BAB I
PENDAHULUAN
A. Latarbelakang
Kritik yang sering ditujukan pada proses pembelajaran di sekolah, adalah masih
dominannya penggunaan metode ceramah dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran
yang demikian itu kurang memberi peluang kepada anak untuk dapat mengembangkan
potensinya secara optimal. Keberanian, kemandirian, kreatifitas dan daya inovasi anak akan
terbunuh secara perlahan jika guru tidak melakukan upaya perbaikan.
Salah satu upaya perbaikan yang mungkin dilakukan guru agar pembelajaran lebih
berkualitas dan mampu mengembangkan potensi anak secara optimal adalah dengan penataan
lingkungan kelasyang kondusif. Hal demikian perlu dilakukan sebab lingkungan sebagai sumber
belajar masih belum diupayakan secara optimal dalam pembentukan berbagai ranah pendidikan,
baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menggalakkan pemanfaatan lingkungan
kelas sebagai sumber belajar, namun banyak bukti yang dapat disaksikan di lapangan
menunjukkan bahwa penataan lingkungan kelas sebagai media informasi masih belum
dilakukan. Bahkan sudah menjadi fenomena umum, dinding kelas dibiarkan kosong, tanpa ada
media seperti diagram, serial poster dan foto, atau peta yang sebenarnya dapat menjadi sumber
informasi pengetahuan untuk memperluas wawasan siswa. Dinding kelas justru dipenuhi papn
statistic yang tidak memiliki sumbangan langsung terhadap proses pembelajaran.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian lingkungan kelas.
2. Untuk mengetahui penataan lingkungan kelas.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip penataan lingkungan kelas.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Lingkungan Kelas
Lingkungan berasal dari kata lingkung yang berarti “sekeliling, sekitar, selingkung,
seluruh suatu lingkaran, daerah dan sebagainya.
Lingkungan kelas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses
pembelajaran dilaksanakan. Ruang kelas adalah lingkungan yang kompleks dimana manusia
berinteraksi, saling bergantung antar satu orang ke orang lain, dan dengan berbagai karakter unik
dalam lingkungan sosial dan fisik yang spesifik. Faktor penting yang menentukan hasil belajar
adalah lingkungan kelas. Dalam lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan senang
belajar, dan secara langsung akan meningkatkan hasil belajar. Sebaliknya jika lingkungan kelas
tidak nyaman maka tidak akan mendukung hasil belajar yang maksimal. Lingkungan kelas
merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar siswa.
2. Penataan Lingkungan Kelas
Proses pembelajaran selain ditentukan oleh kondisi individual siswa atau faktor internal
juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal yang dapat menunjang proses
pembelajaran adalah sumber belajar. Sumber belajar meliputi sumber (data, orang dan barang)
yang digunakan oleh peserta didik secara terpisah atau secara gabungan untuk belajar. Sumber
belajar dalam arti sempit, misalnya buku paket pelajaran atau bahan cetak lainnya. Belajar di
sekolah yang dapat dimanfaatkan untuk membantu proses belajar mengajar antara lain,
perpustakaan, laboratorium, media pendidikan, lingkungan sekitar.
Sumber belajar dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok, yaitu sumber belajar yang
berupa pesan, orang (manusia), bahan, alat perlengkapan, lingkungan dan kegiatan. Sumber
belajar yang berupa lingkungan, misalnya perpustakaan, laboratorium, museum, bangunan
bersejarah, kebun binatang, perkantoran, persawahan, pantai, pegunungan.
Sumber belajar dikelompokkan menjadi: a) sumber belajar tercetak, b) sumber belajar
non cetak, c) sumber belajar berupa kegiatan, d) sumber belajar yang berbentuk fasilitas, e)
sumber belajar berupa lingkungan.
Lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran di kelas dapat
dikategorikan menjadi tiga macam lingkungan belajar yaitu lingkungan sosial, lingkungan alam
dan lingkungan buatan. Lingkungan sosial berkenaan dengan interaksi manusia dengan
kehidupan masyarakat, seperti organisasi sosial, adat dan kebiasaan, mata pencaharaian,
kebudayaan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama dan system nilai.
Lingkungan alam berkenaan dengan segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti
keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora, fauna, sumber daya alam (air,
hutan, tanah, batu-batuan). Dengan mempelajari lingkungan alam diharapkan para siswa dapat
lebih memahami materi pelajaran di sekolah serta dapat menumbuhkan cinta alam, kesadaran
untuk menjaga dan memelihara lingkungan, turut serta dalam menanggulangi kerusakan dan
pencemaran lingkungan serta tetap menjaga kelestarian kemampuan sumber daya alam bagi
kehidupan manusia.
Lingkungan kelas sebagai sumber belajar selalu membawa pesan, yang merupakan
informasi penting dan dapat dimanfaatkanserta dipelajari oleh para siswa. Lingkungan kelas
sebagai sumber belajar selalu mempunyai tujuan tertentu yang akan dicapai. Lingkungan sebagai
sumber belajar dimanfaatkan dengan baik akan memiliki fungsi: a)meningkatkan produktivitas
pendidikan, b) memberikan kemungkinan pendidika yang sifatnya lebih individual, c)
memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, d) lebih memantapkan pengajaran, e)
memungkinkan belajar secara seketika, dan f) memungkinkan penyajian pendidikan yang lebih
luas.
Guru seharusnya merencanakan dan mengusahakan pemanfaatan lingkungan kelas
sebagai sumber belajar dengan sebaik-baiknya agar proses pembelajaran dapat berhasil.
Pemanfaatan lingkungan kelas sebagai sumber belajar tidak cukup jika hanya sekedar
memanfaatkan saja. Itulah sebabnya dalam mengelola lingkungan sebagai sumber belajar guru
harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang apa, mengapa dan bagaimana lingkungan
kelas sebagai sumber belajar. Tanpa memiliki pengetahuan dan ketrampilan tersebut mustahil
lingkugan kelas sebagai sumber belajar dapat dimanfaatkan.
Pengaturan ruang belajar dan perabot sekolah perlu diperhatikan agar tercipta suasana
belajar aktif. Pengaturan itu hendaknya memungkinkan siswa duduk berkelompok dan
memudahkan guru secara leluasa membimbing dan membantu siswa dalam belajar.
3. Prinsip Penataan Kelas
Berikut adalah empat prinsip dasar yang bias digunakan ketika menyusun kelas:
a. Mengurangi hambatan di arena macet.
Gangguan dan kekacauan sering kali muncul di area macet. Ini meliputi area kerja
kelompok, meja siswa, meja guru, rautan, rak buku, ruang komputer, dan lokasi
penyimpanan. Sebisa mungkin, pisahkanlah area ini satu sama lain dan pastikanlah
area tersebut mudah didatangi.
b. Memastikan bahwa guru bisa dengan mudah melihat semua siswa.
Sebuah tugas manajemen yang penting adalah memantau siswa dengan seksama.
Untuk melakukan ini, guru harus mampu untuk melihat semua siswa pada pada
setiap waktu. Pastikanlah ada barisan meja yang kosong di antara meja guru, lokasi
pembelajaran, meja siswa, dan semua area kerja siswa. Berdirilah di tempat-tempat
yang berbeda di ruangan untuk mencari tempat yang terhalangi.
c. Membuat materi pengajaran yang sering digunakan dan persediaan siswa menjadi
mudah untuk diakses.
Hal ini meminimalisasi waktu persiapan dan pembersihan, begitu pula dengan
kemunduran dan istirahat dalam alur aktivitas.
d. Memastikan bahwa siswa bisa dengan mudah mengobservasi presentasi seluruh
kelas.
Tetapkanlah dimana guru dan siswa akan mengambil tempat ketika presentasi
seluruh kelas terjadi. Untuk aktivitas ini, siswa seharusnya tidak perlu memindahkan
kursi atau menoleh. Untuk mencari tahu seberapa baik siswa bisa melihat dari tempat
mereka, duduklah di kursi mereka di bagian-bagian yang berbeda dari ruangan
tersebut.
Ketika menata lingkungan fisik kelas, guru harus mempertimbangkan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Visibility (keleluasan pandangan), artinya penempatan atau penataan barang-barang di
dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa sehingga mereka secara leluasa dapat
memandang guru, benda, atau kegiatan yang sedang berlangsung.
2. Accebility (mudah dicapai), artinya barang-barnag atau alat-alat yang biasa digunakan
oleh siswa dalam proses pembelajaran mudah dijangkau.
3. Fleksibilitas (keluwesan), artinya barang-barang yang ada di dalam kelas hendaknya
mudah untuk ditata dan dipindah-pindahkan sesuai dengan tuntutan kegiatan
pembelajaran yang akan dilakukan oleh siswa dan guru.
4. Kenyamanan, baik bagi siswa maupun bagi guru sendiri.
5. Keindahan, berkenaan dengan usaha guru menata ruangan kelas yang menyenangkan dan
kondusif bagi kegiatan pembelajaran. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan,
berpengaruh positif terhadap sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan.
4. Tujuan Penataan Kelas
Tujuan utama penataan lingkungan fisik kelas adalah mengarahkan kegiatan siswa dan
mencegah munculnya tingkah laku siswa yang tidak yang tidak diharapkan melalui penataan
tempat duduk, perabot, dan barang-barang lainnya yang ada di dalam kelas, sehingga
memungkinkan terjadinya interaksi aktif antara siswa dan guru serta antar siswa, dalam kegiatan
pembelajaran. Selain itu penataan kelas harus memungkinkan guru dapat memantau semua
tingkah laku siswa sehingga dapat dicegah munculnya masalah disiplin. Melalui penataan kelas,
diharapkan siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam proses pembelajaran dan akan bekerja
secara efektif.
5. Gaya Penataan Kelas
a. Gaya auditorium (auditorium style), semua siswa mengghadap guru. Susunan ini
mencegah kontak siswa secara berhadap-hadapan dan guru bebas untuk bergerak ke
manapun di dalam ruangan. Sering digunakan ketika guru memberikan kuliah atau
seseorang mengaddakan presentasi untuk semua kelas.
b. Gaya berhadap-hadapan (face-to-face style), siswa duduk berhadap-hadapan satu
sama lain. Gangguan dari siswa lain akan lebih tinggi dalam susunan ini daripada
gaya auditorium.
c. Gaya off-set (off-set style), siswa dalam jumlah yang kecil (biasanya tiga sampai
empat orang) duduk di meja, tetapi tidak duduk berseberangan secara langsungdari
satu sama lain.
d. Gaya seminar (seminar style), siswa dalam jumlah besar (empat sampai delapan)
duduk dalam susunan sirkuler, persegi empat, atau bentuk U. Ini efektif ketika guru
menginginkan para siswa untuk berbicara satu sama lain atau berbincang dengan
anda.
e. Gaya kelompok (cluster style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya empat sampai
delapan) bekerja dalam kelompok kecil yang saling berdekatan. Susunan ini sangat
efektif untuk aktifitas belajar secara kolaboratif.
6. Yang Harus Diperhatikan dalam Penataan Kelas
Ruang kelas yang baik adalah ruang kelas yang dapat mendukung usaha para guru dalam
mengajar. Untuk mencapai tujuan itu, selain ruang kelas harus aman, ruang kelas juga harus
diciptakan sedemikian rupa sehingga nyaman untuk menjadi tempat belajar dan bermain.
Berikut ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
a. Perabotan Furniture
Lihatlah tempat duduk di Sekolah Anda, apakah sudah sesuai dengan ukuran anak-anak
atau belum. Tempat duduk yang tepat bagi anak-anak adalah apabila anak-anak dapat duduk
dengan posisi nyaman, dengan kaki menyentuh lantai. Apabila tempat duduk terlalu tinggi maka
setelah 10 menit duduk, anak-anak akan gelisah dan segera mencoba menggerakkan badan dan
memindahkan kakinya. Demikian pula mejanya. Jika dalam kelas anak-anak menggunakan meja
dengan ukuran tinggi/besar yang sebenarnya untuk orang dewasa, maka kegiatan belajar ataupun
bermain yang memerlukan meja tidak akan efektif, karena dengan meja yang terlalu tinggi atau
terlalu besar, jangkauan kegiatan belajar dan bermain anak-anak akan sangat terbatas. Untuk itu
pastikan perabotan (meja, bangku, kursi, rak buku, peralatan permainan, dll.) di ruang kelas
Sekolah Minggu Anda sesuai dengan ukuran anak-anak. Apabila di tempat Anda hanya tersedia
tempat duduk (kursi atau bangku) dan meja ukuran dewasa, maka cara mengatasinya Anda dapat
menggunakan tikar saat mengajar atau bermain sehingga anak-anak dapat duduk dan bermain di
atas tikar dengan nyaman.
b. Penerangan
Penerangan ruang kelas yang kurang terang akan dapat menyebabkan kelelahan pada
mata dan menyebabkan sakit kepala, sehingga mempengaruhi semangat anak-anak dan guru
dalam melakukan kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Penerangan yang baik dapat diperoleh
jika tersedia jendela dan ventilasi yang cukup. Namun demikian, perlu juga diperhatikan agar
penataan tempat duduk tidak membuat penerangan dari luar menyilaukan penglihatan anak-
anak. Karena sinar yang terlalu kuat juga akan mengganggu penglihatan.
c. Lantai, Dinding dan Langit-langit
Ada baiknya jika lantai ruangan menggunakan karpet. Karena selain dapat meredamkan
suara, karpet juga dapat menyediakan lantai yang hangat untuk diduduki anak-anak dengan
nyaman ketika melakukan kegiatan bermain di lantai. Juga agar dapat mendukung sistim akustik
ruangan, dinding, dan langit-langit sebaiknya menggunakan bahan yang dapat meredamkan
suara. Sehingga kegiatan yang dilakukan oleh kelas yang satu tidak mengganggu kelas yang
lain.
d. Warna Cat
Bagaimana dengan warna cat di ruang kelas? Warna gelap dan warna yang kuat kurang
cocok bagi ruang kelas. Anda dapat memilih warna pastel dan warna cerah untuk ruang kelas
Anda, karena hal ini dapat menambah semarak dan semangat anak-anak dalam belajar maupun
bermain. Demikian pula kombinasikan warna-warna secara harmonis akan sangat membantu
meriangkan suasana ketika anak-anak bermain.
e. Gambar dan Poster
Gambar-gambar dan poster-poster sebaiknya dipasang sesuai dengan arah pandang anak-
anak. Untuk memperbaharui suasana di sekolah Anda, kurang lebih sebulan sekali, rubahlah
posisi gambar-gambar dan poster-poster yang menempel di dinding. Bisa juga Anda mengganti
dengan gambar-gambar dan poster-poster yang lain atau kadangkala biarkan dinding ruangan
kelas kosong untuk membuat suasana yang berbeda supaya anak-anak tidak jenuh dengan
suasana yang itu-itu saja.
f. Ukuran Ruang Kelas
Sebaiknya ruang kelas cukup luas, sehingga anak-anak memiliki ruang gerak yang cukup
untuk melakukan aktivitas bermain. Anak bisa melakukan aktivitas bermain di tempat duduk,
namun bisa juga di lantai dengan nyaman. Apabila Anda berasal dari sekolah yang kecil dimana
kelasnya sempit, beberapa hal berikut ini dapat Anda lakukan:
1. Apabila jumlah anak terlalu banyak sehingga ruang kelas tidak cukup, maka
sebaiknya Anda membagi anak-anak dalam dua kelas. Bila hanya ada satu
ruangan maka Anda dapat membagi menjadi kelas pagi dan sore (atau dengan
jam yang berbeda).
2. Anda juga dapat menyingkirkan perabotan yang tidak digunakan, seperti meja
besar, bangku cadangan, lemari dan sebagainya. Karena ruang kelas seringkali
menjadi seperti gudang, maka pindahkan perabot-perabot yang bisa dipindahkan
dan yang tidak digunakan.
3. Buatlah rak-rak yang menempel di dinding, dengan jarak 125 cm dari atas lantai
untuk mengganti rak-rak penyimpanan yang ada di lantai. Dengan demikian
lantai menjadi lebih luas.
4. Letakkan benda-benda yang tidak digunakan diluar jangkauan anak-anak. Tapi
sediakan rak-rak rendah bagi alat-alat yang akan digunakan anak-anak pada saat
belajar dan bermain. Hal ini akan menolong anak untuk dapat mengambil dan
mengembalikan barang-barang mainan sendiri tanpa bantuan guru.
5. Jika perlu, sediakan ruang penyimpanan bagi guru di luar ruang kelas, sehingga
ruang kelas hanya diperuntukkan bagi kegiatan anak-anak saja.
7 . Media dan Alat-alat
Media, alat peraga, buku panduan, alat permainan seperti peralatan alat-alat musik dan
peralatan lainnya sebaiknya disimpan dengan rapi menurut kelompok fungsinya, di tempat yang
sudah disediakan (rak/lemari) agar dapat dicari dengan mudah pada saat akan digunakan dan
hanya dikeluarkan bila akan digunakan.
Namun apabila alat permainan dan media yang Anda miliki terbatas, jangan kuatir karena anak-
anak memiliki imajinasi yang tinggi. Dengan imajinasi tersebut mereka masih dapat bermain
dan melakukan aktivitas dengan materi, media, dan alat-alat yang tersedia. Kegembiraan mereka
tidak akan berkurang dan mereka masih bisa memperoleh pengalaman yang sangat berarti.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Agar terciptanya lingkungan kelas yang kondusif untuk terjadinya proses pembelajaran
perlu : 1) memanfaatkan dinding kelas sebagai pajangan karya siswa maupun guru, 2)
pemasangan gambar/ hiasan/ informasi dinding, 3) pengadaan bulletin board (papan temple), 4)
pengadaan meja science, 5) pengadaan sudut perpustakaan, dan 6) pengadaan rak dengan dus-
dus plastic transparan, dan 7) memanfaatkan overhead projector untuk melengkapi papan tulis.
B. Saran
Untuk membuat terciptanya lingkungan kelas yang kondusif perlu dilakukan kerja sama
antar guru yang satu dengan yang lain.