah pula.
2) Intelegensi dan Bakat
Kedua aspek kejiwaan ini besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan
belajar. Seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya
mudah belajar dan hasilnya cenderung baik. Sebaliknya orang yang
intelegensinya rendah, cenderung mengalami kesulitan dalam belajar, lambat
berpikir, sehingga hasil belajarnya pun rendah. Orang yang memiliki bakat akan
lebih mudah dan cepat pandai bila dibandingkan dengan orang yang tidak
memiliki bakat. Bila seseorang mempunyai intelegensi tinggi dan bakat dalam
bidang yang dipelajari, maka proses belajarnya akan lancar dan sukses.
3) Minat dan Motivasi
Minat dan motivasi adalah dua aspek psikis yang besar pengaruhnya terhadap
pencapaian hasil belajar. Minat belajar ynag besar cenderung memperoleh hasil
belajar yang tinggi, sebaliknya minat belajar kurang akan memperoleh hasil
belajar yang rendah. Seseorang yang belajar dengan motivasi yang kuat, akan
melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh – sungguh, penuh
gairah atau semangat. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut
mempengaruhi hasil belajar. Minat dan motivasi belajar ini dapat juga
dipengaruhi oleh cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Guru
yang menyampaikan materi dengan metode dan cara yang inovatif akan
mempengaruhi juga minat dan motivasi siswanya.
4) Cara belajar
Cara belajar seseorang juga mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Belajar
tanpa memperhatikan teknik dan faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu kesehatan
akan memperoleh hasil yang kurang memuaskan. Cara belajar antar anak berbeda
– beda. Ada anak yang dapat dengan cepat menyerap materi pelajaran dengan
cara visual atau melihat langsung, audio atau dengan cara mendengarkan dari
orang lain dan ada pula anak yang memiliki cara belajar kinestetik yaitu dengan
gerak motoriknya misalnya dengan cara berjalan – jalan dan mengalami langsung
aktivitas belajarnya.
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri, meliputi:
1) Keluarga
Keluarga sangatlah besar pengaruhnya terhadap keberhasilan siswa dalam
belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan,
cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orang tua, kerukunan antar anggota
keluarga, hubungan antara anak dengan anggota keluarga yang lain, situasi dan
kondisi rumah juga mempengaruhi hasil belajar.
2) Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar mempengaruhi keberhasilan belajar. Kualitas
guru, metode mengajar, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan siswa,
keadaan fasilitas di sekolah,keadaan ruangan, jumlah siswa perkelas, pelaksanaan
tata tertib sekolah, dan sebagainya, semua mempengaruhi hasil belajar siswa.
Metode pengajaran guru yang inovatif dapat pula mempengaruhi hasil belajar
siswa. Metode mengajar dengan model koopertif misalnya, dengan siswa belajar
secara kelompok dapat merangsang siswa untuk mengadakan interaksi dengan
temannya yang lain. Teknik belajar dengan teman sebaya pun dapat mengaktifkan
keterampilan proses yang dimiliki oleh anak.
3) Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan hasil belajar siswa. Bila di sekitar
tempat tinggal siswa keadaan masyarakatnya terdiri dari orang – orang yang
berpendidikan, akan mendorong siswa lebih giat lagi dalam belajar. Tetapi jika di
sekitar tempat tinggal siswa banyak anak – anak yang nakal, pengangguran, tidak
bersekolah maka akan mengurangi semangat belajar sehingga motivasi dan hasil
belajar berkurang.
4) Lingkungan Sekitar
Keadaan lingkungan tempat tinggal, juga sangat mempengaruhi hasil belajar.
Bila rumah berada pada daerah padat penduduk dan keadaan lalu lintas yang
membisingkan, banyak suara orang yang hiruk pikuk, suara mesin dari pabrik,
polusi udara, iklim yang terlalu panas, akan mempengaruhi gairah siswa dalam
belajar. Tempat yang sepi dan beriklim sejuk akan menunjang proses belajar
siswa.
B. PEMBELAJARAN IPA
1. PENGERTIAN IPA
Trianto (2015:136) “Mengatakan bahwa IPA adalah suatu kumpulan
pengetahuan tersusun secara sistematik, dan dalam penggunaannya secara umum
terbatas pada gejala-gejala alam. Ahmad Susanto (2013:165) “IPA adalah usaha
manusia dalam memahami alam semesta melalui pengamatan yang tepat pada
sasaran, serta menggunakan prosedur, dan dijelaskan dengan penalaran sehingga
mendapatkan suatu kesimpulan. Jacobson & Begman dalam Ahmad Susanto
(2013:170) “IPA merupakan kumpulan konsep, prinsip, hukum, dan teori.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu
mempelajari tentang alam semesta yang sering disebut juga dengan istilah
pendidikan sains, disingkat menjadi IPA.
2. PENGERTIAN DAN TUJUAN PEMBELAJARAN IPA
Mulyasa (2010:111) “Pembelajaran IPA adalah menekankan pada pemberian
pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah. Jacobson & Bergman dalam Ahmad
Susanto (2013:170) “Pembelajaran IPA adalah pembelajaran berdasarkan pada
prinsip-prinsip, proses yang mana dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa
terhadap konsep-konsep IPA. Ahmad Susanto (2013:167) “Pembelajaran IPA
adalah ilmu pengetahuan alam yang dalam bahasa Indonesia disebut ilmu
pengetahuan alam, dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian yaitu : ilmu
pengetahuan alam sebagai produk, proses, dan sikap.
Tujuan Pembelajaran IPA Ahmad Susanto (2013:171) Tujuan pembelajaran
sains di sekolah dasar dalam Bandar Standar Nasional Pendidikan (BNSP, 2006).
dimaksudkan untuk:
a. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa
berdasarkan keberadaan, keindahan, dan keteraturan alam ciptaan Tuhan.
b. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaraan tentang adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat.
d. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar,
memecahkan masalah, dan membuat keputusan.
e. Meningkatkan kesadaraan untuk berperan serta dalam memilihara, dan segala
melestarikan lingkungan alam.
f. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya
sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
g. Memperoleh bekal pengetahuan, konsep, dan keterampilan, IPA sebagai
dasar untuk melanjutkan Pendidikan ke SMP.
3. PEMBELAJARAN IPA MATERI SUMBER ENERGI ALTERNATIF
a. Pengertian Sumber Energi Alternatif
Energi merupakan sesuatu yang bersifat abstrak dan susah dibuktikan, akan
tetapi dapat dirasakan keberadaannya. Energi dibagi menjadi dua, energi
terbarukan dan energi tak terbarukan. Energi terbarukan bisa disebut dengan
energi alternatif. Energi alternatif merupakan istilah yang merujuk pada semua
energi yang bertujuan untuk menggantikan bahan bakar konvesional. Umumnya,
istilah ini digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar hidrokarbon
yang mengakibatkan kerusakan lingkungan akibat emisi karbon dioksida yang
tinggi, yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Ada banyak
mancam-macam energi alternatif yang sat ini terus dikembangkan. Selain dapat
mengurangi penggunaan energi konvesional dan dampak kerusakan lingkungan,
ternyata energi alternatif mempunyai berbagai manfaat lain yang dapat berguna
untuk kehidupan manusia. Energi tak terbarukan meliputi, minyak Bumi dan gas
bumi sedangkan energi Terbarukan (Alternatif) meliputi, energi biomassa, energi
matahari, energi air, energi panas bumi, dan energi terbarukan (Energi Alternatif).
b. Berbagai Sumber Energi Alternatif
1) Matahari
Matahari adalah sumber dari segala sumber energi. Namun beberapa tahun
ini, manusia telah memanfaatkan energi matahari untuk menghasilkan energi
listrik. Energi listrik yang dihasilkan dari energi matahari dikenal sebagai listrik
tenaga surya. Energi matahari termasuk daftar macam-macam energi altenatif
yang bisa digunakan sebagai pengganti energi fosil. Sinar dan panas yang
dipancarkan oleh matahari bisa dimanfaatkan sebagai sumber tenaga listrik.
Untuk menghasilkan energi ini, dibutuhkan panel unsur semikonduktor yang
dapat menyimpan panas atau sering disebut dengan panel surya. Walau energi
matahari akan terus ada dan terbarukan, faktor cuaca dapat menghambat proses
produksi energi alternatif jenis ini.
2) Angin
Angin adalah udara yang bergerak. Sumber energi angin memiliki jumlah
yang tidak terbatas. Angin memiliki energi yang mampu menggerakan benda.
Semakin kencang angin, semakin besar pula kecepatan benda yang bergerak.
Macam-macam energi alternatif selanjutnya juga bisa didapat dari kekuatan
angin. Sumber energi ini tidak lain dihasilkan dari embusan angin yang diolah
dan dikumpulkan menjadi suatu energi yang besar. Jenis energi tersebut biasanya
dihasilkan dengan menggunakan kincir angin. Cara kerja kincir angin ini memang
sering kali terlihat Gerakan lambat. Kendati demikian, kincir angin ini mampu
menghasilkan energi yang sangat besar. Energi angin tersebut bisa digunakan
sebagai energi listrik setelah disambungkan dengan generator. Energi dengan
kekuatan angin tersebut lebih ramah lingkungan dibandingkan energi alternatif
lain karena sama sekali tidak menimbukan limbah.
3) Air
Air yang mengalir memiliki energi gerak. Semakin cepat aliran air, semakin
besar pula energi gerak yang dihasilkan. Energi gerak dari aliran air dapat
menghasilkan energi listrik, yang disebut energi hidroelektrik. Energi air aiatu
disebut dengan hydropower, merupakan sumber energi yang dihasilkan dari
kekuatan air. Untuk menghasilkan energi ini biasanya dilakukan dengan membuat
bendungan untuk menampung air. Air dalam bendungan tersebut kemudian
digabungkan dengan pipa air yang diarahkan menuju turbin. Makin banyak air
yang mengalir pada turbin, energi yang dihasilkan akan makin besar. Jadi, energi
jenis tersebut sangat bergantung pada pasokan air yang ada.
4) Energi Panas Bumi
Seperti halnya dengan energi matahari, energi panas bumi memanfaatkan
daya panas dari dalam bumi. Kondisi Indonesia yang memiliki banyak gunung
dan pengunungan menjadi keuntungan tersendiri. Aktivitas vulkanik yang terjadi
pada gunung Indonesia sangat bermanfaat dalam pengolahan energi panas bumi.
5) Energi Biomassa
Biomassa adalah sumber energi yang berasal dari makhluk hidup, contohnya
seperti sisa atau pembuangan kotoran manusia dan hewan. Hasil pengolahannya
yang berupa gas disebut sebagai biogas. Pengembangan energi biomassa tersebut
diharapkan bisa menekan penggunaan bahan bakar fosil untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga dan listrik yang masih dominan. Keunggulan biomassa
adalah merupakan sumber energi yang dapat dibaharui dan dapat menyediakan
energi yang terus berkesinambungan.
c. Pemanfaatan Energi Alternatif
Pemanfaatan energi alternatif antara lain sebagai berikut:
1) Matahari.
Energi matahari bisa diolah menjadi panel surya yaitu suatu alat yang
fungsinya adalah menangkap energi panas, yang biasanya dipasang di bagian atap
suatu rumah. Yang dimana Panel surya berfungsi untuk mengubah panas matahari
menjadi listrik.
2) Angin.
Sumber energi angin dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Yang
dimana Baling-baling angin dibuat berhubungan dengan turbin. Pada saat
balingbaling berputar oleh tiupan angin, turbin ikut berputar menggerakan
generator sehingga menghasilkan energi listrik. Selanjutnya, energi listrik
dihubungkan oleh kabel-kabel ke perumahan. Energi angin tersebut bisa
digunakan sebagai energi listrik setelah disambungkan dengan generator.
Sehingga Angin dapat dimanfaatkan untuk menyalakan generator dan turbin
dimana berfungsi untuk bisa menghasilkan energi listrik.
3) Air
Air yang mengalir memiliki energi gerak. Semakin cepat aliran air, semakin
besar pula energi gerak yang dihasilkan. Energi gerak dari aliran air dapat
menghasilkan energi listrik, yang disebut energi hidroelektrik. Pada saat air
mengalir, turbin akan berputar menggerakan generator sehingga menghasilkan
energi listrik. Energi listrik yang dihasilkan dari stasiun pembangkit tenaga listrik
(PLTA) cukup besar. Selanjutnya energi lisrik dari PLTA dihubungkan oleh
kabel-kabel ke perumahan, perkantoran, rumah sakit, pusat perbelanjaan, rumah
ibadah, dan berbagai tempat lainnya. Sehingga Air bisa dimanfaatkan untuk
menyalakan generator dan turbin sehingga dapat menghasilkan energi listrik.
4) Panas Bumi
Seperti halnya dengan energi matahari, energi panas bumi memanfaatkan
daya panas dari dalam bumi. Kondisi Indonesia yang memiliki banyak gunung
dan pegunungan menjadi keuntungan tersendiri. Aktivitas vulkanik yang terjadi
pada gunung di Indonesia sangat bermanfaat dalam pengolahan energi panas
bumi. Energi panas yang paling terkenal adalah geiser, yaitu berupa uap air atau
gas yang menyembur dari mata air panas dari dalam perut bumi. Uap air panas di
manfaatkan dengan cara disalurkan ke stasiun pembangkit listrik dimana dapat
menggerakan turbin sehingga menghasilkan tenaga listrik.
5) Biomassa
Biomassa (biogas) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak
dan menghasilkan energi listrik. Biogas yang keluar dari peralatan pengolahan
limbah organik dapat disalurkan melalui pipa-pipa ke perumahan untuk dijadikan
sebagai bahan bakar. Biogas tersebut juga dapat disalurkan ke turbin pembangkit
listrik sehingga dapat menghasilkan energi listrik.
C. MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING
1. PENGERTIAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
Model pembelajaran dengan menggunakan problem-based learning (PBL)
atau pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran student
center. Proses pembelajaran dengan PBL menghadirkan masalah yang nyata
sebagi sumber belajar sehingga siswa dapat memecahkan masalah serta mencari
jalan keluarnya. Nariman & Chrispeels, (2016: 2) menjelakan pembelajaran
berbasis masalah adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa yang sesuai
dengan prinsip-prinsip konstruktivisme. Prinsip konstraktivisme adalah siswa
dapat membangun pengetahuannya melalui masalah yang diberikan.
Yew & Goh (2016: 75) menjelaskan PBL merupakan sebuah pendekatan
pedagogis yang memungkinkan siswa untuk belajar sambil terlibat aktif dalam
memecahkan masalah. Siswa diberikan kesempatan untuk memecahkan masalah
dalam pengaturan kolaboratif antar siswa, menciptakan model untuk belajar, dan
membentuk kebiasaan belajar mandiri melalui latihan dan refleksi. Siswa terlibat
aktif dalampembelajaran sehingga dapat berlangsung dengan baik.
Graaff (2003: 1) menjelaskan PBL adalah sebuah model pembelajaran
dimana sumber pendidikan berasal dari sebuah masalah, jenis masalah yang
digunakan menyesuaikan dengan materi dan biasanya adalah masalah pada
kehidupan sehari-hari. Masalah yang ada pada kehidupan dikenalkan dan
dipelajari sehingga siswa memahami masalah tersebut dan mampu mengetahui
cara memecahkannya. 15 Pengalaman belajar yang didapat sangat penting,
dimana pengalaman berperan untuk membangun pengetahuan dan memahami
konsep dalam kehidupan mengenai gaya, hak dan kewajiban serta sumber daya
alam. Pemahaman mengenai materi disajikan dalam bentuk masalah agar siswa
dapat berfikir berdsarkan pengalaman yang telah dialami untuk membentuk pola
pikirnya sehingga masalah yang diberikan dapat dipecahkan.
Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan PBL merupakan
pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran yang berpusat pada siswa . PBL
mengharuskan siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Pembelajaran berbasis
masalah bersifat construktivisme, yaitu bersifat membangun pengetahuan dengan
sendirinya melalui pengalaman yang didapatkan ketika belajar. Pembelajaran
berbasis masalah menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran sehingga
pemikiran siswa lebih berkembang dalam memahami masalah. Dalam
pembelajaran guru berperan menjadi fasilitator, pemandu, pelatih serta mentor
bagi siswa.
Problem based learning merupakan model dalam pembelajaran yang mana
proses tersebut bersumber dari masalah sehari-hari. Masalah dalam kehidupan
sehari-hari disajikan pada siswa dengan tujuan memahami permasalahan tersebut.
Selanjutnya, dari pemahaman tersebut siswa mampu memberikan solusi atau
pemacahan. Problem based learning merupakan pembelajaran yang memberikan
pengaruh terhadap pemahaman siswa. Pemahaman siswa tersebut didapatkan dari
proses-proses yang dilakukan ketika berdiskusi dengan teman, mencari infomasi
sampai dengan menarik kesimpulan. Selain pemahaman PBL juga sangat baik
terhadap kerjasama siswa. Dengan bekerja dalam kelompok siswa diwajibkan
mengerti tugasnya dan harus memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya.
2. KARAKTERISTIK PBL
Berbeda dengan pembelajaran lainnya, pembelajaran dengan PBL adalah
pembelajaran yang menjadikan masalah sebagai sumber belajar. Masalah yang
dimaksudkan disini adalah masalah yang digunakan guru untuk pembelajaran.
Guru memberikan bimbingan dan arahan tentang cara memecahkan masalah.
Bimbingan dari guru diharapkan agar siswa mengerti dan dapat menganalisis
serta mencari jalan keluar sehingga dapat menyimpulkan dengan pendapat
mereka. Proses pembelajaran dengan PBL memiliki karakteristik yang
menyebabkan PBL berbeda dengan pembelajaran lain.
Arends (2010: 326) menjelaskan karakteristik pembelajaran berbasis masalah
adalah sebagai berikut.
a. Poin awal untuk pelajaran dengan PBL adalah masalah yang menarik. Isi
pembelajaran diatur mengenai masalah dan bukan disiplin akademis.
b. Siswa mencari solusi realistis untuk masalah dunia nyata. Masalah yang
memusatkan perhatian siswa dan menimbulkan pertanyaan dan siswa
kemungkinan akan bertemu di kemudian hari dalam kehidupan.
c. Siswa lebih baik mendaptkan dengan terlibat aktif terlibat dalam
pembelajaran melalui penyelidikan, investigasi, dan pemecahan masalah
daripada hanya melalui membaca dan mendengar.
d. Siswa mengeksplorasi sejumlah perspektif pada beberapa disiplin ilmu saat
terlibat dalam penyelidikan PBL.
e. Pembelajaran terjadi dalam konteks kelompok belajar kecil, lima atau enam
anggota.
f. Siswa menunjukkan pembelajaran mereka dengan menciptakan produk, hasil
dan presentasi. biasanya, mereka menyajikan hasil pekerjaan mereka kepada
teman sebaya dan tamu undangan dari kelas lain atau komunitas.
Pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran membutuhkan guru
sebagai pembimbing dan mengarahkan siswa. Guru memfasilitasi siswa dengan
permasalahan sehari-hari, untuk dicari jalan keluar berdasarkan persektif dari
siswa.
3. KEUNGGULAN DAN KEKURANGAN PBL
Pembelajaran berbasis masalah pada awalnya digunakan pada kegiatan medis
dengan harapan akan meningkatkan pembelajaran mandiri dan meningkatkan
kemampuan memecahkan masalah mereka. Seiring perubahan jaman PBL
semakin banyak digunakan karena memiliki berbagai keunggulan. Levin (2001:2)
menjelaskan berbagai manfaat dari PBL antara lain:
a. kemampuan untuk menjadi pemikir kritis,
b. keterampilan untuk menganalisis dan memecahkan masalah dunia nyata yang
kompleks,
c. keahlian dalam menemukan, mengevaluasi, dan menggunakan sumber
informasi,
d. kemampuan bekerja sama dalam kelompok
e. keterampilan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis.
Pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kekurangan dalam
pelaksanaanya, dan ini menjadikan sebuah tantangan bagi guru untuk
memecahkannya. Kekurangan PBL adalah sebagai berikut:
a. ketika siswa kesulitan dalam memecahkan masalah dan siswa kurang
antusisa dalam mempelajari siswa akan merasa malas mencoba,
b. problem based learning membutuhkan waktu yang lama dalam persiapan,
c. tanpa adanya penjelasan dari guru tentang tujuan memecahkan masalah siswa
tidak mau untuk mempelajri dan mencobanya.
4. Tahapan-tahapan PBL
Pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa tahapan dalam
pelaksanaannya. Arends (2010: 333) menjelakan sintaks PBL sebagai berikut:
Gambar 1. Sintaks PBL
Maksud dari gambar di atas adalah PBL mempunyai lima tahapan dalam
pelaksanaannya yaitu:
a. Orientasi siswa kepada masalah
Kegiatan yang pertama dilakukan dalam model ini adalah dijelaskannya
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh guru, selanjutnya
disampaikannya terkait logistik yang dibutuhkan, diajukannya suatu masalah
yang harus dipecahkan siswa, memotivasi para siswa agar dapat terlibat
secara langsung untuk melakukan aktivitas pemecahan masalah yang menjadi
pilihannya.
b. Mengorganisasikan siswa untuk belajar
Guru dapat melakukan perannya untuk membantu siswa dalam
mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang terkait dengan
masalah yang disajikan.
c. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Guru melakukan usaha untuk mendorong siswa dalam mengumpulkan
informasi yang relevan, mendorong siswa untuk melakukan eksperimen, dan
untuk mendapat pencerahan dalam pemecahan masalah.
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu para siswa-siswinya dalam melakukan perencanaan dan
penyiapan karya yang sesuai misalnya laporan, video atau model, serta guru
membantu para siswa untuk berbagi tugas antar anggota dalam kelompoknya.
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu para siswa dalam melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dalam setiap proses yang mereka gunakan.
D. KARAKTERISTIK SISWA SEKOLAH DASAR
Siswa sekolah dasar (SD) umumnya berkisar antara 6 atau 7 tahun sampai 12
atau 13 tahun, mereka berada pada fase operasional konkret (Heruman, 2013:1).
Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berpikir
untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan
objek yang bersifat konkret. Objek konkret tersebut yang dapat ditangkap oleh
panca indra.
Piaget dalam Susanto (2015:77) menyatakan bahwa setiap tahapan
perkembangan kognitif pada anak, mempunyai karakteristik [Link] garis
besar dikelompokkan menjadi empat tahap, yaitu:
a. Tahap sensori motor (usia 0-2 tahun), pada tahap ini anak belum memasuki
usia sekolah;
b. Tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun), pada tahap ini kemampuan
kognitifnya masih terbatas. Anak masih suka meniru perilaku orang lain
(khususnya orang tua dan guru) yang pernah ia lihat dan anak mulai mampu
menggunakan kata-kata yang benar dan mampu mengekspresikan kalimat-
kalimat pendek secara efektif;
c. Tahap operasional konkret (usia 7-11 tahun), pada tahap ini anak sudah mulai
memahami aspek-aspek komulatif materi, mempunyai kemampuan
memahami cara mengkombinasikan beberapa golongan benda yang
bervariasi tingkatannya, selain itu anak sudah mampu berpikir sistematis
mengenai benda-benda dan peristiwa yang konkret;
d. Tahap operasional formal (usia 11-15 tahun), pada tahap ini anak sudah
menginjak usia remaja, perkembangan kognitif peserta didik pada tahap ini
telah memiliki kemampuan mengkordinasikan dua ragam kemampuan
kognitif secara simultan (serentak) maupun berurutan.
Berdasarkan pendapat ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik
siswa sekolah dasar yang umumnya berusia antara 7-12 tahun yaitu mulai
memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dengan cara menyelidiki, mencoba, dan
bereksperimen mengenai suatu hal yang dianggap menarik bagi dirinya, serta
peserta didik sudah mampu memahami cara mengkombinasikan beberapa
golongan benda yang bervariasi tingkatannya, selain itu peserta didik sudah
mampu berpikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa yang konkret.
Anak-anak usia sekolah dasar, memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-
anak yang usianya lebih muda. Mereka senang bermain, senang bergerak, senang
bekerja dalam kelompok, dan senang merasakan atau melakukan sesuatu secara
langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang
mengandung unsur permainan, mengusahakan peserta didik berpindah atau
bergerak, bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan
untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.