MAKALAH
Pengantar Filsafat Umum
Diajukan untuk menyelesaikan tugas filsafat umum
Dosen Pemgampu:
Dita Nur Amaliatul Chusniah, S.H., M. E.
Disusun oleh:
Muhammad Nurdiyanto (24.70232.0009)
Nanang Misbakhul Munir (24.70232.0011)
Zuliana (24.70232.0018)
Miranda Rahmawati (24.70232.0019)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING ISLAM
INSTITUT AL-AZHAR MENGANTI GRESIK
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah kita ucapkan dan panjatkan kehadirat Allah SWT
yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta selalu memberikan
kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah pada matakuliah
filsafat umum. Kami sangat berterimakasih kepada pihak-pihak yang terlibat
dalam penyelesaian makalah ini. Khususnya kepada ibu dosen Dita Nur Amaliatul
Chusniah, Selaku dosen pengampu matakuliah filsafat umum yang telah
membantu memudahkan kami dalam membuat dan menyusun makalah ini.
Sehingga hal tersebut sangat membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.
Kami membuat makalah ini dengan sepengetahuan dan sepemahaman kami, jadi
tentunya pasti masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyusunan
makalah ini. Kami membutuhkan masukan maupun pendapat para pembaca yang
beda dari kami sehingga apa yang tidak kami ketahui menjadi pengetahuan dan
wawasan bagi kami para penyusun makalah.
Demikian penyusunan makalah yang kami buat, untuk kesalahan dan
kekurangan dalam makalah ini kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Makalah ini tentunya masih jauh dari kata sempurna, jadi kami juga
membutuhkan saran ataupun masukan yang sifatnya membangun guna dalam
pembuatan makalah berikutnya
Penulis
i
DAFTAR ISI
Isi
KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................1
C. Tujuan Masalah..........................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................2
A. Pengertian Filsafat......................................................................................2
B. Asal usul Filsafat.........................................................................................3
C. Objek Filsafat..............................................................................................5
D. Ruang Lingkup Filsafat..............................................................................7
E. Metode Filsafat............................................................................................8
BAB III PENUTUP..............................................................................................10
A. Kesimpulan................................................................................................10
B. Saran..........................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................12
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Sejarah, filsafat merupakan salah satu disiplin ilmu tertua
dalam Sejarah peradaban manusia, dan memiliki peran penting dalam
mengarahkan manusia untuk memahami berbagai pertanyaan mendasar
terkait kehidupan, eksistensi, pengetahuan, kebenaran, dan moralitas. Kata
“filsafat” sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu “philosophia” yang
artinya cinta akan kebjiksanaan. Sebagai ilmu yang berfokus pada
pemikiran kritis dan reflektif, filsafat berusaha mencari jawaban atas
berbagai pertanyaan mendalam yang sering kali tidak bisa dijawab oleh
ilmu pengetahuan atau pemahaman sehari-hari.
Makalah ini bertujuan untuk memberikan pengantar mengenai
filsafat sebagai disiplin ilmu, serta mengajak pembaca untuk memahami
pentingnya pemikiran filososfis dalam kehidupan sehari-hari. Melalui
pemahaman tentang konsep-konsep dasar filsafat, kita akan melihat
bagaimana filsafat membantu kita untuk berfikir kritis, rasional, dan
terbuka terhadap berbagai pandangan dan persepektif. Dengan demikian
filsafat tidak hanya menjadi ilmu yang teoretis, tetapi juga memberikan
landasan bagi kita untuk memahami diri sendiri, orang lain, dan dunia
disekitar kita yang lebih mendalam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian filsafat
2. Bagaimana asal-usul filsafat?
3. Apa saja objek filsafat?
4. Apa ruang lingkup filsafat?
5. Apa saja metode filsafat?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian filsafat
2. Untuk mengetahui asal-usul filsafat
3. Untuk mengetahui objek filsafat
4. Untuk mengetahui ruang filsafat
1
5. Untuk mengetahui metode filsafat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat
Secara Estimologi kata filsafat, yang dalam bahasa Arab dikenal
dengan istilah falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata
philosophia terdiri atas kata philos yang berarti cinta dan sophia yang
berarti kebijaksanaan, sehingga secara estimologi istilah filsafat berarti
cinta kebijaksanaan atau kebenaran love of wisdom dalam arti yang
sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf adalah pencinta
atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh
Pythagoras (582-496 SM). Arti filsafat pada saat itu belum begitu
jelas, kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti yang banyak
dipakai sekarang ini dan juga digunakan oleh Socrates (470- 399 M)
dan para filsuf lainnya.1
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, baik dalam
ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan, Moh. Hatta dan
Langeveld mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan
karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya.
Oleh karena itu, biarkan saja seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu
kemudian menyimpulkan sendiri.2
Plato (427-347 SM) mengatakan bahwa objek filsafat adalah
penemuan kenyataan atau kebenaran absolut (keduanya sama dalam
pandangannya), lewat "dialektika".3
Sementara Aristoteles (384-332 SM), tokoh utama filosof klasik,
mengatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam
1
Lasiyo dan Yuwono, Pengantar Ilmu Filsafat, Cet. I (Yogyakarta: Liberty, 1985), hlm. 1.
2
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos, 1997), hlm.7.
3
2
dari wujud. Karena itu, ia menamakan filsafat dengan "teologi" atau
"filsafat pertama". Sampai pada kesimpulan bahwa setiap gerak di
alam ini digerakkan oleh yang lain. Karena itu, perlu menetapkan satu
penggerak pertama yang menyebabkan gerak itu, sedangkan dirinya
sendiri tidak bergerak. Penggerak pertama ini sama sekali terlepas dari
materi; sebab kalau ia materi, maka ia juga mempunyai potensi gerak.
Allah, demikian Aristoteles, sebagai penggerak Pertama adalah Aktus
Murni. Dan ia adalah salah seorang filosof Yunani kuno yang
mengatakan bahwa filsafat memperhatikan seluruh pengetahuan, dan
kadang-kadang disamakan dengan pengetahuan tentang wujud
(ontologi).
Al-Farabi (W. 950 M), seorang filosof Muslim terbesar sebelum
Ibnu Sina berkata, "Filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan
bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya",4
Ibnu Rusyd (1126-1198 M), berpendapat bahwa filsafat atau
hikmah merupakan pengetahuan "otonom" yang perlu dikaji oleh
manusia karena dia dikaruniai akal. Alquran Filsafat mewajibkan
manusia berfilsafat untuk menambah dan memperkuat keimanan
kepada Tuhan.5
B. Asal usul Filsafat
Banyak yang meyakini dan mengkaji bahwa sejarah filsafat tidak
dapat dilepaskan dari sejarah peradaban Yunani Kuno, peradaban
Abad Pertengahan, modern, hingga sampai kini, meski kita juga tidak
menafikan bahwa peradaban Yunani Kuno juga telah banyak
dipengaruhi oleh peradaban-peradaban lainnya yang juga maju seperti
Mesir dan lainnya. Munculnya filsafat Yunani dipengaruhi oleh
banyak faktor yang seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di
Yunani Kuno. Menurut K. Bertens, setidaknya ada tiga faktor, yaitu:6
4
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987), Cet. VII,
hlm. 83.
5
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1988), Cet. II, hlm. 56.
6
Surajiyo. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 53.
3
1. Dongeng/takhayul/mitos. Mitos dianggap asal mula percobaan
untuk mengerti tentang asal dunia, bagaimana kejadian alam, sebab-
sebab alam, dan lain sebagainya.
2. Kesusastraan Yunani yang memiliki nilai-nilai edukatif
3. Pengaruh ilmu pengetahuan.
Pengaruh ilmu pengetahuan seperti ilmu ukur dan ilmu hitung dari
Mesir. Ilmu astronomi dari [Link] itu, untuk lebih
memahami asal mula kelahiran filsafat, kita dapat merujuk pada
pertanyaan mendasar yang diungkapkan Thales pada masa Yunani
Kuno. Ia bertanya, “apakah bahan alam semesta ini?”. Pertanyaan ini
tidak dapat dijawab dengan sembarangan, karena yang dipertanyakan
adalah masalah esensi atau hakikat alam semesta. Jadi, perlu pemikiran
dan penyelidikan yang mendalam (radikal):
1. Pancaindra jelas tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut, sebab
pancaindra hanya sekadar menyaksikan benda alam yang ada secara
lahiriah.
2. Sains juga tidak sanggup menjawab, karena hanya menyelidiki
secara empiris benda yang ada.
3. Tetapi filsafat mampu mengungkapkan jawaban yang lumayan
dapat memuaskan. Seperti jawaban dari Thales sendiri bahwa bahan
alam semesta adalah air, dengan alasan bahwa air itu dapat berubah
menjadi berbagai wujud. Jika air dimasukkan ke ember maka ia akan
membentuk seperti ember, dst. Selain itu, air amat dibutuhkan dalam
kehidupan, bahkan bumi ini menurut-nya terapung di atas air.
Pertanyaan seperti yang diungkap Thales dilatarbelakangi oleh
ketakjuban (keheranan) terhadap alam semesta. Ketakjuban ini,
menurut Jan Hendrik Rapar,7menunjuk kepada dua hal penting, yaitu
subjek dan objek. Jika ada ketakjuban pasti ada yang takjub (subjek)
dan yang menakjub-kan (objek). Subjek ketakjuban adalah manusia,
sebab manusia satu-satunya makhluk yang memiliki perasaan dan akal
budi. Hal ini karena ketakjuban hanya dapat dirasakan dan dialami
7
Jan Hendrik Rapar. Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2015, hlm. 16
4
oleh makhluk yang berperasaan dan berakal budi. Adapun objek
ketakjuban adalah segala sesuatu yang ada, baik di alam nyata maupun
di alam metafisik (abstrak). Selain itu, manusia takjub akan dirinya
“yang ada” (Plato & Aristoteles ± 350 SM), dan ketakjuban akan
moral hukum dan langit dengan bintang. Immanuel Kant (± 1750)
memikirkan untuk ditemukan bagaimana kebenarannya. Selain
ketakjuban, hal yang mendorong manusia berfilsafat adalah karena
adanya aporia (kesangsian, keraguan, ketidakpastian atau
kebingungan). Pertanyaan yang timbul akibat aporia ini, menurut
Ahmad Tafsir, muncul di zaman modern. Aporia ini berada di antara
percaya dan tidak percaya. Ketika manusia bersikap percaya atau
mengambil tidak percaya, maka pikiran tidak lagi bekerja atas hal itu.
Akan tetapi jika ia berada antara percaya dan tidak percaya maka
pikiran mulai bergerak dan berjalan untuk mencari kepastian. Sangsi
atau keraguan akan menimbulkan pertanyaan, pertanyaan membuat
pikiran bekerja, dan pikiran bekerja akan melahirkan filsafat. Jadi,
sikap keingintahuan atau ingin kepastian terhadap sesuatu dapat
melahirkan filsafat. Filsafat juga dilahirkan atas keraguan dan ketidak-
puasan manusia terhadap realitas di sekelilingnya, seperti kemampuan
pancaindra yang seringkali menipu, mitos yang seringkali
menimbulkan beragam pertanyaan tentang kebenarannya, serta
pertanyaan-pertanyaan lain yang ber-kaitan dengan kesadaran
eksistensi manusia yang kecil dibanding alam semesta, bagaimana
kebenaran fakta/Kenyataan tersebut.
C. Objek Filsafat
Pada dasarnya, setiap ilmu memiliki dua macam objek, yaitu objek
material dan objek formal. Objek material adalah sesuatu yang
dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh manusia adalah objek
material ilmu kedokteran. Adapun objek formalnya adalah metode
untuk memahami objek material tersebut, seperti pendekatan induktif
dan deduktif. Filsafat sebagai proses berpikir yang sistematis dan
radikal juga memiliki objek material dan objek formal. Objek material
5
filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang
tampak dan ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia
empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika.
Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu
yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran, dan yang ada
dalam kemungkinan. Adapun, objek formal filsafat adalah sudut
pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang
ada.
Cakupan objek filsafat lebih luas dibandingkan dengan ilmu karena
ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan
filsafat mencakup yang empiris dan yang non- empiris. Objek ilmu
terkait dengan filsafat pada objek empiris. Di samping itu, secara
historis ilmu berasal dari kajian filsafat karena awalnya filsafatlah yang
melakukan pembahasan tentang segala yang ada ini secara sistematis,
rasional, dan logis, termasuk hal yang empiris. Setelah berjalan
beberapa lama kajian yang terkait dengan hal yang empiris semakin
bercabang dan berkembang, sehingga menimbulkan spesialisasi dan
menampakkan kegunaan yang praktis. Inilah proses terbentuk- nya
ilmu secara berkesinambungan. Will Durant mengibaratkan filsafat
bagaikan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan
pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan
yang di antaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang menyediakan tempat
berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu, ilmu berkembang sesuai
dengan spesialisasi masing- masing, sehingga ilmulah secara praktis
membelah gunung dan merambah hutan. Setelah itu, filsafat kembali
ke laut lepas untuk berspekulasi dan melakukan eksplorasi lebih jauh.8
Karena itu, filsafat oleh para filosof disebut sebagai induk ilmu.
Sebab, dari filsafatlah, ilmu-ilmu modern dan kontemporer
berkembang, sehingga manusia dapat menikmati ilmu dan sekaligus
buahnya, yaitu teknologi. Awalnya, filsafat terbagi pada teoretis dan
praktis. Filsafat teoretis mencakup metafisika, fisika, matematika, dan
8
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta, Sinar Harapan, 1984),
him. 24
6
logika, sedangkan filsafat praktis adalah ekonomi, politik, hukum, dan
etika. Setiap bidang ilmu ini kemudian berkembang dan
menspesialisasi, seperti fisika berkembang menjadi biologi, biologi
berkembang menjadi anatomi, kedokteran, dan kedokteran pun
terspesialisasi menjadi beberapa bagian. Perkembangan ini dapat
diibaratkan sebuah pohon dengan cabang dan ranting yang semakin
lama semakin rindang.
D. Ruang Lingkup Filsafat
Ruang lingkup filsafat adalah semua lapangan pemikiran manusia
yang komperhensif. Segala sesuatu yang mungkin ada dan benar-benar
ada atau nyata, baik material kongkrit maupun nonmaterial atau
abstrak. Secara umum, landasan berfikir filsafat dibagi menjadi tiga,
yaitu: Epistemologi, Ontologi, dan Axiologi. Pengertian populer
epistemologi, yaitu teori pengetahuan yang membahas tentang sumber
pengetahuan, karakter dasar pengetahuan, dan keabsahan atau validitas
pengetahuan. Pengertian istilah Ontologi, yaitu teori tentang “ada” atau
“Ada”. Ontologi lebih umum dikenal sebagai objek pengetahuan.
Pembahasannya yang terkait dengan alam menjadikannya dikenal
sebagai Kosmologi. Ia juga terkadang disinonimkan dengan Metafisika
yang mengupas sesuatu yang berada dibelakang objek fisik.
Sedangkan Axiologi adalah teori tentang nilai dalam segala macam,
jenis, dan bentuknya. Istilah ini lebih masyhur dimaknai sebagai
manfaat ilmu pengetahuan. Tiga dimensi ini sebagai struktur utuh dan
solid yang membentuk filsafat sehingga menjadikannya sebagai
grandmother of science. Slogan ini mengantarkan filsafat sebagai
kebijaksanaan, kebijaksanaan sebagai pengetahuan, dan pengetahuan
sebagai kebaikan (knowledge is good).9
E. Metode Filsafat.
Tujuan berfilsafat adalah mencari the first causes dan the last
causes, maka dari itu filsafat mengenal berbagai metode filsafat yakni:
9
[Link]
7
1. Metode kritis reflektif
Metode kritis reflektif yakni cara memahami suatu objek
filsafat secara mendalam dan mendasar. Kegiatan ini dilakukan
secara berulang-ulang sehingga memerlukan proses pemikiran
secara terus menerus sampai menemui kebenaran/telah puas atas
jawaban masalah yang dikajinya.
2. Metode dialektika-dialog/dialektika-kritis.
Proses dialektik mengandung arti dialog antara dua
pendirian yang bertentangan pemikiran dengan memakai
pertemuan antara ide, sedang kan kritis meupakan sikap yang tidak
mau menerima sebelum dilakukan pengujian. Dengan demikian
dapat disimpulkan metode dialektika-dialog merupakan metode
yang menekankan pada dialog kritis untuk membedah masalah
guna melahirkan pengetahuan yang benar berlandaskan pada
argumentasi/alasan yang kuat.
3. Metode dialeka hegel
Metode ini berintikan pada pemecahan masalah dengan
mengikuti tiga
langkah yakni tesa, antitesa, dan sintesa. Menurut (Budianto,
2005:16- 17; Supono, 2007) mengemukakan bahwa prinsip dasar
metode dialektika ala Hegel adalah mengembangkan suatu proses
berpikir yang dinamis dalam memecahkan suatu masalah, lewat
argumen yang kontradiktif atau berhadapan guna mewujudkan
suatu kesepakatan yang rasional atau logis.
4. Metode intuitif
Intuisi adalah apa yang oleh sebagian orang disebut
perasaan hati, hati nurani, firasat, supra kesadaran, dorongan yang
mengatakan kepada Anda untuk menempuh suatu arah atau arah
lain, dan yang bila digabung dengan latihan akan memberi anda
alat dalam membuat keputusan yang mantap.
5. Metode skeptis
8
Metode ini berintikan pada gagasan bahwa, untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar, maka seseorang harus
meragu-ragukan segalanya. Dalam rangka mencapai kebenaran
yang pasti, rasio harus berperan semaksimal mungkin. Descrates
memberikan pedoman dalam rangka mendapatkan pengetahuan
yang benar yaitu Pertama, metode keragu-raguan harus digunakan
sebagai strategi dalam melihat sesuatu, segala sesuatu harus dilihat
sebagai tipuan, dan jangan tergesa-gesa menerimanya sebagai
sesuatu yang benar, jika tidak diketahui bahwa hal itu benar.
Kedua, pemecahan masalah yang kompleks, harus dipilah ke dalam
bagian-bagian yang lebih sederhana agar mudah memahaminya,
Ketiga, pikiran harus diatur sedemikian rupa, dengan bertitik tolak
dari objek dan pengertian yang sederhana dan mutlak, sampai pada
objek dan pengertian yang kompleks dan nisbi. Keempat, setiap
masalah ditinjau secara menyeluruh, sehingga tidak ada yang
ketinggalan.
6. Metode fenomenologi
Metode ini berarti ilmu tentang fenomena yang pada
dasarnya adalah hakikat atau edios tentang suatu penampakan diri
atau tampil sebagaimana adanya dalam kesadaran manusia.
7. Metode eksistensialisme
Filsafat ini memandang gejala berpangkal pada eksistensi
atau cara manusia berada didunia. Prinsip dasar adalah lebih
menghargai subjektifitas daripada objektifitas, dalam prinsip ini
nilai lebih diposisikan lebih penting dari pada fakta.
8. Metode analitik
Filsafat ini adalah suatu metode yang khas dalam filsafat
untuk menjelaskan, menguraikan, dan mengkaji kebenaran-
kebenaran ungkapan dari filosofis.10
10
Samuji, “PENGERTIAN, DASAR-DASAR DAN CIRI-CIRI FILSAFAT”, Jurnal Paradigma, Vol.13,
No.1(2022):9-11.
9
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha
menautkan sebab dan akibat, dan berusaha menafsirkan pengalaman-
pengalaman manusia. Seperti yang diungkapkan Aristoteles (384-332
SM), tokoh utama filosof klasik, mengatakan bahwa filsafat menyelidiki
sebab dan asas segala terdalam dari wujud.
Melalui pemahaman tentang konsep-konsep dasar filsafat diatas,
kita akan melihat bagaimana filsafat membantu kita untuk berfikir kritis,
rasional, dan terbuka terhadap berbagai pandangan dan persepektif, agar
kita tidak menjadi manusia yang tertutup atau tidak mau menerima
pendapat dan gagasan ide dari orang lain.
B. Saran
Demikian pembahasan kelompok kami tentang filsafat umum yang
membahas terkait pengertian, asal-usul, objek, ruanglingkup, dan metode
filsafat.
Kami sadar bahwasanya makalah ini masih banyak kekurangan
sehingga kami sebagai penyaji memohon saran dan kritik yang
membangun dari pembaca, agar makalah ini bisa lebih baik dan sempurna
lagi. Kami ucapkan terimakasih.
10
DAFTAR PUSTAKA
Lasiyo dan Yuwono, Pengantar Ilmu Filsafat, Cet. I (Yogyakarta: Liberty, 1985),
hlm. 1.
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos, 1997), hlm.7.
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu,
1987), Cet. VII, hlm. 83.
Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat, (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1988), Cet. II,
hlm. 56.
11
Surajiyo. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 53.
Jan Hendrik Rapar. Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2015, hlm. 16
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta, Sinar
Harapan, 1984), him. 24
[Link]
Samuji, “Pengertian, Dasar-Dasar dan Ciri-ciri Filsafat”, Jurnal Paradigma,
Vol.13, No.1(2022):9-11.
12